Pages

Penasaran dengan Wall Street, Akhirnya Belajar Forex Trading


Pernah belajar di kelas IPS tidak lantas membuat saya canggih dalam urusan ekonomi dan akuntasi. Namun, saya memiliki ketertarikan dalam dunia yang melingkupinya. Salah satunya ketika saya membaca buku Occupy Wall Street (2012) yang membicarakan krisis sistem keuangan Amerika Serikat dan aksi massa anti-neoliberalisme September 1917 dan dampak jangka panjang setelahnya.

Artikel ini bekerja sama dengan ForexIMF

Dalam buku tersebut memaparkan secara lengkap sejak berdirinya Wall Street tahun 1640-an hingga krisis yang terjadi dari tahun ke tahun. Saya begitu antusias membaca topik yang diulas ini karena berhasil membuka wawasan saya tentang dunia perekonomian global, baik dari kekuatan dahsyat yang dimiliki Amerika Serikat dalam menguasai pasar hingga gerakan perlawanan yang sukses menggoyang kestabilan hegemoni tersebut.

Hal ini semakin dipertegas ketika saya menonton sejumlah film terkait. Sebut saja Trading Places (1983), Wall Street (1987), Boiler Room (2000), Inside Job (2010), Too Big To Fail (2011), dan tentu saja The Wolf of Wall Street (2013). Menonton rentetan film tersebut membuat saya bertanya-tanya, “Sebenarnya bisnis apa sih yang dikerjakan?”

Sebab kalau dagang saja, orangtua saya juga dagang. Puluhan tahun mereka mengelola toko kelontong di kawasan Kartasura dan sampai detik ini tidak lantas membawa mereka jadi CEO ternama yang kekayaannya tak terbatas. Yaiyalah, ya, hla wong yo paling banter jualan sabun sama mie instan. Jangankan jadi milyader, wong kalau ada pengamen saja kadang sembunyi dibalik kertas HVS bertuliskan: Sedang sholat.

Beruntungnya, beberapa hari yang lalu saya mendapat kesempatan untuk mengikuti webinar (seminar online) yang diadakan oleh ForexIMF. Dalam webinar ini saya mendapat banyak sekali pencerahan dari keheranan saya seputar bisnis Wall Street, bahkan sampai yang praktis sekalipun. Untuk itulah kali ini saya akan menceritakan beberapa hal yang saya pahami soal bisnis tersebut. Ya, barangkali ada yang penasaran juga seperti saya. Yuk, siapkan kopimu. Mari kita biacara soal bisnis.

Forex Trading

Sebelumnya sudah ada yang pernah mendengar istilah “forex”? Katakan tidak katakan tidak. Oke, begini. Forex adalah akronim dari “Foreign Exchange” atau pertukaran mata uang asing. Atau pada pelajaran sekolah sering disebut sebagai valuta asing (valas). Otomatis kita akan membicarakan nilai suatu mata uang ke mata uang yang lain, kita mengenal ini dengan istilah “kurs”.

Saya yakin ‘perdagangan mata uang’ tidak akan terhenti selama kita masih menggunakan uang itu sendiri untuk melakukan transaksi. Bahkan melalui ForexIMF, saya mendapat keterangan bahwa perdagangan ini memiliki volume yang sangat besar, yaitu lebih dari tiga trilyun dollar per hari! Maka wajar saja jika pialang saham sekelas Bruce Wayne dengan mudahnya membeli hotel mewah hanya untuk kecipak-kecipuk di kolam hias.

Lalu ada yang bertanya, “Perdagangan mata uang? Bukankan uang adalah alat pembayaran? Lantas apa yang dijual dan apa yang dibeli?”

Ehem. Sini, Dek. Abang pangku sambil jelasin dengan kesoktahuan yang totaliter ini. Jadi gini, kamu pernah apa tidak menukar mata uang rupiah (IDR) ke dollar (USD)? Jika pernah, sebetulnya pada saat itu kamu sedang terlibat transaksi forex.  Ketika kamu ‘menukar’ rupiah ke dollar, pada dasarnya kamu itu sedang menjual rupiah dan pada saat yang sama juga membeli dollar. Jadi itu tidak sekadar menukar, tapi ada penjualan dan pembelian yang terjadi.

Nah, transaksi tersebut biasanya kita temukan di gerai money changer atau bank. Tapi ketika era digitalisasi makin menggila seperti sekarang, kita tidak harus melakukannya sekonvensional itu. Sudah ada internet. Transaksi forex pun bisa kita lakukan secara online. Bisa sambil nonton Doraemon di pagi hari atau nonton Dunia Terbalik di malam hari. Ngomong atuh, Ceeeng.

Untuk lebih jelasnya, berikut saya ulas beberapa poin yang mungkin bisa menjawab rasa penasaran kita soal bisnis forex. Eh, kopimu masih? Kalau habis, coba bikin lagi. Duh, emang paling enak ngomongin bisnis gini sambil ngopi. Kalau udah ngopi, jangan lupa paste. Ehem. Lawas.
1. Objek yang diperdagangkan apa, sih?
Tentu saja ‘uang’. Dalam bisnis ini kita mentransaksikan kontrak berdasar nilai dari mata uang tersebut. Sederhananya gini, anggap saja dalam transaksi mata uang, kita sedang ‘membeli saham’ negara tertentu.
2. Butuh modal besar?
Bisa jadi, ya, butuh modal besar. Tapi jangan khawatir, bukankah kita kenal dengan alat bernama dongkrak yang membuat kita mampu mengangkat mobil ratusan kilogram? Lah, apa hubungannya sama dongkrak? Itu hanya analogi saja. Karena dalam bisnis ini kita akan mengenal yang namanya ‘leverge’ di mana fungsinya tidak beda jauh dengan dongkrak.

