21 Oktober 2019

commuterline


November 2017 adalah masa peralihan yang cukup besar di dalam hidup saya. Pasalnya, di waktu tersebut saya mulai memutuskan untuk beranjak dari tanah kelahiran, Solo,  menuju ke Jakarta. Awalnya, memang terasa betul adanya gap antara kehidupan yang baru dan yang lama. Terutama, soal transportasi kota.

Dulu, saya selalu menggunakan kendaraan pribadi ke mana pun tujuannya. Sebab, menggunakan transportasi publik bukanlah menjadi sesuatu yang umum dilakukan oleh orang-orang di sekeliling saya. Beda halnya dengan yang saya dapati di Jakarta. Apalagi, kampanye penggunaan transportasi publik terus dilakukan dengan cara-cara yang menarik.

Salah satu transportasi publik yang menjadi favorit saya adalah kereta rel listrik (KRL) yang beroperasi di wilayah Jabodetabek. Sebelumnya, saya hanya mengetahui kereta antarkota saja. Dan, adanya transportasi semacam KRL Jabodetabek ini tentunya memudahkan perjalanan orang-orang untuk sampai ke tempat tujuan.

Setelah berbincang dengan istri saya yang menggemaskan tiada tandingannya, diakuinya bahwa KRL Jabodetabek ini mengalami banyak sekali perubahan sebelum apa yang saya lihat sekarang. Perubahan-perubahan tersebut tentu saja ditujukan untuk memenuhi keselamatan, keamanan, dan kenyamanan. Di sini saya melihat upaya Kementrian Perhubungan untuk membangun infrastruktur yang layak bagi warga.

Beberapa perubahan yang dilakukan Kemenhub terhadap transportasi KRL Jabodetabek, antara lain:

1. Ditiadakannya kereta ekonomi yang sudah tidak layak lagi. 

Pernah melihat gambar-gambar kereta tanpa pintu dengan banyak penjual asongan, nggak? Atau pernah dengar soal penumpang liar yang memaksa mengikuti perjalanan tanpa tiket di atap kereta? Saat ini, kereta ekonomi yang tidak layak demikian sudah tidak diizinkan untuk beroperasi lagi. Walaupun harga tiket yang dibandrol sangat murah dan terjangkau, tapi keselamatan, keamanan, dan kenyamanan penumpang tentunya menjadi pertimbangan utama.

2. Harga yang relatif lebih murah. 

KRL sekarang ini sebetulnya memiliki harga tiket yang masih sangat terjangkau dengan kualitas layanan yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Jika KRL Jabodetabek yang ada bisa disetarakan dengan kereta ekonomi AC di masa sebelumnya, maka perbedaan soal harga ini akan tampak sangat jelas. 

Kereta ekonomi AC, dulunya, memasang harga tiket sebesar Rp8.000 dalam sekali perjalanan. Jika kamu memiliki tujuan akhir yang mengharuskanmu transit dua kali atau menggunakan tiga kereta dengan jurusan berbeda, maka biayanya perjalanannya menjadi Rp8.000 x 3! Sementara sekarang, asalkan kita tidak keluar stasiun, harga tiket perjalanannya cukup flat dengan maksimal Rp5.000 saja. Perubahan ini yang membuat istriku bercerita dengan sangat riangnya.

3. Metode pembayaran yang lebih mudah dan ramah lingkungan. 

Penggunaan tiket berupa kertas-kertas yang distempel sekarang sudah tidak berlaku lagi. Selain untuk memudahkan pembayaran dari para penumpang, juga bisa mengurangi sampah kertas yang dibuat dari pohon itu, kan? Pengguna KRL Jabodetabek bisa menggunakan Kartu Multi Trip (KMT), THB (Tiket Harian Berjaminan), atau uang elektronik dari beberapa bank untuk melakukan perjalanan.

