Pages

Pengendara dan Begal Estetika



Sebagai pengguna sepeda motor yang hampir tiap hari menerjang keramaian jalan raya, saya selalu bertemu dengan orang yang uring-uringan dan merasa dirinya paling benar. Beberapa diantara yang saya temui bahkan sempat bersinggungan dengan saya.

Pernah ketika saya menurunkan kecepatan untuk memberi kesempatan penyebrang jalan, saya malah dimarahi pengendara lain dari belakang. Di jalanan, saya sering menengok ke spion untuk ngecek keberadaan pengendara lain. Yang saya lihat kala itu sebenarnya si pengendara berjarak sangat jauh meski saya tahu kecepatannya memang tinggi. Namun, jika sesuai hukum fisika yang dibungkus peri kemanusiaan, sangat bisa si pengendara berhenti disamping saya. Bukannya decit rem yang saya dengar, malah kata “ASU!” yang tumpah dari mulutnya.

Saya jadi bingung. Dia ini teriak “ASU” gitu maksudnya mengenalkan diri ya? Seperti “aku asu, kowe minggiro” gitu apa gimana?

Bahkan, bapak saya yang sudah berkeriput dan kaki tak mampu menopang langkah pun sering kena marah. Pernah saat itu bapak mengantar ke PKU karena saya sakit darurat. Karena bapak sudah tua, kecakapan bermotornya pun memburuk. Di jalanan bapak saya telat ngerem, lalu nyenggol ban belakang pengendara lain. Melihat bapak saya yang beruban dan saya yang pucat, ternyata tidak meluluhkan hati si pakdhe-pakdhe yang ban motornya disenggol bapak saya itu.

“Piye tho, Pak? Matane i ning ndi?”, begitulah kata yang terucap.

Padahal jika dilihat pakai teleskop apa pakai pipa comberan, si pakdhe itu juga tidak merugi apapun. Wong nyenggolnya itu kayak nyubit gemes pipi pacar. Tidak ada yang rusak atau tergores sedikit pun lho. Tapi pakdhe itu tetap bersikeras menyalahkan bapak saya. Sungguh perlawanan yang sangat norak. Che Guevara kalau tahu dengan pakdhe ini, malu dia.

Di jalan raya, banyak yang merasa seperti tokoh Cinderella. Karakter yang benar, berbudi pekerti luhur namun jadi korban orang-orang dzolim. Sudah berapa banyak orang yang menyalahi aturan kecepatan, melanggar marka jalan, menerobos lampu merah, tapi kalau ditegur pasti merasa dirinya tetap benar. Seolah kesalahan yang ia lakukan tidak layak dipermasalahkan. Sebuah sikap yang seasu-asunya sikap.

Memang harus diakui, ada cara pandang yang sangat keliru di masyarakat kita. Berulangkali saya dinasehati sama teman atau bahkan orangtua, yang bilang kalau kena singgungan di jalan jangan ngaku salah, nanti bisa disuruh ganti rugi. Ini lucu sekaligus bikin sedih. Pernah suatu ketika saat saya hendak parkir depan rumah, tiba-tiba ada cewek yang nabrak saya dari belakang. Kesalahan saya saat itu adalah lampu sign belakang yang tidak menyala karena memang lagi rusak. Saya tidak mengalami luka apapun, motor saya juga baik-baik saja. Tapi cewek yang menabrak saya mengalami luka lebam dan lecet.

Saat menepi didepan rumah saya, si cewek lekas melepas earphone yang menancap di daun telinganya. Seketika itulah bapak saya lekas menyalahkan si cewek dengan dalih mendengarkan lagu di jalan yang dipercaya bisa menghilangkan konsentrasi. Sedangkan si cewek sesenggukan menahan sakit dan rasa takut karena ia terlambat masuk kerja. Lalu saya dan cewek itu berdiskusi sebentar untuk memutuskan ‘enaknya gimana’.

