26 Desember 2017


Hallo, Gaes. Siapa coba di sini yang nggak doyan games? Atau malah nggak tahu apa itu games. Waduh. Ya, tahulah, ya.

Game, sebuah kata yang tidak asing lagi di telinga. Merujuk pada permainan dengan berbagai macam bentuk yang bisa dimainkan oleh masyarakat di segala usia. Biasa dimainkan pada sebuah gadget atau seperangkat alat tertentu, baik online maupun offline

Seiring dengan perkembangan zaman, industri game di dunia ternyata menunjukkan potensi bisnis dengan nilai yang cukup besar. Termasuk di Indonesia.

Dimulai dari serangkaian game konsol seperti Nintendo dan Playstation yang berlanjut dengan masuknya era game online di tahun 2000-an, industri game di Indonesia terus berkembang hingga mulai bermunculan beberapa game buatan anak negeri. 

Setelahnya, masuklah Indonesia ke dalam sejarah baru industri game lokal di tahun 2013 dengan terbentuknya Asosiasi Game Indonesia (AGI) yang digawangi oleh sepuluh orang yang berkompeten di bidangnya.

AGI bertujuan untuk menjadi wadah bagi seluruh perusahaan yang bergerak di bidang game di Indonesia. Dengan terbentuknya AGI, diharapkan industri game di Indonesia dapat mendominasi, baik di tingkat nasional maupun internasional. 

Semakin bermunculanlah talenta-talenta, yang awalnya tertarik pada dunia teknologi dan informasi, mulai turut beralih menggeluti dunia animasi maupun game. Seiring berkembangnya waktu, mulai muncul pula developer-developer game dengan copyright mereka sendiri hingga sekarang.

Salah satu developer game dalam negeri yang begitu melejit namanya adalah Agate Studio. Agate Studio meraih kesuksesannya di pasar mobile game Indonesia dengan game-game buatan mereka seperti Football Saga dan Valthirian Arc II. 

Nah, dengan maksud turut serta meramaikan pasar game Indonesia layaknya Agate Studio dan pendahulu-pendahulunya, muncul sebuah developer game baru yang bernama Guklabs Game Studio.



Developer game asal Jakarta yang diisi oleh orang-orang yang telah berpengalaman di bidangnya tersebut dikabarkan akan segera merilis sebuah game bergenre action adventure yang berjudul WISGR. Menurut pernyataan yang dilontarkan oleh Johannes Antonius, CEO Guklabs Game Studio, WISGR merupakan sebuah upaya untuk membuat game karya anak bangsa agar dapat bersaing di kancah internasional.

“Kekuatan WISGR ada pada story dari gameplay-nya. Kami berusaha membuat story yang dapat menyentuh emosi dari pemain. Sehingga harapan kami, game ini juga dapat diterima di semua kalangan. Dan story yang kami buat juga full original,” jelas Johannes. 

Jadi, melalui game WISGR ini Guklabs Game Studio mencoba untuk mengajak para gamers untuk merasakan pengalaman bermain yang baru dengan fantasi yang berbeda. Selain itu, WISGR juga memiliki twist story yang sangat menarik sehingga gamers tidak dapat menduga-duga apa yang akan terjadi dari satu event ke event selanjutnya. Woow, rasanya bakal keren banget, nih!



Project game pertama Guklabs Game Studio yang dimulai pada awal tahun ini sudah berprogres sekitar 60% sampai saat ini. Untuk teaser videonya pun sudah disiapkan agar awal tahun depan dapat segera dirilis. Namun, untuk tanggal perilisan full version dari game-nya masih belum dipastikan. 

Wah, jadi semakin gak sabar, ya? Sebagai pecinta games seperti saya sih tentu sudah gatel banget ingin buru-buru memainkannya. Kita tunggu saja dulu tanggal mainnya.


Pict source: wisgr.guklabs.com

20 Desember 2017


Demi mendapatkan pendidikan yang berkualitas, tidak jarang pelajar atau mahasiswa rela bersekolah di luar kota, luar pulau, atau luar negeri. Kemudian, mereka menjadi cah kos anyaran. Mereka tidak hanya dituntut untuk menyelesaikan pendidikan, tetapi juga dituntut mengurus diri mereka sendiri. 


Bagi mereka yang terbiasa hidup bersama orang tua, hidup sebagai anak kos adalah tantangan yang besar, terutama dalam hal keuangan. Setuju? 

Jika biasanya bisa langsung meminta uang kepada orang tua saat menginginkan sesuatu. Namun, saat menjadi anak kos, mereka akan diberi uang bulanan yang harus dikelola sendiri. Mengelola keuangan sendiri bukanlah hal yang mudah, apalagi bagi mereka yang baru merasakan kehidupan anak kos. Seringnya uang bulanan habis sebelum waktunya seperti yang saya alami. 

Oleh karena itu, di bawah ini ada langkah-langkah manajemen keuangan ala anak kos yang harus diterapkan.

1. Membuat Daftar Kebutuhan


Awal bulan merupakan waktu yang dinanti oleh anak kos. Pada saat itu mereka akan mendapat kiriman uang bulanan dari orang tua. Namun, seringnya uang bulanan dihabiskan sebelum waktunya karena pengeluaran yang tidak terkendali. Saat memegang banyak uang, mereka cenderung membeli barang-barang yang terlihat menarik di mata. Sampai kadang lupa soal penting atau tidaknya barang tersebut dibeli.

Nah, salah satu cara yang paling ampuh untuk mengelola pengeluaran adalah membuat daftar teman yang bisa dimanfaatkan kebutuhan. Daftar kebutuhan dapat dibuat sebelum mendapat uang bulanan dari orang tua. 

Daftar kebutuhan berfungsi sebagai pengingat agar tidak menggunakan uang dengan semena-mena. Kebutuhan yang tertulis di dalam daftar tersebut merupakan kebutuhan yang penting, seperti sewa kos, iuran air dan listrik, iuran wi-fi, makan, bensin, pulsa, perlengkapan mandi, dan kebutuhan sekolah. Jangan lupa untuk mencantumkan anggaran yang dialokasikan untuk setiap kebutuhan. 

Setelah itu, hitung berapa banyak uang bulanan yang dikeluarkan untuk memenuhi semua kebutuhan. Jika uang bulanan masih memiliki sisa, jangan gunakan uang tersebut untuk berfoya-foya. Rasah kakehan nggaya! Sebaiknya simpan uang tersebut untuk mengantisipasi kebutuhan yang tidak terduga seperti berobat, servis motor, iuran kegiatan sekolah atau kampus, dan lain sebagainya. Namun, jika perlu uang mendesak tidak ada salahnya mencari pinjaman uang ke orang lain.

2. Utamakan Memasak Daripada Membeli


Makan merupakan kebutuhan primer bagi manusia, tidak terkecuali anak kos. Makan merupakan kebutuhan yang bisa menghabiskan lebih dari 50% uang bulanan. Selain itu, besarnya uang bulanan untuk makan ditentukan oleh jenis makanan apa yang dikonsumsi. 

Anak kos memiliki siklus makan setiap bulan. Di awal bulan mereka akan makan makanan yang enak, biasanya dengan lauk ayam, ikan, atau daging. Di pertengahan bulan makanan mereka mengalami penurunan kualitas, mereka lebih sering makan dengan lauk sayur-mayur dan telur. Sedangkan, di akhir bulan mereka kerap mengonsumsi makanan dengan lauk sayur-mayur dan sering mengonsumsi makanan instan. Siklus makan tersebut tidaklah sehat untuk tubuh serta keuangan.

Meski demikian, ada kok sebagian anak kos sebagai pemuja mie instan yang akan selalu makan mie instan entah awal bulan, pertengahan bulan, akhir bulan, maupun datang bulan.

Oleh karena itu, memasak sendiri merupakan cara yang ampuh untuk menghemat pengeluaran uang bulanan. Siapkan beras dan rice cooker di dalam kamar kos untuk memasak nasi. Jika dikalkulasikan uang yang dihabiskan untuk membeli beras satu kilogram setara dengan satu kali makan. Beras satu kilogram bisa dimasak menjadi nasi selama beberapa hari. 

Sedangkan, untuk lauk pauk bisa disiapkan sayuran, telur, dan makanan kering seperti abon, oreg tempe, kering kentang, atau dendeng sapi. Dengan memasak sendiri pengeluaran menjadi lebih hemat karena tidak tergoda dengan aneka makanan atau jajan yang disajikan di tempat makan. Selain itu, masakan yang dimasak sendiri lebih terjamin kehigienisannya, tapi perlu dipastikan terlebih dahulu kalau kamu adalah tipe orang higenis.

3. Mencari Sumber Penghasilan Tambahan


Ada kalanya uang bulanan yang diberikan oleh orang tua tidak mencukupi kebutuhan bulanan. Sehingga, anak kos harus memutar otak untuk mendapatkan tambahan uang bulanan tanpa harus pinjem uang ke orang lain. Namun, meminjam uang ke orang lain tidaklah mudah karena gengsi, tidak mempunyai teman dengan uang berlebih, atau tidak dipercaya oleh teman. 

Daripada bersusah-payah mencari pinjaman uang, lebih baik mencari tambahan uang bulanan dengan bekerja paruh waktu. Ada banyak pekerjaan paruh waktu yang ditawarkan untuk pelajar atau mahasiswa. Pekerjaan paruh waktu bisa dipilih berdasarkan kemampuan yang dimiliki seperti menjadi guru les, penyanyi di kafe, penerjemah, fotografer, reporter, blogger, penulis artikel, dan masih banyak lagi. 

