Tampilkan postingan dengan label Film dan Televisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film dan Televisi. Tampilkan semua postingan

1 Juli 2017




Sebagai anak terakhir dari empat bersaudara, saya kok jadi merasa berkecil hati seusai nonton film Boss Baby, ya? Hmm.

Boss Baby ini merupakan film animasi bergelar komedi yang diadopsi dari buku yang ditulis Marla Frazee dengan judul yang sama. Film yang digarap oleh DreamWorks Animation ini menjadi sajian yang menarik untuk ditonton anak-anak dengan bimbingan orangtua.

Lho, kok bimbingan orangtua? Ini kan film animasi anak?


Lha memangnya kalau film animasi anak begitu lantas anak-anak yang nonton bisa paham dengan sendirinya? Bisa mengambil pesan postifnya? Saya kok tidak yakin akan hal tersebut, ya.

Menurut saya, orangtua perlu hadir untuk nonton film ini bersama dengan anak-anaknya. Bukan karena menjaga agar terhindar dari tayangan porno (yaelah lihat bayi bugil doang), tapi agar si anak dan orangtua memiliki referensi yang sama. Hal ini berguna sebagai suku cadang bahan obrolan, lho.

Misal, ketika si anak takut naik sepeda. Orangtua bisa mengingatkan scene di mana Tim berhasil menghadapi ketakutan yang serupa. Seriously, scene yang saya maksud ini adalah salah satu favorit saya. Setidaknya, punchline-nya sukses membuat saya menghela kata, “Asu!”

Kembali pada keresahan saya di awal tadi, Boss Baby mengawali ceritanya dengan seorang anak bernama Tim yang benci dengan kedatangan dedek bayi di silsilah keluarganya. Pasca bertambahnya anggota keluarga itulah, Tim merasa dirinya kurang mendapat kasih sayang dari orangtua.

Saya jadi membayangkan saja, jangan-jangan dulu saya juga membuat mas dan mbak saya merasa demikian. Jangan-jangan dulu sewaktu bayi saya juga mengenakan setelan jas yang necis. Jangan-jangan dulu saya juga mengorganisir bayi-bayi di desa setempat. Dan jangan-jangan saya pun dulu membaca koran yang ukurannya sebesar tubuh bayi.

Duh, pengimajinasian terhadap bayi dalam film ini bikin tergelitik. Menarik dan fresh.Ya setidaknya saya sih tidak pernah terpikir hal yang sama sebelumnya.

Boss Baby ini menawarkan gagasan baru yang mendobrak keyakinan kita perihal asal usul bayi. Menurut film ini, bayi tidak dikreasikan dengan pergumulan cairan itu tuh ehem ehem. Namun, bayi sedari awal memang sudah ada dalam jumlah yang sangat banyak. Mereka berada dalam perusahaan bernama Baby Corp yang dikelola oleh bayi-bayi dewasa.

Jadi ceritanya, ada susu sakti mandraguna yang jika diminum maka para bayi akan abadi sebagai bayi. Akan tetapi, akal dan suaranya dalam keadaan dewasa. Nah, para bayi dalam kategori spesial inilah yang mengelola Baby Corp. Sedangkan bayi-bayi biasa yang tidak mendapat asupan susu sakti lantas dikirim ke rumah sakit bersalin untuk diklaim sebagai anak dari ibu yang seolah-olah (dan dipercaya) telah melahirkan.

Kalau mau dibilang terlalu konyol ya bilang saja konyol. Memang kok gagasan filmnya kurang tertib. Tapi, sekali lagi, film ini tetap film animasi anak. Wajar jika ada logika yang dipatahkan oleh film ini guna membangun cerita yang liar akan fantasi.

Lha wong konfliknya saja nggapleki sekali. Bagaimana tidak? Menurut film ini, kasih sayang orangtua ke anak (bayi) akan bergeser kepada anak anjing. Apalagi perusahaan Puppy Co akan meluncurkan sebuah inovasi bernama Puppy Forever, yaitu di mana anak anjing yang lucu-lucu itu akan abadi kegemasannya.

Para puppy itu tidak akan pernah beranjak dewasa gara-gara diberi formula susu sakti mandraguna, sehingga orang-orang dewasa akan selalu memperhatikan si puppy selamanya. Pada titik inilah kebahagiaan para bayi terancam. Maka diutuslah seorang bayi spesial dari Baby Corp untuk menyelesaikan ancaman ini.

Demi ketentraman paradigma anak-anak terhadap wacana kebayi-bayian tersebut, maka saya menganjurkan agar film ini tidak hanya ditonton oleh anak-anak saja. Tapi juga orangtua. Buat jaga-jaga juga semisal si anak tiba-tiba penasaran dengan pernyataan yang dicetuskan oleh bayi spesial tersebut, “Jika orang-orang tahu dari mana bayi datang, mereka takkan mau punya bayi. Sama seperti hotdog.”

Kan para bapak bisa sedikit menggelincirkan pernyataan itu jadi, “Kalau kamu tahu dari mana biaya buka YouTube berasal, kamu tak akan mau membuka YouTube.”

Lalu saat sarapan mulai disiapkan, tiba-tiba saja si anak bilang ke ibunya. “Buk, Buk. Kalau ibu tahu dari mana bapak pergi semalam, ibu nggak akan mau bapak pergi malam-malam.”

Demi mendengar hal tersebut, si bapak segera mindik-mindik ke selokan belakang rumah seraya mengosongkan saku celananya dari segepok kartu gaple, dua butir dadu, dan satu botol bedak Rita lengkap dengan koin karambolnya.

“Paaak! Dirimu apa main judi lagi?!” Lastri berjalan cepat, menyincing dasternya, dan mengacung-acungkan garpu tala.

“Ampun, Bu’e. Aku cuma mau cari hiburan sebentar saja. Cuma semalem kemarin saja. Suwer.”

Suwer-suwer lambemu ndower. Hiburan ya hiburan. Tapi ya nggak usah judi. Kamu itu kalahan, asu.”



Image source: bukapintu.co

12 Juni 2017


Salah satu hal yang membuat kita nyaman ketika menonton film adalah elemen mise en scene dalam film tersebut terpenuhi dengan baik. Mise en scene berasal dari bahasa Perancis yang memiliki arti meletakkan satu subjek dalam adegan. Kalau dalam film, mise en scene ini sering dibicarakan dalam aspek-aspek visual, seperti dekorasi, lokasi, kostum, pencahayaan, dan lain sebagainya. 



Mise en scene pertama kali dipopulerkan oleh kalangan kritikus dari Perancis pada tahun 1950-an yang sebenarnya lebih dahulu dikenal dari dunia teater. Perlu dicatatat bahwa mise en scene tersebut tidak ada hubungan sama sekali dengan pendarahan pada hidung, sebab itu namanya mimisan. Krik! Okey. Meleset jauh.

Jadi, kali ini saya akan membahas sedikit mengenai kostum film. Lho kenapa kok tahu-tahu bahas beginian? Lha mau bagaimana lagi? Kostum film itu merupakan topik skripsi saya yang nyaris kadaluarasa di telan zaman. Jadi daripada kehapus sama CCleaner, tidak ada salahnya jika saya cuil beberapa materi di situ ke dalam blog post saya kali ini. Oke, Bro?

Nah, seperti yang sudah saya paparkan di atas, kostum termasuk dalam salah satu aspek mise en scene yang begitu penting dan erat kaitannya dengan setting. Kok gitu?

Lha iya dong, setting itu fungsinya membangun latar belakang semesta dalam film, sedangkan kostum memiliki fungsi membangun identitas tokoh-tokohnya. Misal dalam film Martian kita tahu jika Mark Watney terdampar di Mars. Maka kostum yang dikenakan tidak mungkin bergaya harajuku atau malah pakai daster Yogs. Ia harus mengenakan suit luar angkasa. Hal ini sangat penting agar penonton bisa memakluminya. Ya, sederhananya sih begitu.

