Pages

Melepas Penat dan Menjomblo di Surabaya

Bisa terhitung telat banget buat menceritakan perjalanan saya ini. Belakangan ini sedang punya banyak pikiran yang menggeliat di otakku. Emang susah kalau mengidap overthink, kemana-mana selalu mikir keras.

Terlepas dari sindrom itu, kali ini saya ingin berbagi cerita tentang perjalanan saya menuju kota Pahlawan dalam rangka liburan semester. Jadi, begini kisahnya.
 
Pada tanggal 14 Januari 2015 saya merasa jenuh dengan lingkungan Solo. Terlebih karena saya sebagai introvert, saya pun tak kunjung ada komunikasi dengan teman-teman saya di dunia nyata. Lama-kelamaan jadi bosan. Lalu pada keesokan harinya, saya mendapat ilham. Saya memutuskan untuk melakukan perjalanan keluar kota. Beberapa destinasi yang saya catat ada Bandung, Surabaya, Malang dan Karimun Jawa.
 
Dengan mempertimbangkan keuangan yang kering, saya pun memutuskan untuk melancong ke Surabaya saja. Terlebih orang tua saya menghendaki demikian sebab di Surabaya ada anaknya yang ketiga, jadi beliau pun tidak cemas. Saya sendiri sebenarnya cukup geli kalau dicemaskan, tapi ya biarlah toh Ibu saya memang cukup over dalam hal cemas-mencemaskan. Dan satu lagi, karena beliaulah yang mensponsori uang saku saya saat itu.
 
Alhasil, pada tanggal 21 Januari 2015 di suatu sore saya berangkat ke Surabaya menaiki kereta sendirian. Dalam perjalanan itu saya menghabiskan satu buah bukunya Bernard Batubara yang berjudul Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri. Yang mana dengan sukses membawa saya pada bayang-bayang semu tentang cinta. Ah, cinta, sudahlah.
 
Tiba di Surabaya sekitar pukul 10 malam, saya dijemput kakak saya di stasiun. Tanpa ba-bi-bu kami pun melenggang menuju rumahnya. Tidak banyak percakapan antara saya dan kakak saya. Memangnya apa yang kamu harapkan dari sesama golongan darah AB dengan latar belakang yang berbeda? Kakak saya anak tehnik fisika penggila bola, sedangkan saya anak seni penggila sastra. Satu-satunya pembicaraan yang nyambung diantara kami cuma tentang film saja, selebihnya, nihil.
Membuka mata pada tanggal 22 Januari 2015 di Surabaya. Jujur saja ini kedua kalinya saya datang ke kota metropolis ini. Yang pertama adalah touring saya dari Solo sampai Madura bersama dua kawan saya (bermodalkan Astrea90’ dan Vega2002, kurang gagah apa lagi?). Dari sini lah perjalanan saya dimuali, eh salah, maksudnya dimulai.
 
MONUMEN TUGU PAHLAWAN
 

Letaknya tidak jauh dari rumah kakak saya, tentu saja ini menjadi destinasi pertama. Menuju tempat ini saya nebeng kakak saya yang hendak berangkat kerja. Pukul 07.30 kala itu. Suasana begitu menyejukkan.
 
Tiba di lokasi, saya langsung menghampiri sebuah papan yang memuat gambar peta atau denah. Kebiasaan. Saya selalu membaca denah dan menghafalnya dalam otak saya. Bahkan saya langsung membuat agenda ‘jalan mana yang akan saya tempuh’ dalam wujud imajinasi visual dalam pikiran saya. Setelah selesai, saya melebarkan pandangan ke segala penjuru, mencoba untuk membaca papan petunjuk, papan pengumuman atau apapun. Maklum, saya tidak terlalu suka dengan ‘malu bertanya sesat dijalan’. Jika ada pertanyaan, saya cenderung mencari jawaban sendiri, kalau kepepet baru tanya.
 
Akhirnya saya paham. Untuk masuk kesini tidak perlu membayar, bebas foto-foto, tidak boleh main sepak bola, buang sampah pada tempatnya dan yang penting ‘gak boleh mesum’. Dengan percaya diri dan muka sok tahu, saya melenggang masuk kedalam. Hamparan rumput hijau menyambut kedatangan saya. Taman-taman yang tertata rapi dengan sedikit keringat mempersilahkan saya masuk lebih dalam.
 
