Tampilkan postingan dengan label Acara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Acara. Tampilkan semua postingan

15 Mei 2016



Malam minggu 14 Mei 2016 saya datang ke acara Pesta Film Solo #6 yang mengusung tema Postalgia. Tema ini berbicara tentang film era 90-an, mengingat era tersebut film Indonesia mengalami kemacetan bahkan bisa dibilang dark age-nya film Indonesia. Acara ini diadakan oleh Kineklub Fisip UNS di Taman Budaya Jawa Tengah, Solo.

Kalau tahun lalu saya datang masih ada gandengan, tahun ini sendirian saja. Paragraf gak penting. Skip.

Saya datang di hari kedua sesi keempat, tak lain tak bukan adalah untuk menyaksikan film Bulan Tertusuk Ilalang (1995) garapan sutradara kondang, Garin Nugroho. Apalagi beliau hadir sebagai pembicara dalam diskusi yang bejudul “Dirikan Fondasi, Bangkitlah Industri”. Wah, ternyata masih ada judul berima seperti ini, kupikir lagi trend-nya judul-judul lugas. Hm, baiklah langsung saja ini yang saya ingat dari diskusi waktu itu:

Setelah menyaksikan film Bulan Tertusuk Ilalang, moderator mempersilahkan para pembicara naik keatas panggung. Dimulai dari Garin Nugroho (sutradara) disusul Arturo Gunapriatna dari Lembaga Sensor Film (LSF) dan terakhir ada Adrian Jonathan dari Cinemapoetica. Diskusipun dimulai dengan agak canggung oleh moderator.

Garin Nugroho menceritakan bagaimana film Bulan Tertusuk Ilalang ini muncul ditengah chaos-nya film Indonesia pada saat itu. Jadi tahun 90-an bioskop Indonesia dipenuhi dengan film-film yang kental sekali dengan seksualitasnya. Banyak disebut sebagai film komedi seks, drama seks dan horor seks. Ditengah intervensi film seks itu, Garin kemudian membuat film yang keluar dari mainstream.

Bulan Tertusuk Ilalang dikabarkan mengalami tekanan dari pemerintahan Orde Baru. Pada masa itu tidak hanya produk film, bahkan kru film pun juga tidak luput dari pantauan para intel Orba. Ancaman demi ancaman yang mengintai Garin tidak menyurutkan niatnya untuk mengerjakan film ini. Beliau berani pasang badan untuk filmnya juga untuk krunya.

Hal menarik ketika ada peserta diskusi bertanya bagaimana antusias masyarakat kala itu (era 90-an) untuk film Bulan Tertusuk Ilalang yang sangat ekspresif, mengingat disebelah saya saja ada yang ketiduran bahkan ada yang walk out. Saat pertanyaan itu dilontarkan, Garin tepok jidat. Lalu dijawab oleh Arturo Gunapriatna yang juga terlibat dalam film itu. Arturo memberi gambaran betapa getirnya selera masyarakat dan situasi politik Indonesia pada masa itu, tapi disatu sisi film tersebut justru sukses di kancah Internasional.

Campur tangan pemerintah Orba terhadap industri perfilman memang tidak main-main. Garin mengaku berulangkali berurusan dengan intel. Mulai dari surat-surat peringatan hingga kiriman misterius yang diduga bom (tapi ternyata paket souvenir). Bahkan ia sempat menunda pengerjaan film karena ketatnya pengawasan. Yang menarik bagi saya adalah kisahnya saat di Papua. Kala itu ia harus membuat film yang melibatkan orang-orang Papua dengan properti bendera Papua Merdeka. Bahkan ada scene dimana bendera Papua Merdeka dikibarkan lengkap dengan nyanyian kemerdekaan Papua. Masalah menghampiri Garin karena diluar syuting ternyata bendera-bendera dan nyanyian itu dibawa ke kota-kota oleh orang Papua sana. Tahu sendiri dampaknya apa.

Getir memang, lalu bagaimana dengan sensor film kala itu? Berbicara tentang sensor film, Arturo Gunapriatna memberikan suaranya. Arturo menyampaikan jika saat itu semua sektor memang diawasi dengan ketat, termasuk film. Sensor film lebih banyak ditekankan pada kepentingan-kepentingan yang dirasa mengancam pemerintah. Misalnya film Warkop berjudul “Kanan Kiri Oke”, pada masa itu tidak boleh “Kiri Kanan Oke”, harus diganti. Tahu sendirilah apa alasannya.

