Tampilkan postingan dengan label Solo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Solo. Tampilkan semua postingan

8 September 2017


Sebagai seorang pemula asmara yang telah kembali menjalin kisah kasih setelah lama menjomlo, tentu saja ada kekhawatiran khusus bagi saya. Salah satunya adalah dengan menetapkan tempat untuk sayang-sayangan.

Dahulu kala, ketika relung hati saya masih gersang, saya pergi ke mana saja nyaris selalu sendirian. Makan sendirian, nonton sendirian, nonton orang makan sendirian, makan orang nonton sendirian dan masih banyak lagi hal yang saya lakukan sendirian.

Nah, pada masa itu saya selalu memburu tempat makan yang cocok buat didatangi seorang diri. Biar keren, saya menyebutnya introvert space.

Lantas ketika hati saya telah bersenyawa dengan kekasih, saya pun harus mengubah cara berpikir tentang tempat makan. Ya, saya begitu antusias dengan perubahan ini karena pada akhirnya saya bisa makan bareng. Tidak lagi sendiri! Bayar parkirnya bisa patungan! Bisa berdiri di depan toilet cewek karena ada yang ditunggu! Yes!

Baiklah, dalam rangka memperingati jiwa berasmara yang sedang membangun peradabannya, saya akan merekomendasikan satu tempat yang cocok untuk beradu kasih. Biar makin asyik, saya kasih kuis saja, ya.

Soal: Coba sebutkan nama tempat yang saya maksud dalam paragraf di atas!

Petunjuk: Tempatnya berada di Solo. Terdiri dari dua lantai. Lahan parkirnya luas. Namanya dikutip dari bahasa Itali, depannya L, belakangnya A, dan sudah saya tulis di judul.

Apa hayoo? Gampang, kan?

Yak, benar! Jawabannya La Taverna!

Wah... Cerdas-cerdas sekali, ya, para pembaca sekalian. Pasti kecilnya suka nonton Dora the Explode. Blaar!

Yuk, Jalan!

La Taverna itu tempat makan hits di Solo yang sangat saya rekomendasikan dari berbagai segi. Makanan dan minumannya enak-enak dan variatif. Tempatnya sendiri sangat nyaman dan elegan. Belum lagi lantunan musiknya yang semakin menentramkan jiwa. Bahkan La Taverna juga menyediakan mini playground buat pengunjung yang membawa batita, lho.

Nah, beberapa hari yang lalu saya berkesempatan buat datang ke La Taverna bersama kekasih dan kawan-kawan dari Komunitas Blogger Solo. Lho? Katanya ini tempat makan yang cocok buat pacaran? Ya mestinya berdua saja, dong!

Lha apa salahnya pacaran sekaligus memotivasi teman-teman lain yang masih jomlo, ya, kan? Inilah yang disebut dalam peribahasa, “Sambil menyelam, minum air.” Jadi usahakan dalam berasmara itu tidak hanya sayang-sayangan saja, tapi juga minum air. Wkwkwk.

Oke, back to topic. Fokus. Fokus.

Jujur saja, La Taverna itu tempat makan yang sejak dulu ingin saya sambangi. Karena jika dipantau dari foto-foto yang beredar di Instagram, La Taverna memiliki tempat yang pasti bikin saya betah berlama-lama wifi-an di situ.

Konsep bangunan La Taverna sendiri adalah perpaduan Jawa-Belanda yang membawa suasana seperti peron kereta api tahun 1935. Saya kurang yakin apakah bangunan La Taverna bisa disebut arsitektur indis. Tentu saja karna arsitektur bukanlah kapasitas saya. Yang jelas saya suka sekali dengan bangunannya yang luas seperti joglo, warna yang dominan dengan hitam dan coklat, perabot interior yang elegan, serta hiasan-hiasan lawas ala Belanda yang semakin memanjakan naluri ke-artsy-an saya.

Penasaran tempatnya seperti apa? Coba lihat beberapa sudut yang telah saya abadikan di bawah ini. Yuk, jalan!


Gambar kiri atas merupakan penampakan lantai 2. Gambar kiri bawah adalah penampakan lantai 1 yang luas. Meja makan rata-rata berkapasitas empat orang, tapi juga bisa kalau mau datang beramai-rama (ada meja panjang, kok).

Yuk, Makan!

Jangan berpuas diri dulu dengan tempatnya yang nyaman. Karena makanan di La Taverna juga tidak kalah menariknya. Menu andalan resto ini adalah aneka jejamuran. Bagi yang sudah muak dengan sajian ayam dan telur di resto-resto lain pada umumnya, La Taverna bisa jadi rujukan yang tepat untuk memvariasikan lidah kita.

Kalau dulu teman saya pernah membuat tagline, “Aku dan kamu bertemu karena buku” untuk toko buku rintisannya. Sepertinya saya harus membuat tagline sejenis yang dipesembahkan untuk La Taverna. Tagline itu berbunyi, “Lidahku dan lidahmu bertemu karena menu.” Eaaa.

Wah, wah, sebenarnya apa dan bagaimana, sih, hidangan ala La Taverna itu? Berikut saya sertakan foto dengan caption berupa reaksi ketika saya mencecapnya.

Omelet Jamur 15K


“Nyamm.. Mmm.. Enak, nih. Mesti dicocol sama saus dulu biar makin mantap. Teksturnya lembut, empuk. Nggak bikin rahang kita kelelahan pas ngunyah. Mmm.. Gurih pula ini. Enak.”

Fuyunghai Jamur 20K


“Nyamm.. Ini saus apa ya yang dituang di atasnya? Manis-manis gurih. Nggak kalah sama omelet. Nyamm.. Mmm.. Enak.”

Crispy Mushroom 12K


“Krezz.. Nyamm.. Krezz.. Mmm.. Krispinya pas banget. Kriuk tapi nggak keras. Rasanya juga enak. Krezz.. Mmm.. Tapi kalau lihat taburannya ini kok jadi ingat mie ayam, ya. Hahaha. Krezz.. Krezzz.”

Sate Jamur 20K




“Nyamm.. Buset. Ini enak satenya. Mudah dikunyah dan bumbunya nggak eneg. Nyamm.. Nyamm.. No comment. Mau kulahap semua. Nyamm.. Nyamm..”

Gule Jamur 15K


“Baru kali ini aku tahu ada gule jamur. Nyamm.. Nyamm.. Huhhah. Segar dan enak! Untuk orang kayak aku yang gampang kepedesan, gule ini sentuhan pedesnya pas. Eh, tapi tadi baru satu lahap saja, sih. Coba lagi, ah. Nyamm.. Nyamm.. Fix. Pasti ini resep awet mudanya Captain America.”

Nasi Goreng Jamur 20K


“Belum disebut resto yang hakiki kalau tidak ada nasi gorengnya. Oke, coba aku makan, ya. Nyamm.. Nyamm.. Kebetulan nggak terlalu pedes. Tapi gurihnya dapet. Nyamm.. Nyamm.. Krezz.. Dimakan pakai jamur gorengnya ini pas banget. Enak!”