Gaji yang didapatkan dari bekerja paruh waktu bisa digunakan untuk mencukupi kebutuhan bulanan yang belum terpenuhi. Selain itu, gaji tersebut bisa digunakan untuk menyenangkan diri sendiri seperti membeli baju, sepatu, kosmetik, atau berlibur. Selain menambah penghasilan tambahan, bekerja paruh waktu merupakan cara untuk membentuk etos kerja yang disiplin sebelum terjun ke dunia kerja yang sesungguhnya.

Sebenarnya sumber penghasilan tambahan untuk anak kos itu tidak hanya bersumber dari pekerjaan paruh waktu, lho. Anak kos bisa menambah uang bulanan dengan merintis bisnis. Bisnis yang direkomendasikan untuk anak kos bisa berupa bisnis dropship atau menjadi dropshipper. 

Dropshipper merupakan orang yang berjualan barang dagangan atas nama usaha sendiri. Namun, barang dagangan tidak ada di tangan dropshipper, melainkan berada di gudang penyimpanan atau agen besar. Sehingga, tugas utama dari dropshipper adalah melakukan promosi secara efektif dan efisien untuk mendapatkan pembeli dan menyetorkan data pembeli ke agen atau distributor yang besar. 

Bisnis ini mudah dijalankan karena modal utama dari bisnis adalah ponsel sebagai alat untuk berpromosi di media sosial atau website jual beli. Namun, jika memiliki jiwa kreativitas yang tinggi, tidak ada salahnya merintis bisnis sendiri. Ada banyak ide bisnis dengan modal kecil untuk anak kos, seperti bisnis makanan ringan dan kerajinan. Atau bisa juga kalau istilahnya sih jadi content creator gitu. Wuii..

Ada lagi satu cara yang bisa dilakukan untuk mendapat penghasilan tambahan, yaitu dengan mengikuti kompetisi di bidang yang dikuasai. Setiap kompetisi pasti memiliki hadiah berupa uang untuk para juaranya. Yaiyalah. Apalagi jika kompetisi tersebut diadakan oleh lembaga yang besar. Bisa jadi uang hadiah jumlahnya berkali-kali lipat daripada uang bulanan. Oleh karena itu, pelajar atau mahasiswa harus memiliki setidaknya satu bidang yang paling dikuasai. Kemudian, kembangkan kemampuan di bidang tersebut serta jangan ragu untuk mengikuti kompetisi di bidang yang bersangkutan.

4. Ikut Organisasi



Organisasi merupakan perkumpulan yang membawa manfaat luar biasa bagi pelajar atau mahasiswa. Organisasi merupakan wadah untuk belajar hidup berkelompok, bersosialisasi, serta bermusyawarah. Namun, percaya atau tidak, bergabung di organisasi bisa menjadi satu cara untuk menghemat pengeluaran. Hal ini dikarenakan organisasi sering mengadakan rapat yang memakan waktu hingga berjam-jam. 

Tidak jarang di dalam rapat disajikan makanan untuk para peserta rapat. Selain berorganisasi, bergabung dalam kepanitiaan event tertentu bisa dijadikan cara untuk menghemat pengeluaran. Apalagi jika event yang diikuti memiliki sponsor yang besar. Tidak jarang panitia yang terlibat akan mendapatkan makan gratis, voucher , dan uang bayaran. Sehingga, jangan ragu untuk bergabung dengan organisasi atau kepanitiaan karena ada banyak pengalaman berharga yang didapatkan. 

Namun pastikan organisasi atau kepanitiaan yang diikuti membawa dampak positif serta sesuai dengan prinsip masing-masing. Jangan sampai salah pilih organisasi. Udah salah jurusan, salah organisasi pula. Pas skripsi salah judul. Dapat pembimbing salah dosen. Naksir cewek salah paham. Ditaksir cewek salah tingkah. Salah aja semuanya.

5. Punya Kekasih yang Suka Hemat Bahkan Lebih Suka Hemat Daripada Suka Kamu


Langkah terakhir adalah dengan memiliki kekasih yang suka sekali dengan kehematan. Kekasih tipe seperti ini bisa memberi pengaruh hemat kepada diri kita. Kalau biasanya jajan bakso urat 15.000 sekali makan, dengan sukacita kekasih tipe hemat akan mengganti pola makan bakso 15 ribuan tersebut dengan bakso ojek atau cilok 5 ribu saja.

Belum lagi kalau biasa makan mie instan di warung 5 ribuan, di tangan kekasih menu mie tersebut akan diubah menjadi mie kremes seribuan. Begitulah. Bukankah kekasih adalah belahan jiwa, belahan hati, sekaligus belahan ATM? 

Maka dari itu kawan-kawan cobalah terapkan langkah-langkah manajemen keuangan ala anak kos ini dengan tumakninah. Saya harap bisa menuntaskan kegetiran setiap anak kos terhadap pengelolaan uangnya. Aaaminn.


Image source: pexels.com

6 Desember 2017


Salah satu kemuakan saya selama dua puluh empat tahun adalah tinggal di kota yang sama melulu. Setiap hari terbangun dalam keadaan jenuh dan malas karena semua terlihat sama. Terlebih, semua itu hampir terasa nyaman dan aman-aman saja.

Beranjak dari titik itulah pada akhirnya saya memutuskan untuk pindah. Dari sekian banyak kota yang bisa saya tinggali, saya memilih Jakarta. Selain kota dengan kesempatan kerja yang banyak meski kompetitor pelamar kerja juga tak kalah banyak, di Jakarta setidaknya saya bisa semakin dekat dengan kekasih saya lengkap dengan keluarganya. Icikiwirr.

Dulu, saya memutuskan untuk berhenti kuliah sehingga saya tidak memiliki ijazah perguruan tinggi. Hal ini memicu keraguan di benak orangtua soal keputusan saya untuk pindah. Andai saja orangtua mengerti dunia kekinian, saya sudah pasti menenangkan keraguan mereka dengan anekdot jahil yang dilontarkan kekasih saya: “Ke Jakarta modal apa? Modal follower!”


Lha mau bagaimana lagi? Dewasa ini lowongan pekerjaan itu kualifikasinya harus memiliki follower sekian-sekian, Dude. Bahkan saya nemu info di Loker.id, ada kualifikasi pelamar yang harus dimiliki itu seperti ini: 

Pria/wanita, usia 18-30 tahun, menarik, kreatif, dan jaman now. 
Bayangkan! Syarat kerja kok JAMAN NOW itu apa anjir?! Udah nggak jelas parameternya apa, masih nggak sesuai EBI pula.

Awal-Awal Kedatangan

Hari pertama sampai Jakarta saya sudah langsung meet up dengan Tiwi, Yoga, dan Aziz. Tiwi adalah kekasih saya. Yoga adalah teman sekolah saya dulu. dan Aziz adalah temannya Tiwi yang baru hari itu juga saya kenal. Pertemuan dengan orang yang berbeda-beda latar belakang selalu menyenangkan bagi saya. Ada saja obrolan-obrolan baru yang seru, kocak, bahkan ora mutu blas yang terjadi di situ.

Esok harinya, saya bergegas mencari kosan. Eh, sebetulnya saya sudah jauh-jauh hari mencari kosan melalui aplikasi Mamikos, sih. Nah, sekalian saja saya bagi tips memilih kosan melalui gawai pintar, ya.

Pertama, akses web Mamikos atau instal aplikasinya di smartphone kita. Di situ kita bisa mencari kos sesuai dengan budget yang kita punya dan lokasi yang kita tuju.

Kedua, cek kos menarik yang kita temukan di Mamikos tadi melalui Google Maps. Biar apa? Ya barangkali ada review atau foto yang lebih menggambarkan situasi kos.

Ketiga, hubungi pengelola kos melalui aplikasi Mamikos tadi.

Keempat, datangi kosnya.

Semudah itu saya dapat kos di daerah Jakarta Pusat. Cukup sekali datang. Tidak perlu door to door. Hasilnya? Saya mendapat kos dengan fasilitas free wifi dan AC. Ruang kosnya sempit memang karena menggunakan konsep sleep box, tapi bagi saya ya cukup. Kasur dan bantalnya empuk dan bersih, lho. Semua fasilitas itu saya dapatkan dengan harga 300.000 per bulan!

Hemat biaya kos. Hemat biaya internet. Bahkan tidak perlu bayar lagi buat air dan listriknya. Yiihaaa~





Setelah saya dapat kos, tempat yang saya tuju berikutnya adalah Perpustakaan Nasional. Sebenarnya perpustakaannya tutup, sih. Tapi yang mau saya datangi di situ adalah acara Tempo Week khususnya sesi bincang blogger bersama Kalis Mardiasih.

Akhirnya, datanglah saya, Tiwi, dan Yoga ke Perpusnas dengan keadaan basah selepas hujan. Untunglah ada bakso di kantin yang bisa mengobati rasa dingin. Saya tertarik buat datang lagi ke Perpusnas karena tempatnya yang nyaman. Lagipula tidak terlalu jauh dari kos. Hmmm..

Hari-hari berikutnya..

Lega rasanya kalau sudah dapat kos. Hari pertama terbangun di kamar kos langsung saya destinasikan rumah Tiwi sebagai target kunjungan saya berikutnya. Ngapain ke rumah Tiwi? Apalagi kalau bukan buat numpang makan gratis. Hahaha. Nggak kok.

