Tampilkan postingan dengan label Tempat Lainnya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tempat Lainnya. Tampilkan semua postingan

8 Desember 2019



Kejenuhan pasti datang ketika kita menjalani hidup dalam lingkaran kegiatan yang dikerjakan berulang-ulang. Kegiatan itu bisa jadi kerja, kuliah, atau hal-hal lain yang mau tak mau harus kita kerjakan untuk membuat hidup kita berarti. Datangnya rasa jenuh menjadi alarm bagi hidup kita bahwa rutinitas harus direhatkan sejenak. Lalu tenggelamkanlah diri kita pada kegiatan yang membawa semangat dan keceriaan.

Kegiatan apa yang bisa dilakukan ketika kita sedang berada di titik jenuh? Tentu saja ada banyak pilihannya, namun untuk kali ini saya akan membicarakan soal “traveling”.

5 Destinasi Wisata Super Prioritas.

Berada di satu tempat yang sama berulang-ulang bahkan hampir setiap hari akan membuat kita super bosan, bukan? Untuk itulah, selain mengisi kegiatan di luar pekerjaan, saya rasa perlu juga keluar dari tempat yang sering kita datangi. Jika kamu setuju, lekaslah packing lalu kita traveling!

Menentukan destinasi wisata mungkin akan membutuhkan waktu yang lama. Selain harus sesuai dengan budget, faktor kepuasan ekspektasi juga jadi pertimbangan. Misalnya begini, ketika hendak berlibur ke sebuah pulau, apa sih ekspektasinya? Pemandangan indah? Bersih? Fasilitas yang memadai? Bahkan, akomodasi yang mudah dijangkau?

Ekspektasi-ekspektasi itu kadang juga perlu dicatat, tidak cuma daftar oleh-oleh saja yang dicatat. Setelah berekspektasi, tahap berikutnya adalah mewujudkan semua ekspektasi itu agar liburan terasa lebih memuaskan.

Saya tidak perlu mengulas panjang lebar soal destinasi wisata alam di negeri ini, kan? Mulai dari gunung hingga pantai, dari museum hingga candi, semua bisa dinikmati tanpa harus repot-repot mengurus passport karena semuanya sudah ada di sini. Kalau begitu, mulai dari mana dong treveling-nya?

Pada tulisan kali ini, saya akan membawa kamu ke 5 destinasi wisata super prioritas yang sedang digembor-gemborkan oleh pemerintah. Kelima destinasi wisata yang dimaksud adalah Danau Toba (Sumatra Utara), Borobudur (Jawa Tengah), Mandalika (Lombok Tengah), Labuan Bajo (NTT), dan Likupang (Sulawesi Utara). Di antara kelima destinasi wisata super prioritas ini, mana yang mau kamu kunjungi?

Kalau saya pribadi akan lebih memilih ke Mandalika atau Likupang. Maklum, saya aquarius, golongan darah AB, dan weton Senin Pahing, jadi Sukanya yang tidak sering dibicarakan orang-orang. Sepemantauan saya, belakangan ini Labuan Bajo sedang marak bermunculan di kronologi linimasi Instagram saya. Sedangkan Borobudur dan Danau Toba sudah seringkali jadi bahan perbincangan di kelas sejarah. Maka saya pilih yang paling asing di telinga saya, yaitu Mandalika dan Likupang. Entah karena informasi tentang dua tempat itu masih minim, atau saya saja yang katrok. Sepertinya lebih condong pilihan kedua, ya. Hmm.

Transmate, Sebuah Penyematan.



Pada Jumat, 6 Desember 2019, saya hadir dalam acara bincang bareng Kementrian Perhubungan (Kemenhub) yang diadakan di Kafe Sundestada Jakarta. Dalam acara yang melibatkan puluhan pegiat kreatif ini, kami diberi wadah untuk berdiskusi soal konektivitas trasportasi yang membuat traveling menjadi lebih mudah dan menyenangkan.

Dalam paparannya, pihak Kemenhub menegaskan bahwa di 5 destinasi wisata super prioritas tersebut telah siap dikunjungi. Hal ini sesuai dengan amanat Presiden yang meminta kelima destinasi tersebut menjadi primadona baru mulai tahun 2020. Segala infrastruktur telah dibangun untuk memastikan wisatawan mendapatkan fasilitas yang memadai selama berlibur. Selain itu, moda transportasi juga telah dipersiapkan dengan matang, baik itu melalui darat, laut, maupun udara.

Pada acara berslogan #ConnectivityMakesTravelingEasy ini juga ada hal lain yang spesial. Puluhan peserta dalam acara tersebut dinobatkan sebagai “Transmate” yang artinya sahabat transportasi. Bukan hanya karena mayoritas pengguna moda transportasi umum, para peserta yang hadir juga aktif dalam isu-isu transportasi dan wisata. Kelihatan kok dari konten-konten yang pernah mereka buat, baik itu di blog, YouTube, atau platform lainnya. Agar makin sah, penyematan label Transmate ini disimbolisasikan dengan sebuah pin khusus dengan logo Transmate yang dipasang di jidat. Ya enggaklah! Di baju masing-masing.

Jika sudah begini, alasan apa yang mau digunakan untuk menunda-nunda traveling? Yuk kemasi barang-barangmu. Kita ketemu di bandara sekarang!


