11 Maret 2017


Dengar-dengar, manusia itu selalu tertarik dengan dunia dan seisinya. Maka maklum saja jika manusia terus-menerus mempelajari materi bumi dan kehidupannya. Namun, ilmu pengetahuan tidak diperoleh dengan kun faya kun seperti Ian Kasela dengan soft case emo di jidatnya. Pengetahuan didapat melalui proses belajar yang sangat panjang. Bukan hanya dari jam pagi ke jam sore. Atau dari mantan satu ke mantan yang lain. Tapi dari generasi ke generasi.
 
Mari kita coba mundur jauh ke belakang sebelum peradaban manusia mengenal betapa celakanya melakukan double tap saat kepo instagram mantan. Orang-orang zaman dahulu sangat percaya dengan kekuatan Dewa yang menggerakkan alam raya dan seisinya. Hal ini terjadi ketika mereka sukar menjelaskan fenomena alam yang ada di sekitar. Sebut saja ketika terjadi gempa bumi, orang-orang menganggap jika Dewa sedang menggoyangkan kepalanya sambil nyanyi ‘mama bolo-bolo’. Atau ketika muncul pelangi yang membentang dari satu sisi ke sisi yang lain, dianggap sebagai pelorotan atau seluncuran malaikat-malaikat dan kali ini sambil nyanyi: ‘Cintamu wes mlorot. Wes gek ndang ayo pedot. Rasah nganggo ngotot. Marai utek cekot-cekot’.
Ketidakmampuan menemukan jawaban dari fenomena-fenomena itulah yang kemudian menginisiasi cara-cara berpikir mitosentris seperti contoh di atas.
Roda kehidupan itu sudah pasti berputar. Maka terjadilah pola pikir mitosentris yang bergeser menjadi logosentris ketika manusia mulai bisa menjelaskan kejadian demi kejadian, sebab dan akibat, dengan logis. Di sinilah perkenalan manusia dengan filsafat. Fenomena alam tidak lagi dianggap sebagai gerak-gerik ghaib, tetapi merupakan aktivitas alam yang terjadi secara kausalitas. Meski sederhana, namun implikasinya tidak main-main. Alam yang selama ini ditakuti karena kebesaran dan kemisteriusannya, kini tidak lagi dijauhi tapi justru didekati, dipelajari, bahkan dieksploitasi.

Hal inilah yang saya dapatkan ketika menyaksikan film Spectral. Film besutan Nic Mathieu yang mengambil genre sci-fi, action, dan thriller ini bagi saya bukan sekadar pertunjukan tembak-menembak. Akan tetapi ada perjalanan tasawuf yang tersirat secara diam-diam. Basingse, diriku kemaki tenan, ndes.

Spectral secara sewenang-wenang menempatkan penonton dalam situasi tegang sejak menit pertama. Gelimpangan mayat di kota yang hancur lebur menjadi sajian estetis yang begitu kuat untuk menggambarkan nuansa peperangan. Kemudian kita diajak untuk berjalan pelan-pelan di medan pertempuran Modolva melalui sudut pandang Davis, satu-satunya yang bernapas dalam scene itu.

Coba kau pikirkan, kau renungkan, dan tanyalah pada bintang-bintang. Apa tidak semriwing keteknya Mas Davis ini? Bengi-bengi jalan sendirian di antara mayat-mayat. Mbok wes tenguk-tenguk ning omah nonton Dunia Terbalik lak yo puenak, ndes.

Nah, ketika Mas Davis memasuki sebuah ruangan, kacamata hyperspectral menangkap sebuah penampakan visual yang tak wajar. Untuk memastikan hal itu Mas Davis membuka kacamata hyperspectal yang bisa mendeteksi panas. Nihil. Mata telanjangnya tidak melihat apa-apa. Lalu kembalilah dia memakainya. Seketika itu, ada semacam selaput tipis dengan bentuk menyerupai manusia yang berdiri di depannya. Lalu, makjegagik sesuatu yang aneh itu menyambar tubuh Mas Davis. 