4. Gerbong khusus perempuan. 

Pelecehan seksual di ruang publik masih sangat sering terjadi, KRL tentu saja termasuk di dalamnya. Melihat hal ini, ada upaya dari Kemenhub untuk menanganinya dengan membuat ruang-ruang khusus wanita di dalam berbagai moda transportasi. Untuk KRL Jabodetabek sendiri, gerbong khusus wanita bisa ditemukan di ujung depan dan ujung belakang.

5. Kursi prioritas.

Kursi prioritas bagi orangtua, perempuan hamil, dan disabilitas membuat kereta menjadi alat transportasi yang inklusif. Menurut saya ini keren!

Nah, itu saja kiranya cerita saya soal transportasi umum di Jakarta, khsusnya KRL. Semoga makin keren kedepannya. Jangan lupa ikuti akun media sosial Kemenhub untuk mengetahui berbagai informasi yang harus kita tahu soal perkembangan transportasi dan semacamnya.

Terima kasih sudah membaca tulisan saya sampai selesai. Sampai jumpa di tulisan berikutnya!

Photo by veerasak Piyawatanakul from Pexels

14 Oktober 2019

traveloka-xperience-logo-official


Di awal tahun 2019 lalu, ada sebuah film bergenre drama-thriller yang cukup menarik perhatian. Judulnya, Escape Room. Film ini bercerita tentang enam orang asing dengan pribadi berbeda yang dikumpulkan di dalam ruangan untuk bekerjasama dalam menyelesaikan permainan meloloskan diri dari ruangan tertutup itu.

Sialnya, ternyata apa yang mereka hadapi bukan sekadar permainan semata. Nyawa benar-benar menjadi taruhan. Adam Robitel sebagai sutradara cukup mampu mengguncang emosi dengan mempertontonkan ketegangan yang begitu jelas di depan mata.

Cerita yang begitu padat seolah tidak mengizinkan penonton untuk beristirahat. Bahkan, untuk sekadar mengedipkan mata.

Hal itu membuat saya ingin merasakan sensasi melewati ruangan-ruangan yang penuh dengan tantangan itu di dunia nyata. Asal risikonya tidak sama seperti di dalam film itu. Saya rasa bakal mengasyikkan karena tipe permainan seperti ini masih langka di negeri ini. Iya apa tidak, sih?

Butuh Hiburan? Traveloka Xperience Aja!


Di saat butuh hiburan, hal yang pertama terpikirkan adalah membuka aplikasi Traveloka. Apalagi, sekarang sudah ada layanan Traveloka Xperience di sana. Traveloka melebarkan sayap dengan melengkapi produk dan layanannya untuk kebutuhan travel dan lifestyle dalam Traveloka Xperience. Jadi Traveloka bukan hanya aplikasi untuk traveler doang, kaum rebahan juga cocok kok pakai layanan Traveloka.

Ada banyak sekali jenis hiburan yang bisa dipilih di sini. Mulai dari tiket atraksi, bioskop, event, hiburan, spa dan kecantikan, olahraga, taman bermain, transportasi lokal, tur, pelengkap travel, makanan dan minuman, serta kursus dan workshop. Komplit, kan?

Cara pakainya juga gampang. Kita tinggal masuk ke aplikasi Traveloka, lalu pilih fitur Xperience. Ada pilihan menu hiburan yang bisa memudahkan, bisa juga langsung cari hiburan yang kamu inginkan melalui search box yang disediakan.

Nah, saya lekas saja mencoba mencari permainan yang sudah saya ceritakan di atas tadi. Setelah memasukkan kata kunci “Escape Room” di kotak pencarian Traveloka Xperience, ternyata ada Permainan Escape Room di House of Trap Jakarta yang tersedia di sana. Girang buukan main!

Karena saya orangnya perlu pertimbangan, maka saya ngintip dulu testimoni dari orang-orang yang sudah nyobain Escape Room itu. Dilihat dari kesan para pengunjung yang tertera, sepertinya memang menarik untuk direalisasikan. Permainan ini bisa dimainkan maksimal 12 orang. Jadi bisa ajak keluarga atau teman untuk bermain bersama.

