Tampilkan postingan dengan label Film dan Televisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film dan Televisi. Tampilkan semua postingan

15 Februari 2020


Film drama Indonesia sepertinya punya satu format klise yang sering dipakai untuk memulai sebuah cerita. Biasanya, kisah asmara akan dimulai dari dua tokoh yang baru kenal, lalu pacaran, habis itu ada maslah, kemudian masalah selesai. Tamat.

Plot cerita yang seperti itu menurut saya sangat membosankan sebab sudah kerap dipakai berkali-kali. Bahkan sejak saya masih kecil; sejak saya menonton Cinta dan Rangga. Saya tidak banyak menonton film drama memang. Kebetulan saja beberapa film drama yang saya tonton belakangan ini sudah menggunakan cara bercerita yang berbeda. Termasuk film yang baru banget saya tonton, yaitu film “Toko Barang Mantan”.

Selayang Pandang

Poster Film Toko Barang Mantan
Film Toko Barang Mantan adalah film drama dengan sentuhan komedi yang dikemas dengan sederhana namun sarat makna. Film jebolan production house ternama, MNC Pinture Movie, ini mempertemukan dua aktor berbakat, yaitu Reza Rahadian dan Marsha Timothy sebagai sepasang mantan. Deretan aktor pendukungnya pun juga berperan dengan sangat baik. Hasilnya, film Toko Barang Mantan tidak membuat saya kecewa.

Saya akan sedikit menceritakan kisah dalam film besutan Viva Westi ini. Tenang, sebisa mungkin saya tidak akan spoiler. Kamu bisa membacanya sampai selesai.

Toko Barang Mantan adalah sebuah unit bisnis independen yang diinisiasi oleh Tristan (Reza), dan dikelola bersama kedua juniornya; Rio (Iedil Putra) serta Amel (Dea Panendra). Melalui toko ini, Tristan menjual aneka barang mantan yang merupakan koleksinya sendiri atau dari berbagai orang. Tristan orang yang idealis. Baginya, semua barang yang dijual harus memiliki sejarah yang menarik untuk diceritakan. Semakin tinggi nilai sejarahnya, semakin tinggi pula harga jualnya.

Suatu ketika, Tristan mendapat kunjungan dari mantan terbaiknya, Laras (Marsha). Walau sudah lama tidak bertemu, apalagi punya catatan sejarah yang emosional, namun mereka berinteraksi dengan sangat luwes seperti biasa. Tapi keluwesan itu berubah jadi canggung dan dingin ketika Laras memberi kabar bahwa dirinya akan menikah. Laras kemudian meninggalkan Tristan yang masih campur aduk.

Ketika cerita berjalan beberapa menit sampai sini, saya masih belum bisa menebak mau dibawa ke mana cerita ini. Hal ini yang membuat saya makin antusias untuk menontonnya lebih lama. Ternyata Laras datang kedua kalinya, ketiga kalinya, dan berkali-kalinya ke Toko Barang Mantan hingga akhirnya memberi kabar bahwa ia dan tunangannya punya masalah.

Dari sini baru terlihat konflik bermunculan dengan porsi yang tepat. Mulai dari konflik kecil-kecil hingga kemudian Tristan dan tokoh lainnya dibenturkan pada masalah yang rumit. Sebagai tokoh utama, Tristan harus mengambil keputusan yang tepat di tengah masalah-masalahnya.

Namun, hal itu tidak mudah. Tristan adalah karakter yang mudah marah, slengekan, dan egois. Ia harus menyelesaikan konflik batinnya terlebih dahulu sebelum bisa menangani masalah-masalah di luar dirinya.

Sebuah Kesan

Film Toko Barang Mantan merupakan refleksi bagi kita yang tengah bimbang antara karir, cinta, keluarga, persahabatan, dan diri sendiri. Saya rasa masalah yang mengitari Tristan adalah masalah-masalah yang dekat dengan kita. Sehingga orang-orang mungkin suka dengan film ini karena relevan bagi mereka.

Walau saya juga merasa ada beberapa hal yang relevan tapi bagi saya hal itu bukan lagi menjadi sesuatu yang mengejutkan. Saya lebih tertarik untuk memuji film ini dari penulisan naskah. Menurut saya, naskah ditulis dengan sangat rapi dan jeli menempatkan komedi. Beban masalah, porsi karakter, dan durasi pun disusun dengan tepat sehingga tidak melelahkan bagi saya sebagai penonton.

Penampilan para aktor juga tampak prima. Adanya Reza Rahadian tidak lantas membuat ia paling menonjol. Pemeran lain juga mampu berakting dengan imbang. Dan yang terpenting, tidak muncuk karakter yang kepribadiannya kelewatan aneh. Ada sih, tapi hanya sebagai figuran yang muncul beberapa menit saja sebagai pelanggan Toko Barang Mantan.

Dari dulu saya tidak suka dengan karakter yang berkepribadian lebay; ngomong lebay, berpikir lebay, bergerak lebay, dst. Untunglah di film ini tidak terlalu menonjolkan karakter-karakter seperti itu. Justru tanpa kepribadian lebay seperti itu, sosok Tristan juga bisa tampil komedik, kok.




Akhir kata, saya puas dengan film Toko Barang Mantan. Santapan yang nikmat buat kamu yang ingin menonton film bergenre drama dengan cerita yang tidak terlalu rumit. Walau film ini kental dengan pembahasan soal cinta, tapi kita bisa belajar hal-hal lain seperti persahabatan, karir, dan keluarga. Sebab masalah-masalah itu mungkin jadi masalah yang paling dekat dengan kita, kapan saja dan di mana saja.

Film Toko Barang Mantan bisa kamu tonton mulai 20 Februari 2020 di bioskop langgananmu. Sempatkan dirimu untuk nonton, ya.

Header: Photo by Kokil Sharma from Pexels

27 Januari 2020


Salah satu isu yang sering berkeliaran di lingkaran saya tentang pernikahan adalah soal kesederhanaan acara. Banyak yang ingin menikah dengan pagelaran yang simple, terjangkau, dan intim. Namun seringkali niat itu terhambat oleh campur tangan orangtua dan ketakutan-ketakutan pada ‘kata orang’.

“Kalau nggak pakai dangdutan, nggak pakai janur, nggak ngundang itu-itu apa kata orang nanti?” Sering dengar yang seperti ini, kan?

Mendengarkan pendapat orang lain tentang apa yang harus kita lakukan kadang berguna. Tapi bisa juga malah merepotkan diri sendiri. Bukan karena apa yang orang lain minta adalah sesuatu yang buruk, melainkan sesuatu yang tidak relevan. Kerap kali rasa sungkan membuat kaki kita terjebak pada ekspektasi orang lain. Hingga kita melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu kita lakukan.

Kegundahan dalam memenuhi ekspektasi orang lain ini menjadi pembuka yang manis pada sebuah cerita komedi di film yang baru-baru ini saya tonton, yaitu film “Temen Kondangan”. Putri (Prisia Nasution) adalah seorang selebgram yang galau karena mendapat undangan pernikahan dari mantan. Awalnya, Putri enggan untuk datang. Namun, teman-temannya menyarankan Putri untuk datang, salah satu alasannya adalah ‘apa kata followers nanti kalau nggak datang?’

Sebagai selebgram, Putri merasa hidupnya harus bisa memenuhi ekspektasi para pengikutnya. Setelah mengumpulkan niat untuk berangkat ke nikahan mantan, masalah baru muncul. “Datang sama siapa?” Kalimat itu menghantui Putri. Demi citra baik, mau tidak mau Putri harus mencari temen kondangan walau pada saat itu ia tengah menjomblo.

Perburuan temen kondangan dilakukan Putri dua hari sebelum hari-H. Mulai dari coba nyari jasa wedding crusher, mengajak atasan di tempatnya bekerja, hingga mengajak teman lamanya yang kebetulan bertemu di bar. Apa yang terjadi selanjutnya? Siapa yang jadi temen kondangan Putri?Apakah Putri berhasil datang ke acara nikahan mantan dengan tenang? Atau…

Sebuah Komedi yang Mengasyikkan

poster film temen kondangan
Poster Film "Temen Kondangan" by Cinema XXI
Temen Kondangan merupakan debut penyutradaraan oleh Iip S Hanan yang sebelumnya menyutradarai serial Dunia Terbalik dan Tukang Ojek Pengkolan. Sebagai sebuah karya debut, Temen Kondangan tidak tertinggal secara kualitas jika dibandingkan dengan film drama komedi yang pernah ada di Indonesia.

