Pages

Tutorial Menyatakan Perasaan Sulit



Tak dapat dipungkiri jika ada masa yang kita hanya pasrah memendam perasaan kita terhadap seseorang. Entah itu perasaan suka, benci, kecewa, takut, sedih dan sejenisnya. Ada beberapa orang yang bisa segera menyatakan itu tanpa basa-basi. Namun, tak jarang ada yang mengalami kesulitan.

Memendam perasaan itu bagai menyimpan baju kotor. Rasanya ingin segera dicuci, tapi malas sekali. Baju kotor jika terus ditumpuk hingga menggunung, pastilah muncul bau apek. Kalau sudah begini biasanya baru mau berangkat nyuci. Tapi kan capek banget nyuci timbunan baju. Sampai tahap ini biasanya muncul penyesalan; ‘kenapa enggak dari dulu aja’.

Kan ada laundrian, bro?

Serah deh seraah.. Namanya juga perumpamaan doang.
Jadi, sesulit apapun perasaan yang mengganjal di hati, memang sebaiknya diutarakan. Terlebih jika itu menyangkut dengan orang lain. Semisal ketika kamu punya teman dekat yang belakangan ini baru bertingkah menyebalkan. Yasudah bilang aja terus terang. Daripada ngedumel sendiri, ya kan?

Atau ketika kekasihmu tiba-tiba berubah. Sudah tidak seperti dulu lagi. Klise, sih. Tapi masih ada aja yang seperti ini. Ya sebaiknya dikatakan saja apa yang kamu rasakan. Kalau sedih ya bilang sedih. Kalau kecewa yang bilang kecewa. Kalau takut ya bilang takut.

Saya pernah berada pada posisi ini. Dan sejauh ini saya lebih banyak memendam perasaan. Lama-lama kesakitan sendiri, lho. Saya banyak menyesali waktu yang saya siakan untuk merahasiakan perasaan dari siapapun. Bahkan untuk hal sepele, seperti ketika saya pesan mie ayam di warung tenda. Pas pesenan datang, bukan mie ayam yang saya terima tapi spaghetti bolognise. Biasanya saya enggan untuk protes. Saya memilih diam. Padahal seharusnya saya bisa lekas menggamit baju bapak penjual mie ayam. Lalu menatap matanya dengan sendu. Sedikit menghela nafas dan mengatakan “ada yang mau aku omongin sama kamu”.
 
“Ada apa ya, mas?”

“Beberapa saat lalu aku memesan mie ayam.”

“....”
 
“Tapi sekarang kamu udah berubah. Kamu udah gak kayak dulu lagi. Kamu sajikan spaghetti bolognise padaku. Kamu pikir aku ini siapa, ha? Kenapa kamu seolah tidak tahu kesukaanku?”

“E.. Itu..”

“Itu, itu apa? Kamu sudah bosen sama aku?”

“Biar saya ganti pesenannya aja , mas.”

“Nggak perlu”

Tangan bapak itu perlahan menyentuh piring spaghetti bolognise. Dan ia menatap bayang-bayang saus dengan mata kosong. Angin semilir berhembus menggoyang rambut ikalnya. Kesejukan dan keteduhan terpancar dari peluh keringat yang membasahi wajah tirusnya. Dengan pelan, ia menguncap kata penuh kekhusyukan, “maafin aku, mas”.

Kuterdiam sejenak. Mengambil nafas dalam-dalam. Meresapi setiap oksigen yang masuk ke paru-paru seolah sedang menghirup kesabaran.

“Kamu tak perlu minta maaf. Aku yang salah. Seharusnya aku tak pesan mie ayam”. Kami berdua terdiam.

“Seharusnya aku tahu kalau tidak ada menu mie ayam di warungmu”, kataku penuh sesal. 

 
Ya kurang lebih begitu. Katakan saja apa sedang mengganjal di hati. Saya yakin –sebagai orang yang sudah pengalaman memendam perasaan- pasti ada rasa takut untuk menyatakan perasaan. Takut jika nanti orang yang kita jujuri itu menjadi sedih, kecewa bahkan murka.

