29 Agustus 2016




Seperti dendam, rindu harus dibayar tuntas. Kira-kira ungkapan Eka Kurniawan itulah yang tepat untuk memotivasi kami bertujuh mengunjungi desa Tompegunung. Desa Tompegunung adalah tempat dimana saya dan kawan-kawan dulu pernah menjalankan program KKN. Desa ini letaknya tersembunyi dari keramaian kabupaten Pati. Perlu keteguhan, kesabaran, tekad dan motor tahan banting untuk bisa sampai di sini.

Sabtu, 13 Agustus 2016 adalah hari yang kami pilih untuk merajut kenangan di desa Tompe. Rencana awal kami berangkat dari Solo pukul enam pagi. Namanya juga manusia berencana, Tuhan menentukan. Sejak subuh hingga setengah waktu dhuha, kota Solo sudah diguyur hujan deras. Kami baru memulai perjalan sekitar pukul sembilan. Sebuah pagi yang sangat terlambat untuk menempuh perjalanan melawan truk dan bus.

Pegal dan deg-degan, rasanya seperti menempuh ujian nasional soal fisika padahal dua tahun jadi anak IPS, kira-kira begitu yang saya rasakan ketika melaju menuju desa Tompe. Di tengah jalan, saya sempat terpisah dari rombongan karena salah belok. Namanya juga manusia rapuh, salah itu sudah biasa. Wong sudah tau yang ditaksir punya pacar, tapi tetep memendam rasa kangen gitu juga ada kok. Apalagi kalau urusan salah ambil jalan, harap maklum saja. Meski demikian, tekad yang sudah bulat membawa seluruh raga ini sampai di lokasi dengan selamat. Say something, gaes!! Alhamdulillah.

Matahari semakin gagah menunjukkan siangnya. Kami mulai masuk ke kawasan desa Tompe sekitar pukul setengah duabelas. Tanpa basa-basi kami langsung menuju rumah kontrakan yang dulu pernah dipakai jadi gubuk derita anak KKN. Rumah itu ternyata tidak pernah ditempati sejak kami meninggalkannya. Kami menemukan barang-barang kenangan yang masih tertinggal di sana, jadwal piket misalnya. 


 

Baru istirahat sebentar, kami bertujuh diundang ke rumah Pak Wo untuk menyantap makan siang. Pak Wo ini nama aslinya Hartiyo. Beliau adalah seorang Kamituwo, yaitu sebutan untuk orang yang menguasai desa macam hokage. Panggilan keagungannya ya Pak Wo (kamituwo) gitu gaes. Nah, sebagai generasi penerus bangsa yang passion-nya di bidang kuliner gratisan, kami tentu saja antusias menyanggupi undangan Pak Wo.

Hidangan sederhana macam nasi sayur dan tempe, kami santap penuh percaya diri. Obrolan hangat dan sedikit malu-malu tentu menghiasi meja hidangan kami. Kenikmatan macam apalagi yang akan didustakan selain memadukan kenangan dan makan gratis? Sejenak, saya lupa kalau kuliah belum selesai, cita-cita belum tergapai dan gebetan belum terbuai.

Aktivitas kami di desa Tompe saat itu terbilang biasa, sederhana dan gaje beud. Usai makan siang, kami jalan-jalan menyusuri sudut-sudut desa yang menyegarkan. Lalu rehat di beberapa tempat memorable seperti balai desa, gedung SD dan tokonya mbak Rini. Bak artis, anak-anak kecil menyapa kami dengan riang gembira. “KKN...KKN...KKN...” begitulah kiranya sebutan yang disematkan pada kami. Saya curgia, mereka mungkin ngira KKN itu Koplo-Koplo Nyoss, macam oposisi biner dari Big Bang atau Suju gitu. 