Waktu itu saya mengantar si cewek pulang ke rumahnya dengan naik sepeda motor kami masing-masing secara beriringan. Sampai di rumahnya saya melapor ke ibunya kalau kami bersinggungan di jalan. Lalu kami segera ke klinik kesehatan dekat situ untuk mengobati cewek yang sampai sekarang aku tak tahu siapa namanya. Saat menunggu si cewek periksa, saya dapat sms dari ibu saya. Beliau memarahi saya karena mengantar si cewek itu pulang, sebab saya bakal disalahkan sama keluarganya. Benar saja, biaya pengobatan ternyata saya yang nanggung. Bahkan saya ditanya sama neneknya si cewek ‘nabrakmu lak ora banter tho, mas?’.

Saya mengantar cewek itu pulang bukan karena saya merasa bertanggungjawab atas musibah yang menimpanya. Namun karena rasa kemanusiaan saja. Katanya negeri ini menganut kemanusiaan yang adil dan beradab? Namun apa yang saya lakukan disalahartikan oleh semua kalangan. Niatnya mbantu, malah dianggap salah. Didikan orde baru yang mendarah daging sepertinya.

Beberapa tahun belakangan ini saya mencoba untuk menjadi pengendara yang legowo. Seperti mempersilakan penyebrang, membiarkan pengendara yang ingin menerabas jalan, dan terutama memberi jalan bagi pengendara berisik baik suara kalpot maupun klaksonnya.

Perihal klakson juga jadi titik bajingan tersendiri bagi saya. Saya nggak ngerti dengan mereka yang menyuarakan klakson di momen yang nggak penting. Seperti ditengah kemacetan, tiba-tiba suara klakson berteriak kencang dengan interval panjang. Dora dan para penontonnya pun tahu kalau tidak ada kendaraan yang bisa bergerak di kemacetan itu. Ada juga yang saya temui saat jalan benar-benar sepi. Hanya ada beberapa gelintir pengendara. Tapi ada satu pengendara dengan kecepatan biasa saja yang nyalain klakson tiap 5 detik sekali. ITU APA MAKSUDNYA?

Sejak saya muak dengan suara klakson yang tidak ergonomis itu, saya memutuskan untuk berhenti memencet klakson. Serius. Saya rasa memencet klakson itu buang-buang waktu. Lebih baik fokus memperhatikan jalan, menganalisa gerakan pengendara lain, lalu berkendara dengan anggun.

Memang tidak semua pengendara dalam keadaan yang santai seperti saya. Ada yang buru-buru mengejar urusannya yang belum selesai. Hal itu tentu wajar dan saya cukup legowo memberi mereka jatah jalan. Tapi jika ada yang ngebut sekaligus berklakson-klakson hanya untuk sekedar ‘duluan’ itu sungguh kelakuan biadab. Mereka itulah begal estetika di jalanan.

Selain pengendara mental Cinderella dan titisan Mas Boy yang demen ngebut dan nglakson, ada lagi pembegal estetika jalanan yang cukup dikenal di kota saya. Yaitu kendaraaan plat B. Banyak saksi yang mengatakan jika kendaraan plat B menganut paham abstraksionisme dalam memilih jalan. Jalur lambat, tancap gas. Marka jalan, terabas. Lampu merah, bablas. Trotoar, libas. Kendaraan plat B ini seperti hukum kapilaritas, bisa meresap melalui celah-celah kecil.

Keputusan yang diambil oleh sopir plat B benar-benar sulit diterka dan beresiko. Mereka bisa nekat menerabas kendaraan lain padahal di depan tidak tersedia ruang. Secara matematis sih seharusnya gak bisa nyungsep di tengah-tengah dua kendaraan roda empat, tapi mereka bisa! Heran benar-benar heran. Mereka berani mengambil keputusan yang tidak tahu aman atau tidak kedepannya. Saya yakin sopir plat B ini dibekali mata byakugan dan lolos seleksi lomba tawakal tingkat internasional.

