Pages

Filosofi Kopi (2015) : Ambisi dan Kafein



Awal April merupakan sibuk-sibuknya bioskop Indonesia. Dimana orang-orang berbondong-bondong mendatangi bioskop untuk menyaksikan film Fast & Furious 7. Atau di berbagai cabang Blitz ramai dengan antrian para pecinta Naruto yang ingin menyaksikan Naruto: The Last Stand. Namun, saya menarik diri dari keramaian tersebut.
 
Pasalnya, saya sangat menantikan sebuah film dalam negeri berjudul Filosofi Kopi. Saya tidak tahu jika ada orang yang tidak tahu jika film ini bagus. Jujur saja, eskpektasi saya atas film ini sangat tinggi. Saking tingginya, saya takut jika nantinya dibuat kecewa layaknya film Supernova.

Sayangnya, kali ini film yang diadaptasi dari novel Dee Lestari “akhirnya” memuaskan. Untuk film ini saya kasih nilai 8/10, berikut adalah review film Filosofi Kopi versi saya yang diusahakan aman spoiler:


Film ini dimulai dengan menyegarkan, dimana suara biji kopi beradu dan dentingan sendok yang bersentuhan dengan gelas melantunkan nada-nada kehangatan kopi. Sinematografinya memuaskan, meski agak bingung mengapa di awal-awal film ada sedikit goyang-goyang yang agak bikin ngilu. Entah emang sengaja atau kacamataku yang lagi goyang dumang. Tenang saja, itu bukan masalah besar. Dan memang bukan masalah sama sekali.


Ben dan Joddy adalah sepasang sahabat yang kompak-kompak gemes. Suka ribut karena beda pendapat, namun tetap menghormati satu sama lain. Di awal cerita kita akan langsung ditonjok dengan permasalahan mendasar yang membuat mereka berdua resah. Yaitu hutang 800juta rupiah. Sedangkan penghasilan kedai kopi mereka ‘sangat’ tidak memungkinkan untuk melunasi hutang tersebut. Sebenarnya saya sangat berharap jika nantinya kedai ini benar-benar bangkrut-krut, sehingga penonton benar-benar makin dibuat simpatik dengan Ben dan Joddy. 


Hutang itu adalah pemicu dari masalah-masalah lain yang menimpa mereka. Sebab, dalam menyikapi persoalan tersebut, Ben dan Joddy melihat dari sudut pandang yang berbeda. Joddy melihat dari segi marketing yang rasional mencoba untuk merubah sistem pengelolaan keuangan kedai Filosofi Kopi. Mulai dari ide untuk membeli bahan baku yang murah, menyediakan WiFi hingga memecat salah satu karyawan. Sedangkan Ben selalu melihat dari segi kualitas kopi. Banginya masalah ini simple, dimana jika ia mampu membuat kopi yang enak maka kedai bakal ramai. Sehingga Ben fokus pada pembelian bahan-bahan baku yang berkualitas tinggi, tentu saja harganya mahal.


Perdebatan yang sengit dan lucu terus disajikan kepada penonton sampai suatu ketika mereka mendapat ‘golden ticket’. Kehebatan Ben dalam meracik kopi membuatnya terkenal. Lalu pada suatu malam Ben didatangi oleh seorang borjuis yang menantangnya untuk membuat kopi paling enak se-Jakarta, sukur-sukur bisa se-Indonesia. Jika Ben berhasil, ia akan dihadiahi 100juta rupiah!

Sampai disini cerita memasuki babak konflik.

Jujur saja, saya sangat suka dengan karakter Ben sebagai seorang yang jenius jika bicara soal kopi, tapi suka jadi trouble maker dadakan. Sifatnya yang sembrono beradu dengan kekakuan Joddy selalu membuat masalah menjadi makin runyam. Tak terkecuali soal hadiah 100juta itu. Dengan mengejutkan Ben meminta upah dinaikkan hingga 1Milyar jika berhasil membuat kopi terbaik se-Jakarta/se-Indonesia. Jika gagal? Mereka akan ganti rugi 1Milyar kepada si borjuis itu.


Menurut Ben, ia berhasil melunasi hutang bahkan sisa pelunasan hutang masih bisa dialokasikan untuk perluasan kedai. Namun, menurut Joddy, Ben baru saja menambah hutang 800juta mereka menjadi 1Milyar 800juta rupiah. Apa yang terjadi? Mereka berdua berantem...lagi.


Setelah itu Ben bersemayam di laboratorium kopinya untuk membuat racikan terenak se-Jakarta/se-Indonesia. Ia tak ingin diganggu selama dua minggu. Nah, sampai sini sebenarnya saya sangat berharap jika kedai Filosofi Kopi ditinggalkan banyak pelanggan sejak perginya Ben. Hingga si Joddy sangat frustasi karena kedai makin sepi. Rasa frustasi itu akhirnya meledak hingga membuatnya melanggar janji. Joddy terpaksa menemui Ben meski belum genap dua minggu. 


Ternyata tidak. Joddy memang melanggar janji, tapi ia datang dengan damai. Sampai sini saya kembali berharap jika Ben sudah membuat 90% racikan kopinya, tapi bingung karena tidak menemukan 10% kekurangannya. Lalu Joddy yang tidak tahu apa-apa soal kopi secara tak sengaja memasukkan sesuatu ke dalam kopinya Ben. Dan ternyata kopi tersebut malah jadi sempurna. Lalu diberi nama Benjo’s Perfecto.