Mas Davis matek.

Battlefield. Sumber: conceptartworld.com
Scene mukadimah di atas secara sederhana telah menunjukkan kepada khalayak tentang setting peperangan yang mencekam. Dan kita diperkenalkan pula dengan musuh yang akan diburu sepanjang film, the spectral (hantu/memedi).

Melihat kejadian yang tidak wajar tersebut, Jendral Orland dari DARPA memanggil Dr. Clyne ke Eropa Timur untuk melakukan analisis. Dr. Clyne adalah seorang fisikawan sekaligus teknisi yang telah berpengalaman membuat alat-alat canggih untuk keperluan perang. Salah satunya kacamata yang digunakan untuk melihat dalam kegelapan, bahkan kini benda itu bisa melihat hantu dan stalker instagram. Peristiwa naas yang menimpa Mas Davis memang perlu mendapat perhatian khusus. Sebab sejauh ini, penampakan asing terlihat pada jarak terdekat melalui kacamata hyperspectral yang dipakai Mas Davis.

Pelajaran menarik terjadi ketika Dr. Clyne usai menonton tayangan video yang memperlihatkan penampakan itu. Wanita bernama Fran yang merupakan agen CIA memaparkan hipotesisnya tentang kemungkinan teknologi kamlufase yang dipakai para pemberontak. Sementara Dr. Clyne masih enggan berteori apa-apa karena data yang dimiliki belum cukup.
“Pekerja teknisimu adalah menemukan gangguan, jadi ia melihat gangguan. Pekerjaanmu (Fran) adalah menemukan musuh, jadi kau melihat musuh. Penduduk lokal percaya dengan roh, jadi mereka melihat roh. Satu orang terbiaskan satu cara atau yang lain. Jadi, jawabanku untukmu sekarang adalah bahwa kita kekurangan data untuk mendukung teori apapun." - Dr. Clyne
Lalu Fran bertanya, “Jadi apa yang bisa kita lakukan saat ini?” Dengan tampang serius Dr. Clyne menjawab, “Kita stalking hastag #AdaHantuDiMoldova dulu saja. Barangkali ada petunjuk lain.” Fran lekas merapikan berkas-berkas yang berserakan di meja sambil bilang:

Budhe Fran dengan typo yang menawan. Sumber: movieholichub.com
Dr. Clyne merupakan cerminan dari masyarakat kekinian maju yang tidak berani terjebak dengan tuduhan-tuduhan yang tak berdasar. Ia juga menjadi bukti produk akademis yang selalu mencari jawaban dengan definisi-definisi. Sesuatu yang asing dan samar-samar seringkali membuat manusia mencari-cari sendiri definisinya. CIA yang pekerjaannya memang berkutat dengan hal-hal taktis, sudah pasti langsung menaruh curiga terhadap musuh (pemberontak). Bahkan CIA pun mulai berasumsi dengan teknologi canggih setelah sebelumnya mereka menemukan beberapa kelompok di Eropa dan Asia yang bisa membuat kamlufse aktif.

Berbeda halnya dengan penduduk setempat yang lebih mempercayai keberadaan roh peperangan, Aratere. Masyarakat yang berada di medan pertempuran merasa ngeri dengan kematian massal di berbagai sudut kota. Kengerian itu menciptakan takhayul seputar roh Aratere. Menurut salah seorang anak dari penduduk setempat yang selamat, Bogdan, menceritakan bahwa Aratere adalah jiwa-jiwa yang tersesat. Para tentara yang mati dalam perang tidak memiliki kedamaian dalam jiwa mereka, sehingga arwahnya melayang-layang di antara hidup dan mati.

Serius tenan, ndes. Sepertinya agak bergetar ini.

Sepanjang film, kita akan mengikuti langkah demi langkah bagaimana Dr. Clyne mencari data-data empirik untuk menemukan jawaban. Ya. Mau tidak mau ia harus turun ke medan perang.