Silaturahmi sama mertua. Haseek.

Syukurlah Bapak dan Ibunya Tiwi menyambut dengan hangat. Meski masih agak canggung buat ngobrol banyak hal. Not suprised, sih. Lha wong sama orangtua sendiri saja saya juga canggung. Hahaha.

Sudah terhitung lumayan sering ke rumah Tiwi, sampai-sampai kalau saya tidak datang, orangtuanya Tiwi menanyakan kapan saya berkunjung lagi. Duh, rasa-rasanya kok mau menggantikan Fedi Nuril main film Menantu yang Dirindukan.

Terlepas dari jalan-jalan menyenangkan itu, ada satu yang cukup disayangkan, sih. Kebetulan saja perusahaan yang memanggil saya buat interview kerja ngasih kabar yang kurang enak. Katanya sih, ibu bos yang mau mewawancara tiba-tiba masuk rumah sakit.

Sampai hari ini belum ada kabar lagi kapan jadwal interview berikutnya. Ya, semoga saja beliau lekas sembuh.

Dari waktu ke waktu di tempat perpindahan, saya memantau beberapa hal. Salah satunya adalah ritual subuh. Di rumah saya dulu, Solo, yang namanya waktu subuh itu ya cukup adzan saja. Tapi di sini sebelum adzan subuh sudah ada babe-babe yang ngomong pakai mic masjid begini, “Bapak Ibu yang masih tidur ayo bangun. Banguuun..”

Saya jadi curiga, jangan-jangan kalau bulan puasa warning dari masjid bakal lebih spesifik lagi. Jadi misal babe-babenya bilang gini, “Sudah mau sahur. Ayo banguun. Angetin nasinya. Bikin teh dan siapin sayur. Jangan lupa cek WhatsApp. Banguun. Banguun..” Hadeeh.

Selain itu, ada satu lagi yang saya amati. Yaitu kecenderungan orang-orang yang nanya jalur kereta ke saya. Jadi kalau lagi di stasiun atau malah udah di dalam kereta begitu, ada aja orang yang nanya, “Bang, kereta itu lewat stasiun xxx apa enggak ya?”

Biar beliau tidak degdegan ya tentu saja saya jawab “YA” dengan mantap. Meski di relung hati yang paling dalam sebenarnya saya juga degdegan kalau salah naik kereta. Syukurlah sejauh ini belum pernah salah naik kereta. Baru salah masuk peron sekali. Dan salah jurusan kuliah sekali. Udah itu aja.

Kadang saya suka memuji diri sendiri untuk hal-hal sepele. Misalnya berhasil menemukan tempat makan murah meski dengan cara yang cukup vulgar. Ketika saya hendak makan di warteg, saya pantau dulu level keramahan penjual melalui gerak-geriknya. Jika dirasa beliau cukup ramah, maka saya berani saja pesen makan begini, “Bu, makan di sini.”

Ibunya ngambil nasi, lalu tanya, “Pakai apa?”

Ya kujawab saja, “Apa aja deh yang murah.”

Alhasil, nasi + tempe orek + 1 krupuk pun sudah cukup jadi bekal makan buat satu hari penuh. Lagipula di warteg, teh tawar gratis. Hemat.

Saya orang yang mungkin terlalu perhitungan walaupun tidak menguasai pelajaran matematika. Jadi gini, jika di bawah 12 jam dari waktu saya makan itu ternyata saya sudah lapar lagi. Saya mencoba meninabobokan perut dengan sugesti begini, “Tadi makan di warteg porsinya dua setengah kali makan normal di Solo. Secara statistik harusnya aku tidak lapar di waktu sekarang. Oke, jadi anggap saja lapar ini fatamorgana semata. Bye bye perut halu.”

Nah begitu wkwk.

Nanti kalau jatuh sakit gimana? Saya jarang jatuh sakit kalau puasa, tuh. Bahkan konon, manusia bisa hidup selama tiga minggu tanpa makan, loh. Tapi ada sayaratnya, yaitu tidak melihat makanan apapun selama tiga minggu itu tadi. Hahaha. Nggak akan saya praktekkan juga, sih.

Baiklah, sepertinya cukup ini saja yang mau saya ceritakan. Doakan semoga sehat dan lekas dapat kerjaan, ya. Terima kasih sudah mampir. Sampai jumpa di kegetiran berikutnya.



Image source: pexels.com

23 November 2017


Salah satu hal lucu dan ironi tahun ini selain tragedi Tiang Listrik adalah mencopot instalasi Traveloka karena informasi hoax yang terjadi beberapa hari lalu.

Gerakan menggulingkan Traveloka melalui cara #UninstallTraveloka yang sempat ramai di Twitterland ini terlihat lebih mirip sirkus online daripada revolusi. Gerakan ini terjadi lantaran aksi walk out (WO) sejumlah orang ketika Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, sedang berpidato di acara ulang tahun sekolah Kolese Kanisius.

Tiba-tiba saja muncul informasi di WhatsApp mengatakan bahwa salah satu yang terlibat aksi WO tersebut adalah Derianto Kusuma, CTO sekaligus salah satu pendiri Traveloka. Lantas saja digaungkan gerakan #UnistallTraveloka yang diikuti oleh banyak pengguna ponsel pintar.

Hadeh, pemboikotan Traveloka ini memang gerakan salah sasaran yang maha wagu. Jika toh ingin melakukan gerakan boikot-boikot atas apa yang terjadi pada acara itu, semestinya kita fokus pada nama Ananda Sukarlan saja. Kenapa? Sebab, pianis terkenal itu adalah orang pertama yang mengambil tindakan WO. Jadi mari kita gebyarkan gerakan #UninstallPerfectPiano saja.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Bapak Derianto ketika mengetahui produknya sedang di-uninstall ramai-ramai. Bayangkan saja di suatu sore yang mendung dengan belaian angin tipis-tipis tengah Bapak Derianto nikmati bersama secangkir kopi. Matanya terpejam menikmati senandung Teluk Bayur yang beliau request dari stasiun radio terdekat. Saat hendak ngetwit, “Kopi ini enaknya aku minum sekarang atau nanti, ya, Guys?”, beliau malah mendapati trending topic yang menohok sekali.

Jangankan Bapak Derianto, Wakil Komandan Divisi Empat Aliansi Shinobi, Nara Shikamaru pun jika berada pada posisi itu juga bakal kinjat-kinjat tak karuan.

Nah, berkaca dari fenomena menyedihkan ini, kita melihat bagaimana the power of hoax menjadi senjata ampuh untuk melakukan subversi terhadap seseorang atau sesuatu. Saya menduga, lima tahun ke depan profesi prestisius seperti dokter, youtuber, dan host Bigo akan tergantikan dengan profesi-prefesi visioner seperti Creative Hoax, Hoax Freelance, Hoax Analyst, dan Hoax Interface Designer. Satu-satunya profesi yang tidak diperlukan di era post-truth ini adalah Editor Hoax. Ya, hoax tidak butuh editorial.

Hoax terbaik adalah hoax yang ala kadarnya, disajikan tanpa estetika visual dan ditulis dengan menerabas EBI maupun typo. Hoax semacam ini jauh lebih disukai masyarakat karena mudah dipahami, dan tentu saja agak ndagel. Dalam pandangan Lefort, fenomena 'perbudakan sukarela' ini menjadi penting lantaran potensinya membentuk logika ekseklusif dalam masyarakat.

Coba, pernah tidak dirimu percaya dengan informasi dalam grup WhatssApp terkait agenda operasi tilangan atau yang orang Mataram sering menyebutnya, 'mokmen'? Apakah dirimu tergerak untuk menyebarkannya ke grup-grup WhatssApp lain karena merasa informasi itu berguna? Apakah ketika dirimu memutuskan untuk menyebarkan informasi itu terlintas gagasan brilian seperti ini, “Kalau info ini benar, aku telah membantu orang banyak. Tapi kalau hoax, ya nggak apa-apa. Toh nggak ada yang rugi.” Duh, celaka.

Andai saya ini titisan Bapak Anies Baswedan, saya pasti mengatakan, “Saudaraku. Hoax dahsyat bermula dari hoax-hoax kecil yang ditumbuhkembangkan.”

Ibaratnya begini, suatu ketika Pak Agus mendapat kiriman buah satu bagor dari saudaranya. Saking senangnya, Pak Agus memutuskan untuk membagikan buah itu dengan tetangga-tetangganya. Ia mengambil beberapa buah lalu dimasukan ke dalam kantong plastik. Buah itu langsung ia berikan kepada orang-orang.

Pak Agus pulang ke rumah membawa perasaan gembira karena turut berbagi dengan sesama. Sampai di rumah ia melihat istrinya membuang buah-buah yang tersisa ke tempat sampah. Tentu saja Pak Agus kaget setengah modyar.

“Lho, kok buah-buah dari saudaraku ini kamu buang semua, Yu?”

“Bosok kabeh, Mas.”, jawab Patricia kecewa.

Di sini pentingnya meninjau sebelum membagi, Guys. 


Jika kehidupan kita terlalu sibuk untuk mencari kebenaran informasi tersebut, yasudah, biarkan saja. Kita tidak mendadak punya tanggung jawab untuk membagi informasi-informasi itu kok. Kecuali kalau grupmu memang hoax center yang punya semboyan, “Sampaikanlah walau satu hoax.” (Lalu hamtiar.com disebut penistaan agama dalam hitungan 1.. 2.. 3..).

