Tampilkan postingan dengan label Acara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Acara. Tampilkan semua postingan

2 Maret 2018


Dari sekian banyak restoran di Indonesia, HokBen adalah salah satu yang terbaik. Mengapa demikian? Sebab HokBen selalu bisa berinovasi dengan meluncurkan menu-menu baru. Setelah dulu ada menu Tokyo Bowl, kini HokBen akan menggoyang lidah kita dengan menu HOKA SUKA!

Wow! Apa itu menu Hoka Suka?

Eits, sebelum membahas ke sana, saya ingin sedikit bercerita mengenai HokBen, nih. Jadi sudah pada tahu belum kalau HokBen itu berdiri sejak tahun 1985? Duh, giliran dibandingkan dengan restoran aja nih saya jadi merasa lebih muda. Hahaha.

Yup, sudah 33 tahun HokBen eksis memanjakan lidah-lidah manusia Indonesia dengan sajian khas Jepangnya. Maka wajar saja jika HokBen kita anggap sebagai salah satu senior perestoran Indonesia.

Dari tahun ke tahun HokBen selalu memberikan yang terbaik untuk konsumennya. Sebut saja fasilitas call center dan HokBen Delivery yang sudah bisa dilakukan sejak tahun 2007. Lebih maju satu tahun dari itu, tepatnya tahun 2008 HokBen mulai membuka website dan pemesanan bisa dilakukan secara online. Gila, tahun segitu mah saya baru migrasi dari Friendster ke Facebook, terus pasang foto profil gambar-gambar emo atau paling mentok ya logo Slanker.

Wah, kalau menyinggung soal logo, HokBen telah melakukan perubahan logo pada tahun 2013. Dari yang semula bernama Hoka-Hoka Bento berubah menjadi HokBen. Algoritme pergantian nama ini cukup familiar dengan kita karena kita juga mengenal Warung Tegal menjadi Warteg, Warung Kopi menjadi Warkop, dan masih banyak lagi. Luar biasa ya, bangsa ini ditopang oleh kemajemukan akronim dari segala penjuru. Hahaha.

Gahthering Blogger Bekasi di HokBen Harapan Indah


Kenapa saya kok tiba-tiba mengulas soal HokBen? Ini dia alasanannya. Jadi, beberapa hari lalu saya, Tiwi, dan teman-teman Blogger lainnya berkumpul di HokBen Harapan Indah, Bekasi. Seru rasanya bisa bercengkrama dengan blogger-blogger lain. Apalagi ada aneka games yang membuat suasana lebih meriah.

HokBen Harapan Indah ini adalah HokBen terluas yang pernah saya kunjungi. Di resto ini telah tersedia area parkir yang luas banget, dengan tarif parkirnya hanya 2.000 rupiah per motor. Syukurlah, tidak kena musibah tarif per jam lagi seperti di tempat lain. Hahaha.

Kalau lahan parkirnya saja luas, apalagi restonya. Yak, tersedia 200 kursi di resto ini yang siap kita duduki di manapun kita mau. Outdoor untuk smoking area ada, indoor ada, bahkan private room juga ada. Dan tentu saja, mini playground buat si kecil pun ada.

Dengan banyaknya kursi yang disediakan, kita bisa nongkrong agak lama karena tidak harus buru-buru bergantian dengan pengunjung lain. Makan enak, nongkrong enak. Wow siapa sih yang nggak mau? Toh aksesnya pun gampang banget. Saya yang belum pernah ke HokBen Harapan Indah sebelumnya saja tidak sampai nyasar kok.

Oiya satu lagi, kalau mau makan siang atau malam tidak perlu khawatir ketinggalan sholat. Sebab di HokBen Harapan Indah telah tersedia mushola. Benar-benar paket ishoma yang komplit banget!

Harga dan Cita Rasa Menu Baru Hoka Suka.

Kini saatnya menjawab pertanyaan di awal tulisan tadi. Jadi, Hoka Suka adalah menu baru dari HokBen yang memadukan sajian makanan Jepang dengan unsur cita rasa Indonesia.

Unsur cita rasa Indonesia yang dimaksud adalah kering kentang, acar kuning, dan tentu saja aneka sambal. Lah, HokBen kan khasnya makanan Jepang, kok jadi ada sambal-sambalnya segala?

Itu dia uniknya inovasi HokBen kali ini. Begini, ketika kita berbicara tentang makanan Indonesia, apa sih yang hampir selalu ada di mana-mana? Sambal! Kalau ada anekdot yang bilang, "Bagi orang Indonesia, belum disebut makan kalau belum makan nasi." Sekarang konklusi dari anekdot itu jadi begini, "Belum disebut makan nasi kalau belum pakai SAMBAL!" Hahaha.

Lanjut ya, Gaes. Jadi di dalam menu Hoka Suka ini ada tiga varian, yaitu:

1. Hoka Suka 1


Terdiri dari Yakitori Grilled, nasi, kering kentang, acar kuning, dan tiga pilihan sambal.

Rasa manis, asam, dan peleburan rasa dengan sambal berhasil membuat indra perasa saya lompat kegirangan. Perpaduan yang hampir sempurna. Pasalnya kalau boleh memilih, saya lebih suka bila kering kentangnya diganti krupuk udang atau krupuk merah. Pasti terasa sempurna di lidah saya.

Harga untuk paket Hoka Suka 1 adalah Rp. 49.000.

2. Hoka Suka 2 


Terdiri dari Ebi Furai, nasi, kering kentang, acar kuning, dan tiga pilihan sambal.

My Fav! Di antara tiga menu Hoka Suka, saya paling suka dengan ebi furai ini. Kelembutan udang yang renyah dan rasa asin yang tepat sasaran melebur indah di setiap kecapan saya. Tak tanggung-tanggung, ada empat udang gede untuk satu porsinya. Puas!

Harga untuk paket Hoka Suka 2 adalah Rp. 58.000.

3. Hoka Suka 3


Terdiri dari Chicken Katsu, nasi, kering kentang, acar kuning, dan tiga pilihan sambal.

Belum ke HokBen kalau belum icpi-icip chicken katsu. Hidangan andalan HokBen ini sudah jelas memberi kenikmatan yang haqiqi. Kelembutan dagingnya dipadu dengan kerenyahan tiap gigitannya menjadi makin lezat ketika sambal ikut terlibat di tiap kunyahannya. HokBennya dapet, pedasnya dapet, kenyangnya apalagi. Sampai mblenger!

Harga untuk paket Hoka Suka 3 adalah Rp. 49.000.

Itu dia tiga varian menu baru HokBen, Hoka Suka. Sejauh ini saya merasa puas dengan menu baru yang ditawarkan itu. Hidangan Jepang rasa Indonesianya bisa banget bikin senang sekaligus kenyang. Kalau sudah begini, Hoka Suka bakal jadi makanan favorit setiap mampir HokBen, nih.

Sambal Kita Sambal Indonesia


Seperti yang sudah saya tulis di atas, setiap menu Hoka Suka terdapat tiga pilihan sambal. Apa saja itu?

Pertama, sambal bawang Jawa. Sebagai orang Solo dengan 1% mewarisi lidah keratonan, tentu saja sambal bawang adalah sambal paling tepat bagi saya. Sambal bawang memang seperti namanya, dominasi bawang merah dan bawang putih adalah resep racikan sambal jenis ini. Perpaduan ketiga unsur itu yang membuat saya merasakan sensasi pedas yang ngrempah abis. Rasanya akrab di lidah. Huhhaah.



Kedua, sambal matah Bali. Sambal ini diracik secara mentah dari cabe, bawang, sedikit jeruk nipis, dan minyak sayur. Bagi saya, level pedas pada sambal jenis ini tidak lebih tinggi dari sambal bawang Jawa. Tapi tidak sekadar pedas saja, ada cita rasa lain yang ikut muncul di sana. Sebagai cocolan chicken katsu sih pas banget, lho.


Ketiga, sambal ijo Padang. Memiliki kadar pedas yang susah dideskripsikan! Hahahaha. Bagi yang akrab dengan masakan Padang sih pasti suka karena kini HokBen sudah memfasilitasi itu. Tapi bagi saya pribadi masih kurang ngeklik di lidah. Mungkin karena saya Jawa banget kali ya, jadi sambal pedas agak manis itu lebih familiar daripada pedas agak pahit seperti sambal ijo Padang.


Tiga varian sambal itu sepertinya mewakili tiap selera persambalan Indonesia, ya. Ada pedas manis, pedas asam, dan pedas pahit. Wow! Kurang komplit apa lagi?

Jadi kalau kamu adalah pencinta sambal, tidak ada salahnya untuk mencoba aneka sambal pilihan HokBen. Tak hanya khusus untuk menu Hoka Suka kok. Aneka sambal ini dapat kamu pesan terpisah cukup dengan harga Rp. 5.000 saja.

Bagaimana? Masih mau pakai saos doang, nih? Yakin? Ayo dong rasakan sensasi pedas nikmatnya sambal bawang, sambal matah, dan sambal ijo di HokBen! Lebih greget.

