15 Februari 2020


Film drama Indonesia sepertinya punya satu format klise yang sering dipakai untuk memulai sebuah cerita. Biasanya, kisah asmara akan dimulai dari dua tokoh yang baru kenal, lalu pacaran, habis itu ada maslah, kemudian masalah selesai. Tamat.

Plot cerita yang seperti itu menurut saya sangat membosankan sebab sudah kerap dipakai berkali-kali. Bahkan sejak saya masih kecil; sejak saya menonton Cinta dan Rangga. Saya tidak banyak menonton film drama memang. Kebetulan saja beberapa film drama yang saya tonton belakangan ini sudah menggunakan cara bercerita yang berbeda. Termasuk film yang baru banget saya tonton, yaitu film “Toko Barang Mantan”.

Selayang Pandang

Poster Film Toko Barang Mantan
Film Toko Barang Mantan adalah film drama dengan sentuhan komedi yang dikemas dengan sederhana namun sarat makna. Film jebolan production house ternama, MNC Pinture Movie, ini mempertemukan dua aktor berbakat, yaitu Reza Rahadian dan Marsha Timothy sebagai sepasang mantan. Deretan aktor pendukungnya pun juga berperan dengan sangat baik. Hasilnya, film Toko Barang Mantan tidak membuat saya kecewa.

Saya akan sedikit menceritakan kisah dalam film besutan Viva Westi ini. Tenang, sebisa mungkin saya tidak akan spoiler. Kamu bisa membacanya sampai selesai.

Toko Barang Mantan adalah sebuah unit bisnis independen yang diinisiasi oleh Tristan (Reza), dan dikelola bersama kedua juniornya; Rio (Iedil Putra) serta Amel (Dea Panendra). Melalui toko ini, Tristan menjual aneka barang mantan yang merupakan koleksinya sendiri atau dari berbagai orang. Tristan orang yang idealis. Baginya, semua barang yang dijual harus memiliki sejarah yang menarik untuk diceritakan. Semakin tinggi nilai sejarahnya, semakin tinggi pula harga jualnya.

Suatu ketika, Tristan mendapat kunjungan dari mantan terbaiknya, Laras (Marsha). Walau sudah lama tidak bertemu, apalagi punya catatan sejarah yang emosional, namun mereka berinteraksi dengan sangat luwes seperti biasa. Tapi keluwesan itu berubah jadi canggung dan dingin ketika Laras memberi kabar bahwa dirinya akan menikah. Laras kemudian meninggalkan Tristan yang masih campur aduk.

Ketika cerita berjalan beberapa menit sampai sini, saya masih belum bisa menebak mau dibawa ke mana cerita ini. Hal ini yang membuat saya makin antusias untuk menontonnya lebih lama. Ternyata Laras datang kedua kalinya, ketiga kalinya, dan berkali-kalinya ke Toko Barang Mantan hingga akhirnya memberi kabar bahwa ia dan tunangannya punya masalah.

Dari sini baru terlihat konflik bermunculan dengan porsi yang tepat. Mulai dari konflik kecil-kecil hingga kemudian Tristan dan tokoh lainnya dibenturkan pada masalah yang rumit. Sebagai tokoh utama, Tristan harus mengambil keputusan yang tepat di tengah masalah-masalahnya.

Namun, hal itu tidak mudah. Tristan adalah karakter yang mudah marah, slengekan, dan egois. Ia harus menyelesaikan konflik batinnya terlebih dahulu sebelum bisa menangani masalah-masalah di luar dirinya.

Sebuah Kesan

Film Toko Barang Mantan merupakan refleksi bagi kita yang tengah bimbang antara karir, cinta, keluarga, persahabatan, dan diri sendiri. Saya rasa masalah yang mengitari Tristan adalah masalah-masalah yang dekat dengan kita. Sehingga orang-orang mungkin suka dengan film ini karena relevan bagi mereka.

