9 Desember 2016



Beberapa kali saya melewatkan event Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF), tetapi tidak untuk tahun ini. Di JAFF ini kita bisa bertemu dengan kreator, aktor/aktris, kritikus, praktisi, dan berbagai kalangan yang terlibat dengan film. Acara ini berlangsung dari tanggal 28 November hingga tanggal 3 Desember 2016 yang berlokasi di Jogja melalui beberapa venue, yaitu Empire XXI, Taman Budaya Yogyakarta, dan Grhatama Pustaka Yogyakarta.

Saya seorang diri baru meluncur ke JAFF pada hari ketiga untuk menonton film NAY. Meski mendung terus menggantung, saya tetap melaju dari Solo ke Jogja dengan sepeda motor mogokan. Beruntung ketika tiba di Taman Budaya Yogyakarta, barulah gerimis jatuh pelan-pelan. Saya tiba di lokasi pukul 11.00, sedangkan film diputar pukul 12.30. Kata terlambat tidak ada dalam rencana-rencana saya. Begitu pun dengan kelas kuliah, saya jarang terlambat. Lebih sering bolos sekalian. Sikap!

Tiket on the spot baru dibuka pukul 11.30. Saya tentu lekas membelinya untuk memburu lokasi duduk yang strategis. Namun sayang, tempat duduk dipilihkan oleh panitia. Dan saya terpaksa menyerah pada bangku yang membuat leher kaku ke kanan. Saya kalau sudah nonton film itu bahu ke bawah bisa gerak muter ke mana-mana. Tapi bahu ke atas kaku sekali seperti hubunganmu dan dia. Whoop!

Satu jam saya menunggu, akhirnya pintu teater dibuka. Lekas saja saya masuk karena situasi di luar terlalu ramai oleh orang-orang yang datang bergerombol. Mereka sibuk berfoto di depan tembok-tembok ratapan Instagramers. Sepertinya memang bagi para Instagramers, background foto adalah kiblat, scrolling adalah ibadah, posting adalah sedekah, dan hastag adalah rapalan doa-doa.


Ruang teater tidak segelap bioskop XXI. Sebab, masih ada bocoran-bocoran cahaya yang membuat mata saya dapat menangkap berbagai benda yang ada di dalam ruangan itu. Namun, kebagusan film NAY berhasil menarik perhatian saya. Saking bagusnya, sampai-sampai saya tidak mungkin sadar andai penonton yang duduk di depan saya secara tiba-tiba memutuskan untuk bugil saat itu. Bahkan jika pria sekali pun.

Setelah film selesai, kami para penonton yang masih mabuk dengan apiknya NAY digiring ke selasar untuk mengikuti diskusi bersama Djenar Mahesa Ayu. Beliau ndeprok sambil klepas-klepus mengapulkan asap rokok macam Mas Waluyo kalau lagi curhat di angkringan pinggir jalan. Tanpa ragu saya turut ndeprok di dekatnya. Ya sekitar selemparan kancutlah. Orang-orang mulai mengambil tempat masing-masing seadanya. Lalu saat mas-mas moderator memulai diskusi dengan sambutan selamat datang, Mbak Djenar memilih untuk menenggak bir bintang.

Kaleng bir diletakkan. Puntung rokok yang terapit dua jari didekatkan pada dengkul kanan. Bibirnya tersenyum mengesankan. Sedikit menyeringai. Seolah ingin menggempur kami dengan kata-kata, “Rasakno! Filmku apik, tho? Khekhekhekhe.”

NAY: Belajar Membaca Perempuan

Source: scontent.cdninstagram.com/
Film NAY ini bagus sekali. Saya tidak nemu di mana celah untuk menghujat. Etapi bisa saja karena saya orangnya terlalu baik. Jadi, hal-hal buruk tak tampak dari pengamatan saya. Ndasmu, Ham! Hehe, oke skip.