"Tapi lagi hujan, nih. Malas keluar, nih."

Eits, jangan khawatir. Langsung saja pesan secara online di hokben.co.id atau bisa juga pesan melalui HokBen Delivery cukup dengan menghubungi 1-500-505.

Nah, itu saja yang bisa saya bagikan kali ini. Kalau boleh, saya mau dengar pendapatnya, dong. Inovasi HokBen pada menu Hoka Suka dengan ketiga sambalnya ini menurutmu bagaimana? Terima kasih sudah membaca.

Pada hari kamis kemarin, tepatnya tanggal 1 Maret 2018, saya mendapat kesempatan untuk menghadiri acara Kampung Hukum di JCC Senayan.

Apa sih Kampung Hukum itu?

Jadi, Kampung Hukum yang saya maksud adalah ajang pameran yang diadakan oleh Mahkamah Agung RI dalam rangka menyosialisasikan program-program instansi pemerintahan kepada masyarakat.


Ada 13 stand di Kampung Hukum ini, yaitu Komisi Pemberantas Korupsi (KPK), Komisi Yudisial (YK), Mahkamah Konstitusi (MK), Kementrian Hukum dan HAM, Badan Narkotika Nasional (BNN), Ditjen Peradilan Agama MA, Badan Pengawasan MA, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan, Ditjen Peradilan Umum MA, Ditjen Peradilan Militer dan TUN MA, Kepolisian RI, Balitbangdiklat MA, dan Majelis Permusyawaratan. Selain itu ada juga dua bank yang turut meramaikan acara ini, ada BTN dan BNI syariah.

Jangan kira acara ini akan membosankan karena instnsi pemerintahan seringkali mendapat citra yang serius, lho, ya. Acara Kampung Hukum ini seru banget! Sampai saya betah mengikuti acaranya dari awal pukul 08.00 sampai selesai pukul 16.30.

Apa sih yang bikin seru?

Acara yang disaksikan di depan panggung cukup menarik. Ada presentasi dari setiap stand yang memberi saya banyak informasi soal program-program instansi pemerintahan yang baru saya ketahui. Kalau di media kan biasanya yang diangkat itu prestasi atau masalah. Nah, dengan mengetahui program-program seperti ini, saya jadi semakin optimis kalau pemerintahan ini sedang bergerak ke arah yang lebih baik.

Selain itu, ada juga sesi talk show dengan membahas "Pencemaran Nama Baik Melalui Hoax Pada Media Sosial". Bagi generasi milenial yang akrab banget dengan media sosial, hoax, dan drama pencemaran nama baik tentu pembahasan seperti ini penting.

Wah, acaranya serius banget tuh.

Eits, jangan salah. Ada banyak acara hiburan yang seru banget. Salah satunya saya suka dengan penampilan Putri Chaniago yang mampu bernyanyi dengan menirukan berbagai suara. Interaksi dengan penontonnya pun pecah banget. Kocaklah pokoknya.


Tak hanya itu, masih ada hiburan lain seperti Stand Up Comedy, dance, performing band, dan aneka kuis. Meski banyak hadiah di sesi kuis, tapi saya tidak ikutan. Saya lebih memilih untuk memainkan berbagai macam games di masing-masing stand.

Games di sini merupakan wujud edukasi yang menyenangkan. Saya masih ingat waktu ikut games di stand Komisi Yudisial, saya mendapat pertanyaan seputar syarat pelatihan Hakim Agung. Karena memang boleh googling, saya jadinya harus membaca beberapa artikel untuk memperoleh jawabannya. Dan jawabannya adalah 'pelatihan kode etik'.

Tapi stand paling asyik menurut saya tuh dari KPK. Ada games digital yang lucu. Sebenarnya gamesnya gampang, sih. Tapi karena layarnya gede banget, saya jadi kesulitan melihat keseluruhan layar. Maklum, biasanya cuma lihat sebatas layar hape, sih. Alhasil, saya kalah di permainan itu.

Banyak hadiah bergelimpangan di sini. Bahkan ada bagi-bagi buku gratis! Tinggal datangi standnya, isi buku tamu, lalu bebas mau ambil buku apa saja dan berapa saja. Syukurlah, saya jadi punya buku-buku pemerintahan.

Acara Kampung Hukum jika boleh berbaharap, tahun depan semoga ada lagi. Mungkin tidak hanya satu hari. Jika hari pertama khusus tamu undangan, hari-hari berikutnya bisa dibuka untuk umum. Tentu saja agar sosialisasi ini lebih banyak tersampaikan kepada masyarakat.

Dengan menyaksikan iklim pemerintahan lewat ajang seperti ini, saya yakin jika pemerintahan kita masih bisa dipercaya untuk pengelolaan yang bersih, jujur, dan transparan. Bukan hanya slogan semata, tapi langkah menuju kearah itu memang tengah diperjuangkan.

Akhir kata, saya bersyukur karena diberi kesempatan untuk terlibat dalam acara Kampung Hukum 2018. Saya jadi lebih tahu soal instansi atau lembaga pemerintahan beserta program dan visinya untuk bangsa ini. Sampai jumpa di lain kesempatan. Semoga bisa terlibat lagi. Amin.


Jadi, kamu juga mau nggak mengikuti acara ini kalau diadakan lagi?



16 Februari 2018


Menjadi perantau di Jakarta. Meski baru tiga bulan, namun sudah banyak hal menarik yang saya alami di kota besar ini. Mulai dari pengalaman indah, susah, bahkan absurditas yang random seperti mendatangi event di Grand Indonesia dengan bawa uang hanya 700 rupiah.

Pada tanggal 11 Februari, saya dan Tiwi mendapat kesempatan untuk bertemu sastrawan ulung, Eyang Budi Darma dan Mas Seno Gumira di Galeri Indonesia Kaya. Pertemuan itu tentu saja bukan dalam rangka kopdar atau prosesi COD, melainkan untuk sama-sama terlibat dalam acara bincang sastra dengan tema Menjadi Manusia dengan Sastra.

Beberapa jam sebelum acara dimulai, saya dan Tiwi telah sepakat untuk melakukan perjalanan menuju Galeri Indonesia (GI) menggunakan Transjakarta saja. Kenapa? Soalnya kalau Transtuju itu saluran televisi, tidak bisa ditunggangi. Eh, bisa ding. Ditunggangi kepentingan politis. Eaa.

Sebenarnya kami bisa saja menempuh perjalanan menggunakan motor yang memungkinkan tiba di lokasi lebih cepat. Tapi pilihan itu kami urungkan. Sebab kami masih trauma dengan biaya parkir. Lha mau bagaimana lagi? Parkir di Taman Ismail Marzuki saja kena tarif 14.000, gimana kalau di GI? Bisa-bisa harus jual akun instagram dulu baru bisa bayar parkir, huh.

Pada titik ini saya jadi rindu dengan tarif parkir di The Park Supermall Solo Baru. Meski namanya panjang, mall-nya besar, tapi tarif parkirnya cuma seribu rupiah saja, lho. Saking murahya, kalau sedang tidak ada uang pas, dibela-belain ngamen dulu satu menit di depan Mall juga bisa itu.

Yah, jadi begitulah alasan saya dan Tiwi lebih memilih naik Transjakarta daripada motor. Eh, taunya pas sampai di GI malah Transjakartanya ikut parkir. Terus saya yang bayar. Empat belas ribu pula. Masak, sih? Ya, nggaklah matane. Hidup kok absurdnya kelewataan kayak kartun Nickelodeon.

Singkat cerita, kami tiba di GI sekitar pukul satu siang. Sementara acara dimulai pukul tiga sore. Maka jadilah kami memanfaatkan waktu tersebut dengan...nyasar. Ya begitulah. Tersesat di mall adalah bentuk perlawanan bagi kaum proletar. Perlawanan uopoooo.

Sebenarnya perut kami berharap sesuap makanan, tapi dompet tidak mengabulkan itu. Bagaimana tidak? Dompet saya cuma terisi 200 rupiah setelah koin 500 rupiah sudah raib karna saya pakai untuk menambahi ongkos naik angkot. Untunglah Tiwi bawa 50.000. Lalu jajan di GI? Yo oralah!

Jadilah saat itu saya duduk-duduk pilu di depan butik lingerie bersama Tiwi. Bukannya sedang pilih-pilih lingerie, tapi memang sudut yang kami tempati ini jarang dilalui orang. Kami membicarakan banyak hal. Salah satunya adalah sebuah pertanyaan , “Orang-orang ini ke sini bawa uang berapa, ya?”

Dulu, ketika saya masih di Solo, jalan-jalan ke mall bukan lagi sesuatu yang teramat lux. Biasa saja. Saya bisa makan steak dan minum teh botol sosro yang harganya lebih murah daripada tarif parkir di Taman Ismail Marzuki. Saya bisa beli es teh saja seharga tiga ribuan yang cup-nya tetap dibawa ke mana-mana meski isinya sudah habis.

