9 Mei 2019


Genre film apa yang paling kamu suka? Apakah film laga? Atau bisa jadi film romantis menjadi pilihan pertama kamu?

Film romantis biasanya dirancang untuk mengaduk-aduk emosi penonton. Apalagi kalau kisah yang diangkat relevan dengan kisah hidup kita. Meski kadang nggak sedramatis itu, tapi ada beberapa momentum manis yang bisa terjadi dalam hidup kita. Kita bisa tertawa dari komedinya, bisa sedih karena dramanya, atau sampai senyum-senyum sendiri karena kutipan kata-kata romantisnya.

Apa sih yang bisa kita dapatkan dari nonton film romantis? Tentu saja bukan adrenaline rush, melainkan sensitivitas romansa yang bisa dipoles dengan kutipan romantis yang ada dalam film. Oleh karena itu, tidak heran jika kemudian banyak adegan atau kutipan-kutipan legendaris dari film romantis Hollywood yang jadi inspirasi.

Nah, buat kamu yang sudah kehabisan stok kutipan romantis, berikut ini saya suguhkan 10 kutipan kata-kata romantis dari film Hollywood sepanjang masa yang bisa kita pakai untuk bikin pasangan jatuh hati.

Love Actually (2003)


Sutradara: Richard Curtis 
Pemain: Keira Knightley, Hugh Grant, Liam Neeson, Rowan Atkinson, Bill Nighy, Colin Firth
Kata-Kata Romantis: “To me, you are perfect.” – Andrew Lincoln


The Fault in Our Stars (2014)


Sutradara: Josh Boone
Pemain: Shailene Woodley, Ansel Elgort, Nat Wolf
Kata-Kata Romantis: “It would be a privilege to have my heart broken by you.” – Augustus Waters


Notting Hill (1996)


Sutradara: Roger Michell
Pemain: Hugh Grant, Julia Roberts, Rhys Ifans
Kata-Kata Romantis: “I’m just a girl, standing in front of a boy, asking him to love her.” – Anna Scott

Gone with the Wind (1939)


Sutradara: Victor Fleming
Pemain: Vivien Leigh, Clark Gable, Olivia de Havilland
Kata-Kata Romantis: “You should be kissed and often, and by someone who knows how.” – Rhett Butler


Serendipity (2001)


Sutradara: Peter Chelsom
Pemain: Kate Beckinsale, John Cusack, Jeremy Piven
Kata-Kata Romantis: “It’s like in that moment the whole universe existed just to bring us together” – Jonathan Trager

Say Anything... (2013)


Sutradara: Cameron Crowe
Pemain: John Cusack, Ione Skye, John Mahoney
Kata-Kata Romantis: “What I really want to do with my life — what I want to do for a living — is I want to be with your daughter. I’m good at it.” - Lloyd Dobler

The Notebook (2004)


Sutradara: Nick Cassavetes
Pemain: Ryan Gosling, Rachel McAdams, Gena Rowlands, Sam Shepard
Kata-Kata Romantis: “So, it’s not gonna be easy. It’s gonna be really hard. We’re gonna have to work at this every day, but I want to do that because I want you. I want all of you, forever, you and me, every day.” - Noah Calhoun

Pride & Prejudice (2005)


Sutradara: Joe Wright
Pemain: Keira Knightley, Matthew Macfadyen, Donald Sutherland, Brenda Blethyn, Rosamund Pike, Talulah Riley, Carey Mulligan, Judi Dench
Kata-Kata Romantis: “You have bewitched me, body and soul, and I love… I love… I love you.” - Mr. Darcy

50 First Dates (2005) 


Sutradara: Peter Segal
Pemain: Adam Sandler, Drew Barrymore, Rob Schneider, Sean Astin, Blake Clark
Kata-Kata Romantis: “I love you very much, probably more than anybody could love another person.” – Henry Roth

When Harry Met Sally... (1989)


Sutradara: Rob Reiner
Pemain: Meg Ryan, Billy Crystal, Carrie Fisher, Bruno Kirby
Kata-Kata Romantis: “When you realize you want to spend the rest of your life with somebody, you want the rest of your life to start as soon as possible.” - Harry Burns


Nah, itu dia daftar 10 film romantis Hollywood sepanjang masa yang kutipan dialog pemerannya jadi legendaris. Gimana sudah ada inspirasi belum? Kalau ada rekomendasi lain boleh loh disertakan di kolom komentar.

Selamat menjadikan film-film diatas daftar film akhir pekanmu!


Header source: Simon Matzinger via Pexels.com

4 Mei 2019


Tak ada yang lebih melegakan selain duduk manis menonton pertunjukan di tengah kesibukan yang memusingkan kepala. Beberapa hari belakangan ini saya sedang berada di situasi yang serba harus dipikirkan, ditangani, dan dipertanggungjawabkan. Apaan, tuh? Ngurus tahapan sakral dua insan yang berkomitmen dalam naungan asmara, Bos. Hahaha. Namun di tengah padatnya mobilitas tersebut, saya dan Tiwi masih sempat untuk meluangkan waktu.

Cara yang kami tempuh untuk meluangkan waktu adalah dengan duduk santai menikmati pertunjukkan standup comedy.

Pada Jumat, 19 April 2019, kami melenggang menuju Balai Kartini Jakarta untuk menonton lima komika yang sudah tak asing lagi. Ada Adjis Doaibu, Gilang Bhaskara, Sakdiyah Makruf, Ridwan Remin, dan Babe Cabita. Gelinya, ketika kami memasuki lobi Balai Kartini, kami disambut poster Pandji Pragiwaksono yang guedhe-guedhe sekali. Padahal Pandji tidak tampil! Kayak beli jajanan  gede-gede tapi isinya angin.

Eh, tapi bukan berarti Pandji tidak terlibat sama sekali, lho. Ia bertugas memandu acara selama tiga hari penuh. Acara ini dinamai BukaTawa yang hadir di dunia ini berkat kolaborasi Bukalapak dengan Comika ID. Total komika yang menghibur ada 15 yang dibagi dalam tiga hari, mulai dari 19 April sampai 21 April 2019.

Sebelumnya, saya pernah menonton pertunjukan standup comedy di Solo yang dimeriahkan oleh Ernest Prakarsa dan Ge Pamungkas. Juga waktu itu sempat menonton tapping standup comedy goes to campus yang menghadirkan beberapa komika kawakan seperti Mudy Taylor, Mongol, hingga Soleh Solihun. Tapi jujur saja, pertunjukan standup comedy yang diselenggarakan Bukalapak ini jauh lebih keren!

Kenapa demikian?

Dari hal paling sederhana dan detil, deh. Saya bisa rasakan tempat berlangsungnya acara ini begitu nyaman sehingga duduk selama tiga jam tidak membuat badan ini pegel linu. Bukan hanya nyaman duduknya, mulai dari pengaturan suhu, sound yang bersih, hingga panggung yang nyaman di mata juga membuat malam itu terasa makin sempurna. Apalagi ditambah dengan penonton yang juga khusyuk menikmati BukaTawa, bagi saya hal ini berhasil membentuk suasana yang hangat.

Eh, kalau dipikir-pikir ongkos tiket nonton BukaTawa tidak terlalu mahal. Bahkan kalau beli melalui aplikasi Bukalapak bisa jauh lebih hemat. Saya dan Tiwi dengan tenang duduk di kursi VIP untuk menikmati sajian tawa dari komika handal yang tadi sudah saya sebutkan tadi.

Sampai tulisan ini terbit, saya masih bisa ingat beberapa bit yang benar-benar bikin saya ngakak saat itu. Namun tentu saja saya tidak bisa membocorkan materi para komika di sini.

Nah, buat kamu yang tidak sempat hadir untuk nonton secara langsung, kamu masih bisa kok nonton BukaTawa di aplikasi Bukalapak. Lho kok bisa? Sebab, Bukalapak punya fitur nonton yang disebut BukaNonton. Di situ kamu bisa nonton berbagai macam tayangan, mulai dari film hingga pertandingan Liga Inggris.

Untuk menikmati fitur ini kamu hanya perlu menjadi pembeli prioritas. Nanti pertunjukan BukaTawa akan ditayangkan di BukaNonton pada 5 Mei 2019. Pas banget kan sama hari pertama Bulan Ramadhan. Bisa bikin ngabuburit kamu makin menyenangkan.

