30 Oktober 2018


Hampir setahun aku berada di ibu kota. Masih betah.
Jakarta adalah kota multiverse, di mana kamu bisa bertemu banyak sekali orang-orang dari berbagai daerah yang mengadu nasib atau hanya sekadar iseng berwisata. Yup, tak hanya diserbu oleh para pejuang rupiah saja, kota Jakarta juga memiliki daya tarik tersendiri bagi para wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Meski di sini tidak ada candi yang megah atau air terjun yang menyegarkan, tapi ada banyak selebritas yang bisa kamu ajak foto-foto lucu, kok.
Nah, buat kamu yang hendak berlibur ke kota Jakarta, berikut ini ada beberapa  rekomendasi hotel di Jakarta murah yang paling nyaman, senyaman pelukannya :

1. POP! Hotel Kelapa Gading Jakarta

Pop! Hotel Kelapa Gading Jakarta
Hotel terbaik paling murah dan paling nyaman di Jakarta yang pertama, yaitu bernama POP! Hotel Kelapa Gading Jakarta. -Ingat lho, Kelapa Gading, bukan Kepala Daging.- Nah, hotel bernada ijo-ijo ini berada di Jl. Boulevard Kelapa Gading, Sentra Kelapa Gading, Blok M, Jakarta. Harga per malam di hotel ini sekitar Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu. Sepadan dengan fasilitasnya yang terdiri dari layanan concierge, layanan cuci pakaian, layanan antar jemput bandara, layanan dry cleaning, bar – lounge, kolam renang, Ac, wifi gratis, dan masih banyak lagi.

2. MaxOneHotels at Sabang

MaxOneHotels at Sabang, Jakarta Pusat
Selain POP! Hotel Kelapa Gading Jakarta, MaxOneHotels at Sabang juga merupakan salah satu hotel murah yang jangan sampai kamu lewatkan. Harga sewa per malam di hotel ini sekitar Rp 400 ribu hingga Rp 600 ribu. Hotel bernuansa Jakarte banget ini berada di Jl. Haji Agus Salim No. 24, Jakarta. Lokasinya strategis, nih. Saya biasa mampir mini market di sebelah hotel ini. Beli Granita.

3. Favehotel Gatot Subroto

Favehotel Gatot Subroto, JakSel.
Hotel murah dan paling nyaman di Jakarta yang pertama hadir, yaitu Favehotel Gatot Subroto. Fasilitas yang tersedia di hotel ini berupa layanan concierge, layanan kamar, layanan antar jemput bandara, layanan dry cleaning, akses kursi roda, bar – lounge, restoran, sarapan, wifi gratis, parkir gratis, ruang pertemuan, pusat kebugaran, kolam renang, dan sebagainya. Biaya per malam di Favehotel Gatot Subroto sekitar Rp 500.000 saja. Hotel ungu-ungu anggur ini berada di Jl. Kartika Candra Kav. A9 Karet, Semanggi, Jakarta Selatan, Jakarta. So, apakah you-you mau ber-night di sini? Eh, maaf, ngomongin Jaksel, lidah jadi otomatis hyper-correct gitu.

Nah, sudah, ya. Itulah beberapa hotel termurah di kota Jakarta yang paling nyaman. Cocok juga buat kamu yang butuh tempat menginap di lokasi-lokasi strategis. Fasilitas optimal, harga minimal, dan dapat sendal. Bagaimana? Apakah kamu berminat untuk bermalam di salah satu hotel tersebut?



14 September 2018



Siapa sangka, mahasiswa buronan seperti saya justru bekerja di perkumpulan kajian media, Remotivi. Mungkin ada yang mengira kalau saya tidak menyelesaikan kuliah karena tidak mampu berkutat dengan teori, data, analisis, dan buku-buku tebal. Ada benarnya juga, dan sepertinya ini adalah ganjaran bagi saya. Kabur dari skripsi, malah masuk ke dalam Remotivi.

Awalnya, saya mencicipi profesi sebagai penulis naskah video di sana. Otomatis saya harus membuka kembali buku-buku ‘berat’, membaca banyak hal dari banyak platform untuk riset, hingga diskusi dari siang sampai malam. Kalau kamu pernah melihat video-video di channel Remotivi, pasti pahamlah kira-kira jerih payah yang diperlukan.

Tidak puas dengan hal itu, sepertinya Remotivi cukup bernafsu mengeksploitasi lelaki seperti saya ini. Karena pada bulan keempat sejak saya bergabung, mereka tega-teganya memberi tambahan pekerjaan, yaitu menjadi admin sosial media.

Loyalitas dan ikhlas membuat saya menyanggupi tawaran itu. Halah mbel. Hahaha.

Ya tentu saja karena penambahan gaji! Hari gini kok ngomongin loyalitas dan ikhlas, memangnya nyicil rumah bisa pakai senyum dan motivasi doang apa? Hehehe.

Singkat cerita, jadilah saya agen ganda di Remotivi, sebagai penulis naskah dan merangkap admin sosial media. Sekilas terlihat milenial sekali profesi itu. Sayangnya kenyataan tak semulus yang diharapkan.

Baru-baru ini laptop kesayangan mengalami penuaan dini. Pasalnya, si laptop susah sekali menyala. Ada masalah teknis yang tidak sepenuhnya saya pahami. Asumsi sementara, sih, masalahnya ada di kabel charger. Apalagi battery laptop memang sudah sepenuhnya mampus sejak lama.

Dengan kendala seperti itu tentu saja pekerjaan jadi keteteran. Baik menulis naskah, ngadmin, maupun nulis blog terpaksa saya rangkap semua pengerjaannya di handphone. Dan ternyata aktivitas yang padat di satu handphone bikin battery cepat habis dan sering hang. Kalau sudah begitu, sebaiknya beli laptop dulu atau gawai pintar dulu? Jawabnya: HANDPHONE!

Hehehe. Karena mulai terbiasa mengoprasikan gawai untuk berbagai keperluan, sepertinya beli handphone baru yang canggih adalah keputusan yang tepat untuk saat ini.

Mau Gadget Baru. iPhone X Aja Gimana, Ya?

Handphone canggih memang banyak jenisnya. Tapi kalau mau cari yang terbaik saya rasa produk iPhone adalah jawabannya. Dari dulu sudah ngidam iPhone, sih, namun tidak pernah kesampaian. Sebagai bibit unggul milenial ya kurang afdhol kalau iPhone belum memenuhi saku celana dan ruang-ruang malam yang sunyi.

Mengintip harga iPhone X memang bikin gemeteran. Tapi kalau lihat kemampuannya sih ya wajar-wajar saja kalau si gawai ini dibandrol dengan harga yang demikian renyahnya. Nah, karena kebutuhan digital saya yang begitu tinggi, besarnya RAM dan memori juga mesti mumpuni. iPhone X menyediakan RAM 3 GB dan memori internal 64 GB. Beda jauh dengan gawai saya sekarang. Hahahaha.

Buat pejuang eksistensi online, keperluan memfoto juga jadi pertimbangan penting saat membeli handphone baru. iPhone X berani memanjakan pengguna dengan resolusi kamera yang tinggi. Dan sebagai digital native yang sehari-harinya pasti menyelam di internet, daya tahan battery adalah sebuah kewajiban yang tidak bisa saya tawar lagi. Kapasitas tenaga iPhone X mencapai 2716 mAh dengan prediksi menyala hingga 21 jam! Bye bye powerbank!

Dengan spesifikasi yang seperti itu, siapa sih yang tidak berkeinginan untuk memiliki?

Tentu saja saya mau!

Belanja Online? Main Cantik Yuk Biar Hemat!

Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, saya yang merasa digital banget ini tentu saja membeli handphone di toko online. Di ekosistem olshop kita, ada banyak sekali toko yang menjual gadget canggih dan terbaru. Tapi tidak semua bisa kita eksekusi begitu saja karena biasanya tiba-tiba dompet merasa lelah begitu nominal barang yang mau dibeli ternyata mahal. Kalau sudah begini, ya solusinya cuma satu. Mesti bisa main cantik!

Tidak ribet kok menemukan barang yang diinginkan dengan harga terjangkau. Cukup menggunakan fasilitas yang disediakan iPrice, kita bisa memperoleh target barang dengan perbandingan harga yang mudah dilihat. Misalnya kalau mau cari harga iPhone X, kita bisa memantau berbagai penawaran harga dari masing-masing toko. Kalau mau kredit ya kita bisa langsung bandingkan berbagai macam aspek, seperti berapa uang mukanya, bunga, besaran kredit, dan lain sebagainya.

Bagaimana? Belanja secara online harus bisa main cantik biar budget minim tapi barang bisa dimiliki. Nah, ini juga yang akan saya praktekkan saat membeli iPhone X. Harapannya, sih, dengan fasilitas digital yang canggih, untaian pekerjaan jadi bisa teratasi dengan baik. Anti hang, anti low memory, dan anti powerbank. Mantap, kan?


Photo by Thiago Japyassu via pexels.com

27 Agustus 2018



Malam ini saya merasa begitu suntuk karena punya banyak kebutuhan berbelanja tapi bingung mana yang mesti didahulukan. Mau beli semua sekaligus tapi dana masih mepet banget. Pernah mengalami juga? Ah, daripada risau mending jalan-jalan saja. Siapa tahu bisa nemu pencerahan. Tapi mau jalan ke mana, ya?

Aha!

Paling seru sih jalan-jalan ke masa lalu saja. Beruntung banget punya mesin waktu di rumah. Jadi bisa langsung meluncur ke mana pun yang diinginkan. Asyik! Tak perlu berlama-lama lagi, saya lekas saja mengaktifkan mesin waktu saya dan melesat ke abad pertengahan di Eropa.

Source: idevie.com
Kaki saya melangkah menyusuri bangunan berbata yang kokoh di kanan dan kiri. Jalanan ramai sekali dengan orang-orang yang beraktivitas jual beli. Ya, saya tiba di pasar.

“Hey, cepat bayar utangmu!”

