25 Desember 2014


Bagi saya saat ini perfilman Indonesia benar-benar memiliki kualitas yang lebih tinggi daripada film-film yang disuguhkan tahun-tahun lalu. Jika saat ini anda masih bilang kalau semua film Indonesia itu sampah artinya anda sangat kudet!

Banyak yang sepakat jika The Raid adalah film yang berkelas Internasional. Banyak pula yang sependapat jika 5 CM adalah film yang berlevel tinggi di dalam negeri. Dan tentu saja banyak yang mengakui bahwasannya Comic 8 adalah film action-comedy terpaporit karya anak bangsa. Lalu, apakah karya-karya apik perfilman kita berhenti disitu?

Tidak!

Mari kita bergosip ria, saya ingin sedikit menguak kembali arus perfilman Indonesia di masa lalu. Kita tentunya mengetahui betapa busuknya film-film kita sebelum tahun 2012. Genre horor-sex menghiasi  daftar putar bioskop yang cuma menjadi panu diantara sajian film box office Hollywood. Pengalaman pertama saya nonton di bioskop kala itu saat SMP, saya dan teman-teman nonton Suster Ngesot. Bukan karna pengen, tapi karna memang gak ada pilihan lain yang meyakinkan. Setelah itu bermunculan secara membabibuta film-film horor lain yang mengusung materi sensualitas. Ditambah mengundang artis-artis bokep yang turut berkontribusi meskipun mereka tidak melakuan adegan sex beneran. Belum lagi film dramanya pun juga anjlok dan benar-benar membosankan. Masa-masa itulah negeri ini mengalami masa kegelapan dalam dunia perfilman, saya menyebutnya BENCINDOFISME (benci+indo+film+isme), paham yang menganut kebencian atas film-film Indonesia.

Namun masa-masa itu kini telah pudar. Dari waktu ke waktu film berkualitas mulai muncul, genre-nya pun semakin bervariasi. Bisa dibilang spirit itu muncul kala The Raid  mampu go internasional. Banyak kalangan semakin optimis akan perfilman indonesia yang bisa maju. Akhirnya para produser berlomba-lomba membuat film yang berkualitas. Bahkan artis luar negeri yang didatangan pun sudah bukan artis bokep lagi.

Surutnya masa BENCINDOFISME ini dapat dilihat dari pilihan genre selain horor-sex dan drama-sex; kita mengenal Java Heat, Pintu Terlarang, Philosopher, Modus Anomali, dan ada film balapan itu apa namanya? Lupa (sengaja gak googling biar natural hahahaha). Film horor pun sudah tidak semenjijikan dulu, kalau yang saya tonton beberapa bulan lalu ada SOLITAIRE. Bukan film yang mengumbar sensualitas tuh, film Solitaire lebih berkiblat ke arah horor Thailand. Saya rasa Rumah Gurita dan Danau Hitam juga bukan film esek-esek, tapi belum sempet nonton sih hehe. Adapun film olahraga juga gak kalah keren, saya saksi mata kekerenan film Garuda 19. Hati saya dibikin ngilu melihat kobaran semangat yang luar biasa. Meskipun eksekusi pertandingan bolanya masih cukup kasar, tapi setelah keluar dari bioskop saya benar-benar dalam kondisi mental yang penuh optimis. Berharap cabang olahraga lain juga diangkat jadi film.


 Film drama juga berubah. Kalau dulu kita mengenal judul Virgin, Kawin Kontrak, Mas Suka Masukin Aja, Akibat Pergaulan Bebas, Arisan Brondong, Istri Boongan dan sejenisnya, mereka masih mengusung sajian sensualitas. Meskipun fenomena pergaulan bebas memang sangat marak, tapi seolah-olah orang Indonesia ini cuman mikirin seeeex mulu. Bersyukur, karna saat ini cinema drama kita sudah semakin variatif. Seperti hadirnya Perahu Kertas, Malaikat Tanpa Sayap, eeeaaaakk film-nya Maudy Ayunda memang harus masuk shaf pertama huahahahaha. Juga ada drama-roman yang ringan seperti Refrain dan Remember When yang nggak ada unsur mesumnya sama sekali, sangat cocok disajikan untuk remaja (salut buat mbak Winna Effendi-author keduanya). Drama-komedi pun tak kalah positifnya setelah kemunculan Raditya Dika, film-filmnya sederhana dan jenaka. Hal ini membuktikan jika eksistensi perfilman Indonesia sudah tidak perlu lagi bergantung pada hal-hal yang berbau sensualitas dan sexualitas.

Desember 2014, adalah rekor dimana saya menyaksikan 3 film Indonesia di bioskop. Pertama film Kukejar Cinta ke Negeri Cina, film ini sungguh bermutu dan unik. KCKNC adalah film religi dimana kamu akan mendengar kata pisuhan legendaris Jawa :ASU: ditengah ceritanya. Hahahaha. Film yang mengangkat cinta dalam balutan agama islam yang disajikan dengan komedi ringan ini cocok untuk mereka yang muslim tapi gak pernah sholat dan cocok pula untuk mahasiswa yang gak lulus-lulus tapi sibuk mikirin cinta melulu. Hahahahaha..

Setelah itu saya menjadi saksi penayangan film Supernova yang epic banget. Ini kali pertama saya menyaksikan film Indonesia yang berbobot, gak main-main bobotnya berat banget seperti gajah –gajah pink temennya Rongrong dalam serial BoBo. Jika anda seorang pria dan bosan nonton film ini atau bahkan sampai tertidur di bioskop, silahkan pulang, nyalain laptop, buka youtube lalu search ‘Blues Clues’, nah itu tayangan yang pas untuk anda. Mengapa demikian? Secara kodrati laki-laki harus mengedepankan logika daripada perasaaan. Maka tayangan yang menuntut penontonnya untuk berpikir adalah suplemen sejati seorang pria.

Lalu yang baru saja saya tonton adalah Pendekar Tongat Emas. Film ini akan saya bahas dipostingan berikutnya. Sebab #PentongEMAS adalah film yang benar-benar fresh dan sungguh gemilang bagi alternatif pilihan tontonan dalam negeri. Saya rela nonton 2x demi film ini. Tapi tunggu dulu, ada satu lagi film Indo yang harus saya tonton dipenghujung tahun ini. Merry Riana, meski ada yang bilang filmnya terlalu lebay tapi bagi saya selama film itu jauh dari esek-esek ya baguslah.

Berikut adalah alasan saya menonton film Indonesia di bioskop:
1. Menghargai karya saudara se-tanah air.
2. Agar karya-karya mereka memperoleh untung.
3. Meningkatan popularitas mereka.
4. Agar para kreator film Indonesia terus antusias mengerjakan tontonan yang berkualitas.
5. Kalau masih ada film Indo yang esek-esek nggak usah ditonton biar mereka kalah rating dengan film yang positif, dengan begini balik lagi ke poin nomor 4.
6. Sukur-sukur kalau saya bisa ketemu sama salah satu pemeran atau sutradara filmnya di kesempatan yang tak terduga, kan bisa mbribik-mbribik sambil muji filmnya dan ngasih beberapa testimoni yang cerdas. Siapa tau kedepannya saya bisa dilibatkan dalam project film mereka. Jadi apa? Jadi penonton juga hahahahaha.

Sayangnya pertumbuhan positif tayangan layar lebar ini tidak dibarengi dengan tayangan televisi yang masih terjebak dalam zaman bencindofisme. Saya cuman tau dari berita di internet sih, karna saya sendiri sudah 3 tahun tidak menonton TV meski tinggal dirumah. Baru beberapa bulan ini TV saya diangkut ke tetangga karna gak guna juga dirumah.

Baiklah, sekian dulu tulisan saya mengenai dunia perfilman Indonesia. Jika ada yang tidak setuju silahkan saja, ini murni opini saya. Saya menyukai film lebih dari saya menyukai pacar, terbukti saya doyan ke bioskop sendirian. (Pacar ndasmu! 2,5 tahun jomblo ngaku-ngaku nduwe pacar) Hahahaha. Maklum je, zodiak aquarius + blood type AB, perpaduan menarik untuk pria penyendiri seperti saya (eh saya lebih suka menyebutnya ‘pengembara’). Nah jadi kalau saudara-saudara sekalian punya informasi kerjaan yang berhubungan dengan film kasih tau saya doong hahahahaha.
Oke gais, makasih ya sudah mampir di blog saya. Semoga sehat selaluuu... :)


Akhir tahun 2014 dapat dibilang sebagai tahunnya anak 90-an. Khususnya dalam hal tayangan film semasa anak-anak dulu. Pasalnya pada akhir tahun ini 2 manga Jepang yang jadi favoritnya anak-anak 90-an telah ditamatkan. Dimulai dari Naruto kemudian disusul Doraemon.

