10 September 2019

Stop pneumonia pada anak


Setiap negara pasti menginginkan generasi ke generasi bangsanya dipenuhi oleh orang-orang yang sehat, produktif, dan mampu membawa perubahan positif. Tak terkecuali dengan negara kita, Indonesia. Sebagai negara berkembang, hadirnya generasi yang memangku perubahan adalah generasi yang sangat diharapkan. Jangan sampai, pembangunan dan kemajuan yang selama ini diupayakan dengan keras kepala, mengalami kemerosotan di tangan generasi selanjutnya.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memastikan kalau generasi yang akan datang dipegang oleh orang-orang yang memiliki kompetensi. Namun, apakah hal ini mungkin terjadi? Dari mana kita mempersiapkan hal itu?

Memiliki generasi yang cemerlang bukanlah suatu ketidakmungkinan. Tapi tentu saja hal itu tidak akan terjadi begitu saja tanpa usaha. Kita bisa mempersiapkan mereka sejak dini. Mungkin, sangat dini. Kapan itu? Bisa jadi sejak mereka terlahir di dunia ini. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk peduli pada kelangsungan generasi yang sehat dan memiliki kesempatan yang sama.

Meski kita bisa seoptimis itu berharap, namun hingga hari kita dihantui oleh tingginya angka kematian anak. Wujud hantu itu adalah penyakit bernama pneumonia. Penyakit ini menjadi ancaman kematian yang sudah merenggut 1 juta nyawa di dunia setiap tahunnya. Kementrian Kesehatan menyatakan bahwa 1 dari 5 kematian balita disebabkan oleh pneumonia. Melihat betapa mengerikannya ancaman ini, perlu bagi kita untuk memahami apa itu pneumonia dan bagaimana kita mencegahnya.

Apa itu Pneumonia?

Dilansir dari Hallosehat.com, pneumonia merupakan penyakit infeksi yang menyerang paru yang membuat kantung udara di dalam paru meradang dan membengkak. Sementara itu di masyarakat kita, istilah pneumonia lebih dikenal dengan sebutan paru-paru basah. Kondisi ini sebenarnya dapat dialami oleh siapa saja, tapi jika pneumonia menjangkit anak-anak bisa sangat berbahaya karena berpotensi pada kematian.

Pada awal September 2019, saya berkesempatan datang ke acara launching kampanye #StopPneumonia yang diselenggarakan oleh lembaga Save the Children di Kota Tua. Lewat acara itu, saya mendapat banyak informasi soal pneumonia dan apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasinya. Daripada saya simpan sendiri, lewat tulisan ini saya ingin berbagi hal-hal apa saja yang jadi perbincangan dalam langkah awal kampanye #StopPneumonia itu.

Baca juga: Manajemen Uang Ala Anak Kos

Pertama, saya dibuat tercengang oleh data-data yang dipaparkan soal dampak pneumonia pada anak. Dalam skala global, setiap 1 menitnya ada 2 balita yang meninggal gara-gara pneumonia. Pneumonia menjadi pembunuh utama pada balita di dunia, lebih banyak daripada AIDS, malaria, dan campak sekaligus. Yang tidak kalah penting, bahwa setengah dari penyebab anak menderita pneumonia adalah polusi udara, bisa asap knalpot, rokok, dan lain-lain. Jika hal ini tidak segera dicegah, pada 2030 diprediksi ada 11 juta anak yang meninggal gara-gara pneumonia.

Kedua, gejala anak yang mengalami pneumonia. Orang dewasa mesti waspada jika di sekitarnya ada anak yang menunjukkan tanda-tanda tertentu seperti batuk berdahak terus menerus, demam, berkeringat, susah bernapas, dada sakit, nafsu makan rendah, dan detak jantung terasa cepat. Sudah makin parah jika anak sampai mengalami kejang-kejang dan bernapas cepat. Oleh karenya perlu segera diperiksakan ke dokter jika anak mengalami gejala-gejala tersebut.

Ketiga, apakah penyakit ini bisa disembuhkan? Sebagai sebuah penyakit jenis infeksi, maka setiap pasien memiliki kondisi yang berbeda tergantung seberapa parah infeksinya dan seberapa kuat daya tahan tubuh pasien. Biasanya, karena anggota keluarga tidak tahu soal pneumonia, anak yang terkena demam dibiarkan begitu saja selama berhari-hari hingga mencapai titik puncak daya tahan tubuhnya. Infeksi yang dibiarkan pun akan semakin merusak. Situasi seperti ini memungkinkan terjadinya hal yang tidak diinginkan.