Dulu ketika belum pindah ke Jakarta, saya dan orangtua suka sekali menonton Dunia Terbalik sebelum tidur. Dunia Terbalik menawarkan cerita yang unik, gimmick yang lucu, dan absurditas yang bikin terbahak-bahak. Ramuan yang telah matang dalam kemasan komedi ini dibawa dengan baik oleh Kang Iip dalam film perdananya.

Temen Kondangan tidak menawarkan kisah cinta yang berat dan rumit. Tapi justru esensi cinta yang sederhana dan dibumbui dengan komedi yang mudah diterima. Di dalam bisokop, saya berkali-kali tertawa hingga terlarut dalam suasana yang mengasyikkan itu.

Kesuksesan film ini juga dipicu oleh penampilan yang baik dari para aktor dan aktris. Selain Prisia Nasution sebagai pemeran utama, ada juga Gading Marten, Samuel Rizal, Reza Nangin, Kevin Julio, dan Olivia Jensen. Karena saya suka hal-hal yang banyol, tentu saja apresiasi yang besar saya berikan pada penampilan Reza Nangin yang berkali-kali membuat saya tertawa. Padahal Reza memerankan karakter yang lugu, serius, dan pemalu. Hal ini menunjukkan bahwa penulisan naskah komedi dikerjakan dengan baik.

Saya suka dengan struktur cerita yang 90% berkutat di dalam acara resepsi. Kejadian demi kejadian, kekacuan demi kekacauan, hingga teka-teki yang terkuak disajikan dalam satu tempat. Dalam Press Screening yang berlangsung pada 24 Januari 2020 di CGV Grand Indonesia, saya mendengar dari Kang Iip kalau proses syuting di tempat resepsi butuh 12 hari untuk menyelesaikannya. Betapa rumitnya mengatur set, kostum, bahkan lighting agar konsisten selama 12 hari. Bukan hanya beberapa karakter saja, tapi juga puluhan (atau mungkin ratusan) ekstras layaknya tamu kondangan pada umumnya.

Jika kamu butuh hiburan pada akhir bulan Januari, maka film Temen Kondangan adalah referensi utama yang saya berikan padamu. Film ini tayang pada 30 Januari 2020 di bioskop-bioskop seluruh Indonesia. Jangan biarkan akhir bulanmu terlewat begitu saja tanpa tertawa di dalam bioskop.

Kalau belum yakin, simak trailer film Temen Kondangan berikut:



Epilog

Undangan pernikahan mantan bukanlah raungan sangkakala yang memanggil akhir hidupmu. Jika tidak ingin datang, maka tidak perlu datang. Jika datang pun tak mengapa. Yang memiliki jawaban dari kemauanmu adalah dirimu sendiri, bukan teman apalagi pengikut Instagram. Karena yang paling mungkin membuatmu bahagia adalah dirimu sendiri.


Header: Photo by Terje Sollie from Pexels

13 Oktober 2019

poster film 99 nama cinta
Poster resmi 99 Nama Cinta

Ada beberapa sutradara di Indonesia yang selalu ingin saya tonton karyanya. Sebut saja Joko Anwar, Riri Reza, dan juga Garin Nugroho. Masing-masing dari mereka memiliki warna tersendiri dalam menampilkan filmnya. Saya paling suka warna yang dibuat oleh Garin Nugroho.

Nama Garin Nugroho sudah tidak asing lagi di industri film Indonesia. Bukan hanya di dalam negeri, film-filmnya kerap lalu-lalang di ajang festival bergengsi dunia. Selain menonton filmnya, saya juga membaca bukunya berjudul “Film Indonesia” yang secara lengkap mendokumentasikan perjalanan industri film Indonesia dari zaman kolonial hingga 2012. Singkat cerita, Garin Nugroho adalah legenda di kancah perfilman Indonesia. Setidaknya, saya meyakini itu.

Baru-baru ini, Garin kembali terlibat dalam sebuah produk film. Film tersebut adalah 99 Nama Cinta. Meski begitu, Garin kali ini tidak berada di kursi sutradara. Ia menjadi penulis naskah, sementara posisi sutradara dipegang oleh Danial Rifki. Usut punya usut, Danial dulunya pernah bekerja Bersama Garin sebagai astrada tiga. Melihat potensinya, Garin merasa Danial mampu untuk mengerjakan film 99 Nama Cinta.

Film 99 Nama Cinta sendiri merupakan film drama yang dipadukan dengan nuansa reliji dan sentuhan komedi. Beberapa bintang ternama mengisi peran pada film ini, sebut saja Acha Septriasa dan Deva Mahendra.

rilis trailer 99 nama cinta
Suasana perilisan poster dan trailer film 99 Nama Cinta

Beruntungnya, saya mendapat kesempatan untuk hadir pada presscon pra-tayang film 99 Nama Cinta yang diselenggarakan di Beranda Kitchen Jakarta Selatan pada 10 Oktober lalu. Jadi saya bisa duluan mengintip trailer dan rilisan poster film 99 Nama Cinta. Dalam acara tersebut turut dihadiri oleh para pemain dan kru 99 Nama Cinta. Berikut pemain serta perannya di film 99 Nama Cinta:

Acha Septriasa sebagai Talia (Seorang presenter tubir)

Deva Mahendra sebagai Kiblat (Anak pesantren)

Ira Wibowo sebagai Ibu Talia

Donny Damara sebagai Kyai Umar

Chicki Fawzi sebagai Husna

Adinda Thomas sebagai Mlenuk

Susan Sameh sebagai Chandra

Dzawin sebagai Ustaz Bambu

Simak trailer 99 Nama Cinta berikut ini untuk mengintip keseruannya:



Film 99 Nama Cinta akan rilis pada 14 November 2019. Film ini berkisah tentang seorang perempuan ambisius bernama Talia yang berprofesi sebagai presenter sekaligus produser pada acaranya sendiri. Talia merupakan sosok perempuan yang mandiri, ulet, namun ia memiliki kekurangan, yaitu wataknya yang mementingkan diri sendiri.

Sementara itu, di sebuah desa di Kudus, ada seorang ustaz muda bernama Kiblat. Kiblat memiliki peran penting di pondok pesantren tempatnya mengabdi. Ia digambarkan sebagai sosok ustaz yang dapat melebur dengan masyarakat dari keberagaman kelas ekonomi, usia, dan latar bekalang.

Pada film 99 Nama Cinta ini Talia dan Kiblat ditakdirkan oleh penulis scenario untuk bertemu dan menjalin kisah asmara. Tapi bagaimana keseruan kisah perjalanan cinta mereka? Kita hanya bisa menemukan jawabannya pada 14 November 2019 di bioskop kesayanganmu.

Antusias Setelah Nonton Trailer 99 Nama Cinta

Saya pribadi cukup antusias dengan film ini setelah lihat trailernya. Selain itu, seperti yang sudah saya singgung di awal cerita, bahwa penulis skenario 99 Nama Cinta adalah Garin Nugroho. Saya ingin menyaksikan bagaimana keartistikan Garin muncul pada alur cerita yang ia buat. Bukan kali pertama Garin memegang film pop bernuansa asmara seperti ini. Sebelumnya, Garin mengerjakan film Aach Aku Jatuh Cinta yang menggandeng Pevita Pearce dan Chicco Jeriko sebagai pemainnya.

Meski karya-karya Garin Nugroho yang lain lebih “dark” dan cenderung segmented, namun kepiawaiannya dalam menyusun cerita saya rasa tidak akan terkendala oleh nuansa pop yang ditawarkan 99 Nama Cinta. Lagipula produser kreatif dalam film 99 Nama Cinta ini adalah Lukman Sardi yang saya yakin ia hanya akan meloloskan film berkualitas untuk kita tonton.

Sudah notnon trailer film 99 Nama Cinta di atas? Sudah tertarik, kah? Ayo, kita ke biosop pada 14 November 2019. Acha Septriasa dan Deva Mahendra sudah menunggu kita di sana!

24 Agustus 2019

film galin dan ratna

Menonton film Indonesia dengan genre romance bukan merupakan kebiasaan saya selama ini. Dari sekian banyak judul film dengan genre ini, hanya segelintir judul yang sudah saya tonton. Salah satunya adalah film Galih dan Ratna yang tayang di bioskop pada 2018, namun baru saya tonton di Agustus 2019.

Mungkin ini akan jadi film romance pertama yang saya review (kalau nggak salah). Hehehe. Baiklah, mari kita coba melihat film ini dari berbagai hal. Setidaknya, dari hal-hal yang terpantul dari kacamata saya sebagai penonton awam. Btw, ini bakal spoiler.

