Pages

Tidak Suka, Tolak Aja



Seberapa sering kita melakukan sesuatu yang sebenarnya bukan kewajiban kita? Lalu dengan terengah-engah seberapa sering kita mengaku kalau tidak punya waktu yang cukup dalam satu hari? Apakah benar kita sesibuk itu?

Saya akui sebagai manusia bergolongan AB yang taat, saya memiliki manajemen waktu yang tidak menentu. AB konon memiliki kecenderungan untuk menyelesaikan semua pekerjaan dalam satu waktu. Jika direfleksikan dalam hidup saya, saya harus setuju. Paling susah nyicil kerjaan satu per satu, kalau sudah mulai ya harus selesai saat itu juga. Tapi kemudian ini jadi masalah, karena seringkali itu bikin bingung dan lelah.

Kemudian saya mencoba membuat list dan menulis jurnal setiap hari. Sesaat saya lega karena hal itu sangat membantu dalam menentukan step by step apa yang harus saya lakukan. Namun semua berubah, ketika distraksi-distraksi datang menyerang.

Distraksi adalah gangguan. Tepat dimana saya berada pada jalur yang sudah ditentukan dalam list, tiba-tiba saja ada pesan masuk dari teman atau saudara yang memberi “pekerjaan spesial”. Pekerjaan spesial ini sayangnya tidak ada dalam list sama sekali, bahkan nyrempet sithik pun juga tidak. Dulu ketika pertahanan saya rapuh, saya sering mengiyakan pekerjaan itu dan hancur sudah jadwal pekerjaan-pekerjaan saya yang lain.

Lalu saya berpikir, saya tak mungkin terus-terusan seperti ini. Nanti kalau saya kena karoshi gimana coba. Nah bodohnya, yang saya lakukan adalah membatasi lingkaran sosial. Saya kira waktu itu jika saya melepaskan diri dari beberapa komunitas maka distraksi-distraksi itu akan menurun. Ternyata tidak. Permintaan untuk melakukan pekerjaan spesial masih saja datang mulai dari teman dekat hingga teman lama.

Karoshi adalah kematian karena kerja berlebihan

Kembali lagi saya berpikir, saya coba melihat apa yang sebenarnya saya kerjakan. Ternyata memang banyak yang di luar track. Pantas saja saya merasa ada kesibukan tapi kok sedikit menghasilkan. Kelesuan ini mendapat penawarnya ketika saya bertemu dengan Ray Bradbury yang berkata:
“Jika kau tidak mencintai sesuatu, jangan lakukan!”

Quote shahih itu saya yakini hingga sekarang. Sempat merasa ragu kalau harus menolak pekerjaan spesial dari teman atau saudara, dari yang berat hingga yang sepele. Tapi kalau ingat Ray Bradbury saya jadi mantap untuk mengatakan “Tidak!”. Dan ternyata efeknya sangat besar.

Awalnya memang masih ada yang menghasut ‘ayolah broo..’, tapi dengan tidak bergeming akhirnya mereka paham. Kini saya memiliki banyak waktu untuk melakukan banyak hal. Dengan mengucapkan ‘tidak’ pada pekerjaan spesial yang tidak disukai saya merasa lebih bahagia. Yang perlu ditegaskan adalah kejujuran. Kalau tidak suka dengan pekerjaan spesial yang datang dan kita tidak menyukainya, ya jujur saja dengan menolak.

“Masak diminta bantuin temen gak mau sih bro?” Saya rasa disini perlu ditelisik dengan bijak, pekerjaan spesial itu darurat dan penting apa tidak. Atau barangkali bisa dialihkan ke orang lain selain kita. Jika memang darurat dan penting meski tidak suka ya sebaiknya di jalani. Paling tidak dengan tidak mengiyakan setiap pekerjaan spesial yang datang kita jadi punya waktu untuk pekerjaan spesial yang genting.

Kecemasan pernah datang pada saya ketika konsisten dengan metode ini. Saya curiga jika teman-teman saya membenci dan menjauhi saya karena sulit dimintai tolong. Rasa cemas itu syukurlah terobati dengan membaca bukunya Fergus O’Connel. Saya tertarik dengan buku berjudul The Power of Doing Less itu karena halaman pertama sudah tertampang quote shahih dari Ray Bradbury yang saya yakini selama ini.