Cara menggunakan fitur BukaNonton dari Bukalapak ini tidak susah, kok. Silakan simak tahapan ringkasnya seperti ini:

Pertama, kamu harus punya aplikasi Bukalapak dulu, dong. 
Kedua, coba kamu lihat Menu Favorit, terus klik Lihat Semua/Lainnya. 
Ketiga, kamu klik Streaming lalu pilih  BukaNonton. Sudah begitu saja! 


Tapi kalau kamu belum berlangganan, kamu hanya perlu mengajukan diri untuk menjadi pembeli prioritas dan membayar tagihannya. Gampang, kan?

Yuk, nonton BukaTawa di BukaNonton Bukalapak. Abis itu kita bisa cerita bareng soal pertunjukan standup comedy yang ada di sana.


Source header: Pixabay via Pexels.com

25 Maret 2019


Copyright by Droidlime
Mencari handphone yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan memang tidak mudah. Perlu bolak-balik melihat berbagai jenis ponsel dan membandingkannya untuk mendapatkan yang dirasa terbaik. Bagimu, apa saja sih yang perlu ditekankan ketika hendak membeli handphone? Berikut ini beberapa poin sederhana yang saya susun berdasarkan pengalaman pribadi maupun pengalaman teman-teman saya di sela obrolan warung kopi.

1. Memori

Faktor ini menjadi hal utama yang perlu kita lihat ketika berniat membeli handphone baru. Kapasitas ROM dan RAM akan sangat berpengaruh pada aktivitas digital kita di handphone tersebut. Jika penggunaan gawai tidak terlalu sering atau hanya sekedar sebagai alat komunikasi saja, RAM 2GB saja sudah cukup nyaman. Tapi jika mobilitas digital tinggi seperti untuk main game, dengerin musik seharian, streaming video, apalagi membuat karya dengan modal handphone maka perlu kapasitas RAM yang lebih tinggi. Ya setidaknya 3GB, lah.

2. Harga

Kalau saya baca artikel tentang spesifikasi handphone, seringkali harga menjadi informasi yang dibagikan paling akhir. Padahal kenyataannya, faktor dana menjadi poin yang sangat krusial dalam menentukan handphone apa yang mau dibeli. Terkait soal ini, kita mesti pandai melihat budget untuk membeli handphone berapa. Sebisa mungkin untuk tidak mengangsur meski zaman sekarang mencari jasa kredit yang cepat tidaklah sulit. Tapi kalau mau cari handphone dengan spesifikasi yang bagus dan murah juga ada beberapa kok yang menarik. Salah satunya yang saya rekomendasikan adalah Honor 8A.

3. Operating System (OS)

Poin ini juga cukup penting menurut saya sebab kalau OS yang digunakan "ketinggalan zaman", kemampuan kita menggunakan handphone bisa tertinggal dengan yang lain. Sebab ada beberapa aplikasi atau games yang tidak mendukung OS baheula, sehingga akan sangat menyebalkan bagi kita yang baru saja beli handphone baru tapi tidak bisa dipakai untuk mengoperasikan beberapa aplikasi dan games.

4. Kamera

Kemampuan kamera yang canggih makin digemari seiring berjalannya waktu. Terutama karena semakin populernya Instagram dan YouTube yang membutuhkan sentuhan estetika visual bagi penggunanya. Kebutuhan ini akan terpenuhi jika handphone yang baru dibeli memiliki resolusi yang bagus dalam menangkap gambar. Jangan sampai dong beli handphone baru tapi buat foto masih pake aplikasi pencerah wajah.

5. Baterai

Nah, ini juga penting untuk diperhatikan. Handphone telah menjadi perangkat wajib yang selalu kita akses setiap hari. Bahkan sepanjang hari! Oleh karena itu, keawetan baterai menjadi poin penting yang tidak boleh dilewatkan. Memang cukup tricky dalam memilih handphone dengan daya yang awet. Tapi kamu tidak usah ragu kalau mau membeli Honor 8A karena gawai ini sudah tertanam baterai sebesar 3020 mAh yang dilengkapi teknologi EMUI hemat daya.

Jadi beli handphone apa, nih?

Menurut pengamatan saya, sih, kelima poin di atas cukup sebagai peta untuk menentukan handphone apa yang mau dibeli. Kalau saya merekomendasikan Honor 8A karena memang berani menjawab kelima kebutuhan di atas. Bagaimana tidak? Honor 8A yang baru rilis di Indonesia pada tahun ini menawarkan keunggulan-keunggulan yang patut dipertimbangkan.

Misal, adanya teknologi TUV Rheinland membuat kita nyaman di depan layar karena fitur tersebut bisa menyaring cahaya biru yang berbahaya bagi mata. Selain itu, kalau bicara soal fotografi juga tidak akan bikin minder. Sebab Honor 8A mengandalkan resolusi kamera 8MP yang didukung semantic image, segmentation dan high dynamic range yang bisa menghasilkan foto-foto berkualitas. Kita juga akan dimanjakan dengan kapasitas RAM 3GB dengan memori internal 32GB yang dapat diperluas hingga 512GB. Cocok buat kamu yang doyan main games!

Sementara untuk sistem operasinya sudah Android 9.0 Pie yang kaya dengan aneka fitur. Meski terlihat begitu canggih, jangan kira harga yang ditawarkan tinggi, lho. Sebab kita bisa segera bawa pulang Honor 8A  ini hanya dengan mahar 1.899.000 saja. Apalagi kalau kamu membelinya di Honor Official Store yang tersedia di Shopee sekarang juga.


Semoga artikel ini membantu buat kamu, kamu, dan kamu yang ingin mengganti handphone lamanya. Terima kasih sudah bersedia membacanya sampai akhir. Selamat berbelanja!

1 Maret 2019


Karena sebuah insiden yang terjadi di awal tahun 2019, saya harus segera membeli handphone (HP) baru untuk menggantikan yang lama. Sebenarnya, meski jika tidak terjadi insiden pun saya juga tetap akan membeli yang baru, sih. Soalnya HP lama saya sudah tidak menyenangkan lagi, terutama pada dua fitur yang saya idamkan, yaitu kebutuhan saya akan berfoto dan bermain games.

Jujur saya sebenarnya suka sekali memfoto. Bagi saya merangkum apa yang saya lihat dalam sebuah tangkapan gambar melalui kamera adalah keindahan yang tiada tara. Apalagi foto memang sarana paling tepat untuk merekam momentum. Tapi selama ini saya belum cukup pede untuk membagi foto-foto saya di media sosial. Sebab kualitas gambar yang saya tangkap begitu buram. Seringkali saya harus memakai bantuan aplikasi untuk mempercantik, ya minimal meningkatkan pencahayaan dan saturasi.

Tapi kan capek kalau harus ngedit mulu. Nah, saya berpikir bagaimana jika saya beli HP yang kameranya luar biasa jernih? Jadi saya kan tinggal jepret sudah bisa langsung update foto di medsos. Wah, pasti bakal produktif, nih!

Eh, tapi tunggu sebentar. Kan saya pengin punya smartphone yang canggih buat main game juga. Ada tidak ya yang memenuhi dua persayratan itu? Belakangan ini saya suka sekali main trading card game bernama Lightseeker. Saking sukanya saya memainkan ini, sekadar info saja, saya berada di ranking 23 se-Indonesia, lho. Hahaha. Congkak! Tapi kalau tidak rutin dimainkan bisa jadi ranking saya menurun. Sementara saya jadi jarang main karena HP saya lagi rewel! Menyebalkan!
Emosi yang meluap tersebut akhirnya luntur begitu saya ketika saya tahu Honor habis meluncurkan gawai terbarunya, yaitu Honor 10 Lite. Lho, kenapa kok saya bisa langsung tenang gara-gara si Honor ini?
Ya tentu saja karena dua fitur yang saya dambakan itu sudah dikuasai oleh Honor 10 Lite.


Jadi, Honor 10 Lite ini mempunya kamera dengan kualitas jempolan. Kamera utama saja resolusinya mencapai 13 megapiksel + 2 megapiksel. Bisa berfungsi dengan baik juga untuk keperluan fotografi malam dengan adanya AIS: AI Powered Image Stabilization. Nah, gilanya lagi, kamera depan yang dimiliki Honor 10 Lite ini mencapai 24 megapiksel! Kebutuhan akan kurangnya cahaya yang sesuai pun tak jadi soal, karena Honor 10 Lite punya fitur multiple lightning option seperti: Soft Lightning, Butterfly Lightning, Split Lightning, Classic Lightning, dan Stage Lightning. 

