Tampilkan postingan dengan label Film dan Televisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film dan Televisi. Tampilkan semua postingan

18 Mei 2017



Jika Bung Karno terkenal dengan Jas Merah (jangan sekali-kali melupakan sejarah)-nya, maka saya perkenalkan yang namanya Jas Hujan (jangan sekali-kali menghujat makanan). Sungguh kalimat pembuka yang sangat berfaedah, bukan?

Jas Hujan itu tercetus ketika saya selesai menonton film Cina berjudul Cook Up a Storm (2017). Sebetulnya film ini sederhana sekali, tapi membuat lapar.

Bercerita tentang koki lokal bernama Gao Tian Ci a.k.a Sky Ko (Nicholas Tse) yang jago membuat makanan tradisional Cina. Ia menjadi koki di sebuah kedai makan bernama Seven yang terletak di sudut kumuh dalam kawasan kota metropolis Spring Avenue.

Suatu ketika, di depan kedainya dibangunlah restoran kelas internasional yang mendatangkan koki terbaik Eropa, Paul Ahn (Jung Yong Hwa). Tentu saja Jung Yong Hwa ini tidak ada hubungan darah sama sekali dengan Jung Jawa. Meski plintiran poni mereka jatuh di sudut pitagoras yang sama, tapi tetap saja beda. Lha wong yang satu koki ternama di Eropa. Sedang satunya, buat buka tutup saus Indofood saja harus dicongkel pakai bisikan ‘aku sayang kamu’ dulu.

Karena sedang ngomongin film Cina, izinkan saya terkekeh dengan bahasa Cina: Xixixixixi.

Ketika Stellar (restoran yang dibangun di depan Kedai Seven) mulai beroprasi, ternyata muncul berbagai masalah. Kedai Seven merasa dirugikan karena lahan mereka malah dipakai parkir mobil oleh pelanggannya Stellar.

Saat salah satu pengelola Kedai Seven protes, pihak Stellar malah mengadu akan menggusur bangunan tua tempat di mana Kedai Seven berjualan. Pengelola Kedai Seven yang getol itu bernama Hai Dan Mei a.k.a Uni (Tiffany Tang). Tentu saja di sini Uni tidak membahas tentang Vaseline lagi. Itu Uni Dzalikaaaa..! Xixixixixi. 


 
Alhasil untuk menentukan siapa yang berhak membuka tempat makan di Spring Avenue, Sky dan Paul harus bertarung di kompetisi masak. Kompetisi ini ada tiga babak, lokal, nasional, dan internasional. Jika lolos ketiga babak itu, peserta berhak melawan Dewa Masak, Anthony Ko a.k.a Mountain Ko (Anthony Wong).

Dahsyat tenan yo, di Cina itu sudah ada Dewa Judi, Dewa Mabuk, lalu ada Dewa Masak. Kalau Indonesia sih punya Dewa Sembilan belas, Dewa Bujana, dan Dewaweb. Yuk, beli domain terbaikmu di Dewaweb.

Scene yang membuat saya terharu dengan film ini adalah relasi ayah dan anak yang ditampilkan melalui sosok Sky dan Dewa Masak. Selain untuk mempertahankan Kedai Seven, ternyata Sky juga memiliki ambisi untuk mengalahkan ayahnya. (Spoiler alert)

Sejak Sky masih kecil, ayahnya pergi untuk mengejar impian menjadi Dewa Masak. Dan ia tidak pernah mengakui Sky sebagai anaknya karena ia malu jika memiliki anak yang tidak bisa memasak.

Saya merinding ketika di atas panggung Sky menyodorkan mie ayam ke Dewa Masak. Saat Dewa Masak memakannya, Sky langsung berjalan meninggalkan panggung. Sky tidak peduli dengan hadiah atau gelar. Ia cuma mau menunjukkan kepada ayahnya jika ia bisa memasak. Itu saja.

Maka benar saja, ketika Sky melangkah keluar panggung, Dewa Masak memanggilnya. Saat Sky menoleh, Dewa Masak bilang, “Kerja bagus.” Itu benar-benar scene yang menyentuh bagi saya. Bagaimana tidak? Dua puluh tahun belajar masak hanya untuk mendapat pengakuan dari ayahnya bahwa ia bisa menjadi anak yang membanggakan, lho. Dan itu tersimbolkan dengan mie ayam! Luar biasa. 



Nah, Cook Up a Storm ceritanya sesederhana itu tapi menyentuh. Dan hal lain yang membuat istimewa adalah visualisasinya. Marai ngelih. Mas Paul itu menyajikan makanannya cuantek bingit kayak Sangkuriang (Sangkuriang versi mana yang cantek cuuk??).

Sedangkan Sky lebih atraktif masaknya. Yang satu instagramable dan satunya instastoryable. Wuah, pakai istilahnya khalayak kekinian. Jangan ngaku generasi millenial posmodernis kalau nantinya punya anak belum dikasih nama yang instagramable. Lho, sing koyo piye iku? Ya misal, Joko Gram, Ani Insta, Budi Story, dan Yanto Feed. Kalau mau agak panjang juga bisa pakai nama Sri Started Following You. Gimana? Futuristik sekali, kan?

Haduhbiyuung.. Nonton film tentang masak itu memang harus waspada kelaparan. Apalagi kalau ingat skill masak diri sendiri masih level mie instan dan telur ceplok. Ini juga sedang belajar masak bubur Milna gagal-gagal terus. Jelas tidak bisa dibandingkan dengan Cook Up a Storm, dong. Yaiyalah!

Mas Paul itu masakannya kebarat-baratan. Sementara Sky ketimur-timuran. Masing-masing punya prinsip yang kuat. Mas Paul mengklaim kalau masakan barat itu terus berinovasi, sedangkan masakan timur cuma gitu-gitu saja. Kalau Sky lebih percaya jika masakan timur selalu menang di rasa karena tidak dimasak dengan trik saja, namun juga hati.

Uniknya, karena Mas Paul dikhianati sama si pemilik modal restoran Steller, ia kemudian banting setir memihak Sky untuk lolos babak ketiga. Jadi masakan barat bakal bertemu dengan masakan timur dalam satu piring! Anjaaay.. Ngeliiihhhhh..

Haduhbiyuung.. Lidah dan perut sudah tidak tahan lagi. Saya ingin makan makanan kombinasi barat dan timur sekarang juga! Tapi di mana?

Ketika tubuh mulai lemas. Ketika sekujur badan sudah pasrah pada lapar. Dan ketika mata terlanjur kepilu-piluan. Tiba-tiba saja, ada pemberitahuan wasap yang menggetarkan sukma.

Ada yang ngajak makan di Pesta Buntel.

Wow, tempat makan apa, tuh?


Karena memang sedang ingin makan yang di luar menu sehari-hari dan sedang hemat dalam satu waktu, maka saya menyatakan mau menerima ajakan traktiran itu.

Singkat cerita, saya sampai di Pesta Buntel, tuh. Tempatnya nyaman. Apalagi nuansa whiteaddict, pattern, dan tanaman-tanaman yang ditata bagus itu membuat saya berpikir mau ke Pesta Buntel lagi kapan-kapan. Tapi sendirian saja. Karena saya lihat ada colokan dan koneksi internet. Xixixixixi.

WATDEFAK! INI MENU APA? 

 
Kira-kira begitulah teriakan isi hati saya ketika tahu ternyata Pesta Buntel itu konsepnya adalah fusion. Yaitu olahan dari masakan barat dan timur yang disajikan dalam buntelan tradisional Indonesia. Uedyan! Baru tahu konsepnya seperti Cook Up a Storm saja sudah sempoyongan lidah ini.

Jadi menunya itu ada aneka Pasta yang dibuntel dengan daun pisang dan dipadukan dengan saos asli Indonesia seperti saos padang, rendang, sambal matah, cabe ijo, saos tomat, bahkan ada juga rasa rica-rica! Selain itu, tidak kalah menarik juga ada menu Hainan yang tetap dibuntel daun pisang dengan varian rasa daging ayam fillet (saos kecap) dan rica-rica daging ayam.

Saat saya masih menahan iler, teman saya bertanya sama mas-masnya soal cara masaknya itu bagaimana. Lalu dijelaskanlah cikal bakal cita rasa Pasta Buntel tersebut. Jadi, pertama yang mereka lakukan adalah masuk ke dapur dulu sebelum memasak dan tidak lupa mengucap salam lengkap dengan basmalah. Kami pun manggut-manggut memaklumi kenapa mereka bisa begitu kreatif meramu masakan.