Walau saya juga merasa ada beberapa hal yang relevan tapi bagi saya hal itu bukan lagi menjadi sesuatu yang mengejutkan. Saya lebih tertarik untuk memuji film ini dari penulisan naskah. Menurut saya, naskah ditulis dengan sangat rapi dan jeli menempatkan komedi. Beban masalah, porsi karakter, dan durasi pun disusun dengan tepat sehingga tidak melelahkan bagi saya sebagai penonton.

Penampilan para aktor juga tampak prima. Adanya Reza Rahadian tidak lantas membuat ia paling menonjol. Pemeran lain juga mampu berakting dengan imbang. Dan yang terpenting, tidak muncuk karakter yang kepribadiannya kelewatan aneh. Ada sih, tapi hanya sebagai figuran yang muncul beberapa menit saja sebagai pelanggan Toko Barang Mantan.

Dari dulu saya tidak suka dengan karakter yang berkepribadian lebay; ngomong lebay, berpikir lebay, bergerak lebay, dst. Untunglah di film ini tidak terlalu menonjolkan karakter-karakter seperti itu. Justru tanpa kepribadian lebay seperti itu, sosok Tristan juga bisa tampil komedik, kok.




Akhir kata, saya puas dengan film Toko Barang Mantan. Santapan yang nikmat buat kamu yang ingin menonton film bergenre drama dengan cerita yang tidak terlalu rumit. Walau film ini kental dengan pembahasan soal cinta, tapi kita bisa belajar hal-hal lain seperti persahabatan, karir, dan keluarga. Sebab masalah-masalah itu mungkin jadi masalah yang paling dekat dengan kita, kapan saja dan di mana saja.

Film Toko Barang Mantan bisa kamu tonton mulai 20 Februari 2020 di bioskop langgananmu. Sempatkan dirimu untuk nonton, ya.

Header: Photo by Kokil Sharma from Pexels

27 Januari 2020


Salah satu isu yang sering berkeliaran di lingkaran saya tentang pernikahan adalah soal kesederhanaan acara. Banyak yang ingin menikah dengan pagelaran yang simple, terjangkau, dan intim. Namun seringkali niat itu terhambat oleh campur tangan orangtua dan ketakutan-ketakutan pada ‘kata orang’.

“Kalau nggak pakai dangdutan, nggak pakai janur, nggak ngundang itu-itu apa kata orang nanti?” Sering dengar yang seperti ini, kan?

Mendengarkan pendapat orang lain tentang apa yang harus kita lakukan kadang berguna. Tapi bisa juga malah merepotkan diri sendiri. Bukan karena apa yang orang lain minta adalah sesuatu yang buruk, melainkan sesuatu yang tidak relevan. Kerap kali rasa sungkan membuat kaki kita terjebak pada ekspektasi orang lain. Hingga kita melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu kita lakukan.

Kegundahan dalam memenuhi ekspektasi orang lain ini menjadi pembuka yang manis pada sebuah cerita komedi di film yang baru-baru ini saya tonton, yaitu film “Temen Kondangan”. Putri (Prisia Nasution) adalah seorang selebgram yang galau karena mendapat undangan pernikahan dari mantan. Awalnya, Putri enggan untuk datang. Namun, teman-temannya menyarankan Putri untuk datang, salah satu alasannya adalah ‘apa kata followers nanti kalau nggak datang?’

Sebagai selebgram, Putri merasa hidupnya harus bisa memenuhi ekspektasi para pengikutnya. Setelah mengumpulkan niat untuk berangkat ke nikahan mantan, masalah baru muncul. “Datang sama siapa?” Kalimat itu menghantui Putri. Demi citra baik, mau tidak mau Putri harus mencari temen kondangan walau pada saat itu ia tengah menjomblo.

Perburuan temen kondangan dilakukan Putri dua hari sebelum hari-H. Mulai dari coba nyari jasa wedding crusher, mengajak atasan di tempatnya bekerja, hingga mengajak teman lamanya yang kebetulan bertemu di bar. Apa yang terjadi selanjutnya? Siapa yang jadi temen kondangan Putri?Apakah Putri berhasil datang ke acara nikahan mantan dengan tenang? Atau…

Sebuah Komedi yang Mengasyikkan

poster film temen kondangan
Poster Film "Temen Kondangan" by Cinema XXI
Temen Kondangan merupakan debut penyutradaraan oleh Iip S Hanan yang sebelumnya menyutradarai serial Dunia Terbalik dan Tukang Ojek Pengkolan. Sebagai sebuah karya debut, Temen Kondangan tidak tertinggal secara kualitas jika dibandingkan dengan film drama komedi yang pernah ada di Indonesia.

