Tampilkan postingan dengan label Acara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Acara. Tampilkan semua postingan

12 Juli 2018


Akhir pekan yang berseri di hari ke 7 pada bulan Juli 2018 terasa berbeda dari akhir pekan saya biasanya. Pasalnya, pada hari tersebut saya mendapat kesempatan untuk berkunjung ke markas MNC Vision yang berada di wilayah Kedoya, Jakarta Barat. Meski jarak dari kosan (Pulogadung, Jakarta Timur) ke Kedoya cukup jauh, namun saya berhasil menuntaskannya tanpa terlambat. Sudah pengalaman dengan jalan ke sana soalnya, karena dulu pernah 14 hari bolak-balik Pulogadung-Kedoya dengan gagahnya mengantar kekasih yang lagi magang. Weerr..

Mengapa ke MNC?

Ya mengapa tidak? MNC Vision bukan yang lain, dong.

Bagi saya, ini adalah pegalaman pertama main ke MNC. Dan sebagai pengalaman pertama, saya sangat mengingat bagaimana snack yang disuguhkan begitu lezat. Wkwkw. Ya mau bagaimana lagi, sebagai anak kos tentu saya harus merayakan setiap suap sarapan dong yang mana biasanya sarapan gorengan celup sambel doang. Nah, sebenarnya inilah alasan kok saya pilih tepat datang tepat waktu. Ya biar sempet sarapan sebelum acara mulai. Wkwkwk.
Baca Aja: Cerdasnya Manajemen Uang Ala Anak Kos
Usai menikmati coffee break, saya dan teman-teman bloger langsung diajak masuk ke ruangan yang sudah dipersiapkan untuk acara Blogger Gathering with MNC Vision itu. Suasana begitu akrab, seolah para bloger yang datang dan orang-orang MNC bersenyawa dalam satu spektrum. Apasih! Wkwkw. Sebenarnya kayak acara bloger pada umumnya,sih. Suasana pertemuan cukup hening di dunia nyata namun ramai di sosial media, apalagi di grup WA. Wooa.. Chaos. Wkwkw. True story banget nggak, sih?

No Phone, No Done.
Setelah ramah tamah dan sambutan demi sambutan, kami diajak untuk berkeliling dalam pusaran kantor MNC. Acara tur adalah salah satu yang paling saya tunggu, selain biar banyak tahu jeroannya MNC, saya juga bisa terbebas dari potensi membeku di ruang pertemuan yang dingin banget. Sebenarnya hampir semua ruangan hawanya dingin, sih. Ya mau bagaimana lagi, hawa dingin itu dimaksudkan untuk perangkat elektronik soalnya, bukan buat manusia. Lagipula manusia masih bisa kerokan kalau masuk angin gara-gara kedinginan. Lha kalau komputer?

Meski dingin menjalar di seluruh penjuru ruang, tapi setidaknya dengan berjalan kaki saya bisa menangkal peluang masuk angin. Ruangan pertama yang saya kunjungi bernama WIC, kepanjangannya Waktu Indonesia Cimur. Bukan!! Maksud saya Work in Center. WIC terletak di lantai dasar dan menjadi garda depan yang siap melayani customer. Jujur saja saya suka dengan format kantor kecil ini. Selain nyaman dan (tentu saja) dingin, properti berupa poster film dan banner berwujud superhero Marvel memberi sentuhan artistik yang anak film banget. Pengen bawa satu kok malah digetok sama Thor. Ampoon..!
Aciatciatciaaat....
Setelah menjejali WIC, saya kemudian digiring ke perkebunan parabola. Di atas hamparan rumput hijau, berjejer antena-antena besar yang kalau dipakai buat masak nasi goreng bisa mengenyangkan seluruh warga RT02/RW06. Lewat pencerahan dari tour ini saya jadi tahu kalau frekuensi MNC Vision itu tahan cuaca buruk. Jadi kalau hujan badai menerjang, kanal-kanal yang ada di MNC Vision akan senantiasa terjaga. Mantap tidak, tuh?

Nah, di sini ada beberapa pos yang digunakan untuk memantau dan mengelola hilir mudiknya frekuensi penyiaran. Sayangnya area ini hanya boleh dimasuki oleh petugas saja. Jadi saya harus puas mondar-mandir di area perkebunan sembari mencari objek foto yang menarik, seperti ini:

Ini kertas press release digulung buat bikin efek teropong low budget. #TeknologiAnakKos
Usai menggembala antena parabola, saya melenggang masuk lagi ke dalam gedung MNC. Rombongan bloger diajak untuk mengenal dapur produksi, seperti Studio Mini yang dipakai untuk siaran berita maupun Grand Studio yang kapasitasnya lebih besar. Kami juga dituntun untuk melihat bagian customer service di mana pada akhir pekan ternyata masih aktif dan cukup ramai para pekerja melayani keluhan-keluhan dari pelanggan MNC Vision. Wah, kalau ada jaminan pelayanan penuh 24 jam begini, sih, hati jadi lebih tenang. Bisa konsultasi sewaktu-waktu dong, ya.

Tur singkat pun selesai, acara dilanjutkan dengan mencoba kedahsyatan Dolby Audio. Sudah tahu Dolby, kan? Pertemuanku dengan Dolby berawal dari kebiasaan nonton film di bioskop. Sebelum film diputar, biasanya muncul iklannya Dolby, tuh. Nah, kupikir ya Dolby itu cuma support untuk pemutaran film di bioskop saja. Ternyata bukan begitu.

Teknologi Dolby bisa kita nikmati di ruang keluarga juga. Ya tentu saja dengan membeli sound system yang compatible dengan fitur Dolby. Menariknya, Dolby sendiri sudah bisa kita rasakan di MNC Vision pada kanal HBO, FOX, dan RCTI sebagai stasiun televisi Indonesia pertama yang menggunakan Dolby. Nah, pada waktu itu saya merasakan betul bagaimana perbedaan suara biasa dengan Dolby. Apalagi saat dipertontonkan salah satu scene Mad Max Fury Road, gelegar suaranya benar-benar bikin puas.

Rasa ingin memiliki pun muncul seketika. Ya. Memiliki perangkat Dolby satu set lengkap! Wkwkw. Jadi pada waktu itu, ada beberapa speaker yang di letakkan di berbagai sudut, ternyata tiap bagiannya punya peran masing-masing. Ada yang suaranya ngebass banget, ada yang futuristik, ada yang lebih tajam, dan sebagainya. Hebatnya, semua peran itu ketika disatukan berhasil membuat kompleksitas suara yang sangat mengangumkan. Eh, tapi memang Dolby itu jago main peran kok. Adipati Dolby. Wkwkwkwk.

Sepuas dengan Dolby experience, acara selanjutnya diisi dengan workshop sound editing oleh Khikmawan Santosa atau yang lebih akrab disapa Mas Kiki. Karya Mas Kiki yang menurut saya paling kentara adalah saat dia mengolah sound effect di film Pengabdi Setan. Terbukti mulai dari lagu , suara lonceng, hingga gertakan jump scare terus menghantui saya selama seminggu sejak nonton film itu.
Baca Aja: Review Film Pengabdi Setan (2017)
Tak ada kata lain selain ‘puas’ yang bisa saya ucapkan untuk menggambarkan acara Blogger Gathering with MNC Vision waktu itu. Apalagi dapat cinderamata berupa earphone Black Phanter yang keren banget. Karena selain bisa buat dengerin suara elektronik, earphone ini juga bisa dililitin ke tangan jadi kayak gelangnya T’Challa. Ori pula. Gokil!

Suasana di mini studio
Segitu saja, sih, #CeritaDiMNCVision saya kali ini. Harapannya sih bisa segera berlangganan MNC Vision di rumah, lalu pasang satu set lengkap perangkat Dolby. Doakan, yaa. Disumbangin juga boleh. Wkwkwk. Terima kasih sudah baca sampai akhir. Cheers!

16 Mei 2018


Saat perut lapar di malam yang dingin, ingin sekali rasanya melahap sesuatu yang lezat nan menyegarkan. Aha, makan bakso saja! Eh, tapi malas juga sih kalau malam-malam begini keluar rumah. Apalagi saat hujan melanda dengan derasnya. Pun nanti di warung bakso kalau harus antri dulu. Yaudah tidak jadi, ah. Makan mie instan saja.

Eits! Itu dulu..

Lega sekali rasanya ketika saya bisa makan bakso yang lezat tanpa harus beranjak dari rumah. Semudah bikin mie instan, bakso pun juga bisa kita buat melalui dapur masing-masing. Dengan begitu, kegusaran saat tiada makanan di rumah bisa teratasi dengan praktis, nikmat, dan senantiasa sehat.

Saya sedang membicarakan sebuah produk makanan bernama Bakso Beef Bonanza dari PT Great Giant Livestock (GGL). Beberapa hari belakangan ini saya dan Tiwi meramu beberapa hidangan dengan material utamanya berupa bakso. Saat perlu makan besar, kami membuat bakso kuah. Sedangkan kalau ingin camilan saja, kami cukup membuat bakso goreng.

Jadi, apa itu Bakso Beef Bonanza?

Bakso Beef Bonanza adalah bakso kemasan siap saji yang bisa segera dimasak meski kamu sedang gemetaran menanti kepastian cinta dari doi. Bakso ini mengandung 84% daging sapi asli (tidak dicampur dengan daging lain), tanpa bahan pengawet, diproses secara halal dan aman bagi tubuh. Maka wajar saya jika Bakso Beef Bonanza mengklaim dirinya sebagai bakso yang berasa banget dagingnya.

Agar lebih jelas, mari kita bahas satu-satu kelebihan Bakso Beef Bonanza.

1. 84% Daging


Dahulu, ketika masa Idul Adha, keluaga saya mendapat lumayan banyak jatah daging kurban. Berbekal daging tersebut, ibu saya berinisiasi membuat bakso yang 100% daging. Hal ini tentu saja mustahil karena untuk membuat bakso yang berbentuk bulat perlu tepung juga. Alhasil, presentase daging yang diolah ibu saya waktu itu mungkin sekitar 90%-95%.

Jujur saja, dengan takaran yang tidak terukur itu rasa bakso yang dihasilkan ternyata tidak menyenangkan. Rasa ‘sepet’ melumuri lidah dan tenggorokan saya saat memakannya. Ooh, ternyata membuat bakso itu bukan soal seberapa penuh dagingnya, namun seberapa pas takarannya.

Melalui Bakso Beef Bonanza saya jadi tahu kalau 84% adalah porsi yang pas untuk membuat sebutir bakso. 16% sisanya tentu saja tepung dan bumbu. Terbukti dengan bakso kuah dan bakso goreng yang saya bikin itu sangat terasa dagingnya. Dan tidak perlu repot menyiapkan bumbu lagi sebab di butiran Bakso Beef Bonanza sudah terasa sekali bumbunya.

