Pages

Jejak Awal di Jakarta


Salah satu kemuakan saya selama dua puluh empat tahun adalah tinggal di kota yang sama melulu. Setiap hari terbangun dalam keadaan jenuh dan malas karena semua terlihat sama. Terlebih, semua itu hampir terasa nyaman dan aman-aman saja.

Beranjak dari titik itulah pada akhirnya saya memutuskan untuk pindah. Dari sekian banyak kota yang bisa saya tinggali, saya memilih Jakarta. Selain kota dengan kesempatan kerja yang banyak meski kompetitor pelamar kerja juga tak kalah banyak, di Jakarta setidaknya saya bisa semakin dekat dengan kekasih saya lengkap dengan keluarganya. Icikiwirr.

Dulu, saya memutuskan untuk berhenti kuliah sehingga saya tidak memiliki ijazah perguruan tinggi. Hal ini memicu keraguan di benak orangtua soal keputusan saya untuk pindah. Andai saja orangtua mengerti dunia kekinian, saya sudah pasti menenangkan keraguan mereka dengan anekdot jahil yang dilontarkan kekasih saya: “Ke Jakarta modal apa? Modal follower!”


Lha mau bagaimana lagi? Dewasa ini lowongan pekerjaan itu kualifikasinya harus memiliki follower sekian-sekian, Dude. Bahkan saya nemu info di Loker.id, ada kualifikasi pelamar yang harus dimiliki itu seperti ini: 

Pria/wanita, usia 18-30 tahun, menarik, kreatif, dan jaman now. 
Bayangkan! Syarat kerja kok JAMAN NOW itu apa anjir?! Udah nggak jelas parameternya apa, masih nggak sesuai EBI pula.

Awal-Awal Kedatangan

Hari pertama sampai Jakarta saya sudah langsung meet up dengan Tiwi, Yoga, dan Aziz. Tiwi adalah kekasih saya. Yoga adalah teman sekolah saya dulu. dan Aziz adalah temannya Tiwi yang baru hari itu juga saya kenal. Pertemuan dengan orang yang berbeda-beda latar belakang selalu menyenangkan bagi saya. Ada saja obrolan-obrolan baru yang seru, kocak, bahkan ora mutu blas yang terjadi di situ.

Esok harinya, saya bergegas mencari kosan. Eh, sebetulnya saya sudah jauh-jauh hari mencari kosan melalui aplikasi Mamikos, sih. Nah, sekalian saja saya bagi tips memilih kosan melalui gawai pintar, ya.

Pertama, akses web Mamikos atau instal aplikasinya di smartphone kita. Di situ kita bisa mencari kos sesuai dengan budget yang kita punya dan lokasi yang kita tuju.

Kedua, cek kos menarik yang kita temukan di Mamikos tadi melalui Google Maps. Biar apa? Ya barangkali ada review atau foto yang lebih menggambarkan situasi kos.

Ketiga, hubungi pengelola kos melalui aplikasi Mamikos tadi.

Keempat, datangi kosnya.

Semudah itu saya dapat kos di daerah Jakarta Pusat. Cukup sekali datang. Tidak perlu door to door. Hasilnya? Saya mendapat kos dengan fasilitas free wifi dan AC. Ruang kosnya sempit memang karena menggunakan konsep sleep box, tapi bagi saya ya cukup. Kasur dan bantalnya empuk dan bersih, lho. Semua fasilitas itu saya dapatkan dengan harga 300.000 per bulan!

Hemat biaya kos. Hemat biaya internet. Bahkan tidak perlu bayar lagi buat air dan listriknya. Yiihaaa~





Setelah saya dapat kos, tempat yang saya tuju berikutnya adalah Perpustakaan Nasional. Sebenarnya perpustakaannya tutup, sih. Tapi yang mau saya datangi di situ adalah acara Tempo Week khususnya sesi bincang blogger bersama Kalis Mardiasih.

Akhirnya, datanglah saya, Tiwi, dan Yoga ke Perpusnas dengan keadaan basah selepas hujan. Untunglah ada bakso di kantin yang bisa mengobati rasa dingin. Saya tertarik buat datang lagi ke Perpusnas karena tempatnya yang nyaman. Lagipula tidak terlalu jauh dari kos. Hmmm..

Hari-hari berikutnya..

Lega rasanya kalau sudah dapat kos. Hari pertama terbangun di kamar kos langsung saya destinasikan rumah Tiwi sebagai target kunjungan saya berikutnya. Ngapain ke rumah Tiwi? Apalagi kalau bukan buat numpang makan gratis. Hahaha. Nggak kok.

Silaturahmi sama mertua. Haseek.

Syukurlah Bapak dan Ibunya Tiwi menyambut dengan hangat. Meski masih agak canggung buat ngobrol banyak hal. Not suprised, sih. Lha wong sama orangtua sendiri saja saya juga canggung. Hahaha.

Sudah terhitung lumayan sering ke rumah Tiwi, sampai-sampai kalau saya tidak datang, orangtuanya Tiwi menanyakan kapan saya berkunjung lagi. Duh, rasa-rasanya kok mau menggantikan Fedi Nuril main film Menantu yang Dirindukan.