Kalau dalam film, mall di Solo dan Jakarta sudah seperti film Upside Down. Berbeda meski sama-sama mall. Yaaiyalaah. Ngono wae kok nggumun

Saya tidak bisa membayangkan berapa uang yang dihabiskan untuk satu kali jalan di GI. Apalagi yang membawa serta seluruh anggota keluarga. Satu juta? Dua juta? Lebih atau kurang?

Lalu muncul pertanyaan, “Orang-orang kaya ini sudah sebahagia apa, ya?”

Tiwi mulai menatap saya dengan curiga. Mungkin dia was-was jikalau saya beralih profesi jadi Robin Hood seketika itu juga. Lalu tatapannya berjalan ke rambut saya yang gondrong. Dari pipi kenyalnya yang mulai bersua dengan senyum, saya mendengar suara, “Halah mbel. Boro-boro Robin Hood. Bentukanmu malah mirip Jack Sparrow, Bos.”

Ternyata saya mendapat mukjizat untuk bisa membaca bahasa pipi. Ya, ini pasti mukjizat.

Perbincangan siang itu berlalu begitu saja. Di antara berbagai pertayaan antologis yang saya lontarkan, Tiwi kemudian mengajukan pertanyaan yang sangat-sangat bajindul logisnya. “Di sini ada kayak Carefour gitu nggak, ya?” Syem. Usai sudah cuap-cuap kami yang belagak melawan hedonistik itu.

Kami kehausan. Ingin sekali rasanya menenggak Sprite. Atau Big Cola pun tak apa karna harganya yang lebih miring. Sayangnya, semua itu hanya fatamorgana belaka. Satu-satunya yang berhasil memabukkan adalah aroma Pop Corn yang krenyesnya tak terjangkau saldo PayPal kami.

Sial, tak ada soda hari ini.

Via satuharapan.com

Waktu mulai mendekati pukul tiga sore. Saya dan Tiwi bergandengan menuju Grand Indonesia Kaya. Suasana begitu ramai. Bukan karena banyak penikmat sastra yang berkumpul di situ, tapi karena di CGV tengah berlangsung meet and greet film Eiffel I’m in Love 2. Muda-mudi memenuhi selasar CGV. Sementara GIK terletak di sebelah CGV. Fak, susah sekali menerabas kerumunan itu.

Setelah tergencet ke kanan ke kiri, akhirnya kami berhasil sampai di mulut pintu GIK. Kami segera registrasi ulang setelah sebelumnya sudah mendaftar online. Karena acara belum mulai, kami memutuskan untuk menunggu sembari bermain games virtual yang ada di GIK.

Kami main game Balapan Egrang. Game ini mirip dengan Subway Suffer, tapi karakter yang dimainkan naik egrang. Saking jagonya, kami mendapat nilai 100. Yeaaaayy. Lalu cek high score. Nilai tertinggi 38.000-an kalau tidak salah ingat. “Fak,” batin kami kompak.

Setelah itu saya bermain alat musik virtual. Sementara Tiwi memilih untuk duduk-duduk saja. Saya memainkan kecapi, angklung, bonang, dan satunya lupa. Yang jelas, alat musik apapun yang saya mainkan, lagunya tetap ‘Gundul-Gundul Pacul’. Lha wong ya cuma itu saja yang saya bisa. Eh, tidak. Sebenarnya mau membawakan Symphony No. 35 in D major K. 385, tapi sungkan sama Mozart. Takut kualat.

Setelah saya puas bermain solo concert itu, saya segera duduk di samping Tiwi. Tidak terlalu banyak yang kami perbincangkan karena mata saya mulai menangkap sesuatu. Debu. Ya. Saya sedikit kelilipan.

Sepasang kekasih yang duduk di samping kami mulai beranjak dari tempat duduknya. Mereka menghampiri satpam, entah menanyakan apa. Lalu satpam itu menunjuk ke suatu tempat. Sepasang kekasih itu lantas berjalan terburu-buru. Seketika itu pula saya bangun dari sofa empuk. Saya mencolek Tiwi seraya bilang,“Ayo, masuk sekarang.”

Tiwi yang sudah pernah ke GIK sebelumnya langsung memandu saya menuju pintu masuk ruang auditorium. Semua orang masih sibuk dengan urusannya masing-masing, menunggu. Lalu begitu kami sampai di depan pintu, bapak satpam langsung memberi aba-aba, “Buat dua baris antrian.” Semua orang yang berada di situ langsung sigap membentuk barisan. Saya dan Tiwi tiba-tiba sudah masuk dalam barisan depan, meski bukan yang terdepan.

Saya bersyukur. Coba kalau saya dapat barisan paling depan. Pasti para pengantri sudah saya beri komando untuk meluruskan dan merapatkan shaf. Duh, naluri imam susah disembunyikan.

Kami mulai melangkah ke dalam setelah Eyang Budi Darma dan Mas Seno masuk duluan. Beruntung mendapat barisan depan. Saya dan Tiwi bisa memiih tempat duduk semaunya. Akhirnya, kami menempati kursi paling atas. Bukan mau mesum, tapi agar bisa bersandar dan kepala kami aman dari kaki orang. Lha matane, talk show kok mesum iki piye ceritane?

Acara dimulai dengan peforming art dari Klub Teater Khatulistiwa yang sangat bagus. Sampai saya merinding, lho. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan sambutan dari penerbit Noura.

Sebelum masuk acara inti, kami disuguhi video pendek Tribute to Iwan Simatupang dan Tribute to Bondan Winarno. Begitu dangkalnya pengetahuan saya, baru di tahun 2018 saya tahu jika Pak Bondan adalah sastrawan jauh sebelum acara TV maknyusnya.  Malu aku malu pada semur merah.

Acara bincang-bincang sastra “Menjadi Manusia dengan Sastra” pun akhirnya dimulai. Eyang Budi Darma dan Mas Seno memberi banyak pandangan-pandangan yang menarik. Saya kagum dengan keduanya.  Mas Seno memiliki pemikiran yang simple tapi jenius. Sedangkan Eyang Budi Darma selalu bisa memaparkan data-data dengan jeli, hal ini memperlihatkan betapa luas cakrawala ilmu beliau.

Jadi, apa sih maksudnya Menjadi Manusia dengan Sastra?

Pertanyaan ini barangkali memang tidak berguna bagi masa depan kosakata Vicky Prasetyo, tapi ternyata satu pertanyaan ini bisa diperbincangan selama dua jam  di GIK waktu itu. Mengutip dari penulis buku Orang-orang Bloomington, bahwa sastrawan itu unik. Dahulu, jika Colombus tidak pernah ada, benua Amerika pada akhirnya juga akan tetap ditemukan entah oleh siapa. Thomas Alfa Edison jika tidak menjadi penemu listrik, pasti ada orang lain yang mengganti posisinya.

Tapi hal ini tidak berlaku bagi sastrawan.

Jika tidak ada Pram, Jejak Langkah tidak akan pernah ada. Jika tidak ada Seno Gumira Ajidarma, Dunia Sukab tidak akan pernah ada. Jika tidak ada Ika Natassa, quotes Critical Eleven juga tidak akan pernah ada.

Meskipun fiksi, cerita-cerita sastra bukan hanya sebatas angin lalu. Di dalam karya pasti terdapat nilai-nilai yang bisa digunakan untuk memikirkan tentang manusia. Baik, jahat, bahagia, tragedi, kekacauan, ketidakjelasan, pembuangan, kesendirian, hasrat, naluri, dan masih banyak lagi hal-hal yang dekat dengan kita ada di dalam sebuah karya sastra. Dan itu bisa membuat kita lebih mengenal kehidupan sebagai manusia.

Oleh sebab itu, sastra sebenarnya sangat dekat dengan kita meski tak jarang buku-buku sastra dijauhi. Menurut Mas Seno, sejak manusia mulai bisa berbicara, sejak saat itu ia mengenal sastra. Sebab, proses belajar bicara saat masih balita itu sama dengan proses memahami karya sastra.

Via pexels.com
Jadi konyol saja kalau sampai hari ini secara terang-terangan menolak membaca buku-buku sastra. Meski mengaku susah mengerti maksud buku tesebut, sebenarnya sikap itu hanya alibi kemalasan berpikir saja.

Acara bincang-bincang sastra ini semakin lama semakin seru dan lucu. Para peserta yang terlibat berlomba-lomba mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Meski demikian acara tetap harus mencapai puncaknya. Acara ditutup dengan sajian pementasan dari Klub Teater Khatulistiwa. Dan sekali lagi, semua yang ada di dalam ruangan GIK bertepuk tangan meriah menandakan acara bincang-bincang sastra telah selesai.

Eits, sebelum pulang ya tentu saja ada sesi tanda tangan buku dan foto bersama tho ya. Tapi saya dan Tiwi tidak membawa buku-buku mereka. Alhasil, kami cuma mengambil satu buah foto bersama Seno Gumira Ajidarma...yang ngeblur.

