Tampilkan postingan dengan label Kulineran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kulineran. Tampilkan semua postingan

24 Mei 2019


Memasak. Siapa sih yang tidak suka aktivitas satu ini?

Ya, pembukaan klise seperti itu mari kita tinggalkan dulu. Saya akan memulai tulisan ini dengan sebuah kenikmatan hidup yang bisa kita peroleh dari makanan bernama agar-agar.

Agar-agar (Agarosa) yang saya ketahui adalah makanan berupa gel yang diolah dari rumput laut atau alga. Memiliki tekstur kenyel-kenyel, mudah lumat di mulut, dan enak bagi segala usia. Makanan ringan satu ini sering muncul di segala kesempatan, baik itu sebagai hidangan buka puasa, hidangan pengajian, hidangan kepada tamu, dan masih banyak lagi.

Agar-agar merupakan makanan yang baik bagi hidup kita. Mengapa demikian? Melalui situs doktersehat.com, saya menemukan beberapa khasiat agar-agar, seperti:

1. Agar-agar adalah skincare yang bener-bener care sama kamu. Sebab, di dalam agar-agar terdapat asam amino alami yang bermanfaat untuk pembentukan sel kulit tubuh dan ada kandungan collagen untuk melawan tanda-tanda penuaan. Agar-agar juga diyakini bisa mengurangi berbagai masalah kulit, salah satunya adalah jerawat.

2. Menu dessert yang ramah buat program diet. Bagi kamu yang sedang khawatir dengan ke-endud-an, jangan khawatir. Sebab, agar-agar yang rendah kalori ini dapat mempertahankan berat badan dan mempelancar pencernaan.

3. Jantung sehat dan halau kolestrol jahat. Makanan yang kaya akan karbohidrat dan vitamin B ini cocok dimakan seusai berolahraga karena membatu meningkatkan sistem imun pada tubuh. Dipercaya, agar-agar mampu melawan kolestrol dan mencegah resiko serangan jantung.

4. Anti botak-botak club! Yak, buat kamu yang cemas dengan masalah rambut, terutama kerontokan. Agar-agar bisa bisa membantu mengatasi itu karena merupakan salah satu sumber asam folat.

Nah, itu dia empat poin kelebihan agar-agar yang bisa bikin kamu ceria. Agar-agar menurut saya, cocok dihidangkan sebagai menu buka puasa. Karena makanan ini mudah lumat di mulut, cepat habis, sekaligus memberi rasa kenyang. Tentu cocok banget buat santap buka puasa agar kita bisa segera melaksanan ibadah maghrib tepat pada waktunya.

Pada masa Ramadan kali ini, saya membuat agar-agar dengan kreasi yang tak biasa. Saya mengandalkan Skippy Peanut Batter sebagai elemen rasa yang utama. Mau tahu bagaimana cara bikinnya? Simak resep berikut ini:

Bahan
- 1 sachet ramuan agar-agar instan
- Roti tawar
- Selai Skippy (saya menggunakan Skippy Peanut Batter yang creamy)
- Gula
- Air

Alat
- Panci
- Cetakan
- Pengaduk

Cara Memasak
- Rebus air
- Tuangkan adonan agar-agar dan gula sesuai firasat kamu
- Aduk-aduk terus hingga pegal, eh, hingga mendidih
- Masukkan selai Skippy Peanut Batter sambil terus mengaduk
- Aduuuukk terus seperti saat kamu kepoin instagram gebetan
- Sambil ngepoin, siapkan potongan roti ke dalam cetakan
- Tuang rebusan ke dalam cetakan setelah selai Skippy berwujud seperti bulir-bulir wijen
- Diamkan hingga agar-agar mengeras
- Agar-agar Kacang ala Skippy siap dihidangkan!

Bahan-bahan sederhana bikin Agar-agar Skippy.

Roti yang dipotong kecil sebagai isian agar-agar.

Menuangkan rebusan ke dalam cetakan.

Lihat tuh ada bulir-bulirnya. Itu Skippy!
Selama proses pengendapan ini kamu mesti hati-hati sama semut-semut nakal. Kalau mau dimasukkan ke dalam kulkas setidaknya jangan langsung dimasukkan ketika air masih panas-panasnya.

Bagaimana hasilnya?


Agar-Agar Kacang Ala Skippy siap disantap!
Resep sederhana ini bagiku cukup berhasil! Rasa agar-agar benar-benar berpaling jadi kekacang-kacangan. Tekstur padat Skippy sebagai selai jadi hilang begitu saja, melebur dengan agar-agar yang kenyal dan lembut. Jadi gampang melumatnya.

Nah, bagian roti bikin setiap gigitan lebih berasa dan mengenyangkan. Cocok banget sebagai hidangan buka puasa, apalagi buka puasa bareng keluarga atau teman-teman sejawat. Kamu bisa coba resep ini kapan saja karena caranya yang praktis, bahan-bahannya mudah ditemukan, dan tidak butuh skill sekelas Master Chef untuk membuatnya.

Demikian resep Agar-agar Kacang ala Skippy kali ini. Silakan kamu mencobanya jika berkenan. Atau kamu punya resep sederhana nan menarik lainnya? Ceritakan resep kamu di sini, yuk!

Header: Buenosia Carol via pexels.com

16 Mei 2018


Saat perut lapar di malam yang dingin, ingin sekali rasanya melahap sesuatu yang lezat nan menyegarkan. Aha, makan bakso saja! Eh, tapi malas juga sih kalau malam-malam begini keluar rumah. Apalagi saat hujan melanda dengan derasnya. Pun nanti di warung bakso kalau harus antri dulu. Yaudah tidak jadi, ah. Makan mie instan saja.

Eits! Itu dulu..

Lega sekali rasanya ketika saya bisa makan bakso yang lezat tanpa harus beranjak dari rumah. Semudah bikin mie instan, bakso pun juga bisa kita buat melalui dapur masing-masing. Dengan begitu, kegusaran saat tiada makanan di rumah bisa teratasi dengan praktis, nikmat, dan senantiasa sehat.