Ada empat alasan kenapa film ini bagus menurut saya. Pertama, film NAY mengangkat isu gender, seksualitas, dan sistem patriarki yang sampai saat ini masih menjadi mimpi buruk bagi perempuan di negeri kita. Kedua, film ini menawarkan gagasan tentang humanisme, atau bisa juga feminis. Ketiga, kepribadian Nay yang terguncang bisa menjadi perhatian menarik dalam wacana psikologi. Dan alasan terakhir, film ini memiliki cara bercerita yang tak lumrah.

Baiklah, saya kupas satu-satu.

PATRIARKI 
Source: trendhunterstatic.com
Isu patriarki seringkali diperbincangan, salah satu penelusuran saya yaitu mengarah pada terbitnya buku Ancient Law yang ditulis oleh Henry Maine pada tahun 1861. Pada buku ini Henry menjelaskan bahwa keluarga patriarki merupakan dasar dan unit universal dari masyarakat. Di mana sosok ayah memiliki otoritas penuh terhadap istri dan anak-anaknya.

Gagasan patriarki ini lekat kaitannya dalam teori sosial Marx, Engels, dan Weber. Si Engels yang berpendapat jika kemungkinan pembebasan wanita tidak akan pernah terjadi, memicu para feminis Marxis untuk mengkritik patriarki. Ketegangan dari pemahaman-pemahaman yang berbeda atas hal ini pun terus terjadi hingga sekarang.

Sederhananya, jika kamu percaya laki-laki lebih berhak daripada perempuan, maka matamu berhasil dikaburkan oleh wacana patriarki ini. Baik itu hak untuk mengambil keputusan, hak untuk dianggap kuat, hak untuk berbicara lebih bebas dari perempuan, hak untuk dipatuhi, hak untuk bertindak nakal maupun berpikir mesum, dan segala jenis hak untuk mendominasi perempuan apa pun jenisnya. Nah, kalau kamu percaya hak-hak macam itu dimiliki seorang pria sejak ia lahir, maka kamu sudah tergelincir pada sistem patriarki yang diterapkan secara halus, sehalus alis mata Dian Sastro seusai pakai kondisioner.

Dalam film NAY, saya melihat bagaimana seorang Ben enggan menjadi ayah bagi anak yang dikandung Nay. Meski status mereka masih sebatas pacaran, tetapi keputusan nasib janin seolah ditentukan sepihak oleh superioritas Ben. Ben memilih untuk menggugurkan kandungan itu. Sementara Nay berniat menjadikan janin itu sebagai anaknya. Pada tahap ini, Nay mengalami setres berat. Apakah ia akan menggugurkan janinnya karena Ben (selaku laki-laki) tidak mau menerima kehadiran anak itu? Ataukah Nay akan melahirkan anak itu dalam keadaan single parent? Benturan batin inilah yang menjadi konflik utama dalam film ini.

Kasus ini sering terjadi di masyarakat kita. Pria merayu-rayu ngajak ngentot. Pas perempuannya bunting, minta digugurkan. Siapa yang lebih banyak merasakan sakit saat ngentot? Siapa yang masih diberi sakit saat hamil? Siapa lagi yang sakit saat melahirkan atau menggugurkan? Perempuan!

Lalu saat Nay menghubungi Pram (pria yang mencintai Nay) untuk menjadi ayah dari spermanya Ben, Pram menolak. Begitulah salah satu sisi tipis patriarki. Pria selalu memiliki pilihan. Pria mempunyai kuasa untuk menolak. Sedangkan, perempuan masih terjebak pada pilihan-pilihan orang lain dan pengharusan yang tidak dikehendaki. Namun keadaan ini menjadi bias dan dilupakan ketika statement cengengesan ‘cowok selalu salah’ terus digaungkan oleh pria sebagai wujud pengibaan kuasa.

Saya pun pernah berada pada posisi (yang katanya) ‘cowok selalu salah’ itu. Namun jika diselidik lebih dalam, ada faktor yang lebih tepat untuk mengklaim kesalahan saya. Bukan karena saya pria. Namun, karena saya memang salah. Sehingga menurut saya, slogan ‘cowok selalu salah’ hanyalah tempat bersembunyi bagi pria yang melakukan kesalahan tapi enggan mengakui. ‘Cowok selalu salah’ menjadi kekeliruan argumentum ad misericordiam agar klaim tersebut bisa diterima. Di sini kita kembali melihat bagaimana pria memiliki pilihan ketika dituding bersalah. Yaitu, memilih untuk mengakui kesalahan atau lebih memilih melemparkan klaim ‘cowok selalu salah’ untuk menempatkan perempuan sebagai antagonis.