2. Tanpa Bahan Pengawet


Siapa saja pasti mendambakan hubungan asmara yang awet. Tapi tidak dengan bakso. Bakso yang mengandung bahan pengawet sangat berbahaya bagi tubuh. Tentu saja kita tidak ingin memakan sesuatu yang memiliki risiko penyakit, kan? Kandungan formalin memang menjadi ancaman besar bagi para pecinta bakso. Oleh sebab itu, Bakso Beef Bonanza berkomitmen untuk tidak menggunakan formalin (pengawet), borax (pengenyal), maupun bahan-bahan similikithi lainnya.

Satu fakta menarik yang saya dapat dari Emilia E. Achmadi selaku ahli gizi menjelaskan bahwa daging segar yang dijual di pasar sebenarnya bukanlah daging yang baik bagi tubuh. Daging dan buah itu berbeda perlakuannya. Buah ketika dikupas kulitnya sebaiknya segera dimakan. Tapi daging tidak begitu. Daging yang baru saja dipotong masih memiliki banyak bakteri yang berpotensi membawa penyakit. Oleh karenanya, menyimpan daging di dalam pendingin merupakan cara terbaik untuk mendapatkan daging sehat.


Bakso Beef Bonanza mampu bertahan beberapa bulan tanpa pengawet selama kita menyimpannya di lemari pendingin. Jika tidak memiliki lemari pendingin, kita bisa menyimpan di dalam termos berisi es batu. Jika masih kesulitan, kita bisa juga menitipkan pada tetangga yang punya lemari es atau menitipkannya ke sikap pembimbing akademikmu yang belum gajian. Dingin juga soalnya.

3. Halal


Dalam syariat islam memang memiliki tata cara mengolah binatang menjadi daging konsumsi. Sedangkan kita tidak tahu bagaimana daging yang beredar itu diolah, apakah dilakukan dengan cara halal atau justru dengan brutal. Meski begitu, Bakso Beef Bonanza menjamin kehalalan pada produknya.

Ketika launching produk bakso kemasan ini, Dayu Ariasintawati selaku Managing Director PT Great Giant Livestock secara lugas memaparkan bahwa pengolahan daging sapi dilakukan di peternakan sendiri sehingga pengawasan kehalalan dapat terjaga. Baginya, sangat penting bagi masyarakat untuk memperoleh pilihan makanan yang halal sebagai hak mereka.

4. Aman


Borax, formalin, serta daging campuran seperti babi dan tikus pernah menghantui dunia perbaksoan Indonesia. Masyarakat kita takut dengan risiko penyakit dalam butiran bakso yang mereka lahap. Meski bakso jenis similikithi itu sampai hari ini masih saja beredar, namun Bakso Beef Bonanza benar-benar berkomitmen untuk menyediakan bakso yang aman bagi tubuh. Bisa dibilang Bakso Beef Bonanza ini masa rennainsance-nya kuliner bakso Nusantara.

Dayu Ariasintawati kembali menekankan bahwa ia hanya akan terlibat pembuatan produk makanan yang nantinya juga akan ia konsumsi bersama keluarganya. Jadi jika PT Great Giant Livestock memproduksi jenis makanan yang berisiko penyakit, hal itu akan berpengaruh buruk juga nantinya bagi keluarga mereka sendiri. Memang banyak bisnis yang kejam dan tidak berperikemanusiaan, tapi bukan berarti tak ada satupun perusahaan yang memiliki hati nurani untuk kebaikan sesama.


Nah, sudah cukup sepertinya, ya. Tidak perlu panjang lebar lagi. Bagi yang menginginkan bagaimana bakso ini menyelamatkan kelaparanmu, kedinginanmu, dan kepatahhatianmu, langsung saja beli segera.

Satu kantong Bakso Beef Bonanza ukuran 500 gram (sekitar 30 butir) dijual dengan harga Rp. 85.000. Produk ini bisa didapatkan di sejumah ritel modern yang berada di Jakarta, Tangerang, Bekasi, dan Bandung. Jika kamu bersemayam di kota-kota tersebut, segera saja dapatkan baksonya di Superindo, Ranch Market, Farmers Market, Papaya, Lulu Market, dan Market City.

Mumpung sudah memasuki bulan Ramadhan, Bakso Beef Bonanza bisa jadi persediaan yang tepat untuk santap sahur, berbuka, maupun mokah. Eits, jangan berpikir negatif dulu. Siapa tahu kan pas siang-siang berpuasa begitu tahu-tahu dilanda sakit. Mau makan tapi sungkan jajan di warung, mau masak tapi badan lemes, mau delivery order tapi sudah tidak sabar lagi. Yaudah langsung saja masak air panas, masukkan bumbu praktis (beli sendiri, di dalam kemasan Bonanza tidak ada bumbu lagi), masukkan Bakso Beef Bonanza. Nah, jadi deh bakso praktis yang senantiasa lezat, aman, dan halal.

Siapa sih yang nggak mau?

Header image: pexels.com

18 April 2018


Saya yakin, kita telah memahami bahwa olahraga adalah cikal bakal kesehatan bagi tubuh kita. Berbagai macam penyakit mulai dari penyakit berat seperti jantung, tekanan darah tinggi, stroke, diabetes, kolestrol, dan lain sebagainya dapat dicegah dengan meruntinkan kegiatan olahraga. Bahkan penyakit ringan seperti flu sekalipun juga mampu diantisipasi jika badan senantiasa dalam keadaan bugar lewat olahraga.

Eits, tapi jangan salah. Olahraga tidak hanya bermanfaat bagi badan saja, lho. Ada manfaat-manfaat lain yang bisa kita dapat dari berolahraga. Yaitu:

Mengontrol Mood

Olahraga dapat meningkatkan energy dan serotonin di dalam otak. Nah, serotonin itu sendiri merupakan hormon yang memiliki fungsi untuk mengontrol mood atau suasana hati. Dengan demikian, serotonin yang meningkat akan membuat emosi kita stabil. Hal ini tentu saja berguna bagi aktivitas kita sehari-hari terutama berkaitan dengan produktivitas kerja.

Meredakan Stres

Dewasa ini ada banyak cara untuk melawan stres. Namun, dari sekian banyak cara tersebut tak sedikit yang memiliki dampak negatif, seperti makan berlebihan, minum-minuman keras, dugem, atau bahkan shopping. Cara-cara tersebut memang bisa jadi pelarian dari stres. Tapi jika ada cara yang mampu memberi dampak lebih positif, ya kenapa tidak? Olahraga adalah cara yang tepat untuk meredakan stres karena bisa memberi efek relaksasi pada tubuh dan pikiran.

Membangun Relasi

Tidak hanya soal suasana hati dan pikiran, olahraga ternyata juga memberi dampak bagus pada jiwa sosial kita. Menjalani aktvitas olahraga bersama orang lain dapat mendekatkan hubungan personal dengan orang tersebut. Itulah kenapa di banyak ruang terbuka pada minggu pagi, sering kita menjumpai satu set keluarga yang berolahraga bersama. Hal ini memang diyakini mampu membangun hubungan keluarga yang lebih harmonis. Lebih dari itu, saat ini sudah banyak komunitas-komunitas olahraga, otomatis lingkaran pertemanan akan lebih luas, bukan?

Selama saya tinggal lima bulan ini di Jakarta, saya memang tidak rutin berolahraga. Namun, saya menemukan wahana yang asyik untuk berolahraga. Jadi, pada pertengahan Maret dan April tahun ini, saya bersama Tiwi rela bangun pagi lantas melesat hebat ke Ancol. Tujuan kami adalah sarana olahraga di Allianz Ecopark.


Allianz Ecopark pada mulanya merupakan lapangan golf, tapi baru-baru ini area tersebut dialihfungsikan sebagai taman olahraga yang begitu luas. Tidak hanya berguna untuk olahraga saja, sih. Ada juga wahana bermain dan belajar bagi anak yang tentu saja menyenangkan untuk berlibur bersama keluarga di sana.

Karena saya dan Tiwi belum punya anak, sudah tentu kami tidak mengeksplor lebih jauh perihal wahana-wahana tersebut. Kami berdua lebih tertarik dengan event yang saat ini sedang hot and hits. Apakah itu?

Allianz Sweat Challenge

Allianz Sweat Challenge adalah program olahraga yang diselenggarakan oleh Allianz Life Indonesia guna menumbuhkan kebiasaan gaya hidup sehat kepada masyarakat. Acara ini dilaksanakan berangkaian, mulai dari November 2017 hingga Desember 2018. Saya dan Tiwi awalnya mengikuti sesi Workshop Beginner Runner pada 10 Maret. Setelah itu ikut lagi pada 14 April dalam sesi ABC Drills. Kedua sesi tersebut dipandu oleh Opa Paulus yang merupakan atlet profesional.

Dalam salah satu kesempatan yang berbahagia, kami sedikit berbincang dengan Head of Market Management Allianz Life Indonesia, yaitu Karin Zulkanaen. Mbak Karin yang sedang rehat selepas berlari ke sana ke mari memaparkan program Allianz Sweat Challenge dengan penuh antusias. Ia menyebutkan jika sepanjang acara ini berlangsung, setidaknya telah tercatat ada 1.200 peserta yang telah mendaftar. Tingginya minat masyarakat akan kegiatan ini ternyata tercium ke berbagai wilayah di Indonesia, sehingga ada event serupa yang juga diselenggarakan ke beberapa kota.

Dari Mbak Karin itu pula saya mendapat informasi mengenai sesi BIG BANG by Allianz World Run yang konsepnya asyik sekali. Jadi, sesi ini akan dimulai pada 28 April 2018 dan berakhir pada akhir tahun. Tidak hanya lari, acara ini dikemas juga dalam bentuk charity. Cara kerjanya begini:

- Mulai tanggal 28 April 2018 kita bebas untuk berlari ke mana saja, kapan saja, dan di mana saja.

- Gunakan aplikasi endomondo untuk mencatat prestasi lari kita. Aplikasi ini secara otomatis bisa merekam seberapa jauh jarak yang kita tempuh.

- Semakin banyak kita berlari, semakin jauh total jarak yang kita tempuh, semakin banyak pula kita menyumbang untuk charity.

- Melalui aplikasi endomondo kita bisa melihat sejauh mana prestasi yang didaptkan oleh pelari-pelari lain. Anggap saja aplikasi ini sebagai sosmednya para runner, lah.

- Bagi yang memiliki prestasi dalam tantangan ini, akan mendapatkan kesempatan pergi ke Bali secara gratis (transportasi dan tempat tinggal), serta diikutsertakan dalam event bergengsi yaitu lari maraton.


Awalnya, saya merasa pesimis mengingat saya bukanlah pelari yang andal. Namun Mbak Karin menegaskan jika tantangan ini berlaku untuk semua kalangan dan pemenangnya bisa siapa saja. Meski bakal banyak atlet lari yang mengikuti Big Bang “World Run” ini, namun pemenang akan ditentukan sesuai dengan kategori. Misal kategori pelari terjauh, pelari paling konsisten, pelari paling rutin, dan mungkin ada kategori pelari termuda paling aktif maupun lainnya.