Saya sedang membicarakan sebuah produk makanan bernama Bakso Beef Bonanza dari PT Great Giant Livestock (GGL). Beberapa hari belakangan ini saya dan Tiwi meramu beberapa hidangan dengan material utamanya berupa bakso. Saat perlu makan besar, kami membuat bakso kuah. Sedangkan kalau ingin camilan saja, kami cukup membuat bakso goreng.

Jadi, apa itu Bakso Beef Bonanza?

Bakso Beef Bonanza adalah bakso kemasan siap saji yang bisa segera dimasak meski kamu sedang gemetaran menanti kepastian cinta dari doi. Bakso ini mengandung 84% daging sapi asli (tidak dicampur dengan daging lain), tanpa bahan pengawet, diproses secara halal dan aman bagi tubuh. Maka wajar saya jika Bakso Beef Bonanza mengklaim dirinya sebagai bakso yang berasa banget dagingnya.

Agar lebih jelas, mari kita bahas satu-satu kelebihan Bakso Beef Bonanza.

1. 84% Daging


Dahulu, ketika masa Idul Adha, keluaga saya mendapat lumayan banyak jatah daging kurban. Berbekal daging tersebut, ibu saya berinisiasi membuat bakso yang 100% daging. Hal ini tentu saja mustahil karena untuk membuat bakso yang berbentuk bulat perlu tepung juga. Alhasil, presentase daging yang diolah ibu saya waktu itu mungkin sekitar 90%-95%.

Jujur saja, dengan takaran yang tidak terukur itu rasa bakso yang dihasilkan ternyata tidak menyenangkan. Rasa ‘sepet’ melumuri lidah dan tenggorokan saya saat memakannya. Ooh, ternyata membuat bakso itu bukan soal seberapa penuh dagingnya, namun seberapa pas takarannya.

Melalui Bakso Beef Bonanza saya jadi tahu kalau 84% adalah porsi yang pas untuk membuat sebutir bakso. 16% sisanya tentu saja tepung dan bumbu. Terbukti dengan bakso kuah dan bakso goreng yang saya bikin itu sangat terasa dagingnya. Dan tidak perlu repot menyiapkan bumbu lagi sebab di butiran Bakso Beef Bonanza sudah terasa sekali bumbunya.

2. Tanpa Bahan Pengawet


Siapa saja pasti mendambakan hubungan asmara yang awet. Tapi tidak dengan bakso. Bakso yang mengandung bahan pengawet sangat berbahaya bagi tubuh. Tentu saja kita tidak ingin memakan sesuatu yang memiliki risiko penyakit, kan? Kandungan formalin memang menjadi ancaman besar bagi para pecinta bakso. Oleh sebab itu, Bakso Beef Bonanza berkomitmen untuk tidak menggunakan formalin (pengawet), borax (pengenyal), maupun bahan-bahan similikithi lainnya.

Satu fakta menarik yang saya dapat dari Emilia E. Achmadi selaku ahli gizi menjelaskan bahwa daging segar yang dijual di pasar sebenarnya bukanlah daging yang baik bagi tubuh. Daging dan buah itu berbeda perlakuannya. Buah ketika dikupas kulitnya sebaiknya segera dimakan. Tapi daging tidak begitu. Daging yang baru saja dipotong masih memiliki banyak bakteri yang berpotensi membawa penyakit. Oleh karenanya, menyimpan daging di dalam pendingin merupakan cara terbaik untuk mendapatkan daging sehat.


Bakso Beef Bonanza mampu bertahan beberapa bulan tanpa pengawet selama kita menyimpannya di lemari pendingin. Jika tidak memiliki lemari pendingin, kita bisa menyimpan di dalam termos berisi es batu. Jika masih kesulitan, kita bisa juga menitipkan pada tetangga yang punya lemari es atau menitipkannya ke sikap pembimbing akademikmu yang belum gajian. Dingin juga soalnya.

3. Halal


Dalam syariat islam memang memiliki tata cara mengolah binatang menjadi daging konsumsi. Sedangkan kita tidak tahu bagaimana daging yang beredar itu diolah, apakah dilakukan dengan cara halal atau justru dengan brutal. Meski begitu, Bakso Beef Bonanza menjamin kehalalan pada produknya.

Ketika launching produk bakso kemasan ini, Dayu Ariasintawati selaku Managing Director PT Great Giant Livestock secara lugas memaparkan bahwa pengolahan daging sapi dilakukan di peternakan sendiri sehingga pengawasan kehalalan dapat terjaga. Baginya, sangat penting bagi masyarakat untuk memperoleh pilihan makanan yang halal sebagai hak mereka.

4. Aman


Borax, formalin, serta daging campuran seperti babi dan tikus pernah menghantui dunia perbaksoan Indonesia. Masyarakat kita takut dengan risiko penyakit dalam butiran bakso yang mereka lahap. Meski bakso jenis similikithi itu sampai hari ini masih saja beredar, namun Bakso Beef Bonanza benar-benar berkomitmen untuk menyediakan bakso yang aman bagi tubuh. Bisa dibilang Bakso Beef Bonanza ini masa rennainsance-nya kuliner bakso Nusantara.

Dayu Ariasintawati kembali menekankan bahwa ia hanya akan terlibat pembuatan produk makanan yang nantinya juga akan ia konsumsi bersama keluarganya. Jadi jika PT Great Giant Livestock memproduksi jenis makanan yang berisiko penyakit, hal itu akan berpengaruh buruk juga nantinya bagi keluarga mereka sendiri. Memang banyak bisnis yang kejam dan tidak berperikemanusiaan, tapi bukan berarti tak ada satupun perusahaan yang memiliki hati nurani untuk kebaikan sesama.


Nah, sudah cukup sepertinya, ya. Tidak perlu panjang lebar lagi. Bagi yang menginginkan bagaimana bakso ini menyelamatkan kelaparanmu, kedinginanmu, dan kepatahhatianmu, langsung saja beli segera.

