8 Desember 2019



Kejenuhan pasti datang ketika kita menjalani hidup dalam lingkaran kegiatan yang dikerjakan berulang-ulang. Kegiatan itu bisa jadi kerja, kuliah, atau hal-hal lain yang mau tak mau harus kita kerjakan untuk membuat hidup kita berarti. Datangnya rasa jenuh menjadi alarm bagi hidup kita bahwa rutinitas harus direhatkan sejenak. Lalu tenggelamkanlah diri kita pada kegiatan yang membawa semangat dan keceriaan.

Kegiatan apa yang bisa dilakukan ketika kita sedang berada di titik jenuh? Tentu saja ada banyak pilihannya, namun untuk kali ini saya akan membicarakan soal “traveling”.

5 Destinasi Wisata Super Prioritas.

Berada di satu tempat yang sama berulang-ulang bahkan hampir setiap hari akan membuat kita super bosan, bukan? Untuk itulah, selain mengisi kegiatan di luar pekerjaan, saya rasa perlu juga keluar dari tempat yang sering kita datangi. Jika kamu setuju, lekaslah packing lalu kita traveling!

Menentukan destinasi wisata mungkin akan membutuhkan waktu yang lama. Selain harus sesuai dengan budget, faktor kepuasan ekspektasi juga jadi pertimbangan. Misalnya begini, ketika hendak berlibur ke sebuah pulau, apa sih ekspektasinya? Pemandangan indah? Bersih? Fasilitas yang memadai? Bahkan, akomodasi yang mudah dijangkau?

Ekspektasi-ekspektasi itu kadang juga perlu dicatat, tidak cuma daftar oleh-oleh saja yang dicatat. Setelah berekspektasi, tahap berikutnya adalah mewujudkan semua ekspektasi itu agar liburan terasa lebih memuaskan.

Saya tidak perlu mengulas panjang lebar soal destinasi wisata alam di negeri ini, kan? Mulai dari gunung hingga pantai, dari museum hingga candi, semua bisa dinikmati tanpa harus repot-repot mengurus passport karena semuanya sudah ada di sini. Kalau begitu, mulai dari mana dong treveling-nya?

Pada tulisan kali ini, saya akan membawa kamu ke 5 destinasi wisata super prioritas yang sedang digembor-gemborkan oleh pemerintah. Kelima destinasi wisata yang dimaksud adalah Danau Toba (Sumatra Utara), Borobudur (Jawa Tengah), Mandalika (Lombok Tengah), Labuan Bajo (NTT), dan Likupang (Sulawesi Utara). Di antara kelima destinasi wisata super prioritas ini, mana yang mau kamu kunjungi?

Kalau saya pribadi akan lebih memilih ke Mandalika atau Likupang. Maklum, saya aquarius, golongan darah AB, dan weton Senin Pahing, jadi Sukanya yang tidak sering dibicarakan orang-orang. Sepemantauan saya, belakangan ini Labuan Bajo sedang marak bermunculan di kronologi linimasi Instagram saya. Sedangkan Borobudur dan Danau Toba sudah seringkali jadi bahan perbincangan di kelas sejarah. Maka saya pilih yang paling asing di telinga saya, yaitu Mandalika dan Likupang. Entah karena informasi tentang dua tempat itu masih minim, atau saya saja yang katrok. Sepertinya lebih condong pilihan kedua, ya. Hmm.

Transmate, Sebuah Penyematan.

Pada Jumat, 6 Desember 2019, saya hadir dalam acara bincang bareng Kementrian Perhubungan (Kemenhub) yang diadakan di Kafe Sundestada Jakarta. Dalam acara yang melibatkan puluhan pegiat kreatif ini, kami diberi wadah untuk berdiskusi soal konektivitas trasportasi yang membuat traveling menjadi lebih mudah dan menyenangkan.

Dalam paparannya, pihak Kemenhub menegaskan bahwa di 5 destinasi wisata super prioritas tersebut telah siap dikunjungi. Hal ini sesuai dengan amanat Presiden yang meminta kelima destinasi tersebut menjadi primadona baru mulai tahun 2020. Segala infrastruktur telah dibangun untuk memastikan wisatawan mendapatkan fasilitas yang memadai selama berlibur. Selain itu, moda transportasi juga telah dipersiapkan dengan matang, baik itu melalui darat, laut, maupun udara.