 
Pencarian jejak-jejak kenangan yang kami lakukan ini sebenarnya nanggung sekali. Karena tidak banyak waktu yang kami miliki untuk bercengkrama dengan warga. Tapi sisi baiknya, keterbatasan waktu itu mencegah timbunan lemak dalam tubuh kami. Bagaimana tidak? Setiap rumah selalu menawarkan nasi sebagai hidangannya. Eh, bukan menawarkan. Tapi memaksa. Awalnya, kami bahagia-bahagia saja mendapat makan gratis. Eh, gak taunya semua warga nawari makanan gratis, nasi pula. Nggak kuat perut ini gaees.

Menyederhanakan kebisingan kota dengan udara segar di desa Tompe sepertinya sebuah keputusan yang tepat bagi kami pada waktu itu. Ketenangan dan atmosfer kerinduan bercumbu dalam kalbu yang menjadikan setiap detik masa lampau terasa begitu cepat. Mau bagaimana lagi? Satu-satunya hal paling jauh dari manusia adalah hari kemarin. Hari kemarin tidak akan bisa berulang, Tuhan hanya mengijinkan kita mengenang. Bukankah sayang juga begitu? Kalau sudah kandas ya kandas saja. Mengharap balen itu fana. Ini saya malah ngomongin apa. Fak! Efek tiba-tiba playlist muter lagunya Vagetoz feat Baby Margaretha nih.

Namun, dalam mengenang pasti muncul kegentiran. Seperti saat kami diburu waktu untuk segera pulang sebelum matahari pindah di belahan bumi yang lain. Pukul lima sore kami baru beranjak dari desa Tompe. Mau tidak mau kami harus melewati jalanan berhutan tanpa lampu penerangan. Namanya juga menjemput rindu, pasti ada titik gelap yang harus dilalui. Perlu kehati-hatian dan olah pedal yang tangkas untuk bisa melewati jalan kampret markumpret itu.

Ada beberapa momen berbahaya yang tidak bisa saya tuliskan detail kejadiannya satu per satu. Apa yang kamu harapkan gaes? Saya bukan Dr. Watson. Sisi baiknya, semua kegetiran itu berakhir dengan keselamatan bagi kami semua. Selamat fisik dan batin. Hanya menyisakan sedikit rasa pegal di bagian leher, punggung, pantat dan kesemutan di bagian itu. You know laah.

Semua yang kami lakukan pada hari itu merupakan cara sederhana beranjak dari kebisingan aktivitas sehari-hari. Dalam menjalani rutinitas, muak dan jengah itu sudah pasti kita rasakan. Maka dari itu, kita perlu mengatasi diri sendiri. Dengan cara-cara sederhana tapi tidak biasa. Melakukan hal baru, mengunjungi tempat baru atau sekedar meniti masa lalu juga boleh-boleh saja. Jangan sampai kita terjerembab dalam jeratan karoshi (fenomena di Jepang: kematian karena sibuk bekerja).

Daripada setres memikirkan yang belum tentu terjadi. Mencemaskan yang belum pasti. Lebih baik kita ena ena bersama. Cemas nggak cemas hari senin tetap saja tiba. Ayo beranjak dari kekhawatiran esok hari. Berliburlah! Ena ena!!
Cheng Sew Club adalah nama yang saya buat-buat sendiri. Asal kata dari Cengkal Sewu, tempat dimana kami suka makan Nasi Gandul (makanan khas Pati). Suatu ketika teman saya ada yang mengajak makan dengan celetukan "Yuk, Cheng Sew!!". Yasudah, saya namakan saja Cheng Sew Club.

18 Agustus 2016


Meski saya termasuk antisosial, bukan lantas saya tidak memiliki teman sama sekali. Pribadi introvert membuat saya memilih dan memilah lingkungan pertemanan dengan teliti. Bukan bermaksud diskriminatif, hanya saja secara alami insting sosial saya yang menentukan mana teman yang cocok dan mana yang tidak cocok. Tanpa disadari saya membuat lingkaran pertemanan yang sangat ekseklusif.

