27 Agustus 2018



Malam ini saya merasa begitu suntuk karena punya banyak kebutuhan berbelanja tapi bingung mana yang mesti didahulukan. Mau beli semua sekaligus tapi dana masih mepet banget. Pernah mengalami juga? Ah, daripada risau mending jalan-jalan saja. Siapa tahu bisa nemu pencerahan. Tapi mau jalan ke mana, ya?

Aha!

Paling seru sih jalan-jalan ke masa lalu saja. Beruntung banget punya mesin waktu di rumah. Jadi bisa langsung meluncur ke mana pun yang diinginkan. Asyik! Tak perlu berlama-lama lagi, saya lekas saja mengaktifkan mesin waktu saya dan melesat ke abad pertengahan di Eropa.

Source: idevie.com
Kaki saya melangkah menyusuri bangunan berbata yang kokoh di kanan dan kiri. Jalanan ramai sekali dengan orang-orang yang beraktivitas jual beli. Ya, saya tiba di pasar.

“Hey, cepat bayar utangmu!”

Saya kaget setengah mati dengan bentakan dari pria kekar di sebelah saya. Lekas saja saya langsung menyingkir darinya. Ya siapa sih yang mau kena gampar dari pria kekar abad pertengahan?

Setelah cukup jauh dari sosok bengis itu, saya mencari informasi perihal masalah apa yang terjadi di situ. Usut punya usut, pedagang tomat di pasar itu sudah 65 hari tidak membayar upeti kepada tuannya yang merupakan pemodal dari dagangannya itu. Ternyata, pada zaman itu peminjaman modal sedang marak terjadi. Orang-orang dari kalangan budak yang baru merdeka biasanya bingung mau hidup dengan cara apa. Akhirnya mereka berdagang. Lah modalnya dari mana? Dari para ‘tuan’ mereka meminjam modal yang dikenal dengan istilah sea loans.

Saya jadi tahu bahwa pada masa itu orang-orang mulai bisa punya barang dulu, bayar kemudian. Wah, cocok nih sama saya yang lagi banyak barang kebutuhan buat dibeli. Eh, tapi jadi penasaran nih sama awal mula sistem kredit itu kayak apa, ya?

Saya segera mencari tempat sepi untuk melompat lagi pakai mesin waktu. Syukurlah ada gang sempit yang sunyi. Dalam sekejab saya melesat ke Amerika pada tahun 1900-an. Saya tiba di depan supermarket yang di depannya ada SPBU. Krucuk, krucuk. Aduh perut saya lapar sekali. Coba jajan ke supermarket ah, siapa tahu ada diskonan.

Saya mengambil snack kering untuk mengganjal perut. Sewaktu saya membayar ke kasir, saya dimintai kartu member. Tentu saja saya tidak memilikinya. Lantas seorang pria paruh baya di belakang saya dengan dermawan menraktir saya dengan kartu member yang ia miliki.

Sembari mengungkapkan rasa terima kasih, saya menanyakan lebih lanjut soal kartu member yang dipakai itu tadi apa? Saya heran, sebab ketika kartu itu disodorkan, pria paruh baya itu tidak mengeluarkan uang sepeser pun untuk membayar.

Pria buncit itu menjelaskan banyak hal. Ternyata jika punya kartu member di supermarket itu, orang Amerika bisa memiliki sejumlah barang secara kredit. Waah, jadi ini ya asal muasal kartu kredit itu? Menarik. Tapi kapan ya bank mulai terlibat dalam sistem perkreditan ini? Oke, saatnya time travel lagi!

Setelah berpamitan dengan Pak Tua tadi, saya menyelinap di balik pohon yang cukup besar. Mesin waktu kembali aktif dan secepat kilat membawa saya ke tahun 1946. Saya yang awalnya bersembunyi di balik pohon, tiba-tiba duduk manis di sebuah ruangan yang megah. Tepat di depan saya ada seorang pria berambut klimis dengan kumis tipis yang melengkung simetris dengan senyum manis. Mata saya lantas membaca papan nama di atas meja yang rapi: John Biggins.

“Selamat datang di Flatbush National Ban of Brooklyn. Anda pasti mau menanyakan gagasan saya soal Charge It, bukan?”

Dengan plonga-plongo saya lekas saja menjawab, “Ya, apa itu Charge It?”

“Hehehe. Charge It adalah sebuah sistem yang dibuat untuk mempermudah nasabah kami dalam melakukan transaksi di berbagai toko yang juga merupakan nasabah dari bank kami. Saya yakin ide ini akan membawa banyak perubahan pada sistem transaksi dunia.”