Langkah pertama yang ia ambil adalah dengan memasang kamera hyperspectral yang lebih canggih daripada versi kacamata. Perangkat kamera seukuran guling itu dipasang di atap mobil patroli. Namun, ketika menelusuri kota, para hantu tiba-tiba menyerang pasukan patroli sampai membuat mobil  yang mereka tumpangi terjungkal. Beberapa tentara yang turut dalam misi itu terenggut nyawanya dengan sangat cepat dan misterius. Sementara Dr.Clyne justru nekat membopong kameranya meski lebih mudah baginya jika bergegas melarikan diri tanpa kamera itu.

Beberapa orang yang selamat termasuk Dr.Clyne bersembunyi di dalam sebuah gedung yang separuh hancur. Di dalam gedung itu mereka bertemu dengan dua anak yang merupakan penduduk Modolva.  Dari merekalah Dr. Clayne menyadari jika para hantu lemah terhadap serbuk besi. Buktinya para hantu tidak bisa memasuki gedung itu karena ada serbuk besi yang disebar melingkari gedung.  Hal ini membuat saya ingin nebar serbuk besi di depan ruang ujian. Ben pengawase mlebu lewat jendelo koyo Jackie Chan. Hyaaa.

Mengetahui kelemahan itulah Dr. Clyne mempertajam pikirannya untuk menemukan definisi dari makhluk itu. Yang jelas makhluk itu bukan arwah gentayangan karena mereka masih terganggu dengan benda duniawi. Kedua, mereka bukan teknologi kamlufase seperti teori CIA. Sebab jika itu hanya kostum saja maka mudah bagi para hantu untuk melewati serbuk besi, misal dengan mengendari mobil. Ketiga, Dr. Clyne pun menduga mereka bukanlah para mantan. Mau bagaimana lagi? Kalau mau menghalau mantan ya jangan nyebar serbuk besi. Tapi nyebar undangan resepsi. Gitu.

Namanya juga film. Kalau tidak ada perlawanan ya bukan film, tapi nasibmu yang ditinggal nikah. Para tentara yang uring-uringan karena senjata mereka sama sekali tidak mempan untuk melumpuhkan  para hantu, akhirnya mendapat pencerahan dari Dr. Clyne. Ahli pembuat senjata itu menemukan banyak material serbuk besi di dalam gudang. Maka tercetuslah ide untuk membuat senjata dadakan, di gedung, lima ratusan, halal. 

Berbekal granat enyoy-enyoy, mereka keluar dari gedung menuju titik penjemputan. Pertempuran mistik pun tidak dapat terelakkan. Situasi semakin menegang dan terlihat sedikit gurih dari sebelumnya. Terutama ketika mereka mulai kehabisan stok granat enyoy-enyoy. Asyu, aku beneran membayangkan pas perang begitu di depan Toko Plastik Eka Sari ada orang jualan granat dadakan pakai mobil pick up. Di sekitar mobil tentu sudah ditaburi serbuk-serbuk besi sehingga hantu-hantu tidak bisa menyerang. Gimana? Laris ketoke.

Jadi, makhluk asing itu sebenarnya apa?

Dr. Clyne menemukan beberapa data. Pertama, hantu itu bisa terhambat gerakkannya dengan serbuk besi. Kedua, hantu itu terlihat oleh cahaya. Ketiga, mereka membunuh dengan sentuhan. Keempat, mereka juga tidak bisa menembus tank M1 Abrams yang dilapisi keramik. Data-data itu menunjukkan jika mereka bukan makhluk alami. 

Melalui rujukan terhadap teori yang pernah dikemukakan Nath Bose dan Albert Einstein, Dr. Clyne menduga jika makhluk itu hanyalah kondensat semata. Untuk membuat Bose-Einstein Condensate diperlukan tenaga yang sangat besar dan banyak. Fran langsung menimpali analisis itu dengan memberi salah satu hasil investigasinya, yaitu tempat pembangkit listrik bernama Masarov serta data tentang milyaran uang negara yang dihabiskan untuk penelitian senjata.

