3 Agustus 2019


Umumnya, representasi orang lanjut usia (lansia) di dalam film Indonesia dihadirkan dalam tiga situasi. Yaitu sebagai orang bijaksana, orang kolot, dan sosok mistis.

Ketika memerankan karakter orang bijaksana, golongan lansia dianggap sudah khatam soal urusan kehidupan. Oleh karenanya, mereka seringkali muncul sebagai penasehat bagi karakter utama yang biasanya jauh lebih muda.

Jika sebagai orang kolot, kita bisa menemukan sosok lansia sebagai orang yang menyebalkan, berpikiran tertutup, dan keras kepala. Biasanya kelompok ini diberi peran untuk menyusahkan karakter utama atau bisa juga muncul sebagai pemicu tawa dengan menjadikan kekolotan mereka untuk diperolok.

Nah, yang terakhir adalah sosok lansia sebagai sosok mistis. Kita bisa dengan mudah menemukan sosok lansia sebagai ahli spiritual, dukun, bahkan hantu gentayangan. Dalam posisi ini, peran lansia bisa jadi pemecah masalah atau justru pusat dari segala masalah.

Dengan melihat peran-peran di atas, saya menyadari jika industri perfilman kita ternyata menyuburkan stigma terhadap golongan lansia. Bahwa lansia merupakan karakter yang rigrid sehingga peran yang muncul tidak banyak mengelaborasi sisi lain dari lansia.

Stigmatisasi tersebut seolah ingin menjauhkan jarak antara lansia dengan golongan muda. Misal, jika dalam sebuah produksi film terdapat anak muda yang gegabah, maka muncullah lansia yang bijaksana. Jika anak muda sebagai orang yang pintar, maka lansia harus kolot. Jika anak muda suka hura-hura, maka lansia harus taat agama. Jika anak muda acuh terhadap nilai-nilai tradisi, maka lansia harus menjaga nilai-nilai tersebut seperti yang biasa kita temui di film horor di mana sekelompok remaja diteror sosok gaib karena merusak benda-benda kramat.

Munculnya jarak seperti yang disebut di atas menjadi bermasalah karena konten yang disajikan mensigmatisasi golongan lansia di hadapan penonton yang mayoritas bukan lansia. Saya pernah melakukan penelitian sederhana soal ageisme (diskriminasi usia) yang kerap terjadi di media. Dalam wacana yang serupa itulah, menurut saya film-film di Indonesia masih kurang inklusif bagi lansia.

Representasi Lansia dalam Film Mahasiswi Baru


Istilah “lansia” yang merupakan akronim dari “lanjut usia” sebenarnya memiliki makna yang netral. Namun, stigmatisasi terhadap mereka membuat istilah lansia menuai kesan yang kurang baik. Lansia sering dilekatkan pada stereotip soal ketidakberdayaan, tidak menyenangkan, merepotkan, kasihan, dan lain sebagainya.

Namun, bagaimana jika stereotip tersebut disangkal oleh Monty Tiwa dalam film terbarunya?

Saya hampir tidak percaya bahwa ada film Indonesia yang menyelesaikan PR soal diskriminasi usia di industri perfilman kita. Film yang saya maksud adalah Mahasiswi Baru.

Film Mahasiswi Baru berkisah tentang seorang lansia yang ingin berkuliah di sebuah universitas dengan jurusan Ilmu Komunikasi. Orang ini kita kenali dengan nama Lastri (Widyawati). Di usianya yang senja, Lastri memulai kehidupan kampusnya dengan berbagai drama karena referensinya soal dunia perkuliahan masih tertinggal di era Orde Baru, mungkin.

Sosok Lastri sebagai lansia sekaligus mahasiswi baru, ternyata menimbulkan berbagai chaos di kampusnya. Lastri tidak sendiri. Ia ditemani oleh Dani (Morgan Oey), Sarah (Mikha Tambayong), Erfan (Umay Shahab), dan Reva (Sonia Alyssa).

