Pages

Kilovegram: Membahas Isu Body Shaming dengan Ringan


Dulu semasa SMP dan SMA, saya punya teman bernama Heri. Ia adalah siswa yang sehari-hari kenyang menelan ledekan-ledekan dari teman-teman sekolahnya. Heri sebetulnya siswa yang pintar, terutama untuk pelajaran kimia. Saya yang pernah satu kelas dengannya, sering mengintip pekerjaannya yang terpercaya itu.

Heri diledek tidak jauh dari penampilan fisiknya. Walau ia kurus dan dandanannya sangat rapi. Tapi orang-orang justru terfokus pada giginya yang besar dan tidak rapi. Awalnya, saya terlibat juga dalam merundung Heri. Baru menginjak kelas 2 SMA saya merasa lebih kasihan kepadanya karena perundungan terhadapnya semakin parah saja.

Salah satu hal yang saya cemaskan dari Heri adalah melewatkan masa remaja tanpa kisah asmara yang membara. Dan benar saja, sampai lulus SMA, Heri tidak terlihat memiliki hubungan asmara dengan siapapun. Bahkan sama sekali tidak ada tanda-tanda ke arah itu. Wong Heri itu kalau ngobrol sama perempuan, malamnya langsung kerokan gitu.

Maka dari itu saya penasaran, apakah Heri pernah menginginkan hubungan asmara? Alih-alih berasmara, bagaimana perasaannya melalui masa remaja dengan perundungan yang tak kenal kendor itu?

Di lingkaran sosial ini, Heri berperan sebagai liyan (the Other). Liyan adalah sebutan bagi perseorangan maupun kelompok yang secara terkonstruksi berbeda dari yang lain dan ia/mereka dalam masa pencarian eksistensi (pengakuan atas keberadaan). Sederhananya, liyan ini merupakan orang yang dipandang sebelah mata.

Seperti Simone de Beauvoir yang menyatakan bahwa kaum perempuan adalah liyan karena keberadaannya selalu menjadi objek laki-laki. Sigmund Freud pun punya pendapat jika anak perempuan adalah liyan. Sampai-sampai muncul istilah 'penis envy' dalam psikoseksual Freud yang oleh Jacques Lacan dimaknai sebagai hasrat ingin mengetahui seperti apa rasanya berada dalam suatu kelompok yang lain.

Heri mungkin ingin sekali-kali menjadi siswa populer yang keren dan digandrungi banyak perempuan. Ia juga mungkin saja ingin bisa nongkrong dengan teman-teman yang tidak mengejeknya sedikitpun. Atau bahkan, ia sesekali juga ingin berada di posisi sebagai seorang perundung yang membuat lelucon atas kekurangan orang lain.

Tapi urusan hati siapa yang tahu?

Apa yang dialami Heri dan apa yang saya banyak pertanyakan di atas ternyata terjawab dalam sebuah novel teenlit karya Mega Shofani. Novel bernuansa pink ini berjudul Kilovegram. Sinopsis versi sayanya begini:

Aruna adalah siswa baru di SMA Angkasa yang sering dirundung perihal bentuk tubuhnya yang besar. Walau begitu, ia mempunyai sahabat setia sejak kecil bernama Raka.

Raka terkenal dengan ketampanan dan kesupelan yang membuat Diana (anak pejabat yang merasa dirinya cantik) dimabuk asmara. Oleh sebab Aruna dan Raka terlihat sangat akrab, Diana yang merasa cemburu terus-terusan merundung Aruna, terutama soal ukuran tubuh.

Awalnya, Aruna merasa gembira lantaran Nada, saudarinya dari Tasikmalaya, pindah ke rumah Aruna dan bakal sekolah di tempat yang sama. Sayangnya, sejak kemunculan Nada, hubungan Aruna dan Raka menjadi renggang.

