Tampilkan postingan dengan label Film dan Televisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film dan Televisi. Tampilkan semua postingan

1 Januari 2017


Sudah pasti banyak film yang menjanjikan keseruan untuk ditonton di tahun 2017 ini. Dari sekian banyak itulah saya merangkum ke dalam 20 daftar yang wajib ditonton sebelum tahun 2018. Hahaha. Film-film yang terdaftar di sini merupakan film rilisan 2017 versi IMDB. Bukan berarti semua film ini bakal muncul di layar bioskop Indonesia lho ya. Ada beberapa diantaranya yang mustahil diedarkan di bioskop. Namanya juga alternatif. Ah, selama ada Lebah Ganteng dan Pain Akatsuki, kita bisa tenang, kok.

Baiklah, berikut daftar nonton saya:

1. Almost Paris



Berkisah tentang seorang pegawai bank bernama Max. Pada suatu ketika, Max mengalami kegagalan dalam pekerjaannya. Akibatnya ia mengalami krisis ekonomi. Sementara ia sudah mengorbankan keluarganya demi karir yang selama ini ia bangun. Max kemudian memutuskan untuk kembali ke kampung halaman. Misi Max adalah untuk menebus kesalahan terhadap keluarganya dan berupaya bangkit dari kegagalan.

Apa yang Max alami begitu sederhana dan sangat dekat pada kita. Barangkali selepas nonton film ini kita memiliki perspektif lain yang lebih baik dalam menghadapi situasi serupa.

2. Amsel


Sebuah film dokumenter tentang seorang perancang grafis bernama Richard Amsel (1947-1985). Karya-karyanya meliputi poster film, sampul buku, dan sampul album musik. Ia memiliki kemampuan menggambar tubuh dengan rincian yang luar biasa. Sebagai salah satu seniman rupa yang berpengaruh, film dokumenter ini mencoba menelisik kembali kehidupan sang seniman yang misterius, hingga akhir tragis yang menimpanya akibat AIDS. Saya begitu tertarik dengan poster-poster film, maka libido saya memuncak ketika tahu ada dokumenter untuk seniman grafis ini.

3. Book of Henry

Bercerita tentang seorang anak bernama Henry yang tinggal bersama adik dan ibunya. Suatu ketika, ia merencanakan pembunuhan terhadap ayah dari gadis yang ia cintai. Rencana itu tertulis dalam sebuah buku yang secara teledor diketahui oleh ibunya. Uniknya, si Ibu justru setuju dengan rencana Henry. Jadilah, mereka berdua berambisi menumpas penindasan sebagaimana yang pernah mereka rasakan di masa lalu. “A single mother raises a child genius”. Sungguh keluarga yang begitu harmonis!

4. Dunkirk


Setelah sukses menggelar film sains, Christopher Nolan kali ini hadir mengusung film historis. Film ini berlatar perang dunia kedua, saat tentara Nazi berhasil memojokkan ribuan tentara Sekutu hingga ke Pantai Dunkirk dan ini menjadi kekalahan pihak Sekutu terbesar dalam sejarah. Di sinilah kita akan mengetahui lebih jauh tentang Operasi Dinamo atau Evaluasi Dunkirk. Perlu alasan apa buat melewatkan film ini?

5. Fifty Shades Darker 


Saya rasa tak perlu sinopsis mengingat film ini begitu populer. Jujur, saya sempat kecewa dengan filmnya yang pertama karena adegan sadomasokisnya tidak seram sama sekali. Namun, kali ini saya mencoba untuk kembali tertarik dengan sekuelnya, sebab ada pergantian sutradara. Yang semula Sam Taylor-Johnson, kini dikerjakan oleh James Foley. Kupikir aroma Fifty Shades Darker bisa kembali pada jalur roman gelap yang semestinya, mengingat Foley pernah mengerjakan After Dark, My Sweet (1990) dan Fear (1996) yang terbilang sukses itu. Semoga film olahraga ini tidak mengecewakan. OLAHRAGA??

6. Guardian of The Galaxy vol.2


Sempat melewatkan film-film Marvel tahun 2016 karena suatu hal, kini GoTG sudah jadi titik ketaksabaran saya untuk menyaksikannya. Pada GoTG vol.2 inilah akan dibuka misteri tentang ayah Star Lord yang konon bukan penduduk bumi. Sedikit demi sedikit proyek film Marvel mulai mengarah pada ‘Inhuman’, setelah sebelumnya dalam film serial Agent of S.H.I.E.L.D juga ikut diceritakan mengenai hal ini. Film superhero yang terdiri dari orang-orang gemblung ini sebenarnya cocok jika diberi judul seperti bukunya Puthut EA: “Para Bajingan yang Menyenangkan”.

7. Elizabeth Blue 

Berkisah tentang seorang gadis muda yang keluar dari rumah saki jiwa. Ia berhasil ‘disembuhkan’ dari skizofrenia. Saya tertarik pada film psikologi macam ini. Setidaknya saya penasaran bagaimana mantan pengidap skizofrenia memandang dunia.

8. I’m not Your Negro
 


Film dokumenter ini bercerita tentang ras kulit hitam di Amerika. Film ini sebenarnya diadaptasi berdasarkan sebuah naskah novel yang belum selesai dari James Baldwin dengan judul Remember This House. Pada film ini kita akan diajak menelusuri sejarah ras di Amerika melalui kenangan Baldwin dan tokoh-tokoh pembela hak-hal sipil macam Medgar Evers, Malcolm X, dan Martin Luther King. Sebagai pemuda yang belagak peduli pada kemanusiaan, tentu saya ingin segera menyaksikan film ini.

9. Keep Watching 

Film ini menyajikan cerita tentang sebuah keluarga yang terlibat dalam pembunuhan berantai. Pembunuhan yang terjadi ini dikemas layaknya sebuah game. Di sini sepertinya kita akan melihat bagaimana hidup dan mati adalah sebuah permainan. Menang atau kalah ada pada pilihan kita untuk melawan atau menyerah. Alasan saya ingin nonton ini adalah judulnya, “Keep Watching”. Ya gitu, mau tak mau, seru atau tidak ya keep watching aja.

10. Kingsman 2: The Golden Circle 

Film aksi tentang agen rahasia yang renyah untuk ditonon. Sama sekali tidak kelam dan malah lebih banyak unsur komedinya. Film pertamanya berhasil menghibur. Bagi saya film ini bisa menetralisir film-film kelam yang saya tonton. Ben ra mbledosh utekku!

11. The Last Word 

Film drama-komedi ini berkisah tentang seorang pensiunan yang ingin mengabadikan kisah hidupnya ke dalam sebuah buku. Ia kemudian merekrut seorang penulis muda untuk mengerjakannya. Alasan saya ingin nonton ini begitu sederhana. Pertama, karena rindu dengan penampilan Amanda Seyfried. Kedua, karena Amanda mendapat peran sebagai penulis. Ketiga, keknya bagus. Yaudah,sih.

12. Logan 

Rumor yang beredar pada film ini adalah kematian Logan. Lho, Logan bukannya manusia abadi? Jangan naif. Keabadiaan Logan itu tergantung kontraknya sama produser. Kalau udah cut yaudah bubar. Ya begitu, film ini kabarnya memang didaulat sebagai film terakhir Hugh Jackman. Apakah film ini akan kembali menyentuh sukma para penonton layaknya Paul Walker dulu? Feelingku sih bilang, ‘iya’. Apalagi jika Thomas Djorghi menyetujui dirinya mengisi suara untuk soundtrack film ini. Pasti Wiz Khalifa pilih pensiun dari dunia musik. Lalu bergabung dengan saudari jauhnya, Mia Khalifa, untuk menyalurkan bakat olahraga.

13. Pirates of the Carribean 5 : Dead Men Tell no Tales 

Rindu sekali dengan aksi bajak laut, Jack Sparrow. Kali ini ia akan menghadapi Kapten Salazar dalam upayanya memperoleh sebuah pusaka, Trident of Posseidon. Konon, pusaka ini mampu mengendalikan lautan. Wow! Menteri Susi harus turut merebut pusaka ini. Majulah, Susiku!!

14. Power Rangers

Power Rangers akan mengajak kita menonton kembali asal muasal Mighty Morphin. Kelima muda-mudi karangtaruna ini tiba-tiba mendapat kekuatan super yang harus dimanfaatkan untuk meyelamatkan bumi dari serangan alien jahat bernama Rita. Sementara itu, di Indonesia kita mengenal Rita sebagai merek bedak bayi. Tidak terima dengan olok-olok itulah, kemudian Mbak Rita ini ingin menghancurkan bumi.

15. Sleight 

Film ini mengisahkan tentang seorang pemuda ahli sulap yang mencari nafkah melalui pertunjukan jalanan. Dalam hidupnya, ia hanya memiliki seorang adik perempuan. Karna terlibat suatu masalah, adiknya diculik. Satu-satunya modal yang ia miliki untuk menyelamatkan adiknya adalah dengan ketangkasan dan kecerdasan. Dah, gitu aja.