Melewati pintu keluar, saya dan Tiwi memutuskan untuk makan malam dahulu. Di GIK? Ya, nggaklah! Gila apa. Kami makan di pinggir jalan, dekat halte Tosari. Inginnya sih, makan bubur ayam. Tapi sudah tidak tersedia. Akhirnya kami makan nasi goreng sepiring berdua. Biar romantis? Biar irit, Cuk.

Malam itu hujan mengguyur deras. Kami berdua berteduh di halte, memandangi air yang jatuh sembari membicarakan berbagai hal. Sebelum malam semakin larut, kami memutuskan untuk pulang. Di atas bumi Jakarta yang basah, Transjakarta membantu kami memberi keteduhan hingga sampai di rumah.

Kami pulang.


Header: pexels.com


3 November 2017



Siang itu sang surya teramat membakar, tampaknya ia marah dengan raut wajahku yang dingin tatkala keluar dari Stasiun Cikini. Udara Jakarta memelukku begitu panas. Hingga kerongkongan Soloku terasa begitu haus. Ya, barangkali begitulah contoh ketika Fandy mengawali tulisannya. Wkwk.

Narasi di atas adalah penggambaran dari kejadian yang saya alami pada 19 Agustus 2017. Masih teringat dalam berangkas memori saya ketika sebotol Soya Bean saya tenggak sembari menunggu sang kekasih, Tiwi, di Stasiun Cikini.

Sambil menunggu Tiwi datang, saya akan ceritakan rencana kami melewati malam minggu itu. 


Jadi, kami akan menonton pertunjukan teater yang diadakan di gedung Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM). Pementasan dengan lakon Umang-Umang ini diselenggarakan oleh Bengkel Sastra yang tak lain dan tak bukan adalah teman-temannya Tiwi di UNJ. Syukurlah kami berdua mendapatkan tiket untuk menontonnya karena sepertinya pertunjukan ini begitu diminati banyak orang.

Eits, ternyata tak butuh waktu lama untuk menunggu kemunculan Tiwi di depan saya. Seperti biasa, ia memamerkan cengar-cengir manisnya dahulu sebelum menenggak minuman kemasan yang saya bawa. Tapi ternyata Soya Bean bukanlah minuman yang pas untuk seleranya.

Ketika mendapati fakta bahwa minuman favoritku ternyata bukan favoritnya, kok rasanya aku ingin beli kaos sarimbit yang tulisannya, “Lucky to find her.”

Selepas berbincang sedikit soal Soya Bean, kami memutuskan untuk segera keluar dari stasiun dan mencari makan siang. Tak perlu menunggu waktu lama bagi mata elang saya untuk menangkap tulisan “Sate Padang” di pinggir jalan. Maka jadilah kami berdua makan sate padang dengan setengah porsi untuk masing-masing.

Berbekal sate padang yang memenuhi perut, kami berdua segera saja berjalan menuju TIM dengan sekuat tenaga. Ngos..ngos..ngos.. Sepasang kekasih yang menganaktirikan kegiatan olahraga ini pada akhirnya sampai di TIM meski harus dilalui dengan sempoyongan. 

Untunglah hari masih sore, sementara pementasan teater dimulai pukul 7 malam. Maka jadilah saya dan Tiwi berbincang-bincang dahulu di sepanjang momentum senja di langit Jakarta.

Menyenangkan.

From anythingjakarta.com
Langit semakin menghitam. Gedung Teater Jakarta semakin ramai. Tiwi mulai memperkenalkan saya pada beberapa teman-temannya. Entah ada berapa teman yang Tiwi kenalkan ke saya. Saya tak sempat menghitungnya karena kepala dan hati saya sibuk merekam momentum bahagia yang tertuju pada wanita yang sorenya makan sate padang bersama saya.

Pintu teater dibuka. Para manusia berduyun-duyun memasuki ruangan teater. Sementara dua alien, Ilham dan Tiwi, lebih memilih untuk...ya masuk ke ruang teater juga, lah. Lapo gur meh tengak-tenguk njobo, Tjuk.

Fyuh, akhirnya pantat terbaik kami mendarat di kursi yang ergonomis untuk keperluan nonton. Posisi kami nonton saat itu ada di tribun bawah, pojok kiri atas. Ya, kalau dalam hierarki perbioskopan, posisi bangku di pojok atas adalah area khusus bagi mereka sepasang kekasih yang ingin bersentuhan secara intensif nan agresif. 

Tapi hal itu tidak berlaku bagi kami. Nonton ya nonton. Ena-ena ya ena-ena. Dua mazhab ini berdiri sendiri dan kurang ajar betul kalau dicampuradukan. Ouyeaah.

Maka jadilah kami berdua menyaksikan pementasan teater Umang-Umang dengan khusyuk meski sesekali penonton masbuk mengganggu pandangan.

From wakarsas.com

“Kemiskinan telah menodongku, kelaparan telah menodongku, dan aku tak rela dicincang oleh kemiskinan dan kelaparan. Maka kutodonglah kekayaan dan makanan!”
Orasi tersebut menggema ke seluruh ruangan yang menandakan dimulainya pertunjukan teater Umang-Umang. Saya akan mencoba sedikit mengulas cerita Umang-Umang yang saya saksikan ini. Ehm, jadi begini.

Kisah ini berangkat dari seorang bos preman bernama Waska yang sudah sangat muak dengan penderitaan yang ia alami bersama kawan-kawan jalanannya. Akhirnya, ia membuat sebuah rencana besar untuk menggulingkan kekuasan. Waska dan komplotannya hendak menenggelamkan kekayaan yang selama ini hanya mampu mereka pantau dari kejauhan. Ya, rencana besar itu adalah perampokan akbar.

Akan tetapi, sebelum mereka menjalankan rencana itu, tiba-tiba saja tubuh Waska berhenti bergerak. Ia tidak mati. Ia diam membatu seperti stabilizer camera beli di Tokopedia.

Apa yang menimpa Waska saat itu membuat komplotan perampok, Umang-umang, kebingungan. Meski terdengar mistis karena tiba-tiba Waska membatu, namun di dunia nyata musibah itu ternyata pernah dialami oleh Ibu Sulami, warga Sragen yang tubuhnya membatu selama 23 tahun.

Umang-umang yang banyak nakal sedikit akal itu lantas merujuk kepada dukun sakti untuk mengobati Waska. Melalui dukun Albert, umang-umang mendapatkan resep yang dipercaya jitu menuntaskan fibrodysplasia ossificans alias penyakit membatu.

Resep yang diberikan sangat merepotkan. Yaitu, ekstrak jantung bayi!

Konon, satu jantung bayi akan memberi keabadian selama satu generasi bagi siapa yang meminumnya. Karena keserakahan, dua umang-umang yang bernama Ranggong dan Borok justru mengambil 12 jantung bayi yang mereka gali dari kuburan.

Keduabelas jantung tersebut dibagi rata untuk tiga orang, yaitu Ranggong, Borok, dan tentu saja Waska. Singkat cerita, Waska benar-benar sembuh dari kekakuan yang menjalari tubuhnya. Lebih dari itu, kini ia dan dua kawannya mendapat tiket untuk hidup abadi selama empat generasi.

Akhirnya, rencana besar dijalankan. Perampokan terjadi di mana-mana. Scene ini salah satu yang saya suka, keriuhan aksi para perampok ini benar-benar terasa gilanya. Mau bagaimana lagi, mereka ngerampok, ketawa-tawa, dan saya yang nonton justru ikut senang. Pret-kam sekali itu.

Saya lanjutkan ceritanya, ya. Eh, sebelumnya, saya mau nengok ke arah Tiwi dulu. Sudah kuduga, matanya berbinar-binar lengkap dengan senyum yang melengkung manis. Dalam hati lagi-lagi saya menggumam, “Lucky me.”

Baiklah sekarang mari kita benar-benar lanjutkan kisah Ragnarok lagi. Ragnarok? Iya, akronim dari Ranggong, Waska, dan Borok. Wkwkw.. Humor zaman kapan nih?

Ehem, begini, ketiga manusia abadi itu akhirnya frustasi, puyeng, depresi. Teman-teman seperpremanan mereka sudah pada meninggal, sementara mereka masih hidup. Uniknya, mereka bertiga hidup masih dalam cengkraman kemiskinan!

Ketika Ragnarok-wkwkw- ini dirundung kepiluan atas nasibnya yang hidup abadi, tiba-tiba mereka melihat orang-orang yang mirip sekali dengan kawan umang-umangnya dulu. Tapi sayangnya itu bukanlah seperti yang mereka kira. 

Setelah dikonfirmasi akun UnclickBait, ternyata orang-orang itu adalah cucu dari umang-umang generasi Waska yang mana tidak ada satupun yang mengenali sosok Ragnarok tersebut.

Waska, Ranggong, dan Borok lagi-lagi berduka cita atas hidup mereka. Berkali-kali mencoba untuk bunuh diri pun ternyata tidak bisa. Mereka cuma merasakan sakitnya saja, tapi tak kunjung mati.