Menggiring opini masyarakat, menciptakan logika ekseklusif, dan menanamkan kebenaran-kebenaran palsu adalah tindakan yang tidak sulit dilakukan di era ini. Sebab, sebagian masyakat sudah siap sedia untuk diaktifkan sense of hoax-nya baik sebagai konsumen maupun distributor. Ibarat startup, marketplace untuk produk-produk hoax itu sudah ada.

Saya penasaran sekali, Traveloka kan aplikasi buat traveller, lha para alumni #UninstallTraveloka itu apa memang orang-orang yang doyan piknik? Ini pertanyaan penting. Tolong bantu dijawab, ya. Sebab bagi saya hal ini tidak masuk akal.



Lha kalau doyan piknik kok gampang diapusi?


Pict source: pexels.com

3 November 2017



Siang itu sang surya teramat membakar, tampaknya ia marah dengan raut wajahku yang dingin tatkala keluar dari Stasiun Cikini. Udara Jakarta memelukku begitu panas. Hingga kerongkongan Soloku terasa begitu haus. Ya, barangkali begitulah contoh ketika Fandy mengawali tulisannya. Wkwk.

Narasi di atas adalah penggambaran dari kejadian yang saya alami pada 19 Agustus 2017. Masih teringat dalam berangkas memori saya ketika sebotol Soya Bean saya tenggak sembari menunggu sang kekasih, Tiwi, di Stasiun Cikini.

Sambil menunggu Tiwi datang, saya akan ceritakan rencana kami melewati malam minggu itu. 


Jadi, kami akan menonton pertunjukan teater yang diadakan di gedung Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM). Pementasan dengan lakon Umang-Umang ini diselenggarakan oleh Bengkel Sastra yang tak lain dan tak bukan adalah teman-temannya Tiwi di UNJ. Syukurlah kami berdua mendapatkan tiket untuk menontonnya karena sepertinya pertunjukan ini begitu diminati banyak orang.

Eits, ternyata tak butuh waktu lama untuk menunggu kemunculan Tiwi di depan saya. Seperti biasa, ia memamerkan cengar-cengir manisnya dahulu sebelum menenggak minuman kemasan yang saya bawa. Tapi ternyata Soya Bean bukanlah minuman yang pas untuk seleranya.

Ketika mendapati fakta bahwa minuman favoritku ternyata bukan favoritnya, kok rasanya aku ingin beli kaos sarimbit yang tulisannya, “Lucky to find her.”

Selepas berbincang sedikit soal Soya Bean, kami memutuskan untuk segera keluar dari stasiun dan mencari makan siang. Tak perlu menunggu waktu lama bagi mata elang saya untuk menangkap tulisan “Sate Padang” di pinggir jalan. Maka jadilah kami berdua makan sate padang dengan setengah porsi untuk masing-masing.

Berbekal sate padang yang memenuhi perut, kami berdua segera saja berjalan menuju TIM dengan sekuat tenaga. Ngos..ngos..ngos.. Sepasang kekasih yang menganaktirikan kegiatan olahraga ini pada akhirnya sampai di TIM meski harus dilalui dengan sempoyongan. 

Untunglah hari masih sore, sementara pementasan teater dimulai pukul 7 malam. Maka jadilah saya dan Tiwi berbincang-bincang dahulu di sepanjang momentum senja di langit Jakarta.

Menyenangkan.

From anythingjakarta.com
Langit semakin menghitam. Gedung Teater Jakarta semakin ramai. Tiwi mulai memperkenalkan saya pada beberapa teman-temannya. Entah ada berapa teman yang Tiwi kenalkan ke saya. Saya tak sempat menghitungnya karena kepala dan hati saya sibuk merekam momentum bahagia yang tertuju pada wanita yang sorenya makan sate padang bersama saya.

Pintu teater dibuka. Para manusia berduyun-duyun memasuki ruangan teater. Sementara dua alien, Ilham dan Tiwi, lebih memilih untuk...ya masuk ke ruang teater juga, lah. Lapo gur meh tengak-tenguk njobo, Tjuk.

Fyuh, akhirnya pantat terbaik kami mendarat di kursi yang ergonomis untuk keperluan nonton. Posisi kami nonton saat itu ada di tribun bawah, pojok kiri atas. Ya, kalau dalam hierarki perbioskopan, posisi bangku di pojok atas adalah area khusus bagi mereka sepasang kekasih yang ingin bersentuhan secara intensif nan agresif. 

Tapi hal itu tidak berlaku bagi kami. Nonton ya nonton. Ena-ena ya ena-ena. Dua mazhab ini berdiri sendiri dan kurang ajar betul kalau dicampuradukan. Ouyeaah.

Maka jadilah kami berdua menyaksikan pementasan teater Umang-Umang dengan khusyuk meski sesekali penonton masbuk mengganggu pandangan.

From wakarsas.com

“Kemiskinan telah menodongku, kelaparan telah menodongku, dan aku tak rela dicincang oleh kemiskinan dan kelaparan. Maka kutodonglah kekayaan dan makanan!”
Orasi tersebut menggema ke seluruh ruangan yang menandakan dimulainya pertunjukan teater Umang-Umang. Saya akan mencoba sedikit mengulas cerita Umang-Umang yang saya saksikan ini. Ehm, jadi begini.

Kisah ini berangkat dari seorang bos preman bernama Waska yang sudah sangat muak dengan penderitaan yang ia alami bersama kawan-kawan jalanannya. Akhirnya, ia membuat sebuah rencana besar untuk menggulingkan kekuasan. Waska dan komplotannya hendak menenggelamkan kekayaan yang selama ini hanya mampu mereka pantau dari kejauhan. Ya, rencana besar itu adalah perampokan akbar.

Akan tetapi, sebelum mereka menjalankan rencana itu, tiba-tiba saja tubuh Waska berhenti bergerak. Ia tidak mati. Ia diam membatu seperti stabilizer camera beli di Tokopedia.

Apa yang menimpa Waska saat itu membuat komplotan perampok, Umang-umang, kebingungan. Meski terdengar mistis karena tiba-tiba Waska membatu, namun di dunia nyata musibah itu ternyata pernah dialami oleh Ibu Sulami, warga Sragen yang tubuhnya membatu selama 23 tahun.

Umang-umang yang banyak nakal sedikit akal itu lantas merujuk kepada dukun sakti untuk mengobati Waska. Melalui dukun Albert, umang-umang mendapatkan resep yang dipercaya jitu menuntaskan fibrodysplasia ossificans alias penyakit membatu.

Resep yang diberikan sangat merepotkan. Yaitu, ekstrak jantung bayi!

Konon, satu jantung bayi akan memberi keabadian selama satu generasi bagi siapa yang meminumnya. Karena keserakahan, dua umang-umang yang bernama Ranggong dan Borok justru mengambil 12 jantung bayi yang mereka gali dari kuburan.

Keduabelas jantung tersebut dibagi rata untuk tiga orang, yaitu Ranggong, Borok, dan tentu saja Waska. Singkat cerita, Waska benar-benar sembuh dari kekakuan yang menjalari tubuhnya. Lebih dari itu, kini ia dan dua kawannya mendapat tiket untuk hidup abadi selama empat generasi.

Akhirnya, rencana besar dijalankan. Perampokan terjadi di mana-mana. Scene ini salah satu yang saya suka, keriuhan aksi para perampok ini benar-benar terasa gilanya. Mau bagaimana lagi, mereka ngerampok, ketawa-tawa, dan saya yang nonton justru ikut senang. Pret-kam sekali itu.

Saya lanjutkan ceritanya, ya. Eh, sebelumnya, saya mau nengok ke arah Tiwi dulu. Sudah kuduga, matanya berbinar-binar lengkap dengan senyum yang melengkung manis. Dalam hati lagi-lagi saya menggumam, “Lucky me.”

Baiklah sekarang mari kita benar-benar lanjutkan kisah Ragnarok lagi. Ragnarok? Iya, akronim dari Ranggong, Waska, dan Borok. Wkwkw.. Humor zaman kapan nih?

Ehem, begini, ketiga manusia abadi itu akhirnya frustasi, puyeng, depresi. Teman-teman seperpremanan mereka sudah pada meninggal, sementara mereka masih hidup. Uniknya, mereka bertiga hidup masih dalam cengkraman kemiskinan!

Ketika Ragnarok-wkwkw- ini dirundung kepiluan atas nasibnya yang hidup abadi, tiba-tiba mereka melihat orang-orang yang mirip sekali dengan kawan umang-umangnya dulu. Tapi sayangnya itu bukanlah seperti yang mereka kira. 

Setelah dikonfirmasi akun UnclickBait, ternyata orang-orang itu adalah cucu dari umang-umang generasi Waska yang mana tidak ada satupun yang mengenali sosok Ragnarok tersebut.

Waska, Ranggong, dan Borok lagi-lagi berduka cita atas hidup mereka. Berkali-kali mencoba untuk bunuh diri pun ternyata tidak bisa. Mereka cuma merasakan sakitnya saja, tapi tak kunjung mati.

