9 April 2015



Awal April merupakan sibuk-sibuknya bioskop Indonesia. Dimana orang-orang berbondong-bondong mendatangi bioskop untuk menyaksikan film Fast & Furious 7. Atau di berbagai cabang Blitz ramai dengan antrian para pecinta Naruto yang ingin menyaksikan Naruto: The Last Stand. Namun, saya menarik diri dari keramaian tersebut.
 
Pasalnya, saya sangat menantikan sebuah film dalam negeri berjudul Filosofi Kopi. Saya tidak tahu jika ada orang yang tidak tahu jika film ini bagus. Jujur saja, eskpektasi saya atas film ini sangat tinggi. Saking tingginya, saya takut jika nantinya dibuat kecewa layaknya film Supernova.

Sayangnya, kali ini film yang diadaptasi dari novel Dee Lestari “akhirnya” memuaskan. Untuk film ini saya kasih nilai 8/10, berikut adalah review film Filosofi Kopi versi saya yang diusahakan aman spoiler:


Film ini dimulai dengan menyegarkan, dimana suara biji kopi beradu dan dentingan sendok yang bersentuhan dengan gelas melantunkan nada-nada kehangatan kopi. Sinematografinya memuaskan, meski agak bingung mengapa di awal-awal film ada sedikit goyang-goyang yang agak bikin ngilu. Entah emang sengaja atau kacamataku yang lagi goyang dumang. Tenang saja, itu bukan masalah besar. Dan memang bukan masalah sama sekali.


Ben dan Joddy adalah sepasang sahabat yang kompak-kompak gemes. Suka ribut karena beda pendapat, namun tetap menghormati satu sama lain. Di awal cerita kita akan langsung ditonjok dengan permasalahan mendasar yang membuat mereka berdua resah. Yaitu hutang 800juta rupiah. Sedangkan penghasilan kedai kopi mereka ‘sangat’ tidak memungkinkan untuk melunasi hutang tersebut. Sebenarnya saya sangat berharap jika nantinya kedai ini benar-benar bangkrut-krut, sehingga penonton benar-benar makin dibuat simpatik dengan Ben dan Joddy. 


Hutang itu adalah pemicu dari masalah-masalah lain yang menimpa mereka. Sebab, dalam menyikapi persoalan tersebut, Ben dan Joddy melihat dari sudut pandang yang berbeda. Joddy melihat dari segi marketing yang rasional mencoba untuk merubah sistem pengelolaan keuangan kedai Filosofi Kopi. Mulai dari ide untuk membeli bahan baku yang murah, menyediakan WiFi hingga memecat salah satu karyawan. Sedangkan Ben selalu melihat dari segi kualitas kopi. Banginya masalah ini simple, dimana jika ia mampu membuat kopi yang enak maka kedai bakal ramai. Sehingga Ben fokus pada pembelian bahan-bahan baku yang berkualitas tinggi, tentu saja harganya mahal.


Perdebatan yang sengit dan lucu terus disajikan kepada penonton sampai suatu ketika mereka mendapat ‘golden ticket’. Kehebatan Ben dalam meracik kopi membuatnya terkenal. Lalu pada suatu malam Ben didatangi oleh seorang borjuis yang menantangnya untuk membuat kopi paling enak se-Jakarta, sukur-sukur bisa se-Indonesia. Jika Ben berhasil, ia akan dihadiahi 100juta rupiah!

Sampai disini cerita memasuki babak konflik.

Jujur saja, saya sangat suka dengan karakter Ben sebagai seorang yang jenius jika bicara soal kopi, tapi suka jadi trouble maker dadakan. Sifatnya yang sembrono beradu dengan kekakuan Joddy selalu membuat masalah menjadi makin runyam. Tak terkecuali soal hadiah 100juta itu. Dengan mengejutkan Ben meminta upah dinaikkan hingga 1Milyar jika berhasil membuat kopi terbaik se-Jakarta/se-Indonesia. Jika gagal? Mereka akan ganti rugi 1Milyar kepada si borjuis itu.


Menurut Ben, ia berhasil melunasi hutang bahkan sisa pelunasan hutang masih bisa dialokasikan untuk perluasan kedai. Namun, menurut Joddy, Ben baru saja menambah hutang 800juta mereka menjadi 1Milyar 800juta rupiah. Apa yang terjadi? Mereka berdua berantem...lagi.


Setelah itu Ben bersemayam di laboratorium kopinya untuk membuat racikan terenak se-Jakarta/se-Indonesia. Ia tak ingin diganggu selama dua minggu. Nah, sampai sini sebenarnya saya sangat berharap jika kedai Filosofi Kopi ditinggalkan banyak pelanggan sejak perginya Ben. Hingga si Joddy sangat frustasi karena kedai makin sepi. Rasa frustasi itu akhirnya meledak hingga membuatnya melanggar janji. Joddy terpaksa menemui Ben meski belum genap dua minggu. 


Ternyata tidak. Joddy memang melanggar janji, tapi ia datang dengan damai. Sampai sini saya kembali berharap jika Ben sudah membuat 90% racikan kopinya, tapi bingung karena tidak menemukan 10% kekurangannya. Lalu Joddy yang tidak tahu apa-apa soal kopi secara tak sengaja memasukkan sesuatu ke dalam kopinya Ben. Dan ternyata kopi tersebut malah jadi sempurna. Lalu diberi nama Benjo’s Perfecto.


Ternyata tidak. Ben berhasil membuat 100% kopi terenaknya. Ia memberinya nama Ben’s Perfecto.
 
Udah selesai? Ceritanya gitu saja? Eits, jangan salah.


Kehadiran Ben’s Perfecto membuat antrian panjang di kedai Filosofi Kopi. Rona bahagia menghiasi wajah Ben dan Joddy. Sayangnya rona itu tidak seawet kenikmatan kopi tubruk. Dalam sekejab aura suram kembali mengantui mereka sejak kemunculan El yang tidak tergila-gila dengan Ben’s Perfecto.
 
El adalah seorang gadis cantik yang keliling Indonesia untuk mencicipi semua kopi dan menuliskannya menjadi sebuah buku. Lidahnya telah mendapat sertifikat dari salah satu lembaga ternama di Perancis. Kredibilitasnya soal kopi tidak perlu diragukan lagi, ia bukan amatir. Tentang Ben’s Perfecto, baginya hanyalah lelucon jika minuman itu dianggap sebagai kopi terenak di Indonesia. Karena lidahnya telah mencicipi kopi yang lebih enak dari itu di Indonesia. Namanya Kopi Tiwus.


Ben tentu saja terpukul. Kini 1Milyar 800Juta kembali menghantui Ben dan Joddy. Sampai disini saya berharap pertengkaran Ben dan Joddy mencapai puncaknya. Ternyata benar. Mereka bertengkar satu sama lain. Saya suka.


Ketegangan tidak hanya muncul dari perselisihan Ben dan Joddy. Namun juga muncul dari dalam masing-masing diri mereka terhadap mereka sendiri. Terutama tentang masa lalu Ben. Mengapa Ben bisa membuat kopi enak? Apa hubungan Ben dan Joddy? Semua dijelaskan dengan rapi dalam film ini.


Keadaan terus berubah-ubah. Satu perselisihan selesai. Muncul masalah lain. Pertengkaran tersulut lagi. Dan seterusnya, alur persahabatan Ben dan Joddy selalu seperti itu. Tapi pengemasannya sungguh bagus. Saya tidak bosan.


Sejak El muncul, rasa percaya diri Ben mulai terganggu. Menyikapi hal itu, Joddy berencana untuk bertemu dengan pembuat Kopi Tiwus di sebuah kampung dataran tinggi, asal-usul kopi itu dibuat. Sampai sini saya semakin antusias menyaksikan film ini. Bertemunya Ben sang barista modern dengan ahli kopi dari kampung yang dikagumi El memunculkan konflik batin yang mendalam. Sangat dinantikan!


Dari sini cerita mengalir begitu artistik. Tidak ada lagi yang bisa saya ceritakan karena saya terlalu terpesona dengan aroma kopi. Konflik demi konflik terus menerus menghujani Ben dan Joddy. Memprediski alur film ini hanya buang-buang energi, nikmati saja. Kecuali jika kamu sudah baca bukunya Dee dengan judul yang sama, Filosofi Kopi.


Bagi saya film ini melegakan. Ekspektasi saya yang tinggi tidak dijatuhkan oleh Filosofi Kopi. Saya sangat menikmatinya. Juga kemunculan para cameo yang terdiri dari artis-artis ternama membuat saya tertawa. Seperti Joko Anwar, Tara Basro hingga Baim Wong muncul dengan muka serius tapi menggelikan. Seolah-olah penonton dibuat menggumamkan “woe..ngapain lu disini?”.