Ilustrasi kondensat yang berbentuk menyerupai manusia. Sumber: conceptartworld.com
Intinya, hantu-hantu itu adalah senjata yang dibuat manusia. 

Jika para hantu merupakan buatan industri, maka mereka pasti memiliki perintah yang terstruktur. Mereka tentu tunduk pada hukum-hukum alam. Jadi, mereka bisa dihancurkan. Yang tidak bisa dihancurkan itu cuma cintaku padanya. Eaaa.

Ketika menemukan definisi yang jelas tentang para hantu, Dr. Clyne kembali mengusulkan pembuatan senjata baru. Yaitu plasmic-discharge yang dipercaya bisa mengurai kondensat. Maka dibuatlah senjata itu dengan benda-benda apapun yang berkaitan dengan optik, elektronik, casing balistik, dan sebagainya. Anjur, Dr.Clyne ini ciamik bingit, ndes. 

Saking ciamiknya, senjata yang dibuat dari uraian barang-barang lain itu memiliki bentuk yang estetis layaknya produk bikinan pabrik. Padahal buat nemu mur dan baut yang cocok saja tidak mudah. Lha kok ini bisa bongkar pasang aneka produk buat bikin satu set senjata khusus. Oiya, namanya saja science fiction.

Satu misteri belum terpecahkan. Yaitu bagaimana kondensat tersebut bisa bergerak layaknya manusia. Satu-satunya cara untuk menemukan jawaban terakhir ini adalah dengan mendatangi langsung pusat produksinya, Masarov. Pun Dr. Clyne meyakini jika di Masarov­ itulah pusat komando berada. Sehingga untuk menghentikan serangan para hantu, Dr. Clyne dan bala tentara harus menghancurkan sumbernya.

Secara keseluruhan film ini sangat menarik. Premisnya sederhana dan dikerjakan dengan fokus. Tidak ada bumbu-bumbu drama cinta. Militer ya militer saja. Sains ya sains saja gitu. Kalau urusan drama percintaan itu sudah ranahnya Giorgino Abraham dan Irish Bella soalnya.

Barangkali orang yang menggeluti fisika akan menyukai film ini. Seperti Interstellar begitulah. Banyak istilah-istilah sains yang bagi orang awam seperti saya tidak memahaminya. Namun hal itu tidak mempengaruhi substansi pada film ini. Toh saya tetap mudeng film ini berjalan ke arah mana.

Atau sebut saja film-film macam The Martian, Inception, Predestination, Ex Machina dan lain sebagainya memang bisa dinikmati oleh banyak orang. Akan tetapi menjadi makin menarik ketika si penonton sendiri sudah mengetahui dengan teori-teori yang dibawakan di dalam film-film itu. Rasanya seperti pas denger khutbah jumat lalu nyeletuk, “gue tahu nih hadist parawinya siapa.” Ndasee..

Salah satu alasan saya menyukai film ya yang seperti ini. Seringkali menemukan kecantikan dari gagasan-gagasan yang ditawarkan di dalam film. Kalau dari film Spectral ya perihal pengklarifikasian sebuah nilai kebenaran misalnya. Dr. Clyne saja sampai sebegitunya mencari sebuah definisi dari ketidaktahuan. Hla kok kita sudah merasa cendekia cuma berbekal satu atau dua brodkesan di wassap. Lak yo hoaxable bingit, kan?

Okey saya rasa sudah cukup ngoceh-ngocehin film kali ini. Spectral bagus. Dari satu sampai sepuluh, saya kasih delapan koma enam ratus tiga puluh satu ribu rupiah buat rating film ini. Anjur malah koyo cek. Semoga bisa menjadi rujukan yang pas untuk ditonton akhir pekan ini.

Eits, mau nonton film harus nunggu akhri pekan dulu? Gak zaman. Sekarangkan sudah ada HOOQ. Apa itu HOOQ? Yuk, simak klarifikasinya di sini. Sampai jumpa.