Proses pemotonganpun terbilang sadis. Jika ada scene yang dirasa berbahaya secara sepihak lembaga sensor langsung memotong scene tersebut tanpa kompromi. Kondisinya berbeda dengan sekarang. Era sekarang LSF hanya memberi arahan untuk memotong scene tertentu, yang memotong film ya filmmakernya sendiri. Tapi ada juga yang bandel, Arturo bilang “kita sama-sama taulah siapa, yang filmnya main di festival luar”. Saya menduga yang dimaksud adalah Joko Anwar dengan A Copy of My Mind yang memang lugas sekali memperlihatkan lipitan pantat Tara Basro.

Arturo juga memberi gambaran, pada masa itu bioskop-bioskop Indonesia terbagi dalam tiga kelas. Berbeda dengan sekarang yang sudah meleburkan semuanya dalam hegemoni twenty-one. Saya ingat betul di seberang rumah saya dulu ada bioskop daerah bernama Studio 1.2.3. Uniknya tontonan untuk orang dewasa adalah film Indonesia dengan unsur seksualitas yang tinggi. Sedangkan sajian untuk remaja dan anak justru film-film luar seperti Small Soldier, Jurassic Park hingga Titanic.

Maka saya pikir tak heran jika pemuda sekarang banyak yang nge-judge film Indonesia sebagai film sampah. Efek traumatik tontonan film saat kami masih kecil disebabkan lebih banyak dicekoki film-film luar. Apalagi saat menginjak usia puber kami mengalami de javu dengan munculnya film-film macam Kuntilanak Kesurupan di Malam Pertama sambil Ngesot Ketetesan Darah Perawan Suster Miyabi Goyang Pinggul di Rumah Pasung apapunlah itu judulnya #sukasukamasnayatosaja #kamipasrah . Untuk masalah sensor ini patut diucapkan terimakasih untuk Yulia Hesti dari Ruang Film Semarang atas pertanyaannya yang detil, hingga memicu jawaban mantap.

Obrolan malam itu kian menarik dan Garin pecah sekali menyampaikan materi dengan punchline yang rapi. Yang sangat disayangkan adalah Adrian Jonathan. Meski saya suka tulisan-tulisan di Cinemapoetica tapi saat sesi diskusi Adrian sepertinya agak canggung. Baik dari intonasi atau tempo bicara yang terlalu saykojic banget plus penguasaan mic yang kurang baik membuat perkataannya kurang jelas terdengar. Maaf saya tidak bisa mengutip apa-apa dari bagiannya Adrian. Ngomong-ngomong saat Adrian naik panggung, mbak-mbak belakang saya ada yang nyeletuk “Ya ampun, perutnya njembling gitu”. Dengan sigap saya memperbaiki posisi duduk sambil masukin tangan ke saku jemper, barangkali bisa sedikit membiaskan.

Sebelum saya akhiri, ada sedikit tambahan nih. Garin sempat memberi motivasi dalam pengkaryaannya. Ditengah ancaman dan kecaman yang melingkarinya, beliau bandel sekali mengerjakan film. Beliau ibaratkan seperti pemain sepak bola. Pemain sepak bola akan menyakiti dirinya sendiri jika ia berhenti bermain bola. Ilmuwan akan menyakiti diri jika ia berhenti mencari ilmu. Sutradara pun juga demikian, Garin merasa sakit oleh dirinya sendiri jika berhenti membuat film. Daripada menyakiti diri sendiri yang sudah pasti sakit, beliau gambling saja. Beliau tetap membuat film. Kalau ada serangan dari luar ya terima itu sebagai resiko, kalau tidak ada ya syukur. Jadi buat para sineas ayo terabas saja!

Selebihnya jika ingin memahami perjalanan film Indonesia secara runtut dari masa kolonial hingga sekarang kita bisa membaca buku “Krisis dan Paradoks Film Indonesia” tulisan dari Garin Nugroho dan Dyna Herlina. Buku ini bagus sekali, ringan dibaca dan penting.

Oke, segini saja yang bisa saya tulis. Sebenarnya masih banyak yang dibicarakan pada malam diskusi itu, tapi yang saya share segini saja ya. Cuma modal ingat-ingat nih, puyeng juga pagi-pagi diajak mikir keras. Terimakasih buat kalian yang mampir di blog saya dan maaf kalau ada tersinggung. Mari kita tutup dengan quote dari Garin:

“Sutradara itu BAJINGAN! Kalau anda mau jadi orang baik-baik, mau masuk surga, jangan jadi sutradara.” (Garin Nugroho, 2016)
Source pict: antarariau.com

29 Maret 2015



Hai guys, sudah lama rasanya tidak menyapa dan berbagi cerita di blog. Belakangan ini saya sedang menjalani Uji Kompetensi Dasar 1 yang tentu saja banyak ujian dan tugas-tugas yang menerkam dengan kejinya. Meski demikian, dengan gagahnya saya mampu menyelesaikan semuanya #berlagaksombong #padahalnilaipaspasan.