Saya kaget setengah mati dengan bentakan dari pria kekar di sebelah saya. Lekas saja saya langsung menyingkir darinya. Ya siapa sih yang mau kena gampar dari pria kekar abad pertengahan?

Setelah cukup jauh dari sosok bengis itu, saya mencari informasi perihal masalah apa yang terjadi di situ. Usut punya usut, pedagang tomat di pasar itu sudah 65 hari tidak membayar upeti kepada tuannya yang merupakan pemodal dari dagangannya itu. Ternyata, pada zaman itu peminjaman modal sedang marak terjadi. Orang-orang dari kalangan budak yang baru merdeka biasanya bingung mau hidup dengan cara apa. Akhirnya mereka berdagang. Lah modalnya dari mana? Dari para ‘tuan’ mereka meminjam modal yang dikenal dengan istilah sea loans.

Saya jadi tahu bahwa pada masa itu orang-orang mulai bisa punya barang dulu, bayar kemudian. Wah, cocok nih sama saya yang lagi banyak barang kebutuhan buat dibeli. Eh, tapi jadi penasaran nih sama awal mula sistem kredit itu kayak apa, ya?

Saya segera mencari tempat sepi untuk melompat lagi pakai mesin waktu. Syukurlah ada gang sempit yang sunyi. Dalam sekejab saya melesat ke Amerika pada tahun 1900-an. Saya tiba di depan supermarket yang di depannya ada SPBU. Krucuk, krucuk. Aduh perut saya lapar sekali. Coba jajan ke supermarket ah, siapa tahu ada diskonan.

Saya mengambil snack kering untuk mengganjal perut. Sewaktu saya membayar ke kasir, saya dimintai kartu member. Tentu saja saya tidak memilikinya. Lantas seorang pria paruh baya di belakang saya dengan dermawan menraktir saya dengan kartu member yang ia miliki.

Sembari mengungkapkan rasa terima kasih, saya menanyakan lebih lanjut soal kartu member yang dipakai itu tadi apa? Saya heran, sebab ketika kartu itu disodorkan, pria paruh baya itu tidak mengeluarkan uang sepeser pun untuk membayar.

Pria buncit itu menjelaskan banyak hal. Ternyata jika punya kartu member di supermarket itu, orang Amerika bisa memiliki sejumlah barang secara kredit. Waah, jadi ini ya asal muasal kartu kredit itu? Menarik. Tapi kapan ya bank mulai terlibat dalam sistem perkreditan ini? Oke, saatnya time travel lagi!

Setelah berpamitan dengan Pak Tua tadi, saya menyelinap di balik pohon yang cukup besar. Mesin waktu kembali aktif dan secepat kilat membawa saya ke tahun 1946. Saya yang awalnya bersembunyi di balik pohon, tiba-tiba duduk manis di sebuah ruangan yang megah. Tepat di depan saya ada seorang pria berambut klimis dengan kumis tipis yang melengkung simetris dengan senyum manis. Mata saya lantas membaca papan nama di atas meja yang rapi: John Biggins.

“Selamat datang di Flatbush National Ban of Brooklyn. Anda pasti mau menanyakan gagasan saya soal Charge It, bukan?”

Dengan plonga-plongo saya lekas saja menjawab, “Ya, apa itu Charge It?”

“Hehehe. Charge It adalah sebuah sistem yang dibuat untuk mempermudah nasabah kami dalam melakukan transaksi di berbagai toko yang juga merupakan nasabah dari bank kami. Saya yakin ide ini akan membawa banyak perubahan pada sistem transaksi dunia.”

Obrolan kami semakin akrab. Dari situ saya tahu kalau ternyata John Biggins ini adalah bankir yang menggagas sistem kredit. John lalu memperkirakan kalau pemerintah bakal campur tangan dengan sistem kredit ini. Benar saja, saya masih ingat di pelajaran IPS kalau tahun 1970-an pemerintahan Amerika menetapkan regulasi kebijakan penggunaan kartu kredit dan setelahnya terjadi ekspansi besar-besaran ke berbagai penjuru dunia.

Merasa informasi yang saya dapatkan sudah cukup, saya lekas menyudahi perjalanan waktu saya. Kepada John saya minta izin ke toilet. Tapi tentu saja, di balik pintu toilet saya mengaktifkan kembali mesin waktu untuk kembali ke tahun 2018. Jeng jeng. 

Harpitnas Tiba. Ayo Belanja di Akulaku!

Source: techgeek365.com
Setelah melihat bagaimana sistem kredit mulai masuk ke dalam budaya belanja manusia, lalu berkembang menjadi sistem yang lebih kuat, kini di tahun 2018 urusan perkreditan menjadi lebih efisien lagi. Bagaimana tidak? Berbekal smartphone dan koneksi internet saja kita bisa punya saldo kredit yang cukup untuk berbelanja banyak hal.

Teknologi digital memang mengubah cara orang berbelanja. Bahkan makin ke sini sudah semakin banyak pilihannya. Bikin bingung? Wajar saja. Namun, baru-baru ini jagad sosial media saya sedang asyik membicarakan sebuah wadah yang seru banget buat belanja. Wah, apa tuh?

Namanya Akulaku, di mana kita bisa berbelanja dengan mudah melalui smartphone dan tidak perlu khawatir kalau belum ada biaya yang cukup untuk membeli barang yang diinginkan. Lho kok bisa?

Di era yang serba cepat ini saya sering mengalami pengalaman buruk saat berbelanja online. Saya menyesal kalau sudah menandai barang yang mau dimiliki tapi belum mampu beli karena gaji belum turun dan akhirnya barang tersebut sudah dibeli orang lain. Nah, kalau pakai Akulaku, saya bisa beli dulu barangnya secara kredit tanpa kartu kredit!

Cara pakai Akulaku ini gampang banget. Tinggal download aplikasinya di Playstore untuk Android dan AppStore untuk iOS, lalu instal di gawai masing-masing. Setelah itu kita perlu isi data-data profil yang dibutuhkan. Buat bocoran, siapkan kartu identitas (KTP) karena nantinya KTP perlu difoto sebagai bukti kepemilikan. Setelah semua tahap selesai, kita bisa langsung mendapatkan loan kredit sebesar tiga juta rupiah! Wow! Kalau begini caranya, barang-barang kebutuhan bisa segera saya miliki. Ini nih serunya gaya belanja zaman now


Akulaku dibicarakan di ranah sosial media saya karena sebentar lagi kita bakal menyambut Harpitnas (Hari Pesta Kredit Nasional). Akulaku terlibat di dalamnya pada 20 Agustus-11 September nanti. Selama periode itu, kita akan disuguhi berbagai pilihan produk yang bisa diperoleh hanya dengan modal 1000 perak saja tiap harinya. Mantul! Mantap betul!

Selebihnya, mulai 20 Agustus 2018, Akulaku akan menjadi aplikasi virtual kredit pertama yang gagah berani memberi kompensasi jika pengajuan kredit limit kita ditolak. Karena ditolak itu sakit, perih, dan membekas, maka dengan pengertiannya kompensasi yang diberikan kepada kita adalah uang tunai senilai 888.000 rupiah! MEMANTUL JAUH! Memang mantap betul jadi fyuuh. Lega maksudnya.

Sudah tidak sabar lagi menunggu Harpitnas untuk memenuhi barang-barang yang saya butuhkan. Perjalanan panjang mengarungi waktu benar-benar berhasil memberi pencerahan bagi saya. Untung di kamar punya mesin waktu. Tinggal menyalakan perangkat komputer, lalu terhubung dengan internet, dan taraaa. Segudang informasi lintas ruang dan waktu bisa segera saya dapatkan.

Event Harpitnas tahun ini bakal dimeriahkan oleh banyak pihak. Namun saya sudah mantap memilih Akulaku. Kalau kamu?


Header shoot by @pertiwiyuliana

12 Juli 2018


Akhir pekan yang berseri di hari ke 7 pada bulan Juli 2018 terasa berbeda dari akhir pekan saya biasanya. Pasalnya, pada hari tersebut saya mendapat kesempatan untuk berkunjung ke markas MNC Vision yang berada di wilayah Kedoya, Jakarta Barat. Meski jarak dari kosan (Pulogadung, Jakarta Timur) ke Kedoya cukup jauh, namun saya berhasil menuntaskannya tanpa terlambat. Sudah pengalaman dengan jalan ke sana soalnya, karena dulu pernah 14 hari bolak-balik Pulogadung-Kedoya dengan gagahnya mengantar kekasih yang lagi magang. Weerr..

Mengapa ke MNC?

Ya mengapa tidak? MNC Vision bukan yang lain, dong.

Bagi saya, ini adalah pegalaman pertama main ke MNC. Dan sebagai pengalaman pertama, saya sangat mengingat bagaimana snack yang disuguhkan begitu lezat. Wkwkw. Ya mau bagaimana lagi, sebagai anak kos tentu saya harus merayakan setiap suap sarapan dong yang mana biasanya sarapan gorengan celup sambel doang. Nah, sebenarnya inilah alasan kok saya pilih tepat datang tepat waktu. Ya biar sempet sarapan sebelum acara mulai. Wkwkwk.
Baca Aja: Cerdasnya Manajemen Uang Ala Anak Kos
Usai menikmati coffee break, saya dan teman-teman bloger langsung diajak masuk ke ruangan yang sudah dipersiapkan untuk acara Blogger Gathering with MNC Vision itu. Suasana begitu akrab, seolah para bloger yang datang dan orang-orang MNC bersenyawa dalam satu spektrum. Apasih! Wkwkw. Sebenarnya kayak acara bloger pada umumnya,sih. Suasana pertemuan cukup hening di dunia nyata namun ramai di sosial media, apalagi di grup WA. Wooa.. Chaos. Wkwkw. True story banget nggak, sih?