Ada empat pilihan tema permainan yang disediakan, yaitu: The Battle of Dragons, Clash of Wizard, Lucid Dreams, dan Treasure Island. Misinya sama dengan yang ada di dalam film, yaitu membebaskan diri dari berbagai ruangan dengan banyak skenario mendebarkan yang menantang secara intelektual, makanya perlu kerja tim yang baik di dalamnya.

Untuk harga, ternyata cukup terjangkau. Apalagi, ada potongan harga yang diberikan oleh Traveloka Xperience. Cukup dengan membayar Rp67.500 untuk kunjungan saat weekdays atau Rp90.000 untuk kunjungan saat weekend. Wah, #XperienceSeru semakin nyata di depan mata!

Itu baru satu contoh saja dari sekian banyak layanan yang bisa diberikan Traveloka Xperience kepada kita. Mau nonton konser? Bisa. Mau nonton film? Bisa. Atau mau karaoke juga bisa. Bahkan, kalau mau ikut workshop pun juga bisa, lho. Jadi bisa dibilang Traveloka Xperience ini starter pack buat orang-orang yang asyik. Untuk lebih lengkapnya, kamu bisa langsung otak-atik fiturnya via aplikasi atau web.

Buruan pakai Traveloka Xperience sekarang! Kalau asyik, ngapain ditunda-tunda. Hahahaha. Terima kasih sudah mampir ke blog saya. Salam santuy!

13 Oktober 2019

poster film 99 nama cinta
Poster resmi 99 Nama Cinta

Ada beberapa sutradara di Indonesia yang selalu ingin saya tonton karyanya. Sebut saja Joko Anwar, Riri Reza, dan juga Garin Nugroho. Masing-masing dari mereka memiliki warna tersendiri dalam menampilkan filmnya. Saya paling suka warna yang dibuat oleh Garin Nugroho.

Nama Garin Nugroho sudah tidak asing lagi di industri film Indonesia. Bukan hanya di dalam negeri, film-filmnya kerap lalu-lalang di ajang festival bergengsi dunia. Selain menonton filmnya, saya juga membaca bukunya berjudul “Film Indonesia” yang secara lengkap mendokumentasikan perjalanan industri film Indonesia dari zaman kolonial hingga 2012. Singkat cerita, Garin Nugroho adalah legenda di kancah perfilman Indonesia. Setidaknya, saya meyakini itu.

Baru-baru ini, Garin kembali terlibat dalam sebuah produk film. Film tersebut adalah 99 Nama Cinta. Meski begitu, Garin kali ini tidak berada di kursi sutradara. Ia menjadi penulis naskah, sementara posisi sutradara dipegang oleh Danial Rifki. Usut punya usut, Danial dulunya pernah bekerja Bersama Garin sebagai astrada tiga. Melihat potensinya, Garin merasa Danial mampu untuk mengerjakan film 99 Nama Cinta.

Film 99 Nama Cinta sendiri merupakan film drama yang dipadukan dengan nuansa reliji dan sentuhan komedi. Beberapa bintang ternama mengisi peran pada film ini, sebut saja Acha Septriasa dan Deva Mahendra.

rilis trailer 99 nama cinta
Suasana perilisan poster dan trailer film 99 Nama Cinta

Beruntungnya, saya mendapat kesempatan untuk hadir pada presscon pra-tayang film 99 Nama Cinta yang diselenggarakan di Beranda Kitchen Jakarta Selatan pada 10 Oktober lalu. Jadi saya bisa duluan mengintip trailer dan rilisan poster film 99 Nama Cinta. Dalam acara tersebut turut dihadiri oleh para pemain dan kru 99 Nama Cinta. Berikut pemain serta perannya di film 99 Nama Cinta:

Acha Septriasa sebagai Talia (Seorang presenter tubir)

Deva Mahendra sebagai Kiblat (Anak pesantren)

