Tampilkan postingan dengan label Zona Digital. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Zona Digital. Tampilkan semua postingan

16 Juni 2018


Sebut saja saya adalah pemula dalam urusan merantau. Sebab waktu terlama untuk jauh dengan keluarga baru saya rasakan di usia ke-25 tahun ini. Sebelumnya, mulai dari lahir, sekolah, hingga kuliah saya jalani di tanah kelahiran, Kartasura. Bagi para perantau senior silakan membercandai saya dengan leluasa karena memang saya baru mengalami masa penjelajahan ini dari November 2017 hingga sekarang yang kira-kira sekitar tujuh bulan.

Pada momen ini juga untuk pertama kalinya saya melewati masa lebaran tidak bersama keluarga. Hari Raya Idulfitri 1439H yang jatuh bertepatan pada tanggal 15 Juni 2018 menjadi saksi betapa hati ini ternyata lunak, rapuh, dan rentan terhadap rindu. Akhirnya, komunikasi via telepon menjadi cara terbaik untuk melegakan kerinduan tersebut. Ah, bahkan pada masa sekarang tak hanya saling berkirim suara, bukan? Sebab ada teknologi video call yang bisa semakin mendekatkan jarak raga yang jauh.

Setelah sholat Ied di masjid dekat kos, saya hendak melakukan video call dengan ibu saya yang berada di Kartasura. Tak disangka, sudah tujuh bulan saya sama sekali tidak pernah melihatnya. Ibu saya memang pasif dengan sosial media. Teknologi paling canggih yang ia pakai pun adalah membuat status WhatsApp yang isinya kalimat puitis saja, tidak ada swafoto. Dan saya memang cukup kurang ajar dengan tidak melakukan panggilan video sebelum lebaran ini tiba.

Sayangnya, niatan untuk bertatap muka itu harus kandas. Sebab ibu saya mengklaim bahwa kuota internetnya tidak akan cukup untuk melakukan video call. Pada momen itu saya tahu betul kalau ibu saya pasti juga sedang repot menerima tamu di rumah. Lagipula ibu saya tidak tahu cara beli pulsa secara online. Konter handphone langganan ibu pun sudah pasti libur.

Satu-satunya yang menganggur pada saat itu ya tentu saja adalah saya sendiri. Sebagai anak yang mencoba untuk berbakti dan berbudi pekerti luhur, saya dengan senang hati membelikan pulsa untuk ibu saya. Lagipula saya punya saldo TCASH yang bisa dipakai untuk mengisikan pulsa ke pengguna lain. Jadi dermawan #pakeTCASH ternyata mudah!

Beruntung saya mengikuti akun sosial media TCASH, jadi informasi seputar promo maupun cara pakai TCASH bisa saya dapatkan dengan mudah. Nah, pada saat itu saya tahu kalau TCASH sedang ada program berbagi THR. Karena faktor kebutuhan dan kepraktisannya, tentu saya memilih menggunakan TCASH. Lagipula jika saya berpartisipasi dalam program ini, ada kesempatan bagi saya untuk memenangkan undian berhadiah berupa 1 buah MacBook Pro atau 4 buah iPhone X. Mantul! Mantap betul!

Momen lebaran menjadi menyenangkan ketika komunikasi jarak jauh berhasil saya lakukan. Pada kesempatan untuk berkomunikasi itu, ibu banyak sekali memberi petuah. Mulai soal ibadah, pekerjaan, hingga pribadi yang harus terus belajar agar saya #JadiBaik kedepannya.

Suara ibu terdengar agak parau saat itu. Meski ia mencoba untuk tertawa, bercanda, dan tampil ceria, tapi aku kenal betul bagaimana suara parau ibu sebenarnya adalah suara yang getir oleh rindu. Dan aku paham bagaimana ia mencoba untuk tidak menumpahkan tangis di depan anaknya. Karena ia yakin kalau sebuah perasaan bisa menular. Dan saat itu, ibu sedang menulari saya dengan sebuah perasaan tegar.

