Pages

REVIEW BUKU : Creative Writing (A.S. Laksana)


Halloha.. Gais, malam ini gue mau menuhin label “Review”, dan akhirnya gue pilih buku Creative Writing sebagai objek pembedahan review kali ini. Buku ini informatif dan menginspirasi banget buat gue. Mau tau kayak apa isinya? Yuk ambil air wudhu terus pantengin blog gue. Hahahha.
 
Buku Creative Writing merupakan karya dari seorang sastrawan bernama A.S. Laksana. Ada yang belum kenal? Baiklah. A.S. Laksana adalah seorang penulis handal yang sudah aktif sejak tahun 90-an. Terbukti dari dua cerpennya, Seorang Ibu yang Menunggu (1996) dan Menggambar Ayah (1998) dengan elegan terpilih sebagai kumpulan cerpen terbaik Kompas. Tak hanya itu, di tahun 2004 salah satu karyanya mendapat penghargaan dari Majalah Tempo sebagai buku sastra terbaik. Mahakarya itu berjudul Bidadari yang Mengembara, sebuah buku yang memuat cerpen-cerpen segar dari A.S. Laksana. Sampai-sampai salah satunya cerpennya, “Burung di Langit dan Sekaleng Lem” mendapat tempat di Festival Sastra Winternachten, Den Haag, Belanda. Di puncak kesuksesannya sebagai penulis senior, ia pun mendirikan Sekolah Menulis Jakarta School pada tahun 2004. Hingga gue beli bukunya, kini ia menulis kolom tetap “Ruang Putih” untuk edisi hari Minggu di harian Jawa Pos. Wuih... Keren-keren kan prestasinya?

Nah jadi gimana setelah tau siapa penulis buku Creative Writing? Minat? Yuk lanjut.

Buku CREATIVE WRITING berisi resep-resep jitu dalam membuat tulisan, terutama untuk cerpen dan novel. Penyampaian materi dalam buku ini terbilang friendly banget, hal ini disebabkan pembawaan bahasa yang ringan, sederhana dan super duper jelas.

Awal membaca biografi penulisnya sih gue pikir isi buku Creative Writing bakal kaku dan ngebosenin (karna melihat ia penulis angkatan 90-an... Ops! Peace Om hehehe). Apalagi desain cover bukunya yang simpel dan kelam itu. Tapi ternyata gue salah. Buku ini justru anak muda kekinian banget. Lengkap dengan ilustrasi yang menarik di sela-sela tulisannya.

 “Buku CREATIVE WRITING adalah peta bagi para penulis pemula, harus dibaca”
 Jujur saja sebelum gue kenal dengan A.S. Laksana dan membaca bukunya ini, gue sudah gemar bikin cerpen-cerpenan. Tentu saja bukan sebuah mahakarya yang membahana alam semesta. Gak jarang niatnya gue bikin cerpen malah jadi lembaran curhat yang menggelikan. Satu hal yang bikin gue tersesat pas bikin cerpen, GUE GAK PUNYA PETA.
 
Peta adalah komponen terpenting saat kita ingin menginjakkan kaki di tempat yang baru. Sama seperti menulis. Kita butuh peta, butuh arahan, butuh rambu-rambu agar tulisan kita enak dibaca. Dan disaat gue hilang kendali, gue bersyukur bertemu dengan buku Creative Writing.
 
                                                                   Buku ini RAPI
 
Yups, buku setebal 200-an halaman ini disusun dengan sangat rapi. Rapi Ahmad.
 
Semua penulis pemula pasti pernah ngerasain susah memulai tulisan. Ada yang bilang gak ada ide, gak mood, bingung mau mengawalinya gimana, macem-macem dah alesannya. Nah, secara maskulin, buku ini dibuka dengan 6 bab yang dapat membangkitkan semangat sekaligus mengajarkan kita tips memulai sebuah tulisan. Keenam bab itu diantaranya ;
 
Rahasia Kreativitas: Mendekatkan Tangan dengan Otak
Anda Hanya Perlu Action. Itu Saja!
Menulis Buruk
Menulis Cepat
Strategi Tiga Kata
Jangan Menulis Sekaligus Mengedit

 
Antara satu bab dengan bab yang lain selalu berkesinambungan, inilah yang membuat tulisan A.S. Laksana terasa harmoni. Gimana ada yang tertarik?
 
