Pages

Ajaib! Mengunjungi Kampung Rawajati yang Terkenal Itu


Sebelum pindah ke Jakarta, saya terlebih dulu tinggal di Solo dalam waktu yang cukup lama. Saya menerima Solo sebagai kota kecil dengan suasana rindang yang setiap pagi dan sorenya selalu menyegarkan. Hal ini tidak lepas dari upaya pemerintah dan warga untuk mensenyawakan kota modern dan alam.

Suasana teduh sangat terasa jika saya menjelajahi kampung-kampung di Solo. Ada banyak hal-hal menarik yang bisa ditemukan di sana. Salah satunya adalah kegotongroyongan warga untuk merawat tanaman-tanaman sehingga area perkampungan tersebut terasa menyejukkan. Tidak hanya itu, saya juga suka dengan kampung-kampung yang secara aktif membangun Usaha Kecil Menengah (UKM). Seperti Kampung Laweyan dan Kauman dengan produksi batiknya, maupun desa Tawangsari dengan produksi tenun ikat yang mendunia.

Hal-hal seperti itulah yang kadang saya rindukan dari Kota Solo. Nuansa asri dan produktif seringkali menjadi pemacu semangat bagi saya. Entah mengapa, selepas mengunjungi tempat-tempat seperti itu, saya merasa begitu gembira.

Sementara itu, lima bulan saya tinggal di Jakarta suasananya berbeda. Kota besar ini benar-benar terlalu sibuk. Banyak energi saya yang hilang ketika menempuh perjalanan menerabas kemacetan. Udara yang saya hirup pun rasa-rasanya ampek (sesak) meski saya sedang berada di jalan raya yang mestinya ada banyak stok udara di situ.

Lalu orang-orang bekerja dan berkarya di dalam gedung-gedung tinggi. Itu pun terbungkus ruang kubikel yang sekelumit. Sebagai orang luar, saya tentu saja tidak bisa menyaksikan bagaimana produktivitas itu terjadi dan bagaimana karya itu tercipta. Saya tidak dapat mengintip dapur produksi yang menginspirasi. Pada akhirnya, saya adalah orang luar yang hanya bisa menjangkau ketiadaan. Halaaaah. Hahahaha.

Nah, kegelisahan saya itu ternyata tidak berlangsung lama. Beberapa saat lalu di pertengahan April 2018, saya dan kekasih mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Kampung Rawajati. Lho kenapa kok ke Rawajati? Jadi gini..

Kunjungan Adem ke KBA Rawajati


Siang itu, aspal Jakarta telah basah oleh hujan yang baru saja reda. Mengilatnya masih membekas di ingatan saya. Begitupun dengan kesejukan udara yang saya hirup ketika masuk ke Kampung Berseri Astra (KBA) Rawajati. Seketika itu saya merasa tidak lagi berada di Jakarta yang saya kenal. Panca indra saya mengenali suasana kampung itu layaknya perkampungan di tanah kelahiran saya.

Kampung Rawajati di segala penjuru dipenuhi oleh tumbuh-tumbuhan. Mulai dari pohon-pohon rimbun hingga tanaman kelor pun ada di sana. Saya, Tiwi, beserta rombongan lain lantas disambut dengan ramah oleh warga. Senyum mereka membuat atmosfer di Kampung Rawajati semakin adem.

Kami semua berkumpul di kantor RW untuk bercakap-cakap. Di situlah saya tahu kalau ternyata Kampung Rawajati memiliki peranan penting bagi lingkungan di Jakarta. Kampung Rawajati memiliki segudang prestasi lingkungan di berbagai tingkat, bahkan menjadi kampung terbaik di DKI Jakarta. Kok bisa gitu?

Jadi, warga Rawajati secara kompak menaruh kepedulian pada lingkungan. Kampung mereka terkenal akan daur ulang sampah, baik itu sampah organik maupun anorganik. Saya melihat bagaimana proses pembuatan kompos basah dan kering dari sampah-sampah di sana. Ternyata cara yang digunakan sangat sederhana. Hal ini yang kemudian bisa ditiru oleh kampung-kampung lain.

Sementara itu sampah-sampah plastik dan kertas juga tidak luput dari pengolahan kreatif mereka. Dengan terampil saya menyaksikan aneka produk dihasilkan dari barang-barang bekas itu. Seperti wadah tisu dari kertas koran hingga tikar dari bungkus kopi yang cantik sekali. Tata olah ini membuat saya takjub. Maka pantas saja jika kampung Rawajati menjadi rujukan yang tepat bagi kampung-kampung yang ingin maju.

Bank Sampah Sebagai Kunci Kepedulian Lingkungan



Saya kagum dengan kekompakan warga dalam melancarkan kegiatan olah sampah itu. Di sana ada yang namanya ‘bank sampah’. Jadi, bank sampah ini seperti layaknya kita menabung uang di bank tapi dalam wujud sampah. Di Rawajati, ada tempat khusus untuk menampung tabungan-tabungan sampah dari warga. Sampah yang ditabung itu sudah dalam keadaan terpisah antara sampah organik dan anorganik. Sehingga proses daur ulang sampah bisa lebih cepat nantinya.