Museum Pahlawan
Kebetulan di dalam sedang ada study tour dari anak-anak SD. Rame! Tapi tak masalah, lantunan lagu Monumen Tugu Pahlawan cukup sejuk didengar. Mata saya terus tertuju pada segala bentuk yang terpampang disini. Mulai dari Patung Ir. Soekarno-Hatta, Tugu, mobil Bung Tomo, monumen makam pahlawan tak dikenal hingga meriam (bukan meriam belina).
 
Tak hanya itu, saya pun masuk ke dalam museumnya. Yang mana biaya administrasinya cuma 5 ribu rupiah. Di dalam museum mata saya sungguh dimanjakan. Foto-foto dan benda-benda bersejarah terpampang rapi di dalam museum. Sebenarnya saat itu anak-anak SD yang study tour tadi ada agenda penayangan video di auditorium. Saya pingin ikut. Sayangnya saat itu sedang tidak membawa baju pramuka, padahal muka masih chuby dan layak jika dianggap anak SD.
Sapu Tangan yang tidak bisa dipakai buat ngelap ingus
TAMAN BUNGKUL DAN KEBUN BINATANG
 

Hasil searching saya di google menunjukkan jika Taman Bungkul adalah 1 dari 10 destinasi yang harus dikunjungi di Surabaya. Sesampainya disana, saya gak paham. Saya tidak tau apa yang harus saya temui di tempat itu. Banyak muda-mudi yang sibuk memadu asmara, padahal masih pagi. Ah iya, cinta tidak mengenal waktu.
 
Karena tidak terlalu tertarik, saya pun melanjutkan perjalanan saya menuju Kebun Binatanag. Oiya, tadi dari Tugu Pahlawan sampai Taman Bungkul saya naik Bus Damri seharga Rp. 6000. Lalu dari taman bungkul sampai kebun binatang saya berjalan kaki. Jalanan bersih dan matahari belum terlalu menyengat, cocok untuk menikmati jalanan Surabaya. Yaiyalah, jauh-jauh sampai sini kalau gak jalan kaki menyusuri jalan ya gak asyik dong.
 
Sampai di kebun binatang saya urungkan niat untuk masuk. Saya takut bertemu kawan saya, Lutung. Ada yang belum tau Lutung itu siapa? Lu Tung itu temannya Sun Go Kong. Sejenis kera dan sejenis saya. Fix! Skip this story.
 
Di kebun binatang saya cuma mampir makan bakso saja. Lha wong harga bakso dan tiket masuknya sama je. Terlebih lagi setelah cek google map ternyata dekat situ ada Togamas. Alhasil setelah makan bakso saya mampir Togamas. “Jauh-jauh di Surabaya cuma mau ke Togamas? Gitu mah, Solo juga ada”. Mau bagaimana lagi. Bagi saya, aroma buku lebih wangi daripada aroma ketek Emma Watson. Tidak ada yang bisa saya ceritakan di Taman Bungkul dan Kebun Binatang. Saya sadar passion saya bukan disini, tapi di museum dan hal-hal antik lainnya. Kamu misalnya.
 
MUSEUM KAPAL SELAM
 

Berangkat dari Togamas, saya naik angkot sampai Tunjungan Plasa (TePe) dengan biaya Rp. 5000. Dari TePe saya cukup bingung arah. Tanya orang? Maaf, intuisi adalah segalanya.
 
Alhasil saya mampir ke KFC deket-deket situ. Biar tidak terlalu menanggung isin, saya pun memesan Mango Float dan OR Burger. Totalnya Rp 20.500 sudah kena pajak, kalau di Solo biasanya Rp 17.000 sudah kena pajak juga. Sambil makan, saya mencoba menajamkan intuisi. Padahal sejatinya saya buka google map, tapi karena di Surabaya lokasinya cukup padat saya jadi bingung.
 