Honey Chicken Steak 36K


“Nyamm.. Nyamm.. Nyamm.. Nyamm.. Nyamm..” (Kok nggak ada komentar?) “Nyamm.. Nyamm.. Nyamm.. Nyamm..” (Woy, kasih komentar, woy.) “Nyamm.. Nyamm.. Nyamm..” (Auk lah makan doang, nggak kasih komentar.) “Fhuaahh..” (Buset! Sampai habis seketika. Komentarya mana, woy.) “Hehehehe.. Sorry, sorry. Sumpah ini enak banget, Bro. Ayamnya, bumbunya, sausnya. Sempurna!”

Nah, itu tadi pengalaman saya saat melahap aneka masakan La Taverna. Perlu dicatat, nih. Setiap pembelian aneka jejamuran tadi bisa kita santap bersama nasi putih yang tidak perlu membayar lebih. Sebut saja, gratis! Tentu tidak termasuk nasi goreng atau variasi nasi jamur lainnya. Jadi bagaimana? Penasaran sama menu jejamuran ala La Taverna? Yuk, makan!

Yuk, Rayakan!

Tempat yang luas, nyaman, dan makanannya yang enak tentu menjadi pilihan yang tepat jika kita ingin mengadakan acara di sana. Misalkan saja reuni, meeting, kopdar, pesta ulang tahun, dan tentu saja syukuran berasmara.

Entah menurut undang-undang yang mana, di beberapa daerah di negeri ini telah menerapkan apa yang istilahnya ‘pajak jadian’. Ya, setiap mereka yang punya kekasih biasanya dianggap sebagai masyarakat wajib pajak, lantas mereka dituntut untuk mentraktir sejumlah teman. Untunglah pajak jadian itu hukumnya fardhu kifayah.

Kaitannya dengan hal itu, La Taverna secara revolusioner ternyata bisa mewadahi ajang pembayaran pajak jadian tersebut. Buktinya, saya dan kekasih mempraktekkan itu bersama kawan-kawan blogger solo.

Jadi, di La Taverna ada menu spesial yang cuma bisa dipesan by order, salah satunya ya order buat pajak jadian. Menu tersebut menghidangkan tumpeng-tumpeng unyu yang sayang jika dilewatkan. Berikut ini adalah penampakan dari aneka tumpeng yang saya maksud.

Nasi tumpeng kuning dan nasi tumpeng pandan.

Nasi tumpeng beras merah.

Nasi goreng tumpeng.

Paket tumpengan ini per porsi 30k sudah termasuk es teh dan buah, lho. Minimum pemesanan 20 pcs.

Wah, kamu yang traktir itu semua, Ham?

Ehem. Jadi gini. Kalau menurut Roland Barthes, “Ketika suatu teks terlahir maka pengarang telah tiada”. Sehingga siapapun boleh menafsirkan teks meski akan berbeda dengan apa yang ditafsirkan orang lain bahkan oleh pengarang itu sendiri.

Artinya, ketika aneka makanan tumpeng itu tiba di meja kami, seketika itu pula saya menafsirkan bahwa ini adalah pajak saya. Karena peran koki adalah memasak, peran kawan-kawan blogger adalah memakan, lalu peran saya adalah memaknai. Dan saya memaknai tumpeng-tumpeng lezat itu sebagai persembahan saya kepada kawan-kawan blogger.

Sungguh mulia hati ini.

Wkwkwk.

Jadi tunggu apa lagi? Yuk, rayakan!

Saya rasa sudah semua yang ingin saya ceritakan soal La Taverna dan ruang lingkup asmara yang menaunginya. Semoga tulisan ini bisa memberi informasi yang berguna bagi para pembaca sekalian. Memangnya tulisanmu berguna, Ham? Ah, ya, minimal kita jadi tahu kuliner asyik yang ada di Solo, gitu, lho. Saking asyiknya, saya malah terbayang jika La Taverna itu bisa dipakai untuk acara ijab qabul. Terus nanti ada yang nulis, “Lamaran? La Taverna Saja!” Gimana? Mbois opo, ra?


Akun Instagram La Taverna: @latavernasolo

Peta Lokasi La Taverna:



Source pict: dokumentasi pribadi. 

18 Mei 2017



Jika Bung Karno terkenal dengan Jas Merah (jangan sekali-kali melupakan sejarah)-nya, maka saya perkenalkan yang namanya Jas Hujan (jangan sekali-kali menghujat makanan). Sungguh kalimat pembuka yang sangat berfaedah, bukan?

Jas Hujan itu tercetus ketika saya selesai menonton film Cina berjudul Cook Up a Storm (2017). Sebetulnya film ini sederhana sekali, tapi membuat lapar.

Bercerita tentang koki lokal bernama Gao Tian Ci a.k.a Sky Ko (Nicholas Tse) yang jago membuat makanan tradisional Cina. Ia menjadi koki di sebuah kedai makan bernama Seven yang terletak di sudut kumuh dalam kawasan kota metropolis Spring Avenue.

Suatu ketika, di depan kedainya dibangunlah restoran kelas internasional yang mendatangkan koki terbaik Eropa, Paul Ahn (Jung Yong Hwa). Tentu saja Jung Yong Hwa ini tidak ada hubungan darah sama sekali dengan Jung Jawa. Meski plintiran poni mereka jatuh di sudut pitagoras yang sama, tapi tetap saja beda. Lha wong yang satu koki ternama di Eropa. Sedang satunya, buat buka tutup saus Indofood saja harus dicongkel pakai bisikan ‘aku sayang kamu’ dulu.

Karena sedang ngomongin film Cina, izinkan saya terkekeh dengan bahasa Cina: Xixixixixi.

Ketika Stellar (restoran yang dibangun di depan Kedai Seven) mulai beroprasi, ternyata muncul berbagai masalah. Kedai Seven merasa dirugikan karena lahan mereka malah dipakai parkir mobil oleh pelanggannya Stellar.

Saat salah satu pengelola Kedai Seven protes, pihak Stellar malah mengadu akan menggusur bangunan tua tempat di mana Kedai Seven berjualan. Pengelola Kedai Seven yang getol itu bernama Hai Dan Mei a.k.a Uni (Tiffany Tang). Tentu saja di sini Uni tidak membahas tentang Vaseline lagi. Itu Uni Dzalikaaaa..! Xixixixixi. 


 
Alhasil untuk menentukan siapa yang berhak membuka tempat makan di Spring Avenue, Sky dan Paul harus bertarung di kompetisi masak. Kompetisi ini ada tiga babak, lokal, nasional, dan internasional. Jika lolos ketiga babak itu, peserta berhak melawan Dewa Masak, Anthony Ko a.k.a Mountain Ko (Anthony Wong).