16. Space Between Us 

Film ini ide ceritanya agak ndeladuk. Jadi, Space Between Us ini bercerita tentang seorang anak yang lahir di planet Mars. Ia terjebak di sana ketika ibunya terlibat dalam proyek eksperimental penjelajahan angkasa. Entah bagaimana ceritanya, ia yang selama ini tinggal di Mars akhirnya tiba di Bumi. Si kampret ini tiba di Bumi untuk mencari seorang wanita yang ia yakini sebagai kekasih sehidup sematinya. Piye? Nggapleki banget, tho?

17. Sweet and Sour 

Kali ini kita akan diajak berpetualang bersama pasangan suami istri yang memiliki kebiasaan unik. Mereka mempunyai ritual membunuh sebagai perayaan ulang tahun pernikahan. Namun pada ulang tahun kesepuluh, mereka merubah aturan dalam ritual tahunan itu. Masalah pun terjadi. Premis film ini sungguh wagu bin asu. Pasutri psikopat. Bagaimana mampu saya melewatkan ini?

18. Rings 


Film horor satu ini merupakan kelanjutan dari The Ring dan The Ring Two. Proyek film Ring pertama mendapat sambutan yang begitu meriah dari para penonton. Sayangnya, pada tahun 2002 jelas saya belum melek dengan film macam ini. Maka dari itu, pada tahun ini saya ingin menonton ketiga Ring sekaligus. Wuuw.. Mugo-mugo aku ora dadi edyan!

19. Spider-man Homecoming 

Selepas dari penampilannya yang memorable di Civil Wars, aksi Peter Parker dalam satu layar sendiri sudah tentu ingin saya tonton. Saya memiliki pengalaman emosional tersendiri pada film Spider-man. Ingat betul bagaimana Spider-man 3 (versi Tobey) merupakan film pertama yang saya tonton di bioskop. Sebagai anak kampung tentu hal itu merupakan sebuah prestasi kegaulan. Maka acap kali ada film Spider-man, saya selalu merayakannya dengan nonton di bioskop. 
Ah, gak gitu juga sebenarnya. Saya selalu ingat dengan pengalaman saya nonton di bioskop pertama kali karena kena tilang ratusan ribu. Begitulah resiko mencoba gaul saat masih SMP. Sungguh sadis dendamu~

20. XXX : Return of Xander Cage 

Triple-X pertama adalah awal saya menyukai si gundul, Vin Diesel. Aksinya yang canggih itu berhasil memukau saya yang kala itu masih berseragam putih biru (eh, iya gak, sih). Sempat kecewa dengan XXX yang kedua, di mana tokoh utama diperankan oleh Ice Cube. Maka tak heran jika kembalinya Xander Cage ini memaksa saya untuk kembali berbungah-bungah dengan aksi-aksi menegangkan. Harapan terdalam saya, semoga film ini tidak diboikot oleh Badan Asal Boikot Indonesia (BABI) hanya masalah judul “XXX”.

Alhamdulillah.. Sampailah kita di ujung tulisan ini. Selain 20 film ini, tentu masih ada banyak film seru yang bakal meramaikan ruang-ruang bioskop. Sebut saja Wonder Woman, Thor: Ragnarok, Kong Skull Island, Mummy, The Fate of The Furious, Despicable Me 3, Smurf dan lain-lain. Terima kasih kepada teman-teman yang setia menyimak daftar film ini dari awal hingga paragraf ini. Jadi, film apa yang ingin kamu tonton di tahun 2017?

Tulisan ini mengalami pembaruan pada tanggal 18 Januari 2017
All poster: impawards

9 Desember 2016



Beberapa kali saya melewatkan event Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF), tetapi tidak untuk tahun ini. Di JAFF ini kita bisa bertemu dengan kreator, aktor/aktris, kritikus, praktisi, dan berbagai kalangan yang terlibat dengan film. Acara ini berlangsung dari tanggal 28 November hingga tanggal 3 Desember 2016 yang berlokasi di Jogja melalui beberapa venue, yaitu Empire XXI, Taman Budaya Yogyakarta, dan Grhatama Pustaka Yogyakarta.

Saya seorang diri baru meluncur ke JAFF pada hari ketiga untuk menonton film NAY. Meski mendung terus menggantung, saya tetap melaju dari Solo ke Jogja dengan sepeda motor mogokan. Beruntung ketika tiba di Taman Budaya Yogyakarta, barulah gerimis jatuh pelan-pelan. Saya tiba di lokasi pukul 11.00, sedangkan film diputar pukul 12.30. Kata terlambat tidak ada dalam rencana-rencana saya. Begitu pun dengan kelas kuliah, saya jarang terlambat. Lebih sering bolos sekalian. Sikap!

Tiket on the spot baru dibuka pukul 11.30. Saya tentu lekas membelinya untuk memburu lokasi duduk yang strategis. Namun sayang, tempat duduk dipilihkan oleh panitia. Dan saya terpaksa menyerah pada bangku yang membuat leher kaku ke kanan. Saya kalau sudah nonton film itu bahu ke bawah bisa gerak muter ke mana-mana. Tapi bahu ke atas kaku sekali seperti hubunganmu dan dia. Whoop!

Satu jam saya menunggu, akhirnya pintu teater dibuka. Lekas saja saya masuk karena situasi di luar terlalu ramai oleh orang-orang yang datang bergerombol. Mereka sibuk berfoto di depan tembok-tembok ratapan Instagramers. Sepertinya memang bagi para Instagramers, background foto adalah kiblat, scrolling adalah ibadah, posting adalah sedekah, dan hastag adalah rapalan doa-doa.


Ruang teater tidak segelap bioskop XXI. Sebab, masih ada bocoran-bocoran cahaya yang membuat mata saya dapat menangkap berbagai benda yang ada di dalam ruangan itu. Namun, kebagusan film NAY berhasil menarik perhatian saya. Saking bagusnya, sampai-sampai saya tidak mungkin sadar andai penonton yang duduk di depan saya secara tiba-tiba memutuskan untuk bugil saat itu. Bahkan jika pria sekali pun.

Setelah film selesai, kami para penonton yang masih mabuk dengan apiknya NAY digiring ke selasar untuk mengikuti diskusi bersama Djenar Mahesa Ayu. Beliau ndeprok sambil klepas-klepus mengapulkan asap rokok macam Mas Waluyo kalau lagi curhat di angkringan pinggir jalan. Tanpa ragu saya turut ndeprok di dekatnya. Ya sekitar selemparan kancutlah. Orang-orang mulai mengambil tempat masing-masing seadanya. Lalu saat mas-mas moderator memulai diskusi dengan sambutan selamat datang, Mbak Djenar memilih untuk menenggak bir bintang.

Kaleng bir diletakkan. Puntung rokok yang terapit dua jari didekatkan pada dengkul kanan. Bibirnya tersenyum mengesankan. Sedikit menyeringai. Seolah ingin menggempur kami dengan kata-kata, “Rasakno! Filmku apik, tho? Khekhekhekhe.”

NAY: Belajar Membaca Perempuan

Source: scontent.cdninstagram.com/
Film NAY ini bagus sekali. Saya tidak nemu di mana celah untuk menghujat. Etapi bisa saja karena saya orangnya terlalu baik. Jadi, hal-hal buruk tak tampak dari pengamatan saya. Ndasmu, Ham! Hehe, oke skip.

Ada empat alasan kenapa film ini bagus menurut saya. Pertama, film NAY mengangkat isu gender, seksualitas, dan sistem patriarki yang sampai saat ini masih menjadi mimpi buruk bagi perempuan di negeri kita. Kedua, film ini menawarkan gagasan tentang humanisme, atau bisa juga feminis. Ketiga, kepribadian Nay yang terguncang bisa menjadi perhatian menarik dalam wacana psikologi. Dan alasan terakhir, film ini memiliki cara bercerita yang tak lumrah.

Baiklah, saya kupas satu-satu.

PATRIARKI 
Source: trendhunterstatic.com
Isu patriarki seringkali diperbincangan, salah satu penelusuran saya yaitu mengarah pada terbitnya buku Ancient Law yang ditulis oleh Henry Maine pada tahun 1861. Pada buku ini Henry menjelaskan bahwa keluarga patriarki merupakan dasar dan unit universal dari masyarakat. Di mana sosok ayah memiliki otoritas penuh terhadap istri dan anak-anaknya.

Gagasan patriarki ini lekat kaitannya dalam teori sosial Marx, Engels, dan Weber. Si Engels yang berpendapat jika kemungkinan pembebasan wanita tidak akan pernah terjadi, memicu para feminis Marxis untuk mengkritik patriarki. Ketegangan dari pemahaman-pemahaman yang berbeda atas hal ini pun terus terjadi hingga sekarang.