Pada acara berslogan #ConnectivityMakesTravelingEasy ini juga ada hal lain yang spesial. Puluhan peserta dalam acara tersebut dinobatkan sebagai “Transmate” yang artinya sahabat transportasi. Bukan hanya karena mayoritas pengguna moda transportasi umum, para peserta yang hadir juga aktif dalam isu-isu transportasi dan wisata. Kelihatan kok dari konten-konten yang pernah mereka buat, baik itu di blog, YouTube, atau platform lainnya. Agar makin sah, penyematan label Transmate ini disimbolisasikan dengan sebuah pin khusus dengan logo Transmate yang dipasang di jidat. Ya enggaklah! Di baju masing-masing.

Jika sudah begini, alasan apa yang mau digunakan untuk menunda-nunda traveling? Yuk kemasi barang-barangmu. Kita ketemu di bandara sekarang! 


Photo by Tom Fisk from Pexels

14 November 2019

bpom hari pangan dunia

Saya adalah orang yang sukar menahan godaan untuk tidak mampir ke minimarket. Ketika memasukinya, saya selalu membeli makanan dan minuman kemasan yang terpampang dengan rapi dan menggoda. Entah apa yang merasuki, saya memiliki dorongan kuat untuk selalu jajan, jajan, dan jajan. Sungguh gaya hidup yang luar biasanya hematnya.

Saya suka belanja makanan dan minuman kemasan karena praktis dan murah. Sebut saja, kopi. Saya tidak perlu lagi antri dan menunggu barista menyeduh kopi untuk mendapatkan kesegaran kafein yang saya inginkan. Saya hanya perlu mengambil satu botol kopi di dalam lemari pendingin saja. Sudah begitu, ada kopi yang dibandrol dengan harga 3000 rupiah, doang. Memang rasanya tidak se-kopi itu jika dibandingkan dengan kopi di coffeeshop. Tapi saya memang tidak mencari rasa kopi aslinya. Saya hanya ingin memuaskan rasa kesegaran yang melewati tenggorokan saja.

Demikian juga dengan makanan kemasan. Saya kerap membeli roti untuk “mengganjal” perut saya dari rasa lapar. Kok nggak makan nasi aja? Seperti yang sudah saya sebutkan, saya lebih cenderung mencari kepraktisan dan kemurahan. Saya bisa makan roti di mana saja dengan posisi apa saja. Sudah begitu, roti di minimarket seringkali dijual dengan harga yang kelewatan murah, bahkan ada diskon-diskonnya. Maka dari itu, roti kemasan adalah pilihan paling rasional bagi saya saat ini.

Baca juga: Transportasi Kota Paling Potensial Saat Ini

Mewaspadai Makanan Kemasan

Mengonsumsi makanan dan minuman kemasan bukan sebuah dosa. Namun jika tidak jeli memilihnya bisa-bisa membawa tubuh kita pada petaka.

Banyak kasus yang sudah terjadi terkait keracunan yang disebabkan oleh produk kemasan yang sudah kadaluarsa atau tercemar. Saya termasuk orang yang jarang sekali memperhatikan serba-serbi keamanan pada makanan dan minuman kemasan. Alih-alih melakukan pengecekan tanggal kadaluarsa, botol minum yang penyok pun tetap saya ambil dengan anggapan, “Halah, penyok doang.” Padahal ada kemungkinan barang yang sudah penyok itu mungkin berlubang dan tercemar oleh sesuatu yang bisa menyebabkan saya keracunan.

Syukurlah di tengah ketidaktelitian saya itu, sejauh ini saya tidak pernah mengalami hal-hal gawat terkait produk kemasan. Namun bukan berarti saya kebal terhadap apapun. Mungkin saja hanya sekadar beruntung. Oleh sebab itu, mulai dewasa ini saya mencoba untuk lebih memperhatikan standar keamanan makanan dan minuman kemasan.

Beruntunglah pada Sabtu, 9 November 2019, saya mendapat undangan untuk hadir pada acara diskusi Bersama BPOM dengan topik seputar makan sehat terkait dengan perayaan Hari Pangan Sedunia yang mengusung jargon, “Our Action, Our Future.”