Saya tidak memusuhi mereka yang tidak cocok dengan saya. Di dunia nyata, saya masih menganggap mereka teman. Sedangkan di dunia maya ada beberapa (banyak malahan) yang tidak saya follow bahkan berakhir unfollow dan block pun ada. Mau bagaimana lagi, kalau kita tidak suka dengan konten yang dibagikan teman kita sendiri di sosial media kan ya halal-halal saja kalau di-unfollow atau unfriend. Bukan berarti ngajak ribut, toh di dunia nyata kita tetap berteman.

Di samping itu, teman yang menurut saya cocok adalah mereka yang kalau ngobrol bisa nyambung. Meski berbeda-beda karakter dan latar belakang, tapi ada satu benang merah yang bisa menyambungkan saya dan teman saya itu, yaitu kesamaan referensi. Melalui referensi yang sama itulah, bahan perbincangan akan terasa menyengangkan dan semakin mengakrabkan. Hingga kemudian semakin bertambah umur kita, semakin banyak teman kita, maka semakin terseleksi mana teman yang benar-benar selalu bersama. Kehadiran teman-teman yang selalu bersama ini secara alami membentuk semacam regu atau genk. Biasanya mereka menamai regu itu untuk menguatkan ekseklusifitas pertemanan, seperti Genk Srigala, Persaudarian Lipstik Tebal, maupun BBY (Bang Bayik Club). Eratnya pertemanan semacam itulah yang mengilhami Ari Wuryanto dalam menghasilkan karya lukis berjudul Mesra Dalam Cinta.


Mesra Dalam Cinta karya Ari Wuryanto (Cat Acrylic di atas Kanvas / 80x120cm / Tahun 2016)
 
Lukisan Mesra Dalam Cinta merupakan salah satu karya dalam acara Kompetisi Karya Mahasiswa FSRD ISI Surakarta yang diadakan di Balai Soedjatmoko Solo pada bulan Agustus 2016.

Dalam lukisan Mesra Dalam Cinta, kita melihat empat figur imajiner yang divisualkan secara apik oleh Wuryanto. Keempat figur ini terikat dengan benang-benang yang melilit di seluruh tubuh mereka. Bahkan sudah seperti bagian dari tubuh itu sendiri. Satu sama lain saling mengikat seolah hendak menyatukan keempat tubuh mereka. 


Figur imajiner dalam lukisan ini bisa kita telisik lebih jauh. Sosok paling kiri digambarkan memiliki wajah berupa bongkahan mesin atau komponen mekanik. Hal-hal yang berhubungan dengan mesin seringkali menyimbolkan kemajuan jaman. Kita lihat bagaimana revolusi industri di Inggris telah merubah tatanan kerja di masyarakat yang semula ditangani secara manual lalu diambil alih oleh tenaga-tenaga mesin. Temuan James Watt, Richard Arkwright hingga Henry Cort pada masa itu membuka gerbang peradaban manusia menuju masa depan yang berteknologi. Sejak saat itu mesin (teknologi) dipercaya sebagai penghubung antara manusia, peradaban dan masa depan. Sehingga orang-orang yang menguasai ilmu teknologi adalah orang yang memiliki kesempatan membawa peradaban manusia ke masa depan. Untuk menguasai teknologi ini tidak lah mudah. Tidak serta merta semua orang bisa. Perlu poses yang panjang dan berat dalam mempelajarinya. Maka dari itu, masyarakat kita melabeli orang-orang ini dengan istilah pintar, cerdas dan jenius. Simpulan yang bisa kita ambil bahwa simbol mesin pada wajah figur imajiner yang pertama menggambarkan orang yang pintar atau berilmu.

Figur imajiner kedua adalah wajah tanpa rupa. Ketanparupaan ini divisualkan dengan warna hitam yang dibuat seolah ada ruang kosong di sana. Ruang kosong yang digambarkan membentuk seperti mulut gua atau lorong yang dalam. Simbol ruang kosong dapat berarti kehampaan, kesendirian atau keterasingan. Namun jika mengambil oposisi biner dari figur imajiner yang pertama (si pintar), maka figur kedua ini lebih tepat menggambarkan sosok orang yang bodoh (pikiran yang kosong).