Ramadhan tahun ini mungkin jadi bulan yang lebih haru dari sebelumnya. Tidak ada makan bersama, tidak ada senda gurau, bahkan tidak ada lagi cerita-cerita khas ibu yang sebenarnya sudah diulang-ulang puluhan kali. Ramadhan tahun ini mengajarkan pada saya agar senantiasa #JadiBaik di Bulan Baik. Dan pada momentum lebaran, saya jadi menyadari jika rindu adalah pendekatan terbaik untuk meminta maaf dan memaafkan.

Pakai TCASH bikin happy!

Melalui cerita yang saya tuliskan ini, saya jadi ingin berbagi dengan pembaca yang menggunakan operator Telkomsel untuk memanfaatkan TCASH karena bisa mempermudah berbagai keperluan. Kita bisa beli pulsa, belanja online, membayar token listrik, maupun bayar Merchant TCASH yang banyak diskonnya. Saya sendiri sudah mengalami dan sangat girang karena sering mendapat bonus saldo yang bisa dipakai untuk memberi suntikan nafas ke kuota internet saya.

Fitur TCASH yang paling saya suka yaitu fitur kirim uang. Jadi jika kita tidak memiliki rekening bank, kita bisa menggunakan TCASH untuk mengirim uang. Caranya pun sangat mudah. Cukup dengan buka aplikasi TCASH, lalu pilih menu Kirim Uang. Setelah itu kita bisa memilih tujuan transfer, bisa nomor HP (TCASH) atau rekening bank. Berikutnya tinggal memasukan nomor HP atau nomor rekening dan jumlah saldo yang mau dikirimkan. Nah, langkah terakhirnya cukup memasukkan PIN dan saldo sudah langsung terkirim.

Berkat TCASH, momen lebaran saya di perantauan tidak terasa masygul dan senyap. Siapa sangka kalau TCASH bisa menyelamatkan saya dari komunikasi tatap muka yang hampir batal. Semoga tulisan curhat ini selain jadi pengingat bagi diri sendiri kalau saya pernah berada di titik ini, juga jadi manfaat bagi pembaca. Terima kasih telah menyimak blog pribadi saya. Semoga betah, ya. Sampai jumpa!


Header Source: pexels.com

8 Mei 2018


Memenuhi kebutuhan selama lebaran akan terasa menyenangkan selama menikmati promo Ramadhan 2018 Bukalapak. Sebab di situs jual beli online ini kita berkesempatan memperoleh promo menarik sepanjang bulan puasa dan tentunya dalam angka yang begitu menggiurkan, Guys.

Adanya diskon tentu saja sangat membantu penikmat transaksi belanja online di Bukalapak bisa berhemat, sebab bisa mendapatkan harga lebih murah. Kemudian masih ada promo lain yang menyemarakkan promo Ramadhan 2018 tersebut misal diskon ongkir atau malah free ongkir. Hayoo siapa yang belum pernah belanja di Bukalapak? Mumpung ada promo Ramadhan 2018 nih kita cobain, yuk.

Tapi sebelum memanfaatkan promo di Bukalapak selama Ramadhan, ada baiknya kita menyimak informasi penting ini. Pasti sebal kalau selama ini sering mendapatkan produk promo di internet yang ternyata tidak sesuai foto atau mungkin rusak saat diterima. Maka pastikan memahami dulu tata cara membeli produk online dengan benar sehingga tidak rugi.

Ini Dia Tips Membeli Produk Online Sesuai Foto

Membeli kebutuhan apapun secara online memang rentan kecewa karena bisa jadi tidak sesuai di foto dan tidak sesuai ekspektasi. Nah, supaya kejadian semacam ini tidak dialami maka simak beberapa tips berikut:

1. Pilih foto produk yang meyakinkan! 

Paling utama untuk mendapatkan produk online yang murah karena diskon dan berkualitas adalah teliti memilih foto produk. Paling aman memilih toko online yang memajang foto sendiri dan di foto secara profesional. Tidak harus memakai model dan fotografer profesional, cukup ditata seapik mungkin agar sedap dipandang. Kalau fotonya berkualitas dan menarik maka umumnya produknya pun sama persis.