Sederhananya, jika kamu percaya laki-laki lebih berhak daripada perempuan, maka matamu berhasil dikaburkan oleh wacana patriarki ini. Baik itu hak untuk mengambil keputusan, hak untuk dianggap kuat, hak untuk berbicara lebih bebas dari perempuan, hak untuk dipatuhi, hak untuk bertindak nakal maupun berpikir mesum, dan segala jenis hak untuk mendominasi perempuan apa pun jenisnya. Nah, kalau kamu percaya hak-hak macam itu dimiliki seorang pria sejak ia lahir, maka kamu sudah tergelincir pada sistem patriarki yang diterapkan secara halus, sehalus alis mata Dian Sastro seusai pakai kondisioner.

Dalam film NAY, saya melihat bagaimana seorang Ben enggan menjadi ayah bagi anak yang dikandung Nay. Meski status mereka masih sebatas pacaran, tetapi keputusan nasib janin seolah ditentukan sepihak oleh superioritas Ben. Ben memilih untuk menggugurkan kandungan itu. Sementara Nay berniat menjadikan janin itu sebagai anaknya. Pada tahap ini, Nay mengalami setres berat. Apakah ia akan menggugurkan janinnya karena Ben (selaku laki-laki) tidak mau menerima kehadiran anak itu? Ataukah Nay akan melahirkan anak itu dalam keadaan single parent? Benturan batin inilah yang menjadi konflik utama dalam film ini.

Kasus ini sering terjadi di masyarakat kita. Pria merayu-rayu ngajak ngentot. Pas perempuannya bunting, minta digugurkan. Siapa yang lebih banyak merasakan sakit saat ngentot? Siapa yang masih diberi sakit saat hamil? Siapa lagi yang sakit saat melahirkan atau menggugurkan? Perempuan!

Lalu saat Nay menghubungi Pram (pria yang mencintai Nay) untuk menjadi ayah dari spermanya Ben, Pram menolak. Begitulah salah satu sisi tipis patriarki. Pria selalu memiliki pilihan. Pria mempunyai kuasa untuk menolak. Sedangkan, perempuan masih terjebak pada pilihan-pilihan orang lain dan pengharusan yang tidak dikehendaki. Namun keadaan ini menjadi bias dan dilupakan ketika statement cengengesan ‘cowok selalu salah’ terus digaungkan oleh pria sebagai wujud pengibaan kuasa.

Saya pun pernah berada pada posisi (yang katanya) ‘cowok selalu salah’ itu. Namun jika diselidik lebih dalam, ada faktor yang lebih tepat untuk mengklaim kesalahan saya. Bukan karena saya pria. Namun, karena saya memang salah. Sehingga menurut saya, slogan ‘cowok selalu salah’ hanyalah tempat bersembunyi bagi pria yang melakukan kesalahan tapi enggan mengakui. ‘Cowok selalu salah’ menjadi kekeliruan argumentum ad misericordiam agar klaim tersebut bisa diterima. Di sini kita kembali melihat bagaimana pria memiliki pilihan ketika dituding bersalah. Yaitu, memilih untuk mengakui kesalahan atau lebih memilih melemparkan klaim ‘cowok selalu salah’ untuk menempatkan perempuan sebagai antagonis.

Perkara ini yang berhasil Djenar kemas dalam film NAY. Djenar menempatkan Nay pada kebingungan antara tunduk pada patriarki atau meyanggah Engels (perihal pembebasan wanita yang tidak mungkin terjadi). Djenar mengaduk-aduk emosi saya dari beberapa menit pertama hingga akhir. Mau tidak mau sepanjang film berlangsung, saya harus mengunci mulut rapat-rapat. Sebab jika terbuka, melesatlah kata “ANJINC!”.

HUMANISME

Source: invaluable.com
Saat diskusi, Djenar berujar, “Saya bukan feminis, saya humanis." Hal ini tampak sekali dalam film NAY, khususnya pada dialog, “Lihat itu, Mom. Itu manusia yang tidak memiliki rasa kemanusiaan.” Justru saya memandang jika benang merah dalam film ini terangkum melalui dialog tadi. Sebab, gempuran yang dialami Nay pada dasarnya merupakan bentuk dari ketidakperikemanusiaan.

Ketidakperikemanusiaan ini tampak pada Ben yang tidak mau menjadi ayah dari spermanya sendiri. Adjeng, sahabat sekaligus manajer Nay, yang turut mendukung pengguguran janin agar karir selebritis Nay tidak tersengal. Sebab jika karir Nay hancur, maka hancur pula jaminan duitnya Adjeng. Lalu masih ada ibunya Nay yang sering menganiayanya. Serta, pacar ibunya Nay yang memerkosa Nay di usia sembilan tahun. Lalu apa itu manusia dan kemanusiaan? Kemanusiaan teleq bebeq!

Humanisme menempatkan manusia pada kesetaran antara satu indivdu dan individu lain. Tidak ada perbedaan kelas. Tidak ada kesenjangan gender. Tidak ada tebang pilih kuasa. Tidak perlu impreliasme. Apa pun jabatan, jenis kelamin, gelar, dan segala jenis kehendak berkuasa harus ditepikan terlebih dahulu. Sebab ada kerukunan antarmanusia yang harus dimenangkan.

Ketika seluruh semesta bertindak sadis kepada Nay, di situlah humanisme hadir. Nay yang selama ini menjadi korban ketidakperikemanusiaan mencoba untuk tidak mengulangi siklus yang sama. Keinginannya untuk melahirkan anak itu begitu besar. Bukan karena ia mengidamkan keluarga yang ceria dengan hadirnya anak. Ia tahu benar jika anaknya akan lahir dalam kecacatan keluarga. Anak yang tak berayah. Namun, atas nama kemanusiaan yang adil dan beradab, ia punya tekad untuk menjadikan janin itu sebagai anaknya. Tekad itulah yang terus mengalami gejolak karena desakan Ben dan Adjeng untuk menggugurkan kandungan.

Selain tokoh-tokoh yang sudah saya sebutkan di atas, ada lagi satu sosok yang sangat tidak mengerti kemanusiaan. Ibunya Ben. Sebagai mertua, bukannya mencari solusi yang tepat malah menuduh jika Nay itu bohong. Nay dianggap sudah tidur dengan banyak pria. Lalu memilih pria paling kaya untuk dimintai pertanggungjawaban. Sungguh logika sok tahu yang seasu-asunya. Dia mikir pakai tumit kayaknya.

PSIKOLOGI 
Source: imgur.com
Ulasan menarik keluar dari pria yang duduk di sebelah saya. Ia menyinggung soal sisi psikologis Nay yang sudah bertingkah seperti orang gila. Nay bisa menangis. Tiba-tiba tertawa. Lalu menangis lagi. Kemudian marah. Merenung. Lalu kembali tertawa, dan seterusnya.

Emosi yang ia alami berubah-ubah secara ekstrim. Saya menduga bisa saja ia bipolar. Kecenderungan untuk berganti emosi dari depresif ke manik ada dalam sosok Nay. Bahkan Nay pun mengalami delusi parah. Ia seolah sedang bicara pada ibunya, padahal ia sedang bicara pada diri sendiri. Ada yang menduga skizofrenia pula.

Namun, Djenar selaku pencipta tokoh Nay pun kelimpungan dengan dugaan itu. Djenar mengaku belum menemukan bukti apakah Nay mengalami gangguan kejiwaan. Lekas saja ia membiarkan para penonton membaca karakter Nay sebebas-bebasnya. Sebab dalam salah satu dialog juga dikatakan, “Kebenaran menurut siapa, Nay? Menurut kamu?”

Potongan dialog di atas dapat kita temukan keragu-raguan Djenar dalam memahami realitas. Semangat posmodernisme yang terus mencoba menggulingkan rezim kepastian, membuat realitas menjadi semu. Benar dan salah tidak lagi absolut. Maka realitas yang kita kenal saat ini adalah realitas ambigu.

Beranjak dari situlah Djenar membolehkan para penonton untuk menentukan sendiri apakah Nay ini gila atau tidak. Karena setiap pendapat yang berdasar adalah kebenaran. Namun, bukan kebenaran universal. Sampai pada perbincangan ini, moderator berceletuk, “Nah, Anda bisa membaca karakter Nay ini dengan psikoanalisis, Mas.” BUAJINGEK!

KENIKMATAN VISUAL 

Sepanjang film berlangsung, kita disuguhkan pada set lokasi yang berkutat di satu tempat. Namun di waktu yang sama juga berpindah-pindah. Nah, bingung kan? Hahahaha. Jadi point of view dalam film ini adalah Nay yang sedang berkendara di jalanan Jakarta pada suatu malam.

Nay waktu itu pulang dari rumah sakit dan mendapati dirinya positif hamil sebelas minggu. Di dalam mobil itulah ia dilibatkan pada situasi yang membingungkan. Antara ingin melahirkan atau menggugurkan. Sesederhana itu premisnya. Tapi eksekusinya bagus sekali.

Seperti film The Island, dari awal sampai akhir yang main film cuma seorang doang. Bisa bayangkan betapa absurdnya 130 menitmu menyaksikan orang berkendara? Kok absurd? Yaiyalah! Insepsi yang timbul dari pengalaman nonton Fake Taxi bisa muncul begitu saja. Apalagi mobilnya Nay ini warnanya kuning. BANGKE!