Baca juga: 3 Caraku Merawat Kulit Wajah Cerah

Bagaiamana Cara Bijak Mengonsumsi Makanan dan Minuman Kemasan?

Barang konsumsi makanan dan minuman kemasan bukan hanya bisa kita dapatkan di toko-toko fisik. Namun juga banyak dijual secara online di marketplace. Tantangan yang harus kita jawab terkait budaya jual-beli yang berbeda ini adalah bagaimana kita melakukan verifikasi keaslian dan keamanan produk yang kita beli.

Melalui acara yang saya kunjungi itu, saya menyadari bahwa BPOM telah memiliki strategi untuk menjawab tantangan itu. Pertama, BPOM telah membuat terobosan yang sudah diterapkan melalui teknologi 2D Barcode. Melalui barcode yang ada di sampul kemasan, kita bisa dengan praktis mengakses informasi legalitas produk. Caranya mudah, kita hanya perlu melakukan scanning lewat smartphone yang sudah terpasang aplikasi BPOM Mobile. Beberapa marketplace telah memiliki fiitur yang memungkinkan pembeli untuk mendapatkan barcode produk agar bisa dilihat informasi lengkapnya.

Kedua, BPOM memiliki kampanye “Cek KLIK” yang selalu didengungkan agar masyarakat senantiasa menerapkannya. Kampanye ini mengajak kita untuk melakukan pengecekan pada Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kadaluwarsa ketika hendak membeli barang kemasan seperti makanan, minuman, hingga obat-obatan.

BPOM juga menerima dengan tangan terbuka jika ada keluhan atau pertanyaan terkait makanan, minuman, dan obat-obatan. Kita bisa melakukan hubungan suara melalui Halo BPOM 1500533 atau di berbagai platform media sosial resmi milik Badan POM

Diskusi bersama BPOM dan pakar kesehatan.
Saya sangat bersyukur memiliki previlage untuk hadir dalam diskusi pada perayaan #BPOMWorldFoodDay2019 sehingga menumbuhkan kesadaran saya untuk peduli pada makanan dan minuman kemasan yang baik untuk konsumsi. Namun saya sadar. Tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama seperti saya. Oleh karenanya, saya menuliskan ini untuk menularkan semangat yang sama kepada Teman-teman agar kita sama-sama peduli pada cara kita mengonsumsi produk-produk kemasan.

Terima kasih sudah bersedia membaca tulisan sederhana ini hingga selesai. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya.


Photo by icon0.com from Pexels

3 November 2019


Saya berkacamata sejak usia 16 tahun. Saat itu saya duduk di bangku kelas 2 SMA. Walau begitu, saya sebenarnya sudah merasakan ketidakwarasan pada mata saya sejak kelas 6 SD. Tapi saya urung bilang pada kedua orangtua karena tidak ingin membebani perekonomian mereka pada saat itu.

Dengan mata minus, saya mengalami kesulitan belajar, terutama untuk membaca tulisan-tulisan yang tertera di papan tulis. Saya memberanikan diri mengatakan kepada orangtua soal mata saya karena pada jenjang kelas 2 SMA, saya masuk program IPS. Dan “sakit mata” adalah alasan yang saya utarakan untuk mengurangi amarah orangtua karena nilai saya terlalu buruk untuk bisa lolos ke program IPA. Hehehe.

Kalau dihitung-hitung, mata saya harus dibantu dengan kacamata sudah 10 tahun lamanya. Dalam kurun waktu segitu, problematika kehidupan saya banyak terjadi hanya dari masalah paling sepele, “mata”. Oleh karena itu, saya merasa harus punya perhatian lebih pada isu kesehatan mata agar saya tahu apa yang saya alami dan apa yang harus saya lakukan dengan mata seperti ini.

Sesi diskusi. (Dokumen Pribadi
Motivasi itu yang membawa saya pada diskusi soal, “Mata Sehat Mendukung SDM Hebat,” yang berlangsung pada 31 Oktober 2019 di Gandaria City, Jakarta Selatan. Diskusi tersebut menghadirkan narasumber yang sudah ahli pada bidangnya. Ada Dr. dr. Tri Rahayu, SpM(K) (FIACLE Perdami), Dr. Rita Ramayulis, DCN, M,Kes (Nutrisionis), dan Burhan Noor Sahid (Head of Marketing Signify Indonesia).