Kemampuan kamera yang seperti ini cocok sekali dengan saya yang memang suka berfoto ria. Bahkan dengan tambahan kamera depan yang mumpuni, saya bisa sembari foto selfie sesuka hati dengan lebih pede.

Sementara itu, jika kita bicarakan game, Honor 10 Lite ternyata juga mendukung permainan digital banget, lho. Soalnya, Honor 10 Lite ini dilengkali dengan sistem Turbo GPU 2.0 yang berfungsungsi untuk meningkatkan kemampuan pemrosesan grafik GPU ketika kita nge-game. Dijamin lebih enteng. Jadi kita tidak usah capek-capek ngeboost HP kita terus-menerus.

Main game itu pasti lama, kan? Saya bisa sejam lebih kalau main game. Apalagi saat lagi gabut. Tapi saya tidak cemas lagi, karena saya pada Honor 10 Lite tersebut memiliki baterai yang mencapai 3400 mAh sehingga waktu stand by bisa sampai 612 jam!

Ya, kalau saya sih menyambut hangat datangnya Honor 10 Lite ke Indonesia. Terutama karena harganya yang terjangkau. Kita bisa memiliki gawai super ini hanya dengan mahar 3.299.000 saja. Yasudah, lah, ya. Ngapain pilih-pilih yang lain lagi kalau sudah sebagus ini dan terjangkau pula.

Doakan gaji cepet turun ya, biar Honor 10 Lite juga lekas ditimang. Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa!


Image 1: Mukul Sharma via Androidupdated.com
Image 2: Hihonor.com

20 Februari 2019



Bagi kelas menengah seperti saya, menonton film di bioskop tidak bisa saya lakukan setiap hari. Jadi saya harus mereduksi film apa saja yang sekiranya seru untuk ditonton di layar lebar. Jawabnya adalah film yang diadaptasi dari komik. Mengapa?

Saya selalu suka genre science fiction dan fantasy. Saya menyukainya karena film-film semacam itu tidak tersentuh di dunia nyata saya. Jadi saya merasa begitu terhibur dengan hiperialitas yang ditawarkan. Meskipun fiksi dan fantasi, film tetaplah buah pikir dari otak manusia. Nah, imajinasi manusia itulah yang terasa sangat lezat bagi pikiran saya. Sehingga ketika nonton film dengan genre semacam ini, saya akan mengupayakan untuk menontonnya dengan fasilitas terbaik. Yaitu, nonton di bioskop.

Sebagai watching list di 2019, saya menuliskan lima film hasil adaptasi komik Marvel dan DC yang menarik untuk ditonton di bioskop.

Spiderman: Far From Home



Petualangan Peter Parker melawan kejahatan di masa pubernya tentu saja menarik untuk kita ikuti. Apalagi kali ini Spiderman akan berhadapan dengan Mysterio, salah satu anggota penjahat Sinister Six yang selama ini belum pernah muncul di film Spiderman versi manapun. Bicara soal karakter jahat dalam kehidupan Spiderman selalu menarik untuk saya kulik. Saya pernah menulis tentang beberapa villainyang muncul dalam film Spiderman: Homecoming meskipun hanya sebagai easter egg.

Lho, kan Peter Parker sudah menjadi debu? Nah, ingatkah kamu pada film Infinity War, Peter Parker muncul saat ia sedang berada di dalam bus bersama teman sekolahnya. Pada saat itu ia tengah pulang dari acara sekolah yang mana adalah latar kejadian pada Spiderman: Far From Home nantinya.  Film ini rilis 5 Juli 2019 di USA.

2.      Captain Marvel



Kemunculan Captain Marvel belum pernah saya dengar sebelum after credit scene di film Infinity War menunjukkan hal tersebut. Antusias? Tentu saja. Captain Marvel menjadi kunci penting untuk kelanjutan seisi alam semesta yang didebukan oleh Thanos. Melalui trailer yang telah rilis, kita juga akan diajak untuk melihat bagaimana Fury pertama kali terlibat dengan hal-hal super di muka bumi ini. Dan satu lagi, Captain Marvel adalah film superhero perempuan pertama yang mendapat jatah film solo di MCU. Film ini rilis 8 Maret 2019 di USA. Apakah kamu juga antusias menyambut film ini?

3.      Avengers: End Game



Bagaimana kelanjutan dari orang-orang yang didebukan oleh Thanos? Buat yang mengikuti petualangan Avengers melindungi dunia, pasti Avengers: End Game ini sudah jadi tontonan wajib tahun ini. Saya tidak mau menaruh ekspektasi bahwa endingnya bakal bahagia. Karena kalau dililihat ke belakang, beberapa film Avengers pasti menggugurkan salah satu karakter yang saya favoritkan, sebut saja Quicksilver dan Vision. Awas saja kalau Dr. Strange dimatiin juga. Film ini rilis 26 April 2019 di USA.

4.      Dark Phoenix



Geliat film X-Men tidak pernah terhenti meski sang juru kunci, Wolverine, sudah tutup usia di film Logan. Kali ini Jean Grey mendapat film solonya sebagai saingan dari film superhero perempuan, Captain Marvel, tahun ini. Seperti Captain Marvel, Jean juga memiliki kekuatan super yang begitu besar dan desktruktif. Meski masih dalam satu komik yang sama, Dark Phoenix sepertinya akan lebih suram dan galau daripada Captain Marvel. Mari kita buktikan pada 7 Juni 2019.

5.      Hellboy



Pada 2004 dan 2008, Hellboy memang sudah muncul di layar lebar. Tapi Hellboy kali ini bukan merupakan kelanjutan dari versi sebelumnya. Hellboy juga jadi salah satu karakter favorit saya. Soalnya, kekuatan yang ia miliki berangkat dari gejala supernatural, bukan kecelakaan ilmiah seperti Hulk atau The Thing. Film ini rilis 12 April 2019 di USA.

Nah, beberapa film yang saya uraikan di atas apakah juga ingin kamu tonton? Saya sih sudah siap-siap untuk menontonnya di bioskop agar lebih terasa gelegarnya. Untung di Jakarta ada banyak pilihan bioskop, jadi bisa segera merapat ke bioskop begitu film rilis agar tidak terpapar spoiler dari netizen. Rencananya saya dan kekasih saya mau nonton Captain Marvel di Cinemaxx. Kebetulan ada lokasi yang dekat dengan rumah kami, lagipula tempatnya sangat nyaman. Eh, enaknya direview nggak nih kelima film di atas nantinya?

Header: Rawpixel via pexels.com
Poster: imdb.com

11 Februari 2019



Pada akhir tahun 2018, MIKTI (Indonesia Digital Creative Industry Community) bekerja sama dengan TeknoPreneur dan Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif) menyusun sebuah pemetaan dan database start up yang ada di Indonesia.

Hasil dari riset tersebut membuat saya kaget. Pasalnya, saya tak menyangka betul kalau start up yang sedang tumbuh di Indonesia sudah begitu banyak. Saya pun jadi paham mengapa saat ini pemerintah mendorong talenta kreatif untuk menembus pasar global dan menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan kekuatan industri digital yang besar. Bahkan sudah ada klaim yang disiapkan lho, yaitu Indonesia: The Digital Energy of Asia.

Data statistik perusahaan Startup di Indonesia oleh Indonesia Digital Creative Industry Society (MIKTI) tahun 2018 (Sumber: katadata.co.id)

Menurut data riset yang diterbitkan MIKTI, saat ini Indonesia memiliki 992 start up yang sedang berkembang. Dengan pengelompokan tiap domisili yang tidak merata seperti 522 start up di JABODETABEK, 113 start up di Jawa Timur, 115 start up di Sumatera, 54 di DI Yogyakarta, dan wilayah lainnya tidak lebih dari 50 start up yang berdiri.

Tak hanya itu, MIKTI juga menyusun pemetaan founder start up di seluruh Indonesia. Dari 992 start up, 69,20% adalah Generasi Y (mereka yang lahir pada tahun 1981-1994), 15,60% berasal dari Generasi X (1965-1980), dan 15,20% berasal dari Generasi Z (1995-2010). Pendidikan terakhir para founder ini paling banyak berasal dari tamatan S1 (67,94%). Kemudian disusul S2 (20,00%), SMA (7,94%), Diploma (3,82%), dan S3 (0,30%).

