20 April 2020


Nuansa Ramadan mulai terlihat dari kaleng biskuit dan toples kurma yang dipajang bertumpuk-tumpuk di minmarket. Banyak produk-produk makanan yang memoles kemasannya dengan ilustrasi ketupat, bulan sabit, serta karakter perempuan berkerudung dan pria dengan peci di kepalanya. Lalu di salah satu sudutnya biasanya tertulis “Edisi Ramadan.”

Gimmick semacam ini makin jamak terjadi. Salah satu gimmick yang membuat saya terpingkal-pingkal adalah bungkus mie instan yang bergambar mangkok kosong. Di dalam mangkoknya terdapat tulisan, “Selamat Menunaikan Ibadah Puasa.” Lucu sih itu, asalkan di dalam bungkusnya jangan kosong juga.

Nuansa Ramadan memang berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Salah satu yang paling kentara adalah menjamurnya orang berjualan makanan di sore hari. Jalanan yang biasanya sepi, bisa mendadak ramai lantaran dibuka tenda-tenda kecil di mana sejumlah warga melakukan transaksi jual beli.

Sebagai orang kantoran yang pulang pukul 5 sore, laju kendaraan saya sangat terdampak oleh aktivitas ini. Jalanan lebar yang biasa saya lalui tiba-tiba menyempit. Orang-orang memarkirkan kendaraannya hingga mengambil sepertiga ruas jalan. Walau saya bermotor sekalipun, ternyata masih sukar bagi saya untuk mengambil jalanan yang lega. Satu hal yang saya takutkan adalah kegagalan saya untuk sampai di rumah tepat waktu.

Baca juga: Manajemen Uang Anak Kos

Saya tidak menyalahkan pedagang maupun pembeli. Mereka berhak untuk mencari nafkah dengan memanfaatkan momentum Ramadan. Lagipula itu memang peluang bisnis yang sangat menjanjikan. Yang saya harapkan adalah adanya pengelolaan tata kota yang lebih baik dalam menghadapi gelombang masa selama Ramadan.

Walau demikian, saya rasa tahun ini saya tidak akan melewatkan detik-detik berbuka puasa di jalanan. Sebab dampak pandemi Covid-19 telah membuat saya tertahan di rumah. Saya bekerja dari rumah dan menjalani swakarantina bersama istri. Otomatis saya tidak akan bermacet-macetan di jalan dengan cemas lagi karena saya bisa berbuka puasa bersama istri tepat waktu.

Ramadan ke Lebaran

Penghujung dari puasa selama 30 hari adalah perayaan Idulfitri. Biasanya pada 10 hari terakhir Ramadan, orang-orang akan memenuhi toko-toko busana untuk memperoleh outfit terbaiknya ketika lebaran. Rutinitas ini akan jauh berubah karena kita tidak diperbolehkan berkumpul untuk mengurangi penyebaran virus corona.

Baca juga: Lebaran dan Hantu Hedonis

Sebagai alternatif, kita bisa berbelanja kebutuhan lebaran secara online. Kalau saya sudah pasti berbelanja di Tokopedia karena selama ini memang itulah satu-satunya e-commerce yang terinstal di gawai saya. Saya sudah mulai berselancar ke berbagai toko. Sudah ada beberapa barang yang ingin saya beli seperti baju koko dan sajadah. Untuk saat ini saya masukkan ke wishlist dulu, nanti setelah gajian baru diangkut.

Lagipula, ada banyak promo yang bisa saya manfaatkan. Seperti Crazy Deals, Brand Deals, Flash Coupon, dan Kejar Diskon yang aktif sejak 1 April 2020. Ada juga Kotak Kejutan yang bisa memberi kita Kupon Undian Grand Prize dan berkesempatan memenangkan mobil, motor, smartphone, emas 1 gram, dan powerbank. Belum lagi di tanggal 27-29 April 2020 juga akan ada promo Gajian Ekstra. Wah, semakin betah saya belanja di Tokopedia.

