Tampilkan postingan dengan label Jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jakarta. Tampilkan semua postingan

21 Oktober 2019

commuterline


November 2017 adalah masa peralihan yang cukup besar di dalam hidup saya. Pasalnya, di waktu tersebut saya mulai memutuskan untuk beranjak dari tanah kelahiran, Solo,  menuju ke Jakarta. Awalnya, memang terasa betul adanya gap antara kehidupan yang baru dan yang lama. Terutama, soal transportasi kota.

Dulu, saya selalu menggunakan kendaraan pribadi ke mana pun tujuannya. Sebab, menggunakan transportasi publik bukanlah menjadi sesuatu yang umum dilakukan oleh orang-orang di sekeliling saya. Beda halnya dengan yang saya dapati di Jakarta. Apalagi, kampanye penggunaan transportasi publik terus dilakukan dengan cara-cara yang menarik.

Salah satu transportasi publik yang menjadi favorit saya adalah kereta rel listrik (KRL) yang beroperasi di wilayah Jabodetabek. Sebelumnya, saya hanya mengetahui kereta antarkota saja. Dan, adanya transportasi semacam KRL Jabodetabek ini tentunya memudahkan perjalanan orang-orang untuk sampai ke tempat tujuan.

Setelah berbincang dengan istri saya yang menggemaskan tiada tandingannya, diakuinya bahwa KRL Jabodetabek ini mengalami banyak sekali perubahan sebelum apa yang saya lihat sekarang. Perubahan-perubahan tersebut tentu saja ditujukan untuk memenuhi keselamatan, keamanan, dan kenyamanan. Di sini saya melihat upaya Kementrian Perhubungan untuk membangun infrastruktur yang layak bagi warga.

Beberapa perubahan yang dilakukan Kemenhub terhadap transportasi KRL Jabodetabek, antara lain:

1. Ditiadakannya kereta ekonomi yang sudah tidak layak lagi. 

Pernah melihat gambar-gambar kereta tanpa pintu dengan banyak penjual asongan, nggak? Atau pernah dengar soal penumpang liar yang memaksa mengikuti perjalanan tanpa tiket di atap kereta? Saat ini, kereta ekonomi yang tidak layak demikian sudah tidak diizinkan untuk beroperasi lagi. Walaupun harga tiket yang dibandrol sangat murah dan terjangkau, tapi keselamatan, keamanan, dan kenyamanan penumpang tentunya menjadi pertimbangan utama.

2. Harga yang relatif lebih murah. 

KRL sekarang ini sebetulnya memiliki harga tiket yang masih sangat terjangkau dengan kualitas layanan yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Jika KRL Jabodetabek yang ada bisa disetarakan dengan kereta ekonomi AC di masa sebelumnya, maka perbedaan soal harga ini akan tampak sangat jelas. 

Kereta ekonomi AC, dulunya, memasang harga tiket sebesar Rp8.000 dalam sekali perjalanan. Jika kamu memiliki tujuan akhir yang mengharuskanmu transit dua kali atau menggunakan tiga kereta dengan jurusan berbeda, maka biayanya perjalanannya menjadi Rp8.000 x 3! Sementara sekarang, asalkan kita tidak keluar stasiun, harga tiket perjalanannya cukup flat dengan maksimal Rp5.000 saja. Perubahan ini yang membuat istriku bercerita dengan sangat riangnya.

3. Metode pembayaran yang lebih mudah dan ramah lingkungan. 

Penggunaan tiket berupa kertas-kertas yang distempel sekarang sudah tidak berlaku lagi. Selain untuk memudahkan pembayaran dari para penumpang, juga bisa mengurangi sampah kertas yang dibuat dari pohon itu, kan? Pengguna KRL Jabodetabek bisa menggunakan Kartu Multi Trip (KMT), THB (Tiket Harian Berjaminan), atau uang elektronik dari beberapa bank untuk melakukan perjalanan.

4. Gerbong khusus perempuan. 

Pelecehan seksual di ruang publik masih sangat sering terjadi, KRL tentu saja termasuk di dalamnya. Melihat hal ini, ada upaya dari Kemenhub untuk menanganinya dengan membuat ruang-ruang khusus wanita di dalam berbagai moda transportasi. Untuk KRL Jabodetabek sendiri, gerbong khusus wanita bisa ditemukan di ujung depan dan ujung belakang.

5. Kursi prioritas.

Kursi prioritas bagi orangtua, perempuan hamil, dan disabilitas membuat kereta menjadi alat transportasi yang inklusif. Menurut saya ini keren!