Nada merupakan perempuan pintar, ramah, sopan, berbakat di seni, berparas cantik, dan langsing. Hanya satu yang Aruna inginkan dari Nada, yaitu kembalinya perhatian Raka. Jadi mulai sekarang Aruna diet!

Artwork by Mega Shofani

Body Shaming

Isu ini menjadi dominan di cerita Kilovegram selain lika-liku cintanya. Aruna yang terus diejek soal ukuran tubuh berhasil dibangun dengan baik oleh Mbak Mega Shofani. Mulai dari ejekan dengan nada bercanda seperti Raka atau memang ejekan yang sengaja dilontarkan untuk menjatuhkan mental Aruna seperti yang Diana lakukan.

Walau begitu, ada karakter-karakter yang tidak mengatakan hal-hal keji itu pada Aruna. Ada Nada dan Ibunya Aruna yang senantiasa memberi dukungan bagaimanapun bentuk Aruna. Hal ini yang bagi saya cukup seimbang. Bahkan saya tidak yakin teman saya, Heri, seberuntung Aruna itu.

Dalam mengatasi body shaming tersebut, Aruna digambarkan sebagai sosok yang kuat dan berani melawan. Bahkan saat diejek kakak kelas sekalipun, Aruna mampu membalasnya. Sementara teman saya, Heri, hanya terdiam lesu dalam pelukan malaikat.

Barangkali Mbak Mega ingin menyampaikan kepada para liyan di dunia nyata agar berani melawan, minimal tidak berkecil hati. Dalam kisah ini, ketegaran Aruna menghadapi perundungan tidak membosankan. Seperti keterlibatannya mengikuti ajang fashion show sebagai model untuk membuktikan kalau dia tak bisa dipandang sebelah mata lagi.

Apa yang dialami oleh Aruna barangkali merupakan pengalaman empiris Mbak Mega. Kami dulu bersekolah di tempat yang sama, saya kelas satu sementara Mbak Mega kelas tiga. Meski waktu itu belum kenal, tapi saya tahu Mbak Mega dikaruniai tubuh yang besar. Maklum, tahu orangnya tapi tidak tahu namanya. Untung ada Facebook.

Oh.. Raka. Oh.. Baka.
Karakter bernama Raka dalam kisah ini merupakan karakter yang paling kurang matang menurut saya. Sosoknya sebagai kakak kelas terlihat sangat tipis mengingat karakter lain yang jadi juniornya justru berpikir dan bersikap lebih dewasa. Memang sih laki-laki remaja di SMA saya dulu banyak yang kekanak-kanakan, termasuk saya. Tapi kekanakannya Raka terlalu kontras jika dibandingkan dengan popularitasnya yang menawan itu.

Kalau biasanya kita mengenal sebutan Drama Queen yang notabene adalah perempuan (tidak bermaksud seksis, tapi yang dimaksud queen itu memang perempuan, kan?). Di Kilovegram, justru Raka lah yang menjadi orang yang doyan ngedrama. Karakternya yang menyebalkan itu bikin saya kurang menerima keputusan Aruna yang mencintainya. 

Saya malah merasa Aruna lebih cocok berhubungan dengan Valen (kakak Diana). Sebab, Valen memiliki latar belakang yang lebih rapuh dari Raka. Kerapuhan itu bisa membaur dengan kerapuhan Aruna sehingga jika bersama, mereka bisa jadi pasangan yang saling menguatkan.

Artwork by Mega Shofani 

Keputusan Fatal

Selain karakter Raka yang kurang matang, salah satu yang menurut saya disayangkan adalah keputusan Mbak Mega untuk menggunakan lokasi di Jakarta.

Saya memang baru beberapa bulan di Jakarta. Jika mau membandingkan Jakarta dan Solo, ternyata ada banyak perbedaan yang saya temukan. Bahkan, dari hal sederhana seperti di Solo ada makanan namanya arem-arem. Sementara di Jakarta, setidaknya di wilayah saya tinggal, menyebutnya lontong isi. Meski wujudnya sama, tapi istilah yang digunakan berlainan. Maka ketika Raka mengejek Runa dengan sebutan arem-arem, bagi saya diksi itu terasa kurang pas.