Komunikasi yang terjalin antara Nay dan karakter lain terjadi melalui sambungan telepon. Sedangkan komunikasi Nay dan ibunya terjadi melalui dirinya sendiri. Nay, entah sengaja atau tidak, mampu melakukan impersonate terhadap ibunya. Sehinga perbincangan ibu dan anak dapat kita saksikan pada satu orang yang sama.

Selain itu, kecanggihan Nay yang bergonta-ganti emosi memberi kesan ramai pada film. Sehingga penonton tidak bosan. Kala sedih ia menangIs tersedu-sedu. Kala bahagia ia bisa tertawa terbahak-bahak. Kala marah ia bisa melempari kita dengan teriakan ANJINC! BANGSAT! KONTAL-KANTIL!

Begitulah NAY mampu menghipnotis saya dalam cerita yang tersaji apik dengan sarat makna yang begitu dalam. Ada banyak hal yang bisa dibicarakan dalam film ini. Maka tak heran jika NAY lebih bisa dinikmati melalui acara pemutaran film daripada mendapatkannya dari link download.

Sayang sekali pada kesempatan itu sesi diskusi terbatas waktu. Mau tak mau saya harus menyudahi ambisi saya untuk mengulik film ini lebih jauh. Jadinya, saya memilih untuk menenggelamkan alam pikir saya bersama bayang-bayang film yang masih membekas. Lalu menganalisanya di sepanjang jalan ketika saya berkendara pulang. Tiba di rumah, saya segera membicarakan ini pada kekasih saya. Diskusi sesungguhnya, baru saja dimulai.

Header source: ytimg.com

18 November 2016


Namaku Marco. Tapi bukan Marcopollo. Kau bisa memanggilku Markonthil jika lidahmu baik-baik saja. Meski sebenarnya tidak pernah ada yang memanggilku dengan sebutan itu. Sebab, aku tidak punya siapa-siapa selain satu orangtua. Aku tidak memiliki teman. Aku tidak menjalin hubungan apa-apa dengan lingkungan sosial.

Aku sadari ada sesuatu yang lain dalam diriku. Aku memiliki cara pandang yang berbeda dari kebanyakan orang. Aku memiliki perasaan yang begitu mendalam dan sering berubah-ubah. Kadang aku bersemangat. Kadang aku putus asa. Kadang keduanya beradu menjadi satu. Mereka menyebutku pasien bipolar.

Aku suka sekali saat mengalami manik. Manik membuatku lebih menyala, lebih bersemangat, lebih antusias dan lebih positif. Serta yang terpenting dari semua itu, manik membuatku mengerti bagaimana rasanya hidup. Namun sayang, orang-orang itu menyebutku gila. Mereka menuduhku berhalusinasi. Padahal bukan aku yang tak masuk akal. Tapi mereka saja yang terlalu bodoh untuk memahami perbedaan.

Aku benci dengan sistem. Jadi kuputuskan untuk keluar dari tempatku bekerja. Aku bisa bertahan hidup dengan berburu susu gratis di Starbucks dan memakan saus di McDonals. Tapi ayahku melarang. Ia datang ke apartemen dan memberi ceramah yang teramat membosankan. Aku muak. Aku kabur. Lalu kupanjat gedung bertingkat. Di atap gedung itu aku duduk terdiam. Memandang bulan yang begitu terang. Aku percaya apa yang kulakukan ini akan membawaku pada sensasi manik. Aku ingin melihat langit malam seperti lukisan Vincent van Gogh. Sayangnya, belum sempat kusaksikan Starry Night dengan kedua mataku, dua orang berseragam serba hitam menemukanku. Aku digiring ke kantor polisi.

Ayahku yang mengatur semuanya. Kini aku dikirim ke rumah sakit jiwa. Berkali-kali aku katakan pada mbokdhe psikiater itu jika aku tidak gila. Aku hanya bergairah. Tapi ia tidak mau mendengarkan. Pancen asu tenan wong-wong iku. Aku ini tidak gila. Kenapa kok aku dianggap dan diperlakukan sepeti orang gila?

Dengan jumlah masa yang begitu banyak sedangkan aku sendiri, jelas aku kalah suara. Tudingan mereka terhadapku dianggap sebuah fakta. Mau tidak mau aku harus terbiasa dengan sebutan gila yang melabeli namaku.

Aku dimasukkan ke dalam sebuah kelompok bipolar. Aku benar-benar dibuat bosan dengan kelompok ini. Sampai aku bertemu dengan seorang perempuan yang membuatku kesal, Carla. Carla begitu bodoh. Ia begitu pesimis dengan hidup ini. Aku benci orang sepertinya. Ia membuat hidupnya begitu sia-sia. Payah.

Suatu ketika, saat kami duduk berkelompok untuk menggambar, aku menjelaskan pada dua pria di hadapanku jika aku memiliki kemampuan untuk membuat syair dengan rima kompulsif. Manik yang kualami membuatku dapat menemukan dan menyusun kata-kata yang berima. Kemampuan ini sangat berguna bagiku untuk melakukan rap. Carla menantangku untuk melakukan freestyle rap. ia menyebut beberapa kata seperti “anti-kristus”, “tak tahu malu” dan “sendiri”. Kata-kata itu menjadi acuan untuk kujadikan bahan freestyle. Sepeti yang sudah sepantasnya terjadi. Aku menang. Aku membuatnya bungkam.

Lalu kulihat ia memegang sebuah buku. Aku rebut buku itu dari tangannya. Lalu kubaca syair yang tertulis di buku itu keras-keras. Carla meronta mencoba merebut bukunya. Tapi ia tak sanggup menjangkau dan aku masih melanjutkan membaca syair-syair itu. Tangan Carla terus mendesakku. Peganganku tak seimbang. Secara tak sengaja lipatan cover buku itu tersibak. Mataku terbelalak. Aku melihat siapa penulis buku itu.

Ternyata buku itu adalah kumpulan syair-syair yang ditulis Carla. Carla adalah seorang penyair. Sebagai pengidap bipolar, aku mengalami moodswing ekstrim seketika itu. Tiba-tiba mulutku tertutup rapat. Aku merasa bersalah telah mencoba mempermalukan karyanya.

Hari-hari setelah itu aku tak lagi mengganggunya. Kupikir dia adalah orang bodoh yang enggan memanfaatkan potensinya untuk sesuatu yang berharga. Ternyata ia lebih baik dariku. Kecanggungan sempat terjadi antara kami. Dan entah kenapa aku selalu memperhatikannya. Aku tertarik padanya.

Sesama bipolar, kami kerap terbangun bersama-sama tepat pukul tiga pagi. Tanpa ada perencanaan sebelumnya, kami berdua selalu menghabiskan sepertiga malam terakhir di ruang gambar. Kami beradu pendapat dan wawasan. Hingga akhirnya aku yakin pada rasa yang timbul tak terbantahkan. Aku jatuh cinta padanya. Dia pun sudah pasti begitu.
 
Kami berdua menjalin hubungan asmara yang biasa saja. Tidak ada pesta, kemegahan, maupun sorak-sorai dari teman-teman yang mendukung. Aku dan Carla hanya menyelami cinta sebagaimana yang kami tahu. Kami ingin berdua terus-menerus. Itu saja.

Entah kenapa orang-orang di sekitar kami lah yang repot. Orangtua Carla menentang hubungan kami. Mereka pikir aku terlalu gila. Baiklah aku sudah terbiasa dengan sebutan gila. Tapi apa mereka tidak bisa membuka mata dan melihat bagaimana Carla bahagia bersamaku. Mereka bodoh sekali. Sudah bodoh, belagak tahu pula. Aku dan Carla sudah saling mencinta. Tidak perlu pakai logika rendah yang mencoba menjelaskan betapa beresikonya hubungan ini. Sebab aku dan Carla mencinta sebagai sesama pengidap bipolar. Kami berdua memiliki perasaan yang begitu dalam. Sehingga kami tidak mengenal cinta dalam konsep-konsep rasionalitas.

Hubunganku dan Carla terasa menyenangkan. Aku yang lebih sering dan sangat ingin mengalami manik membuat hubungan kami terasa berapi-api, bertujuan dan menyenangkan. Sedangkan, Carla yang dominan dengan depresifnya seperti menghujani hari yang panas. Meneduhkan, menyegarkan dan membuatku lebih tenang. Aku heran dengan orangtua Carla yang terus-menerus mengambil keputusan sepihak untuk anaknya. Hal ini tentu membuat Carla semakin hanyut dalam episode depresinya. Jika aku tak salah ingat, dalam Mourning and Melancholia yang ditulis Sigmund Freud mengatakan bahwa potensi depresi diciptakan dari periode oral. Maksudnya, waktu anak mulai belajar berbicara. Aku meyakini pasti Carla kecil melihat ketidakharmonisan di keluarganya saat itu. Tanpa disadari, Carla menyerap ketakutan dan keputusasaan yang membuat psikisnya terganggu. Ah, ini hanya dugaanku saja. Aku sama sekali tidak peduli dengan Carla di masa lalu. Aku mencintai Carla saat ini. Itu saja.