Selama swakarantina ini, saya telah berkali-kali melakukan transaksi di Tokopedia untuk melengkapi perabot rumah. Selain lengkap, saya juga dimanjakan dengan promo Bebas Ongkir yang sangat membantu saya untuk menghemat pengeluaran.

Saya dan istri belakangan ini mendekorasi ulang suasana rumah agar lebih nyaman. Kami ingin membuat nuansa rumah semi kantor agar kerja-kerja menjadi lebih produktif dan kreatif. Karena sepertinya kondisi pandemi akan berlangsung cukup lama. Oleh karena itu, tempat tinggal yang nyaman akan sangat membantu kita untuk tetap waras.

Yuk, penuhi semua kebutuhanmu di Tokopedia. Apalagi untuk keperluan Ramadan yang sudah di depan mata. Kamu bisa menikmati berbagai promo Ramadan, hadiah, dan berbagai penawaran menarik sejak 1 April hingga 13 Mei nanti. Jadi jangan lupa top up OVO kamu agar transaksi belanja onlinemu lebih praktis!


Header: Nice Guys via Pexels.com

16 Maret 2020



Salah satu perbincangan yang sering muncul ketika menempuh usia 20-an tahun adalah perihal pilihan hidup antara sesuai passion atau tidak. Pada zaman kiwari, kita dituntun untuk bisa menemukan passion sedini mungkin dan syukur-syukur bisa hidup dari itu. Tapi sebelumnya, apa sih passion itu? Dan apakah itu hal yang penting?

Bukan hal yang sulit bagi kita untuk menemukan definisi passion di jagat maya. Untuk memperingkas, aku telah mengambil kesimpulan dari berbagai bacaan bahwa passion adalah suatu minat terbesar dalam diri atas sesuatu hal. Minat artinya ketertarikan; keinginan untuk memiliki. Jadi, ketika kamu tertarik pada sesuatu dan sangat bersemangat untuk memilikinya, maka kamu saat itu sedang berkenalan dengan passion-mu.

Untuk menjawab pertanyaan kedua; apakah passion itu penting? Kita harus melihat terlebih dahulu kebutuhan masing-masing. Terkadang, passion yang kita miliki sulit untuk berkembang karena tengah berada dalam keadaan-keadaan yang terbatas. Sementara untuk bertahan hidup, pilihan yang ada tidak berhubungan dengan passion. Maka bisa jadi pada situasi seperti itu, passion bukanlah yang penting.

Tapi di sisi lain, tidak jarang orang-orang yang passionate justru bisa mendobrak keterbatasan itu. Jika dengan passion kita bisa mengembangkan kualitas hidup jadi lebih baik maka passion harus dilabeli menjadi hal yang sangat penting.

Untuk mendobrak keterbatasan dengan passion memang bukan hal yang mudah. Bahkan mengandung risiko yang tinggi. Tapi itu dulu. Kita bisa dengan cerdik mengatasi hal itu jika dekat dengan yang Namanya FWD Life. Pernah dengar, belum?

Jadi, FWD Life adalah perusahaan asuransi yang “anak muda banget”. FWD Life memanjakan nasabahnya dengan berbagai layanan terpadu dengan fitur-fitur yang menarik dan berbasis digital.

Misalnya layanan FWD MAX, pelopor asuransi jiwa berbasis digital di Indonesia. FWD MAX merupakan aplikasi one-stop solution dengan aneka fitur yang dipakai untuk mencari informasi tentang asuransi, membeli dan klaim asuransi, serta bagi-bagi poin yang banyak untuk ditukarkan dengan layanan lainnya.

Selain itu, FWD Life punya konsentrasi pada gerakan anak muda dan segala hal tentang upaya menjalani passion-nya. Mereka punya perinsip bahwa anak muda harus didorong untuk memperoleh passion sejatinya agar bisa meningkatkan kualitas hidupnya. FWD Life memberi kesempatan bagi anak muda untuk mendobrak batasannya dengan aman dan terjamin.