Usut punya usut, setelah Pasta atau Hainan itu digongso, makanan dibuntel dengan daun pisang lalu dibakar pakai arang. Gongso itu bukan acara TV yang dipandu Arie Untung, lho. (Itu Gong Show!). Gongso juga bukan harga diri atau martabat. (Itu GENGSI, bajindul!).

Jadi, gongso itu istilah dari Jawa untuk menyebut proses menumis, yaitu memasak di atas wajan dengan sedikit minyak. Lho kok tau? Katanya cuma bisa masak mie? Iya, barusan itu ngutip dari masukdapur.com. Tuh link source-nya nempel di dua paragraf sebelumnya. (Ngutipnya di mana, naruh sumbernya di mana. Pancen njaluk dibuntel otakmu, Ham.)

Penggunaan daun pisang ini bukan sepele, lho. Kalau di Cook Up a Storm itu seperti saat Sky menuangkan anggur beras di tepian casserole. Lalu ia lilitkan handuk di tepiannya agar uap tidak keluar. Nah, saat anggur beras bertemu dengan uap panas itulah rasa anggur menyatu dengan rasa ayam, bihun, dan kemangi sehingga menghasilkan aroma yang sedap abes! 



Nah, daun pisang sebagai pembuntel pun juga demikian. Ketika dibakar dengan arang itu muncul aroma dan rasa yang khas bagi makanan di dalamnya. Konon, mereka terinspirasi dari sego bakar yang biasanya jadi menu di wedangan atau hik.

Selain itu, daun pisang juga ramah lingkungan. Sampah buangan daun pisang dapat diurai dengan mudah oleh alam, kan, ya? Yang tidak bisa diurai itu cuma jalinan asmara kita, lho, Tiw. Xixixixixi.

Penjelasan tentang olah masak itu membuat perut dan lidah meronta dengan buasnya. Lalu saya mulai menyimpulkan sendiri kalau ternyata hidangan tidak segera keluar itu karena memang proses memasaknya lama. Lha mau bagaimana lagi? Demi cita rasa tinggi, bosku.

Saat saya menenangkan perut dan lidah dengan sabar, tiba-tiba mas-mas Pesta Buntel bertanya, “Ini pesanannya sudah ditulis semua, Mas?”

BAZINDUL! DARI TADI BELUM MULAI PESEN TERNYATA.

Orang bijak perkulineran sih pernah bilang, “Nek luwe pekok. Nek wareg goblok.” (Kalau lapar –jadi- bodoh. Kalau kenyang –jadi- tolol). Kayaknya itu yang bikin quote pernah ikut tes IQ tiga kali, pas laper, pas kenyang, dan pas normal. Xixixixixi.

Xixixixixi ndasmu! Ngelih, boss!
Sembari menunggu pesanan datang, ada baiknya kepoin dulu instagramnya Pesta Buntel, nih.


A post shared by Pesta Buntel (@pestabuntel) on



Bingung malam minggu pada mau kemana? Yuk main ke Pesta buntel!๐Ÿ˜š . Ini dia menu recommended dari kita, urut dari kiri ke kanan: ~PENNE MOZZARELLA, pasta penne dengan siraman saus tomat blackpaper ini emang bikin ngiler. Perpaduan rasa dari manis, asam, semi pedas dan gurih yang jadi satu ini emang lumer di lidah..๐Ÿ˜ ~FUSILLI CABE IJO, buat para penggemar pedas, menu ini bisa jadi pilihan karna berbahan dasar dari cabe ijo yg pedas..๐Ÿ˜‹ ~HAINAN AYAM RICA, ini menu baru dari kita yang wajib dicoba! Gurihnya nasi hainan bercampur dengan manisnya ayam rica emang bikin nagih..๐Ÿ˜ ~ANEKA LATTE, rasanya manisnya nendang dan murmer menjadikan minuman ini salah satu yang favorit pastinya..๐Ÿ˜‹ ~CHOCOLATE, minuman coklat yang satu ini most recommended dari kita, rasa coklatnya bener2 lumer di lidah, dan taburan choco crunchnya bikin nambah nikmat..๐Ÿ˜‹๐Ÿ˜ . JANGAN LUPA juga!!! Sampai akhir februari kita ada promo FREE UPSIZE 20% all varian pasta, dan FREE REFILL ICE TEA/HOT TEA SAMPAI PUWAAAAAASSSS, kuy buruan serbuu..๐Ÿ˜˜ . Pesta Buntel ๐Ÿ“Jl. Tirtosari, Purwonegaran, Solo ⏰Buka tiap hari, 11.00-22.00 (last order) ๐Ÿ“Food Court Pak Gendut, Solo Baru ⏰Buka tiap hari, 17.00-24.00 Meet, eat, & delighted! . Cek fanpage FB Pesta Buntel ya untuk lihat daftar Menu dan harga: @pestabuntel๐Ÿ˜Š . PESTA BUNTEL "MEET, EAT, and DELIGHTED!" #pestabuntel #meeteatdelighted
A post shared by Pesta Buntel (@pestabuntel) on


Haduhbiyuung.. Kepo kok membuat usus saya gemetaran, ya? Ah, sudah, ah. Pokonya kamu harus nonton Cook Up a Storm dan mencoba makan di Pesta Buntel. Bagus lagi kalau bisa melakukan keduanya. Pesta Buntel ini pernah jadi tempat pemutaran film dalam rangkaian roadshow Pesta Film Solo, lho.

Yuk, kalau kamu mau ke sini langsung berangkat sekarang. Nih, saya send location. Jangan lama-lama. Sambil menunggu makanan tersaji memang menyenangkan jika sekaligus menunggumu datang menghampiri.



Rate

Cook Up a Storm : 6.1/10 versi IMDb (Internet Movie Database)

Pesta Buntel : 8.0/10 versi IMDB (Ilham Mau Dibuntel)

11 Maret 2017


Dengar-dengar, manusia itu selalu tertarik dengan dunia dan seisinya. Maka maklum saja jika manusia terus-menerus mempelajari materi bumi dan kehidupannya. Namun, ilmu pengetahuan tidak diperoleh dengan kun faya kun seperti Ian Kasela dengan soft case emo di jidatnya. Pengetahuan didapat melalui proses belajar yang sangat panjang. Bukan hanya dari jam pagi ke jam sore. Atau dari mantan satu ke mantan yang lain. Tapi dari generasi ke generasi.
 
Mari kita coba mundur jauh ke belakang sebelum peradaban manusia mengenal betapa celakanya melakukan double tap saat kepo instagram mantan. Orang-orang zaman dahulu sangat percaya dengan kekuatan Dewa yang menggerakkan alam raya dan seisinya. Hal ini terjadi ketika mereka sukar menjelaskan fenomena alam yang ada di sekitar. Sebut saja ketika terjadi gempa bumi, orang-orang menganggap jika Dewa sedang menggoyangkan kepalanya sambil nyanyi ‘mama bolo-bolo’. Atau ketika muncul pelangi yang membentang dari satu sisi ke sisi yang lain, dianggap sebagai pelorotan atau seluncuran malaikat-malaikat dan kali ini sambil nyanyi: ‘Cintamu wes mlorot. Wes gek ndang ayo pedot. Rasah nganggo ngotot. Marai utek cekot-cekot’.
Ketidakmampuan menemukan jawaban dari fenomena-fenomena itulah yang kemudian menginisiasi cara-cara berpikir mitosentris seperti contoh di atas.
Roda kehidupan itu sudah pasti berputar. Maka terjadilah pola pikir mitosentris yang bergeser menjadi logosentris ketika manusia mulai bisa menjelaskan kejadian demi kejadian, sebab dan akibat, dengan logis. Di sinilah perkenalan manusia dengan filsafat. Fenomena alam tidak lagi dianggap sebagai gerak-gerik ghaib, tetapi merupakan aktivitas alam yang terjadi secara kausalitas. Meski sederhana, namun implikasinya tidak main-main. Alam yang selama ini ditakuti karena kebesaran dan kemisteriusannya, kini tidak lagi dijauhi tapi justru didekati, dipelajari, bahkan dieksploitasi.