Satu kantong Bakso Beef Bonanza ukuran 500 gram (sekitar 30 butir) dijual dengan harga Rp. 85.000. Produk ini bisa didapatkan di sejumah ritel modern yang berada di Jakarta, Tangerang, Bekasi, dan Bandung. Jika kamu bersemayam di kota-kota tersebut, segera saja dapatkan baksonya di Superindo, Ranch Market, Farmers Market, Papaya, Lulu Market, dan Market City.

Mumpung sudah memasuki bulan Ramadhan, Bakso Beef Bonanza bisa jadi persediaan yang tepat untuk santap sahur, berbuka, maupun mokah. Eits, jangan berpikir negatif dulu. Siapa tahu kan pas siang-siang berpuasa begitu tahu-tahu dilanda sakit. Mau makan tapi sungkan jajan di warung, mau masak tapi badan lemes, mau delivery order tapi sudah tidak sabar lagi. Yaudah langsung saja masak air panas, masukkan bumbu praktis (beli sendiri, di dalam kemasan Bonanza tidak ada bumbu lagi), masukkan Bakso Beef Bonanza. Nah, jadi deh bakso praktis yang senantiasa lezat, aman, dan halal.

Siapa sih yang nggak mau?

Header image: pexels.com

2 Maret 2018


Dari sekian banyak restoran di Indonesia, HokBen adalah salah satu yang terbaik. Mengapa demikian? Sebab HokBen selalu bisa berinovasi dengan meluncurkan menu-menu baru. Setelah dulu ada menu Tokyo Bowl, kini HokBen akan menggoyang lidah kita dengan menu HOKA SUKA!

Wow! Apa itu menu Hoka Suka?

Eits, sebelum membahas ke sana, saya ingin sedikit bercerita mengenai HokBen, nih. Jadi sudah pada tahu belum kalau HokBen itu berdiri sejak tahun 1985? Duh, giliran dibandingkan dengan restoran aja nih saya jadi merasa lebih muda. Hahaha.

Yup, sudah 33 tahun HokBen eksis memanjakan lidah-lidah manusia Indonesia dengan sajian khas Jepangnya. Maka wajar saja jika HokBen kita anggap sebagai salah satu senior perestoran Indonesia.

Dari tahun ke tahun HokBen selalu memberikan yang terbaik untuk konsumennya. Sebut saja fasilitas call center dan HokBen Delivery yang sudah bisa dilakukan sejak tahun 2007. Lebih maju satu tahun dari itu, tepatnya tahun 2008 HokBen mulai membuka website dan pemesanan bisa dilakukan secara online. Gila, tahun segitu mah saya baru migrasi dari Friendster ke Facebook, terus pasang foto profil gambar-gambar emo atau paling mentok ya logo Slanker.

Wah, kalau menyinggung soal logo, HokBen telah melakukan perubahan logo pada tahun 2013. Dari yang semula bernama Hoka-Hoka Bento berubah menjadi HokBen. Algoritme pergantian nama ini cukup familiar dengan kita karena kita juga mengenal Warung Tegal menjadi Warteg, Warung Kopi menjadi Warkop, dan masih banyak lagi. Luar biasa ya, bangsa ini ditopang oleh kemajemukan akronim dari segala penjuru. Hahaha.

Gahthering Blogger Bekasi di HokBen Harapan Indah


Kenapa saya kok tiba-tiba mengulas soal HokBen? Ini dia alasanannya. Jadi, beberapa hari lalu saya, Tiwi, dan teman-teman Blogger lainnya berkumpul di HokBen Harapan Indah, Bekasi. Seru rasanya bisa bercengkrama dengan blogger-blogger lain. Apalagi ada aneka games yang membuat suasana lebih meriah.

HokBen Harapan Indah ini adalah HokBen terluas yang pernah saya kunjungi. Di resto ini telah tersedia area parkir yang luas banget, dengan tarif parkirnya hanya 2.000 rupiah per motor. Syukurlah, tidak kena musibah tarif per jam lagi seperti di tempat lain. Hahaha.

Kalau lahan parkirnya saja luas, apalagi restonya. Yak, tersedia 200 kursi di resto ini yang siap kita duduki di manapun kita mau. Outdoor untuk smoking area ada, indoor ada, bahkan private room juga ada. Dan tentu saja, mini playground buat si kecil pun ada.

Dengan banyaknya kursi yang disediakan, kita bisa nongkrong agak lama karena tidak harus buru-buru bergantian dengan pengunjung lain. Makan enak, nongkrong enak. Wow siapa sih yang nggak mau? Toh aksesnya pun gampang banget. Saya yang belum pernah ke HokBen Harapan Indah sebelumnya saja tidak sampai nyasar kok.

Oiya satu lagi, kalau mau makan siang atau malam tidak perlu khawatir ketinggalan sholat. Sebab di HokBen Harapan Indah telah tersedia mushola. Benar-benar paket ishoma yang komplit banget!

Harga dan Cita Rasa Menu Baru Hoka Suka.

Kini saatnya menjawab pertanyaan di awal tulisan tadi. Jadi, Hoka Suka adalah menu baru dari HokBen yang memadukan sajian makanan Jepang dengan unsur cita rasa Indonesia.

Unsur cita rasa Indonesia yang dimaksud adalah kering kentang, acar kuning, dan tentu saja aneka sambal. Lah, HokBen kan khasnya makanan Jepang, kok jadi ada sambal-sambalnya segala?

Itu dia uniknya inovasi HokBen kali ini. Begini, ketika kita berbicara tentang makanan Indonesia, apa sih yang hampir selalu ada di mana-mana? Sambal! Kalau ada anekdot yang bilang, "Bagi orang Indonesia, belum disebut makan kalau belum makan nasi." Sekarang konklusi dari anekdot itu jadi begini, "Belum disebut makan nasi kalau belum pakai SAMBAL!" Hahaha.

Lanjut ya, Gaes. Jadi di dalam menu Hoka Suka ini ada tiga varian, yaitu:

1. Hoka Suka 1


Terdiri dari Yakitori Grilled, nasi, kering kentang, acar kuning, dan tiga pilihan sambal.