Ira Wibowo sebagai Ibu Talia

Donny Damara sebagai Kyai Umar

Chicki Fawzi sebagai Husna

Adinda Thomas sebagai Mlenuk

Susan Sameh sebagai Chandra

Dzawin sebagai Ustaz Bambu

Simak trailer 99 Nama Cinta berikut ini untuk mengintip keseruannya:



Film 99 Nama Cinta akan rilis pada 14 November 2019. Film ini berkisah tentang seorang perempuan ambisius bernama Talia yang berprofesi sebagai presenter sekaligus produser pada acaranya sendiri. Talia merupakan sosok perempuan yang mandiri, ulet, namun ia memiliki kekurangan, yaitu wataknya yang mementingkan diri sendiri.

Sementara itu, di sebuah desa di Kudus, ada seorang ustaz muda bernama Kiblat. Kiblat memiliki peran penting di pondok pesantren tempatnya mengabdi. Ia digambarkan sebagai sosok ustaz yang dapat melebur dengan masyarakat dari keberagaman kelas ekonomi, usia, dan latar bekalang.

Pada film 99 Nama Cinta ini Talia dan Kiblat ditakdirkan oleh penulis scenario untuk bertemu dan menjalin kisah asmara. Tapi bagaimana keseruan kisah perjalanan cinta mereka? Kita hanya bisa menemukan jawabannya pada 14 November 2019 di bioskop kesayanganmu.

Antusias Setelah Nonton Trailer 99 Nama Cinta

Saya pribadi cukup antusias dengan film ini setelah lihat trailernya. Selain itu, seperti yang sudah saya singgung di awal cerita, bahwa penulis skenario 99 Nama Cinta adalah Garin Nugroho. Saya ingin menyaksikan bagaimana keartistikan Garin muncul pada alur cerita yang ia buat. Bukan kali pertama Garin memegang film pop bernuansa asmara seperti ini. Sebelumnya, Garin mengerjakan film Aach Aku Jatuh Cinta yang menggandeng Pevita Pearce dan Chicco Jeriko sebagai pemainnya.

Meski karya-karya Garin Nugroho yang lain lebih “dark” dan cenderung segmented, namun kepiawaiannya dalam menyusun cerita saya rasa tidak akan terkendala oleh nuansa pop yang ditawarkan 99 Nama Cinta. Lagipula produser kreatif dalam film 99 Nama Cinta ini adalah Lukman Sardi yang saya yakin ia hanya akan meloloskan film berkualitas untuk kita tonton.

Sudah notnon trailer film 99 Nama Cinta di atas? Sudah tertarik, kah? Ayo, kita ke biosop pada 14 November 2019. Acha Septriasa dan Deva Mahendra sudah menunggu kita di sana!

12 Oktober 2019

jaket musim dingin murah

Salah satu hal yang perlu diketahui oleh perantau seperti saya adalah letak pusat perbelanjaan yang murah namun tetap berkualitas. Saya yang merantau dari Solo ke Jakarta dibuat kaget dengan harga-harga yang mahal, termasuk fashion. Padahal saya juga ingin memperbarui cara berpakaian, mulai dari sepatu, celana, hingga outwear seperti jaket musim dingin pun ingin saya miliki.

Kendati mencari berbagai jenis fashion di Jakarta sangat mudah, namun saya harus berjibaku dengan nominal harga yang tidak sedikit. Pernah sekali waktu saya beli dua pasang tali sepatu dengan harga 50ribu. Saking ngehenya, saya jadi ingin tertawa sendiri karena mengalami hal itu. Kalau tali sepatu saja dibandrol dengan harga segitu, lantas bagaimana dengan jaket musim dingin yang tadi saya inginkan?

Abusrd sih memang kalau ingin fashion musim dingin di negara tropis. Tapi kan bisa saja ada kesempatan buat melancong ke negara-negara yang bermusim dingin. Atau bisa juga dipakai untuk berpergian ke dataran tinggi di Indonesia seperti Tawangmangu, Dieng, atau mungkin masuk ke freezer-nya Pak RT. Duh, kok jadi ngaco.