Begitulah kurang lebih, kisah sarat makna yang saya nikmati dalam pementasan teater Umang-Umang. Jujur saja, ini adalah teater terbaik yang pernah saya tonton. Dari segi cerita menarik, semua akting lakonnya bagus, kostum, properti, lighting juga tidak kalah bagusnya. Demikian juga dengan aransemen musik yang digaungkan, porsinya pas dan mampu mendukung suasana tiap adegan yang dibutuhkan dalam pementasan ini.

Dari kisah Waska dan kawan-kawannya ini kita diajak untuk melihat bagaimana kemiskinan adalah problematika yang rumit. Dibukanya banyak lapangan pekerjaan dan merebaknya pakar motivasi tidak serta merta mampu menyelamatkan masyarakat dari kemiskinan. Apalagi sumbangan dan subsidi, lha wong hasil jarahan saja tetap tidak sanggup memperkaya mereka.

Ada celah kecil yang berkaitan antara kemiskinan dan korupsi. Keduanya sama-sama bisa diciptakan dari sistem. Karena sistem, seseorang mau tidak mau bisa jadi korupsi. Karena sistem pula, seseorang terima tidak terima bisa dimiskinkan.

Malam semakin larut. Pementasan apik itu sudah selesai. Saya dan Tiwi harus segera pulang sebelum kehabisan kereta. Sayang sekali kami berdua belum sempat mengabadikan momen itu dalam wujud foto. Cahaya ruang yang remang-remang tidak bagus jika ditangkap dengan fitur kamera pada gawai kami. Huh, jika saja saya memiliki kamera mirrorless terbaik pasti akun instagram saya akan dipenuhi foto-foto pamer untuk merayakan malam itu.

Tapi ya sudahlah. Meski tak berfoto, kami sudah merasa puas dengan malam minggu itu. Lha mau bagaimana lagi? Sebagai pelaku LDR yang kaffah tentu saja ritus malam minggu bareng kekasih adalah titik capai yang mesti dilakoni, tho.

Syukurlah kami berdua bisa mendarat di kasur masing-masing setelah itu. Tiwi di rumahnya, dan saya numpang di kos-kosan teman. Kami sempat bericikiwir dulu melalui text sebelum masing-masing mata terpejam.

Umang-Umang dengan semua yang saya saksikan masih membayangi pikiran. Ah, barangkali memori itu bisa diputar kembali di alam mimpi. Saya memutuskan untuk tidur, mengunci kenangan malam itu beserta rapalan doa agar ada malam-malam menyenangkan lain yang bisa saya lalui bersama Tiwi.


*
Terima kasih atas undangannya buat nonton Umang-Umang, Sayang. Saya akan balas kamu dengan pementasan lain yang tidak kalah serunya.

4 Oktober 2017



Menurut saya, film Pengabdi Setan besutan Joko Anwar ini adalah film yang sangat bagus, tapi bukan film horor yang terlalu seram.

Kedua hal tersebut perlu dibedakan, sebab saya risih dengan beberapa komentar yang mengatakan film ini tidak bagus hanya karena kurang seram. Well, tiap orang tentu bebas menilai sebuah film. Tapi hambok ya agak nganu dikit gitu, lho.

Sebelum membicarakan filmnya, saya ingin curhat sebentar. Begini, saya berangkat menonton film ini sendirian. Bukan karena jomblo. Justru dari beberapa kilometer di sebrang sana kekasih saya juga sedang menonton film Pengabdi Setan, tapi versi pertamanya (1979) dan rencananya kami akan saling mendiskusikan itu. Namun, terlepas dari itu, ada satu hal menyebalkan yang harus saya rasakan di dalam bioskop. Apalagi kalau bukan celetukan berisik di kanan dan di kiri.

Bukan. Bukan orang spoiler. Ada yang lebih parah dari itu, yaitu tipe penonton yang kebanyakan maido dan sambat. Dua istilah Jawa ini kalau dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai perilaku menyangkal dan mengeluh.

Biar lebih jelasnya gini, ketika ada scene di mana Rini (Tara Basro) berjalan ke kamar ibunya setelah terbangun dari mimpi buruk, dua perempuan di samping saya bilang gini, “Kuwi yo ngopo tho ndadak marani barang. Nek aku ngono tak tinggal turu neh.” Dalam bahasa Indonesia berarti, “Itu ngapain sih malah mendatangi segala. Kalau aku gitu mending kutidur lagi aja.” Dalam batinku tentu saja menyeruak ucapan-ucapan terpuji macam, “Asui, namanya juga film. Kalau serem dikit tidur, serem dikit tidur, mana jadi cerita. Bajindul tenan.”

Dan celotehan-celotehan seperti itu berdenging sampai film selesai. Tipe penonton maido dan sambat ini ketika memutuskan untuk nonton film, apa yang mereka harapkan, ya? Bayangin aja, tiap ada yang ‘nggak semestinya’ selalu saja diprotes. Ada foto seram di ujung lorong, protes. Ada anak kecil pergi pipis malem-malem sendirian, protes. Bahkan, para tokoh yang tidur di kamar masing-masing juga diprotes! Luar biasa memang. Masak mereka bilang, “Udah tahu ada penampakan-penampakan, mbokya nggak tidur sendiri-sendiri, gitu.” Ada juga yang bilang, “Itu istrinya lagi sakit malah ditinggal tidur di ruang tamu. Mbokya ditemenin, biar kalau ada apa-apa nggak usah repot-repot manggil pakai lonceng.”

Aku ingin sekali teriak, “Woy! Kalau ceritanya kayak yang lu omongin. Ngapain lu nonton. Ngelamun aja sono!” Tapi sayang, aku lebih milih diem biar nggak ganggu penonton lain. Sebuwah prinsip!

Sekelumit Pengabdi Setan

Saya yakin sudah banyak sinopsis yang bertebaran, review yang bergelimpangan, dan spoiler yang bergelayutan di mana-mana. Namun, saya akan tetap menuliskan sedikit cerita dalam film ini di sini.
Film ini sebenarnya bermula saat rambut Ibu mulai rontok. Toni, anak kedua dari Ibu ini, memang senantiasa menyisir rambut Ibunya yang sedang sakit setiap malam. Ketika mendapati rambut Ibu mulai rontok, ia menjanjikan sebuah obat anti rontok kepada Ibunya. Tapi sayang, usia Ibu tidak lama. Ibu meninggal dunia dan dikebumikan di pekuburan yang tidak jauh dari rumahnya. Dalam peraduannya Ibu tidak bisa tenang. Ibu kembali ke rumahnya sebagai setan, dan ia meminta untuk disisirin lagi rambutnya. Mampukah Ibu mengatasi rambut rontoknya? Penasaran? Tonton filmnya.
Ah, nggak. Bercanda. Hwehehe.

Adegan yang saya sebut-sebut di atas memang ada. Tapi bukan itu inti filmnya. Dalam mempromosikan film ini, di mana-mana Joko Anwar cuma mengatakan kalau film ini tentang keluarga yang ditinggal mati oleh sosok Ibu. Lalu Ibu itu kembali ke rumah untuk menjemput anak-anaknya. Pertanyaan yang terbesit tentu saja bukan, “Apakah Ibu ini berhasil menjemput anak-anaknya? “ atau, “Apakah anak-anaknya akan selamat?” Tidak. Tentu tidak demikian. Pertanyaan yang tepat dari sinopsis singkat itu adalah, “Mengapa?”

Mengapa Ibu itu menjemput anak-anaknya? Mengapa Ibu meninggal dengan cara tak wajar? Pertanyaan-pertanyaan itu yang secara apik dijawab pelan-pelan dalam film Pengabdi Setan ini. Dan tentu saja sebagai garda depan perjokoanwaran, kita harus memaklumi dengan senyum manis ketika twist demi twist dimainkan.

Alasan Mengapa Film Pengabdi Setan Tidak Terlalu Menakutkan

Saya sendiri menilai film ini sangat bagus. Mulai dari cerita, acting para pemainnya, sinematografi, dan mise-en scene yang begitu estetik bagi saya. Namun, jika ditagih soal ketakutannya, sih, mohon maaf. Tidak terlalu menakutkan.

Lho kok bisa?

1. Kurang Kaget

Kalau kata kekasih saya, “Setannya udah ancang-ancang dulu sebelum keluar.” Hahaha. Sepanjang film memang saya berharap ada penampakan dan teror yang membabi buta tiap menitnya. Hal ini ternyata malah mengurangi kenikmatan menonton karena saya sudah terlalu siap untuk kaget. Berbeda sekali dengan pengalaman saya menonton film Get Out yang saya pikir itu adalah film drama percintaan, ternyata thriller. Teleq ucink!

2. Kurang Tersiksa

Entah saya yang agak psiko atau apa, tapi memang saya kurang merasa ngeri karena tokoh-tokoh yang ada di dalam film itu tidak ada yang lecet-lecet, patah tulang, kesleo, babak belur, atau ngucur-ngucur darah sekalipun (ada sih, tapi langsung meninggal). 


Jujur saja, saat adegan di mana tangan Rini ditarik ke luar jendela itu saya berharap tangannya terluka karena gigitan atau cakaran. Tapi ya mau bagaimana lagi, sejak awal film memang sudah ada penengasannya dalam dialog, “Orang mati itu tidak bisa melukai kita. Yang bisa itu perampok, pencuri..” Lagipula, kenapa sih Ian diceritakan bawa-bawa pisau segala kalau nggak dipakai buat nujes-nujes? Huhhah. Gemes.