No Phone, No Done.
Setelah ramah tamah dan sambutan demi sambutan, kami diajak untuk berkeliling dalam pusaran kantor MNC. Acara tur adalah salah satu yang paling saya tunggu, selain biar banyak tahu jeroannya MNC, saya juga bisa terbebas dari potensi membeku di ruang pertemuan yang dingin banget. Sebenarnya hampir semua ruangan hawanya dingin, sih. Ya mau bagaimana lagi, hawa dingin itu dimaksudkan untuk perangkat elektronik soalnya, bukan buat manusia. Lagipula manusia masih bisa kerokan kalau masuk angin gara-gara kedinginan. Lha kalau komputer?

Meski dingin menjalar di seluruh penjuru ruang, tapi setidaknya dengan berjalan kaki saya bisa menangkal peluang masuk angin. Ruangan pertama yang saya kunjungi bernama WIC, kepanjangannya Waktu Indonesia Cimur. Bukan!! Maksud saya Work in Center. WIC terletak di lantai dasar dan menjadi garda depan yang siap melayani customer. Jujur saja saya suka dengan format kantor kecil ini. Selain nyaman dan (tentu saja) dingin, properti berupa poster film dan banner berwujud superhero Marvel memberi sentuhan artistik yang anak film banget. Pengen bawa satu kok malah digetok sama Thor. Ampoon..!
Aciatciatciaaat....
Setelah menjejali WIC, saya kemudian digiring ke perkebunan parabola. Di atas hamparan rumput hijau, berjejer antena-antena besar yang kalau dipakai buat masak nasi goreng bisa mengenyangkan seluruh warga RT02/RW06. Lewat pencerahan dari tour ini saya jadi tahu kalau frekuensi MNC Vision itu tahan cuaca buruk. Jadi kalau hujan badai menerjang, kanal-kanal yang ada di MNC Vision akan senantiasa terjaga. Mantap tidak, tuh?

Nah, di sini ada beberapa pos yang digunakan untuk memantau dan mengelola hilir mudiknya frekuensi penyiaran. Sayangnya area ini hanya boleh dimasuki oleh petugas saja. Jadi saya harus puas mondar-mandir di area perkebunan sembari mencari objek foto yang menarik, seperti ini:

Ini kertas press release digulung buat bikin efek teropong low budget. #TeknologiAnakKos
Usai menggembala antena parabola, saya melenggang masuk lagi ke dalam gedung MNC. Rombongan bloger diajak untuk mengenal dapur produksi, seperti Studio Mini yang dipakai untuk siaran berita maupun Grand Studio yang kapasitasnya lebih besar. Kami juga dituntun untuk melihat bagian customer service di mana pada akhir pekan ternyata masih aktif dan cukup ramai para pekerja melayani keluhan-keluhan dari pelanggan MNC Vision. Wah, kalau ada jaminan pelayanan penuh 24 jam begini, sih, hati jadi lebih tenang. Bisa konsultasi sewaktu-waktu dong, ya.

Tur singkat pun selesai, acara dilanjutkan dengan mencoba kedahsyatan Dolby Audio. Sudah tahu Dolby, kan? Pertemuanku dengan Dolby berawal dari kebiasaan nonton film di bioskop. Sebelum film diputar, biasanya muncul iklannya Dolby, tuh. Nah, kupikir ya Dolby itu cuma support untuk pemutaran film di bioskop saja. Ternyata bukan begitu.

Teknologi Dolby bisa kita nikmati di ruang keluarga juga. Ya tentu saja dengan membeli sound system yang compatible dengan fitur Dolby. Menariknya, Dolby sendiri sudah bisa kita rasakan di MNC Vision pada kanal HBO, FOX, dan RCTI sebagai stasiun televisi Indonesia pertama yang menggunakan Dolby. Nah, pada waktu itu saya merasakan betul bagaimana perbedaan suara biasa dengan Dolby. Apalagi saat dipertontonkan salah satu scene Mad Max Fury Road, gelegar suaranya benar-benar bikin puas.

Rasa ingin memiliki pun muncul seketika. Ya. Memiliki perangkat Dolby satu set lengkap! Wkwkw. Jadi pada waktu itu, ada beberapa speaker yang di letakkan di berbagai sudut, ternyata tiap bagiannya punya peran masing-masing. Ada yang suaranya ngebass banget, ada yang futuristik, ada yang lebih tajam, dan sebagainya. Hebatnya, semua peran itu ketika disatukan berhasil membuat kompleksitas suara yang sangat mengangumkan. Eh, tapi memang Dolby itu jago main peran kok. Adipati Dolby. Wkwkwkwk.

Sepuas dengan Dolby experience, acara selanjutnya diisi dengan workshop sound editing oleh Khikmawan Santosa atau yang lebih akrab disapa Mas Kiki. Karya Mas Kiki yang menurut saya paling kentara adalah saat dia mengolah sound effect di film Pengabdi Setan. Terbukti mulai dari lagu , suara lonceng, hingga gertakan jump scare terus menghantui saya selama seminggu sejak nonton film itu.
Baca Aja: Review Film Pengabdi Setan (2017)
Tak ada kata lain selain ‘puas’ yang bisa saya ucapkan untuk menggambarkan acara Blogger Gathering with MNC Vision waktu itu. Apalagi dapat cinderamata berupa earphone Black Phanter yang keren banget. Karena selain bisa buat dengerin suara elektronik, earphone ini juga bisa dililitin ke tangan jadi kayak gelangnya T’Challa. Ori pula. Gokil!

Suasana di mini studio
Segitu saja, sih, #CeritaDiMNCVision saya kali ini. Harapannya sih bisa segera berlangganan MNC Vision di rumah, lalu pasang satu set lengkap perangkat Dolby. Doakan, yaa. Disumbangin juga boleh. Wkwkwk. Terima kasih sudah baca sampai akhir. Cheers!

27 Juni 2018



Saya adalah orang yang merasa lebih nyaman berbelanja di supermarket karena sistem swalayan yang membuat saya bebas membanding-bandingkan satu produk dengan produk lain, dan bebas pula dalam mengambil keputusan saat membeli sesuatu. Harus saya akui, saya memang cenderung lama saat menentukan pilihan karena menimang banyak alasan untuk membeli atau tidak membeli. Singkatnya sih saya tidak mau rugi.

Kadang saya menemukan barang yang bagus dan bermanfaat bagi orang lain tapi ternyata tidak cocok bagi saya. Misalnya sabun mandi. Meski banyak yang bilang sabun mandi merk A itu bagus, namun ketika saya menggunakannya dengan ekspektasi tinggi, ternyata sabun mandi merk A itu justru membuat kulit saya lengket. Dalam kenyataan seperti itu tentu saja saya merasa sangat kecewa dan sebal.

Belajar dari situlah saya mulai membiasakan diri untuk menemukan sendiri apa yang cocok bagi saya. Karena setiap orang pasti punya selera yang berbeda-beda, bukan? Teman saya yang kerjaannya berurusan dengan dunia digital pun pada saat membeli tiket nonton lebih memilih antri di loket daripada beli secara online. Ya kalau saya sih lebih suka beli tiket nonton secara online, tidak perlu antri dan bisa langsung pilih kursi sendiri.

Banyak transaksi yang bisa saya lakukan secara online. Saya sangat menyukai hal itu karena kuasa penuh untuk memilih, membandingkan, melihat-lihat dulu, dan mengambil keputusan ada di tangan saya. Dengan cara seperti itu saya sering mendapatkan banyak hal yang cocok bagi saya.

Nah, sekarang bagaimana kalau saya mau cari asuransi yang cocok bagi saya? Apakah saya harus googling, membaca ratusan artikel, atau menanyakan itu ke banyak orang? Ribet! Apakah saya asal pilih satu saja yang paling populer? Ah, tidak ada jaminan kalau yang populer itu cocok juga bagi saya.

Jika kegundahan semacam itu juga melanda dirimu, sebaiknya ambil nafas panjang dan tenang dulu. Sebab kita punya ​ supermarket asuransi online yang menyediakan produk asuransi dari berbagai macam provider. Kita sudah tidak perlu capek-capek googling atau tanya ke orang-orang karena kita bisa mendapatkan banyak informasi asuransi dalam genggaman.



Futuready.com adalah supermarket asuransi online yang memiliki lisensi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Melalui situs maupun aplikasi, kita dapat mengakses Futuready untuk mencari,  membandingkan, dan membeli asuransi yang paling lengkap.

Coba saat ini kita butuh asuransi apa? Asuransi kesehatan, asuransi perjalanan, asuransi kecelakaan, atau asuransi mobil? Futuready memungkinkan kita untuk menemukan kebutuhan asuransi yang paling cocok secara personal. Sudah saatnya pihak asuransi yang benar-benar beradaptasi dengan kita, bukan sebaliknya.

Futuready sendiri menjadi broker asuransi online pertama yang memegang lisensi resmi dari OJK dengan nomor KEP-518/NB.1/2015 pada 18 Juni 2015. Futuready juga merupakan bagian dari AEGON, salah satu perusahaan asuransi terbaik di dunia yang berbasis di Den Haag.

​Perlu diingat, Futuready tidak membuat produk asuransi sendiri.​ Tapi menyediakan layanan informasi asuransi dari berbagai provider dengan ringkas, jujur, dan tidak memihak. Misalnya untuk asuransi perjalanan yang dijual di Futuready ada AXA, AXA Mandiri, Simas Net, Adira, Lippo. MNC, Tokio Marine, dan Malacca. Atau asuransi mobil seperti AXA, ACA, Simas Net, Adira, Avrist, dan Malacca.

Duh, kalau bicara soal asuransi mobil dari Futuready, saya jadi ingat iklannya yang kocak.

Pernah lihat tidak video iklan yang diperankan Cak Lontong? Coba deh lihat saja videonya di bawah ini.



Lihat video itu saya jadi mau segera pakai Futuready buat asuransi mobil. Tapi begitu selesai install, saya baru sadar kalau belum punya mobil. Lah! Hehehe. Setelah saya cari tahu lebih dalam, setidaknya ada tiga keuntungan membeli asuransi mobil secara online melalui Futuready.