Perbicangan soal ini memberi angin segar pada saya karena jika banyak anak muda berhasil hidup dengan apa yang mereka minati, pasti ekosistem industri kreatif akan semakin menarik. Sudah saatnya kita menanggalkan stigma bahwa asuransi itu urusan orang tua. Karena stelah terbukti kalau FWD Life punya kecenderungan segmentasi pada anak muda.

Kebetulan, pada 5 Maret 2020, saya mendapat undangan untuk hadir di pesta ulang tahun FWD yang ke-7. Acara ini terselenggara secara private. Dan yang bikin saya bersemangat untuk memenuhi undangan ini adalah hadirnya Sheila on 7 sebagai bintang tamu yang akan menghibur saya malam itu.

FWD Life memang terkenal dengan pesta ulang tahunnya yang selalu menampilkan musisi-musisi besar. Acara malam yang bertajuk Unstoppable Music itu menjadi momen pertama bagi saya untuk menonton So7 secara langsung. Bahkan saya bisa menontonnya dari jarak yang sangat dekat. Puas sekali saya bernyanyi selama satu jam lebih bersama So7 sampai rahang rasanya kram.

Mau dapat previlage seperti ini dan aneka keuntungan lainnya? Cobalah untuk bergabung dengan FWD Life. Cari tahu dulu tentang banyak hal dari mereka melalui laman web FWD. Pelajari seluk beluk mereka dan bergabunglah. Lumayan lho bisa nonton band ternama. Gratis pula.

Akhir kata, dari sekian banyak penyedia layanan asuransi, FWD Life adalah perusahaan asuransi yang paling cocok untuk anak muda sepertimu. Dengan operasional yang berbasis digital, FWD menawarkan pengalaman berasuransi yang lebih aman, menyenangkan, dan mudah. Nah, kalau kamu sudah diasuransikan, pengembangan dirimu untuk meraih passion jadi lebih tenang, deh. Yuk, ber-passion!


Photo by Alexas Fotos from Pexels

1 Maret 2020


Belakangan ini perbincangan soal isu kesehatan semakin mengemuka karena virus corona. Saya senang ketika banyak orang menjadikan isu kesehatan sebagai topik perbincangan mereka, baik di media sosial mapun di dunia nyata. Mau bagaimana lagi, kesehatan adalah komponen penting bagi kehidupan kita. Apalagi melihat bumi yang semakin rentan, saya khawatir penyakit-penyakit baru semakin bermunculan.

Salah satu cara paling sederhana untuk menangkal penyakit adalah dengan menjaga kesehatan. Apa yang bisa kita lakukan untuk menjaga kesehatan? Ada beberapa langkah, seperti menjaga tubuh dan ruangan yang sering kita pakai agar selalu bersih. Sumber penyakit sering bersemayam di tempat yang kotor dan berterbangan di udara yang bau. Jadi pastikan tempat kita yang kita tinggali aman dari ancaman penyakit.

Selain itu, langkah yang tidak kalah penting untuk menjaga kesehatan adalah dengan melakukan olahraga rutin, mengonsumsi makanan dan minuman yang baik bagi tubuh, beraktivitas dan beristirahat yang cukup, serta rutin melakukan pengecekan kondisi tubuh ke dokter.

Mudah diucapkan, susah dilakukan.

Jika kamu berpikir demikian, ya, kita sama. Saya menduga, karena isu kesehatan (di lingkungan saya) bukan jadi topik yang sering diperbincangkan, maka kepekaan saya terhadap langkah-langkah menjaga kesehatan di atas sangat kurang. Misalnya begini, ketika saya hendak makan, healthy food bukanlah pilihan pertama yang muncul di benak saya. Begitu juga ketika saya bangun tidur, saya sama sekali lupa jika punya rencana untuk berolahraga.

Saya merasa sangat bersalah pada diri saya sendiri karena tidak mampu menjaganya. Gaya hidup saya sangat buruk. Maka sering banget saya jatuh sakit. Keinginan untuk memperbaiki kualitas hidup tentu saja ada. Namun nyatanya, mengubah habit tidak semudah menebak lemparan koin. Perlu ada tekad yang kuat, disiplin tinggi, dan daya fokus yang besar.

