29 November 2014


Haloo guys, pie kabare? Hehe.. Kali ini gue mau mereview film nih. Sebenarnya agak kurang enak kalau mau mereview, takut terlalu bikin spoiler. Tapi karna film ini udah ditarik dari bioskop Indonesia jadi gak papa lah ya kalau gue review. Jadi kesannya review buat kalian yang gak nonton filmnya tapi pengen nyambung kalau ngobrol sama temen-temen yang lagi bahas film ini. Hohohoho...

Lupin III (imdb) adalah sebuah film yang diangkat dari serial manga dengan judul yang sama. Pertama kali muncul di Futabasha Weekly Manga Action tahun 1967. Ditulis oleh Monkey Punch yang kali ini berkolaborasi dengan Ryuhei Kitamura (sutradara dari film seperti Versus, Azumi, Godzilla: end of Wars) sebagai Film Director.

TOKOH-TOKOH DALAM FILM

Jigen, Lupin, Fujiko
Sebelum kita bicara lebih jauh soal jalan cerita dalam movie ini, ada baiknya kita kenalan dulu sama mas-mas mbak-mbak pemeran. Jujur saja gue sendiri kaget dengan akting Shun Ogiri yang memerankan karakter utama, Lupin. Meski tidak sepenuhnya dibilang menakjubkan namun perubahannya dari karakter yang selama ini diaperanin bener-bener beda banget. Coba kita lihat bagaimana ‘dingin’-nya dia memerankan Takiya Genji (Crows Zero) dan kalemnya Shinichi Kudo (Detective Conan 2006). Setelah imej-nya yang kalem-kalem gitu, dia dengan luwesnya memerankan Lupin yang celelekan, banyak tingkah, dan ceroboh. Beda banget sama aktor Indo, main film apa aja dapat karakter peran yang sama mulu. Bosen.

Buat kalian yang belum move on sama Meteor Garden, boleh nih dilihat aktingnya Jerry Yan sebagai Michael Lee. Ceritanya si Michael Lee ini rivalnya Lupin dalam satu tim. Gak Cuma rebutan harta curian, mereka juga rebutan cewek. Wuuuiiiihhh.. Sayangnya sebagai karakter yang ‘seharusnya’ cukup vital,  Jerry Yan terlalu lemah.

Buat para cowok jangan khawatir, ada Meisa Kuroki yang memerankan gadis seksi Fujiko Mine. Meskipun kehadirannya cukup menyebalkan karna tipu muslihat yang ia lakukan, namun kita dapat maafkan berkat parasnya yang enak dilihat. Selain itu ada Yuka Nakayama seorang top model yang memerankan karakter jahat, Maria. Menjadi scene epic bagi para cowok saat Fujiko mandi terus disergap sama Maria. Berantemnya sih biasa, cuman suaranya sampe aaahh aaah aaaww ooohh ikeh ikeh kimochi gitu deh. Nah pas adegan ini paling enak ditonton sambil merem, dengerin suranya aja. Hahahaha.

Film ini juga dibintangi oleh aktor-aktris terkemuka lain seperti Tadanobu Asano (Inspector Zenigata), Nick Tate (Dawson), Nirut Sirichanya (Pramuk), Tetsuji Tamayama (Jigen), Go Ayano (Goemon), Kim Jun (Pierre), Yayaying Ratha (Miss V), Vithaya Pansringram (Naron).

SETTING
Pierre, Fujiko, Jiro
Meskipun film diangkat dari manga tahun 60-an, namun dalam adaptasi filmnya nampaknya sudah masuk zaman kekinian. Bahkan mungkin meloncat beberapa tahun kedepan antara tahun 2020-an. Hal ini terlihat dari tehnologi yang digunakan canggih tapi masih bisa dimaklumi. Handphone yang dipakai pun sudah yang transparan gitu, tapi tata letak kota masih tetap ala kadarnya seperti zaman sekarang.

Lokasi syuting tidak membosankan, pasalnya mereka meloncat-loncat dari Singapore, Hong Kong, Jepang dan Thailand.

JALAN CERITA (SPOILER ALERT)
Lupin vs Michael
Film ini dibuka dengan aksi pencurian museum di Singapura. Satu persatu tokohnya diperkenalkan sesuai dengan skill specialist-nya masing-masing. Lupin, Michael Lee, Fujiko, Pierre dan Jiro adalah sebuah tim pencuri yang merupakan bagian dari asosiasi pencuri profesional The Works, yang dipimpin oleh Dawson.

