Pages

Sayat-Sayat Musik Dalam Film John Carney



Belakangan ini saya nonton tiga film buatan John Carney, yaitu Once (2006), Begin Again (2013) dan Sing Street (2016). Hebatnya, ketiga film tersebut berhasil meluluhkan hati saya hingga memasukkan nama John Carney sebagai sutradara favorit di antara Steven Spielberg dan Chris Nolan. Tidak seperti kedua sutradara yang saya sebut di atas, John Carney meracik karyanya tanpa cerita rumit dan plot twist serius. Saya rasa Carney ini spesialis film yang melibatkan musik sebagai mainannya.

Sebut saja film Once. Film ini bercerita tentang seorang pria patah hati yang menghabiskan waktunya dengan mengamen di jalanan sekaligus membantu ayahnya bekerja di servisan vacum cleaner. Suatu ketika ia bertemu dengan seorang perempuan penjual bunga. Hari demi hari mereka selalu bertemu dan langsung klop begitu saja ketika membicarakan musik. Melalui percakapan itu pula akhirnya diketahui si perempuan tersebut ahli bermain piano. Keduanya pun mencoba untuk menggabungkan musik yang selama ini mereka mainkan sendiri-sendiri. 

Screenshoot film Once
Merasa ada kecocokan dengan musik yang saling meleburkan itu, mereka bersepakat untuk mengabadikan musik mereka melalui rekaman. Musisi jalanan pun turut mereka rekrut untuk mengisi bagian nada yang kurang. Keseruan membentuk band dan perjalanan dalam proses rekaman ini berhasil dibungkus dengan apik oleh John Carney.

Saya sendiri sampai sekarang masih tidak bisa menentukan film Once ini sebenarnya sedih atau bahagia. Kekuatan utama dari film ini adalah lagu-lagu yang touchable. Serius, semua lagunya ngena banget. Emosi ketika lagu mulai dilantunkan benar-benar sampai di perasaan saya sebagai penonton.

Lagu patah hati dengan lirik “And I, I can’t keep with you. Maybe if you slowed down for me. I could see you’re only telling... Lies, lies, lies. Breaking us down with your lies, lies, lies. When will you learn?” menjadi favorite scene bagi saya. Bahkan saat scene di studio rekaman, pada lirik “ooooo...waaaaaa......” diiringi lantunan musik yang biadab saja sudah cukup terampil mengaduk-aduk kantung mata saya, serasa ingin menumpahkan semua masa lalu yang perih dan sedikit gurih.

Kesederhanaan Once sayangnya agak lenyap di dalam film Begin Again. Sebab, Begin Again bagi saya terkesan lebih pop. Apalagi jika kita melihat Adam Levine turut memeriahkan rentetan cast. Begin Again lebih baik dari segi visual dan kompleksitas cerita. Namun, porsi musik sedikit tenggelam oleh drama cinta.

John Carney kembali mengangkat tema patah hati sebagai tulang punggung Begin Again. Kedua tokoh yang sama-sama mengalami depresi dipertemukan oleh musik. Saya jadi ingat dengan pemikiran teman saya, Bella, yang beropini kalau setiap orang memiliki bilangannya masing-masing. Dan suatu saat bakal bertemu dengan bilangan lain yang klop. Misal, saya memiliki bilangan 6. Suatu saat saya bertemu dengan orang bilangan 4. Lalu kami ngobrol dan tiba-tiba merasa klop. Penjumlahan dari 6 dan 4 adalah 10, anggap saja 10 adalah bilangan klopnya. Semakin jauh dari angka 10, semakin tidak cocoklah kita denngan orang lain. Saya beberapa kali bertemu dengan orang yang baru kenal, chit-chat, lalu merasa nyambung gitu aja. Ada juga yang sudah lama kenal tapi tidak pernah bisa akrab. Mungkin jika saya bilangan 6, dia ada di bilangan 1.

Kira-kira begitulah rumusnya kenapa Gretta (Keira Knightley) dan Dan (Mark Ruffalo) bisa langsung akrab di malam saat mereka pertama bertemu. Rumusan ini tidak harus hubungan pria dan wanita, toh Gretta juga langsung klop dengan anak tunggalnya Dan, Violet (Hailee Steinfeld). Padahal Violet ini anti sosial. Sama bapaknya sendiri saja tidak akrab kok. 

Aseli ini scene kesukaan dah!! (Source: telegraph.co.uk)
Gretta adalah musisi bayangan dibalik suksesnya Dave (Adam Levine). Semacam pacar yang sama-sama berjuang meraih sukses gitu. Malangnya, Dave berselingkuh. Seganteng-gantengnya Adam Levine, pas main film akhirnya jadi berengsek juga. Ditengah kepatahhatian itulah, Gretta bertemu dengan seorang pencari bakat musik bernama Dan. Jika bicara soal musik, Dan tak pernah main-main, keras kepala dan idealis. Label yang kesulitan dengan idealisme Dan akhirnya memecatnya. Uniknya, Dan bertemu dengan Gretta tepat setelah ia dipecat dan juga tepat saat Gretta putus. Apa yang terjadi dengan mantan tentor musik yang bertemu dengan musisi berbakat bisa kamu saksikan dalam film Begin Again.

