Pages

Quick Review: Boss Baby (2017)




Sebagai anak terakhir dari empat bersaudara, saya kok jadi merasa berkecil hati seusai nonton film Boss Baby, ya? Hmm.

Boss Baby ini merupakan film animasi bergelar komedi yang diadopsi dari buku yang ditulis Marla Frazee dengan judul yang sama. Film yang digarap oleh DreamWorks Animation ini menjadi sajian yang menarik untuk ditonton anak-anak dengan bimbingan orangtua.

Lho, kok bimbingan orangtua? Ini kan film animasi anak?


Lha memangnya kalau film animasi anak begitu lantas anak-anak yang nonton bisa paham dengan sendirinya? Bisa mengambil pesan postifnya? Saya kok tidak yakin akan hal tersebut, ya.

Menurut saya, orangtua perlu hadir untuk nonton film ini bersama dengan anak-anaknya. Bukan karena menjaga agar terhindar dari tayangan porno (yaelah lihat bayi bugil doang), tapi agar si anak dan orangtua memiliki referensi yang sama. Hal ini berguna sebagai suku cadang bahan obrolan, lho.

Misal, ketika si anak takut naik sepeda. Orangtua bisa mengingatkan scene di mana Tim berhasil menghadapi ketakutan yang serupa. Seriously, scene yang saya maksud ini adalah salah satu favorit saya. Setidaknya, punchline-nya sukses membuat saya menghela kata, “Asu!”

Kembali pada keresahan saya di awal tadi, Boss Baby mengawali ceritanya dengan seorang anak bernama Tim yang benci dengan kedatangan dedek bayi di silsilah keluarganya. Pasca bertambahnya anggota keluarga itulah, Tim merasa dirinya kurang mendapat kasih sayang dari orangtua.

Saya jadi membayangkan saja, jangan-jangan dulu saya juga membuat mas dan mbak saya merasa demikian. Jangan-jangan dulu sewaktu bayi saya juga mengenakan setelan jas yang necis. Jangan-jangan dulu saya juga mengorganisir bayi-bayi di desa setempat. Dan jangan-jangan saya pun dulu membaca koran yang ukurannya sebesar tubuh bayi.

Duh, pengimajinasian terhadap bayi dalam film ini bikin tergelitik. Menarik dan fresh.Ya setidaknya saya sih tidak pernah terpikir hal yang sama sebelumnya.

Boss Baby ini menawarkan gagasan baru yang mendobrak keyakinan kita perihal asal usul bayi. Menurut film ini, bayi tidak dikreasikan dengan pergumulan cairan itu tuh ehem ehem. Namun, bayi sedari awal memang sudah ada dalam jumlah yang sangat banyak. Mereka berada dalam perusahaan bernama Baby Corp yang dikelola oleh bayi-bayi dewasa.

Jadi ceritanya, ada susu sakti mandraguna yang jika diminum maka para bayi akan abadi sebagai bayi. Akan tetapi, akal dan suaranya dalam keadaan dewasa. Nah, para bayi dalam kategori spesial inilah yang mengelola Baby Corp. Sedangkan bayi-bayi biasa yang tidak mendapat asupan susu sakti lantas dikirim ke rumah sakit bersalin untuk diklaim sebagai anak dari ibu yang seolah-olah (dan dipercaya) telah melahirkan.

Kalau mau dibilang terlalu konyol ya bilang saja konyol. Memang kok gagasan filmnya kurang tertib. Tapi, sekali lagi, film ini tetap film animasi anak. Wajar jika ada logika yang dipatahkan oleh film ini guna membangun cerita yang liar akan fantasi.

Lha wong konfliknya saja nggapleki sekali. Bagaimana tidak? Menurut film ini, kasih sayang orangtua ke anak (bayi) akan bergeser kepada anak anjing. Apalagi perusahaan Puppy Co akan meluncurkan sebuah inovasi bernama Puppy Forever, yaitu di mana anak anjing yang lucu-lucu itu akan abadi kegemasannya.