Tapi asu!
 
Orang-orang semakin gencar menjauhkanku dari Carla. Memaksaku minum obat-obat tai kucing itu. Sudah kubilang berkali-kali jika aku tak akan minum obat. Karena obat itu tidak membuatku menjadi lebih baik. Untuk kali ini saja, kenapa tak ada seorang pun yang mendukung keteguhanku? Bahkan Carla.

Pada akhirnya Carla terlalu putus asa dengan hubungan kami yang selalu ditentang. Carla berhenti berontak. Ia minum obat dengan rutin. Aku benci dengan Carla yang sekarang. Ia berubah menjadi manusia yang membosankan. Manusia yang terlalu banyak memikirkan tetek bengek sampai secara sukarela memadamkan perasaannya. Manusia yang terlalu banyak berpikir dan lupa untuk merasa.

Aku tak mengerti lagi. Carla sudah berubah menjadi orang yang tak kukenal. Ia lebih memilih menjadi sosok yang diharapkan ibunya sampai-sampai membunuh Carla yang asli. Pada titik ini aku menyerah. Aku memutuskan untuk pergi dari hidupnya. Aku menghilang saja. Cinta sudah sirna. Kini aku sebatang kara.  
 
Carla (Katie Holmes) touchedwithfire.com
Berangkat dari buku berjudul Touched with Fire: Manic-Depressive Illness and the Artistic Temperament (1992), ditulis oleh Kay Jamison, telah berhasil diolah dengan baik menjadi sebuah film yang memunculkan kisah asmara Marco dan Carla. Touched with Fire garapan Paul Dorio sukses mengemas psikologi, sastra dan seni dalam cerita romance yang menyenangkan sekaligus mengharukan. Film ini didedikasikan kepada seniman, penulis dan musisi pengidap bipolar yang tercantum dalam bukunya Kay Jamison.

Source banner: touchedwithfire.com/

5 November 2016



Dunia psikologi selalu menjadi hal yang menarik bagi saya. Maka wajar jika film A Dangerous Method menjadi film yang membuat saya jatuh cinta kegirangan. Film besutan David Cronenberg ini berani mengangkat kisah pergumulan Carl G. Jung, Sabina Spielrein dan Sigmund Freud dalam layar lebar. Rilis tahun 2011, film yang membicarakan tentang psikoanalisa ini mendapat score 6,5/10 versi IMDB.

A Dangerous Method merupakan film biopic yang berangkat dari semesta Carl G. Jung (Michael Fassbender) yang penuh intrik tentang psikologi, cinta dan seks. Jung adalah seorang dokter jiwa yang menganut psikonalaisa dalam upayanya menyembuhkan pasien yang mengalami gangguan kejiwaan. Salah satu pasien yang harus ia tangani adalah Sabrina Spielrein (Keira Knightley).

Sabrina memiliki gangguan kejiwaan yang serius. Sebelum Sigmud Freud (Viggo Mortensen) mencetuskan pengobatan kejiwaan dengan psikoanalisa, dunia kedokteran masih mempercayai jika gangguan psikis disebabkan oleh syaraf otak yang tidak semestinya. Untuk itu, biasanya mereka melakukan pengobatan dengan cara setrum otak. Berbeda dengan praktek brutal tersebut, psikoanalisa mengobati pasien dengan cara berbincang-bincang.

Melalui perbincangan tersebut, Jung berhasil mengulik masa lalu Sabrina. Diketahui sejak umur empat tahun, Sabrina mengalami tekanan fisik dan emosional yang disebabkan oleh ayah sadisnya. Dipukul, dicambuk, ditelanjangi dan lain-lain. Hal ini mengakibatkan trauma berat bagi Sabrina. Pada akhirnya, Sabrina dewasa diketahui memiliki orientasi seks yang tergolong abnormal, yaitu masokis.

Salah satu teori psikoanalisa yang ditawarkan Freud adalah ranah kajian yang bermain-main dengan alam ketidaksadaran (unconscious). Freud percaya jika setiap manusia memiliki alam bawah sadar yang merupakan dorongan-dorongan yang timbul pada masa kanak-kanak, di mana oleh suatu hal terpaksa ditekan sehingga tidak muncul dalam kesadaran. Pada kasus Sabrina kita tahu jika masa kecilnya mengalami pergolakan fisik dan mental yang begitu kuat. Hal ini ternyata berdampak besar baginya di masa dewasa. Di mana ia memiliki rangsangan seksual dengan cara menyakiti diri sendiri.

Salah satu scene menarik adalah saat mantel yang Sabrina kenakan jatuh dari pundaknya. Jung mengambil mantel itu dari tanah lalu membersihkannya dengan cara memukul-mukul mantel dengan tongkat. Sabrina yang melihat itu langsung panik. Ia mendadak memutuskan untuk pulang. Benar saja, ternyata apa yang dilakukan Jung telah membuat Sabrina sange. Lantas Sabrina menuntasnya gairah seksnya itu dengan masturbasi. Saya yakin, Sabrina dulu waktu sekolah di SDN Bulu Kanthil 1 pasti lari terbirit-birit kalau ada teman sekelasnya yang belagak main perkusi pakai meja.

Masokis sendiri adalah dorongan untuk mempersakiti diri sendiri yang sifatnya patologis. Asal kata ini didapati dari nama seorang penyair roman Austria, L. Von Sacher Masoch. Di mana ia sering menciptakan tokoh yang suka menyakiti diri sendiri. Untung saja Kanjeng Dimas Taat Pribadi itu bukan penyair. Bisa-bisa ia bikin tokoh yang mendapat dorongan seks saat melihat peristiwa penggandaan uang. Tiap jam enam pagi pasti si tokoh pergi ke warung sebelah buat tukar uang seribu jadi dua keping lima ratusan. Sampai rumah langsung onani. Mantap!

Terlepas dari penggandaan uang yang aneh itu, masokis ini pada umunya dibagi menjadi dua kecenderungan. Ada masokis moril, yaitu dorongan yang dimuati unsur-unsur rasa bersalah dan dosa besar, terutama ditujukan pada kekasih atau relasi terdekatnya. Dan satunya lagi ada masokis erotis, yaitu dorongan untuk bersedia menderita kesakitan hebat demi cinta. Dalam A Dangerous Method, Sabrina lebih besar mengarah ke masokis erotis. Maka jangan kaget jika kita nantinya akan melihat si manis Keira Knightley dicambukin pantatnya.

Sabrina dan Jung yang semula hanya sebatas pasien dan dokter pada akhirnya baper juga. Di sini kita bisa menyempurnakan pepatah jawa, ‘witing tresna jalaran saka kulina, kulina mecuti’. Jung yang sudah berkeluarga ternyata bisa goyah. Ia mendapat pengaruh dari seorang psikoanalis bermasalah bernama Otto Gross (Vincent Cassel). Gross adalah orang yang tidak mempercayai mitos-mitos monogami. Baginya, dorongan seks tidak akan pernah selesai meskipun seseorang telah menikah. Maka ia memilih keluar dari jeratan monogami dan melepaskan diri terhadap seks bebas.
"Cambuk aku pakai kesempurnaan cintamu, Mas". (Source: wall.alphacoders)
Pemikiran itu berhasil membuka gerbang kejatuhcintaan Jung terhadap Sabrina. Berhubungan seks jelas mereka lakukan. Di samping itu, bromance yang terjadi antara Jung dan Freud juga tak kalah menarik. Di mana lagi kita bisa melihat dua tokoh besar nan penting itu berbincang seru. Saya yakin nama Freud tak asing lagi karena memang pemikiran-pemikirannya sering dipakai di banyak bidang kajian. Mulai dari psikologi itu sendiri hingga merembet ke sosiologi, antropologi, seni, sastra, dan lain sebagainya. Sedangkan Jung ini paling tidak kita sudah familiar dengan teori pembagian karakter manusia menjadi tiga golongan. Yaitu introvert, ekstrovert dan ambivert.

Sabrina Spielrein yang awalnya memiliki gangguan psikis ini pada akhirnya berhasil disembuhkan. Lebih dari itu, ia malah menjadi ahli psikoanalisa sebagaimana Freud dan Jung. Salah satu keunikan yang dimiliki Sabrina adalah sudut pandangnya tentang psikologi seks yang pernah ia alami sebagai ‘orang gila’. Dalam teorinya, Sabrina berpendapat jika dorongan seks sesungguhnya adalah ego. Di mana untuk mencapai sebuah kepuasan seks, kedua belah pihak harus bersama-sama memenangkan ego.

Sayangnya dalam rezim patriarki kita dihadapkan pada sebuah stigma di mana laki-laki lah yang memiliki kuasa atas seks. Kepuasaan laki-laki dianggap sebagai parameter keberhasilan seks. Seolah laki-laki memiliki pengetahuan dan cara melakukan seks yang lebih baik daripada perempuan. Hal ini tentu meresahkan kaum perempuan. Sebab dalam melakukan hubungan seks akhirnya terjadi ketimpangan. Laki-laki selalu mengambil peran dominan. Padahal perempuan juga boleh mengambil posisi itu. Laki-laki terus-terusan berupaya menuntaskan genjotannya hingga peju-peju meyeruak keluar. Sampai lupa, apakah pasangannya merasakan sakit atau justru belum orgas tapi si batang udah dicabut.