Dulu ketika belum pindah ke Jakarta, saya dan orangtua suka sekali menonton Dunia Terbalik sebelum tidur. Dunia Terbalik menawarkan cerita yang unik, gimmick yang lucu, dan absurditas yang bikin terbahak-bahak. Ramuan yang telah matang dalam kemasan komedi ini dibawa dengan baik oleh Kang Iip dalam film perdananya.

Temen Kondangan tidak menawarkan kisah cinta yang berat dan rumit. Tapi justru esensi cinta yang sederhana dan dibumbui dengan komedi yang mudah diterima. Di dalam bisokop, saya berkali-kali tertawa hingga terlarut dalam suasana yang mengasyikkan itu.

Kesuksesan film ini juga dipicu oleh penampilan yang baik dari para aktor dan aktris. Selain Prisia Nasution sebagai pemeran utama, ada juga Gading Marten, Samuel Rizal, Reza Nangin, Kevin Julio, dan Olivia Jensen. Karena saya suka hal-hal yang banyol, tentu saja apresiasi yang besar saya berikan pada penampilan Reza Nangin yang berkali-kali membuat saya tertawa. Padahal Reza memerankan karakter yang lugu, serius, dan pemalu. Hal ini menunjukkan bahwa penulisan naskah komedi dikerjakan dengan baik.

Saya suka dengan struktur cerita yang 90% berkutat di dalam acara resepsi. Kejadian demi kejadian, kekacuan demi kekacauan, hingga teka-teki yang terkuak disajikan dalam satu tempat. Dalam Press Screening yang berlangsung pada 24 Januari 2020 di CGV Grand Indonesia, saya mendengar dari Kang Iip kalau proses syuting di tempat resepsi butuh 12 hari untuk menyelesaikannya. Betapa rumitnya mengatur set, kostum, bahkan lighting agar konsisten selama 12 hari. Bukan hanya beberapa karakter saja, tapi juga puluhan (atau mungkin ratusan) ekstras layaknya tamu kondangan pada umumnya.

Jika kamu butuh hiburan pada akhir bulan Januari, maka film Temen Kondangan adalah referensi utama yang saya berikan padamu. Film ini tayang pada 30 Januari 2020 di bioskop-bioskop seluruh Indonesia. Jangan biarkan akhir bulanmu terlewat begitu saja tanpa tertawa di dalam bioskop.

Kalau belum yakin, simak trailer film Temen Kondangan berikut:



Epilog

Undangan pernikahan mantan bukanlah raungan sangkakala yang memanggil akhir hidupmu. Jika tidak ingin datang, maka tidak perlu datang. Jika datang pun tak mengapa. Yang memiliki jawaban dari kemauanmu adalah dirimu sendiri, bukan teman apalagi pengikut Instagram. Karena yang paling mungkin membuatmu bahagia adalah dirimu sendiri.


Header: Photo by Terje Sollie from Pexels

8 Desember 2019



Kejenuhan pasti datang ketika kita menjalani hidup dalam lingkaran kegiatan yang dikerjakan berulang-ulang. Kegiatan itu bisa jadi kerja, kuliah, atau hal-hal lain yang mau tak mau harus kita kerjakan untuk membuat hidup kita berarti. Datangnya rasa jenuh menjadi alarm bagi hidup kita bahwa rutinitas harus direhatkan sejenak. Lalu tenggelamkanlah diri kita pada kegiatan yang membawa semangat dan keceriaan.

Kegiatan apa yang bisa dilakukan ketika kita sedang berada di titik jenuh? Tentu saja ada banyak pilihannya, namun untuk kali ini saya akan membicarakan soal “traveling”.