Tunggu dulu, Bro. Sebelum lebih jauh ke situ, sebenarnya kostum itu apa sih?

Oiya, gini. Kostum itu akronim dari ‘kosmetik tumpah’. Krik! Nggak, nggak. Anu, kalau menurut Bellman (1977) ya, kostum itu elemen fisik dan simbolik yang paling dekat dengan seorang pemeran dan karakter yang diperankan.

Fungsi kostum sendiri, kalau menurut Nelot (2009) itu ada beberapa, seperti untuk menciptakan keindahan visual, membedakan tokoh yang satu dengan yang lain, menguatkan identitas tokoh, memberi ruang gerak bagi aktor untuk mengekspresikan karakternya, serta memberi efek dramatik.

Ada satu contoh menariknya, yaitu dalam film bisu, The Artist, yang menyajikan visual monokrom. Karena keterbatasan warna yang digunakan dalam film itu, Mark Bridges sebagai penata kostum memilih untuk mempresentasikan kekuatan kostumnya dalam bentuk dan tekstur yang variatif.

Kejeniusan ini nih yang mengantarkan The Artist dalam jajaran pemenang Oscar tahun 2011, salah satunya adalah kategori Best Costume Design. Saya kutip dari Kompas, Bridges pernah bertutur, ”Karena cerita harus dikomunikasikan tanpa warna, saya mencoba bercerita dengan tekstur, seperti melalui manik-manik dan payet untuk mengesankan keglamoran Hollywood, satin untuk keeleganan, atau bahan-bahan berkilau yang dipakai untuk membuat gaun malam yang indah.”
Wah, dari hal ini kita bisa belajar bagaimana mengoptimalkan feed Instagram yang bertema hitam putih. Hayoo.. Siapa yang mau nyoba OOTD dengan memainkan tekstur-tekstur ala Mark Brigdes? Hash, gayamu, Ham. Instragrammu saja isinya panda-panda ora mutu!


 Oiya, menyinggung soal Bridges sebagai penata kostum, saya jadi mau sedikit share soal bagian-bagian yang ada di dalam divisi kostum. Barangkali saja ada yang mau magang atau kerja di situ. (Sungguh postingan paling aplikatif abad ini di hamtiar.com)

Costume Designer
Memiliki tanggungjawab pada proses perancangan, perencanaan, pengaturan konstruksi garmen mulai dari bahan kain yang digunakan, warna dan ukurannya.

Costume Supervisor
Tugasnya yakni membantu merancang kostum, mengawasi pembuatan seluruh produksi kain, memastikan kostum yang dibuat sudah sesuai dengan sketsa rancangan, dan mengatur segala keperluan penyimpanannya.

Key Costumer
Bertanggungjawab untuk membantu costume supervisor dalam mengatur produksi busana dan memenuhi keperluan kostum khusus pemeran utama.

Costume Standby
Tugas si Costume Standby ini mengawasi kontinuitas keperluan kostum yang digunakan para pemeran dalam setiap adegan.

Art Finisher
Kalau yang ini tugasnya memberi sentuhan-sentuhan artistik dari kostum yang digunakan untuk keperluan syuting, misalnya mengubah pakaian baru menjadi lebih lawas, kotor, basah atau yang lainnya.

Cutter
Bertanggungjawab memperbaiki kostum dan melakukan segala pekerjaan penjahit pada waktu syuting berlangsung.

Dahulu kala, ketika saya masih berkutat dengan kuliah perfesyenan yang maha estetik itu, saya punya keinginan buat magang di salah satu bidang tadi. Alasannya sederhana. Yakni karna saya kuliahnya di bidang fashion, sementara saya sukanya film. Ya sudah saya cari titik tengahnya saja.

Lantas apakah saya jadi magang di salah satu itu?

NGGAK!

Emang ken..?

NGGAK USAH TANYA KENAPA!

Hahaha. Malah uring-uringan dewe. Ya sudah, terlepas dari hal mblegedu dalam hidup saya itu, berikut saya lanjutkan pembahasan soal kostum ini dengan beberapa rekomendasi film yang menghadirkan kostum-kostum asyik untuk kamu jadikan inspirasi OOTD. Siapa tahu bisa memberi ide bagi dirimu yang mau membeli baju lebaran tahun ini.

Annie Hall (1977)




Annie adalah karakter yang menampilkan sisi tomboy. Kostum yang ia kenakan sudah lumayan banyak dikutip oleh beberapa orang, sih. Tapi bukan bagian dari 7 Dosa yang Tidak Diampuni Tuhan kok kalau semisal dirimu mau mengadopsi style Annie juga.

The Devil Wears Prada (2006)
Via popsugar.com

Kalau film ini sudah jelas menjadi sumber inspirasi bagi mereka yang mau mengeksplorasi outfit. Film yang memang berkisah tentang dunia fashion designer ini banyak menghadirkan variasi style lengkap dengan tutorial cara melakukan mix and match, meski tersirat. Kalau dari film ini kebanyakan memang style yang agak classy gitu, ya.

Factory Girl (2006)

Via pinterest.com
 

Film yang mengangkat kisah sosialita Edie Sedgwick beserta seniman fenomenal, Andy Warhol, menyajikan kostum-kostum nyentrik era 60-an yang mungkin diminati oleh anak-anak hipster kekinian. Saran saya sih, cocok buat datang ke nikahannya mantanmu. Biar kesannya kamu gembira-gembira saja dengan kebahagiannya. Meski sebetulnya palung hati teriris-iris. Dyar!

Coco Before Chanel (2009)


Via pinterest.com
 

Merupakan film Perancis tentang kisah nyata perjalanan hidup sang pencipta brand fashion terkemuka, Chanel. Gimana? Kalau sudah ada embel-embel film Perancis serta nama Coco Chanel, bagaimana mungkin tidak tertarik sama film ini ya, kan? Eh, kalau habis nonton film ini, sih, sepertinya jiwa desainernya lebih terpanggil daripada hasrat OOTD, ya.

Brooklyn (2015)

Via pinterest.com
 

Drama percintaan ini dikuatkan oleh pesona kostum yang ramai warna-warni menyenangkan. Ya barangkali kalau hati mood sedang ceria-cerianya, kostum-kostum dalam film bisa menjadi pilihan yang menarik untuk dieksekusi jadi gaya OOTD-mu. Apalagi kalau memang dirimu suka dengan tema-tema vintage. Whoop!

Straight Outta Compton (2015) 

 
Via glamour.com
 

Nah, kali ini cocok buat para pria yang mau tampil swag (style with a little bit gangsta). Pakaian serba hitam dan glombor ini memberi kesan woyo wassap yo (kesan macam apa ini) yang tetap trendi meski sederhana sekali. Straight Outta Compton ini mengangkat sejarah rap di Amerika yang penuh perlawanan dan konfrontasi. Kehidupan gangster orang kulit hitam dan intervensi dari polisi setempat menjadi spirit di lirik-lirik rap mereka yang vulgar. Salah satu yang fenomenal pada masanya yaitu lagu berjudul “Fuck Police”. Sementara di Indonesia fenomenal dengan...O Aza Ya Kan.

Baiklah, saya rasa cukup itu saja yang bisa saya bagi di dalam tulisan ini. Terima kasih buat teman-teman yang sudah membaca sampai selesai atau ya paling tidak sudah mampir. Salam-salam di kolom komentar juga bisa, lho. Hla wong request lagu aja juga bisa. Krik! Oke, sampai jumpa di tulisan selanjutnya.




Header: businessoffashion.com

3 Juni 2017


 Sebagai melankolis yang haqiqi, harap maklum saja jika kantung mata ini bergetar gegara menyaksikan film Critical Eleven. Hiii.