Jujur saja, saya agak kurang mantap dengan para pemeran meskipun hampir semua yang nongol di film ini adalah artis papan atas. Entahlah, mungkin cuma perasaanku saja. Dan satu lagi, kekuatan musik dalam film ini menurut saya juga kurang mantap (bukan berarti jelek), meskipun yang mengerjakan Glen Fredly.
 
Nah, begitu saja review saya tentang film Filosofi Kopi yang tayang perdana 9 April 2015. Beberapa hal memang luput dari ekspektasi, namun semua terbayar lunas atas wisata kopi yang disajikan dengan menyenangkan ini. Setelah nonton film ini saya jadi ingin mencampur-campur minuman.

Saya ingin membuat “Filosofi Air Putih”, mencari air mineral terbaik di dunia dari mata air pegunungan terbaik di Indonesia. Jadi nanti ceritanya si El keliling Indonesia nyobain air putih dari sumur-sumur hingga tempat isi ulang air galonan. Pasti epic!


Nah, sudah dulu ya, guys. Terimakasih sudah menyimak tulisan saya. Maaf jika ada yang tidak menyenangkan. Sampai jumpa dan semoga sehat selalu.. Yuk nonton film Indonesia!

29 Maret 2015



Hai guys, sudah lama rasanya tidak menyapa dan berbagi cerita di blog. Belakangan ini saya sedang menjalani Uji Kompetensi Dasar 1 yang tentu saja banyak ujian dan tugas-tugas yang menerkam dengan kejinya. Meski demikian, dengan gagahnya saya mampu menyelesaikan semuanya #berlagaksombong #padahalnilaipaspasan.

Skip paragraf diatas, kali ini saya ingin berbagi cerita khususnya pada pengalaman saya yang tak kunjung lupa. Jadi ceritanya di suatu pagi yang cerah saya bertemu dengan penulis ternama, Dee Lestari. Bukan hanya bertemu, saya pun mengikuti pelatihan menulis yang ia mentori. Bagaimana cerita selengkapnya? Yuk, simak ribuan kata dan jutaan rindu di bawah ini:

#jutaanrindu #iyajutaanrindu #ldr? #bodolah

Sembari menikmati senja dengan dentuman lagu-lagu Blake Shelton, saya kehabisan ide untuk melakukan sesuatu yang bermakna. Alhasil saya khusyuk scrolling timeline twitter. Ditengah ramainya lalu lalang tweet yang merajalela di jalanan twitter, langkah jari saya terhenti sejenak. Mata saya terpaku menatap sebuah pictweet dari akun Bentang Pustaka. Inilah yang saya lihat..


Tubuh seorang pria ditemukan terbujur kaku di atas kasur. Dengan mulut menganga, mata melotot nyaris lepas dan kulit mulai memucat menandakan pria tersebut tidak dalam keadaan baik-baik saja. Siapa dia? Itu saya!

Saat itu saya girang sekali, lebih girang dari tante girang yang kegirangan sekalipun. Mengetahui Dee Lestari bakal ‘dolan’ ke Solo tentu saja adrenalin saya meningkat tajam. Ini adalah sebuah kesempatan emas yang haram untuk dilewatkan. Fatwa ini membuat saya mencurahkan segala kemampuan untuk menang kompetisi agar bisa mengikuti kelas menulis yang dimentori penulis novel Supernova tersebut.

But, wait? Solo? Kontes menulis? Don’t make me laugh. Perpustakaan yang bagus saja kota ini tidak punya. Disitu kadang saya merasa sedih, pedih, perih, dan letih. Alhasil saya tidak jadi mencurahkan segala kemampuan dan beralih untuk memenangkan kontes dengan elegan dan tenang. Coba lihat review saya di sini --Review Gelombang Karya Dee Lestari -- biasa saja kan?

Setelah tahu info itu, saya merapikan rencana weekend di pertengahan Maret yang terlampau padat. Pokoknya, khusus hari minggu itu harus benar-benar selo!

Tulisan saya yang mereview novel Supernova: Gelombang pun meluncur dengan lancar di blog ini. Pun demikian dengan email yang saya kirim ke Bentang Pustaka. Jujur saja, karena review saya biasa-biasa saja (salah satu faktornya karena jumlah kata dibatasi sih) alhasil saya mengeluarkan kemampuan menghasut saya lewat email yang dikirimkan ke pihak Bentang selaku panitia. Karena nulis tertalu panjang di review-nya itu tidak boleh, ya saya nulis panjangnya di email mereka. Hahahaha.

Seusai mengirim email dan mendapat balasan dari Bentang jika email sudah diterima dengan sah, kini tinggal tawakal saja.

Entah mengapa menunggu hari pengumuman rasanya lama sekali. Seolah Tuhan scrolling harinya lebih pelan dari biasanya. Meski begitu, Tuhan tidak pernah salah scroll. Hari akan terus maju ke hari berikutnya, tidak akan berhenti bahkan kembali. Jika yang bisa saya lakukan adalah menunggu, maka saya akan menunggu. Entah mengapa paragraf ini saya tulis bergulir begitu saja tanpa sempat menarik napas. Mulai melantur jadinya. Back to topic!

Baiklah. Hari pengumuman tiba! Yeee... Dengan riang gembira saya langsung cek email, cek twitter dan cek website Bentang. Kalian tahu apa yang terjadi saudara-saudara? Tidak ada pengumuman! Tidak ada tanda-tanda ada acara Dee’s Coaching Clinic! Hari itu rasanya realitas dan ilusi tampak kabur.

Dengan cemas, saya merekonstruksi ingatan untuk memastikan jika acara Dee’s Coaching Clinic bukanlah gambaran di alam mimpi semata. Dokumen-dokumen dalam otak tergali hingga tiap detailnya mampu saya ingat kembali. Dengan mantap, saya mengimani jika acara itu benar-benar ada dalam dunia nyata. Mata saya terpejam, dagu mendongak keatas, lukisan senyum tercipta di bibir, dalam hati menggumam... “Kalah...”

Sepertinya pengumuman acara itu tidak dipublikasi besar-besaran di twitter atau di website. Rasanya seperti kontes balap liar profesional De Leon yang hanya bisa diikuti oleh orang-orang pilihan. Dan saya kalah? Di Solo? Mungkin ini yang dirasakan Spiderman saat tidak diajak gabung Avengers. Atau seperti Syaiful Jamil yang tidak diajak gabung One Direction.

Tapi ya sudahlah, hikmahnya lain kali jangan meremehkan lawan dan jangan suka belagu pas ngirim email pendaftaran ke panitia. Hari-hari berikutnya saya jalani kuliah dengan biasa. Hingga saya dan teman-teman alumni Osis SMA merencakan acara #CampOnTheBeach di hari Jumat-Sabtu, satu dan dua hari sebelum acara Dee’s Coaching Clinic diadakan.

Senin hingga rabu menjadi hari yang sangat sibuk bagi saya. Selain kuliah dan tugas-tugasnya, saya juga harus segera menyiapkan acara camping. Saat itu bayang-bayang Dee’s Coaching Clinic sudah benar-benar punah dalam benak saya. Kecewa, tentu saja!

Rabu malam, saya membuka laptop dengan rasa lunglai. Setelah beberapa hari belakangan itu cukup malas online (tentu saja karena saya kalah kontes), kini saya menyambung koneksi internet dan mulai berselancar di dunia penuh tipu daya itu.

Log in Twitter.

Cek mention.


Tubuh seorang pria ditemukan terbujur kaku di atas kasur. Dengan mulut menganga, mata melotot nyaris lepas dan kulit mulai memucat menandakan pria tersebut tidak dalam keadaan baik-baik saja. Siapa dia? Itu saya! #Dejavu

Ya begitulah.. Ternyata pengumumannya telat! Saya sangat gembira kala itu. Sayangnya rasa gembira itu berbuah cemas. Karena artinya saya bakal menjalani hari yang terlampau padat. Di mana jumat dan sabtu saya ada acara camping. Sempet tidur nyenyak? Mustahil. Sabtu malam paling baru sampai rumah dan minggu paginya musti sudah duduk anteng di kursi Sunan Hotel Solo. Belum lagi ada tugas kelompok yang belum dikerjain.

Mata saya terpejam, dagu mendongak keatas, lukisan senyum tercipta di bibir, dalam hati menggumam... “Jancik...”