Melalui data-data tersebut, saya merasa pertumbuhan industri kreatif bisa semakin gencar lagi. Peningkatan jumlah start up akan terus terjadi setiap tahunnya, bahkan bisa jadi setiap bulannya. Tapi apakah sebagai individu kita siap menghadapi industri yang ketat seperti itu? Terutama bagi yang punya mimpi menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain, mendirikan start up memang bisa jadi salah satu cara. Namun itu bukan hal yang mudah. Apalagi di bangku sekolah dan kampus kita tidak mendapat persiapan yang matang untuk membangun usaha digital. Alhasil, belajar secara otodidak menjadi cara rimba untuk mewujudkan start up yang diidamkan.

Melihat kondisi tersebut, CIMB Niaga hadir mendukung mimpi anak muda Indonesia melalui Kejar Mimpi. Menurut saya gerakan sosial ini patut untuk kita beri dukungan di tengah pesatnya perkembangan inovasi start up. Kenapa? Mereka punya acara yang menurut saya menarik yaitu Leaders Camp. Acara ini memberikan pembekalan berupa soft skill potensi diri, pengetahuan dan pengalaman melalui seminar dan workshop demi mencetak talenta kreatif anak muda Indonesia.

Sharing session Leonika Sari, pendiri Reblood, di Kejar Mimpi Leaders Camp Surabaya
(Photo Credit: Kejar Mimpi dan CIMB Niaga)
Terlihat sekali Leaders Camp mengangkat topik bermanfaat seputar inovasi teknologi, sosial dan entrepreneurship yang menginspirasi anak muda untuk mandiri dan siap memajukan Indonesia. Pembicaranya pun tidak main-main, ada Leonika Sari founder start up Reblood, Hans Saleh dari Garena Indonesia, Hasbi Asyadiq Founder & CEO of Assemblr dan masih banyak lagi para inovator muda Indonesia.

Leaders Camp juga telah diselenggarakan di kota-kota lain seperti Medan, Surabaya, dan Bandung. Tapi itu sudah berlalu pada tahun 2018. Infonya di 2019 akan terselenggara lebih banyak Leaders Camp di berbagai kota. Menurut saya Leaders Camp menjadi ajang penting bagi mereka yang ingin mengembangkan diri dan meraih apa yang dicita-citakan terutama para calon inovator start up. Karena kegiatan ini memberi sarana yang tepat bagi mereka yang tengah bimbang dengan apa yang sedang diusahakan dalam meraih mimpinya. Karena di sana ada banyak insight yang bisa diperoleh dari para ahli.

Talkshow #KejarMimpi Leaders Camp Bandung (Photo Credit: Kejar Mimpi dan CIMB Niaga)
Dengan mengikuti Leaders Camp, dorongan untuk mewujudkan mimpi akan semakin kuat karena beberapa faktor seperti pembekalan yang tepat, pola menuju perwujudan mimpi yang sudah ditunjukkan, serta meluasnya referensi dan jaringan akan sangat berguna bagi individu-individu yang mau berkembang.

Kamu bisa cek jadwal roadshow Kejar Mimpi Leaders Camp di 2019 dengan follow Instagram Kejar Mimpi di instagram.com/kejarmimpi.id atau ke website #KejarMimpi. Wajib banget untuk ikutan kegiatan ini dan jadi paham bagaimana bisa berkembang di era industri digital ini.

Saya sangat bersemangat dengan laju industri digital di Indonesia yang semakin maju. Bagi saya ini adalah momentum yang tepat untuk terlibat lebih jauh dalam industri ini. Bukan semata ikut-ikutan, tapi perkembangan yang positif semacam ini bukankah memang mesti kita dukung? Saya tertarik untuk mendukungnya dari dalam, untuk menjadi bagian yang memberi manfaat pada sektor tertentu.

Kalau kamu?


Sumber data: linkr.id/MIKTImappingStartup2018
Header source: Pixabay via Pexels.com

10 Februari 2019



Memulai membuka usaha bisa dari mana saja dan kapan saja. Ketika teknologi digital menjadi hal yang mudah dijangkau, siapapun bisa memulai bisnisnya. Tapi tidak semua bisa mengembangkannya!

Saya punya sedikit -beneran sedikit- pengalaman soal berbisnis. Dulu, saya pernah mencoba membangun platform soal perbukuan, namanya Majibooks. Majibooks itu semacam blog yang khusus membahas soal dunia perbukuan sekaligus membuka toko buku online. Unit usaha ini saya dirikan bersama kekasih saya (Tiwi) dan dibantu satu sahabat saya (Dani). Kami sudah bikin blog, membeli domain, dan menjalin kerja sama dengan supplier buku. Sayangnya, Majibooks mangkrak karena saya kurang mampu mengorganisir keperluan bisnis.

Selain itu saya juga sempat membuka usaha kecil-kecilan di Instagram, yaitu jasa desain CV. Usaha tersebut memang gampang dimulai, tapi ternyata sukar mempertahankannya. Saya hanya punya satu klien hingga akhirnya usaha ini saya tutup karena tiga hal. Pertama, saya merasa kemampuan desain saya tak semahir penawar jasa desain CV yang lain. Kedua, kompetisi pasar terlalu ketat, di mana tarif jasa yang saya pasang lebih mahal dari pesaing. Ketiga, saya tidak giat.

Dua pengalaman tersebut memang masih jauh dari memuaskan. Tapi apakah saya menyerah? Tidak!

Membuka Usaha Berbasis Digital itu Mudah. Menumbuhkannya Susah.

Saya dan kekasih saya kembali berdiskusi untuk membangun usaha yang lebih serius. Sebenarnya kami punya ide usaha yang berbeda, tapi dalam pengelolaan tetap akan saling bantu untuk merealisasikan impian kami masing-masing. Saya berpikir untuk membuat sebuah platform yang bisa mempertemukan antara kreator, talent, kru, dan sponsor. Sebagai gambaran, dewasa ini ada banyak sekali platform yang mempertemukan antara klien dan freelancer seperti sribulancer, fastwork, dan lain-lain. Nah, saya ingin mengadopsi bentuk tersebut ke dalam sebuah platform kolaboratif untuk membuat konten kreatif.

Misal kamu ingin membuat video klip. Karena faktor pergaulan dan jaringan yang terbatas, kamu jadi kesulitan mencari talent dan kru. Nah, platform yang saya maksud akan mewadahi hal tersebut. Di situ kamu tinggal tawarkan proyek kreatif apa yang sedang kamu kerjakan dan butuh talent serta kru dengan spesifikasi seperti apa. Malahan kamu juga bisa dapat sponsor buat karya kreatif kamu. Seru, kan?
Selama ada koneksi internet dan aplikasi yang terpasang, membuka usaha sudah bukan sesuatu yang rumit. Jika dulu untuk buka usaha perlu sewa toko, sekarang siapa saja bisa buka toko online tanpa ribet bahkan gratis. Tapi tantangannya sebenarnya bukan di situ. Semakin mudah membuka usaha, semakin banyak pula pesaingnya. Semakin menunda untuk memulai, semakin tergusurlah kesempatannya. Itulah yang saya rasakan dari secuil pengalaman di atas. Tentang bagaimana mental menunda-nunda dan ketidaktekunan membuat bisnis yang saya mulai langsung gulung tikar.

Tentu saja saya tak ingin jatuh di lubang yang sama berkali-kali. Pada bisnis di tahun 2019 yang ingin saya bangun kali ini, saya harus membekali diri dengan mental yang kuat, pengetahuan soal teknis yang luas, dan berjejaring dengan banyak pihak.

Bagi saya, “mentalitas” adalah salah satu faktor yang teramat penting untuk menumbuhkan bisnis yang sedang kita jalani. Mau secepat apapun internet kamu, kalau mental berbisnisnya lamban ya hasilnya bisa seperti saya, sudah bangkrut sejak dalam pikiran. Selain itu membuka usaha yang minim modal bisa membuat kita terlena karena seolah tidak ada beban rugi yang akan kita tanggung. Mental seperti itu yang akan membunuh usaha kita perlahan.

Lantas bagaimana sebaiknya kita mengatasi hal tersebut?

Kalau menurut saya, memiliki rekan kerja yang setia adalah kunci yang paling penting. Ketika kita stuck, bosan, apalagi malas, rekan kerja akan membantu kita untuk kembali ke dalam track. Ibarat kisah fiktif populer dari Inggris, apalah arti Sherlock Holmes tanpa John Watson. Ea.