Masih membawa aura yang sama, John Carney melahirkan karya terbarunya berjudul Sing Street. Film ini menjadikan Dublin sebagai set lokasi dalam film sebagaimana Once. Kesan tenang dan haru berhasil hidup dari musik dan sudut-sudut kota yang mendukung.

Meski demikian keberengsekan film Once tetap tak terbantahkan. Sajian cerita yang diolah dalam film Sing Street tidak beda jauh dari Begin Again. Entah perasaan saya saja, atau memang porsi dramanya terlalu bertele-tele. Sedangkan porsi drama Once sangat singkat dan lugas. Review Sing Street sudah pernah saya tulis di sini.

Selain ketiga film yang saya bicarakan dalam tulisan ini, Carney juga membuat berbagai film lain. Sampai saat ini saya masih memburunya. Sebenarnya ingin membuat tulisan utuh setelah menyaksikan semua film Carney tapi tangan dan pikiran sudah tidak sanggup menahan nafsu nulis. Jika kamu menyukai musik seperti kamu menyukai gebetan yang bertepuk sebelah tangan, berarti kamu bakal suka dengan film Carney.

Cukup sekian yang bisa saya tulis. Terimakasih sudah berkenan mampir. Oiya, jika kamu punya saran film yang berkaitan dengan musik selain film-film di atas, bisa tulis judulnya di kolom komentar ya. Saya tunggu..  
"You know, I wasn't trying to win you over. I was telling you to fuck off." (Gretta)
Source pict: irishtimes.com

Ilham Bachtiar

Blogger kalang kabut yang doyan menulis tentang film. Meski tutur lisannya kurang terjaga, tapi orangnya total berkharisma. Terima usikan di ilhambachtiar25@gmail.com

9 komentar:

  1. ((MENGANGKAT TEMA PATAH HATI SEBAGAI TULANG PUNGGUNG BEGIN AGAIN))

    Duh, kalimat di atas entah kenapa bikin aku jatuh cinta sama review kamu ini, Ham. Sayangnya, aku cuma pernah nonton Begin Again. Once dan Sing Street belum. Huhuhu. :(((

    Btw aku kesel banget sama Adam Levine di Begin Again. Brewoknya yang tebal pas di scene dia udah terkenal, bikin aku kesel. Tapi itu si Keira lebih bikin kesel. Suaranya soulful gitu ya. Cantik, pinter nyanyi. Keira serakah :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha.. Kalau dari segi suara aku malah suka powernya di Once. Kuat, serak dan terasa patah hatinya. :D
      Nontonlah Cha..

      Hapus
  2. Sudah nonton Once dan Begin Again, and yes yes yes sukaaaa bgt sama lagu lagunya!
    Lagu Once bagi saya yg paling ngena itu Falling slowly, sampai skrg kl denger lagu itu rasanya baper baper gimana gituuu :v
    Kalau Begin Again mah emang favorit segala umat bgt lah hahahaha ternyata suara Keira Knightley enak jugak yah btw.
    Nah kalau sing street saya blm nntn tuh, eh katanya gak msk ke indonesia yah filmnya?

    Quotes si Gretta yang "telling you to fuck off" emang keren banget hahahahahah ngakak di bagian itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha.. Serius emang bikin baper bener lagu-lagunya Once.
      Sing Street nonton aja mbak, iya ni gak masuk bioskop Indonesia. Jadi ya gitu deh, terpaksa menikmati *uhuk bajakan. Hehe..

      Hapus
  3. Dalem nih ulasanya, aku ga ngerti film ini jadinya rada kebingungan pas bacanya hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Walah.. Maafkan aku. Mbak. Aku gak bisa ngertiin kamu :((

      Hapus
  4. Kalo film soal musik, hmmm coba download deh itu film Rock Ages (kalo gak salah judulnya) yang main si tom cruise, cerita soal jaman musik rock di era 80-90an,.. coba deh bung tonton

    kalo film di atas belum nonton semua

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sambil mengingat-ingat... Kayaknya belum nonton dah

      Hapus
  5. Hih baru baca ini euy. Mantap, min. Lanjutkan!

    Walaupun Once bukan yang terbaik, namun masterpiece ini menjadi satu dari sedikit film yang rutin kutonton secara berulang-ulang. Perfection.

    BalasHapus

Berkomentarlah sejujur-jujurnya. Sebab menjadi diri sendiri tanpa rasa sungkan adalah sebaik-baik sandiwara.