Rasa manis, asam, dan peleburan rasa dengan sambal berhasil membuat indra perasa saya lompat kegirangan. Perpaduan yang hampir sempurna. Pasalnya kalau boleh memilih, saya lebih suka bila kering kentangnya diganti krupuk udang atau krupuk merah. Pasti terasa sempurna di lidah saya.

Harga untuk paket Hoka Suka 1 adalah Rp. 49.000.

2. Hoka Suka 2 


Terdiri dari Ebi Furai, nasi, kering kentang, acar kuning, dan tiga pilihan sambal.

My Fav! Di antara tiga menu Hoka Suka, saya paling suka dengan ebi furai ini. Kelembutan udang yang renyah dan rasa asin yang tepat sasaran melebur indah di setiap kecapan saya. Tak tanggung-tanggung, ada empat udang gede untuk satu porsinya. Puas!

Harga untuk paket Hoka Suka 2 adalah Rp. 58.000.

3. Hoka Suka 3


Terdiri dari Chicken Katsu, nasi, kering kentang, acar kuning, dan tiga pilihan sambal.

Belum ke HokBen kalau belum icpi-icip chicken katsu. Hidangan andalan HokBen ini sudah jelas memberi kenikmatan yang haqiqi. Kelembutan dagingnya dipadu dengan kerenyahan tiap gigitannya menjadi makin lezat ketika sambal ikut terlibat di tiap kunyahannya. HokBennya dapet, pedasnya dapet, kenyangnya apalagi. Sampai mblenger!

Harga untuk paket Hoka Suka 3 adalah Rp. 49.000.

Itu dia tiga varian menu baru HokBen, Hoka Suka. Sejauh ini saya merasa puas dengan menu baru yang ditawarkan itu. Hidangan Jepang rasa Indonesianya bisa banget bikin senang sekaligus kenyang. Kalau sudah begini, Hoka Suka bakal jadi makanan favorit setiap mampir HokBen, nih.

Sambal Kita Sambal Indonesia


Seperti yang sudah saya tulis di atas, setiap menu Hoka Suka terdapat tiga pilihan sambal. Apa saja itu?

Pertama, sambal bawang Jawa. Sebagai orang Solo dengan 1% mewarisi lidah keratonan, tentu saja sambal bawang adalah sambal paling tepat bagi saya. Sambal bawang memang seperti namanya, dominasi bawang merah dan bawang putih adalah resep racikan sambal jenis ini. Perpaduan ketiga unsur itu yang membuat saya merasakan sensasi pedas yang ngrempah abis. Rasanya akrab di lidah. Huhhaah.



Kedua, sambal matah Bali. Sambal ini diracik secara mentah dari cabe, bawang, sedikit jeruk nipis, dan minyak sayur. Bagi saya, level pedas pada sambal jenis ini tidak lebih tinggi dari sambal bawang Jawa. Tapi tidak sekadar pedas saja, ada cita rasa lain yang ikut muncul di sana. Sebagai cocolan chicken katsu sih pas banget, lho.


Ketiga, sambal ijo Padang. Memiliki kadar pedas yang susah dideskripsikan! Hahahaha. Bagi yang akrab dengan masakan Padang sih pasti suka karena kini HokBen sudah memfasilitasi itu. Tapi bagi saya pribadi masih kurang ngeklik di lidah. Mungkin karena saya Jawa banget kali ya, jadi sambal pedas agak manis itu lebih familiar daripada pedas agak pahit seperti sambal ijo Padang.


Tiga varian sambal itu sepertinya mewakili tiap selera persambalan Indonesia, ya. Ada pedas manis, pedas asam, dan pedas pahit. Wow! Kurang komplit apa lagi?

Jadi kalau kamu adalah pencinta sambal, tidak ada salahnya untuk mencoba aneka sambal pilihan HokBen. Tak hanya khusus untuk menu Hoka Suka kok. Aneka sambal ini dapat kamu pesan terpisah cukup dengan harga Rp. 5.000 saja.

Bagaimana? Masih mau pakai saos doang, nih? Yakin? Ayo dong rasakan sensasi pedas nikmatnya sambal bawang, sambal matah, dan sambal ijo di HokBen! Lebih greget.

"Tapi lagi hujan, nih. Malas keluar, nih."

Eits, jangan khawatir. Langsung saja pesan secara online di hokben.co.id atau bisa juga pesan melalui HokBen Delivery cukup dengan menghubungi 1-500-505.

Nah, itu saja yang bisa saya bagikan kali ini. Kalau boleh, saya mau dengar pendapatnya, dong. Inovasi HokBen pada menu Hoka Suka dengan ketiga sambalnya ini menurutmu bagaimana? Terima kasih sudah membaca.

8 September 2017


Sebagai seorang pemula asmara yang telah kembali menjalin kisah kasih setelah lama menjomlo, tentu saja ada kekhawatiran khusus bagi saya. Salah satunya adalah dengan menetapkan tempat untuk sayang-sayangan.

Dahulu kala, ketika relung hati saya masih gersang, saya pergi ke mana saja nyaris selalu sendirian. Makan sendirian, nonton sendirian, nonton orang makan sendirian, makan orang nonton sendirian dan masih banyak lagi hal yang saya lakukan sendirian.

Nah, pada masa itu saya selalu memburu tempat makan yang cocok buat didatangi seorang diri. Biar keren, saya menyebutnya introvert space.

Lantas ketika hati saya telah bersenyawa dengan kekasih, saya pun harus mengubah cara berpikir tentang tempat makan. Ya, saya begitu antusias dengan perubahan ini karena pada akhirnya saya bisa makan bareng. Tidak lagi sendiri! Bayar parkirnya bisa patungan! Bisa berdiri di depan toilet cewek karena ada yang ditunggu! Yes!

Baiklah, dalam rangka memperingati jiwa berasmara yang sedang membangun peradabannya, saya akan merekomendasikan satu tempat yang cocok untuk beradu kasih. Biar makin asyik, saya kasih kuis saja, ya.