Segala keriuhan dan kebisingan di jalanan memang seringkali bikin amarah meluap-luap. Tapi disitulah tantangannya. Asyiknya berkendara bukan diukur dari berhasil tidaknya kita menakhlukkan jalan, tapi menakhlukkan diri sendiri. Memberi porsi jalan pada orang lain dan tidak mencemari indera pendengaran dengan klakson-klakson tak penting. Hal-hal sederhana itulah yang membuat saya tetap waras sebagai pengendara. Mari kita lawan para pembegal estetika jalanan dengan kebijaksaan dalam berkendara. "Mulai dari diri sendiri, mulai dari yang paling kecil dan mulai saat ini juga" -by AA Gym feat. Haikal AFI-.

Jadi, gaya berkendara macam apa yang biasa kamu lakukan?

Image source: https://i.ytimg.com

Ilham Bachtiar

Blogger kalang kabut yang doyan menulis tentang film. Meski tutur lisannya kurang terjaga, tapi orangnya total berkharisma. Terima usikan di ilhambachtiar25@gmail.com

46 komentar:

  1. Aku biasane nek naik kendaraan pake gaya dada mas, bisa juga gaya kupu-kupu atau gaya bebas. Maklum, baru belajar juga.

    Ini ngomongin renang tho?

    BalasHapus
    Balasan
    1. dadi kelingan lagune Kill The Dj x Libertaria - ORA MINGGIR TABRAK!

      Hapus
  2. Baca postingan ini dari paragraf kedua udah langsung inget lagu itu. Fak lagunya

    BalasHapus
  3. Tapi memang ketika temanku yg dari Jakarta main ke Jogja, dia cara bawa motornya lebih brutal dari teman yang asli Jogja. Mungkin bagi mereka, jalanan di Jakarta ibarat hutan belantara, sedangkan jalanan Jogja ibarat lapangan bola.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sih sob. Ketika ketemu dengan pengendara macam itu kita cuma bisa tawakal sob

      Hapus
  4. kalau saya rapi kok, gak serabutan. bener bener menaati peraturan lalu lintas. cm kadang saya mulai takut apakah saya generasi penerus emak-emak, karena pernah beberapa kali saya sen kiri tapi belok kanan :"

    BalasHapus
  5. Saya kalau motoran dalam kota ya selow mas. Beda lg kalau ke luar kota, libas tapi sopan hehee :D

    Paling sebel ada kendaraan yg klakson2 pas lampu merah. Serius, itu mata taruh mana ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau ke luar memang tuntutannya waktu. Jadi ada keburu-buruan yang mendasar. Tapi ya gak perlu asal-asalan sih, hehehe.
      Setuju. Yang nglakson gak tau tempat tu kampret memang.

      Hapus
  6. Barusan nih kejadian, pas mau pergi, nyuruh temen pake helm tapi dia nggak mau, deket katanya.

    Kadang suka bingung sama yg kayak gt, apa nggak sayang nyawa atau gimana. Ya saya sih biasa aja bawa motornya inshaallah baik2 aja, kalo ada yg ga pake helm takut aja ditilang.

    Lah sy ngomong apa sih ini. Maafken 😭

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perkara helm ini juga suka bikin gak ngerti sendiri. Pakai helm itu ya niatnya sebagai pengaman kepala, bukan karena takut polisi. Hadeeeee

      Hapus
  7. Ketika ngalah menjadi salah, dan yang salah menjadi apalah

    Kasih jalan malah diklakson, sein kanan dan sudah mengkondisikan silahkan lewat kiri,malah disalip kanan... pengendara ugal-ugalan itu bak data yang dienkripsi, entah logika alogaritmanya apa, tau tau muncul hasilnya, perkara hasilnya error atau benar urusan belakangan. Yang penting salip dulu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah iya. Saya sering mau belok ke kanan buat berenti di suatu tempat gitu, udah pelan-pelan, tapi dari belakang nyerobot buanter.. Kan ngeri

      Hapus
  8. saya juga pernah dibilang bego sama pengendara :|

    suka ih sama gaya tulisannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih ya. Saya juga suka sama kamu.

      Eh komentarmu maksudnya.