1. Pilih Sendiri Perlindungan Sesuai Kebutuhan. Di sini kita bisa memilih sendiri perlindungan yang diinginkan mendapatkan harga terbaik sesuai kebutuhan. Misal kita cuma butuh perlindungan kecelakaan saja, otomatis premi menjadi lebih murah.

​ 2. Asuransi Mobil Tanpa ​Survey. Kapan lagi sistem penerbitan polis auto accept benar-benar tanpa survey, ya kan?

3. Polis Terbit ​Online. Penerbitan polis secara online, dikirim langsung ke surel kita jadi bisa diakses kapan dan di mana saja. Nah, jika mau punya polis dalam bentuk cetak, Futuready juga bisa mengirimkannya, kok.

Itu dia keunggulan yang bisa kita dapatkan jika ingin asuransi mobil​ melalui layanan Futuready.

Saya suka sekali dengan konsep supermarket asuransi ini. Seperti yang sudah disebutka di awal, sebagai orang yang butuh banyak pertimbangan, Futuready bisa menjadi cara saya menemukan jasa asuransi yang paling cocok. Apakah ini juga caramu?


Source header: Pexels

16 Juni 2018


Sebut saja saya adalah pemula dalam urusan merantau. Sebab waktu terlama untuk jauh dengan keluarga baru saya rasakan di usia ke-25 tahun ini. Sebelumnya, mulai dari lahir, sekolah, hingga kuliah saya jalani di tanah kelahiran, Kartasura. Bagi para perantau senior silakan membercandai saya dengan leluasa karena memang saya baru mengalami masa penjelajahan ini dari November 2017 hingga sekarang yang kira-kira sekitar tujuh bulan.

Pada momen ini juga untuk pertama kalinya saya melewati masa lebaran tidak bersama keluarga. Hari Raya Idulfitri 1439H yang jatuh bertepatan pada tanggal 15 Juni 2018 menjadi saksi betapa hati ini ternyata lunak, rapuh, dan rentan terhadap rindu. Akhirnya, komunikasi via telepon menjadi cara terbaik untuk melegakan kerinduan tersebut. Ah, bahkan pada masa sekarang tak hanya saling berkirim suara, bukan? Sebab ada teknologi video call yang bisa semakin mendekatkan jarak raga yang jauh.

Setelah sholat Ied di masjid dekat kos, saya hendak melakukan video call dengan ibu saya yang berada di Kartasura. Tak disangka, sudah tujuh bulan saya sama sekali tidak pernah melihatnya. Ibu saya memang pasif dengan sosial media. Teknologi paling canggih yang ia pakai pun adalah membuat status WhatsApp yang isinya kalimat puitis saja, tidak ada swafoto. Dan saya memang cukup kurang ajar dengan tidak melakukan panggilan video sebelum lebaran ini tiba.

Sayangnya, niatan untuk bertatap muka itu harus kandas. Sebab ibu saya mengklaim bahwa kuota internetnya tidak akan cukup untuk melakukan video call. Pada momen itu saya tahu betul kalau ibu saya pasti juga sedang repot menerima tamu di rumah. Lagipula ibu saya tidak tahu cara beli pulsa secara online. Konter handphone langganan ibu pun sudah pasti libur.

Satu-satunya yang menganggur pada saat itu ya tentu saja adalah saya sendiri. Sebagai anak yang mencoba untuk berbakti dan berbudi pekerti luhur, saya dengan senang hati membelikan pulsa untuk ibu saya. Lagipula saya punya saldo TCASH yang bisa dipakai untuk mengisikan pulsa ke pengguna lain. Jadi dermawan #pakeTCASH ternyata mudah!

Beruntung saya mengikuti akun sosial media TCASH, jadi informasi seputar promo maupun cara pakai TCASH bisa saya dapatkan dengan mudah. Nah, pada saat itu saya tahu kalau TCASH sedang ada program berbagi THR. Karena faktor kebutuhan dan kepraktisannya, tentu saya memilih menggunakan TCASH. Lagipula jika saya berpartisipasi dalam program ini, ada kesempatan bagi saya untuk memenangkan undian berhadiah berupa 1 buah MacBook Pro atau 4 buah iPhone X. Mantul! Mantap betul!

Momen lebaran menjadi menyenangkan ketika komunikasi jarak jauh berhasil saya lakukan. Pada kesempatan untuk berkomunikasi itu, ibu banyak sekali memberi petuah. Mulai soal ibadah, pekerjaan, hingga pribadi yang harus terus belajar agar saya #JadiBaik kedepannya.

Suara ibu terdengar agak parau saat itu. Meski ia mencoba untuk tertawa, bercanda, dan tampil ceria, tapi aku kenal betul bagaimana suara parau ibu sebenarnya adalah suara yang getir oleh rindu. Dan aku paham bagaimana ia mencoba untuk tidak menumpahkan tangis di depan anaknya. Karena ia yakin kalau sebuah perasaan bisa menular. Dan saat itu, ibu sedang menulari saya dengan sebuah perasaan tegar.

Ramadhan tahun ini mungkin jadi bulan yang lebih haru dari sebelumnya. Tidak ada makan bersama, tidak ada senda gurau, bahkan tidak ada lagi cerita-cerita khas ibu yang sebenarnya sudah diulang-ulang puluhan kali. Ramadhan tahun ini mengajarkan pada saya agar senantiasa #JadiBaik di Bulan Baik. Dan pada momentum lebaran, saya jadi menyadari jika rindu adalah pendekatan terbaik untuk meminta maaf dan memaafkan.

Pakai TCASH bikin happy!

Melalui cerita yang saya tuliskan ini, saya jadi ingin berbagi dengan pembaca yang menggunakan operator Telkomsel untuk memanfaatkan TCASH karena bisa mempermudah berbagai keperluan. Kita bisa beli pulsa, belanja online, membayar token listrik, maupun bayar Merchant TCASH yang banyak diskonnya. Saya sendiri sudah mengalami dan sangat girang karena sering mendapat bonus saldo yang bisa dipakai untuk memberi suntikan nafas ke kuota internet saya.

Fitur TCASH yang paling saya suka yaitu fitur kirim uang. Jadi jika kita tidak memiliki rekening bank, kita bisa menggunakan TCASH untuk mengirim uang. Caranya pun sangat mudah. Cukup dengan buka aplikasi TCASH, lalu pilih menu Kirim Uang. Setelah itu kita bisa memilih tujuan transfer, bisa nomor HP (TCASH) atau rekening bank. Berikutnya tinggal memasukan nomor HP atau nomor rekening dan jumlah saldo yang mau dikirimkan. Nah, langkah terakhirnya cukup memasukkan PIN dan saldo sudah langsung terkirim.

Berkat TCASH, momen lebaran saya di perantauan tidak terasa masygul dan senyap. Siapa sangka kalau TCASH bisa menyelamatkan saya dari komunikasi tatap muka yang hampir batal. Semoga tulisan curhat ini selain jadi pengingat bagi diri sendiri kalau saya pernah berada di titik ini, juga jadi manfaat bagi pembaca. Terima kasih telah menyimak blog pribadi saya. Semoga betah, ya. Sampai jumpa!


Header Source: pexels.com

8 Juni 2018


Kita tahu, bahkan sangat yakin terhadap kekayaan alam yang dimiliki oleh negeri ini begitu besar. Besar lahannya, besar potensinya, besar pula sumbangsihnya terhadap dunia. Alam Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke merupakan harta karun yang dipamerkan di mata dunia. Meski demikian, penikmat sejati alam-alam ini bukanlah saya, kita, atau sebagian besar penduduk negeri ini. Tapi mereka.

Mereka adalah orang-orang digdaya yang tidak tersentuh oleh tangan kotor saya. Mereka bersembunyi di balik nama perusahaan yang besar. Mereka berlindung di dalam kerajaan yang mereka bangun. Para pengusaha besar yang mengeksploitasi alam menjadi rentetan angka tak terhingga di rekening mereka. Dan kita, adalah budak yang enggan mengaku.

Beberapa saat lalu, saya dan Tiwi terlibat dalam sebuah acara diskusi film. Bukan film yang tayang menggelegar di bioskop-bioskop, tapi film dokumenter yang begitu sunyi. Mungkin judulnya tidak terlalu ramai dibicarakan, meski isi di dalam film itu mestinya menjadi sebuah pertanyaan besar yang patut dimusyawarahkan bersama sambil ngopi.

FILM ASIMETRIS

Poster Film Asimetris (Sumber: jendelapost.com)
 Film berdurasi satu jam ini memperlihatkan kepada saya gambaran nyata bagaimana hutan-hutan, khususnya kelapa sawit, dieksploitasi dengan beringas. Ada banyak narasumber yang terlibat dalam film Asimetris ini, mulai dari pekerja hingga pemilik lahan sawit itu sendiri.

Secara keseluruhan, film ini mengupas bagaimana kelakuan perusahaan besar terhadap hutan sawit beserta dampak yang dihasilkan. Beberapa yang masuk dalam sorotan, seperti kesejahteraan para pekerja yang timpang sekali dengan glamornya iklan-iklan sabun di televisi, penerabasan lahan warga baik yang terang-terangan menyerobot hingga yang diam-diam dimaling, serta tak luput pula dengan limbah yang menyengsarakan masyarakat setempat.

Kita paham betul bahwa produk-produk yang berbahan kelapa sawit seperti minyak dan sabun, misalnya, merupakan bagian dari kebutuhan sehari-hari kita. Kita tahu betul kalau kebersihan tubuh kita senantiasa membuat kita sehat dan kelezatan kulit ayam KFC hanya akan tercipta melalui proses cipta dengan minyak goreng. Kita memang ‘butuh’ produk-produk itu. Memang ‘butuh’.

Mengapa ada tanda kutip dalam kata butuh barusan?