Keempat, bagaimana cara kita ikut andil dalam upaya mencegah pneumonia? Save the Children telah berupaya melakukan edukasi melalui berbagai platform untuk menumbuhkan kepedulian pada masyarakat soal pneumonia. Salah satunya membuat video kreatif yang bisa kamu lihat melalui tautan ini. Terkait kampanye #StopPneumonia dapat kamu cari di berbagai ranah media sosial atau dapat meniliknya di sini. Jika kamu merasa apa yang dilakukan Save the Children adalah sesuatu yang berarti dan penting, kamu bisa membantu mereka dengan cara berdonasi juga, cek di sini untuk melihat selengkapnya.

Baiklah, hal-hal yang saya sebutkan di atas adalah upaya mencegah pneumonia melalui dukungan terhadap kampanye #StopPneumonia. Tapi bagaimana dengan upaya yang dilakukan diri sendiri? Pertama, terapkan pola hidup sehat dalam keluarga dan lingkungan. Mulai dari menjauhkan asap rokok serta menjaga anak dari tempat berdebu dan berpolusi. Kedua, sebarkan tulisan ini kepada orang-orang yang kamu pedulikan agar mereka juga aware dengan bahaya pneumonia.

Dengan mencegah dampak pneumonia yang mematikan itu, kita bisa dengan tenang menyambut generas yaing sehat dan produktif. Jangan sia-siakan nyawa siapapun!



Thanks to Andreas Wohlfahrt from Pexels


29 Agustus 2019

wisata bandung hits

Selama ini Bandung memang masih menjadi tujuan wisata bagi masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan. Bahkan bisa dibilang Bandung menjadi "kota pelarian" bagi para penduduk Jakarta. Hal ini bukan tanpa alasan, selain memiliki udara yang sejuk, Bandung ternyata memiliki deretan tempat wisata yang terkenal dan dijamin akan memberikan keseruan. Sebagai perantau dari Solo ke Jakarta, Bandung tentu saja jadi pilihan wisata saya.

Tempat wisata di Bandung

Tidak bisa dipungkiri apabila Bandung memang menjadi tujuan wisata yang pas baik itu wisata keluarga ataupun wisata lainnya. Pasalnya berbagai macam jenis wisata bisa kamu temukan di sini. Mulai dari wisata alam hingga wisata dengan konsep masa kini. Hal ini juga disebabkan karena Bandung memiliki fasilitas yang lengkap.

Nah, kalau kamu datang dari luar kota, kamu tidak perlu khawatir bakal menginap di mana karena di berbagai sudut Bandung inilah kamu bisa menemukan penginapan dengan mudah. APa kamu punya rencana liburan ke Bandung? Nih, saya petakan beberapa destinasi yang sebaiknya kamu kunjungi.

1. Trans Studio Bandung

Trans Studio Bandung ini tidak boleh kamu lewatkan ketika sedang berada di Bandung. Ini merupakan wahana rekreasi yang sangat terkenal di Bandung. Untuk lokasinya sendiri menyatu dengan Trans Studio Mall. Bisa dibilang apabila Trans Studio Bandung ini merupakan Dufan versi indoor. Di sini, kamu bisa menemukan berbagai macam wahana permainan yang seru. Setidaknya terdapat sekitar 20 lebih jenis permainan yang akan memberikan keseruan bagi kamu. Mulai dari wahana permainan yang santai hingga menantang bisa kamu temukan di sini. Kalau kamu merencanakan liburan ke sini, kamu cukup membayar tiket masuk sekitar Rp150.000 hingga Rp250.000 per orang.

2. Danau Situ Patenggang

Thanks to Wisatalova for this photo
Apa kamu lagi cari wisata alam di Bandung? Kamu bisa langsung mengunjungi tempat wisata yang satu ini. Tempat wisata ini selalu disesaki oleh para wisatawan. Di tempat ini kamu akan disuguhi dengan panorama alam yang sangat cantik sehingga bikin betah untuk berlama-lama di sana. Kalau mau seru-seruan cobain deh permainan perahunya.