Pertama, mengulang (remake) kisah cinta Galih dan Ratna di bangku SMA mungkin terdengan klise. Hal apa yang akan membuat sebuah film remake menjadi menarik? Mengubah setting waktu menjadi kekinian? Formula seperti itu mungkin justru terasa lebih klise lagi. Tapi, film Galih dan Ratna bagi saya telah memecahkan persoalan klise tersebut.

Menurut saya, setting kekinian yang diimbangi dengan sosok Galih yang retro membuat nuansa film ini tidak kehilangan kepuitisan masa-masa SMA di zaman dulu. Galih yang merupakan anak dari seorang penjual kaset, memiliki kecintaan luar biasa terhadap media analog pada musik. Hal ini membuatnya terlihat berbeda daripada anak-anak SMA pada umumnya, terutama di mata Ratna. Setidaknya bagi Ratna (murid pindahan dari Jakarta yang followers-nya 20K), menemukan sosok Galih di lingkungan sekolahnya yang baru itu terasa seperti menemukan oasis di tengah gurun yang tandus. Sejuk dan bikin antusias.

Kedua, memang eksekusi sinematografinya tidak terlalu muluk-muluk. Tapi, saya menyukai pemilihan angle, tone, dan tempo yang konsisten serta sesuai di setiap nuansa yang mau di bangun. Nuansa sedih, bahagia, dan bingung terkesan relateable dengan kehidupan saya sehari-hari. Namun di antara hal-hal yang saya sebutkan itu, tentu pemilihan musik adalah yang paling indah menurut saya.

film galih dan ratna

Ketiga, mungkin ini yang ditunggu-tunggu. Kita mulai membicarakan soal cerita. Dari awal sampai akhir, cerita yang berusaha dipresentasikan menurut saya tidak ada masalah. Tapi justru itu masalahnya.

Yang ingin saya katakan adalah cerita dalam film Galih dan Ratna sangat aman. Sebagai sebuah tontonan tentu film ini enak dinikmati. Cara pengenalan tokohnya bagus, pemunculan masalahnya bagus, ritme emosinya bagus, bahkan beban cerita antara Galih dan Ratna pun juga bagus karena komposisi mereka sebagai dua karakter utama bisa dimunculkan dalam porsi yang adil.

Tapi, tidak ada kejutan apapun dalam keseluruhan cerita ini. Penulis sepertinya memang tidak merancang hidden sign yang akan dimunculkan di akhir cerita. Pernah nggak ketika kamu nonton film terus pas sampai detik-detik film hampir selesai kamu diperlihatkan sesuatu yang bikin kamu menggumam, “Oooh.. Jadi yang tadi tuh maksudnya ini.” Kesan semacam ini memberi dampak yang membekas bagi penonton, khususnya bagi saya. Kesan saya tentu bukan representasi dari semua penonton. Jika kamu tidak sependapat, bagikan komentarmu dalam kolom komen di bawah, dong. Alangkah menyenangkannya jika kamu mau berbagai pandangan kepada saya.

Baca juga: Pengabdi Setan Ala Joko Anwar

Ngomong-ngomong soal kesan, saya sangat suka dengan masalah yang muncul akibat mixtape yang lupa dikunci oleh Galih. Kadang kita terlalu bersemangat sampai-sampai membuat gugup diri kita sendiri saat memperjuangkan sesuatu demi seseorang. Saking gugupnya, beberapa hal yang sudah dilakukan bisa jadi berantakan. Jika saat-saat seperti itu terjadi, tubuh seolah ditimpa oleh bongkahan batu yang disebut “rasa bersalah”. Akibatnya, rasa percaya diri bisa menurun dan keraguan semakin meningkat.

Untunglah Ratna punya cara terbaik untuk mengubah keadaan yang membuatnya pilu itu. Saya pikir, tindakan Ratna terhadap masalah itu akan berdampak besar bagi Galih. Kepercayaan diri bisa tumbuh kembali dan keraguan bisa merunduk lagi. Meski rasa bersalah tidak akan hilang seketika, namun melihat Ratna yang masih mau membuka diri membuat Galih bersemangat untuk menebus kekeliruannya. Ratna di sini hebat, bisa bangkit setelah dijatuhkan Galih.

Selain itu, ada juga sisi cerita yang jadi favorit saya. Yaitu ketika Ratna membeli kaset-kaset Galih dalam jumlah yang banyak dan mengaku kalau ada orang lain yang memesan itu dari Jakarta. Melihat situasi Galih yang membutuhkan uang, Ratna mengambil inisiatif untuk membantunya meski harus berbohong. Wajar kah apa yang dilakukan Ratna? Dan wajarkah kalau Galih marah karenanya? Bagikan pendapatmu juga soal ini jika berkenan. Hahaha.

Kalau menurut saya, apa yang dilakukan Ratna dan bagaimana reaksi Galih itu relateable juga di kehidupan sehari-hari. Mungkin kita pernah berbohong untuk membantu orang yang kita sayangi. Tapi setelah tahu bahwa hal itu adalah kebohongan meski berniat baik, kita pun akan marah jika diperlakukan seperti itu, bukan?

Memang muncul ambivalensi di sini, yaitu kebohongan dan niat baik. Kita benci dibohongi. Tapi kita suka ketika seseorang berniat baik pada kita. Dualisme perasaan untuk meresponnya pun muncul. Apakah mau mengutuk kebohongan atau menyambut niat baik? Persoalan ini tidak bisa dipecahkan dengan menghitung peluang ala ilmu matematika. Kalau soal perasaan semacam ini, sikap dan cara berpikir individu yang bisa menjawabnya.

Kesimpulannya, film Galih dan Ratna adalah film yang nikmat ditonton. Di dalamnya, kita bisa memaknai kasih sayang lebih jauh lagi. Tidak hanya kasih sayang antara dua sejoli, namun juga antara anak dan orangtua. Tidak luput, mengekspresikan kasih sayang terhadap seseorang itu penting dan sebaiknya dilakukan dengan cara-cara yang baik. Tidak semua orang bisa menciptakan lagu untuk kekasihnya, tapi Galih bisa menyusun playlist untuk mengekspresikan perasaannya kepada Ratna dalam sebuah kaset jadul. Sederhana, romantis, dan bermakna. Disitulah kasih sayang itu bersemayam, bukan?



FILM GALIH DAN RATNA (2017)
Drama | Romance | 1 jam 52 menit | 9 Maret 2017
Sutradara: Lucky Kuswandi
Penulis Naskah: Fathan Todjon
Pemeran: Refal Hady, Sheryl Sheinafia, Marissa Anita


Copyright foto: IMDb - Galih dan Ratna

3 Agustus 2019

film mahasiswi baru

Umumnya, representasi orang lanjut usia (lansia) di dalam film Indonesia dihadirkan dalam tiga situasi. Yaitu sebagai orang bijaksana, orang kolot, dan sosok mistis.

Ketika memerankan karakter orang bijaksana, golongan lansia dianggap sudah khatam soal urusan kehidupan. Oleh karenanya, mereka seringkali muncul sebagai penasehat bagi karakter utama yang biasanya jauh lebih muda.

Jika sebagai orang kolot, kita bisa menemukan sosok lansia sebagai orang yang menyebalkan, berpikiran tertutup, dan keras kepala. Biasanya kelompok ini diberi peran untuk menyusahkan karakter utama atau bisa juga muncul sebagai pemicu tawa dengan menjadikan kekolotan mereka untuk diperolok.

Nah, yang terakhir adalah sosok lansia sebagai sosok mistis. Kita bisa dengan mudah menemukan sosok lansia sebagai ahli spiritual, dukun, bahkan hantu gentayangan. Dalam posisi ini, peran lansia bisa jadi pemecah masalah atau justru pusat dari segala masalah.

Dengan melihat peran-peran di atas, saya menyadari jika industri perfilman kita ternyata menyuburkan stigma terhadap golongan lansia. Bahwa lansia merupakan karakter yang rigrid sehingga peran yang muncul tidak banyak mengelaborasi sisi lain dari lansia.

Stigmatisasi tersebut seolah ingin menjauhkan jarak antara lansia dengan golongan muda. Misal, jika dalam sebuah produksi film terdapat anak muda yang gegabah, maka muncullah lansia yang bijaksana. Jika anak muda sebagai orang yang pintar, maka lansia harus kolot. Jika anak muda suka hura-hura, maka lansia harus taat agama. Jika anak muda acuh terhadap nilai-nilai tradisi, maka lansia harus menjaga nilai-nilai tersebut seperti yang biasa kita temui di film horor di mana sekelompok remaja diteror sosok gaib karena merusak benda-benda kramat.