Tapi, perlu ditegaskan juga bahwa pada akhirnya inisiatorlah yang memegang peranan penting untuk memutuskan apakah bisnis mau dikembangkan, dibiarkan, atau malah dibubarkan. Oleh karena itu, seorang founder semestinya rajin belajar dan berjejaring agar mampu menghadapi masalah-masalah yang timbul nantinya. Jangan sampai kita tidak menuai apa-apa dari bisnis yang kita mulai.

Header: Pexels.com

11 Januari 2019



Belakangan ini lagi bersemangat mempelajari literasi keuangan, khususnya fintech. Fintech merupakan akronim dari "financial" dan "technology" yang berarti kebutuhan keuangan yang berorientasi pada teknologi.

Perkembangan fintech di Indoensia terbilang berkembang dengan pesat. Saya merasakan sendiri gilatnya di berbagai lini dapat saya rasakan secara langsung. Baiklah, sebut saja dengan pembayaran yang menjadikan semangat "cashless" sebagai handalan. Dulu, kalau bertransaksi secara offline, saya hanya diberi pilihan pembayaran, antara cash atau gesek kartu. Sekarang saya hanya perlu membawa handphone. Proses pembayaran bisa dikerjakan dengan scan code atau tap pin saja. Simpel dan canggih, bukan?

Dan ternyata pengetahuan saya soal fintech masih begitu sempit. Di balik yang saya ketahui, ada banyak startup yang mengembangkan aneka jenis fintech. Jenis-jenis apa saja, tuh? Ada jenis pembayaran, peminjaman, perencanaan keuangan, investasi ritel, pembiayaan, dan riset keuangan. Hal-hal ini saya ketahui saat punya kesempatan untuk hadir di cara Blogger X Fintech Day beberapa hari lalu.

Dalam acara tersebut, hadir beberapa pengembang fintech di Indonesia, seperti KreditCepat, Cashwagon, Aktivaku, Taralite, Uangme, Pinduit, dan Danain. Hampir semuanya memiliki sesi untuk presentasi. Tapi bukan hanya presentasi jualan, mereka lebih banyak menyebarkan literasi keuangan digital yang begitu banyak memberi pemahaman baru pada saya.

Di era sekarang, fintech menjadi kebutuhan yang menurut saya penting. Meski bukan sebagai satu-satunya cara untuk mengelola keuangan, fintech terbukti memberi banyak kemudahan. Apalagi ketika situasi yang terjadi begitu besar merayakan teknologi keuangan ini. Beradaptasi menjadi satu hal yang saya rasa harus segera dilakukan agar tidak disebut ketinggalan zaman.

Selama satu tahun di Jakarta, saya mulai mencoba beberapa produk fintech. Pertama produk pembayaran. Saya mulai terbiasa membeli tiket nonton, makan, bahkan belanja beberapa barang menggunakan aplikasi yang terpasang di gawai. Saat makan di KFC hingga beli tiket nonton di CGV maupun XXI misalnya, saya cenderung memanfaatkan Tcash atau Dana. Begitupun saat order makanan atau jasa transportasi, saya menggunakan Gopay dari aplikasi Gojek.Saat belanja online, beli pulsa, hingga jajan Dum-dum pun saya menggunakan OVO.

Selain sebagai alat pembayaran, saya juga mencoba teknologi ini dalam hal mencari dana pinjaman. Saya pernah memanfaatkan Akulaku dan Kredivo. Selain cari pinjaman saya juga terlibat dalam pemberi pinjaman atau investasi, di bidang ini saya memakai KoinWorks. Sementara itu di kantor saya cukup akrab memanfaatkan crowdfunding untuk mendapatkan asupan dana. Tempat kerja saya menggunakan KitaBisa dan saat ini sedang proses untuk memanfaatkan pelayanan dari Doku.

Banyaknya produk fintech tidak lantas membuat saya pusing. Justru asyik karena ternyata beberapa hal menjadi lebih mudah dan cepat. Apalagi mereka pasti menawarkan berbagai diskon, promo, hingga hadiah-hadiah yang menarik. Saya mengajak kamu, kamu, dan kamu untuk ikut merayakan perkembangan financial technology ini bersama. Saya memang belum ahli, tapi sedikit demi sedkit semakin paham dan saya melihat ada hal yang bisa kita capai bersama jika perkembangan fintech ini juga disambut dengan baik oleh masyarakat.

Untuk memahami lebih jauh soal fintech, sih, saya sarankan untuk mengikuti pertemuan atau kelas khusus fintech. Seperti yang saya ikuti di Blogger X Fintech Day, misalnya. Tapi bisa juga dengan memanfaatkan media sosial misalnya dengan terlibat aktif dalam diskusi keuangan yang selalu menarik diatawarkan oleh Jaouska. Atau bisa juga belajar dengan sederhana melalui situs-situ keuangan seperti Finansialku.com dan masih banyak lagi caranya.



Nah, itu saja, sih, cerita singkat saya soal fintech dan hal-hal menarik di dalamnya. Saya telah menjadi bagian dari perkembangan dunia keuangan ini. Kamu?


Image source:
1. Photo by Rawpixel from Pexels.com
2. Photo by Rawpixel from Pexels.com

10 Januari 2019


Dulu semasa SMP dan SMA, saya punya teman bernama Heri. Ia adalah siswa yang sehari-hari kenyang menelan ledekan-ledekan dari teman-teman sekolahnya. Heri sebetulnya siswa yang pintar, terutama untuk pelajaran kimia. Saya yang pernah satu kelas dengannya, sering mengintip pekerjaannya yang terpercaya itu.

Heri diledek tidak jauh dari penampilan fisiknya. Walau ia kurus dan dandanannya sangat rapi. Tapi orang-orang justru terfokus pada giginya yang besar dan tidak rapi. Awalnya, saya terlibat juga dalam merundung Heri. Baru menginjak kelas 2 SMA saya merasa lebih kasihan kepadanya karena perundungan terhadapnya semakin parah saja.

Salah satu hal yang saya cemaskan dari Heri adalah melewatkan masa remaja tanpa kisah asmara yang membara. Dan benar saja, sampai lulus SMA, Heri tidak terlihat memiliki hubungan asmara dengan siapapun. Bahkan sama sekali tidak ada tanda-tanda ke arah itu. Wong Heri itu kalau ngobrol sama perempuan, malamnya langsung kerokan gitu.

Maka dari itu saya penasaran, apakah Heri pernah menginginkan hubungan asmara? Alih-alih berasmara, bagaimana perasaannya melalui masa remaja dengan perundungan yang tak kenal kendor itu?

Di lingkaran sosial ini, Heri berperan sebagai liyan (the Other). Liyan adalah sebutan bagi perseorangan maupun kelompok yang secara terkonstruksi berbeda dari yang lain dan ia/mereka dalam masa pencarian eksistensi (pengakuan atas keberadaan). Sederhananya, liyan ini merupakan orang yang dipandang sebelah mata.

Seperti Simone de Beauvoir yang menyatakan bahwa kaum perempuan adalah liyan karena keberadaannya selalu menjadi objek laki-laki. Sigmund Freud pun punya pendapat jika anak perempuan adalah liyan. Sampai-sampai muncul istilah 'penis envy' dalam psikoseksual Freud yang oleh Jacques Lacan dimaknai sebagai hasrat ingin mengetahui seperti apa rasanya berada dalam suatu kelompok yang lain.

Heri mungkin ingin sekali-kali menjadi siswa populer yang keren dan digandrungi banyak perempuan. Ia juga mungkin saja ingin bisa nongkrong dengan teman-teman yang tidak mengejeknya sedikitpun. Atau bahkan, ia sesekali juga ingin berada di posisi sebagai seorang perundung yang membuat lelucon atas kekurangan orang lain.

Tapi urusan hati siapa yang tahu?

Apa yang dialami Heri dan apa yang saya banyak pertanyakan di atas ternyata terjawab dalam sebuah novel teenlit karya Mega Shofani. Novel bernuansa pink ini berjudul Kilovegram. Sinopsis versi sayanya begini:

Aruna adalah siswa baru di SMA Angkasa yang sering dirundung perihal bentuk tubuhnya yang besar. Walau begitu, ia mempunyai sahabat setia sejak kecil bernama Raka.

Raka terkenal dengan ketampanan dan kesupelan yang membuat Diana (anak pejabat yang merasa dirinya cantik) dimabuk asmara. Oleh sebab Aruna dan Raka terlihat sangat akrab, Diana yang merasa cemburu terus-terusan merundung Aruna, terutama soal ukuran tubuh.