Lagi-lagi psikoanalisa berhasil membuka gerbang pengetahuan ini. Saya ingat bagaimana sejak kecil selalu diajarkan bahwa laki-laki itu selalu lebih, lebih dan lebih daripada perempuan. Baik yang diajarkan dan dibiasakan oleh keluarga atau lingkungan sekolah. Imbasnya, laki-laki maupun perempuan terjebak dalam hegemoni patriarki yang tak pernah selesai. 
Duo pakdhe psikoanalis idaman ibu-ibu arisan Kencana Bakti. (Source: wall.alphacoders)
A Dangerous Method boleh jadi memiliki judul yang terkesan ngeri. Namun, dalam eksekusinya justru kita akan disuguhkan perbincangan berbobot yang mengagumkan. Bisa jadi untuk yang lebih suka film aksi dan horor akan bosan menonton film ini. Sepanjang durasi kita hanya akan disuguhkan tiga orang itu ngobrol-ngobrol. Aktor dan aktris yang bermain dalam film ini memiliki peforma yang luar biasa. Bahkan Viggo Mortensen menurut saya berhasil memberi kesan egois, idealis, cerdas dan berkelas dalam sosok Sigmund Freud. Keira Knightley pun tampil bagus saat menjadi orang gila, bahkan rela memperlihatkan es krim imutnya kepada penonton. Demikian pula dengan Michael Fassbender yang turut sukses menarik perhatian penonton ke dalam semesta Carl G. Jung sebagai poin of view dalam film ini.

Menurut saya A Dangerous Method menjadi penting dan perlu ditonton. Seperti kamu yang tiba-tiba menjadi penting dan perlu dicintai. Meski jika dikejar apa alasan untuk mencintai itu sudah pasti tidak berhasil ditemukan. Sebab semesta bermain dengan cara-cara abnormal. Freud pun sudah tentu kesulitan untuk menafsirkan guratan-guratan angan kita yang tidak pernah selesai. Atau Sabrina dan Jung yang memilih menggerutu iri di balik asyiknya sengatan cambuk yang meronakan pantat ginuk-ginuk.

Tarakdungdes.


Intinya A Dangerous Method ini film yang bagus. Sebaiknya disaksikan dengan kecermatan yang tajam agar tidak bingung. Selamat menikmati filmnya. Makasih sudah menyimak. Cheers.

26 Oktober 2016


Sejak saya memainkan game werewolf di Telegram, terbesit dalam pikiran saya bagaimana jika game ini kemudian diangkat menjadi sebuah film. Dan ternyata Sarik Andreasyan telah melakukannya. Sarik adalah director untuk film Mafiya: Igra na Vyzhivanie (Russian) atau lebih populer disebut Mafia Survival Game. Film yang rilis awal tahun 2016 ini hanya mendapat rate 4,9/10 di IMDB. Syukurlah ada yang bersedia menerjemahkan bahasa Rusia ini ke dalam bahasa Indonesia. Terima kasih kepada translator yang menamai dirinya “Fucxxxer”. Sungguh, penerjemahanmu se-hardcore namamu. Mantap jiwa!

Moskow tahun 2072 menjadi latar dalam film ini. Di tahun tersebut masyarakat Moskow merasa jemu dengan tayangan televisi yang terlalu dibuat-buat. Akhirnya, muncul sebuah tayangan reality show yang menyajikan kematian sesungguhnya. Istilah ‘reality show’ kembali pada pemaknaan kata (reality = kenyataan) yang sebenar-benarnya. Di mana acara itu berani menampilkan pertunjukan yang senyata-nyatanya, tanpa ada omong kosong skenario. Jadi, kalau mati ya mati beneran.

Pertunjukan yang disajikan adalah sebuah game yang mirip dengan permainan werewolf. Jadi ada 12 peserta yang di kumpulkan dalam sebuah ruangan. Dua di antara kedua belas peserta tersebut mendapat peran pembunuh yang disebut Mafia. Sepuluh sisanya adalah warga biasa. Pembagian peran memang sesimpel itu. Tidak ada peran aneh-aneh macam harlot, cupid, kultis, drunker dan lain-lain. Melihat film ini, untuk sesaat saya jadi teringat dengan film 12 Angry Man. Kurang lebih ya seperti itu. Sepanjang film isinya adu bacot. Hanya saja, film MSG lebih unggul secara visual.

Ada beberapa hal yang menurut saya menarik. Salah satunya yaitu kematian. Dalam game ini ada dua cara untuk mati, yaitu dibunuh Mafia atau mendapat vote terbanyak dari warga untuk dieksekusi. Peserta yang jadi korban untuk dibunuh/dieksekusi akan memasuki sebuah dunia Virtual Reality (VR). VR tersebut mewujudkan semesta dari hal-hal yang paling ditakuti oleh peserta. Seperti si Peter yang memiliki phobia terhadap air. Dalam dunia VR ia ditempatkan di tengah laut lengkap dengan hiu-hiu yang mengitari perahu bocornya. Melalui VR tersebut, ia mati di makan hiu. Dan di dunia nyata, ia benar-benar mati. 
 
Moga beliau sempat baca syahadat. (screenshoot)
Hal ini menarik, sebab acara televisi ‘Mafia’ tersebut telah memenuhi kepuasaan penonton, yaitu kenikmatan menyaksikan kematian. Jika mengutip dukun psikoanalisa, Sigmund Freud, kita mengenal yang namanya ‘scopophilia’. Scopophilia ini melibatkan orang lain sebagai objek, dan menjadikan mereka sebagai subjek untuk mengontrol pandangan. Di era 2072, masyarakat Moskow ingin melihat saat-saat orang menjemput ajalnya. Tapi karena mereka tidak bisa sembarangan membunuh orang di dunia nyata, salah satu pelariannya ya dari tontonan televisi. Sayangnya, banyak film atau tanyangan televisi yang menyajikan kematian itu dalam kepura-puraan skenario. Oleh sebab itulah acara televisi ‘Mafia’ ini hadir.

Cara mati dengan melibatkan VR pun tergolong unik dan asyik. Kapan lagi kita bisa melihat orang yang mati dalam ketakutannya sendiri. Ambil contoh saja, si Marie yang memiliki ketakutan terhadap petir. Dalam dunia VR ia berlarian di hutan, sendiri, malam hari, diguyur hujan dan dikejar petir. Ekspresi ketakutan, kebingungan, keputusasaan terlihat jelas dari wajahnya. Hal inilah yang memberi kepuasan bagi para penonton. Fantasi penonton atau ‘voyeuristic fantasy’ muncul dari ruang keingintahuan yang biasanya diawali dengan kata pengandaian seperti ‘what if’. Hal ini juga sering terjadi pada diri saya sendiri.

Saya memiliki ketakutan ‘kecil’ terhadap hamparan dunia luas, seperti gurun atau laut. Saat saya ngecamp di pantai Kesirat bersama teman-teman SMA, saya tak henti-hentinya menahan imajinasi yang justru membuat saya ketakutan sendiri. Pantai Kesirat itu berupa tebing-tebing curam. Kami bangun tenda di tebing. Saat malam tiba dan mau tak mau saya harus melihat luasnya lautan, muncul imaji saya bagaimana jika (what if) dari dalam lautan muncul makhluk asing bertubuh besar seperti ultramen. Bagaimana jika dari balik tebing muncul kepala seukuran gedung MPR. Bagaimana jika dari langit berjatuhan manusia-manusia raksasa bermata satu yang ingin mandi di laut itu. Saat orang-orang mungkin takut dengan penampakan kain putih yang melayang-layang, saya biasa saja. Saya takut dengan sesuatu yang lebih besar dari saya. 
Kurang lebih VR ini bisa mewakili ketakutan saya. Terjebak di gurun dengan monster njir. (screenshoot)
Selain hal di atas, ada lagi yang menurut saya menarik di film MSG. Yaitu tentang keabsolutan sistem. Permainan ‘Mafia’ diatur oleh pihak netral yang berperan sebagai Moderator. Moderator ini bisa menentukan apakah Mafia dibiarkan beraksi atau tidak. Ia juga bisa menentukan apakah vote dari warga dihitung atau tidak. Bisa dibilang kalau moderator ini adalah replika dari Tuhan. Nah, dari hal ini muncul dua tipe manusia, taat pada sistem dan penentang sistem.

Salah seorang yang mencoba untuk menentang sistem adalah Butcher. Ia dipilih oleh Mafia. Mau tidak mau ia harus masuk ke dunia VR. Dunia VR-nya menempatkan Butcher di sebuah gelanggang pertarungan dengan dua algojo bersenjata. Layaknya gladiator, Butcher memberi perlawanan serius terhadap dua algojo itu dengan benda-benda yang ada disekitarnya seperti pasir, batu dan botol minuman. Di sini Butcher mencoba melawan ketakutannya, ia menentang sistem. Memang benar ia berhasil mengalahkan kedua algojo itu. Sayangnya, saat ia berbangga diri, kakinya tersandung batu dan kepalanya jatuh tepat di ujung besi bangunan. Butcher mati.