      Hapus
  9. kata-katanya kasar ya, ada matane juga, hahahaha

    keren tulisannya...

    www.qurban-aqiqah.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, tulisan saya gak ada filternya.
      Hehe. Maaf ya, Sob.

      Hapus
  10. Kalo ketemu bapak-bapak di jalan. Aku suka sering bermotor di belakang bapak-bapaknya meskipun lambat. Itu mengingatkanku dengan mengikuti ayahku.

    Mereka biasany bermotor dengan sangat sopan dan pelan dan ngga jarang suka disalip orang dengan tidak sopan.

    Kalau ketemu ibu-ibu. Ternyata bermotornya memang seperti fenomena kebanyakan. Hhuhu... Susah deh. Disalip suka ngga mau. Tapi ngga disalip nyetirnya itu lho rasanya kayak donald bebek yang jalannya suka menggoyangkan ekor. Serem. Tapi ya nggak semuanya sih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. HAHAHAHA NGAKAK.. Yang tabah ya, mbak.. :D

      Hapus
  11. ah postingan ini sesuai sama keresahan gue soal pengendara. Banyak yang ngerasa paling bener. Ya ngebutlah, pake earphone pas nyetir, gak pake helm, pengendara di bawah umur, asal nyelah. Yang bikin gue kesel sih pengendara matic (biasanya cowok) karena cuma modal ngegas doang, jadi asal nyelah dan rem mendadak, gue sebagai pengendara motor berkopling pasti bakal kaget dan susah banget untuk mencegah nabrak kalo dia tiba2 nyelah dan rem mendadak pas di depan gue -__-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah iya bener, pengendara matic sering juga saya temui yang gas-gasannya serem. Tiba-tiba nongol di depan kayak valak, bikin kaget setengah modar.

      Hapus
  12. weehh idem banget dehhh, smpe sekarang ga pernah ngerti sama orang yang pake klakson pas lagi macet macetnya :|

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rasa-rasanya pengen nge-kamehameha biar beliau tersadar

      Hapus
  13. Apalagi kalo udah jam-jam pulang kantor tuh. jakarta langsung rusuh banget. Kayaknya semua orang pada buru-buru amat. Serem, tapi sekalinya kita bener (ngantri, atau nunggu lampu merah di tempat yang bener) malah diomelin. ._.

    BalasHapus
  14. Aku herannya kalo di Jakarta, orang naik motor trus mau nyalip selalu selonjorin kakinya. Maksa minta jalan gitu. Yg ada aku malah tabrakin tuh kaki. Wkwkwk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apa iya? Belom pernah lihat? Wuahahahaha.. Baru bayangin aja udah bikin terkekeh. Mungkin beliau kebanyakan nonton Tsubasa

      Hapus
  15. Balasan
    1. Kayak status hubungan kalau lagi sepi....Laju teruss sampai pelaminan. Waaakk

      Hapus
  16. Waduh, serius lu yang jadinya ganti rugi, Ham? Jahat! Niat baik malah dimanfaatin. :))
    Tapi tidak semua pengendara plat B begitu, Ham. Saya mah tetap patuh. Halah. Sesekali cobain ke Jakarta deh, orang gila banyak yang berkeliaran mengendarai motor. :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum pernah pegang kendali di Jakarta. Paling nangkring di kursi belakang dan pasrah.

      Hapus
  17. Ham,,,
    yang menyebalkan adalah...
    saaat mengendarai mobil, posisi mobil sudah berhenti tapi masih aja diserempet sama motor. udah gitu motornya yang ngamuk :(
    dannnnn
    udah tau mobil mau belok ke kiri dan ambil ancang2 ke kanan dan udah nyalain sen. masih aja motor selonong boy lewat kiri. sedih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang gede emang biasanya disalahkan. Sabar ya, Kak Ben.

      Hapus
    2. Yang gede emang biasanya disalahkan. Sabar ya, Kak Ben.