Awalnya, Aruna merasa gembira lantaran Nada, saudarinya dari Tasikmalaya, pindah ke rumah Aruna dan bakal sekolah di tempat yang sama. Sayangnya, sejak kemunculan Nada, hubungan Aruna dan Raka menjadi renggang.

Nada merupakan perempuan pintar, ramah, sopan, berbakat di seni, berparas cantik, dan langsing. Hanya satu yang Aruna inginkan dari Nada, yaitu kembalinya perhatian Raka. Jadi mulai sekarang Aruna diet!

Body Shaming

Isu ini menjadi dominan di cerita Kilovegram selain lika-liku cintanya. Aruna yang terus diejek soal ukuran tubuh berhasil dibangun dengan baik oleh Mbak Mega Shofani. Mulai dari ejekan dengan nada bercanda seperti Raka atau memang ejekan yang sengaja dilontarkan untuk menjatuhkan mental Aruna seperti yang Diana lakukan.

Walau begitu, ada karakter-karakter yang tidak mengatakan hal-hal keji itu pada Aruna. Ada Nada dan Ibunya Aruna yang senantiasa memberi dukungan bagaimanapun bentuk Aruna. Hal ini yang bagi saya cukup seimbang. Bahkan saya tidak yakin teman saya, Heri, seberuntung Aruna itu.

Dalam mengatasi body shaming tersebut, Aruna digambarkan sebagai sosok yang kuat dan berani melawan. Bahkan saat diejek kakak kelas sekalipun, Aruna mampu membalasnya. Sementara teman saya, Heri, hanya terdiam lesu dalam pelukan malaikat.

Barangkali Mbak Mega ingin menyampaikan kepada para liyan di dunia nyata agar berani melawan, minimal tidak berkecil hati. Dalam kisah ini, ketegaran Aruna menghadapi perundungan tidak membosankan. Seperti keterlibatannya mengikuti ajang fashion show sebagai model untuk membuktikan kalau dia tak bisa dipandang sebelah mata lagi.

Apa yang dialami oleh Aruna barangkali merupakan pengalaman empiris Mbak Mega. Kami dulu bersekolah di tempat yang sama, saya kelas satu sementara Mbak Mega kelas tiga. Meski waktu itu belum kenal, tapi saya tahu Mbak Mega dikaruniai tubuh yang besar. Maklum, tahu orangnya tapi tidak tahu namanya. Untung ada Facebook.

Oh.. Raka. Oh.. Baka.
Karakter bernama Raka dalam kisah ini merupakan karakter yang paling kurang matang menurut saya. Sosoknya sebagai kakak kelas terlihat sangat tipis mengingat karakter lain yang jadi juniornya justru berpikir dan bersikap lebih dewasa. Memang sih laki-laki remaja di SMA saya dulu banyak yang kekanak-kanakan, termasuk saya. Tapi kekanakannya Raka terlalu kontras jika dibandingkan dengan popularitasnya yang menawan itu.

Kalau biasanya kita mengenal sebutan Drama Queen yang notabene adalah perempuan (tidak bermaksud seksis, tapi yang dimaksud queen itu memang perempuan, kan?). Di Kilovegram, justru Raka lah yang menjadi orang yang doyan ngedrama. Karakternya yang menyebalkan itu bikin saya kurang menerima keputusan Aruna yang mencintainya. 

Saya malah merasa Aruna lebih cocok berhubungan dengan Valen (kakak Diana). Sebab, Valen memiliki latar belakang yang lebih rapuh dari Raka. Kerapuhan itu bisa membaur dengan kerapuhan Aruna sehingga jika bersama, mereka bisa jadi pasangan yang saling menguatkan.

Keputusan Fatal

Selain karakter Raka yang kurang matang, salah satu yang menurut saya disayangkan adalah keputusan Mbak Mega untuk menggunakan lokasi di Jakarta.

Saya memang baru beberapa bulan di Jakarta. Jika mau membandingkan Jakarta dan Solo, ternyata ada banyak perbedaan yang saya temukan. Bahkan, dari hal sederhana seperti di Solo ada makanan namanya arem-arem. Sementara di Jakarta, setidaknya di wilayah saya tinggal, menyebutnya lontong isi. Meski wujudnya sama, tapi istilah yang digunakan berlainan. Maka ketika Raka mengejek Runa dengan sebutan arem-arem, bagi saya diksi itu terasa kurang pas.

Kurang jelinya Mbak Mega menangkap perbedaan itu yang beberapa kali membuat saya meragukan lokasi cerita yang berlatar di Jakarta. Seperti merokok di kantin. Di sekolah saya dulu memang merokok di kantin menjadi sesuatu yang mungkin terjadi. Tapi menurut pengakuan Tiwi yang merasakan bersekolah di Jakarta, merokok di kantin menjadi sesuatu yang muskil.

Sebetulnya masih ada beberapa poin yang kurang tepat sebagaimana contoh-contoh di atas. Tapi secara keseluruhan, Kilovegram tetap bisa dinikmati sampai selesai. Keputusan yang fatal tadi bukan membuat kita untuk tidak membaca atau membumi hanguskan buku Kilovegram. Jelas tidak. Koreksi yang saya sebutkan merupakan pengharapan saya agar Mbak Mega senantiasa membuat cerita-cerita yang lebih nikmat di kemudian hari.

Bukankah sefatal-fatalnya keputusan penulis adalah keputusan memboikot Gramedia tapi bukunya tetap di jual penuh di sana? Eh, itu siapa, ya? Wahaha.

Ringan Tapi Tidak Ringkih

Sebagai teenlit, Kilovegram tentu saja merupakan bacaan yang ringan bagi kawula muda. Meski kurang jelas cerita ini berlatar tahun berapa (ada sedikit kerancuan yang membuat saya kebingungan menaksir realitas masanya), tapi jika disajikan kepada remaja saat ini saya rasa masih cocok-cocok saja.

Saya suka dengan isu body shaming yang diangkat. Sudah males rasanya sama tokoh utama yang hampir sempurna, kehadiran Aruna dalam kisah ini memberi sudut pandang yang menarik. Pada akhirnya, rasa penasaran saya terhadap Heri seperti yang sudah saya sebut di awal, lumayan terjawab melalui karakter Aruna.

Menghadirkan liyan sebagai pusat cerita adalah hal menarik untuk diikuti. Setiap keputusan yang Aruna ambil, mulai dari urusan diet hingga asmara, menjadi momen sakral yang dinanti. Kilovegram membuka mata kita terhadap liyan yang semestinya kita rangkul, bukan malah dirundung.

Orang-orang yang barangkali merasa dirinya unggul, ubermensch, melihat liyan sebagai suatu kecacatan sosial. Kehadirannya dipinggirkan, dinomorduakan, bahkan tanpa rasa bersalah memperlakukan liyan dengan tidak wajar. Lewat kisah Aruna inilah kita menyadari bahwa Hitler dan Rahwana senantiasa tinggal di hati kita, kadang keluar dari mulut dengan perkataan yang keji. Hingga membuat hati seseorang terluka, bahkan hancur lebur.

Aruna adalah apa yang disebut Nietzsche sebagai amor fati ego fatum: "cinta terhadap takdir, karena aku adalah takdir." Aruna telah berdamai dengan keadaannya. Lambat laun, keadaan berdamai juga kepada Aruna.


Akhir kata, bacalah.


Image source: (1) Pixabay via Pexels.com (2) Dokumen Pribadi

9 Januari 2019


Menonton film di bioskop saat ini memang masih menjadi kebutuhan tersier bagi masyarakat kita. Meski demikian, nyatanya bangku bioskop makin penuh dari tahun ke tahun. Entah ini karena masyarakat Indonesia mulai sejahtera, atau justru karena banyak yang butuh lari dari realitas.

Saya akui menonton di bioskop adalah cara terbaik untuk menikmati sajian film. Selain sebagai hiburan, film juga memberi dunia alternatif yang memengaruhi beberapa pandangan saya soal hidup. Oleh sebab itu jika sedang ada rezeki, saya menyempatkan diri untuk menonton film di bioskop. Sementara kalau lagi mlarat, ya saya nonton di Hooq atau memakai layanan underground yang you know what I mean.