Tidak ada salahnya kita bersama-sama memulai gaya hidup sehat lewat olahraga dengan memanfaatkan acara ini. Jika masih ingin mengetahui lebih banyak soal Big Bang “World Run” maupun keseluruhan agenda Allianze Sweat Challenge, kita bisa langsung pantai segala informasinya di sini: Informasi Lengkap Allianz Sweat Challenge. 

Jika ingin mencoba langsung bagaimana keseruan Allianz Sweat Challange langsung saja datang ke Allianz Ecopark Ancol di hari-hari yang sudah di tentukan. Pastikan datang pukul 7 pagi agar tidak ketinggalan acaranya dari awal. Oiya, saya merasa beruntung ketika kerongkongan dilanda haus, ternyata di sana telah disediakan teh botol Sosro tawar secara gratis. Seger rasanya.

Lebih dari itu, saya dan Tiwi juga mendapatkan minuman kopi berenergi bernama Ammo. Kopi botol ini lain daripada kopi botol yang telah ada sebelumnya karena kandungan kopinya paling dominan sehingga kopi ini rendah asam. Kopi Ammo ini dikenal dengan kekuatannya mengembalikan tenaga dan membuat mata segar kembali. Wow! Percayalah, kamu harus coba sensasinya!

Bagaimana? Tidak ada salahnya kan terlibat dalam Allianz Sweat Challenge ini? Meski acara ini diselenggarakan oleh perusahaan asuransi kesehatan, tapi kita tidak perlu waswas karena kita tidak akan diprospek atau apapun itu. Bahkan saya tidak melihat ada iklan atau promosi asuransi di sini. Kalau kata Mbak Karin, “Banyak jasa asuransi yang cuma hadir saat kita sedang sakit. Kami sih lebih memilih untuk mengupayakan bagaimana caranya agar kita jangan sampai sakit.”

Yuk, silakan coba saja mengikuti acara ini. Bisa sendirian, bersama teman, atau mengajak keluarga. Event ini tidak ada kuota-nya, kok. Semakin banyak yang terlibat justru makin seru nantinya. Nah, sudah saatnya kita berolahraga dengan menyenangkan.  See you on field!

12 April 2018


Pada 2 Oktober 2009 akhirnya batik diakui oleh UNESCO sebagai warisan dunia. Uniknya, kategori penghargaan itu bernama Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity atau sebut saja Representasi Budaya Nonbenda Warisan Manusia. Coba perhatikan, kita mengenal batik sebagai produk benda berupa kain, bukan? Tapi UNESCO malah mengkategorikannya sebagai nonbendawi. Kok bisa?

Usut punya usut, yang diakui UNESCO atas batik adalah budaya, tradisi, catatan sejarah, seni, bahkan nilai-nilai spritualnya. Pada zaman dulu, khususnya di tanah Jawa, batik selalu mengisi ruang-ruang kehidupan manusia. Bahkan ada yang menyatakan bahwa manusia lahir dengan batik, hidup dengan batik, dan mati dengan batik. Ya. Begitu lahir, sang bayi pasti digedong dengan batik. Lalu menjalani proses kehidupan dengan batik pula, seperti saat sepasaran, selapanan, ruwatan, khitanan, hajatan, dan seterusnya sampai manusia diantar ke tanah pekuburan pun dengan selembar kain batik.

Selain itu, proses pembatikannya juga memiliki makna, lho. Mulai dari nyanting (membuat rintang warna dengan lilin) sampai nglorod (melepas lilin di kain) merupakan simbol penyucian diri. Bahkan pada zaman Pakubuwono III, pembatikan dilakukan dengan melibatkan ritual puasa dan semedi (bertapa). Kain mori pun harus direndam 40 hari siang dan malam agar mendapatkan 'aura'.

Tidak hanya itu, setiap motif pada kain batik selalu memiliki fungsi dan arti. Bisa jadi sebuah cerita, petuah, simbol, dan doa. Sampai-sampai dosen saya dulu, Prof. Nanang Rizali, menyatakan bahwa bukan suatu kebetulan mengapa kata 'batik' jika dibaca secara terbalik akan menjadi 'kitab'. Yah, meski kita tahu bahwa batik berasal dari bahasa Jawa, mbat (melempar berkali-kali) dan tik (titik). Tapi ada pula yang menafsirkan batik sebagai akronim dari kata 'membuat titik'.

Telkom Craft Indonesia 2018

Nah, sekarang saya akan menceritakan pengalaman saya menemukan aneka batik di sebuah event keren di Jakarta.


Pada 22-25 Maret 2018 lalu, di Hall A & B Jakarta Convention Center tengah berlangsung acara pameran UKM lokal bernama Telkom Craft Indonesia 2018. Ajang ini merupakan kesempatan bagi UKM asli Indonesia di berbagai daerah untuk bertemu dan memamerkan produknya kepada masyarakat.

Telkom Craft Indonesia begitu penting mengingat pertumbuhan UKM di negeri ini kian berkembang, baik kuantitas maupun kualitas. Sehingga eksistensi mereka patut diberi ruang agar pertumbuhan itu terus berlanjut. Maka tepat saja kiranya ajang ini bertajuk 'Local Heroes to Global Champions'.

Perhelatan ini merupakan program Rumah Kreatif BUMN yang bekerja sama dengan Telkom dan BLANJA.COM. Peserta yang hadir di sana ada dari UKM binaan BUMN yang terdiri dari tiga kategori, yaitu fashion, craft, dan food. Sajian acara yang disuguhkan pun tak kalah menarik, ada talkshow, workshop, pertunjukan tari daerah, fashion show, dan dimeriahkan pula oleh beberapa penyanyi seperti Judika, Once, Via Vallen, dan Gigi Band.

Kala itu saya datang di hari sabtu (24 Maret) bersama dengan kekasih, Pertiwi Yuliana. Baru beberapa langkah memasuki area pameran, kami langsung disambut dengan kopi gratis di booth #WarnetZamanNow. Tentu kami tidak melewatkan secangkir kopi itu. Dari situ kemudian saya tahu kalau Telkom menyediakan program Wifi Smartbisnis yang bisa kita manfaatkan untuk membuka tongkrongan berfasilitas wifi berkecepatan tinggi hingga 100 mbps dengan biaya yang sangat terjangkau.

Ini dia kedai #WarnetZamanNow 

Setelah itu kami berkeliling ke setiap penjuru Hall A dan B untuk memburu hal-hal keren. Ada banyak produk lokal yang menarik perhatian saya. Salah satunya booth kuliner yang menyuguhkan makanan ringan berupa kripik kulit pisang. Wow! Ini pertama kalinya saya tahu jika kulit pisang bisa dimakan! Hahaha.

Selain itu, booth yang menyajikan batik sepertinya merupakan produk paling dominan di Telkom Craft Indonesia 2018 ini. Setahu saya ada 26 exhibitors yang membuka lapak batik. Ya wajar saja, batik memang citra fashion lokal kita yang begitu populer selain tenun. Melihat aneka ragam batik itu, bagi saya pribadi rasanya seperti melihat kembali peradaban manusia Jawa. Sebagai orang Solo yang menggeluti pendidikan tekstil, batik adalah produk budaya yang begitu mengagumkan di mata saya.

Meet the Founders

Talkshow yang berjalan dengan khidmat
Salah satu sesi acara yang tidak boleh dilewatkan adalah talkshow bersama para founder. Pada saat itu hadir Mas Yukka dari Bro.do dan Pak Mamo dari Salawase. Dilengkapi oleh Pak Aulia dari BLANJA.COM membuat bincang-bincang siang itu tak hanya inspiratif namun juga informatif.

Saya menangkap beberapa hal menarik, di antaranya ketika Pak Mamo menceritakan problematika produksinya. Salawase sendiri adalah brand lokal yang menjual aneka tas dengan bahan kulit yang diindahkan dengan sentuhan tekstil nusantara. Markas mereka berada di Solo, padahal target pasar mereka adalah kalangan menengah ke atas.

Saya rasa keputusan itu cukup berisiko mengingat kota Solo dikenal dengan 'apa-apa serba murah'. Hehehe. Sepengalaman saya 24 tahun tinggal di Solo membuat saya cukup pesimis terhadap keberlangsungan brand tersebut jika menetapkan target pasar yang memiliki jenjang perekonomian atas. Tapi ternyata masalah itu sudah teratasi. Pak Mamo berhasil memanfaatkan teknologi digital untuk melebarkan jangkauan pasarnya.

Selain itu, masalah lain yang dialami Pak Mamo juga pernah saya alami ketika masih duduk di bangku kuliah. Dulu saya kesulitan mencari material kulit di Solo untuk membuat tas. Lantas saya mendapat rekomendasi dari teman untuk mencari bahan kulit tersebut di Jogja. Syukurlah di Jogja ada pusat kerajinan kulit bahkan lengkap menyediakan penjahitnya. Pengalaman itu juga diakui oleh Pak Mamo sebagai solusi atas permasalahannya mencari material kulit dan tenaga jahit yang 'tidak ada' di Solo.

Hal menarik berikutnya datang dari brand sepatu ternama asal Bandung, Bro.do. Mas Yukka selaku founder Bro.do menceritakan sepak terjangnya merintis bisnis tersebut sejak kuliah. Hal yang saya kagumi dari Mak Yukka adalah kegigihan dan kecerdikannya membangun brand. Atas dedikasinya yang luar biasa itulah yang membuat produknya mendunia.

Lewat Mas Yukka tersebut, saya belajar juga bagaimana melayani konsumen setelah transaksi selesai. Ketika banyak toko online lain menerapkan sistem jual-putus, Mas Yukka justru berani ambil risiko untuk menerima kembali produk yang sudah diterima customer dan menggantinya dengan yang baru jika ukuran yang dipesan ternyata tidak cocok.

Pernah dengar kalimat, "Barang yang sudah dibeli tidak dapat ditukar", tidak? Nah, Mas Yukka berani melakukan sebaliknya. Dan ternyata cara pelayanan seperti itu membuat pelanggan percaya pada Bro.do dan berhasil mengikat pelanggan untuk terus bertransaksi sebab pelanggan merasa terlindungi oleh kepercayaan tersebut.

Saya merasa beruntung bisa hadir di ajang ini. Banyak inspirasi dan informasi yang saya dapat. Salah satunya seperti yang dikemukakan oleh Pak Aulia dari BLANJA.COM mengenai komitmen BLANJA.COM sebagai e-comerse yang menaungi UKM dan produk-produk lokal. Lewat fasilitas digital, UKM diharapkan mampu melebarkan sayap ke pasar global. Untunglah saat ini Rumah Kreatif BUMN juga turut terlibat dalam memajukan UKM, mulai dari pelatihan, fasilitas, bahkan modal.

Transaksi yang digunakan dalam Telkom Craft Indonesia 2018 ini bisa melalui aplikasi BLANJA.COM yang tentunya menguntungkan karena tersedia banyak diskon di sana. Nah, jadi tidak perlu khawatir. Meski event ini sudah selesai, namun kita masih bisa memborong produk-produk UKM lewat BLANJA.COM. Cobalah! Siapa tahu sedang ada penawaran menarik.