Soal: Coba sebutkan nama tempat yang saya maksud dalam paragraf di atas!

Petunjuk: Tempatnya berada di Solo. Terdiri dari dua lantai. Lahan parkirnya luas. Namanya dikutip dari bahasa Itali, depannya L, belakangnya A, dan sudah saya tulis di judul.

Apa hayoo? Gampang, kan?

Yak, benar! Jawabannya La Taverna!

Wah... Cerdas-cerdas sekali, ya, para pembaca sekalian. Pasti kecilnya suka nonton Dora the Explode. Blaar!

Yuk, Jalan!

La Taverna itu tempat makan hits di Solo yang sangat saya rekomendasikan dari berbagai segi. Makanan dan minumannya enak-enak dan variatif. Tempatnya sendiri sangat nyaman dan elegan. Belum lagi lantunan musiknya yang semakin menentramkan jiwa. Bahkan La Taverna juga menyediakan mini playground buat pengunjung yang membawa batita, lho.

Nah, beberapa hari yang lalu saya berkesempatan buat datang ke La Taverna bersama kekasih dan kawan-kawan dari Komunitas Blogger Solo. Lho? Katanya ini tempat makan yang cocok buat pacaran? Ya mestinya berdua saja, dong!

Lha apa salahnya pacaran sekaligus memotivasi teman-teman lain yang masih jomlo, ya, kan? Inilah yang disebut dalam peribahasa, “Sambil menyelam, minum air.” Jadi usahakan dalam berasmara itu tidak hanya sayang-sayangan saja, tapi juga minum air. Wkwkwk.

Oke, back to topic. Fokus. Fokus.

Jujur saja, La Taverna itu tempat makan yang sejak dulu ingin saya sambangi. Karena jika dipantau dari foto-foto yang beredar di Instagram, La Taverna memiliki tempat yang pasti bikin saya betah berlama-lama wifi-an di situ.

Konsep bangunan La Taverna sendiri adalah perpaduan Jawa-Belanda yang membawa suasana seperti peron kereta api tahun 1935. Saya kurang yakin apakah bangunan La Taverna bisa disebut arsitektur indis. Tentu saja karna arsitektur bukanlah kapasitas saya. Yang jelas saya suka sekali dengan bangunannya yang luas seperti joglo, warna yang dominan dengan hitam dan coklat, perabot interior yang elegan, serta hiasan-hiasan lawas ala Belanda yang semakin memanjakan naluri ke-artsy-an saya.

Penasaran tempatnya seperti apa? Coba lihat beberapa sudut yang telah saya abadikan di bawah ini. Yuk, jalan!


Gambar kiri atas merupakan penampakan lantai 2. Gambar kiri bawah adalah penampakan lantai 1 yang luas. Meja makan rata-rata berkapasitas empat orang, tapi juga bisa kalau mau datang beramai-rama (ada meja panjang, kok).

Yuk, Makan!

Jangan berpuas diri dulu dengan tempatnya yang nyaman. Karena makanan di La Taverna juga tidak kalah menariknya. Menu andalan resto ini adalah aneka jejamuran. Bagi yang sudah muak dengan sajian ayam dan telur di resto-resto lain pada umumnya, La Taverna bisa jadi rujukan yang tepat untuk memvariasikan lidah kita.

Kalau dulu teman saya pernah membuat tagline, “Aku dan kamu bertemu karena buku” untuk toko buku rintisannya. Sepertinya saya harus membuat tagline sejenis yang dipesembahkan untuk La Taverna. Tagline itu berbunyi, “Lidahku dan lidahmu bertemu karena menu.” Eaaa.

Wah, wah, sebenarnya apa dan bagaimana, sih, hidangan ala La Taverna itu? Berikut saya sertakan foto dengan caption berupa reaksi ketika saya mencecapnya.

Omelet Jamur 15K


“Nyamm.. Mmm.. Enak, nih. Mesti dicocol sama saus dulu biar makin mantap. Teksturnya lembut, empuk. Nggak bikin rahang kita kelelahan pas ngunyah. Mmm.. Gurih pula ini. Enak.”

Fuyunghai Jamur 20K


“Nyamm.. Ini saus apa ya yang dituang di atasnya? Manis-manis gurih. Nggak kalah sama omelet. Nyamm.. Mmm.. Enak.”

Crispy Mushroom 12K


“Krezz.. Nyamm.. Krezz.. Mmm.. Krispinya pas banget. Kriuk tapi nggak keras. Rasanya juga enak. Krezz.. Mmm.. Tapi kalau lihat taburannya ini kok jadi ingat mie ayam, ya. Hahaha. Krezz.. Krezzz.”

Sate Jamur 20K




“Nyamm.. Buset. Ini enak satenya. Mudah dikunyah dan bumbunya nggak eneg. Nyamm.. Nyamm.. No comment. Mau kulahap semua. Nyamm.. Nyamm..”

Gule Jamur 15K


“Baru kali ini aku tahu ada gule jamur. Nyamm.. Nyamm.. Huhhah. Segar dan enak! Untuk orang kayak aku yang gampang kepedesan, gule ini sentuhan pedesnya pas. Eh, tapi tadi baru satu lahap saja, sih. Coba lagi, ah. Nyamm.. Nyamm.. Fix. Pasti ini resep awet mudanya Captain America.”

Nasi Goreng Jamur 20K


“Belum disebut resto yang hakiki kalau tidak ada nasi gorengnya. Oke, coba aku makan, ya. Nyamm.. Nyamm.. Kebetulan nggak terlalu pedes. Tapi gurihnya dapet. Nyamm.. Nyamm.. Krezz.. Dimakan pakai jamur gorengnya ini pas banget. Enak!”