      Hapus
    3. Kamu terlalu menarik sih, Ben. Jadi pada ingin nyrempet-nyrempetin kamu. Rasanya deg-deg seerrrr... Wuahahaha.

      Jaimbum: Gede gak selalu salah kok, Mbum. 36B misalnya.

      Hapus
  18. Sebenarnya buka jalanan yang liar. Tapi kehidupan yang ada didalmnya. Kita smua adalah pelaku dijalanan, perlu kesadaran untuk mengesampingkn ego masing2, karna dijalanan kita smua sama, tidak ada yg namanya dahulu-mendahulu kan, buru2 atau apalah semacamnya yang ada hnyalah saling mnghormati dan legowo trhadap sesama pngguna jalan.

    Tidak sprti simbolisasi pembegal estetika yg diasumsikan pnulis ini. Saya juga setuju, jalanan bukan tmpat untuk adu jago2an atau siapa yg pling cpat, bnyak pngendara yg mau dbilang jago dan tidak mau disalahkan, maunya bner mulu. Korban nya slalu orng baik krna kita yg slalu memaafkan trlebih dahulu, lalu kmudian disalahkan krna orng yg memaafkan itu adalah pelaku bagi si Cinderella jalanan.

    Ah, msalah dijalanan biarkan jalanan yg mnntukan siapa yg bnar, siapa yg slah.

    Oiya, bdw, ini knjungan prtama sya disini ham, sya nemuin linknya di blog icha' dari sebuah review film yang lumayan mesum.

    Salam kenal ham! (y) Oiya, jngan lupa difolback.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oke, sob! Makasih ya sudah mampir disini dan memberi effort yang lebih untuk sebuah komen. Salam kenal dan salam hangat dari saya.. :D

      Hapus
  19. Hehehe. Mas Ilham iki baik tenan yo. Menjunjung tinggi sila kedua.

    BalasHapus
  20. Emg momen paling nybelin bgt tuh, lg macet malah brisik pda bunyiin klakson smua. Ga ada fungsinya jg ngelakson panjang&lama pas lg macet, jalanan gak bakal brubah jd sepi seketika :'D
    Lah iya itu ada org yg tiap 5 detik bunyiin klakson? Buat apaan yah? Tmenku jg ada tuh yg bgtu, di jln heboh banget, ke kanan dikit, 'tin' kiri dikit, 'tin'. Kan bacot jg:'( smpe skrg aku lupa nanya ke dia lg knp bnyiin klakson sering2._.

    Bkannya klo di jawa gtu di jalan raya lebih tratur ya? Aku sih dgr dri sodara yg prnah di jawa, katanya di jalan raya smua kndaraan lebih tertib & mnaati praturan, lampu merah ya brenti, gak ngelewatin garis pmbatas, gak rebut2an jalan. Ya, mksdnya gak separah di jakarta gtuu. Trnytaa sama aja ga sabaran jg yah?:')

    Krna saya msh newbie (bru bsa naek motor) jd pas di lepas di tgah jalan sndiri rasanya kaget bgt. Nyalip kanan kiri mobil msh ga brani, dan slalu bnyak mngalah biar pngendara lain pda duluan. Eh, aku malah diomelin sama tmenku katanya, "lama, ah!" pdhal kan aku tkut nyalip2:( jd aku hrs gmn? Huhuu *lah curhat*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai luk. Gilak ini komen dikembangin dikit sudah bisa diterbitin di hipwee, Luk! Hahaha. Iya, Luk kalau di Solo emang lumayan tertib lah. Tapi pasti ada satu dua orang yang menyebalkan seperti yang sudah saya bilang di atas. :D :D

      Hapus
  21. Aku termasuk pengguna jalan yang sabar dan berhati-hati. Karena kalau gak gitu, duh, bisa makan ati sendiri. Yang penting sampai di tempat tujuan dengan selamat dan tanpa kekurangan suatu apapun.

    BalasHapus

Berkomentarlah sejujur-jujurnya. Sebab menjadi diri sendiri tanpa rasa sungkan adalah sebaik-baik sandiwara.