Saya ingat sekali dulu sewatu masih SD sering dimanjakan oleh tayangan kartun di Indosiar dan RCTI. Meskipun saya lebih condong untuk menyaksikan sajian kartun versi Indosiar, sebab lebih seru dan ‘gue banget’. Sebut saja beberapa diantaranya seperti Conan, Dragon Ball, Crush Gear, Bleach, Duel Master, Digimon, Inuyasha dan lain sejenisnya. Sedangkan versi RCTI kartunnya lebih kekanak-kanakan seperti Doraemon, P-man, Ninja Hatori dan Shincan.

Selain dua stasiun televisi itu adapula Global TV yang jam tayangnya kampret banget. Pas maghrib! Ini adalah pembodohan publik yang seasu-asunya (hahahaha Gusmul effect). Lebih parah lagi karna kartunnya bagus-bagus, salah satunya Naruto (dulu pernah tayang sore jam 4, trus ganti jam 5, dan ganti lagi jam 6). Selain itu adapula yang membekas di ingatan seperti one piece (masih jalan), eyeshield, hikaru no go, Yu-Gi-Oh, Beyblade, Nube, Yaiba, Flame of Recca (TRANS TV), Tsubasa, Whistle, bahkan sampai kartun lawas Offside (ANTV) dan MahaGo. Setelah diingat-ingat masa kecilku benar-benar penuh imajinasi mengasyikan.

Oke, balik fokus ngobrolin Naruto dan Doraemon. Saya mengikuti serial Naruto dari awal, tepatnya saat itu tayang perdana di Global TV. Rasanya saya mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama. Bagaimana tidak, kala itu Naruto menawarkan kisah tentang dunia ninja yang sangat berwarna.

Meskipun dulu sempat bosan saat misi ke desa Kabut sewaktu tim 7 melawan Zabuza. Namun setelah itu gairah menonton Naruto semakin menggila saat memasuki ujian juunin. Terlebih lagi mulai bermunculan abang-abang penjual stiker dan kartu bergambar Naruto yang sliweran di sekolah-sekolah.

Jadi inget dulu ada kejadian menarik saat aku kelas 2 SMP. Waktu itu ada temen (cewek) sekelas yang lagi ulang tahun. Awalnya dia bagi-bagi makanan, standar laah. Tapi abis itu dia juga bagi-bagi poster Naruto. Poster? Lebih tepatnya kertas HVS F4 biasa yang diprint desain poster anime naruto. Waktu itu cuma beberapa saja yang ia bagi ke temen-temen, itu pun pada rebutan sampai lecek-lecek bahkan ada yang sobek. Aneh bin ajaibnya, diem-diem si cewek ini ngasih 2 posternya yang masih mulus kepadaku. Aku sih nggak begitu antusias untuk benda-benda gak penting itu, maklum aquarius. Lalu beberapa minggu setelah itu ada kabar kalau itu cewek naksir aku. Aaaaasu! Malah mengupas masa lalu.

Maafkan kekhilafan saya barusan, anggap saja satu paragraf diatas itu tanda koma.

Oke, naruto. Setelah mengikuti ceritanya lewat TV alhasil merasa bosan saat tayangannya diulang-ulang terus. Saya pun berhenti mengikuti cerita Naruto. Sedangkan saat itu temen-temen sekolah banting setir mengikuti cerita naruto lewat komiknya.

Saya merasa sangat beruntung, di depan rumah saya ada sebuah tempat persewaan komik. Koleksi komiknya banyak banget, tempatnya pun luasnya segede mushola 7 shaff. Maka sudah pasti persewaan komik bernama PAREANOM itu ramai ditongkrongi anak-anak muka anime. Saya sendiri tentu saja menjadi pelanggan setianya. Setiap liburan sekolah saya selalu sewa 2-4 komik per hari. Begitu terus sampai saya menginjak kelas 2 SMA baru berhenti. Puluhan judul komik dari yang sekelas Detective Conan sampai yang gak terkenal seperti Gash Bell dan Kimun Kamui pun saya lahap.

Referensi komik saya sangat banyak dan hebatnya saya fasih bener kalau harus nyeritain ceritanya gimana. Jadi saya sering sebal dengan teman-teman sekolah yang kalau ngomongin anime suka ngaco. Mereka referensi dari TV sedangkan saya dari komik. Ibaratnya mereka baru tau tentang Karl Marx kemarin sore, saya seminggu sebelumnya sudah tau tentang Jeaques Derrida.

Ngelanturnya jauh amat nih. Baik, balik lagi soal Naruto.

Saya terhitung sangat terlambat ketika memutuskan untuk membaca Naruto Shippuden. Kala itu saya lagi suka baca komik yang tidak begitu terkenal. Saya memutuskan baca Naruto Shippuden saat sudah lulus SMA, itu pun saya baca online. Naluri saya pun mengajak untuk terus terus dan terus membaca serial komiknya sampai ke yang paling baru. Akhirnya saya pun menjadi budak Naruto juga. Setiap rabu selalu sange, bukti bahwa harus segera baca kelanjutan cerita Naruto melawan Ibunya Rikudo yang bernama Anita Hara Kaguya.

Finally, Naruto pun tamat. Sebagai kreatornya, Mashasi Kisimoto meraih banyak pujian sekaligus cibiran. Cibiran ini datang dari para fans yang lebih mendukung kisah cinta Naruto dan Sakura. Sampai para fans ini bikin anak Naruto tandingan versi NaruSaku.


Saya sendiri puas dengan pasangan NaruHina (Naruto-Hinata). Pasalnya Hinata adalah perempuan yang memiliki sikap dewasa yang cocok untuk mengurus Naruto yang pethakilan. Tak beda jauh dengan serial Doraemon yang mana melalui film Stand by Me telah memutuskan jika Nobita bakal menikah dengan Shizuka.

Semua tahu jika Nobita adalah pria terlemah tanpa bakat apapun. Sebelum ia mengubah masa depan, sebetulnya ia bakal menikah dengan Jaiko (antara adiknya Giant atau merk tipex). Tentu saja melalui alat canggih Doraemon ia pun memberi sentuhan tak disengaja yang membuat Shizuka mau menerima lamaran Nobita di masa depan. Meskipun H-1 sebelum resepsi, Shizuka berniat untuk membatalkan pernikahannya. Namun, ayah Shizuka justru memberi motivasi dan menguatkan keyakinan Shizuka bahwa pernikahannya dengan Nobita adalah keputusan yang tepat.

Berakhirnya dua serial itu menegaskan pelajaran penting tentang percintaan. Bahwa sepayah apapun pria tetap bakal ada wanita yang suka. Pada dasarnya kaum Venus mencintai dengan cara yang rumit dan alasan yang seringkali tak masuk akal. Sedangan kaum Mars juga memiliki selera yang cukup kompleks. Dalam hal pacaran demi kesenangan, mereka bakal milih cewek yang secara fisik oke. Sedangkan jika sudah masanya menjalin hubungan rumah tangga, mereka bakal milih sesosok perempuan yang anggun, dewasa, besar hati, besar dada dan otak tok cer.


Demikian sedikit unek-unek saya, semoga menghibur anda semua. Maaf jika struktur tulisannya awut-awutan, agak badmood soalnya tuts i,k,m dan spasi susah dipencet. Kecepatan mengetik menurun drastis. Okaaays, makasih ya sudah mampir, semoga sehat selalu.

29 November 2014


Haloo guys, pie kabare? Hehe.. Kali ini gue mau mereview film nih. Sebenarnya agak kurang enak kalau mau mereview, takut terlalu bikin spoiler. Tapi karna film ini udah ditarik dari bioskop Indonesia jadi gak papa lah ya kalau gue review. Jadi kesannya review buat kalian yang gak nonton filmnya tapi pengen nyambung kalau ngobrol sama temen-temen yang lagi bahas film ini. Hohohoho...