Nah, itu saja kiranya cerita saya soal transportasi umum di Jakarta, khsusnya KRL. Semoga makin keren kedepannya. Jangan lupa ikuti akun media sosial Kemenhub untuk mengetahui berbagai informasi yang harus kita tahu soal perkembangan transportasi dan semacamnya.

Terima kasih sudah membaca tulisan saya sampai selesai. Sampai jumpa di tulisan berikutnya!

Photo by veerasak Piyawatanakul from Pexels

12 Oktober 2019

jaket musim dingin murah

Salah satu hal yang perlu diketahui oleh perantau seperti saya adalah letak pusat perbelanjaan yang murah namun tetap berkualitas. Saya yang merantau dari Solo ke Jakarta dibuat kaget dengan harga-harga yang mahal, termasuk fashion. Padahal saya juga ingin memperbarui cara berpakaian, mulai dari sepatu, celana, hingga outwear seperti jaket musim dingin pun ingin saya miliki.

Kendati mencari berbagai jenis fashion di Jakarta sangat mudah, namun saya harus berjibaku dengan nominal harga yang tidak sedikit. Pernah sekali waktu saya beli dua pasang tali sepatu dengan harga 50ribu. Saking ngehenya, saya jadi ingin tertawa sendiri karena mengalami hal itu. Kalau tali sepatu saja dibandrol dengan harga segitu, lantas bagaimana dengan jaket musim dingin yang tadi saya inginkan?

Abusrd sih memang kalau ingin fashion musim dingin di negara tropis. Tapi kan bisa saja ada kesempatan buat melancong ke negara-negara yang bermusim dingin. Atau bisa juga dipakai untuk berpergian ke dataran tinggi di Indonesia seperti Tawangmangu, Dieng, atau mungkin masuk ke freezer-nya Pak RT. Duh, kok jadi ngaco.

Maaf, maaf. Lupakan tentang freezer-nya Pak RT, kita kembali lagi pada pencarian factory outlet Jakarta yang murah dan berkualitas. Setalah bertanya ke berbagai arah, saya mendapatkan informasi kalau Mangga Dua Square adalah pusat factory outlet Jakarta yang tepat untuk mencari aneka kebutuhan fashion branded, murah, dan lengkap. Tanpa pikir panjang, saya dan istri segera meluncur ke Mangga Dua Square untuk membuktikan apakah benar di sana kita bisa mendapatkan kebutuhan sandang yang berkualitas dan terjangkau.

Mangga Dua Square – Saya Pasti Belanja di Sini!

Hampir dua tahun saya berada di Jakarta tapi belum pernah sekalipun main ke Mangga Dua Square. Maka ketika ada saat luang, saya dan istri merasa wajib mendatangi Mangga Dua Square yang terletak di Jalan Gunung Sahari Raya, No.1 Pademangan, Jakarta Utara.

Awalnya saya menerka jika Mangga Dua Square itu seperti pasar baju bekas yang berantakan, bikin kesasar, dan hanya para pemburu harta karun saja yang bisa menemukan busana bagus di antara timbunan pakaian yang acak. Jangankan mencari jaket musim dingin yang tidak familiar bagi masyarakat Indonesia, mencoba mendapatkan syal saja belum tentu ada. Pikirku saat itu.

Tapi ternyata anggapan itu salah. Salah total! Mangga Dua Square tidak berbeda jauh dengan mall yang tertata rapi dan nyaman. Meski ada banyak kedai makan hits di sana, tapi saya dan istri melewatinya begitu saja karena tujuan kami adalah mencari factory outlet yang dikenal murahnya.

Tidak terlalu susah untuk menemukan factory outlet andalan Mangga Dua Square. Ada 8 factory outlet di Mangga Dua Square, yaitu Publicity, DSE, Premier, Amira FO, Chois FO, Fifth Venue, RAJA FO, dan Super Bazaar. Melalui beragam outlet ini, Mangga Dua Square menyajikan koleksi fashion yang kekinian, bahannya berkualitas, serta harga yang terjangkau.

jaket musim dingin murah
Rekomendasi Jaket Musim Dingin di MDS
Waktu itu saya pertama-tama masuk ke FO Publicity. Di dalamnya ada banyak koleksi pakaian yang keren-keren dan nyaman sekali di kulit. Ketika meraba-raba pakaian yang ada di sana saya langsung berguman, “Wadaw, lembut-lembut banget nih teksturnya.”

Nah, hal yang bikin saya terpengranggah adalah ketika saya menemukan serenceng koleksi jaket musim dingin di sana. Gils, ternyata ada lho jaket musim dingin di Mangga Dua Square. Kirain cuma khayalanku saja. Dengan perasaan gembira, saya lantas segera saja mencobanya satu persatu. Ya, siapa tahu kan sehabis membeli jaket musim dingin itu saya lantas terbang ke Jepang atau Rusia yang punya musim dingin. Hehehehe. Diaminkan apa tidak, nih?