Obrolan kami semakin akrab. Dari situ saya tahu kalau ternyata John Biggins ini adalah bankir yang menggagas sistem kredit. John lalu memperkirakan kalau pemerintah bakal campur tangan dengan sistem kredit ini. Benar saja, saya masih ingat di pelajaran IPS kalau tahun 1970-an pemerintahan Amerika menetapkan regulasi kebijakan penggunaan kartu kredit dan setelahnya terjadi ekspansi besar-besaran ke berbagai penjuru dunia.

Merasa informasi yang saya dapatkan sudah cukup, saya lekas menyudahi perjalanan waktu saya. Kepada John saya minta izin ke toilet. Tapi tentu saja, di balik pintu toilet saya mengaktifkan kembali mesin waktu untuk kembali ke tahun 2018. Jeng jeng. 

Harpitnas Tiba. Ayo Belanja di Akulaku!

Source: techgeek365.com
Setelah melihat bagaimana sistem kredit mulai masuk ke dalam budaya belanja manusia, lalu berkembang menjadi sistem yang lebih kuat, kini di tahun 2018 urusan perkreditan menjadi lebih efisien lagi. Bagaimana tidak? Berbekal smartphone dan koneksi internet saja kita bisa punya saldo kredit yang cukup untuk berbelanja banyak hal.

Teknologi digital memang mengubah cara orang berbelanja. Bahkan makin ke sini sudah semakin banyak pilihannya. Bikin bingung? Wajar saja. Namun, baru-baru ini jagad sosial media saya sedang asyik membicarakan sebuah wadah yang seru banget buat belanja. Wah, apa tuh?

Namanya Akulaku, di mana kita bisa berbelanja dengan mudah melalui smartphone dan tidak perlu khawatir kalau belum ada biaya yang cukup untuk membeli barang yang diinginkan. Lho kok bisa?

Di era yang serba cepat ini saya sering mengalami pengalaman buruk saat berbelanja online. Saya menyesal kalau sudah menandai barang yang mau dimiliki tapi belum mampu beli karena gaji belum turun dan akhirnya barang tersebut sudah dibeli orang lain. Nah, kalau pakai Akulaku, saya bisa beli dulu barangnya secara kredit tanpa kartu kredit!

Cara pakai Akulaku ini gampang banget. Tinggal download aplikasinya di Playstore untuk Android dan AppStore untuk iOS, lalu instal di gawai masing-masing. Setelah itu kita perlu isi data-data profil yang dibutuhkan. Buat bocoran, siapkan kartu identitas (KTP) karena nantinya KTP perlu difoto sebagai bukti kepemilikan. Setelah semua tahap selesai, kita bisa langsung mendapatkan loan kredit sebesar tiga juta rupiah! Wow! Kalau begini caranya, barang-barang kebutuhan bisa segera saya miliki. Ini nih serunya gaya belanja zaman now


Akulaku dibicarakan di ranah sosial media saya karena sebentar lagi kita bakal menyambut Harpitnas (Hari Pesta Kredit Nasional). Akulaku terlibat di dalamnya pada 20 Agustus-11 September nanti. Selama periode itu, kita akan disuguhi berbagai pilihan produk yang bisa diperoleh hanya dengan modal 1000 perak saja tiap harinya. Mantul! Mantap betul!

Selebihnya, mulai 20 Agustus 2018, Akulaku akan menjadi aplikasi virtual kredit pertama yang gagah berani memberi kompensasi jika pengajuan kredit limit kita ditolak. Karena ditolak itu sakit, perih, dan membekas, maka dengan pengertiannya kompensasi yang diberikan kepada kita adalah uang tunai senilai 888.000 rupiah! MEMANTUL JAUH! Memang mantap betul jadi fyuuh. Lega maksudnya.

Sudah tidak sabar lagi menunggu Harpitnas untuk memenuhi barang-barang yang saya butuhkan. Perjalanan panjang mengarungi waktu benar-benar berhasil memberi pencerahan bagi saya. Untung di kamar punya mesin waktu. Tinggal menyalakan perangkat komputer, lalu terhubung dengan internet, dan taraaa. Segudang informasi lintas ruang dan waktu bisa segera saya dapatkan.

Event Harpitnas tahun ini bakal dimeriahkan oleh banyak pihak. Namun saya sudah mantap memilih Akulaku. Kalau kamu?


Header shoot by @pertiwiyuliana

Follow Us @soratemplates