5 Destinasi Wisata Super Prioritas.

Berada di satu tempat yang sama berulang-ulang bahkan hampir setiap hari akan membuat kita super bosan, bukan? Untuk itulah, selain mengisi kegiatan di luar pekerjaan, saya rasa perlu juga keluar dari tempat yang sering kita datangi. Jika kamu setuju, lekaslah packing lalu kita traveling!

Menentukan destinasi wisata mungkin akan membutuhkan waktu yang lama. Selain harus sesuai dengan budget, faktor kepuasan ekspektasi juga jadi pertimbangan. Misalnya begini, ketika hendak berlibur ke sebuah pulau, apa sih ekspektasinya? Pemandangan indah? Bersih? Fasilitas yang memadai? Bahkan, akomodasi yang mudah dijangkau?

Ekspektasi-ekspektasi itu kadang juga perlu dicatat, tidak cuma daftar oleh-oleh saja yang dicatat. Setelah berekspektasi, tahap berikutnya adalah mewujudkan semua ekspektasi itu agar liburan terasa lebih memuaskan.

Saya tidak perlu mengulas panjang lebar soal destinasi wisata alam di negeri ini, kan? Mulai dari gunung hingga pantai, dari museum hingga candi, semua bisa dinikmati tanpa harus repot-repot mengurus passport karena semuanya sudah ada di sini. Kalau begitu, mulai dari mana dong treveling-nya?

Pada tulisan kali ini, saya akan membawa kamu ke 5 destinasi wisata super prioritas yang sedang digembor-gemborkan oleh pemerintah. Kelima destinasi wisata yang dimaksud adalah Danau Toba (Sumatra Utara), Borobudur (Jawa Tengah), Mandalika (Lombok Tengah), Labuan Bajo (NTT), dan Likupang (Sulawesi Utara). Di antara kelima destinasi wisata super prioritas ini, mana yang mau kamu kunjungi?

Kalau saya pribadi akan lebih memilih ke Mandalika atau Likupang. Maklum, saya aquarius, golongan darah AB, dan weton Senin Pahing, jadi Sukanya yang tidak sering dibicarakan orang-orang. Sepemantauan saya, belakangan ini Labuan Bajo sedang marak bermunculan di kronologi linimasi Instagram saya. Sedangkan Borobudur dan Danau Toba sudah seringkali jadi bahan perbincangan di kelas sejarah. Maka saya pilih yang paling asing di telinga saya, yaitu Mandalika dan Likupang. Entah karena informasi tentang dua tempat itu masih minim, atau saya saja yang katrok. Sepertinya lebih condong pilihan kedua, ya. Hmm.

Transmate, Sebuah Penyematan.



Pada Jumat, 6 Desember 2019, saya hadir dalam acara bincang bareng Kementrian Perhubungan (Kemenhub) yang diadakan di Kafe Sundestada Jakarta. Dalam acara yang melibatkan puluhan pegiat kreatif ini, kami diberi wadah untuk berdiskusi soal konektivitas trasportasi yang membuat traveling menjadi lebih mudah dan menyenangkan.

Dalam paparannya, pihak Kemenhub menegaskan bahwa di 5 destinasi wisata super prioritas tersebut telah siap dikunjungi. Hal ini sesuai dengan amanat Presiden yang meminta kelima destinasi tersebut menjadi primadona baru mulai tahun 2020. Segala infrastruktur telah dibangun untuk memastikan wisatawan mendapatkan fasilitas yang memadai selama berlibur. Selain itu, moda transportasi juga telah dipersiapkan dengan matang, baik itu melalui darat, laut, maupun udara.

Pada acara berslogan #ConnectivityMakesTravelingEasy ini juga ada hal lain yang spesial. Puluhan peserta dalam acara tersebut dinobatkan sebagai “Transmate” yang artinya sahabat transportasi. Bukan hanya karena mayoritas pengguna moda transportasi umum, para peserta yang hadir juga aktif dalam isu-isu transportasi dan wisata. Kelihatan kok dari konten-konten yang pernah mereka buat, baik itu di blog, YouTube, atau platform lainnya. Agar makin sah, penyematan label Transmate ini disimbolisasikan dengan sebuah pin khusus dengan logo Transmate yang dipasang di jidat. Ya enggaklah! Di baju masing-masing.