Meski nonton film di bioskop adalah cara yang prestisius, tapi nyatanya adab menonton masih tidak diindahkan. Saya sering menemui orang-orang yang kelakuannya sangat mengganggu aktivitas menonton. Jangankan untuk memaklumi, memaafkan mereka pun saya tidak sudi.

Berikut ini saya rangkum 5 kebiasaan tak termaafkan saat nonton film di bioskop. Coba cek, kamu pernah mengalami atau pernah melakukannya.

1. Membawa Anak Kecil

Hanya sedikit film yang diperuntukkan bagi semua usia. Bahkan film-film superhero Marvel pun rata-rata dilabeli sebagai film 13 tahun ke atas. Tapi saya sering melihat ada orangtua yang sengaja membawa anaknya yang masih di bawah 13 tahun bahkan ada yang baru belajar jalan pun ikut nonton!

Sudah ada banyak informasi yang sliweran di timeline saya soal bahayanya membawa anak kecil buat nonton di bioskop. Baik dari kemampuan pendengaran yang bisa cidera sampai psikisnya yang bisa terganggu. Saya rasa sebelum membuat anak, pasutri masa kini perlu mempertimbangkan apakah masih ada gairah nonton di bioskop atau tidak.

Membawa anak kecil ke bioskop selain berbahaya bagi anak tersebut, ada juga hal negatif lain. Yaitu potensi mengganggu penonton lain. Anak kecil yang tidak paham adab menonton seringkali bicara dengan kencang di dalam ruangan teater. Lebih parah lagi kalau sampai menangis kejer atau mondar-mandir tak karuan.

Ingatlah jika menonton film bisa dilakukan di berbagai tempat. Tidak harus bioskop. Jika mau melibatkan anak sebaiknya ya jangan di bioskop. Karena bioskop ini hanya kebutuhan tersier yang kalaupun tidak melakukannya, keluarga kita juga tidak akan tercerai-berai seketika.


2. Berbicara

Baik ngobrol bersama teman atau ngomong sendiri merupakan hal yang mengganggu sekali. Jika memang ada yang perlu sekali dibicarakan dengan teman nonton sebaiknya gunakan cara berbisik dan dekatkan mulutmu ke telinga lawan bicaramu. Paling parah sih kalau ngobrol via telfon. Berisyik!

3. Menyalakan Gadget

Buka lagi tidak beradab, bahkan kebiasaan satu ini terlihat begitu norak. Kita tahu di dalam ruangan teater memang sengaja dibuat gelap. Satu handphone dengan brightness kecil pun akan terlihat dari belakang. Hal itu benar-benar mengganggu fokus nonton.

Padahal durasi film rata-rata 2 jam. Jika menang tidak sanggup off dari HP selama itu, ya sudah tidak usah nonton sejak awal. Jika memang ada hal yang mendesak, sebaiknya keluar ruangan dulu baru akses HP.

Intinya, jangan menyalakan handphone, tab, laptop, apalagi TV. Jangan!

4. Respon Lebay

Merespon apa yang ditayangkan itu memang wajar. Tapi jangan berlebihan juga. Sebab bisa mengganggu penonton lain.

Respon lebay itu bisa berupa nangis meraung-raung, jerit-jerit histeris, maupun ketawa berlebihan kayak ayam Pontianak. Ganggu!

5. Banyak Tingkah

Tidak hanya suara saja yang bisa menggangu. Tingkah laku pun juga bisa membuat penonton lain merasa tidak nyaman. Misal sering mondar-mandir, badan grusak-grusuk, sampai kaki yang menyentuh kursi depan. Satu sentuhan kecil saja akan terasa banget lho. Jadi usahakan menonton dengan tenang.

Mengapa sih menonton di bioskop nggak boleh ini itu?


Jika kamu pernah beranggapan, "Halah gitu doang kok ngerasa keganggu. Lebay amat sih", mungkin kamu perlu belajar lagi soal tenggang rasa.

Nonton di bioskop itu ada banyak orangnya. Bahkan orang-orang yang tidak kita kenali. Saya pernah nabung untuk nonton film yang sangat saya idamkan. Saya sengaja berhemat agar bisa nonton film itu di hari pertama penayangan. Tapi pas nonton saya merasa terganggu dengan tingkah laku penonton lain. Marah, kesal, hasrat ingin memukuli sudah bercampur aduk menjadi satu.

Lagipula, bukankah hukum keseimbangan alam itu ada? Barangsiapa menanam, ia menuai. Jika hari ini kita menggangu orang lain, di lain hari kita pasti diganggu juga entah oleh orang lain atau sesuatu yang lebih buruk.

Nah, itu dia 5 kebiasaan tak termaafkan saat nonton di bioskop. Sebenarnya masih ada banyak lagi yang mengganggu di bioskop seperti merokok, bercinta, malakin popcorn, goreng cireng, benerin rantai motor, banyak lah pokoknya. Kalau menurutmu apa lagi kebiasaan tak termaafkan selama nonton di bioskop?


Image Source: pexels.com

7 Januari 2019


Menurut saya, film Pengabdi Setan besutan Joko Anwar ini adalah film yang sangat bagus, tapi bukan film horor yang terlalu seram.

Kedua hal tersebut perlu dibedakan, sebab saya risih dengan beberapa komentar yang mengatakan film ini tidak bagus hanya karena kurang seram. Well, tiap orang tentu bebas menilai sebuah film. Tapi hambok ya agak nganu dikit gitu, lho.

Sebelum membicarakan filmnya, saya ingin curhat sebentar. Begini, saya berangkat menonton film ini sendirian. Bukan karena jomblo. Justru dari beberapa kilometer di sebrang sana kekasih saya juga sedang menonton film Pengabdi Setan, tapi versi pertamanya (1979) dan rencananya kami akan saling mendiskusikan itu. Namun, terlepas dari itu, ada satu hal menyebalkan yang harus saya rasakan di dalam bioskop. Apalagi kalau bukan celetukan berisik di kanan dan di kiri.

Bukan. Bukan orang spoiler. Ada yang lebih parah dari itu, yaitu tipe penonton yang kebanyakan maido dan sambat. Dua istilah Jawa ini kalau dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai perilaku menyangkal dan mengeluh.

Biar lebih jelasnya gini, ketika ada scene di mana Rini (Tara Basro) berjalan ke kamar ibunya setelah terbangun dari mimpi buruk, dua perempuan di samping saya bilang gini, “Kuwi yo ngopo tho ndadak marani barang. Nek aku ngono tak tinggal turu neh.” Dalam bahasa Indonesia berarti, “Itu ngapain sih malah mendatangi segala. Kalau aku gitu mending kutidur lagi aja.” Dalam batinku tentu saja menyeruak ucapan-ucapan terpuji macam, “Asui, namanya juga film. Kalau serem dikit tidur, serem dikit tidur, mana jadi cerita. Bajindul tenan.”

Dan celotehan-celotehan seperti itu berdenging sampai film selesai. Tipe penonton maido dan sambat ini ketika memutuskan untuk nonton film, apa yang mereka harapkan, ya? Bayangin aja, tiap ada yang ‘nggak semestinya’ selalu saja diprotes. Ada foto seram di ujung lorong, protes. Ada anak kecil pergi pipis malem-malem sendirian, protes. Bahkan, para tokoh yang tidur di kamar masing-masing juga diprotes! Luar biasa memang. Masak mereka bilang, “Udah tahu ada penampakan-penampakan, mbokya nggak tidur sendiri-sendiri, gitu.” Ada juga yang bilang, “Itu istrinya lagi sakit malah ditinggal tidur di ruang tamu. Mbokya ditemenin, biar kalau ada apa-apa nggak usah repot-repot manggil pakai lonceng.”

Aku ingin sekali teriak, “Woy! Kalau ceritanya kayak yang lu omongin. Ngapain lu nonton. Ngelamun aja sono!” Tapi sayang, aku lebih milih diem biar nggak ganggu penonton lain. Sebuwah prinsip!


Sekelumit Tentang Pengabdi Setan

Saya yakin sudah banyak sinopsis yang bertebaran, review yang bergelimpangan, dan spoiler yang bergelayutan di mana-mana. Namun, saya akan tetap menuliskan sedikit cerita dalam film ini di sini.
Film ini sebenarnya bermula saat rambut Ibu mulai rontok. Toni, anak kedua dari Ibu ini, memang senantiasa menyisir rambut Ibunya yang sedang sakit setiap malam. Ketika mendapati rambut Ibu mulai rontok, ia menjanjikan sebuah obat anti rontok kepada Ibunya. Tapi sayang, usia Ibu tidak lama. Ibu meninggal dunia dan dikebumikan di pekuburan yang tidak jauh dari rumahnya. Dalam peraduannya Ibu tidak bisa tenang. Ibu kembali ke rumahnya sebagai setan, dan ia meminta untuk disisirin lagi rambutnya. Mampukah Ibu mengatasi rambut rontoknya? Penasaran? Tonton filmnya.
Ah, nggak. Bercanda. Hwehehe.

