Pages

Pacaran? La Taverna Saja!


Sebagai seorang pemula asmara yang telah kembali menjalin kisah kasih setelah lama menjomlo, tentu saja ada kekhawatiran khusus bagi saya. Salah satunya adalah dengan menetapkan tempat untuk sayang-sayangan.

Dahulu kala, ketika relung hati saya masih gersang, saya pergi ke mana saja nyaris selalu sendirian. Makan sendirian, nonton sendirian, nonton orang makan sendirian, makan orang nonton sendirian dan masih banyak lagi hal yang saya lakukan sendirian.

Nah, pada masa itu saya selalu memburu tempat makan yang cocok buat didatangi seorang diri. Biar keren, saya menyebutnya introvert space.

Lantas ketika hati saya telah bersenyawa dengan kekasih, saya pun harus mengubah cara berpikir tentang tempat makan. Ya, saya begitu antusias dengan perubahan ini karena pada akhirnya saya bisa makan bareng. Tidak lagi sendiri! Bayar parkirnya bisa patungan! Bisa berdiri di depan toilet cewek karena ada yang ditunggu! Yes!

Baiklah, dalam rangka memperingati jiwa berasmara yang sedang membangun peradabannya, saya akan merekomendasikan satu tempat yang cocok untuk beradu kasih. Biar makin asyik, saya kasih kuis saja, ya.

Soal: Coba sebutkan nama tempat yang saya maksud dalam paragraf di atas!

Petunjuk: Tempatnya berada di Solo. Terdiri dari dua lantai. Lahan parkirnya luas. Namanya dikutip dari bahasa Itali, depannya L, belakangnya A, dan sudah saya tulis di judul.

Apa hayoo? Gampang, kan?

Yak, benar! Jawabannya La Taverna!

Wah... Cerdas-cerdas sekali, ya, para pembaca sekalian. Pasti kecilnya suka nonton Dora the Explode. Blaar!

Yuk, Jalan!

La Taverna itu tempat makan hits di Solo yang sangat saya rekomendasikan dari berbagai segi. Makanan dan minumannya enak-enak dan variatif. Tempatnya sendiri sangat nyaman dan elegan. Belum lagi lantunan musiknya yang semakin menentramkan jiwa. Bahkan La Taverna juga menyediakan mini playground buat pengunjung yang membawa batita, lho.

Nah, beberapa hari yang lalu saya berkesempatan buat datang ke La Taverna bersama kekasih dan kawan-kawan dari Komunitas Blogger Solo. Lho? Katanya ini tempat makan yang cocok buat pacaran? Ya mestinya berdua saja, dong!

Lha apa salahnya pacaran sekaligus memotivasi teman-teman lain yang masih jomlo, ya, kan? Inilah yang disebut dalam peribahasa, “Sambil menyelam, minum air.” Jadi usahakan dalam berasmara itu tidak hanya sayang-sayangan saja, tapi juga minum air. Wkwkwk.

Oke, back to topic. Fokus. Fokus.

Jujur saja, La Taverna itu tempat makan yang sejak dulu ingin saya sambangi. Karena jika dipantau dari foto-foto yang beredar di Instagram, La Taverna memiliki tempat yang pasti bikin saya betah berlama-lama wifi-an di situ.

Konsep bangunan La Taverna sendiri adalah perpaduan Jawa-Belanda yang membawa suasana seperti peron kereta api tahun 1935. Saya kurang yakin apakah bangunan La Taverna bisa disebut arsitektur indis. Tentu saja karna arsitektur bukanlah kapasitas saya. Yang jelas saya suka sekali dengan bangunannya yang luas seperti joglo, warna yang dominan dengan hitam dan coklat, perabot interior yang elegan, serta hiasan-hiasan lawas ala Belanda yang semakin memanjakan naluri ke-artsy-an saya.

Penasaran tempatnya seperti apa? Coba lihat beberapa sudut yang telah saya abadikan di bawah ini. Yuk, jalan!


Gambar kiri atas merupakan penampakan lantai 2. Gambar kiri bawah adalah penampakan lantai 1 yang luas. Meja makan rata-rata berkapasitas empat orang, tapi juga bisa kalau mau datang beramai-rama (ada meja panjang, kok).

Yuk, Makan!