Batik Esti Collection Solo dan Serba-serbi Batik

Booth Batik Esti Collection Solo

Memang tak heran jika saya menemukan booth dari Solo yang menjual batik di Telkom Craft Indonesia 2018 . Meski awalnya saya kira bakal bertemu dengan Batik Danar Hadi maupun Batik Keris. Tapi setelah dipikir-pikir, dua perusahaan batik itu sudah cukup digdaya di pasar perbatikan. Sehingga ruang batik Solo diwakili oleh Batik Esti Collection.

Di booth ini, Ibu Esti lebih banyak menjual batik dalam bentuk kain panjang daripada baju. Mulai dari batik tulis hingga batik cap tersedia di sana. Sebagai UKM yang menaungi batik di Solo, lumrah jika koleksi yang ditawarkan cukup banyak. Bahkan motifnya pun sangat variatif. Layaknya batik asli Solo, warna yang melekat pada batik-batik koleksi Ibu Esti cenderung gelap dan kuat.

Batik Esti Collection menyediakan batik asli yang diproses dengan baik dan benar. Batik asli itu seperti apa, sih? Batik yang diproses menggunakan metode perintangan warna memakai lilin di atas kain itulah yang disebut dengan batik asli. Metode perintangan itu bisa melalui proses canting dan cap. Bahkan perintangan warna ini juga sudah bisa diproses dengan metode cetak saring (di masyarakat lebih dikenal dengan sebutan sablon).

Lho, bukannya memakai sablon itu justru menghasilkan batik imitasi?

Ya. Jika yang sablonnya berupa warna, maka bisa dipastikan produk batik yang dihasilkan itu abal-abal. Tapi yang saya maksud adalah menggunakan lilin sebagai bahan untuk disablon. Hal ini memungkinkan ketika ditemukannya material 'lilin dingin'. Selebihnya, proses pewarnaan batik tetap dilakukan layaknya batik tulis atau batik cap. Dulu, teknik ini sering saya pakai untuk mengejar deadline tugas kuliah ketika disuruh membuat batik. Sebab, meski pengerjaan jauh lebih cepat, hasil akhir produknya memiliki kualitas yang sama dengan batik tulis maupun batik cap.

Bagaimana sih cara membedakan batik asli dan batik imitasi?

Ada banyak cara, tapi bagi saya cara paling mudah adalah melalui proses identifikasi visual. Jika motif batik hanya terlihat jelas di satu sisi saja, maka batik tersebut merupakan batik imitasi. Sedangkan batik asli memiliki motif yang terlihat jelas di kedua sisinya.

Peristiwa ironis pernah terjadi ketika batik mulai berkembang secara global. Jadi saat batik Indonesia masih diproses menggunakan canting dan cap, di Belanda dan Swiss sudah membuatnya dengan teknik cetak atau sablon. Batik imitasi buatan Swiss memakai cat alizarin sintetis yang dicetak massal dan dijual bebas di Indonesia maupun di berbagai negara Afrika. Bahkan, mereka berani menggunakan nama Java Batik pada saat itu.

Bersyukur setelahnya Ir. Soekarno mengumpulkan para pengrajin batik hebat untuk membuat, mengembangkan, dan mematenkan Batik Nasional. Mereka yang diamanahi Bung Karno ini adalah KRT. Hardjonagoro, Iwan Tirta, dan Ibu Soed. Selain itu ada juga Asmoro Damais, Josephine Komara, Abdul Kadir Muhammad, dan keluarga Oei Soe Tjoen yang mewakili kalangan seniman, perancang, serta kolektor. Setelah melewati rentang yang cukup panjang, barulah pada tahun 2009 batik diakui secara resmi oleh dunia.

Membaca perjalanan batik memang sangat menyenangkan. Jadi jangan kira batik hanya sebatas produk kain semata. Lha wong UNESCO saja sudah mengakui kekayaan budaya batik lebih dari itu, lho.

Menghadiri Telkom Craft Indonesia 2018 terasa sangat menyenangkan bagi saya. Ada banyak hal yang lokal banget bisa diperoleh di sini. Sampai-sampai, sepulang dari ajang ini, saya tidak pernah berhenti memikirkan inovasi produk apa yang bisa saya buat.


Jika ada kesempatan untuk hadir kedua kalinya, saya pastikan bisa hadir kembali. Sudah gratis, banyak yang diperoleh pula. Sudah semacam surga dunia bagi para pecinta produk lokal, khususnya fashion, craft, dan food. Tema Local Heroes to Global Champions tahun ini saya harap bukan sekadar slogan. Tapi juga mampu menghantarkan eksistensi UKM kita ke pasar internasional.

Saya juga senang batik masih menjadi primadona di masyarakat kita. Setidaknya di mata dunia terlihat kompak, terlepas mengikuti sejarah dan serba-serbi batik itu sendiri atau tidak. Hehehe. Belajar batik itu seru, lho. Yuk, kita belajar bersama!

Terima kasih Rumah Kreatif BUMN, Telkom, dan BLANJA.COM yang telah menyelenggarakan acara keren seperti ini. Sampai jumpa lagi tahun depan. Sambil menunggu saat itu, belanja dulu ah di BLANJA.COM. Yuk!

13 Maret 2018


Hari Musik Nasional telah ditetapkan melalui Kepres Nomor 10 Tahun 2012 pada masa pemerintahan Presiden SBY. Dalam Kepres tersebut, tanggal 9 Maret akhirnya menjadi pilihan jatuhnya Hari Musik Nasional.

Kenapa harus 9 Maret? Ternyata alasan pemilihan tanggal ini bertepatan dengan hari lahirnya W. R. Supratman. Sebagaimana yang kita ketahui, beliau adalah pencipta lagu Indonesia Raya yang sampai hari ini masih diberlakukan sebagai lagu kebangsaan Republik Indonesia.

Cara merayakan Hari Musik Nasional ini tentu saja dengan digelarnya aneka konser musik. Yaiyalah, masa mau dirayakan lewat kontes Mobile Legend, kan nggak nyambung. Nah, tahun ini saya merasa beruntung bisa turut menikmati kemeriahan perayaan Hari Musik Nasional.

Jadi, tepat pada tanggal 9 Maret 2018, saya beserta kawan-kawan blogger berkesempatan untuk menghadiri konser musik mega bintang. Kenapa mega bintang? Sebab, konser ini melibatkan lebih dari 25 musisi dan diselenggarakan lebih dari 11 jam. Gokil!

Wow, acara apa itu?

Konser yang saya maksud ini merupakan pentas musik yang diselenggarakan oleh Detikcom. D'Hot Music Day 2018, begitulah mereka menyebutnya.

Pada tahun sebelumnya, Detikcom juga pernah mengadakan acara serupa. Tapi tahun ini D'Hot Music Day bagi saya benar-benar pecah! Beruntung saya bisa menyaksikan live dari Kuningan City, mulai dari pagi hingga malam. Full of music!

Sebenarnya untuk menyaksikan D'Hot Music Day ini tidak harus ke Kuningan City. Sebab, Detik telah memfasilitasi agar masyarakat bisa turut menontonnya di manapun berada. Akses live streaming bisa disimak di channel hot.detik.com tanpa ada satupun pertunjukan yang dipotong.

Hal itu tentu membuat siapa saja bisa menikmati sajian musik istimewa dari berbagai musisi dan berbagai genre dalam ajang D'Hot Music Day. Mau bagaimana lagi? Tahun ini memang tema yang diangkat adalah, "Music untuk Semua."

Playlist Pagi

Hi Friday dalam siluet
Ke mall pagi-pagi memang bukan kebiasaan saya. Tapi karena hari itu begitu istimewa, saya rela datang pagi ke Kuningan City untuk terlibat dalam konser D'Hot Music Day 2018. Sebagai apa? Ya penikmat musik, lah. Hehehe.

Jadi, playlist pagi saya di acara ini ada band muda Hi Friday. Ada juga jebolan Idola Cilik, Ify Alyssa. Lalu turut hadir kontestan ajang pencarian bakat Belanda, Angela Vero. Dan ditutup oleh mas Yakob yang suaranya asik banget, apalagi sewaktu beliau membawakan lagu Sementara dari Float. Hmm.. Betaah!

Playlist Siang

Acara sempat tertunda karena ada kewajiban untuk menunaikan ibadah Jumat. Setelah Jumatan dan makan siang, saya kembali menikmati sajian musik yang menggetarkan telinga dan jiwa saya.

Arman Maulana Solo Project
D'Hot Music Day kembali berlangsung, baik live di panggung maupun di channel streamingnya. Kali ini sejumlah musisi yang sudah lama saya kenal menunjukkan kebolehannya. Sebut saja Arman Maulana dan Vidi Aldiano. Ini pertama kalinya bagi saya melihat mereka bernyanyi secara langsung.

Selain itu, masih ada banyak musisi yang mengisi playlist siang saya. Ada Nadia Fatira, Dengarkan Dia (Ayudia & Ditto), Ardhito Pramono, BRP (Badai Romantic Project), Novita Dewi, dan warna baru Ungu, VOLMAXX!

Lantunan akustik memang mendominasi, tapi penutup playlist siang dari Volmaxx terasa makin bersemangat karena musik EDM yang mereka mainkan begitu energik dan jogetable. Meski tidak dalam formasi lengkap, Onchi dan kawan-kawan masih bisa tampil dengan performa maksimal. Seperti namanya, VOLMAXX!

Playlist Sore

Waktu berlalu begitu cepat. Sejumlah musisi sudah menunjukkan kebolehannya dan serta merta hari sudah sore. Selepas break sejenak, panggung D'Hot Music Day kembali digelar.

Rendy Pagoda. Eh, Pandugo. Maaf. 
Sore semakin meriah dengan tampilnya Rendy Pandugo, Adrian Khalif, dan yang begitu saya tunggu, FADE 2 BLACK! Yo wassap yo!

Meski sudah tidak berkolaborasi dengan Bondan Prakoso, Fade 2 Black tetaplah grup rap yang luar biasa. Sayang sekali saya belum hafal lagu-lagu baru mereka di album Tabik, sehingga dua lagu yang mereka bawakan cuma bisa saya nikmati dengan anggukan kepala mengikuti beat yang dimainkan.

Untunglah lagu terakhir yang mereka dendangkan merupakan flashback lagu lama. Ada lagu Bunga, Kita Selamanya, dan Ya Sudahlah dalam satu beat. Maka jadilah saya sikat habis semua lagu itu dengan bernyanyi bersama. Asyik!

Playlist Malam

Gelap di langit telah tiba tanpa terasa. D'Hot Music Day masih berlangsung hingga tengah malam tiba. Total banget nih konser Hari Musik Nasional yang diadakan Detikcom, benar-benar satu harian penuh!

Selain Fade 2 Black, masih ada satu lagi yang saya tunggu. NONARIA!

Pertama kali tahu Nonaria adalah saat mereka tampil di acara Solo City Jazz tahun lalu. Saat itu mereka mengisi malam dengan musik-musik ceria dan candaan yang menyenangkan. Akhirnya, kerinduan akan mereka terbayar di D'Hot Music Day 2018. Tapi sayang, waktu mereka untuk tampil terlalu sedikit. Masih ada lho jurus-jurus keren mereka yang belum ditunjukkan.

