20 Desember 2018

Peralihan 2018 ke 2019, Saatnya Mengelola Uang dengan Cerdas



Tahun 2018 hanya tersisa beberapa hari lagi. Dan saya sedang ribet-ribetnya mengurus laporan tahunan kantor, khususnya pada divisi tempat saya bekerja. Untuk menghasilkan laporan yang bagus, saya pun belajar dari orang-orang lama di kantor tentang apa yang harusnya ada dan tidak. Gara-gara itu saya mulai berpikir pada isi kantong sendiri. Apa perlu membuat laporan akhir tahun terhadap keuangan diri sendiri, ya?

Tips Evaluasi Keuangan Akhir Tahun

Setelah berselancar di mesin pencari, saya pun jadi tahu kalau membuat laporan keuangan di akhir tahun itu perlu juga. Tidak hanya untuk perusahaan, tapi individu pun butuh. Dilansir dari moneysmart.id, disebutkan bahwa ada lima hal yang harus dievaluasi dalam pertumbuhan keuangan kita setiap tahunnya.

Pertama soal pertumbuhan aset. Ini menarik banget, sih. Pasalnya, saya pribadi bukan orang yang punya fokus mengelola aset yang berjalan secara berkesinambungan setiap tahunnya. Aset itu misalnya punya emas atau perhiasan. Tapi saya lebih tertarik soal aset usaha, seperti punya warung,
warnet, online shop, sampai penitipan sepeda pun termasuk aset usaha yang perlu dikontrol pertumbuhannya tiap tahun. Karena aset usaha itu tidak hanya menghasilkan bagi usaha itu sendiri tapi juga otomatis bagi pemiliknya.

Kedua soal tujuan finansial apa saja yang sudah tercapai. Kalau saya sih tahun ini alhamdulillah berhasil membeli laptop baru. Karena laptop lama sudah rusak parah, ya mau tidak mau harus beli baru, sih. Sayangnya ketika laptop saya rusak, kondisi keuangan saya sedang tidak baik. Akhirnya saya nabung selama tiga bulan untuk memperoleh laptop baru. Syukurlah, ada teman yang meminjamkan laptop selama saya menabung. Ya mau bagaimana lagi, laptop itu aset kerja. Kalau nggak ada laptop, apa yang bisa saya kerjakan?

Ketiga dan keempat bicara soal investasi dan dana pensiun. Saya lebih cenderung fokus ke investasi daripada dana pensiun. Saat ini saya memang belum mencoba berinvestasi. Target berinvestasi sepertinya bakal jadi resolusi saya di tahun depan. Hehehe. Sementara itu untuk saat ini saya baru memperdalam pengetahuan soal investasi. Ya, agar ketika memulainya tidak mengalami kecerobohan.

Nah, yang kelima itu soal rasio utang. Tahun ini memang jadi tahun yang cukup berat bagi saya dalam hal kemandirian finansial. Sebab tercatat beberapa kali saya terpaksa berutang pada kawan atau saudara saya untuk bertahan hidup di perantauan ibu kota. Syukurlah satu per satu utang bisa dicicil pelunasannya karena makin hari keuangan saya makin tertib keluar masuknya.

Menurut saya selain poin-poin itu ada satu hal lagi yang juga mesti diperhatikan. Yaitu, donasi. Meski pepatah mengatakan kalau bersedekah itu jangan diungkit-ungkit, tapi bagi saya melihat kembali ke mana kita berdonasi itu juga penting. Dewasa ini kan ada banyak sekali platform yang menyediakan ruang bagi masyarakat untuk berdonasi. Nah, saya rasa ke mana kita mendonasikan uang itu perlu dievaluasikan juga.

Agar kedepannya donasi tidak hanya sekadar melihat berapa uang "sisa" yang kita miliki untuk disumbangkan. Tapi juga bisa jadi pemicu untuk bertumbuh. Misalnya, tahun ini sudah mendonasikan 350ribu untuk UMKM perempuan. Terus tahun depan sudah ada target untuk berdonasi ke bidang pendidikan sebesar 600ribu. Dengan membuat target-target yang baik harapannya pertumbuhan finansial juga jadi baik.

Rencanakan Keuangan di Awal Tahun

Selain membuat evaluasi akhir tahun, keuangan juga perlu direncanakan untuk tahun berikutnya. Dalam merencanakan pertumbuhan finansial, sih, menurut saya tidak perlu matang dulu. Sebab yang penting adalah bagaimana bikin rencana keuangan itu realistis. Mau bikin rencana yang matang buat liburan ke Alaska dengan gaji sebulan 3juta tidak lebih baik daripada bikin rencana nyicil tabungan nikah buat beberapa bulan ke depan. Dan dalam urusan ini perlu diperhatikan pula kalau sebaiknya rencana yang dibuat bukan untuk kepentingan konsumtif, tapi untuk mengembangkan aset dan memenuhi siklus hidup yang berkualitas.

Di usia yang ke-25, saya masih belum baik dalam membuat perencanaan keuangan setiap tahunnya. Mulai dari saya bekerja sebagai freelancer hingga orang kantoran, pendapatan yang saya miliki tetap saja tidak terprogram dengan jelas. Hasilnya benar-benar mengecewakan. Awal-awal menerima gaji
langsung khilaf sampai terseok-seok di akhir bulan.

Dan ternyata setelah baca Moneysmart.id saya jadi ngerti bagaimana seharusnya mengelola gaji pertama. Salah satunya yaitu penerapan rumus 50-30-20, yang artinya setiap gaji yang kita terima dalam satu bulan mesti dipilah menjadi: 50% kebutuhan sehari-hari, 30% bayar hutang, dan 20% kepentingan pribadi.

Tidak puas dengan baca-baca artikel di Moneysmart.id, saya pun memberanikan diri untuk mengikuti workshop finansial yang mereka selenggarakan pada 15 Desember 2018. Dalam kesempatan itu saya belajar banyak secara langsung dengan ahlinya. Apalagi diberi sesi tanya jawab yang bisa saya manfaatkan untuk berkonsultasi. Saya sebenarnya merasa agak tikda pede lantaran peserta lain sibuk bertanya soal investasi, rekasa dana, tabungan emas, hingga saham, sementara pertanyaan saya masih seputar bagaimana bijak mengelola uang digital. Hehehehe.

Jika melihat pertengahan tahun 2019, saya jadi teringat betapa getirnya memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Padahal di usia seperti ini mestinya sudah punya kesadaran akan pentingnya pengelolaan keuangan dengan sehat. Nah, tahun 2019 akan jadi titik balik saya dalam meningkatkan kualitas hidup. Salah satunya dengan mengelola keuangan dengan baik dan benar. Sudah saatnya bisa #CerdasDenganUangmu agar tidak dibodohi utangmu.


Header: Lukas via pexel

3 komentar:

  1. Ditunggu ya mulai investasinya :)

    Dan tabungan nikahnya tentu saja~

    BalasHapus
  2. Usia muda harus sudah memikirkan masa depan dan investasi.

    Tidak lah mudah bagi kita memulai sesuatu yang baru, kalau ada niat pasti bisa.

    BalasHapus
  3. "Karena aset usaha itu tidak hanya menghasilkan bagi usaha itu sendiri tapi juga otomatis bagi pemiliknya."

    Kalimat ini terkesan mbulet dan nda dipikirkan. Lha gimana mau mikirkan kalimat dengan baik dan benar jika pemikiran akan rencana keuangan tahun depan saja masih ambyar~

    BalasHapus

Follow Me @hamtiar_