Perkara ini yang berhasil Djenar kemas dalam film NAY. Djenar menempatkan Nay pada kebingungan antara tunduk pada patriarki atau meyanggah Engels (perihal pembebasan wanita yang tidak mungkin terjadi). Djenar mengaduk-aduk emosi saya dari beberapa menit pertama hingga akhir. Mau tidak mau sepanjang film berlangsung, saya harus mengunci mulut rapat-rapat. Sebab jika terbuka, melesatlah kata “ANJINC!”.

HUMANISME

Source: invaluable.com
Saat diskusi, Djenar berujar, “Saya bukan feminis, saya humanis." Hal ini tampak sekali dalam film NAY, khususnya pada dialog, “Lihat itu, Mom. Itu manusia yang tidak memiliki rasa kemanusiaan.” Justru saya memandang jika benang merah dalam film ini terangkum melalui dialog tadi. Sebab, gempuran yang dialami Nay pada dasarnya merupakan bentuk dari ketidakperikemanusiaan.

Ketidakperikemanusiaan ini tampak pada Ben yang tidak mau menjadi ayah dari spermanya sendiri. Adjeng, sahabat sekaligus manajer Nay, yang turut mendukung pengguguran janin agar karir selebritis Nay tidak tersengal. Sebab jika karir Nay hancur, maka hancur pula jaminan duitnya Adjeng. Lalu masih ada ibunya Nay yang sering menganiayanya. Serta, pacar ibunya Nay yang memerkosa Nay di usia sembilan tahun. Lalu apa itu manusia dan kemanusiaan? Kemanusiaan teleq bebeq!

Humanisme menempatkan manusia pada kesetaran antara satu indivdu dan individu lain. Tidak ada perbedaan kelas. Tidak ada kesenjangan gender. Tidak ada tebang pilih kuasa. Tidak perlu impreliasme. Apa pun jabatan, jenis kelamin, gelar, dan segala jenis kehendak berkuasa harus ditepikan terlebih dahulu. Sebab ada kerukunan antarmanusia yang harus dimenangkan.

Ketika seluruh semesta bertindak sadis kepada Nay, di situlah humanisme hadir. Nay yang selama ini menjadi korban ketidakperikemanusiaan mencoba untuk tidak mengulangi siklus yang sama. Keinginannya untuk melahirkan anak itu begitu besar. Bukan karena ia mengidamkan keluarga yang ceria dengan hadirnya anak. Ia tahu benar jika anaknya akan lahir dalam kecacatan keluarga. Anak yang tak berayah. Namun, atas nama kemanusiaan yang adil dan beradab, ia punya tekad untuk menjadikan janin itu sebagai anaknya. Tekad itulah yang terus mengalami gejolak karena desakan Ben dan Adjeng untuk menggugurkan kandungan.

Selain tokoh-tokoh yang sudah saya sebutkan di atas, ada lagi satu sosok yang sangat tidak mengerti kemanusiaan. Ibunya Ben. Sebagai mertua, bukannya mencari solusi yang tepat malah menuduh jika Nay itu bohong. Nay dianggap sudah tidur dengan banyak pria. Lalu memilih pria paling kaya untuk dimintai pertanggungjawaban. Sungguh logika sok tahu yang seasu-asunya. Dia mikir pakai tumit kayaknya.

PSIKOLOGI 
Source: imgur.com
Ulasan menarik keluar dari pria yang duduk di sebelah saya. Ia menyinggung soal sisi psikologis Nay yang sudah bertingkah seperti orang gila. Nay bisa menangis. Tiba-tiba tertawa. Lalu menangis lagi. Kemudian marah. Merenung. Lalu kembali tertawa, dan seterusnya.