Ketika saya jalan-jalan berkeliling di sana, saya bisa temukan banyak kantong sampah seperti tote bag dengan tulisan ‘bank sampah’ di permukaannya. Kantong-kantong sampah itu tersedia di rumah-rumah warga dan mushola setempat. Ajaib rasanya di perkampungan kok tidak menemukan tumpukan sampah di comberan. Kesadaran warga akan kebersihan inilah yang membuat saya gembira.

Siang yang tidak terik itu benar-benar membuat saya lupa kalau saya masih berada di Jakarta. Lha mau bagaimana lagi? Saya biasanya kepanasan sampai mau meleleh kalau sudah bergelut dengan jalanan Jakarta di siang hari. Hehehe. Bagi yang penasaran, cobalah sesekali mendatangi Kampung Berseri Astra Rawajati di Komplek Zeni AD, Kalibata. Kalau mungkin awkward tiba-tiba datang ke sana cuma mau merasakan sensasi kesegarannya, niatkan saja ke sana untuk membeli aneka jamu. Lho, jamu?

Maju Bersama UKM



Yup! Jadi, KBA Rawajati tidak hanya produktif pada daur ulang sampah saja. Tapi Usaha Kecil Menengah (UKM) pun juga maju di sana. Saat itu saya mengunjungi rumah produksi minuman tradisional, Setiya Bakti. Di situ ada jahe merah, temulawak, bir pletok, dan sebagainya. Minuman tradisional itu dikemas dalam bentuk serbuk halus yang dibungkus plastik kemudian dimasukkan ke dalam box. Setiap sachet-nya sudah memenuhi komposisi yang pas, sehingga kita tinggal menyeduhnya dengan air panas dalam secangkir gelas.

Waktu itu saya mencicipi jahe merahnya dan berhasil membuat saya nambah satu gelas lagi. Bahkan, saya dan Tiwi membawa pulang satu box jahe merah dan satu box temulawak yang masing-masingnya berisi sembilan sachet. Nah, kan bisa jadi alasan yang tepat untuk mengunjungi KBA Rawajati. Sudah bisa ngadem, bisa bawa pulang minuman tradisional asli Indonesia yang berkhasiat pula. Mantap!

Seperti yang diungkapkan Ibu Ninik sewaktu kami berbincang-bincang di kantor RW tadi, Kampung Rawajati ini sangat terbuka dengan kunjungan-kunjungan. Terbukti sudah ada banyak yang berkunjung ke sana. Sampai-sampai, BBC pun meliput kampung itu, lho. Ya. Tidak hanya orang Jakarta maupun luar Jakarta, bahkan luar negeri pun memperhatikan mereka. Tidak heran jika mereka dapat bekerja sama dengan Astra sebagai bagian dari Kampung Berseri Astra (KBA) pada 2015.

Kampung Rawajati memang sudah mulai memberi perhatian lebih pada lingkungan, tepatnya sejak tahun 2001. Melihat potensi yang besar, Astra memberi sumbangsih pada pengembangan dan pendampingan program serta donasi. Memang benar jika potensi yang baik semestinya mendapat perhatian lebih agar semakin melejit. Bukankah kita sering mendengar atau malah mengalami bagaimana rasanya punya program bagus tapi terkendala dana dan tidak adanya pendampingan dari sang ahli? Tidak enak, tho? Nah, kepedulian Astra lewat program KBA itulah yang dalam hal ini menjadi salah satu solusi.

Mini tour yang saya lakukan pada hari itu memberi pelajaran yang berharga bagi saya. Salah satunya tumbuh keinginan untuk bertempat tinggal di perkampungan yang ekosistemnya sebagus Rawajati. Semoga KBA segera menjamur ke mana-mana. Biar pilihan tempat tinggal saya di masa depan kelak jadi banyak. Hahaha.

Nah, sudah segitu saja cerita yang bisa saya bagikan kali ini. Semoga ada kesempatan lagi untuk mengalami sesuatu yang tidak kalah serunya dari kunjungan ke KBA Rawajati ini. Terima kasih sudah menyimak. Cheers!

Ilham Bachtiar

Blogger kalang kabut yang doyan menulis tentang film. Meski tutur lisannya kurang terjaga, tapi orangnya total berkharisma. Terima usikan di ilhambachtiar25@gmail.com

5 komentar:

  1. Rawajati itu yang di Kalibata bukan ya? Kapan2 mau juga ah lihat2 ke sana. Btw selamat datang di Jakarta ya 😊

    BalasHapus
  2. Ceritanya menarik. Selain menarik, juga ajaib. Sesuai sama judulnya. Mantap mas! :D

    BalasHapus
  3. Sudah sering dengar nama kampungnya tapi belum pernah ke sana...Thanks sharingnya Mas
    Btw, untuk UKM memang di tiap kelurahan sekarang terbina, lalu hasil produksi diantaranya dijual di kios yang ada di masing-masing RPTRA. Sama seperti di kelurahan saya, Joglo-Jakarta Barat.

    BalasHapus
  4. memang seharusnay kampung diberdayakan ekonominya sesuai dengan kemampuan mereka ya

    BalasHapus

Berkomentarlah sejujur-jujurnya. Sebab menjadi diri sendiri tanpa rasa sungkan adalah sebaik-baik sandiwara.