Contohnya begini: Kita coba menerapkan leverage 1:1000, maka modal yang kita perlukan cuma $1,000 (sering disebut ‘margin’) untuk melakukan transaksi $100,000 (sering disebut ‘contract size’). Artinya, modal kita untuk menjalankan bisnis ini hanya 1%. Padahal kalau secara konvensional mau tidak mau untuk transaksi $100,000 ya harus dengan modal $100,000.
3. Untuk mendapat keuntungan apakah sulit?
Lah, lebih sulit memecahkan kode-kodenya mantanmu yang sudah rabi! Jadi tenang saja, asal tahu strategi jitunya. Arah transaksinya sih sederhana, naik dan turun. Ketika harga sedang naik, maka transaksi Buy/Long bisa kita lakukan untuk mencari keuntungan. Uniknya, kalau harga sedang turun kita tidak lantas rugi. Kita bisa melakukan transaksi Sell/Short untuk meraih keuntungan juga. Kalau tertarik cobalah main ke ForexIMF, ada banyak tutorial dan penjelasan yang lengkap di sana.
4. Waktu transaksinya kapan?
Perdagangan forex ini berlangsung 24 jam sehari dan 5 hari seminggu. Hal ini disebabkan oleh pasar finansial dunia yang berjalan silih berganti dalam sehari. Ini kalau online, lho, ya. Kalau konvensional tentu waktunya lebih terbatas lagi. Harus nunggu gerai money changer atau bank buka dan tutup.  Duh, kesuwen. Lak yo mending nunggu KUA buka.
5. Pertanyaan terakhir, bisnis seperti ini legal tidak?
Jika melihat dari beberapa film yang saya sebutkan di atas memang ada yang menjalankan bisnis serupa dengan cara ilegal. Namun, tidak melulu begitu. ForexIMF adalah salah satu tempat untuk melakukan bisnis trading forex yang telah memiliki payung teduh. Eh, salah, payung hukum.  Bisnis ini telah diatur oleh Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 1997 Tentang Perdagangan Berjangka Komoditi. Perdagangan berjangka inilah yang kita sebut-sebut tadi sebagai ‘trading’, di mana transaksinya diawasi langsung oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI) dan Tuhan Yang Maha Mengetahui.

Jika legalitas sudah didapat maka yang jadi kekhawatiran adalah aman atau tidaknya, bukan? ForexIMF yang sudah memiliki izin resmi ini akan menyimpan dana kita di rekening terpisah (segregated account) yang diawasi oleh pemerintah. Rekening itu sendiri harus disetujui oleh BAPPEBTI dan Kliring Berjangka Indonesia, jadi bukan sesuka hati ForexIMF.


Nah, itu tadi ulasan singkat soal trading forex yang saya dapatkan melalui webinar bersama ForexIMF. Saya sendiri sudah mencoba mendaftar di ForexIMF.com dengan akun demo yang berlaku selama satu bulan. Melalui akun demo itu kita bisa mencoba-coba melakukan trading. Tidak perlu modal dulu, kita sudah bisa langsung praktik. Saya juga sudah menginstal aplikasi trading yang mirip di film-film dan tiba-tiba berasa jadi broker ulung. Duh, norak.

Saya bersyukur bisa mengikuti webinar ForexIMF karena mendapat penyegaran wawasan baru. Awalnya sulit memang. Lha mau bagaimana lagi, biasanya saya mencerna pengetahuan tentang film, seni, dan budaya pop lain seperti perseteruan akun TNBG dengan GB misalnya. Namun ketika saya baca-baca lagi mengenai trading forex ini, hmm, saya lumayan paham dan sepertinya menarik juga. Apalagi pihak ForexIMF sangat terbuka sekali jika kita memang butuh bantuan buat belajar lebih. Asal tidak minta dibeliin pulsa saja.


Sepertinya sudah itu saja yang ingin saya ceritakan dalam postingan kali ini. Jika teman-teman ada yang berminat dengan trading forex atau masih penasaran dan ingin mengusutnya lebih jauh, teman-teman bisa langsung masuk ke sini. Semoga bermanfaat, ya. Kalau sudah jadi sekelas Belfort ojo lali karo aku, lho. Sampai jumpa di tulisan saya selanjutnya.


Image source: pexels.com

Ilham Bachtiar

Blogger kalang kabut yang doyan menulis tentang film. Meski tutur lisannya kurang terjaga, tapi orangnya total berkharisma. Terima usikan di ilhambachtiar25@gmail.com

2 komentar:

  1. Untuk bisnis jangka pendek, forex ini emang menggiurkan sih. 'maennya' gampang. Tapi kalo diniatin untuk jangka panjang (investasi), mendingan inves berupa saham atau tanah. Tanah warisan mertua lebih enak...

    BalasHapus
  2. Aku merasa tercerahkan. Ada niat untuk belajar trading gini, seenggaknya bisa cari duid tambahan dari rumah saat jadi buibuk nanti~ Zaga sebagai ekonom menyarankan dan menginginkan calon istrinya belajar saham biar bisa kaya di rumah wkwk

    Foreximf broker kan ya? Aman? Bahayanya apa? *duh maap kepo*

    BalasHapus

Berkomentarlah sejujur-jujurnya. Sebab menjadi diri sendiri tanpa rasa sungkan adalah sebaik-baik sandiwara.