Maaf, maaf. Lupakan tentang freezer-nya Pak RT, kita kembali lagi pada pencarian factory outlet Jakarta yang murah dan berkualitas. Setalah bertanya ke berbagai arah, saya mendapatkan informasi kalau Mangga Dua Square adalah pusat factory outlet Jakarta yang tepat untuk mencari aneka kebutuhan fashion branded, murah, dan lengkap. Tanpa pikir panjang, saya dan istri segera meluncur ke Mangga Dua Square untuk membuktikan apakah benar di sana kita bisa mendapatkan kebutuhan sandang yang berkualitas dan terjangkau.

Mangga Dua Square – Saya Pasti Belanja di Sini!

Hampir dua tahun saya berada di Jakarta tapi belum pernah sekalipun main ke Mangga Dua Square. Maka ketika ada saat luang, saya dan istri merasa wajib mendatangi Mangga Dua Square yang terletak di Jalan Gunung Sahari Raya, No.1 Pademangan, Jakarta Utara.

Awalnya saya menerka jika Mangga Dua Square itu seperti pasar baju bekas yang berantakan, bikin kesasar, dan hanya para pemburu harta karun saja yang bisa menemukan busana bagus di antara timbunan pakaian yang acak. Jangankan mencari jaket musim dingin yang tidak familiar bagi masyarakat Indonesia, mencoba mendapatkan syal saja belum tentu ada. Pikirku saat itu.

Tapi ternyata anggapan itu salah. Salah total! Mangga Dua Square tidak berbeda jauh dengan mall yang tertata rapi dan nyaman. Meski ada banyak kedai makan hits di sana, tapi saya dan istri melewatinya begitu saja karena tujuan kami adalah mencari factory outlet yang dikenal murahnya.

Tidak terlalu susah untuk menemukan factory outlet andalan Mangga Dua Square. Ada 8 factory outlet di Mangga Dua Square, yaitu Publicity, DSE, Premier, Amira FO, Chois FO, Fifth Venue, RAJA FO, dan Super Bazaar. Melalui beragam outlet ini, Mangga Dua Square menyajikan koleksi fashion yang kekinian, bahannya berkualitas, serta harga yang terjangkau.

jaket musim dingin murah
Rekomendasi Jaket Musim Dingin di MDS
Waktu itu saya pertama-tama masuk ke FO Publicity. Di dalamnya ada banyak koleksi pakaian yang keren-keren dan nyaman sekali di kulit. Ketika meraba-raba pakaian yang ada di sana saya langsung berguman, “Wadaw, lembut-lembut banget nih teksturnya.”

Nah, hal yang bikin saya terpengranggah adalah ketika saya menemukan serenceng koleksi jaket musim dingin di sana. Gils, ternyata ada lho jaket musim dingin di Mangga Dua Square. Kirain cuma khayalanku saja. Dengan perasaan gembira, saya lantas segera saja mencobanya satu persatu. Ya, siapa tahu kan sehabis membeli jaket musim dingin itu saya lantas terbang ke Jepang atau Rusia yang punya musim dingin. Hehehehe. Diaminkan apa tidak, nih?

Baca juga: Kostum Sebagai Mise En Scene dalam Film

Publicity atau Super Bazaar?

Area Mangga Dua Square sangat luas. Kalau mau masuk ke setiap outlet-nya saya khawatir persendian kaki saya bisa kenapa-kenapa. Jadi saya hanya memilih dua outlet saja, yaitu Publicity dan Super Bazaar.

factory outlet jakarta
Publicity Factory Outlet Jakarta
Awalnya saya memilih Publicity tanpa pertimbangan apa-apa. Saya asal masuk saja untuk melihat berbagai macam koleksi pakaian yang ditawarkan di sana. Bermula dari ngasal, saya justru dibuat betah di sana. Mungkin ada 4 atau 5 pakaian yang saya coba di sana, mulai dari hoodie kece hingga jaket musim dingin. Saya seakin senang ketika melihat harga yang tertera di sana sangat murah. Untuk satu jaket musim dingin berkualitas saja, saya hanya perlu merogoh 300-400ribu rupiah.