Jika sudah begini, alasan apa yang mau digunakan untuk menunda-nunda traveling? Yuk kemasi barang-barangmu. Kita ketemu di bandara sekarang!


Photo by Tom Fisk from Pexels

14 November 2019

bpom hari pangan dunia

Saya adalah orang yang sukar menahan godaan untuk tidak mampir ke minimarket. Ketika memasukinya, saya selalu membeli makanan dan minuman kemasan yang terpampang dengan rapi dan menggoda. Entah apa yang merasuki, saya memiliki dorongan kuat untuk selalu jajan, jajan, dan jajan. Sungguh gaya hidup yang luar biasanya hematnya.

Saya suka belanja makanan dan minuman kemasan karena praktis dan murah. Sebut saja, kopi. Saya tidak perlu lagi antri dan menunggu barista menyeduh kopi untuk mendapatkan kesegaran kafein yang saya inginkan. Saya hanya perlu mengambil satu botol kopi di dalam lemari pendingin saja. Sudah begitu, ada kopi yang dibandrol dengan harga 3000 rupiah, doang. Memang rasanya tidak se-kopi itu jika dibandingkan dengan kopi di coffeeshop. Tapi saya memang tidak mencari rasa kopi aslinya. Saya hanya ingin memuaskan rasa kesegaran yang melewati tenggorokan saja.

Demikian juga dengan makanan kemasan. Saya kerap membeli roti untuk “mengganjal” perut saya dari rasa lapar. Kok nggak makan nasi aja? Seperti yang sudah saya sebutkan, saya lebih cenderung mencari kepraktisan dan kemurahan. Saya bisa makan roti di mana saja dengan posisi apa saja. Sudah begitu, roti di minimarket seringkali dijual dengan harga yang kelewatan murah, bahkan ada diskon-diskonnya. Maka dari itu, roti kemasan adalah pilihan paling rasional bagi saya saat ini.

Baca juga: Transportasi Kota Paling Potensial Saat Ini

Mewaspadai Makanan Kemasan

Mengonsumsi makanan dan minuman kemasan bukan sebuah dosa. Namun jika tidak jeli memilihnya bisa-bisa membawa tubuh kita pada petaka.

Banyak kasus yang sudah terjadi terkait keracunan yang disebabkan oleh produk kemasan yang sudah kadaluarsa atau tercemar. Saya termasuk orang yang jarang sekali memperhatikan serba-serbi keamanan pada makanan dan minuman kemasan. Alih-alih melakukan pengecekan tanggal kadaluarsa, botol minum yang penyok pun tetap saya ambil dengan anggapan, “Halah, penyok doang.” Padahal ada kemungkinan barang yang sudah penyok itu mungkin berlubang dan tercemar oleh sesuatu yang bisa menyebabkan saya keracunan.

Syukurlah di tengah ketidaktelitian saya itu, sejauh ini saya tidak pernah mengalami hal-hal gawat terkait produk kemasan. Namun bukan berarti saya kebal terhadap apapun. Mungkin saja hanya sekadar beruntung. Oleh sebab itu, mulai dewasa ini saya mencoba untuk lebih memperhatikan standar keamanan makanan dan minuman kemasan.

Beruntunglah pada Sabtu, 9 November 2019, saya mendapat undangan untuk hadir pada acara diskusi Bersama BPOM dengan topik seputar makan sehat terkait dengan perayaan Hari Pangan Sedunia yang mengusung jargon, “Our Action, Our Future.”

Baca juga: 3 Caraku Merawat Kulit Wajah Cerah

Bagaiamana Cara Bijak Mengonsumsi Makanan dan Minuman Kemasan?

Barang konsumsi makanan dan minuman kemasan bukan hanya bisa kita dapatkan di toko-toko fisik. Namun juga banyak dijual secara online di marketplace. Tantangan yang harus kita jawab terkait budaya jual-beli yang berbeda ini adalah bagaimana kita melakukan verifikasi keaslian dan keamanan produk yang kita beli.