3. Kurang Lama

Adegan dikejar-kejar mayat hidup sebanyak itu menurutku kurang lama dan kurang dekat mengepungnya. Kejauhan anjir ngepung rumahnya. Malah pada baris kayak mau senam sehat pagi-pagi di CFD. Jadi pas saya baru mulai deg-degan gitu, taraaaa, penyelamat datang. Lah, rurang lamaaa.

4. Kurang Terpencar

Porsi di mana anggota keluarga itu terpencar menurut saya kurang banyak. Ya, bagi saya sih salah satu kehororan itu adalah saat kita sedang sendiri. Jadi mengombinasikan kesendirian dan teror bisa jadi kengerian yang bertambah. Setidaknya lebih bikin deg-degan daripada ramai-ramai. Tapi sayang, empat orang yang diteror itu melewati kejaran demi kejaran dengan berpelukan bersama. Hal ini membuat saya percaya bahwa Bapak dari keluarga tersebut pasti bernama Tinky Winky.



Keempat hal yang saya sebutkan di atas bukanlah poin-poin kesalahan dalam film ini. Tidak. Film Pengabdi Setan tidak salah. Saya hanya mengutarakan apa yang ada di imajinasi saya terhadap film ini. Setidaknya, saya menuliskannya di sini. Tidak diceletukkan ketika nonton di bioskop macam penonton maido dan sambat. Duhdek, pengen rasane tak klakson lambemu.

Salah satu hal yang aku suka dari Pengabdi Setan ini adalah sosok setan-setan yang terjangkau. Menurut saya setan yang transparan, bisa tembus benda, dan melayang-layang bukanlah sosok setan yang menyeramkan. Tapi justru setan yang bisa jalan, turun tangga, buka pintu, dan juga bisa tahiyat akhir itu lebih horor karena terkesan lebih kuat begitu.

Sederhananya begini, setan transparan itu imejnya seperti terbuat dari partikel cahaya dan udara. Saya pribadi belum pernah terluka karena cahaya dan udara. Jadi saya kurang ada gambaran bagaimana rasanya kalau setan transparan melukai saya. Tapi setan yang berwujud padat itu lebih membuat saya percaya bahwa ia bisa melukai saya. Karena tentu saya pernah tergores, tercakar, tergigit, terpukul oleh benda-benda padat.

Nah, di film Pengabdi Setan sebenarnya berpotensi besar menawarkan teror yang bikin ngilu. Tapi ternyata Joko Anwar terlalu baik untuk tidak melukai para tokohnya secara fisik. Ya, sebut saja Pengabdi Setan ini adalah film horor yang baik. Mungkin memang Joko Anwar cuma mau membawa horornya saja, tidak melibatkan thriller atau slasher untuk menguatkan bumbu-bumbu teror.

Film: Pengabdi Setan // Tahun: 2017 // Rate IMDB: 8,4 // Genre: Horor Baik

Sebelum saya akhiri tulisan ini, sekali lagi saya ingin menghimbau kepada para penonton film-film Indonesia untuk tidak memprotes film di dalam bioskop. Mungkin memang ada hal-hal lebay atau terlalu ‘nggak mungkin’ yang terjadi di dalam film. Itu wajar. Memang harus begitu ceritanya biar tidak monoton. Jadi jangan bandingkan pengalaman hidup kita dengan apa yang terjadi di dalam film.

Uniknya, hal ini seringkali tidak terjadi untuk film-film luar. Karena mungkin penonton percaya begitu saja dengan apa yang disajikan dalam film gara-gara ia tidak memiliki pengetahuan nyata terhadap situasi sosial di luar negeri sana. Sementara kalau di Indonesia tidak begitu. Pernah saya menonton film pendek di YouTube dari MBCM yang berjudul Taksi. Saat saya membaca komentarnya, ada yang bilang, “Goblok. Kok nggak pesen grab aja sih?” Laaahhh..!

Untuk itulah mungkin alasan kenapa setiap film yang Joko Anwar bikin selalu saja latar (setting) ceritanya itu tidak diberitahukan. Mulai dari Kala, Modus Anomali, Pintu Terlarang, A Copy of My Mind, dan Pengabdi Setan ini tidak ada keterangan yang menyatakan bahwa semesta yang ada di film itu adalah Indonesia. Syutingnya sih, iya, di Indonesia. Tapi latar yang dibangun dalam film itu, tuh, bukan Indonesia. Coba, pernah ada nama kota atau kampung yang disebut di dalam film-filmnya Joko Anwar apa tidak? Setahu saya, tidak ada. Di film Kala pun ada dialog yang cuma bilang, “Saya mau pindah ke tenggara.”

Begitulah, jangan ribut kalau nonton film di bioskop, ya. Karena yang boleh ribut itu cuma mertuamu sing mbok tinggal mlayu.

Sekian dulu tulisan review saya kali ini. Ada banyak sekali spoiler karena memang tulisan ini saya tujukan kepada kamu-kamu yang sudah menonton filmnya. Sehingga kita bisa diskusikan ini bersama. Kalau kata Tiwi, “Review itu ya pasti spoiler. Kalau tidak spoiler namanya resensi.”


All image source: bintang.com

12 September 2017


Tahun 2012 adalah awal saya mencoba bersenang-senang dengan blog. Kesenangan ini diwadahi oleh komunitas Kancut Keblenger yang kala itu ramai sekali. Bagaimana tidak? Dulu, di grup facebook Kancut Keblenger selalu penuh dengan list blogwalking, belasan atau bahkan puluhan per harinya. Artinya, setiap hari selalu saja ada konten baru yang siap untuk dinikmati.

Pada masa itu, konten yang disajikan kebanyakan adalah soal kedirian. Entah itu mencurahkan isi hati, menceritakan pengalaman hidupnya, atau menuangkan gagasan yang menjejali isi otaknya.

Genre pun bervariasi. Kebanyakan, sih, komedi. Tapi ada juga yang sendu, nyastra, haha-hihi-hore, bijak, mesum, dan yang lempeng-lempeng saja juga ada. Lebih seru lagi kalau bertemu dengan blog yang artsy. Biasanya yang tipe begini menyediakan label artwok yang isinya karya-karya dia, baik itu doodle, zentangle, sketsa, atau karya-karya digital yang banyak macamnya.

Berkunjung ke blog atau yang sering disebut blogwalking menjadi ajang bertamu yang menyenangkan. Bagaimana tidak? Dengan blogwalking kita bisa membaca bagian dari hidup orang lain, bisa melihat hasil pengkaryaannya, bahkan bisa menyimak pencapaian yang ia peroleh. Benar-benar seperti bertamu ke rumah kawan dekat.

Tapi itu dulu.

Sekarang keadaan sudah agak berbeda. Ada sesuatu yang menggoncangkan dunia blog. Paling tidak di lingkaran saya.



Sebelumnya, saya sempat vakum dari dunia perblogeran hampir satu tahun. Berhenti pada April 2015 lalu kembali pada Maret 2016. Alasan kevakuman tersebut bukan karena jenuh atau apa. Tapi demi alasan yang maha mulia, yaitu mau fokus k-u-l-i-a-h. Hahaha. Sampai sekarang saya masih merasa geli. Bagaimana tidak? Gaya-gayaan fokus kuliah, lha wong pada akhirnya drop out juga. Bajindul tenan.

Saya kembali ngeblog bertepatan dengan selesainya masa KKN yang saya tempuh di pelosok Pati. Ceritanya, setelah KKN selesai, saya merasa begitu asing dengan kampus. Teman-teman seangkatan sudah pada lulus dan yang beda angkatan punya dunia sendiri-sendiri. Akhirnya, saya menghabiskan banyak waktu di perpustakaan sendirian. Di situlah kemudian saya main blog lagi.

Sayangnya, beberapa kawan bloger yang dulu pernah jadi langganan saya buat bercengkrama pada saat itu sudah tidak aktif lagi blognya.

List blog di grup Kancut Keblenger pun dibuat jadi sistem periodik. Misal, periode pertama dibuka dari tanggal 1 sampai 7. Periode kedua tanggal 8 sampai 15. Jadi sudah tidak per hari lagi. Pikirku saat itu, “Gila, selesu ini, kah?”

Beruntunglah pada saat itu saya terselamatkan oleh bloger ndladuk asal Banjarmasin, Jung Jawa. Sebenarnya sudah kenal lama sejak berada di Kancut Keblenger, tapi perkenalan itu hanya sebatas chat facebook yang tidak seberapa.

Menghadapi kecemasan saya yang merasa perblogeran teramat sepi, lantas Jung memperkenalkan karyanya yang bernama Katanium kepada saya. Dan benar saja, melalui Katanium itulah saya mendapati beberapa blog untuk dikunjungi. Saya juga kembali bersemangat untuk menulis dan berniat menggulingkan tahta leaderboard. Meski tidak bisa.

Aktivitas ngeblog saat itu kembali menyenangkan. Saya menulis apa yang saya mau. Dan saya membaca tulisan orang sebagaimana yang mereka mau.

Tidak cukup dengan itu, saya lantas bergabung dengan grup WhatsApp Pojok WB (Warung Blogger) melalui tawaran dari bloger om-om, Andika Manggala, di grup facebook Warung Blogger. Dan dari situlah daftar blogwalking saya semakin banyak.

Saya ingat betul dua artikel yang awal sekali saya kunjungi di Pojok WB adalah tulisan bertema kopi yang ditulis oleh Tiwi dan Fandy. Dua-duanya sama-sama menyukai buku dan sastra. Untunglah, dari kedua itu cuma satu yang menyukai saya. Tentu saja bukan Fandy.