Nampaknya, saya bukan satu-satunya yang mengalami degadrasi kesehatan seperti yang sudah saya ceritakan di atas. Sebab di masa ini, telah banyak bermunculan program dan teknologi yang dirancang untuk mengatasi masalah-masalah kesehatan. Salah satunya adalah masalah pencegahan dari datangnya penyakit. Teknologi apa yang bisa mengatasi hal ini? Apakah kita bisa mengakses teknologi semacam ini? Atau hanya orang kaya saja yang bisa?

Artificial Intelligent : Sebuah Terobosan Melampaui Antrian



Baru-baru ini, saya mendapat undangan untuk mencoba sebuah teknologi berbasis digital yang dapat membantu menjaga kesehatan kita. Teknologi yang saya bicarakan ini bernama Pulse by Prudential (seterusnya kita sebut “Pulse” saja, ya).

Pulse merupakan aplikasi kesehatan yang bisa dipakai oleh siapapun yang memiliki gawai pintar di sakunya. Pulse berfungsi untuk memanajemen kondisi tubuh kita. Ketika kita tidak enak badan atau menunjukkan sebuah gejala penyakit, kita bisa menggunakan Pulse untuk mengeceknya. Kaum rebahan dan mageran bisa relate banget, kan?

Aplikasi Pulse memiliki beragam fitur yang sangat kita butuhkan.

Pertama; pemeriksaan kesehatan dan pemantauan kondisi tubuh. Dalam fitur ini kita harus mengisi beberapa pertanyaan kuisioner yang nantinya akan direkap dan hasilnya akan menunjukkan kondisi badan kita seperti apa. Fitur ini juga dikenal dengan nama ‘Digital Twin’, yaitu kembaran dari diri kita yang ada dalam aplikasi Pulse. Di situ ada informasi menyeluruh tentang tubuh kita, mulai dari otak, otot, tulang, hingga organ dalam.

Kedua; pemeriksaan gejala penyakit. Misalnya, secara tiba-tiba kepala terasa pusing. Sebelum membeli obat asal-asalan, kita bisa menggunakan Pulse untuk memandu kita agar tahu kita sedang sakit apa. Dalam fitur ini akan dibantu oleh Artificial Intelligent (AI) sehingga tidak perlu antre untuk berkonsultasi dengan dokter. Kedua fitur ini didukung oleh Babylon.

Ketiga; bicara dengan dokter resmi, bisa lewat chat, voice call, dan video call. Jika AI mencurigai kalau penyakit yang kita alami bukan penyakit ringan, maka kita bisa menghubungi dokter-dokter yang tersedia 24 jam. Setelah konsultasi, kita bisa mendapatkan rekomendasi obat, bahkan bisa langsung beli obatnya. Kok mirip aplikasi sebelah? Ya, memang fitur ini berkolaborasi dengan Halodoc yang memiliki layanan konsultasi kesehatan secara daring yang terpercaya di Indonesia.

Keempat; riwayat penyakit, obrolan dengan dokter, dan jenis-jenis obat diarsipkan dengan baik oleh Pulse. Fitur ini juga didukung oleh Halodoc.

Selain keempat fitur di atas, masih ada beberapa detail layanan lainnya. Untuk menggunakan Pulse, kuncinya cuma dua: koneksi internet dan kejujuran ketika menjawab pertanyaan. Jika ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab karena kamu tidak tahu, maka jawab saja: “saya tidak tahu”.

Contohnya begini; kalau Pulse bertanya apakah kamu alergi obat X sementara kamu tidak pernah meminum obat itu dan tidak pernah didiagnonsis alergi terdapat obat X, maka jawab saja ‘tidak tahu’. Hati-hati. Jangan gampang self-diagnose, ya. Kalau kamu tidak jujur dan halu ketika mengisi kuisioner, Pulse akan kesulitan mengenalimu yang sesungguhnya. Jangan sampai ini terjadi.