Honey Chicken Steak 36K


“Nyamm.. Nyamm.. Nyamm.. Nyamm.. Nyamm..” (Kok nggak ada komentar?) “Nyamm.. Nyamm.. Nyamm.. Nyamm..” (Woy, kasih komentar, woy.) “Nyamm.. Nyamm.. Nyamm..” (Auk lah makan doang, nggak kasih komentar.) “Fhuaahh..” (Buset! Sampai habis seketika. Komentarya mana, woy.) “Hehehehe.. Sorry, sorry. Sumpah ini enak banget, Bro. Ayamnya, bumbunya, sausnya. Sempurna!”

Nah, itu tadi pengalaman saya saat melahap aneka masakan La Taverna. Perlu dicatat, nih. Setiap pembelian aneka jejamuran tadi bisa kita santap bersama nasi putih yang tidak perlu membayar lebih. Sebut saja, gratis! Tentu tidak termasuk nasi goreng atau variasi nasi jamur lainnya. Jadi bagaimana? Penasaran sama menu jejamuran ala La Taverna? Yuk, makan!

Yuk, Rayakan!

Tempat yang luas, nyaman, dan makanannya yang enak tentu menjadi pilihan yang tepat jika kita ingin mengadakan acara di sana. Misalkan saja reuni, meeting, kopdar, pesta ulang tahun, dan tentu saja syukuran berasmara.

Entah menurut undang-undang yang mana, di beberapa daerah di negeri ini telah menerapkan apa yang istilahnya ‘pajak jadian’. Ya, setiap mereka yang punya kekasih biasanya dianggap sebagai masyarakat wajib pajak, lantas mereka dituntut untuk mentraktir sejumlah teman. Untunglah pajak jadian itu hukumnya fardhu kifayah.

Kaitannya dengan hal itu, La Taverna secara revolusioner ternyata bisa mewadahi ajang pembayaran pajak jadian tersebut. Buktinya, saya dan kekasih mempraktekkan itu bersama kawan-kawan blogger solo.

Jadi, di La Taverna ada menu spesial yang cuma bisa dipesan by order, salah satunya ya order buat pajak jadian. Menu tersebut menghidangkan tumpeng-tumpeng unyu yang sayang jika dilewatkan. Berikut ini adalah penampakan dari aneka tumpeng yang saya maksud.

Nasi tumpeng kuning dan nasi tumpeng pandan.

Nasi tumpeng beras merah.

Nasi goreng tumpeng.

Paket tumpengan ini per porsi 30k sudah termasuk es teh dan buah, lho. Minimum pemesanan 20 pcs.

Wah, kamu yang traktir itu semua, Ham?

Ehem. Jadi gini. Kalau menurut Roland Barthes, “Ketika suatu teks terlahir maka pengarang telah tiada”. Sehingga siapapun boleh menafsirkan teks meski akan berbeda dengan apa yang ditafsirkan orang lain bahkan oleh pengarang itu sendiri.

Artinya, ketika aneka makanan tumpeng itu tiba di meja kami, seketika itu pula saya menafsirkan bahwa ini adalah pajak saya. Karena peran koki adalah memasak, peran kawan-kawan blogger adalah memakan, lalu peran saya adalah memaknai. Dan saya memaknai tumpeng-tumpeng lezat itu sebagai persembahan saya kepada kawan-kawan blogger.

Sungguh mulia hati ini.

Wkwkwk.

Jadi tunggu apa lagi? Yuk, rayakan!

Saya rasa sudah semua yang ingin saya ceritakan soal La Taverna dan ruang lingkup asmara yang menaunginya. Semoga tulisan ini bisa memberi informasi yang berguna bagi para pembaca sekalian. Memangnya tulisanmu berguna, Ham? Ah, ya, minimal kita jadi tahu kuliner asyik yang ada di Solo, gitu, lho. Saking asyiknya, saya malah terbayang jika La Taverna itu bisa dipakai untuk acara ijab qabul. Terus nanti ada yang nulis, “Lamaran? La Taverna Saja!” Gimana? Mbois opo, ra?


Akun Instagram La Taverna: @latavernasolo

Peta Lokasi La Taverna:



Source pict: dokumentasi pribadi. 

18 Mei 2017



Jika Bung Karno terkenal dengan Jas Merah (jangan sekali-kali melupakan sejarah)-nya, maka saya perkenalkan yang namanya Jas Hujan (jangan sekali-kali menghujat makanan). Sungguh kalimat pembuka yang sangat berfaedah, bukan?

Jas Hujan itu tercetus ketika saya selesai menonton film Cina berjudul Cook Up a Storm (2017). Sebetulnya film ini sederhana sekali, tapi membuat lapar.

Bercerita tentang koki lokal bernama Gao Tian Ci a.k.a Sky Ko (Nicholas Tse) yang jago membuat makanan tradisional Cina. Ia menjadi koki di sebuah kedai makan bernama Seven yang terletak di sudut kumuh dalam kawasan kota metropolis Spring Avenue.

Suatu ketika, di depan kedainya dibangunlah restoran kelas internasional yang mendatangkan koki terbaik Eropa, Paul Ahn (Jung Yong Hwa). Tentu saja Jung Yong Hwa ini tidak ada hubungan darah sama sekali dengan Jung Jawa. Meski plintiran poni mereka jatuh di sudut pitagoras yang sama, tapi tetap saja beda. Lha wong yang satu koki ternama di Eropa. Sedang satunya, buat buka tutup saus Indofood saja harus dicongkel pakai bisikan ‘aku sayang kamu’ dulu.

Karena sedang ngomongin film Cina, izinkan saya terkekeh dengan bahasa Cina: Xixixixixi.

Ketika Stellar (restoran yang dibangun di depan Kedai Seven) mulai beroprasi, ternyata muncul berbagai masalah. Kedai Seven merasa dirugikan karena lahan mereka malah dipakai parkir mobil oleh pelanggannya Stellar.

Saat salah satu pengelola Kedai Seven protes, pihak Stellar malah mengadu akan menggusur bangunan tua tempat di mana Kedai Seven berjualan. Pengelola Kedai Seven yang getol itu bernama Hai Dan Mei a.k.a Uni (Tiffany Tang). Tentu saja di sini Uni tidak membahas tentang Vaseline lagi. Itu Uni Dzalikaaaa..! Xixixixixi. 