Buku ini membahas tuntas kecemasan saya. Per-bab-nya menjawab kebingungan dan keraguan saya dalam menolak distraksi. Seperti bab ‘Mengetahui Apa Hal yang Tepat’, ‘Lakukan Berdasarkan Kondisi Anda’ dan favorit saya adalah bab ‘Jangan Merasa Bersalah’. Pada bab ‘Jangan Merasa Bersalah’ saya dihadapkan pada cara mengatasi hal-hal setelah melakukan penolakan. Kesan pertama sih kayak arogan gitu, tapi ternyata tidak. Saya tetap bisa bersosial dengan teman dan memiliki jadwal yang baik.

Jadi saya rasa memang perlu fokus pada tujuan, dan kala datang gangguan-gangguan itu jangan sungkan untuk mengatakan ‘tidak’. Kenyataannya setelah saya menolak ini dan itu, pekerjaan spesial tidak lagi datang membabi buta. Justru menurun drastis, apalagi jika menjelaskan dengan baik tentang track yang kita buat dan mengatakan jika pekerjaan spesialnya tidak ada dalam track. Sejauh ini, saya punya lumayan waktu yang senggang untuk menikmati hari-hari tapi tetap bisa melakukan berbagai hal.

Rekomendasi saya mengenai pembahasan ini, sebaiknya kamu membaca buku The Power of Doing Less (Fergus O’Connell), Listful Thinking (Paula Rizzo), dan Lorong Waktu (Monde Ariezta). Ketiga buku ini meramu dengan baik tentang apa yang ingin kita raih, apa yang harus dilakukan untuk meraihnya dan yang terpenting bagaimana kita menjalani semua itu dengan nyaman tanpa gangguan.

Ngomong-ngomong setelah membuat tulisan ini saya ngecek list saya, sepertinya ada ganjil. Oshit! Wisuda malah tidak tercatat. Pantas kuliah tidak selesai-selesai. Duh biyung, eh tapi kan ngendhikane pakdhe Ray ‘nek ra seneng, ra sah!’. Walalalah, pantes kuliahku jer mbaleniiii wae. Sik sik, sabar sithik ngkas ya Neng. Kakanda jik berjuang ki glo, buktike setiamu sak semester ngkas ya. Eh, lali. Awak dewe wes pegatan ding. 

Source pict: vitaportal.ru

Ilham Bachtiar

Blogger kalang kabut yang doyan menulis tentang film. Meski tutur lisannya kurang terjaga, tapi orangnya total berkharisma. Terima usikan di ilhambachtiar25@gmail.com

9 komentar:

  1. Segera wisuda Bro.. Betewe Salam kenal yak.. :v

    BalasHapus
  2. Gue termasuk orang yang nggak bisa nolak. Entah itu dimintai bantuan untuk melakukan sesuatu atau membuat sesuatu. Tapi, perlahan-lahan gue mencoba untuk bisa menolak walau nggak secara signifikan.

    Efek dari nggak bisa nolak itu emang bisa ngabisin waktu kita banget sih dan membuat to do list kita jadi berantakan. Buyar.

    Btw, gue jadi tertarik untuk baca ketiga buku yang lo rekomendasiin. Ntar cari deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti emang perlu baca The Power of Doing Less, dijamin jadi orang yang sadis nolak-nolak. Hahahahaa.

      Hapus
  3. jadi pada intinya kita jangan memaksakan melakukan sesuatu yang tidak ingin kita lakukan :)

    BalasHapus
  4. Awalnya diajak serius. Aku bacanya sambil mikir, di akhir kejutan banget. Cukup bikin ketawa. Wisudanya jangan lupa dicatet. Ada beberapa bahasa jawanya yang aku nggak paham sih wk. Kudu nanya temen jawa tengah ini mah.

    BalasHapus
  5. Awalnya diajak serius. Aku bacanya sambil mikir, di akhir kejutan banget. Cukup bikin ketawa. Wisudanya jangan lupa dicatet. Ada beberapa bahasa jawanya yang aku nggak paham sih wk. Kudu nanya temen jawa tengah ini mah.

    BalasHapus

Berkomentarlah sejujur-jujurnya. Sebab menjadi diri sendiri tanpa rasa sungkan adalah sebaik-baik sandiwara.