Penggambaran Lastri di film Mahasiswi Baru menurut saya cukup menarik. Sebab, ia dipresentasikan sebagai lansia dengan kompleksitas seperti orang-orang pada umumnya. Lastri juga mengalami kasmaran, pertengkaran keluarga, perlawanan kehendak, kesedihan, rasa bersalah, dan lain sebagainya yang selama ini jarang disematkan pada karakter lansia.

Selain itu, film ini juga dimanfaatkan dengan baik sebagai sarana menyampaikan kritik sosial. Bocoran sedikit, ya, yaitu ketika Dekan Khoirul (Slamet Rahardjo) memarahi Erfan, begini: “Tahu apa kamu soal demokrasi? Beda pendapat dikit saja sudah main fisik.” Dyarrr.

Secara keseluruhan, Mahasiswi Baru merupakan film bergenre drama komedi yang patut kamu tonton di bulan ini. Jika kamu jarang notnon bareng orangtua, maka saya merekomendasikan film ini untuk kamu tonton bareng orangtua masing-masing karena film ini ramah bagi siapapun dengan usia berapapun.

Masih penasaran? Belum yakin? Silakan tonton dulu trailernya, ya.


Sumber video: Official MNCP Pictures

Kamu bisa menyaksikan film Mahasiswi Baru mulai 8 Agustus 2019 di bioksop termurah favoritmu. Komedinya tidak cringe, kok. Sepanjang film saya sangat menikmati dan bisa tertawa lepas. Sampai-sampai saya lupa menenggak air minum karena saking asyiknya mengikuti kisah Lastri.

Header: Photo by Huỳnh Đạt from Pexels

26 Juli 2019



Saya pernah mengalami sakit mata yang teramat serius. Saat itu saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Saya tidak ingat berapa usia saya kala itu, tapi saya tidak pernah lupa bagaimana masa-masa itu teramat menyakitkan bagi saya dan teramat menyibukkan bagi ibu saya.

Entah sudah berapa banyak biaya yang dikeluarkan orangtua saya untuk membayar ongkos berobat. Namun, tidak ada hasil yang memuaskan. Penyakit mata ini terjadi tidak hanya dalam hitungan hari. Tapi bulan. Apa yang saya rasakan saat itu?

Dokter bilang, mata saya ini alergi debu. Sehingga setiap keluar rumah saya harus menggunakan kacamata yang tidak ada celah di berbagai sisinya, mirip seperti kaca mata renang. Lalu setiap bangun tidur saya harus membersihkan ‘belek’ yang menggumpal keras di kelopak mata saya. Kelopak mata saya terasa sangat lengket yang membuat saya tidak bisa membuka mata. Untunglah ibu saya setiap pagi menyediakan air anget dan kapas agar saya bisa membersihkan belek-belek itu.

Meski saya tidak keluar rumah sekalipun, mata saya sering terasa panas dan perih. Kalau saya berkaca, saya bisa melihat warna merah muncul di sudut kanan dan kiri mata saya. Kalau ditanya lagi apa yang saya rasakan. Ya rasanya sakit. Kalau ditanya bagaimana perasaan saya. Ya sama. Rasanya sakit. Bahkan saya pernah berpikir kalau saya akan kehilangan penglihatan untuk selamanya.

Sembuh Total?

Klinik kesehatan di dekat rumah saya selalu menjadi langganan tiap anggota keluarga saya sakit. Tapi kali ini, kami harus kecewa. Berbulan-bulan mata saya tidak sembuh. Padahal sekali berobat bisa kena tarif 100-200ribu. Angka yang tidak kecil di masa-masa awal reformasi itu.

Orangtua kemudian mencarikan pengobatan alternatif buat saya. Entah apa namanya, yang jelas pada saat itu saya diberi salep yang harus dioles di mata setiap hari. Pada mulanya saya skeptis. Soalnya sudah berbagai jenis obat tetes mata yang saya pakai tetap tidak mempan. Namun saya tidak punya pilihan lain. Saya harus mencoba salep ini atau mau sakit selamanya.