Setelah pengumuman yang menurut saya terlalu mendadak itu, saya benar-benar merapikan rencana hingga tiap detailnya terjamah agar semua berjalan lancar. Yosh, saya siap untuk kesenangan ini.

Melompati hari jumat dan sabtu yang melelahkan, sampailah saya di hari minggu. Pukul 7 pagi saya sudah mandi lengkap dengan parfum dan pomade. Namun, keadaan berubah ketika ibu saya mengucapkan kata ini --> “Le, motore ngko jam 9 meh dinggo njagong lho”.

Jeggeerrr.. Saat itu saya mendadak panik. Sudah pukul tujuh lebih dan acara dimulai tidak sampai satu jam setelah itu. Mau tidak mau saya harus naik bus. Dengan sigap, buru-buru dan perut kosong saya meluncur ke halte Batik Solo Trans. Paling tidak, saya butuh sekitar setengah jam untuk sampai ke lokasi dengan menaiki bus. Untung saja jalannya tidak terhalang CFD.

Alhasil, saya turun di Rumah Sakit Panti Waluyo dan harus jalan kaki beberapa meter untuk sampai ke tujuan. Jam digital menandakan waktu bergulir pukul 8:03. Kampret, ternyata lama juga busnya. Dalam sekejab dalam otak saya menawarkan dua pilihan :

1. Jalan santai tapi telat banget, atau

2. Lari tapi keringetan (yang bikin saya tidak tampak elegan lagi). Oke saya pilih pilihan ketiga, naik becak dan suruh abang-abang becaknya ngebut.

Sampai juga di Sunan Hotel. Abang becaknya saya bayar lima ribu perak. Tanpa pikir-pikir lagi kaki saya melesat menuju mas-mas satpam. Saya tanya lokasi ballroom 1, ia pun menunjukkan letaknya dengan praktis. Kaki saya melangkah mantap menuju dan memasuki ballroom 1.

But, wait...

Bola mata saya berkeliling melihat sekitar. Banyak orang-orang borjuis pakai jas necis. Ow faaaak! Ini kok malah acara seminar kesehatan?? Apa jangan-jangan MLM?? Setelah tahu jika saya salah tempat dengan lekas saya pergi menghampiri mbak-mbak resepsionis. Kali ini saya tanya Wiryowilldagdo Ballroom 1. Barulah ia memberi tahu jalan yang benar.

Anjir ternyata ballroom 1 tidak cuma 1!!

08.17. Saya berjalan dengan santai, elegan dan kharismatik. Padahal jantung udah deg-degan karena telat. Biasalah ya, saya ini sering ontime kalau ada undangan. Kecuali kalau memang sibuk banget sampai kocar-kacir ngatur jadwal. #soksokan

Sampai juga di lokasi eksekusi. Saya menandatangani daftar hadir sambil pura-pura senyum elegan untuk mbak-mbak panitia dari Bentang. Setelah itu tubuh saya segera memasuki ruangan. Olalaa.. Ternyata acara belum dimulai. Yasudahlah, paling tidak saya bisa rehat-rehat dulu sambil ngadem.

Di dalam ruangan itu ada teman saya dari komunitas Standup Comedy Solo. Saya agak keki karena sudah lama tidak nongol di komunitas. Tapi sudahlah, saya duduk disebelahnya. Kami berbincang seputar ‘piye kabare?’ hingga menggosipkan sepak terjang Dee Lestari dan karya-karyanya. Tak luput dari pengamatan saya, di depan juga ada peserta lain yang tengah seru membicarakan kreator Perahu Kertas itu. Bahkan seisi ruangan penuh dengan gema suara yang senada. Semua membicarakan Dee.

09.01. Acara resmi dibuka oleh MC. Dengan wajah riang dan penuh semangat MC itu memanggil nama Dee Lestari yang kemudian disambut oleh tepuk tangan meriah dari tangan para peserta. Semua kepala menoleh ke belakang sambil senyum-senyum bahagia.

Detik demi detik berlalu, tepuk tangan yang meriah itu perlahan meredam. Senyum bahagia berubah menjadi senyuman kaku yang aneh. Ya, ternyata MC-nya salah timing! Mbak Dee belum sampai di lokasi. Mungkin ia masih berjalan menyusuri tangga atau jangan-jangan dia salah masuk ke acara seminar kesehatan atau apalah itu.

Segera saja MC melepas kekakuan momen itu dengan sedikit basa basi yang dipaksakan. Untung saja dalam jangka waktu yang singkat mbak Dee sudah menunjukkan batang hidungnya. Yeeeeee.. Para peserta kembali bertepuk tangan. Dengan anggun Dee Lestari melangkah mantap memasuki ruangan dan melambaikan tangan menyapa kami dengan ramahnya.

Finally, acara dimulai!

Konsep acara Dee’s Coaching Clinic ini 100% merupakan tanya-jawab. Kami tidak diminta untuk menulis saat itu juga. Tapi kami diberi banyak waktu untuk mengajukan pertanyaan. Mbak Dee tidak menggunakan tampilan digital untuk presentasi. Ia memaksimalkan media flip chart dan membuat suasana ruangan seperti media belajar-mengajar klasik. Ia juga mengusulkan agar kelas dibuat lesehan saja, tapi hal itu tidak bisa direalisasikan karena ruangan sudah ditata sedemikian rupa oleh pihak hotel dengan konsep meja kursi.


Sebelum masuk ke sesi pertanyaan, sang novelis itu meminta peserta untuk memperkenalkan diri satu persatu dan mengutarakan motivasi mengikuti acara ini. Suara demi suara keluar dari mulut yang berbeda. Kami memperkenalkan diri, ada yang mantap ada yang grogi. Karena sesi itulah saya tahu jika peserta dari kota Solo sangat sedikit. Ada yang datang dari Jogja, Magelang, Semarang hingga Bogor. Saya jadi minoritas di kota kelahiran sendiri.

Perih. Dulu pas Bernard Batubara datang ke Solo juga cenderung sepi. Kebanyakan yang hadir perempuan-perempuan yang membuat suasana MaG seperti pengajian jalin ukhuwah antar muslimah. Sepertinya orang-orang di kota ini cuma kenal satu penulis saja, tak lain dan tak bukan adalah Raditya Dika.

Oiya, sesi perkenalan tadi juga membuat saya merasa lebih minoritas lagi. Para peserta itu benar-benar fans beratnya Dee Lestari. Semuanya sangat mengelu-elukan penulis Filosofi Kopi itu. Tak jarang jika para peserta Dee’s Coaching Clinic datang dengan tujuan untuk bertemu, berfoto dan mendapat tandatangan dari sang idola. Sedangkan saya datang untuk mengetahui rahasia menulisnya. Saya datang bukan demi sesosok Dee Lestari. Saya datang demi mengetahui apa yang ia ketahui. Dan ingin menekuni apa yang ia tekuni. Kalaupun acara pelatihan menulis dimentori oleh Aditya Mulya, Winna Effendi bahkan John Green, saya juga akan datang dengan niatan untuk belajar. Kecuali kalau pelatihan menulisnya menghadirkan Raditya Dika, 101% saya tidak akan datang. Sebab acara tidak akan kondusif, sekali Radit bilang ‘cieee’ semua peserta sudah histeris.

Baiklah sesi perkenalan sudah lewat. Tanpa basa-basi MC membuka ruang bagi peserta untuk mengajukan pertanyaan. Maka muncullah beberapa penanya. Dengan cekatan mbak Dee menjawab pertanyaan itu, sangat lugas dan ringkas itulah yang saya sukai. Seusai dengan sesi pertama, acara dihentikan sejenak untuk coffee break.

((ngopi dulu...))

Selesai menghirup udara segar dan mendapati secangkir kopi lengkap dengan cemilannya, acara kembali dilanjutkan untuk sesi kedua. Dalam sesi ini hampir semua peserta mengajukan pertanyaan. Saya termasuk orang yang tidak bertanya. Why? Karena saya tahu pertanyaan saya bakal terjawab dengan sendirinya. Beberapa peserta menanyakan apa yang ingin saya tanyakan, ditambah mbak Dee suka ‘sisan’ menjelaskan apa yang menyinggung dalam topik pertanyaan tertentu, nah yang ia singgung itu adalah pertanyaanku. See.. Terjawab dengan sendirinya. Jadi saya tidak perlu mengeluarkan suara, semesta selalu mendukung pria elegan. #soksokan #belagu

Setelah acara tanya-jawab selesai bagi saya acara sudah selesai. Tapi bagi yang lain, acara baru saja dimulai. Sesi tandatangan dan berfoto ria adalah sesi yang paling mereka tunggu-tunggu. Dalam hitungan detik, antrian memanjang seketika.