Tokoh favorit saya adalah Constantine. Ia orang yang jenius. Di dunia nyata ia bekerja sebagai seorang konsultan untuk situasi-situasi krisis. Kemampuan yang sangat berguna dalam permainan ini. Sayangnya, ia memiliki parameter sendiri bagaimana memenangkan permainan ini. 

Cah kemaki Constantine. Irunge ra tertib! (screenshoot)
Di tengah permainan ia mengaku sudah tahu siapa yang berperan sebagai Mafia. Tapi, ia enggan segera mengeksekusi Mafia, sebab jika jumlah pemenang terlalu banyak maka uang hadiah juga akan terbagi terlalu banyak. Si kampret ini mendeklarasikan bahwa dirinya ingin menang sendiri.

Sayangnya, kesombongan itu justru membuat sebagian pemain lain KZL. Constantine mendapat tiga vote saat pemain tersisa delapan. Butuh satu lagi vote dan ia harus mati. Dalam situasi itu tinggal dua orang yang belum melakukan voting, Ivan dan Constantine sendiri. Ivan memilih mengikuti kata hatinya dengan memberi suara untuk Eli. E.. Lha bajinguk! Constantine malah mengambil vote untuk dirinya sendiri. Jan congkak e Constantine iki wuasu tenan og. Sepanjang sejarah permainan ‘Mafia’, ia menjadi orang pertama yang memvote diri sendiri.

Akhirnya, ia memasuki dunia VR ketakutannya, yaitu ‘mati tua’. Ia berlari mengitari tangga yang terpampang banyak cermin. Wajahnya mengeriput dengan cepat. Rambutnya memutih tanpa harus bleaching di salon Sasha. Ia mendekatkan wajahnya ke cermin, lalu terkekeh. Saat sekarat, ia membuat sebuah pengakuan. Ternyata Constantine telah memperdaya sistem. Saat sesi psychological evaluation (dilakukan dua minggu sebelum permainan dimulai), ia berhasil melewati pendeteksi kebohongan dengan memberi pernyataan palsu. Ia tidak takut mati tua. Tapi justru ia ingin mati tua. Begitulah, si jenius waskita ini berhasil mati seperti yang ia inginkan. Piye? Po ra nguanyelke tenan cah siji iki.

Eits! Tidak cukup sampai di situ kecerdikan Constantine. Ternyata ia sudah mengatur jalannya permainan agar hasil akhir dari game ini adil bagi semua peserta yang tersisa. Constantine berhasil membuat sistem jadi kelabakan. Bukan hanya memilih diri sendiri dan menipu pendeteksi kejujuran, si kampret ini benar-benar merusak hasil akhir. Mau tahu bagaimana kelanjutannya? Ketik REG spasi MILF kirim ke 0101 sekarang juga –by presenter kuis Lativi dini hari. Btw, kuis birahi dini hari ini juga harus dibuat filmnya ya. Lativi Reborn!

Sisanya silakan tonton sendiri saja ya, biar lebih mancep! Intinya film MSG ini mengajarkan kepada kita agar terus meningkatkan IPK dan rajin sembahyang. Jangan terlalu fokus menghindari ketakutan-ketakutan, tapi fokus lah pada apa yang ingin kita raih. Jika kita takut mati dalam lembah nista, maka kita akan mati dalam lembah nista. Namun jika kita bertekad mati mulia, maka syahid lah yang menyambut kita. Setiap manusia pasti mati. Kitalah yang menentukan mau suulqotimah atau khusnulqotimah.

Jika kita terjebak pada sistem yang membuat kita lamban, maka berontak sajalah. Jangan takut menjadi berbeda. Jangan membuat waktu menjadi sia-sia. Jangan menimbun penyesalan-penyesalan. Fokus pada keberhasilan, bukan kegagalan. Raih suksesmu sekarang juga! Yes we can! Yes! Yes! Yes! Selamat! Selamat datang di review motivasi. Agar hidup lebih bermakna dan berdikari. Sampai bertemu di lain waktu lagi. Cheers.

Header pict source: cinecitta.de

29 September 2016


Alleycats adalah film action-thriller yang disutradarai oleh Ian Bonhote. Rilis tahun 2016 dan mendapatkan rate rendah dari imdb (4,9/10). Film ini mengisahkan tentang seorang kurir pengayuh sepeda bernama Chris yang tak sengaja melihat peristiwa pembunuhan di sebuah hotel. Melihat peristiwa tersebut, Chris langsung lari dan ia membawa rekaman kejadian yang tersimpan dalam memori di kamera GoPro-nya.

Ternyata orang yang Chris lihat itu adalah seorang pejabat negara bernama Yates dan si korban adalah seorang perempuan yang berprofesi sebagai reporter. Bukannya melapor kepada polisi, Chris yang dibantu teman misteriusnya malah memanfaatkan video rekaman itu untuk memeras Yates. Profesi Chris sebagai seorang kurir memang tidak menjanjikan kehidupan mapan. Dengan alasan kebutuhan ekonomi itulah ia memanfaatkan kesempatan ini meski nyawa taruhannya.

Yates sendiri sebagai seorang pejabat negara berdiri pada strata tinggi dalam lapisan sosial masyarakat. Kekuasaan yang ia genggam membawanya pada titik angkuh yang membutakan dirinya pada realitas. Yates menolak kesepakatan dengan Chris. Ia mengirim orang kepercayaannya untuk menghabisi nyawa Chris.

Memang pada akhirnya Chris meregang nyawa saat mengikuti lomba balap sepeda ilegal. Namun masalah Yates belum berakhir. Orang kepercayaan Yates gagal mendapatkan kameranya Chris. Hal ini membuat Yates semakin risau. Sebab teman misterius Chris mengambil kamera itu terlebih dulu dan memeras Yates dengan nominal yang lebih tinggi.

Sementara itu, kematian Chris membawa kisah haru tersendiri bagi Danni. Danni adalah adik perempuan Chris satu-satunya. Dalam kedukaan tersebut, Danni bersikeras mengusut kematian kakaknya. Ia percaya bahwa kematian kakaknya bukan sebuah kecelakaan semata. Tekadnya ini ternyata menjerumuskan dirinya sendiri pada situasi-situasi yang membahayakan. Ia harus menemukan teman misterius Chris, bersembunyi dari pembunuh suruhan Yates dan membongkar sosok biker misterius yang selalu mengikutinya.

Relasi Kuasa Antara Yates dan Chris

Seperti yang sudah saya paparkan di atas, Yates adalah seorang pejabat negara dan Chris adalah kurir pengayuh sepeda biasa. Bahkan peran Chris dalam lapisan masyarakat pun dipandang sebelah mata. Hal ini divisualkan ketika Danni (yang berprofesi sama dengan Chris) disepelekan oleh polisi. Pengaduan terhadap kematian kakaknya itu tidak ditangguhkan. Polisi itu berkata “cari pekerjaan yang lebih layak lain kali”. Kedua status sosial antara Yates dan Chris ini kerap disebut dengan istilah asymetric relationship (hubungan tidak setara). Yates dengan lingkungan sosialnya yang mewah dan Chris yang dari kalangan bawah, kontras memang, namun mereka memiliki sebuah “hubungan”.

Hubungan yang terjalin pada mereka ini unik. Baik Yates maupun Chris saling memberi tekanan dan keduanya pun sama-sama memiliki ketakutan. Yates menekan Chris melalui anak buahnya yang dikirim untuk menghapus bukti pembunuhan. Bersamaan dengan hal itu, Yates juga memiliki kekhawatiran jika video bukti pembunuhan itu tersebar maka hidupnya bakal hancur. Tidak berbeda jauh dengan Chris yang merasa memiliki kuasa atas Yates karena ia menyimpan rekaman bukti pembunuhan. Dan tak dapat dipungkiri jika Chris juga merasakan ketakutan akan bahaya yang mengancam nyawanya. 


Hal ini mengingatkan saya pada konsep pandangan Federich Nietzche dalam Dawn, atau juga sering diterjemahkan dengan judul Daybreak : Thoughts on the Prejudices of Morality. Menurut Nietzche, rasa takut adalah dorongan negatif yang membuat kita menghindari sesuatu, sedangkan kehendak untuk berkuasa adalah dorongan positif yang membuat kita memperjuangkan sesuatu. Dalam film Alleycats bagaimana Yates dan Chris yang memiliki hubungan tak setara ini saling melakukan represi satu sama lain. Sehingga sepanjang film berlangsung kita akan disajikan pertunjukan orang-orang panik, atau dalam istilahnya Weber kita mengenal imperative control.