Hal tersebut terasa murah karena brand fashion-nya ternama semua, lho. Calvin Klein, ada. Zara juga ada. Tapi kenapa kok bisa murah? Jadi, koleksi fashion yang ada di sini merupakan barang branded berkualitas tinggi tapi tidak lolos distribusi utama. Memang ada beberapa kekurangannya, seperti sedikit berlubang, ukuran kurang universal, atau ada jahitan yang tidak sempurna. Meski demikian, secara keseluruhan sebenarnya kekurangan-kekurangan itu hampir tidak terlihat. Bagi saya yang tidak terlalu mendamba kesempurnaan busana ini merasa sudah sangat puas dengan produk dan patokan harga jaket musim dingin yang sangat manusiawi.

Area Publicity memang tidak terlalu luas tapi koleksinya yang banyak membuat saya betah mencoba dari satu style ke style yang lain. Saya dan istri ternyata sepakat, kalau style hoodie merah ini terlihat keren dan cocok buat saya. Bagaimana menurutmu? Hahaha.

koleksi mangga dua square keren
Hoodie Keren di Mangga Dua Square
Setelah puas bermain di Publicity, saya dan istri lantas menuruni satu lantai untuk tiba ke Super Bazaar. Kami memilih outlet ini karena letaknya di pojokan dan terlihat cukup sepi. Kalau di Publicity tadi cukup ramai sehingga kami agak malu berekspresi, sementara di Super Bazaar itu kebutuhan tengil kami bisa diekspresikan tanpa harus berpikir apa kata orang.

Walau relatif sunyi, Super Bazaar sebenarnya juga memiliki koleksi fashion yang tidak kalah keren dari Publicity. Menurut pengamatan saya, koleksi style di Super Bazaar cenderung lebih muda dan atraktif. Outlet ini cocok buat kamu yang suka melakukan mix and match pada busana yang kamu kenakan. Di sini koleksi jaket musim dingin juga ada, meski tidak sebanyak Publicity.

jaket musim dingin pria wanita
Rekomendasi Jaket Musim Dingin Wanita dan Jaket Musim Dingin Pria
Coba lihat jaket musim dingin pria dan wanita ini. Bagus, kan? Saya dan istri sangat suka dengan jaket musim dingin ini. Dari segi ukuran, kenyamanan tekstur, hingga warna dan style pun sangat cocok dengan kami. Bagaimana menurutmu?

Sekarang coba kita lihat dari segi harga. Dibandingkan dengan Publicity, harga-harga yang terpatri di Super Bazaar relatif lebih murah. Saya sudah bisa membawa pulang jaket musim dingin yang keren hanya dengan ongkos tidak sampai 200ribu. Gila, ya. Kalau sudah begini kan saya jadi nagih buat belanja ke Publicity dan Super Bazaar.

factory outlet Jakarta
Rekomendasi Factory Outlet Jakarta


Keisengan di Mangga Dua Square

Melihat ada banyak busana keren di Mangga Dua Square membuat saya ingin segera membeli semuanya. Tapi jelas saja tidak bisa karena bukan sultan. Maka saya bertekad untuk kembali lagi ke Mangga Dua Square kalau sudah menerima gaji di bulan mendatang.

Melihat realita itu, timbullah nafsu iseng untuk mengamankan produk yang saya inginkan. Singkat cerita, saya meletakkan pakaian yang saya ingin beli di susunan paling belakang atau paling bawah pada display tokonya. Dengan begitu saya berharap barang itu tidak jatuh ke tangan orang lain sebelum saya bisa membelinya. Hahaha. Boleh apa tidak sih berperilaku seperti ini?

rekomendasi factory outlet jakarta
Koleksi Murah Mangga Dua Square
Walau begitu, jika barang yang saya simpan itu ternyata dibeli oleh orang lain, sepertinya saya tidak akan terlalu merasa kecewa. Pasalnya di Mangga Dua Square mudah sekali mendapatkan pakaian yang keren dan “aku banget”. Mau formal, ada. Casual, ada. Pilihan temanya benar-benar ada banyak. Namun ada satu hal yang sama, yaitu ongkosnya yang murah!