Nonaria Squad!
Selain Nonaria, hadir juga musisi pop seperti The Overtune dan Mulan Jameela. Panggung D'Hot Music Day juga digoyang habis bersama OM PSP (Orkes Musik Pancaran Sinar Petromaks) yang heboh sekali mainnya.

Eits, terlewat. Sebelumnya juga ada Virzha dengan suara lelakinya yang berhasil melelakikan seluruh penonton. Waduhh. Hahaha.

Semakin malam, penonton semakin penuh. Saya yang awalnya duduk di kursi sampai harus lesehan. Lho, kok gitu? Sebab kursinya mau dipakai para pejabat. Hahaha.

Ya, beberapa pejabat negara hadir malam itu. Saat Eka Gustiwana dan Geng Ojol manggung, Pak Ganjar pun turut naik ke atas panggung menyanyikan lagu andalan Armada, "Pergi Pagi Pulang Pagi."

Sebagaimana yang sudah sempat viral, beberapa menteri kita memang membentuk grup band. Ya, Elek Yo Ben adalah nama grup tersebut. Mereka tak mau kalah memeriahkan Hari Musik Nasional tahun ini. Dan lagu wajib para pejabat kita ini tentu saja...'Kutak Bisa' dari Slank. Duh, lupa bawa panji-panji Slank. Konser ini berasa kurang afdol kalau tidak mengibarkan bendera Slank.

Malam semakin dingin di luar, tapi panggung D'Hot Music Day masih membakar semangat para penikmat musik. Sederet pertunjukan masih ditampilkan, mulai dari duet Olala Band yang mengiringi Pak Budi Karya dan Pak Ganjar. Hingga duet Talkback Band dengan Pak Sandiaga Uno.

Selain sumbangsih para pejabat di atas panggung, beberapa musisi masih ada yang setor suara di atas panggung. Ada Tanayu (Intan Ayu), Bams (Samson), dan NEV+ feat Dea. Siapa tuh yang terakhir tampil?

Awalnya memang terasa asing bagi saya terhadap nama NEV+ dan Dea. Usut punya usut, NEV+ adalah side project Nidji tanpa Giring. Sedangkan Dea di sini adalah vokalis HIVI.

Mendengar dan Melihat Musik Lebih Dekat

Candid by Mas Ono
D'Hot Music Day adalah sarana bagi saya untuk bisa menikmati musik lebih dekat. Tak hanya itu, wawasan soal permusikan Indonesia pun banyak saya cerna di sini. Seperti cerita perjalanan karir para musisi, kesibukan mereka saat ini, dan harapan-harapannya terhadap permusikan di Indonesia.

Musik bukan hanya sekadar project iseng. Bagi para musisi ini, musik adalah bagian utama dari hidup mereka. Perjuangan mereka untuk berkarya tidaklah mudah. Bahkan Rendy Pandugo mengaku dulunya tidak bisa bernyanyi. Tapi kerja kerasnya berbuah hasil pada titik ini hingga punya album sendiri.

Saya bersyukur bisa terlibat dalam acara ini. Andai boleh berharap, saya ingin tahun depan konser seperti ini diselenggarakan kembali. Makin greget lagi kalau full berbahasa Indonesia untuk semua lagu yang ditampilkan. Bahkan kalau perlu, didengungkan lagu Indonesia Raya karya W. R. Supratman juga mengingat Hari Musik Nasional jatuh pada tanggal yang sama dengan hari lahir beliau. Tak lupa, musisi lokal pun boleh juga disediakan panggung. Kalau mau, panggil saja Owah Band dan Fisip Meraung dari Solo. Dijamin mawut kabeh acarane. Wahaha.

Akhir kata, saya ucapkan terima kasih kepada Detikcom yang telah mengadakan acara keren ini. Selamat Hari Musik Nasional!

2 Maret 2018


Dari sekian banyak restoran di Indonesia, HokBen adalah salah satu yang terbaik. Mengapa demikian? Sebab HokBen selalu bisa berinovasi dengan meluncurkan menu-menu baru. Setelah dulu ada menu Tokyo Bowl, kini HokBen akan menggoyang lidah kita dengan menu HOKA SUKA!

Wow! Apa itu menu Hoka Suka?

Eits, sebelum membahas ke sana, saya ingin sedikit bercerita mengenai HokBen, nih. Jadi sudah pada tahu belum kalau HokBen itu berdiri sejak tahun 1985? Duh, giliran dibandingkan dengan restoran aja nih saya jadi merasa lebih muda. Hahaha.

Yup, sudah 33 tahun HokBen eksis memanjakan lidah-lidah manusia Indonesia dengan sajian khas Jepangnya. Maka wajar saja jika HokBen kita anggap sebagai salah satu senior perestoran Indonesia.

Dari tahun ke tahun HokBen selalu memberikan yang terbaik untuk konsumennya. Sebut saja fasilitas call center dan HokBen Delivery yang sudah bisa dilakukan sejak tahun 2007. Lebih maju satu tahun dari itu, tepatnya tahun 2008 HokBen mulai membuka website dan pemesanan bisa dilakukan secara online. Gila, tahun segitu mah saya baru migrasi dari Friendster ke Facebook, terus pasang foto profil gambar-gambar emo atau paling mentok ya logo Slanker.

Wah, kalau menyinggung soal logo, HokBen telah melakukan perubahan logo pada tahun 2013. Dari yang semula bernama Hoka-Hoka Bento berubah menjadi HokBen. Algoritme pergantian nama ini cukup familiar dengan kita karena kita juga mengenal Warung Tegal menjadi Warteg, Warung Kopi menjadi Warkop, dan masih banyak lagi. Luar biasa ya, bangsa ini ditopang oleh kemajemukan akronim dari segala penjuru. Hahaha.

Gahthering Blogger Bekasi di HokBen Harapan Indah


Kenapa saya kok tiba-tiba mengulas soal HokBen? Ini dia alasanannya. Jadi, beberapa hari lalu saya, Tiwi, dan teman-teman Blogger lainnya berkumpul di HokBen Harapan Indah, Bekasi. Seru rasanya bisa bercengkrama dengan blogger-blogger lain. Apalagi ada aneka games yang membuat suasana lebih meriah.

HokBen Harapan Indah ini adalah HokBen terluas yang pernah saya kunjungi. Di resto ini telah tersedia area parkir yang luas banget, dengan tarif parkirnya hanya 2.000 rupiah per motor. Syukurlah, tidak kena musibah tarif per jam lagi seperti di tempat lain. Hahaha.

Kalau lahan parkirnya saja luas, apalagi restonya. Yak, tersedia 200 kursi di resto ini yang siap kita duduki di manapun kita mau. Outdoor untuk smoking area ada, indoor ada, bahkan private room juga ada. Dan tentu saja, mini playground buat si kecil pun ada.

Dengan banyaknya kursi yang disediakan, kita bisa nongkrong agak lama karena tidak harus buru-buru bergantian dengan pengunjung lain. Makan enak, nongkrong enak. Wow siapa sih yang nggak mau? Toh aksesnya pun gampang banget. Saya yang belum pernah ke HokBen Harapan Indah sebelumnya saja tidak sampai nyasar kok.

Oiya satu lagi, kalau mau makan siang atau malam tidak perlu khawatir ketinggalan sholat. Sebab di HokBen Harapan Indah telah tersedia mushola. Benar-benar paket ishoma yang komplit banget!

Harga dan Cita Rasa Menu Baru Hoka Suka.

Kini saatnya menjawab pertanyaan di awal tulisan tadi. Jadi, Hoka Suka adalah menu baru dari HokBen yang memadukan sajian makanan Jepang dengan unsur cita rasa Indonesia.

Unsur cita rasa Indonesia yang dimaksud adalah kering kentang, acar kuning, dan tentu saja aneka sambal. Lah, HokBen kan khasnya makanan Jepang, kok jadi ada sambal-sambalnya segala?

Itu dia uniknya inovasi HokBen kali ini. Begini, ketika kita berbicara tentang makanan Indonesia, apa sih yang hampir selalu ada di mana-mana? Sambal! Kalau ada anekdot yang bilang, "Bagi orang Indonesia, belum disebut makan kalau belum makan nasi." Sekarang konklusi dari anekdot itu jadi begini, "Belum disebut makan nasi kalau belum pakai SAMBAL!" Hahaha.

Lanjut ya, Gaes. Jadi di dalam menu Hoka Suka ini ada tiga varian, yaitu:

1. Hoka Suka 1


Terdiri dari Yakitori Grilled, nasi, kering kentang, acar kuning, dan tiga pilihan sambal.

Rasa manis, asam, dan peleburan rasa dengan sambal berhasil membuat indra perasa saya lompat kegirangan. Perpaduan yang hampir sempurna. Pasalnya kalau boleh memilih, saya lebih suka bila kering kentangnya diganti krupuk udang atau krupuk merah. Pasti terasa sempurna di lidah saya.

Harga untuk paket Hoka Suka 1 adalah Rp. 49.000.

2. Hoka Suka 2 


Terdiri dari Ebi Furai, nasi, kering kentang, acar kuning, dan tiga pilihan sambal.

My Fav! Di antara tiga menu Hoka Suka, saya paling suka dengan ebi furai ini. Kelembutan udang yang renyah dan rasa asin yang tepat sasaran melebur indah di setiap kecapan saya. Tak tanggung-tanggung, ada empat udang gede untuk satu porsinya. Puas!

Harga untuk paket Hoka Suka 2 adalah Rp. 58.000.

3. Hoka Suka 3


Terdiri dari Chicken Katsu, nasi, kering kentang, acar kuning, dan tiga pilihan sambal.

Belum ke HokBen kalau belum icpi-icip chicken katsu. Hidangan andalan HokBen ini sudah jelas memberi kenikmatan yang haqiqi. Kelembutan dagingnya dipadu dengan kerenyahan tiap gigitannya menjadi makin lezat ketika sambal ikut terlibat di tiap kunyahannya. HokBennya dapet, pedasnya dapet, kenyangnya apalagi. Sampai mblenger!

Harga untuk paket Hoka Suka 3 adalah Rp. 49.000.

Itu dia tiga varian menu baru HokBen, Hoka Suka. Sejauh ini saya merasa puas dengan menu baru yang ditawarkan itu. Hidangan Jepang rasa Indonesianya bisa banget bikin senang sekaligus kenyang. Kalau sudah begini, Hoka Suka bakal jadi makanan favorit setiap mampir HokBen, nih.

Sambal Kita Sambal Indonesia


Seperti yang sudah saya tulis di atas, setiap menu Hoka Suka terdapat tiga pilihan sambal. Apa saja itu?

Pertama, sambal bawang Jawa. Sebagai orang Solo dengan 1% mewarisi lidah keratonan, tentu saja sambal bawang adalah sambal paling tepat bagi saya. Sambal bawang memang seperti namanya, dominasi bawang merah dan bawang putih adalah resep racikan sambal jenis ini. Perpaduan ketiga unsur itu yang membuat saya merasakan sensasi pedas yang ngrempah abis. Rasanya akrab di lidah. Huhhaah.