Beberapa hari saya rutin menggunakan salep tersebut. Awalnya perih banget memang. Tapi lama-lama mata saya terasa lebih enteng dan cerah. Tidak sampai satu bulan, mata saya sembuh. Alhamdulillah. Apakah sembuh total? Hmm… tunggu dulu.

Meski sudah tidak terasa sakit lagi, namun daya penglihatan saya memburuk dengan drastis. Sejak kelas 6 SD, saya sudah tidak bisa lagi melihat dengan jelas objek-objek yang jauh dari mata. Saya rabun jauh. Hingga sekarang.

Sempat Kambuh Lagi?

Source: Insto
Karena waktu itu saya masih belia, saya tidak ingat benar nama penyakit yang saya alami. Hal ini menyulitkan saya untuk memahami keadaan mata saya sebenarnya. Sebab, beberapa kali mata saya sering merasa sepet, pegal, dan perih.

Tentu saja, saya tidak ingin kejadian di masa lalu terulang kembali. Saya harus tahu tentang apa yang terjadi pada mata saya dan bagaimana cara mengatasinya.

Saya terbantu dengan internet untuk mencari tahu hal ini. Jika melihat tanda-tanda yang terjadi seperti mata kering, mata sepet, mata pegel, mata perih, dan mata lelah persis dengan kondisi saya, maka sebenarnya saya mengalami gejala mata kering.

Apakah kamu pernah mengalami gejala mata kering? Mata kering bukan jenis penyakit yang langka. US National Library of Medicine National Institute of Health (NCBI) menyatakan bahwa sekitar 60 juta orang di dunia ini pernah mengalami mata kering. Jadi jangan khawatir. Pasti metode penyembuhannya selalu diperbarui untuk mendapatkan hasil yang paling maksimal.

Setelah mengetahui bahwa saya mengalami gejala mata kering, bukan kambuh, saya segera mencari obatnya. Kali ini tidak perlu keluar banyak biaya seperti yang sudah-sudah. Saya cukup jalan kaki ke minimarket terdekat lalu beli Insto Dry Eyes. Jenis Insto ini secara spesifik mengobati mata kering. Berbeda dengan Insto Reguler yang lebih cocok dipakai untuk mengobati iritasi pada mata.

Obat tetes mata menjadi barang yang wajib saya bawa selain obat masuk angin. Sebab gejala mata kering bisa datang kapan saja. Misalnya ketika kita terlalu sering menatap monitor, terkena AC, atau lupa berkedip. Tapi saya sudah tidak khawatir lagi jika serangan datang. Bye mata kering!

Sebagai pelajaran kita bersama, ya. Kalau mata terasa sepet, pegal, dan perih itu berarti tanda-tanda mata kering. Sebaiknya segera diobati sebelum makin parah nantinya. Saran saya sih pakai insto dry eyes yang bisa diperoleh dengan mudah. Kalau tak kunjung sembu segera berobat ke dokter, ya.


Header: Photo by Sharon McCutcheon from Pexels

11 Juli 2019


Dari tahun ke tahun, industri pariwisata Indonesia terus mengalami peningkatan. Kita bisa melihatnya dari segi promosi hingga makin bertambahnya destinasi. Salah satu sektor yang sangat terpengaruh oleh badai wisata ini adalah sektor perekonomian lokal. Di Solo, misalnya.

Kota kecil di Jawa Tengah ini sangat termotivasi untuk memajukan perekonomian lokal melalui sektor wisata. Warga berduyun-duyun melestarikan produk kebudayaan mereka sebagai magnet pariwisata. Kita bisa menemukan banyak benda-benda tradisional sebagai komoditas wisata, batik misalnya. Atau makanan khas Solo yang resepnya sudah bertahan hingga ratusan tahun yang dijual di sekitar lokasi wisata.