2. Baca dulu informasi produknya. 

Setiap penjual online di Bukalapak dijamin menyampaikan produknya lewat kolom keterangan yang tersedia. Keterangan ini tentu bukan pajangan melainkan informasi yang dibutuhkan pembeli untuk menentukan kualitas dan kesesuaian produk dengan kebutuhan. Misal kalau membeli baju lewat promo Ramadhan 2018 Bukalapak bisa mengecek keterangan ukuran sampai jenis bahan yang digunakan. Kalau mau teliti dijamin tidak akan salah order dan tidak kecewa.

3. Pilih harga promo yang masih logis. 

Harga selama promo biasanya akan lebih murah, akan tetapi jangan mudah percaya pada harga termurah sebab ada kecenderungan menjadi produk abal-abal. Fotonya bagus namun aslinya berbeda jauh dan mengecewakan atau bisa pula produknya cacat ketika diterima dan tidak bisa ditukar. Maka pilih harga promo yang masih terbilang logis, dalam artian harganya tidak murah namun mencurigakan saking murahnya. Kalaupun menjumpai promo sangat murah namun testimoninya bagus, silahkan tetap di order.

4. Cek testimoni pembeli lainnya. 

Apabila sebuah penjual di Bukalapak memang menyediakan produk bagus dan pengirimannya pun memuaskan, dijamin banjir testimoni yang puas dengan penjual tersebut. Maka sangat penting untuk membaca testimoninya dan pastikan toko yang dipilih sudah mendapatkan penilaian. Sebab beberapa penjual belum menjual barang satupun sehingga tidak memiliki pembeli dan testimoninya. Kalau testimoninya memuaskan kita bisa order produknya selama promo Ramadhan.

Salah satu ketakutan bagi penikmat transaksi belanja online di Bukalapak maupun marketplace lainnya adalah mendapatkan barang yang tidak sesuai. Baik tidak sesuai perkiraan maupun tidak sesuai kualitas dan modelnya dari foto produknya. Namun dengan sedikit ketelitian dan menyimak beberapa tips yang disampaikan di atas kita bisa mencegah resiko tersebut. Asalkan mau sedikit bersabar dan teliti kita pun bisa menikmati promo Ramadhan 2018 Bukalapak dengan maksimal tanpa cemas kecewa setelah menerima barang yang dibeli.

Semoga informasi ini berguna bagi khalayak, yak. Yuk, jadi pembeli yang cerdas!

Pict: pexels.com

23 November 2017


Salah satu hal lucu dan ironi tahun ini selain tragedi Tiang Listrik adalah mencopot instalasi Traveloka karena informasi hoax yang terjadi beberapa hari lalu.

Gerakan menggulingkan Traveloka melalui cara #UninstallTraveloka yang sempat ramai di Twitterland ini terlihat lebih mirip sirkus online daripada revolusi. Gerakan ini terjadi lantaran aksi walk out (WO) sejumlah orang ketika Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, sedang berpidato di acara ulang tahun sekolah Kolese Kanisius.

Tiba-tiba saja muncul informasi di WhatsApp mengatakan bahwa salah satu yang terlibat aksi WO tersebut adalah Derianto Kusuma, CTO sekaligus salah satu pendiri Traveloka. Lantas saja digaungkan gerakan #UnistallTraveloka yang diikuti oleh banyak pengguna ponsel pintar.

Hadeh, pemboikotan Traveloka ini memang gerakan salah sasaran yang maha wagu. Jika toh ingin melakukan gerakan boikot-boikot atas apa yang terjadi pada acara itu, semestinya kita fokus pada nama Ananda Sukarlan saja. Kenapa? Sebab, pianis terkenal itu adalah orang pertama yang mengambil tindakan WO. Jadi mari kita gebyarkan gerakan #UninstallPerfectPiano saja.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Bapak Derianto ketika mengetahui produknya sedang di-uninstall ramai-ramai. Bayangkan saja di suatu sore yang mendung dengan belaian angin tipis-tipis tengah Bapak Derianto nikmati bersama secangkir kopi. Matanya terpejam menikmati senandung Teluk Bayur yang beliau request dari stasiun radio terdekat. Saat hendak ngetwit, “Kopi ini enaknya aku minum sekarang atau nanti, ya, Guys?”, beliau malah mendapati trending topic yang menohok sekali.