Setuju atau tidak, kebutuhan yang kita yakini saat ini adalah hasil rekonstruksi budaya. Bukan kebutuhan secara alami. Dewasa ini, yang namanya mandi memang lumrah atau bahkan harus menggunakan sabun. Lalu jika tidak mandi dengan sabun, apakah lantas kita mengkhianati tubuh kita sendiri? Apakah mandi menggunakan watu kali adalah cara yang salah? Dan apakah mandi dengan air saja adalah salah satu perbuatan sia-sia yang akan menjebloskan kita ke dalam neraka?

Tentu tidak. Tapi mengapa kok rasanya ada yang kurang kalau mandi tanpa sabun? Sekali lagi, rekonstruksi budaya, tubuh kita telah dikondisikan untuk butuh terhadap sabun. Mulai dari petuah-petuah orang tua hingga gempuran iklan di televisi membuat sabun menjadi sebuah keharusan dalam ritual mandi kita.

Bahkan, lagu hits aku belum mandi tak tun tuang juga memiliki peran kuat dalam membangun tipu daya itu tadi. Coba ingat-ingat liriknya yang berbunyi, ‘apalagi mandi tak tun tuang tak tun tuang, pasti cantik sekali’. Lalu kita senyawakan dengan lagu anak berbahasa Jawa berikut ini: bebek adus kali, nututi sabun wangi (bebek mandi di sungai, mengikuti harumnya sabun).

Dari dua bongkahan lagu di atas kita tahu bahwa mandi berbanding lurus dengan kecantikan dan mandi identik dengan sabun. Iklan-iklan sabun di televisi, selain menjajakan kesehatan pun juga menggombal soal kecantikan, bukan? Imaji indah yang dibentuk media itulah yang kemudian secara vulgar diciderai oleh film Asimetris.

Sebab dalam film tersebut, kemalangan, kesenjangan, kesulitan, hingga penyakit yang dialami oleh warga sekitar industri kelapa sawit menjadi persoalan yang tidak mendapat panggung di mata publik. Saya begitu ngilu ketika melihat warga setempat beraktivitas di tengah kepulan asap. Terlebih saat sorot kamera menangkap gambar anak-anak kecil dan mendengarkan narator yang menyebut besaran angka yang merujuk pada bayi-bayi yang mengalami gangguan pernafasan.

Selain ngilu, hal menggelikan juga ternyata terjadi di lapangan. Peristiwa yang saya maksud adalah saat pemerintah melakukan sidak ke lahan kelapa sawit yang dikelola oleh perusahaan. Siapa sangka, proses sidak mengalami kendala oleh hadangan dari petugas keamanan perusahaan tersebut. Alangkah lucu ketika petugas keamanan itu mengatakan, “Nggak bisa. Mau sidak, mau apa, juga harus ada izinnya dulu. Kalau tidak ada izin, tidak boleh masuk.”

Ya kalau izin dulu namanya bukan sidak lagi, Pak. Study banding barangkali.

Arogan jika saya menyalahkan bapak petugas itu. Mau bagaimana lagi, beliau bersikap demikian pun untuk mempertahankan pekerjaannya yang barangkali susah didapatkan di sana. Pertanyaan besar yang muncul adalah: Ada apa gerangan dengan perusahaannya? Apakah ada sesuatu yang disembunyikan? Apa itu? 

Intro Film Asimetris (Sumber: kumparan.com)
Sejujurnya, ada banyak sekali pertanyaan yang muncul ketika usai menonton film Asimetris. Ada standar kelayakan produksi yang diterabas. Ada pekerja dari kalangan anak-anak hingga perempuan yang digerogoti haknya. Ada monopoli, manipulasi, tipu daya, sampai pemaksaan yang melahap lahan-lahan warga. Dan yang pasti, ada jiwa-jiwa yang melayang antara hidup dan mati.

Dulu saya bergindik seusai menonton film Senyap. Tapi kegindikan saya itu lambat laun saya telan sendiri. Sebab pelaku-pelaku yang terlibat di dalamnya mungkin sudah tiada. Kalaupun ada, batang hidungnya tak terlihat. Kalaupun terlihat, orangnya tak tersentuh.

Semetara itu, pelaku-pelaku dalam film Asimetris ini justru terpampang nyata di depan mata kita. Namun sayangnya, sepasang tangan kecil saja tak akan mampu menjangkaunya. Butuh banyak tangan yang bersatu. Itulah yang membuat saya lebih dari bergindik saja, namun bercampur juga di dalamnya rasa gregetan, cemas, pilu, dan nalar kemanusiaan yang terpukul-pukul.

Asimetris bukanlah film hiburan. Asimetris tidak menampilkan laga dan biduan. Asimetris tidak membuat wajah kita berseri-seri seusai menontonnya. Asimetris adalah kegetiran. Di dalamnya merangkum kesedihan tanpa air mata, ketakutan tanpa jeritan, dan senyum tanpa kebahagiaan.

Cukup itu saja yang bisa saya utarakan. Jika penasaran, film ini sudah dapat dilihat di YouTube, lho. Akhir kata, jadilah bagian dari orang-orang yang tersadar di atas panggung ilusi. Sampai jumpa!

Full Movie Asimetris




Header source: pexels.com

21 Mei 2018


Bagi saya, bicara tentang Bali sama artinya bicara tentang dua kesempatan study tour semasa sekolah yang senantiasa saya lewatkan. Bukan karena bosan dengan Bali, ketidakikutsertaan saya dalam darma wisata ke Bali tersebut disebabkan oleh biaya yang tidak mampu saya jangkau. Sampai hari ini Pulau Bali adalah salah satu tempat yang masih saya dambakan, setelah surga firdaus tentunya. Aamiin.

Lokasi wisata di Bali yang paling dicari itu di mana, sih? Pantai Kuta? Hmm. Sepertinya saya tidak begitu tertarik. Saya justru ingin sekali mengunjungi Tanjung Benoa Bali. Tanjung Benoa adalah salah satu lokasi wisata bahari populer yang terletak di ujung barat daya Pulau Bali.

Kawasan wisata Tanjung Benoa dikenal dengan sebutan ‘laut dangkal’ yang berarti semua aktivitas watersport memungkinkan untuk dilakukan. Namun, perlu kiranya memerhatikan waktu yang tepat untuk bermain dengan air di lokasi ini. Dari informasi yang saya dapat, ada istilah ‘pasang tilem’ yang berarti atraksi wisata laut baru dapat dilakukan di atas pukul 11.00 sampai sore. Dan ada juga yang namanya ‘pasang purnama’, di mana kita bisa lebih pagi untuk melakukan olahraga air, yaitu sekitar pukul 09.00.

Bagi pencinta watersport atau bagi netizen yang tersasar ke dalam artikel ini melalui kata kunci Cara Seru Menikmati Wisata Tanjung Benoa Bali, berikut ini saya sajikan beberapa informasi yang barangkali bisa memuaskan rasa keingintahuan dari pembaca sekalian. Baiklah, saya urutkan dari yang mainstream hingga yang antimainstream.

1. Snorkeling

Demi keindahan terumbu karang di kota Bikini Buttom, jenis olahraga ini tentu sudah tidak asing lagi, bukan? Menyelam tipis-tipis sambil menikmati pemandangan yang begitu indah dalam laut tentu akan menjadi pengalaman yang menyenangkan. Sudah tidak perlu ditawar lagi, serunya snorkeling sudah bersifat absolut.

2. Diving

Jika snorkeling hanya berenang di sekitar permukaan air, diving berada pada ke dalam yang lebih ekstrem. Oleh sebab itu untuk melakukan diving diperlukan peralatan dan keahlian khusus.

3. Parasailing

Olahraga satu ini lebih pecicilan dari dua macam sebelumnya. Parasailing adalah atraksi di mana kita akan ditarik oleh speedboat sembari memakai payung parasut. Bagi penyuka tantangan, parasailing bisa jadi pilihan tepat selama liburan di Tanjung Benoa.

4. Waterski

Ski di atas air pasti akan menjadi pengalaman tak terlupakan selama di Bali. Terlebih lagi bagi orang yang sehari-hari tinggal di perkotaan, olahraga ini akan jarang sekali dirasakan. Meskipun iya, ujung-ujungnya paling main kerduski: masuk ke dalam kadus lalu ditarik sama teman-temannya. Ngeeeng.

5. Jetski

Naik motor di darat sudah biasa. Jetski akan membawa suasana berbeda saat naik motor karena dilakukan di atas air. Saran saja bagi pengendara jetski untuk tidak menerabas area yang sudah ditentukan. Setidaknya film Final Destination pernah menegurnya dengan halus akan hal itu. Jangan sampai kejadian!
Kolase berbagai sumber

6. Rolling Donut

Di sini kita akan masuk ke dalam sebuah perahu karet berbentu donat lalu ditarik menggunakan speedboat. Wahana satu ini cocok bagi wisatawan yang suka dengan donat. Sampai-sampai ada film kartun yang populer: Donat The Explorer. Halah mbel.

7. Flying Fish

Meski ikan terbang akan selalu menghantui kita dengan penampakan ikon Indosiar, namun jenis atraksi satu ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan itu. Permainan ini menggunakan perahu karet yang ditarik sampai melayang di udara. Ditarik pakai apa? Ya! Speedboat lagi speedboat lagi.

8. Stir With a Spoon

Dilihat dari namanya saja sudah jelas, ‘mengaduk dengan sendok’ yang artinya melakukan aktivitas membuat minuman dalam secangkir gelas. Stir with a spoon merupakan olahraga yang aman, bahkan bagi pemula, karena memang kita hanya perlu membuat Nutrisari rasa jeruk bali saja. Ini beneran? Ya, kagaklah.

9. Talking to the Moon

Banyak orang menghabiskan waktunya di Bali dalam rangka honeymoon maupun babymoon. Sementara bagi kalangan jomblo garis keras, introvert militan, bahkan sudah left dari grup WhatsApp keluarga tentu saja masih bisa menikmati keindahan Bali. Jika ada honeymoon dan babymoon, bukankah perlu ada lonelymoon juga? Atraksi yang bisa dilakukan di bibir pantai Tanjung Benoa ini sangat sederhana, bahkan cenderung sunyi, yaitu ngobrol sama bulan.