 
Alhasil untuk menentukan siapa yang berhak membuka tempat makan di Spring Avenue, Sky dan Paul harus bertarung di kompetisi masak. Kompetisi ini ada tiga babak, lokal, nasional, dan internasional. Jika lolos ketiga babak itu, peserta berhak melawan Dewa Masak, Anthony Ko a.k.a Mountain Ko (Anthony Wong).

Dahsyat tenan yo, di Cina itu sudah ada Dewa Judi, Dewa Mabuk, lalu ada Dewa Masak. Kalau Indonesia sih punya Dewa Sembilan belas, Dewa Bujana, dan Dewaweb. Yuk, beli domain terbaikmu di Dewaweb.

Scene yang membuat saya terharu dengan film ini adalah relasi ayah dan anak yang ditampilkan melalui sosok Sky dan Dewa Masak. Selain untuk mempertahankan Kedai Seven, ternyata Sky juga memiliki ambisi untuk mengalahkan ayahnya. (Spoiler alert)

Sejak Sky masih kecil, ayahnya pergi untuk mengejar impian menjadi Dewa Masak. Dan ia tidak pernah mengakui Sky sebagai anaknya karena ia malu jika memiliki anak yang tidak bisa memasak.

Saya merinding ketika di atas panggung Sky menyodorkan mie ayam ke Dewa Masak. Saat Dewa Masak memakannya, Sky langsung berjalan meninggalkan panggung. Sky tidak peduli dengan hadiah atau gelar. Ia cuma mau menunjukkan kepada ayahnya jika ia bisa memasak. Itu saja.

Maka benar saja, ketika Sky melangkah keluar panggung, Dewa Masak memanggilnya. Saat Sky menoleh, Dewa Masak bilang, “Kerja bagus.” Itu benar-benar scene yang menyentuh bagi saya. Bagaimana tidak? Dua puluh tahun belajar masak hanya untuk mendapat pengakuan dari ayahnya bahwa ia bisa menjadi anak yang membanggakan, lho. Dan itu tersimbolkan dengan mie ayam! Luar biasa. 



Nah, Cook Up a Storm ceritanya sesederhana itu tapi menyentuh. Dan hal lain yang membuat istimewa adalah visualisasinya. Marai ngelih. Mas Paul itu menyajikan makanannya cuantek bingit kayak Sangkuriang (Sangkuriang versi mana yang cantek cuuk??).

Sedangkan Sky lebih atraktif masaknya. Yang satu instagramable dan satunya instastoryable. Wuah, pakai istilahnya khalayak kekinian. Jangan ngaku generasi millenial posmodernis kalau nantinya punya anak belum dikasih nama yang instagramable. Lho, sing koyo piye iku? Ya misal, Joko Gram, Ani Insta, Budi Story, dan Yanto Feed. Kalau mau agak panjang juga bisa pakai nama Sri Started Following You. Gimana? Futuristik sekali, kan?

Haduhbiyuung.. Nonton film tentang masak itu memang harus waspada kelaparan. Apalagi kalau ingat skill masak diri sendiri masih level mie instan dan telur ceplok. Ini juga sedang belajar masak bubur Milna gagal-gagal terus. Jelas tidak bisa dibandingkan dengan Cook Up a Storm, dong. Yaiyalah!

Mas Paul itu masakannya kebarat-baratan. Sementara Sky ketimur-timuran. Masing-masing punya prinsip yang kuat. Mas Paul mengklaim kalau masakan barat itu terus berinovasi, sedangkan masakan timur cuma gitu-gitu saja. Kalau Sky lebih percaya jika masakan timur selalu menang di rasa karena tidak dimasak dengan trik saja, namun juga hati.

Uniknya, karena Mas Paul dikhianati sama si pemilik modal restoran Steller, ia kemudian banting setir memihak Sky untuk lolos babak ketiga. Jadi masakan barat bakal bertemu dengan masakan timur dalam satu piring! Anjaaay.. Ngeliiihhhhh..

Haduhbiyuung.. Lidah dan perut sudah tidak tahan lagi. Saya ingin makan makanan kombinasi barat dan timur sekarang juga! Tapi di mana?

Ketika tubuh mulai lemas. Ketika sekujur badan sudah pasrah pada lapar. Dan ketika mata terlanjur kepilu-piluan. Tiba-tiba saja, ada pemberitahuan wasap yang menggetarkan sukma.

Ada yang ngajak makan di Pesta Buntel.

Wow, tempat makan apa, tuh?


Karena memang sedang ingin makan yang di luar menu sehari-hari dan sedang hemat dalam satu waktu, maka saya menyatakan mau menerima ajakan traktiran itu.

Singkat cerita, saya sampai di Pesta Buntel, tuh. Tempatnya nyaman. Apalagi nuansa whiteaddict, pattern, dan tanaman-tanaman yang ditata bagus itu membuat saya berpikir mau ke Pesta Buntel lagi kapan-kapan. Tapi sendirian saja. Karena saya lihat ada colokan dan koneksi internet. Xixixixixi.

WATDEFAK! INI MENU APA? 

 
Kira-kira begitulah teriakan isi hati saya ketika tahu ternyata Pesta Buntel itu konsepnya adalah fusion. Yaitu olahan dari masakan barat dan timur yang disajikan dalam buntelan tradisional Indonesia. Uedyan! Baru tahu konsepnya seperti Cook Up a Storm saja sudah sempoyongan lidah ini.

Jadi menunya itu ada aneka Pasta yang dibuntel dengan daun pisang dan dipadukan dengan saos asli Indonesia seperti saos padang, rendang, sambal matah, cabe ijo, saos tomat, bahkan ada juga rasa rica-rica! Selain itu, tidak kalah menarik juga ada menu Hainan yang tetap dibuntel daun pisang dengan varian rasa daging ayam fillet (saos kecap) dan rica-rica daging ayam.