Begitulah kurang lebih, kisah sarat makna yang saya nikmati dalam pementasan teater Umang-Umang. Jujur saja, ini adalah teater terbaik yang pernah saya tonton. Dari segi cerita menarik, semua akting lakonnya bagus, kostum, properti, lighting juga tidak kalah bagusnya. Demikian juga dengan aransemen musik yang digaungkan, porsinya pas dan mampu mendukung suasana tiap adegan yang dibutuhkan dalam pementasan ini.

Dari kisah Waska dan kawan-kawannya ini kita diajak untuk melihat bagaimana kemiskinan adalah problematika yang rumit. Dibukanya banyak lapangan pekerjaan dan merebaknya pakar motivasi tidak serta merta mampu menyelamatkan masyarakat dari kemiskinan. Apalagi sumbangan dan subsidi, lha wong hasil jarahan saja tetap tidak sanggup memperkaya mereka.

Ada celah kecil yang berkaitan antara kemiskinan dan korupsi. Keduanya sama-sama bisa diciptakan dari sistem. Karena sistem, seseorang mau tidak mau bisa jadi korupsi. Karena sistem pula, seseorang terima tidak terima bisa dimiskinkan.

Malam semakin larut. Pementasan apik itu sudah selesai. Saya dan Tiwi harus segera pulang sebelum kehabisan kereta. Sayang sekali kami berdua belum sempat mengabadikan momen itu dalam wujud foto. Cahaya ruang yang remang-remang tidak bagus jika ditangkap dengan fitur kamera pada gawai kami. Huh, jika saja saya memiliki kamera mirrorless terbaik pasti akun instagram saya akan dipenuhi foto-foto pamer untuk merayakan malam itu.

Tapi ya sudahlah. Meski tak berfoto, kami sudah merasa puas dengan malam minggu itu. Lha mau bagaimana lagi? Sebagai pelaku LDR yang kaffah tentu saja ritus malam minggu bareng kekasih adalah titik capai yang mesti dilakoni, tho.

Syukurlah kami berdua bisa mendarat di kasur masing-masing setelah itu. Tiwi di rumahnya, dan saya numpang di kos-kosan teman. Kami sempat bericikiwir dulu melalui text sebelum masing-masing mata terpejam.

Umang-Umang dengan semua yang saya saksikan masih membayangi pikiran. Ah, barangkali memori itu bisa diputar kembali di alam mimpi. Saya memutuskan untuk tidur, mengunci kenangan malam itu beserta rapalan doa agar ada malam-malam menyenangkan lain yang bisa saya lalui bersama Tiwi.


*
Terima kasih atas undangannya buat nonton Umang-Umang, Sayang. Saya akan balas kamu dengan pementasan lain yang tidak kalah serunya.

21 Agustus 2017


Artikel ini bekerjasama dengan UKP-PIP

Garin Nugroho adalah sosok yang sangat menarik perhatian saya ketika membicarakan film Indonesia. Bagaimana tidak? Beliau merupakan sutradara yang nyaris setiap film buatannya mendapat penghormatan dalam ajang festival film Internasional, lho.

Sebut saja Cinta dalam Sepotong Roti (1990) yang memenangkan Festival Film Asia Pasifik untuk kategori sutradara pendatang baru. Atau Bulan Tertusuk Ilalang (1994) yang eksis di Perancis dan Jerman, Daun di Atas Bantal (1997) yang jadi unggulan di Tokyo, Puisi Tak Terkuburkan (1999) di Festival Film Internasional Loacarno, dan masih banyak lagi film-film keren yang pernah beliau bikin.

Saya sendiri merasa beruntung pernah bertemu beliau, berdiskusi, dan menyaksikan salah satu karya lawasnya yang berjudul Bulan Tertusuk Ilalang (1994). Film artistik yang pernah memenangkan ajang festival film di Perancis itu sebelumnya sudah pernah saya buat ulasannya di sini.

Bisa dibilang beliau adalah inspirasi bagi saya. Film buatannya benar-benar artistik dan menawan. Bikin gregetan. Seolah dopamin saya harus berteriak, “Aku juga harus bisa bikin kayak gitu!”

Belum juga selesai keriuhan alam batin saya yang begitu bersemangat mencatat jejak-jejak Garin, tiba-tiba saja lingkaran sosial saya di dunia maya membicarakan sosok pemuda yang berhasil membawa film Indonesia sebagai film pendek terbaik di Cannes, Perancis.

Raphael Wregas Bhanuteja atau yang biasa dipanggil Wregas telah mengharumkan nama bangsa melalui film pendeknya yang berjudul Prenjak (2016). Pria gondrong yang seumuran saya ini sebelumnya memang telah terlibat dalam berbagai film besar seperti Sokola Rimba (2013), Ada Apa dengan Cinta 2 (2016), dan Athirah (2016).

Jika ditelusuri benang merah antara kedua filmmaker berbakat di atas, ternyata Wregas merupakan terusan dari estafet bangku kesutradaraan yang diwariskan oleh Garin melalui Riri Reza, lho.

Jadi ceritanya, Mohammad Rivai Reza atau yang sering dipanggil Riri Reza itu muncul sebagai sutradara lewat LSM bernama SET yang didirikan oleh Garin pada tahun 1987. Setelahnya, Riri Reza memberi bangku astradara untuk Wregas yang masih berstatus magang pada film Sokola Rimba tahun 2013. Jadi intinya, kalau kamu mau jadi the next sutradara kondang, caper-caperlah yang rajin ke Wregas. Siapa tahu bisa diangkut jadi sutradara kondang juga. Hehehehe.

Wah, gimana ya kalau dua sutradara keren dari generasi berbeda ini bertemu? Pasti seru!

Untung punya untung, ternyata pada hari Senin tanggal 21 Agustus 2017 mereka berdua berkesempatan untuk terlibat dalam acara Festival Prestasi Indonesia yang bertema “Pancasila Sumber Inspirasi Maju” oleh UKP-PIP yang diselenggarakan di JCC Jakarta, lho. Dan jika mengintip dari rundown acara, mereka berdua bakal berdialog selama 45 menit mengenai “Kemanusiaan dan Keadilan dalam Film.”

Pembahasan soal film lewat kacamata Pancasila sudah barang tentu sangat menarik disimak. Apalagi tokoh yang dihadirkan adalah orang-orang yang tepat di bidangnya, ya, kan?

Duh, acara yang megusung “Pancasila Sumber Inspirasi Maju” ini memang kerennya kebangetan. Banyak orang-orang insipiratif dari berbagai latar belakang yang dilibatkan. Menurut laporan intelejen yang saya percaya, tercatat ada 72 orang yang diundang untuk mendapat penghormatan sebagai ikon inspiratif! Waw!

Ketujuhduapuluhdua inspirator ini secara garis besar terbagi dalam empat kategori, yaitu saintis dan inovator, olahraga, seni budaya, dan pegiat sosial. Mereka bakal menjalani rangkaian acara mulai dari tanggal 21 hingga 22 Agustus 2017 di Jakarta Convention Center, Jakarta.

Apakah acara ini juga akan dihadiri oleh menteri?

Walah. Gak tanggung-tanggung, bro. Hla wong presiden Jokowi saja hadir, kok. Selain membuka acara Festival Prestasi Indonesia: “Pancasila Sumber Inspirasi Maju”, Bapak Jokowi juga akan mengunjungi anjungan dan menyaksikan langsung bagaimana potensi putra-putri negeri ini berkarya, lho. Mantap apa tidak acaranya UKP-PIP, tuh?

UKP-PIP emang apaan?

Itu, lho, singkatan dari Unit Kerja Presiden – Pembinaan Ideologi Pancasila. Masa gitu saja tidak tahu? Wong saya saja baru tahu. Huh! Dasar.

Meski acara itu tampak awesome bingit, namun tetap saja ada yang kurang. Kurang apa? Ya tentu saja kurang mengundang saya. Lho, lha iya, tho. Saya ini kurang inspiratif dan pancasilais apa lagi?

Untuk membuka tutup botol Vit 600 mili saja saya pasti menyebut nama Tuhan Yang Maha Esa. Belum lagi saat saya mencintai seseorang dengan rasa kemanusiaan yang adil dan beradab. Eh, jangan lupa juga dengan kebiasaan saya memberi hak jalan bagi pengendara motor yang buru-buru sebagai perwujudan sikap persatuan Indonesia. Menjaga kerukunan, tuh.

Duh, kok jadi congkak begini, sih. Padahal saya aslinya baik hati, tidak sombong, gemar menabung, dan bijaksana dalam permusyawaratan perwakilan, lho. Hadeeh. Tapi jika memang hal-hal itu tidak bisa bikin lolos kualifikasi sebagai sosok inspiratif nan pancasilais ya saya bisa apa. Toh pada akhirnya saya tetap harus melengkapi diri saya dengan berkumpul bersama orang-orang saleh dalam ikatan sosial yang adil bagi seluruh rakyat Indonesia, kan?