Saya merasa sangat bersyukur jika di tanah rantau ini ada tempat seperti Mangga Dua Square. Buat kamu yang sedang membaca tulisan ini, silakan kunjungi Mangga Dua Square untuk mendapatkan gaya terkerenmu. Jika kamu tinggal di luar Jakarta lalu kebetulan sedang di Jakarta, maka tidak ada salahnya kamu berwisata ke Mangga Dua Square. Siapa tahu bisa menemukan oleh-oleh kece yang bisa bikin orang lain kepengen. Kalau mau via digital, kamu bisa kepoin akun Instagram mereka di @mangga2square.

Terima kasih sudah membaca tulisan saya sampai selesai. Semoga bermanfaat, ya. Salam!

Photo by freestocks.org from Pexels

10 Oktober 2019

kun saraswati done


Bagi saya, musik adalah perhiasan yang indah dalam hidup yang sala jalani. Musik sebagai medium bagi saya untuk bercengkrama pada kisah-kisah yang telah, sedang, atau akan saya alami. Misalnya ketika lagi ngelamun, saya mendengarkan musik melow. Ketika lagi kerja, saya mendengarkan musik semangat.

Pada dasarnya, selera musik saya bisa berubah-ubah tergantung situasinya. Jadi daftar lagu saya tidak terkotak-kotakkan pada genre, tahun, atau tema. Tapi ada juga beberapa lagu yang suka saya dengarkan ketika dalam kondisi apapun. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi mengapa lagu-lagu ini berbeda dengan yang lain. Biasanya, karena lagu tersebut enak sekali lantunannya, mulai dari aransemen hingga suara penyanyinya. Dan kedua, karena liriknya super dahsyat!

Pernah tidak kamu mendengarkan lagu yang liriknya bikin terkesima? Terkadang lirik itu tidak perlu relevan dengan hidup kita, tapi melihat susunan kata yang dirangkai begitu indah itu sudah cukup untuk membuat getar-getar nadi mengencang. Baru-baru ini, ada satu lagu yang saya rasa bisa masuk dalam daftar lagu favorit saya yang baru. Yaitu lagu Indonesia yang berjudul “Done”.

Done – Kekuatan untuk Menentukan Jalan

Masa lalu adalah peristiwa-peristiwa yang kita tinggalkan dan berani-benraninya meninggalkan kenangan. Terkadang kita bisa membuka kembali dokumen kenangan itu, atau benar-benar lupa. Namun tak jarang pula ingatan masa lalu yang tidak diinginkan malah muncul menggedor-gedor kepala kita. Bagaimana rasanya mengingat hal yang tidak menyenangkan? Jika ada pilihan lain, saya yakin kamu akan bilang: “ogah”.

Pilihan itulah yang kemudian dilantunkan dengan indah dalam lagu “Done”. Lagu Indonesia ini baru saja dirilis pada jumat malam (4 Oktober 2019) di Hiveworks Gedung Multivision, Jakarta. Beruntung sekali saya dapat menyaksikan secara langsung ritual peluncuran single “Done” yang sekaligus menjadi debut sang penyanyi, Kun Saraswati.

kun saraswati done
Judul lagu Kun Saraswati "Done" dibawakan dengan apik
Ketika lagu “Done” dinyanyikan di depan mata saya, ada ketenangan dalam musiknya yang membuat saya rileks. Namun ada juga kegetiran pada lirik lagu yang terangkai di dalamnya sehingga saya mengalami dilema, antara santuy dan kalut. Apalagi Kun Saraswati memang membawakannya dengan sangat baik. Saya langsung bisa membayangkan lagu “Done” menjadi soundtrack film saat itu juga.