3 Maret 2017




Menonton film adalah pelarian dari kehimpitan realitas yang saya temui. Bisa jadi saat bosan, bingung, marah, bahkan bisa juga saat hati ini deg-degan menyatakan cinta. Lha mau bagaimana lagi? Bagi saya, film sudah jadi pengganti susu dalam kebutuhan empat sehat lima sempurna. Atau menjadi aspirin ketika pusing melanda. Juga menjadi tempat ternyaman untuk mendapat kehangatan di kala hujan yang dingin. Bentar, bentar. Sebenarnya ini ngobrolin film apa jahe gepuk, tho, Ndes?

Yasudah, intinya film itu begitu penting bagi kebahagiaan saya.

Awal kecanduan film itu ya jelas saja ulah bioskop Transtipi. Ceritanya, setiap pukul sembilan malam, saya dan anggota keluarga berkumpul di ruang tengah untuk menonton film. Ini semacam penghargaan karena kami telah menyelesaikan kewajiban masing-masing.

Kecanduan akan film makin menjadi ketika bioskop jadi-jadian ini justru menambah waktu penayangan film. Jadi, selepas pukul sebelas malam, Transtipi menayangkan film putaran kedua. Sementara Bapak dan Ibu memilih untuk tidur setelah menyaksikan satu film, saya justru betah nonton sampai film putaran kedua selesai pada pukul 1 pagi.

Sampai pernah kena marah sama Bapak yang kebetulan mau pipis dan memergoki saya masih terjaga hingga larut. Untung bapak cuma tahu saya melek sampai dini hari karena nonton film, bukan karena nonton host seksi di kuis-kuis aneh atau nonton acara investigasi yang topiknya seputar perbuatan mesum. 

Saya berhasil melepaskan diri dari jeratan televisi ketika saya mendapat laptop bekas pemberian kakak. Laptop bermerk Lenovo yang entah kenapa di mata saya lebih terbaca jadi ‘no love’ itu menjadi penampungan aneka film.

Ya. Di sinilah saya mulai mengenal lebih banyak film karena saya bisa mengaksesnya melalui internet sebebas yang saya mampu. Mulai dari film-film baru Edward Norton hingga sang maestro komedi, Charlie Caplin. Semua bisa saya nikmati hanya dengan beberapa klik saja.

Jangan tanya bagaimana saya membeli film-film tersebut. Ya jelas saja saya download yang free alias bajakan. Mau bagaimana lagi? Nggak kuat beli, Ndes. Lha yang ngaku wota militan saja masih banyak yang membeli poster-poster unofficial, kok. Bahkan tak jarang mereka mengunduh lagunya oshi unyu-unyu itu dengan kata kunci ‘free download lagu terbaru JKT48’. 

Maka nikmat bajakan manakah yang kamu dustakan?


Menonton film di laptop jauh lebih menyenangkan daripada di televisi. Sebab tidak perlu ada iklan, bisa dijeda sesuai kehendak sendiri, dan bisa diletakkan di mana saja. Pun dengan kualitas visual juga bisa memilih mau yang low atau high.

Eits, satu lagi, audionya bisa dimiliki sendiri dengan mencolokkan earphone ke telinga. Jadi saya tidak perlu was-was lagi kalau kepergok masih bangun hingga dini hari. Karena saya bisa nonton film di atas kasur dengan suara yang saya dengar seorang. Jika memang Bapak lagi patroli di dalam rumah, saya tinggal tekan pause, buka lembar kerja makalah, dan pura-pura terlelap di samping laptop. Bukan begitu, Kisanak?

Saya rasa kehadiran laptop sudah benar-benar memuaskan hasrat saya menonton film.

Ah, tidak. Saya keliru.

Laptop tidak fleksibel untuk dinyalakan di mana saja. Terlalu ribet dan berat jika mau menggunakannya untuk nonton di sembarang tempat. Sementara saya makin sering menjalani aktivitas di luar rumah. Maka timbullah hasrat untuk nonton film di mana saja dan kapan saja saat saya ingin. Tapi piye? Laptopku harus nyolok di stop kontak untuk mendapat aliran listrik seperti rindu yang mengaliri hubungan kita, Dek.