Baca juga: Kostum Sebagai Mise En Scene dalam Film

Publicity atau Super Bazaar?

Area Mangga Dua Square sangat luas. Kalau mau masuk ke setiap outlet-nya saya khawatir persendian kaki saya bisa kenapa-kenapa. Jadi saya hanya memilih dua outlet saja, yaitu Publicity dan Super Bazaar.

factory outlet jakarta
Publicity Factory Outlet Jakarta
Awalnya saya memilih Publicity tanpa pertimbangan apa-apa. Saya asal masuk saja untuk melihat berbagai macam koleksi pakaian yang ditawarkan di sana. Bermula dari ngasal, saya justru dibuat betah di sana. Mungkin ada 4 atau 5 pakaian yang saya coba di sana, mulai dari hoodie kece hingga jaket musim dingin. Saya seakin senang ketika melihat harga yang tertera di sana sangat murah. Untuk satu jaket musim dingin berkualitas saja, saya hanya perlu merogoh 300-400ribu rupiah.

Hal tersebut terasa murah karena brand fashion-nya ternama semua, lho. Calvin Klein, ada. Zara juga ada. Tapi kenapa kok bisa murah? Jadi, koleksi fashion yang ada di sini merupakan barang branded berkualitas tinggi tapi tidak lolos distribusi utama. Memang ada beberapa kekurangannya, seperti sedikit berlubang, ukuran kurang universal, atau ada jahitan yang tidak sempurna. Meski demikian, secara keseluruhan sebenarnya kekurangan-kekurangan itu hampir tidak terlihat. Bagi saya yang tidak terlalu mendamba kesempurnaan busana ini merasa sudah sangat puas dengan produk dan patokan harga jaket musim dingin yang sangat manusiawi.

Area Publicity memang tidak terlalu luas tapi koleksinya yang banyak membuat saya betah mencoba dari satu style ke style yang lain. Saya dan istri ternyata sepakat, kalau style hoodie merah ini terlihat keren dan cocok buat saya. Bagaimana menurutmu? Hahaha.

koleksi mangga dua square keren
Hoodie Keren di Mangga Dua Square
Setelah puas bermain di Publicity, saya dan istri lantas menuruni satu lantai untuk tiba ke Super Bazaar. Kami memilih outlet ini karena letaknya di pojokan dan terlihat cukup sepi. Kalau di Publicity tadi cukup ramai sehingga kami agak malu berekspresi, sementara di Super Bazaar itu kebutuhan tengil kami bisa diekspresikan tanpa harus berpikir apa kata orang.

Walau relatif sunyi, Super Bazaar sebenarnya juga memiliki koleksi fashion yang tidak kalah keren dari Publicity. Menurut pengamatan saya, koleksi style di Super Bazaar cenderung lebih muda dan atraktif. Outlet ini cocok buat kamu yang suka melakukan mix and match pada busana yang kamu kenakan. Di sini koleksi jaket musim dingin juga ada, meski tidak sebanyak Publicity.

jaket musim dingin pria wanita
Rekomendasi Jaket Musim Dingin Wanita dan Jaket Musim Dingin Pria
Coba lihat jaket musim dingin pria dan wanita ini. Bagus, kan? Saya dan istri sangat suka dengan jaket musim dingin ini. Dari segi ukuran, kenyamanan tekstur, hingga warna dan style pun sangat cocok dengan kami. Bagaimana menurutmu?

Sekarang coba kita lihat dari segi harga. Dibandingkan dengan Publicity, harga-harga yang terpatri di Super Bazaar relatif lebih murah. Saya sudah bisa membawa pulang jaket musim dingin yang keren hanya dengan ongkos tidak sampai 200ribu. Gila, ya. Kalau sudah begini kan saya jadi nagih buat belanja ke Publicity dan Super Bazaar.

factory outlet Jakarta
Rekomendasi Factory Outlet Jakarta


Keisengan di Mangga Dua Square

Melihat ada banyak busana keren di Mangga Dua Square membuat saya ingin segera membeli semuanya. Tapi jelas saja tidak bisa karena bukan sultan. Maka saya bertekad untuk kembali lagi ke Mangga Dua Square kalau sudah menerima gaji di bulan mendatang.