Munculnya jarak seperti yang disebut di atas menjadi bermasalah karena konten yang disajikan mensigmatisasi golongan lansia di hadapan penonton yang mayoritas bukan lansia. Saya pernah melakukan penelitian sederhana soal ageisme (diskriminasi usia) yang kerap terjadi di media. Dalam wacana yang serupa itulah, menurut saya film-film di Indonesia masih kurang inklusif bagi lansia.

Representasi Lansia dalam Film Mahasiswi Baru


Istilah “lansia” yang merupakan akronim dari “lanjut usia” sebenarnya memiliki makna yang netral. Namun, stigmatisasi terhadap mereka membuat istilah lansia menuai kesan yang kurang baik. Lansia sering dilekatkan pada stereotip soal ketidakberdayaan, tidak menyenangkan, merepotkan, kasihan, dan lain sebagainya.

Namun, bagaimana jika stereotip tersebut disangkal oleh Monty Tiwa dalam film terbarunya?

Saya hampir tidak percaya bahwa ada film Indonesia yang menyelesaikan PR soal diskriminasi usia di industri perfilman kita. Film yang saya maksud adalah Mahasiswi Baru.

Film Mahasiswi Baru berkisah tentang seorang lansia yang ingin berkuliah di sebuah universitas dengan jurusan Ilmu Komunikasi. Orang ini kita kenali dengan nama Lastri (Widyawati). Di usianya yang senja, Lastri memulai kehidupan kampusnya dengan berbagai drama karena referensinya soal dunia perkuliahan masih tertinggal di era Orde Baru, mungkin.

Sosok Lastri sebagai lansia sekaligus mahasiswi baru, ternyata menimbulkan berbagai chaos di kampusnya. Lastri tidak sendiri. Ia ditemani oleh Dani (Morgan Oey), Sarah (Mikha Tambayong), Erfan (Umay Shahab), dan Reva (Sonia Alyssa).

Penggambaran Lastri di film Mahasiswi Baru menurut saya cukup menarik. Sebab, ia dipresentasikan sebagai lansia dengan kompleksitas seperti orang-orang pada umumnya. Lastri juga mengalami kasmaran, pertengkaran keluarga, perlawanan kehendak, kesedihan, rasa bersalah, dan lain sebagainya yang selama ini jarang disematkan pada karakter lansia.

Selain itu, film ini juga dimanfaatkan dengan baik sebagai sarana menyampaikan kritik sosial. Bocoran sedikit, ya, yaitu ketika Dekan Khoirul (Slamet Rahardjo) memarahi Erfan, begini: “Tahu apa kamu soal demokrasi? Beda pendapat dikit saja sudah main fisik.” Dyarrr.

Baca juga: Review Film Galih dan Ratna 2017

Secara keseluruhan, Mahasiswi Baru merupakan film bergenre drama komedi yang patut kamu tonton di bulan ini. Jika kamu jarang notnon bareng orangtua, maka saya merekomendasikan film ini untuk kamu tonton bareng orangtua masing-masing karena film ini ramah bagi siapapun dengan usia berapapun.

Masih penasaran? Belum yakin? Silakan tonton dulu trailernya, ya.


Sumber video: Official MNCP Pictures

Kamu bisa menyaksikan film Mahasiswi Baru mulai 8 Agustus 2019 di bioksop termurah favoritmu. Komedinya tidak cringe, kok. Sepanjang film saya sangat menikmati dan bisa tertawa lepas. Sampai-sampai saya lupa menenggak air minum karena saking asyiknya mengikuti kisah Lastri.

Header: Photo by Huỳnh Đạt from Pexels

9 Mei 2019


Genre film apa yang paling kamu suka? Apakah film laga? Atau bisa jadi film romantis menjadi pilihan pertama kamu?

Film romantis biasanya dirancang untuk mengaduk-aduk emosi penonton. Apalagi kalau kisah yang diangkat relevan dengan kisah hidup kita. Meski kadang nggak sedramatis itu, tapi ada beberapa momentum manis yang bisa terjadi dalam hidup kita. Kita bisa tertawa dari komedinya, bisa sedih karena dramanya, atau sampai senyum-senyum sendiri karena kutipan kata-kata romantisnya.

Apa sih yang bisa kita dapatkan dari nonton film romantis? Tentu saja bukan adrenaline rush, melainkan sensitivitas romansa yang bisa dipoles dengan kutipan romantis yang ada dalam film. Oleh karena itu, tidak heran jika kemudian banyak adegan atau kutipan-kutipan legendaris dari film romantis Hollywood yang jadi inspirasi.

Nah, buat kamu yang sudah kehabisan stok kutipan romantis, berikut ini saya suguhkan 10 kutipan kata-kata romantis dari film Hollywood sepanjang masa yang bisa kita pakai untuk bikin pasangan jatuh hati.

Love Actually (2003)


Sutradara: Richard Curtis 
Pemain: Keira Knightley, Hugh Grant, Liam Neeson, Rowan Atkinson, Bill Nighy, Colin Firth
Kata-Kata Romantis: “To me, you are perfect.” – Andrew Lincoln


The Fault in Our Stars (2014)


Sutradara: Josh Boone
Pemain: Shailene Woodley, Ansel Elgort, Nat Wolf
Kata-Kata Romantis: “It would be a privilege to have my heart broken by you.” – Augustus Waters


Notting Hill (1996)


Sutradara: Roger Michell
Pemain: Hugh Grant, Julia Roberts, Rhys Ifans
Kata-Kata Romantis: “I’m just a girl, standing in front of a boy, asking him to love her.” – Anna Scott

Gone with the Wind (1939)


Sutradara: Victor Fleming
Pemain: Vivien Leigh, Clark Gable, Olivia de Havilland
Kata-Kata Romantis: “You should be kissed and often, and by someone who knows how.” – Rhett Butler


Serendipity (2001)


Sutradara: Peter Chelsom
Pemain: Kate Beckinsale, John Cusack, Jeremy Piven
Kata-Kata Romantis: “It’s like in that moment the whole universe existed just to bring us together” – Jonathan Trager

Say Anything... (2013)


Sutradara: Cameron Crowe
Pemain: John Cusack, Ione Skye, John Mahoney
Kata-Kata Romantis: “What I really want to do with my life — what I want to do for a living — is I want to be with your daughter. I’m good at it.” - Lloyd Dobler

The Notebook (2004)


Sutradara: Nick Cassavetes
Pemain: Ryan Gosling, Rachel McAdams, Gena Rowlands, Sam Shepard
Kata-Kata Romantis: “So, it’s not gonna be easy. It’s gonna be really hard. We’re gonna have to work at this every day, but I want to do that because I want you. I want all of you, forever, you and me, every day.” - Noah Calhoun

Pride & Prejudice (2005)


Sutradara: Joe Wright
Pemain: Keira Knightley, Matthew Macfadyen, Donald Sutherland, Brenda Blethyn, Rosamund Pike, Talulah Riley, Carey Mulligan, Judi Dench
Kata-Kata Romantis: “You have bewitched me, body and soul, and I love… I love… I love you.” - Mr. Darcy

50 First Dates (2005) 


Sutradara: Peter Segal
Pemain: Adam Sandler, Drew Barrymore, Rob Schneider, Sean Astin, Blake Clark
Kata-Kata Romantis: “I love you very much, probably more than anybody could love another person.” – Henry Roth

When Harry Met Sally... (1989)


Sutradara: Rob Reiner
Pemain: Meg Ryan, Billy Crystal, Carrie Fisher, Bruno Kirby
Kata-Kata Romantis: “When you realize you want to spend the rest of your life with somebody, you want the rest of your life to start as soon as possible.” - Harry Burns


Nah, itu dia daftar 10 film romantis Hollywood sepanjang masa yang kutipan dialog pemerannya jadi legendaris. Gimana sudah ada inspirasi belum? Kalau ada rekomendasi lain boleh loh disertakan di kolom komentar.

Selamat menjadikan film-film diatas daftar film akhir pekanmu!


Header source: Simon Matzinger via Pexels.com

20 Februari 2019



Bagi kelas menengah seperti saya, menonton film di bioskop tidak bisa saya lakukan setiap hari. Jadi saya harus mereduksi film apa saja yang sekiranya seru untuk ditonton di layar lebar. Jawabnya adalah film yang diadaptasi dari komik. Mengapa?