Jangan berpuas diri dulu dengan tempatnya yang nyaman. Karena makanan di La Taverna juga tidak kalah menariknya. Menu andalan resto ini adalah aneka jejamuran. Bagi yang sudah muak dengan sajian ayam dan telur di resto-resto lain pada umumnya, La Taverna bisa jadi rujukan yang tepat untuk memvariasikan lidah kita.

Kalau dulu teman saya pernah membuat tagline, “Aku dan kamu bertemu karena buku” untuk toko buku rintisannya. Sepertinya saya harus membuat tagline sejenis yang dipesembahkan untuk La Taverna. Tagline itu berbunyi, “Lidahku dan lidahmu bertemu karena menu.” Eaaa.

Wah, wah, sebenarnya apa dan bagaimana, sih, hidangan ala La Taverna itu? Berikut saya sertakan foto dengan caption berupa reaksi ketika saya mencecapnya.

Omelet Jamur 15K



“Nyamm.. Mmm.. Enak, nih. Mesti dicocol sama saus dulu biar makin mantap. Teksturnya lembut, empuk. Nggak bikin rahang kita kelelahan pas ngunyah. Mmm.. Gurih pula ini. Enak.”

Fuyunghai Jamur 20K



“Nyamm.. Ini saus apa ya yang dituang di atasnya? Manis-manis gurih. Nggak kalah sama omelet. Nyamm.. Mmm.. Enak.”

Crispy Mushroom 12K



“Krezz.. Nyamm.. Krezz.. Mmm.. Krispinya pas banget. Kriuk tapi nggak keras. Rasanya juga enak. Krezz.. Mmm.. Tapi kalau lihat taburannya ini kok jadi ingat mie ayam, ya. Hahaha. Krezz.. Krezzz.”

Sate Jamur 20K



“Nyamm.. Buset. Ini enak satenya. Mudah dikunyah dan bumbunya nggak eneg. Nyamm.. Nyamm.. No comment. Mau kulahap semua. Nyamm.. Nyamm..”

Gule Jamur 15K



“Baru kali ini aku tahu ada gule jamur. Nyamm.. Nyamm.. Huhhah. Segar dan enak! Untuk orang kayak aku yang gampang kepedesan, gule ini sentuhan pedesnya pas. Eh, tapi tadi baru satu lahap saja, sih. Coba lagi, ah. Nyamm.. Nyamm.. Fix. Pasti ini resep awet mudanya Captain America.”

Nasi Goreng Jamur 20K



“Belum disebut resto yang hakiki kalau tidak ada nasi gorengnya. Oke, coba aku makan, ya. Nyamm.. Nyamm.. Kebetulan nggak terlalu pedes. Tapi gurihnya dapet. Nyamm.. Nyamm.. Krezz.. Dimakan pakai jamur gorengnya ini pas banget. Enak!”

Honey Chicken Steak 36K



“Nyamm.. Nyamm.. Nyamm.. Nyamm.. Nyamm..” (Kok nggak ada komentar?) “Nyamm.. Nyamm.. Nyamm.. Nyamm..” (Woy, kasih komentar, woy.) “Nyamm.. Nyamm.. Nyamm..” (Auk lah makan doang, nggak kasih komentar.) “Fhuaahh..” (Buset! Sampai habis seketika. Komentarya mana, woy.) “Hehehehe.. Sorry, sorry. Sumpah ini enak banget, Bro. Ayamnya, bumbunya, sausnya. Sempurna!”

Nah, itu tadi pengalaman saya saat melahap aneka masakan La Taverna. Perlu dicatat, nih. Setiap pembelian aneka jejamuran tadi bisa kita santap bersama nasi putih yang tidak perlu membayar lebih. Sebut saja, gratis! Tentu tidak termasuk nasi goreng atau variasi nasi jamur lainnya. Jadi bagaimana? Penasaran sama menu jejamuran ala La Taverna? Yuk, makan!

Yuk, Rayakan!

Tempat yang luas, nyaman, dan makanannya yang enak tentu menjadi pilihan yang tepat jika kita ingin mengadakan acara di sana. Misalkan saja reuni, meeting, kopdar, pesta ulang tahun, dan tentu saja syukuran berasmara.