Photo by Tom Fisk from Pexels

28 Oktober 2019


Pengalaman trip ke Bali akan semakin sempurna jika kita dapat bersantai di hotel yang berkelas. Keindahan Bali sudah tidak perlu diragukan lagi, bukan? Namun pengalaman menginap setiap orang sudah pasti berbeda-beda, ada yang asyik tapi ada juga yang buruk. Jika ingin mendapat kenangan yang lebih baik selama di Bali, saya merekomendasikan sebuah promo menginap di The Banda Hotel dengan Kartu Kredit BNI

Menghabiskan waktu bulan madu di Bali memang terdengar klise. Namun jika memang itu manjur untuk menyehatkan mental dan badan, kenapa tidak? Aku dan istri bukan tipe orang yang betah melakukan aktivitas luar ruangan. Entah kenapa, kondisi badan kami tidak memungkinkan untuk melakukan kegiatan yang melibatkan beban fisik terlalu lama. Oleh karena hal itu, kami harus memilih penginapan yang benar-benar memuaskan. Syukurlah, kami tidak kesulitan untuk mendapatkan itu di Bali.

Menginap di The Banda Hotel & Suites Bali selama beberapa hari meninggalkan kenangan yang sangat indah bagi kami. Lokasinya berada dekat dengan pantai dan suasananya tenang sekali. Saking tenangnya, kami mager banget buat jalan-jalan keluar. Hahaha. Gimana sih, sudah jauh-jauh terbang dari Jakarta ke Bali, kok malah mager di kamar aja?

Kami mendapatkan pelayanan yang luar biasa dari para profesional. Ditambah dengan hidangan yang memukau lidah semakin membuat kami merasa puas di sana. Jika tidak ingin melesat ke pantai namun ingin basah-basahan, di The Banda Hotel & Suite Bali ini kita juga bisa menikmati suasana kolam renangnya yang tenang dan segar. Ada dua kolam renang yang bisa kita pakai di sana. Kami tidak benar-benar berenang sebenarnya, hanya berjemur di sekitarnya saja. Lalu memutuskan untuk spa dengan ongkos Rp. 180.000 saja untuk mendapatkan pelayanan spa yang berkualitas.

Selama tinggal di The Banda Hotel & Suite Bali, kami tidak merasa ada keluhan sama sekali. Setiap pelayanan yang diberikan dan fasilitas yang tersedia tidak henti-hentinya membuat kami terus mengucap syukur telah mendapatkan promo menginap di The Banda Hotel & Suite Bali. Nah, jika kamu juga ingin mendapatkan promo yang serupa seperti kami, sebaiknya kamu coba pakai promo special kartu kredit BNI.

Promo Kartu Kredit BNI


Sebenarnya ada banyak banget jenis promo untuk pengguna kartu kredit BNI. Dari sekian banyak itu, saya menggunakannya untuk memperoleh diskon hingga 25% di The Banda Hotel & Suites Bali. Bahkan ditambah diskon 10% untuk pembelian Food & Beverage di Mozarella By The Sea Restaurant, tidak termasuk minuman beralkohol. Jika kamu mau, kamu juga bisa mendapatkan promo di sini karena periode promonya masih berjalan hingga 31 Januari 2020.

Bukan cuma itu aja. Dengan promo spesial kartu kredit BNI, kamu juga bisa dapat diskon 20% di The Michael Resorts Bogor, diskon hingga 27% di The Magani Hotel & Spa Bali, diskon 27% juga di Bali Niksoma Boutique Beach Resort, dan masih banyak lagi diskon hotel yang bisa kamu nikmati. Beruntung banget kan kalau jadi nasabah BNI? Hahaha.

Jadi Rindu Liburan. Ke Bali Lagi Nggak, Nih?


Kapan-kapan kalau ada kesempatan buat berkunjung ke Bali lagi, saya dan istri sudah yakin akan menginap di The Banda Hotel & Suites. Walau sudah tidak ada promo sekalipun, kami tetap akan ke sana. Mau bagaimana lagi? Memang asyik banget tempatnya!

Bukan hanya sebagai destinasi bulan madu saja. Di sana juga cocok untuk kamu-kamu yang mau seru-seruan bareng teman atau saudara. Tapi untuk saat-saat ini saya dan istri belum tahu kapan bisa ke sana lagi karena pekerjaan di ibu kota sedang padat-dapatnya. Jadi teringat lagi kalau sudah lama tidak liburan. Hiks.

Terima kasih untuk kamu yang sudah membaca tulisan ini. Jangan lupa gunakan promo-promo menarik dengan kartu kredit BNI agar kantongmu tidak cepat kering. (Cek promonya: https://www.cekaja.com/banks/bni/kartu-kredit/promo) Sampai jumpa di tulisan saya berikutnya. Salam!

29 Agustus 2019

wisata bandung hits

Selama ini Bandung memang masih menjadi tujuan wisata bagi masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan. Bahkan bisa dibilang Bandung menjadi "kota pelarian" bagi para penduduk Jakarta. Hal ini bukan tanpa alasan, selain memiliki udara yang sejuk, Bandung ternyata memiliki deretan tempat wisata yang terkenal dan dijamin akan memberikan keseruan. Sebagai perantau dari Solo ke Jakarta, Bandung tentu saja jadi pilihan wisata saya.

Tempat wisata di Bandung

Tidak bisa dipungkiri apabila Bandung memang menjadi tujuan wisata yang pas baik itu wisata keluarga ataupun wisata lainnya. Pasalnya berbagai macam jenis wisata bisa kamu temukan di sini. Mulai dari wisata alam hingga wisata dengan konsep masa kini. Hal ini juga disebabkan karena Bandung memiliki fasilitas yang lengkap.

Nah, kalau kamu datang dari luar kota, kamu tidak perlu khawatir bakal menginap di mana karena di berbagai sudut Bandung inilah kamu bisa menemukan penginapan dengan mudah. APa kamu punya rencana liburan ke Bandung? Nih, saya petakan beberapa destinasi yang sebaiknya kamu kunjungi.