Source @terapiotak

Intinya, apapun yang kita jalani dalam kegiatan sehari-hari, #PancasilaInspirasiMaju itu tetap harus senantiasa kita jaga. Baik dalam pikiran maupun perbuatan masing-masing individu demi tercapainya kerukunan bersama. Namanya juga dasar negara. Salah satu cita-cita pentingnya sudah pasti adalah kerukunan antar sesama. Nah, kalau ideologi yang membuat kerukunan tecerai-berai itu namanya sudah bukan dasar negara lagi. Tapi dasar ndeso!

Header source: tabloidkabarfilm.com

15 Mei 2016



Malam minggu 14 Mei 2016 saya datang ke acara Pesta Film Solo #6 yang mengusung tema Postalgia. Tema ini berbicara tentang film era 90-an, mengingat era tersebut film Indonesia mengalami kemacetan bahkan bisa dibilang dark age-nya film Indonesia. Acara ini diadakan oleh Kineklub Fisip UNS di Taman Budaya Jawa Tengah, Solo.

Kalau tahun lalu saya datang masih ada gandengan, tahun ini sendirian saja. Paragraf gak penting. Skip.

Saya datang di hari kedua sesi keempat, tak lain tak bukan adalah untuk menyaksikan film Bulan Tertusuk Ilalang (1995) garapan sutradara kondang, Garin Nugroho. Apalagi beliau hadir sebagai pembicara dalam diskusi yang bejudul “Dirikan Fondasi, Bangkitlah Industri”. Wah, ternyata masih ada judul berima seperti ini, kupikir lagi trend-nya judul-judul lugas. Hm, baiklah langsung saja ini yang saya ingat dari diskusi waktu itu:

Setelah menyaksikan film Bulan Tertusuk Ilalang, moderator mempersilahkan para pembicara naik keatas panggung. Dimulai dari Garin Nugroho (sutradara) disusul Arturo Gunapriatna dari Lembaga Sensor Film (LSF) dan terakhir ada Adrian Jonathan dari Cinemapoetica. Diskusipun dimulai dengan agak canggung oleh moderator.

Garin Nugroho menceritakan bagaimana film Bulan Tertusuk Ilalang ini muncul ditengah chaos-nya film Indonesia pada saat itu. Jadi tahun 90-an bioskop Indonesia dipenuhi dengan film-film yang kental sekali dengan seksualitasnya. Banyak disebut sebagai film komedi seks, drama seks dan horor seks. Ditengah intervensi film seks itu, Garin kemudian membuat film yang keluar dari mainstream.

Bulan Tertusuk Ilalang dikabarkan mengalami tekanan dari pemerintahan Orde Baru. Pada masa itu tidak hanya produk film, bahkan kru film pun juga tidak luput dari pantauan para intel Orba. Ancaman demi ancaman yang mengintai Garin tidak menyurutkan niatnya untuk mengerjakan film ini. Beliau berani pasang badan untuk filmnya juga untuk krunya.

Hal menarik ketika ada peserta diskusi bertanya bagaimana antusias masyarakat kala itu (era 90-an) untuk film Bulan Tertusuk Ilalang yang sangat ekspresif, mengingat disebelah saya saja ada yang ketiduran bahkan ada yang walk out. Saat pertanyaan itu dilontarkan, Garin tepok jidat. Lalu dijawab oleh Arturo Gunapriatna yang juga terlibat dalam film itu. Arturo memberi gambaran betapa getirnya selera masyarakat dan situasi politik Indonesia pada masa itu, tapi disatu sisi film tersebut justru sukses di kancah Internasional.

Campur tangan pemerintah Orba terhadap industri perfilman memang tidak main-main. Garin mengaku berulangkali berurusan dengan intel. Mulai dari surat-surat peringatan hingga kiriman misterius yang diduga bom (tapi ternyata paket souvenir). Bahkan ia sempat menunda pengerjaan film karena ketatnya pengawasan. Yang menarik bagi saya adalah kisahnya saat di Papua. Kala itu ia harus membuat film yang melibatkan orang-orang Papua dengan properti bendera Papua Merdeka. Bahkan ada scene dimana bendera Papua Merdeka dikibarkan lengkap dengan nyanyian kemerdekaan Papua. Masalah menghampiri Garin karena diluar syuting ternyata bendera-bendera dan nyanyian itu dibawa ke kota-kota oleh orang Papua sana. Tahu sendiri dampaknya apa.

Getir memang, lalu bagaimana dengan sensor film kala itu? Berbicara tentang sensor film, Arturo Gunapriatna memberikan suaranya. Arturo menyampaikan jika saat itu semua sektor memang diawasi dengan ketat, termasuk film. Sensor film lebih banyak ditekankan pada kepentingan-kepentingan yang dirasa mengancam pemerintah. Misalnya film Warkop berjudul “Kanan Kiri Oke”, pada masa itu tidak boleh “Kiri Kanan Oke”, harus diganti. Tahu sendirilah apa alasannya.

Proses pemotonganpun terbilang sadis. Jika ada scene yang dirasa berbahaya secara sepihak lembaga sensor langsung memotong scene tersebut tanpa kompromi. Kondisinya berbeda dengan sekarang. Era sekarang LSF hanya memberi arahan untuk memotong scene tertentu, yang memotong film ya filmmakernya sendiri. Tapi ada juga yang bandel, Arturo bilang “kita sama-sama taulah siapa, yang filmnya main di festival luar”. Saya menduga yang dimaksud adalah Joko Anwar dengan A Copy of My Mind yang memang lugas sekali memperlihatkan lipitan pantat Tara Basro.

Arturo juga memberi gambaran, pada masa itu bioskop-bioskop Indonesia terbagi dalam tiga kelas. Berbeda dengan sekarang yang sudah meleburkan semuanya dalam hegemoni twenty-one. Saya ingat betul di seberang rumah saya dulu ada bioskop daerah bernama Studio 1.2.3. Uniknya tontonan untuk orang dewasa adalah film Indonesia dengan unsur seksualitas yang tinggi. Sedangkan sajian untuk remaja dan anak justru film-film luar seperti Small Soldier, Jurassic Park hingga Titanic.

Maka saya pikir tak heran jika pemuda sekarang banyak yang nge-judge film Indonesia sebagai film sampah. Efek traumatik tontonan film saat kami masih kecil disebabkan lebih banyak dicekoki film-film luar. Apalagi saat menginjak usia puber kami mengalami de javu dengan munculnya film-film macam Kuntilanak Kesurupan di Malam Pertama sambil Ngesot Ketetesan Darah Perawan Suster Miyabi Goyang Pinggul di Rumah Pasung apapunlah itu judulnya #sukasukamasnayatosaja #kamipasrah . Untuk masalah sensor ini patut diucapkan terimakasih untuk Yulia Hesti dari Ruang Film Semarang atas pertanyaannya yang detil, hingga memicu jawaban mantap.

Obrolan malam itu kian menarik dan Garin pecah sekali menyampaikan materi dengan punchline yang rapi. Yang sangat disayangkan adalah Adrian Jonathan. Meski saya suka tulisan-tulisan di Cinemapoetica tapi saat sesi diskusi Adrian sepertinya agak canggung. Baik dari intonasi atau tempo bicara yang terlalu saykojic banget plus penguasaan mic yang kurang baik membuat perkataannya kurang jelas terdengar. Maaf saya tidak bisa mengutip apa-apa dari bagiannya Adrian. Ngomong-ngomong saat Adrian naik panggung, mbak-mbak belakang saya ada yang nyeletuk “Ya ampun, perutnya njembling gitu”. Dengan sigap saya memperbaiki posisi duduk sambil masukin tangan ke saku jemper, barangkali bisa sedikit membiaskan.

Sebelum saya akhiri, ada sedikit tambahan nih. Garin sempat memberi motivasi dalam pengkaryaannya. Ditengah ancaman dan kecaman yang melingkarinya, beliau bandel sekali mengerjakan film. Beliau ibaratkan seperti pemain sepak bola. Pemain sepak bola akan menyakiti dirinya sendiri jika ia berhenti bermain bola. Ilmuwan akan menyakiti diri jika ia berhenti mencari ilmu. Sutradara pun juga demikian, Garin merasa sakit oleh dirinya sendiri jika berhenti membuat film. Daripada menyakiti diri sendiri yang sudah pasti sakit, beliau gambling saja. Beliau tetap membuat film. Kalau ada serangan dari luar ya terima itu sebagai resiko, kalau tidak ada ya syukur. Jadi buat para sineas ayo terabas saja!

Selebihnya jika ingin memahami perjalanan film Indonesia secara runtut dari masa kolonial hingga sekarang kita bisa membaca buku “Krisis dan Paradoks Film Indonesia” tulisan dari Garin Nugroho dan Dyna Herlina. Buku ini bagus sekali, ringan dibaca dan penting.

