21 Oktober 2019

KRL: Transportasi Kota Paling Potensial Saat Ini

commuterline


November 2017 adalah masa peralihan yang cukup besar di dalam hidup saya. Pasalnya, di waktu tersebut saya mulai memutuskan untuk beranjak dari tanah kelahiran, Solo,  menuju ke Jakarta. Awalnya, memang terasa betul adanya gap antara kehidupan yang baru dan yang lama. Terutama, soal transportasi kota.

Dulu, saya selalu menggunakan kendaraan pribadi ke mana pun tujuannya. Sebab, menggunakan transportasi publik bukanlah menjadi sesuatu yang umum dilakukan oleh orang-orang di sekeliling saya. Beda halnya dengan yang saya dapati di Jakarta. Apalagi, kampanye penggunaan transportasi publik terus dilakukan dengan cara-cara yang menarik.

Salah satu transportasi publik yang menjadi favorit saya adalah kereta rel listrik (KRL) yang beroperasi di wilayah Jabodetabek. Sebelumnya, saya hanya mengetahui kereta antarkota saja. Dan, adanya transportasi semacam KRL Jabodetabek ini tentunya memudahkan perjalanan orang-orang untuk sampai ke tempat tujuan.

Setelah berbincang dengan istri saya yang menggemaskan tiada tandingannya, diakuinya bahwa KRL Jabodetabek ini mengalami banyak sekali perubahan sebelum apa yang saya lihat sekarang. Perubahan-perubahan tersebut tentu saja ditujukan untuk memenuhi keselamatan, keamanan, dan kenyamanan. Di sini saya melihat upaya Kementrian Perhubungan untuk membangun infrastruktur yang layak bagi warga.

Beberapa perubahan yang dilakukan Kemenhub terhadap transportasi KRL Jabodetabek, antara lain:

1. Ditiadakannya kereta ekonomi yang sudah tidak layak lagi. 

Pernah melihat gambar-gambar kereta tanpa pintu dengan banyak penjual asongan, nggak? Atau pernah dengar soal penumpang liar yang memaksa mengikuti perjalanan tanpa tiket di atap kereta? Saat ini, kereta ekonomi yang tidak layak demikian sudah tidak diizinkan untuk beroperasi lagi. Walaupun harga tiket yang dibandrol sangat murah dan terjangkau, tapi keselamatan, keamanan, dan kenyamanan penumpang tentunya menjadi pertimbangan utama.

2. Harga yang relatif lebih murah. 

KRL sekarang ini sebetulnya memiliki harga tiket yang masih sangat terjangkau dengan kualitas layanan yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Jika KRL Jabodetabek yang ada bisa disetarakan dengan kereta ekonomi AC di masa sebelumnya, maka perbedaan soal harga ini akan tampak sangat jelas. 

Kereta ekonomi AC, dulunya, memasang harga tiket sebesar Rp8.000 dalam sekali perjalanan. Jika kamu memiliki tujuan akhir yang mengharuskanmu transit dua kali atau menggunakan tiga kereta dengan jurusan berbeda, maka biayanya perjalanannya menjadi Rp8.000 x 3! Sementara sekarang, asalkan kita tidak keluar stasiun, harga tiket perjalanannya cukup flat dengan maksimal Rp5.000 saja. Perubahan ini yang membuat istriku bercerita dengan sangat riangnya.

3. Metode pembayaran yang lebih mudah dan ramah lingkungan. 

Penggunaan tiket berupa kertas-kertas yang distempel sekarang sudah tidak berlaku lagi. Selain untuk memudahkan pembayaran dari para penumpang, juga bisa mengurangi sampah kertas yang dibuat dari pohon itu, kan? Pengguna KRL Jabodetabek bisa menggunakan Kartu Multi Trip (KMT), THB (Tiket Harian Berjaminan), atau uang elektronik dari beberapa bank untuk melakukan perjalanan.

4. Gerbong khusus perempuan. 

Pelecehan seksual di ruang publik masih sangat sering terjadi, KRL tentu saja termasuk di dalamnya. Melihat hal ini, ada upaya dari Kemenhub untuk menanganinya dengan membuat ruang-ruang khusus wanita di dalam berbagai moda transportasi. Untuk KRL Jabodetabek sendiri, gerbong khusus wanita bisa ditemukan di ujung depan dan ujung belakang.

5. Kursi prioritas.

Kursi prioritas bagi orangtua, perempuan hamil, dan disabilitas membuat kereta menjadi alat transportasi yang inklusif. Menurut saya ini keren!

Nah, itu saja kiranya cerita saya soal transportasi umum di Jakarta, khsusnya KRL. Semoga makin keren kedepannya. Jangan lupa ikuti akun media sosial Kemenhub untuk mengetahui berbagai informasi yang harus kita tahu soal perkembangan transportasi dan semacamnya.

Terima kasih sudah membaca tulisan saya sampai selesai. Sampai jumpa di tulisan berikutnya!

Photo by veerasak Piyawatanakul from Pexels

Tidak ada komentar:

Posting Komentar