Lha mau gimana lagi? Meski mulut sering bekata kasar, bukan lantas hati ini tercipta dari batu gamping, Bro. Sukma ini lunak, rapuh, dan rentan sedu sedan.

Maka benar saja, pergumulan antara Ale (Reza Rahadian) dan Anya (Adinia Wirasti) menjadi gempuran yang dahsyat bagi saya. Film yang diadaptasi dari novel Ika Natassa dengan judul yang sama ini kalau mau dibilang sukses membuat hancur lebur ya boleh saja. Tapi kalau mau mendaulat sebagai film terbaik tahun ini? Hmm. Tak sesederhana itu, Bro.

Heh? Sebentar-sebentar. Kamu nangis nonton Critical Eleven ini, Ham?

Duh, kalau mau disebut menangys kok ya kesannya saya ini mudah terkoyak alias cemen. Tapi kalau mau bilang tidak menangys, kok ya saya takut nanti air mata saya mengadu pada Tuhan tentang kedustaan ini.

“Aku tahu kamu takut keluar dari zona nyamanmu. Tapi kadang kamu harus keluar dari situ agar kamu lebih mensyukuri apa yang kamu miliki saat ini.” – Ale
Sebagai lelaki, saya mencoba merasakan betul bagaimana Ale harus kehilangan anak pertamanya tanpa sempat mendegar tawanya, nyanyiannya, bahkan tangisnya ketika lahir.

Begini deh, coba bayangkan bagaimana rasanya kamu sangat menginginkan sesuatu. Sesuatu itu kamu persiapkan benar-benar selama berbulan-bulan dengan gembira. Lantas, ketika tinggal hitungan hari kamu harusnya bertemu dengan sesuatu itu, tiba-tiba saja Tuhan mengambilnya kembali.

Dan pada titik itu kamu sadar betul jika apa yang sudah diambil Tuhan, tidak akan pernah diberikan kembali untuk kedua kalinya. Selain kesempatan.

Sebagai calon bapak, apa yang menimpa Ale adalah sesuatu yang –kalau orang jawa bilang- amit-amit jabang bayi. Namun ya mau bagaimana lagi? Jika memang itu ketetapan yang divoniskan Tuhan, sebagai manusia yang pemalu dihadapan kuasa-Nya sudah barang tentu kita cuma bisa mengadopsi keikhlasan dalam palung kesedihan.

*Kalau ada yang bilang ‘anjir’ begitu baca kalimat terakhir barusan, ketahuilah, saya pun mengatakan kata yang serupa. Wkwk.

 

Foto dari: https://id.bookmyshow.com
 Terlepas dari tumbangnya ketegaran saya itu, Critical Eleven memang film yang dirancangkan untuk diingat. Hal ini terbukti dari beberapa dialog yang dikerahkan oleh Jenny Jusuf, Monty Tiwa, dan Ika Natassa agar dikutip kembali oleh penontonnya sebagai bagian dari pesan mendalam yang memberi nilai tambah pada film tersebut.

“Aku berjanji akan membahagiakan kamu dengan seluruh kekuatan yang aku punya.” Merupakan kalimat pamungkas yang diucapkan Ale ketika Anya merasa rapuh. Untung saja Anya tidak minta yang muluk-muluk. Coba kalau dia minta dibuatkan seribu candi di New York. Bisa-bisa Mas Ale berubah jadi Ultron. Zzzz.

Terlepas dari hal itu, Ale memang pantas dinobatkan sebagai artsitek keromatisan. Bagaimana tidak? Ketika melamar Anya, dia bilang gini:

“Bisa bayangin nggak, kita lewat jembatan bareng. Terus kita bakar jembatan itu. Aku itu sama kamu kayak gitu, Nya. I’ve burned my bridges. There’s no turning back. There’s only going forward with you. Will you marry, me?” – Ale
Gara-gara cuplikan dialog di atas, sejumlah mas-mas mahasiswa arsitek kalau mau bimbingan, bilangnya gini, “Bisa bayangin nggak, Pak? Saya mendesain jembatan ini selama 336 jam, melahap 48 PopMie, dan menolak 12 cinta yang datang. Terus Bapak bakar desain jembatan ini berupa revisian. There’s no turning back. There’s only going forward with you. Please marry me, Pak?” Zzzz (2) 

Foto dari: https://www.brilio.net

Quotes di atas diambil dari dialog saat Ale hendak bertindak senonoh. Lebih tepatnya begini:

(Ale tiba-tiba megurungkan gairahnya. Ia menghela nafas seraya melepas pelukan.)

“Tidak ada yang bilang kalau tidak boleh melakukan hubungan suami istri saat masa kehamilan, Le.”

“Tapi aku nggak mau nyakitin kamu.”

“Bapak Aldebaran Risjad, dari jutaan orang di dunia ini, cuma kamu satu-satunya yang tidak akan pernah nyakitin aku.”

“Berarti boleh ini?”


(Anya mengangguk)

Lantas mereka masyuk mainan panco jempol.

Selain yang sudah saya singgung, ada beberapa quotes lain, seperti:
“Ketika kamu bertemu seseorang yang tepat, kamu akan tahu dia adalah orangnya tanpa perlu alasan, kan?” – Anya
Quote ini aromanya Fiersa Besari banget, ya. Cobalah dengarkan Konspirasi Alam Semesta dan Tanpa Karena untuk membuktikan hal itu.


“Mau di Jakarta atau di New York, kamu adalah rumahku. Di mana pun kita tinggal bukan masalah buatku, selama kita bertiga terus bersama-sama.” – Ale
Lah ini juga Fiersa Besari lagi yang judulnya Rumah.
 
“Kesannya kamu melihatku sebagai wanita egois, Le.” - Anya

“Aku tidak bilang kamu egois. Sejak awal kamu memutuskan untuk pindah ke sini, aku tahu itu berat bagi kamu. Kamu keluar dari pekerjaanmu yang bagus, kamu jauh dari teman-temanmu, demi aku. Sejak itu aku selalu tahu kamu tidak egois.” – Ale
Pelajaran penting ada di scene ini, nih. Bisa jadi saat ini ada beberapa lelaki yang merasa perempuannya terlalu egois karena sering mengajukan syarat-syarat atau rekuesan tertentu. Padahal jika mau dicerna lebih halus seperti yang dilakukan Ale, pada akhirnya bisa menemukan titik di mana si perempuan menginginkan sesuatu itu bukan untuk memuaskan dirinya semata. Tapi untuk kepentingan bersama yang memerlukan persetujuan.

Sederhananya saya beri contoh begini.

Suatu ketika si perempuan bilang, “Mas, gimana kalau beli motor lagi buat aku pakai.”

Belum sempat bertanya alasan apa. Atau bahkan belum sempat ditafakuri lebih jauh lagi, beberapa pria langsung naik darah. “Enak aja kamu bilang. Aku itu udah irit-irit buat kebutuhan anak kita kelak. Kamu malah minta motor. Egois kamu.”

Padahal si perempuan itu tidak minta. Ia hanya berpendapat. Ia hanya sedang minta persetujuan saja. Idenya itu tercetus karena mempertimbangkan si lelaki yang tiap hari mondar-madir antara rumah, kantor, dan masih harus antar jemput ke tempat kerja istrinya. Terlebih kalau si kecil udah lahir, makin repot menyusun waktu nanti.

Nah, posisi Ale sebagai suami tidak dapat diragukan lagi. Ia memahami betul bagaimana mengapresiasi kehadiran Anya di dalam hidupnya. Meski, ya, singgungan tetap saja terjadi. Namun semua bisa diatasi jika keduanya memilih menyerah terhadap diri sendiri dan meletakkan kepasrahannya di bahu kekasih.

Duhbiyuung. Kok dadi nggrantes ngene iki, yo, Bro? (*nggrantes: sukma bergetar)

Tapi kalau bicara soal nggrantes, scene yang menurut saya paling meledakkan kesedihan itu saat Ale sedang di tempat kerja pasca perginya si anak. Ia memungut kaosnya yang berbaring di lantai. Lalu ia buka kaos yang kusut itu.