Saya selalu suka genre science fiction dan fantasy. Saya menyukainya karena film-film semacam itu tidak tersentuh di dunia nyata saya. Jadi saya merasa begitu terhibur dengan hiperialitas yang ditawarkan. Meskipun fiksi dan fantasi, film tetaplah buah pikir dari otak manusia. Nah, imajinasi manusia itulah yang terasa sangat lezat bagi pikiran saya. Sehingga ketika nonton film dengan genre semacam ini, saya akan mengupayakan untuk menontonnya dengan fasilitas terbaik. Yaitu, nonton di bioskop.

Sebagai watching list di 2019, saya menuliskan lima film hasil adaptasi komik Marvel dan DC yang menarik untuk ditonton di bioskop.

Spiderman: Far From Home



Petualangan Peter Parker melawan kejahatan di masa pubernya tentu saja menarik untuk kita ikuti. Apalagi kali ini Spiderman akan berhadapan dengan Mysterio, salah satu anggota penjahat Sinister Six yang selama ini belum pernah muncul di film Spiderman versi manapun. Bicara soal karakter jahat dalam kehidupan Spiderman selalu menarik untuk saya kulik. Saya pernah menulis tentang beberapa villainyang muncul dalam film Spiderman: Homecoming meskipun hanya sebagai easter egg.

Lho, kan Peter Parker sudah menjadi debu? Nah, ingatkah kamu pada film Infinity War, Peter Parker muncul saat ia sedang berada di dalam bus bersama teman sekolahnya. Pada saat itu ia tengah pulang dari acara sekolah yang mana adalah latar kejadian pada Spiderman: Far From Home nantinya.  Film ini rilis 5 Juli 2019 di USA.

2.      Captain Marvel



Kemunculan Captain Marvel belum pernah saya dengar sebelum after credit scene di film Infinity War menunjukkan hal tersebut. Antusias? Tentu saja. Captain Marvel menjadi kunci penting untuk kelanjutan seisi alam semesta yang didebukan oleh Thanos. Melalui trailer yang telah rilis, kita juga akan diajak untuk melihat bagaimana Fury pertama kali terlibat dengan hal-hal super di muka bumi ini. Dan satu lagi, Captain Marvel adalah film superhero perempuan pertama yang mendapat jatah film solo di MCU. Film ini rilis 8 Maret 2019 di USA. Apakah kamu juga antusias menyambut film ini?

3.      Avengers: End Game



Bagaimana kelanjutan dari orang-orang yang didebukan oleh Thanos? Buat yang mengikuti petualangan Avengers melindungi dunia, pasti Avengers: End Game ini sudah jadi tontonan wajib tahun ini. Saya tidak mau menaruh ekspektasi bahwa endingnya bakal bahagia. Karena kalau dililihat ke belakang, beberapa film Avengers pasti menggugurkan salah satu karakter yang saya favoritkan, sebut saja Quicksilver dan Vision. Awas saja kalau Dr. Strange dimatiin juga. Film ini rilis 26 April 2019 di USA.

4.      Dark Phoenix



Geliat film X-Men tidak pernah terhenti meski sang juru kunci, Wolverine, sudah tutup usia di film Logan. Kali ini Jean Grey mendapat film solonya sebagai saingan dari film superhero perempuan, Captain Marvel, tahun ini. Seperti Captain Marvel, Jean juga memiliki kekuatan super yang begitu besar dan desktruktif. Meski masih dalam satu komik yang sama, Dark Phoenix sepertinya akan lebih suram dan galau daripada Captain Marvel. Mari kita buktikan pada 7 Juni 2019.

5.      Hellboy



Pada 2004 dan 2008, Hellboy memang sudah muncul di layar lebar. Tapi Hellboy kali ini bukan merupakan kelanjutan dari versi sebelumnya. Hellboy juga jadi salah satu karakter favorit saya. Soalnya, kekuatan yang ia miliki berangkat dari gejala supernatural, bukan kecelakaan ilmiah seperti Hulk atau The Thing. Film ini rilis 12 April 2019 di USA.

Nah, beberapa film yang saya uraikan di atas apakah juga ingin kamu tonton? Saya sih sudah siap-siap untuk menontonnya di bioskop agar lebih terasa gelegarnya. Untung di Jakarta ada banyak pilihan bioskop, jadi bisa segera merapat ke bioskop begitu film rilis agar tidak terpapar spoiler dari netizen. Rencananya saya dan kekasih saya mau nonton Captain Marvel di Cinemaxx. Kebetulan ada lokasi yang dekat dengan rumah kami, lagipula tempatnya sangat nyaman. Eh, enaknya direview nggak nih kelima film di atas nantinya?

Header: Rawpixel via pexels.com
Poster: imdb.com

7 Januari 2019


Menurut saya, film Pengabdi Setan besutan Joko Anwar ini adalah film yang sangat bagus, tapi bukan film horor yang terlalu seram.

Kedua hal tersebut perlu dibedakan, sebab saya risih dengan beberapa komentar yang mengatakan film ini tidak bagus hanya karena kurang seram. Well, tiap orang tentu bebas menilai sebuah film. Tapi hambok ya agak nganu dikit gitu, lho.

Sebelum membicarakan filmnya, saya ingin curhat sebentar. Begini, saya berangkat menonton film ini sendirian. Bukan karena jomblo. Justru dari beberapa kilometer di sebrang sana kekasih saya juga sedang menonton film Pengabdi Setan, tapi versi pertamanya (1979) dan rencananya kami akan saling mendiskusikan itu. Namun, terlepas dari itu, ada satu hal menyebalkan yang harus saya rasakan di dalam bioskop. Apalagi kalau bukan celetukan berisik di kanan dan di kiri.

Bukan. Bukan orang spoiler. Ada yang lebih parah dari itu, yaitu tipe penonton yang kebanyakan maido dan sambat. Dua istilah Jawa ini kalau dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai perilaku menyangkal dan mengeluh.

Biar lebih jelasnya gini, ketika ada scene di mana Rini (Tara Basro) berjalan ke kamar ibunya setelah terbangun dari mimpi buruk, dua perempuan di samping saya bilang gini, “Kuwi yo ngopo tho ndadak marani barang. Nek aku ngono tak tinggal turu neh.” Dalam bahasa Indonesia berarti, “Itu ngapain sih malah mendatangi segala. Kalau aku gitu mending kutidur lagi aja.” Dalam batinku tentu saja menyeruak ucapan-ucapan terpuji macam, “Asui, namanya juga film. Kalau serem dikit tidur, serem dikit tidur, mana jadi cerita. Bajindul tenan.”

Dan celotehan-celotehan seperti itu berdenging sampai film selesai. Tipe penonton maido dan sambat ini ketika memutuskan untuk nonton film, apa yang mereka harapkan, ya? Bayangin aja, tiap ada yang ‘nggak semestinya’ selalu saja diprotes. Ada foto seram di ujung lorong, protes. Ada anak kecil pergi pipis malem-malem sendirian, protes. Bahkan, para tokoh yang tidur di kamar masing-masing juga diprotes! Luar biasa memang. Masak mereka bilang, “Udah tahu ada penampakan-penampakan, mbokya nggak tidur sendiri-sendiri, gitu.” Ada juga yang bilang, “Itu istrinya lagi sakit malah ditinggal tidur di ruang tamu. Mbokya ditemenin, biar kalau ada apa-apa nggak usah repot-repot manggil pakai lonceng.”

Aku ingin sekali teriak, “Woy! Kalau ceritanya kayak yang lu omongin. Ngapain lu nonton. Ngelamun aja sono!” Tapi sayang, aku lebih milih diem biar nggak ganggu penonton lain. Sebuwah prinsip!


Sekelumit Tentang Pengabdi Setan

Saya yakin sudah banyak sinopsis yang bertebaran, review yang bergelimpangan, dan spoiler yang bergelayutan di mana-mana. Namun, saya akan tetap menuliskan sedikit cerita dalam film ini di sini.
Film ini sebenarnya bermula saat rambut Ibu mulai rontok. Toni, anak kedua dari Ibu ini, memang senantiasa menyisir rambut Ibunya yang sedang sakit setiap malam. Ketika mendapati rambut Ibu mulai rontok, ia menjanjikan sebuah obat anti rontok kepada Ibunya. Tapi sayang, usia Ibu tidak lama. Ibu meninggal dunia dan dikebumikan di pekuburan yang tidak jauh dari rumahnya. Dalam peraduannya Ibu tidak bisa tenang. Ibu kembali ke rumahnya sebagai setan, dan ia meminta untuk disisirin lagi rambutnya. Mampukah Ibu mengatasi rambut rontoknya? Penasaran? Tonton filmnya.
Ah, nggak. Bercanda. Hwehehe.