Figur imajiner berikutnya adalah sosok wajah yang menggambarkan bunga dan langit cerah. Bunga di sini menyiratkan simbol kehidupan. Dan langit konotasi dari impian, yaitu tempat yang ingin dituju namun sulit diraih. Kehidupan dan impian berjalan seperti Yin dan Yang. Keduanya harus selaras untuk bisa mendapatkan makna hidup yang menyenangkan. Apa artinya kehidupan tanpa impian? Apa artinya impian jika tidak hidup, bukan? Dalam figur imajiner tersebut kita dapat melihat beberapa tangkai bunga menjulang ke atas seolah ingin meroket menuju langit. Sebuah simbol yang tepat untuk menggambarkan pribadi yang enerjik, ambisius dan riang (ceria) yang terwakili oleh warna-warna cerah.

Figur imajiner terakhir adalah yang paling menarik menurut saya. Dalam figur tersebut kita diajak Wuryanto untuk melihat kehidupan di bawah laut. Meski terdapat banyak jenis spesies di bawah laut, namun keputusan untuk memasukkan karakter paus adalah pilihan yang cerdas. Saya pribadi melihat paus hanya melalui media film. Di dalam film, paus dicitrakan sebagai binatang yang besar, perkasa dan bergerak sangat lambat (kecuali paus versi Bikini Buttom). Biasanya ketika scene yang menunjukkan alam bawah laut lengkap dengan pausnya, suasana menjadi tenang dan misterius. Seolah ada suatu kekuatan besar di bawah laut yang tidak bisa ditakhlukkan oleh manusia. Maka dari itu, figur imajiner keempat adalah simbol dari manusia yang relijius.

Keempat figur imajiner tersebut merupakan latar belakang manusia yang berbeda-beda. Ada si Pintar, si Bodoh, si Enerjik dan si Relijius. Meski dari latar belakang dan karakteristik yang berbeda, namun mereka senantiasa menjalin hubungan pertemanan yang erat. Begitulah fenomena sosial yang ditangkap Wuryanto dalam kehidupan manusia. Kita pasti menemui atau bahkan menjadi bagian dari suatu kelompok kecil yang menjadikan pertemanan sebagai penguat sebuah hubungan.

Menyingkirkan setiap perbedaan dan fokus pada persamaan akan membawa kita pada jalinan pertemanan yang sehat. Bukankah setiap perselisihan yang terjadi diawali oleh sebuah perbedaan? Entah perbedaan pendapat, perbedaan budaya maupun perbedaan agama. Coba lihat bagaimana Soviet hancur ketika setiap kelompok masyarakat mulai dibagi dalam suku-suku. Seorang antropolog yang meneliti kelompok masyarakat di Soviet telah memberi label beberapa suku, seperti suku Kirgiz, suku Uzbek, suku Tajik, suku Afghan dan lain-lain. Mereka dikotakkan dalam beragam perbedaan mulai dari bentuk fisik, budaya dan keyakinan. Semakin fokus pada perbedaan akhirnya membuat masing-masing suku membangun negaranya sendiri. Kita mengenal dengan Kirgizstan, Uzbekistan, Tajikistan, Afghanistan dan negara stan-stan lainnya. Meski bertetangga, kehidupan tiap negara tersebut kontras sekali. Ada yang memiliki fasilitas perkotaan yang bagus, ada yang miskin, ada yang terisolir dari dunia luar, bahkan ada yang masih dalam situasi perang.

Setiap hari kita selalu dikelilingi oleh perbedaan. Bahkan dengan kekasih yang mengaku cinta sehidup semati pun pada akhirnya berdebat saat menentukan mau pakai kuah mie instan dari air bekas rebusan atau masak air baru. Tidak bijak jika kita menghendaki segela sesuatu harus sesuai dengan apa yang kita tahu dan kita mau. Karena modal dari kehiduapan bersosial adalah memaklumi perbedaan, bukan memaksa perbedaan menjadi sama.