Warga Solo menyadari bahwa lokasi wisata tidak pernah sepi. Setiap hari selalu berdatangan orang-orang yang baru mereka temui. Orang-orang inilah yang menjadi pangsa pasar mereka. Sehingga menjual produk-produk budaya adalah bisnis paling masuk akal untuk menghidupi kebutuhan mereka sehari-hari.

Gambaran di atas merupakan contoh sederhana dari berkembangnya perekonomian lokal akibat dari industri pariwisata yang kian maju. Selain itu, ada juga jenis bisnis lain yang saling menopang dengan industri pariwisata. Yaitu, bisnis perhotelan.

Mobilitas wisatawan yang tinggi harus ditunjang dengan persediaan tempat singgah yang nyaman dan terjangkau. Peluang pasar yang besar ini sangat sayang untuk diabaikan. Oleh karenanya, bisnis perhotelan juga menjadi pilihan usaha yang masuk akal di era sekarang.

Hasil riset Sivadasan 2015 menyebutkan bahwa Indonesia saat ini menduduki peringkat 42 dari 136 negara di dunia sebagai negara dengan daya saing tinggi di sektor pariwisata. Angka ini perlu disambut dengan pemanfaat teknologi yang memadai untuk melejitkan daya saing kita. Tentu saja kita akan bicara soal teknologi digital.

Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, industri perhotelan adalah bisnis yang menjanjikan di tengah geliat pariwisata Indonesia. Meningkatkan levelnya dengan transformasi digital adalah cara yang paling jitu saat ini.

Kita bisa menengok Airy, misalnya. Bagi pemburu penginapan murah, nyaman, dan bersahabat pasti akrab dengan perusahaan hotel satu ini. Airy merupakan startup yang muncul sebagai virtual hotel operator yang mudah diakses dan dijangkau dari berbagai kalangan.

Misalnya, kita bisa dengan mudah menemukan letak hotel Airy terdekat melalui aplikasi yang terpasang di gawai kita. Ketika check-in pun, Airy menyediakan virtual check-in mandiri di resepsionis yang bisa diakses secara digital dengan mudah dan cepat. Airy memahami bahwa digitalisasi adalah bahasa universal yang dibutuhkan warga kekinian.

Bagaimana Airy Berdampak Pada Pemberdayaan Ekonomi Lokal?

Pada 3 Juli 2019, saya berkesempatan untuk hadir dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan oleh Airy Indonesia dan KataData. Diskusi ini bertajuk, "Memajukan Perhotelan di Era Digital untuk Pemberdayaan Ekonomi Daerah".

Diskusi ini lebih banyak memperbincangkan soal aspek ketenagakerjaan. Keterkaitannya dengan perhotelan adalah bagaimana Airy menjawab tantangan kebutuhan tenaga kerja melalui program Airy Community.

Hasil survei yang dilakukan KataData terhadap 165 peserta Airy Community menunjukkan bahwa tenaga kerja Airy 68% tidak memiliki latar belakang perhotelan. Tamatan SMA/SMK (non-pariwisata) menduduki latar pendidikan tertinggi, yaitu sebesar 51%. Angka ini menunjukan betapa perlunya pelatihan ketenagakerjaan bagi mereka.

Saya pun tergelitik untuk menanyakan kepada narasumber soal peluang jenjang karir bagi jebolan Airy Community. Mereka menyatakan bahwa program pelatihan tersebut bukan hanya dipersiapkan sebagai pegawai Airy semata. Namun, bisa juga sebagai modal untuk melanjutkan ke sekolah perhotelan profesional dan Airy Community sangat mendukung peserta yang memilih bidang perhotelan sebagai karir mereka.

Anak-anak Warung Blogger berfoto setelah sesi diskusi selesai
Jadi, buat kamu yang sedang membaca tulisan ini dan masih galau dengan pilihan karir karena merasa tidak ahli dalam berbagai hal. Percayalah, saya juga mengalaminya hingga suatu hari saya menyadari ada sesuatu yang bisa saya tekuni untuk hidup. Tapi jika kamu belum menemukan hal itu, mungkin program Airy Community layak kamu coba.