Skip paragraf diatas, kali ini saya ingin berbagi cerita khususnya pada pengalaman saya yang tak kunjung lupa. Jadi ceritanya di suatu pagi yang cerah saya bertemu dengan penulis ternama, Dee Lestari. Bukan hanya bertemu, saya pun mengikuti pelatihan menulis yang ia mentori. Bagaimana cerita selengkapnya? Yuk, simak ribuan kata dan jutaan rindu di bawah ini:

#jutaanrindu #iyajutaanrindu #ldr? #bodolah

Sembari menikmati senja dengan dentuman lagu-lagu Blake Shelton, saya kehabisan ide untuk melakukan sesuatu yang bermakna. Alhasil saya khusyuk scrolling timeline twitter. Ditengah ramainya lalu lalang tweet yang merajalela di jalanan twitter, langkah jari saya terhenti sejenak. Mata saya terpaku menatap sebuah pictweet dari akun Bentang Pustaka. Inilah yang saya lihat..


Tubuh seorang pria ditemukan terbujur kaku di atas kasur. Dengan mulut menganga, mata melotot nyaris lepas dan kulit mulai memucat menandakan pria tersebut tidak dalam keadaan baik-baik saja. Siapa dia? Itu saya!

Saat itu saya girang sekali, lebih girang dari tante girang yang kegirangan sekalipun. Mengetahui Dee Lestari bakal ‘dolan’ ke Solo tentu saja adrenalin saya meningkat tajam. Ini adalah sebuah kesempatan emas yang haram untuk dilewatkan. Fatwa ini membuat saya mencurahkan segala kemampuan untuk menang kompetisi agar bisa mengikuti kelas menulis yang dimentori penulis novel Supernova tersebut.

But, wait? Solo? Kontes menulis? Don’t make me laugh. Perpustakaan yang bagus saja kota ini tidak punya. Disitu kadang saya merasa sedih, pedih, perih, dan letih. Alhasil saya tidak jadi mencurahkan segala kemampuan dan beralih untuk memenangkan kontes dengan elegan dan tenang. Coba lihat review saya di sini --Review Gelombang Karya Dee Lestari -- biasa saja kan?

Setelah tahu info itu, saya merapikan rencana weekend di pertengahan Maret yang terlampau padat. Pokoknya, khusus hari minggu itu harus benar-benar selo!

Tulisan saya yang mereview novel Supernova: Gelombang pun meluncur dengan lancar di blog ini. Pun demikian dengan email yang saya kirim ke Bentang Pustaka. Jujur saja, karena review saya biasa-biasa saja (salah satu faktornya karena jumlah kata dibatasi sih) alhasil saya mengeluarkan kemampuan menghasut saya lewat email yang dikirimkan ke pihak Bentang selaku panitia. Karena nulis tertalu panjang di review-nya itu tidak boleh, ya saya nulis panjangnya di email mereka. Hahahaha.

Seusai mengirim email dan mendapat balasan dari Bentang jika email sudah diterima dengan sah, kini tinggal tawakal saja.

Entah mengapa menunggu hari pengumuman rasanya lama sekali. Seolah Tuhan scrolling harinya lebih pelan dari biasanya. Meski begitu, Tuhan tidak pernah salah scroll. Hari akan terus maju ke hari berikutnya, tidak akan berhenti bahkan kembali. Jika yang bisa saya lakukan adalah menunggu, maka saya akan menunggu. Entah mengapa paragraf ini saya tulis bergulir begitu saja tanpa sempat menarik napas. Mulai melantur jadinya. Back to topic!

Baiklah. Hari pengumuman tiba! Yeee... Dengan riang gembira saya langsung cek email, cek twitter dan cek website Bentang. Kalian tahu apa yang terjadi saudara-saudara? Tidak ada pengumuman! Tidak ada tanda-tanda ada acara Dee’s Coaching Clinic! Hari itu rasanya realitas dan ilusi tampak kabur.