Kedua, sambal matah Bali. Sambal ini diracik secara mentah dari cabe, bawang, sedikit jeruk nipis, dan minyak sayur. Bagi saya, level pedas pada sambal jenis ini tidak lebih tinggi dari sambal bawang Jawa. Tapi tidak sekadar pedas saja, ada cita rasa lain yang ikut muncul di sana. Sebagai cocolan chicken katsu sih pas banget, lho.


Ketiga, sambal ijo Padang. Memiliki kadar pedas yang susah dideskripsikan! Hahahaha. Bagi yang akrab dengan masakan Padang sih pasti suka karena kini HokBen sudah memfasilitasi itu. Tapi bagi saya pribadi masih kurang ngeklik di lidah. Mungkin karena saya Jawa banget kali ya, jadi sambal pedas agak manis itu lebih familiar daripada pedas agak pahit seperti sambal ijo Padang.


Tiga varian sambal itu sepertinya mewakili tiap selera persambalan Indonesia, ya. Ada pedas manis, pedas asam, dan pedas pahit. Wow! Kurang komplit apa lagi?

Jadi kalau kamu adalah pencinta sambal, tidak ada salahnya untuk mencoba aneka sambal pilihan HokBen. Tak hanya khusus untuk menu Hoka Suka kok. Aneka sambal ini dapat kamu pesan terpisah cukup dengan harga Rp. 5.000 saja.

Bagaimana? Masih mau pakai saos doang, nih? Yakin? Ayo dong rasakan sensasi pedas nikmatnya sambal bawang, sambal matah, dan sambal ijo di HokBen! Lebih greget.

"Tapi lagi hujan, nih. Malas keluar, nih."

Eits, jangan khawatir. Langsung saja pesan secara online di hokben.co.id atau bisa juga pesan melalui HokBen Delivery cukup dengan menghubungi 1-500-505.

Nah, itu saja yang bisa saya bagikan kali ini. Kalau boleh, saya mau dengar pendapatnya, dong. Inovasi HokBen pada menu Hoka Suka dengan ketiga sambalnya ini menurutmu bagaimana? Terima kasih sudah membaca.

16 Februari 2018


Menjadi perantau di Jakarta. Meski baru tiga bulan, namun sudah banyak hal menarik yang saya alami di kota besar ini. Mulai dari pengalaman indah, susah, bahkan absurditas yang random seperti mendatangi event di Grand Indonesia dengan bawa uang hanya 700 rupiah.

Pada tanggal 11 Februari, saya dan Tiwi mendapat kesempatan untuk bertemu sastrawan ulung, Eyang Budi Darma dan Mas Seno Gumira di Galeri Indonesia Kaya. Pertemuan itu tentu saja bukan dalam rangka kopdar atau prosesi COD, melainkan untuk sama-sama terlibat dalam acara bincang sastra dengan tema Menjadi Manusia dengan Sastra.

Beberapa jam sebelum acara dimulai, saya dan Tiwi telah sepakat untuk melakukan perjalanan menuju Galeri Indonesia (GI) menggunakan Transjakarta saja. Kenapa? Soalnya kalau Transtuju itu saluran televisi, tidak bisa ditunggangi. Eh, bisa ding. Ditunggangi kepentingan politis. Eaa.

Sebenarnya kami bisa saja menempuh perjalanan menggunakan motor yang memungkinkan tiba di lokasi lebih cepat. Tapi pilihan itu kami urungkan. Sebab kami masih trauma dengan biaya parkir. Lha mau bagaimana lagi? Parkir di Taman Ismail Marzuki saja kena tarif 14.000, gimana kalau di GI? Bisa-bisa harus jual akun instagram dulu baru bisa bayar parkir, huh.

Pada titik ini saya jadi rindu dengan tarif parkir di The Park Supermall Solo Baru. Meski namanya panjang, mall-nya besar, tapi tarif parkirnya cuma seribu rupiah saja, lho. Saking murahya, kalau sedang tidak ada uang pas, dibela-belain ngamen dulu satu menit di depan Mall juga bisa itu.

Yah, jadi begitulah alasan saya dan Tiwi lebih memilih naik Transjakarta daripada motor. Eh, taunya pas sampai di GI malah Transjakartanya ikut parkir. Terus saya yang bayar. Empat belas ribu pula. Masak, sih? Ya, nggaklah matane. Hidup kok absurdnya kelewataan kayak kartun Nickelodeon.

Singkat cerita, kami tiba di GI sekitar pukul satu siang. Sementara acara dimulai pukul tiga sore. Maka jadilah kami memanfaatkan waktu tersebut dengan...nyasar. Ya begitulah. Tersesat di mall adalah bentuk perlawanan bagi kaum proletar. Perlawanan uopoooo.

Sebenarnya perut kami berharap sesuap makanan, tapi dompet tidak mengabulkan itu. Bagaimana tidak? Dompet saya cuma terisi 200 rupiah setelah koin 500 rupiah sudah raib karna saya pakai untuk menambahi ongkos naik angkot. Untunglah Tiwi bawa 50.000. Lalu jajan di GI? Yo oralah!

Jadilah saat itu saya duduk-duduk pilu di depan butik lingerie bersama Tiwi. Bukannya sedang pilih-pilih lingerie, tapi memang sudut yang kami tempati ini jarang dilalui orang. Kami membicarakan banyak hal. Salah satunya adalah sebuah pertanyaan , “Orang-orang ini ke sini bawa uang berapa, ya?”

Dulu, ketika saya masih di Solo, jalan-jalan ke mall bukan lagi sesuatu yang teramat lux. Biasa saja. Saya bisa makan steak dan minum teh botol sosro yang harganya lebih murah daripada tarif parkir di Taman Ismail Marzuki. Saya bisa beli es teh saja seharga tiga ribuan yang cup-nya tetap dibawa ke mana-mana meski isinya sudah habis.

Kalau dalam film, mall di Solo dan Jakarta sudah seperti film Upside Down. Berbeda meski sama-sama mall. Yaaiyalaah. Ngono wae kok nggumun

Saya tidak bisa membayangkan berapa uang yang dihabiskan untuk satu kali jalan di GI. Apalagi yang membawa serta seluruh anggota keluarga. Satu juta? Dua juta? Lebih atau kurang?

Lalu muncul pertanyaan, “Orang-orang kaya ini sudah sebahagia apa, ya?”

Tiwi mulai menatap saya dengan curiga. Mungkin dia was-was jikalau saya beralih profesi jadi Robin Hood seketika itu juga. Lalu tatapannya berjalan ke rambut saya yang gondrong. Dari pipi kenyalnya yang mulai bersua dengan senyum, saya mendengar suara, “Halah mbel. Boro-boro Robin Hood. Bentukanmu malah mirip Jack Sparrow, Bos.”

Ternyata saya mendapat mukjizat untuk bisa membaca bahasa pipi. Ya, ini pasti mukjizat.

Perbincangan siang itu berlalu begitu saja. Di antara berbagai pertayaan antologis yang saya lontarkan, Tiwi kemudian mengajukan pertanyaan yang sangat-sangat bajindul logisnya. “Di sini ada kayak Carefour gitu nggak, ya?” Syem. Usai sudah cuap-cuap kami yang belagak melawan hedonistik itu.

Kami kehausan. Ingin sekali rasanya menenggak Sprite. Atau Big Cola pun tak apa karna harganya yang lebih miring. Sayangnya, semua itu hanya fatamorgana belaka. Satu-satunya yang berhasil memabukkan adalah aroma Pop Corn yang krenyesnya tak terjangkau saldo PayPal kami.

Sial, tak ada soda hari ini.

Via satuharapan.com

Waktu mulai mendekati pukul tiga sore. Saya dan Tiwi bergandengan menuju Grand Indonesia Kaya. Suasana begitu ramai. Bukan karena banyak penikmat sastra yang berkumpul di situ, tapi karena di CGV tengah berlangsung meet and greet film Eiffel I’m in Love 2. Muda-mudi memenuhi selasar CGV. Sementara GIK terletak di sebelah CGV. Fak, susah sekali menerabas kerumunan itu.

Setelah tergencet ke kanan ke kiri, akhirnya kami berhasil sampai di mulut pintu GIK. Kami segera registrasi ulang setelah sebelumnya sudah mendaftar online. Karena acara belum mulai, kami memutuskan untuk menunggu sembari bermain games virtual yang ada di GIK.

Kami main game Balapan Egrang. Game ini mirip dengan Subway Suffer, tapi karakter yang dimainkan naik egrang. Saking jagonya, kami mendapat nilai 100. Yeaaaayy. Lalu cek high score. Nilai tertinggi 38.000-an kalau tidak salah ingat. “Fak,” batin kami kompak.

Setelah itu saya bermain alat musik virtual. Sementara Tiwi memilih untuk duduk-duduk saja. Saya memainkan kecapi, angklung, bonang, dan satunya lupa. Yang jelas, alat musik apapun yang saya mainkan, lagunya tetap ‘Gundul-Gundul Pacul’. Lha wong ya cuma itu saja yang saya bisa. Eh, tidak. Sebenarnya mau membawakan Symphony No. 35 in D major K. 385, tapi sungkan sama Mozart. Takut kualat.

Setelah saya puas bermain solo concert itu, saya segera duduk di samping Tiwi. Tidak terlalu banyak yang kami perbincangkan karena mata saya mulai menangkap sesuatu. Debu. Ya. Saya sedikit kelilipan.

Sepasang kekasih yang duduk di samping kami mulai beranjak dari tempat duduknya. Mereka menghampiri satpam, entah menanyakan apa. Lalu satpam itu menunjuk ke suatu tempat. Sepasang kekasih itu lantas berjalan terburu-buru. Seketika itu pula saya bangun dari sofa empuk. Saya mencolek Tiwi seraya bilang,“Ayo, masuk sekarang.”

Tiwi yang sudah pernah ke GIK sebelumnya langsung memandu saya menuju pintu masuk ruang auditorium. Semua orang masih sibuk dengan urusannya masing-masing, menunggu. Lalu begitu kami sampai di depan pintu, bapak satpam langsung memberi aba-aba, “Buat dua baris antrian.” Semua orang yang berada di situ langsung sigap membentuk barisan. Saya dan Tiwi tiba-tiba sudah masuk dalam barisan depan, meski bukan yang terdepan.

Saya bersyukur. Coba kalau saya dapat barisan paling depan. Pasti para pengantri sudah saya beri komando untuk meluruskan dan merapatkan shaf. Duh, naluri imam susah disembunyikan.

Kami mulai melangkah ke dalam setelah Eyang Budi Darma dan Mas Seno masuk duluan. Beruntung mendapat barisan depan. Saya dan Tiwi bisa memiih tempat duduk semaunya. Akhirnya, kami menempati kursi paling atas. Bukan mau mesum, tapi agar bisa bersandar dan kepala kami aman dari kaki orang. Lha matane, talk show kok mesum iki piye ceritane?

Acara dimulai dengan peforming art dari Klub Teater Khatulistiwa yang sangat bagus. Sampai saya merinding, lho. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan sambutan dari penerbit Noura.