Bak disambar petir, saya kaget bukan main ketika mengetahui bahwa harapan saya itu bisa terwujud. Saya bisa menikmati film melalui perangkat elektronik seukuran jadah bakar. Saya bisa menyalakannya kapan saja dan di mana saja

Bahkan saya tetap bisa menggunakan fitur pause jika saya harus berpindah tempat karena ada kepentingan-kepentingan lain. Dan lebih asoynya lagi, saya bisa berhenti mengunduh film bajakan! Yeaah.. Good bye Lebah Ganteng. Good bye IDFL team. You rock, Guys!

Ini bukan tentang loyalitas. Jika memang ada fasilitas yang lebih cocok untuk saya gunakan, maka sah-sah saja kalau saya beralih dari lama ke yang baru. Lha wong Batman dan Superman saja yang awalnya tonjok-tonjokkan brutal itu lantas beralih menjadi teman hanya karena memiliki nama ibu yang sama. Peralihan itu daur hidup, Ndes. Pasti terjadi. Bahkan yang awalnya bilang “kaulah segalanya dan satu-satunya untuk selamanya” pun juga masih bisa berubah jadi “dia lebih baik dari kamu”. Maka nikmat peralihan manakah yang kamu dustakan lagi, Bosku?

Jadi sebenarnya saya beralih ke media apa, sih? Nah, setelah televisi dan laptop, kali ini saya menyambut dengan riang gembira kedatangan HOOQ. Halah itu lho aktor yang memerankan Logan. Hooq Jackman. Krik!
HOOQ adalah sebuah aplikasi yang bisa diakses dalam genggaman smartphone untuk menonton berbagai macam film.  Jadi dengan HOOQ kita bisa nonton film kapan saja dan di mana saja. Ntap!
HOOQ ini menjadi begitu penting bagi saya. Jika film adalah susu, maka HOOQ adalah wadahnya. Tanpa HOOQ, ibarat minum susu tanpa wadah. Langsung ngenyot dari sapinya. Lak yo saru, tho, Ndes?
 

Ketika pertama kali mengakses HOOQ, saya langsung mesam-mesem wagu seperti saat sembuh dari sariawan. Eh, iki tenan, lho.

Tampilan berandanya bagus. Didominasi dengan poster-poster film dalam tampilan grid yang catchy. Setelah saya cek di tab browse, alangkah bahagianya saya karena film-film yang ada di HOOQ sudah dirapikan dalam bentuk kategorial. Sebut saja kategori Indonesian Hits, Hollywood Hits, Best of Bollywood, Top Family & Kids, dan saya paling suka dengan kategori Editor’s Choice. Selain itu HOOQ juga merapikan film per-genre, ada Thrillers, Martial Arts, Sci-fi & Fantasy, Comedy, dan lain-lain. 

Eh, belum cukup dengan kategori-kategori itu saja, Ndes. HOOQ ternyata juga agak bergurau ketika saya mendapati kategori Indonesia Era Lama yang menyajikan film-film Warkop, Benyamin, dan Eva Arnaz. Bahkan ada juga filmnya Teguh Karya! Wuedyan! Di mana lagi saya bisa nonton film Pacar Ketinggalan Kereta kalau bukan di HOOQ? Mbois tenan HOOQ iki, Ndes.

Selama ini saya merasa khawatir dengan keterlembatan saya menonton film-film Indonesia di bioskop. Sebut saja Surat dari Praha dan Di Balik 98. Saya kecewa betul karena gagal menonton kedua film itu di bioskop. Bukannya mau lebay ya, tapi memang melewatkan Jullie Estele dan Chelsea Islan itu sebuah kriminalitas, Ndes. Rasa-rasanya sudah seperti menenggak air mineral tanpa O2.