Download aplikasi Pulse di sini

Nah, saya rasa cukup segini dulu cerita hari ini. Walau tidak bagus-bagus amat, saya harap tulisan ini bisa memberi manfaat untuk kamu yang membacanya. Terima kasih sudah mampir di sini, ya. Mutualan, yuk!


Header: Photo by Natasha Spencer from Pexels

15 Februari 2020


Film drama Indonesia sepertinya punya satu format klise yang sering dipakai untuk memulai sebuah cerita. Biasanya, kisah asmara akan dimulai dari dua tokoh yang baru kenal, lalu pacaran, habis itu ada maslah, kemudian masalah selesai. Tamat.

Plot cerita yang seperti itu menurut saya sangat membosankan sebab sudah kerap dipakai berkali-kali. Bahkan sejak saya masih kecil; sejak saya menonton Cinta dan Rangga. Saya tidak banyak menonton film drama memang. Kebetulan saja beberapa film drama yang saya tonton belakangan ini sudah menggunakan cara bercerita yang berbeda. Termasuk film yang baru banget saya tonton, yaitu film “Toko Barang Mantan”.

Selayang Pandang

Poster Film Toko Barang Mantan
Film Toko Barang Mantan adalah film drama dengan sentuhan komedi yang dikemas dengan sederhana namun sarat makna. Film jebolan production house ternama, MNC Pinture Movie, ini mempertemukan dua aktor berbakat, yaitu Reza Rahadian dan Marsha Timothy sebagai sepasang mantan. Deretan aktor pendukungnya pun juga berperan dengan sangat baik. Hasilnya, film Toko Barang Mantan tidak membuat saya kecewa.

Saya akan sedikit menceritakan kisah dalam film besutan Viva Westi ini. Tenang, sebisa mungkin saya tidak akan spoiler. Kamu bisa membacanya sampai selesai.

Toko Barang Mantan adalah sebuah unit bisnis independen yang diinisiasi oleh Tristan (Reza), dan dikelola bersama kedua juniornya; Rio (Iedil Putra) serta Amel (Dea Panendra). Melalui toko ini, Tristan menjual aneka barang mantan yang merupakan koleksinya sendiri atau dari berbagai orang. Tristan orang yang idealis. Baginya, semua barang yang dijual harus memiliki sejarah yang menarik untuk diceritakan. Semakin tinggi nilai sejarahnya, semakin tinggi pula harga jualnya.

Suatu ketika, Tristan mendapat kunjungan dari mantan terbaiknya, Laras (Marsha). Walau sudah lama tidak bertemu, apalagi punya catatan sejarah yang emosional, namun mereka berinteraksi dengan sangat luwes seperti biasa. Tapi keluwesan itu berubah jadi canggung dan dingin ketika Laras memberi kabar bahwa dirinya akan menikah. Laras kemudian meninggalkan Tristan yang masih campur aduk.

Ketika cerita berjalan beberapa menit sampai sini, saya masih belum bisa menebak mau dibawa ke mana cerita ini. Hal ini yang membuat saya makin antusias untuk menontonnya lebih lama. Ternyata Laras datang kedua kalinya, ketiga kalinya, dan berkali-kalinya ke Toko Barang Mantan hingga akhirnya memberi kabar bahwa ia dan tunangannya punya masalah.

Dari sini baru terlihat konflik bermunculan dengan porsi yang tepat. Mulai dari konflik kecil-kecil hingga kemudian Tristan dan tokoh lainnya dibenturkan pada masalah yang rumit. Sebagai tokoh utama, Tristan harus mengambil keputusan yang tepat di tengah masalah-masalahnya.

Namun, hal itu tidak mudah. Tristan adalah karakter yang mudah marah, slengekan, dan egois. Ia harus menyelesaikan konflik batinnya terlebih dahulu sebelum bisa menangani masalah-masalah di luar dirinya.