Di punggung kaos itu tertoreh tulisan “Aidan’s Super Dad”. Ale langsung meremas kaos itu kuat-kuat sambil nangis kejer.

Bagaimana nggak sedih? Menjadi ayah yang dikagumi, dibanggakan, dan diidolakan oleh anak sendiri adalah sebuah cita-cita. Sayangnya cita-cita itu harus kandas sangat dini. Ale tidak bisa menjadi Super Dad. Bahkan ia tidak bisa menjadi siapa-siapa bagi Aidan selain sebagai pewaris genetik.

Memang, seburuk-buruknya kabar adalah kabar ketiadaan anaknya sendiri.

Lah, malah bikin quote sendiri. 


Baca juga: 10 Kutipan Romantis Film Hollywood

Yasudah, saya kira sudah cukup itu saja yang bisa saya wartakan, kok. Critical Eleven cocok betul ditonton buat mereka yang berkepribadian melankolis dan penyayang. Meski saya belum punya anak -buset kawin aja belum-, tapi saya yakin jika film ini bisa meningkatkan rasa syukur bagi mereka yang dikaruniai seorang anak yang memang mereka harapkan.

Sekian tulisan dari saya. Terima kasih sudah membacanya sampai selesai. Lebih terima kasih lagi kalau dirimu khilaf mencet tombol share. Wes ya, tak lanjut turu meneh.

18 Mei 2017



Jika Bung Karno terkenal dengan Jas Merah (jangan sekali-kali melupakan sejarah)-nya, maka saya perkenalkan yang namanya Jas Hujan (jangan sekali-kali menghujat makanan). Sungguh kalimat pembuka yang sangat berfaedah, bukan?

Jas Hujan itu tercetus ketika saya selesai menonton film Cina berjudul Cook Up a Storm (2017). Sebetulnya film ini sederhana sekali, tapi membuat lapar.

Bercerita tentang koki lokal bernama Gao Tian Ci a.k.a Sky Ko (Nicholas Tse) yang jago membuat makanan tradisional Cina. Ia menjadi koki di sebuah kedai makan bernama Seven yang terletak di sudut kumuh dalam kawasan kota metropolis Spring Avenue.

Suatu ketika, di depan kedainya dibangunlah restoran kelas internasional yang mendatangkan koki terbaik Eropa, Paul Ahn (Jung Yong Hwa). Tentu saja Jung Yong Hwa ini tidak ada hubungan darah sama sekali dengan Jung Jawa. Meski plintiran poni mereka jatuh di sudut pitagoras yang sama, tapi tetap saja beda. Lha wong yang satu koki ternama di Eropa. Sedang satunya, buat buka tutup saus Indofood saja harus dicongkel pakai bisikan ‘aku sayang kamu’ dulu.

Karena sedang ngomongin film Cina, izinkan saya terkekeh dengan bahasa Cina: Xixixixixi.

Ketika Stellar (restoran yang dibangun di depan Kedai Seven) mulai beroprasi, ternyata muncul berbagai masalah. Kedai Seven merasa dirugikan karena lahan mereka malah dipakai parkir mobil oleh pelanggannya Stellar.

Saat salah satu pengelola Kedai Seven protes, pihak Stellar malah mengadu akan menggusur bangunan tua tempat di mana Kedai Seven berjualan. Pengelola Kedai Seven yang getol itu bernama Hai Dan Mei a.k.a Uni (Tiffany Tang). Tentu saja di sini Uni tidak membahas tentang Vaseline lagi. Itu Uni Dzalikaaaa..! Xixixixixi. 


 
Alhasil untuk menentukan siapa yang berhak membuka tempat makan di Spring Avenue, Sky dan Paul harus bertarung di kompetisi masak. Kompetisi ini ada tiga babak, lokal, nasional, dan internasional. Jika lolos ketiga babak itu, peserta berhak melawan Dewa Masak, Anthony Ko a.k.a Mountain Ko (Anthony Wong).

Dahsyat tenan yo, di Cina itu sudah ada Dewa Judi, Dewa Mabuk, lalu ada Dewa Masak. Kalau Indonesia sih punya Dewa Sembilan belas, Dewa Bujana, dan Dewaweb. Yuk, beli domain terbaikmu di Dewaweb.

Scene yang membuat saya terharu dengan film ini adalah relasi ayah dan anak yang ditampilkan melalui sosok Sky dan Dewa Masak. Selain untuk mempertahankan Kedai Seven, ternyata Sky juga memiliki ambisi untuk mengalahkan ayahnya. (Spoiler alert)

Sejak Sky masih kecil, ayahnya pergi untuk mengejar impian menjadi Dewa Masak. Dan ia tidak pernah mengakui Sky sebagai anaknya karena ia malu jika memiliki anak yang tidak bisa memasak.

Saya merinding ketika di atas panggung Sky menyodorkan mie ayam ke Dewa Masak. Saat Dewa Masak memakannya, Sky langsung berjalan meninggalkan panggung. Sky tidak peduli dengan hadiah atau gelar. Ia cuma mau menunjukkan kepada ayahnya jika ia bisa memasak. Itu saja.

Maka benar saja, ketika Sky melangkah keluar panggung, Dewa Masak memanggilnya. Saat Sky menoleh, Dewa Masak bilang, “Kerja bagus.” Itu benar-benar scene yang menyentuh bagi saya. Bagaimana tidak? Dua puluh tahun belajar masak hanya untuk mendapat pengakuan dari ayahnya bahwa ia bisa menjadi anak yang membanggakan, lho. Dan itu tersimbolkan dengan mie ayam! Luar biasa. 



Nah, Cook Up a Storm ceritanya sesederhana itu tapi menyentuh. Dan hal lain yang membuat istimewa adalah visualisasinya. Marai ngelih. Mas Paul itu menyajikan makanannya cuantek bingit kayak Sangkuriang (Sangkuriang versi mana yang cantek cuuk??).

Sedangkan Sky lebih atraktif masaknya. Yang satu instagramable dan satunya instastoryable. Wuah, pakai istilahnya khalayak kekinian. Jangan ngaku generasi millenial posmodernis kalau nantinya punya anak belum dikasih nama yang instagramable. Lho, sing koyo piye iku? Ya misal, Joko Gram, Ani Insta, Budi Story, dan Yanto Feed. Kalau mau agak panjang juga bisa pakai nama Sri Started Following You. Gimana? Futuristik sekali, kan?

Haduhbiyuung.. Nonton film tentang masak itu memang harus waspada kelaparan. Apalagi kalau ingat skill masak diri sendiri masih level mie instan dan telur ceplok. Ini juga sedang belajar masak bubur Milna gagal-gagal terus. Jelas tidak bisa dibandingkan dengan Cook Up a Storm, dong. Yaiyalah!

Mas Paul itu masakannya kebarat-baratan. Sementara Sky ketimur-timuran. Masing-masing punya prinsip yang kuat. Mas Paul mengklaim kalau masakan barat itu terus berinovasi, sedangkan masakan timur cuma gitu-gitu saja. Kalau Sky lebih percaya jika masakan timur selalu menang di rasa karena tidak dimasak dengan trik saja, namun juga hati.

Uniknya, karena Mas Paul dikhianati sama si pemilik modal restoran Steller, ia kemudian banting setir memihak Sky untuk lolos babak ketiga. Jadi masakan barat bakal bertemu dengan masakan timur dalam satu piring! Anjaaay.. Ngeliiihhhhh..

Haduhbiyuung.. Lidah dan perut sudah tidak tahan lagi. Saya ingin makan makanan kombinasi barat dan timur sekarang juga! Tapi di mana?