Akan tetapi kekecewaan saya di masa lalu itu sekarang sudah bisa diatasi. Melalui HOOQ saya bisa menonton Mbak Jul dan Dek Is kembali. Tidak perlu lagi saya menunggu film-film Indonesia lawas di persewaan DVD, atau menanti tayang di televisi dan YouTube. Saya bisa menontonnya dengan mudah dan gratis di HOOQ. Gimana? Apa saya harus kembali menanyakan nikmat HOOQ mana lagi yang kamu dustakan?

Wait. Gratis?

Ya! Untuk mode trial pada pemakaian satu minggu pertama kita bisa menikmati HOOQ secara gratis. Sedangkan jika ingin berlangganan maka kita cukup berinvestasi sebesar Rp. 49.500 untuk satu bulan.  Harga segitu kalau mau nonton di bioskop cuma bisa buat dua tiket. Sedangkan jika menggunakan HOOQ, saya bisa nonton apa saja, kapan saja dan di mana saja. 

Tapi tidak membuka kenaifan juga, Ndes. Nonton di bioskop memang membawa pengalaman tersendiri dalam menikmati film. Saya masih menjadikan bioskop sebagai cara menonton film yang terbaik. Sedangkan HOOQ adalah alternatif menonton yang paling tepat. Tinggal masalah waktu dan duit saja kalau ini.

Ini informasi langkah awal ketika mengakses HOOQ. Gampang banget!
......
Tiba-tiba Lik Atenx menolak, “Aku nggak mau pakai HOOQ! Katanya kualitas subtitle untuk film asingnya jelek. Males aku. Tes TOEFL saja aku sampai minta tolong dukun sakti kok ini malah nonton film bahasa asing tapi nggak ada terjemahannya.”

Dengan berbekal buku Kiat-kiat Sukses Bersabar, saya mencoba menanggapi ocehannya Lik Atenx ini dengan kepala dingin. “Gini, Lik. Kesalahanmu itu ada dua.”

“Weh. Apa itu?”

“Pertama, buat apa kamu minta dukun sakti untuk membantumu mengerjakan tes TOEFL? Rumangsamu aji-aji sapu jagad itu yang bikin Pangeran Charles, ha? Jelas bukan, tho?”

Asyu. Yowes, Lanjutkan omonganmu.”

“Kedua...”

“Heh, serius, Le. Kedua opo?

“Kedua, memang terjemahannya mbalelo tenan, Lik. Aku ya agak geram. Sudah seneng-senengnya nemu film yang susah dicari. Begitu dimainkan ternyata tidak ada terjemahannya. Pening aku, Lik, pening.”

Woe sama saja! Kamu ini lagi ikut lomba kok malah ngatain. Pancen utek ra kopen!
......

Ya, memang betul. Salah satu pengalaman kurang menyenangkan saat mengakses HOOQ adalah fasilitas terjemahan yang kurang lengkap. Koleksi filmnya sih memang ada 10.000 dan akan terus bertambah. Tapi tidak semua film dengan bahasa asing dilengkapi terjemahan bahasa Indonesia.

Namun saya ‘ainul yaqin saja bahwa HOOQ pasti sedang berupaya keras untuk memberi alternatif bahasa di dalam film-filmnya. Dan untuk menuju ke arah itu, pihak HOOQ memberi kesempatan bagi kita mendapatkan terjemahan dengan cara mengirim permohonan pengadaan subtitle ke support@hooq.tv.
 

Pengalaman pertama saya menggunakan HOOQ terjadi di sebuah kedai minum. Saya memang biasa ke sana untuk blogging atau mengakses beberapa hal yang bisa membuat saya terinspirasi dan termotivasi. Saya mengakui bahwa saya lebih banyak singgah ke beberapa tempat seorang diri. Bukannya mau RR, tapi memang LDR militan kadang bertingkah seperti jomblo profesional, Ndes.
Q: RR itu apa? A: Riya’ Relationship
Jadi waktu itu saya sedang gabut di kedai minum seorang diri. Saya tidak bisa mengakses beberapa situs download film ilegal karena terblokir oleh ajian puter gilingnya si wifi. Sementara saya sedang tidak konsen blogging karena ada kumpulan anak sekolah unyu-unyu yang berisik sekali main UNO. Sepertinya para pemain UNO berseragam OSIS ini merupakan keturunan murni dari Laskar Pasoepati. Ramainya bikin libido dan dopamin saya meronta-ronta menagih kepuasan dari film.