Waktu terus berjalan sampai Jung mengajak saya untuk mengikuti acara yang mengundang para bloger di Solo. Alhasil, jadilah saya dimasukkan ke dalam grup #BloggerSolo sampai hari ini.

Setelah meredupnya Katanium, dunia perblogeran saya seperti mengerucut pada Warung Blogger dan #BloggerSolo. Melalui kedua komunitas inilah saya berselancar maya. Kadang juga blogwalking ke beberapa grup bloger yang ada di Facebook, sih. Tapi tidak banyak.

Semakin ke sini, semakin ke sini, dan terus ke sini, saya kok merasa ada yang kurang greget.

Usut punya usut, ternyata keresahan itu saya dapatkan tatkala mendapati tulisan-tulisan sponsorship yang kurang ciamik penyajiannya. Maksudnya bagaimana? Tulisan yang disponsori oleh brand atau instansi tertentu tidak semua terasa menyenangkan ketika saya membacanya, gitu, lho. Woo kampret, cuma diwalik-walik thok istilahe.

Duh, bagaimana ya. Coba simak kisah di bawah ini, deh.



Suatu ketika sepasang kekasih, Plato dan Platy, membicarakan hal serius mengenai tulisan pariwara di dalam blog. (Bold: Plato, Reguler: Platy)

“Kamu tuh tega ya sama aku!”

“Ha? Aku kenapa?” 

“Kamu udah berubah. Kamu nggak kayak yang aku kenal dulu!”

Sayang, kita harus realistis. Di era sekarang kita dituntut untuk..”

“Menggadaikan kreativitas? Itu mau kamu bilang, ha? Sudah mahal-mahal jajan di Mecdie cuma buat cari wifi biar bisa baca tulisan terbaru kamu. TAPI APA? Isinya iklan, iklan, iklan melulu. Emangnya aku peduli apa sama asuransi dan obat bisul? Aku datang ke blogmu karena aku peduli sama kamu, bukan sama iklan!”

“Tapi kebetulan aku emang bisulan, Sayang.”

“Terus? Kamu obati pakai salep yang kamu iklankan itu?”

“Ee.. Nggak juga, sih. Mahal.”

“Tuh kan!”

“Iya dengar dulu penjelasan aku. Gini, aku butuh pemasukan. Aku suka menulis di blog. Jadi apa aku salah jika menulis di blog buat dapat pemasukan?”

“Sampai situ kamu tidak salah. Sekarang aku tanya, gimana caramu nulis iklan?”

“Ya gampang aja. Tinggal nulis soal produk yang diinginkan klien secara spesifik. Kadang dari mereka sudah ada yang memberi materinya, jadi aku tinggal nyalin saja. Yang penting tiap syarat dari klien aku penuhi, lah.”


“Jadi sekarang kamu menulis buat klien? Bukan buat pembacamu yang sesungguhnya?”

“Ya tentu buat pembaca juga, dong. Tapi kan aku juga harus memenuhi syarat dari klien. Soalnya sudah ada kontrak.”

“Bukan itu poinnya. Yang kumaksud itu, ketika kamu menulis untuk klien dengan cara yang sama seperti kamu ngerjain soal ujian agar dinilai bagus oleh guru, saat itulah kumerasa kamu tersesat.”

“Maksudnya?”

“Kamu ingat ketika kita masih SD terus bikin makalah tentang relativitas waktu, teori kuantum, atau postmodernisme? Saat itu kita nggak tahu dengan apa yang kita tulis. Kita tinggal salin dari apa yang sudah ada di google. Demi apa dan siapa? Pengabdian terhadap dunia akademis kita? Nggak. Kita kerjakan seperti itu demi dapat nilai 100 dari guru. You get my point?

“Maksudmu cara menulisku cuma agar dibaca sama klien saja, begitu? Aku nggak merasa gitu, kok. Aku sudah mengemasnya pakai bahasaku sendiri.”

“Ya, setidaknya kamu pakai bahasamu sendiri. Yang lain kadang ada yang lebih parah. Tapi mengganti gaya bahasa saja menurutku tidak cukup. Gini, kamu sering risih nggak kalau pas nonton TV tiba-tiba dijeda iklan? Atau pas kamu lagi masyuk nulis tiba-tiba disamperin sales rokok?”

“Risih, sih.”

“Nah, jadi kamu bisa bayangin gimana perasaanku saat sengaja datang ke blogmu dan ternyata isinya iklan semua?”

“Bener juga, sih. Terus aku harus gimana? Stop nerima job?

“Nggak sepolos itu juga. Coba kamu lihat di sinetron-sinetron sekarang, banyak iklan yang masuk di dalam cerita. Seperti ada adegan ngobrol di teras, lalu datang PRT yang bawa kopi. Nah, produk kopi itu dijelaskan sama PRT ke juragan dan tamu di dalam cerita itu. Kalau adegan ini terlalu lama pasti mengganggu. Tapi kalau cuma sekelebat saja, sih, tidak. Kurasa porsinya di sinetron-sinetron itu sudah pas.”

Ooh.. Kayak softselling gitu, ya? Tapi itu kan di TV. Kalau tulisan di blog?”

“Nah, itu silakan kreativitas kamu yang bicara. Kalalu tips dari aku, coba kamu masukkan sisi personalmu ke tulisan itu. Baik itu apa yang kamu alami, pikirkan, atau rasakan. Mestinya, kuatnya sisi personal itulah yang menjadi pembeda dari iklan di media-media lain. Kepersonalan itulah spiritnya bloger.”

“Apa nggak ribet itu?”

“Kalau tujuanmu nulis buat klien ya itu ribet. Tapi kalau buat pembaca lain, ya, menurutku itu perlu. Bahkan menurutku, kalau kita bikin review film misalnya. Kita jangan sampai menggunakan cara me-review-nya Muvila, BookMyShow, apalagi Cinema 21. Ya masak, sih, kita paparkan spesifiksi film layaknya media lain di blog pribadi kita? Kita perlu masukkan subjektivitas yang lebih karena setiap orang punya cara pandang menariknya masing-masing.”

“Dan membaca keunikan cara pandang tiap orang itulah yang menarik dari membaca blog.”

“Nah! You get my point. Sekarang coba kamu nulis iklanmu pakai gaya baru.”

“Oke! Etapi bisulku gimana?”

Ra urusan, Su!


Menjadikan blog pribadi sebagai pundi-pundi rezeki tentu tidaklah salah. Karena memang blog adalah aset yang kita miliki. Setiap bloger memang punya kuasa atas blog yang ia kelola sendiri. Tapi bukan berarti kita bisa semena-mena. Pembaca adalah patokan terhadap apa yang kita kelola. Untuk itulah kita membuat konten, bukan?

Ibarat arsitek, ia tidak mendesain gedung seenaknya sendiri, asal jadi, lalu dapat bayaran. Tidak. Ia memikirkan kenyaman dan keamanan tiap orang yang akan tinggal di gedung itu. Ia jadikan kebutuhan orang-orang itu sebagai alasan dan tujuan untuk merancang setiap sudut gedung bikinannya.

Saya salut dengan teman-teman bloger yang dengan apik menyajikan tulisan iklan, job review, campaign, atau yang sekadar meletakkan backlink ke sponsor. Saya pun masih belajar dalam hal ini. Kritik, saran, cacian, dengan senang hati saya terima.

Asal jangan no mention di twitter. Jarang buka.

So, punya pendapat soal topik ini? Silakan berbagi gagasanmu di kolom komentar atau melalui postingan blogmu. Mari kita diskusikan demi variasi blog yang haqiqi!


Image source: pexels.com

8 September 2017


Sebagai seorang pemula asmara yang telah kembali menjalin kisah kasih setelah lama menjomlo, tentu saja ada kekhawatiran khusus bagi saya. Salah satunya adalah dengan menetapkan tempat untuk sayang-sayangan.

Dahulu kala, ketika relung hati saya masih gersang, saya pergi ke mana saja nyaris selalu sendirian. Makan sendirian, nonton sendirian, nonton orang makan sendirian, makan orang nonton sendirian dan masih banyak lagi hal yang saya lakukan sendirian.

Nah, pada masa itu saya selalu memburu tempat makan yang cocok buat didatangi seorang diri. Biar keren, saya menyebutnya introvert space.

Lantas ketika hati saya telah bersenyawa dengan kekasih, saya pun harus mengubah cara berpikir tentang tempat makan. Ya, saya begitu antusias dengan perubahan ini karena pada akhirnya saya bisa makan bareng. Tidak lagi sendiri! Bayar parkirnya bisa patungan! Bisa berdiri di depan toilet cewek karena ada yang ditunggu! Yes!

Baiklah, dalam rangka memperingati jiwa berasmara yang sedang membangun peradabannya, saya akan merekomendasikan satu tempat yang cocok untuk beradu kasih. Biar makin asyik, saya kasih kuis saja, ya.

Soal: Coba sebutkan nama tempat yang saya maksud dalam paragraf di atas!

Petunjuk: Tempatnya berada di Solo. Terdiri dari dua lantai. Lahan parkirnya luas. Namanya dikutip dari bahasa Itali, depannya L, belakangnya A, dan sudah saya tulis di judul.

Apa hayoo? Gampang, kan?

Yak, benar! Jawabannya La Taverna!