Jangankan Bapak Derianto, Wakil Komandan Divisi Empat Aliansi Shinobi, Nara Shikamaru pun jika berada pada posisi itu juga bakal kinjat-kinjat tak karuan.

Nah, berkaca dari fenomena menyedihkan ini, kita melihat bagaimana the power of hoax menjadi senjata ampuh untuk melakukan subversi terhadap seseorang atau sesuatu. Saya menduga, lima tahun ke depan profesi prestisius seperti dokter, youtuber, dan host Bigo akan tergantikan dengan profesi-prefesi visioner seperti Creative Hoax, Hoax Freelance, Hoax Analyst, dan Hoax Interface Designer. Satu-satunya profesi yang tidak diperlukan di era post-truth ini adalah Editor Hoax. Ya, hoax tidak butuh editorial.

Hoax terbaik adalah hoax yang ala kadarnya, disajikan tanpa estetika visual dan ditulis dengan menerabas EBI maupun typo. Hoax semacam ini jauh lebih disukai masyarakat karena mudah dipahami, dan tentu saja agak ndagel. Dalam pandangan Lefort, fenomena 'perbudakan sukarela' ini menjadi penting lantaran potensinya membentuk logika ekseklusif dalam masyarakat.

Coba, pernah tidak dirimu percaya dengan informasi dalam grup WhatssApp terkait agenda operasi tilangan atau yang orang Mataram sering menyebutnya, 'mokmen'? Apakah dirimu tergerak untuk menyebarkannya ke grup-grup WhatssApp lain karena merasa informasi itu berguna? Apakah ketika dirimu memutuskan untuk menyebarkan informasi itu terlintas gagasan brilian seperti ini, “Kalau info ini benar, aku telah membantu orang banyak. Tapi kalau hoax, ya nggak apa-apa. Toh nggak ada yang rugi.” Duh, celaka.

Andai saya ini titisan Bapak Anies Baswedan, saya pasti mengatakan, “Saudaraku. Hoax dahsyat bermula dari hoax-hoax kecil yang ditumbuhkembangkan.”

Ibaratnya begini, suatu ketika Pak Agus mendapat kiriman buah satu bagor dari saudaranya. Saking senangnya, Pak Agus memutuskan untuk membagikan buah itu dengan tetangga-tetangganya. Ia mengambil beberapa buah lalu dimasukan ke dalam kantong plastik. Buah itu langsung ia berikan kepada orang-orang.

Pak Agus pulang ke rumah membawa perasaan gembira karena turut berbagi dengan sesama. Sampai di rumah ia melihat istrinya membuang buah-buah yang tersisa ke tempat sampah. Tentu saja Pak Agus kaget setengah modyar.

“Lho, kok buah-buah dari saudaraku ini kamu buang semua, Yu?”

“Bosok kabeh, Mas.”, jawab Patricia kecewa.

Di sini pentingnya meninjau sebelum membagi, Guys. 


Jika kehidupan kita terlalu sibuk untuk mencari kebenaran informasi tersebut, yasudah, biarkan saja. Kita tidak mendadak punya tanggung jawab untuk membagi informasi-informasi itu kok. Kecuali kalau grupmu memang hoax center yang punya semboyan, “Sampaikanlah walau satu hoax.” (Lalu hamtiar.com disebut penistaan agama dalam hitungan 1.. 2.. 3..).

Menggiring opini masyarakat, menciptakan logika ekseklusif, dan menanamkan kebenaran-kebenaran palsu adalah tindakan yang tidak sulit dilakukan di era ini. Sebab, sebagian masyakat sudah siap sedia untuk diaktifkan sense of hoax-nya baik sebagai konsumen maupun distributor. Ibarat startup, marketplace untuk produk-produk hoax itu sudah ada.