Tapi jangan khawatir. Kali ini saya akan memberi tutorial bagaimana menyatakan perasaan-perasaan sulit. Jika kalian pernah membaca “Men Are From Mars, Women Are From Venus”, mungkin akan kalian temui cara-cara ini ada miripnya. Yaiyalah.. Emang rujukan saya dari situ. Tapi hanya beberapa bagian saja, sih. Sisanya saya cuplik dari intelegensi saya yang gini-gini aja. Oke, mulai!
 
Sebelumnya, ada beberapa media yang bisa kita gunakan untuk menyatakan perasaan sulit.

1. Lisan

Memang cara paling basic untuk menyatakan perasaan ya dengan ngomong langsung. Sayangnya, ada beberapa orang yang gemetaran saking tidak kuatnya menahan gejolak birahi –ini khusus kalau kamu mau ngajak ML aja. Merangkai kata-kata dalam kepala lalu melepaskannya lewat lisan itu cukup sulit. Saran saya, jika kamu bukan tipe orang yang lancar ngomongin hal-hal sensitif, ada baiknya kamu menggubahnya dalam lagu.

Demi memberi kesan totalitas dalam menyampaikan perasaan sulit ini, sebaiknya lagu yang kamu nyanyikan untuknya adalah lagu yang kamu buat sendiri. Tulis uneg-uneg yang ingin kamu sampaikan padanya dalam sebuah kertas, lalu senandungkan. Jelek atau sumbang urusan belakang. Yang penting jujur dulu. Tapi, jika kamu tidak mahir membuat lagu, ya solusi sederhana cari lagu yang related dengan perasaanmu -tapi sebaiknya sih dihindari, BASI sob.

2. Tulisan

Jika secara lisan kadar degdegannya terlalu tinggi maka media lain yang bisa digunakan adalah tulisan. Melalui tulisan kita bisa menyusun teks puisi atau surat. Menuangkan perasaan dalam bait puisi memang kadar sentuhannya lebih kuat. Namun jika yang kita kasih puisi itu tipe orang yang sulit memahami teks-teks konotatif, ya malah jadi bingung dia.

Jadi, saran saya sebaiknya sampaikan uneg-unegmu melalui surat. Surat bisa jadi media paling tepat untuk menyatakan perasaan. Di dalam surat kita bisa menulis secara runtut, gamblang dan detail. Soal touching atau enggak urusan belakang. Yang penting jujur dulu aja.

3. Visual

Tak dapat dipungkiri jika pada era saat ini ada banyak orang yang lebih bisa menyatakan pemikirannya melalui media gambar. Sampai-sampai perlu dibuka jurusan Desain Komunikasi Visual untuk menjembatani kecenderungan itu, bukan? Nah, kalau yang sudah-sudah biasanya menyatakan gagasan dalam pikiran ke bentuk visual. Tantangan berikutnya adalah bagaimana mengkomunikasikan perasaan ke bentuk visual juga.

Jika kamu adalah tipe orang yang kepekaan visualnya tajam, saya yakin hal ini tidak terlalu sulit. Kita bisa menggunakan gambaran tangan sendiri, mau sketsa, doodle, lukis atau grafitti juga bisa. Kalau lebih canggih dengan media digital juga bisa. Bahkan pakai fotografi pun juga bisa.

Intinya, nyatakan perasaanmu melalui media apapun yang kamu kuasai. Jika kamu tidak memiliki keahlian-keahlian tadi ya minimal bisa back to basic. Ngobrol langsung. Namun ‘langsung ngomong’ aja terlalu berbahaya. Misal kamu ingin mengatakan pada kekasihmu kalau dia terlalu egois. Nah, kalau kamu asal bilang “kamu sekarang egois banget sih, bangsat?!”, saya yakin dia bakal terpicu emosi dan justru menyerangmu. Dari hal-hal sederhana itu justru berpotensi merusak hubungan.