                                               Terbongkarnya Rahasia Penulis Hebat
 
Pernah nggak ngerasa tulisannya Pram itu enak dibaca? Atau ngerasa ketagihan dengan susunan cerita bikinan Ahmad Tohari? Coba bandingkan dengan tulisan kita. Hmmmmm.
 
Gue sih pernah ngerasa minder saat baca tulisan gue sendiri yang morak-marik. Gue sempet yakin kalau kemampuan nulis gue payah banget, lalu berniat buat berhenti karna ngerasa gue nggak BERBAKAT. Kendati keinginan gue buat bikin sebuah mahakarya dalam bentuk tulisan terus menghantui setiap hari, akhirnya gue mutusin buat lebih serius belajar nulis. Sampai gue yakin, menulis bukan selalu tentang bakat tapi usaha.
 
Belajar menulis dengan membaca buku Creative Writing cukup efektif. Disitu nanti secara detail dan mudah dicerna, kita akan disuguhkan oleh trik-trik menulis. Beberapa triknya terangkum dalam bab-bab seperti;

Show, Don’t Tell
Mengonkretkan Konsep-Konsep Abstrak
Deskiripsi dengan Lima Indra
Cerita dan Karakter
Mengakrabi Karakter
Menyeberangi ARUS dengan Plot
Dialog
Sudut Penceritraan (Point of View)
Sudut Penceritaan (POV) Lebih dari Satu
Adegan
Konstruksi
Paragraf Pembuka
Mengatur Gerak Cerita
Sampaikan Sekali Saja, dengan Tepat
Menghidupkan Bahasa dengan Metafora

 
Dari bab-bab itu gue banyak mendapat pemahaman baru. Mulai dari membuat tulisan yang bisa bikin pembaca bener-bener ngerasaan latar cerita, cara membuat karakter utama yang langsung jleb dihati pembaca, sampai cara membuang kalimat-kalimat tak perlu dalam sebuah paragraf. Komplit daaah.
”bisa jadi penulis itu pesulap, dibalik aksinya selalu ada trik dan latihan”
 
                                                  Bocoran Bab Pamungkas Versi Gue
 
Tuh diatas sudah gue kasih lihat berbagai bab yang ada dalam buku Creative Writing. Dan gue paling suka dengan bab Strategi Tiga Kata.
 
Mungkin teman-teman yang pernah ikut pelatihan menulis pastinya udah tau dengan trik yang satu ini. Jadi Strategi Tiga Kata adalah sebuah trik untuk membuat kalimat-kalimat yang nggak klise. Pernah semasa gue sekolah dulu buku-buku cerita di perpustakaan banyak yang memulai ceritanya dengan ungkapan “Matahari”. Semisal, “Matahari pagi menghangatkan tubuhku..”, “Sang surya terik menembus jendela kamarku”, atau “Langkahku peluh dibawah sengatan matahari..” dan lain sebagainya.
 
Nah, agar kita keluar dari kalimat-kalimat klise itu maka kita pakai sebuah alat bantu bernama Strategi Tiga Kata. Contoh nih ye (gue lagi gak ada ide bikin cerita apapun lho), gue bikin satu paragraf yang menunjukan aktivitas pagi hari. Terus gue harus pakai alat bantu berupa tiga kata secara acak, misal gelas-knalpot-tsunami. Paham? Oke gue langsung tulis sekarang secara SPONTAN !
 
                       Rasa kantuk dan benci bersatu padu membuat ekspresi tak bergairah terlihat jelas dari wajahku. Diatas meja makan tanganku memainkan garpu dengan malas. Mataku redup menatap gumpalan mie yang tampak tak sedap. Aku selalu benci jika harus sarapan dengan mie gelas. Karna beberapa jam setelahnya pasti perutku jadi panas seperti knalpot motor omprengan sehabis dipakai touring. Belum lagi kalau siangnya telat makan. Sudah pasti aku harus ke toilet buat memuntahkan kembali mie yang tidak berhasil dicerna lambungku. Sampai-sampai teman-teman di sekolah memanggilku “Si Tsunami Asam Lambung”.
 
Huahahahahhahaa... Gue nulis apaan tuh? Setidaknya gue mencoba menjawab tantangan gue sendiri. Hahahaha.
 