Wah... Cerdas-cerdas sekali, ya, para pembaca sekalian. Pasti kecilnya suka nonton Dora the Explode. Blaar!

Yuk, Jalan!

La Taverna itu tempat makan hits di Solo yang sangat saya rekomendasikan dari berbagai segi. Makanan dan minumannya enak-enak dan variatif. Tempatnya sendiri sangat nyaman dan elegan. Belum lagi lantunan musiknya yang semakin menentramkan jiwa. Bahkan La Taverna juga menyediakan mini playground buat pengunjung yang membawa batita, lho.

Nah, beberapa hari yang lalu saya berkesempatan buat datang ke La Taverna bersama kekasih dan kawan-kawan dari Komunitas Blogger Solo. Lho? Katanya ini tempat makan yang cocok buat pacaran? Ya mestinya berdua saja, dong!

Lha apa salahnya pacaran sekaligus memotivasi teman-teman lain yang masih jomlo, ya, kan? Inilah yang disebut dalam peribahasa, “Sambil menyelam, minum air.” Jadi usahakan dalam berasmara itu tidak hanya sayang-sayangan saja, tapi juga minum air. Wkwkwk.

Oke, back to topic. Fokus. Fokus.

Jujur saja, La Taverna itu tempat makan yang sejak dulu ingin saya sambangi. Karena jika dipantau dari foto-foto yang beredar di Instagram, La Taverna memiliki tempat yang pasti bikin saya betah berlama-lama wifi-an di situ.

Konsep bangunan La Taverna sendiri adalah perpaduan Jawa-Belanda yang membawa suasana seperti peron kereta api tahun 1935. Saya kurang yakin apakah bangunan La Taverna bisa disebut arsitektur indis. Tentu saja karna arsitektur bukanlah kapasitas saya. Yang jelas saya suka sekali dengan bangunannya yang luas seperti joglo, warna yang dominan dengan hitam dan coklat, perabot interior yang elegan, serta hiasan-hiasan lawas ala Belanda yang semakin memanjakan naluri ke-artsy-an saya.

Penasaran tempatnya seperti apa? Coba lihat beberapa sudut yang telah saya abadikan di bawah ini. Yuk, jalan!


Gambar kiri atas merupakan penampakan lantai 2. Gambar kiri bawah adalah penampakan lantai 1 yang luas. Meja makan rata-rata berkapasitas empat orang, tapi juga bisa kalau mau datang beramai-rama (ada meja panjang, kok).

Yuk, Makan!

Jangan berpuas diri dulu dengan tempatnya yang nyaman. Karena makanan di La Taverna juga tidak kalah menariknya. Menu andalan resto ini adalah aneka jejamuran. Bagi yang sudah muak dengan sajian ayam dan telur di resto-resto lain pada umumnya, La Taverna bisa jadi rujukan yang tepat untuk memvariasikan lidah kita.

Kalau dulu teman saya pernah membuat tagline, “Aku dan kamu bertemu karena buku” untuk toko buku rintisannya. Sepertinya saya harus membuat tagline sejenis yang dipesembahkan untuk La Taverna. Tagline itu berbunyi, “Lidahku dan lidahmu bertemu karena menu.” Eaaa.

Wah, wah, sebenarnya apa dan bagaimana, sih, hidangan ala La Taverna itu? Berikut saya sertakan foto dengan caption berupa reaksi ketika saya mencecapnya.

Omelet Jamur 15K


“Nyamm.. Mmm.. Enak, nih. Mesti dicocol sama saus dulu biar makin mantap. Teksturnya lembut, empuk. Nggak bikin rahang kita kelelahan pas ngunyah. Mmm.. Gurih pula ini. Enak.”

Fuyunghai Jamur 20K


“Nyamm.. Ini saus apa ya yang dituang di atasnya? Manis-manis gurih. Nggak kalah sama omelet. Nyamm.. Mmm.. Enak.”

Crispy Mushroom 12K


“Krezz.. Nyamm.. Krezz.. Mmm.. Krispinya pas banget. Kriuk tapi nggak keras. Rasanya juga enak. Krezz.. Mmm.. Tapi kalau lihat taburannya ini kok jadi ingat mie ayam, ya. Hahaha. Krezz.. Krezzz.”

Sate Jamur 20K




“Nyamm.. Buset. Ini enak satenya. Mudah dikunyah dan bumbunya nggak eneg. Nyamm.. Nyamm.. No comment. Mau kulahap semua. Nyamm.. Nyamm..”

Gule Jamur 15K


“Baru kali ini aku tahu ada gule jamur. Nyamm.. Nyamm.. Huhhah. Segar dan enak! Untuk orang kayak aku yang gampang kepedesan, gule ini sentuhan pedesnya pas. Eh, tapi tadi baru satu lahap saja, sih. Coba lagi, ah. Nyamm.. Nyamm.. Fix. Pasti ini resep awet mudanya Captain America.”

Nasi Goreng Jamur 20K


“Belum disebut resto yang hakiki kalau tidak ada nasi gorengnya. Oke, coba aku makan, ya. Nyamm.. Nyamm.. Kebetulan nggak terlalu pedes. Tapi gurihnya dapet. Nyamm.. Nyamm.. Krezz.. Dimakan pakai jamur gorengnya ini pas banget. Enak!”

Honey Chicken Steak 36K


“Nyamm.. Nyamm.. Nyamm.. Nyamm.. Nyamm..” (Kok nggak ada komentar?) “Nyamm.. Nyamm.. Nyamm.. Nyamm..” (Woy, kasih komentar, woy.) “Nyamm.. Nyamm.. Nyamm..” (Auk lah makan doang, nggak kasih komentar.) “Fhuaahh..” (Buset! Sampai habis seketika. Komentarya mana, woy.) “Hehehehe.. Sorry, sorry. Sumpah ini enak banget, Bro. Ayamnya, bumbunya, sausnya. Sempurna!”

Nah, itu tadi pengalaman saya saat melahap aneka masakan La Taverna. Perlu dicatat, nih. Setiap pembelian aneka jejamuran tadi bisa kita santap bersama nasi putih yang tidak perlu membayar lebih. Sebut saja, gratis! Tentu tidak termasuk nasi goreng atau variasi nasi jamur lainnya. Jadi bagaimana? Penasaran sama menu jejamuran ala La Taverna? Yuk, makan!

Yuk, Rayakan!

Tempat yang luas, nyaman, dan makanannya yang enak tentu menjadi pilihan yang tepat jika kita ingin mengadakan acara di sana. Misalkan saja reuni, meeting, kopdar, pesta ulang tahun, dan tentu saja syukuran berasmara.

Entah menurut undang-undang yang mana, di beberapa daerah di negeri ini telah menerapkan apa yang istilahnya ‘pajak jadian’. Ya, setiap mereka yang punya kekasih biasanya dianggap sebagai masyarakat wajib pajak, lantas mereka dituntut untuk mentraktir sejumlah teman. Untunglah pajak jadian itu hukumnya fardhu kifayah.

Kaitannya dengan hal itu, La Taverna secara revolusioner ternyata bisa mewadahi ajang pembayaran pajak jadian tersebut. Buktinya, saya dan kekasih mempraktekkan itu bersama kawan-kawan blogger solo.

Jadi, di La Taverna ada menu spesial yang cuma bisa dipesan by order, salah satunya ya order buat pajak jadian. Menu tersebut menghidangkan tumpeng-tumpeng unyu yang sayang jika dilewatkan. Berikut ini adalah penampakan dari aneka tumpeng yang saya maksud.

Nasi tumpeng kuning dan nasi tumpeng pandan.

Nasi tumpeng beras merah.

Nasi goreng tumpeng.

Paket tumpengan ini per porsi 30k sudah termasuk es teh dan buah, lho. Minimum pemesanan 20 pcs.

Wah, kamu yang traktir itu semua, Ham?

Ehem. Jadi gini. Kalau menurut Roland Barthes, “Ketika suatu teks terlahir maka pengarang telah tiada”. Sehingga siapapun boleh menafsirkan teks meski akan berbeda dengan apa yang ditafsirkan orang lain bahkan oleh pengarang itu sendiri.

Artinya, ketika aneka makanan tumpeng itu tiba di meja kami, seketika itu pula saya menafsirkan bahwa ini adalah pajak saya. Karena peran koki adalah memasak, peran kawan-kawan blogger adalah memakan, lalu peran saya adalah memaknai. Dan saya memaknai tumpeng-tumpeng lezat itu sebagai persembahan saya kepada kawan-kawan blogger.

Sungguh mulia hati ini.

Wkwkwk.

Jadi tunggu apa lagi? Yuk, rayakan!

Saya rasa sudah semua yang ingin saya ceritakan soal La Taverna dan ruang lingkup asmara yang menaunginya. Semoga tulisan ini bisa memberi informasi yang berguna bagi para pembaca sekalian. Memangnya tulisanmu berguna, Ham? Ah, ya, minimal kita jadi tahu kuliner asyik yang ada di Solo, gitu, lho. Saking asyiknya, saya malah terbayang jika La Taverna itu bisa dipakai untuk acara ijab qabul. Terus nanti ada yang nulis, “Lamaran? La Taverna Saja!” Gimana? Mbois opo, ra?


Akun Instagram La Taverna: @latavernasolo

Peta Lokasi La Taverna:



Source pict: dokumentasi pribadi. 

Follow Us @soratemplates