Kita hamil, Mas. Source: quora.com
Maka dari itu, perlu penanganan khusus bagaimana menyatakan perasaan sulit itu. Ada rumusnya. Ada poin-poin dan step yang harus diperhaikan. Rumusnya adalah ASTS+C. Gimana? Mudah dihapal, kan? Berikut penjelasannya:

1. Amarah

Tahap pertama sampaikan rasa marahmu. Marah itu bisa ditujukan pada orang yang kamu maksud atau bisa juga ditujukan untuk diri sendiri. Misal, kamu ingin bilang sayang ke mas-mas tukang parkir Alfamart. Kamu mulai dengan menuangkan amarah. Contoh: “Aku marah pada diriku sendiri. Aku marah saat aku pasrah nurut orangtua untuk belanja di Indomart. Padahal hatiku sudah terpatri di Alfamart. Aku ingin selalu ketemu kamu, mas”.

Jika mulai dari tahap ini sebaiknya kamu sampaikan melalui surat, deh. Karena kalau ngomong langsung nanti sebelum inti yang ingin kamu katakan, dia sudah motong pembicaraan duluan. Makin repot nanti. Hati-hati yaa..

2. Sedih

Setelah meluapkan kemarahanmu, selanjutnya ungkapkan kesedihan. Katakan hal-hal yang membuatmu sedih. Misal kamu sedih karena tidak bisa parkir di Alfamart. Kamu sedih tidak bisa bertemu mas ganteng tukang parkir. Kamu sedih hanya bisa memandang mas ganteng tukang parkir sekilas saja. Menyatakan kesedihanmu berfungsi sebagai penetral amarahmu di awal tadi. Memang sih bisa dibilang ini memancing rasa iba. Tapi bukan itu intinya. Pada tahap ini kamu akan menyentuh hatinya. Saya yakin seberingas apapun kelakuan di ranjang, tetap saja tertanam rasa kasih di hati manusia. Nah, sentuh itu.

3. Takut

Hal yang perlu diungkapkan berikutnya adalah rasa takut. Misal takut kehilangan, takut perubahan, takut ketidakpastian, takut kegagalan dan lain-lain. Tahap ini akan semakin menusuk-nusuk perasaan orang yang kamu tuju. Tujuan utamanya adalah untuk memancing rasa kepedulian.

4. Sesal

Setelah hatinya tersentuh dan timbul kepedulian terhadapmu, tahap berikutnya adalah menyesali diri sendiri. Penyesalan ini semacam pengakuan dosa. Kesannya agar kamu tidak terlihat egois. Tidak terlalu banyak menuntut. Sesalilah masa lalumu. Sesalilah kebodohan yang pernah kamu perbuat. Dari iba, lalu peduli, dan tahap ini untuk menumbuhkan rasa sayang.

5. Cinta

Saya yakin orang yang mau menerapkan rumus ini sebenarnya punya rasa cinta terhadap orang yang dituju. Cinta yang saya maksud tak sesempit pengertian cinta sama dengan menjalin hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam sebuah ikatan kekeluargaan yang sah. Tapi cinta yang kamu tebar bisa ke siapa saja, bisa saudara, orang tua, sahabat, teman bahkan abang-abang barbershop juga boleh.

Tahap ini bukan tahap untuk mengatakan ‘aku cinta kamu’. Tahap ini adalah tahap akhir untuk menutup penyampaian perasaanmu dengan manis. Untuk mempermudah, coba kamu tuliskan perasaan cinta dimulai dari kata ‘terima kasih’. Misal –setelah kamu ungkapkan rasa sesal (tahap 4) kamu bilang “terima kasih, kau sudah bersabar untukku. Terima kasih, kau mau sejauh ini bersamaku. Terima kasih, kau selalu berhasil mengingatkanku bahwa selalu ada bahagia (kamu) disetiap sedihku”.