Liburan di Bali? Menginap di Benoa Sea Suites and Villas Aja!


Jadi setelah saya paparkan beberapa informasi yang penting, terutama dua poin terakhir barusan, kamu jadi kepengen tidak menikmati wisata Tanjung Benoa Bali? Olahraga airnya, sih, katanya beneran the best! Menariknya lagi, saya mendapat informasi juga mengenai paket watersport di Tanjung Benoa yang terpercaya.

Nah, ini dia Watersport Package Benoa Sea Suits and Villas. Dalam paket ini tersedia dua macam, Suite Room dan Bedroom Pool. Biaya tersebut sudah mencakup menginap dua malam, minuman selamat datang, sarapan, free wifi, air mineral, dan layanan kebersihan. Sementara untuk olahraga airnya nanti ada banana boat, donut boat, fly fish, dan lengkap dengan makan siang. Gimana? Serunya dapat, tempat inap yang nyaman, dan makanan yang pastinya lezat. Informasi selengkapnya bisa langsung dipantau di: Watersport Package 3D2N


Ada banyak wisata unik di Bali yang bisa kita temui. Dan pastinya pengalaman tersebut akan menjadi cerita yang tak terlupakan. Jangan sampai suasana liburan menjadi muram karena salah pilih tempat inap. Benoa Sea Suites adalah pilihan tepat bagi kita untuk menikmati liburan di Bali dengan sempurna. Tidak ada salahnya kan menjadi raja dan ratu beberapa hari di Bali setelah berhari-hari banyaknya menjadi buruh di kota kita tinggal.
Benoa Sea Suites menyediakan tempat yang sangat nyaman, desain elegan, properti artistik, dan pemandangan yang begitu spektakuler. Ditambah dengan kolam renang tentu saja semakin memanjakan liburan kita ke Bali.
Sekadar tambahan saja, mencari villa dan resort dengan pelayanan berkualitas tak tertandingi bisa kita dapatkan melalui Premier Hospitality Asia (PHA), lho. Lewat PHA kita bisa mendapatkan villa mewah, resort, hotel, dan keperluan properti yang sangat memanjakan kita, baik di Bali, Jakarta, bahkan Malaysia. Salah satuny, ya Benoa Sea Suits itu tadi. Mantap, kan?

Demikian ulasan singkat mengenai watersport yang bisa kita coba di kawasan wisata Tanjung Benoa lengkap dengan rekomendasi tempat inapnya. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kamu agar hadiahnya bermanfaat bagi saya. Ehem! 


Artikel ini ikut serta dalam Blog Competition Benoa Sea Suites Villa & Benoa Bay Villas dengan hadiah hingga 8 JUTA RUPIAH! Yuk, ikut juga dalam kompetisi ini. Kalau tidak ikut, doakan saja saya menang! Aamiin. 


16 Mei 2018


Saat perut lapar di malam yang dingin, ingin sekali rasanya melahap sesuatu yang lezat nan menyegarkan. Aha, makan bakso saja! Eh, tapi malas juga sih kalau malam-malam begini keluar rumah. Apalagi saat hujan melanda dengan derasnya. Pun nanti di warung bakso kalau harus antri dulu. Yaudah tidak jadi, ah. Makan mie instan saja.

Eits! Itu dulu..

Lega sekali rasanya ketika saya bisa makan bakso yang lezat tanpa harus beranjak dari rumah. Semudah bikin mie instan, bakso pun juga bisa kita buat melalui dapur masing-masing. Dengan begitu, kegusaran saat tiada makanan di rumah bisa teratasi dengan praktis, nikmat, dan senantiasa sehat.

Saya sedang membicarakan sebuah produk makanan bernama Bakso Beef Bonanza dari PT Great Giant Livestock (GGL). Beberapa hari belakangan ini saya dan Tiwi meramu beberapa hidangan dengan material utamanya berupa bakso. Saat perlu makan besar, kami membuat bakso kuah. Sedangkan kalau ingin camilan saja, kami cukup membuat bakso goreng.

Jadi, apa itu Bakso Beef Bonanza?

Bakso Beef Bonanza adalah bakso kemasan siap saji yang bisa segera dimasak meski kamu sedang gemetaran menanti kepastian cinta dari doi. Bakso ini mengandung 84% daging sapi asli (tidak dicampur dengan daging lain), tanpa bahan pengawet, diproses secara halal dan aman bagi tubuh. Maka wajar saya jika Bakso Beef Bonanza mengklaim dirinya sebagai bakso yang berasa banget dagingnya.

Agar lebih jelas, mari kita bahas satu-satu kelebihan Bakso Beef Bonanza.

1. 84% Daging


Dahulu, ketika masa Idul Adha, keluaga saya mendapat lumayan banyak jatah daging kurban. Berbekal daging tersebut, ibu saya berinisiasi membuat bakso yang 100% daging. Hal ini tentu saja mustahil karena untuk membuat bakso yang berbentuk bulat perlu tepung juga. Alhasil, presentase daging yang diolah ibu saya waktu itu mungkin sekitar 90%-95%.

Jujur saja, dengan takaran yang tidak terukur itu rasa bakso yang dihasilkan ternyata tidak menyenangkan. Rasa ‘sepet’ melumuri lidah dan tenggorokan saya saat memakannya. Ooh, ternyata membuat bakso itu bukan soal seberapa penuh dagingnya, namun seberapa pas takarannya.

Melalui Bakso Beef Bonanza saya jadi tahu kalau 84% adalah porsi yang pas untuk membuat sebutir bakso. 16% sisanya tentu saja tepung dan bumbu. Terbukti dengan bakso kuah dan bakso goreng yang saya bikin itu sangat terasa dagingnya. Dan tidak perlu repot menyiapkan bumbu lagi sebab di butiran Bakso Beef Bonanza sudah terasa sekali bumbunya.

2. Tanpa Bahan Pengawet


Siapa saja pasti mendambakan hubungan asmara yang awet. Tapi tidak dengan bakso. Bakso yang mengandung bahan pengawet sangat berbahaya bagi tubuh. Tentu saja kita tidak ingin memakan sesuatu yang memiliki risiko penyakit, kan? Kandungan formalin memang menjadi ancaman besar bagi para pecinta bakso. Oleh sebab itu, Bakso Beef Bonanza berkomitmen untuk tidak menggunakan formalin (pengawet), borax (pengenyal), maupun bahan-bahan similikithi lainnya.

Satu fakta menarik yang saya dapat dari Emilia E. Achmadi selaku ahli gizi menjelaskan bahwa daging segar yang dijual di pasar sebenarnya bukanlah daging yang baik bagi tubuh. Daging dan buah itu berbeda perlakuannya. Buah ketika dikupas kulitnya sebaiknya segera dimakan. Tapi daging tidak begitu. Daging yang baru saja dipotong masih memiliki banyak bakteri yang berpotensi membawa penyakit. Oleh karenanya, menyimpan daging di dalam pendingin merupakan cara terbaik untuk mendapatkan daging sehat.


Bakso Beef Bonanza mampu bertahan beberapa bulan tanpa pengawet selama kita menyimpannya di lemari pendingin. Jika tidak memiliki lemari pendingin, kita bisa menyimpan di dalam termos berisi es batu. Jika masih kesulitan, kita bisa juga menitipkan pada tetangga yang punya lemari es atau menitipkannya ke sikap pembimbing akademikmu yang belum gajian. Dingin juga soalnya.

3. Halal


Dalam syariat islam memang memiliki tata cara mengolah binatang menjadi daging konsumsi. Sedangkan kita tidak tahu bagaimana daging yang beredar itu diolah, apakah dilakukan dengan cara halal atau justru dengan brutal. Meski begitu, Bakso Beef Bonanza menjamin kehalalan pada produknya.

Ketika launching produk bakso kemasan ini, Dayu Ariasintawati selaku Managing Director PT Great Giant Livestock secara lugas memaparkan bahwa pengolahan daging sapi dilakukan di peternakan sendiri sehingga pengawasan kehalalan dapat terjaga. Baginya, sangat penting bagi masyarakat untuk memperoleh pilihan makanan yang halal sebagai hak mereka.

4. Aman


Borax, formalin, serta daging campuran seperti babi dan tikus pernah menghantui dunia perbaksoan Indonesia. Masyarakat kita takut dengan risiko penyakit dalam butiran bakso yang mereka lahap. Meski bakso jenis similikithi itu sampai hari ini masih saja beredar, namun Bakso Beef Bonanza benar-benar berkomitmen untuk menyediakan bakso yang aman bagi tubuh. Bisa dibilang Bakso Beef Bonanza ini masa rennainsance-nya kuliner bakso Nusantara.

Dayu Ariasintawati kembali menekankan bahwa ia hanya akan terlibat pembuatan produk makanan yang nantinya juga akan ia konsumsi bersama keluarganya. Jadi jika PT Great Giant Livestock memproduksi jenis makanan yang berisiko penyakit, hal itu akan berpengaruh buruk juga nantinya bagi keluarga mereka sendiri. Memang banyak bisnis yang kejam dan tidak berperikemanusiaan, tapi bukan berarti tak ada satupun perusahaan yang memiliki hati nurani untuk kebaikan sesama.


Nah, sudah cukup sepertinya, ya. Tidak perlu panjang lebar lagi. Bagi yang menginginkan bagaimana bakso ini menyelamatkan kelaparanmu, kedinginanmu, dan kepatahhatianmu, langsung saja beli segera.

Satu kantong Bakso Beef Bonanza ukuran 500 gram (sekitar 30 butir) dijual dengan harga Rp. 85.000. Produk ini bisa didapatkan di sejumah ritel modern yang berada di Jakarta, Tangerang, Bekasi, dan Bandung. Jika kamu bersemayam di kota-kota tersebut, segera saja dapatkan baksonya di Superindo, Ranch Market, Farmers Market, Papaya, Lulu Market, dan Market City.