1. Trans Studio Bandung

Trans Studio Bandung ini tidak boleh kamu lewatkan ketika sedang berada di Bandung. Ini merupakan wahana rekreasi yang sangat terkenal di Bandung. Untuk lokasinya sendiri menyatu dengan Trans Studio Mall. Bisa dibilang apabila Trans Studio Bandung ini merupakan Dufan versi indoor. Di sini, kamu bisa menemukan berbagai macam wahana permainan yang seru. Setidaknya terdapat sekitar 20 lebih jenis permainan yang akan memberikan keseruan bagi kamu. Mulai dari wahana permainan yang santai hingga menantang bisa kamu temukan di sini. Kalau kamu merencanakan liburan ke sini, kamu cukup membayar tiket masuk sekitar Rp150.000 hingga Rp250.000 per orang.

2. Danau Situ Patenggang

Thanks to Wisatalova for this photo
Apa kamu lagi cari wisata alam di Bandung? Kamu bisa langsung mengunjungi tempat wisata yang satu ini. Tempat wisata ini selalu disesaki oleh para wisatawan. Di tempat ini kamu akan disuguhi dengan panorama alam yang sangat cantik sehingga bikin betah untuk berlama-lama di sana. Kalau mau seru-seruan cobain deh permainan perahunya.

3. Kebun Binatang Bandung

Buat kamu yang sedang mencari referensi tempat wisata di Bandung untuk keluarga maka kamu bisa langsung mempertimbangkan untuk mengunjungi tempat wisata yang satu ini. Kebun Binatang Bandung berlokasi tidak jauh dengan kampus ITB. Tempat ini juga bisa menjadi tujuan wisata menarik kamu. Di sini, para pengunjung bisa menambah pengetahuan seputar hewan. Untuk bisa memasuki tempat ini, maka pengunjung harus membayar tiket masuk. Tetapi tenang saja, tiket masuk tersebut sangat terjangkau.

4. Rumah Mode Bandung

Thanks to Askgeriatric for this photo
Buat kamu yang punya kegemaran berbelanja juga bisa langsung mengunjungi Rumah Mode Bandung. Disini ada sebuah factory outlet yang dinamakan dengan Rumah Mode yang sangat populer di Bandung. Tidak heran apabila ketika Anda datang kesini, kamu harus berdesak-desakan dengan para pengunjung lainnya. Berbagai macam barang-barang fashion bisa Anda temukan di tempat ini.

Baca juga: Tentang Pantai dan Gunung di Solo. Ada?

5. Paskal Food Market

Sedangkan bagi kamu yang sedang mencari referensi wisata kuliner maka kamu harus berkunjung ke Paskal Food Market. Tempat ini menjadi tujuan bagi pemburu kuliner. Di sini kamu akan menemukan banyak kios penjual makanan yang dijamin akan memanjakan lidahmu. Untuk mengunjungi tempat ini, kamu bisa langsung datang ke Jalan Pasir Kaliki.

6. Kebun Stroberi Ciwidey

Jika kamu ingin menikmati stroberi di daerah Bandung maka kamu serag jadikan Kebun Stroberi Ciwidey Bandung ini sebagai destinasi utamamu. Di sini, para pengunjung juga bisa memetik sendiri stroberi yang akan dibawa pulang, kemudian membayar sesuai dengan berat stroberi yang sudah diambil tersebut.

7. Museum Sri Baduga Bandung

Thanks to Backpackerjakarta for this photo
Bagi kamu yang ingin mempelajari sejarah, datang saja ke Museum Sri Baduga Bandung. Di museum ini kamu bisa menemukan jejak sejarah Jawa Barat dari masa ke masa. Ada banyak koleksi benda peninggalan zaman dulu yang bisa kamu temukan di sini. Menarik lho mempelajari sejarah kota yang kita kunjungi.

Demikian beberapa tempat wisata Bandung yang bisa kamu kunjungi bersama keluarga, kekasih, teman-teman, atau mungkin sendiri. Tentunya masih ada banyak lagi tempat menarik di Bandung. Mau coba sebutin? 


Thanks to Simon Migaj from Pexels

21 Mei 2018


Bagi saya, bicara tentang Bali sama artinya bicara tentang dua kesempatan study tour semasa sekolah yang senantiasa saya lewatkan. Bukan karena bosan dengan Bali, ketidakikutsertaan saya dalam darma wisata ke Bali tersebut disebabkan oleh biaya yang tidak mampu saya jangkau. Sampai hari ini Pulau Bali adalah salah satu tempat yang masih saya dambakan, setelah surga firdaus tentunya. Aamiin.

Lokasi wisata di Bali yang paling dicari itu di mana, sih? Pantai Kuta? Hmm. Sepertinya saya tidak begitu tertarik. Saya justru ingin sekali mengunjungi Tanjung Benoa Bali. Tanjung Benoa adalah salah satu lokasi wisata bahari populer yang terletak di ujung barat daya Pulau Bali.

Kawasan wisata Tanjung Benoa dikenal dengan sebutan ‘laut dangkal’ yang berarti semua aktivitas watersport memungkinkan untuk dilakukan. Namun, perlu kiranya memerhatikan waktu yang tepat untuk bermain dengan air di lokasi ini. Dari informasi yang saya dapat, ada istilah ‘pasang tilem’ yang berarti atraksi wisata laut baru dapat dilakukan di atas pukul 11.00 sampai sore. Dan ada juga yang namanya ‘pasang purnama’, di mana kita bisa lebih pagi untuk melakukan olahraga air, yaitu sekitar pukul 09.00.