Hal inilah yang saya dapatkan ketika menyaksikan film Spectral. Film besutan Nic Mathieu yang mengambil genre sci-fi, action, dan thriller ini bagi saya bukan sekadar pertunjukan tembak-menembak. Akan tetapi ada perjalanan tasawuf yang tersirat secara diam-diam. Basingse, diriku kemaki tenan, ndes.

Spectral secara sewenang-wenang menempatkan penonton dalam situasi tegang sejak menit pertama. Gelimpangan mayat di kota yang hancur lebur menjadi sajian estetis yang begitu kuat untuk menggambarkan nuansa peperangan. Kemudian kita diajak untuk berjalan pelan-pelan di medan pertempuran Modolva melalui sudut pandang Davis, satu-satunya yang bernapas dalam scene itu.

Coba kau pikirkan, kau renungkan, dan tanyalah pada bintang-bintang. Apa tidak semriwing keteknya Mas Davis ini? Bengi-bengi jalan sendirian di antara mayat-mayat. Mbok wes tenguk-tenguk ning omah nonton Dunia Terbalik lak yo puenak, ndes.

Nah, ketika Mas Davis memasuki sebuah ruangan, kacamata hyperspectral menangkap sebuah penampakan visual yang tak wajar. Untuk memastikan hal itu Mas Davis membuka kacamata hyperspectal yang bisa mendeteksi panas. Nihil. Mata telanjangnya tidak melihat apa-apa. Lalu kembalilah dia memakainya. Seketika itu, ada semacam selaput tipis dengan bentuk menyerupai manusia yang berdiri di depannya. Lalu, makjegagik sesuatu yang aneh itu menyambar tubuh Mas Davis. 

Mas Davis matek.

Battlefield. Sumber: conceptartworld.com
Scene mukadimah di atas secara sederhana telah menunjukkan kepada khalayak tentang setting peperangan yang mencekam. Dan kita diperkenalkan pula dengan musuh yang akan diburu sepanjang film, the spectral (hantu/memedi).

Melihat kejadian yang tidak wajar tersebut, Jendral Orland dari DARPA memanggil Dr. Clyne ke Eropa Timur untuk melakukan analisis. Dr. Clyne adalah seorang fisikawan sekaligus teknisi yang telah berpengalaman membuat alat-alat canggih untuk keperluan perang. Salah satunya kacamata yang digunakan untuk melihat dalam kegelapan, bahkan kini benda itu bisa melihat hantu dan stalker instagram. Peristiwa naas yang menimpa Mas Davis memang perlu mendapat perhatian khusus. Sebab sejauh ini, penampakan asing terlihat pada jarak terdekat melalui kacamata hyperspectral yang dipakai Mas Davis.

Pelajaran menarik terjadi ketika Dr. Clyne usai menonton tayangan video yang memperlihatkan penampakan itu. Wanita bernama Fran yang merupakan agen CIA memaparkan hipotesisnya tentang kemungkinan teknologi kamlufase yang dipakai para pemberontak. Sementara Dr. Clyne masih enggan berteori apa-apa karena data yang dimiliki belum cukup.
“Pekerja teknisimu adalah menemukan gangguan, jadi ia melihat gangguan. Pekerjaanmu (Fran) adalah menemukan musuh, jadi kau melihat musuh. Penduduk lokal percaya dengan roh, jadi mereka melihat roh. Satu orang terbiaskan satu cara atau yang lain. Jadi, jawabanku untukmu sekarang adalah bahwa kita kekurangan data untuk mendukung teori apapun." - Dr. Clyne
Lalu Fran bertanya, “Jadi apa yang bisa kita lakukan saat ini?” Dengan tampang serius Dr. Clyne menjawab, “Kita stalking hastag #AdaHantuDiMoldova dulu saja. Barangkali ada petunjuk lain.” Fran lekas merapikan berkas-berkas yang berserakan di meja sambil bilang:

Budhe Fran dengan typo yang menawan. Sumber: movieholichub.com
Dr. Clyne merupakan cerminan dari masyarakat kekinian maju yang tidak berani terjebak dengan tuduhan-tuduhan yang tak berdasar. Ia juga menjadi bukti produk akademis yang selalu mencari jawaban dengan definisi-definisi. Sesuatu yang asing dan samar-samar seringkali membuat manusia mencari-cari sendiri definisinya. CIA yang pekerjaannya memang berkutat dengan hal-hal taktis, sudah pasti langsung menaruh curiga terhadap musuh (pemberontak). Bahkan CIA pun mulai berasumsi dengan teknologi canggih setelah sebelumnya mereka menemukan beberapa kelompok di Eropa dan Asia yang bisa membuat kamlufse aktif.

Berbeda halnya dengan penduduk setempat yang lebih mempercayai keberadaan roh peperangan, Aratere. Masyarakat yang berada di medan pertempuran merasa ngeri dengan kematian massal di berbagai sudut kota. Kengerian itu menciptakan takhayul seputar roh Aratere. Menurut salah seorang anak dari penduduk setempat yang selamat, Bogdan, menceritakan bahwa Aratere adalah jiwa-jiwa yang tersesat. Para tentara yang mati dalam perang tidak memiliki kedamaian dalam jiwa mereka, sehingga arwahnya melayang-layang di antara hidup dan mati.

Serius tenan, ndes. Sepertinya agak bergetar ini.

Sepanjang film, kita akan mengikuti langkah demi langkah bagaimana Dr. Clyne mencari data-data empirik untuk menemukan jawaban. Ya. Mau tidak mau ia harus turun ke medan perang.

Langkah pertama yang ia ambil adalah dengan memasang kamera hyperspectral yang lebih canggih daripada versi kacamata. Perangkat kamera seukuran guling itu dipasang di atap mobil patroli. Namun, ketika menelusuri kota, para hantu tiba-tiba menyerang pasukan patroli sampai membuat mobil  yang mereka tumpangi terjungkal. Beberapa tentara yang turut dalam misi itu terenggut nyawanya dengan sangat cepat dan misterius. Sementara Dr.Clyne justru nekat membopong kameranya meski lebih mudah baginya jika bergegas melarikan diri tanpa kamera itu.

Beberapa orang yang selamat termasuk Dr.Clyne bersembunyi di dalam sebuah gedung yang separuh hancur. Di dalam gedung itu mereka bertemu dengan dua anak yang merupakan penduduk Modolva.  Dari merekalah Dr. Clayne menyadari jika para hantu lemah terhadap serbuk besi. Buktinya para hantu tidak bisa memasuki gedung itu karena ada serbuk besi yang disebar melingkari gedung.  Hal ini membuat saya ingin nebar serbuk besi di depan ruang ujian. Ben pengawase mlebu lewat jendelo koyo Jackie Chan. Hyaaa.

Mengetahui kelemahan itulah Dr. Clyne mempertajam pikirannya untuk menemukan definisi dari makhluk itu. Yang jelas makhluk itu bukan arwah gentayangan karena mereka masih terganggu dengan benda duniawi. Kedua, mereka bukan teknologi kamlufase seperti teori CIA. Sebab jika itu hanya kostum saja maka mudah bagi para hantu untuk melewati serbuk besi, misal dengan mengendari mobil. Ketiga, Dr. Clyne pun menduga mereka bukanlah para mantan. Mau bagaimana lagi? Kalau mau menghalau mantan ya jangan nyebar serbuk besi. Tapi nyebar undangan resepsi. Gitu.

Namanya juga film. Kalau tidak ada perlawanan ya bukan film, tapi nasibmu yang ditinggal nikah. Para tentara yang uring-uringan karena senjata mereka sama sekali tidak mempan untuk melumpuhkan  para hantu, akhirnya mendapat pencerahan dari Dr. Clyne. Ahli pembuat senjata itu menemukan banyak material serbuk besi di dalam gudang. Maka tercetuslah ide untuk membuat senjata dadakan, di gedung, lima ratusan, halal. 

Berbekal granat enyoy-enyoy, mereka keluar dari gedung menuju titik penjemputan. Pertempuran mistik pun tidak dapat terelakkan. Situasi semakin menegang dan terlihat sedikit gurih dari sebelumnya. Terutama ketika mereka mulai kehabisan stok granat enyoy-enyoy. Asyu, aku beneran membayangkan pas perang begitu di depan Toko Plastik Eka Sari ada orang jualan granat dadakan pakai mobil pick up. Di sekitar mobil tentu sudah ditaburi serbuk-serbuk besi sehingga hantu-hantu tidak bisa menyerang. Gimana? Laris ketoke.