Saya penasaran sekali, Traveloka kan aplikasi buat traveller, lha para alumni #UninstallTraveloka itu apa memang orang-orang yang doyan piknik? Ini pertanyaan penting. Tolong bantu dijawab, ya. Sebab bagi saya hal ini tidak masuk akal.



Lha kalau doyan piknik kok gampang diapusi?


Pict source: pexels.com

3 Maret 2017




Menonton film adalah pelarian dari kehimpitan realitas yang saya temui. Bisa jadi saat bosan, bingung, marah, bahkan bisa juga saat hati ini deg-degan menyatakan cinta. Lha mau bagaimana lagi? Bagi saya, film sudah jadi pengganti susu dalam kebutuhan empat sehat lima sempurna. Atau menjadi aspirin ketika pusing melanda. Juga menjadi tempat ternyaman untuk mendapat kehangatan di kala hujan yang dingin. Bentar, bentar. Sebenarnya ini ngobrolin film apa jahe gepuk, tho, Ndes?

Yasudah, intinya film itu begitu penting bagi kebahagiaan saya.

Awal kecanduan film itu ya jelas saja ulah bioskop Transtipi. Ceritanya, setiap pukul sembilan malam, saya dan anggota keluarga berkumpul di ruang tengah untuk menonton film. Ini semacam penghargaan karena kami telah menyelesaikan kewajiban masing-masing.

Kecanduan akan film makin menjadi ketika bioskop jadi-jadian ini justru menambah waktu penayangan film. Jadi, selepas pukul sebelas malam, Transtipi menayangkan film putaran kedua. Sementara Bapak dan Ibu memilih untuk tidur setelah menyaksikan satu film, saya justru betah nonton sampai film putaran kedua selesai pada pukul 1 pagi.

Sampai pernah kena marah sama Bapak yang kebetulan mau pipis dan memergoki saya masih terjaga hingga larut. Untung bapak cuma tahu saya melek sampai dini hari karena nonton film, bukan karena nonton host seksi di kuis-kuis aneh atau nonton acara investigasi yang topiknya seputar perbuatan mesum. 

Saya berhasil melepaskan diri dari jeratan televisi ketika saya mendapat laptop bekas pemberian kakak. Laptop bermerk Lenovo yang entah kenapa di mata saya lebih terbaca jadi ‘no love’ itu menjadi penampungan aneka film.

Ya. Di sinilah saya mulai mengenal lebih banyak film karena saya bisa mengaksesnya melalui internet sebebas yang saya mampu. Mulai dari film-film baru Edward Norton hingga sang maestro komedi, Charlie Caplin. Semua bisa saya nikmati hanya dengan beberapa klik saja.

Jangan tanya bagaimana saya membeli film-film tersebut. Ya jelas saja saya download yang free alias bajakan. Mau bagaimana lagi? Nggak kuat beli, Ndes. Lha yang ngaku wota militan saja masih banyak yang membeli poster-poster unofficial, kok. Bahkan tak jarang mereka mengunduh lagunya oshi unyu-unyu itu dengan kata kunci ‘free download lagu terbaru JKT48’. 

Maka nikmat bajakan manakah yang kamu dustakan?


Menonton film di laptop jauh lebih menyenangkan daripada di televisi. Sebab tidak perlu ada iklan, bisa dijeda sesuai kehendak sendiri, dan bisa diletakkan di mana saja. Pun dengan kualitas visual juga bisa memilih mau yang low atau high.

Eits, satu lagi, audionya bisa dimiliki sendiri dengan mencolokkan earphone ke telinga. Jadi saya tidak perlu was-was lagi kalau kepergok masih bangun hingga dini hari. Karena saya bisa nonton film di atas kasur dengan suara yang saya dengar seorang. Jika memang Bapak lagi patroli di dalam rumah, saya tinggal tekan pause, buka lembar kerja makalah, dan pura-pura terlelap di samping laptop. Bukan begitu, Kisanak?

Saya rasa kehadiran laptop sudah benar-benar memuaskan hasrat saya menonton film.