Lihat gais, gue yakin gak ada yang ngira kalau kata Tsunami bakal dijadiin sebuah bahan ejekan. Gue sendiri aja juga gak ngira. Itulah otak kita. Mahadasyat. Jadi jangan disia-siain. Yuk nulis!
 
“Segala sesuatu adalah soal pikiran” – Tony Buzan
 
                                                                Akhir Sebuah Rahasia
 
Oke gais, diatas gue udah ngasih tau bab-bab dalam buku Creative Writing yang menyimpan banyak rahasia untuk membuat tulisan yang bagus. Nah sekarang di akhir buku, kita akan disuguhkan oleh tiga bab motivasi yaitu;
 
Disiplin itu Menyenangkan
Bacalah!
Buka Kamus

 
Yang perihal bab Bacalah! itu bagus juga lho. Banyak menulis cuma bisa dilakukan buat orang-orang yang banyak membaca. Menulis-membaca itu semacam Ying-Yang. Keduanya adalah satu kesatuan, lambang harmonisasi.
“Pembaca yang baik memiliki kekayaan imajinasi, ingatan, kosakata dan sejumlah kepekaan artistik” – Vladimir Nabakov (1899-1977)

Ilham Bachtiar

Blogger kalang kabut yang doyan menulis tentang film. Meski tutur lisannya kurang terjaga, tapi orangnya total berkharisma. Terima usikan di ilhambachtiar25@gmail.com

19 komentar:

  1. Mas Sulak emang keren! Dan buku ini memang disajikan secara runut. Benar-benar membantu penulis pemula. Coba beli Rahasia Menulis Kreatif Raditya Dika, deh. Formatnya ebook. Bisa cek di blog dia. Terbatas sampai tanggal berapa gitu~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah kalo si radit rada gak tertarik, hehehe. Coba cari bukunya Garai Rakai Sambu-Langkah Awal Menulis Fiksi. Bagus tuh. Detail bgt hohoho.

      Hapus
  2. Pengen punya bukunya. Sy nabung dulu lah

    BalasHapus
    Balasan
    1. sehari nabung 5 ribu bro, ntar 11 hari udah bisa beli buku itu hohoho

      Hapus
  3. Cocok tuh bukunya buat ane. Thanks bro

    BalasHapus
  4. keren nih ya, bedanya apa buku yg edisi revisi sama buku sebelumnya? :O

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku ndak tau juga edisi sebelum revisi kayak apa bro.. kayaknya versi sudah lama banget

      Hapus
  5. iya, kalau gue pribadi lebih ke arah ngga ada mood. Tapi buku ini bener2 bagus, walau belum pernah baca. terbukti dari hasil spontan yang lu tulis. Gue jadi pengen nyoba nulis secara sponta.

    Ruangan AC diruangan benar-benar tidak memberi ampun. Udara dingin yang disebarkan menjalar hingga ke tulang. Jika saja, remotenya tidak hilang, mungkin aku masih memiliki opsi untuk meringankan udara bersuhu es ini.

    Kelihatan banget tulisan gue masih pemula, hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu yg bikin paragraf spontan maksudnya pakai "strategi 3 kata" bro, itu salah satu trik jitu bikin paragraf anti-mainstream hohoho..

      Hapus
    2. keren sob bukunya,
      tulisan lo juga keren , :)

      yuk cek tulisan tulisan diblog q :D :D :D

      Hapus
  6. iya nih, udah lama gak ngepost.. ini nih yang bikin semangat buat bangkit.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo dong aktif ngeblog, masak kalah sama buletin sholat jumat yg bisa terbit seminggu sekali wahahahaha...

      Hapus
  7. Gue juga uda punya bukunya. Baru mau nge-review eh uda keduluan :3

    BalasHapus
  8. Walah, kayaknya bagus banget. Bener juga sih, kalo kita bandingin tulisan kita sama orang-orang yang udah JAGO pasti bakal kelihatan jauh banget. Tapi yang udah JAGO dulu juga gitu. Nah, semoga kita yang belum punya karya, bisa segera menyusulnya haha.. Aamiin.

    BalasHapus

Berkomentarlah sejujur-jujurnya. Sebab menjadi diri sendiri tanpa rasa sungkan adalah sebaik-baik sandiwara.