3. Kebun Binatang Bandung

Buat kamu yang sedang mencari referensi tempat wisata di Bandung untuk keluarga maka kamu bisa langsung mempertimbangkan untuk mengunjungi tempat wisata yang satu ini. Kebun Binatang Bandung berlokasi tidak jauh dengan kampus ITB. Tempat ini juga bisa menjadi tujuan wisata menarik kamu. Di sini, para pengunjung bisa menambah pengetahuan seputar hewan. Untuk bisa memasuki tempat ini, maka pengunjung harus membayar tiket masuk. Tetapi tenang saja, tiket masuk tersebut sangat terjangkau.

4. Rumah Mode Bandung

Thanks to Askgeriatric for this photo
Buat kamu yang punya kegemaran berbelanja juga bisa langsung mengunjungi Rumah Mode Bandung. Disini ada sebuah factory outlet yang dinamakan dengan Rumah Mode yang sangat populer di Bandung. Tidak heran apabila ketika Anda datang kesini, kamu harus berdesak-desakan dengan para pengunjung lainnya. Berbagai macam barang-barang fashion bisa Anda temukan di tempat ini.

Baca juga: Tentang Pantai dan Gunung di Solo. Ada?

5. Paskal Food Market

Sedangkan bagi kamu yang sedang mencari referensi wisata kuliner maka kamu harus berkunjung ke Paskal Food Market. Tempat ini menjadi tujuan bagi pemburu kuliner. Di sini kamu akan menemukan banyak kios penjual makanan yang dijamin akan memanjakan lidahmu. Untuk mengunjungi tempat ini, kamu bisa langsung datang ke Jalan Pasir Kaliki.

6. Kebun Stroberi Ciwidey

Jika kamu ingin menikmati stroberi di daerah Bandung maka kamu serag jadikan Kebun Stroberi Ciwidey Bandung ini sebagai destinasi utamamu. Di sini, para pengunjung juga bisa memetik sendiri stroberi yang akan dibawa pulang, kemudian membayar sesuai dengan berat stroberi yang sudah diambil tersebut.

7. Museum Sri Baduga Bandung

Thanks to Backpackerjakarta for this photo
Bagi kamu yang ingin mempelajari sejarah, datang saja ke Museum Sri Baduga Bandung. Di museum ini kamu bisa menemukan jejak sejarah Jawa Barat dari masa ke masa. Ada banyak koleksi benda peninggalan zaman dulu yang bisa kamu temukan di sini. Menarik lho mempelajari sejarah kota yang kita kunjungi.

Demikian beberapa tempat wisata Bandung yang bisa kamu kunjungi bersama keluarga, kekasih, teman-teman, atau mungkin sendiri. Tentunya masih ada banyak lagi tempat menarik di Bandung. Mau coba sebutin? 


Thanks to Simon Migaj from Pexels

24 Agustus 2019

film galin dan ratna

Menonton film Indonesia dengan genre romance bukan merupakan kebiasaan saya selama ini. Dari sekian banyak judul film dengan genre ini, hanya segelintir judul yang sudah saya tonton. Salah satunya adalah film Galih dan Ratna yang tayang di bioskop pada 2018, namun baru saya tonton di Agustus 2019.

Mungkin ini akan jadi film romance pertama yang saya review (kalau nggak salah). Hehehe. Baiklah, mari kita coba melihat film ini dari berbagai hal. Setidaknya, dari hal-hal yang terpantul dari kacamata saya sebagai penonton awam. Btw, ini bakal spoiler.

Pertama, mengulang (remake) kisah cinta Galih dan Ratna di bangku SMA mungkin terdengan klise. Hal apa yang akan membuat sebuah film remake menjadi menarik? Mengubah setting waktu menjadi kekinian? Formula seperti itu mungkin justru terasa lebih klise lagi. Tapi, film Galih dan Ratna bagi saya telah memecahkan persoalan klise tersebut.