Melalui acara yang saya kunjungi itu, saya menyadari bahwa BPOM telah memiliki strategi untuk menjawab tantangan itu. Pertama, BPOM telah membuat terobosan yang sudah diterapkan melalui teknologi 2D Barcode. Melalui barcode yang ada di sampul kemasan, kita bisa dengan praktis mengakses informasi legalitas produk. Caranya mudah, kita hanya perlu melakukan scanning lewat smartphone yang sudah terpasang aplikasi BPOM Mobile. Beberapa marketplace telah memiliki fiitur yang memungkinkan pembeli untuk mendapatkan barcode produk agar bisa dilihat informasi lengkapnya.

Kedua, BPOM memiliki kampanye “Cek KLIK” yang selalu didengungkan agar masyarakat senantiasa menerapkannya. Kampanye ini mengajak kita untuk melakukan pengecekan pada Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kadaluwarsa ketika hendak membeli barang kemasan seperti makanan, minuman, hingga obat-obatan.

BPOM juga menerima dengan tangan terbuka jika ada keluhan atau pertanyaan terkait makanan, minuman, dan obat-obatan. Kita bisa melakukan hubungan suara melalui Halo BPOM 1500533 atau di berbagai platform media sosial resmi milik Badan POM

Diskusi bersama BPOM dan pakar kesehatan.
Saya sangat bersyukur memiliki previlage untuk hadir dalam diskusi pada perayaan #BPOMWorldFoodDay2019 sehingga menumbuhkan kesadaran saya untuk peduli pada makanan dan minuman kemasan yang baik untuk konsumsi. Namun saya sadar. Tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama seperti saya. Oleh karenanya, saya menuliskan ini untuk menularkan semangat yang sama kepada Teman-teman agar kita sama-sama peduli pada cara kita mengonsumsi produk-produk kemasan.

Terima kasih sudah bersedia membaca tulisan sederhana ini hingga selesai. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya.


Photo by icon0.com from Pexels

3 November 2019


Saya berkacamata sejak usia 16 tahun. Saat itu saya duduk di bangku kelas 2 SMA. Walau begitu, saya sebenarnya sudah merasakan ketidakwarasan pada mata saya sejak kelas 6 SD. Tapi saya urung bilang pada kedua orangtua karena tidak ingin membebani perekonomian mereka pada saat itu.

Dengan mata minus, saya mengalami kesulitan belajar, terutama untuk membaca tulisan-tulisan yang tertera di papan tulis. Saya memberanikan diri mengatakan kepada orangtua soal mata saya karena pada jenjang kelas 2 SMA, saya masuk program IPS. Dan “sakit mata” adalah alasan yang saya utarakan untuk mengurangi amarah orangtua karena nilai saya terlalu buruk untuk bisa lolos ke program IPA. Hehehe.

Kalau dihitung-hitung, mata saya harus dibantu dengan kacamata sudah 10 tahun lamanya. Dalam kurun waktu segitu, problematika kehidupan saya banyak terjadi hanya dari masalah paling sepele, “mata”. Oleh karena itu, saya merasa harus punya perhatian lebih pada isu kesehatan mata agar saya tahu apa yang saya alami dan apa yang harus saya lakukan dengan mata seperti ini.

Sesi diskusi. (Dokumen Pribadi
Motivasi itu yang membawa saya pada diskusi soal, “Mata Sehat Mendukung SDM Hebat,” yang berlangsung pada 31 Oktober 2019 di Gandaria City, Jakarta Selatan. Diskusi tersebut menghadirkan narasumber yang sudah ahli pada bidangnya. Ada Dr. dr. Tri Rahayu, SpM(K) (FIACLE Perdami), Dr. Rita Ramayulis, DCN, M,Kes (Nutrisionis), dan Burhan Noor Sahid (Head of Marketing Signify Indonesia).