Sebelum masuk acara inti, kami disuguhi video pendek Tribute to Iwan Simatupang dan Tribute to Bondan Winarno. Begitu dangkalnya pengetahuan saya, baru di tahun 2018 saya tahu jika Pak Bondan adalah sastrawan jauh sebelum acara TV maknyusnya.  Malu aku malu pada semur merah.

Acara bincang-bincang sastra “Menjadi Manusia dengan Sastra” pun akhirnya dimulai. Eyang Budi Darma dan Mas Seno memberi banyak pandangan-pandangan yang menarik. Saya kagum dengan keduanya.  Mas Seno memiliki pemikiran yang simple tapi jenius. Sedangkan Eyang Budi Darma selalu bisa memaparkan data-data dengan jeli, hal ini memperlihatkan betapa luas cakrawala ilmu beliau.

Jadi, apa sih maksudnya Menjadi Manusia dengan Sastra?

Pertanyaan ini barangkali memang tidak berguna bagi masa depan kosakata Vicky Prasetyo, tapi ternyata satu pertanyaan ini bisa diperbincangan selama dua jam  di GIK waktu itu. Mengutip dari penulis buku Orang-orang Bloomington, bahwa sastrawan itu unik. Dahulu, jika Colombus tidak pernah ada, benua Amerika pada akhirnya juga akan tetap ditemukan entah oleh siapa. Thomas Alfa Edison jika tidak menjadi penemu listrik, pasti ada orang lain yang mengganti posisinya.

Tapi hal ini tidak berlaku bagi sastrawan.

Jika tidak ada Pram, Jejak Langkah tidak akan pernah ada. Jika tidak ada Seno Gumira Ajidarma, Dunia Sukab tidak akan pernah ada. Jika tidak ada Ika Natassa, quotes Critical Eleven juga tidak akan pernah ada.

Meskipun fiksi, cerita-cerita sastra bukan hanya sebatas angin lalu. Di dalam karya pasti terdapat nilai-nilai yang bisa digunakan untuk memikirkan tentang manusia. Baik, jahat, bahagia, tragedi, kekacauan, ketidakjelasan, pembuangan, kesendirian, hasrat, naluri, dan masih banyak lagi hal-hal yang dekat dengan kita ada di dalam sebuah karya sastra. Dan itu bisa membuat kita lebih mengenal kehidupan sebagai manusia.

Oleh sebab itu, sastra sebenarnya sangat dekat dengan kita meski tak jarang buku-buku sastra dijauhi. Menurut Mas Seno, sejak manusia mulai bisa berbicara, sejak saat itu ia mengenal sastra. Sebab, proses belajar bicara saat masih balita itu sama dengan proses memahami karya sastra.

Via pexels.com
Jadi konyol saja kalau sampai hari ini secara terang-terangan menolak membaca buku-buku sastra. Meski mengaku susah mengerti maksud buku tesebut, sebenarnya sikap itu hanya alibi kemalasan berpikir saja.

Acara bincang-bincang sastra ini semakin lama semakin seru dan lucu. Para peserta yang terlibat berlomba-lomba mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Meski demikian acara tetap harus mencapai puncaknya. Acara ditutup dengan sajian pementasan dari Klub Teater Khatulistiwa. Dan sekali lagi, semua yang ada di dalam ruangan GIK bertepuk tangan meriah menandakan acara bincang-bincang sastra telah selesai.

Eits, sebelum pulang ya tentu saja ada sesi tanda tangan buku dan foto bersama tho ya. Tapi saya dan Tiwi tidak membawa buku-buku mereka. Alhasil, kami cuma mengambil satu buah foto bersama Seno Gumira Ajidarma...yang ngeblur.

Melewati pintu keluar, saya dan Tiwi memutuskan untuk makan malam dahulu. Di GIK? Ya, nggaklah! Gila apa. Kami makan di pinggir jalan, dekat halte Tosari. Inginnya sih, makan bubur ayam. Tapi sudah tidak tersedia. Akhirnya kami makan nasi goreng sepiring berdua. Biar romantis? Biar irit, Cuk.

Malam itu hujan mengguyur deras. Kami berdua berteduh di halte, memandangi air yang jatuh sembari membicarakan berbagai hal. Sebelum malam semakin larut, kami memutuskan untuk pulang. Di atas bumi Jakarta yang basah, Transjakarta membantu kami memberi keteduhan hingga sampai di rumah.

Kami pulang.


Header: pexels.com


3 November 2017



Siang itu sang surya teramat membakar, tampaknya ia marah dengan raut wajahku yang dingin tatkala keluar dari Stasiun Cikini. Udara Jakarta memelukku begitu panas. Hingga kerongkongan Soloku terasa begitu haus. Ya, barangkali begitulah contoh ketika Fandy mengawali tulisannya. Wkwk.

Narasi di atas adalah penggambaran dari kejadian yang saya alami pada 19 Agustus 2017. Masih teringat dalam berangkas memori saya ketika sebotol Soya Bean saya tenggak sembari menunggu sang kekasih, Tiwi, di Stasiun Cikini.

Sambil menunggu Tiwi datang, saya akan ceritakan rencana kami melewati malam minggu itu. 


Jadi, kami akan menonton pertunjukan teater yang diadakan di gedung Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM). Pementasan dengan lakon Umang-Umang ini diselenggarakan oleh Bengkel Sastra yang tak lain dan tak bukan adalah teman-temannya Tiwi di UNJ. Syukurlah kami berdua mendapatkan tiket untuk menontonnya karena sepertinya pertunjukan ini begitu diminati banyak orang.

Eits, ternyata tak butuh waktu lama untuk menunggu kemunculan Tiwi di depan saya. Seperti biasa, ia memamerkan cengar-cengir manisnya dahulu sebelum menenggak minuman kemasan yang saya bawa. Tapi ternyata Soya Bean bukanlah minuman yang pas untuk seleranya.

Ketika mendapati fakta bahwa minuman favoritku ternyata bukan favoritnya, kok rasanya aku ingin beli kaos sarimbit yang tulisannya, “Lucky to find her.”

Selepas berbincang sedikit soal Soya Bean, kami memutuskan untuk segera keluar dari stasiun dan mencari makan siang. Tak perlu menunggu waktu lama bagi mata elang saya untuk menangkap tulisan “Sate Padang” di pinggir jalan. Maka jadilah kami berdua makan sate padang dengan setengah porsi untuk masing-masing.

Berbekal sate padang yang memenuhi perut, kami berdua segera saja berjalan menuju TIM dengan sekuat tenaga. Ngos..ngos..ngos.. Sepasang kekasih yang menganaktirikan kegiatan olahraga ini pada akhirnya sampai di TIM meski harus dilalui dengan sempoyongan. 

Untunglah hari masih sore, sementara pementasan teater dimulai pukul 7 malam. Maka jadilah saya dan Tiwi berbincang-bincang dahulu di sepanjang momentum senja di langit Jakarta.

Menyenangkan.

From anythingjakarta.com
Langit semakin menghitam. Gedung Teater Jakarta semakin ramai. Tiwi mulai memperkenalkan saya pada beberapa teman-temannya. Entah ada berapa teman yang Tiwi kenalkan ke saya. Saya tak sempat menghitungnya karena kepala dan hati saya sibuk merekam momentum bahagia yang tertuju pada wanita yang sorenya makan sate padang bersama saya.

Pintu teater dibuka. Para manusia berduyun-duyun memasuki ruangan teater. Sementara dua alien, Ilham dan Tiwi, lebih memilih untuk...ya masuk ke ruang teater juga, lah. Lapo gur meh tengak-tenguk njobo, Tjuk.

Fyuh, akhirnya pantat terbaik kami mendarat di kursi yang ergonomis untuk keperluan nonton. Posisi kami nonton saat itu ada di tribun bawah, pojok kiri atas. Ya, kalau dalam hierarki perbioskopan, posisi bangku di pojok atas adalah area khusus bagi mereka sepasang kekasih yang ingin bersentuhan secara intensif nan agresif. 

Tapi hal itu tidak berlaku bagi kami. Nonton ya nonton. Ena-ena ya ena-ena. Dua mazhab ini berdiri sendiri dan kurang ajar betul kalau dicampuradukan. Ouyeaah.

Maka jadilah kami berdua menyaksikan pementasan teater Umang-Umang dengan khusyuk meski sesekali penonton masbuk mengganggu pandangan.

From wakarsas.com

“Kemiskinan telah menodongku, kelaparan telah menodongku, dan aku tak rela dicincang oleh kemiskinan dan kelaparan. Maka kutodonglah kekayaan dan makanan!”
Orasi tersebut menggema ke seluruh ruangan yang menandakan dimulainya pertunjukan teater Umang-Umang. Saya akan mencoba sedikit mengulas cerita Umang-Umang yang saya saksikan ini. Ehm, jadi begini.

Kisah ini berangkat dari seorang bos preman bernama Waska yang sudah sangat muak dengan penderitaan yang ia alami bersama kawan-kawan jalanannya. Akhirnya, ia membuat sebuah rencana besar untuk menggulingkan kekuasan. Waska dan komplotannya hendak menenggelamkan kekayaan yang selama ini hanya mampu mereka pantau dari kejauhan. Ya, rencana besar itu adalah perampokan akbar.

Akan tetapi, sebelum mereka menjalankan rencana itu, tiba-tiba saja tubuh Waska berhenti bergerak. Ia tidak mati. Ia diam membatu seperti stabilizer camera beli di Tokopedia.

Apa yang menimpa Waska saat itu membuat komplotan perampok, Umang-umang, kebingungan. Meski terdengar mistis karena tiba-tiba Waska membatu, namun di dunia nyata musibah itu ternyata pernah dialami oleh Ibu Sulami, warga Sragen yang tubuhnya membatu selama 23 tahun.

Umang-umang yang banyak nakal sedikit akal itu lantas merujuk kepada dukun sakti untuk mengobati Waska. Melalui dukun Albert, umang-umang mendapatkan resep yang dipercaya jitu menuntaskan fibrodysplasia ossificans alias penyakit membatu.

Resep yang diberikan sangat merepotkan. Yaitu, ekstrak jantung bayi!

Konon, satu jantung bayi akan memberi keabadian selama satu generasi bagi siapa yang meminumnya. Karena keserakahan, dua umang-umang yang bernama Ranggong dan Borok justru mengambil 12 jantung bayi yang mereka gali dari kuburan.

Keduabelas jantung tersebut dibagi rata untuk tiga orang, yaitu Ranggong, Borok, dan tentu saja Waska. Singkat cerita, Waska benar-benar sembuh dari kekakuan yang menjalari tubuhnya. Lebih dari itu, kini ia dan dua kawannya mendapat tiket untuk hidup abadi selama empat generasi.

Akhirnya, rencana besar dijalankan. Perampokan terjadi di mana-mana. Scene ini salah satu yang saya suka, keriuhan aksi para perampok ini benar-benar terasa gilanya. Mau bagaimana lagi, mereka ngerampok, ketawa-tawa, dan saya yang nonton justru ikut senang. Pret-kam sekali itu.