Dari KFC Tunjungan saya jalan kaki sampai Museum Kapal Selam. Jaraknya mungkin 20 kali lipat dari jalan kaki Taman Bungkul-Kebun Binatang tadi. Kenapa gak naik angkot saja? Hemat.
 
Dari pengalaman jalan kaki ini saya memperoleh ilmu menyebrang ala arek Suroboyo. Beda banget dengan di Solo. Kalau di Solo mau nyebrang harus nunggu jalanan sepi dulu baru berani lewat.

Karena kalau nyebrang pas ramai bakal kena marah oleh pengendara mobil dan motor. Nah, masalahnya di Surabaya tidak ada momen jalan sepi atau lenggang sedetik pun. Bermenit-menit saya berdiri menanti momen sepi itu, tapi tak kunjung datang. Lalu ada bapak-bapak penjual arit keliling menanyai saya “ameh nyebrang dek?”. Saya pun menjawab sopan, “nggih Pak”. Beliau membalas, “yowes bareng”. Saat itu saya masih santai berdiri menanti jalanan lebih sepi meski sejenak. Akan tetapi, bapak penjual arit itu langsung turun kejalan tanpa kompromi seolah-olah bilang “tabraken aku nek wani, rene tak gorok gulumu lho cuk!”. Benar saja, semua mobil yang melaju kencang langsung injak rem membiarkan bapak itu menyebrang. Saya pun memanfaatkan kesempatan itu untuk ikut ambil jatah nyebrang. Sampai di sebrang saya heran, kok gak ada yang nglakson panjang ya? Kalau di Solo udah bakal di klakson plus pisuhan tuh.
 
Ah jadi kepanjangan ceritanya. Oke, lanjut ke Museum Kapal Selam.
 
Sampai disini saya masuk dengan biaya retribusi Rp. 10.000. Saya berdecak kagum dengan suguhan kapal selam giganic itu. Tanpa ada komando dari siapa pun, saya menaiki tangga masuk ke dalam kapal selam itu. Tentu saja karena ada tulisan ‘masuk ->’.
 
Didalam tubuh kapal selam ini saya melihat jeroan kapal selam yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Di sini saya bebas mau foto-foto atau sekedar lihat-lihat saja. Asalkan tidak tiduran di kasurnya para pejuang angkatan laut. Saya pun mencoba memakai teropong yang sudah buket karena faktor usia. Pemugaran kapal selam ini cukup bagus.

Saya pikir pintu keluarnya lewat sini, tiap orang dimasukin ke rudal lalu ditembak keluar

Selesai dari perut kapal selam saya turun menuju ruang pemutaran video. Eh, sholat dulu ding. Oke, kelar sholat baru nonton. Agak kecewa juga, karena video yang disajikan sangat usang. Meski iya sih bernilai sejarah tapi di era sekarang, penyajian seperti itu sudah terlalu kurang membuat hati pengunjung terkesima. Finally, saya cukup puas di sini karena biaya yang tergolong murah sesuai dengan fasilitasnya yang memang tidak terlalu megah.
(Intermezo dikit hehehe)
Saya sangat geram saat keluar dari Museum Kapal Selam. Soalnya, saat saya menyusuri trotoar ada bapak-bapak yang menawari saya taksi. Dengan ramah saya menolaknya. Eeelhadalah, ada ibu-ibu yang mencetus begini, “hahahaha, wong seko rupane ketok wong ndeso ngono kok yo jik mbok tawari taksi, hahahaha”. Batin saya, “Hahahahahaa cangkemuk!”.
Usut punya usut, itu ibu-ibu emang lagi ngobrol bareng si bapak taksi jauh sebelum saya lewat. Tepatnya di depan Surabaya Plasa sepertinya. Dimana banyak sekali taksi yang mangkal di situ. Tiga langkah setelah itu, ada mas-mas yang juga nawarin taksi. Ingin sekali rasanya saya naik taksinya mas’e itu, buat nunjukin sama ibu-ibunya kalau jangan asal ngejudge orang. Apalagi di depan saya secara langsung. Tapi saya urungkan niat itu kendati isi dompet tidak memungkinkan.
Tidak dapat dipungkiri, saya memang dari desa. Tapi merendahkan orang lain adalah sikap yang kelewat bodoh. Peh cekelanmu mobil lha po njur kowe luwih mulia ketimbang diriku? Kuwi yo udu mobilmu. Sing mbok banggake kui opo?
Oke lanjut. Karena masih menyimpan rasa sebal itu mood saya rusak seketika. Maklum nde, aquarius ki yo ngono. Dengan rasa sebal yang mendera itu, saya jadi males naik angkot buat melanjutkan perjalanan ke House of Sampoerna. Alhasil, saya memutuskan buat jalan kaki saja sampai sana. Itu sekitar 6 kali lipat dari jarak Tepe ke Museum Kapal Selam.
 