Lupin III (imdb) adalah sebuah film yang diangkat dari serial manga dengan judul yang sama. Pertama kali muncul di Futabasha Weekly Manga Action tahun 1967. Ditulis oleh Monkey Punch yang kali ini berkolaborasi dengan Ryuhei Kitamura (sutradara dari film seperti Versus, Azumi, Godzilla: end of Wars) sebagai Film Director.

TOKOH-TOKOH DALAM FILM

Jigen, Lupin, Fujiko
Sebelum kita bicara lebih jauh soal jalan cerita dalam movie ini, ada baiknya kita kenalan dulu sama mas-mas mbak-mbak pemeran. Jujur saja gue sendiri kaget dengan akting Shun Ogiri yang memerankan karakter utama, Lupin. Meski tidak sepenuhnya dibilang menakjubkan namun perubahannya dari karakter yang selama ini diaperanin bener-bener beda banget. Coba kita lihat bagaimana ‘dingin’-nya dia memerankan Takiya Genji (Crows Zero) dan kalemnya Shinichi Kudo (Detective Conan 2006). Setelah imej-nya yang kalem-kalem gitu, dia dengan luwesnya memerankan Lupin yang celelekan, banyak tingkah, dan ceroboh. Beda banget sama aktor Indo, main film apa aja dapat karakter peran yang sama mulu. Bosen.

Buat kalian yang belum move on sama Meteor Garden, boleh nih dilihat aktingnya Jerry Yan sebagai Michael Lee. Ceritanya si Michael Lee ini rivalnya Lupin dalam satu tim. Gak Cuma rebutan harta curian, mereka juga rebutan cewek. Wuuuiiiihhh.. Sayangnya sebagai karakter yang ‘seharusnya’ cukup vital,  Jerry Yan terlalu lemah.

Buat para cowok jangan khawatir, ada Meisa Kuroki yang memerankan gadis seksi Fujiko Mine. Meskipun kehadirannya cukup menyebalkan karna tipu muslihat yang ia lakukan, namun kita dapat maafkan berkat parasnya yang enak dilihat. Selain itu ada Yuka Nakayama seorang top model yang memerankan karakter jahat, Maria. Menjadi scene epic bagi para cowok saat Fujiko mandi terus disergap sama Maria. Berantemnya sih biasa, cuman suaranya sampe aaahh aaah aaaww ooohh ikeh ikeh kimochi gitu deh. Nah pas adegan ini paling enak ditonton sambil merem, dengerin suranya aja. Hahahaha.

Film ini juga dibintangi oleh aktor-aktris terkemuka lain seperti Tadanobu Asano (Inspector Zenigata), Nick Tate (Dawson), Nirut Sirichanya (Pramuk), Tetsuji Tamayama (Jigen), Go Ayano (Goemon), Kim Jun (Pierre), Yayaying Ratha (Miss V), Vithaya Pansringram (Naron).

SETTING
Pierre, Fujiko, Jiro
Meskipun film diangkat dari manga tahun 60-an, namun dalam adaptasi filmnya nampaknya sudah masuk zaman kekinian. Bahkan mungkin meloncat beberapa tahun kedepan antara tahun 2020-an. Hal ini terlihat dari tehnologi yang digunakan canggih tapi masih bisa dimaklumi. Handphone yang dipakai pun sudah yang transparan gitu, tapi tata letak kota masih tetap ala kadarnya seperti zaman sekarang.

Lokasi syuting tidak membosankan, pasalnya mereka meloncat-loncat dari Singapore, Hong Kong, Jepang dan Thailand.

JALAN CERITA (SPOILER ALERT)
Lupin vs Michael
Film ini dibuka dengan aksi pencurian museum di Singapura. Satu persatu tokohnya diperkenalkan sesuai dengan skill specialist-nya masing-masing. Lupin, Michael Lee, Fujiko, Pierre dan Jiro adalah sebuah tim pencuri yang merupakan bagian dari asosiasi pencuri profesional The Works, yang dipimpin oleh Dawson.

Karna sebuah konflik internal, Michael Lee melakukan penghianatan dengan mencuri The Crimson Heart of Cleopatra dari koleksi The Works lalu membunuh Dawson dan Jiro. Disebabkan kejadian itu, Lupin dan anggota yang tersisa bermaksud untuk membalaskan dendam atas penghianatan itu.

Perlu waktu bertahun-tahun untuk melacak kehadiran Michael, hingga akhirnya Fujiko mendapat informasi jika Michael berada di Thailand. Alur cerita ini tidak setipis yang kalian kira. Di Thailand mereka bertemu dengan musuh sesungguhnya, Pramuk. Selain itu kehadiran Inspektur Zanigata juga memberi ancaman bagi Lupin dkk dalam menjalankan aksinya.

Melihat musuh sesungguhnya itu, Lupin mengakui jika ia tak mungkin menang dengan tim seadanya. Pencuri cerdik itu pun memanggil temannya dari Jepang, Goemon. Goemon sendiri adalah samurai level dewa hahaha. Ia sangat pendiam dan tradisional. Hebatnya, meskipun ia pendiam namun kehadiran sangat lucu. Tau sendiri lah bagaimana orang tradisional hidup di zaman modern.

Tak cukup dengan merekrut Goemon, Lupin bahkan bermaksud mengajak Michael bergabung dengan timnya untuk melawan Pramuk. Tentu saja anggota tim yang lain sangat tidak setuju dengan hal itu. Lalu, apakah Michael benar-benar bergabung dengan tim The Works kembali? Apakah mereka mampu mencuri dari Pramuk yang memiliki manson teraman di dunia? Apakah justru inspektur Zanigata mampu menangkap Lupin dkk? Belum lagi dengan kemisteriusan Fujiko yang sering memberi informasi palsu ke Lupin, apakah ia mata-mata musuh? Penasaran? Hehehehe....

KESIMPULAN
Goemon, Fujiko, Lupin, Jigen
Film ini sangat ringan untuk film yang berhubungan dengan detective. Lebih banyak aksi yang ditampilkan. Tak luput twist humor juga disajikan dengan apik. Saran gue sih jangan terlalu serius dengan film ini. Terutama kehadiran Goemon sang Samurai, meskipun jurus pedangnya gak masuk akal tapi justru aksi pedangnya itu seru buat ditonton.

Bagaimana pun juga Lupin III adalah film adaptasi dari manga, yang mana wajar-wajar aja kalau ada karakter yang lebay, atau aksi-aksi yang berlebihan. Wajar bro wajar. Hehehe. Oke guys, udah dulu ya review dari gue. Makasih banget udah mau mampir, komen dong hahahahaha. Maaf kalau ada kata-kata yang susah dipahami, memahamimu pun begitu susah bagi gue. Eaaaaaaaaakkkkk. Seeya~

Sumber gambar:

17 November 2014


Sebuah novel yang sangat menggemaskan telah lahir dari rahim seorang perempuan berbakat, Disa Tannos. Sebagai novel pertamanya ini, Disa seperti balerina yang menari diatas kertas kosong dengan memeragakan sebuah cerita yang sangat ajaib. Sungguh indah. Mulai dari alur cerita sampai diksi, semua terkemas dengan anggun.
Overture sendiri adalah musik orkestra yang dimainkan pada awal opera atau oratorio.
“Sebuah lagu kala mendung”
Ketika itu gue baca novel in di suatu malam pasca hujan. Karna tetangga sebelah dangdutan kuenceng banget, gue ambil earphone, colokin di kuping, play J.S Bach. Sayatan biola dan kenangan memberi efek luar biasa dalam imajinasi gue. Semakin bertambah menit, lembar-lembar demi lebar gue buka. Disa Tannos meracik kata-katanya seperti ganja, gue kecanduan.
“Pakailah baju hitam, sayang. Di hatiku kau sedang dimakamkan.”
Kisah ini dibuka dengan sebuah kesedihan. Dijalani dengan kesedihan. Dan diakhiri dengan kesedihan. Novel ini seperti mengungkap kebenaran bahwa bahagia hanyalah dongeng. Bahagia tak pernah ada bagi mereka. Raka, Rena, Kei dan Adam. Persahabatan, pasutri, dan friendzone.
Ceritanya ini Rena dalam imajinasi gue
Rena, seorang ibu beranak satu. Pergi meninggalkan suami dan anaknya demi mencari kebahagiaan bagi dirinya. Bahagia yang tak ia temui di rumah tangganya. Kepergiannya mencari kebahagiaan, meninggalkan dua manusia yang terpaksa menelan luka dalam detik-detik rindu mereka.
Cocok nih jadi bapak-bapak galau -Raka-
Raka, seorang pria gigih yang memburu cinta Rena selama lima tahun. Ia pun mendapati perjuangannya dengan menikahi Rena. Namun sayang, kebahagiaan yang ia cari bersama Rena harus kandas saat Rena memilih mencari kebahagiaannya sendiri di luar sana, entah dimana. Sementara itu, ia harus mengurus putra satu-satunya, Regi, yang masih sangat kecil bahkan terlalu lupa untuk mengingat siapa ibunya. Raka mebutuhkan sosok perempuan dalam rumah tangganya.
-Kei- Maudy Ayunda, kemudaan kali ya hahaha
Kei, seorang gadis yang jatuh dalam duka sejak Ayahnya pergi meninggalkan rumah 15 tahun yang lalu. Dari waktu ke waktu, penantiannya tak pernah berhenti. Harapannya belum padam, semakin ia berharap semakin sakit yang ia rasakan. Hingga pertemuannya dengan Raka, pria yang memiliki rasa sedih yang sama, rindu yang sama, dan penantian yang sama.
-Adam- Ini orang emang jago meranin friendzone.
Adam, teman dari Raka, sahabat dari Rena dan jatuh cinta dengan Kei. Dua tahun waktu yang dibutuhkan Adam untuk mengejar cinta dari Kei. Sampai ia menelam pil pahit saat Kei memutuskan mencintai pria lain. Pria yang justru ia kenalkan dengan Kei. Pria yang sangat membutuhkan sosok perempuan dalam keluarganya.
-Regi-
Regi, adalah anak dari Rena dan Raka. Ia tak mendapatkan kenyamanan dari keduanya, hingga hatinya jatuh pada Tante Kei, gurunya dirumah.


“Seperti yang telah kita berdua pahami, memenuhi janji jauh lebih rumit daripada mengatakannya. Dan janji yang tak terpenuhi tentunya menyakitkan. Barangkali, sudah saatnya semua orang belajar berhenti berjanji dan meminta janji.”
Cinta seperti estetika, dalam pengertiannya orang-orang memahami bahwa cinta dan estetika selalu berbicara tentang keindahan. Tidak menurut Disa Tannos, 191 halaman ia curahkan untuk merontokkan keyakinan orang-orang tentang cinta dan sejuta keindahannya. Jatuh cinta tak selalu pada orang yang tepat. Jatuh cinta pada orang yang tepat tak selalu mendapat balasan cinta yang sama. Jatuh cinta dan patah hati hanyalah seonggok perasaan yang tak berkemanusiaan, keduanya membuat pria garang menjadi lemah.
Sayangnya cinta tak memiliki wujud. Jika ada, mungkin Raka, Kei, Adam dan Rena akan memilih untuk mengoprasi miliknya masing-masing. Meletakkannya di tempat yang tepat. Tidak seperti saat ini, saat cinta tak memiliki hak untuk memiliki. Saat cinta seperti bongkahan es di kelopak mata, siap untuk mengalir.

Berat rasanya mencintai perempuan lain saat jari ini masih menyimpan satu janji suci tentang pernikahan. Berat rasanya mencintai pria yang sedang menunggu kepulangan istrinya. Berat rasanya mencintai perempuan yang memilih meletakkan hatinya dengan pria lain, temannya sendiri. Berat rasanya pulang ke rumah saat pria yang ia tinggalkan mulai move on.

Overture, senandung yang sangat merdu dalam sebuah lembaran novel. Gesekan biola dan dentingan gitar berpacu dalam kata-kata penuh sayatan. Entah untuk apa senandung ini tercipta, Overture bukan dongeng tentang putri salju dan cinderella. Overture tidak mengenal bahagia, tidak saat halaman pertama ini terbuka. Anehnya, satu lembar sebelum novel ini berakhir, kita masih tak mampu menebak bagaimana ending ceritanya. 
Disa Tannos, membuat sebuah novel seperti hamparan langit hitam, kemudian secara perlahan ia meletakkan sinar-sinar kecil dalam ceritanya. Hingga sampai akhir kita dipaksa menebak rasi bintang apa yang hendak Disa buat. Bahkan saat menutup novel beserta kisahnya, rasanya ingin agar Disa tak pernah berhenti meletakkan sinar-sinar itu. Ditunggu karya selanjutnya.
Disa bisa dicolek di @jemarimenari

15 September 2014


Halloha.. Gais, malam ini gue mau menuhin label “Review”, dan akhirnya gue pilih buku Creative Writing sebagai objek pembedahan review kali ini. Buku ini informatif dan menginspirasi banget buat gue. Mau tau kayak apa isinya? Yuk ambil air wudhu terus pantengin blog gue. Hahahha.
 
Buku Creative Writing merupakan karya dari seorang sastrawan bernama A.S. Laksana. Ada yang belum kenal? Baiklah. A.S. Laksana adalah seorang penulis handal yang sudah aktif sejak tahun 90-an. Terbukti dari dua cerpennya, Seorang Ibu yang Menunggu (1996) dan Menggambar Ayah (1998) dengan elegan terpilih sebagai kumpulan cerpen terbaik Kompas. Tak hanya itu, di tahun 2004 salah satu karyanya mendapat penghargaan dari Majalah Tempo sebagai buku sastra terbaik. Mahakarya itu berjudul Bidadari yang Mengembara, sebuah buku yang memuat cerpen-cerpen segar dari A.S. Laksana. Sampai-sampai salah satunya cerpennya, “Burung di Langit dan Sekaleng Lem” mendapat tempat di Festival Sastra Winternachten, Den Haag, Belanda. Di puncak kesuksesannya sebagai penulis senior, ia pun mendirikan Sekolah Menulis Jakarta School pada tahun 2004. Hingga gue beli bukunya, kini ia menulis kolom tetap “Ruang Putih” untuk edisi hari Minggu di harian Jawa Pos. Wuih... Keren-keren kan prestasinya?

Nah jadi gimana setelah tau siapa penulis buku Creative Writing? Minat? Yuk lanjut.

Buku CREATIVE WRITING berisi resep-resep jitu dalam membuat tulisan, terutama untuk cerpen dan novel. Penyampaian materi dalam buku ini terbilang friendly banget, hal ini disebabkan pembawaan bahasa yang ringan, sederhana dan super duper jelas.

Awal membaca biografi penulisnya sih gue pikir isi buku Creative Writing bakal kaku dan ngebosenin (karna melihat ia penulis angkatan 90-an... Ops! Peace Om hehehe). Apalagi desain cover bukunya yang simpel dan kelam itu. Tapi ternyata gue salah. Buku ini justru anak muda kekinian banget. Lengkap dengan ilustrasi yang menarik di sela-sela tulisannya.

 “Buku CREATIVE WRITING adalah peta bagi para penulis pemula, harus dibaca”
 Jujur saja sebelum gue kenal dengan A.S. Laksana dan membaca bukunya ini, gue sudah gemar bikin cerpen-cerpenan. Tentu saja bukan sebuah mahakarya yang membahana alam semesta. Gak jarang niatnya gue bikin cerpen malah jadi lembaran curhat yang menggelikan. Satu hal yang bikin gue tersesat pas bikin cerpen, GUE GAK PUNYA PETA.
 
Peta adalah komponen terpenting saat kita ingin menginjakkan kaki di tempat yang baru. Sama seperti menulis. Kita butuh peta, butuh arahan, butuh rambu-rambu agar tulisan kita enak dibaca. Dan disaat gue hilang kendali, gue bersyukur bertemu dengan buku Creative Writing.
 
                                                                   Buku ini RAPI
 
Yups, buku setebal 200-an halaman ini disusun dengan sangat rapi. Rapi Ahmad.
 