Bagi pencinta watersport atau bagi netizen yang tersasar ke dalam artikel ini melalui kata kunci Cara Seru Menikmati Wisata Tanjung Benoa Bali, berikut ini saya sajikan beberapa informasi yang barangkali bisa memuaskan rasa keingintahuan dari pembaca sekalian. Baiklah, saya urutkan dari yang mainstream hingga yang antimainstream.

1. Snorkeling

Demi keindahan terumbu karang di kota Bikini Buttom, jenis olahraga ini tentu sudah tidak asing lagi, bukan? Menyelam tipis-tipis sambil menikmati pemandangan yang begitu indah dalam laut tentu akan menjadi pengalaman yang menyenangkan. Sudah tidak perlu ditawar lagi, serunya snorkeling sudah bersifat absolut.

2. Diving

Jika snorkeling hanya berenang di sekitar permukaan air, diving berada pada ke dalam yang lebih ekstrem. Oleh sebab itu untuk melakukan diving diperlukan peralatan dan keahlian khusus.

3. Parasailing

Olahraga satu ini lebih pecicilan dari dua macam sebelumnya. Parasailing adalah atraksi di mana kita akan ditarik oleh speedboat sembari memakai payung parasut. Bagi penyuka tantangan, parasailing bisa jadi pilihan tepat selama liburan di Tanjung Benoa.

4. Waterski

Ski di atas air pasti akan menjadi pengalaman tak terlupakan selama di Bali. Terlebih lagi bagi orang yang sehari-hari tinggal di perkotaan, olahraga ini akan jarang sekali dirasakan. Meskipun iya, ujung-ujungnya paling main kerduski: masuk ke dalam kadus lalu ditarik sama teman-temannya. Ngeeeng.

5. Jetski

Naik motor di darat sudah biasa. Jetski akan membawa suasana berbeda saat naik motor karena dilakukan di atas air. Saran saja bagi pengendara jetski untuk tidak menerabas area yang sudah ditentukan. Setidaknya film Final Destination pernah menegurnya dengan halus akan hal itu. Jangan sampai kejadian!
Kolase berbagai sumber

6. Rolling Donut

Di sini kita akan masuk ke dalam sebuah perahu karet berbentu donat lalu ditarik menggunakan speedboat. Wahana satu ini cocok bagi wisatawan yang suka dengan donat. Sampai-sampai ada film kartun yang populer: Donat The Explorer. Halah mbel.

7. Flying Fish

Meski ikan terbang akan selalu menghantui kita dengan penampakan ikon Indosiar, namun jenis atraksi satu ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan itu. Permainan ini menggunakan perahu karet yang ditarik sampai melayang di udara. Ditarik pakai apa? Ya! Speedboat lagi speedboat lagi.

8. Stir With a Spoon

Dilihat dari namanya saja sudah jelas, ‘mengaduk dengan sendok’ yang artinya melakukan aktivitas membuat minuman dalam secangkir gelas. Stir with a spoon merupakan olahraga yang aman, bahkan bagi pemula, karena memang kita hanya perlu membuat Nutrisari rasa jeruk bali saja. Ini beneran? Ya, kagaklah.

9. Talking to the Moon

Banyak orang menghabiskan waktunya di Bali dalam rangka honeymoon maupun babymoon. Sementara bagi kalangan jomblo garis keras, introvert militan, bahkan sudah left dari grup WhatsApp keluarga tentu saja masih bisa menikmati keindahan Bali. Jika ada honeymoon dan babymoon, bukankah perlu ada lonelymoon juga? Atraksi yang bisa dilakukan di bibir pantai Tanjung Benoa ini sangat sederhana, bahkan cenderung sunyi, yaitu ngobrol sama bulan.

Liburan di Bali? Menginap di Benoa Sea Suites and Villas Aja!


Jadi setelah saya paparkan beberapa informasi yang penting, terutama dua poin terakhir barusan, kamu jadi kepengen tidak menikmati wisata Tanjung Benoa Bali? Olahraga airnya, sih, katanya beneran the best! Menariknya lagi, saya mendapat informasi juga mengenai paket watersport di Tanjung Benoa yang terpercaya.

Nah, ini dia Watersport Package Benoa Sea Suits and Villas. Dalam paket ini tersedia dua macam, Suite Room dan Bedroom Pool. Biaya tersebut sudah mencakup menginap dua malam, minuman selamat datang, sarapan, free wifi, air mineral, dan layanan kebersihan. Sementara untuk olahraga airnya nanti ada banana boat, donut boat, fly fish, dan lengkap dengan makan siang. Gimana? Serunya dapat, tempat inap yang nyaman, dan makanan yang pastinya lezat. Informasi selengkapnya bisa langsung dipantau di: Watersport Package 3D2N


Ada banyak wisata unik di Bali yang bisa kita temui. Dan pastinya pengalaman tersebut akan menjadi cerita yang tak terlupakan. Jangan sampai suasana liburan menjadi muram karena salah pilih tempat inap. Benoa Sea Suites adalah pilihan tepat bagi kita untuk menikmati liburan di Bali dengan sempurna. Tidak ada salahnya kan menjadi raja dan ratu beberapa hari di Bali setelah berhari-hari banyaknya menjadi buruh di kota kita tinggal.
Benoa Sea Suites menyediakan tempat yang sangat nyaman, desain elegan, properti artistik, dan pemandangan yang begitu spektakuler. Ditambah dengan kolam renang tentu saja semakin memanjakan liburan kita ke Bali.
Sekadar tambahan saja, mencari villa dan resort dengan pelayanan berkualitas tak tertandingi bisa kita dapatkan melalui Premier Hospitality Asia (PHA), lho. Lewat PHA kita bisa mendapatkan villa mewah, resort, hotel, dan keperluan properti yang sangat memanjakan kita, baik di Bali, Jakarta, bahkan Malaysia. Salah satuny, ya Benoa Sea Suits itu tadi. Mantap, kan?