Dahsyat tenan yo, di Cina itu sudah ada Dewa Judi, Dewa Mabuk, lalu ada Dewa Masak. Kalau Indonesia sih punya Dewa Sembilan belas, Dewa Bujana, dan Dewaweb. Yuk, beli domain terbaikmu di Dewaweb.

Scene yang membuat saya terharu dengan film ini adalah relasi ayah dan anak yang ditampilkan melalui sosok Sky dan Dewa Masak. Selain untuk mempertahankan Kedai Seven, ternyata Sky juga memiliki ambisi untuk mengalahkan ayahnya. (Spoiler alert)

Sejak Sky masih kecil, ayahnya pergi untuk mengejar impian menjadi Dewa Masak. Dan ia tidak pernah mengakui Sky sebagai anaknya karena ia malu jika memiliki anak yang tidak bisa memasak.

Saya merinding ketika di atas panggung Sky menyodorkan mie ayam ke Dewa Masak. Saat Dewa Masak memakannya, Sky langsung berjalan meninggalkan panggung. Sky tidak peduli dengan hadiah atau gelar. Ia cuma mau menunjukkan kepada ayahnya jika ia bisa memasak. Itu saja.

Maka benar saja, ketika Sky melangkah keluar panggung, Dewa Masak memanggilnya. Saat Sky menoleh, Dewa Masak bilang, “Kerja bagus.” Itu benar-benar scene yang menyentuh bagi saya. Bagaimana tidak? Dua puluh tahun belajar masak hanya untuk mendapat pengakuan dari ayahnya bahwa ia bisa menjadi anak yang membanggakan, lho. Dan itu tersimbolkan dengan mie ayam! Luar biasa. 



Nah, Cook Up a Storm ceritanya sesederhana itu tapi menyentuh. Dan hal lain yang membuat istimewa adalah visualisasinya. Marai ngelih. Mas Paul itu menyajikan makanannya cuantek bingit kayak Sangkuriang (Sangkuriang versi mana yang cantek cuuk??).

Sedangkan Sky lebih atraktif masaknya. Yang satu instagramable dan satunya instastoryable. Wuah, pakai istilahnya khalayak kekinian. Jangan ngaku generasi millenial posmodernis kalau nantinya punya anak belum dikasih nama yang instagramable. Lho, sing koyo piye iku? Ya misal, Joko Gram, Ani Insta, Budi Story, dan Yanto Feed. Kalau mau agak panjang juga bisa pakai nama Sri Started Following You. Gimana? Futuristik sekali, kan?

Haduhbiyuung.. Nonton film tentang masak itu memang harus waspada kelaparan. Apalagi kalau ingat skill masak diri sendiri masih level mie instan dan telur ceplok. Ini juga sedang belajar masak bubur Milna gagal-gagal terus. Jelas tidak bisa dibandingkan dengan Cook Up a Storm, dong. Yaiyalah!

Mas Paul itu masakannya kebarat-baratan. Sementara Sky ketimur-timuran. Masing-masing punya prinsip yang kuat. Mas Paul mengklaim kalau masakan barat itu terus berinovasi, sedangkan masakan timur cuma gitu-gitu saja. Kalau Sky lebih percaya jika masakan timur selalu menang di rasa karena tidak dimasak dengan trik saja, namun juga hati.

Uniknya, karena Mas Paul dikhianati sama si pemilik modal restoran Steller, ia kemudian banting setir memihak Sky untuk lolos babak ketiga. Jadi masakan barat bakal bertemu dengan masakan timur dalam satu piring! Anjaaay.. Ngeliiihhhhh..

Haduhbiyuung.. Lidah dan perut sudah tidak tahan lagi. Saya ingin makan makanan kombinasi barat dan timur sekarang juga! Tapi di mana?

Ketika tubuh mulai lemas. Ketika sekujur badan sudah pasrah pada lapar. Dan ketika mata terlanjur kepilu-piluan. Tiba-tiba saja, ada pemberitahuan wasap yang menggetarkan sukma.

Ada yang ngajak makan di Pesta Buntel.

Wow, tempat makan apa, tuh?


Karena memang sedang ingin makan yang di luar menu sehari-hari dan sedang hemat dalam satu waktu, maka saya menyatakan mau menerima ajakan traktiran itu.

Singkat cerita, saya sampai di Pesta Buntel, tuh. Tempatnya nyaman. Apalagi nuansa whiteaddict, pattern, dan tanaman-tanaman yang ditata bagus itu membuat saya berpikir mau ke Pesta Buntel lagi kapan-kapan. Tapi sendirian saja. Karena saya lihat ada colokan dan koneksi internet. Xixixixixi.

WATDEFAK! INI MENU APA? 

 
Kira-kira begitulah teriakan isi hati saya ketika tahu ternyata Pesta Buntel itu konsepnya adalah fusion. Yaitu olahan dari masakan barat dan timur yang disajikan dalam buntelan tradisional Indonesia. Uedyan! Baru tahu konsepnya seperti Cook Up a Storm saja sudah sempoyongan lidah ini.

Jadi menunya itu ada aneka Pasta yang dibuntel dengan daun pisang dan dipadukan dengan saos asli Indonesia seperti saos padang, rendang, sambal matah, cabe ijo, saos tomat, bahkan ada juga rasa rica-rica! Selain itu, tidak kalah menarik juga ada menu Hainan yang tetap dibuntel daun pisang dengan varian rasa daging ayam fillet (saos kecap) dan rica-rica daging ayam.

Saat saya masih menahan iler, teman saya bertanya sama mas-masnya soal cara masaknya itu bagaimana. Lalu dijelaskanlah cikal bakal cita rasa Pasta Buntel tersebut. Jadi, pertama yang mereka lakukan adalah masuk ke dapur dulu sebelum memasak dan tidak lupa mengucap salam lengkap dengan basmalah. Kami pun manggut-manggut memaklumi kenapa mereka bisa begitu kreatif meramu masakan.

Usut punya usut, setelah Pasta atau Hainan itu digongso, makanan dibuntel dengan daun pisang lalu dibakar pakai arang. Gongso itu bukan acara TV yang dipandu Arie Untung, lho. (Itu Gong Show!). Gongso juga bukan harga diri atau martabat. (Itu GENGSI, bajindul!).

Jadi, gongso itu istilah dari Jawa untuk menyebut proses menumis, yaitu memasak di atas wajan dengan sedikit minyak. Lho kok tau? Katanya cuma bisa masak mie? Iya, barusan itu ngutip dari masukdapur.com. Tuh link source-nya nempel di dua paragraf sebelumnya. (Ngutipnya di mana, naruh sumbernya di mana. Pancen njaluk dibuntel otakmu, Ham.)

Penggunaan daun pisang ini bukan sepele, lho. Kalau di Cook Up a Storm itu seperti saat Sky menuangkan anggur beras di tepian casserole. Lalu ia lilitkan handuk di tepiannya agar uap tidak keluar. Nah, saat anggur beras bertemu dengan uap panas itulah rasa anggur menyatu dengan rasa ayam, bihun, dan kemangi sehingga menghasilkan aroma yang sedap abes! 