Karna sebuah konflik internal, Michael Lee melakukan penghianatan dengan mencuri The Crimson Heart of Cleopatra dari koleksi The Works lalu membunuh Dawson dan Jiro. Disebabkan kejadian itu, Lupin dan anggota yang tersisa bermaksud untuk membalaskan dendam atas penghianatan itu.

Perlu waktu bertahun-tahun untuk melacak kehadiran Michael, hingga akhirnya Fujiko mendapat informasi jika Michael berada di Thailand. Alur cerita ini tidak setipis yang kalian kira. Di Thailand mereka bertemu dengan musuh sesungguhnya, Pramuk. Selain itu kehadiran Inspektur Zanigata juga memberi ancaman bagi Lupin dkk dalam menjalankan aksinya.

Melihat musuh sesungguhnya itu, Lupin mengakui jika ia tak mungkin menang dengan tim seadanya. Pencuri cerdik itu pun memanggil temannya dari Jepang, Goemon. Goemon sendiri adalah samurai level dewa hahaha. Ia sangat pendiam dan tradisional. Hebatnya, meskipun ia pendiam namun kehadiran sangat lucu. Tau sendiri lah bagaimana orang tradisional hidup di zaman modern.

Tak cukup dengan merekrut Goemon, Lupin bahkan bermaksud mengajak Michael bergabung dengan timnya untuk melawan Pramuk. Tentu saja anggota tim yang lain sangat tidak setuju dengan hal itu. Lalu, apakah Michael benar-benar bergabung dengan tim The Works kembali? Apakah mereka mampu mencuri dari Pramuk yang memiliki manson teraman di dunia? Apakah justru inspektur Zanigata mampu menangkap Lupin dkk? Belum lagi dengan kemisteriusan Fujiko yang sering memberi informasi palsu ke Lupin, apakah ia mata-mata musuh? Penasaran? Hehehehe....

KESIMPULAN
Goemon, Fujiko, Lupin, Jigen
Film ini sangat ringan untuk film yang berhubungan dengan detective. Lebih banyak aksi yang ditampilkan. Tak luput twist humor juga disajikan dengan apik. Saran gue sih jangan terlalu serius dengan film ini. Terutama kehadiran Goemon sang Samurai, meskipun jurus pedangnya gak masuk akal tapi justru aksi pedangnya itu seru buat ditonton.

Bagaimana pun juga Lupin III adalah film adaptasi dari manga, yang mana wajar-wajar aja kalau ada karakter yang lebay, atau aksi-aksi yang berlebihan. Wajar bro wajar. Hehehe. Oke guys, udah dulu ya review dari gue. Makasih banget udah mau mampir, komen dong hahahahaha. Maaf kalau ada kata-kata yang susah dipahami, memahamimu pun begitu susah bagi gue. Eaaaaaaaaakkkkk. Seeya~

Sumber gambar:

17 November 2014


Sebuah novel yang sangat menggemaskan telah lahir dari rahim seorang perempuan berbakat, Disa Tannos. Sebagai novel pertamanya ini, Disa seperti balerina yang menari diatas kertas kosong dengan memeragakan sebuah cerita yang sangat ajaib. Sungguh indah. Mulai dari alur cerita sampai diksi, semua terkemas dengan anggun.
Overture sendiri adalah musik orkestra yang dimainkan pada awal opera atau oratorio.
“Sebuah lagu kala mendung”
Ketika itu gue baca novel in di suatu malam pasca hujan. Karna tetangga sebelah dangdutan kuenceng banget, gue ambil earphone, colokin di kuping, play J.S Bach. Sayatan biola dan kenangan memberi efek luar biasa dalam imajinasi gue. Semakin bertambah menit, lembar-lembar demi lebar gue buka. Disa Tannos meracik kata-katanya seperti ganja, gue kecanduan.
“Pakailah baju hitam, sayang. Di hatiku kau sedang dimakamkan.”
Kisah ini dibuka dengan sebuah kesedihan. Dijalani dengan kesedihan. Dan diakhiri dengan kesedihan. Novel ini seperti mengungkap kebenaran bahwa bahagia hanyalah dongeng. Bahagia tak pernah ada bagi mereka. Raka, Rena, Kei dan Adam. Persahabatan, pasutri, dan friendzone.
Ceritanya ini Rena dalam imajinasi gue
Rena, seorang ibu beranak satu. Pergi meninggalkan suami dan anaknya demi mencari kebahagiaan bagi dirinya. Bahagia yang tak ia temui di rumah tangganya. Kepergiannya mencari kebahagiaan, meninggalkan dua manusia yang terpaksa menelan luka dalam detik-detik rindu mereka.
Cocok nih jadi bapak-bapak galau -Raka-
Raka, seorang pria gigih yang memburu cinta Rena selama lima tahun. Ia pun mendapati perjuangannya dengan menikahi Rena. Namun sayang, kebahagiaan yang ia cari bersama Rena harus kandas saat Rena memilih mencari kebahagiaannya sendiri di luar sana, entah dimana. Sementara itu, ia harus mengurus putra satu-satunya, Regi, yang masih sangat kecil bahkan terlalu lupa untuk mengingat siapa ibunya. Raka mebutuhkan sosok perempuan dalam rumah tangganya.
-Kei- Maudy Ayunda, kemudaan kali ya hahaha
Kei, seorang gadis yang jatuh dalam duka sejak Ayahnya pergi meninggalkan rumah 15 tahun yang lalu. Dari waktu ke waktu, penantiannya tak pernah berhenti. Harapannya belum padam, semakin ia berharap semakin sakit yang ia rasakan. Hingga pertemuannya dengan Raka, pria yang memiliki rasa sedih yang sama, rindu yang sama, dan penantian yang sama.
-Adam- Ini orang emang jago meranin friendzone.
Adam, teman dari Raka, sahabat dari Rena dan jatuh cinta dengan Kei. Dua tahun waktu yang dibutuhkan Adam untuk mengejar cinta dari Kei. Sampai ia menelam pil pahit saat Kei memutuskan mencintai pria lain. Pria yang justru ia kenalkan dengan Kei. Pria yang sangat membutuhkan sosok perempuan dalam keluarganya.
-Regi-
Regi, adalah anak dari Rena dan Raka. Ia tak mendapatkan kenyamanan dari keduanya, hingga hatinya jatuh pada Tante Kei, gurunya dirumah.


“Seperti yang telah kita berdua pahami, memenuhi janji jauh lebih rumit daripada mengatakannya. Dan janji yang tak terpenuhi tentunya menyakitkan. Barangkali, sudah saatnya semua orang belajar berhenti berjanji dan meminta janji.”
Cinta seperti estetika, dalam pengertiannya orang-orang memahami bahwa cinta dan estetika selalu berbicara tentang keindahan. Tidak menurut Disa Tannos, 191 halaman ia curahkan untuk merontokkan keyakinan orang-orang tentang cinta dan sejuta keindahannya. Jatuh cinta tak selalu pada orang yang tepat. Jatuh cinta pada orang yang tepat tak selalu mendapat balasan cinta yang sama. Jatuh cinta dan patah hati hanyalah seonggok perasaan yang tak berkemanusiaan, keduanya membuat pria garang menjadi lemah.
Sayangnya cinta tak memiliki wujud. Jika ada, mungkin Raka, Kei, Adam dan Rena akan memilih untuk mengoprasi miliknya masing-masing. Meletakkannya di tempat yang tepat. Tidak seperti saat ini, saat cinta tak memiliki hak untuk memiliki. Saat cinta seperti bongkahan es di kelopak mata, siap untuk mengalir.

Berat rasanya mencintai perempuan lain saat jari ini masih menyimpan satu janji suci tentang pernikahan. Berat rasanya mencintai pria yang sedang menunggu kepulangan istrinya. Berat rasanya mencintai perempuan yang memilih meletakkan hatinya dengan pria lain, temannya sendiri. Berat rasanya pulang ke rumah saat pria yang ia tinggalkan mulai move on.

Overture, senandung yang sangat merdu dalam sebuah lembaran novel. Gesekan biola dan dentingan gitar berpacu dalam kata-kata penuh sayatan. Entah untuk apa senandung ini tercipta, Overture bukan dongeng tentang putri salju dan cinderella. Overture tidak mengenal bahagia, tidak saat halaman pertama ini terbuka. Anehnya, satu lembar sebelum novel ini berakhir, kita masih tak mampu menebak bagaimana ending ceritanya. 
Disa Tannos, membuat sebuah novel seperti hamparan langit hitam, kemudian secara perlahan ia meletakkan sinar-sinar kecil dalam ceritanya. Hingga sampai akhir kita dipaksa menebak rasi bintang apa yang hendak Disa buat. Bahkan saat menutup novel beserta kisahnya, rasanya ingin agar Disa tak pernah berhenti meletakkan sinar-sinar itu. Ditunggu karya selanjutnya.
Disa bisa dicolek di @jemarimenari

Follow Us @soratemplates