Demikian ulasan singkat mengenai watersport yang bisa kita coba di kawasan wisata Tanjung Benoa lengkap dengan rekomendasi tempat inapnya. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kamu agar hadiahnya bermanfaat bagi saya. Ehem! 


Artikel ini ikut serta dalam Blog Competition Benoa Sea Suites Villa & Benoa Bay Villas dengan hadiah hingga 8 JUTA RUPIAH! Yuk, ikut juga dalam kompetisi ini. Kalau tidak ikut, doakan saja saya menang! Aamiin. 


11 Februari 2015

Bisa terhitung telat banget buat menceritakan perjalanan saya ini. Belakangan ini sedang punya banyak pikiran yang menggeliat di otakku. Emang susah kalau mengidap overthink, kemana-mana selalu mikir keras.

Terlepas dari sindrom itu, kali ini saya ingin berbagi cerita tentang perjalanan saya menuju kota Pahlawan dalam rangka liburan semester. Jadi, begini kisahnya.
 
Pada tanggal 14 Januari 2015 saya merasa jenuh dengan lingkungan Solo. Terlebih karena saya sebagai introvert, saya pun tak kunjung ada komunikasi dengan teman-teman saya di dunia nyata. Lama-kelamaan jadi bosan. Lalu pada keesokan harinya, saya mendapat ilham. Saya memutuskan untuk melakukan perjalanan keluar kota. Beberapa destinasi yang saya catat ada Bandung, Surabaya, Malang dan Karimun Jawa.
 
Dengan mempertimbangkan keuangan yang kering, saya pun memutuskan untuk melancong ke Surabaya saja. Terlebih orang tua saya menghendaki demikian sebab di Surabaya ada anaknya yang ketiga, jadi beliau pun tidak cemas. Saya sendiri sebenarnya cukup geli kalau dicemaskan, tapi ya biarlah toh Ibu saya memang cukup over dalam hal cemas-mencemaskan. Dan satu lagi, karena beliaulah yang mensponsori uang saku saya saat itu.
 
Alhasil, pada tanggal 21 Januari 2015 di suatu sore saya berangkat ke Surabaya menaiki kereta sendirian. Dalam perjalanan itu saya menghabiskan satu buah bukunya Bernard Batubara yang berjudul Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri. Yang mana dengan sukses membawa saya pada bayang-bayang semu tentang cinta. Ah, cinta, sudahlah.
 
Tiba di Surabaya sekitar pukul 10 malam, saya dijemput kakak saya di stasiun. Tanpa ba-bi-bu kami pun melenggang menuju rumahnya. Tidak banyak percakapan antara saya dan kakak saya. Memangnya apa yang kamu harapkan dari sesama golongan darah AB dengan latar belakang yang berbeda? Kakak saya anak tehnik fisika penggila bola, sedangkan saya anak seni penggila sastra. Satu-satunya pembicaraan yang nyambung diantara kami cuma tentang film saja, selebihnya, nihil.
Membuka mata pada tanggal 22 Januari 2015 di Surabaya. Jujur saja ini kedua kalinya saya datang ke kota metropolis ini. Yang pertama adalah touring saya dari Solo sampai Madura bersama dua kawan saya (bermodalkan Astrea90’ dan Vega2002, kurang gagah apa lagi?). Dari sini lah perjalanan saya dimuali, eh salah, maksudnya dimulai.
 
MONUMEN TUGU PAHLAWAN
 

Letaknya tidak jauh dari rumah kakak saya, tentu saja ini menjadi destinasi pertama. Menuju tempat ini saya nebeng kakak saya yang hendak berangkat kerja. Pukul 07.30 kala itu. Suasana begitu menyejukkan.
 
Tiba di lokasi, saya langsung menghampiri sebuah papan yang memuat gambar peta atau denah. Kebiasaan. Saya selalu membaca denah dan menghafalnya dalam otak saya. Bahkan saya langsung membuat agenda ‘jalan mana yang akan saya tempuh’ dalam wujud imajinasi visual dalam pikiran saya. Setelah selesai, saya melebarkan pandangan ke segala penjuru, mencoba untuk membaca papan petunjuk, papan pengumuman atau apapun. Maklum, saya tidak terlalu suka dengan ‘malu bertanya sesat dijalan’. Jika ada pertanyaan, saya cenderung mencari jawaban sendiri, kalau kepepet baru tanya.
 
Akhirnya saya paham. Untuk masuk kesini tidak perlu membayar, bebas foto-foto, tidak boleh main sepak bola, buang sampah pada tempatnya dan yang penting ‘gak boleh mesum’. Dengan percaya diri dan muka sok tahu, saya melenggang masuk kedalam. Hamparan rumput hijau menyambut kedatangan saya. Taman-taman yang tertata rapi dengan sedikit keringat mempersilahkan saya masuk lebih dalam.
 
Museum Pahlawan
Kebetulan di dalam sedang ada study tour dari anak-anak SD. Rame! Tapi tak masalah, lantunan lagu Monumen Tugu Pahlawan cukup sejuk didengar. Mata saya terus tertuju pada segala bentuk yang terpampang disini. Mulai dari Patung Ir. Soekarno-Hatta, Tugu, mobil Bung Tomo, monumen makam pahlawan tak dikenal hingga meriam (bukan meriam belina).
 