Jadi, makhluk asing itu sebenarnya apa?

Dr. Clyne menemukan beberapa data. Pertama, hantu itu bisa terhambat gerakkannya dengan serbuk besi. Kedua, hantu itu terlihat oleh cahaya. Ketiga, mereka membunuh dengan sentuhan. Keempat, mereka juga tidak bisa menembus tank M1 Abrams yang dilapisi keramik. Data-data itu menunjukkan jika mereka bukan makhluk alami. 

Melalui rujukan terhadap teori yang pernah dikemukakan Nath Bose dan Albert Einstein, Dr. Clyne menduga jika makhluk itu hanyalah kondensat semata. Untuk membuat Bose-Einstein Condensate diperlukan tenaga yang sangat besar dan banyak. Fran langsung menimpali analisis itu dengan memberi salah satu hasil investigasinya, yaitu tempat pembangkit listrik bernama Masarov serta data tentang milyaran uang negara yang dihabiskan untuk penelitian senjata.

Ilustrasi kondensat yang berbentuk menyerupai manusia. Sumber: conceptartworld.com
Intinya, hantu-hantu itu adalah senjata yang dibuat manusia. 

Jika para hantu merupakan buatan industri, maka mereka pasti memiliki perintah yang terstruktur. Mereka tentu tunduk pada hukum-hukum alam. Jadi, mereka bisa dihancurkan. Yang tidak bisa dihancurkan itu cuma cintaku padanya. Eaaa.

Ketika menemukan definisi yang jelas tentang para hantu, Dr. Clyne kembali mengusulkan pembuatan senjata baru. Yaitu plasmic-discharge yang dipercaya bisa mengurai kondensat. Maka dibuatlah senjata itu dengan benda-benda apapun yang berkaitan dengan optik, elektronik, casing balistik, dan sebagainya. Anjur, Dr.Clyne ini ciamik bingit, ndes. 

Saking ciamiknya, senjata yang dibuat dari uraian barang-barang lain itu memiliki bentuk yang estetis layaknya produk bikinan pabrik. Padahal buat nemu mur dan baut yang cocok saja tidak mudah. Lha kok ini bisa bongkar pasang aneka produk buat bikin satu set senjata khusus. Oiya, namanya saja science fiction.

Satu misteri belum terpecahkan. Yaitu bagaimana kondensat tersebut bisa bergerak layaknya manusia. Satu-satunya cara untuk menemukan jawaban terakhir ini adalah dengan mendatangi langsung pusat produksinya, Masarov. Pun Dr. Clyne meyakini jika di Masarov­ itulah pusat komando berada. Sehingga untuk menghentikan serangan para hantu, Dr. Clyne dan bala tentara harus menghancurkan sumbernya.

Secara keseluruhan film ini sangat menarik. Premisnya sederhana dan dikerjakan dengan fokus. Tidak ada bumbu-bumbu drama cinta. Militer ya militer saja. Sains ya sains saja gitu. Kalau urusan drama percintaan itu sudah ranahnya Giorgino Abraham dan Irish Bella soalnya.

Barangkali orang yang menggeluti fisika akan menyukai film ini. Seperti Interstellar begitulah. Banyak istilah-istilah sains yang bagi orang awam seperti saya tidak memahaminya. Namun hal itu tidak mempengaruhi substansi pada film ini. Toh saya tetap mudeng film ini berjalan ke arah mana.

Atau sebut saja film-film macam The Martian, Inception, Predestination, Ex Machina dan lain sebagainya memang bisa dinikmati oleh banyak orang. Akan tetapi menjadi makin menarik ketika si penonton sendiri sudah mengetahui dengan teori-teori yang dibawakan di dalam film-film itu. Rasanya seperti pas denger khutbah jumat lalu nyeletuk, “gue tahu nih hadist parawinya siapa.” Ndasee..

Salah satu alasan saya menyukai film ya yang seperti ini. Seringkali menemukan kecantikan dari gagasan-gagasan yang ditawarkan di dalam film. Kalau dari film Spectral ya perihal pengklarifikasian sebuah nilai kebenaran misalnya. Dr. Clyne saja sampai sebegitunya mencari sebuah definisi dari ketidaktahuan. Hla kok kita sudah merasa cendekia cuma berbekal satu atau dua brodkesan di wassap. Lak yo hoaxable bingit, kan?

Okey saya rasa sudah cukup ngoceh-ngocehin film kali ini. Spectral bagus. Dari satu sampai sepuluh, saya kasih delapan koma enam ratus tiga puluh satu ribu rupiah buat rating film ini. Anjur malah koyo cek. Semoga bisa menjadi rujukan yang pas untuk ditonton akhir pekan ini.

Eits, mau nonton film harus nunggu akhri pekan dulu? Gak zaman. Sekarangkan sudah ada HOOQ. Apa itu HOOQ? Yuk, simak klarifikasinya di sini. Sampai jumpa.

19 Januari 2017



Paguyuban ibu-ibu pencinta sinetron sempat digegerkan oleh kematian Mas Boy. Isunya, separuh dari ibu-ibu tersebut dilarikan ke ahli terapi dan ruqyah. Sedang separuh sisanya memilih untuk bergegas mencari Dragon Ball untuk membangkitkan Mas Boy dari ajalnya. Kematian Mas Boy menjadi begitu penting, sampai-sampai hastag #RIPBoyAnakJalanan sempat merajai trending topic di Twitter. Walau begitu, ibu saya kalem-kalem saja, tuh.

Sejauh yang saya tahu, ibu saya ini tidak pernah mengikuti cerita Anak Jalanan. Saat saya mencoba bertanya, jawaban ibu saya, “Ibu enggak pernah nonton Boy itu bukan karena enggak suka. Tapi karena SCTV di tempat kita itu seharian nayangin Perjuangan Semut. Lha mbok kiro ibumu iki trenggiling opo piye?”

Sejenak saya manggut-manggut paham. Kemudian telinga saya bergindik seolah diselepet malaikat Rokib, saya tiba-tiba meyadari sesuatu. Lekas saja saya nyeletuk, “Bentar.. Bentar.. Ibu tahu apa tidak, kalau Anak Jalanan itu tayangnya di RCTI, bukan SCTV?”

Meski pengetahuan ibu saya soal per-channel-an ini begitu kurang, tapi pilihan sinetronnya bagus juga. Beliau menjatuhkan pilihan nontonnya pada sinetron noir berjudul Anugerah Cinta. Konon, salah satu alasan kenapa Mas Boy dibuat mati itu karena rating Anugerah Cinta lebih tinggi dripada Anak Jalanan.

Saya terpaksa menonton Anugerah Cinta karena saya tidak memiliki kamar pribadi. Saya tidur di kasur lantai tepat berhadapan dengan televisi. Sementara ibu saya duduk anteng di atas dipan yang tak jauh dari tempat saya berbaring. Jadi, tak ada pilihan lain, mata saya harus rela diperkosa oleh kisah cinta Arka dan Naura yang maha nggrantes itu.

Ibu saya nonton Anugerah Cinta sambil menggenggam handphone yang baru ia belai cuma saat komersial break. Saya curiga jika ibu saya ini bandar kuis tebak plot sinetron. Sehari-hari boleh saja umbah-umbah sambil nyanyi Leaving on the Jet Plan, tapi kalau sudah tersambung ke internet ternyata menjelma jadi agen Online Betting. Mau bagaimana lagi? Anugerah Cinta ini memang plot twist-nya susah ditebak. David Benioff kalau nonton sinetron ini, sudah pasti memilih untuk mengubur Game of Thrones sedalam-dalamnya.

Anugerah Cinta mengisahkan tentang seorang bidadari proletar, Naura, yang dicintai oleh Arjuna masa kini bernama Arka. Keduanya bertemu dalam ikatan yang dramatis sekali. Naura sebagai pembantu dan Arka sebagai majikannya. Tanpa perlu upaya mbribik atau tebar kode, mereka lekas saja mencintai satu sama lain. Sungguh ide cerita yang begitu kreatif. Pantas ibu saya selalu penasaran dibuatnya.