Semua penulis pemula pasti pernah ngerasain susah memulai tulisan. Ada yang bilang gak ada ide, gak mood, bingung mau mengawalinya gimana, macem-macem dah alesannya. Nah, secara maskulin, buku ini dibuka dengan 6 bab yang dapat membangkitkan semangat sekaligus mengajarkan kita tips memulai sebuah tulisan. Keenam bab itu diantaranya ;
 
Rahasia Kreativitas: Mendekatkan Tangan dengan Otak
Anda Hanya Perlu Action. Itu Saja!
Menulis Buruk
Menulis Cepat
Strategi Tiga Kata
Jangan Menulis Sekaligus Mengedit

 
Antara satu bab dengan bab yang lain selalu berkesinambungan, inilah yang membuat tulisan A.S. Laksana terasa harmoni. Gimana ada yang tertarik?
 
                                               Terbongkarnya Rahasia Penulis Hebat
 
Pernah nggak ngerasa tulisannya Pram itu enak dibaca? Atau ngerasa ketagihan dengan susunan cerita bikinan Ahmad Tohari? Coba bandingkan dengan tulisan kita. Hmmmmm.
 
Gue sih pernah ngerasa minder saat baca tulisan gue sendiri yang morak-marik. Gue sempet yakin kalau kemampuan nulis gue payah banget, lalu berniat buat berhenti karna ngerasa gue nggak BERBAKAT. Kendati keinginan gue buat bikin sebuah mahakarya dalam bentuk tulisan terus menghantui setiap hari, akhirnya gue mutusin buat lebih serius belajar nulis. Sampai gue yakin, menulis bukan selalu tentang bakat tapi usaha.
 
Belajar menulis dengan membaca buku Creative Writing cukup efektif. Disitu nanti secara detail dan mudah dicerna, kita akan disuguhkan oleh trik-trik menulis. Beberapa triknya terangkum dalam bab-bab seperti;

Show, Don’t Tell
Mengonkretkan Konsep-Konsep Abstrak
Deskiripsi dengan Lima Indra
Cerita dan Karakter
Mengakrabi Karakter
Menyeberangi ARUS dengan Plot
Dialog
Sudut Penceritraan (Point of View)
Sudut Penceritaan (POV) Lebih dari Satu
Adegan
Konstruksi
Paragraf Pembuka
Mengatur Gerak Cerita
Sampaikan Sekali Saja, dengan Tepat
Menghidupkan Bahasa dengan Metafora

 
Dari bab-bab itu gue banyak mendapat pemahaman baru. Mulai dari membuat tulisan yang bisa bikin pembaca bener-bener ngerasaan latar cerita, cara membuat karakter utama yang langsung jleb dihati pembaca, sampai cara membuang kalimat-kalimat tak perlu dalam sebuah paragraf. Komplit daaah.
”bisa jadi penulis itu pesulap, dibalik aksinya selalu ada trik dan latihan”
 
                                                  Bocoran Bab Pamungkas Versi Gue
 
Tuh diatas sudah gue kasih lihat berbagai bab yang ada dalam buku Creative Writing. Dan gue paling suka dengan bab Strategi Tiga Kata.
 
Mungkin teman-teman yang pernah ikut pelatihan menulis pastinya udah tau dengan trik yang satu ini. Jadi Strategi Tiga Kata adalah sebuah trik untuk membuat kalimat-kalimat yang nggak klise. Pernah semasa gue sekolah dulu buku-buku cerita di perpustakaan banyak yang memulai ceritanya dengan ungkapan “Matahari”. Semisal, “Matahari pagi menghangatkan tubuhku..”, “Sang surya terik menembus jendela kamarku”, atau “Langkahku peluh dibawah sengatan matahari..” dan lain sebagainya.
 
Nah, agar kita keluar dari kalimat-kalimat klise itu maka kita pakai sebuah alat bantu bernama Strategi Tiga Kata. Contoh nih ye (gue lagi gak ada ide bikin cerita apapun lho), gue bikin satu paragraf yang menunjukan aktivitas pagi hari. Terus gue harus pakai alat bantu berupa tiga kata secara acak, misal gelas-knalpot-tsunami. Paham? Oke gue langsung tulis sekarang secara SPONTAN !
 
                       Rasa kantuk dan benci bersatu padu membuat ekspresi tak bergairah terlihat jelas dari wajahku. Diatas meja makan tanganku memainkan garpu dengan malas. Mataku redup menatap gumpalan mie yang tampak tak sedap. Aku selalu benci jika harus sarapan dengan mie gelas. Karna beberapa jam setelahnya pasti perutku jadi panas seperti knalpot motor omprengan sehabis dipakai touring. Belum lagi kalau siangnya telat makan. Sudah pasti aku harus ke toilet buat memuntahkan kembali mie yang tidak berhasil dicerna lambungku. Sampai-sampai teman-teman di sekolah memanggilku “Si Tsunami Asam Lambung”.
 
Huahahahahhahaa... Gue nulis apaan tuh? Setidaknya gue mencoba menjawab tantangan gue sendiri. Hahahaha.
 
Lihat gais, gue yakin gak ada yang ngira kalau kata Tsunami bakal dijadiin sebuah bahan ejekan. Gue sendiri aja juga gak ngira. Itulah otak kita. Mahadasyat. Jadi jangan disia-siain. Yuk nulis!
 
“Segala sesuatu adalah soal pikiran” – Tony Buzan
 
                                                                Akhir Sebuah Rahasia
 
Oke gais, diatas gue udah ngasih tau bab-bab dalam buku Creative Writing yang menyimpan banyak rahasia untuk membuat tulisan yang bagus. Nah sekarang di akhir buku, kita akan disuguhkan oleh tiga bab motivasi yaitu;
 
Disiplin itu Menyenangkan
Bacalah!
Buka Kamus

 
Yang perihal bab Bacalah! itu bagus juga lho. Banyak menulis cuma bisa dilakukan buat orang-orang yang banyak membaca. Menulis-membaca itu semacam Ying-Yang. Keduanya adalah satu kesatuan, lambang harmonisasi.
“Pembaca yang baik memiliki kekayaan imajinasi, ingatan, kosakata dan sejumlah kepekaan artistik” – Vladimir Nabakov (1899-1977)

5 September 2014


Apa yang kita rasakan ketika pertama kali melihat sebuah aksi sirkus? Atau ketika kita melihat keahlian Demian memainkan kartu-kartunya, menghilangkan kemudian memunculkannya kembali? Penasaran? Kaget? Lebih tepatnya kita sedang merasa “takjub”.

Lalu bagaimana jika kita setiap hari terus-terusan melihat aksi-aksi tadi? Sudah pasti “bosan”.

Memang pada dasarnya pengalaman pertama selalu tampak mempesona. Pesona tersebut terjadi karna “ketidakbiasaan”. Sama seperti ketika temen nongkrong lo bikin lawakan-lawakan yang bikin terpingkal-pingkal. Tapi ketika ia berulang kali melempar lawakan yang sama, sudah pasti lo bakal bosen. Setuju?

Pengalaman pertama selalu memberi efek yang luar biasa. Sayangnya itu berlaku bagi para “konsumen”. Sedangkan bagi para “produsen”, melakukan tindakan pertama adalah hal yang sangat sulit. Semisal nih, gue suka baca buku. Gue antusias banget kalo baca buku baru. Saking gue senengnya dengan buku, gue pun mencoba membuat naskah buku. Sebuah tulisan berlembar-lembar panjangnya. Hal yang paling sulit bagi gue adalah memulainya. FIRST STEP IS HARDEST.

Mengapa gue sulit memulai menulis naskah? Sedangkan banyak tuh penulis yang produktif banget. Sebut saja Agatha Cristie, JK. Rowling, Tere Liye, Andrea Hirata, Raditya Dika dan lain-lain. Jujur saja gue salut banget dengan produktivitas mereka. Namun gue percaya, apa yang menurut gue luar biasa, bagi mereka hanyalah hal yang biasa. Hingga kemudian gue masukkan sebuah kalimat dalam otak gue:
“JIKA KITA MERASA MUDAH TAKJUB MELIHAT HAL-HAL LUAR BIASA, SESUNGGUHNYA KITA HANYALAH ORANG BIASA.”
Sejak itu, gue mencoba menjejali otak ini dengan banyak membaca buku atau artikel-artikel di internet. Agar pengetahuan gue bertambah. Agar gue gak mudah ndomblong melihat hal-hal menakjubkan. Tapi itu belum cukup, gue tidak boleh hanya menjadi konsumen. Gue harus menjadi produsen. Tidak hanya menikmati kelezatan sebuah roti, gue harus mampu membuat roti yang lebih lezat dari apa yang pernah gue rasakan. Namun, sekali lagi yang harus gue rasakan, mengawali itu sulit.