Tak hanya itu, saya pun masuk ke dalam museumnya. Yang mana biaya administrasinya cuma 5 ribu rupiah. Di dalam museum mata saya sungguh dimanjakan. Foto-foto dan benda-benda bersejarah terpampang rapi di dalam museum. Sebenarnya saat itu anak-anak SD yang study tour tadi ada agenda penayangan video di auditorium. Saya pingin ikut. Sayangnya saat itu sedang tidak membawa baju pramuka, padahal muka masih chuby dan layak jika dianggap anak SD.
Sapu Tangan yang tidak bisa dipakai buat ngelap ingus
TAMAN BUNGKUL DAN KEBUN BINATANG
 

Hasil searching saya di google menunjukkan jika Taman Bungkul adalah 1 dari 10 destinasi yang harus dikunjungi di Surabaya. Sesampainya disana, saya gak paham. Saya tidak tau apa yang harus saya temui di tempat itu. Banyak muda-mudi yang sibuk memadu asmara, padahal masih pagi. Ah iya, cinta tidak mengenal waktu.
 
Karena tidak terlalu tertarik, saya pun melanjutkan perjalanan saya menuju Kebun Binatanag. Oiya, tadi dari Tugu Pahlawan sampai Taman Bungkul saya naik Bus Damri seharga Rp. 6000. Lalu dari taman bungkul sampai kebun binatang saya berjalan kaki. Jalanan bersih dan matahari belum terlalu menyengat, cocok untuk menikmati jalanan Surabaya. Yaiyalah, jauh-jauh sampai sini kalau gak jalan kaki menyusuri jalan ya gak asyik dong.
 
Sampai di kebun binatang saya urungkan niat untuk masuk. Saya takut bertemu kawan saya, Lutung. Ada yang belum tau Lutung itu siapa? Lu Tung itu temannya Sun Go Kong. Sejenis kera dan sejenis saya. Fix! Skip this story.
 
Di kebun binatang saya cuma mampir makan bakso saja. Lha wong harga bakso dan tiket masuknya sama je. Terlebih lagi setelah cek google map ternyata dekat situ ada Togamas. Alhasil setelah makan bakso saya mampir Togamas. “Jauh-jauh di Surabaya cuma mau ke Togamas? Gitu mah, Solo juga ada”. Mau bagaimana lagi. Bagi saya, aroma buku lebih wangi daripada aroma ketek Emma Watson. Tidak ada yang bisa saya ceritakan di Taman Bungkul dan Kebun Binatang. Saya sadar passion saya bukan disini, tapi di museum dan hal-hal antik lainnya. Kamu misalnya.
 
MUSEUM KAPAL SELAM
 

Berangkat dari Togamas, saya naik angkot sampai Tunjungan Plasa (TePe) dengan biaya Rp. 5000. Dari TePe saya cukup bingung arah. Tanya orang? Maaf, intuisi adalah segalanya.
 
Alhasil saya mampir ke KFC deket-deket situ. Biar tidak terlalu menanggung isin, saya pun memesan Mango Float dan OR Burger. Totalnya Rp 20.500 sudah kena pajak, kalau di Solo biasanya Rp 17.000 sudah kena pajak juga. Sambil makan, saya mencoba menajamkan intuisi. Padahal sejatinya saya buka google map, tapi karena di Surabaya lokasinya cukup padat saya jadi bingung.
 
Dari KFC Tunjungan saya jalan kaki sampai Museum Kapal Selam. Jaraknya mungkin 20 kali lipat dari jalan kaki Taman Bungkul-Kebun Binatang tadi. Kenapa gak naik angkot saja? Hemat.
 
Dari pengalaman jalan kaki ini saya memperoleh ilmu menyebrang ala arek Suroboyo. Beda banget dengan di Solo. Kalau di Solo mau nyebrang harus nunggu jalanan sepi dulu baru berani lewat.

Karena kalau nyebrang pas ramai bakal kena marah oleh pengendara mobil dan motor. Nah, masalahnya di Surabaya tidak ada momen jalan sepi atau lenggang sedetik pun. Bermenit-menit saya berdiri menanti momen sepi itu, tapi tak kunjung datang. Lalu ada bapak-bapak penjual arit keliling menanyai saya “ameh nyebrang dek?”. Saya pun menjawab sopan, “nggih Pak”. Beliau membalas, “yowes bareng”. Saat itu saya masih santai berdiri menanti jalanan lebih sepi meski sejenak. Akan tetapi, bapak penjual arit itu langsung turun kejalan tanpa kompromi seolah-olah bilang “tabraken aku nek wani, rene tak gorok gulumu lho cuk!”. Benar saja, semua mobil yang melaju kencang langsung injak rem membiarkan bapak itu menyebrang. Saya pun memanfaatkan kesempatan itu untuk ikut ambil jatah nyebrang. Sampai di sebrang saya heran, kok gak ada yang nglakson panjang ya? Kalau di Solo udah bakal di klakson plus pisuhan tuh.
 
Ah jadi kepanjangan ceritanya. Oke, lanjut ke Museum Kapal Selam.
 
Sampai disini saya masuk dengan biaya retribusi Rp. 10.000. Saya berdecak kagum dengan suguhan kapal selam giganic itu. Tanpa ada komando dari siapa pun, saya menaiki tangga masuk ke dalam kapal selam itu. Tentu saja karena ada tulisan ‘masuk ->’.
 
Didalam tubuh kapal selam ini saya melihat jeroan kapal selam yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Di sini saya bebas mau foto-foto atau sekedar lihat-lihat saja. Asalkan tidak tiduran di kasurnya para pejuang angkatan laut. Saya pun mencoba memakai teropong yang sudah buket karena faktor usia. Pemugaran kapal selam ini cukup bagus.