Baca juga: Pengalaman Beralih Ke Microsoft Office 365 Home Resmi

Perbincangan yang paling menarik perhatian saya adalah soal data-data hasil penelitian dari YouGov Plc terkait isu kesehatan mata. Penelitian tersebut melibatkan 10.449 orang dewasa sebagai sampel yang tersebar di berbagai negara seperti Argentina, Cina, Republik Ceko, Perancis, Jerman, Indonesia, Meksiko, Polandia, dan Amerika Serikat. Apa yang bisa kita dapat dari penelitian itu?

Melalui penelitian itu, tercatat bahwa lebih dari 50% orang menghabiskan lebih dari 8 jam per hari di bawah sinar lampu. Diketahui juga, 86% responden percaya kalau pencahayaan yang berkualittas itu bermanfaat bagi kesehatan mata. Sementara itu, kaitannya dengan pemeliharaan kesehatan mata pada diri sendiri, ternyata 66,6% responden tidak melakukan cek mata secara berkala yang artinya mereka abai pada upaya menjaga kesehatan mata bagi diri sendiri.

Dengan berkiblat pada data-data tersebut, saya dapat melihat bahwa faktor yang sangat berpengaruh pada kesehatan mata adalah soal pencahayaan. Walau begitu, ternyata tidak banyak orang yang rajin merawat matanya sendiri. Saya termasuk dalam kategori ini. Hehehe. Di samping itu, hasil penelitian juga menyebutkan bahwa 77% responden percaya bahwa pencahayaan yang berkualitas dapat meningkatkan produktivitas. Namun, seperti apakah cahaya yang berkualitas itu?

Baca jugaLampu Berkualitas Harga Pas

Munculnya cahaya bisa dari berbagai sumber, salah satunya adalah lampu. Dalam perbincangan siang itu, saya dapat menyimpulkan bahwa pencahayaan dari lampu yang berkualitas itu harus memiliki kriteria EyeComfort. Kriteria ini meliputi: tidak tampak berkedip, tidak silau, dimmable (kemampuan mengubah terang-redupnya lampu), tuneable (mengatur temperatur warna), rendering warna, efek stroboskopik (kemampuan menghilangkan distorsi gerak), keamanan fotobiologis (cahaya biru), dan tidak muncul suara .

Jika kriteria EyeComfort ini terpenuhi, maka kesehatan mata dapat lebih terjaga. Setidaknya mengurangi damage dari terang lampu pada umumnya. Lantas bagaimana mendapatkan lampu dengan watak EyeComfort seperti di atas? Mudah saja.

Dalam acara diskusi yang saya hadiri ini, kebetulan juga jadi ajang pengenalan produk baru dari Philips LED EyeComfort. Jika sebelumnya sudah rilis Philips MyCare LED dengan teknologi Interlaced Optics kini kita bisa menikmati seri terbarunya, yaitu Philips MyCare LEDstick. Dengan lampu Philips MyCare LEDstick, kita dapat menikmati penerangan yang berkualitas dengan 70% pengurangan kesilauan (dibandingkan lampu pijar). Lampu ini juga siap menyala hingga 15 tahun, ramah lingkungan (tanpa merkuri soalnya), tidak berkedip, dan memperhatikan keamanan fotobiologis.

Philips MyCare LEDstick hadir dalam dua pilihan, ada warna putih (cool daylight) dan ada warna kuning (warm white) dengan daya mulai 5,5W hingga 9,5W. Selain itu ada juga Philips LED Downlight Meson yang hadir dalam bentuk bundar dan persegi. Jenis ini tersedia dalam warna putih dengan daya mulai 3,5W hingga 24W. Produk-produk Philips ini tersedia di berbagai toko elektronik dan e-commerce.

Saya bersukyur dapat mengikuti diskusi ini. Selain ngobrol-ngobrol asyik, kebetulan juga saya melakukan pengecekan dan konsultasi mata secara gratis di salah satu tenant. Lewat pengecekan itu saya tahu kalau minus mata kiri saya bertambah, yang semula -2 menjadi -2,25. Sedangkan mata kanan saya masih konsisten di angka -3. Untung banget saya punya waktu dan kesempatan untuk hadir dalam ajang yang diselenggarakan oleh Signify.

