Pages

Upaya Sinar Mas Menghadapi Deforestasi


Muncul opini dalam masyarakat kita tentang pemberatansan beribu-ribu hektar lahan hutan yang disebabkan oleh ganasnya perusahan-perusahan yang produknya berbahan dasar kayu. Apa benar mutlak demikian? Mari kita telisik bersama.

Artikel ini bekerjasama dengan Sinar Mas
Proses penghilangan hutan alam untuk diambil kayu-kayunya atau pengubahan lahan hutan menjadi lahan non-hutan baik dengan cara penebangan maupun pembakaran sering disebut dengan istilah deforestasi.

Melalui situs Ensiklopedi Jurnal Bumi, saya mendapatkan data yang begitu mencemaskan. Yaitu kenyataan bahwa setiap tahun, sekitar 12-15 juta hektar hutan lenyap dari muka bumi. Gambaran mudahnya gini, setiap menit bumi ini kehilangan lahan hutan yang luasnya setara dengan 36 kali lapangan sepak bola.

Di Indonesia sendiri dikabarkan mengalami deforestasi yang paling parah. Indonesia telah kehilangan 15,79 hektar hutan tropis dalam satu abad belakangan. Kalau mau dibandingkan dengan negara lain jelas berbeda. Tidak semua negara memiliki luas wilayah seperti Indonesia dengan hutan tropisnya. Paling-paling yang mendekati prestasi buruk ini adalah Brasil dan Republik Demokratik Kongo.

Penyebab Deforestasi

Lebih jelasnya, kita bisa melihat beberapa penyebab terjadinya deforestasi secara umum menurut World Wild Fun (WWF) berikut ini:

1. Konversi Pertanian. Populasi manusia yang terus bertambah membutuhkan lahan-lahan pertanian untuk keperluan pangan. Untuk memenuhi itu perkebunan baru dibuka secara masif dengan cara mengambil lahan hutan.

2. Illegal Logging. Indonesia, Brasil, Kongo, dan Rusia merupakan negara yang subur akan penebangan liarnya. Bahkan, hampir 50% pemanen kayu di hutan merupakan illegal logging.

3. Kebakaran Hutan. Lenyapnya jutaan hektar hutan paling banyak disebabkan oleh kebakaran hutan. Bahkan jumlah konversi pertanian dan illegal logging jika dijumlahkan belum bisa mencapai angka kerusakan hutan akibat kebakaran yang terjadi setiap tahunnya.

4. Konsumsi Kayu Bakar. Penggunaan kayu sebagai bahan bakar dinilai masih signifikan digunakan di seluruh dunia hingga menjadi penyebab deforestasi dalam skala yang besar.

Saya telah merangkum ulasan di atas dalam infografis berikut ini ditambah dengan akibat yang terjadi terhadap deforestasi tersebut.


Mari kembali pada pertanyaan yang mengawali tulisan ini, “Apakah dalang dari deforestasi ini adalah perusahaan-perusahaan besar yang mengeksploitasi hutan untuk kepentingan bisnis?”

Baiklah, untuk menyelaminya lebih dalam, saya akan coba berangkat dari perusahaan Asia Pulp & Paper (APP) yang berinduk pada PT Sinar Mas. APP Sinar Mas memproduksi aneka macam kertas guna memenuhi berbagai kebutuhan dalam skala dunia. APP Sinar Mas berkembang menjadi industri berkapasitas produksi hingga 12 juta ton per tahun yang menjangkau 120 negara.

Di sini kita sama-sama tahu jika bahan dasar dari pembuatan kertas adalah serat kayu yang didapat melalui pohon-pohon di lahan perhutanan. Dengan angka produksi yang fantastis tersebut, wajar saja jika kita secara membabi buta menyalahkan perusahan-perusahaan besar atas terjadinya deforestasi.

Akan tetapi, setelah saya menelusuri tentang sepak terjang APP Sinar Mas, saya mendapati bahwa mereka merupakan perusahaan yang justu memiliki kepedulian yang besar terhadap pelestarian hutan. Bagaimana bisa begitu? Berikut adalah hal-hal yang dilakukan oleh APP Sinar Mas kaitannya dengan lahan perhutanan.

1. Dilansir dari Liputan6.com, menyatakan bahwa APP Sinar Mas secara agresif telah melakukan upaya pencegahan kebakaran lahan hutan di wilayah kerja mereka, termasuk Riau sejak Januari 2016. Dalam upaya ini, mereka menggunakan teknologi geothermal.

Geothermal merupakan teknologi yang pertama kali ini digunakan di Indonesia untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan. Teknologi ini mampu menangkap berpedaan suhu dan mengidentifikasi titik api yang seringkali luput dari pantauan mata. Dengan geothermal tersebut, kita bisa melacak pusat kebakaran sejak dini. Sebab selama ini kebakaran hutan baru diketahui ketika api sudah menyala cukup besar sehingga kesulitan mengontrol penyebarannya.

2. Melalui CNN Indonesia, saya mendapat data bahwa APP Sinar Mas telah mengalokasikan dana sejumlah Rp390 miliar untuk mempersiapkan enam unit helikopter, yaitu tiga Super Puma, dua unit jenis B3 dan satu unit Bell 412.

Seluruh helikopter tersebut beroprasi di wilayah konsesi Sinar Mas Forestry dan mitra APP, seperti di wilayah Riau, Jambi, Kamimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Sumatera Selatan.

Melalui helikopter-helikopter tersebut APP Sinar Mas berharap mampu mencegah terjadinya kebakaran yang meluas, sebab dengan menggunakan teknologi water bombing persebaran api yang menjalar lebih cepat dikendalikan daripada akses darat.