Namanya juga cinta, sudah pasti ada orang-orang azabable yang menentang hubungan asmara itu. Salah satunya adalah Ibu Vira, ibu kandung Arka itu sendiri. Sebagai istri dari seorang borjuis, Ibu Vira ini tidak rela jika memiliki menantu seorang pembantu. Jelas saja, rencana-rencana jahat segera tercipta demi merusak hubungan Arka dan Naura. Dibantu dengan Ibu Arumi dan Kinta, trio hebring ini gencar meneror Naura. Sungguh kebaruan cerita yang tak bisa dipungkiri lagi, bukan?

Meski perwatakan Ibu Vira ini galak bingit, tapi beliau memiliki anak laki-laki yang begitu sopan, murah hati, dan semua jenis ilmu PPKN tahun 2002 ada di dalam diri Arka. Belum lagi Arka ini dilengkapi dengan wajah tampan, pekerjaan mapan, pintar bermusik dan jago kung fu pula. Kebajingukan yang dimiliki Arka ini sudah barang tentu akan meningkatkan standar ideal calon mantu laki-laki. Sebagai laki-laki milenial yang masih sering kabur dari tukang parkir, njuk aku isoh opo, Dek?

Anugerah Cinta adalah sinetron maha epic yang selalu berhasil membuat saya tratapan. Antara memahami kejeniusan plot twist maupun kefantastisan tokoh-tokoh di dalamnya. Pengalaman mengikuti serial kisah cinta Arka dan Naura inilah perasaan saya lebur. Rasa-rasanya kok seperti menonton konser Burgerkill sekaligus ditemani Dian Sastro yang sedang membaca Tragedi Winka dan Sihka milik Sutardji Calzoum Bachri tepat di daun telinga saya. Mrinding!

Meski demikian, ibu saya ternyata sering nyinyirin adegan-adegan yang dirasa terlalu hyperralistic. Seperti kejadian ketika Ibu Arumi meracuni Naura agar rahimnya rusak. Naura jatuh sakit, lalu menjalani pengobatan, sembuh total, dan segera menuntut balas pada Ibu Arumi. Semua itu terjadi dalam satu hari saja. Ini klinik akupuntur Wong Fe Hung juga gak gitu-gitu amat perasaan.

Penyinyiran ibu saya yang ditujukan untuk film ini juga menjadi bukti oppositional code-nya Pakdhe Stuart Hall. Walau menontonnya bikin frustasi, tapi Anugerah Cinta berhasil memberi candu yang tak bisa dihentikan. Rasanya ingin nonton terus. Ingin frustasi terus. Mungkin ini pula yang terjadi pada saya ketika membaca sederet twit Agus Mulyadi yang rutin membela kisah asmaranya sendiri. Ah, mbok ya tokoh Arka itu diperankan oleh Agus Mulyadi, tho. Barangkali judulnya bisa dikondisikan menjadi ‘Anuku Gerah, Cintaa’.

Meski, ya, saya ingin misuh-misuh tiap menonton sinetron satu ini, namun tak dapat dipungkiri jika pada akhirnya saya ketagihan. Satu malam saja tidak menonton Anugerah Cinta, ibarat main cap ji kia tanpa kemulan sarung. Ra komplit!

Jadi begitu, keluarga saya tidak turut meramaikan linimasa meski Mas Boy telah berpulang. Dari yang saya dengar, Mas Boy ini lak bocah racing, tho? Jelas beda dengan Den Arka yang jadi eksekutif muda itu. Meski keduanya sama-sama sugih mblegedu, tapi ibu saya lebih menyukai sosok Arka. Terbukti dari ujaran beliau di suatu sore, “Le, Arka itu akhlaknya baik, sukses dan guantheng. Iyo opo ora?” Belum sempat saya menjawab apa-apa, beliau meneruskan, “Hambok, ibumu iki golekno mantu koyo ngono kui.”

Mak jegagik! Spontan saja saya tratapan. “Sik sik, Buk. Ibu kan anaknya empat. Yang wadon satu, sudah dirabi. Lha njuk mantu modelan Arka itu buat siapa?”

“Lho yo buat kamu tho, Le. Lha Ibuk umpama berharap kamu jadi seperti Arka itu jelas ora mungkin, tho. Minimal kowe ra lulus babagan rai.” Menerima bombardir seperti itu, saya lekas saja mlipir daripada makin dikata-katai soal estetika wajah. Belum jauh kaki ini melangkah, ibu saya menggamit kaos saya dari belakang seraya berbisik pelan di ambang pintu telinga saya, “Cah kuliah seni rupa kok ora rupawan blas.” 
Imgae source: popmagz.com

1 Januari 2017


Sudah pasti banyak film yang menjanjikan keseruan untuk ditonton di tahun 2017 ini. Dari sekian banyak itulah saya merangkum ke dalam 20 daftar yang wajib ditonton sebelum tahun 2018. Hahaha. Film-film yang terdaftar di sini merupakan film rilisan 2017 versi IMDB. Bukan berarti semua film ini bakal muncul di layar bioskop Indonesia lho ya. Ada beberapa diantaranya yang mustahil diedarkan di bioskop. Namanya juga alternatif. Ah, selama ada Lebah Ganteng dan Pain Akatsuki, kita bisa tenang, kok.

Baiklah, berikut daftar nonton saya:

1. Almost Paris



Berkisah tentang seorang pegawai bank bernama Max. Pada suatu ketika, Max mengalami kegagalan dalam pekerjaannya. Akibatnya ia mengalami krisis ekonomi. Sementara ia sudah mengorbankan keluarganya demi karir yang selama ini ia bangun. Max kemudian memutuskan untuk kembali ke kampung halaman. Misi Max adalah untuk menebus kesalahan terhadap keluarganya dan berupaya bangkit dari kegagalan.

Apa yang Max alami begitu sederhana dan sangat dekat pada kita. Barangkali selepas nonton film ini kita memiliki perspektif lain yang lebih baik dalam menghadapi situasi serupa.

2. Amsel


Sebuah film dokumenter tentang seorang perancang grafis bernama Richard Amsel (1947-1985). Karya-karyanya meliputi poster film, sampul buku, dan sampul album musik. Ia memiliki kemampuan menggambar tubuh dengan rincian yang luar biasa. Sebagai salah satu seniman rupa yang berpengaruh, film dokumenter ini mencoba menelisik kembali kehidupan sang seniman yang misterius, hingga akhir tragis yang menimpanya akibat AIDS. Saya begitu tertarik dengan poster-poster film, maka libido saya memuncak ketika tahu ada dokumenter untuk seniman grafis ini.

3. Book of Henry

Bercerita tentang seorang anak bernama Henry yang tinggal bersama adik dan ibunya. Suatu ketika, ia merencanakan pembunuhan terhadap ayah dari gadis yang ia cintai. Rencana itu tertulis dalam sebuah buku yang secara teledor diketahui oleh ibunya. Uniknya, si Ibu justru setuju dengan rencana Henry. Jadilah, mereka berdua berambisi menumpas penindasan sebagaimana yang pernah mereka rasakan di masa lalu. “A single mother raises a child genius”. Sungguh keluarga yang begitu harmonis!

4. Dunkirk


Setelah sukses menggelar film sains, Christopher Nolan kali ini hadir mengusung film historis. Film ini berlatar perang dunia kedua, saat tentara Nazi berhasil memojokkan ribuan tentara Sekutu hingga ke Pantai Dunkirk dan ini menjadi kekalahan pihak Sekutu terbesar dalam sejarah. Di sinilah kita akan mengetahui lebih jauh tentang Operasi Dinamo atau Evaluasi Dunkirk. Perlu alasan apa buat melewatkan film ini?

5. Fifty Shades Darker 


Saya rasa tak perlu sinopsis mengingat film ini begitu populer. Jujur, saya sempat kecewa dengan filmnya yang pertama karena adegan sadomasokisnya tidak seram sama sekali. Namun, kali ini saya mencoba untuk kembali tertarik dengan sekuelnya, sebab ada pergantian sutradara. Yang semula Sam Taylor-Johnson, kini dikerjakan oleh James Foley. Kupikir aroma Fifty Shades Darker bisa kembali pada jalur roman gelap yang semestinya, mengingat Foley pernah mengerjakan After Dark, My Sweet (1990) dan Fear (1996) yang terbilang sukses itu. Semoga film olahraga ini tidak mengecewakan. OLAHRAGA??