Dulu ketika mas Bernard Batubara ke Solo mungkin saya satu-satunya peserta yang langsung pulang tanpa minta tandatangan dan foto bareng. Mengapa? Bagi saya foto bareng hanya akan membuat jarak semakin jauh. Saya ingin foto bareng sebagai sesama penulis, bukan sebagai idola dan penggemar.

Namun dalam acara Dee’s Coaching Clinic ini saya sebagai minoritas tidak ingin menambah persepsi keminoritasan saya. Saya tidak ingin terlihat aneh dan malas menjawab pertanyaan “kok koe ra melu foto?”. Alhasil, saya ikutan ngantri sambil bawa buku Gelombang. Eee ternyata peserta lain bawa semua bukunya! Sedangkan di dalam tas saya hanya berisi buku Gelombang dan laptop (karena saya pikir peserta bakal diminta untuk menulis). Sekali lagi, saya merasa lebih minoritas.


Ternyata foto bareng ada hikmahnya. Pas saya upload di medsos, banyak juga yang ngiri. Namun, ada pula yang tanya “cewek itu siapa mas? Trus itu yang kamu pegang apa mas?”. Wadefaak! Ah pertanyaan tadi sedikit saya ubah, sebab sebenarnya yang tanya itu memanggil saya bukan ‘mas’ tapi ‘mz’.

Oke, cukup sampai sini saja ceritanya. Yang jelas hari itu saya bahagia. Jutaan keping inspirasi menghujam ke tubuh saya dengan deras. Saya sangat bersemangat untuk menulis. Lalu apakah setelah itu saya langsung menulis? Tidak saudara-saudara. Saya ujian dulu.. Hahahaha.

Terimakasih untuk teman-teman yang sudah bersedia membaca tulisan saya. Maaf jika ada yang tidak enak dibaca. Sampai jumpa dan semoga sehat selalu..

Fotoan dari kameranya Kobar

9 Maret 2015

Saya sering mendengar cerita dari teman (wanita) saya yang seringkali merasa gelisah dengan sikap kekasihnya yang secara spontan berubah-ubah tak menentu. Kadang hangat, kadang dingin. Kadang romantis, kadang cuek. Kadang humoris, kadang garing. Kadang ngasih surat cinta, kadang ngasih undangan nikah. #Eh

Hal-hal demikian membuat wanita bingung dan marah. Ia tidak tahu mengapa sikap kekasihnya berubah. Tentu saja yang tidak ia inginkan adalah segala kemungkinan terburuk dari hubungan mereka. Nah, berangkat dari hal itu saya mempelajari sebabmu sababnya dari seorang pakar asmara bernama John Gray, Ph. D dalam bukunya yang berjudul Men are from Mars, Women are from Venus.

PRIA ADALAH KARET GELANG 

Ambillah sebuah karet gelang. Tariklah salah satu sisinya sedang sisi yang lain tahanlah. Lepaskan sisi yang kamu tarik. Jebreeet! Begitulah seorang pria.

Dari praktik diatas, kita bisa memahami tiga pola sikap pria. Yang pertama adalah kecenderungan pria untuk menarik diri. Menarik diri bisa diartikan menghindar, menyendiri maupun dalam beberapa kasus mereka memilih untuk diam atau merenung. Hal ini alami dan wajar. Tidak hanya dalam hubungan  berasmara, pria juga menarik diri dari sahabat-sahabatnya, dari pekerjaannya, bahkan dari hobinya.

Setelah itu ia akan memasuki pola yang kedua, yaitu mengerut kembali. Sama seperti karet gelang bukan? Saat tarikannya mencapai titik maksimal, ia akan mengerut kembali ke bentuk semula. Sejauh-jauhnya pria menarik diri, ia akan kembali ke tempatnya.

Pola ketiga adalah laju dari kerutan karet gelang yang sangat cepat/kencang. Dalam kembalinya seorang pria dari penarikan dirinya, ia akan membawa perasaan gembira yang teramat luar biasa. Dalam hubungan asmara, katakanlah ia membawa rindu dan cinta pada kekasihnya yang berlipat ganda. Terlepas dari hal itu, yang harus dipahami seorang wanita adalah tidak merusak pola ini. Jika wanita mengacaukan pola ini, pria akan semakin jauh menarik diri. Kita tahu jika karet gelang yang terlampau jauh ditarik akan membuat karet itu putus.


MENGAPA PRIA MENARIK DIRI?

Bagi sebagian wanita, sikap penarikan diri pria ini adalah hal yang konyol. Berikut ini adalah alasan mengapa pria menarik diri:

1. Tugas Mulia Seorang Petualang
Konon, pada zaman dulu pria adalah para penjelajah dan wanita adalah pengurus keperluan rumah tangga. Seorang wanita tidak pernah merasa bosan di dalam rumah karena ia sering keasyikan mengurus bayi, menciptakan resep masak baru, atau sekedar bermain hit and run dengan kecoa. Sedangkan pria selalu asyik menemukan hal-hal baru di luar rumah, terutama petualangan. Dalam kepergian seorang pria tersebut, yang paling ia pikirkan adalah rumah. Karena dirumah itulah ia meninggalkan cinta dan membawa rindu.

Jika ujung-ujungnya pulang juga, kenapa pria harus pergi? Tanyalah Napoleon Bonaparte, mbak! Wanita memiliki cara alami dalam hal mencintai dengan prinsip selalu bersama. Sedangkan pria akan kehilangan gairah cintanya jika terlalu sering bersama. Komunikasikan dengan baik perbedaan kalian, jangan memaksakan perbedaan menjadi sama.


2. Bertapa
Pria memiliki sifat alami untuk keluar dari kerumunan lalu menyendiri. Hal ini sudah terjadi dalam ribuan tahun silam. Saat seorang pria memiliki banyak masalah, ia akan pergi dari kampungnya. Ia akan mengembara, menelusuri hutan lalu memasuki gua. Di dalam gua ia akan bertapa. Beberapa hari setelah itu ia kembali ke kampungnya. Wajahnya yang dulu murung berubah menjadi berseri-seri dan percaya diri.
Di era sekarang hal itu juga masih diterapkan oleh pria. Saat ia suntuk dengan sekitarnya, ia akan mencari tempat untuk menyendiri dan berpikir. Bisa jadi ia ke bioskop, perpustakaan atau sekedar naik kereta bolak-balik Solo-Surabaya hanya demi melamun sendiri di sepanjang jalan. Saya pernah menulisnya di: Melepas Penat dan Menjomblo di Surabaya


3. Pria Adalah Agen Rahasia

Dalam menyelesaikan masalah, pria memiliki cara yang berbeda dengan wanita. Wanita seringkali menceritakan masalahnya (curhat). Sedangkan pria akan menyimpan masalahnya sendiri. Semakin banyak yang pria pikirkan, ia akan semakin diam. Bukan karena pria tidak mempercayai wanita, hanya saja ia adalah agen rahasia. Ia ingin menceritakan semuanya, namun sifal alami pria menolak hal itu.


Wanita Seringkali Salah Mengartikan
Bagi seorang wanita yang tidak menyadari sifat alami pria tersebut akan memberi dampak buruk dalam hubungan mereka. Hal ini terjadi jika wanita salah mengartikan aksi menarik diri seorang pria. Wanita memiliki sifat alami yang sangat berbahaya, yaitu “prasangka”.

Prasangka adalah pola berpikir yang cenderung mengedepankan ego dalam menyimpulkan suatu kejadian tanpa fakta. Menyikapi perilaku pria yang menarik diri, wanita akan menyimpulkan semena-mena dengan menganggap bahwa pria sedang marah padanya, bosan padanya atau bahkan sedang selingkuh.

Prasangka tersebut membuat para wanita menjadi panik. Kepanikan ini akan menimbulkan sebuah reaksi tak wajar. Biasanya wanita akan mulai mengintrogasi, selalu curiga dan banyak mengatur atau membatasi. Hal-hal itu adalah gejala posesif kronis. Selain itu, adapula reaksi seperti marah dan depresi. Wanita marah karena merasa prianya tidak seperti yang dulu. Tidak lagi romantis dan humoris. Kadang juga ada yang kelewat depresi dengan menganggap dirinya tidak dicintai lagi.


Apa yang terjadi jika tidak saling memahami?