Melihat realita itu, timbullah nafsu iseng untuk mengamankan produk yang saya inginkan. Singkat cerita, saya meletakkan pakaian yang saya ingin beli di susunan paling belakang atau paling bawah pada display tokonya. Dengan begitu saya berharap barang itu tidak jatuh ke tangan orang lain sebelum saya bisa membelinya. Hahaha. Boleh apa tidak sih berperilaku seperti ini?

rekomendasi factory outlet jakarta
Koleksi Murah Mangga Dua Square
Walau begitu, jika barang yang saya simpan itu ternyata dibeli oleh orang lain, sepertinya saya tidak akan terlalu merasa kecewa. Pasalnya di Mangga Dua Square mudah sekali mendapatkan pakaian yang keren dan “aku banget”. Mau formal, ada. Casual, ada. Pilihan temanya benar-benar ada banyak. Namun ada satu hal yang sama, yaitu ongkosnya yang murah!

Saya merasa sangat bersyukur jika di tanah rantau ini ada tempat seperti Mangga Dua Square. Buat kamu yang sedang membaca tulisan ini, silakan kunjungi Mangga Dua Square untuk mendapatkan gaya terkerenmu. Jika kamu tinggal di luar Jakarta lalu kebetulan sedang di Jakarta, maka tidak ada salahnya kamu berwisata ke Mangga Dua Square. Siapa tahu bisa menemukan oleh-oleh kece yang bisa bikin orang lain kepengen. Kalau mau via digital, kamu bisa kepoin akun Instagram mereka di @mangga2square.

Terima kasih sudah membaca tulisan saya sampai selesai. Semoga bermanfaat, ya. Salam!

Photo by freestocks.org from Pexels

30 Oktober 2018


Hampir setahun aku berada di ibu kota. Masih betah.
Jakarta adalah kota multiverse, di mana kamu bisa bertemu banyak sekali orang-orang dari berbagai daerah yang mengadu nasib atau hanya sekadar iseng berwisata. Yup, tak hanya diserbu oleh para pejuang rupiah saja, kota Jakarta juga memiliki daya tarik tersendiri bagi para wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Meski di sini tidak ada candi yang megah atau air terjun yang menyegarkan, tapi ada banyak selebritas yang bisa kamu ajak foto-foto lucu, kok.
Nah, buat kamu yang hendak berlibur ke kota Jakarta, berikut ini ada beberapa  rekomendasi hotel di Jakarta murah yang paling nyaman, senyaman pelukannya :

1. POP! Hotel Kelapa Gading Jakarta

Pop! Hotel Kelapa Gading Jakarta
Hotel terbaik paling murah dan paling nyaman di Jakarta yang pertama, yaitu bernama POP! Hotel Kelapa Gading Jakarta. -Ingat lho, Kelapa Gading, bukan Kepala Daging.- Nah, hotel bernada ijo-ijo ini berada di Jl. Boulevard Kelapa Gading, Sentra Kelapa Gading, Blok M, Jakarta. Harga per malam di hotel ini sekitar Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu. Sepadan dengan fasilitasnya yang terdiri dari layanan concierge, layanan cuci pakaian, layanan antar jemput bandara, layanan dry cleaning, bar – lounge, kolam renang, Ac, wifi gratis, dan masih banyak lagi.

2. MaxOneHotels at Sabang

MaxOneHotels at Sabang, Jakarta Pusat
Selain POP! Hotel Kelapa Gading Jakarta, MaxOneHotels at Sabang juga merupakan salah satu hotel murah yang jangan sampai kamu lewatkan. Harga sewa per malam di hotel ini sekitar Rp 400 ribu hingga Rp 600 ribu. Hotel bernuansa Jakarte banget ini berada di Jl. Haji Agus Salim No. 24, Jakarta. Lokasinya strategis, nih. Saya biasa mampir mini market di sebelah hotel ini. Beli Granita.

3. Favehotel Gatot Subroto

Favehotel Gatot Subroto, JakSel.
Hotel murah dan paling nyaman di Jakarta yang pertama hadir, yaitu Favehotel Gatot Subroto. Fasilitas yang tersedia di hotel ini berupa layanan concierge, layanan kamar, layanan antar jemput bandara, layanan dry cleaning, akses kursi roda, bar – lounge, restoran, sarapan, wifi gratis, parkir gratis, ruang pertemuan, pusat kebugaran, kolam renang, dan sebagainya. Biaya per malam di Favehotel Gatot Subroto sekitar Rp 500.000 saja. Hotel ungu-ungu anggur ini berada di Jl. Kartika Candra Kav. A9 Karet, Semanggi, Jakarta Selatan, Jakarta. So, apakah you-you mau ber-night di sini? Eh, maaf, ngomongin Jaksel, lidah jadi otomatis hyper-correct gitu.