6. Guardian of The Galaxy vol.2


Sempat melewatkan film-film Marvel tahun 2016 karena suatu hal, kini GoTG sudah jadi titik ketaksabaran saya untuk menyaksikannya. Pada GoTG vol.2 inilah akan dibuka misteri tentang ayah Star Lord yang konon bukan penduduk bumi. Sedikit demi sedikit proyek film Marvel mulai mengarah pada ‘Inhuman’, setelah sebelumnya dalam film serial Agent of S.H.I.E.L.D juga ikut diceritakan mengenai hal ini. Film superhero yang terdiri dari orang-orang gemblung ini sebenarnya cocok jika diberi judul seperti bukunya Puthut EA: “Para Bajingan yang Menyenangkan”.

7. Elizabeth Blue 

Berkisah tentang seorang gadis muda yang keluar dari rumah saki jiwa. Ia berhasil ‘disembuhkan’ dari skizofrenia. Saya tertarik pada film psikologi macam ini. Setidaknya saya penasaran bagaimana mantan pengidap skizofrenia memandang dunia.

8. I’m not Your Negro
 


Film dokumenter ini bercerita tentang ras kulit hitam di Amerika. Film ini sebenarnya diadaptasi berdasarkan sebuah naskah novel yang belum selesai dari James Baldwin dengan judul Remember This House. Pada film ini kita akan diajak menelusuri sejarah ras di Amerika melalui kenangan Baldwin dan tokoh-tokoh pembela hak-hal sipil macam Medgar Evers, Malcolm X, dan Martin Luther King. Sebagai pemuda yang belagak peduli pada kemanusiaan, tentu saya ingin segera menyaksikan film ini.

9. Keep Watching 

Film ini menyajikan cerita tentang sebuah keluarga yang terlibat dalam pembunuhan berantai. Pembunuhan yang terjadi ini dikemas layaknya sebuah game. Di sini sepertinya kita akan melihat bagaimana hidup dan mati adalah sebuah permainan. Menang atau kalah ada pada pilihan kita untuk melawan atau menyerah. Alasan saya ingin nonton ini adalah judulnya, “Keep Watching”. Ya gitu, mau tak mau, seru atau tidak ya keep watching aja.

10. Kingsman 2: The Golden Circle 

Film aksi tentang agen rahasia yang renyah untuk ditonon. Sama sekali tidak kelam dan malah lebih banyak unsur komedinya. Film pertamanya berhasil menghibur. Bagi saya film ini bisa menetralisir film-film kelam yang saya tonton. Ben ra mbledosh utekku!

11. The Last Word 

Film drama-komedi ini berkisah tentang seorang pensiunan yang ingin mengabadikan kisah hidupnya ke dalam sebuah buku. Ia kemudian merekrut seorang penulis muda untuk mengerjakannya. Alasan saya ingin nonton ini begitu sederhana. Pertama, karena rindu dengan penampilan Amanda Seyfried. Kedua, karena Amanda mendapat peran sebagai penulis. Ketiga, keknya bagus. Yaudah,sih.

12. Logan 

Rumor yang beredar pada film ini adalah kematian Logan. Lho, Logan bukannya manusia abadi? Jangan naif. Keabadiaan Logan itu tergantung kontraknya sama produser. Kalau udah cut yaudah bubar. Ya begitu, film ini kabarnya memang didaulat sebagai film terakhir Hugh Jackman. Apakah film ini akan kembali menyentuh sukma para penonton layaknya Paul Walker dulu? Feelingku sih bilang, ‘iya’. Apalagi jika Thomas Djorghi menyetujui dirinya mengisi suara untuk soundtrack film ini. Pasti Wiz Khalifa pilih pensiun dari dunia musik. Lalu bergabung dengan saudari jauhnya, Mia Khalifa, untuk menyalurkan bakat olahraga.

13. Pirates of the Carribean 5 : Dead Men Tell no Tales 

Rindu sekali dengan aksi bajak laut, Jack Sparrow. Kali ini ia akan menghadapi Kapten Salazar dalam upayanya memperoleh sebuah pusaka, Trident of Posseidon. Konon, pusaka ini mampu mengendalikan lautan. Wow! Menteri Susi harus turut merebut pusaka ini. Majulah, Susiku!!

14. Power Rangers

Power Rangers akan mengajak kita menonton kembali asal muasal Mighty Morphin. Kelima muda-mudi karangtaruna ini tiba-tiba mendapat kekuatan super yang harus dimanfaatkan untuk meyelamatkan bumi dari serangan alien jahat bernama Rita. Sementara itu, di Indonesia kita mengenal Rita sebagai merek bedak bayi. Tidak terima dengan olok-olok itulah, kemudian Mbak Rita ini ingin menghancurkan bumi.

15. Sleight 

Film ini mengisahkan tentang seorang pemuda ahli sulap yang mencari nafkah melalui pertunjukan jalanan. Dalam hidupnya, ia hanya memiliki seorang adik perempuan. Karna terlibat suatu masalah, adiknya diculik. Satu-satunya modal yang ia miliki untuk menyelamatkan adiknya adalah dengan ketangkasan dan kecerdasan. Dah, gitu aja.

16. Space Between Us 

Film ini ide ceritanya agak ndeladuk. Jadi, Space Between Us ini bercerita tentang seorang anak yang lahir di planet Mars. Ia terjebak di sana ketika ibunya terlibat dalam proyek eksperimental penjelajahan angkasa. Entah bagaimana ceritanya, ia yang selama ini tinggal di Mars akhirnya tiba di Bumi. Si kampret ini tiba di Bumi untuk mencari seorang wanita yang ia yakini sebagai kekasih sehidup sematinya. Piye? Nggapleki banget, tho?

17. Sweet and Sour 

Kali ini kita akan diajak berpetualang bersama pasangan suami istri yang memiliki kebiasaan unik. Mereka mempunyai ritual membunuh sebagai perayaan ulang tahun pernikahan. Namun pada ulang tahun kesepuluh, mereka merubah aturan dalam ritual tahunan itu. Masalah pun terjadi. Premis film ini sungguh wagu bin asu. Pasutri psikopat. Bagaimana mampu saya melewatkan ini?

18. Rings 


Film horor satu ini merupakan kelanjutan dari The Ring dan The Ring Two. Proyek film Ring pertama mendapat sambutan yang begitu meriah dari para penonton. Sayangnya, pada tahun 2002 jelas saya belum melek dengan film macam ini. Maka dari itu, pada tahun ini saya ingin menonton ketiga Ring sekaligus. Wuuw.. Mugo-mugo aku ora dadi edyan!

19. Spider-man Homecoming 

Selepas dari penampilannya yang memorable di Civil Wars, aksi Peter Parker dalam satu layar sendiri sudah tentu ingin saya tonton. Saya memiliki pengalaman emosional tersendiri pada film Spider-man. Ingat betul bagaimana Spider-man 3 (versi Tobey) merupakan film pertama yang saya tonton di bioskop. Sebagai anak kampung tentu hal itu merupakan sebuah prestasi kegaulan. Maka acap kali ada film Spider-man, saya selalu merayakannya dengan nonton di bioskop. 
Ah, gak gitu juga sebenarnya. Saya selalu ingat dengan pengalaman saya nonton di bioskop pertama kali karena kena tilang ratusan ribu. Begitulah resiko mencoba gaul saat masih SMP. Sungguh sadis dendamu~

20. XXX : Return of Xander Cage 

Triple-X pertama adalah awal saya menyukai si gundul, Vin Diesel. Aksinya yang canggih itu berhasil memukau saya yang kala itu masih berseragam putih biru (eh, iya gak, sih). Sempat kecewa dengan XXX yang kedua, di mana tokoh utama diperankan oleh Ice Cube. Maka tak heran jika kembalinya Xander Cage ini memaksa saya untuk kembali berbungah-bungah dengan aksi-aksi menegangkan. Harapan terdalam saya, semoga film ini tidak diboikot oleh Badan Asal Boikot Indonesia (BABI) hanya masalah judul “XXX”.