Nah, sekarang kita sudah tahu jika pria secara otomatis akan menarik diri dari situasi yang menjenuhkan. Kita juga tahu jika wanita secara otomatis akan memasuki ‘prasangka zone’. Kedua hal itu jika bertemu akan muncul kekacauan. Sebelum kekacauan itu terjadi, berikut ini adalah analisa saya jika kedua belah pihak tidak saling memahami sifat alami satu sama lain.

1. Perang Dingin
 

Jika hal ini terjadi, saya sarankan kedua belah pihak segera memakai baju. Dingin soalnya. Hehehe

Perang dingin artinya sepasang kekasih ini memilih untuk tidak saling bercakap-cakap sama sekali. Lebih parahnya, mereka mulai #nomention di twitter. Tentu saja isinya sindiran-sindiran negatif. Jika sudah begini, hubungan mereka akan susah dipersatukan. Satu-satunya cara untuk merdeka dari perang ini adalah menghangatkan suasana dengan bercakap-cakap di dunia nyata. Mulailah dengan private dinner, bawalah kado, lemparkan senyum, mintalah maaf jika perlu. Sudah begitu, jangan lupa saat pulang dari pertemuan tersebut, kirimlah pesan singkat yang manis.

2. Big Battle

Big Battle terjadi jika kedua belah pihak sudah mulai marah-marah, saling membentak dan sumpah serapah. Biasanya hal ini terjadi untuk mereka sepasang kekasih yang sudah berumah tangga. Mereka memiliki lokasi pertempuran yang saat mendukung, tentu saja rumah mereka sendiri. Jujur saja, saya tidak terpikirkan bagaimana mendamaikan situasi seperti ini.

Pertengkaran ini tidak bisa didamaikan oleh salah satu pihak saja. Kedua belah pihak harus benar-benar sadar akan kesalahan masing-masing dan memaafkan kesalahan kekasihnya. Dalam hal ini biasanya perlu pihak ketiga yang sangat netral.

Biasanya sih pria cenderung kalah. Sebab wanita akan curhat dengan teman-temannya. Dan teman-temannya akan ‘ngomporin’. Lebih parahnya lagi, teman-teman curhat ini akan jadi rempong memporakporandakan rumah tangga temannya sendiri. Bisa dibayangkan, jika para wanita ini semuanya memasuki ‘prasangka zone’, alangkah mengerikannya mereka. Sedangkan pria akan menyimpan masalahnya sendiri, ia tidak memiliki koloni untuk bertarung. Oiya, perlu diingat jika pertengkaran sepasang kekasih ini terjadi hanya karena salah komunikasi. Soalnya kalau memang si pria menarik diri karena selingkuh ya tips-tips diatas tidak ada gunanya.

3. Putus

Jika kedua belah pihak tidak menemukan jalur perdamaian hal ini pasti terjadi. Pria putus karena ia punya masalah lain yang harus ia selesaikan dan tentu saja ia ingin bebas. Wanita putus karena ingin segera mendapat kebahagiaan lain dan tentu saja karena disarankan teman-temannya juga.
Jika Pria Menarik Diri, Ini Yang Harus Dilakukan Wanita

1. Memberi Pria Ruang dan Waktu
Redam semua prasangka, berilah kekasihmu ruang dan waktu. Saya sarankan jangan lebih dari 40 hari dan jangan kurang dari 10 hari. Jika kamu membiarkan kekasihmu merasakan sendiri lebih dari 40 hari, maka ‘sendiri’ akan menjadi habitatnya. Ia akan terbiasa sendiri dan lupa untuk merindukanmu. Jika kurang dari sepuluh hari kamu sudah mengajaknya kencan atau sekedar dinner, ia masih akan merasa terganggu. Jika dirasa waktunya sudah tepat, ajaklah ia bicara, tidak perlu gengsi. Ingat, karet gelang.

2. Mengejar Cita-Cita
Tak usah pusing menebak apa yang dipikirkan kekasihmu. Jika ia menarik diri artinya kamu memiliki ruang lebih untuk melakukan apa yang kamu inginkan. Kejarlah cita-citamu yang tertunda. Akan menjadi menyenangkan saat kalian nanti bertemu dengan membawa bekal berupa cerita-cerita seru yang kalian lakukan masing-masing. Saat awal-awal menjalin hubungan kalian begitu penuh canda tawa karena cerita-cerita seru yang satu sama lain tidak saling tahu. Seiring berjalannya waktu, bahan obrolan kalian mulai habis karena kalian kemana-mana selalu bersama. Maka berpetualanglah. Kejar cita-citamu lalu ceritakan pengalamanmu padanya.

3. Jalin Komunikasi Dengan Wajar
Jika kalian terhalang jarak, kirimlah pesan-pesan singkat yang tidak terlalu memberatkannya. Jangan menanyakan aktivitasnya! Ucapkanlah doa, ucapan selamat atau kata-kata penyemangat yang manis (tapi jangan terlalu sering, 2 hari sekali misalnya). Dia bisa saja tidak membalas pesanmu. Bukan karena membencimu. Bisa saja karena tidak punya pulsa, tidak ada sinyal atau terlampau sibuk.

Jika setiap hari kalian bertemu karena mungkin satu kantor, perlu pendekatan lain. Senyumlah saat bertemu, sapalah duluan, bersikaplah yang wajar. Jangan mengusiknya saat bekerja atau melamun. Yang paling penting adalah jangan menebak apa yang dia inginkan! Tawarkan bantuan sesekali tapi jangan terlalu sering. Jika pria tidak ingin dibantu berarti ia memang tidak ingin dibantu. Jika pria mengatakan ‘tidak’ berarti memang tidak. Jika pria bilang ‘tidak usah’ atau ‘tidak apa-apa’ berarti memang tidak usah dan tidak apa-apa. Dalam fase menarik diri, pria tidak suka memberi kode. Mereka akan terus terang.


Jika Pria Menarik Diri, Ini Yang Harus Dilakukan Pria Itu Sendiri
 
1. Pesan Tanpa Suara

Dalam fase menarik diri, kamu memang tidak ingin bicara apapun, saya pun mengalaminya. Saya pun tahu jika kamu malas sekali menjelaskan apa yang kamu pikirkan. Tapi kekasihmu bukanlah dukun atau mutant yang bisa membaca pikiranmu. Jika kamu tidak mau menyampaikan apa yang kamu pikirkan, kamu bisa menyampaikan apa yang kamu rasakan. Tidak harus dengan bicara face to face. Buatlah sebuah tulisan atau gambar yang mengilustrasikan perasaanmu. Meskipun diselembar kertas lusuh, kekasihmu akan tetap menghargainya. Jika kamu kesulitan dengan dua hal ini, belilah sebuah kado manis, kirimkan padanya, tambahkan kata-kata “aku tidak apa-apa” / “jangan cemas” / “beri aku sedikit waktu” / “aku akan kembali” / “aku rindu, tapi nanti saja ya ketemunya, aku sedang sibuk banget” ya gitu-gitu deh.

Jika kamu sering bertemu dengannya di kantor. Belajarlah membuat origami lucu, berikan padanya sesekali, wanita suka hal-hal manis yang dilakukan pria secara spontan. Atau buatkan dia kopi favorit, letakkan dimejanya, coret-coretlah mugnya dengan spidol seperti icon smile atau kata sederhana yang manis. Hal-hal itu tidak membutuhkan banyak waktu, sehingga aktivitasmu tidak terganggu. (Tergantunh kekasihmu juga sih, kadang ada yang gak suka basa-basi hahaha, semangat bro)

2. Segera Selesaikan Masalahmu

Jika kamu menarik diri karena banyak masalah atau besarnya tanggung jawab yang kamu pegang, segera selesaikan!


3. Jangan Khilaf
Jangan coba-coba untuk main belakang dengan wanita lain. Kamu bisa saja terpikat oleh wanita lain dalam petualanganmu menyendiri. Kamu bisa saja bertemu dengan wanita unik yang bisa mengisi rongga-rongga kesedihanmu. Mungkin kamu berpikir jika ia bisa membahagiakanmu, tapi pria yang mencintai wanita lain di belakang wanita yang pernah ia cintai tidak akan bisa membahagiakan siapapun.