Adegan yang saya sebut-sebut di atas memang ada. Tapi bukan itu inti filmnya. Dalam mempromosikan film ini, di mana-mana Joko Anwar cuma mengatakan kalau film ini tentang keluarga yang ditinggal mati oleh sosok Ibu. Lalu Ibu itu kembali ke rumah untuk menjemput anak-anaknya. Pertanyaan yang terbesit tentu saja bukan, “Apakah Ibu ini berhasil menjemput anak-anaknya? “ atau, “Apakah anak-anaknya akan selamat?” Tidak. Tentu tidak demikian. Pertanyaan yang tepat dari sinopsis singkat itu adalah, “Mengapa?”

Mengapa Ibu itu menjemput anak-anaknya? Mengapa Ibu meninggal dengan cara tak wajar? Pertanyaan-pertanyaan itu yang secara apik dijawab pelan-pelan dalam film Pengabdi Setan ini. Dan tentu saja sebagai garda depan perjokoanwaran, kita harus memaklumi dengan senyum manis ketika twist demi twist dimainkan.

Alasan Mengapa Film Pengabdi Setan Tidak Terlalu Menakutkan

Saya sendiri menilai film ini sangat bagus. Mulai dari cerita, acting para pemainnya, sinematografi, dan mise-en scene yang begitu estetik bagi saya. Namun, jika ditagih soal ketakutannya, sih, mohon maaf. Tidak terlalu menakutkan.

Lho kok bisa?

1. Kurang Kaget

Kalau kata kekasih saya, “Setannya udah ancang-ancang dulu sebelum keluar.” Hahaha. Sepanjang film memang saya berharap ada penampakan dan teror yang membabi buta tiap menitnya. Hal ini ternyata malah mengurangi kenikmatan menonton karena saya sudah terlalu siap untuk kaget. Berbeda sekali dengan pengalaman saya menonton film Get Out yang saya pikir itu adalah film drama percintaan, ternyata thriller. Teleq ucink!

2. Kurang Tersiksa

Entah saya yang agak psiko atau apa, tapi memang saya kurang merasa ngeri karena tokoh-tokoh yang ada di dalam film itu tidak ada yang lecet-lecet, patah tulang, kesleo, babak belur, atau ngucur-ngucur darah sekalipun (ada sih, tapi langsung meninggal). 


Jujur saja, saat adegan di mana tangan Rini ditarik ke luar jendela itu saya berharap tangannya terluka karena gigitan atau cakaran. Tapi ya mau bagaimana lagi, sejak awal film memang sudah ada penengasannya dalam dialog, “Orang mati itu tidak bisa melukai kita. Yang bisa itu perampok, pencuri..” Lagipula, kenapa sih Ian diceritakan bawa-bawa pisau segala kalau nggak dipakai buat nujes-nujes? Huhhah. Gemes.

3. Kurang Lama

Adegan dikejar-kejar mayat hidup sebanyak itu menurutku kurang lama dan kurang dekat mengepungnya. Kejauhan anjir ngepung rumahnya. Malah pada baris kayak mau senam sehat pagi-pagi di CFD. Jadi pas saya baru mulai deg-degan gitu, taraaaa, penyelamat datang. Lah, rurang lamaaa.

4. Kurang Terpencar

Porsi di mana anggota keluarga itu terpencar menurut saya kurang banyak. Ya, bagi saya sih salah satu kehororan itu adalah saat kita sedang sendiri. Jadi mengombinasikan kesendirian dan teror bisa jadi kengerian yang bertambah. Setidaknya lebih bikin deg-degan daripada ramai-ramai. Tapi sayang, empat orang yang diteror itu melewati kejaran demi kejaran dengan berpelukan bersama. Hal ini membuat saya percaya bahwa Bapak dari keluarga tersebut pasti bernama Tinky Winky.



Keempat hal yang saya sebutkan di atas bukanlah poin-poin kesalahan dalam film ini. Tidak. Film Pengabdi Setan tidak salah. Saya hanya mengutarakan apa yang ada di imajinasi saya terhadap film ini. Setidaknya, saya menuliskannya di sini. Tidak diceletukkan ketika nonton di bioskop macam penonton maido dan sambat. Duhdek, pengen rasane tak klakson lambemu.

Salah satu hal yang aku suka dari Pengabdi Setan ini adalah sosok setan-setan yang terjangkau. Menurut saya setan yang transparan, bisa tembus benda, dan melayang-layang bukanlah sosok setan yang menyeramkan. Tapi justru setan yang bisa jalan, turun tangga, buka pintu, dan juga bisa tahiyat akhir itu lebih horor karena terkesan lebih kuat begitu.

Sederhananya begini, setan transparan itu imejnya seperti terbuat dari partikel cahaya dan udara. Saya pribadi belum pernah terluka karena cahaya dan udara. Jadi saya kurang ada gambaran bagaimana rasanya kalau setan transparan melukai saya. Tapi setan yang berwujud padat itu lebih membuat saya percaya bahwa ia bisa melukai saya. Karena tentu saya pernah tergores, tercakar, tergigit, terpukul oleh benda-benda padat.

Nah, di film Pengabdi Setan sebenarnya berpotensi besar menawarkan teror yang bikin ngilu. Tapi ternyata Joko Anwar terlalu baik untuk tidak melukai para tokohnya secara fisik. Ya, sebut saja Pengabdi Setan ini adalah film horor yang baik. Mungkin memang Joko Anwar cuma mau membawa horornya saja, tidak melibatkan thriller atau slasher untuk menguatkan bumbu-bumbu teror.


Film: Pengabdi Setan // Tahun: 2017 // Rate IMDB: 8,4 // Genre: Horor Baik

Sebelum saya akhiri tulisan ini, sekali lagi saya ingin menghimbau kepada para penonton film-film Indonesia untuk tidak memprotes film di dalam bioskop. Mungkin memang ada hal-hal lebay atau terlalu ‘nggak mungkin’ yang terjadi di dalam film. Itu wajar. Memang harus begitu ceritanya biar tidak monoton. Jadi jangan bandingkan pengalaman hidup kita dengan apa yang terjadi di dalam film.

Uniknya, hal ini seringkali tidak terjadi untuk film-film luar. Karena mungkin penonton percaya begitu saja dengan apa yang disajikan dalam film gara-gara ia tidak memiliki pengetahuan nyata terhadap situasi sosial di luar negeri sana. Sementara kalau di Indonesia tidak begitu. Pernah saya menonton film pendek di YouTube dari MBCM yang berjudul Taksi. Saat saya membaca komentarnya, ada yang bilang, “Goblok. Kok nggak pesen grab aja sih?” Laaahhh..!

Untuk itulah mungkin alasan kenapa setiap film yang Joko Anwar bikin selalu saja latar (setting) ceritanya itu tidak diberitahukan. Mulai dari Kala, Modus Anomali, Pintu Terlarang, A Copy of My Mind, dan Pengabdi Setan ini tidak ada keterangan yang menyatakan bahwa semesta yang ada di film itu adalah Indonesia. Syutingnya sih, iya, di Indonesia. Tapi latar yang dibangun dalam film itu, tuh, bukan Indonesia. Coba, pernah ada nama kota atau kampung yang disebut di dalam film-filmnya Joko Anwar apa tidak? Setahu saya, tidak ada. Di film Kala pun ada dialog yang cuma bilang, “Saya mau pindah ke tenggara.”

Begitulah, jangan ribut kalau nonton film di bioskop, ya. Karena yang boleh ribut itu cuma mertuamu sing mbok tinggal mlayu.

Sekian dulu tulisan review saya kali ini. Ada banyak sekali spoiler karena memang tulisan ini saya tujukan kepada kamu-kamu yang sudah menonton filmnya. Sehingga kita bisa diskusikan ini bersama. Kalau kata Tiwi, “Review itu ya pasti spoiler. Kalau tidak spoiler namanya resensi.”


All image source: bintang.com

8 Juni 2018


Kita tahu, bahkan sangat yakin terhadap kekayaan alam yang dimiliki oleh negeri ini begitu besar. Besar lahannya, besar potensinya, besar pula sumbangsihnya terhadap dunia. Alam Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke merupakan harta karun yang dipamerkan di mata dunia. Meski demikian, penikmat sejati alam-alam ini bukanlah saya, kita, atau sebagian besar penduduk negeri ini. Tapi mereka.