Alhamdulillah.. Sampailah kita di ujung tulisan ini. Selain 20 film ini, tentu masih ada banyak film seru yang bakal meramaikan ruang-ruang bioskop. Sebut saja Wonder Woman, Thor: Ragnarok, Kong Skull Island, Mummy, The Fate of The Furious, Despicable Me 3, Smurf dan lain-lain. Terima kasih kepada teman-teman yang setia menyimak daftar film ini dari awal hingga paragraf ini. Jadi, film apa yang ingin kamu tonton di tahun 2017?

Tulisan ini mengalami pembaruan pada tanggal 18 Januari 2017
All poster: impawards

9 Desember 2016



Beberapa kali saya melewatkan event Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF), tetapi tidak untuk tahun ini. Di JAFF ini kita bisa bertemu dengan kreator, aktor/aktris, kritikus, praktisi, dan berbagai kalangan yang terlibat dengan film. Acara ini berlangsung dari tanggal 28 November hingga tanggal 3 Desember 2016 yang berlokasi di Jogja melalui beberapa venue, yaitu Empire XXI, Taman Budaya Yogyakarta, dan Grhatama Pustaka Yogyakarta.

Saya seorang diri baru meluncur ke JAFF pada hari ketiga untuk menonton film NAY. Meski mendung terus menggantung, saya tetap melaju dari Solo ke Jogja dengan sepeda motor mogokan. Beruntung ketika tiba di Taman Budaya Yogyakarta, barulah gerimis jatuh pelan-pelan. Saya tiba di lokasi pukul 11.00, sedangkan film diputar pukul 12.30. Kata terlambat tidak ada dalam rencana-rencana saya. Begitu pun dengan kelas kuliah, saya jarang terlambat. Lebih sering bolos sekalian. Sikap!

Tiket on the spot baru dibuka pukul 11.30. Saya tentu lekas membelinya untuk memburu lokasi duduk yang strategis. Namun sayang, tempat duduk dipilihkan oleh panitia. Dan saya terpaksa menyerah pada bangku yang membuat leher kaku ke kanan. Saya kalau sudah nonton film itu bahu ke bawah bisa gerak muter ke mana-mana. Tapi bahu ke atas kaku sekali seperti hubunganmu dan dia. Whoop!

Satu jam saya menunggu, akhirnya pintu teater dibuka. Lekas saja saya masuk karena situasi di luar terlalu ramai oleh orang-orang yang datang bergerombol. Mereka sibuk berfoto di depan tembok-tembok ratapan Instagramers. Sepertinya memang bagi para Instagramers, background foto adalah kiblat, scrolling adalah ibadah, posting adalah sedekah, dan hastag adalah rapalan doa-doa.


Ruang teater tidak segelap bioskop XXI. Sebab, masih ada bocoran-bocoran cahaya yang membuat mata saya dapat menangkap berbagai benda yang ada di dalam ruangan itu. Namun, kebagusan film NAY berhasil menarik perhatian saya. Saking bagusnya, sampai-sampai saya tidak mungkin sadar andai penonton yang duduk di depan saya secara tiba-tiba memutuskan untuk bugil saat itu. Bahkan jika pria sekali pun.

Setelah film selesai, kami para penonton yang masih mabuk dengan apiknya NAY digiring ke selasar untuk mengikuti diskusi bersama Djenar Mahesa Ayu. Beliau ndeprok sambil klepas-klepus mengapulkan asap rokok macam Mas Waluyo kalau lagi curhat di angkringan pinggir jalan. Tanpa ragu saya turut ndeprok di dekatnya. Ya sekitar selemparan kancutlah. Orang-orang mulai mengambil tempat masing-masing seadanya. Lalu saat mas-mas moderator memulai diskusi dengan sambutan selamat datang, Mbak Djenar memilih untuk menenggak bir bintang.

Kaleng bir diletakkan. Puntung rokok yang terapit dua jari didekatkan pada dengkul kanan. Bibirnya tersenyum mengesankan. Sedikit menyeringai. Seolah ingin menggempur kami dengan kata-kata, “Rasakno! Filmku apik, tho? Khekhekhekhe.”

NAY: Belajar Membaca Perempuan

Source: scontent.cdninstagram.com/
Film NAY ini bagus sekali. Saya tidak nemu di mana celah untuk menghujat. Etapi bisa saja karena saya orangnya terlalu baik. Jadi, hal-hal buruk tak tampak dari pengamatan saya. Ndasmu, Ham! Hehe, oke skip.

Ada empat alasan kenapa film ini bagus menurut saya. Pertama, film NAY mengangkat isu gender, seksualitas, dan sistem patriarki yang sampai saat ini masih menjadi mimpi buruk bagi perempuan di negeri kita. Kedua, film ini menawarkan gagasan tentang humanisme, atau bisa juga feminis. Ketiga, kepribadian Nay yang terguncang bisa menjadi perhatian menarik dalam wacana psikologi. Dan alasan terakhir, film ini memiliki cara bercerita yang tak lumrah.

Baiklah, saya kupas satu-satu.

PATRIARKI 
Source: trendhunterstatic.com
Isu patriarki seringkali diperbincangan, salah satu penelusuran saya yaitu mengarah pada terbitnya buku Ancient Law yang ditulis oleh Henry Maine pada tahun 1861. Pada buku ini Henry menjelaskan bahwa keluarga patriarki merupakan dasar dan unit universal dari masyarakat. Di mana sosok ayah memiliki otoritas penuh terhadap istri dan anak-anaknya.

Gagasan patriarki ini lekat kaitannya dalam teori sosial Marx, Engels, dan Weber. Si Engels yang berpendapat jika kemungkinan pembebasan wanita tidak akan pernah terjadi, memicu para feminis Marxis untuk mengkritik patriarki. Ketegangan dari pemahaman-pemahaman yang berbeda atas hal ini pun terus terjadi hingga sekarang.

Sederhananya, jika kamu percaya laki-laki lebih berhak daripada perempuan, maka matamu berhasil dikaburkan oleh wacana patriarki ini. Baik itu hak untuk mengambil keputusan, hak untuk dianggap kuat, hak untuk berbicara lebih bebas dari perempuan, hak untuk dipatuhi, hak untuk bertindak nakal maupun berpikir mesum, dan segala jenis hak untuk mendominasi perempuan apa pun jenisnya. Nah, kalau kamu percaya hak-hak macam itu dimiliki seorang pria sejak ia lahir, maka kamu sudah tergelincir pada sistem patriarki yang diterapkan secara halus, sehalus alis mata Dian Sastro seusai pakai kondisioner.

Dalam film NAY, saya melihat bagaimana seorang Ben enggan menjadi ayah bagi anak yang dikandung Nay. Meski status mereka masih sebatas pacaran, tetapi keputusan nasib janin seolah ditentukan sepihak oleh superioritas Ben. Ben memilih untuk menggugurkan kandungan itu. Sementara Nay berniat menjadikan janin itu sebagai anaknya. Pada tahap ini, Nay mengalami setres berat. Apakah ia akan menggugurkan janinnya karena Ben (selaku laki-laki) tidak mau menerima kehadiran anak itu? Ataukah Nay akan melahirkan anak itu dalam keadaan single parent? Benturan batin inilah yang menjadi konflik utama dalam film ini.

Kasus ini sering terjadi di masyarakat kita. Pria merayu-rayu ngajak ngentot. Pas perempuannya bunting, minta digugurkan. Siapa yang lebih banyak merasakan sakit saat ngentot? Siapa yang masih diberi sakit saat hamil? Siapa lagi yang sakit saat melahirkan atau menggugurkan? Perempuan!

Lalu saat Nay menghubungi Pram (pria yang mencintai Nay) untuk menjadi ayah dari spermanya Ben, Pram menolak. Begitulah salah satu sisi tipis patriarki. Pria selalu memiliki pilihan. Pria mempunyai kuasa untuk menolak. Sedangkan, perempuan masih terjebak pada pilihan-pilihan orang lain dan pengharusan yang tidak dikehendaki. Namun keadaan ini menjadi bias dan dilupakan ketika statement cengengesan ‘cowok selalu salah’ terus digaungkan oleh pria sebagai wujud pengibaan kuasa.