Nah, daun pisang sebagai pembuntel pun juga demikian. Ketika dibakar dengan arang itu muncul aroma dan rasa yang khas bagi makanan di dalamnya. Konon, mereka terinspirasi dari sego bakar yang biasanya jadi menu di wedangan atau hik.

Selain itu, daun pisang juga ramah lingkungan. Sampah buangan daun pisang dapat diurai dengan mudah oleh alam, kan, ya? Yang tidak bisa diurai itu cuma jalinan asmara kita, lho, Tiw. Xixixixixi.

Penjelasan tentang olah masak itu membuat perut dan lidah meronta dengan buasnya. Lalu saya mulai menyimpulkan sendiri kalau ternyata hidangan tidak segera keluar itu karena memang proses memasaknya lama. Lha mau bagaimana lagi? Demi cita rasa tinggi, bosku.

Saat saya menenangkan perut dan lidah dengan sabar, tiba-tiba mas-mas Pesta Buntel bertanya, “Ini pesanannya sudah ditulis semua, Mas?”

BAZINDUL! DARI TADI BELUM MULAI PESEN TERNYATA.

Orang bijak perkulineran sih pernah bilang, “Nek luwe pekok. Nek wareg goblok.” (Kalau lapar –jadi- bodoh. Kalau kenyang –jadi- tolol). Kayaknya itu yang bikin quote pernah ikut tes IQ tiga kali, pas laper, pas kenyang, dan pas normal. Xixixixixi.

Xixixixixi ndasmu! Ngelih, boss!
Sembari menunggu pesanan datang, ada baiknya kepoin dulu instagramnya Pesta Buntel, nih.


A post shared by Pesta Buntel (@pestabuntel) on



Bingung malam minggu pada mau kemana? Yuk main ke Pesta buntel!๐Ÿ˜š . Ini dia menu recommended dari kita, urut dari kiri ke kanan: ~PENNE MOZZARELLA, pasta penne dengan siraman saus tomat blackpaper ini emang bikin ngiler. Perpaduan rasa dari manis, asam, semi pedas dan gurih yang jadi satu ini emang lumer di lidah..๐Ÿ˜ ~FUSILLI CABE IJO, buat para penggemar pedas, menu ini bisa jadi pilihan karna berbahan dasar dari cabe ijo yg pedas..๐Ÿ˜‹ ~HAINAN AYAM RICA, ini menu baru dari kita yang wajib dicoba! Gurihnya nasi hainan bercampur dengan manisnya ayam rica emang bikin nagih..๐Ÿ˜ ~ANEKA LATTE, rasanya manisnya nendang dan murmer menjadikan minuman ini salah satu yang favorit pastinya..๐Ÿ˜‹ ~CHOCOLATE, minuman coklat yang satu ini most recommended dari kita, rasa coklatnya bener2 lumer di lidah, dan taburan choco crunchnya bikin nambah nikmat..๐Ÿ˜‹๐Ÿ˜ . JANGAN LUPA juga!!! Sampai akhir februari kita ada promo FREE UPSIZE 20% all varian pasta, dan FREE REFILL ICE TEA/HOT TEA SAMPAI PUWAAAAAASSSS, kuy buruan serbuu..๐Ÿ˜˜ . Pesta Buntel ๐Ÿ“Jl. Tirtosari, Purwonegaran, Solo ⏰Buka tiap hari, 11.00-22.00 (last order) ๐Ÿ“Food Court Pak Gendut, Solo Baru ⏰Buka tiap hari, 17.00-24.00 Meet, eat, & delighted! . Cek fanpage FB Pesta Buntel ya untuk lihat daftar Menu dan harga: @pestabuntel๐Ÿ˜Š . PESTA BUNTEL "MEET, EAT, and DELIGHTED!" #pestabuntel #meeteatdelighted
A post shared by Pesta Buntel (@pestabuntel) on


Haduhbiyuung.. Kepo kok membuat usus saya gemetaran, ya? Ah, sudah, ah. Pokonya kamu harus nonton Cook Up a Storm dan mencoba makan di Pesta Buntel. Bagus lagi kalau bisa melakukan keduanya. Pesta Buntel ini pernah jadi tempat pemutaran film dalam rangkaian roadshow Pesta Film Solo, lho.

Yuk, kalau kamu mau ke sini langsung berangkat sekarang. Nih, saya send location. Jangan lama-lama. Sambil menunggu makanan tersaji memang menyenangkan jika sekaligus menunggumu datang menghampiri.



Rate

Cook Up a Storm : 6.1/10 versi IMDb (Internet Movie Database)

Pesta Buntel : 8.0/10 versi IMDB (Ilham Mau Dibuntel)

18 Februari 2017


Perkenalan saya dengan kota Solo berawal dari hal embuh yang pernah saya lakukan tatkala pakaian sekolah masih tersimbolkan dengan seragam putih-biru. Kala itu, teman saya yang bernama Nega mengajak mencari buku panduan game Seal. Memang, saat saya SMP dulu suka sekali dengan Seal Online meski levelnya stuck dibelasan saja. Sementara Nega sudah jauh lebih pro. Kegandrungan itulah yang membuat kami terpacu untuk meluncur dari Kartasura ke Solo dengan kayuhan sepeda. Jar kendhel!

Kami mencari di beberapa lokasi, seperti warnet Yahoo!, Solo Grand Mall, Gramedia, dan tempat-tempat lain yang saya lupa namanya. Jujur saja, saat itu masih ada rasa was-was jika saya tidak bisa pulang. Sebab, kota Solo masing sangat asing bagi saya.

Kekhawatiran saya berbuah lega ketika sekujur tubuh ini tiba di rumah. Lalu apa kami mendapat buku panduan tersebut? Tidak! Tidak ada di mana-mana. Justru saya malah membawa oleh-oleh berupa luka karena sempat terjungkal di jalan. Tapi nek dipikir-pikir pancen kemlinthi tenan. Ngonthel sepeda dari Kartasura sampai Solo. Tur durung adus sisan. Joss bloko-bloko!

Selang beberapa semester setelahnya, saya kembali dolan ngetan bersama kawan saya yang lain. Kali ini kepentingannya adalah untuk nonton di bioskop. Sopoyono, saat itu kami yang masih belia ini diburu oleh polisi lalu lintas. Alasannya sudah jelas. Saya tidak memakai helm dan dari perawakan terlihat kami adalah bocah-bocah tak berizin. Alhasil, diseretlah kami ke pos polisi.

Setelah ditanya macam-macam, diketahuilah bahwa teman saya ini memiliki bapak seorang polisi juga. Namun hal itu tidak menyurutkan semangat Pak Polisi untuk menjatuhkan denda kepada kami. Maka terjadilah perdebatan sengit soal harga yang mana kala itu saya cuma ndomblong saja. Singkat cerita, kami menyerah pada nominal 170.000 rupiah. YA! SATUS PITUNG PULUH EWU! Azu!