Tidak ada yang benar-benar praktis dan instan di dunia ini. Sebuah mie yang ngakunya instan sekalipun harus berproses. Bahkan tak jarang, mau memulai masak mie aja rasanya males banget. FIRST STEP IS ALWAYS HARDEST.

Apa sih susahnya memulai sesuatu?

Mari kita telisik bersama. Hal yang bikin kita susah memulai sesuatu adalah rasa nyaman yang selama ini kita rasakan. Semisal, gue tiap abis sholat subuh punya kebiasaan mampir kasur terus tidur lagi sekitar satu jam. Gue sadari itu bukanlah sebuah kebiasaan yang baik. Gue pun kepengen mengganti porsi tidur pagi dengan olahraga, seperti lari-lari kecil keliling kampung.

Coba tebak apa yang terjadi?

Sampe tulisan ini dimuat, gue masih suka tidur setelah sholat subuh. Kebiasaan itu pertama terjadi ketika gue kelas 2 SD. Jadi waktu itu gue pertama kalinya dilatih sholat lima waktu sama Bapak, termasuk sholat subuh yang rasanya muales banget. Biar gue mau bangun tidur buat sholat subuh, Bapak gue selalu ngebangunin dengan kalimat “sholat subuh dulu, nanti boleh lanjut tidur”. Ya, sejak saat itu kebiasaan itu terus berulang-ulang. Tanpa gue sadari, tubuh ini tersistem secara otomatis untuk lanjut tidur seabis sholat subuh. Dahsyatnya, itu terus terjadi selama 13 tahun. Tubuh gue dijajah oleh pikiran gue sendiri.

Memulai sesuatu yang baru itu susah, apa sih penyebabnya?
Gais, tau tidak kalau di kepala kita ini ada bagian otak namanya AMIGDALA. Bagian otak ini berfungsi untuk melindungi kita dari hal-hal yang tidak biasa kita lakukan. Otak ini bereaksi jika ada sebuah keinginan dari otak utama untuk melakukan hal baru. Baginya, hal baru adalah HARAM. Maka ia “menakali” kita dengan membuat rasa malas, takut, waswas, ragu dan sebagainya.

MENAHKLUKKAN AMIGDALA!

Berikut ini gue mau berbagi tips gimana melakukan sebuah awal. Gue akui gue bukan ahlinya mengawali sesuatu, tapi ada beberapa hal yang berhasil kok. Look at this..

1.    JUST DO IT !
 

Lebih singkatnya, P-A-K-S-A-K-A-N ! Jangan gunakan cara Kang Emil (walikota Bandung) yang lebih sering meminta warganya sadar diri buat ngebantu program pemerintah. Percayalah, si Amigdala kita nggak mau diajak negosiasi. Cara yang paling ampuh, PAKSA saja.
Nah, kapan kita harus memaksakan Amigdala kita? Waktu yang paling tepat adalah saat mulai muncul pikiran “ah besok aja”, “ah berani gak ya”, “ah males”, “ah nanti kalo gagal gimana”, “ah mulai dari mana ya”.
Kata kuncinya adalah “AH!”. Jika kata itu sudah mulai terlintas di sela pikiran kita, sebaiknya jangan ambil pusing. Langsung paksakan saja. Just Do It !

2.    FIRST STEP IS SMALL THING
 
Jika kita pengen memulai sebuah kebiasaan atau rutinitas. Sebaiknya kita mengawalinya dengan hal-hal kecil. Semisal kita kepengen rutin belajar setiap hari. Tentu saja kita sebaiknya memulai dari beberapa menit durasi untuk belajar. Jangan langsung menjejali aktivitas belajar selama berjam-jam, bisa langsung males belajar lagi nantinya.

Melihat tips 1 dan 2, kita dapat ambil contoh seperti kereta api. Sistem kerja kereta api cukup sederhana. Saat ia mulai melaju kita melihat rombongan gerbong itu berjalan pelan-pelan (tips 2). Padahal gaya dorong yang digunakan sangat besar (tips 1), barulah ditengah perjalanan gaya dorong diperlambat namun yang terjadi justru kereta api melaju sangat kencang. Inilah prinsip INERSIA (kelembaman), dimana suatu benda memiliki massa akan selalu cenderung mempertahankan keadaaan semula. Maka perlu gaya dari luar / external force, agar kondisi semula dapat berubah.

Demikian pula dengan manusia. Kita rentan terhadap perubahan dan cenderung mempertahankan kondisi semula. Untuk itulah kita butuh external force. Beberapa external force yang dapat membuat kita mampu mengawali sebuah tindakan adalah sebagai berikut:

a.    Ancaman
Dalam keadaan terdesak, mau tidak mau, mampu tidak mampu, kita pasti rela melakukannya. Namun, mengawali dengan ancaman tentu saja bukan hal yang menyenangkan. Sebaiknya menggunakan external force kedua, yaitu

b.    Award
Coba deh kalo Maudy Ayunda bikin syarat kalo cowoknya kelak harus mempunya 10 karya dalam musik, 10 karya dalam sastra dan 10 karya dalam seni rupa. Sudah pasti setelah tau info itu, besok bangun pagi gue langsung nulis, siangnya ngelukis, malamnya nyiptain lagu. #GAGAHBANGET #WAHAHAHA

Kemalasan adalah candu yang harus kita tahklukkan. Sekeras apapun keinginan kita buat ngebunuh si Amigdala, cara yang paling ampuh adalah dengan “melakukan”, bukan hanya sekedar memikirkan. Karna Amigdala hidup di otak kita, tentu saja kalau soal bermain mikir-memikir dia pasti menang. So, kita kalahkan dia dengan otot kita. Eits, jangan gebukin kepala lo. Maksud gue yuk kita langsung ACTION. Biarkan tubuh kita membuat sebuah ingatan otot yang kelak membentuk kebiasaan. Sama halnya kayak lo yang suka makan kulit ayam paling akhir. Secara nggak sadar, tangan-tangan kita dengan lincah menyisihkan kulit ayam untuk dimakan paling belakang. Saat itu apakah kita masih mikir “ah ntar enak gak ya”, “ah malas”, “ah kapan-kapan aja”? Enggak kan?

Okay gais, segini dolo yang tulisan gue kali ini. Moga aja ngasih manfaat buat khalayak ramai. Hohohoho. FIRST STEP IS HARDEST? YES, BUT I CAN DO IT NOW.

18 Februari 2014



Disini siapa sih yang ingin membuat sebuah karya tulis berupa cerita fiksi gitu? Saya rasa banyak! Setiap orang dalam membuat karya fiksi pasti memiliki metodenya masing-masing. Tapi untuk memudahkan dalam menulis, perlu adanya metode. Terkait ini, berikut adalah yang ingin saya share kepada kawan-kawan semua, yuk simak.
"Cerita" adalah alasan kenapa tulisan kita dibaca. Cerita adalah akar dari tulisan yang kita buat. Untuk membuat cerita yang menarik kita harus menggunakan 5 kunci dasar. Tidak harus juga sih, hanya saja kelima kunci ini telah banyak menelurkan karya-karya fiksi yang luar biasa bagus. Kelima kunci tersebut adalah :

Karakter Utama

Untuk membuat karakter/tokoh utama jangan sembarangan. Kamu harus memperhatikan beberapa hal penting, diantaranya :
Memiliki ciri khas. Ciri khas dapat berupa fisik, sifat atau kebiasaan. Yang jelas buatlah tokoh yang mudah diingat pembaca karna ada sesuatu yang khas/unik dari dirinya. Coba sebutkan apa yang kamu ingat jika saya mengatakan Peter Parker? Ada yang kamu pikirkan dari sosok itu? Nah, sekarang giliran kamu membuat tokoh yang mudah diingat pembaca.
Dipercaya pembaca. Buatlah tokoh utama yang dapat dibayangkan oleh pembaca. Cara paling sederhana adalah dengan memperhatikan temanmu di dunia nyata. Deskripsikan bentuk tubuh, watak, gaya bicara temanmu dalam sebuah tulisan. Lalu olah lah menjadi tokoh utamamu dengan membumbuinya ciri khas. Seliar apapun imajinasimu cobalah untuk realistis agar pembaca percaya jika tokoh yang kamu buat benar-benar “nyata”.