Para puppy itu tidak akan pernah beranjak dewasa gara-gara diberi formula susu sakti mandraguna, sehingga orang-orang dewasa akan selalu memperhatikan si puppy selamanya. Pada titik inilah kebahagiaan para bayi terancam. Maka diutuslah seorang bayi spesial dari Baby Corp untuk menyelesaikan ancaman ini.

Demi ketentraman paradigma anak-anak terhadap wacana kebayi-bayian tersebut, maka saya menganjurkan agar film ini tidak hanya ditonton oleh anak-anak saja. Tapi juga orangtua. Buat jaga-jaga juga semisal si anak tiba-tiba penasaran dengan pernyataan yang dicetuskan oleh bayi spesial tersebut, “Jika orang-orang tahu dari mana bayi datang, mereka takkan mau punya bayi. Sama seperti hotdog.”

Kan para bapak bisa sedikit menggelincirkan pernyataan itu jadi, “Kalau kamu tahu dari mana biaya buka YouTube berasal, kamu tak akan mau membuka YouTube.”

Lalu saat sarapan mulai disiapkan, tiba-tiba saja si anak bilang ke ibunya. “Buk, Buk. Kalau ibu tahu dari mana bapak pergi semalam, ibu nggak akan mau bapak pergi malam-malam.”

Demi mendengar hal tersebut, si bapak segera mindik-mindik ke selokan belakang rumah seraya mengosongkan saku celananya dari segepok kartu gaple, dua butir dadu, dan satu botol bedak Rita lengkap dengan koin karambolnya.

“Paaak! Dirimu apa main judi lagi?!” Lastri berjalan cepat, menyincing dasternya, dan mengacung-acungkan garpu tala.

“Ampun, Bu’e. Aku cuma mau cari hiburan sebentar saja. Cuma semalem kemarin saja. Suwer.”

Suwer-suwer lambemu ndower. Hiburan ya hiburan. Tapi ya nggak usah judi. Kamu itu kalahan, asu.”



Image source: bukapintu.co

Ilham Bachtiar

Blogger kalang kabut yang doyan menulis tentang film. Meski tutur lisannya kurang terjaga, tapi orangnya total berkharisma. Terima usikan di ilhambachtiar25@gmail.com

26 komentar:

  1. Bentar, bentar, aku mau bayangin kamu badannya bayik pake jas necis tapi tetep pake popo dan muka om-om...


    Bentar....

    Bent....

    Bb....

    Bwahahahahahahahahahahahak!!!

    Ini gak ada aplikasi buat nge-capture bayangan dalam kepala apa, ya? Kalo di-share bisa viral, nih wkwkwk.

    Aku mau susu sakti mandraguna biar awet muda, ada? Jangan jadi bayik tapi~~~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belengcek! Ena aja muka om om dikampanyekan mulu. Biasa aja ketawanyaa. Gigit nih.
      Kalo minum susu sakti ntar jadi bayik. Gak bisa buat awet mudaa.

      Hapus
    2. Coba gigit mana coba gigitannya? Bayik belum ada giginya mestinya. Aelah lu, cebokin juga, nih.

      Hapus
  2. Aku nonton film iki lagi sekelebat awal. Sekilas, aku bergurau dalam hati kalau film ini ramashooooook blas!

    Opo ya enek bayi cilik necis nganggo jas koyo fashion netisen wae. Malah aku mikir, kui ojo jo bayi nek ditekok I malah njawab:

    "I'm busy enjoying my life darling"

    BalasHapus
    Balasan
    1. bajiluk, aku langsung misuh asu moco komen iki

      Hapus
  3. Hahhaha ngakak sama tulisanmu yg akhir. bruakakaka

    Meski film ini lucu tapi aneh juga sich pake jas haha. Bikin ngakak

    BalasHapus
  4. Iya, daku merasakan banget nih lagi enak-eaknya jadi kakak eh punya adek. Tadinya jadi pusat perhatian lalu cuma jadi pemeran pendukung =(

    BalasHapus
  5. Saya belum nonton film ini nih. Dilihat dari ceritanya menarik sekali. Ceritanya mirip dengan ponakan saya yang gak siap punya adek. Soalnya adeknya dicubit-cubitin, ditarik-tarik dan dipukul.