Ketika tubuh mulai lemas. Ketika sekujur badan sudah pasrah pada lapar. Dan ketika mata terlanjur kepilu-piluan. Tiba-tiba saja, ada pemberitahuan wasap yang menggetarkan sukma.

Ada yang ngajak makan di Pesta Buntel.

Wow, tempat makan apa, tuh?


Karena memang sedang ingin makan yang di luar menu sehari-hari dan sedang hemat dalam satu waktu, maka saya menyatakan mau menerima ajakan traktiran itu.

Singkat cerita, saya sampai di Pesta Buntel, tuh. Tempatnya nyaman. Apalagi nuansa whiteaddict, pattern, dan tanaman-tanaman yang ditata bagus itu membuat saya berpikir mau ke Pesta Buntel lagi kapan-kapan. Tapi sendirian saja. Karena saya lihat ada colokan dan koneksi internet. Xixixixixi.

WATDEFAK! INI MENU APA? 

 
Kira-kira begitulah teriakan isi hati saya ketika tahu ternyata Pesta Buntel itu konsepnya adalah fusion. Yaitu olahan dari masakan barat dan timur yang disajikan dalam buntelan tradisional Indonesia. Uedyan! Baru tahu konsepnya seperti Cook Up a Storm saja sudah sempoyongan lidah ini.

Jadi menunya itu ada aneka Pasta yang dibuntel dengan daun pisang dan dipadukan dengan saos asli Indonesia seperti saos padang, rendang, sambal matah, cabe ijo, saos tomat, bahkan ada juga rasa rica-rica! Selain itu, tidak kalah menarik juga ada menu Hainan yang tetap dibuntel daun pisang dengan varian rasa daging ayam fillet (saos kecap) dan rica-rica daging ayam.

Saat saya masih menahan iler, teman saya bertanya sama mas-masnya soal cara masaknya itu bagaimana. Lalu dijelaskanlah cikal bakal cita rasa Pasta Buntel tersebut. Jadi, pertama yang mereka lakukan adalah masuk ke dapur dulu sebelum memasak dan tidak lupa mengucap salam lengkap dengan basmalah. Kami pun manggut-manggut memaklumi kenapa mereka bisa begitu kreatif meramu masakan.

Usut punya usut, setelah Pasta atau Hainan itu digongso, makanan dibuntel dengan daun pisang lalu dibakar pakai arang. Gongso itu bukan acara TV yang dipandu Arie Untung, lho. (Itu Gong Show!). Gongso juga bukan harga diri atau martabat. (Itu GENGSI, bajindul!).

Jadi, gongso itu istilah dari Jawa untuk menyebut proses menumis, yaitu memasak di atas wajan dengan sedikit minyak. Lho kok tau? Katanya cuma bisa masak mie? Iya, barusan itu ngutip dari masukdapur.com. Tuh link source-nya nempel di dua paragraf sebelumnya. (Ngutipnya di mana, naruh sumbernya di mana. Pancen njaluk dibuntel otakmu, Ham.)

Penggunaan daun pisang ini bukan sepele, lho. Kalau di Cook Up a Storm itu seperti saat Sky menuangkan anggur beras di tepian casserole. Lalu ia lilitkan handuk di tepiannya agar uap tidak keluar. Nah, saat anggur beras bertemu dengan uap panas itulah rasa anggur menyatu dengan rasa ayam, bihun, dan kemangi sehingga menghasilkan aroma yang sedap abes! 



Nah, daun pisang sebagai pembuntel pun juga demikian. Ketika dibakar dengan arang itu muncul aroma dan rasa yang khas bagi makanan di dalamnya. Konon, mereka terinspirasi dari sego bakar yang biasanya jadi menu di wedangan atau hik.

Selain itu, daun pisang juga ramah lingkungan. Sampah buangan daun pisang dapat diurai dengan mudah oleh alam, kan, ya? Yang tidak bisa diurai itu cuma jalinan asmara kita, lho, Tiw. Xixixixixi.

Penjelasan tentang olah masak itu membuat perut dan lidah meronta dengan buasnya. Lalu saya mulai menyimpulkan sendiri kalau ternyata hidangan tidak segera keluar itu karena memang proses memasaknya lama. Lha mau bagaimana lagi? Demi cita rasa tinggi, bosku.

Saat saya menenangkan perut dan lidah dengan sabar, tiba-tiba mas-mas Pesta Buntel bertanya, “Ini pesanannya sudah ditulis semua, Mas?”

BAZINDUL! DARI TADI BELUM MULAI PESEN TERNYATA.

Orang bijak perkulineran sih pernah bilang, “Nek luwe pekok. Nek wareg goblok.” (Kalau lapar –jadi- bodoh. Kalau kenyang –jadi- tolol). Kayaknya itu yang bikin quote pernah ikut tes IQ tiga kali, pas laper, pas kenyang, dan pas normal. Xixixixixi.

Xixixixixi ndasmu! Ngelih, boss!
Sembari menunggu pesanan datang, ada baiknya kepoin dulu instagramnya Pesta Buntel, nih.


A post shared by Pesta Buntel (@pestabuntel) on



Bingung malam minggu pada mau kemana? Yuk main ke Pesta buntel!๐Ÿ˜š . Ini dia menu recommended dari kita, urut dari kiri ke kanan: ~PENNE MOZZARELLA, pasta penne dengan siraman saus tomat blackpaper ini emang bikin ngiler. Perpaduan rasa dari manis, asam, semi pedas dan gurih yang jadi satu ini emang lumer di lidah..๐Ÿ˜ ~FUSILLI CABE IJO, buat para penggemar pedas, menu ini bisa jadi pilihan karna berbahan dasar dari cabe ijo yg pedas..๐Ÿ˜‹ ~HAINAN AYAM RICA, ini menu baru dari kita yang wajib dicoba! Gurihnya nasi hainan bercampur dengan manisnya ayam rica emang bikin nagih..๐Ÿ˜ ~ANEKA LATTE, rasanya manisnya nendang dan murmer menjadikan minuman ini salah satu yang favorit pastinya..๐Ÿ˜‹ ~CHOCOLATE, minuman coklat yang satu ini most recommended dari kita, rasa coklatnya bener2 lumer di lidah, dan taburan choco crunchnya bikin nambah nikmat..๐Ÿ˜‹๐Ÿ˜ . JANGAN LUPA juga!!! Sampai akhir februari kita ada promo FREE UPSIZE 20% all varian pasta, dan FREE REFILL ICE TEA/HOT TEA SAMPAI PUWAAAAAASSSS, kuy buruan serbuu..๐Ÿ˜˜ . Pesta Buntel ๐Ÿ“Jl. Tirtosari, Purwonegaran, Solo ⏰Buka tiap hari, 11.00-22.00 (last order) ๐Ÿ“Food Court Pak Gendut, Solo Baru ⏰Buka tiap hari, 17.00-24.00 Meet, eat, & delighted! . Cek fanpage FB Pesta Buntel ya untuk lihat daftar Menu dan harga: @pestabuntel๐Ÿ˜Š . PESTA BUNTEL "MEET, EAT, and DELIGHTED!" #pestabuntel #meeteatdelighted
A post shared by Pesta Buntel (@pestabuntel) on


Haduhbiyuung.. Kepo kok membuat usus saya gemetaran, ya? Ah, sudah, ah. Pokonya kamu harus nonton Cook Up a Storm dan mencoba makan di Pesta Buntel. Bagus lagi kalau bisa melakukan keduanya. Pesta Buntel ini pernah jadi tempat pemutaran film dalam rangkaian roadshow Pesta Film Solo, lho.

Yuk, kalau kamu mau ke sini langsung berangkat sekarang. Nih, saya send location. Jangan lama-lama. Sambil menunggu makanan tersaji memang menyenangkan jika sekaligus menunggumu datang menghampiri.