"Ealah.. Cah antisosial kok sok-sokan ngomongin kehidupan bersosial. Hahahaha."

Saya kira cukup sekian review karya lukis dari Ari Wuryanto. Meski saya tidak bisa melukis, tapi saya selalu kagum dengan imajinasi dan ketekunan para pelukis. Saya selalu tertarik dengan kisah yang tertuang di atas kanvas. Terutama lukisan surealis yang seolah mengajak saya berjalan-jalan ke alam lain, jauh dari dunia eksak yang gini-gini aja. Terima kasih kepada para pembaca yang telah menyimak ulasan sederhana ini. Semoga berkenan. Sampai jumpa di tulisan saya yang lain. Salam. 


Sumber gambar: Dokumentasi pribadi

11 Agustus 2016



Tidak butuh waktu lama bagi seseorang untuk membenci sesuatu. Entah peristiwa tertentu, situasi tertentu atau terhadap orang-orang tertentu. Sebaik apapun budi pekertimu, saya yakin ada masa di mana kamu akan membenci sangat dalam. Kebencian sering dibicarakan sebagai sumber perselisihan, sengketa, bahkan berdampak kerusuhan dan kehancuran. Bisa jadi. Tapi banyak juga benci-benci yang tak terluapkan. Terkubur dan menunggu beberapa masa untuk mengurai semua hingga kemudian lenyap tanpa sisa.

Ini adalah saat yang tepat untuk menarik diri dari situasi yang membencikan. Ketika seseorang atau beberapa orang memicu sensor kebencian, ketika itu pula upaya defensif akan ter-ON-kan secara otomatis. Bisa saja melalui penyangkalan atau pembelaan. Namun saya selalu punya alternatif, saya memilih menghindar. Pengecut? Mungkin.

Menarik diri dari sumber kebencian sama saja menarik diri dari akar permasalahan. Banyak orang akan selalu berkoar-koar bahwa masalah ada untuk diselesaikan. Saya tidak selalu setuju, karena seringkali ditemui masalah-masalah yang terlalu fana untuk menyita perhatian saya. Saya memilih menghindar, menjauh dari kerumunan dan membiarkan masalah terkikis oleh jaman.

Dalam fase penarikan diri saya akan mengerjakan sesuatu yang lebih berarti. Karena mengutuk dan meratapi tidak akan pernah meredam benci. Saya akan hilang dan kembali. Seperti petak umpet yang tak lagi asyik untuk dimainkan, saya memilih pulang.

Selain mengerjakan hal lain adapula yang lebih penting. Yaitu meredam amarah dengan guyuran pemaafan yang dingin. Kebencian yang membara terlalu sesak dan panas untuk terus disimpan. Jadi alangkah logisnya jika sumber panas itu dimatikan dengan air dingin, yang saya maksud adalah pemaafan.

Pemaafan tak selalu verbal. Bahkan yang dimaafkan juga tak selalu harus tahu. Sebab kadang yang berbuat salah juga tidak merasa bersalah lho. Yang jelas jika masanya tiba untuk kembali bertemu maka emosi yang dulu tersulut sudah selayaknya ditinggalkan dan kembali berkawan. Karena kebencian juga menjadi terlalu fana untuk terus dipikirkan.

Saya tidak tahu apakah ini langkah bijak atau pengecut seperti yang saya bilang di awal. Saya merasa jika ada yang berbuat tidak menyenangkan pada saya mungkin karena saya melakukan perbuatan tidak menyenangkan pula pada orang lain. Jadi harus legowo sejak dalam pikiran. Memaafkan dan melupakan masa lalu. Tapi sebelumnya menjauh dulu dari sumber masalahnya, menjauh dari biangkeroknya. Menarik diri dan memaafkan sejauh ini adalah cara terbaik untuk meredam kebencian.

Intinya, pasti kita akan bertemu dengan orang yang membuat kita marah. Namun membalasnya dengan cara membuatnya marah balik adalah respon alay yang superduper alay untuk dilakukan. Ini bukan tentang membuktikan siapa yang benar dan siapa yang menang. Ini tentang membuktikan seberapa tangguh kita menahklukkan diri sendiri.