Menurut saya, setting kekinian yang diimbangi dengan sosok Galih yang retro membuat nuansa film ini tidak kehilangan kepuitisan masa-masa SMA di zaman dulu. Galih yang merupakan anak dari seorang penjual kaset, memiliki kecintaan luar biasa terhadap media analog pada musik. Hal ini membuatnya terlihat berbeda daripada anak-anak SMA pada umumnya, terutama di mata Ratna. Setidaknya bagi Ratna (murid pindahan dari Jakarta yang followers-nya 20K), menemukan sosok Galih di lingkungan sekolahnya yang baru itu terasa seperti menemukan oasis di tengah gurun yang tandus. Sejuk dan bikin antusias.

Kedua, memang eksekusi sinematografinya tidak terlalu muluk-muluk. Tapi, saya menyukai pemilihan angle, tone, dan tempo yang konsisten serta sesuai di setiap nuansa yang mau di bangun. Nuansa sedih, bahagia, dan bingung terkesan relateable dengan kehidupan saya sehari-hari. Namun di antara hal-hal yang saya sebutkan itu, tentu pemilihan musik adalah yang paling indah menurut saya.

film galih dan ratna

Ketiga, mungkin ini yang ditunggu-tunggu. Kita mulai membicarakan soal cerita. Dari awal sampai akhir, cerita yang berusaha dipresentasikan menurut saya tidak ada masalah. Tapi justru itu masalahnya.

Yang ingin saya katakan adalah cerita dalam film Galih dan Ratna sangat aman. Sebagai sebuah tontonan tentu film ini enak dinikmati. Cara pengenalan tokohnya bagus, pemunculan masalahnya bagus, ritme emosinya bagus, bahkan beban cerita antara Galih dan Ratna pun juga bagus karena komposisi mereka sebagai dua karakter utama bisa dimunculkan dalam porsi yang adil.

Tapi, tidak ada kejutan apapun dalam keseluruhan cerita ini. Penulis sepertinya memang tidak merancang hidden sign yang akan dimunculkan di akhir cerita. Pernah nggak ketika kamu nonton film terus pas sampai detik-detik film hampir selesai kamu diperlihatkan sesuatu yang bikin kamu menggumam, “Oooh.. Jadi yang tadi tuh maksudnya ini.” Kesan semacam ini memberi dampak yang membekas bagi penonton, khususnya bagi saya. Kesan saya tentu bukan representasi dari semua penonton. Jika kamu tidak sependapat, bagikan komentarmu dalam kolom komen di bawah, dong. Alangkah menyenangkannya jika kamu mau berbagai pandangan kepada saya.

Baca juga: Pengabdi Setan Ala Joko Anwar

Ngomong-ngomong soal kesan, saya sangat suka dengan masalah yang muncul akibat mixtape yang lupa dikunci oleh Galih. Kadang kita terlalu bersemangat sampai-sampai membuat gugup diri kita sendiri saat memperjuangkan sesuatu demi seseorang. Saking gugupnya, beberapa hal yang sudah dilakukan bisa jadi berantakan. Jika saat-saat seperti itu terjadi, tubuh seolah ditimpa oleh bongkahan batu yang disebut “rasa bersalah”. Akibatnya, rasa percaya diri bisa menurun dan keraguan semakin meningkat.

Untunglah Ratna punya cara terbaik untuk mengubah keadaan yang membuatnya pilu itu. Saya pikir, tindakan Ratna terhadap masalah itu akan berdampak besar bagi Galih. Kepercayaan diri bisa tumbuh kembali dan keraguan bisa merunduk lagi. Meski rasa bersalah tidak akan hilang seketika, namun melihat Ratna yang masih mau membuka diri membuat Galih bersemangat untuk menebus kekeliruannya. Ratna di sini hebat, bisa bangkit setelah dijatuhkan Galih.

Selain itu, ada juga sisi cerita yang jadi favorit saya. Yaitu ketika Ratna membeli kaset-kaset Galih dalam jumlah yang banyak dan mengaku kalau ada orang lain yang memesan itu dari Jakarta. Melihat situasi Galih yang membutuhkan uang, Ratna mengambil inisiatif untuk membantunya meski harus berbohong. Wajar kah apa yang dilakukan Ratna? Dan wajarkah kalau Galih marah karenanya? Bagikan pendapatmu juga soal ini jika berkenan. Hahaha.

Kalau menurut saya, apa yang dilakukan Ratna dan bagaimana reaksi Galih itu relateable juga di kehidupan sehari-hari. Mungkin kita pernah berbohong untuk membantu orang yang kita sayangi. Tapi setelah tahu bahwa hal itu adalah kebohongan meski berniat baik, kita pun akan marah jika diperlakukan seperti itu, bukan?

