Pages

4 SKS dan Ruang Ketidakmungkinan



Saya yakin semua percaya jika manusia manapun pasti memiliki kelemahan. Mas Logan yang dikenal buas dan gak bisa mati pun bakal menangis tersedu-sedu dibalik bantal kalau sudah terlibat urusan dengan Jane. Segagah Hulk pun juga bakal layu kalau sudah berhadapan dengan Raden Ayu Romanoff seperti Nobita dihadapan Shizuka, mupeng.

Setangguh apapun manusia mencoba mencitrakan dirinya sebagai manusia sempurna, sudah barang tentu ada bercuil-cuil kelemahan yang tidak bisa dibersihkan. Apesnya, pasti kita pernah terjebak momen kampret yang melibatkan kelemahan ini. Misal nih, ada yang alergi jatuh cinta (wuedyan!). Dalam satu kesempatan ia dijodohkan para makcomblangers dengan seseorang yang sama sekali tidak ia kenal. Kalau sudah begini yang bisa dilakukan ya cuma dua; lari terbirit-birit atau terpaku tak berdaya sambil mengutuk semua orang dalam gumam.

Kalau saya? Jelas saya melakukan kedua-duanya. Saya sering menghindar dari hal-hal yang melibatkan kelemahan saya. Kalau sudah tidak bisa mengelak, jadinya saya cuma tertunduk pasrah dan mengutuk semua yang terjadi pada saya. Salah satu yang membekas dalam memori dan berlembar-lembar KRS saya adalah salah satu mata kuliah yang tidak pernah bisa saya selesaikan. Jika Zhang Heng benar menemukan seismograf pertama di dunia pada tahun 132M maka benar jika saya harus mengulang salah satu mata kuliah wajib untuk yang ke-EMPAT kalinya.

Bisa kamu bayangkan setiap tahun mengambil satu mata kuliah itu dan setiap tahun pula tidak pernah selesai. Bisa kamu bayangkan pula terjebak dalam satu mata kuliah yang kamu tempuh dengan teman kelas yang berbeda-beda. Dan apa kamu juga tega membayangkan saat masuk kelas, dosen dengan kagetnya negur “Loh, ikut kelas saya lagi?”.

Itu yang saya alami tiap semester ganjil datang. Jantung saya berdegup kencang, nafas pun memburu tak tenang. Bukan karena saya jatuh cinta, tapi karena harus bertemu mata kuliah unyu yang jadi kelemahan saya. Boleh jadi kamu menuduh saya kurang usaha atau malas hingga tidak pernah selesai. Ya, sepertinya kamu ada benarnya. Tapi kalau sudah sampai empat kali mungkin kamu bisa sedikit cari hipotesis lain yang lebih mashook.
Satu mata kuliah ini mungkin kutukan paling sadis bagi saya. Masih mending jadi jomblo, cinta kandas, daripada terseok-seok merintih untuk hal fana berbobot 4 SKS. Jika ada seribu ruang untuk ditempati dalam hidup saya, ’ainul yaqin 4 SKS ini adalah ruang ketidakmungkinan.

Ruang ketidakmungkinan adalah ruang tak berpintu. Jangankan rebahan di dalam ruang itu, masuk saja saya tak kuasa. Kalau sudah begini saya harus kembali pada peribahasa lawas; ‘menghindar segan, diselesakan tak mampu’.

Mungkin itu juga yang dirasakan Saipul Jamil saat ditangkap karena melahap dedek-dedek gemesh. Atau juga yang dulu pernah dirasakan Ariel karena dilahap duo hawa titisan Ratna Gandawati dan Sumbadra. Bagaimana saya tidak galau coba? Mau menghindar ya menghindar kemana? Mau maksa diselesaikan ya diselesaikan bagaimana?

Jika harus memilih antara 4SKS dan balen, ya sudah pasti saya pilih balen. Meski sama-sama muskil, paling tidak dengan balen saya masih bisa nyruput kopi sambil chat-chatan manja. Tapi kalau berurusan dengan 4SKS itu ya sudah beda lagi suratannya. Jangankan belagak manja, itu tugas dielus-elus sampai begadang tiap malam, mulai dari malam minggu hingga malam pertama juga tidak selesai-selesai.

Loh kalau temen-temenmu saja bisa, masak kamu enggak? Hambok pikir kalau Duo Srigala bisa goyang dribble terus Duo Maia juga bisa gitu? Sama-sama duo lho itu. Belum lagi kalau saya nyebut Pasto atau Ahmad Bersaudara, mereka juga duo tapi apa bisa mbok ajak ngedribble? Isoh sih jano, angger koe Bruce Wayne.

Ruang ketidakmungkinan tiap orang beda-beda, apa yang menurutku sulit bisa saja menurutmu mudah, demikian juga sebaliknya. Poinnya adalah menembus batas itu sulit. Dari yang sulit ini mungkin muncul orang-orang pendobrak yang bisa selamat, tapi tidak jarang pula ada orang-orang yang benar-benar tak berdaya. Contoh real-nya bisa saya temukan dari teman-teman saya yang memilih untuk Drop Out karena tidak sanggup lagi dengan ruang ketidakmungkinannya.
 
Tapi kalau sudah di ujung tanduk seperti saya lha apa juga harus begitu?
Source pict: whitemoose.co.uk

Ilham Bachtiar

Blogger kalang kabut yang doyan menulis tentang film. Meski tutur lisannya kurang terjaga, tapi orangnya total berkharisma. Terima usikan di ilhambachtiar25@gmail.com

6 komentar:

  1. Duh ya ampun, kedengarannya mata kuliah tersebut susah ditaklukkan.
    Semoga bisa terbebaskan daru mata kuliah itu dengan segera.

    BalasHapus
  2. pernah ngerasain, 4 semester ngulang itu itu aja :(
    semoga ga ada yang ketularan hehee

    BalasHapus
  3. Saya mau komen tapi udah basi gak sih? :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Basi kayak roti O yang dimasukin tas tapi baru ingat 7 hari kemudian kalau rotinya belum dimakan

      Hapus

Berkomentarlah sejujur-jujurnya. Sebab menjadi diri sendiri tanpa rasa sungkan adalah sebaik-baik sandiwara.