Jika kamu sedang menulis fiksi untuk naskah novel maka sempatkanlah beberapa paragraf untuk menceritakan latar belakang dan masa lalunya. Hal ini akan menjawab pertanyaan para pembaca “siapa sih dia?”.
Tujuan

Saya yakin kamu tidak sedang membuat cerita sinetron yang berbelit-belit. 'Tujuan' yang dimaksud disini adalah alasan kenapa tokoh utama berjuang. Tentukan tujuan tokoh utama dengan kompleks, jangan terlalu global. Misalnya “tim Avenger ingin menyelamatkan dunia” tujuan ini terlalu global. Coba buat lebih detail lagi dengan pertanyaan “bagaimana cara mereka menyelamatkan dunia?” kita akan jawab dengan “tim Avenger harus mengalahkan Loki dan menutup portal”. Ketika tujuan itu spesifik kita juga akan lebih fokus dalam menulis, itulah mengapa tulisan kita menjadi menarik.

Risiko

Masih ingatkah dengan kata-kata dari Paman Ben ini : “seiring kekuatan yang besar, muncullah tanggungjawab yang besar”. Sama. Seiring tujuan yang besar muncullah risiko yang besar. Pembaca akan berhenti membaca ceritamu jika dalam tujuan tokoh utama tidak memiliki risiko yang besar. Risiko dan tujuan ini hendaklah kamu tulis sedini mungkin untuk menanamkan pada pembaca “wah, tujuannya tercapai gak ya”.

Rintangan

Jika dalam benak pembaca sudah tertanam pikiran “wah, tujuannya tercapai gak ya” maka selanjutnya kita tinggal memainkan emosi mereka. Ceritamu akan membuat pembaca tertidur pulas jika kamu tidak membuat rintangan. 
Dulu sewaktu pelajaran bahasa Indonesia di SMA saya masih ingat tentang unsur “konflik” dalam cerita. Nah konflik itu adalah benturan dari tujuan dan rintangan. Jadi dalam menggapai tujuan, tokoh utama harus melewati rintangan demi rintangan. Ingat, jangan membuat satu rintangan saja, bahkan cerpen sekalipun. Minimal dua. Buat apa? Tentu saja memainkan emosi para pembaca.

Dalam membuat rintangan kamu juga tidak diperbolehkan terlalu manis. Jadilah ibu tiri yang kejam. Siksalah tokoh utamamu. Jangan biarkan dia meraih tujuannya dengan mudah. Kenapa demikian? Karna saya yakin dengan begini kamu sedang membuat cerita yang menarik.
Resolusi
Oke, step terakhir. Disinilah kamu akan menentukan happy ending atau sad ending. Dan jika kamu ingin membuat ending luar biasa maka buatlah kedua-keduanya sekaligus. Bagaimana caranya? Sederhana sekali. Saya ambil contoh dari novel lawas Analogi Cinta Sendiri (Dara Prayoga). Ending ceritanya adalah si Oka (tokoh utama) gagal mendapatkan gadis yang selama ini ia perjuangkan dan cintai diam-diam. Sad ending bukan? Nah, dalam satu bab yang sama ia secara tak sengaja dipertemukan dengan teman wanitanya semasa SD dulu. Dalam pertemuan dengan obrolan singkat itu ia kembali merasakan sesuatu yang disebut “jatuh cinta”. Bisa dibilang ini happy ending karna kisah sedihnya berakhir melalui pertemuan itu. Dalam kasus ini juga sering disebut open ending, yaitu di mana pembaca dipersilahkan mengembangkan sendiri kelanjutan kisahnya bagaimana.

Dengan kelima elemen yang saya paparkan ini semoga memberi manfaat untuk semua. Sekarang yang harus kita lakukan adalah menulis. Yuk nulis sama-sama!
Tips-tips ini diilhami dari buku Creative Writing (AS. Laksana) dan Langkah Awal Menjadi Penulis Fiksi (Gari Rakai Sambu), semoga bermanfaat. Terimakasih sudah menyimak.

10 Februari 2014


Naga adalah sebutan umum untuk makhluk mitologi yang berwujud reptil berukuran raksasa. Makhluk ini muncul dalam berbagai kebudayaan. Pada umumnya berwujud seekor ular besar, namun ada pula yang menggambarkannya sebagai kadal bersayap yang memilik beberapa kepala dan dapat menghembuskan nafas api (wikipedia). Namun dibanyak negara masing-masing memiliki berbagai macam jenis naga. Kalau kalian nemu cerita yang berbeda ya mohon maklum lah ya, namanya juga legenda, banyak versinya. Berikut adalah 10 Naga yang bisa saya kumpulkan:
1. Huang Long (Mitologi Cina)

Menurut mitologi Cina, aktivitas Huang Long ketika terjaga, tidur dan bernapas menentukan siang dan malam, serta musim dan cuaca. Huang Long diyakini sebagai reinkarnasi abadi dari Kaisar Huang Di. Dalam legenda kemunculannya, Huang Long bertarung dengan monster bernama Kung Kung. Akibat ulah dari Kung Kung ini Huang Long harus menutup lubang langit.

2. Hydra (Mitologi Yunani)


Hydra digambarkan sebagai naga yang memiliki sembilan kepala. Konon jika salah satu kepalanya dipenggal, maka akan tumbuh kepala yang baru. Naga ini juga memiliki darah dan napas yang beracun. Yang sanggup membunuh naga ini adalah Hercules dengan bantuan keponakannya, Iolaos. Peran Iolaos sangatlah penting, karna ia yang menemukan cara untuk membuat Hydra tidak dapat abadi.

3. Jormungandr (Mitologi Nordik)


Jormungandr diyakini sebagai anak dari Dewa Loki dan raksasa Angrboda. Musuh terbesar naga ini adalah Dewa Thor. Thor pernah mencoba membunuh Jormungandr yang tinggal di lautan Midgard, tapi usaha itu digagalkan oleh Hymir.

4. Dragon (Mitologi Eropa)

Legenda tentang naga tentu sangat bervariasi. Ini adalah salah satu penggambaran naga secara umum yang biasanya kita temukan dalam film-film kolosal wilayah Eropa. Diyakini naga ini berbetuk seperti kadal raksasa yang memiliki sayap dan mampu menyemburkan api dari mulutnya. Selain itu naga Eropa dianggap sebagai monster jahat, berbeda dengan naga di Cina yang sangat diagung-agungkan. Konon naga ini merupakan binatang para penyihir gelap. Sehingga banyak para kesatria yang berjuang membunuhnya agar mendapat gelar pahlawan dan mendapat kehidupan yang layak di kerajaan.

5. Kolkhis (Mitologi Yunani)


Naga ini memiliki tiga cabang lidah. Tugasnya adalah menjaga bulu Domba Emas. Dalam melaskanakan tugasnya ini Kolkhis tidak pernah tidur sama sekali. Kalau dalam kisahnya Percy Jackson memang sih yang jaga bulu Domba Emas bukannya Kolkhis tapi Cyclop.

6. Quetzalcoatl (Mitologi Aztek/Amerika Tengah)


Quetzalcoatl (bacanya gimana sih ini -_-) diyakini sebagai Dewa Pencipta dan langit Aztek. Konon, naga ini memiliki hubungan dengan Venus. Saat ini, Quetzalcoatl (susah ngetiknya, jadi dicopas -_-) dianggap sebagai pemimpin para dewa Aztek.

7. Tiamat (Mitologi Babilonia dan Sumeria)


Tiamat digambarkan sebagai seekor naga yang memiliki lima buah kepala. Masing-masing kepala mampu menyemburkan elemen kehidupan yang berbeda-beda yaitu api, air, udara, tanah dan petir. Tiamat ini diyakini melahirkan para dewa generasi pertama. Namun ia dibunuh oleh salah satu putranya sendiri yaitu Marduk (Dewa Badai). Tubuh Tiamat yang terbelah dari pertarungan itu menjadi langit dan bumi saat ini.