Saya pun pernah berada pada posisi (yang katanya) ‘cowok selalu salah’ itu. Namun jika diselidik lebih dalam, ada faktor yang lebih tepat untuk mengklaim kesalahan saya. Bukan karena saya pria. Namun, karena saya memang salah. Sehingga menurut saya, slogan ‘cowok selalu salah’ hanyalah tempat bersembunyi bagi pria yang melakukan kesalahan tapi enggan mengakui. ‘Cowok selalu salah’ menjadi kekeliruan argumentum ad misericordiam agar klaim tersebut bisa diterima. Di sini kita kembali melihat bagaimana pria memiliki pilihan ketika dituding bersalah. Yaitu, memilih untuk mengakui kesalahan atau lebih memilih melemparkan klaim ‘cowok selalu salah’ untuk menempatkan perempuan sebagai antagonis.

Perkara ini yang berhasil Djenar kemas dalam film NAY. Djenar menempatkan Nay pada kebingungan antara tunduk pada patriarki atau meyanggah Engels (perihal pembebasan wanita yang tidak mungkin terjadi). Djenar mengaduk-aduk emosi saya dari beberapa menit pertama hingga akhir. Mau tidak mau sepanjang film berlangsung, saya harus mengunci mulut rapat-rapat. Sebab jika terbuka, melesatlah kata “ANJINC!”.

HUMANISME

Source: invaluable.com
Saat diskusi, Djenar berujar, “Saya bukan feminis, saya humanis." Hal ini tampak sekali dalam film NAY, khususnya pada dialog, “Lihat itu, Mom. Itu manusia yang tidak memiliki rasa kemanusiaan.” Justru saya memandang jika benang merah dalam film ini terangkum melalui dialog tadi. Sebab, gempuran yang dialami Nay pada dasarnya merupakan bentuk dari ketidakperikemanusiaan.

Ketidakperikemanusiaan ini tampak pada Ben yang tidak mau menjadi ayah dari spermanya sendiri. Adjeng, sahabat sekaligus manajer Nay, yang turut mendukung pengguguran janin agar karir selebritis Nay tidak tersengal. Sebab jika karir Nay hancur, maka hancur pula jaminan duitnya Adjeng. Lalu masih ada ibunya Nay yang sering menganiayanya. Serta, pacar ibunya Nay yang memerkosa Nay di usia sembilan tahun. Lalu apa itu manusia dan kemanusiaan? Kemanusiaan teleq bebeq!

Humanisme menempatkan manusia pada kesetaran antara satu indivdu dan individu lain. Tidak ada perbedaan kelas. Tidak ada kesenjangan gender. Tidak ada tebang pilih kuasa. Tidak perlu impreliasme. Apa pun jabatan, jenis kelamin, gelar, dan segala jenis kehendak berkuasa harus ditepikan terlebih dahulu. Sebab ada kerukunan antarmanusia yang harus dimenangkan.

Ketika seluruh semesta bertindak sadis kepada Nay, di situlah humanisme hadir. Nay yang selama ini menjadi korban ketidakperikemanusiaan mencoba untuk tidak mengulangi siklus yang sama. Keinginannya untuk melahirkan anak itu begitu besar. Bukan karena ia mengidamkan keluarga yang ceria dengan hadirnya anak. Ia tahu benar jika anaknya akan lahir dalam kecacatan keluarga. Anak yang tak berayah. Namun, atas nama kemanusiaan yang adil dan beradab, ia punya tekad untuk menjadikan janin itu sebagai anaknya. Tekad itulah yang terus mengalami gejolak karena desakan Ben dan Adjeng untuk menggugurkan kandungan.

Selain tokoh-tokoh yang sudah saya sebutkan di atas, ada lagi satu sosok yang sangat tidak mengerti kemanusiaan. Ibunya Ben. Sebagai mertua, bukannya mencari solusi yang tepat malah menuduh jika Nay itu bohong. Nay dianggap sudah tidur dengan banyak pria. Lalu memilih pria paling kaya untuk dimintai pertanggungjawaban. Sungguh logika sok tahu yang seasu-asunya. Dia mikir pakai tumit kayaknya.

PSIKOLOGI 
Source: imgur.com
Ulasan menarik keluar dari pria yang duduk di sebelah saya. Ia menyinggung soal sisi psikologis Nay yang sudah bertingkah seperti orang gila. Nay bisa menangis. Tiba-tiba tertawa. Lalu menangis lagi. Kemudian marah. Merenung. Lalu kembali tertawa, dan seterusnya.

Emosi yang ia alami berubah-ubah secara ekstrim. Saya menduga bisa saja ia bipolar. Kecenderungan untuk berganti emosi dari depresif ke manik ada dalam sosok Nay. Bahkan Nay pun mengalami delusi parah. Ia seolah sedang bicara pada ibunya, padahal ia sedang bicara pada diri sendiri. Ada yang menduga skizofrenia pula.

Namun, Djenar selaku pencipta tokoh Nay pun kelimpungan dengan dugaan itu. Djenar mengaku belum menemukan bukti apakah Nay mengalami gangguan kejiwaan. Lekas saja ia membiarkan para penonton membaca karakter Nay sebebas-bebasnya. Sebab dalam salah satu dialog juga dikatakan, “Kebenaran menurut siapa, Nay? Menurut kamu?”

Potongan dialog di atas dapat kita temukan keragu-raguan Djenar dalam memahami realitas. Semangat posmodernisme yang terus mencoba menggulingkan rezim kepastian, membuat realitas menjadi semu. Benar dan salah tidak lagi absolut. Maka realitas yang kita kenal saat ini adalah realitas ambigu.

Beranjak dari situlah Djenar membolehkan para penonton untuk menentukan sendiri apakah Nay ini gila atau tidak. Karena setiap pendapat yang berdasar adalah kebenaran. Namun, bukan kebenaran universal. Sampai pada perbincangan ini, moderator berceletuk, “Nah, Anda bisa membaca karakter Nay ini dengan psikoanalisis, Mas.” BUAJINGEK!

KENIKMATAN VISUAL 

Sepanjang film berlangsung, kita disuguhkan pada set lokasi yang berkutat di satu tempat. Namun di waktu yang sama juga berpindah-pindah. Nah, bingung kan? Hahahaha. Jadi point of view dalam film ini adalah Nay yang sedang berkendara di jalanan Jakarta pada suatu malam.

Nay waktu itu pulang dari rumah sakit dan mendapati dirinya positif hamil sebelas minggu. Di dalam mobil itulah ia dilibatkan pada situasi yang membingungkan. Antara ingin melahirkan atau menggugurkan. Sesederhana itu premisnya. Tapi eksekusinya bagus sekali.

Seperti film The Island, dari awal sampai akhir yang main film cuma seorang doang. Bisa bayangkan betapa absurdnya 130 menitmu menyaksikan orang berkendara? Kok absurd? Yaiyalah! Insepsi yang timbul dari pengalaman nonton Fake Taxi bisa muncul begitu saja. Apalagi mobilnya Nay ini warnanya kuning. BANGKE!

Komunikasi yang terjalin antara Nay dan karakter lain terjadi melalui sambungan telepon. Sedangkan komunikasi Nay dan ibunya terjadi melalui dirinya sendiri. Nay, entah sengaja atau tidak, mampu melakukan impersonate terhadap ibunya. Sehinga perbincangan ibu dan anak dapat kita saksikan pada satu orang yang sama.

Selain itu, kecanggihan Nay yang bergonta-ganti emosi memberi kesan ramai pada film. Sehingga penonton tidak bosan. Kala sedih ia menangIs tersedu-sedu. Kala bahagia ia bisa tertawa terbahak-bahak. Kala marah ia bisa melempari kita dengan teriakan ANJINC! BANGSAT! KONTAL-KANTIL!

Begitulah NAY mampu menghipnotis saya dalam cerita yang tersaji apik dengan sarat makna yang begitu dalam. Ada banyak hal yang bisa dibicarakan dalam film ini. Maka tak heran jika NAY lebih bisa dinikmati melalui acara pemutaran film daripada mendapatkannya dari link download.

Sayang sekali pada kesempatan itu sesi diskusi terbatas waktu. Mau tak mau saya harus menyudahi ambisi saya untuk mengulik film ini lebih jauh. Jadinya, saya memilih untuk menenggelamkan alam pikir saya bersama bayang-bayang film yang masih membekas. Lalu menganalisanya di sepanjang jalan ketika saya berkendara pulang. Tiba di rumah, saya segera membicarakan ini pada kekasih saya. Diskusi sesungguhnya, baru saja dimulai.

Header source: ytimg.com