Nah, sudah, ya. Itulah beberapa hotel termurah di kota Jakarta yang paling nyaman. Cocok juga buat kamu yang butuh tempat menginap di lokasi-lokasi strategis. Fasilitas optimal, harga minimal, dan dapat sendal. Bagaimana? Apakah kamu berminat untuk bermalam di salah satu hotel tersebut?



25 April 2018


Sebelum pindah ke Jakarta, saya terlebih dulu tinggal di Solo dalam waktu yang cukup lama. Saya menerima Solo sebagai kota kecil dengan suasana rindang yang setiap pagi dan sorenya selalu menyegarkan. Hal ini tidak lepas dari upaya pemerintah dan warga untuk mensenyawakan kota modern dan alam.

Suasana teduh sangat terasa jika saya menjelajahi kampung-kampung di Solo. Ada banyak hal-hal menarik yang bisa ditemukan di sana. Salah satunya adalah kegotongroyongan warga untuk merawat tanaman-tanaman sehingga area perkampungan tersebut terasa menyejukkan. Tidak hanya itu, saya juga suka dengan kampung-kampung yang secara aktif membangun Usaha Kecil Menengah (UKM). Seperti Kampung Laweyan dan Kauman dengan produksi batiknya, maupun desa Tawangsari dengan produksi tenun ikat yang mendunia.

Hal-hal seperti itulah yang kadang saya rindukan dari Kota Solo. Nuansa asri dan produktif seringkali menjadi pemacu semangat bagi saya. Entah mengapa, selepas mengunjungi tempat-tempat seperti itu, saya merasa begitu gembira.

Sementara itu, lima bulan saya tinggal di Jakarta suasananya berbeda. Kota besar ini benar-benar terlalu sibuk. Banyak energi saya yang hilang ketika menempuh perjalanan menerabas kemacetan. Udara yang saya hirup pun rasa-rasanya ampek (sesak) meski saya sedang berada di jalan raya yang mestinya ada banyak stok udara di situ.

Lalu orang-orang bekerja dan berkarya di dalam gedung-gedung tinggi. Itu pun terbungkus ruang kubikel yang sekelumit. Sebagai orang luar, saya tentu saja tidak bisa menyaksikan bagaimana produktivitas itu terjadi dan bagaimana karya itu tercipta. Saya tidak dapat mengintip dapur produksi yang menginspirasi. Pada akhirnya, saya adalah orang luar yang hanya bisa menjangkau ketiadaan. Halaaaah. Hahahaha.

Nah, kegelisahan saya itu ternyata tidak berlangsung lama. Beberapa saat lalu di pertengahan April 2018, saya dan kekasih mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Kampung Rawajati. Lho kenapa kok ke Rawajati? Jadi gini..

Kunjungan Adem ke KBA Rawajati


Siang itu, aspal Jakarta telah basah oleh hujan yang baru saja reda. Mengilatnya masih membekas di ingatan saya. Begitupun dengan kesejukan udara yang saya hirup ketika masuk ke Kampung Berseri Astra (KBA) Rawajati. Seketika itu saya merasa tidak lagi berada di Jakarta yang saya kenal. Panca indra saya mengenali suasana kampung itu layaknya perkampungan di tanah kelahiran saya.

Kampung Rawajati di segala penjuru dipenuhi oleh tumbuh-tumbuhan. Mulai dari pohon-pohon rimbun hingga tanaman kelor pun ada di sana. Saya, Tiwi, beserta rombongan lain lantas disambut dengan ramah oleh warga. Senyum mereka membuat atmosfer di Kampung Rawajati semakin adem.

Kami semua berkumpul di kantor RW untuk bercakap-cakap. Di situlah saya tahu kalau ternyata Kampung Rawajati memiliki peranan penting bagi lingkungan di Jakarta. Kampung Rawajati memiliki segudang prestasi lingkungan di berbagai tingkat, bahkan menjadi kampung terbaik di DKI Jakarta. Kok bisa gitu?

Jadi, warga Rawajati secara kompak menaruh kepedulian pada lingkungan. Kampung mereka terkenal akan daur ulang sampah, baik itu sampah organik maupun anorganik. Saya melihat bagaimana proses pembuatan kompos basah dan kering dari sampah-sampah di sana. Ternyata cara yang digunakan sangat sederhana. Hal ini yang kemudian bisa ditiru oleh kampung-kampung lain.

Sementara itu sampah-sampah plastik dan kertas juga tidak luput dari pengolahan kreatif mereka. Dengan terampil saya menyaksikan aneka produk dihasilkan dari barang-barang bekas itu. Seperti wadah tisu dari kertas koran hingga tikar dari bungkus kopi yang cantik sekali. Tata olah ini membuat saya takjub. Maka pantas saja jika kampung Rawajati menjadi rujukan yang tepat bagi kampung-kampung yang ingin maju.