Lah kok mau-maunya? Lha mana kutau harga semestinya berapa, Bosku? Kuwi jik SMP. Otakku masih berkutat dengan nama-nama kerajaan di Indonesia. Jingseng!

Terlepas dari pengalaman nyelekit itu, saat kelas tiga SMP saya memiliki hobi main ke Solo sendirian. Yuhuu. Jadi ceritanya, setiap hari minggu saya pergi ke Gramedia dengan naik bus. Memang tidak langsung turun tepat di depan toko buku ternama itu. Sebab, tepat di depannya ada jalan searah yang harus dipatuhi. Alhasil, saya dari Kartasura turun di perempatan Gendengan atau kadang kelupaan mblabas sitihik sampai Lapangan Kota Barat.

Dari turun bus itulah saya memutuskan untuk jalan kaki hingga sampai di Gramedia. Pulangnya pun sama saja. Tingkah laku ini lumayan rutin saya lakukan setiap minggu, namun berakhir hingga awal-awal saya masuk SMA. Eits, jangan kira saya ke Gramedia buat beli buku. Ya cuma baca sampelnya dong, Bos. Cah irit og.

Begitulah kira-kira perkenalan saya dengan kota Solo semasa SMP. Sedang pengalaman saya ke Solo saat duduk di bangku SMA terhitung lebih sering tapi tidak rutin. Sebut saja misalnya kunjungan saya ke acara pensi, acara pameran komputer, acara lomba, serta mencari sponsor untuk acara ulang tahun sekolah.

Ada pula saat saya terlibat dengan komunitas menulis, eh tapi cuma datang pada satu kali rapat dan workshop. Niat hati ingin aktif benar, tapi keadaan kurang merestui. Sebab lokasi kumpul lebih jauh daripada tempat saya mbolos. Ya, tempat mbolos saya tak lain dan tak bukan adalah Balkon SGM, tempat main billyard. Jago billyard? Babar blas! 

Oiya, tak luput dalam catatan juga jika saya pernah ngedate sama mbak-mbak kampus di Bakso Kadipiro. Ini lebih belagu daripada mbolos main billyard. Paginya saya baru banget punya SIM. Malamnya sok-sokan dinner. Pun masih harus nyasar dulu ketika dapat anceran kosnya belakang STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia), yang ternyata namanya sudah ganti jadi ISI (Institut Seni Indonesia).

Satu keentahan lagi antara saya dan Solo adalah saat terlibat acara HUT RI di THR Sriwedari. Saat itu saya dimintai bantuan untuh mengisi jumlah anggota Paskibra SMA yang kosong. Ya, Paskibra! Tubuh kurus kecil ini nyempil dalam barisan yang gagah-gagah itu. Dalam acara itu tugas saya ya cuma jalan berderap saja ketika dibutuhkan. Saya hampir seutuhnya lupa dengan acaranya seperti apa, sebab saya sibuk membetulkan celana pinjaman yang longgarnya minta ampyang.

Entahnya lagi, pulang dari acara itu sebagian dari kami memilih untuk mampir mall dengan tetap mengenakan seragram putih Paskibra. Hal yang kami lakukan di mall sungguh heroik sejati. Kami masuk ke dalam lift dari lantai atas. Berjajar rapi mengelilingi sisi lift dengan badan tegap dan muka serius. Barangkali sudah lima kali lift terbuka di beberapa lantai tapi kami tak gentar. Kami menolak untuk ke luar lift. Heroiknya di mana? Jangan salah sangka, kami secara sukarela membantu memencet tombol bagi pengunjung, lho.

Tentu saja biar praktis, kami pencet semua tombol. Mbois tenan po ra?

Selepas dari SMA saya kuliah di Universitas Sebelas Maret Surakarta yang jarak tempuhnya memakan waktu setidaknya setengah jam dengan naik motor. Bisa dibilang untuk pergi kuliah saya harus melewati keseluruhan Kota Solo. Sebab kampus saya letaknya jauh di timur berbatasan dengan Karanganyar. Maka kenyang sudah pengalaman saya melewati jalanan Solo.

Saking bosannya lewat jalan yang sudah saya hafal, ternyata muncul keisengan untuk memasrahkan laju motor kepada takdir. Jadi, ketika saya hendak mengunjungi suatu tempat, saya tidak lekas mengambil rute terdekat. Saya justru melupakan rutenya. Kalau ingin belok ya belok, kalau mau lurus ya lurus. Sewenang-wenang saja. Eloknya, sejauh ini saya selalu sampai pada tujuan tanpa rasa bosan di jalan.

Ngomong-ngomong soal jalanan, di Kota Solo ini fitur jalur searahnya sudah sampai tahap overdosis. Bahkan di lokasi-lokasi yang bagi saya cukup menggemaskan. Saking parnonya dengan jalan searah, saat melintas di jalan perkampungan pun selalu saya cari ada tanda jalan searah atau tidak. Maka benar saja jika dulu sempat terjadi demo penolakan jalan searah oleh warga Laweyan, sampai para demonstran ini menggelah sholat hajad di Jalan Dr. Radjiman.

Saya tak sanggup menuliskan semua detail pengalaman saya dengan Kota Solo saat mengenyam pendidikan di bangku kuliah. Sudah barang tentu ada banyak sekali. Namun, dari sekian banyak itu tentu yang sering saya lakukan adalah memenuhi hasrat hiburan. Salah satunya kecanduan saya dengan bioskop.

Nonton film di bioskop seorang diri sudah menjadi hal yang sangat biasa bagi saya. Saking sendirinya, saya pernah nonton Transcendence di XXI Solo Square pada pukul dua belas siang seorang diri. Seorang diri dalam arti sesungguhnya. Ya. Satu bioskop cuma saya yang nonton film itu. Seperetinya operator bioskop mengira bakal ada yang beli tiket Transcendence di belakang saya. E, ternyata hanya saya yang beli toket film Johny Deep.

Kegirangan nonton film di bioskop semakin gencar saat Hartono Mall menerapkan harga 10.000 rupiah sebagai biaya tiket untuk Platinum Cineplex. Itupun sudah bonus Big Cola mini. Tapi, lambat laun Platinum Cineplex merubah kebijakan harga. Dari yang semula 10.000 jadi naik 15.000, lalu 20.000, dan sekarang sudah menyentuh angka 25.000 sama dengan harga tiket XXI. Bedanya, Platinum Cineplex masih memberi bonus yang berupa pop corn. Ya. Akhirnya Platinum Cineplex sudah sadar jika bonus soft drink tidak meningkatkan pembelian pop corn. Tapi bonus pop corn bisa meningkatkan pembelian soft drink yang mahal. Bukan, begitu? 
Source: theparksolo.com
Di sebelah Hartono Mall pun juga sama saja murahnya. Saat launch The Park Mall, bioskop XXI merayu para pengunjung dengan tiket nonton sebesar 15.000. Harga ini tetap konsisten selama beberapa bulan. Maka wajar saja jika saya sering nonton di sana. Secara kualitas memang lebih baik dari Platinum Cineplex, sih. Ah, nggedebus kamu, Ham. Hla wong kamu pilih The Park itu karena cuci matanya lebih bening, ya tho? Buktinya, kamu sering ke sana tapi cuma sekali doang makan.