Sebuah Kesan

Film Toko Barang Mantan merupakan refleksi bagi kita yang tengah bimbang antara karir, cinta, keluarga, persahabatan, dan diri sendiri. Saya rasa masalah yang mengitari Tristan adalah masalah-masalah yang dekat dengan kita. Sehingga orang-orang mungkin suka dengan film ini karena relevan bagi mereka.

Walau saya juga merasa ada beberapa hal yang relevan tapi bagi saya hal itu bukan lagi menjadi sesuatu yang mengejutkan. Saya lebih tertarik untuk memuji film ini dari penulisan naskah. Menurut saya, naskah ditulis dengan sangat rapi dan jeli menempatkan komedi. Beban masalah, porsi karakter, dan durasi pun disusun dengan tepat sehingga tidak melelahkan bagi saya sebagai penonton.

Penampilan para aktor juga tampak prima. Adanya Reza Rahadian tidak lantas membuat ia paling menonjol. Pemeran lain juga mampu berakting dengan imbang. Dan yang terpenting, tidak muncuk karakter yang kepribadiannya kelewatan aneh. Ada sih, tapi hanya sebagai figuran yang muncul beberapa menit saja sebagai pelanggan Toko Barang Mantan.

Dari dulu saya tidak suka dengan karakter yang berkepribadian lebay; ngomong lebay, berpikir lebay, bergerak lebay, dst. Untunglah di film ini tidak terlalu menonjolkan karakter-karakter seperti itu. Justru tanpa kepribadian lebay seperti itu, sosok Tristan juga bisa tampil komedik, kok.




Akhir kata, saya puas dengan film Toko Barang Mantan. Santapan yang nikmat buat kamu yang ingin menonton film bergenre drama dengan cerita yang tidak terlalu rumit. Walau film ini kental dengan pembahasan soal cinta, tapi kita bisa belajar hal-hal lain seperti persahabatan, karir, dan keluarga. Sebab masalah-masalah itu mungkin jadi masalah yang paling dekat dengan kita, kapan saja dan di mana saja.

Film Toko Barang Mantan bisa kamu tonton mulai 20 Februari 2020 di bioskop langgananmu. Sempatkan dirimu untuk nonton, ya.

Header: Photo by Kokil Sharma from Pexels

27 Januari 2020


Salah satu isu yang sering berkeliaran di lingkaran saya tentang pernikahan adalah soal kesederhanaan acara. Banyak yang ingin menikah dengan pagelaran yang simple, terjangkau, dan intim. Namun seringkali niat itu terhambat oleh campur tangan orangtua dan ketakutan-ketakutan pada ‘kata orang’.

“Kalau nggak pakai dangdutan, nggak pakai janur, nggak ngundang itu-itu apa kata orang nanti?” Sering dengar yang seperti ini, kan?

Mendengarkan pendapat orang lain tentang apa yang harus kita lakukan kadang berguna. Tapi bisa juga malah merepotkan diri sendiri. Bukan karena apa yang orang lain minta adalah sesuatu yang buruk, melainkan sesuatu yang tidak relevan. Kerap kali rasa sungkan membuat kaki kita terjebak pada ekspektasi orang lain. Hingga kita melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu kita lakukan.

Kegundahan dalam memenuhi ekspektasi orang lain ini menjadi pembuka yang manis pada sebuah cerita komedi di film yang baru-baru ini saya tonton, yaitu film “Temen Kondangan”. Putri (Prisia Nasution) adalah seorang selebgram yang galau karena mendapat undangan pernikahan dari mantan. Awalnya, Putri enggan untuk datang. Namun, teman-temannya menyarankan Putri untuk datang, salah satu alasannya adalah ‘apa kata followers nanti kalau nggak datang?’

Sebagai selebgram, Putri merasa hidupnya harus bisa memenuhi ekspektasi para pengikutnya. Setelah mengumpulkan niat untuk berangkat ke nikahan mantan, masalah baru muncul. “Datang sama siapa?” Kalimat itu menghantui Putri. Demi citra baik, mau tidak mau Putri harus mencari temen kondangan walau pada saat itu ia tengah menjomblo.