Adegan yang saya sebut-sebut di atas memang ada. Tapi bukan itu inti filmnya. Dalam mempromosikan film ini, di mana-mana Joko Anwar cuma mengatakan kalau film ini tentang keluarga yang ditinggal mati oleh sosok Ibu. Lalu Ibu itu kembali ke rumah untuk menjemput anak-anaknya. Pertanyaan yang terbesit tentu saja bukan, “Apakah Ibu ini berhasil menjemput anak-anaknya? “ atau, “Apakah anak-anaknya akan selamat?” Tidak. Tentu tidak demikian. Pertanyaan yang tepat dari sinopsis singkat itu adalah, “Mengapa?”

Mengapa Ibu itu menjemput anak-anaknya? Mengapa Ibu meninggal dengan cara tak wajar? Pertanyaan-pertanyaan itu yang secara apik dijawab pelan-pelan dalam film Pengabdi Setan ini. Dan tentu saja sebagai garda depan perjokoanwaran, kita harus memaklumi dengan senyum manis ketika twist demi twist dimainkan.

Alasan Mengapa Film Pengabdi Setan Tidak Terlalu Menakutkan

Saya sendiri menilai film ini sangat bagus. Mulai dari cerita, acting para pemainnya, sinematografi, dan mise-en scene yang begitu estetik bagi saya. Namun, jika ditagih soal ketakutannya, sih, mohon maaf. Tidak terlalu menakutkan.

Lho kok bisa?

1. Kurang Kaget

Kalau kata kekasih saya, “Setannya udah ancang-ancang dulu sebelum keluar.” Hahaha. Sepanjang film memang saya berharap ada penampakan dan teror yang membabi buta tiap menitnya. Hal ini ternyata malah mengurangi kenikmatan menonton karena saya sudah terlalu siap untuk kaget. Berbeda sekali dengan pengalaman saya menonton film Get Out yang saya pikir itu adalah film drama percintaan, ternyata thriller. Teleq ucink!

2. Kurang Tersiksa

Entah saya yang agak psiko atau apa, tapi memang saya kurang merasa ngeri karena tokoh-tokoh yang ada di dalam film itu tidak ada yang lecet-lecet, patah tulang, kesleo, babak belur, atau ngucur-ngucur darah sekalipun (ada sih, tapi langsung meninggal). 


Jujur saja, saat adegan di mana tangan Rini ditarik ke luar jendela itu saya berharap tangannya terluka karena gigitan atau cakaran. Tapi ya mau bagaimana lagi, sejak awal film memang sudah ada penengasannya dalam dialog, “Orang mati itu tidak bisa melukai kita. Yang bisa itu perampok, pencuri..” Lagipula, kenapa sih Ian diceritakan bawa-bawa pisau segala kalau nggak dipakai buat nujes-nujes? Huhhah. Gemes.

3. Kurang Lama

Adegan dikejar-kejar mayat hidup sebanyak itu menurutku kurang lama dan kurang dekat mengepungnya. Kejauhan anjir ngepung rumahnya. Malah pada baris kayak mau senam sehat pagi-pagi di CFD. Jadi pas saya baru mulai deg-degan gitu, taraaaa, penyelamat datang. Lah, rurang lamaaa.

4. Kurang Terpencar

Porsi di mana anggota keluarga itu terpencar menurut saya kurang banyak. Ya, bagi saya sih salah satu kehororan itu adalah saat kita sedang sendiri. Jadi mengombinasikan kesendirian dan teror bisa jadi kengerian yang bertambah. Setidaknya lebih bikin deg-degan daripada ramai-ramai. Tapi sayang, empat orang yang diteror itu melewati kejaran demi kejaran dengan berpelukan bersama. Hal ini membuat saya percaya bahwa Bapak dari keluarga tersebut pasti bernama Tinky Winky.



Keempat hal yang saya sebutkan di atas bukanlah poin-poin kesalahan dalam film ini. Tidak. Film Pengabdi Setan tidak salah. Saya hanya mengutarakan apa yang ada di imajinasi saya terhadap film ini. Setidaknya, saya menuliskannya di sini. Tidak diceletukkan ketika nonton di bioskop macam penonton maido dan sambat. Duhdek, pengen rasane tak klakson lambemu.

Salah satu hal yang aku suka dari Pengabdi Setan ini adalah sosok setan-setan yang terjangkau. Menurut saya setan yang transparan, bisa tembus benda, dan melayang-layang bukanlah sosok setan yang menyeramkan. Tapi justru setan yang bisa jalan, turun tangga, buka pintu, dan juga bisa tahiyat akhir itu lebih horor karena terkesan lebih kuat begitu.

Sederhananya begini, setan transparan itu imejnya seperti terbuat dari partikel cahaya dan udara. Saya pribadi belum pernah terluka karena cahaya dan udara. Jadi saya kurang ada gambaran bagaimana rasanya kalau setan transparan melukai saya. Tapi setan yang berwujud padat itu lebih membuat saya percaya bahwa ia bisa melukai saya. Karena tentu saya pernah tergores, tercakar, tergigit, terpukul oleh benda-benda padat.

Nah, di film Pengabdi Setan sebenarnya berpotensi besar menawarkan teror yang bikin ngilu. Tapi ternyata Joko Anwar terlalu baik untuk tidak melukai para tokohnya secara fisik. Ya, sebut saja Pengabdi Setan ini adalah film horor yang baik. Mungkin memang Joko Anwar cuma mau membawa horornya saja, tidak melibatkan thriller atau slasher untuk menguatkan bumbu-bumbu teror.


Film: Pengabdi Setan // Tahun: 2017 // Rate IMDB: 8,4 // Genre: Horor Baik

Sebelum saya akhiri tulisan ini, sekali lagi saya ingin menghimbau kepada para penonton film-film Indonesia untuk tidak memprotes film di dalam bioskop. Mungkin memang ada hal-hal lebay atau terlalu ‘nggak mungkin’ yang terjadi di dalam film. Itu wajar. Memang harus begitu ceritanya biar tidak monoton. Jadi jangan bandingkan pengalaman hidup kita dengan apa yang terjadi di dalam film.

Uniknya, hal ini seringkali tidak terjadi untuk film-film luar. Karena mungkin penonton percaya begitu saja dengan apa yang disajikan dalam film gara-gara ia tidak memiliki pengetahuan nyata terhadap situasi sosial di luar negeri sana. Sementara kalau di Indonesia tidak begitu. Pernah saya menonton film pendek di YouTube dari MBCM yang berjudul Taksi. Saat saya membaca komentarnya, ada yang bilang, “Goblok. Kok nggak pesen grab aja sih?” Laaahhh..!

Untuk itulah mungkin alasan kenapa setiap film yang Joko Anwar bikin selalu saja latar (setting) ceritanya itu tidak diberitahukan. Mulai dari Kala, Modus Anomali, Pintu Terlarang, A Copy of My Mind, dan Pengabdi Setan ini tidak ada keterangan yang menyatakan bahwa semesta yang ada di film itu adalah Indonesia. Syutingnya sih, iya, di Indonesia. Tapi latar yang dibangun dalam film itu, tuh, bukan Indonesia. Coba, pernah ada nama kota atau kampung yang disebut di dalam film-filmnya Joko Anwar apa tidak? Setahu saya, tidak ada. Di film Kala pun ada dialog yang cuma bilang, “Saya mau pindah ke tenggara.”

Begitulah, jangan ribut kalau nonton film di bioskop, ya. Karena yang boleh ribut itu cuma mertuamu sing mbok tinggal mlayu.

Sekian dulu tulisan review saya kali ini. Ada banyak sekali spoiler karena memang tulisan ini saya tujukan kepada kamu-kamu yang sudah menonton filmnya. Sehingga kita bisa diskusikan ini bersama. Kalau kata Tiwi, “Review itu ya pasti spoiler. Kalau tidak spoiler namanya resensi.”


All image source: bintang.com

Follow Me @hamtiar_