Djancik! Gimana gak kapok? Siomay, mie ramen, dan dua minum saja totalnya tujuh puluh ribu! Dinggo ngeprint makalah filsafat lak yo nganti rampung sak semester jik jujul, Ndes.

Di samping foya-foya tak bernutrisi itu, saya juga mengagumi warung tenda di pinggir jalan. Warung-warung ini banyak yang baru buka tatkala sore telah tiba. Kuliner malam adalah salah satu hal yang eman-eman dilewatkan jika bertandang ke Solo. Mulai dari angkringan atau hik, warung bakso dan mie ayam, sate ayam, nasi liwet, nasi goreng, hingga susu segar asli Boyolali juga layak dijadikan tempat untuk mengisi perut.

Hik tetap menjadi andalan saya ketika kantong menipis atau saat sedang ingin menepi saja. Sebab di hik itu saya bisa terlibat obrolan ringan dengan orang-orang yang ada di situ meski tidak saling kenal. Mencoba macam-macam hik berbanding lurus dengan kebiasaan saya mencoba beraneka macam karakter. Kadang di hik wilayah Manahan saya bisa diam saja dari datang sampai pulang. Sedang di hik seputaran Laweyan saya bisa begitu supel. Sesuai mood saja.

Eh, tapi tenan lho. Obrolan-obrolan di hik itu kadang asu-asu bingit. Mulai dari yang serius yaitu komentar soal pembangunan Kota Solo, hingga masalah yang lebih serius lagi seperti kebimbangan untuk menyatakan cinta. Maka dari itu, syarat sahnya bakul hik itu ada tiga. Paham takaran gula, bisa membedakan mana nasi bandeng dan nasi oseng, serta menguasai psikoanalisis. Itu saja.

Source: qraved.co
Sampai dengan detik ini saya puas dengan Kota Solo. Meski sempat jenuh dan timbul keinginan untuk hengkang, namun saya kira Solo sudah cukup sukses menimang saya senyaman ini. Tulisan kali ini saya dedikasikan untuk ulang tahun Kota Solo ke-272. Semoga makin nyaman, damai, kocak dan bisa meningkatkan produktivitas para pelaku kreatif. 
Header source: chic-id.com

20 April 2016


Saya lahir dan besar di Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo. Meski demikian, jika ada orang yang baru kenal lalu tanya saya orang mana, saya pasti jawab “orang Solo”. Iya, saya Solo tulen! Buktinya sekarang saya jomblo.

Oke. Skip.

Tulisan ini sebenarnya diawali dengan keresahan saya saat buka facebook. Ada postingan dari akun TravelingYuk dalam album foto “Traveling Yuk ke Solo”. Saya pribadi tidak ada masalah dengan tempat-tempat yang disarankan, yang jadi masalah adalah saat saya membaca kolom komentar. Komentar paling mainstream adalah; “wah, sejak kapan Solo punya pantai wkwkwk”, “admin ngawur, itu semua bukan di Solo”, hingga “terakhir aku ke Merbabu masih di Boyolali, sekarang pindah Solo, tho?” dan nada sinis lainnya.



Baik, saya rasa cukup pembukaannya, mari kita segera bicarakan tentang Solo dan Surakarta saja.

1. Melihat Solo-Surakarta dalam Perspektif Sejarah

Sangat panjang jika harus menulis sejarah Solo, mari kita peringkas saja.

Solo dan Surakarta adalah dua nama yang tidak menunjukan lokasi yang sama. Awalnya, kerajaan Mataram membangun pemerintahan di Kartasura. Ada yang menyebutkan karena adanya pemberontakan etnis tionghoa dan ada juga yang bilang karena kondisi bangunan tidak lagi kondusif, maka pada tahun 1745 ibukota Mataram dipindahkan oleh Paku Buwono II ke timur. Lokasi tepatnya di dekat Sungai Bengawan yang nama desa disitu adalah desa “Solo”. Untuk membedakan dengan Kartasura maka wilayah kerajaan baru tersebut diberi nama Surakarta. Dari situlah awal mula Surakarta dan Solo disebut sebagai satu tempat yang sama. Ingat, pada masa itu orang-orang tidak capek-capek mengoreksi kalau ada yang salah sebut antara Surakarta dan Solo, wong pak becak saja males ngoreksi typo kalau ada penumpang yang salah bilang Laweyan jadi Saweran atau Pasar Kliwon jadi Pacar Kelon. Paling gur cengengesan sithik karo mbatin ‘Kelon ndasmu jon, bojo wae ra ndue’. Skip.

Selanjutnya, pada masa pemerintahan Hindia-Belanda ada sistem Karesidenan yang dipimpin oleh Residen. Dalam lingkup Surakarta yang termasuk dalam Karesidenan adalah Karanganyar, Wonogiri, Sragen, Boyolali, Sukoharjo, Klaten dan Surakarta itu sendiri. Sistem ini berakhir pada tahun 1950 lalu lebih sering disebut Eks-Karesidenan (Eks=Ex=Mantan). Ciri utamanya adalah plat AD yang mencakup semua wilayah tersebut.

2. Melihat Solo-Surakarta dalam Perspektif Wisata

Jika membicarakan Solo saja, kita hanya akan disuguhi lima kecamatan (Pasar Kliwon, Serengan, Laweyan, Jebres, dan Banjarsari) dengan destinasi wisata yang terbatas pada Kraton, Pasar, Taman dan Museum. Itupun kalau Tahu Kupat samping Masjid Solihin belum dijadikan destinasi wisata.

Nah sekarang saya akan merujuk pada postingan TravelingYuk dengan caption: “Selain terkenal dengan budaya kunonya yang fenomenal, wisata alam milik Solo ini juga sukses bikin kamu melongo”. Penggalan kalimat pertama “Selain terkenal dengan budaya kunonya yang fenomenal” mengindikasikan bahwa tim TravelingYuk ingin melebarkan sudut pandang dalam melihat potensi wisata Solo. Sebut saja yang dimaksud dengan budaya kuno adalah Keraton, Batik atau Museum, itupun masih saja ada yang komen “nyebut wisata Solo tapi Keraton dan Batik malah nggak dicantumin”, oh dude, serius kowe butuh tahu kupat!

Penggalan kalimat kedua coba kita lihat “wisata alam milik Solo ini juga sukses bikin kamu melongo”. Akhirnya kita tahu jika tim TravelingYuk menemukan destinasi wisata selain yang kuno-kuno dengan cara melebarkan pencarian, mereka menemukan wisata alam. Sebenarnya ditubuh kota Solo juga ada wisata alam, mereka belum riset sampai RRI saja sih. Coba ke RRI bagian belakang, beneran sukses bikin kamu melongo lho.