Tahap cinta di sini sebenarnya membongkar perasaan-perasaan bahagiamu tentang dia. Ungkapkan dengan kalimat terima kasih. Lambungkan hatinya. Buat dia merasa diakui, dianggap, diperhatikan. Dengan begitu meski inti yang ingin kamu sampaikan adalah perasaan-perasaan negatif, ujungnya jadi manis. Dia akan menerimamu secara postif. Pertengkaran pun terhindari.

Kuncinya, jangan berhenti melakukan tahap-tahap itu sebelum sampai pada tahap cinta. Mau buat lagu, puisi atau surat jangan sampai berhenti sebelum sampai puncaknya. Nah, kalau misal pakai media visual gimana? Ya coba tidak membuat hanya satu. Buat berangkai, sampai membentuk cerita juga bisa. Ah susah kayaknya ya. Menurutku sih, sebaiknya bikin surat saja.

Fungsi utama dari rumus-rumus ini adalah untuk memetakan perasaanmu yang sebenar-benarnya. Selain memberi penjelasan kepada orang yang kamu tuju, rumus ini juga bisa menjadi cara terapi diri untuk memahami apa yang sebenarnya kamu rasakan. Jangan kepancing emosi terus langsung nyeblak. Pikirkan dulu dengan tenang. Apalagi jika kasusnya rumit dan berat.

Nah, di atas sudah saya tulis media yang bisa digunakan untuk menyampaikan perasaan sulit dan juga rumus untuk menyampaikannya. Jadi, langsung saja kita menuju inti gimana cara menyatakan perasaan sulit. Berikut tutorialnya:

1 Niat 

2 Persiapan fisik dan hati

3 Eksekusi (usaha maksimal)

4 Pasrah

Baiklah, semoga tutorial ini bisa memberi manfaat buat teman-teman semua. Terima kasih sudah menyimak dari awal hingga akhir. Sudah dulu ya. Sampai jumpa di tulisan saya selanjutnya. Cheers.

Header source: tokopedia.com

Ilham Bachtiar

Blogger kalang kabut yang doyan menulis tentang film. Meski tutur lisannya kurang terjaga, tapi orangnya total berkharisma. Terima usikan di ilhambachtiar25@gmail.com

13 komentar:

  1. Vninggalin jejak dulu. Nanti dibaca

    BalasHapus
  2. Terima kasih cinta pertamaku, terima kasih pengalaman cinta yang telah kauberi. Terima kasih karena selalu mencoba mengertiku.

    Abis ngomong begini bukannya manis akhirnya. Malah diblok. Kan tae. 😆😆😆

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tae mah disentor aja.. Masih ada banyak tae lain. Semangat!

      Hapus
  3. Jadi kapan mau dipraktekkan ke Reny dan Martina, Ham?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah.. Tuh yang jualan mie ayam nama aslinya Retina (Reny Martina)

      Hapus
  4. Gue yakin banget, adegan lu sama mamang mie ayam itu kisah nyata, dapet banget feelnya, am.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah. Perasaan yang mendalam susah disembunyikan ya

      Hapus
  5. Tulisannya manis sih. Sisi melankolis kamu keliatan gitu. Tapi uji cobanya ngeselin! Huhuhuhuhu.

    Ham, apakah ini bisa diterapkan kalau kita mau nyatain perasaan kalau kita nggak nyaman keluar di dalam, Ham? Mohon dijawab. Dari Sumiyati di Mojokerto.

    BalasHapus
  6. HA HA HA HA HA tai itu percakapannya.

    Hmmm sangat berbobot cakupan pembahasannya. Danke. Mungkin suatu hari aku akan butuh membaca ulang tulisan ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setelah membaca, bisa dipraktekken.. Ke saya.

      Hapus

Berkomentarlah sejujur-jujurnya. Sebab menjadi diri sendiri tanpa rasa sungkan adalah sebaik-baik sandiwara.