Ah, tidak. Saya keliru.

Laptop tidak fleksibel untuk dinyalakan di mana saja. Terlalu ribet dan berat jika mau menggunakannya untuk nonton di sembarang tempat. Sementara saya makin sering menjalani aktivitas di luar rumah. Maka timbullah hasrat untuk nonton film di mana saja dan kapan saja saat saya ingin. Tapi piye? Laptopku harus nyolok di stop kontak untuk mendapat aliran listrik seperti rindu yang mengaliri hubungan kita, Dek.

Bak disambar petir, saya kaget bukan main ketika mengetahui bahwa harapan saya itu bisa terwujud. Saya bisa menikmati film melalui perangkat elektronik seukuran jadah bakar. Saya bisa menyalakannya kapan saja dan di mana saja

Bahkan saya tetap bisa menggunakan fitur pause jika saya harus berpindah tempat karena ada kepentingan-kepentingan lain. Dan lebih asoynya lagi, saya bisa berhenti mengunduh film bajakan! Yeaah.. Good bye Lebah Ganteng. Good bye IDFL team. You rock, Guys!

Ini bukan tentang loyalitas. Jika memang ada fasilitas yang lebih cocok untuk saya gunakan, maka sah-sah saja kalau saya beralih dari lama ke yang baru. Lha wong Batman dan Superman saja yang awalnya tonjok-tonjokkan brutal itu lantas beralih menjadi teman hanya karena memiliki nama ibu yang sama. Peralihan itu daur hidup, Ndes. Pasti terjadi. Bahkan yang awalnya bilang “kaulah segalanya dan satu-satunya untuk selamanya” pun juga masih bisa berubah jadi “dia lebih baik dari kamu”. Maka nikmat peralihan manakah yang kamu dustakan lagi, Bosku?

Jadi sebenarnya saya beralih ke media apa, sih? Nah, setelah televisi dan laptop, kali ini saya menyambut dengan riang gembira kedatangan HOOQ. Halah itu lho aktor yang memerankan Logan. Hooq Jackman. Krik!
HOOQ adalah sebuah aplikasi yang bisa diakses dalam genggaman smartphone untuk menonton berbagai macam film.  Jadi dengan HOOQ kita bisa nonton film kapan saja dan di mana saja. Ntap!
HOOQ ini menjadi begitu penting bagi saya. Jika film adalah susu, maka HOOQ adalah wadahnya. Tanpa HOOQ, ibarat minum susu tanpa wadah. Langsung ngenyot dari sapinya. Lak yo saru, tho, Ndes?
 

Ketika pertama kali mengakses HOOQ, saya langsung mesam-mesem wagu seperti saat sembuh dari sariawan. Eh, iki tenan, lho.

Tampilan berandanya bagus. Didominasi dengan poster-poster film dalam tampilan grid yang catchy. Setelah saya cek di tab browse, alangkah bahagianya saya karena film-film yang ada di HOOQ sudah dirapikan dalam bentuk kategorial. Sebut saja kategori Indonesian Hits, Hollywood Hits, Best of Bollywood, Top Family & Kids, dan saya paling suka dengan kategori Editor’s Choice. Selain itu HOOQ juga merapikan film per-genre, ada Thrillers, Martial Arts, Sci-fi & Fantasy, Comedy, dan lain-lain. 

Eh, belum cukup dengan kategori-kategori itu saja, Ndes. HOOQ ternyata juga agak bergurau ketika saya mendapati kategori Indonesia Era Lama yang menyajikan film-film Warkop, Benyamin, dan Eva Arnaz. Bahkan ada juga filmnya Teguh Karya! Wuedyan! Di mana lagi saya bisa nonton film Pacar Ketinggalan Kereta kalau bukan di HOOQ? Mbois tenan HOOQ iki, Ndes.

Selama ini saya merasa khawatir dengan keterlembatan saya menonton film-film Indonesia di bioskop. Sebut saja Surat dari Praha dan Di Balik 98. Saya kecewa betul karena gagal menonton kedua film itu di bioskop. Bukannya mau lebay ya, tapi memang melewatkan Jullie Estele dan Chelsea Islan itu sebuah kriminalitas, Ndes. Rasa-rasanya sudah seperti menenggak air mineral tanpa O2.