Saat saya masih menahan iler, teman saya bertanya sama mas-masnya soal cara masaknya itu bagaimana. Lalu dijelaskanlah cikal bakal cita rasa Pasta Buntel tersebut. Jadi, pertama yang mereka lakukan adalah masuk ke dapur dulu sebelum memasak dan tidak lupa mengucap salam lengkap dengan basmalah. Kami pun manggut-manggut memaklumi kenapa mereka bisa begitu kreatif meramu masakan.

Usut punya usut, setelah Pasta atau Hainan itu digongso, makanan dibuntel dengan daun pisang lalu dibakar pakai arang. Gongso itu bukan acara TV yang dipandu Arie Untung, lho. (Itu Gong Show!). Gongso juga bukan harga diri atau martabat. (Itu GENGSI, bajindul!).

Jadi, gongso itu istilah dari Jawa untuk menyebut proses menumis, yaitu memasak di atas wajan dengan sedikit minyak. Lho kok tau? Katanya cuma bisa masak mie? Iya, barusan itu ngutip dari masukdapur.com. Tuh link source-nya nempel di dua paragraf sebelumnya. (Ngutipnya di mana, naruh sumbernya di mana. Pancen njaluk dibuntel otakmu, Ham.)

Penggunaan daun pisang ini bukan sepele, lho. Kalau di Cook Up a Storm itu seperti saat Sky menuangkan anggur beras di tepian casserole. Lalu ia lilitkan handuk di tepiannya agar uap tidak keluar. Nah, saat anggur beras bertemu dengan uap panas itulah rasa anggur menyatu dengan rasa ayam, bihun, dan kemangi sehingga menghasilkan aroma yang sedap abes! 



Nah, daun pisang sebagai pembuntel pun juga demikian. Ketika dibakar dengan arang itu muncul aroma dan rasa yang khas bagi makanan di dalamnya. Konon, mereka terinspirasi dari sego bakar yang biasanya jadi menu di wedangan atau hik.

Selain itu, daun pisang juga ramah lingkungan. Sampah buangan daun pisang dapat diurai dengan mudah oleh alam, kan, ya? Yang tidak bisa diurai itu cuma jalinan asmara kita, lho, Tiw. Xixixixixi.

Penjelasan tentang olah masak itu membuat perut dan lidah meronta dengan buasnya. Lalu saya mulai menyimpulkan sendiri kalau ternyata hidangan tidak segera keluar itu karena memang proses memasaknya lama. Lha mau bagaimana lagi? Demi cita rasa tinggi, bosku.

Saat saya menenangkan perut dan lidah dengan sabar, tiba-tiba mas-mas Pesta Buntel bertanya, “Ini pesanannya sudah ditulis semua, Mas?”

BAZINDUL! DARI TADI BELUM MULAI PESEN TERNYATA.

Orang bijak perkulineran sih pernah bilang, “Nek luwe pekok. Nek wareg goblok.” (Kalau lapar –jadi- bodoh. Kalau kenyang –jadi- tolol). Kayaknya itu yang bikin quote pernah ikut tes IQ tiga kali, pas laper, pas kenyang, dan pas normal. Xixixixixi.

Xixixixixi ndasmu! Ngelih, boss!
Sembari menunggu pesanan datang, ada baiknya kepoin dulu instagramnya Pesta Buntel, nih.


A post shared by Pesta Buntel (@pestabuntel) on



Bingung malam minggu pada mau kemana? Yuk main ke Pesta buntel!😚 . Ini dia menu recommended dari kita, urut dari kiri ke kanan: ~PENNE MOZZARELLA, pasta penne dengan siraman saus tomat blackpaper ini emang bikin ngiler. Perpaduan rasa dari manis, asam, semi pedas dan gurih yang jadi satu ini emang lumer di lidah..😍 ~FUSILLI CABE IJO, buat para penggemar pedas, menu ini bisa jadi pilihan karna berbahan dasar dari cabe ijo yg pedas..πŸ˜‹ ~HAINAN AYAM RICA, ini menu baru dari kita yang wajib dicoba! Gurihnya nasi hainan bercampur dengan manisnya ayam rica emang bikin nagih..😍 ~ANEKA LATTE, rasanya manisnya nendang dan murmer menjadikan minuman ini salah satu yang favorit pastinya..πŸ˜‹ ~CHOCOLATE, minuman coklat yang satu ini most recommended dari kita, rasa coklatnya bener2 lumer di lidah, dan taburan choco crunchnya bikin nambah nikmat..πŸ˜‹πŸ˜ . JANGAN LUPA juga!!! Sampai akhir februari kita ada promo FREE UPSIZE 20% all varian pasta, dan FREE REFILL ICE TEA/HOT TEA SAMPAI PUWAAAAAASSSS, kuy buruan serbuu..😘 . Pesta Buntel πŸ“Jl. Tirtosari, Purwonegaran, Solo ⏰Buka tiap hari, 11.00-22.00 (last order) πŸ“Food Court Pak Gendut, Solo Baru ⏰Buka tiap hari, 17.00-24.00 Meet, eat, & delighted! . Cek fanpage FB Pesta Buntel ya untuk lihat daftar Menu dan harga: @pestabuntel😊 . PESTA BUNTEL "MEET, EAT, and DELIGHTED!" #pestabuntel #meeteatdelighted
A post shared by Pesta Buntel (@pestabuntel) on


Haduhbiyuung.. Kepo kok membuat usus saya gemetaran, ya? Ah, sudah, ah. Pokonya kamu harus nonton Cook Up a Storm dan mencoba makan di Pesta Buntel. Bagus lagi kalau bisa melakukan keduanya. Pesta Buntel ini pernah jadi tempat pemutaran film dalam rangkaian roadshow Pesta Film Solo, lho.

Yuk, kalau kamu mau ke sini langsung berangkat sekarang. Nih, saya send location. Jangan lama-lama. Sambil menunggu makanan tersaji memang menyenangkan jika sekaligus menunggumu datang menghampiri.



Rate

Cook Up a Storm : 6.1/10 versi IMDb (Internet Movie Database)

Pesta Buntel : 8.0/10 versi IMDB (Ilham Mau Dibuntel)