Mumpung sudah memasuki bulan Ramadhan, Bakso Beef Bonanza bisa jadi persediaan yang tepat untuk santap sahur, berbuka, maupun mokah. Eits, jangan berpikir negatif dulu. Siapa tahu kan pas siang-siang berpuasa begitu tahu-tahu dilanda sakit. Mau makan tapi sungkan jajan di warung, mau masak tapi badan lemes, mau delivery order tapi sudah tidak sabar lagi. Yaudah langsung saja masak air panas, masukkan bumbu praktis (beli sendiri, di dalam kemasan Bonanza tidak ada bumbu lagi), masukkan Bakso Beef Bonanza. Nah, jadi deh bakso praktis yang senantiasa lezat, aman, dan halal.

Siapa sih yang nggak mau?

Header image: pexels.com

8 Mei 2018


Memenuhi kebutuhan selama lebaran akan terasa menyenangkan selama menikmati promo Ramadhan 2018 Bukalapak. Sebab di situs jual beli online ini kita berkesempatan memperoleh promo menarik sepanjang bulan puasa dan tentunya dalam angka yang begitu menggiurkan, Guys.

Adanya diskon tentu saja sangat membantu penikmat transaksi belanja online di Bukalapak bisa berhemat, sebab bisa mendapatkan harga lebih murah. Kemudian masih ada promo lain yang menyemarakkan promo Ramadhan 2018 tersebut misal diskon ongkir atau malah free ongkir. Hayoo siapa yang belum pernah belanja di Bukalapak? Mumpung ada promo Ramadhan 2018 nih kita cobain, yuk.

Tapi sebelum memanfaatkan promo di Bukalapak selama Ramadhan, ada baiknya kita menyimak informasi penting ini. Pasti sebal kalau selama ini sering mendapatkan produk promo di internet yang ternyata tidak sesuai foto atau mungkin rusak saat diterima. Maka pastikan memahami dulu tata cara membeli produk online dengan benar sehingga tidak rugi.

Ini Dia Tips Membeli Produk Online Sesuai Foto

Membeli kebutuhan apapun secara online memang rentan kecewa karena bisa jadi tidak sesuai di foto dan tidak sesuai ekspektasi. Nah, supaya kejadian semacam ini tidak dialami maka simak beberapa tips berikut:

1. Pilih foto produk yang meyakinkan! 

Paling utama untuk mendapatkan produk online yang murah karena diskon dan berkualitas adalah teliti memilih foto produk. Paling aman memilih toko online yang memajang foto sendiri dan di foto secara profesional. Tidak harus memakai model dan fotografer profesional, cukup ditata seapik mungkin agar sedap dipandang. Kalau fotonya berkualitas dan menarik maka umumnya produknya pun sama persis.

2. Baca dulu informasi produknya. 

Setiap penjual online di Bukalapak dijamin menyampaikan produknya lewat kolom keterangan yang tersedia. Keterangan ini tentu bukan pajangan melainkan informasi yang dibutuhkan pembeli untuk menentukan kualitas dan kesesuaian produk dengan kebutuhan. Misal kalau membeli baju lewat promo Ramadhan 2018 Bukalapak bisa mengecek keterangan ukuran sampai jenis bahan yang digunakan. Kalau mau teliti dijamin tidak akan salah order dan tidak kecewa.

3. Pilih harga promo yang masih logis. 

Harga selama promo biasanya akan lebih murah, akan tetapi jangan mudah percaya pada harga termurah sebab ada kecenderungan menjadi produk abal-abal. Fotonya bagus namun aslinya berbeda jauh dan mengecewakan atau bisa pula produknya cacat ketika diterima dan tidak bisa ditukar. Maka pilih harga promo yang masih terbilang logis, dalam artian harganya tidak murah namun mencurigakan saking murahnya. Kalaupun menjumpai promo sangat murah namun testimoninya bagus, silahkan tetap di order.

4. Cek testimoni pembeli lainnya. 

Apabila sebuah penjual di Bukalapak memang menyediakan produk bagus dan pengirimannya pun memuaskan, dijamin banjir testimoni yang puas dengan penjual tersebut. Maka sangat penting untuk membaca testimoninya dan pastikan toko yang dipilih sudah mendapatkan penilaian. Sebab beberapa penjual belum menjual barang satupun sehingga tidak memiliki pembeli dan testimoninya. Kalau testimoninya memuaskan kita bisa order produknya selama promo Ramadhan.

Salah satu ketakutan bagi penikmat transaksi belanja online di Bukalapak maupun marketplace lainnya adalah mendapatkan barang yang tidak sesuai. Baik tidak sesuai perkiraan maupun tidak sesuai kualitas dan modelnya dari foto produknya. Namun dengan sedikit ketelitian dan menyimak beberapa tips yang disampaikan di atas kita bisa mencegah resiko tersebut. Asalkan mau sedikit bersabar dan teliti kita pun bisa menikmati promo Ramadhan 2018 Bukalapak dengan maksimal tanpa cemas kecewa setelah menerima barang yang dibeli.

Semoga informasi ini berguna bagi khalayak, yak. Yuk, jadi pembeli yang cerdas!

Pict: pexels.com

27 April 2018


Menonton film di bioskop saat ini memang masih menjadi kebutuhan tersier bagi masyarakat kita. Meski demikian, nyatanya bangku bioskop makin penuh dari tahun ke tahun. Entah ini karena masyarakat Indonesia mulai sejahtera, atau justru karena banyak yang butuh lari dari realitas.

Saya akui menonton di bioskop adalah cara terbaik untuk menikmati sajian film. Selain sebagai hiburan, film juga memberi dunia alternatif yang memengaruhi beberapa pandangan saya soal hidup. Oleh sebab itu jika sedang ada rezeki, saya menyempatkan diri untuk menonton film di bioskop. Sementara kalau lagi mlarat, ya saya nonton di Hooq atau memakai layanan underground yang you know what I mean.

Meski nonton film di bioskop adalah cara yang prestisius, tapi nyatanya adab menonton masih tidak diindahkan. Saya sering menemui orang-orang yang kelakuannya sangat mengganggu aktivitas menonton. Jangankan untuk memaklumi, memaafkan mereka pun saya tidak sudi.

Berikut ini saya rangkum 5 kebiasaan tak termaafkan saat nonton film di bioskop. Coba cek, kamu pernah mengalami atau pernah melakukannya.

1. Membawa Anak Kecil

Hanya sedikit film yang diperuntukkan bagi semua usia. Bahkan film-film superhero Marvel pun rata-rata dilabeli sebagai film 13 tahun ke atas. Tapi saya sering melihat ada orangtua yang sengaja membawa anaknya yang masih di bawah 13 tahun bahkan ada yang baru belajar jalan pun ikut nonton!

Sudah ada banyak informasi yang sliweran di timeline saya soal bahayanya membawa anak kecil buat nonton di bioskop. Baik dari kemampuan pendengaran yang bisa cidera sampai psikisnya yang bisa terganggu. Saya rasa sebelum membuat anak, pasutri masa kini perlu mempertimbangkan apakah masih ada gairah nonton di bioskop atau tidak.

Membawa anak kecil ke bioskop selain berbahaya bagi anak tersebut, ada juga hal negatif lain. Yaitu potensi mengganggu penonton lain. Anak kecil yang tidak paham adab menonton seringkali bicara dengan kencang di dalam ruangan teater. Lebih parah lagi kalau sampai menangis kejer atau mondar-mandir tak karuan.

Ingatlah jika menonton film bisa dilakukan di berbagai tempat. Tidak harus bioskop. Jika mau melibatkan anak sebaiknya ya jangan di bioskop. Karena bioskop ini hanya kebutuhan tersier yang kalaupun tidak melakukannya, keluarga kita juga tidak akan tercerai-berai seketika.


2. Berbicara

Baik ngobrol bersama teman atau ngomong sendiri merupakan hal yang mengganggu sekali. Jika memang ada yang perlu sekali dibicarakan dengan teman nonton sebaiknya gunakan cara berbisik dan dekatkan mulutmu ke telinga lawan bicaramu. Paling parah sih kalau ngobrol via telfon. Berisyik!

3. Menyalakan Gadget

Buka lagi tidak beradab, bahkan kebiasaan satu ini terlihat begitu norak. Kita tahu di dalam ruangan teater memang sengaja dibuat gelap. Satu handphone dengan brightness kecil pun akan terlihat dari belakang. Hal itu benar-benar mengganggu fokus nonton.

Padahal durasi film rata-rata 2 jam. Jika menang tidak sanggup off dari HP selama itu, ya sudah tidak usah nonton sejak awal. Jika memang ada hal yang mendesak, sebaiknya keluar ruangan dulu baru akses HP.

Intinya, jangan menyalakan handphone, tab, laptop, apalagi TV. Jangan!

4. Respon Lebay

Merespon apa yang ditayangkan itu memang wajar. Tapi jangan berlebihan juga. Sebab bisa mengganggu penonton lain.

Respon lebay itu bisa berupa nangis meraung-raung, jerit-jerit histeris, maupun ketawa berlebihan kayak ayam Pontianak. Ganggu!

5. Banyak Tingkah

Tidak hanya suara saja yang bisa menggangu. Tingkah laku pun juga bisa membuat penonton lain merasa tidak nyaman. Misal sering mondar-mandir, badan grusak-grusuk, sampai kaki yang menyentuh kursi depan. Satu sentuhan kecil saja akan terasa banget lho. Jadi usahakan menonton dengan tenang.

Mengapa sih menonton di bioskop nggak boleh ini itu?


Jika kamu pernah beranggapan, "Halah gitu doang kok ngerasa keganggu. Lebay amat sih", mungkin kamu perlu belajar lagi soal tenggang rasa.