Memang muncul ambivalensi di sini, yaitu kebohongan dan niat baik. Kita benci dibohongi. Tapi kita suka ketika seseorang berniat baik pada kita. Dualisme perasaan untuk meresponnya pun muncul. Apakah mau mengutuk kebohongan atau menyambut niat baik? Persoalan ini tidak bisa dipecahkan dengan menghitung peluang ala ilmu matematika. Kalau soal perasaan semacam ini, sikap dan cara berpikir individu yang bisa menjawabnya.

Kesimpulannya, film Galih dan Ratna adalah film yang nikmat ditonton. Di dalamnya, kita bisa memaknai kasih sayang lebih jauh lagi. Tidak hanya kasih sayang antara dua sejoli, namun juga antara anak dan orangtua. Tidak luput, mengekspresikan kasih sayang terhadap seseorang itu penting dan sebaiknya dilakukan dengan cara-cara yang baik. Tidak semua orang bisa menciptakan lagu untuk kekasihnya, tapi Galih bisa menyusun playlist untuk mengekspresikan perasaannya kepada Ratna dalam sebuah kaset jadul. Sederhana, romantis, dan bermakna. Disitulah kasih sayang itu bersemayam, bukan?



FILM GALIH DAN RATNA (2017)
Drama | Romance | 1 jam 52 menit | 9 Maret 2017
Sutradara: Lucky Kuswandi
Penulis Naskah: Fathan Todjon
Pemeran: Refal Hady, Sheryl Sheinafia, Marissa Anita


Copyright foto: IMDb - Galih dan Ratna

3 Agustus 2019

film mahasiswi baru

Umumnya, representasi orang lanjut usia (lansia) di dalam film Indonesia dihadirkan dalam tiga situasi. Yaitu sebagai orang bijaksana, orang kolot, dan sosok mistis.

Ketika memerankan karakter orang bijaksana, golongan lansia dianggap sudah khatam soal urusan kehidupan. Oleh karenanya, mereka seringkali muncul sebagai penasehat bagi karakter utama yang biasanya jauh lebih muda.

Jika sebagai orang kolot, kita bisa menemukan sosok lansia sebagai orang yang menyebalkan, berpikiran tertutup, dan keras kepala. Biasanya kelompok ini diberi peran untuk menyusahkan karakter utama atau bisa juga muncul sebagai pemicu tawa dengan menjadikan kekolotan mereka untuk diperolok.

Nah, yang terakhir adalah sosok lansia sebagai sosok mistis. Kita bisa dengan mudah menemukan sosok lansia sebagai ahli spiritual, dukun, bahkan hantu gentayangan. Dalam posisi ini, peran lansia bisa jadi pemecah masalah atau justru pusat dari segala masalah.

Dengan melihat peran-peran di atas, saya menyadari jika industri perfilman kita ternyata menyuburkan stigma terhadap golongan lansia. Bahwa lansia merupakan karakter yang rigrid sehingga peran yang muncul tidak banyak mengelaborasi sisi lain dari lansia.

Stigmatisasi tersebut seolah ingin menjauhkan jarak antara lansia dengan golongan muda. Misal, jika dalam sebuah produksi film terdapat anak muda yang gegabah, maka muncullah lansia yang bijaksana. Jika anak muda sebagai orang yang pintar, maka lansia harus kolot. Jika anak muda suka hura-hura, maka lansia harus taat agama. Jika anak muda acuh terhadap nilai-nilai tradisi, maka lansia harus menjaga nilai-nilai tersebut seperti yang biasa kita temui di film horor di mana sekelompok remaja diteror sosok gaib karena merusak benda-benda kramat.

Munculnya jarak seperti yang disebut di atas menjadi bermasalah karena konten yang disajikan mensigmatisasi golongan lansia di hadapan penonton yang mayoritas bukan lansia. Saya pernah melakukan penelitian sederhana soal ageisme (diskriminasi usia) yang kerap terjadi di media. Dalam wacana yang serupa itulah, menurut saya film-film di Indonesia masih kurang inklusif bagi lansia.