Dengan cemas, saya merekonstruksi ingatan untuk memastikan jika acara Dee’s Coaching Clinic bukanlah gambaran di alam mimpi semata. Dokumen-dokumen dalam otak tergali hingga tiap detailnya mampu saya ingat kembali. Dengan mantap, saya mengimani jika acara itu benar-benar ada dalam dunia nyata. Mata saya terpejam, dagu mendongak keatas, lukisan senyum tercipta di bibir, dalam hati menggumam... “Kalah...”

Sepertinya pengumuman acara itu tidak dipublikasi besar-besaran di twitter atau di website. Rasanya seperti kontes balap liar profesional De Leon yang hanya bisa diikuti oleh orang-orang pilihan. Dan saya kalah? Di Solo? Mungkin ini yang dirasakan Spiderman saat tidak diajak gabung Avengers. Atau seperti Syaiful Jamil yang tidak diajak gabung One Direction.

Tapi ya sudahlah, hikmahnya lain kali jangan meremehkan lawan dan jangan suka belagu pas ngirim email pendaftaran ke panitia. Hari-hari berikutnya saya jalani kuliah dengan biasa. Hingga saya dan teman-teman alumni Osis SMA merencakan acara #CampOnTheBeach di hari Jumat-Sabtu, satu dan dua hari sebelum acara Dee’s Coaching Clinic diadakan.

Senin hingga rabu menjadi hari yang sangat sibuk bagi saya. Selain kuliah dan tugas-tugasnya, saya juga harus segera menyiapkan acara camping. Saat itu bayang-bayang Dee’s Coaching Clinic sudah benar-benar punah dalam benak saya. Kecewa, tentu saja!

Rabu malam, saya membuka laptop dengan rasa lunglai. Setelah beberapa hari belakangan itu cukup malas online (tentu saja karena saya kalah kontes), kini saya menyambung koneksi internet dan mulai berselancar di dunia penuh tipu daya itu.

Log in Twitter.

Cek mention.


Tubuh seorang pria ditemukan terbujur kaku di atas kasur. Dengan mulut menganga, mata melotot nyaris lepas dan kulit mulai memucat menandakan pria tersebut tidak dalam keadaan baik-baik saja. Siapa dia? Itu saya! #Dejavu

Ya begitulah.. Ternyata pengumumannya telat! Saya sangat gembira kala itu. Sayangnya rasa gembira itu berbuah cemas. Karena artinya saya bakal menjalani hari yang terlampau padat. Di mana jumat dan sabtu saya ada acara camping. Sempet tidur nyenyak? Mustahil. Sabtu malam paling baru sampai rumah dan minggu paginya musti sudah duduk anteng di kursi Sunan Hotel Solo. Belum lagi ada tugas kelompok yang belum dikerjain.

Mata saya terpejam, dagu mendongak keatas, lukisan senyum tercipta di bibir, dalam hati menggumam... “Jancik...”


Setelah pengumuman yang menurut saya terlalu mendadak itu, saya benar-benar merapikan rencana hingga tiap detailnya terjamah agar semua berjalan lancar. Yosh, saya siap untuk kesenangan ini.

Melompati hari jumat dan sabtu yang melelahkan, sampailah saya di hari minggu. Pukul 7 pagi saya sudah mandi lengkap dengan parfum dan pomade. Namun, keadaan berubah ketika ibu saya mengucapkan kata ini --> “Le, motore ngko jam 9 meh dinggo njagong lho”.

Jeggeerrr.. Saat itu saya mendadak panik. Sudah pukul tujuh lebih dan acara dimulai tidak sampai satu jam setelah itu. Mau tidak mau saya harus naik bus. Dengan sigap, buru-buru dan perut kosong saya meluncur ke halte Batik Solo Trans. Paling tidak, saya butuh sekitar setengah jam untuk sampai ke lokasi dengan menaiki bus. Untung saja jalannya tidak terhalang CFD.

Alhasil, saya turun di Rumah Sakit Panti Waluyo dan harus jalan kaki beberapa meter untuk sampai ke tujuan. Jam digital menandakan waktu bergulir pukul 8:03. Kampret, ternyata lama juga busnya. Dalam sekejab dalam otak saya menawarkan dua pilihan :

1. Jalan santai tapi telat banget, atau

2. Lari tapi keringetan (yang bikin saya tidak tampak elegan lagi). Oke saya pilih pilihan ketiga, naik becak dan suruh abang-abang becaknya ngebut.