Saya lanjutkan ceritanya, ya. Eh, sebelumnya, saya mau nengok ke arah Tiwi dulu. Sudah kuduga, matanya berbinar-binar lengkap dengan senyum yang melengkung manis. Dalam hati lagi-lagi saya menggumam, “Lucky me.”

Baiklah sekarang mari kita benar-benar lanjutkan kisah Ragnarok lagi. Ragnarok? Iya, akronim dari Ranggong, Waska, dan Borok. Wkwkw.. Humor zaman kapan nih?

Ehem, begini, ketiga manusia abadi itu akhirnya frustasi, puyeng, depresi. Teman-teman seperpremanan mereka sudah pada meninggal, sementara mereka masih hidup. Uniknya, mereka bertiga hidup masih dalam cengkraman kemiskinan!

Ketika Ragnarok-wkwkw- ini dirundung kepiluan atas nasibnya yang hidup abadi, tiba-tiba mereka melihat orang-orang yang mirip sekali dengan kawan umang-umangnya dulu. Tapi sayangnya itu bukanlah seperti yang mereka kira. 

Setelah dikonfirmasi akun UnclickBait, ternyata orang-orang itu adalah cucu dari umang-umang generasi Waska yang mana tidak ada satupun yang mengenali sosok Ragnarok tersebut.

Waska, Ranggong, dan Borok lagi-lagi berduka cita atas hidup mereka. Berkali-kali mencoba untuk bunuh diri pun ternyata tidak bisa. Mereka cuma merasakan sakitnya saja, tapi tak kunjung mati.

Begitulah kurang lebih, kisah sarat makna yang saya nikmati dalam pementasan teater Umang-Umang. Jujur saja, ini adalah teater terbaik yang pernah saya tonton. Dari segi cerita menarik, semua akting lakonnya bagus, kostum, properti, lighting juga tidak kalah bagusnya. Demikian juga dengan aransemen musik yang digaungkan, porsinya pas dan mampu mendukung suasana tiap adegan yang dibutuhkan dalam pementasan ini.

Dari kisah Waska dan kawan-kawannya ini kita diajak untuk melihat bagaimana kemiskinan adalah problematika yang rumit. Dibukanya banyak lapangan pekerjaan dan merebaknya pakar motivasi tidak serta merta mampu menyelamatkan masyarakat dari kemiskinan. Apalagi sumbangan dan subsidi, lha wong hasil jarahan saja tetap tidak sanggup memperkaya mereka.

Ada celah kecil yang berkaitan antara kemiskinan dan korupsi. Keduanya sama-sama bisa diciptakan dari sistem. Karena sistem, seseorang mau tidak mau bisa jadi korupsi. Karena sistem pula, seseorang terima tidak terima bisa dimiskinkan.

Malam semakin larut. Pementasan apik itu sudah selesai. Saya dan Tiwi harus segera pulang sebelum kehabisan kereta. Sayang sekali kami berdua belum sempat mengabadikan momen itu dalam wujud foto. Cahaya ruang yang remang-remang tidak bagus jika ditangkap dengan fitur kamera pada gawai kami. Huh, jika saja saya memiliki kamera mirrorless terbaik pasti akun instagram saya akan dipenuhi foto-foto pamer untuk merayakan malam itu.

Tapi ya sudahlah. Meski tak berfoto, kami sudah merasa puas dengan malam minggu itu. Lha mau bagaimana lagi? Sebagai pelaku LDR yang kaffah tentu saja ritus malam minggu bareng kekasih adalah titik capai yang mesti dilakoni, tho.

Syukurlah kami berdua bisa mendarat di kasur masing-masing setelah itu. Tiwi di rumahnya, dan saya numpang di kos-kosan teman. Kami sempat bericikiwir dulu melalui text sebelum masing-masing mata terpejam.

Umang-Umang dengan semua yang saya saksikan masih membayangi pikiran. Ah, barangkali memori itu bisa diputar kembali di alam mimpi. Saya memutuskan untuk tidur, mengunci kenangan malam itu beserta rapalan doa agar ada malam-malam menyenangkan lain yang bisa saya lalui bersama Tiwi.


*
Terima kasih atas undangannya buat nonton Umang-Umang, Sayang. Saya akan balas kamu dengan pementasan lain yang tidak kalah serunya.

21 Agustus 2017


Artikel ini bekerjasama dengan UKP-PIP

Garin Nugroho adalah sosok yang sangat menarik perhatian saya ketika membicarakan film Indonesia. Bagaimana tidak? Beliau merupakan sutradara yang nyaris setiap film buatannya mendapat penghormatan dalam ajang festival film Internasional, lho.

Sebut saja Cinta dalam Sepotong Roti (1990) yang memenangkan Festival Film Asia Pasifik untuk kategori sutradara pendatang baru. Atau Bulan Tertusuk Ilalang (1994) yang eksis di Perancis dan Jerman, Daun di Atas Bantal (1997) yang jadi unggulan di Tokyo, Puisi Tak Terkuburkan (1999) di Festival Film Internasional Loacarno, dan masih banyak lagi film-film keren yang pernah beliau bikin.

Saya sendiri merasa beruntung pernah bertemu beliau, berdiskusi, dan menyaksikan salah satu karya lawasnya yang berjudul Bulan Tertusuk Ilalang (1994). Film artistik yang pernah memenangkan ajang festival film di Perancis itu sebelumnya sudah pernah saya buat ulasannya di sini.

Bisa dibilang beliau adalah inspirasi bagi saya. Film buatannya benar-benar artistik dan menawan. Bikin gregetan. Seolah dopamin saya harus berteriak, “Aku juga harus bisa bikin kayak gitu!”

Belum juga selesai keriuhan alam batin saya yang begitu bersemangat mencatat jejak-jejak Garin, tiba-tiba saja lingkaran sosial saya di dunia maya membicarakan sosok pemuda yang berhasil membawa film Indonesia sebagai film pendek terbaik di Cannes, Perancis.

Raphael Wregas Bhanuteja atau yang biasa dipanggil Wregas telah mengharumkan nama bangsa melalui film pendeknya yang berjudul Prenjak (2016). Pria gondrong yang seumuran saya ini sebelumnya memang telah terlibat dalam berbagai film besar seperti Sokola Rimba (2013), Ada Apa dengan Cinta 2 (2016), dan Athirah (2016).

Jika ditelusuri benang merah antara kedua filmmaker berbakat di atas, ternyata Wregas merupakan terusan dari estafet bangku kesutradaraan yang diwariskan oleh Garin melalui Riri Reza, lho.

Jadi ceritanya, Mohammad Rivai Reza atau yang sering dipanggil Riri Reza itu muncul sebagai sutradara lewat LSM bernama SET yang didirikan oleh Garin pada tahun 1987. Setelahnya, Riri Reza memberi bangku astradara untuk Wregas yang masih berstatus magang pada film Sokola Rimba tahun 2013. Jadi intinya, kalau kamu mau jadi the next sutradara kondang, caper-caperlah yang rajin ke Wregas. Siapa tahu bisa diangkut jadi sutradara kondang juga. Hehehehe.

Wah, gimana ya kalau dua sutradara keren dari generasi berbeda ini bertemu? Pasti seru!

Untung punya untung, ternyata pada hari Senin tanggal 21 Agustus 2017 mereka berdua berkesempatan untuk terlibat dalam acara Festival Prestasi Indonesia yang bertema “Pancasila Sumber Inspirasi Maju” oleh UKP-PIP yang diselenggarakan di JCC Jakarta, lho. Dan jika mengintip dari rundown acara, mereka berdua bakal berdialog selama 45 menit mengenai “Kemanusiaan dan Keadilan dalam Film.”

Pembahasan soal film lewat kacamata Pancasila sudah barang tentu sangat menarik disimak. Apalagi tokoh yang dihadirkan adalah orang-orang yang tepat di bidangnya, ya, kan?

Duh, acara yang megusung “Pancasila Sumber Inspirasi Maju” ini memang kerennya kebangetan. Banyak orang-orang insipiratif dari berbagai latar belakang yang dilibatkan. Menurut laporan intelejen yang saya percaya, tercatat ada 72 orang yang diundang untuk mendapat penghormatan sebagai ikon inspiratif! Waw!

Ketujuhduapuluhdua inspirator ini secara garis besar terbagi dalam empat kategori, yaitu saintis dan inovator, olahraga, seni budaya, dan pegiat sosial. Mereka bakal menjalani rangkaian acara mulai dari tanggal 21 hingga 22 Agustus 2017 di Jakarta Convention Center, Jakarta.

Apakah acara ini juga akan dihadiri oleh menteri?

Walah. Gak tanggung-tanggung, bro. Hla wong presiden Jokowi saja hadir, kok. Selain membuka acara Festival Prestasi Indonesia: “Pancasila Sumber Inspirasi Maju”, Bapak Jokowi juga akan mengunjungi anjungan dan menyaksikan langsung bagaimana potensi putra-putri negeri ini berkarya, lho. Mantap apa tidak acaranya UKP-PIP, tuh?

UKP-PIP emang apaan?

Itu, lho, singkatan dari Unit Kerja Presiden – Pembinaan Ideologi Pancasila. Masa gitu saja tidak tahu? Wong saya saja baru tahu. Huh! Dasar.

Meski acara itu tampak awesome bingit, namun tetap saja ada yang kurang. Kurang apa? Ya tentu saja kurang mengundang saya. Lho, lha iya, tho. Saya ini kurang inspiratif dan pancasilais apa lagi?

Untuk membuka tutup botol Vit 600 mili saja saya pasti menyebut nama Tuhan Yang Maha Esa. Belum lagi saat saya mencintai seseorang dengan rasa kemanusiaan yang adil dan beradab. Eh, jangan lupa juga dengan kebiasaan saya memberi hak jalan bagi pengendara motor yang buru-buru sebagai perwujudan sikap persatuan Indonesia. Menjaga kerukunan, tuh.

Duh, kok jadi congkak begini, sih. Padahal saya aslinya baik hati, tidak sombong, gemar menabung, dan bijaksana dalam permusyawaratan perwakilan, lho. Hadeeh. Tapi jika memang hal-hal itu tidak bisa bikin lolos kualifikasi sebagai sosok inspiratif nan pancasilais ya saya bisa apa. Toh pada akhirnya saya tetap harus melengkapi diri saya dengan berkumpul bersama orang-orang saleh dalam ikatan sosial yang adil bagi seluruh rakyat Indonesia, kan?


Source @terapiotak

Intinya, apapun yang kita jalani dalam kegiatan sehari-hari, #PancasilaInspirasiMaju itu tetap harus senantiasa kita jaga. Baik dalam pikiran maupun perbuatan masing-masing individu demi tercapainya kerukunan bersama. Namanya juga dasar negara. Salah satu cita-cita pentingnya sudah pasti adalah kerukunan antar sesama. Nah, kalau ideologi yang membuat kerukunan tecerai-berai itu namanya sudah bukan dasar negara lagi. Tapi dasar ndeso!

Header source: tabloidkabarfilm.com