Representasi Lansia dalam Film Mahasiswi Baru


Istilah “lansia” yang merupakan akronim dari “lanjut usia” sebenarnya memiliki makna yang netral. Namun, stigmatisasi terhadap mereka membuat istilah lansia menuai kesan yang kurang baik. Lansia sering dilekatkan pada stereotip soal ketidakberdayaan, tidak menyenangkan, merepotkan, kasihan, dan lain sebagainya.

Namun, bagaimana jika stereotip tersebut disangkal oleh Monty Tiwa dalam film terbarunya?

Saya hampir tidak percaya bahwa ada film Indonesia yang menyelesaikan PR soal diskriminasi usia di industri perfilman kita. Film yang saya maksud adalah Mahasiswi Baru.

Film Mahasiswi Baru berkisah tentang seorang lansia yang ingin berkuliah di sebuah universitas dengan jurusan Ilmu Komunikasi. Orang ini kita kenali dengan nama Lastri (Widyawati). Di usianya yang senja, Lastri memulai kehidupan kampusnya dengan berbagai drama karena referensinya soal dunia perkuliahan masih tertinggal di era Orde Baru, mungkin.

Sosok Lastri sebagai lansia sekaligus mahasiswi baru, ternyata menimbulkan berbagai chaos di kampusnya. Lastri tidak sendiri. Ia ditemani oleh Dani (Morgan Oey), Sarah (Mikha Tambayong), Erfan (Umay Shahab), dan Reva (Sonia Alyssa).

Penggambaran Lastri di film Mahasiswi Baru menurut saya cukup menarik. Sebab, ia dipresentasikan sebagai lansia dengan kompleksitas seperti orang-orang pada umumnya. Lastri juga mengalami kasmaran, pertengkaran keluarga, perlawanan kehendak, kesedihan, rasa bersalah, dan lain sebagainya yang selama ini jarang disematkan pada karakter lansia.

Selain itu, film ini juga dimanfaatkan dengan baik sebagai sarana menyampaikan kritik sosial. Bocoran sedikit, ya, yaitu ketika Dekan Khoirul (Slamet Rahardjo) memarahi Erfan, begini: “Tahu apa kamu soal demokrasi? Beda pendapat dikit saja sudah main fisik.” Dyarrr.

Baca juga: Review Film Galih dan Ratna 2017

Secara keseluruhan, Mahasiswi Baru merupakan film bergenre drama komedi yang patut kamu tonton di bulan ini. Jika kamu jarang notnon bareng orangtua, maka saya merekomendasikan film ini untuk kamu tonton bareng orangtua masing-masing karena film ini ramah bagi siapapun dengan usia berapapun.

Masih penasaran? Belum yakin? Silakan tonton dulu trailernya, ya.


Sumber video: Official MNCP Pictures

Kamu bisa menyaksikan film Mahasiswi Baru mulai 8 Agustus 2019 di bioksop termurah favoritmu. Komedinya tidak cringe, kok. Sepanjang film saya sangat menikmati dan bisa tertawa lepas. Sampai-sampai saya lupa menenggak air minum karena saking asyiknya mengikuti kisah Lastri.

Header: Photo by Huỳnh Đạt from Pexels

26 Juli 2019



Saya pernah mengalami sakit mata yang teramat serius. Saat itu saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Saya tidak ingat berapa usia saya kala itu, tapi saya tidak pernah lupa bagaimana masa-masa itu teramat menyakitkan bagi saya dan teramat menyibukkan bagi ibu saya.

Entah sudah berapa banyak biaya yang dikeluarkan orangtua saya untuk membayar ongkos berobat. Namun, tidak ada hasil yang memuaskan. Penyakit mata ini terjadi tidak hanya dalam hitungan hari. Tapi bulan. Apa yang saya rasakan saat itu?

Dokter bilang, mata saya ini alergi debu. Sehingga setiap keluar rumah saya harus menggunakan kacamata yang tidak ada celah di berbagai sisinya, mirip seperti kaca mata renang. Lalu setiap bangun tidur saya harus membersihkan ‘belek’ yang menggumpal keras di kelopak mata saya. Kelopak mata saya terasa sangat lengket yang membuat saya tidak bisa membuka mata. Untunglah ibu saya setiap pagi menyediakan air anget dan kapas agar saya bisa membersihkan belek-belek itu.