Ya, kamu hanya akan membuatnya kecewa suatu saat nanti. Jika kamu mencintai wanita baru itu, segera menjauh sebelum ia mencintaimu. Kamu bisa bahagia bersamanya karena ia memberi seluruh hatinya, sedangkan kamu tak akan bisa membahagiakannya karena kamu memberinya sisa hati yang separuhnya sudah untuk wanita lain.
Nah, sudah ya. Itu tadi ulasan saya yang diilhami dari bukunya John Gray. Oiya, barangkali jika ada yang ingin tanya-tanya seputar hubungan asmara bisa komentar dibawah ya. Kalau permasalahannya menarik, nanti saya ulas dengan pendekatan teorinya John Gray dalam sebuah postingan tersendiri. Jika permasalahannya simple nanti segera saya jawab di kolom komentar.
Terimakasih ya sudah berkunjung dan membaca. Maaf jika ada yang tersinggung. Sampai jumpa, semoga sehat selaluu.... :D

21 Februari 2015



Membaca novel ini tidak ada bosan-bosannya. Setiap kalimat tersusun dengan indah dan anggun. Siapa itu Indah dan Anggun? Penemu warna-warni pelangi pada masa Dinasti Shang.

#hening #skip

Kala langit datang dengan mendungnya, saya mengunjungi salah satu toko buku ternama di kota Solo. Dengan cermat saya mencari novel-novel dalam negeri yang tidak bergumul dengan kisah-kisah roman. Akhirnya pilihan saya jatuh ke novel Gelombang yang merupakan bagian serial Supernova, tepatnya seri kelima. Sebenarnya sudah sedari dulu ingin membelinya, tapi masih muncul keraguan mendalam dikarenakan faktor harga yang kurang ramah. Akhirnya di liburan semester minggu terakhir saya mengeluarkan semua sisa uang tabungan.

Baiklah, dengan penuh kidmat saya mulai membaca novel Gelombang.

Lima hari waktu yang saya butuhkan untuk menyelesaikan 465 halaman dalam buku ini. Dimanapun saya berada, Gelombang selalu terbuka untuk dibaca. Saat makan di kantin sendiri, saat nge-cafe sendiri, saat ngampus sendiri, saat dateng kondangan sendiri, saat pacaran sendiri... Emm.. #Skip

Nah, kali ini saya akan memberikan sedikit ulasan tentang novel Gelombang yang sudah selesai saya baca. Berikut laporannya:

Pada awalnya kita akan diajak berkelana mengarungi Medan pada tahun 1990, tapatnya di Sianjur Mula-Mula. Berkisah tentang seorang anak laki-laki bernama Thomas Alfa Edison dari marga Sagala. Panggilannya Ichon. Akun twitternya @IchonTheLampMaster.. Krik krik #skip

Yang membuat saya tertegun adalah cara Dee menuliskan cerita tentang budaya Sianjur Mula-Mula yang sangat rinci. Bahkan jika disandingkan dengan novel Things Fall Apart-nya Chinua Achebe (novel international best seller tentang pedalaman Afrika) tentu lebih bagus penceritaan Dee Lestari.

Di awal cerita ini kita sudah diajak untuk berfantasi tentang dewa-dewa, ritual dan hal-hal sakral nan mistis lainnya. Bisa dibilang kita seperti membaca Mitologi Batak, dan itu keren banget sumpah. Ditambah dengan dialog yang benar-benar hidup khas Batak membuat imajinasi kita semakin terlihat nyata.

Tentu saja cerita tentang kampung mistis itu tidak disuguhkan 400 halaman penuh. Alur cerita berikutnya si Ichon pindah ke Jakarta sejenak. Dengan modal keberanian, kecerdasan dan kelebihannya sebagai manusia ‘terpilih’, ia pun mengukir sendiri takdirnya dengan melancong jauh ke Benua lain.

Di negara asing itu kita akan diajak berpetualang ke alam mimpi. Inilah yang membuat saya makin jatuh cinta dengan Gelombang. Saya pribadi suka dengan misteri mimpi -semacam film Inception dan Detective Nightmare-. Dalam kasus ini, si Ichon menerapkan tidur Tetraphasic yang artinya dalam satu hari ia tidur 4 kali dengan durasi satu jam. Cukup disayangkan, menurut saya sih biar terlihat lebih insomnia si Ichon menerapkan tidur Hexaphasic saja. Dimana ia tidur 6 kali dengan durasi 20 menit, artinya total ia tidur 120 menit dalam satu hari.

Saking sukanya dengan hal-hal tentang mimpi, saya pun mencoba belajar melakukan Lucid (sadar saat bermimpi). Eh, ternyata disini si Ichon juga diajak untuk ber-lucid. Sampai halaman ini, saya semakin bergairah membaca Gelombang.

Eh, daritadi saya belum memberi tahu tentang konfliknya si Ichon ya? Jadi Ichon ini kalau tidur lebih dari satu jam bakal mengalami mimpi buruk. Saking buruknya ia bisa mati dalam mimpi itu. Mitos dari kampungnya bilang jika ia sedang dihantui atau dikutuk oleh Si Jaga Portibi. Tapi saat di luar negeri ternyata ada penjelasan ilmiahnya, yang mana hal itu meyakinkan ia bahwa dirinya bisa sembuh. Namun, saat ia mengikuti terapi untuk menyembuhkan penyakitnya itu, hidupnya malah semakin berantakan. Dan ia dihadapkan pada sebuah kenyataan yang teramat rumit dan mengejutkan.

Si Jaga Portibi dan Ichon
Ternyata ini semua bukan tentang mitos atau ilmiah. Dee membuat keduanya tampak kerdil. Kisah si Ichon melebihi mitos dan jauh berada diatas hal-hal ilmiah. Dee berhasil membuat dimensinya sendiri. Penyelesaian masalah yang tidak bisa ditebak membuat siapapun ragu untuk membuat review-nya.

Review berantakan ini adalah salah satunya. Saya bingung bagaimana meyakinkan calon pembaca untuk memuaskan saraf fantasinya dalam menikmati novel ini. Terutama dengan tidak membocorkan hal-hal penting. Sayangnya, setiap alenia adalah hal-hal penting yang harus kamu baca tanpa ekspektasi. Jadi saran saya, setelah kamu baca postingan saya ini dan bermaksud untuk membaca Gelombang alangkah baiknya jika kamu berusaha untuk amnesia dulu. Hipnotis kek, cuci otak kek, ruqiah kek atau nonton Saipul Jamil goyang dumang apapunlaah hal-hal yang bisa membuatmu lupa dengan apa yang kamu baca beberapa detik yang lalu. Oke?

Biasanya saya kalau membuat review suka memberi visualisasi tokoh-tokoh dengan mencomot beberapa figur lewat google yang kira-kira cocok memerankan si tokoh tersebut. Sayangnya saya benar-benar blank kalau harus mencari sosok orang Batak yang tampan dan jenius. Saya tidak menemukan aktor Indonesia yang cocok untuk memerankan Ichon (Alfa Sagala).

Tapi ada satu figur yang langsung nyantol di otak saat muncul tokoh Dr. Nicky, ini dia orangnya (hahahaha). Berikut saya sertakan pula tokoh-tokoh lain dalam visualisasi maya saya:
Carloz Martinez


Dr. Nicky


Troy Benton

Ishtar
 
Si Jaga Portibi
Hup, sekian dulu review dari saya semoga memberi manfaat untuk kamu kamu dan kamu. Terimakasih sudah mampir bertamu dan membaca, mohon maaf jika ada suguhan yang tidak mengenakkan. Sampai jumpa dan semoga sehat selalu.

11 Februari 2015

Bisa terhitung telat banget buat menceritakan perjalanan saya ini. Belakangan ini sedang punya banyak pikiran yang menggeliat di otakku. Emang susah kalau mengidap overthink, kemana-mana selalu mikir keras.

Terlepas dari sindrom itu, kali ini saya ingin berbagi cerita tentang perjalanan saya menuju kota Pahlawan dalam rangka liburan semester. Jadi, begini kisahnya.
 
Pada tanggal 14 Januari 2015 saya merasa jenuh dengan lingkungan Solo. Terlebih karena saya sebagai introvert, saya pun tak kunjung ada komunikasi dengan teman-teman saya di dunia nyata. Lama-kelamaan jadi bosan. Lalu pada keesokan harinya, saya mendapat ilham. Saya memutuskan untuk melakukan perjalanan keluar kota. Beberapa destinasi yang saya catat ada Bandung, Surabaya, Malang dan Karimun Jawa.
 
Dengan mempertimbangkan keuangan yang kering, saya pun memutuskan untuk melancong ke Surabaya saja. Terlebih orang tua saya menghendaki demikian sebab di Surabaya ada anaknya yang ketiga, jadi beliau pun tidak cemas. Saya sendiri sebenarnya cukup geli kalau dicemaskan, tapi ya biarlah toh Ibu saya memang cukup over dalam hal cemas-mencemaskan. Dan satu lagi, karena beliaulah yang mensponsori uang saku saya saat itu.
 