Bank Sampah Sebagai Kunci Kepedulian Lingkungan



Saya kagum dengan kekompakan warga dalam melancarkan kegiatan olah sampah itu. Di sana ada yang namanya ‘bank sampah’. Jadi, bank sampah ini seperti layaknya kita menabung uang di bank tapi dalam wujud sampah. Di Rawajati, ada tempat khusus untuk menampung tabungan-tabungan sampah dari warga. Sampah yang ditabung itu sudah dalam keadaan terpisah antara sampah organik dan anorganik. Sehingga proses daur ulang sampah bisa lebih cepat nantinya.

Ketika saya jalan-jalan berkeliling di sana, saya bisa temukan banyak kantong sampah seperti tote bag dengan tulisan ‘bank sampah’ di permukaannya. Kantong-kantong sampah itu tersedia di rumah-rumah warga dan mushola setempat. Ajaib rasanya di perkampungan kok tidak menemukan tumpukan sampah di comberan. Kesadaran warga akan kebersihan inilah yang membuat saya gembira.

Siang yang tidak terik itu benar-benar membuat saya lupa kalau saya masih berada di Jakarta. Lha mau bagaimana lagi? Saya biasanya kepanasan sampai mau meleleh kalau sudah bergelut dengan jalanan Jakarta di siang hari. Hehehe. Bagi yang penasaran, cobalah sesekali mendatangi Kampung Berseri Astra Rawajati di Komplek Zeni AD, Kalibata. Kalau mungkin awkward tiba-tiba datang ke sana cuma mau merasakan sensasi kesegarannya, niatkan saja ke sana untuk membeli aneka jamu. Lho, jamu?

Maju Bersama UKM



Yup! Jadi, KBA Rawajati tidak hanya produktif pada daur ulang sampah saja. Tapi Usaha Kecil Menengah (UKM) pun juga maju di sana. Saat itu saya mengunjungi rumah produksi minuman tradisional, Setiya Bakti. Di situ ada jahe merah, temulawak, bir pletok, dan sebagainya. Minuman tradisional itu dikemas dalam bentuk serbuk halus yang dibungkus plastik kemudian dimasukkan ke dalam box. Setiap sachet-nya sudah memenuhi komposisi yang pas, sehingga kita tinggal menyeduhnya dengan air panas dalam secangkir gelas.

Waktu itu saya mencicipi jahe merahnya dan berhasil membuat saya nambah satu gelas lagi. Bahkan, saya dan Tiwi membawa pulang satu box jahe merah dan satu box temulawak yang masing-masingnya berisi sembilan sachet. Nah, kan bisa jadi alasan yang tepat untuk mengunjungi KBA Rawajati. Sudah bisa ngadem, bisa bawa pulang minuman tradisional asli Indonesia yang berkhasiat pula. Mantap!

Seperti yang diungkapkan Ibu Ninik sewaktu kami berbincang-bincang di kantor RW tadi, Kampung Rawajati ini sangat terbuka dengan kunjungan-kunjungan. Terbukti sudah ada banyak yang berkunjung ke sana. Sampai-sampai, BBC pun meliput kampung itu, lho. Ya. Tidak hanya orang Jakarta maupun luar Jakarta, bahkan luar negeri pun memperhatikan mereka. Tidak heran jika mereka dapat bekerja sama dengan Astra sebagai bagian dari Kampung Berseri Astra (KBA) pada 2015.

Kampung Rawajati memang sudah mulai memberi perhatian lebih pada lingkungan, tepatnya sejak tahun 2001. Melihat potensi yang besar, Astra memberi sumbangsih pada pengembangan dan pendampingan program serta donasi. Memang benar jika potensi yang baik semestinya mendapat perhatian lebih agar semakin melejit. Bukankah kita sering mendengar atau malah mengalami bagaimana rasanya punya program bagus tapi terkendala dana dan tidak adanya pendampingan dari sang ahli? Tidak enak, tho? Nah, kepedulian Astra lewat program KBA itulah yang dalam hal ini menjadi salah satu solusi.

Mini tour yang saya lakukan pada hari itu memberi pelajaran yang berharga bagi saya. Salah satunya tumbuh keinginan untuk bertempat tinggal di perkampungan yang ekosistemnya sebagus Rawajati. Semoga KBA segera menjamur ke mana-mana. Biar pilihan tempat tinggal saya di masa depan kelak jadi banyak. Hahaha.

Nah, sudah segitu saja cerita yang bisa saya bagikan kali ini. Semoga ada kesempatan lagi untuk mengalami sesuatu yang tidak kalah serunya dari kunjungan ke KBA Rawajati ini. Terima kasih sudah menyimak. Cheers!