Meski saya tidak keluar rumah sekalipun, mata saya sering terasa panas dan perih. Kalau saya berkaca, saya bisa melihat warna merah muncul di sudut kanan dan kiri mata saya. Kalau ditanya lagi apa yang saya rasakan. Ya rasanya sakit. Kalau ditanya bagaimana perasaan saya. Ya sama. Rasanya sakit. Bahkan saya pernah berpikir kalau saya akan kehilangan penglihatan untuk selamanya.

Sembuh Total?

Klinik kesehatan di dekat rumah saya selalu menjadi langganan tiap anggota keluarga saya sakit. Tapi kali ini, kami harus kecewa. Berbulan-bulan mata saya tidak sembuh. Padahal sekali berobat bisa kena tarif 100-200ribu. Angka yang tidak kecil di masa-masa awal reformasi itu.

Orangtua kemudian mencarikan pengobatan alternatif buat saya. Entah apa namanya, yang jelas pada saat itu saya diberi salep yang harus dioles di mata setiap hari. Pada mulanya saya skeptis. Soalnya sudah berbagai jenis obat tetes mata yang saya pakai tetap tidak mempan. Namun saya tidak punya pilihan lain. Saya harus mencoba salep ini atau mau sakit selamanya.

Beberapa hari saya rutin menggunakan salep tersebut. Awalnya perih banget memang. Tapi lama-lama mata saya terasa lebih enteng dan cerah. Tidak sampai satu bulan, mata saya sembuh. Alhamdulillah. Apakah sembuh total? Hmm… tunggu dulu.

Meski sudah tidak terasa sakit lagi, namun daya penglihatan saya memburuk dengan drastis. Sejak kelas 6 SD, saya sudah tidak bisa lagi melihat dengan jelas objek-objek yang jauh dari mata. Saya rabun jauh. Hingga sekarang.

Sempat Kambuh Lagi?

Source: Insto
Karena waktu itu saya masih belia, saya tidak ingat benar nama penyakit yang saya alami. Hal ini menyulitkan saya untuk memahami keadaan mata saya sebenarnya. Sebab, beberapa kali mata saya sering merasa sepet, pegal, dan perih.

Tentu saja, saya tidak ingin kejadian di masa lalu terulang kembali. Saya harus tahu tentang apa yang terjadi pada mata saya dan bagaimana cara mengatasinya.

Saya terbantu dengan internet untuk mencari tahu hal ini. Jika melihat tanda-tanda yang terjadi seperti mata kering, mata sepet, mata pegel, mata perih, dan mata lelah persis dengan kondisi saya, maka sebenarnya saya mengalami gejala mata kering.

Apakah kamu pernah mengalami gejala mata kering? Mata kering bukan jenis penyakit yang langka. US National Library of Medicine National Institute of Health (NCBI) menyatakan bahwa sekitar 60 juta orang di dunia ini pernah mengalami mata kering. Jadi jangan khawatir. Pasti metode penyembuhannya selalu diperbarui untuk mendapatkan hasil yang paling maksimal.

Setelah mengetahui bahwa saya mengalami gejala mata kering, bukan kambuh, saya segera mencari obatnya. Kali ini tidak perlu keluar banyak biaya seperti yang sudah-sudah. Saya cukup jalan kaki ke minimarket terdekat lalu beli Insto Dry Eyes. Jenis Insto ini secara spesifik mengobati mata kering. Berbeda dengan Insto Reguler yang lebih cocok dipakai untuk mengobati iritasi pada mata.

Obat tetes mata menjadi barang yang wajib saya bawa selain obat masuk angin. Sebab gejala mata kering bisa datang kapan saja. Misalnya ketika kita terlalu sering menatap monitor, terkena AC, atau lupa berkedip. Tapi saya sudah tidak khawatir lagi jika serangan datang. Bye mata kering!

Sebagai pelajaran kita bersama, ya. Kalau mata terasa sepet, pegal, dan perih itu berarti tanda-tanda mata kering. Sebaiknya segera diobati sebelum makin parah nantinya. Saran saya sih pakai insto dry eyes yang bisa diperoleh dengan mudah. Kalau tak kunjung sembu segera berobat ke dokter, ya.


Header: Photo by Sharon McCutcheon from Pexels