Kesadaran akan perkembangan pariwisata di Indonesia sebaiknya kita tingkatkan. Terutama bagi kamu yang melihat berbagai peluang bisnis di sini. Ayo kita terlibat dalam pemberdayaan ekonomi lokal untuk mendukung kesejahteraan warga. Insya Allah, saya dan istri punya rencana untuk membangun usaha artshop atau lucu-lucu store (belum sampai titik sepakat, sih. Haha) sebagai wujud keterlibatan kami. Doakan segera rilis, ya.

Terima kasih sudah membaca sampai selesai. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya.

Header: Photo by Pixabay from Pexels

27 Mei 2019


Negeri ini selalu menyelenggarakan tradisi tahunan setiap kali lebaran tiba. Kita menyepakati istilah 'mudik' untuk menunjuk perihal ini. Mudik memiliki arti, "berlayar ke udik (hulu sungai)" yang pada konteks tersebut merujuk pada aktivitas seseorang yang pulang ke kampung halaman. Istilah ini kemudian makin populer dan terus kita pakai hingga kini, khususnya pada momentum lebaran tiba.

Bagi saya, ini adalah kali kedua saya tidak pulang kampung. Tahun lalu saya tidak mudik karena ingin merasakan lebaran di ibu kota. Tahun ini, batal mudik karena kehabisan tiket. Sebenarnya Tiwi dapat tiket mudik gratis dari sponsor. Namun sayang, tiket dibatalkan ketika hari sudah mendekati lebaran.

Ngomong-ngomong soal mudik gratis, Kementrian Perhubungan (Kemenhub) tahun ini kembali menyelenggarakan mudik gratis bagi yang membutuhkan. Pendaftaran mudik gratis bagi moda bus sudah dibuka sejak 20 Maret 2019. Sedangkan moda kereta api dibuka sejak 12 Mare 2019. Untuk saat ini baru transportasi darat yang mendapat keistimewaan mudik gratis.

Dari tahun ke tahun, Kemenhub terus berupaya meningkatkan pelayanan mudik gratis ini. Jika pada tahun lalu kota tujuan mudik ada 32, maka pada tahun ini meningkat hingga 40 kota. Demikian pula dengan kuota truk pengangkut sepeda motor yang naik 30 truk terhitung ada 70 truk pada 2018 dan 100 truk di tahun ini. Degan begitu, diharapkan 3.500 sepeda motor bisa diangkut menuju kota tujuan para pemudik.

Konsentrasi Kemenhub perihal mudik terbilang sudah cukup baik. Mulai dari pelayanan, fasilitas, hingga kesiapan dan antisipasi terhadap berbagai hal yang mungkin saja terjadi sudah terancang dengan baik. Hal ini saya yakini ketika berdiskusi bersama Bapak Budi Karya selaku Menteri Perhubungan Indonesia saat ini.

Buka Bersama Kemenhub Ngobrolin Mudik

Acara diskusi ini merupakan salah satu agenda buka bersama yang diselenggarakan oleh Kemenhub di Greenhouse Coworking Space and Office, Multivision Tower, Jakarta Selatan, pada Jumat, 24 Mei 2019. Acara ini dihadiri oleh sejumlah bloger, vloger, dan influencer yang kekinian, membuat suasana buka bersama terasa hangat dan akrab.

Suasana bukber yang serba putih.
(dokumen pribadi)
Bukber sekaligus diskusi ini mengangkat tema "Mudik Bareng Asyik Lancar" yang sesuai dengan jargon Kemenhub dalam menyambut lebaran tahun ini. Bapak Budi Karya, sebagai narasumber utama, menjelaskan visinya dalam memfasilitasi mudik bagi masyarakat. Yaitu, mudik "bareng", mudik "asyik", dan mudik "lancar".