Rate

Cook Up a Storm : 6.1/10 versi IMDb (Internet Movie Database)

Pesta Buntel : 8.0/10 versi IMDB (Ilham Mau Dibuntel)

11 Maret 2017


Dengar-dengar, manusia itu selalu tertarik dengan dunia dan seisinya. Maka maklum saja jika manusia terus-menerus mempelajari materi bumi dan kehidupannya. Namun, ilmu pengetahuan tidak diperoleh dengan kun faya kun seperti Ian Kasela dengan soft case emo di jidatnya. Pengetahuan didapat melalui proses belajar yang sangat panjang. Bukan hanya dari jam pagi ke jam sore. Atau dari mantan satu ke mantan yang lain. Tapi dari generasi ke generasi.
 
Mari kita coba mundur jauh ke belakang sebelum peradaban manusia mengenal betapa celakanya melakukan double tap saat kepo instagram mantan. Orang-orang zaman dahulu sangat percaya dengan kekuatan Dewa yang menggerakkan alam raya dan seisinya. Hal ini terjadi ketika mereka sukar menjelaskan fenomena alam yang ada di sekitar. Sebut saja ketika terjadi gempa bumi, orang-orang menganggap jika Dewa sedang menggoyangkan kepalanya sambil nyanyi ‘mama bolo-bolo’. Atau ketika muncul pelangi yang membentang dari satu sisi ke sisi yang lain, dianggap sebagai pelorotan atau seluncuran malaikat-malaikat dan kali ini sambil nyanyi: ‘Cintamu wes mlorot. Wes gek ndang ayo pedot. Rasah nganggo ngotot. Marai utek cekot-cekot’.
Ketidakmampuan menemukan jawaban dari fenomena-fenomena itulah yang kemudian menginisiasi cara-cara berpikir mitosentris seperti contoh di atas.
Roda kehidupan itu sudah pasti berputar. Maka terjadilah pola pikir mitosentris yang bergeser menjadi logosentris ketika manusia mulai bisa menjelaskan kejadian demi kejadian, sebab dan akibat, dengan logis. Di sinilah perkenalan manusia dengan filsafat. Fenomena alam tidak lagi dianggap sebagai gerak-gerik ghaib, tetapi merupakan aktivitas alam yang terjadi secara kausalitas. Meski sederhana, namun implikasinya tidak main-main. Alam yang selama ini ditakuti karena kebesaran dan kemisteriusannya, kini tidak lagi dijauhi tapi justru didekati, dipelajari, bahkan dieksploitasi.

Hal inilah yang saya dapatkan ketika menyaksikan film Spectral. Film besutan Nic Mathieu yang mengambil genre sci-fi, action, dan thriller ini bagi saya bukan sekadar pertunjukan tembak-menembak. Akan tetapi ada perjalanan tasawuf yang tersirat secara diam-diam. Basingse, diriku kemaki tenan, ndes.

Spectral secara sewenang-wenang menempatkan penonton dalam situasi tegang sejak menit pertama. Gelimpangan mayat di kota yang hancur lebur menjadi sajian estetis yang begitu kuat untuk menggambarkan nuansa peperangan. Kemudian kita diajak untuk berjalan pelan-pelan di medan pertempuran Modolva melalui sudut pandang Davis, satu-satunya yang bernapas dalam scene itu.

Coba kau pikirkan, kau renungkan, dan tanyalah pada bintang-bintang. Apa tidak semriwing keteknya Mas Davis ini? Bengi-bengi jalan sendirian di antara mayat-mayat. Mbok wes tenguk-tenguk ning omah nonton Dunia Terbalik lak yo puenak, ndes.

Nah, ketika Mas Davis memasuki sebuah ruangan, kacamata hyperspectral menangkap sebuah penampakan visual yang tak wajar. Untuk memastikan hal itu Mas Davis membuka kacamata hyperspectal yang bisa mendeteksi panas. Nihil. Mata telanjangnya tidak melihat apa-apa. Lalu kembalilah dia memakainya. Seketika itu, ada semacam selaput tipis dengan bentuk menyerupai manusia yang berdiri di depannya. Lalu, makjegagik sesuatu yang aneh itu menyambar tubuh Mas Davis. 

Mas Davis matek.

Battlefield. Sumber: conceptartworld.com
Scene mukadimah di atas secara sederhana telah menunjukkan kepada khalayak tentang setting peperangan yang mencekam. Dan kita diperkenalkan pula dengan musuh yang akan diburu sepanjang film, the spectral (hantu/memedi).

Melihat kejadian yang tidak wajar tersebut, Jendral Orland dari DARPA memanggil Dr. Clyne ke Eropa Timur untuk melakukan analisis. Dr. Clyne adalah seorang fisikawan sekaligus teknisi yang telah berpengalaman membuat alat-alat canggih untuk keperluan perang. Salah satunya kacamata yang digunakan untuk melihat dalam kegelapan, bahkan kini benda itu bisa melihat hantu dan stalker instagram. Peristiwa naas yang menimpa Mas Davis memang perlu mendapat perhatian khusus. Sebab sejauh ini, penampakan asing terlihat pada jarak terdekat melalui kacamata hyperspectral yang dipakai Mas Davis.

Pelajaran menarik terjadi ketika Dr. Clyne usai menonton tayangan video yang memperlihatkan penampakan itu. Wanita bernama Fran yang merupakan agen CIA memaparkan hipotesisnya tentang kemungkinan teknologi kamlufase yang dipakai para pemberontak. Sementara Dr. Clyne masih enggan berteori apa-apa karena data yang dimiliki belum cukup.
“Pekerja teknisimu adalah menemukan gangguan, jadi ia melihat gangguan. Pekerjaanmu (Fran) adalah menemukan musuh, jadi kau melihat musuh. Penduduk lokal percaya dengan roh, jadi mereka melihat roh. Satu orang terbiaskan satu cara atau yang lain. Jadi, jawabanku untukmu sekarang adalah bahwa kita kekurangan data untuk mendukung teori apapun." - Dr. Clyne
Lalu Fran bertanya, “Jadi apa yang bisa kita lakukan saat ini?” Dengan tampang serius Dr. Clyne menjawab, “Kita stalking hastag #AdaHantuDiMoldova dulu saja. Barangkali ada petunjuk lain.” Fran lekas merapikan berkas-berkas yang berserakan di meja sambil bilang:

Budhe Fran dengan typo yang menawan. Sumber: movieholichub.com
Dr. Clyne merupakan cerminan dari masyarakat kekinian maju yang tidak berani terjebak dengan tuduhan-tuduhan yang tak berdasar. Ia juga menjadi bukti produk akademis yang selalu mencari jawaban dengan definisi-definisi. Sesuatu yang asing dan samar-samar seringkali membuat manusia mencari-cari sendiri definisinya. CIA yang pekerjaannya memang berkutat dengan hal-hal taktis, sudah pasti langsung menaruh curiga terhadap musuh (pemberontak). Bahkan CIA pun mulai berasumsi dengan teknologi canggih setelah sebelumnya mereka menemukan beberapa kelompok di Eropa dan Asia yang bisa membuat kamlufse aktif.

Berbeda halnya dengan penduduk setempat yang lebih mempercayai keberadaan roh peperangan, Aratere. Masyarakat yang berada di medan pertempuran merasa ngeri dengan kematian massal di berbagai sudut kota. Kengerian itu menciptakan takhayul seputar roh Aratere. Menurut salah seorang anak dari penduduk setempat yang selamat, Bogdan, menceritakan bahwa Aratere adalah jiwa-jiwa yang tersesat. Para tentara yang mati dalam perang tidak memiliki kedamaian dalam jiwa mereka, sehingga arwahnya melayang-layang di antara hidup dan mati.

Serius tenan, ndes. Sepertinya agak bergetar ini.

Sepanjang film, kita akan mengikuti langkah demi langkah bagaimana Dr. Clyne mencari data-data empirik untuk menemukan jawaban. Ya. Mau tidak mau ia harus turun ke medan perang.