Saya pikir pintu keluarnya lewat sini, tiap orang dimasukin ke rudal lalu ditembak keluar

Selesai dari perut kapal selam saya turun menuju ruang pemutaran video. Eh, sholat dulu ding. Oke, kelar sholat baru nonton. Agak kecewa juga, karena video yang disajikan sangat usang. Meski iya sih bernilai sejarah tapi di era sekarang, penyajian seperti itu sudah terlalu kurang membuat hati pengunjung terkesima. Finally, saya cukup puas di sini karena biaya yang tergolong murah sesuai dengan fasilitasnya yang memang tidak terlalu megah.
(Intermezo dikit hehehe)
Saya sangat geram saat keluar dari Museum Kapal Selam. Soalnya, saat saya menyusuri trotoar ada bapak-bapak yang menawari saya taksi. Dengan ramah saya menolaknya. Eeelhadalah, ada ibu-ibu yang mencetus begini, “hahahaha, wong seko rupane ketok wong ndeso ngono kok yo jik mbok tawari taksi, hahahaha”. Batin saya, “Hahahahahaa cangkemuk!”.
Usut punya usut, itu ibu-ibu emang lagi ngobrol bareng si bapak taksi jauh sebelum saya lewat. Tepatnya di depan Surabaya Plasa sepertinya. Dimana banyak sekali taksi yang mangkal di situ. Tiga langkah setelah itu, ada mas-mas yang juga nawarin taksi. Ingin sekali rasanya saya naik taksinya mas’e itu, buat nunjukin sama ibu-ibunya kalau jangan asal ngejudge orang. Apalagi di depan saya secara langsung. Tapi saya urungkan niat itu kendati isi dompet tidak memungkinkan.
Tidak dapat dipungkiri, saya memang dari desa. Tapi merendahkan orang lain adalah sikap yang kelewat bodoh. Peh cekelanmu mobil lha po njur kowe luwih mulia ketimbang diriku? Kuwi yo udu mobilmu. Sing mbok banggake kui opo?
Oke lanjut. Karena masih menyimpan rasa sebal itu mood saya rusak seketika. Maklum nde, aquarius ki yo ngono. Dengan rasa sebal yang mendera itu, saya jadi males naik angkot buat melanjutkan perjalanan ke House of Sampoerna. Alhasil, saya memutuskan buat jalan kaki saja sampai sana. Itu sekitar 6 kali lipat dari jarak Tepe ke Museum Kapal Selam.
 
Perjalanan panjang itu sebenarnya ingin saya sudahi karena kaki mulai senut-senutan. Tapi apalah daya diriku, arus lalu lintas memaksaku jalan kaki. Disini saya belajar menyebrang ala arek Surabaya. Sesekali naik jembatan atau mengandalkan lampu penyebrangan. Dan tentu saja, nyasar. Tidak asyik singgah ke kota orang kalau belum merasakan kesasar.
 
Dengan modal intuisi dan google map yang kurang terpercaya saya pun selamat. Saya tiba lagi di Monumen Tugu Pahlawan. Dari sini menuju House of Sampoerna sekitar dua kali lipat dari Museum Kapal Selam ke sini tadi. Saya nekat saja. Sayangnya baru sekitar 1 kilo dari situ saya udah sempoyongan. Jadilah saya naik becak sampai House of Sampoerna. Lagipula jalannya agak blusuk-blusuk gitu.

HOUSE OF SAMPOERNA
 
Pilarnya dari batang rokok, Gokil!
Aha. Sampailah saya di House of Sampoerna dengan biaya becak Rp 20.000. Lha semprul, tombok malahan. Cukup kecewa dengan hal itu, saya masuk ke dalam kawasan museum. Seperti biasa, saya membaca dulu semua tulisan yang ada disitu. Sayangnya, tidak ada keterangan retribusinya berapa.
 
Kebetulan, ada sekelompok remaja masuk kesitu. Seorang cewek tanya soal biaya masuk. Dan temennya yang cowok (sepertinya sudah pernah kesini) pun bilang kalau masuknya gratis. Mendengar kalimat itu, saya pun melenggang masuk ke dalam museum dengan percaya diri. Alhamdulillah..... Gratis ndeee.
 

Di dalam museum aromanya sungguh nikmat, cengkeh everywhere. Display ruangannya sangat rapih, bersih dan elok dimata. Di ruangan pertama saya disuguhi oleh aneka macam cengkeh dari berbagai daerah di Indonesia. Ada pula foto-foto jadul yang memuat cerita tentang berdirinya Sampoerna itu sendiri. Mau saya ceritakan tapi kurang etis, sebaiknya anda saksikan secara langsung.
Diruangan berikutnya saya baru berani memfoto karena memang lebih sepi. Disini ada macam-macam bungkus rokok produksi Sampoerna. Ada pula alat-alat yang dulu dipakai buat membuat rokok legendaris tersebut. Tak luput yang menarik perhatian saya adalah kostum marching band Sampoerna yang mewah.
 

Lepas dari ruangan itu saya naik ke lantai dua. Oops, disini tidak boleh foto-foto. Di ruangan ini ada banyak baju batik dan asesoris maupun barang-barang antik yang bisa kita beli buat oleh-oleh. Saya tidak tertarik. Tentu saja karena harganya pasti muahil. Selain itu disini juga ada komputer yang siap menayangkan video proses pembuatan rokok. Sayangnya saya tidak menggunakan fasilitas itu karena ada seorang gadis yang sedang menontonnya. Ya, fasilitas itu cuma bisa dipakai perorangan.
 