Baca juga: Pengalaman Beralih Ke Microsoft Office 365 Home Resmi

Perbincangan yang paling menarik perhatian saya adalah soal data-data hasil penelitian dari YouGov Plc terkait isu kesehatan mata. Penelitian tersebut melibatkan 10.449 orang dewasa sebagai sampel yang tersebar di berbagai negara seperti Argentina, Cina, Republik Ceko, Perancis, Jerman, Indonesia, Meksiko, Polandia, dan Amerika Serikat. Apa yang bisa kita dapat dari penelitian itu?

Melalui penelitian itu, tercatat bahwa lebih dari 50% orang menghabiskan lebih dari 8 jam per hari di bawah sinar lampu. Diketahui juga, 86% responden percaya kalau pencahayaan yang berkualittas itu bermanfaat bagi kesehatan mata. Sementara itu, kaitannya dengan pemeliharaan kesehatan mata pada diri sendiri, ternyata 66,6% responden tidak melakukan cek mata secara berkala yang artinya mereka abai pada upaya menjaga kesehatan mata bagi diri sendiri.

Dengan berkiblat pada data-data tersebut, saya dapat melihat bahwa faktor yang sangat berpengaruh pada kesehatan mata adalah soal pencahayaan. Walau begitu, ternyata tidak banyak orang yang rajin merawat matanya sendiri. Saya termasuk dalam kategori ini. Hehehe. Di samping itu, hasil penelitian juga menyebutkan bahwa 77% responden percaya bahwa pencahayaan yang berkualitas dapat meningkatkan produktivitas. Namun, seperti apakah cahaya yang berkualitas itu?

Baca jugaLampu Berkualitas Harga Pas

Munculnya cahaya bisa dari berbagai sumber, salah satunya adalah lampu. Dalam perbincangan siang itu, saya dapat menyimpulkan bahwa pencahayaan dari lampu yang berkualitas itu harus memiliki kriteria EyeComfort. Kriteria ini meliputi: tidak tampak berkedip, tidak silau, dimmable (kemampuan mengubah terang-redupnya lampu), tuneable (mengatur temperatur warna), rendering warna, efek stroboskopik (kemampuan menghilangkan distorsi gerak), keamanan fotobiologis (cahaya biru), dan tidak muncul suara .

Jika kriteria EyeComfort ini terpenuhi, maka kesehatan mata dapat lebih terjaga. Setidaknya mengurangi damage dari terang lampu pada umumnya. Lantas bagaimana mendapatkan lampu dengan watak EyeComfort seperti di atas? Mudah saja.

Dalam acara diskusi yang saya hadiri ini, kebetulan juga jadi ajang pengenalan produk baru dari Philips LED EyeComfort. Jika sebelumnya sudah rilis Philips MyCare LED dengan teknologi Interlaced Optics kini kita bisa menikmati seri terbarunya, yaitu Philips MyCare LEDstick. Dengan lampu Philips MyCare LEDstick, kita dapat menikmati penerangan yang berkualitas dengan 70% pengurangan kesilauan (dibandingkan lampu pijar). Lampu ini juga siap menyala hingga 15 tahun, ramah lingkungan (tanpa merkuri soalnya), tidak berkedip, dan memperhatikan keamanan fotobiologis.

Philips MyCare LEDstick hadir dalam dua pilihan, ada warna putih (cool daylight) dan ada warna kuning (warm white) dengan daya mulai 5,5W hingga 9,5W. Selain itu ada juga Philips LED Downlight Meson yang hadir dalam bentuk bundar dan persegi. Jenis ini tersedia dalam warna putih dengan daya mulai 3,5W hingga 24W. Produk-produk Philips ini tersedia di berbagai toko elektronik dan e-commerce.

Saya bersukyur dapat mengikuti diskusi ini. Selain ngobrol-ngobrol asyik, kebetulan juga saya melakukan pengecekan dan konsultasi mata secara gratis di salah satu tenant. Lewat pengecekan itu saya tahu kalau minus mata kiri saya bertambah, yang semula -2 menjadi -2,25. Sedangkan mata kanan saya masih konsisten di angka -3. Untung banget saya punya waktu dan kesempatan untuk hadir dalam ajang yang diselenggarakan oleh Signify.

Sudah waktunya ganti kacamata, nih. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya!


Photo by Daan Stevens from Pexels