Akan tetapi kekecewaan saya di masa lalu itu sekarang sudah bisa diatasi. Melalui HOOQ saya bisa menonton Mbak Jul dan Dek Is kembali. Tidak perlu lagi saya menunggu film-film Indonesia lawas di persewaan DVD, atau menanti tayang di televisi dan YouTube. Saya bisa menontonnya dengan mudah dan gratis di HOOQ. Gimana? Apa saya harus kembali menanyakan nikmat HOOQ mana lagi yang kamu dustakan?

Wait. Gratis?

Ya! Untuk mode trial pada pemakaian satu minggu pertama kita bisa menikmati HOOQ secara gratis. Sedangkan jika ingin berlangganan maka kita cukup berinvestasi sebesar Rp. 49.500 untuk satu bulan.  Harga segitu kalau mau nonton di bioskop cuma bisa buat dua tiket. Sedangkan jika menggunakan HOOQ, saya bisa nonton apa saja, kapan saja dan di mana saja. 

Tapi tidak membuka kenaifan juga, Ndes. Nonton di bioskop memang membawa pengalaman tersendiri dalam menikmati film. Saya masih menjadikan bioskop sebagai cara menonton film yang terbaik. Sedangkan HOOQ adalah alternatif menonton yang paling tepat. Tinggal masalah waktu dan duit saja kalau ini.

Ini informasi langkah awal ketika mengakses HOOQ. Gampang banget!
......
Tiba-tiba Lik Atenx menolak, “Aku nggak mau pakai HOOQ! Katanya kualitas subtitle untuk film asingnya jelek. Males aku. Tes TOEFL saja aku sampai minta tolong dukun sakti kok ini malah nonton film bahasa asing tapi nggak ada terjemahannya.”

Dengan berbekal buku Kiat-kiat Sukses Bersabar, saya mencoba menanggapi ocehannya Lik Atenx ini dengan kepala dingin. “Gini, Lik. Kesalahanmu itu ada dua.”

“Weh. Apa itu?”

“Pertama, buat apa kamu minta dukun sakti untuk membantumu mengerjakan tes TOEFL? Rumangsamu aji-aji sapu jagad itu yang bikin Pangeran Charles, ha? Jelas bukan, tho?”

Asyu. Yowes, Lanjutkan omonganmu.”

“Kedua...”

“Heh, serius, Le. Kedua opo?

“Kedua, memang terjemahannya mbalelo tenan, Lik. Aku ya agak geram. Sudah seneng-senengnya nemu film yang susah dicari. Begitu dimainkan ternyata tidak ada terjemahannya. Pening aku, Lik, pening.”

Woe sama saja! Kamu ini lagi ikut lomba kok malah ngatain. Pancen utek ra kopen!
......

Ya, memang betul. Salah satu pengalaman kurang menyenangkan saat mengakses HOOQ adalah fasilitas terjemahan yang kurang lengkap. Koleksi filmnya sih memang ada 10.000 dan akan terus bertambah. Tapi tidak semua film dengan bahasa asing dilengkapi terjemahan bahasa Indonesia.

Namun saya ‘ainul yaqin saja bahwa HOOQ pasti sedang berupaya keras untuk memberi alternatif bahasa di dalam film-filmnya. Dan untuk menuju ke arah itu, pihak HOOQ memberi kesempatan bagi kita mendapatkan terjemahan dengan cara mengirim permohonan pengadaan subtitle ke support@hooq.tv.
 