Sebelum menyalahkan orang lain, bukankah harus tahu dulu apa benar orang itu salah atau hanya ego kita yang menghendaki orang itu salah. Sebelum terpancing oleh emosi yang menjadikan masalah semakin runyam, tak ada kelirunya jika mengoreksi diri sendiri terlebih dahulu. Dalam mengoreksi diri, kadang kita menemukan space yang melegakan. Space di mana bersenyaman jiwa besar dan kebijaksanaan untuk menyikapi sesuatu dengan benar menurut semesta, bukan ego.

Ah sudalah. Toh ujung-ujungnya akan balik lagi pada ungkapan “kembali pada orangnya, kalau si A bla bla bla ya dia bakal bla bla bla bla”. Mboyak!

Huft, tulisan ini begitu buruk ya. Tapi ada yang lebih buruk. Yaitu tidak menulis.

Terima kasih sudah membaca susunan huruf-huruf ini. Maaf jika saya mengecewakan. Saya sedang kalut. Mungkin sudah saatnya ada yang meluk. Tapi tapi jangan kamu, Mbang!
Source pict: linkedin.com

8 Agustus 2016



Belakangan ini saya nonton tiga film buatan John Carney, yaitu Once (2006), Begin Again (2013) dan Sing Street (2016). Hebatnya, ketiga film tersebut berhasil meluluhkan hati saya hingga memasukkan nama John Carney sebagai sutradara favorit di antara Steven Spielberg dan Chris Nolan. Tidak seperti kedua sutradara yang saya sebut di atas, John Carney meracik karyanya tanpa cerita rumit dan plot twist serius. Saya rasa Carney ini spesialis film yang melibatkan musik sebagai mainannya.

Sebut saja film Once. Film ini bercerita tentang seorang pria patah hati yang menghabiskan waktunya dengan mengamen di jalanan sekaligus membantu ayahnya bekerja di servisan vacum cleaner. Suatu ketika ia bertemu dengan seorang perempuan penjual bunga. Hari demi hari mereka selalu bertemu dan langsung klop begitu saja ketika membicarakan musik. Melalui percakapan itu pula akhirnya diketahui si perempuan tersebut ahli bermain piano. Keduanya pun mencoba untuk menggabungkan musik yang selama ini mereka mainkan sendiri-sendiri. 

Screenshoot film Once
Merasa ada kecocokan dengan musik yang saling meleburkan itu, mereka bersepakat untuk mengabadikan musik mereka melalui rekaman. Musisi jalanan pun turut mereka rekrut untuk mengisi bagian nada yang kurang. Keseruan membentuk band dan perjalanan dalam proses rekaman ini berhasil dibungkus dengan apik oleh John Carney.

Saya sendiri sampai sekarang masih tidak bisa menentukan film Once ini sebenarnya sedih atau bahagia. Kekuatan utama dari film ini adalah lagu-lagu yang touchable. Serius, semua lagunya ngena banget. Emosi ketika lagu mulai dilantunkan benar-benar sampai di perasaan saya sebagai penonton.

Lagu patah hati dengan lirik “And I, I can’t keep with you. Maybe if you slowed down for me. I could see you’re only telling... Lies, lies, lies. Breaking us down with your lies, lies, lies. When will you learn?” menjadi favorite scene bagi saya. Bahkan saat scene di studio rekaman, pada lirik “ooooo...waaaaaa......” diiringi lantunan musik yang biadab saja sudah cukup terampil mengaduk-aduk kantung mata saya, serasa ingin menumpahkan semua masa lalu yang perih dan sedikit gurih.

Kesederhanaan Once sayangnya agak lenyap di dalam film Begin Again. Sebab, Begin Again bagi saya terkesan lebih pop. Apalagi jika kita melihat Adam Levine turut memeriahkan rentetan cast. Begin Again lebih baik dari segi visual dan kompleksitas cerita. Namun, porsi musik sedikit tenggelam oleh drama cinta.