Kurang jelinya Mbak Mega menangkap perbedaan itu yang beberapa kali membuat saya meragukan lokasi cerita yang berlatar di Jakarta. Seperti merokok di kantin. Di sekolah saya dulu memang merokok di kantin menjadi sesuatu yang mungkin terjadi. Tapi menurut pengakuan Tiwi yang merasakan bersekolah di Jakarta, merokok di kantin menjadi sesuatu yang muskil.

Sebetulnya masih ada beberapa poin yang kurang tepat sebagaimana contoh-contoh di atas. Tapi secara keseluruhan, Kilovegram tetap bisa dinikmati sampai selesai. Keputusan yang fatal tadi bukan membuat kita untuk tidak membaca atau membumi hanguskan buku Kilovegram. Jelas tidak. Koreksi yang saya sebutkan merupakan pengharapan saya agar Mbak Mega senantiasa membuat cerita-cerita yang lebih nikmat di kemudian hari.

Bukankah sefatal-fatalnya keputusan penulis adalah keputusan memboikot Gramedia tapi bukunya tetap di jual penuh di sana? Eh, itu siapa, ya? Wahaha.

Ringan Tapi Tidak Ringkih

Sebagai teenlit, Kilovegram tentu saja merupakan bacaan yang ringan bagi kawula muda. Meski kurang jelas cerita ini berlatar tahun berapa (ada sedikit kerancuan yang membuat saya kebingungan menaksir realitas masanya), tapi jika disajikan kepada remaja saat ini saya rasa masih cocok-cocok saja.

Saya suka dengan isu body shaming yang diangkat. Sudah males rasanya sama tokoh utama yang hampir sempurna, kehadiran Aruna dalam kisah ini memberi sudut pandang yang menarik. Pada akhirnya, rasa penasaran saya terhadap Heri seperti yang sudah saya sebut di awal, lumayan terjawab melalui karakter Aruna.

Menghadirkan liyan sebagai pusat cerita adalah hal menarik untuk diikuti. Setiap keputusan yang Aruna ambil, mulai dari urusan diet hingga asmara, menjadi momen sakral yang dinanti. Kilovegram membuka mata kita terhadap liyan yang semestinya kita rangkul, bukan malah dirundung.

Orang-orang yang barangkali merasa dirinya unggul, ubermensch, melihat liyan sebagai suatu kecacatan sosial. Kehadirannya dipinggirkan, dinomorduakan, bahkan tanpa rasa bersalah memperlakukan liyan dengan tidak wajar. Lewat kisah Aruna inilah kita menyadari bahwa Hitler dan Rahwana senantiasa tinggal di hati kita, kadang keluar dari mulut dengan perkataan yang keji. Hingga membuat hati seseorang terluka, bahkan hancur lebur.

Aruna adalah apa yang disebut Nietzsche sebagai amor fati ego fatum: "cinta terhadap takdir, karena aku adalah takdir." Aruna telah berdamai dengan keadaannya. Lambat laun, keadaan berdamai juga kepada Aruna.


Akhir kata, bacalah.

Ilham Bachtiar

Blogger kalang kabut yang doyan menulis tentang film. Meski tutur lisannya kurang terjaga, tapi orangnya total berkharisma. Terima usikan di ilhambachtiar25@gmail.com

2 komentar:

  1. Aku dah bacaaaak! Jika kumelupakan setting tempat, kucukup terhibur huehehe

    BalasHapus
  2. udah lama gak baca teenlit, jadi penasaran nihhh... :)

    BalasHapus

Berkomentarlah sejujur-jujurnya. Sebab menjadi diri sendiri tanpa rasa sungkan adalah sebaik-baik sandiwara.