Kemenhub mengharapkan momentum lebaran ini mampu membuat masyarakat merasakan suasana kumpul keluarga. Asas gotong royong juga ingin dibangun antar pemudik, sehingga "mudik bareng" dapat dilakoni dengan baik. Maka wajar saja jika Kemenhub bertekad memberangkatkan sejumlah pemudik secara gratis.

Lalu "mudik asyik" di mana perjalanan mudik diharapkan mampu membawa nuansa nyaman dan aman bagi pemudik. Sejumlah rest area juga telah diperluas jangkauannya, sehingga para pemudik yang kelelahan dapat beristirahat di tempat yang tepat. Tidak lupa sejumlah tim medis telah dipersiapkan di beberapa lokasi guna menangani hal-hal yang tidak diingankan.

Selanjutnya bicara soal perjalanan jauh tentu harapan semua orang adalah kelancaran. Pasti menyebalkan jika terjebak kemacetan ketika mudik. Maka Kemenhub telah menerapkan rute dan infrastruktur jalan yang baik agar para pemudik dapat melintas dengan lancar sehingga "mudik lancar" bukan hanya sekadar slogan saja.

Hal-Hal yang Harus Diperhatikan Saat Mudik

Melalui kesempatan bukber itu pula, Bapak Budi Karya memberi himbauan kepada para pemudik untuk memperhatikan beberapa hal, di antaranya:

- Sebaiknya tidak menggunakan motor untuk mudik. Mengapa? Tentu saja alasannya adalah keselamatan. Jadikan sepeda motor sebagai pilihan terakhir saat hendak bermudik. Kecuali kalau kampung halamannya cuma selemparan kancut.
- Barang bawaan jangan berlebihan. Pulang ke kampung halaman memangnya butuh berapa hari, sih? Meski banyak barang penting yang mesti di bawa, namun pada hari H jangan sampai terlalu banyak membawa itu semua.
- Patuhi peraturan, baik bagi pemudik dengan alat transportasi umum maupun transportasi pribadi.
- Kenali kondisi diri. Ini penting! Jangan terlalu memaksakan diri jika memang tubuh sudah mencapai batasnya. 
Santainya Budi Karya memaparkan soal mudik.
(dokumen pribadi)

Nah, itu saja kiranya yang bisa saya ceritakan soal mudik sebagaimana yang dibahas dalam ajang buka bersama Kemenhub. Acara seperti ini sangat menyenangkan bagi saya, sebab ada diskusi yang menarik selain dilengkapi dengan tausyiah bersama Ustad Komaruddin dan nobar vlog Pandji Pragiwaksono X Budi Karya. Sebagai tambahan informasi: hidangan buka puasanya enak! Hehehe.

Header Photo by Elviss Railijs Bitāns from Pexels

24 Mei 2019


Memasak. Siapa sih yang tidak suka aktivitas satu ini?

Ya, pembukaan klise seperti itu mari kita tinggalkan dulu. Saya akan memulai tulisan ini dengan sebuah kenikmatan hidup yang bisa kita peroleh dari makanan bernama agar-agar.

Agar-agar (Agarosa) yang saya ketahui adalah makanan berupa gel yang diolah dari rumput laut atau alga. Memiliki tekstur kenyel-kenyel, mudah lumat di mulut, dan enak bagi segala usia. Makanan ringan satu ini sering muncul di segala kesempatan, baik itu sebagai hidangan buka puasa, hidangan pengajian, hidangan kepada tamu, dan masih banyak lagi.

Agar-agar merupakan makanan yang baik bagi hidup kita. Mengapa demikian? Melalui situs doktersehat.com, saya menemukan beberapa khasiat agar-agar, seperti:

1. Agar-agar adalah skincare yang bener-bener care sama kamu. Sebab, di dalam agar-agar terdapat asam amino alami yang bermanfaat untuk pembentukan sel kulit tubuh dan ada kandungan collagen untuk melawan tanda-tanda penuaan. Agar-agar juga diyakini bisa mengurangi berbagai masalah kulit, salah satunya adalah jerawat.