Langkah pertama yang ia ambil adalah dengan memasang kamera hyperspectral yang lebih canggih daripada versi kacamata. Perangkat kamera seukuran guling itu dipasang di atap mobil patroli. Namun, ketika menelusuri kota, para hantu tiba-tiba menyerang pasukan patroli sampai membuat mobil  yang mereka tumpangi terjungkal. Beberapa tentara yang turut dalam misi itu terenggut nyawanya dengan sangat cepat dan misterius. Sementara Dr.Clyne justru nekat membopong kameranya meski lebih mudah baginya jika bergegas melarikan diri tanpa kamera itu.

Beberapa orang yang selamat termasuk Dr.Clyne bersembunyi di dalam sebuah gedung yang separuh hancur. Di dalam gedung itu mereka bertemu dengan dua anak yang merupakan penduduk Modolva.  Dari merekalah Dr. Clayne menyadari jika para hantu lemah terhadap serbuk besi. Buktinya para hantu tidak bisa memasuki gedung itu karena ada serbuk besi yang disebar melingkari gedung.  Hal ini membuat saya ingin nebar serbuk besi di depan ruang ujian. Ben pengawase mlebu lewat jendelo koyo Jackie Chan. Hyaaa.

Mengetahui kelemahan itulah Dr. Clyne mempertajam pikirannya untuk menemukan definisi dari makhluk itu. Yang jelas makhluk itu bukan arwah gentayangan karena mereka masih terganggu dengan benda duniawi. Kedua, mereka bukan teknologi kamlufase seperti teori CIA. Sebab jika itu hanya kostum saja maka mudah bagi para hantu untuk melewati serbuk besi, misal dengan mengendari mobil. Ketiga, Dr. Clyne pun menduga mereka bukanlah para mantan. Mau bagaimana lagi? Kalau mau menghalau mantan ya jangan nyebar serbuk besi. Tapi nyebar undangan resepsi. Gitu.

Namanya juga film. Kalau tidak ada perlawanan ya bukan film, tapi nasibmu yang ditinggal nikah. Para tentara yang uring-uringan karena senjata mereka sama sekali tidak mempan untuk melumpuhkan  para hantu, akhirnya mendapat pencerahan dari Dr. Clyne. Ahli pembuat senjata itu menemukan banyak material serbuk besi di dalam gudang. Maka tercetuslah ide untuk membuat senjata dadakan, di gedung, lima ratusan, halal. 

Berbekal granat enyoy-enyoy, mereka keluar dari gedung menuju titik penjemputan. Pertempuran mistik pun tidak dapat terelakkan. Situasi semakin menegang dan terlihat sedikit gurih dari sebelumnya. Terutama ketika mereka mulai kehabisan stok granat enyoy-enyoy. Asyu, aku beneran membayangkan pas perang begitu di depan Toko Plastik Eka Sari ada orang jualan granat dadakan pakai mobil pick up. Di sekitar mobil tentu sudah ditaburi serbuk-serbuk besi sehingga hantu-hantu tidak bisa menyerang. Gimana? Laris ketoke.

Jadi, makhluk asing itu sebenarnya apa?

Dr. Clyne menemukan beberapa data. Pertama, hantu itu bisa terhambat gerakkannya dengan serbuk besi. Kedua, hantu itu terlihat oleh cahaya. Ketiga, mereka membunuh dengan sentuhan. Keempat, mereka juga tidak bisa menembus tank M1 Abrams yang dilapisi keramik. Data-data itu menunjukkan jika mereka bukan makhluk alami. 

Melalui rujukan terhadap teori yang pernah dikemukakan Nath Bose dan Albert Einstein, Dr. Clyne menduga jika makhluk itu hanyalah kondensat semata. Untuk membuat Bose-Einstein Condensate diperlukan tenaga yang sangat besar dan banyak. Fran langsung menimpali analisis itu dengan memberi salah satu hasil investigasinya, yaitu tempat pembangkit listrik bernama Masarov serta data tentang milyaran uang negara yang dihabiskan untuk penelitian senjata.

Ilustrasi kondensat yang berbentuk menyerupai manusia. Sumber: conceptartworld.com
Intinya, hantu-hantu itu adalah senjata yang dibuat manusia. 

Jika para hantu merupakan buatan industri, maka mereka pasti memiliki perintah yang terstruktur. Mereka tentu tunduk pada hukum-hukum alam. Jadi, mereka bisa dihancurkan. Yang tidak bisa dihancurkan itu cuma cintaku padanya. Eaaa.

Ketika menemukan definisi yang jelas tentang para hantu, Dr. Clyne kembali mengusulkan pembuatan senjata baru. Yaitu plasmic-discharge yang dipercaya bisa mengurai kondensat. Maka dibuatlah senjata itu dengan benda-benda apapun yang berkaitan dengan optik, elektronik, casing balistik, dan sebagainya. Anjur, Dr.Clyne ini ciamik bingit, ndes. 

Saking ciamiknya, senjata yang dibuat dari uraian barang-barang lain itu memiliki bentuk yang estetis layaknya produk bikinan pabrik. Padahal buat nemu mur dan baut yang cocok saja tidak mudah. Lha kok ini bisa bongkar pasang aneka produk buat bikin satu set senjata khusus. Oiya, namanya saja science fiction.

Satu misteri belum terpecahkan. Yaitu bagaimana kondensat tersebut bisa bergerak layaknya manusia. Satu-satunya cara untuk menemukan jawaban terakhir ini adalah dengan mendatangi langsung pusat produksinya, Masarov. Pun Dr. Clyne meyakini jika di Masarov­ itulah pusat komando berada. Sehingga untuk menghentikan serangan para hantu, Dr. Clyne dan bala tentara harus menghancurkan sumbernya.

Secara keseluruhan film ini sangat menarik. Premisnya sederhana dan dikerjakan dengan fokus. Tidak ada bumbu-bumbu drama cinta. Militer ya militer saja. Sains ya sains saja gitu. Kalau urusan drama percintaan itu sudah ranahnya Giorgino Abraham dan Irish Bella soalnya.

Barangkali orang yang menggeluti fisika akan menyukai film ini. Seperti Interstellar begitulah. Banyak istilah-istilah sains yang bagi orang awam seperti saya tidak memahaminya. Namun hal itu tidak mempengaruhi substansi pada film ini. Toh saya tetap mudeng film ini berjalan ke arah mana.

Atau sebut saja film-film macam The Martian, Inception, Predestination, Ex Machina dan lain sebagainya memang bisa dinikmati oleh banyak orang. Akan tetapi menjadi makin menarik ketika si penonton sendiri sudah mengetahui dengan teori-teori yang dibawakan di dalam film-film itu. Rasanya seperti pas denger khutbah jumat lalu nyeletuk, “gue tahu nih hadist parawinya siapa.” Ndasee..

Salah satu alasan saya menyukai film ya yang seperti ini. Seringkali menemukan kecantikan dari gagasan-gagasan yang ditawarkan di dalam film. Kalau dari film Spectral ya perihal pengklarifikasian sebuah nilai kebenaran misalnya. Dr. Clyne saja sampai sebegitunya mencari sebuah definisi dari ketidaktahuan. Hla kok kita sudah merasa cendekia cuma berbekal satu atau dua brodkesan di wassap. Lak yo hoaxable bingit, kan?

Okey saya rasa sudah cukup ngoceh-ngocehin film kali ini. Spectral bagus. Dari satu sampai sepuluh, saya kasih delapan koma enam ratus tiga puluh satu ribu rupiah buat rating film ini. Anjur malah koyo cek. Semoga bisa menjadi rujukan yang pas untuk ditonton akhir pekan ini.

Eits, mau nonton film harus nunggu akhri pekan dulu? Gak zaman. Sekarangkan sudah ada HOOQ. Apa itu HOOQ? Yuk, simak klarifikasinya di sini. Sampai jumpa.