Nah, dalam upaya melebarkan pencarian wisata ini mereka mendapati beberapa lokasi wisata seperti pantai, gunung, kebun teh dll. Yang jadi masalah adalah beberapa orang Solo menafsirkan admin TravelingYuk tidak paham dengan batas wilayah hingga menyebut ada pantai di Solo, yang dimaksud pantai ini adalah Pantai Nampu yang terletak di Wonogiri. Hmm, kalau mau beneran nyoba pantai di Solo sebenarnya kita bisa main deket Solo Square, ada Pantai Waluyo #gojekanlawas.

Berikut saya sertakan nama-nama wisata yang jadi bahan rujukan TravelingYuk:

Gunung Merbabu : Terletak di Kab.Magelang kalau dari lereng sebelah barat dan Kab.Boyolali di lereng sebelah timur dan selatan. Dan kota Semarang di lereng sebelah utara.

Bukit Cumbri : Perbatasan Wonogiri (Jateng) dan Ponorogo (Jatim)

Kebun Teh Kemuning : Karanganyar

Paralayang Ngargoyoso : Karanganyar

GoKart Hartono Mall : Solo Baru

Batu Seribu : Sukoharjo

Batu Alap-Alap : Wonogiri

Bugelan : Wonogiri

Grojogan Sewu : Karanganyar

Gunung Besek : Wonogiri

Air Terjun Jumog : Karanganyar

Telaga Madirda : Karanganyar

Watu Gajah : Boyolali

Watu Kelir : Nah, ini yang rancu. Di Sukoharjo ada wisata curug wilayah watukelir yang emang daerah perbatasan. Kalo dari foto yang diupload TravelingYuk sih itu Telaga Biru Semin di Gunung Kidul (Jogja)

Pantai Nampu : Wonogiri
Gimana? Setuju tidak kalau itu semua diklaim wilayah Solo? Poin berikutnya sebenarnya masih ada hubungannya dengan perspektif wisata, tapi akan saya khususkan lagi.

3. Melihat Solo-Surakarta dalam Perspektif Brand Perniagaan
Mengapa saya sebut perniagaan? Pada dasarnya undangan TravelingYuk adalah untuk wisata jual-beli, bukan sekedar silahturahmi.

Jika ini tentang jual-beli maka saya akan mengutip Peter dan Olson (2000) yang mendefinisikan lingkungan konsumen dalam dua bagian, lingkungan mikro dan lingkungan makro. Lingkungan mikro adalah lingkungan yang sangat dekat dengan konsumen, yang berinteraksi langsung dengan konsumen. Sedangkan lingkungan makro adalah lingkungan jauh dari konsumen, bersifat umum dan berskala luas.

Mari kita sikapi destinasi wisata di kota Solo dalam dua pembagian lingkungan ini. Dalam lingkungan mikro, sasaran pengunjung wisata (konsumen) adalah orang-orang yang tinggal di Solo dan sekitarnya. Seberapa besarnya lingkungan mikro ini bisa kita anggap sebagai wilayah eks-karesidenan Surakarta atau juga sering disebut Solo Raya. Orang-orang yang tinggal di wilayah Solo Raya tentu mengenal dengan jelas mana itu Karanganyar, Boyolali, Sukoharjo, Wonogiri dkk. Sehingga dalam upaya mengajak masyarakat Solo Raya untuk berwisata adalah dengan membranding tempat wisatanya sesuai dengan kabupaten, misal yang paling gencar “Visit Karangayar”. Saking gencarnya, teman maya saya di luar provinsi Jateng tahu mana itu Karanganyar dan potensi wisatanya, tapi beliau tidak tahu mana itu Sukoharjo.

Beda lagi jika berbicara melalui pendekatan lingkungan makro. Sasaran pengunjung wisata ini adalah orang-orang dari luar wilayah Solo Raya, entah itu untuk seluruh Nusantara atau bahkan mancanegara. Saya asumsikan jika saya di Jepang, ada orang Jepang yang bertanya “apakah di Indonesia ada makanan yang seperti ramen?”. Tentu saya jawab “Ya ada, kami menyebutnya mie ayam”, saya tak perlu spesifik menyebut “Ya ada, mie ayam Wonogiri”. Atau jika mereka mencoba mencari pembanding takoyaki, saya tinggal jawab “siomay”, tak perlu “siomay Bandung”. Karna kata penjelas seperti dalam contoh diatas, Wonogiri dan Bandung, bukanlah informasi yang dibutuhkan lawan bicara kita. Apalagi kalo mereka penasaran apa di Indonesia ada semacam Hitomi Tanaka, lalu saya jawab “ada, namanya Bakpao Megajaya...Enak Rasanya...”, lak yo awkward tho.

Penggunaan nama Solo untuk mewakili wilayah eks-karesidenan Surakarta sebagai brand wisata saya rasa cukup pas. Jadi wagu misal kita bikin jargon “Eks-karesidenan Surakarta The Spirit of Java” atau mungkin “Tertib Berlalu Lintas, Cermin Budaya Wong Eks-karesidenan Surakarta”. Saya rasa masyarakat di wilayah Solo Raya ini tak perlu meri jika potensi wisatanya diklaim Solo. Toh saat pengunjung datang lalu update lokasi mereka juga tahu lagi dimana. Toh kalau mampir di Ndoro Dongker tetap auto location-nya Karanganyar. Atau toh keceh di Nampu tetap pakai hastag explorewonogiri.

Atau coba yang di pulau seberang, misal orang Sulawesi atau Kalimantan, pengen main ke Pantai Nampu. Pas ngisi angket pemesanan tiket pesawat lak gak mungkin lokasi tujuannya langsung Wonogiri, kecuali kowe Bruce Wayne.

Kesimpulan

Setelah berpanjang lebar sudah saya utarakan diatas, saya pribadi setuju jika Pantai Nampu, Kebun Teh, Air Terjun, Gunung dan lain-lain itu dianggap milik Solo.

Solo dalam keyakinan saya –yang dipengaruhi referensi yang saya baca- memiliki tiga fungsi notion, yaitu:

1. Surakarta Hadiningrat sebagai notion royal (kerajaan)

2. Surakarta sebagai notion governmental (administrasi pemerintahan)

3. Solo sebagai notion of business and cultural (bisnis dan kebudayaan)

Wah, sudah ya segini saja yang bisa saya tulis. Kalau ada kesalahan data atau pemahaman yang meleset tolong dimaafkan dan dikoreksi. Kalau ada kesalahan ketik alias typo, ya udah biarin saja.

Terimakasih sudah baca, semoga bermanfaat. Salam.