Emosi yang ia alami berubah-ubah secara ekstrim. Saya menduga bisa saja ia bipolar. Kecenderungan untuk berganti emosi dari depresif ke manik ada dalam sosok Nay. Bahkan Nay pun mengalami delusi parah. Ia seolah sedang bicara pada ibunya, padahal ia sedang bicara pada diri sendiri. Ada yang menduga skizofrenia pula.

Namun, Djenar selaku pencipta tokoh Nay pun kelimpungan dengan dugaan itu. Djenar mengaku belum menemukan bukti apakah Nay mengalami gangguan kejiwaan. Lekas saja ia membiarkan para penonton membaca karakter Nay sebebas-bebasnya. Sebab dalam salah satu dialog juga dikatakan, “Kebenaran menurut siapa, Nay? Menurut kamu?”

Potongan dialog di atas dapat kita temukan keragu-raguan Djenar dalam memahami realitas. Semangat posmodernisme yang terus mencoba menggulingkan rezim kepastian, membuat realitas menjadi semu. Benar dan salah tidak lagi absolut. Maka realitas yang kita kenal saat ini adalah realitas ambigu.

Beranjak dari situlah Djenar membolehkan para penonton untuk menentukan sendiri apakah Nay ini gila atau tidak. Karena setiap pendapat yang berdasar adalah kebenaran. Namun, bukan kebenaran universal. Sampai pada perbincangan ini, moderator berceletuk, “Nah, Anda bisa membaca karakter Nay ini dengan psikoanalisis, Mas.” BUAJINGEK!

KENIKMATAN VISUAL 

Sepanjang film berlangsung, kita disuguhkan pada set lokasi yang berkutat di satu tempat. Namun di waktu yang sama juga berpindah-pindah. Nah, bingung kan? Hahahaha. Jadi point of view dalam film ini adalah Nay yang sedang berkendara di jalanan Jakarta pada suatu malam.

Nay waktu itu pulang dari rumah sakit dan mendapati dirinya positif hamil sebelas minggu. Di dalam mobil itulah ia dilibatkan pada situasi yang membingungkan. Antara ingin melahirkan atau menggugurkan. Sesederhana itu premisnya. Tapi eksekusinya bagus sekali.

Seperti film The Island, dari awal sampai akhir yang main film cuma seorang doang. Bisa bayangkan betapa absurdnya 130 menitmu menyaksikan orang berkendara? Kok absurd? Yaiyalah! Insepsi yang timbul dari pengalaman nonton Fake Taxi bisa muncul begitu saja. Apalagi mobilnya Nay ini warnanya kuning. BANGKE!

Komunikasi yang terjalin antara Nay dan karakter lain terjadi melalui sambungan telepon. Sedangkan komunikasi Nay dan ibunya terjadi melalui dirinya sendiri. Nay, entah sengaja atau tidak, mampu melakukan impersonate terhadap ibunya. Sehinga perbincangan ibu dan anak dapat kita saksikan pada satu orang yang sama.

Selain itu, kecanggihan Nay yang bergonta-ganti emosi memberi kesan ramai pada film. Sehingga penonton tidak bosan. Kala sedih ia menangIs tersedu-sedu. Kala bahagia ia bisa tertawa terbahak-bahak. Kala marah ia bisa melempari kita dengan teriakan ANJINC! BANGSAT! KONTAL-KANTIL!

Begitulah NAY mampu menghipnotis saya dalam cerita yang tersaji apik dengan sarat makna yang begitu dalam. Ada banyak hal yang bisa dibicarakan dalam film ini. Maka tak heran jika NAY lebih bisa dinikmati melalui acara pemutaran film daripada mendapatkannya dari link download.

Sayang sekali pada kesempatan itu sesi diskusi terbatas waktu. Mau tak mau saya harus menyudahi ambisi saya untuk mengulik film ini lebih jauh. Jadinya, saya memilih untuk menenggelamkan alam pikir saya bersama bayang-bayang film yang masih membekas. Lalu menganalisanya di sepanjang jalan ketika saya berkendara pulang. Tiba di rumah, saya segera membicarakan ini pada kekasih saya. Diskusi sesungguhnya, baru saja dimulai.

Header source: ytimg.com

Follow Us @soratemplates