8. Yamata no Orochi (Mitologi Jepang)


Naga Jepang ini memiliki 8 kepala dan 8 ekor. Bagi kalian yang suka lihat anime Naruto pasti pernah menyaksikan penggambaran naga ini. Namun dalam legendanya kekuatan yang dipunyai oleh Yamata no Orochi adalah memanggil ruh-ruh jahat dari dunia lain. Kehadirannya adalah simbol dari kejahatan, iblis dan dunia bawah. Dalam 5 kali pertarungan dengan para dewa legenda lain, Yamata no Orochi hanya pernah sekali kalah dari Kyuubi.

9. Zmey (Mitologi Slavia)


Zmey memiliki 3 buah kepala dan memiliki kemampuan menyemburkan api. Cara untuk mengalahkannya adalah memberinya sapi yang sudah dilumuri belerang. Tubuh bagian dalamnya yang mudah terbakar akan membakar belerang tersebut. Akibatnya, tubuhnya akan meledak.

10. Indo Nagasiar (Mitologi Indonesia)

Menurut legenda naga ini tidak memiliki wujud yang keren seperti naga lain. Tubuhnya merah membara seperti bara api namun secara mengejutkan naga ini mampu ditunggangi oleh pemiliknya. Ukuran naga ini pun tidak setabil, kadang sebesar kuda, kadang sebesar tirex. Konon, ketika naga lain mampu menyemburkan api tapi nagasiar mampu menyemburkan asap, sungguh kuat sekali.


Sumber gambar : Google image

21 Januari 2014



Jujur gue ngerasa beruntung tinggal di kota Solo. Gue sih gak begitu ngerti kondisi kota lain kayak gimana, tapi yakin deh Solo ini kota yang ideal menurut gue. Bicara tentang Solo tentu kita akan langsung nyantol dengan salah satu sosok yang sering muncul di koran-koran atau di media televisi. Siapa lagi kalau bukan Joko Widodo (Jokowi) yang pernah memimpin kota Solo. Gue emang gak pernah punya pengalaman khusus dengan beliau, hanya saja dulu pernah ketemu pas gue sama temen-temen lagi asik jalan-jalan di Car Free Day. Dengan santainya beliau naik sepeda lipat dan tentu saja gak ada pengawal atau ajudan yang mengiringi. Kala itu respon masyarakat yang melihat beliau ya tidak norak-norak banget. Hanya sekedar tegur sapa “monggo Pak Jokowi..”

Melihat dari hal sederhana itu rasanya nyaman banget. Hubungan dari pemimpin dengan masyarakat benar-benar sangat kental. Hingga entah kenapa hampir seluruh masyarakat Solo mencintai sosok sederhana itu. Duh malah kayak kampanye aja nih. Yah, niatnya gue mau ngomongin kota Solo kok. Beberapa hal yang gue suka dari kota kecil ini adalah :

1. Nggak macet
Kalo nggak ada event besar seperti kirab sih kota ini nggak ada macetnya. Kalau pun macet ya nggak parah-parah banget lah. Tetep bisa jalan meski pelan-pelan. Biasanya momen macet ya cuman dibeberapa titik pas jam pulang sekolah saja. Tapi sebagai warga Solo yang sudah bertahun-tahun tinggal disini, macet tentu bukan masalah. Karna ada banyak jalan pintas yang bisa ditempuh (kebiasaan ngindarin polisi karna gak pake helm).

2. Event keren
Sebenarnya sih gue yakin tiap kota juga punya event-event andalan. Nah, menurut gue event yang membumi di Solo tentu saja ‘kirab’. Apa itu kirab? Semacam perayaan yang memakan jalan. Hahahaha.. banyak sekali kirab yang diadakan kota Solo. Mulai dari Solo Batik Carnival yang sifatnya modern hingga yang lebih tradisional seperti kirab yang diadakan dari keratonan. Selain itu event berbasis internasional juga pastinya ada. Sebut saja SIPA (Solo International Performing Art) atau SIEM (Solo International Ethnic Music), event performing art sangat bisa menyedot penonton dari masyarakat Solo.
SIPA

Solo Batik Carnival
3. Biaya makan murah
Sejauh mata memandang dan sejauh roda kendaraan gue melaju, tetep makan di kota Solo bisa menghemat pengeluaran. Gue sebagai anak kuliah yang uang jajannya pas-pasan tentu hafal bener soal biaya makan. Percaya atau tidak dari jam 8 pagi sampai 9 malam gue dikampus, untuk makan kenyang cuma perlu 20ribu perak. Jadi gini, gue sarapan soto+tempe+teh (3000+500+1500) habisnya 5000. Makan siang belakang kampus paket nasi+ayam goreng+es teh habisnya 9000.
Lanjut habis maghrib makan di HIK nasi 2 bungkus+tempe bakar 2 + esteh (2000+1000+2000) jadi habisnya 5000. Sudah tuh total 19.000 rupiah broo. Nominal segitu kalau dikalangan gue masih dibilang boros juga lho. “Daerah kampus kan emang murah-murah bro biar laku..”. Yup, tapi diluar area kampus seprti restoran dan cafe sih menurut gue juga masih banyak yang terjangkau. Rata-rata 10ribuan lah kalau makan disini. Mau enakan dikit ya 15ribu deh udah standar itu. Mungkin di kota kalian ada yang biaya hidupnya lebih murah dari sini? Share dong..

4. Transportasi
Ada apa dengan transportasi kota Solo? Ada beberapa yang bikin gue ngerasa bangga aja sih meski belum pernah naik. Sebut saja bus tingkat dan railbus. Adapula sepur kluthuk, kereta jaman dulu gitu deh. Tapi ya gue sih belum pernah naikin itu itu dan itu. Soalnya memang transportasi yang itu kebanyakan buat wisatawan saja.




5. Tempat nongkrong
Jujur sih tongkrongan asik di Solo gak banyak. Kalau tongkrongan alay sih ada, hahahaha.. Kalau gue sih seneng nongkrong di taman kota atau resto/cafe yang sepi senyap. Suasananya itu lho.. Solo damai banget. Memang ada dititik-titik tertentu yang masanya membludak gak karuan. Tapi selama ada tempat sepi dan ada toko buku, itu sudah cukup untuk mencintai kota ini. Hehehe..

6. Hijau
Sudah ada yang pernah masuk kampus gue? Universitas Sebelas Maret (UNS) ? Nah itu kampus semi hutan. Mau ngelirik kemanapun kita bakal ngeliat daun-daun seger, batang pohon besar dan kalau mata lo jeli ntar juga liat kadal dimana-mana. Lagi, sepanjang jalan Slamet riyadi paling gue suka. Asik banget kecuali depan Grand Mall (biasanya macet dikit). Saat ini kota Solo masih terus mengembangkan sistem kota hijau. Back to the jungle..
7. Tempat wisata
Solo punya apa ya buat wisata? Museum purba, museum batik, atau Keraton. Nah kan kota lain selain Solo dan Jogja gak punya keraton. Hehehe. Keraton solo ini sakral sob, kalau cewek masuk sini gak boleh pakai celanaa lho. Bukan telanjang! Kalo lo (cewek) kesana pakai jeans gitu ntar dipinjemin jarik. Sama musti beli apa ya namanya lupa, kayak yang dikalungin waktu wisuda gitu, harganya 15ribu pas gue dulu.

Kalau wisata yang rada alam-alam gitu.. Kita punya kebun binatang Jurug. Sebagai wisatawan yang baik sebaiknya tidak perlu kesana hahahaa.. Ah bercanda, tapi emang sih kalau dibandingin sama Gembira Loka Jogja udah kalah banget deh Jurug ini. Kalau mau yang seger-seger bisa tuh ke Tawangmangu, ada Grojogan Sewu (Air terjun seribu). Lihat-lihat candi juga bisa lho didaerah sana. Atau pantai, ada di daerah Wonogiri namanya Pantai Nampu. Nggak masuk Solo juga sih, tapi masih masuk eks-karisidenan Surakarta kok, jadi ya gak jauh-jauh banget laah.

Baca juga: Tentang Pantai Hingga Gunung di Solo

Pantai Nampu
Oke, gitu aja deh ya ulasan gue tentang kota Solo dari sudut pandang pribadi. Semoga memberi informasi yang bermanfaat.

Update: Tulisan ini menurut pengamatan penulis pada tahun 2013. Sejak saat itu kota Solo terus mengalami perubahan sehingga beberapa ulasan dalam tulisan ini ada yang tidak terwakili di masa sekarang.

Follow Us @soratemplates