Nonton di bioskop itu ada banyak orangnya. Bahkan orang-orang yang tidak kita kenali. Saya pernah nabung untuk nonton film yang sangat saya idamkan. Saya sengaja berhemat agar bisa nonton film itu di hari pertama penayangan. Tapi pas nonton saya merasa terganggu dengan tingkah laku penonton lain. Marah, kesal, hasrat ingin memukuli sudah bercampur aduk menjadi satu.

Lagipula, bukankah hukum keseimbangan alam itu ada? Barangsiapa menanam, ia menuai. Jika hari ini kita menggangu orang lain, di lain hari kita pasti diganggu juga entah oleh orang lain atau sesuatu yang lebih buruk.

Nah, itu dia 5 kebiasaan tak termaafkan saat nonton di bioskop. Sebenarnya masih ada banyak lagi yang mengganggu di bioskop seperti merokok, bercinta, malakin popcorn, goreng cireng, benerin rantai motor, banyak lah pokoknya. Kalau menurutmu apa lagi kebiasaan tak termaafkan selama nonton di bioskop?


Image Source: pexels.com

25 April 2018


Sebelum pindah ke Jakarta, saya terlebih dulu tinggal di Solo dalam waktu yang cukup lama. Saya menerima Solo sebagai kota kecil dengan suasana rindang yang setiap pagi dan sorenya selalu menyegarkan. Hal ini tidak lepas dari upaya pemerintah dan warga untuk mensenyawakan kota modern dan alam.

Suasana teduh sangat terasa jika saya menjelajahi kampung-kampung di Solo. Ada banyak hal-hal menarik yang bisa ditemukan di sana. Salah satunya adalah kegotongroyongan warga untuk merawat tanaman-tanaman sehingga area perkampungan tersebut terasa menyejukkan. Tidak hanya itu, saya juga suka dengan kampung-kampung yang secara aktif membangun Usaha Kecil Menengah (UKM). Seperti Kampung Laweyan dan Kauman dengan produksi batiknya, maupun desa Tawangsari dengan produksi tenun ikat yang mendunia.

Hal-hal seperti itulah yang kadang saya rindukan dari Kota Solo. Nuansa asri dan produktif seringkali menjadi pemacu semangat bagi saya. Entah mengapa, selepas mengunjungi tempat-tempat seperti itu, saya merasa begitu gembira.

Sementara itu, lima bulan saya tinggal di Jakarta suasananya berbeda. Kota besar ini benar-benar terlalu sibuk. Banyak energi saya yang hilang ketika menempuh perjalanan menerabas kemacetan. Udara yang saya hirup pun rasa-rasanya ampek (sesak) meski saya sedang berada di jalan raya yang mestinya ada banyak stok udara di situ.

Lalu orang-orang bekerja dan berkarya di dalam gedung-gedung tinggi. Itu pun terbungkus ruang kubikel yang sekelumit. Sebagai orang luar, saya tentu saja tidak bisa menyaksikan bagaimana produktivitas itu terjadi dan bagaimana karya itu tercipta. Saya tidak dapat mengintip dapur produksi yang menginspirasi. Pada akhirnya, saya adalah orang luar yang hanya bisa menjangkau ketiadaan. Halaaaah. Hahahaha.

Nah, kegelisahan saya itu ternyata tidak berlangsung lama. Beberapa saat lalu di pertengahan April 2018, saya dan kekasih mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Kampung Rawajati. Lho kenapa kok ke Rawajati? Jadi gini..

Kunjungan Adem ke KBA Rawajati


Siang itu, aspal Jakarta telah basah oleh hujan yang baru saja reda. Mengilatnya masih membekas di ingatan saya. Begitupun dengan kesejukan udara yang saya hirup ketika masuk ke Kampung Berseri Astra (KBA) Rawajati. Seketika itu saya merasa tidak lagi berada di Jakarta yang saya kenal. Panca indra saya mengenali suasana kampung itu layaknya perkampungan di tanah kelahiran saya.

Kampung Rawajati di segala penjuru dipenuhi oleh tumbuh-tumbuhan. Mulai dari pohon-pohon rimbun hingga tanaman kelor pun ada di sana. Saya, Tiwi, beserta rombongan lain lantas disambut dengan ramah oleh warga. Senyum mereka membuat atmosfer di Kampung Rawajati semakin adem.

Kami semua berkumpul di kantor RW untuk bercakap-cakap. Di situlah saya tahu kalau ternyata Kampung Rawajati memiliki peranan penting bagi lingkungan di Jakarta. Kampung Rawajati memiliki segudang prestasi lingkungan di berbagai tingkat, bahkan menjadi kampung terbaik di DKI Jakarta. Kok bisa gitu?

Jadi, warga Rawajati secara kompak menaruh kepedulian pada lingkungan. Kampung mereka terkenal akan daur ulang sampah, baik itu sampah organik maupun anorganik. Saya melihat bagaimana proses pembuatan kompos basah dan kering dari sampah-sampah di sana. Ternyata cara yang digunakan sangat sederhana. Hal ini yang kemudian bisa ditiru oleh kampung-kampung lain.

Sementara itu sampah-sampah plastik dan kertas juga tidak luput dari pengolahan kreatif mereka. Dengan terampil saya menyaksikan aneka produk dihasilkan dari barang-barang bekas itu. Seperti wadah tisu dari kertas koran hingga tikar dari bungkus kopi yang cantik sekali. Tata olah ini membuat saya takjub. Maka pantas saja jika kampung Rawajati menjadi rujukan yang tepat bagi kampung-kampung yang ingin maju.

Bank Sampah Sebagai Kunci Kepedulian Lingkungan



Saya kagum dengan kekompakan warga dalam melancarkan kegiatan olah sampah itu. Di sana ada yang namanya ‘bank sampah’. Jadi, bank sampah ini seperti layaknya kita menabung uang di bank tapi dalam wujud sampah. Di Rawajati, ada tempat khusus untuk menampung tabungan-tabungan sampah dari warga. Sampah yang ditabung itu sudah dalam keadaan terpisah antara sampah organik dan anorganik. Sehingga proses daur ulang sampah bisa lebih cepat nantinya.

Ketika saya jalan-jalan berkeliling di sana, saya bisa temukan banyak kantong sampah seperti tote bag dengan tulisan ‘bank sampah’ di permukaannya. Kantong-kantong sampah itu tersedia di rumah-rumah warga dan mushola setempat. Ajaib rasanya di perkampungan kok tidak menemukan tumpukan sampah di comberan. Kesadaran warga akan kebersihan inilah yang membuat saya gembira.

Siang yang tidak terik itu benar-benar membuat saya lupa kalau saya masih berada di Jakarta. Lha mau bagaimana lagi? Saya biasanya kepanasan sampai mau meleleh kalau sudah bergelut dengan jalanan Jakarta di siang hari. Hehehe. Bagi yang penasaran, cobalah sesekali mendatangi Kampung Berseri Astra Rawajati di Komplek Zeni AD, Kalibata. Kalau mungkin awkward tiba-tiba datang ke sana cuma mau merasakan sensasi kesegarannya, niatkan saja ke sana untuk membeli aneka jamu. Lho, jamu?

Maju Bersama UKM



Yup! Jadi, KBA Rawajati tidak hanya produktif pada daur ulang sampah saja. Tapi Usaha Kecil Menengah (UKM) pun juga maju di sana. Saat itu saya mengunjungi rumah produksi minuman tradisional, Setiya Bakti. Di situ ada jahe merah, temulawak, bir pletok, dan sebagainya. Minuman tradisional itu dikemas dalam bentuk serbuk halus yang dibungkus plastik kemudian dimasukkan ke dalam box. Setiap sachet-nya sudah memenuhi komposisi yang pas, sehingga kita tinggal menyeduhnya dengan air panas dalam secangkir gelas.

Waktu itu saya mencicipi jahe merahnya dan berhasil membuat saya nambah satu gelas lagi. Bahkan, saya dan Tiwi membawa pulang satu box jahe merah dan satu box temulawak yang masing-masingnya berisi sembilan sachet. Nah, kan bisa jadi alasan yang tepat untuk mengunjungi KBA Rawajati. Sudah bisa ngadem, bisa bawa pulang minuman tradisional asli Indonesia yang berkhasiat pula. Mantap!

Seperti yang diungkapkan Ibu Ninik sewaktu kami berbincang-bincang di kantor RW tadi, Kampung Rawajati ini sangat terbuka dengan kunjungan-kunjungan. Terbukti sudah ada banyak yang berkunjung ke sana. Sampai-sampai, BBC pun meliput kampung itu, lho. Ya. Tidak hanya orang Jakarta maupun luar Jakarta, bahkan luar negeri pun memperhatikan mereka. Tidak heran jika mereka dapat bekerja sama dengan Astra sebagai bagian dari Kampung Berseri Astra (KBA) pada 2015.

Kampung Rawajati memang sudah mulai memberi perhatian lebih pada lingkungan, tepatnya sejak tahun 2001. Melihat potensi yang besar, Astra memberi sumbangsih pada pengembangan dan pendampingan program serta donasi. Memang benar jika potensi yang baik semestinya mendapat perhatian lebih agar semakin melejit. Bukankah kita sering mendengar atau malah mengalami bagaimana rasanya punya program bagus tapi terkendala dana dan tidak adanya pendampingan dari sang ahli? Tidak enak, tho? Nah, kepedulian Astra lewat program KBA itulah yang dalam hal ini menjadi salah satu solusi.

Mini tour yang saya lakukan pada hari itu memberi pelajaran yang berharga bagi saya. Salah satunya tumbuh keinginan untuk bertempat tinggal di perkampungan yang ekosistemnya sebagus Rawajati. Semoga KBA segera menjamur ke mana-mana. Biar pilihan tempat tinggal saya di masa depan kelak jadi banyak. Hahaha.

Nah, sudah segitu saja cerita yang bisa saya bagikan kali ini. Semoga ada kesempatan lagi untuk mengalami sesuatu yang tidak kalah serunya dari kunjungan ke KBA Rawajati ini. Terima kasih sudah menyimak. Cheers!

Follow Us @soratemplates