Perjalanan panjang itu sebenarnya ingin saya sudahi karena kaki mulai senut-senutan. Tapi apalah daya diriku, arus lalu lintas memaksaku jalan kaki. Disini saya belajar menyebrang ala arek Surabaya. Sesekali naik jembatan atau mengandalkan lampu penyebrangan. Dan tentu saja, nyasar. Tidak asyik singgah ke kota orang kalau belum merasakan kesasar.
 
Dengan modal intuisi dan google map yang kurang terpercaya saya pun selamat. Saya tiba lagi di Monumen Tugu Pahlawan. Dari sini menuju House of Sampoerna sekitar dua kali lipat dari Museum Kapal Selam ke sini tadi. Saya nekat saja. Sayangnya baru sekitar 1 kilo dari situ saya udah sempoyongan. Jadilah saya naik becak sampai House of Sampoerna. Lagipula jalannya agak blusuk-blusuk gitu.

HOUSE OF SAMPOERNA
 
Pilarnya dari batang rokok, Gokil!
Aha. Sampailah saya di House of Sampoerna dengan biaya becak Rp 20.000. Lha semprul, tombok malahan. Cukup kecewa dengan hal itu, saya masuk ke dalam kawasan museum. Seperti biasa, saya membaca dulu semua tulisan yang ada disitu. Sayangnya, tidak ada keterangan retribusinya berapa.
 
Kebetulan, ada sekelompok remaja masuk kesitu. Seorang cewek tanya soal biaya masuk. Dan temennya yang cowok (sepertinya sudah pernah kesini) pun bilang kalau masuknya gratis. Mendengar kalimat itu, saya pun melenggang masuk ke dalam museum dengan percaya diri. Alhamdulillah..... Gratis ndeee.
 

Di dalam museum aromanya sungguh nikmat, cengkeh everywhere. Display ruangannya sangat rapih, bersih dan elok dimata. Di ruangan pertama saya disuguhi oleh aneka macam cengkeh dari berbagai daerah di Indonesia. Ada pula foto-foto jadul yang memuat cerita tentang berdirinya Sampoerna itu sendiri. Mau saya ceritakan tapi kurang etis, sebaiknya anda saksikan secara langsung.
Diruangan berikutnya saya baru berani memfoto karena memang lebih sepi. Disini ada macam-macam bungkus rokok produksi Sampoerna. Ada pula alat-alat yang dulu dipakai buat membuat rokok legendaris tersebut. Tak luput yang menarik perhatian saya adalah kostum marching band Sampoerna yang mewah.
 

Lepas dari ruangan itu saya naik ke lantai dua. Oops, disini tidak boleh foto-foto. Di ruangan ini ada banyak baju batik dan asesoris maupun barang-barang antik yang bisa kita beli buat oleh-oleh. Saya tidak tertarik. Tentu saja karena harganya pasti muahil. Selain itu disini juga ada komputer yang siap menayangkan video proses pembuatan rokok. Sayangnya saya tidak menggunakan fasilitas itu karena ada seorang gadis yang sedang menontonnya. Ya, fasilitas itu cuma bisa dipakai perorangan.
 
Namun, saya tidak kecewa. Dari balik kaca transparan, saya melihat sebuah ruangan pabrik yang sangat luas. Lengkap dengan alat-alat pembuat rokok yang tertata rapi. Saat itu saya merasa seperti bos besar yang sedang mengawasi pabriknya dari ruang kerja.
 