Eits, bukan film porno. Saya cuma ingin nonton film Hollywood biasa saja, kok. Yang aktrisnya Sasha Grey.

Tapi dari mana saya bisa menonton film jika situs-situs pemasok film yang selama ini kukunjungi tidak mendapat izin akses? Bak Bruce Banner dengan Natsha Romanoff, saya mendapat  saran dari kekasih untuk nonton film melalui HOOQ. Maka lekas saja saya unduh aplikasinya. 

Dengan perasaan riang gembira, saya melakukan instalasi HOOQ. Sayangnya...


Pancen Ilham i utekke keri separo ning laci SD Al-Hilal ketokke. Jelas-jelas no more space itu urusan memori handphone, bukan urusan admin HOOQ. Kok ya masih mengadu, cah edan!

Sebenarnya ruang yang diperlukan tidaklah besar. Hanya saja sd card saya memang sedang rusak. Sementara memori internal sudah kepenuhan aplikasi lain. Maka jadilah saya uninstal Instagram. Yha! Demi film! Hash, ra urusan karo feed lan instastory-mu. Situasinya sudah genting nih. Butuh Sasha Grey!

Akhirnya, HOOQ pun terinstal. Hati riang. Mimpi basah tidak lewat masa tenggang. Wow, Laskar Pasoepati tercengang!

Ngomong opo, sih?!

Ya begitulah pertemuan saya dengan HOOQ. Setelah aplikasi ini terpasang, lekas saja saya geledah-geledah segala fiturnya. Wah, menarik. Menarik sekali. Saya benar-benar bungah dengan datangnya HOOQ di dalam list aplikasi saya. Meski ada beberapa hal yang membuat saya berpikir, “Kok gak dibuat gini ya” atau “Kalau ada gini dan gitu bisa tambah membantu pengguna, nih.” Namun secara umum saya puas dengan HOOQ. 

Supaya lebih jelas, berikut saya sertakan kelebihan dan kekurang HOOQ menurut saya.


Namanya juga aplikasi buatan manusia, tentu ia tidak hadir serta merta dalam keadaan sempurna. Ada kekurangan yang pastinya akan selalu dikembangkan lagi kualitasnya.

Yak, saya kira sudah segini saja yang mau saya ceritakan. Informasi seputar langkah-langkah lengkap menggunakan HOOQ dengan berbagai skrinsyutan dari aplikasi HOOQ sudah disajikan oleh peserta lomba yang lain dan.. Dan.. Dan siapa pula yang mau menelusuri “tutorial menggunakan HOOQ”, anjer? Lha wong HOOQ ini memakainya gampang bingit. Saking gampangnya, nggak sengaja mencet saja udah bisa ngeplay film. Wuasyem tenan og. Zaman sekarang itu nyoblos wakil rakyat lebih rempong daripada nonton film, Ndes.
 
Jadi, ya sudah, ya. Iya, ini tulisan buat ikut lomba HOOQ. Doakan supaya saya menang. Tapi sebelum itu, alangkah baiknya jika kamu berdoa untuk kedua orangtua dulu. Lalu doa keselamatan dunia dan akhiratmu. Baru doakan saya menang. Tapi jika memang tidak ikhlas mendoakan saya, ya tidak usah saja tidak apa-apa. Asal kamu mendoakan peserta lain kalah. Amin. 


Update tulisan: Ternyata kalah, gaes. Doamu ra ono sing manjur. Yuk, kita bermuhasabah diri.

Follow Us @soratemplates