2. Menu dessert yang ramah buat program diet. Bagi kamu yang sedang khawatir dengan ke-endud-an, jangan khawatir. Sebab, agar-agar yang rendah kalori ini dapat mempertahankan berat badan dan mempelancar pencernaan.

3. Jantung sehat dan halau kolestrol jahat. Makanan yang kaya akan karbohidrat dan vitamin B ini cocok dimakan seusai berolahraga karena membatu meningkatkan sistem imun pada tubuh. Dipercaya, agar-agar mampu melawan kolestrol dan mencegah resiko serangan jantung.

4. Anti botak-botak club! Yak, buat kamu yang cemas dengan masalah rambut, terutama kerontokan. Agar-agar bisa bisa membantu mengatasi itu karena merupakan salah satu sumber asam folat.

Nah, itu dia empat poin kelebihan agar-agar yang bisa bikin kamu ceria. Agar-agar menurut saya, cocok dihidangkan sebagai menu buka puasa. Karena makanan ini mudah lumat di mulut, cepat habis, sekaligus memberi rasa kenyang. Tentu cocok banget buat santap buka puasa agar kita bisa segera melaksanan ibadah maghrib tepat pada waktunya.

Pada masa Ramadan kali ini, saya membuat agar-agar dengan kreasi yang tak biasa. Saya mengandalkan Skippy Peanut Batter sebagai elemen rasa yang utama. Mau tahu bagaimana cara bikinnya? Simak resep berikut ini:

Bahan
- 1 sachet ramuan agar-agar instan
- Roti tawar
- Selai Skippy (saya menggunakan Skippy Peanut Batter yang creamy)
- Gula
- Air

Alat
- Panci
- Cetakan
- Pengaduk

Cara Memasak
- Rebus air
- Tuangkan adonan agar-agar dan gula sesuai firasat kamu
- Aduk-aduk terus hingga pegal, eh, hingga mendidih
- Masukkan selai Skippy Peanut Batter sambil terus mengaduk
- Aduuuukk terus seperti saat kamu kepoin instagram gebetan
- Sambil ngepoin, siapkan potongan roti ke dalam cetakan
- Tuang rebusan ke dalam cetakan setelah selai Skippy berwujud seperti bulir-bulir wijen
- Diamkan hingga agar-agar mengeras
- Agar-agar Kacang ala Skippy siap dihidangkan!

Bahan-bahan sederhana bikin Agar-agar Skippy.

Roti yang dipotong kecil sebagai isian agar-agar.

Menuangkan rebusan ke dalam cetakan.

Lihat tuh ada bulir-bulirnya. Itu Skippy!
Selama proses pengendapan ini kamu mesti hati-hati sama semut-semut nakal. Kalau mau dimasukkan ke dalam kulkas setidaknya jangan langsung dimasukkan ketika air masih panas-panasnya.

Bagaimana hasilnya?


Agar-Agar Kacang Ala Skippy siap disantap!
Resep sederhana ini bagiku cukup berhasil! Rasa agar-agar benar-benar berpaling jadi kekacang-kacangan. Tekstur padat Skippy sebagai selai jadi hilang begitu saja, melebur dengan agar-agar yang kenyal dan lembut. Jadi gampang melumatnya.

Nah, bagian roti bikin setiap gigitan lebih berasa dan mengenyangkan. Cocok banget sebagai hidangan buka puasa, apalagi buka puasa bareng keluarga atau teman-teman sejawat. Kamu bisa coba resep ini kapan saja karena caranya yang praktis, bahan-bahannya mudah ditemukan, dan tidak butuh skill sekelas Master Chef untuk membuatnya.

Demikian resep Agar-agar Kacang ala Skippy kali ini. Silakan kamu mencobanya jika berkenan. Atau kamu punya resep sederhana nan menarik lainnya? Ceritakan resep kamu di sini, yuk!

Header: Buenosia Carol via pexels.com