Alhasil, pada tanggal 21 Januari 2015 di suatu sore saya berangkat ke Surabaya menaiki kereta sendirian. Dalam perjalanan itu saya menghabiskan satu buah bukunya Bernard Batubara yang berjudul Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri. Yang mana dengan sukses membawa saya pada bayang-bayang semu tentang cinta. Ah, cinta, sudahlah.
 
Tiba di Surabaya sekitar pukul 10 malam, saya dijemput kakak saya di stasiun. Tanpa ba-bi-bu kami pun melenggang menuju rumahnya. Tidak banyak percakapan antara saya dan kakak saya. Memangnya apa yang kamu harapkan dari sesama golongan darah AB dengan latar belakang yang berbeda? Kakak saya anak tehnik fisika penggila bola, sedangkan saya anak seni penggila sastra. Satu-satunya pembicaraan yang nyambung diantara kami cuma tentang film saja, selebihnya, nihil.
Membuka mata pada tanggal 22 Januari 2015 di Surabaya. Jujur saja ini kedua kalinya saya datang ke kota metropolis ini. Yang pertama adalah touring saya dari Solo sampai Madura bersama dua kawan saya (bermodalkan Astrea90’ dan Vega2002, kurang gagah apa lagi?). Dari sini lah perjalanan saya dimuali, eh salah, maksudnya dimulai.
 
MONUMEN TUGU PAHLAWAN
 

Letaknya tidak jauh dari rumah kakak saya, tentu saja ini menjadi destinasi pertama. Menuju tempat ini saya nebeng kakak saya yang hendak berangkat kerja. Pukul 07.30 kala itu. Suasana begitu menyejukkan.
 
Tiba di lokasi, saya langsung menghampiri sebuah papan yang memuat gambar peta atau denah. Kebiasaan. Saya selalu membaca denah dan menghafalnya dalam otak saya. Bahkan saya langsung membuat agenda ‘jalan mana yang akan saya tempuh’ dalam wujud imajinasi visual dalam pikiran saya. Setelah selesai, saya melebarkan pandangan ke segala penjuru, mencoba untuk membaca papan petunjuk, papan pengumuman atau apapun. Maklum, saya tidak terlalu suka dengan ‘malu bertanya sesat dijalan’. Jika ada pertanyaan, saya cenderung mencari jawaban sendiri, kalau kepepet baru tanya.
 
Akhirnya saya paham. Untuk masuk kesini tidak perlu membayar, bebas foto-foto, tidak boleh main sepak bola, buang sampah pada tempatnya dan yang penting ‘gak boleh mesum’. Dengan percaya diri dan muka sok tahu, saya melenggang masuk kedalam. Hamparan rumput hijau menyambut kedatangan saya. Taman-taman yang tertata rapi dengan sedikit keringat mempersilahkan saya masuk lebih dalam.
 
Museum Pahlawan
Kebetulan di dalam sedang ada study tour dari anak-anak SD. Rame! Tapi tak masalah, lantunan lagu Monumen Tugu Pahlawan cukup sejuk didengar. Mata saya terus tertuju pada segala bentuk yang terpampang disini. Mulai dari Patung Ir. Soekarno-Hatta, Tugu, mobil Bung Tomo, monumen makam pahlawan tak dikenal hingga meriam (bukan meriam belina).
 
Tak hanya itu, saya pun masuk ke dalam museumnya. Yang mana biaya administrasinya cuma 5 ribu rupiah. Di dalam museum mata saya sungguh dimanjakan. Foto-foto dan benda-benda bersejarah terpampang rapi di dalam museum. Sebenarnya saat itu anak-anak SD yang study tour tadi ada agenda penayangan video di auditorium. Saya pingin ikut. Sayangnya saat itu sedang tidak membawa baju pramuka, padahal muka masih chuby dan layak jika dianggap anak SD.
Sapu Tangan yang tidak bisa dipakai buat ngelap ingus
TAMAN BUNGKUL DAN KEBUN BINATANG
 

Hasil searching saya di google menunjukkan jika Taman Bungkul adalah 1 dari 10 destinasi yang harus dikunjungi di Surabaya. Sesampainya disana, saya gak paham. Saya tidak tau apa yang harus saya temui di tempat itu. Banyak muda-mudi yang sibuk memadu asmara, padahal masih pagi. Ah iya, cinta tidak mengenal waktu.
 
Karena tidak terlalu tertarik, saya pun melanjutkan perjalanan saya menuju Kebun Binatanag. Oiya, tadi dari Tugu Pahlawan sampai Taman Bungkul saya naik Bus Damri seharga Rp. 6000. Lalu dari taman bungkul sampai kebun binatang saya berjalan kaki. Jalanan bersih dan matahari belum terlalu menyengat, cocok untuk menikmati jalanan Surabaya. Yaiyalah, jauh-jauh sampai sini kalau gak jalan kaki menyusuri jalan ya gak asyik dong.
 
Sampai di kebun binatang saya urungkan niat untuk masuk. Saya takut bertemu kawan saya, Lutung. Ada yang belum tau Lutung itu siapa? Lu Tung itu temannya Sun Go Kong. Sejenis kera dan sejenis saya. Fix! Skip this story.
 
Di kebun binatang saya cuma mampir makan bakso saja. Lha wong harga bakso dan tiket masuknya sama je. Terlebih lagi setelah cek google map ternyata dekat situ ada Togamas. Alhasil setelah makan bakso saya mampir Togamas. “Jauh-jauh di Surabaya cuma mau ke Togamas? Gitu mah, Solo juga ada”. Mau bagaimana lagi. Bagi saya, aroma buku lebih wangi daripada aroma ketek Emma Watson. Tidak ada yang bisa saya ceritakan di Taman Bungkul dan Kebun Binatang. Saya sadar passion saya bukan disini, tapi di museum dan hal-hal antik lainnya. Kamu misalnya.
 
MUSEUM KAPAL SELAM
 

Berangkat dari Togamas, saya naik angkot sampai Tunjungan Plasa (TePe) dengan biaya Rp. 5000. Dari TePe saya cukup bingung arah. Tanya orang? Maaf, intuisi adalah segalanya.
 
Alhasil saya mampir ke KFC deket-deket situ. Biar tidak terlalu menanggung isin, saya pun memesan Mango Float dan OR Burger. Totalnya Rp 20.500 sudah kena pajak, kalau di Solo biasanya Rp 17.000 sudah kena pajak juga. Sambil makan, saya mencoba menajamkan intuisi. Padahal sejatinya saya buka google map, tapi karena di Surabaya lokasinya cukup padat saya jadi bingung.
 
Dari KFC Tunjungan saya jalan kaki sampai Museum Kapal Selam. Jaraknya mungkin 20 kali lipat dari jalan kaki Taman Bungkul-Kebun Binatang tadi. Kenapa gak naik angkot saja? Hemat.
 
Dari pengalaman jalan kaki ini saya memperoleh ilmu menyebrang ala arek Suroboyo. Beda banget dengan di Solo. Kalau di Solo mau nyebrang harus nunggu jalanan sepi dulu baru berani lewat.

Karena kalau nyebrang pas ramai bakal kena marah oleh pengendara mobil dan motor. Nah, masalahnya di Surabaya tidak ada momen jalan sepi atau lenggang sedetik pun. Bermenit-menit saya berdiri menanti momen sepi itu, tapi tak kunjung datang. Lalu ada bapak-bapak penjual arit keliling menanyai saya “ameh nyebrang dek?”. Saya pun menjawab sopan, “nggih Pak”. Beliau membalas, “yowes bareng”. Saat itu saya masih santai berdiri menanti jalanan lebih sepi meski sejenak. Akan tetapi, bapak penjual arit itu langsung turun kejalan tanpa kompromi seolah-olah bilang “tabraken aku nek wani, rene tak gorok gulumu lho cuk!”. Benar saja, semua mobil yang melaju kencang langsung injak rem membiarkan bapak itu menyebrang. Saya pun memanfaatkan kesempatan itu untuk ikut ambil jatah nyebrang. Sampai di sebrang saya heran, kok gak ada yang nglakson panjang ya? Kalau di Solo udah bakal di klakson plus pisuhan tuh.
 
Ah jadi kepanjangan ceritanya. Oke, lanjut ke Museum Kapal Selam.
 
Sampai disini saya masuk dengan biaya retribusi Rp. 10.000. Saya berdecak kagum dengan suguhan kapal selam giganic itu. Tanpa ada komando dari siapa pun, saya menaiki tangga masuk ke dalam kapal selam itu. Tentu saja karena ada tulisan ‘masuk ->’.
 