Oke, segini saja yang bisa saya tulis. Sebenarnya masih banyak yang dibicarakan pada malam diskusi itu, tapi yang saya share segini saja ya. Cuma modal ingat-ingat nih, puyeng juga pagi-pagi diajak mikir keras. Terimakasih buat kalian yang mampir di blog saya dan maaf kalau ada tersinggung. Mari kita tutup dengan quote dari Garin:

“Sutradara itu BAJINGAN! Kalau anda mau jadi orang baik-baik, mau masuk surga, jangan jadi sutradara.” (Garin Nugroho, 2016)
Source pict: antarariau.com

29 Maret 2015



Hai guys, sudah lama rasanya tidak menyapa dan berbagi cerita di blog. Belakangan ini saya sedang menjalani Uji Kompetensi Dasar 1 yang tentu saja banyak ujian dan tugas-tugas yang menerkam dengan kejinya. Meski demikian, dengan gagahnya saya mampu menyelesaikan semuanya #berlagaksombong #padahalnilaipaspasan.

Skip paragraf diatas, kali ini saya ingin berbagi cerita khususnya pada pengalaman saya yang tak kunjung lupa. Jadi ceritanya di suatu pagi yang cerah saya bertemu dengan penulis ternama, Dee Lestari. Bukan hanya bertemu, saya pun mengikuti pelatihan menulis yang ia mentori. Bagaimana cerita selengkapnya? Yuk, simak ribuan kata dan jutaan rindu di bawah ini:

#jutaanrindu #iyajutaanrindu #ldr? #bodolah

Sembari menikmati senja dengan dentuman lagu-lagu Blake Shelton, saya kehabisan ide untuk melakukan sesuatu yang bermakna. Alhasil saya khusyuk scrolling timeline twitter. Ditengah ramainya lalu lalang tweet yang merajalela di jalanan twitter, langkah jari saya terhenti sejenak. Mata saya terpaku menatap sebuah pictweet dari akun Bentang Pustaka. Inilah yang saya lihat..


Tubuh seorang pria ditemukan terbujur kaku di atas kasur. Dengan mulut menganga, mata melotot nyaris lepas dan kulit mulai memucat menandakan pria tersebut tidak dalam keadaan baik-baik saja. Siapa dia? Itu saya!

Saat itu saya girang sekali, lebih girang dari tante girang yang kegirangan sekalipun. Mengetahui Dee Lestari bakal ‘dolan’ ke Solo tentu saja adrenalin saya meningkat tajam. Ini adalah sebuah kesempatan emas yang haram untuk dilewatkan. Fatwa ini membuat saya mencurahkan segala kemampuan untuk menang kompetisi agar bisa mengikuti kelas menulis yang dimentori penulis novel Supernova tersebut.

But, wait? Solo? Kontes menulis? Don’t make me laugh. Perpustakaan yang bagus saja kota ini tidak punya. Disitu kadang saya merasa sedih, pedih, perih, dan letih. Alhasil saya tidak jadi mencurahkan segala kemampuan dan beralih untuk memenangkan kontes dengan elegan dan tenang. Coba lihat review saya di sini --Review Gelombang Karya Dee Lestari -- biasa saja kan?

Setelah tahu info itu, saya merapikan rencana weekend di pertengahan Maret yang terlampau padat. Pokoknya, khusus hari minggu itu harus benar-benar selo!

Tulisan saya yang mereview novel Supernova: Gelombang pun meluncur dengan lancar di blog ini. Pun demikian dengan email yang saya kirim ke Bentang Pustaka. Jujur saja, karena review saya biasa-biasa saja (salah satu faktornya karena jumlah kata dibatasi sih) alhasil saya mengeluarkan kemampuan menghasut saya lewat email yang dikirimkan ke pihak Bentang selaku panitia. Karena nulis tertalu panjang di review-nya itu tidak boleh, ya saya nulis panjangnya di email mereka. Hahahaha.

Seusai mengirim email dan mendapat balasan dari Bentang jika email sudah diterima dengan sah, kini tinggal tawakal saja.

Entah mengapa menunggu hari pengumuman rasanya lama sekali. Seolah Tuhan scrolling harinya lebih pelan dari biasanya. Meski begitu, Tuhan tidak pernah salah scroll. Hari akan terus maju ke hari berikutnya, tidak akan berhenti bahkan kembali. Jika yang bisa saya lakukan adalah menunggu, maka saya akan menunggu. Entah mengapa paragraf ini saya tulis bergulir begitu saja tanpa sempat menarik napas. Mulai melantur jadinya. Back to topic!

Baiklah. Hari pengumuman tiba! Yeee... Dengan riang gembira saya langsung cek email, cek twitter dan cek website Bentang. Kalian tahu apa yang terjadi saudara-saudara? Tidak ada pengumuman! Tidak ada tanda-tanda ada acara Dee’s Coaching Clinic! Hari itu rasanya realitas dan ilusi tampak kabur.

Dengan cemas, saya merekonstruksi ingatan untuk memastikan jika acara Dee’s Coaching Clinic bukanlah gambaran di alam mimpi semata. Dokumen-dokumen dalam otak tergali hingga tiap detailnya mampu saya ingat kembali. Dengan mantap, saya mengimani jika acara itu benar-benar ada dalam dunia nyata. Mata saya terpejam, dagu mendongak keatas, lukisan senyum tercipta di bibir, dalam hati menggumam... “Kalah...”

Sepertinya pengumuman acara itu tidak dipublikasi besar-besaran di twitter atau di website. Rasanya seperti kontes balap liar profesional De Leon yang hanya bisa diikuti oleh orang-orang pilihan. Dan saya kalah? Di Solo? Mungkin ini yang dirasakan Spiderman saat tidak diajak gabung Avengers. Atau seperti Syaiful Jamil yang tidak diajak gabung One Direction.

Tapi ya sudahlah, hikmahnya lain kali jangan meremehkan lawan dan jangan suka belagu pas ngirim email pendaftaran ke panitia. Hari-hari berikutnya saya jalani kuliah dengan biasa. Hingga saya dan teman-teman alumni Osis SMA merencakan acara #CampOnTheBeach di hari Jumat-Sabtu, satu dan dua hari sebelum acara Dee’s Coaching Clinic diadakan.

Senin hingga rabu menjadi hari yang sangat sibuk bagi saya. Selain kuliah dan tugas-tugasnya, saya juga harus segera menyiapkan acara camping. Saat itu bayang-bayang Dee’s Coaching Clinic sudah benar-benar punah dalam benak saya. Kecewa, tentu saja!

Rabu malam, saya membuka laptop dengan rasa lunglai. Setelah beberapa hari belakangan itu cukup malas online (tentu saja karena saya kalah kontes), kini saya menyambung koneksi internet dan mulai berselancar di dunia penuh tipu daya itu.

Log in Twitter.

Cek mention.


Tubuh seorang pria ditemukan terbujur kaku di atas kasur. Dengan mulut menganga, mata melotot nyaris lepas dan kulit mulai memucat menandakan pria tersebut tidak dalam keadaan baik-baik saja. Siapa dia? Itu saya! #Dejavu

Ya begitulah.. Ternyata pengumumannya telat! Saya sangat gembira kala itu. Sayangnya rasa gembira itu berbuah cemas. Karena artinya saya bakal menjalani hari yang terlampau padat. Di mana jumat dan sabtu saya ada acara camping. Sempet tidur nyenyak? Mustahil. Sabtu malam paling baru sampai rumah dan minggu paginya musti sudah duduk anteng di kursi Sunan Hotel Solo. Belum lagi ada tugas kelompok yang belum dikerjain.

Mata saya terpejam, dagu mendongak keatas, lukisan senyum tercipta di bibir, dalam hati menggumam... “Jancik...”


Setelah pengumuman yang menurut saya terlalu mendadak itu, saya benar-benar merapikan rencana hingga tiap detailnya terjamah agar semua berjalan lancar. Yosh, saya siap untuk kesenangan ini.

Melompati hari jumat dan sabtu yang melelahkan, sampailah saya di hari minggu. Pukul 7 pagi saya sudah mandi lengkap dengan parfum dan pomade. Namun, keadaan berubah ketika ibu saya mengucapkan kata ini --> “Le, motore ngko jam 9 meh dinggo njagong lho”.

Jeggeerrr.. Saat itu saya mendadak panik. Sudah pukul tujuh lebih dan acara dimulai tidak sampai satu jam setelah itu. Mau tidak mau saya harus naik bus. Dengan sigap, buru-buru dan perut kosong saya meluncur ke halte Batik Solo Trans. Paling tidak, saya butuh sekitar setengah jam untuk sampai ke lokasi dengan menaiki bus. Untung saja jalannya tidak terhalang CFD.

Alhasil, saya turun di Rumah Sakit Panti Waluyo dan harus jalan kaki beberapa meter untuk sampai ke tujuan. Jam digital menandakan waktu bergulir pukul 8:03. Kampret, ternyata lama juga busnya. Dalam sekejab dalam otak saya menawarkan dua pilihan :

1. Jalan santai tapi telat banget, atau

2. Lari tapi keringetan (yang bikin saya tidak tampak elegan lagi). Oke saya pilih pilihan ketiga, naik becak dan suruh abang-abang becaknya ngebut.