Sampai juga di Sunan Hotel. Abang becaknya saya bayar lima ribu perak. Tanpa pikir-pikir lagi kaki saya melesat menuju mas-mas satpam. Saya tanya lokasi ballroom 1, ia pun menunjukkan letaknya dengan praktis. Kaki saya melangkah mantap menuju dan memasuki ballroom 1.

But, wait...

Bola mata saya berkeliling melihat sekitar. Banyak orang-orang borjuis pakai jas necis. Ow faaaak! Ini kok malah acara seminar kesehatan?? Apa jangan-jangan MLM?? Setelah tahu jika saya salah tempat dengan lekas saya pergi menghampiri mbak-mbak resepsionis. Kali ini saya tanya Wiryowilldagdo Ballroom 1. Barulah ia memberi tahu jalan yang benar.

Anjir ternyata ballroom 1 tidak cuma 1!!

08.17. Saya berjalan dengan santai, elegan dan kharismatik. Padahal jantung udah deg-degan karena telat. Biasalah ya, saya ini sering ontime kalau ada undangan. Kecuali kalau memang sibuk banget sampai kocar-kacir ngatur jadwal. #soksokan

Sampai juga di lokasi eksekusi. Saya menandatangani daftar hadir sambil pura-pura senyum elegan untuk mbak-mbak panitia dari Bentang. Setelah itu tubuh saya segera memasuki ruangan. Olalaa.. Ternyata acara belum dimulai. Yasudahlah, paling tidak saya bisa rehat-rehat dulu sambil ngadem.

Di dalam ruangan itu ada teman saya dari komunitas Standup Comedy Solo. Saya agak keki karena sudah lama tidak nongol di komunitas. Tapi sudahlah, saya duduk disebelahnya. Kami berbincang seputar ‘piye kabare?’ hingga menggosipkan sepak terjang Dee Lestari dan karya-karyanya. Tak luput dari pengamatan saya, di depan juga ada peserta lain yang tengah seru membicarakan kreator Perahu Kertas itu. Bahkan seisi ruangan penuh dengan gema suara yang senada. Semua membicarakan Dee.

09.01. Acara resmi dibuka oleh MC. Dengan wajah riang dan penuh semangat MC itu memanggil nama Dee Lestari yang kemudian disambut oleh tepuk tangan meriah dari tangan para peserta. Semua kepala menoleh ke belakang sambil senyum-senyum bahagia.

Detik demi detik berlalu, tepuk tangan yang meriah itu perlahan meredam. Senyum bahagia berubah menjadi senyuman kaku yang aneh. Ya, ternyata MC-nya salah timing! Mbak Dee belum sampai di lokasi. Mungkin ia masih berjalan menyusuri tangga atau jangan-jangan dia salah masuk ke acara seminar kesehatan atau apalah itu.

Segera saja MC melepas kekakuan momen itu dengan sedikit basa basi yang dipaksakan. Untung saja dalam jangka waktu yang singkat mbak Dee sudah menunjukkan batang hidungnya. Yeeeeee.. Para peserta kembali bertepuk tangan. Dengan anggun Dee Lestari melangkah mantap memasuki ruangan dan melambaikan tangan menyapa kami dengan ramahnya.

Finally, acara dimulai!

Konsep acara Dee’s Coaching Clinic ini 100% merupakan tanya-jawab. Kami tidak diminta untuk menulis saat itu juga. Tapi kami diberi banyak waktu untuk mengajukan pertanyaan. Mbak Dee tidak menggunakan tampilan digital untuk presentasi. Ia memaksimalkan media flip chart dan membuat suasana ruangan seperti media belajar-mengajar klasik. Ia juga mengusulkan agar kelas dibuat lesehan saja, tapi hal itu tidak bisa direalisasikan karena ruangan sudah ditata sedemikian rupa oleh pihak hotel dengan konsep meja kursi.


Sebelum masuk ke sesi pertanyaan, sang novelis itu meminta peserta untuk memperkenalkan diri satu persatu dan mengutarakan motivasi mengikuti acara ini. Suara demi suara keluar dari mulut yang berbeda. Kami memperkenalkan diri, ada yang mantap ada yang grogi. Karena sesi itulah saya tahu jika peserta dari kota Solo sangat sedikit. Ada yang datang dari Jogja, Magelang, Semarang hingga Bogor. Saya jadi minoritas di kota kelahiran sendiri.

Perih. Dulu pas Bernard Batubara datang ke Solo juga cenderung sepi. Kebanyakan yang hadir perempuan-perempuan yang membuat suasana MaG seperti pengajian jalin ukhuwah antar muslimah. Sepertinya orang-orang di kota ini cuma kenal satu penulis saja, tak lain dan tak bukan adalah Raditya Dika.