Mereka adalah orang-orang digdaya yang tidak tersentuh oleh tangan kotor saya. Mereka bersembunyi di balik nama perusahaan yang besar. Mereka berlindung di dalam kerajaan yang mereka bangun. Para pengusaha besar yang mengeksploitasi alam menjadi rentetan angka tak terhingga di rekening mereka. Dan kita, adalah budak yang enggan mengaku.

Beberapa saat lalu, saya dan Tiwi terlibat dalam sebuah acara diskusi film. Bukan film yang tayang menggelegar di bioskop-bioskop, tapi film dokumenter yang begitu sunyi. Mungkin judulnya tidak terlalu ramai dibicarakan, meski isi di dalam film itu mestinya menjadi sebuah pertanyaan besar yang patut dimusyawarahkan bersama sambil ngopi.

FILM ASIMETRIS

Poster Film Asimetris (Sumber: jendelapost.com)
 Film berdurasi satu jam ini memperlihatkan kepada saya gambaran nyata bagaimana hutan-hutan, khususnya kelapa sawit, dieksploitasi dengan beringas. Ada banyak narasumber yang terlibat dalam film Asimetris ini, mulai dari pekerja hingga pemilik lahan sawit itu sendiri.

Secara keseluruhan, film ini mengupas bagaimana kelakuan perusahaan besar terhadap hutan sawit beserta dampak yang dihasilkan. Beberapa yang masuk dalam sorotan, seperti kesejahteraan para pekerja yang timpang sekali dengan glamornya iklan-iklan sabun di televisi, penerabasan lahan warga baik yang terang-terangan menyerobot hingga yang diam-diam dimaling, serta tak luput pula dengan limbah yang menyengsarakan masyarakat setempat.

Kita paham betul bahwa produk-produk yang berbahan kelapa sawit seperti minyak dan sabun, misalnya, merupakan bagian dari kebutuhan sehari-hari kita. Kita tahu betul kalau kebersihan tubuh kita senantiasa membuat kita sehat dan kelezatan kulit ayam KFC hanya akan tercipta melalui proses cipta dengan minyak goreng. Kita memang ‘butuh’ produk-produk itu. Memang ‘butuh’.

Mengapa ada tanda kutip dalam kata butuh barusan?

Setuju atau tidak, kebutuhan yang kita yakini saat ini adalah hasil rekonstruksi budaya. Bukan kebutuhan secara alami. Dewasa ini, yang namanya mandi memang lumrah atau bahkan harus menggunakan sabun. Lalu jika tidak mandi dengan sabun, apakah lantas kita mengkhianati tubuh kita sendiri? Apakah mandi menggunakan watu kali adalah cara yang salah? Dan apakah mandi dengan air saja adalah salah satu perbuatan sia-sia yang akan menjebloskan kita ke dalam neraka?

Tentu tidak. Tapi mengapa kok rasanya ada yang kurang kalau mandi tanpa sabun? Sekali lagi, rekonstruksi budaya, tubuh kita telah dikondisikan untuk butuh terhadap sabun. Mulai dari petuah-petuah orang tua hingga gempuran iklan di televisi membuat sabun menjadi sebuah keharusan dalam ritual mandi kita.

Bahkan, lagu hits aku belum mandi tak tun tuang juga memiliki peran kuat dalam membangun tipu daya itu tadi. Coba ingat-ingat liriknya yang berbunyi, ‘apalagi mandi tak tun tuang tak tun tuang, pasti cantik sekali’. Lalu kita senyawakan dengan lagu anak berbahasa Jawa berikut ini: bebek adus kali, nututi sabun wangi (bebek mandi di sungai, mengikuti harumnya sabun).

Dari dua bongkahan lagu di atas kita tahu bahwa mandi berbanding lurus dengan kecantikan dan mandi identik dengan sabun. Iklan-iklan sabun di televisi, selain menjajakan kesehatan pun juga menggombal soal kecantikan, bukan? Imaji indah yang dibentuk media itulah yang kemudian secara vulgar diciderai oleh film Asimetris.

Sebab dalam film tersebut, kemalangan, kesenjangan, kesulitan, hingga penyakit yang dialami oleh warga sekitar industri kelapa sawit menjadi persoalan yang tidak mendapat panggung di mata publik. Saya begitu ngilu ketika melihat warga setempat beraktivitas di tengah kepulan asap. Terlebih saat sorot kamera menangkap gambar anak-anak kecil dan mendengarkan narator yang menyebut besaran angka yang merujuk pada bayi-bayi yang mengalami gangguan pernafasan.

Selain ngilu, hal menggelikan juga ternyata terjadi di lapangan. Peristiwa yang saya maksud adalah saat pemerintah melakukan sidak ke lahan kelapa sawit yang dikelola oleh perusahaan. Siapa sangka, proses sidak mengalami kendala oleh hadangan dari petugas keamanan perusahaan tersebut. Alangkah lucu ketika petugas keamanan itu mengatakan, “Nggak bisa. Mau sidak, mau apa, juga harus ada izinnya dulu. Kalau tidak ada izin, tidak boleh masuk.”

Ya kalau izin dulu namanya bukan sidak lagi, Pak. Study banding barangkali.

Arogan jika saya menyalahkan bapak petugas itu. Mau bagaimana lagi, beliau bersikap demikian pun untuk mempertahankan pekerjaannya yang barangkali susah didapatkan di sana. Pertanyaan besar yang muncul adalah: Ada apa gerangan dengan perusahaannya? Apakah ada sesuatu yang disembunyikan? Apa itu? 

Intro Film Asimetris (Sumber: kumparan.com)
Sejujurnya, ada banyak sekali pertanyaan yang muncul ketika usai menonton film Asimetris. Ada standar kelayakan produksi yang diterabas. Ada pekerja dari kalangan anak-anak hingga perempuan yang digerogoti haknya. Ada monopoli, manipulasi, tipu daya, sampai pemaksaan yang melahap lahan-lahan warga. Dan yang pasti, ada jiwa-jiwa yang melayang antara hidup dan mati.

Dulu saya bergindik seusai menonton film Senyap. Tapi kegindikan saya itu lambat laun saya telan sendiri. Sebab pelaku-pelaku yang terlibat di dalamnya mungkin sudah tiada. Kalaupun ada, batang hidungnya tak terlihat. Kalaupun terlihat, orangnya tak tersentuh.

Semetara itu, pelaku-pelaku dalam film Asimetris ini justru terpampang nyata di depan mata kita. Namun sayangnya, sepasang tangan kecil saja tak akan mampu menjangkaunya. Butuh banyak tangan yang bersatu. Itulah yang membuat saya lebih dari bergindik saja, namun bercampur juga di dalamnya rasa gregetan, cemas, pilu, dan nalar kemanusiaan yang terpukul-pukul.

Asimetris bukanlah film hiburan. Asimetris tidak menampilkan laga dan biduan. Asimetris tidak membuat wajah kita berseri-seri seusai menontonnya. Asimetris adalah kegetiran. Di dalamnya merangkum kesedihan tanpa air mata, ketakutan tanpa jeritan, dan senyum tanpa kebahagiaan.

Cukup itu saja yang bisa saya utarakan. Jika penasaran, film ini sudah dapat dilihat di YouTube, lho. Akhir kata, jadilah bagian dari orang-orang yang tersadar di atas panggung ilusi. Sampai jumpa!

Full Movie Asimetris




Header source: pexels.com

14 Juli 2017



Salah satu kecemasan saya sebelum nonton film Spider-Man Homecoming adalah sosok villain yang membuat saya bertanya-tanya, “Apakah musuh Spider-Man kali ini bisa lebih mencekam dari sebelumnya?”
Makna ‘sebelumnya’ yang saya maksud bisa berarti dua hal, yaitu pagelaran Spider-Man versi Tobey dan Andrew, serta beberapa film balutan MCU yang tayang sebelum Spider-Man Homecoming.

Begini, kita sama-sama tahulah kalau di film ketiga Spider-Man versi Tobey, ada musuh besar bernama Venom. Adapula villain yang menjadi inspirasi bagi Rumor Band untuk membuat lagu berjudul Butiran Debu. Bisa menebak? Ya, Sand-Man. Meski pada akhirnya saya merasa cukup sebal karena Venom terlalu mudah ditumpas dan Sand-Man yang tidak bisa dihancurkan itu memilih taubat nasuha.

Lalu di dalam versi Andrew, Spider-Man berhadapan dengan villain bernama Rhino dan Electro yang saya ekspektasikan bakal sangat menegangkan. Lalu benar menegangkan? Ya. Dan saat tegang-tegangnya tiba-tiba film bubar. Sungguh ending film yang seasu-asunya.