John Carney kembali mengangkat tema patah hati sebagai tulang punggung Begin Again. Kedua tokoh yang sama-sama mengalami depresi dipertemukan oleh musik. Saya jadi ingat dengan pemikiran teman saya, Bella, yang beropini kalau setiap orang memiliki bilangannya masing-masing. Dan suatu saat bakal bertemu dengan bilangan lain yang klop. Misal, saya memiliki bilangan 6. Suatu saat saya bertemu dengan orang bilangan 4. Lalu kami ngobrol dan tiba-tiba merasa klop. Penjumlahan dari 6 dan 4 adalah 10, anggap saja 10 adalah bilangan klopnya. Semakin jauh dari angka 10, semakin tidak cocoklah kita denngan orang lain. Saya beberapa kali bertemu dengan orang yang baru kenal, chit-chat, lalu merasa nyambung gitu aja. Ada juga yang sudah lama kenal tapi tidak pernah bisa akrab. Mungkin jika saya bilangan 6, dia ada di bilangan 1.

Kira-kira begitulah rumusnya kenapa Gretta (Keira Knightley) dan Dan (Mark Ruffalo) bisa langsung akrab di malam saat mereka pertama bertemu. Rumusan ini tidak harus hubungan pria dan wanita, toh Gretta juga langsung klop dengan anak tunggalnya Dan, Violet (Hailee Steinfeld). Padahal Violet ini anti sosial. Sama bapaknya sendiri saja tidak akrab kok. 

Aseli ini scene kesukaan dah!! (Source: telegraph.co.uk)
Gretta adalah musisi bayangan dibalik suksesnya Dave (Adam Levine). Semacam pacar yang sama-sama berjuang meraih sukses gitu. Malangnya, Dave berselingkuh. Seganteng-gantengnya Adam Levine, pas main film akhirnya jadi berengsek juga. Ditengah kepatahhatian itulah, Gretta bertemu dengan seorang pencari bakat musik bernama Dan. Jika bicara soal musik, Dan tak pernah main-main, keras kepala dan idealis. Label yang kesulitan dengan idealisme Dan akhirnya memecatnya. Uniknya, Dan bertemu dengan Gretta tepat setelah ia dipecat dan juga tepat saat Gretta putus. Apa yang terjadi dengan mantan tentor musik yang bertemu dengan musisi berbakat bisa kamu saksikan dalam film Begin Again.

Masih membawa aura yang sama, John Carney melahirkan karya terbarunya berjudul Sing Street. Film ini menjadikan Dublin sebagai set lokasi dalam film sebagaimana Once. Kesan tenang dan haru berhasil hidup dari musik dan sudut-sudut kota yang mendukung.

Meski demikian keberengsekan film Once tetap tak terbantahkan. Sajian cerita yang diolah dalam film Sing Street tidak beda jauh dari Begin Again. Entah perasaan saya saja, atau memang porsi dramanya terlalu bertele-tele. Sedangkan porsi drama Once sangat singkat dan lugas. Review Sing Street sudah pernah saya tulis di sini.

Selain ketiga film yang saya bicarakan dalam tulisan ini, Carney juga membuat berbagai film lain. Sampai saat ini saya masih memburunya. Sebenarnya ingin membuat tulisan utuh setelah menyaksikan semua film Carney tapi tangan dan pikiran sudah tidak sanggup menahan nafsu nulis. Jika kamu menyukai musik seperti kamu menyukai gebetan yang bertepuk sebelah tangan, berarti kamu bakal suka dengan film Carney.

Cukup sekian yang bisa saya tulis. Terimakasih sudah berkenan mampir. Oiya, jika kamu punya saran film yang berkaitan dengan musik selain film-film di atas, bisa tulis judulnya di kolom komentar ya. Saya tunggu..  
"You know, I wasn't trying to win you over. I was telling you to fuck off." (Gretta)
Source pict: irishtimes.com

Follow Us @soratemplates