Pengalaman pertama saya menggunakan HOOQ terjadi di sebuah kedai minum. Saya memang biasa ke sana untuk blogging atau mengakses beberapa hal yang bisa membuat saya terinspirasi dan termotivasi. Saya mengakui bahwa saya lebih banyak singgah ke beberapa tempat seorang diri. Bukannya mau RR, tapi memang LDR militan kadang bertingkah seperti jomblo profesional, Ndes.
Q: RR itu apa? A: Riya’ Relationship
Jadi waktu itu saya sedang gabut di kedai minum seorang diri. Saya tidak bisa mengakses beberapa situs download film ilegal karena terblokir oleh ajian puter gilingnya si wifi. Sementara saya sedang tidak konsen blogging karena ada kumpulan anak sekolah unyu-unyu yang berisik sekali main UNO. Sepertinya para pemain UNO berseragam OSIS ini merupakan keturunan murni dari Laskar Pasoepati. Ramainya bikin libido dan dopamin saya meronta-ronta menagih kepuasan dari film.

Eits, bukan film porno. Saya cuma ingin nonton film Hollywood biasa saja, kok. Yang aktrisnya Sasha Grey.

Tapi dari mana saya bisa menonton film jika situs-situs pemasok film yang selama ini kukunjungi tidak mendapat izin akses? Bak Bruce Banner dengan Natsha Romanoff, saya mendapat  saran dari kekasih untuk nonton film melalui HOOQ. Maka lekas saja saya unduh aplikasinya. 

Dengan perasaan riang gembira, saya melakukan instalasi HOOQ. Sayangnya...


Pancen Ilham i utekke keri separo ning laci SD Al-Hilal ketokke. Jelas-jelas no more space itu urusan memori handphone, bukan urusan admin HOOQ. Kok ya masih mengadu, cah edan!

Sebenarnya ruang yang diperlukan tidaklah besar. Hanya saja sd card saya memang sedang rusak. Sementara memori internal sudah kepenuhan aplikasi lain. Maka jadilah saya uninstal Instagram. Yha! Demi film! Hash, ra urusan karo feed lan instastory-mu. Situasinya sudah genting nih. Butuh Sasha Grey!

Akhirnya, HOOQ pun terinstal. Hati riang. Mimpi basah tidak lewat masa tenggang. Wow, Laskar Pasoepati tercengang!

Ngomong opo, sih?!

Ya begitulah pertemuan saya dengan HOOQ. Setelah aplikasi ini terpasang, lekas saja saya geledah-geledah segala fiturnya. Wah, menarik. Menarik sekali. Saya benar-benar bungah dengan datangnya HOOQ di dalam list aplikasi saya. Meski ada beberapa hal yang membuat saya berpikir, “Kok gak dibuat gini ya” atau “Kalau ada gini dan gitu bisa tambah membantu pengguna, nih.” Namun secara umum saya puas dengan HOOQ. 

Supaya lebih jelas, berikut saya sertakan kelebihan dan kekurang HOOQ menurut saya.


Namanya juga aplikasi buatan manusia, tentu ia tidak hadir serta merta dalam keadaan sempurna. Ada kekurangan yang pastinya akan selalu dikembangkan lagi kualitasnya.

Yak, saya kira sudah segini saja yang mau saya ceritakan. Informasi seputar langkah-langkah lengkap menggunakan HOOQ dengan berbagai skrinsyutan dari aplikasi HOOQ sudah disajikan oleh peserta lomba yang lain dan.. Dan.. Dan siapa pula yang mau menelusuri “tutorial menggunakan HOOQ”, anjer? Lha wong HOOQ ini memakainya gampang bingit. Saking gampangnya, nggak sengaja mencet saja udah bisa ngeplay film. Wuasyem tenan og. Zaman sekarang itu nyoblos wakil rakyat lebih rempong daripada nonton film, Ndes.
 
Jadi, ya sudah, ya. Iya, ini tulisan buat ikut lomba HOOQ. Doakan supaya saya menang. Tapi sebelum itu, alangkah baiknya jika kamu berdoa untuk kedua orangtua dulu. Lalu doa keselamatan dunia dan akhiratmu. Baru doakan saya menang. Tapi jika memang tidak ikhlas mendoakan saya, ya tidak usah saja tidak apa-apa. Asal kamu mendoakan peserta lain kalah. Amin. 


Update tulisan: Ternyata kalah, gaes. Doamu ra ono sing manjur. Yuk, kita bermuhasabah diri.