Lantas apakah Spider-Man versi Tom Holland bakal menyuguhkan villain yang untouchable juga?

Tunggu. Ada yang lebih membuat saya khawatir.

Dalam rangkaian film Marvel sebelumnya, jagat raya ini hampir dikiamatkan oleh oknum-oknum super yang kurang kerjaan. Sebut saja Dormamu dalam film Doctor Strange (2016). Sihir jahat yang maha kuat dari dimensi lain itu hendak memakan bumi, lho. Untung saja Pak Dokter bisa menyelamatkan dunia ini meski harus melangagar hukum alam.

Setelahnya, di film Guardian of the Galaxy vol.2 (2017) kembali lagi dunia terancam kiamat. Siapa musuhnya? PLANET! Did you see madervaking that? Setelah dunia ini terancam lenyap gegara sihir jahat dari dimensi lain, kali ini dunia bakal diledakan oleh planet lain. Ingat, bukan penduduk planet, lho. Tapi planet itu sendiri. Planet yang hidup dan berambisi meleburkan planet-planet lain. Wuasyu tenan.

Nah, setelah ancaman dunia yang sangat mencekam itu terlewati, apakah villain dalam Spider-Man juga akan membawa beban yang sedemikian dahsyatnya juga?

Usut punya tuntas, ternyata kekhawatiran saya terlalu berlebihan. Setelah menyaksikan film Spider-Man Homecoming, saya benar-benar harus menarik kekhawatiran tersebut.

Pasalnya, film garapan Jon Watts itu benar-benar mempersempit dunia Marvel ke dalam hidup Peter Parker. Relasi kuat yang menghubungkan Dik Peter dengan keluarganya, sekolahnya, percintaannya, dan impiannya sebagai bagian dari Avengers berhasil dipadatkan dalam durasi 133 menit. 



Sosok Vulture sebelum dan sesudah Raisa menikah
Jika kita sering membicarakan tentang isu daur ulang sampah yang harus dikelola demi menjaga dunia dari ledakan limbah, maka sebaik-baik kreasi daur ulang sampah itu adalah Vulture. Villain yang lahir dari kolase limbah alien tersebut adalah bukti nyata betapa pelajaran kesenian dan fisika tidak semestinya ditinggal bolos.

Adrian Toomes (Vulture) pada awalnya adalah petugas bersih-bersih limbah alien pasca tragedi New York di film Avengers (2012). Setelah lahan pekerjaannya diambil oleh pihak yang lebih berwenang, Toomes kemudian membuat perangkat canggih dari limbah alien yang sudah ia amankan sebelumnya. Berbekal perangkat canggih itu, Toomes mencuri limbah alien yang sudah diangkut oleh tim DKP. Wkwkw.. DKP ndasmu!

Melihat ketidakbenaran itu, maka beraksilah Spider-Man untuk menghentikan aksi Vulture. Padahal kalau menurut saya nih, mereka berdua sebetulnya tidak perlu pakai berantem segala. Karena yang salah sebenarnya adalah pihak DKP yang lupa memberi peringatan “Pemulung Dilarang Masuk”. Udah itu saja persoalannya.

Mungkin karena memang Jon Watts bukan Pak RT sih, ya. Jadi masalah seperti itu sukar ia selesaikan dalam keadaan yang arif. Lho, tapi kan Toomes itu sudah bukan pemulung lagi?! Oiya, bener. Toomes yang awalnya berprofesi sebagai pemulung, kini bertransformasi menjadi pencuri ulung.

Jujur, Vulture itu keren. Dia cerdas, visioner, tekun, dan disiplin. Kalau saja anak buahnya tidak belagu, Vulture bisa jadi lebih berbahaya dari yang sekarang. Apalagi UMKM yang ia kembangkan secara underground itu sangat berpotensi memperluas ancaman bagi keamanan dunia. Jika ia disokong oleh Hidra, wuiiih, bisa gawat, ya kan? 



Kostum The Shocker seperti Chiki apa nanas, sih, ini?
Selain Vulture sebagai villain utama, dalam film ini Spider-Man juga harus berhadapan dengan satu villain lain. Ya, The Shocker.

Mengenai villain yang memiliki pukulan keras ini, saya harus bersyukur atas kesahajaan Jon Watts yang tidak memberinya kostum. Please, kalau film Spider-Man selanjutnya sosok ini harus muncul, tolong bingit jangan beri dia kostum seperti dalam wujud komiknya. Koneng-koneng seperti bungkus Chiki terus ada semacam jaring-jaring cinta yang membungkusnya? Wagu!

Etapi sosok Vulture jadi jauh lebih keren daripada wujud aslinya, sih. Apa The Shocker juga bisa demikian? Ah, entahlah. Menurutku sih sudah bagusan wujudnya yang disajikan di Spider-Man Homecoming itu.

Porsi The Shocker memang tidak begitu banyak, sebagaimana porsi yang diberikan untuk The Tinkerer. Kalau boleh memprediksi, kurasa kedua villain ini akan bersatu lagi untuk melawan Spider-Man di film selanjutnya. Bahkan lebih dari itu, aku percaya keduanya bakal melibatkan villain encus-encus yang muncul sekilas di pertengahan credit scene.

Siapa dia? 


Tatto kalajengking adalah bukti teror The Scorpion yang nyata
Tak lain dan tak bukan adalah Mac Gargan, atau yang dijuluki dengan The Scorpian. Sebagaimana julukannya itu, villain satu ini punya ekor layaknya kalajengking yang siap mengencus-encus siapa saja yang tidak percaya bahwa Susan bisa jadi dokter. Ehem.

Sebelum berpikir yang aneh-aneh tentang bagaimana Mac Gargan mendapat kekuatannya, seperti misalnya ada yang mikir dia disengat kalajengking super lalu pantatnya tiba-tiba muncul ekor guedhe, please, hentikan imajinasi menjijikan itu.
 

Seperti yang sudah saya sempat singgung di atas, dalam film Spider-Man Homecoming ada villain jenius, berjuluk The Tinkerer. Kehadiran The Tinkerer menegaskan bahwa villain yang berhadapan dengan Spider-Man memiliki pangkal yang sama, yaitu teknologi. Pastilah The Scorpion termasuk villain yang dilahirkan oleh kecanggihan teknologi juga.

Ya, tidak beda jauh dengan Vulture dan The Shocker. 


The Tinkerer membuktikan bahwa kebuncitanmu sekarang bukanlah apa-apa.
Lalu bagaimana dengan The Prowler?

Hah? Siapa lagi, tuh? Kok filmnya jadi berasa bertebaran karakter penting, sih?

Sama seperti karakter The The The yang lain, tokoh ini mendapat porsi yang tak banyak. The Prowler adalah alter ego dari sosok mas-mas kribo yang diinvestigasi oleh Spider-Man di parkiran Gramedia. Wkwkwk.. Gramedia ndasmu!

Namanya Aaron Davis, kemunculannya membuat ramai timeline karena hal itu menandakan keterlibatan Miles Morales di dalam semesta yang sama dengan Peter Parker.

Wow! Miles Morales?! Spider-Man berkostum merah hitam?! Superhero keluaran PDI Perjuangan?! Yeah! Kira-kira begitulah warganet menyambutnya. 



The Prowler seusai belanja buku di Gramedia
Dari sekian film Spider-Man yang pernah dibuat, menurut saya versi Tom Holland adalah yang terbaik. Film ini memiliki potensi yang besar untuk berkembang. Peter Parker masih harus lulus sekolah, menjalin kisah cinta dengan MJ, lolos SBMPTN di Empire State University, selingkuh dengan Gwen Stacy, bekerja freelance di koran Daily Bugle...ee... Wait. Saat SMA saja dia sudah magang di Stark Industries. Lalu gedenya tetap harus freelance di Daily Bugle?

Menarik. Daily Bugle pasti muncul dalam wujud yang berbeda dari film Spider-Man versi sebelumnya demi menjaga kesinambungan cerita. Bisa saja Daily Bugle bertransformasi menjadi seperti Hipwee misalnya.

Uhuk. Hu’uk. Kuhu.

Ya, sudahlah. Demikian penerawangan saya terhadap lima sosok villain yang muncul di film Spider-Man Homecoming. Mau bagaimapun kelanjutan Spider-Man nanti, saya yakin sajiannya bakal tetap mengasyikan.

Halah basi! Jangan berekspektasi terlalu tinggi gitu, lah. Nanti kalau jatuh, rasanya sakit, lho.

Hlah. Itu berekspektasi apa bertumpu pada janji-janjinya mantanmu?

Source header: gifyu.com