Sudah waktunya ganti kacamata, nih. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya!


Photo by Daan Stevens from Pexels

1 November 2019


Seperti sudah menjadi kebutuhan pokok, smartphone adalah perangkat komunikasi dan informasi yang paling relevan untuk kita pakai pada masa kini. Jika melihat konstruksi sosial kita yang memerlukan komunikasi jarak jauh berbasis digital, maka bisa dikategorikan bahwa smartphone adalah barang “wajib” yang harus dimiliki.

Ada banyak pilihan smartphone yang menarik untuk kita miliki. Namun, kita perlu memperhatikan mana yang benar-benar kita butuhkan. Lebih tepatnya, karakter smartphone seperti apa yang sebenarnya sesuai dengan kebutuhan hidup kita sehari-sehari. Untuk menjawabnya tidak mudah. Beberapa kali saya keliru memilih smartphone karena kurang jeli mengenali spek gadget. Oleh karena itu, pada tulisan saya kali ini akan mereduksi smartphone apa saja yang menurut saya cocok untuk kamu beli beberapa hari lagi. Hahaha. Ayo jajan! Ayo jajan!

Tidak semua smartphoe yang saya rekomendasikan ini telah saya pakai sebelumnya. Beberapa di antaranya saya dapatkan referensinya dari internet. Sisanya, merupakan hasil diskusi santai dengan teman sejawat. Nah, tidak perlu berlama-lama lagi. Rekomendasi pertama saya adalah XIAOMI REDMI A4!

Siapa yang tidak kenal dengan produk Xiaomi satu ini? Sebagai punggawa kaum proletar seperti saya, menggenggam Xiaomi sudah jadi hal yang sangat lumrah. Bagaimana tidak? Produk Xiaomi sudah terkenal dengan harganya yang terjangkau dan kualitasnya yang tidak kalah dari produk mahal yang lain.

Di antara tipe Xiaomi yang lain, Redmi A4 menurut saya adalah smartphone yang sangat sesuai dengan kebutuhan bergadget yang standar, baik untuk bekerja maupun hiburan. Xiaomi Remi A4 ini sangat ringan untuk ukuran gawai dengan prosesor sekelas Snapdragon 425 64-bit quad-core dan kapasitas baterai hingga 3030 mAh. Layar Redmi A4 sebesar 5 inchi, cocok banget jika kamu suka bermain game atau menonton film di HP.

Ngomongin soal smartphone tentu harus melihat kemampuan kameranya. Xiaomi Redmi A4 menanamkan kamera utama sebesar 13 megapiksel! Dalam sekali jepretan saja sudah seperti foto hasil olahan aplikasi pasti. MIUI juga akan mengkategorikan foto-foto kita sesuai dengan waktu pengambilan gambar. Bahkan sistemnya pun dapat mendeteksi apakah foto hasil jepretanmu merupakan foto panorama atau screenshoot.

Secara garis besar, Xiaomi Redmi A4 adalah pilihan terbaik untuk menemani aktivitasmu sehari-hari. Dengan harga sekitar 1-1,5juta saja, kamu bisa menggenggam gawai pintar di tanganmu. Meski murah, tapi tidak terlihat murahan, kok. Dari segi desain misalnya, Redmi A4 tampak elegan dan minimalis. Terlihat dari body dengan matte finishing yang membuat Redmi A4 tidak bling-bling-bling alias norak. Hahaha.

Ngomong-ngomong soal Xiaomi, apakah kamu tahu cara melacak Xiaomi yang hilang? Masalah kehilangan HP memang sangat menyebalkan. Tapi Xiaomi punya fitur yang membuat kita dapat melacak lokasi keberadaannya. Perlu diperhatikan juga bahwa untuk menikmati fitur ini, kita harus memiliki akun Mi terlebih dahulu. Jika sudah, cara sederhana ini mungkin dapat membantumu menemukan Xiaomi yang hilang entah di mana.

Pertama, aktifkan fitur Find Device pada menu Setting. Lalu masuk ke pilihan Mi Account. Kemudian tinggal pilih Mi Cloud, dan aktifkan Find Device. Tahap ini merupakan langkah persiapan agar Xiaomi kesayanganmu bisa dilacak.