3. Kali ini warta datang dari situsweb Bisnis.com yang mengungkapkan bahwa Sinar Mas telah melakukan replanting di area perkebunan Riau selama bertahun-tahun. Replanting atau peremajaan adalah upaya penggantian tanaman perkebunan yang sudah tua atau tidak produktif lagi dengan yang baru.

Sejak tahun 2012, secara bertahap Sinar Mas telah menghasilkan produktivitas 27 ton tandan buah segar per hektar (TBM/Tanaman Belum Menghasilkan) atau 7 ton minyak sawit mentah (CPO/Crude Palm Oil) per hektar. Upaya replanting ini ditargetkan selesai pada tahun 2025, jika ditambah dengan perkebunan plasma akan sampai tahun 2027.

79 Tahun Sinar Mas #SM79

Source: @Sinar_MasId
Beberapa upaya APP Sinar Mas dalam menjaga lingkungan dan meningkatkan produktivitas tanaman tersebut memberi kelegaan bahwa perusahan besar tersebut tidak seluruhnya mengeksploitasi untuk keperluan bisnis semata, namun juga memberi kontribusi yang nyata ke arah positif.

Sinar Mas sebagai perusahaan senior telah berdiri sejak tahun 1938, sehingga pada tahun ini perusahaan tersebut menapaki usia yang ke-79. Asian Pulp & Paper (APP) hanyalah satu dari enam pilar bisnis yang dimiliki oleh Sinar Mas. Kelima sisanya yaitu, Agribisnis dan Pangan, Layanan Keuangan, Pengembang dan Realestat, Telekomunikasi, serta Energi dan Infrastruktur.

Sinar Mas telah banyak mengantongi segudang prestasi sepanjang sejarahnya berkiprah baik dalam negeri maupun luar negeri. Berbagai kegiatan pun mereka realisasikan untuk menunjang kelestarian lingkungan, kesejahteraan masyarakat, serta mendorong maju perekonimian Indonesia.

Salah satu penghargaan yang di dapat oleh Sinar Mas pada tahun ini adalah Certificate of Vietnam Environment Administration (VEA) untuk program Desa Makmur Peduli Api (DMPA) dalam ajang Eco-Products International Fair (EPIF) 2017 di Vietnam. Penghargaan ini adalah yang kedua kalinya dari EPIF kepada Sinar Mas terhadap keberhasilan menjalankan bisnis ramah lingkungan.

Sementara itu, APP Sinar Mas saat ini juga hadir dalam perhelatan Trade Expo Indonesia di Indonesia Convention Exhibition (ICE)-BSD City, pada tanggal 11-15 Oktober 2017. Acara ini merupakan pameran perdagangan yang diselenggarapan oleh Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementrian Perdagangan Republik Indonesia.

Sepanjang Trade Expo yang telah selesai diselenggarakan, Sinar Mas sudah dianugerahi penghargaan Primaniyarta sebanyak lima kali. Primaniyarta itu adalah penghargaan tertinggi yang diberikan Pemerintah Indonesia melalui Kemendag kepada eksportir yang dinilai paling berprestasi dan bisa menjadi teladan.

Selengkapnya, kita bisa mengikuti perkembangan Sinar Mas melalui akun media sosial berikut:
Instagram: @sinar_masid
Twitter: @Sinar_MasId
Facebook Page: Sinar Mas


Nah, itu tadi ulasan mengenai fenomena deforestasi dan upaya Sinar Mas dalam menjaga kelestarian hutan. Dari dua hal tersebut harapannya kita tidak sewenang-wenang menyalahkan perusahaan-perusahaan besar yang memang memproduksi barang-barang yang bahan dasarnya di dapat dari hutan. Singkat kata, yang menjadi ancaman serius terhadap deforestasi adalah praktek illegal logging dan aneka macam eksploitasi hutan yang tak bertanggungjawab lainnya.

Demikian tulisan ini saya sudahi, semoga pesan yang ingin saya sampaikan dapat diterima oleh teman-teman pembaca. Jika ternyata tidak sampai, ya paling tidak ada informasi bermanfaat begitulah.

Jika ada yang bertanya-tanya, “Kok pembahasannya serius begini? Tidak seperti biasanya.” Jujur saja, membahas deforestasi adalah membahas tragedi. Dan itu bikin saya sedih. Membicarakan tragedi dengan bercanda itu kurang ajar sekali. Kecuali, lagu-lagu dangdut koplo. Sebab setragis apapun kisah cintamu, dangdut koplo mampu mentrasformasikannya jadi menyenangkan.

Ilham Bachtiar

Blogger kalang kabut yang doyan menulis tentang film. Meski tutur lisannya kurang terjaga, tapi orangnya total berkharisma. Terima usikan di ilhambachtiar25@gmail.com

4 komentar:

  1. Jatuh cinta dengan paragraf terakhir.
    Senjata pamungkas paling mutakhir!

    Salam kenal dari bumi Borneo.

    BalasHapus
  2. Kenapa ada dangdut koplo dalam tulisan yang bertajuk deforestasi?

    Tahan mang tahan...

    BalasHapus
  3. Jadi bercanda atas sebuah tragedi, sebaiknya dihindari ya bang. Oke, saya belajar akan hal ini.

    BalasHapus
  4. Nek perusahaan gede macam Sinar Mas gini, punya lahan khusus / lahan sendiri buat nanem pohon nggak to, Ham? Apa tetep ngambil serat kayu dari pohon-pohon yang ada di hutan sana?
    *komen sok serius - tapi ora mutu* XD

    Tiap menit hilang 36X luas lapangan bola?
    Gilaaaa, yo iso gundul tenanan iki.

    BalasHapus

Berkomentarlah sejujur-jujurnya. Sebab menjadi diri sendiri tanpa rasa sungkan adalah sebaik-baik sandiwara.