Namun, saya tidak kecewa. Dari balik kaca transparan, saya melihat sebuah ruangan pabrik yang sangat luas. Lengkap dengan alat-alat pembuat rokok yang tertata rapi. Saat itu saya merasa seperti bos besar yang sedang mengawasi pabriknya dari ruang kerja.
 
Turun dari ruangan itu, saya menuju toilet. Toiletnya bersih dan etnik sekali. Di toilet itulah saya berbenah diri, mulai dari cuci muka sampai semprot pewangi sana-sini. Kalau saja ada bak mandi atau shower, saya pasti sudah mandi.
 
Sudah selesai dengan urusan penggantengan muka, saya sedikit keliling-keliling kecil di beberapa sudut museum yang tadi sudah saya lewati. Mau bagaimana lagi, lha wong pintu masuk dan pintu keluarnya sama nde.
 
Keluar dari museum saya beranjak menuju Art Galeri. Tidak terlalu jauh. Saya hanya perlu melewati selasar yang sangat rapi dan indah menuju belakang cafe. Sayang e sayang, pada saat itu Art Galeri sedang direnovasi. Tertera keterangan di depan pintu bahwa Galeri tidak bisa digunakan dari tanggal 12-29 Januari 2015. Kok yo ngepasi men?
 
Kabar buruk
Sangat kecewa. Dengan lesu saya berjalan menuju kursi-kursi taman. Rencananya saya dijemput kakak saya, sekalian ia pulang dari kantor. Sebab jarak kantor kakak saya dengan House of Sampoerna tidak terlalu jauh dan memang sekali jalan (agak mblusuk dikit).
 
Brrreessssss...
 
Tempat menunggu jemputan sebelum hujan tiba
Hujan deras mengguyur Surabaya sore itu. Pukul 17.40 kakak saya tiba dengan mantelnya. Karena khawatir rumahnya kebanjiran, kami pun nekat menerjang hujan. Bagai memungut buah simalakama, ditengah perjalanan kami mengalami kecelakaan tunggal. Terpleset. Untung saja tubuh kami yang meluncur di aspal tidak disambut oleh laju mobil dari belakang. Tangan kakak saya lecet dan lebam. Saya sendiri tidak mengalami luka sama sekali. Soalnya pernah lihat di youtube tentang tutorial film action dimana kalau adegan jatuh itu usahakan menjatuhkan bahu, jangan bertumpu pada telapak tangan karena beresiko kesleo atau mungkin saja patah tulang jika tumpuan tidak seimbang. Alhamdulillaaaah..

Waaah.. Panjang juga tulisan ini. Semoga tidak bosan ya teman-teman. Terimakasih sudah mampir dan menyimak. Maaf jika ada yang tidak elok dibaca. Sampai jumpa, semoga sehat selalu.

8 November 2013

Dulu pernah gue nyoba cek di Google pake keyword "Pantai Goa Watu Lawang" dan hasilnya no result. Googling itu gue lakuin seabis gue dari sana dan ternyata memang lokasi itu belum ada yang mempublikasikannya di media internet sekalipun. Seketika itu gue login di website Detik Travel lalu nulis tentang pengalaman gue menemukan pantai yang masih sepi dan menyegarkan itu.

Sehari dua hari tiga hari bahkan sampai seminggu gak ada tanda-tanda kalau tulisan gue bakal di publish sama admin detik travel. Akhirnya gue stop ngepoin dan kembali ke rutinitas selancar interner gue yang seperti biasanya (facebook-twitter-baca komik online-ngegame). 

Sekitar lebih dari sekedar berminggu-minggu ada temen sekampus gue yang beda jurusan ngecrokin "cieeee..anak detik travel cieeee..." Gue cuma mringis-mringis doang sambil mikir apa yang sebenarnya terjadi. Gue gak sempet tanya sama dia soalnya ya cuman papasan doang sih. Abis itu muncullah lagi nafsu kepo gue. Buruan deh gue buka detik travel dan akhirnya nemu ini ( Buka saja, gak beracun kok ).. Taraaaaaaa....

Ternyata dipublish juga, hehehe. Lalu isenglah gue googling dengan keyword yang sama seperti sebelumnya dan muncullah artikel yang gue tulis ini di posisi paling atas. Tapi, wait! Gue nemu blog atau tulisan orang lain yang juga ngebahas Goa Watu Lawang. Dan setelah gue cek ternyata mereka cuma ngopas tulisan gue. Bahkan fotonya juga ada yang nyomot dari gue. -salah sendiri gak pake watermark-

Tapi ya sudahlah gue kan cowok sabar kayak penyanyinya rumput yang bergoyang -kalo nyanyi mendayu-dayu banget bikin gemes-.  Akhirnya pas tanggal 17 Agustus kemarin gue sama temen-temen OSIS sewaktu SMA -cuma lima orang yang ikut sih- pergi ke sana. Soalnya pada penasaran gitu.

Berangkat dari Solo 7.30 dan tiba disana dalam keadaan masih cukup pagi. And you know, situasinya masih sepi. Padalah pantai sebelah -maksud gue Indrayanti- udah luber-luber kayak pedagang es dawet yang kebanyakan nuangin cendol karna gak konsen liatin paha mbak-mbak kece. Dan gue beryukur ibu sama bapaknya disana masih inget gue hehehe. Seakarang ada gazebo sama mushola juga, udah ada kemajuan daripada yang lalu cuma gubuk kecil doang.









Dan selayaknya pergi kepantai sama temen-temen disertai dengan pengalaman dan daya analisis, akhirnya gue nemuin sebuah quote begini :
Makin lama kamu memutuskan untuk nyebur, makin tersiksa dan memalukan caramu nyebur.