Terlepas dari jalan-jalan menyenangkan itu, ada satu yang cukup disayangkan, sih. Kebetulan saja perusahaan yang memanggil saya buat interview kerja ngasih kabar yang kurang enak. Katanya sih, ibu bos yang mau mewawancara tiba-tiba masuk rumah sakit.

Sampai hari ini belum ada kabar lagi kapan jadwal interview berikutnya. Ya, semoga saja beliau lekas sembuh.

Dari waktu ke waktu di tempat perpindahan, saya memantau beberapa hal. Salah satunya adalah ritual subuh. Di rumah saya dulu, Solo, yang namanya waktu subuh itu ya cukup adzan saja. Tapi di sini sebelum adzan subuh sudah ada babe-babe yang ngomong pakai mic masjid begini, “Bapak Ibu yang masih tidur ayo bangun. Banguuun..”

Saya jadi curiga, jangan-jangan kalau bulan puasa warning dari masjid bakal lebih spesifik lagi. Jadi misal babe-babenya bilang gini, “Sudah mau sahur. Ayo banguun. Angetin nasinya. Bikin teh dan siapin sayur. Jangan lupa cek WhatsApp. Banguun. Banguun..” Hadeeh.

Selain itu, ada satu lagi yang saya amati. Yaitu kecenderungan orang-orang yang nanya jalur kereta ke saya. Jadi kalau lagi di stasiun atau malah udah di dalam kereta begitu, ada aja orang yang nanya, “Bang, kereta itu lewat stasiun xxx apa enggak ya?”

Biar beliau tidak degdegan ya tentu saja saya jawab “YA” dengan mantap. Meski di relung hati yang paling dalam sebenarnya saya juga degdegan kalau salah naik kereta. Syukurlah sejauh ini belum pernah salah naik kereta. Baru salah masuk peron sekali. Dan salah jurusan kuliah sekali. Udah itu aja.

Kadang saya suka memuji diri sendiri untuk hal-hal sepele. Misalnya berhasil menemukan tempat makan murah meski dengan cara yang cukup vulgar. Ketika saya hendak makan di warteg, saya pantau dulu level keramahan penjual melalui gerak-geriknya. Jika dirasa beliau cukup ramah, maka saya berani saja pesen makan begini, “Bu, makan di sini.”

Ibunya ngambil nasi, lalu tanya, “Pakai apa?”

Ya kujawab saja, “Apa aja deh yang murah.”

Alhasil, nasi + tempe orek + 1 krupuk pun sudah cukup jadi bekal makan buat satu hari penuh. Lagipula di warteg, teh tawar gratis. Hemat.

Saya orang yang mungkin terlalu perhitungan walaupun tidak menguasai pelajaran matematika. Jadi gini, jika di bawah 12 jam dari waktu saya makan itu ternyata saya sudah lapar lagi. Saya mencoba meninabobokan perut dengan sugesti begini, “Tadi makan di warteg porsinya dua setengah kali makan normal di Solo. Secara statistik harusnya aku tidak lapar di waktu sekarang. Oke, jadi anggap saja lapar ini fatamorgana semata. Bye bye perut halu.”

Nah begitu wkwk.

Nanti kalau jatuh sakit gimana? Saya jarang jatuh sakit kalau puasa, tuh. Bahkan konon, manusia bisa hidup selama tiga minggu tanpa makan, loh. Tapi ada sayaratnya, yaitu tidak melihat makanan apapun selama tiga minggu itu tadi. Hahaha. Nggak akan saya praktekkan juga, sih.

Baiklah, sepertinya cukup ini saja yang mau saya ceritakan. Doakan semoga sehat dan lekas dapat kerjaan, ya. Terima kasih sudah mampir. Sampai jumpa di kegetiran berikutnya.



Image source: pexels.com

Ilham Bachtiar

Blogger kalang kabut yang doyan menulis tentang film. Meski tutur lisannya kurang terjaga, tapi orangnya total berkharisma. Terima usikan di ilhambachtiar25@gmail.com

10 komentar:

  1. Lah emang bang, pas sahur pasti macem-macem kata-kata yang keluar, ditambah lagi yang keliling wkwk. Btw lebih enak di jakarta atau di solo bang?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sahur di kampungku lumayan sunyi senyap, Bro. Wahahaha. Dua-duanya enak kok

      Hapus
  2. Asyuuuik, ngopo salah jurusan ndadak diomongke barang. Ra mutu blas!

    BalasHapus
  3. Welcome to your home~
    Aku udah nulis panjang komennya waktu itu tapi gak bisa di-submit. Embuh kenapa. Heu.
    Ini aku komentar pakai laptop baru, pasti ke-submit. Mari kita coba~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wuii beli laptop baru biar bisa komen di sini. Dedikasimu luar biasa!

      Hapus
  4. Weiih..semoga betah di sana yaa.. aku cukup 4 tahun saja menghirup udara ibu kota. Dan Jakarta, adalah kota yang bikin aku pengen cepet nikah, biar cepet enyah. Haha..

    BalasHapus
  5. Wah Mas Ilham ke Jakarta. Welcome to the jungle ya :D
    Salam buat Tiwiiiii

    BalasHapus
  6. Baca artikel ini yang terngiang adalah : Life starts in the end of your comfort zone. Selamat bertualang, am!

    BalasHapus

Berkomentarlah sejujur-jujurnya. Sebab menjadi diri sendiri tanpa rasa sungkan adalah sebaik-baik sandiwara.