    BalasHapus
  6. dek lastriii,
    ojo dumeh ngono to dek ambe kulo
    Koe cedak mbe lanang liyo ku ra rido
    Koe ninggalna aku opo koe tego ?

    sekian dan kabooooor....

    BalasHapus
    Balasan
    1. APA CUMA AKU YANG MBACA INI SAMBIL NYANYIK? WAKAKAK FAVORIT NIH VIDEONYA AKU DONLOT BAHKAN! APIK!

      Hapus
  7. Ini ceritanya baby boss apa cerita problematika keluarga dimana bapaknya suka main judi yaa? Asu tenan hahaa...

    Saya suka banget mas Ama film boss baby nih.. emang gak nalar tapi kereen

    BalasHapus
  8. Aku sudah nonton filmnya, dan ngakak pas bagian si bayi mengumpulkan para bayi2 lainnya untuk kopdar di rumahnya...

    Iya betul ham, ini film baby boss itu benar benar membongkar paradigma saya akan namanya film bayi. Film bayi yg tersentral pada film "baby days out" yg lucu kini jadi bertambah dgn film boss baby, yg dgn bangkainya memaksa si orang tua utk selalu fokus memperhatikan si bayi..

    Sebuah film keluarga yg sangat direkomendasikan utk ditonton nih, dan sangat juga layak ditonton oleh mereka2 yg "ingin membuat bayi"

    Sekian

    BalasHapus
  9. Saya belum nonton filmnya. Dari ulasan Mas Ilham kayaknya ceritanya seru. Etapi ...anak-anak memang perlu didampingi ketika menonton baby boss...ya...
    Jadi inget film baby days out, yang menunjukkan kepintaran para bayi ya..

    BalasHapus
  10. filmnya overall bagus banget. walaupun animasi ini animasi dewasa. jadi buat anak anak yang nonton film ini harus diawasi dengan seksama. Lucu juga filmnya seorang bayi yang bersifat dewasa dan bekerja lagi.

    Layak untuk di tonton nih filmnya bagus.

    BalasHapus
  11. Aku belum nonton film nya tapi sudah dapat gambaran. mudah mudahan ada kesempatan buat nonton. Menarik sepertinya

    BalasHapus
  12. huahhaaaaa.... aku udah serius baca review filmnya dari atas, eh endingnya malah melenceng dan bikin ngakak.

    buk lastri..buk lastri..

    BalasHapus
  13. Saya sudah menonton film Boss Baby, sukses membuat saya tertawa. Film yang cocok untuk ditonton untuk bisa tertawa lepas.

    BalasHapus
  14. pernah nonton ini..
    trus jdi bayangin, perasaan & imajinasi anakku kalau mau punya adik. 😁

    BalasHapus
  15. Duh ketinggalan nonton film ini di bioskop. Ternyata filmnya tentang baby vs puppy haha. Imajinasi ceritanya keren banget ya, minum susu sakti biar tetep berujud bayi :D

    BalasHapus
  16. Mungkin tulisan ini akan lebih enak dibaca jika enggak kebanyakan a** nya, kalau kaya gini, ini postnya dibuat rate 17+ juga deh jangan lupa. Terus, iya saya setuju film animasi tidak semuanya bisa ditonton anak dengan bebas. Contoh yang konkret dari tulisan ini adalah referensi bahwa bayi bugil porno, it is only pedophile thought so. Serius tulisan ini harus di-rate 17+.

    BalasHapus
  17. aku belum nontoooonnn
    hahahaha

    eh, bedak rita beli di mana ya Ham? jarang lihat ygjual sekarang ini.

    BalasHapus
  18. Sibling rivalry memang secara normal bisa terjadi, ham. Apalagi kalo misalnya usianya dekat. Jadi penasaran dgn filmnya.

    BalasHapus
  19. Kalau menurut saya sih, film ini harus di bawah bimbingan orang tua.

    BalasHapus
  20. Sumpah. Pertama gua kira ni film beneran buat anak.
    Keren ni film.

    BalasHapus
  21. Aku nggak suka film ini. Nggak asik.

    BalasHapus

Berkomentarlah sejujur-jujurnya. Sebab menjadi diri sendiri tanpa rasa sungkan adalah sebaik-baik sandiwara.