Didalam tubuh kapal selam ini saya melihat jeroan kapal selam yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Di sini saya bebas mau foto-foto atau sekedar lihat-lihat saja. Asalkan tidak tiduran di kasurnya para pejuang angkatan laut. Saya pun mencoba memakai teropong yang sudah buket karena faktor usia. Pemugaran kapal selam ini cukup bagus.

Saya pikir pintu keluarnya lewat sini, tiap orang dimasukin ke rudal lalu ditembak keluar

Selesai dari perut kapal selam saya turun menuju ruang pemutaran video. Eh, sholat dulu ding. Oke, kelar sholat baru nonton. Agak kecewa juga, karena video yang disajikan sangat usang. Meski iya sih bernilai sejarah tapi di era sekarang, penyajian seperti itu sudah terlalu kurang membuat hati pengunjung terkesima. Finally, saya cukup puas di sini karena biaya yang tergolong murah sesuai dengan fasilitasnya yang memang tidak terlalu megah.
(Intermezo dikit hehehe)
Saya sangat geram saat keluar dari Museum Kapal Selam. Soalnya, saat saya menyusuri trotoar ada bapak-bapak yang menawari saya taksi. Dengan ramah saya menolaknya. Eeelhadalah, ada ibu-ibu yang mencetus begini, “hahahaha, wong seko rupane ketok wong ndeso ngono kok yo jik mbok tawari taksi, hahahaha”. Batin saya, “Hahahahahaa cangkemuk!”.
Usut punya usut, itu ibu-ibu emang lagi ngobrol bareng si bapak taksi jauh sebelum saya lewat. Tepatnya di depan Surabaya Plasa sepertinya. Dimana banyak sekali taksi yang mangkal di situ. Tiga langkah setelah itu, ada mas-mas yang juga nawarin taksi. Ingin sekali rasanya saya naik taksinya mas’e itu, buat nunjukin sama ibu-ibunya kalau jangan asal ngejudge orang. Apalagi di depan saya secara langsung. Tapi saya urungkan niat itu kendati isi dompet tidak memungkinkan.
Tidak dapat dipungkiri, saya memang dari desa. Tapi merendahkan orang lain adalah sikap yang kelewat bodoh. Peh cekelanmu mobil lha po njur kowe luwih mulia ketimbang diriku? Kuwi yo udu mobilmu. Sing mbok banggake kui opo?
Oke lanjut. Karena masih menyimpan rasa sebal itu mood saya rusak seketika. Maklum nde, aquarius ki yo ngono. Dengan rasa sebal yang mendera itu, saya jadi males naik angkot buat melanjutkan perjalanan ke House of Sampoerna. Alhasil, saya memutuskan buat jalan kaki saja sampai sana. Itu sekitar 6 kali lipat dari jarak Tepe ke Museum Kapal Selam.
 
Perjalanan panjang itu sebenarnya ingin saya sudahi karena kaki mulai senut-senutan. Tapi apalah daya diriku, arus lalu lintas memaksaku jalan kaki. Disini saya belajar menyebrang ala arek Surabaya. Sesekali naik jembatan atau mengandalkan lampu penyebrangan. Dan tentu saja, nyasar. Tidak asyik singgah ke kota orang kalau belum merasakan kesasar.
 
Dengan modal intuisi dan google map yang kurang terpercaya saya pun selamat. Saya tiba lagi di Monumen Tugu Pahlawan. Dari sini menuju House of Sampoerna sekitar dua kali lipat dari Museum Kapal Selam ke sini tadi. Saya nekat saja. Sayangnya baru sekitar 1 kilo dari situ saya udah sempoyongan. Jadilah saya naik becak sampai House of Sampoerna. Lagipula jalannya agak blusuk-blusuk gitu.

HOUSE OF SAMPOERNA
 
Pilarnya dari batang rokok, Gokil!
Aha. Sampailah saya di House of Sampoerna dengan biaya becak Rp 20.000. Lha semprul, tombok malahan. Cukup kecewa dengan hal itu, saya masuk ke dalam kawasan museum. Seperti biasa, saya membaca dulu semua tulisan yang ada disitu. Sayangnya, tidak ada keterangan retribusinya berapa.
 
Kebetulan, ada sekelompok remaja masuk kesitu. Seorang cewek tanya soal biaya masuk. Dan temennya yang cowok (sepertinya sudah pernah kesini) pun bilang kalau masuknya gratis. Mendengar kalimat itu, saya pun melenggang masuk ke dalam museum dengan percaya diri. Alhamdulillah..... Gratis ndeee.
 

Di dalam museum aromanya sungguh nikmat, cengkeh everywhere. Display ruangannya sangat rapih, bersih dan elok dimata. Di ruangan pertama saya disuguhi oleh aneka macam cengkeh dari berbagai daerah di Indonesia. Ada pula foto-foto jadul yang memuat cerita tentang berdirinya Sampoerna itu sendiri. Mau saya ceritakan tapi kurang etis, sebaiknya anda saksikan secara langsung.
Diruangan berikutnya saya baru berani memfoto karena memang lebih sepi. Disini ada macam-macam bungkus rokok produksi Sampoerna. Ada pula alat-alat yang dulu dipakai buat membuat rokok legendaris tersebut. Tak luput yang menarik perhatian saya adalah kostum marching band Sampoerna yang mewah.
 

Lepas dari ruangan itu saya naik ke lantai dua. Oops, disini tidak boleh foto-foto. Di ruangan ini ada banyak baju batik dan asesoris maupun barang-barang antik yang bisa kita beli buat oleh-oleh. Saya tidak tertarik. Tentu saja karena harganya pasti muahil. Selain itu disini juga ada komputer yang siap menayangkan video proses pembuatan rokok. Sayangnya saya tidak menggunakan fasilitas itu karena ada seorang gadis yang sedang menontonnya. Ya, fasilitas itu cuma bisa dipakai perorangan.
 
Namun, saya tidak kecewa. Dari balik kaca transparan, saya melihat sebuah ruangan pabrik yang sangat luas. Lengkap dengan alat-alat pembuat rokok yang tertata rapi. Saat itu saya merasa seperti bos besar yang sedang mengawasi pabriknya dari ruang kerja.
 
Turun dari ruangan itu, saya menuju toilet. Toiletnya bersih dan etnik sekali. Di toilet itulah saya berbenah diri, mulai dari cuci muka sampai semprot pewangi sana-sini. Kalau saja ada bak mandi atau shower, saya pasti sudah mandi.
 
Sudah selesai dengan urusan penggantengan muka, saya sedikit keliling-keliling kecil di beberapa sudut museum yang tadi sudah saya lewati. Mau bagaimana lagi, lha wong pintu masuk dan pintu keluarnya sama nde.
 
Keluar dari museum saya beranjak menuju Art Galeri. Tidak terlalu jauh. Saya hanya perlu melewati selasar yang sangat rapi dan indah menuju belakang cafe. Sayang e sayang, pada saat itu Art Galeri sedang direnovasi. Tertera keterangan di depan pintu bahwa Galeri tidak bisa digunakan dari tanggal 12-29 Januari 2015. Kok yo ngepasi men?
 
Kabar buruk
Sangat kecewa. Dengan lesu saya berjalan menuju kursi-kursi taman. Rencananya saya dijemput kakak saya, sekalian ia pulang dari kantor. Sebab jarak kantor kakak saya dengan House of Sampoerna tidak terlalu jauh dan memang sekali jalan (agak mblusuk dikit).
 
Brrreessssss...
 
Tempat menunggu jemputan sebelum hujan tiba
Hujan deras mengguyur Surabaya sore itu. Pukul 17.40 kakak saya tiba dengan mantelnya. Karena khawatir rumahnya kebanjiran, kami pun nekat menerjang hujan. Bagai memungut buah simalakama, ditengah perjalanan kami mengalami kecelakaan tunggal. Terpleset. Untung saja tubuh kami yang meluncur di aspal tidak disambut oleh laju mobil dari belakang. Tangan kakak saya lecet dan lebam. Saya sendiri tidak mengalami luka sama sekali. Soalnya pernah lihat di youtube tentang tutorial film action dimana kalau adegan jatuh itu usahakan menjatuhkan bahu, jangan bertumpu pada telapak tangan karena beresiko kesleo atau mungkin saja patah tulang jika tumpuan tidak seimbang. Alhamdulillaaaah..

Waaah.. Panjang juga tulisan ini. Semoga tidak bosan ya teman-teman. Terimakasih sudah mampir dan menyimak. Maaf jika ada yang tidak elok dibaca. Sampai jumpa, semoga sehat selalu.

Follow Us @soratemplates