19 Januari 2017



Paguyuban ibu-ibu pencinta sinetron sempat digegerkan oleh kematian Mas Boy. Isunya, separuh dari ibu-ibu tersebut dilarikan ke ahli terapi dan ruqyah. Sedang separuh sisanya memilih untuk bergegas mencari Dragon Ball untuk membangkitkan Mas Boy dari ajalnya. Kematian Mas Boy menjadi begitu penting, sampai-sampai hastag #RIPBoyAnakJalanan sempat merajai trending topic di Twitter. Walau begitu, ibu saya kalem-kalem saja, tuh.

Sejauh yang saya tahu, ibu saya ini tidak pernah mengikuti cerita Anak Jalanan. Saat saya mencoba bertanya, jawaban ibu saya, “Ibu enggak pernah nonton Boy itu bukan karena enggak suka. Tapi karena SCTV di tempat kita itu seharian nayangin Perjuangan Semut. Lha mbok kiro ibumu iki trenggiling opo piye?”

Sejenak saya manggut-manggut paham. Kemudian telinga saya bergindik seolah diselepet malaikat Rokib, saya tiba-tiba meyadari sesuatu. Lekas saja saya nyeletuk, “Bentar.. Bentar.. Ibu tahu apa tidak, kalau Anak Jalanan itu tayangnya di RCTI, bukan SCTV?”

Meski pengetahuan ibu saya soal per-channel-an ini begitu kurang, tapi pilihan sinetronnya bagus juga. Beliau menjatuhkan pilihan nontonnya pada sinetron noir berjudul Anugerah Cinta. Konon, salah satu alasan kenapa Mas Boy dibuat mati itu karena rating Anugerah Cinta lebih tinggi dripada Anak Jalanan.

Saya terpaksa menonton Anugerah Cinta karena saya tidak memiliki kamar pribadi. Saya tidur di kasur lantai tepat berhadapan dengan televisi. Sementara ibu saya duduk anteng di atas dipan yang tak jauh dari tempat saya berbaring. Jadi, tak ada pilihan lain, mata saya harus rela diperkosa oleh kisah cinta Arka dan Naura yang maha nggrantes itu.

Ibu saya nonton Anugerah Cinta sambil menggenggam handphone yang baru ia belai cuma saat komersial break. Saya curiga jika ibu saya ini bandar kuis tebak plot sinetron. Sehari-hari boleh saja umbah-umbah sambil nyanyi Leaving on the Jet Plan, tapi kalau sudah tersambung ke internet ternyata menjelma jadi agen Online Betting. Mau bagaimana lagi? Anugerah Cinta ini memang plot twist-nya susah ditebak. David Benioff kalau nonton sinetron ini, sudah pasti memilih untuk mengubur Game of Thrones sedalam-dalamnya.

Anugerah Cinta mengisahkan tentang seorang bidadari proletar, Naura, yang dicintai oleh Arjuna masa kini bernama Arka. Keduanya bertemu dalam ikatan yang dramatis sekali. Naura sebagai pembantu dan Arka sebagai majikannya. Tanpa perlu upaya mbribik atau tebar kode, mereka lekas saja mencintai satu sama lain. Sungguh ide cerita yang begitu kreatif. Pantas ibu saya selalu penasaran dibuatnya.

Namanya juga cinta, sudah pasti ada orang-orang azabable yang menentang hubungan asmara itu. Salah satunya adalah Ibu Vira, ibu kandung Arka itu sendiri. Sebagai istri dari seorang borjuis, Ibu Vira ini tidak rela jika memiliki menantu seorang pembantu. Jelas saja, rencana-rencana jahat segera tercipta demi merusak hubungan Arka dan Naura. Dibantu dengan Ibu Arumi dan Kinta, trio hebring ini gencar meneror Naura. Sungguh kebaruan cerita yang tak bisa dipungkiri lagi, bukan?

Meski perwatakan Ibu Vira ini galak bingit, tapi beliau memiliki anak laki-laki yang begitu sopan, murah hati, dan semua jenis ilmu PPKN tahun 2002 ada di dalam diri Arka. Belum lagi Arka ini dilengkapi dengan wajah tampan, pekerjaan mapan, pintar bermusik dan jago kung fu pula. Kebajingukan yang dimiliki Arka ini sudah barang tentu akan meningkatkan standar ideal calon mantu laki-laki. Sebagai laki-laki milenial yang masih sering kabur dari tukang parkir, njuk aku isoh opo, Dek?

Anugerah Cinta adalah sinetron maha epic yang selalu berhasil membuat saya tratapan. Antara memahami kejeniusan plot twist maupun kefantastisan tokoh-tokoh di dalamnya. Pengalaman mengikuti serial kisah cinta Arka dan Naura inilah perasaan saya lebur. Rasa-rasanya kok seperti menonton konser Burgerkill sekaligus ditemani Dian Sastro yang sedang membaca Tragedi Winka dan Sihka milik Sutardji Calzoum Bachri tepat di daun telinga saya. Mrinding!

Meski demikian, ibu saya ternyata sering nyinyirin adegan-adegan yang dirasa terlalu hyperralistic. Seperti kejadian ketika Ibu Arumi meracuni Naura agar rahimnya rusak. Naura jatuh sakit, lalu menjalani pengobatan, sembuh total, dan segera menuntut balas pada Ibu Arumi. Semua itu terjadi dalam satu hari saja. Ini klinik akupuntur Wong Fe Hung juga gak gitu-gitu amat perasaan.

Penyinyiran ibu saya yang ditujukan untuk film ini juga menjadi bukti oppositional code-nya Pakdhe Stuart Hall. Walau menontonnya bikin frustasi, tapi Anugerah Cinta berhasil memberi candu yang tak bisa dihentikan. Rasanya ingin nonton terus. Ingin frustasi terus. Mungkin ini pula yang terjadi pada saya ketika membaca sederet twit Agus Mulyadi yang rutin membela kisah asmaranya sendiri. Ah, mbok ya tokoh Arka itu diperankan oleh Agus Mulyadi, tho. Barangkali judulnya bisa dikondisikan menjadi ‘Anuku Gerah, Cintaa’.

Meski, ya, saya ingin misuh-misuh tiap menonton sinetron satu ini, namun tak dapat dipungkiri jika pada akhirnya saya ketagihan. Satu malam saja tidak menonton Anugerah Cinta, ibarat main cap ji kia tanpa kemulan sarung. Ra komplit!

Jadi begitu, keluarga saya tidak turut meramaikan linimasa meski Mas Boy telah berpulang. Dari yang saya dengar, Mas Boy ini lak bocah racing, tho? Jelas beda dengan Den Arka yang jadi eksekutif muda itu. Meski keduanya sama-sama sugih mblegedu, tapi ibu saya lebih menyukai sosok Arka. Terbukti dari ujaran beliau di suatu sore, “Le, Arka itu akhlaknya baik, sukses dan guantheng. Iyo opo ora?” Belum sempat saya menjawab apa-apa, beliau meneruskan, “Hambok, ibumu iki golekno mantu koyo ngono kui.”

Mak jegagik! Spontan saja saya tratapan. “Sik sik, Buk. Ibu kan anaknya empat. Yang wadon satu, sudah dirabi. Lha njuk mantu modelan Arka itu buat siapa?”

“Lho yo buat kamu tho, Le. Lha Ibuk umpama berharap kamu jadi seperti Arka itu jelas ora mungkin, tho. Minimal kowe ra lulus babagan rai.” Menerima bombardir seperti itu, saya lekas saja mlipir daripada makin dikata-katai soal estetika wajah. Belum jauh kaki ini melangkah, ibu saya menggamit kaos saya dari belakang seraya berbisik pelan di ambang pintu telinga saya, “Cah kuliah seni rupa kok ora rupawan blas.” 
Imgae source: popmagz.com