Imperative control sederhananya adalah pengawasan yang mengandung perintah. Seperti kalau kita masuk ke suatu ruangan lalu ada peringatan bahwa ruangan tersebut terdapat cctv. Meskipun kita tidak melihat cctv itu ada disebelah mana, kita tetap akan mawas diri karena merasa diawasi. Secara otomatis kita akan melakukan hal-hal yang tidak mencurigakan. Dalam film Alleycats, Yates diwajibkan oleh penasehatnya untuk tidak melakukan hal-hal yang bisa memancing perhatian publik. Seperti pesta malam, mabuk-mabukan, bermain perempuan dan hal-hal negatif lain. Yates dituntut untuk tampil menawan ketika mendapat sorotan kamera dari media. Ia harus mencitrakan dirinya sebagai seorang pejabat yang bersih dan kepala keluarga yang bahagia. Namun, dibalik itu semua sebenarnya ia mengalami depresi yang luar biasa.

Film ini boleh mendapat rate rendah dari imdb, namun bukan berarti kita tak perlu menontonnya. Bukan film yang spektakuler memang, namun masih enak dinikmati. Alleycats ini mengingatkan saya pada film-film yang sering tayang di stasiun televisi swasta ketika saya masih duduk di bangku sekolah. Film yang aman dari adegan seks vulgar dan terjaga dari adegan sadis.

Meski film ini sesederhana itu, namun kita bisa menemukan hal-hal menarik untuk diperbincangkan. Seperti ulasan singkat saya tentang relasi kuasa yang sudah pasti tidak ada pentingnya bagi hiruk pikuk politik di negeri tercinta kita ini. Kekuasaan memang jadi perbincangan yang terus hangat, baik dari Nicholo Machieveli yang menulis kitab diktator ‘Il Principe’ hingga Michael Foucoult yang bergunjing ria tentang relasi kuasa sebagai seorang anti-finalis.
Opo, sih...???!!

Baiklah, cukup demikian review dan celotehan sederhana yang bisa saya tulis. Intinya, kalau mau nonton ya nonton saja. Tidak ya tidak apa-apa, sepertinya film ini tidak begitu sering diperbincangkan di cafe atau warung tenda. Oke gaes, makasih ya sudah membaca ulasan saya ini dengan sabar dan khusyuk. Semoga ada manfaatnya. Kalau teman-teman sekalian pernah nonton film ini, yuk kita obrolkan di kolom komentar. Atau ingin merekomendasikan film rate rendah seperti ini silakan juga tinggalkan pesan di kolom komentar. Sampai jumpa di tulisan saya berikutnya. 

Pict source: alleycatsfilm.com/

8 Agustus 2016



Belakangan ini saya nonton tiga film buatan John Carney, yaitu Once (2006), Begin Again (2013) dan Sing Street (2016). Hebatnya, ketiga film tersebut berhasil meluluhkan hati saya hingga memasukkan nama John Carney sebagai sutradara favorit di antara Steven Spielberg dan Chris Nolan. Tidak seperti kedua sutradara yang saya sebut di atas, John Carney meracik karyanya tanpa cerita rumit dan plot twist serius. Saya rasa Carney ini spesialis film yang melibatkan musik sebagai mainannya.

Sebut saja film Once. Film ini bercerita tentang seorang pria patah hati yang menghabiskan waktunya dengan mengamen di jalanan sekaligus membantu ayahnya bekerja di servisan vacum cleaner. Suatu ketika ia bertemu dengan seorang perempuan penjual bunga. Hari demi hari mereka selalu bertemu dan langsung klop begitu saja ketika membicarakan musik. Melalui percakapan itu pula akhirnya diketahui si perempuan tersebut ahli bermain piano. Keduanya pun mencoba untuk menggabungkan musik yang selama ini mereka mainkan sendiri-sendiri. 

Screenshoot film Once
Merasa ada kecocokan dengan musik yang saling meleburkan itu, mereka bersepakat untuk mengabadikan musik mereka melalui rekaman. Musisi jalanan pun turut mereka rekrut untuk mengisi bagian nada yang kurang. Keseruan membentuk band dan perjalanan dalam proses rekaman ini berhasil dibungkus dengan apik oleh John Carney.

Saya sendiri sampai sekarang masih tidak bisa menentukan film Once ini sebenarnya sedih atau bahagia. Kekuatan utama dari film ini adalah lagu-lagu yang touchable. Serius, semua lagunya ngena banget. Emosi ketika lagu mulai dilantunkan benar-benar sampai di perasaan saya sebagai penonton.

Lagu patah hati dengan lirik “And I, I can’t keep with you. Maybe if you slowed down for me. I could see you’re only telling... Lies, lies, lies. Breaking us down with your lies, lies, lies. When will you learn?” menjadi favorite scene bagi saya. Bahkan saat scene di studio rekaman, pada lirik “ooooo...waaaaaa......” diiringi lantunan musik yang biadab saja sudah cukup terampil mengaduk-aduk kantung mata saya, serasa ingin menumpahkan semua masa lalu yang perih dan sedikit gurih.

Kesederhanaan Once sayangnya agak lenyap di dalam film Begin Again. Sebab, Begin Again bagi saya terkesan lebih pop. Apalagi jika kita melihat Adam Levine turut memeriahkan rentetan cast. Begin Again lebih baik dari segi visual dan kompleksitas cerita. Namun, porsi musik sedikit tenggelam oleh drama cinta.

John Carney kembali mengangkat tema patah hati sebagai tulang punggung Begin Again. Kedua tokoh yang sama-sama mengalami depresi dipertemukan oleh musik. Saya jadi ingat dengan pemikiran teman saya, Bella, yang beropini kalau setiap orang memiliki bilangannya masing-masing. Dan suatu saat bakal bertemu dengan bilangan lain yang klop. Misal, saya memiliki bilangan 6. Suatu saat saya bertemu dengan orang bilangan 4. Lalu kami ngobrol dan tiba-tiba merasa klop. Penjumlahan dari 6 dan 4 adalah 10, anggap saja 10 adalah bilangan klopnya. Semakin jauh dari angka 10, semakin tidak cocoklah kita denngan orang lain. Saya beberapa kali bertemu dengan orang yang baru kenal, chit-chat, lalu merasa nyambung gitu aja. Ada juga yang sudah lama kenal tapi tidak pernah bisa akrab. Mungkin jika saya bilangan 6, dia ada di bilangan 1.

Kira-kira begitulah rumusnya kenapa Gretta (Keira Knightley) dan Dan (Mark Ruffalo) bisa langsung akrab di malam saat mereka pertama bertemu. Rumusan ini tidak harus hubungan pria dan wanita, toh Gretta juga langsung klop dengan anak tunggalnya Dan, Violet (Hailee Steinfeld). Padahal Violet ini anti sosial. Sama bapaknya sendiri saja tidak akrab kok. 

Aseli ini scene kesukaan dah!! (Source: telegraph.co.uk)
Gretta adalah musisi bayangan dibalik suksesnya Dave (Adam Levine). Semacam pacar yang sama-sama berjuang meraih sukses gitu. Malangnya, Dave berselingkuh. Seganteng-gantengnya Adam Levine, pas main film akhirnya jadi berengsek juga. Ditengah kepatahhatian itulah, Gretta bertemu dengan seorang pencari bakat musik bernama Dan. Jika bicara soal musik, Dan tak pernah main-main, keras kepala dan idealis. Label yang kesulitan dengan idealisme Dan akhirnya memecatnya. Uniknya, Dan bertemu dengan Gretta tepat setelah ia dipecat dan juga tepat saat Gretta putus. Apa yang terjadi dengan mantan tentor musik yang bertemu dengan musisi berbakat bisa kamu saksikan dalam film Begin Again.

Masih membawa aura yang sama, John Carney melahirkan karya terbarunya berjudul Sing Street. Film ini menjadikan Dublin sebagai set lokasi dalam film sebagaimana Once. Kesan tenang dan haru berhasil hidup dari musik dan sudut-sudut kota yang mendukung.

Meski demikian keberengsekan film Once tetap tak terbantahkan. Sajian cerita yang diolah dalam film Sing Street tidak beda jauh dari Begin Again. Entah perasaan saya saja, atau memang porsi dramanya terlalu bertele-tele. Sedangkan porsi drama Once sangat singkat dan lugas. Review Sing Street sudah pernah saya tulis di sini.

Selain ketiga film yang saya bicarakan dalam tulisan ini, Carney juga membuat berbagai film lain. Sampai saat ini saya masih memburunya. Sebenarnya ingin membuat tulisan utuh setelah menyaksikan semua film Carney tapi tangan dan pikiran sudah tidak sanggup menahan nafsu nulis. Jika kamu menyukai musik seperti kamu menyukai gebetan yang bertepuk sebelah tangan, berarti kamu bakal suka dengan film Carney.

Cukup sekian yang bisa saya tulis. Terimakasih sudah berkenan mampir. Oiya, jika kamu punya saran film yang berkaitan dengan musik selain film-film di atas, bisa tulis judulnya di kolom komentar ya. Saya tunggu..  
"You know, I wasn't trying to win you over. I was telling you to fuck off." (Gretta)
Source pict: irishtimes.com