Oiya, sesi perkenalan tadi juga membuat saya merasa lebih minoritas lagi. Para peserta itu benar-benar fans beratnya Dee Lestari. Semuanya sangat mengelu-elukan penulis Filosofi Kopi itu. Tak jarang jika para peserta Dee’s Coaching Clinic datang dengan tujuan untuk bertemu, berfoto dan mendapat tandatangan dari sang idola. Sedangkan saya datang untuk mengetahui rahasia menulisnya. Saya datang bukan demi sesosok Dee Lestari. Saya datang demi mengetahui apa yang ia ketahui. Dan ingin menekuni apa yang ia tekuni. Kalaupun acara pelatihan menulis dimentori oleh Aditya Mulya, Winna Effendi bahkan John Green, saya juga akan datang dengan niatan untuk belajar. Kecuali kalau pelatihan menulisnya menghadirkan Raditya Dika, 101% saya tidak akan datang. Sebab acara tidak akan kondusif, sekali Radit bilang ‘cieee’ semua peserta sudah histeris.

Baiklah sesi perkenalan sudah lewat. Tanpa basa-basi MC membuka ruang bagi peserta untuk mengajukan pertanyaan. Maka muncullah beberapa penanya. Dengan cekatan mbak Dee menjawab pertanyaan itu, sangat lugas dan ringkas itulah yang saya sukai. Seusai dengan sesi pertama, acara dihentikan sejenak untuk coffee break.

((ngopi dulu...))

Selesai menghirup udara segar dan mendapati secangkir kopi lengkap dengan cemilannya, acara kembali dilanjutkan untuk sesi kedua. Dalam sesi ini hampir semua peserta mengajukan pertanyaan. Saya termasuk orang yang tidak bertanya. Why? Karena saya tahu pertanyaan saya bakal terjawab dengan sendirinya. Beberapa peserta menanyakan apa yang ingin saya tanyakan, ditambah mbak Dee suka ‘sisan’ menjelaskan apa yang menyinggung dalam topik pertanyaan tertentu, nah yang ia singgung itu adalah pertanyaanku. See.. Terjawab dengan sendirinya. Jadi saya tidak perlu mengeluarkan suara, semesta selalu mendukung pria elegan. #soksokan #belagu

Setelah acara tanya-jawab selesai bagi saya acara sudah selesai. Tapi bagi yang lain, acara baru saja dimulai. Sesi tandatangan dan berfoto ria adalah sesi yang paling mereka tunggu-tunggu. Dalam hitungan detik, antrian memanjang seketika.

Dulu ketika mas Bernard Batubara ke Solo mungkin saya satu-satunya peserta yang langsung pulang tanpa minta tandatangan dan foto bareng. Mengapa? Bagi saya foto bareng hanya akan membuat jarak semakin jauh. Saya ingin foto bareng sebagai sesama penulis, bukan sebagai idola dan penggemar.

Namun dalam acara Dee’s Coaching Clinic ini saya sebagai minoritas tidak ingin menambah persepsi keminoritasan saya. Saya tidak ingin terlihat aneh dan malas menjawab pertanyaan “kok koe ra melu foto?”. Alhasil, saya ikutan ngantri sambil bawa buku Gelombang. Eee ternyata peserta lain bawa semua bukunya! Sedangkan di dalam tas saya hanya berisi buku Gelombang dan laptop (karena saya pikir peserta bakal diminta untuk menulis). Sekali lagi, saya merasa lebih minoritas.


Ternyata foto bareng ada hikmahnya. Pas saya upload di medsos, banyak juga yang ngiri. Namun, ada pula yang tanya “cewek itu siapa mas? Trus itu yang kamu pegang apa mas?”. Wadefaak! Ah pertanyaan tadi sedikit saya ubah, sebab sebenarnya yang tanya itu memanggil saya bukan ‘mas’ tapi ‘mz’.

Oke, cukup sampai sini saja ceritanya. Yang jelas hari itu saya bahagia. Jutaan keping inspirasi menghujam ke tubuh saya dengan deras. Saya sangat bersemangat untuk menulis. Lalu apakah setelah itu saya langsung menulis? Tidak saudara-saudara. Saya ujian dulu.. Hahahaha.

Terimakasih untuk teman-teman yang sudah bersedia membaca tulisan saya. Maaf jika ada yang tidak enak dibaca. Sampai jumpa dan semoga sehat selalu..

Fotoan dari kameranya Kobar