Sampai juga di Sunan Hotel. Abang becaknya saya bayar lima ribu perak. Tanpa pikir-pikir lagi kaki saya melesat menuju mas-mas satpam. Saya tanya lokasi ballroom 1, ia pun menunjukkan letaknya dengan praktis. Kaki saya melangkah mantap menuju dan memasuki ballroom 1.

But, wait...

Bola mata saya berkeliling melihat sekitar. Banyak orang-orang borjuis pakai jas necis. Ow faaaak! Ini kok malah acara seminar kesehatan?? Apa jangan-jangan MLM?? Setelah tahu jika saya salah tempat dengan lekas saya pergi menghampiri mbak-mbak resepsionis. Kali ini saya tanya Wiryowilldagdo Ballroom 1. Barulah ia memberi tahu jalan yang benar.

Anjir ternyata ballroom 1 tidak cuma 1!!

08.17. Saya berjalan dengan santai, elegan dan kharismatik. Padahal jantung udah deg-degan karena telat. Biasalah ya, saya ini sering ontime kalau ada undangan. Kecuali kalau memang sibuk banget sampai kocar-kacir ngatur jadwal. #soksokan

Sampai juga di lokasi eksekusi. Saya menandatangani daftar hadir sambil pura-pura senyum elegan untuk mbak-mbak panitia dari Bentang. Setelah itu tubuh saya segera memasuki ruangan. Olalaa.. Ternyata acara belum dimulai. Yasudahlah, paling tidak saya bisa rehat-rehat dulu sambil ngadem.

Di dalam ruangan itu ada teman saya dari komunitas Standup Comedy Solo. Saya agak keki karena sudah lama tidak nongol di komunitas. Tapi sudahlah, saya duduk disebelahnya. Kami berbincang seputar ‘piye kabare?’ hingga menggosipkan sepak terjang Dee Lestari dan karya-karyanya. Tak luput dari pengamatan saya, di depan juga ada peserta lain yang tengah seru membicarakan kreator Perahu Kertas itu. Bahkan seisi ruangan penuh dengan gema suara yang senada. Semua membicarakan Dee.

09.01. Acara resmi dibuka oleh MC. Dengan wajah riang dan penuh semangat MC itu memanggil nama Dee Lestari yang kemudian disambut oleh tepuk tangan meriah dari tangan para peserta. Semua kepala menoleh ke belakang sambil senyum-senyum bahagia.

Detik demi detik berlalu, tepuk tangan yang meriah itu perlahan meredam. Senyum bahagia berubah menjadi senyuman kaku yang aneh. Ya, ternyata MC-nya salah timing! Mbak Dee belum sampai di lokasi. Mungkin ia masih berjalan menyusuri tangga atau jangan-jangan dia salah masuk ke acara seminar kesehatan atau apalah itu.

Segera saja MC melepas kekakuan momen itu dengan sedikit basa basi yang dipaksakan. Untung saja dalam jangka waktu yang singkat mbak Dee sudah menunjukkan batang hidungnya. Yeeeeee.. Para peserta kembali bertepuk tangan. Dengan anggun Dee Lestari melangkah mantap memasuki ruangan dan melambaikan tangan menyapa kami dengan ramahnya.

Finally, acara dimulai!

Konsep acara Dee’s Coaching Clinic ini 100% merupakan tanya-jawab. Kami tidak diminta untuk menulis saat itu juga. Tapi kami diberi banyak waktu untuk mengajukan pertanyaan. Mbak Dee tidak menggunakan tampilan digital untuk presentasi. Ia memaksimalkan media flip chart dan membuat suasana ruangan seperti media belajar-mengajar klasik. Ia juga mengusulkan agar kelas dibuat lesehan saja, tapi hal itu tidak bisa direalisasikan karena ruangan sudah ditata sedemikian rupa oleh pihak hotel dengan konsep meja kursi.


Sebelum masuk ke sesi pertanyaan, sang novelis itu meminta peserta untuk memperkenalkan diri satu persatu dan mengutarakan motivasi mengikuti acara ini. Suara demi suara keluar dari mulut yang berbeda. Kami memperkenalkan diri, ada yang mantap ada yang grogi. Karena sesi itulah saya tahu jika peserta dari kota Solo sangat sedikit. Ada yang datang dari Jogja, Magelang, Semarang hingga Bogor. Saya jadi minoritas di kota kelahiran sendiri.

Perih. Dulu pas Bernard Batubara datang ke Solo juga cenderung sepi. Kebanyakan yang hadir perempuan-perempuan yang membuat suasana MaG seperti pengajian jalin ukhuwah antar muslimah. Sepertinya orang-orang di kota ini cuma kenal satu penulis saja, tak lain dan tak bukan adalah Raditya Dika.

Oiya, sesi perkenalan tadi juga membuat saya merasa lebih minoritas lagi. Para peserta itu benar-benar fans beratnya Dee Lestari. Semuanya sangat mengelu-elukan penulis Filosofi Kopi itu. Tak jarang jika para peserta Dee’s Coaching Clinic datang dengan tujuan untuk bertemu, berfoto dan mendapat tandatangan dari sang idola. Sedangkan saya datang untuk mengetahui rahasia menulisnya. Saya datang bukan demi sesosok Dee Lestari. Saya datang demi mengetahui apa yang ia ketahui. Dan ingin menekuni apa yang ia tekuni. Kalaupun acara pelatihan menulis dimentori oleh Aditya Mulya, Winna Effendi bahkan John Green, saya juga akan datang dengan niatan untuk belajar. Kecuali kalau pelatihan menulisnya menghadirkan Raditya Dika, 101% saya tidak akan datang. Sebab acara tidak akan kondusif, sekali Radit bilang ‘cieee’ semua peserta sudah histeris.

Baiklah sesi perkenalan sudah lewat. Tanpa basa-basi MC membuka ruang bagi peserta untuk mengajukan pertanyaan. Maka muncullah beberapa penanya. Dengan cekatan mbak Dee menjawab pertanyaan itu, sangat lugas dan ringkas itulah yang saya sukai. Seusai dengan sesi pertama, acara dihentikan sejenak untuk coffee break.

((ngopi dulu...))

Selesai menghirup udara segar dan mendapati secangkir kopi lengkap dengan cemilannya, acara kembali dilanjutkan untuk sesi kedua. Dalam sesi ini hampir semua peserta mengajukan pertanyaan. Saya termasuk orang yang tidak bertanya. Why? Karena saya tahu pertanyaan saya bakal terjawab dengan sendirinya. Beberapa peserta menanyakan apa yang ingin saya tanyakan, ditambah mbak Dee suka ‘sisan’ menjelaskan apa yang menyinggung dalam topik pertanyaan tertentu, nah yang ia singgung itu adalah pertanyaanku. See.. Terjawab dengan sendirinya. Jadi saya tidak perlu mengeluarkan suara, semesta selalu mendukung pria elegan. #soksokan #belagu

Setelah acara tanya-jawab selesai bagi saya acara sudah selesai. Tapi bagi yang lain, acara baru saja dimulai. Sesi tandatangan dan berfoto ria adalah sesi yang paling mereka tunggu-tunggu. Dalam hitungan detik, antrian memanjang seketika.

Dulu ketika mas Bernard Batubara ke Solo mungkin saya satu-satunya peserta yang langsung pulang tanpa minta tandatangan dan foto bareng. Mengapa? Bagi saya foto bareng hanya akan membuat jarak semakin jauh. Saya ingin foto bareng sebagai sesama penulis, bukan sebagai idola dan penggemar.

Namun dalam acara Dee’s Coaching Clinic ini saya sebagai minoritas tidak ingin menambah persepsi keminoritasan saya. Saya tidak ingin terlihat aneh dan malas menjawab pertanyaan “kok koe ra melu foto?”. Alhasil, saya ikutan ngantri sambil bawa buku Gelombang. Eee ternyata peserta lain bawa semua bukunya! Sedangkan di dalam tas saya hanya berisi buku Gelombang dan laptop (karena saya pikir peserta bakal diminta untuk menulis). Sekali lagi, saya merasa lebih minoritas.


Ternyata foto bareng ada hikmahnya. Pas saya upload di medsos, banyak juga yang ngiri. Namun, ada pula yang tanya “cewek itu siapa mas? Trus itu yang kamu pegang apa mas?”. Wadefaak! Ah pertanyaan tadi sedikit saya ubah, sebab sebenarnya yang tanya itu memanggil saya bukan ‘mas’ tapi ‘mz’.

Oke, cukup sampai sini saja ceritanya. Yang jelas hari itu saya bahagia. Jutaan keping inspirasi menghujam ke tubuh saya dengan deras. Saya sangat bersemangat untuk menulis. Lalu apakah setelah itu saya langsung menulis? Tidak saudara-saudara. Saya ujian dulu.. Hahahaha.

Terimakasih untuk teman-teman yang sudah bersedia membaca tulisan saya. Maaf jika ada yang tidak enak dibaca. Sampai jumpa dan semoga sehat selalu..

Fotoan dari kameranya Kobar