Sedangkan cara melacaknya sendiri cukup mudah. Kamu hanya perlu buka https://i.mi.com melalui device lain (yaiyalah, kan yang biasa dipakai sedang hilang). Lalu login dan pilih menu Find Device. Hanya dengan begitu saja, secara otomatis system pelacakan akan menunjukkan lokasi Xiaomi yang kamu cari. Gampang banget, kan?

Wajar saja jika produk Xiaomi berkenan di hati para penduduk Indonesia. Beberapa pilihan produk Xiaomi terbaik selain Redmi A4 adalah: Redmi Note 7 (harga 2.000.000), Redmi 7 (harga 1.440.000), Redmi 6A (harga 999.000), Redmi 7A (harga 1.130.000), dan Redmi 5A (harga 990.000). Tipe Redmi 5A sejauh ini merupakan jenis Xiaomi yang murah dan populer Di bawahnya sedikit ada Redmi 2 Prime seharga 980.00 dan Redmi 1S seharga 780.000.

Dengan begini, hati jadi tenang kalau tiba-tiba butuh HP baru. Toh ada yang murah dan berkualitas seperti produk-produk Xiaomi yang sudah saya sebutkan di atas. Tapi, selain itu ada juga gawai lain yang sangat saya rekomendasikan sekaligus ingin saya miliki. Belakangan ini kebetulan teman-teman sejawat sedang asyik membicarakan Samsung Galaxy. Perbicangan ini bikin saya mau, mau, mau banget!

Dari sekian banyak tipe Samsung yang didiskusikan, muncul beberapa tipe yang ternyata sangat digemari. Misalnya Samsung Galaxy Note 10 yang dibandrol dengan harga 7.838.500 rupiah. Turun sedikit ada Samsung Galaxy S10 yang senilai 7.700.000 rupiah. Melihat harga-harga itu membuat jiwa proletary saya berkecambuk. Maka muncullah tipe-tipe seperti Samsung Galaxy A20 yang seharga 1.850.000 rupiah dan Samsung Galaxy M10 yang bisa saya tebus dengan ongkos 1.450.000 rupiah.

Baik Xiaomi maupun Samsung, keduanya memiliki keunggulan masing-masing. Dan seperti yang sudah saya singgung pada awal tulisan ini, kita memerlukan gawai yang sesuai dengan kebutuhan. Kedua pilihan produk smartphone ini sama-sama bisa sesuai dengan siapapun diri kita dan bagaimanapun karakter kita. Artinya, baik Xiaomi maupun Samsung sangat relevan dengan diri kita sehingga memiliki keduanya adalah pilihan yang tepat. Apalagi kalau masih cap-cip-cup kebingungan memilih, saya rasa sebaiknya segera kerucutkan pilihan kamu menjadi dua gadget di atas.

Kamu punya pengalaman memakai Xiaomi dan Samsung atau tidak? Berbagi yuk di blog ini dengan berkirim teks memalui kolom komentar di bawah ini. Terima kasih telah membaca sampai selesai. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya.


Photo by JÉSHOOTS from Pexels

30 Oktober 2019


Sebagai warga ibukota, saya selalu berkutat dengan kemacetan dan panas yang menggelora. Apalagi, mobilitas saya didominasi oleh kendaraan roda dua. Hal ini membuat saya harus selalu berhadapan dengan asap knalpot dan terik matahari.

Mungkin memang ini resiko paling basic bagi penduduk di negara beriklim tropis. Sebelum saya merantau pun saya juga kerap mengalami tekanan panas yang tidak berbeda jauh dengan ibukota. Meski Solo cukup gencar melakukan penghijauan kota, lagaknya hal itu belum bisa mengatasi efek rumah kaca yang kian mengamuk seperti sekarang ini.

Nah, pengalaman saya sebagai pengembara jalanan membuat saya harus memutuskan untuk berkonsentrasi pada kesehatan kulit. Bukan hanya itu, saya juga ingin memiliki wajah yang cerah biar istri makin sayang. Hehehe. Maka dari itu dalam tulisan blog saya kali ini akan memberikan beberapa tips merawat kulit wajah ekstra cerah.