Entah menurut undang-undang yang mana, di beberapa daerah di negeri ini telah menerapkan apa yang istilahnya ‘pajak jadian’. Ya, setiap mereka yang punya kekasih biasanya dianggap sebagai masyarakat wajib pajak, lantas mereka dituntut untuk mentraktir sejumlah teman. Untunglah pajak jadian itu hukumnya fardhu kifayah.

Kaitannya dengan hal itu, La Taverna secara revolusioner ternyata bisa mewadahi ajang pembayaran pajak jadian tersebut. Buktinya, saya dan kekasih mempraktekkan itu bersama kawan-kawan blogger solo.

Jadi, di La Taverna ada menu spesial yang cuma bisa dipesan by order, salah satunya ya order buat pajak jadian. Menu tersebut menghidangkan tumpeng-tumpeng unyu yang sayang jika dilewatkan. Berikut ini adalah penampakan dari aneka tumpeng yang saya maksud.

Nasi tumpeng kuning dan nasi tumpeng pandan.

Nasi tumpeng beras merah.

Nasi goreng tumpeng.

Paket tumpengan ini per porsi 30k sudah termasuk es teh dan buah, lho. Minimum pemesanan 20 pcs.

Wah, kamu yang traktir itu semua, Ham?

Ehem. Jadi gini. Kalau menurut Roland Barthes, “Ketika suatu teks terlahir maka pengarang telah tiada”. Sehingga siapapun boleh menafsirkan teks meski akan berbeda dengan apa yang ditafsirkan orang lain bahkan oleh pengarang itu sendiri.

Artinya, ketika aneka makanan tumpeng itu tiba di meja kami, seketika itu pula saya menafsirkan bahwa ini adalah pajak saya. Karena peran koki adalah memasak, peran kawan-kawan blogger adalah memakan, lalu peran saya adalah memaknai. Dan saya memaknai tumpeng-tumpeng lezat itu sebagai persembahan saya kepada kawan-kawan blogger.

Sungguh mulia hati ini.

Wkwkwk.

Jadi tunggu apa lagi? Yuk, rayakan!

Saya rasa sudah semua yang ingin saya ceritakan soal La Taverna dan ruang lingkup asmara yang menaunginya. Semoga tulisan ini bisa memberi informasi yang berguna bagi para pembaca sekalian. Memangnya tulisanmu berguna, Ham? Ah, ya, minimal kita jadi tahu kuliner asyik yang ada di Solo, gitu, lho. Saking asyiknya, saya malah terbayang jika La Taverna itu bisa dipakai untuk acara ijab qabul. Terus nanti ada yang nulis, “Lamaran? La Taverna Saja!” Gimana? Mbois opo, ra?


Akun Instagram La Taverna: @latavernasolo

Peta Lokasi La Taverna:




Source pict: dokumentasi pribadi. 

Ilham Bachtiar

Blogger kalang kabut yang doyan menulis tentang film. Meski tutur lisannya kurang terjaga, tapi orangnya total berkharisma. Terima usikan di ilhambachtiar25@gmail.com

5 komentar:

  1. Bisa diri di depan toilet cewek karena ada yang ditunggu wahahaha sungguh benar-benar alasan yang warbiyasak!

    Ayuk pacaran di la taverna lagi. Atau tempat lain juga boleh. Pacaran bersponsor. If you know what I mean wkwkwk

    Ehm, jadi kapan lamarannya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkw sponsor sponsor. Nulis dulu lau, baru nyeponssor lagi.

      Ehm, yuk KUA.

      Hapus
  2. Mbok kamu tanya aku nek pengen tau tempat sayang-sayangan di Solo...

    Tertanda,

    Expertise Pacaran Setara KPR

    BalasHapus
  3. Kirain mau ngajak kesana lagi buat pajak jadian. Heuh..

    Atau jangan-jangan kemarin kalian sekalian survey tempat buat prewed ya? Aseeeek..

    BalasHapus
  4. Sebagai seorang jomblo, apakah baik jika saya mengunjungi La taverna bang? Selaiknya tempat khusus merokok, apakah disana ada tempat khusus jomblo?

    :(

    BalasHapus

Berkomentarlah sejujur-jujurnya. Sebab menjadi diri sendiri tanpa rasa sungkan adalah sebaik-baik sandiwara.