“Done” bercerita tentang seseorang yang telah berdamai dengan masa lalunya. Saya merasakan kekuatan dalam lagu Kun Saraswati ini yang mengajak orang lain untuk berani bersikap tegas pada hidupnya, bahwa hidupnya terlalu berharga untuk orang yang tidak menghargainya. Oleh karenanya, mengakhiri candu cinta atau bucin adalah pilihan yang harus dilakukan demi hidupnya yang bermakna.

Jujur saja, dalam lagu ini sebenarnya saya merasa tidak terrepresentasikan oleh “aku” di lirik musik Kun Saraswati itu. Tapi justru saya merasa seperti “kamu”. Sehingga kalimat, “there is no I love you” dan “I’m done with you” membuat saya ketakutan setengah mati. Saya tak ingin orang yang saya sayangi pada akhirnya mengucapkan dua kalimat tersebut kepada saya.

kun saraswati
Kun Saraswati bersama keluarga dan tim label
Jadi bagi saya, mendengarkan Kun Saraswati menyanyikan lagu ini terasa seperti sebuah terror. Meski terdengar menyeramkan, namun teror ini teramat indah dan sejuk di telinga. Kamu harus mendengarkan lagu Kun Saraswati yang magis ini, deh. Cobalah.

Kun Saraswati – Pendatang Baru Siap Melaju

Siapa Kun Saraswati? Pertanyaan itu mungkin berkelindan di benak kamu ketika membaca tulisan ini. Kun Saraswati, biasa dipannggil ‘Kun’, merupakan seorang pendatang baru di kancah permusikan Indonesia. Ia menyukai musik sejak kecil. Di usia yang kelima, ia sudah belajar piano klasik dalam bimbingan profesional.

kun saraswati
Kun Saraswati beserta para blogger, temukan saya!
Kun Saraswati semakin dalam menyelami dunia musik terutama ketika ia mengemban pendidikan di Fakultas Ilmu Seni Musik Universitas Pelita Harapan. Tidak perlu ragu lagi dengan kualitas vokalnya, sebab di usianya yang masih belia, Kun sudah menjadi pengajar vokal di Music School of Indonesia.

Lagu “Done” sendiri diciptakan oleh Kun Saraswati bersama kakaknya pada pertengahan 2016. Melihat adanya potensi pada lagu tersebut, sejumlah profesional menggarapnya hingga siap diperdengarkan kepada publik pada 2019. Belanegara Abe dan Edo Abraham bersedia menjadi tempat bermuara Kun Saraswati dalam Passion Vibe, label yang juga bekerjasama dengan Rinni Wulandari, Sherina, Heidi, dll.

Tidak tanggung-tanggung, profesional yang terlibat dalam penggarapan single ini adalah Alvin Witarsa sebagai Orchestrator, Irvnat sebagai Vocal Director, Eko Sulistiyo sebagai Mixing Engineer, dan Steve Corrao sebagai Mastering Engineer. Nama-nama ini merupakan para ahli yang sudah dipercaya kemampuannya di industri musik Indonesia. Wajar saja, jika komposisi musik yang disajikan sangat berkualitas.

Jika kamu tertarik dengan lagu yang sudah saya bahas ini, segeralah mencari judul lagu Kun Saraswati “Done” di berbagai platform music streaming seperti Spotify, Joox, iTunes, dan Deezer. Tidak hanya lagunya saja, format video beserta lirik musik Kun Saraswati juga bisa kamu tonton di YouTube. Biar praktis, kamu bisa langsung menyaksikannya di bawah ini.




Apakah kamu sudah puas mendegarkan lagu “Done”? Menurut kamu, bagaimana potensi lagu ini di pasar musik Indonesia? Jika kamu punya pendapat soal ini, tulis saja di kolom komentar, ya. Terima kasih sudah bersedia membaca tulisan ini.


Photo by Kaboompics .com from Pexels