Perburuan temen kondangan dilakukan Putri dua hari sebelum hari-H. Mulai dari coba nyari jasa wedding crusher, mengajak atasan di tempatnya bekerja, hingga mengajak teman lamanya yang kebetulan bertemu di bar. Apa yang terjadi selanjutnya? Siapa yang jadi temen kondangan Putri?Apakah Putri berhasil datang ke acara nikahan mantan dengan tenang? Atau…

Sebuah Komedi yang Mengasyikkan

poster film temen kondangan
Poster Film "Temen Kondangan" by Cinema XXI
Temen Kondangan merupakan debut penyutradaraan oleh Iip S Hanan yang sebelumnya menyutradarai serial Dunia Terbalik dan Tukang Ojek Pengkolan. Sebagai sebuah karya debut, Temen Kondangan tidak tertinggal secara kualitas jika dibandingkan dengan film drama komedi yang pernah ada di Indonesia.

Dulu ketika belum pindah ke Jakarta, saya dan orangtua suka sekali menonton Dunia Terbalik sebelum tidur. Dunia Terbalik menawarkan cerita yang unik, gimmick yang lucu, dan absurditas yang bikin terbahak-bahak. Ramuan yang telah matang dalam kemasan komedi ini dibawa dengan baik oleh Kang Iip dalam film perdananya.

Temen Kondangan tidak menawarkan kisah cinta yang berat dan rumit. Tapi justru esensi cinta yang sederhana dan dibumbui dengan komedi yang mudah diterima. Di dalam bisokop, saya berkali-kali tertawa hingga terlarut dalam suasana yang mengasyikkan itu.

Kesuksesan film ini juga dipicu oleh penampilan yang baik dari para aktor dan aktris. Selain Prisia Nasution sebagai pemeran utama, ada juga Gading Marten, Samuel Rizal, Reza Nangin, Kevin Julio, dan Olivia Jensen. Karena saya suka hal-hal yang banyol, tentu saja apresiasi yang besar saya berikan pada penampilan Reza Nangin yang berkali-kali membuat saya tertawa. Padahal Reza memerankan karakter yang lugu, serius, dan pemalu. Hal ini menunjukkan bahwa penulisan naskah komedi dikerjakan dengan baik.

Saya suka dengan struktur cerita yang 90% berkutat di dalam acara resepsi. Kejadian demi kejadian, kekacuan demi kekacauan, hingga teka-teki yang terkuak disajikan dalam satu tempat. Dalam Press Screening yang berlangsung pada 24 Januari 2020 di CGV Grand Indonesia, saya mendengar dari Kang Iip kalau proses syuting di tempat resepsi butuh 12 hari untuk menyelesaikannya. Betapa rumitnya mengatur set, kostum, bahkan lighting agar konsisten selama 12 hari. Bukan hanya beberapa karakter saja, tapi juga puluhan (atau mungkin ratusan) ekstras layaknya tamu kondangan pada umumnya.

Jika kamu butuh hiburan pada akhir bulan Januari, maka film Temen Kondangan adalah referensi utama yang saya berikan padamu. Film ini tayang pada 30 Januari 2020 di bioskop-bioskop seluruh Indonesia. Jangan biarkan akhir bulanmu terlewat begitu saja tanpa tertawa di dalam bioskop.

Kalau belum yakin, simak trailer film Temen Kondangan berikut:



Epilog

Undangan pernikahan mantan bukanlah raungan sangkakala yang memanggil akhir hidupmu. Jika tidak ingin datang, maka tidak perlu datang. Jika datang pun tak mengapa. Yang memiliki jawaban dari kemauanmu adalah dirimu sendiri, bukan teman apalagi pengikut Instagram. Karena yang paling mungkin membuatmu bahagia adalah dirimu sendiri.


Header: Photo by Terje Sollie from Pexels