Turun dari ruangan itu, saya menuju toilet. Toiletnya bersih dan etnik sekali. Di toilet itulah saya berbenah diri, mulai dari cuci muka sampai semprot pewangi sana-sini. Kalau saja ada bak mandi atau shower, saya pasti sudah mandi.
 
Sudah selesai dengan urusan penggantengan muka, saya sedikit keliling-keliling kecil di beberapa sudut museum yang tadi sudah saya lewati. Mau bagaimana lagi, lha wong pintu masuk dan pintu keluarnya sama nde.
 
Keluar dari museum saya beranjak menuju Art Galeri. Tidak terlalu jauh. Saya hanya perlu melewati selasar yang sangat rapi dan indah menuju belakang cafe. Sayang e sayang, pada saat itu Art Galeri sedang direnovasi. Tertera keterangan di depan pintu bahwa Galeri tidak bisa digunakan dari tanggal 12-29 Januari 2015. Kok yo ngepasi men?
 
Kabar buruk
Sangat kecewa. Dengan lesu saya berjalan menuju kursi-kursi taman. Rencananya saya dijemput kakak saya, sekalian ia pulang dari kantor. Sebab jarak kantor kakak saya dengan House of Sampoerna tidak terlalu jauh dan memang sekali jalan (agak mblusuk dikit).
 
Brrreessssss...
 
Tempat menunggu jemputan sebelum hujan tiba
Hujan deras mengguyur Surabaya sore itu. Pukul 17.40 kakak saya tiba dengan mantelnya. Karena khawatir rumahnya kebanjiran, kami pun nekat menerjang hujan. Bagai memungut buah simalakama, ditengah perjalanan kami mengalami kecelakaan tunggal. Terpleset. Untung saja tubuh kami yang meluncur di aspal tidak disambut oleh laju mobil dari belakang. Tangan kakak saya lecet dan lebam. Saya sendiri tidak mengalami luka sama sekali. Soalnya pernah lihat di youtube tentang tutorial film action dimana kalau adegan jatuh itu usahakan menjatuhkan bahu, jangan bertumpu pada telapak tangan karena beresiko kesleo atau mungkin saja patah tulang jika tumpuan tidak seimbang. Alhamdulillaaaah..

Waaah.. Panjang juga tulisan ini. Semoga tidak bosan ya teman-teman. Terimakasih sudah mampir dan menyimak. Maaf jika ada yang tidak elok dibaca. Sampai jumpa, semoga sehat selalu.

Ilham Bachtiar

Blogger kalang kabut yang doyan menulis tentang film. Meski tutur lisannya kurang terjaga, tapi orangnya total berkharisma. Terima usikan di ilhambachtiar25@gmail.com

6 komentar:

  1. Wah gue udah satu semester di surabaya belum pernah ke monkasel, house of sampoerna, dan KBS. Duh..sialan nih langsung diborong semua. btw. salam kenal kak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha.. Kuliah dimana? Salam kenal juga :)

      Hapus
  2. Laaah, harusnya waktu di Surabaya hubungin aku aja, siap jadi pemandu gratisan kok. Di blog aku juga ada beberapa tempat yang bisa dikunjungi waktu ke Surabaya. Next time kabar-kabari aja, biar nggak ketipu tukang becak atau di-judge ibu-ibu lagi. :))

    Btw, tangan kakak-nya udah sembuh? *lah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wuuuuw.. Haha, saat itu sebenarnya saya memang sedang ingin mengasingkan diri. Tangan kakak saya udah tidak apa-apa kok. Hmm.. Mungkin next time saya ke Surabaya lagi, mau gelantungan di jembatan Suramadu. Ajarin ya... Wahahahaha

      Hapus
  3. Kakaknya udah pernah masuk museumnya HoS. Aku aja belum pernah, maklum masih under 18. Pernah nekad, 3 kali diusir pengelolanya. Gak diusir sih, cuma disuruh keluar secara halus dari dalem museumnya. Disitu kadang saya merasa sedih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wheh? memang harus 18+ ya? Baru tauu aku :O

      Hapus

Berkomentarlah sejujur-jujurnya. Sebab menjadi diri sendiri tanpa rasa sungkan adalah sebaik-baik sandiwara.