30 Agustus 2017


Saya sangat bersyukur tahun ini bisa mengintip lukisan-lukisan yang jadi koleksi Istana Kepresidenan. Kalau bukan karena pameran “Senandung Ibu Pertiwi” yang berlangsung selama bulan Agustus di Galeri Nasional, saya tidak yakin bisa mendapat kesempatan langka itu.

Memangnya apa istimewanya? Duh, coba simak baik-baik. Dikutip dari CNN Indonesia, Mike Susanto yang merupakan kurator dalam pameran itu pernah mengatakan kalau satu karya lukis yang ditandatangani oleh Ir. Soekarno minimal seharga lima milyar rupiah! Mantap ya, kan.

Dalam pameran Senandung Ibu Pertiwi ini kita akan disuguhan oleh empat sub-tema. Ada keragaman alam, kegiatan atau aktivitas sehari-hari, tradisi tari dan kebaya, dan terakhir adalah mitologi dan religi.

Sebagai pemuda canggung yang tumbuh dengan cerita-cerita mistis di Jawa Tengah, tentu tema yang menurut saya paling menarik adalah mitologi. Dan tanpa disangka sebelumnya, di salah satu sudut ruang terdalam pameran tersebut saya mendapati lukisan legendaris, Nyi Roro Kidul karya Basoeki Abdullah.

Beberapa tahun yang lalu ketika saya mulai menjejaki bagian hidup saya sebagai mahasiswa Seni Rupa dan Desain, buku pengantar kesenirupaan dan sejarah seni rupa Indonesia yang saya pelajari selalu saja membahas Basoeki Abdullah. Ya, Basoeki Abdullah everywhere.

  • Siapa sebenarnya Basoeki Abdullah?
Baiklah, saya berbagi sedikit yang saya tahu tentang Basoeki Abdullah, ya. Jadi, Basoeki Abdullah adalah maestro pelukis asal Solo yang pernah diangkat sebagai pelukis resmi di Istana Merdeka Jakarta. Beliau lahir tanggal 27 Januari 1915 dan meninggal pada 5 November 1993. Sementara saya lahir pada tanggal 25 Januari 1993, kadang saya merasa ada ikatan mistis dengan beliau.
  • Mengapa Basoeki Abdullah menjadi penting?
Tercatat dalam sejarah bahwa pada 6 September 1948, Basoeki Abdullah berhasil mengalahkan 87 pelukis Eropa dalam sayembara seni yang diadakan saat penobatan Ratu Yuliana di Amsterdam. Sejak saat itu namanya tak asing di dunia kesenirupaan. Karya-karya Basoeki Abdullah beberapa kali dipamerkan di berbagai belahan dunia seperti Thailand, Malaysia, Jepang, Belanda, Inggris, Portugal, dan lain-lain. 




4 Basoeki Abdullah yang Saya Temukan di Pameran Senandung Ibu Pertiwi

Dari 48 koleksi lukisan yang dipamerkan, setidaknya ada empat karya Basoeki Abdullah yang berhasil menghentak naluri estetika saya.

Pertama, Lukisan Pantai Flores (cat minyak pada kanvas, 120x185 cm, tahun 1942). Sejarah di balik lukisan ini cukup menarik, lho. Jadi, lukisan Pantai Flores ini pada awalnya merupakan karya Ir. Soekarno ketika menjalani hukuman pengasingan oleh pemerintah Hindia Belanda. Media yang digunakan Bung Karno saat itu adalah cat air di atas kertas. Lalu, Bung Karno meminta Basoeki Abdullah untuk menyalin lukisan tersebut di atas kanvas. Bisa dibilang ini adalah kolaborasi epic yang tentu saja melebihi kolaborasi G-Dragon dan T.O.P.

Kedua, Lukisan Gatotkaca dengan Anak-anak Arjuna, Pergiwa-Pergiwati (cat minyak pada kanvas, 255x170 cm, tahun 1955). Basoeki Abdullah memang dikenal sebagai pelukis yang lihai dalam menggambarkan perempuan cantik. Demikian pula di dalam lukisan ini bagaimana beliau dengan indahnya menampilkan sosok Gatotkaca yang muncul dari langit beserta dua wanita cantik yang merupakan anak Arjuna, yaitu Pergiwa dan Pergiwati.