Source pict: dewey.petra.ac.id 

21 Januari 2014



Jujur gue ngerasa beruntung tinggal di kota Solo. Gue sih gak begitu ngerti kondisi kota lain kayak gimana, tapi yakin deh Solo ini kota yang ideal menurut gue. Bicara tentang Solo tentu kita akan langsung nyantol dengan salah satu sosok yang sering muncul di koran-koran atau di media televisi. Siapa lagi kalau bukan Joko Widodo (Jokowi) yang pernah memimpin kota Solo. Gue emang gak pernah punya pengalaman khusus dengan beliau, hanya saja dulu pernah ketemu pas gue sama temen-temen lagi asik jalan-jalan di Car Free Day. Dengan santainya beliau naik sepeda lipat dan tentu saja gak ada pengawal atau ajudan yang mengiringi. Kala itu respon masyarakat yang melihat beliau ya tidak norak-norak banget. Hanya sekedar tegur sapa “monggo Pak Jokowi..”

Melihat dari hal sederhana itu rasanya nyaman banget. Hubungan dari pemimpin dengan masyarakat benar-benar sangat kental. Hingga entah kenapa hampir seluruh masyarakat Solo mencintai sosok sederhana itu. Duh malah kayak kampanye aja nih. Yah, niatnya gue mau ngomongin kota Solo kok. Beberapa hal yang gue suka dari kota kecil ini adalah :

1. Nggak macet
Kalo nggak ada event besar seperti kirab sih kota ini nggak ada macetnya. Kalau pun macet ya nggak parah-parah banget lah. Tetep bisa jalan meski pelan-pelan. Biasanya momen macet ya cuman dibeberapa titik pas jam pulang sekolah saja. Tapi sebagai warga Solo yang sudah bertahun-tahun tinggal disini, macet tentu bukan masalah. Karna ada banyak jalan pintas yang bisa ditempuh (kebiasaan ngindarin polisi karna gak pake helm).

2. Event keren
Sebenarnya sih gue yakin tiap kota juga punya event-event andalan. Nah, menurut gue event yang membumi di Solo tentu saja ‘kirab’. Apa itu kirab? Semacam perayaan yang memakan jalan. Hahahaha.. banyak sekali kirab yang diadakan kota Solo. Mulai dari Solo Batik Carnival yang sifatnya modern hingga yang lebih tradisional seperti kirab yang diadakan dari keratonan. Selain itu event berbasis internasional juga pastinya ada. Sebut saja SIPA (Solo International Performing Art) atau SIEM (Solo International Ethnic Music), event performing art sangat bisa menyedot penonton dari masyarakat Solo.
SIPA

Solo Batik Carnival
3. Biaya makan murah
Sejauh mata memandang dan sejauh roda kendaraan gue melaju, tetep makan di kota Solo bisa menghemat pengeluaran. Gue sebagai anak kuliah yang uang jajannya pas-pasan tentu hafal bener soal biaya makan. Percaya atau tidak dari jam 8 pagi sampai 9 malam gue dikampus, untuk makan kenyang cuma perlu 20ribu perak. Jadi gini, gue sarapan soto+tempe+teh (3000+500+1500) habisnya 5000. Makan siang belakang kampus paket nasi+ayam goreng+es teh habisnya 9000.
Lanjut habis maghrib makan di HIK nasi 2 bungkus+tempe bakar 2 + esteh (2000+1000+2000) jadi habisnya 5000. Sudah tuh total 19.000 rupiah broo. Nominal segitu kalau dikalangan gue masih dibilang boros juga lho. “Daerah kampus kan emang murah-murah bro biar laku..”. Yup, tapi diluar area kampus seprti restoran dan cafe sih menurut gue juga masih banyak yang terjangkau. Rata-rata 10ribuan lah kalau makan disini. Mau enakan dikit ya 15ribu deh udah standar itu. Mungkin di kota kalian ada yang biaya hidupnya lebih murah dari sini? Share dong..

4. Transportasi
Ada apa dengan transportasi kota Solo? Ada beberapa yang bikin gue ngerasa bangga aja sih meski belum pernah naik. Sebut saja bus tingkat dan railbus. Adapula sepur kluthuk, kereta jaman dulu gitu deh. Tapi ya gue sih belum pernah naikin itu itu dan itu. Soalnya memang transportasi yang itu kebanyakan buat wisatawan saja.




5. Tempat nongkrong
Jujur sih tongkrongan asik di Solo gak banyak. Kalau tongkrongan alay sih ada, hahahaha.. Kalau gue sih seneng nongkrong di taman kota atau resto/cafe yang sepi senyap. Suasananya itu lho.. Solo damai banget. Memang ada dititik-titik tertentu yang masanya membludak gak karuan. Tapi selama ada tempat sepi dan ada toko buku, itu sudah cukup untuk mencintai kota ini. Hehehe..

6. Hijau
Sudah ada yang pernah masuk kampus gue? Universitas Sebelas Maret (UNS) ? Nah itu kampus semi hutan. Mau ngelirik kemanapun kita bakal ngeliat daun-daun seger, batang pohon besar dan kalau mata lo jeli ntar juga liat kadal dimana-mana. Lagi, sepanjang jalan Slamet riyadi paling gue suka. Asik banget kecuali depan Grand Mall (biasanya macet dikit). Saat ini kota Solo masih terus mengembangkan sistem kota hijau. Back to the jungle..
7. Tempat wisata
Solo punya apa ya buat wisata? Museum purba, museum batik, atau Keraton. Nah kan kota lain selain Solo dan Jogja gak punya keraton. Hehehe. Keraton solo ini sakral sob, kalau cewek masuk sini gak boleh pakai celanaa lho. Bukan telanjang! Kalo lo (cewek) kesana pakai jeans gitu ntar dipinjemin jarik. Sama musti beli apa ya namanya lupa, kayak yang dikalungin waktu wisuda gitu, harganya 15ribu pas gue dulu.

Kalau wisata yang rada alam-alam gitu.. Kita punya kebun binatang Jurug. Sebagai wisatawan yang baik sebaiknya tidak perlu kesana hahahaa.. Ah bercanda, tapi emang sih kalau dibandingin sama Gembira Loka Jogja udah kalah banget deh Jurug ini. Kalau mau yang seger-seger bisa tuh ke Tawangmangu, ada Grojogan Sewu (Air terjun seribu). Lihat-lihat candi juga bisa lho didaerah sana. Atau pantai, ada di daerah Wonogiri namanya Pantai Nampu. Nggak masuk Solo juga sih, tapi masih masuk eks-karisidenan Surakarta kok, jadi ya gak jauh-jauh banget laah.

Baca juga: Tentang Pantai Hingga Gunung di Solo

Pantai Nampu
Oke, gitu aja deh ya ulasan gue tentang kota Solo dari sudut pandang pribadi. Semoga memberi informasi yang bermanfaat.

Update: Tulisan ini menurut pengamatan penulis pada tahun 2013. Sejak saat itu kota Solo terus mengalami perubahan sehingga beberapa ulasan dalam tulisan ini ada yang tidak terwakili di masa sekarang.