Tapi sebelum ke sana, kita juga perlu mengidentifikasi masalah apa saja yang rawan muncul bagi kulit kita di iklim tropis seperti Indonesia. Sejauh yang saya tahu, kulit kita sangat rentan dengan kekusaman, mudah berkeringat, sensitif, dan mudah kering. Kondisi-kondisi seperti itu akan membawa beberapa persoalan pada kulit wajah kita, seperti jerawat, terdapat flek hitam, hingga megalami penuaan dini dengan ciri kulit jadi kendur dan keriput.

Lantas bagaimana cara merawatnya? Apakah harus konsultasi atau perawatan ke tenaga ahli kulit? Ya, mungkin itu bisa jadi solusi. Namun, untuk kelas menengah seperti saya sekarang ini jelas “ongkos” menjadi pertimbangan yang harus dipikirkan berkali-kali. Oleh karena itu, tips berikut ini akan jadi pilihan yang murah bagi kamu yang ingin menjaga agar kulit wajah memancarkan cahaya-cahaya kehidupanmu yang terang itu. Eeeaaaa.

Tips Merawat Kulit Wajah Ekstra Cerah

1. Kenali suhu tubuhmu. 

Ketika badan terasa panas karena kena terpaan sinar matahari seringkali membuat kita tergiur dengan sapuan air yang dingin di kulit. Meski terasa menyegarkan, namun mengguyur kulit yang panas dengan air dingin ternyata bisa merusak kualitas kulit itu sendiri. Kulit kita bisa mengalami shock yang dapat mengubah warna kulit menjadi “gosong”. Jadi sebaiknya, biarkan tubuh kita berteduh sejenak sebelum kita guyur dengan air dingin.

2. Atasi masalah dari dalam tubuh.

Meski kulit merupakan elemen luar pada tubuh kita. Namun jenis makanan atau minuman yang masuk ke tubuh kita juga dapat berpengaruh pada kualitas kulit, lho. Salah satu yang paling sederhana adalah meningkatkan konsumsi air putih. Selain itu kamu juga bisa menambahkan konsumsi buah yang berdampak baik pada kulit seperti delima, pisang, papaya, semangka, dan kiwi.

3. Cuci muka dengan benar. 

Tentu saja cuci muka adalah cara paling basic untuk merawat kulit wajah agar terlihat cerah dan segar. Namun agar hasilnya lebih maksimal kita perlu memperhatikan beberapa detail. Misalnya kita perlu memakai air hangat ketika membasuh muka di awal tahap. Air hangat dipercaya dapat membuka pori-pori wajah terbuka agar kotoran mudah terangkat. Setelah membasuh dengan air hangat, usap mukamu dengan NIVEA MEN Extra White Dark Spot Minimizer Foam ke seluruh permukaan wajah. Saya paling suka NIVEA MEN Extra White ini karena tuntas membersikan noda hitam dan konsisten melawan kulit kusam. Jika sudah, basuh kembali wajahmu dengan air dingin agar pori-pori kembali tertutup sebelum kemasukan kotoran baru.

Cara-cara ini walau sederhana tapi saya bisa rasakan manfaatnya, lho. Tentu saja harus disertai dengan konsistensi yang tinggi. Setidaknya untuk cuci muka sendiri minimal dilakukan sehari dua kali setiap pagi dan malam. Hasil yang saya peroleh berupa kulit bersih dari flek hitam, warna kulit jadi ekstra cerah, hingga kulit terasa lebih sehat dan tidak kering.

Andalanku saat melawan kusam

Peran NIVEA MEN Extra White di sini sangat penting karena kemampuannya yang “ngefek banget” bagi kecerahan wajah saya. Sebab produk ini mengandung Active Vit C, vitamin E, vitamin B, gingseng, ginkgo biloba, dan nutrien lain yang mampu mencerahkan kulit wajah 10x lebih baik daripada vitamin C saja. 

Kamu harus coba juga, deh. Terutama untuk pria-pria bermotor yang setiap hari kenyang dengan polusi urban. Aroma NIVEA MEN Extra White ini juga segar dan terasa sangat elegan, lho. Saya langsung pede ke mana saja, asal ada NIVEA MEN Extra White di dalam tas saya.

Demikian tulisan saya kali ini. Semoga bermanfaaat buat semua. Terima kasih sudah membaca sampai habis. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya, ya. Salam!

Photo by samer daboul from Pexels