Ketiga, Lukisan Djika Tuhan Murka (cat minyak pada kanvas, 200x300, tahun 1949-1950). Selain menggambar wanita cantik, ternyata Basoeki Abdullah juga hebat dalam mempresentasikan kengerian lewat lukisan Djika Tuhan Murka. Lukisan ini merupakan pemberian langsung Basoeki Abdullah kepada Bung Karno. Unik memang. Bung Karno yang dikenal menyukai wanita cantik, giliran dapat lukisan dari maestro yang biasa melukis wanita cantik, eh, malah dapatnya lukisan kengerian yang menyerupai imaji neraka. Kalau di tempat saya, apa yang dilakukan Basoeki Abdullah tersebut sering disebut dengan istilah mace (menggoda) terhadap Bung Karno.

Keempat, Lukisan Nyi Roro Kidul (cat minyak pada kanvas, 160x120 cm, tahun 1955). Lukisan ini adalah karya Basoeki Abdullah yang paling sering diperbincangkan. Konon, dalam proses kreatifnya, Basoeki Abdullah benar-benar bertemu dengan Nyi Roro Kidul atau yang dikenal secara nasional dengan nama Ratu Pantai Selatan.

Sayangnya, Basoeki Abdullah tidak bisa mengingat dengan jelas bagaimana wajah Nyi Roro Kidul saat itu. Lantas ia menggunakan model perempuan lain sebagai atribut untuk memvisualkan sosok Nyi Roro Kidul di dalam lukisannya. Anehnya, tiga model perempuan yang dipakai Basoeki Abdullah tersebut selalu jatuh sakit sampai ajalnya. Maka, Basoeki Abdullah mengganti metodenya. Beliau melukiskan wajah Nyi Roro Kidul selanjutnya dengan imajinasi saja.

Lukisan ini memang sering dianggap keramat dan diyakini kekuatan mistisnya. Beruntunglah kiranya saya bisa menyaksikan secara langsung karya legendaris ini. Meski saat menyaksikannya saya tidak merasakan apa-apa selain kekaguman pada goresan yang sangat indah. Mungkin aura spiritual saya kurang suci untuk menangkap frekuensi mistisnya lukisan tersebut. Atau mungkin karena saya sedang lapar saja.

Oiya, penasaran tidak berapa harga lukisan Nyi Rori Kidul tersebut? Usut punya usut, harga lukisan mistis itu setara dengan harga rumah Basoeki Abdullah yang sekarang sudah menjadi museum beserta seluruh isi di dalamnya. Gils!

Pameran Lukisan Koleksi Istana “Senandung Ibu Pertiwi” di Galeri Nasional, Jakarta, 2-30 Agustus 2017.

Bertandang ke pameran seni rupa adalah salah satu terapi visual yang sangat saya perlukan sebagai penikmat seni dan desain. Kalau istilahnya di bio Instagram gitu, sih, namanya Art and Design Enthusiasts atau Art and Design Addict. Muda-mudi kekinian musti meletakkan istilah-istilah itu di bio I
nstagramnya biar parameter kekerenan menanjak tinggi. Ya, setidaknya bagi akun jual followers.

Beruntung benar-benar beruntung saya bisa berkunjung ke Galeri Nasional. Maklum, Solo dan Jakarta bukan jarak yang cukup dekat untuk dimondar-mandirkan. Kalau bukan karena pameran Senandung Ibu Pertiwi dan kekasih yang bernama Pertiwi, saya mungkin hanya bisa menikmati karya-karya mahal itu melalui layar ponsel saja.

Terima kasih banyak untuk Pertiwi Yuliana yang bersedia menjadi guide selama saya menyaksikan pameran itu. Guide milenial yang lebih sering memfoto daripada menjelaskan karya-karya. Hahaha. Syukurlah punya kekasih yang tergolong dalam Art and Design Enthusiasts, sehingga dalam menikmati karya-karya seni tidak lagi dipendam sendiri. Tapi juga bisa didiskusikan bersama. Aysik!

Jujur saja saya ketagihan dengan Galeri Nasional yang beralamat di Jalan Medan Merdeka Timur No. 14, Gambir, Jakarta Pusat itu. Selain pameran lukisan koleksi istana, kebetulan saja saat saya ke sana juga sedang diselenggarakan pameran fotografi. Sementara galeri seninya yang reguler buka setiap hari mulai dari pukul 9 pagi sampai pukul 4 sore. Di sana juga terdapat Cafe dan Art Shop buat kita yang mau nongkrong-nongkrong artsy dan belanja-belanja yang berseni.

Saya harap suatu saat bisa bertandang ke Galeri Nasional lagi. Semoga ada pameran yang tidak kalah menariknya dari Senandung Ibu Pertiwi. Teman-teman, yuk, ramaikan Galeri Nasional. Nikmati sajian karya-karya bernilai seni tinggi agar spiritualitas keartsyanmu melejit.



Kolase dokumentasi pribadi. Cieee...