Ternyata tidak. Ben berhasil membuat 100% kopi terenaknya. Ia memberinya nama Ben’s Perfecto.
 
Udah selesai? Ceritanya gitu saja? Eits, jangan salah.


Kehadiran Ben’s Perfecto membuat antrian panjang di kedai Filosofi Kopi. Rona bahagia menghiasi wajah Ben dan Joddy. Sayangnya rona itu tidak seawet kenikmatan kopi tubruk. Dalam sekejab aura suram kembali mengantui mereka sejak kemunculan El yang tidak tergila-gila dengan Ben’s Perfecto.
 
El adalah seorang gadis cantik yang keliling Indonesia untuk mencicipi semua kopi dan menuliskannya menjadi sebuah buku. Lidahnya telah mendapat sertifikat dari salah satu lembaga ternama di Perancis. Kredibilitasnya soal kopi tidak perlu diragukan lagi, ia bukan amatir. Tentang Ben’s Perfecto, baginya hanyalah lelucon jika minuman itu dianggap sebagai kopi terenak di Indonesia. Karena lidahnya telah mencicipi kopi yang lebih enak dari itu di Indonesia. Namanya Kopi Tiwus.


Ben tentu saja terpukul. Kini 1Milyar 800Juta kembali menghantui Ben dan Joddy. Sampai disini saya berharap pertengkaran Ben dan Joddy mencapai puncaknya. Ternyata benar. Mereka bertengkar satu sama lain. Saya suka.


Ketegangan tidak hanya muncul dari perselisihan Ben dan Joddy. Namun juga muncul dari dalam masing-masing diri mereka terhadap mereka sendiri. Terutama tentang masa lalu Ben. Mengapa Ben bisa membuat kopi enak? Apa hubungan Ben dan Joddy? Semua dijelaskan dengan rapi dalam film ini.


Keadaan terus berubah-ubah. Satu perselisihan selesai. Muncul masalah lain. Pertengkaran tersulut lagi. Dan seterusnya, alur persahabatan Ben dan Joddy selalu seperti itu. Tapi pengemasannya sungguh bagus. Saya tidak bosan.


Sejak El muncul, rasa percaya diri Ben mulai terganggu. Menyikapi hal itu, Joddy berencana untuk bertemu dengan pembuat Kopi Tiwus di sebuah kampung dataran tinggi, asal-usul kopi itu dibuat. Sampai sini saya semakin antusias menyaksikan film ini. Bertemunya Ben sang barista modern dengan ahli kopi dari kampung yang dikagumi El memunculkan konflik batin yang mendalam. Sangat dinantikan!


Dari sini cerita mengalir begitu artistik. Tidak ada lagi yang bisa saya ceritakan karena saya terlalu terpesona dengan aroma kopi. Konflik demi konflik terus menerus menghujani Ben dan Joddy. Memprediski alur film ini hanya buang-buang energi, nikmati saja. Kecuali jika kamu sudah baca bukunya Dee dengan judul yang sama, Filosofi Kopi.


Bagi saya film ini melegakan. Ekspektasi saya yang tinggi tidak dijatuhkan oleh Filosofi Kopi. Saya sangat menikmatinya. Juga kemunculan para cameo yang terdiri dari artis-artis ternama membuat saya tertawa. Seperti Joko Anwar, Tara Basro hingga Baim Wong muncul dengan muka serius tapi menggelikan. Seolah-olah penonton dibuat menggumamkan “woe..ngapain lu disini?”.


Jujur saja, saya agak kurang mantap dengan para pemeran meskipun hampir semua yang nongol di film ini adalah artis papan atas. Entahlah, mungkin cuma perasaanku saja. Dan satu lagi, kekuatan musik dalam film ini menurut saya juga kurang mantap (bukan berarti jelek), meskipun yang mengerjakan Glen Fredly.
 
Nah, begitu saja review saya tentang film Filosofi Kopi yang tayang perdana 9 April 2015. Beberapa hal memang luput dari ekspektasi, namun semua terbayar lunas atas wisata kopi yang disajikan dengan menyenangkan ini. Setelah nonton film ini saya jadi ingin mencampur-campur minuman.

Saya ingin membuat “Filosofi Air Putih”, mencari air mineral terbaik di dunia dari mata air pegunungan terbaik di Indonesia. Jadi nanti ceritanya si El keliling Indonesia nyobain air putih dari sumur-sumur hingga tempat isi ulang air galonan. Pasti epic!


Nah, sudah dulu ya, guys. Terimakasih sudah menyimak tulisan saya. Maaf jika ada yang tidak menyenangkan. Sampai jumpa dan semoga sehat selalu.. Yuk nonton film Indonesia!

Ilham Bachtiar

Blogger kalang kabut yang doyan menulis tentang film. Meski tutur lisannya kurang terjaga, tapi orangnya total berkharisma. Terima usikan di ilhambachtiar25@gmail.com

2 komentar:

  1. emang keren nih filmnya. gue sangat antusias apalagi sebagai penggemar kopi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siip.. Makasih bro sudah mampir :D

      Hapus

Berkomentarlah sejujur-jujurnya. Sebab menjadi diri sendiri tanpa rasa sungkan adalah sebaik-baik sandiwara.