8 Desember 2018



Belakangan ini lagi bersemangat mempelajari literasi keuangan, khususnya fintech. Fintech merupakan akronim dari "financial" dan "technology" yang berarti kebutuhan keuangan yang berorientasi pada teknologi.

Perkembangan fintech di Indoensia terbilang berkembang dengan pesat. Saya merasakan sendiri gilatnya di berbagai lini dapat saya rasakan secara langsung. Baiklah, sebut saja dengan pembayaran yang menjadikan semangat "cashless" sebagai handalan. Dulu, kalau bertransaksi secara offline, saya hanya diberi pilihan pembayaran, antara cash atau gesek kartu. Sekarang saya hanya perlu membawa handphone. Proses pembayaran bisa dikerjakan dengan scan code atau tap pin saja. Simpel dan canggih, bukan?

Dan ternyata pengetahuan saya soal fintech masih begitu sempit. Di balik yang saya ketahui, ada banyak startup yang mengembangkan aneka jenis fintech. Jenis-jenis apa saja, tuh? Ada jenis pembayaran, peminjaman, perencanaan keuangan, investasi ritel, pembiayaan, dan riset keuangan. Hal-hal ini saya ketahui saat punya kesempatan untuk hadir di cara Blogger X Fintech Day beberapa hari lalu.

Dalam acara tersebut, hadir beberapa pengembang fintech di Indonesia, seperti KreditCepat, Cashwagon, Aktivaku, Taralite, Uangme, Pinduit, dan Danain. Hampir semuanya memiliki sesi untuk presentasi. Tapi bukan hanya presentasi jualan, mereka lebih banyak menyebarkan literasi keuangan digital yang begitu banyak memberi pemahaman baru pada saya.

Di era sekarang, fintech menjadi kebutuhan yang menurut saya penting. Meski bukan sebagai satu-satunya cara untuk mengelola keuangan, fintech terbukti memberi banyak kemudahan. Apalagi ketika situasi yang terjadi begitu besar merayakan teknologi keuangan ini. Beradaptasi menjadi satu hal yang saya rasa harus segera dilakukan agar tidak disebut ketinggalan zaman.

Selama satu tahun di Jakarta, saya mulai mencoba beberapa produk fintech. Pertama produk pembayaran. Saya mulai terbiasa membeli tiket nonton, makan, bahkan belanja beberapa barang menggunakan aplikasi yang terpasang di gawai. Saat makan di KFC hingga beli tiket nonton di CGV maupun XXI misalnya, saya cenderung memanfaatkan Tcash atau Dana. Begitupun saat order makanan atau jasa transportasi, saya menggunakan Gopay dari aplikasi Gojek.Saat belanja online, beli pulsa, hingga jajan Dum-dum pun saya menggunakan OVO.

Selain sebagai alat pembayaran, saya juga mencoba teknologi ini dalam hal mencari dana pinjaman. Saya pernah memanfaatkan Akulaku dan Kredivo. Selain cari pinjaman saya juga terlibat dalam pemberi pinjaman atau investasi, di bidang ini saya memakai KoinWorks. Sementara itu di kantor saya cukup akrab memanfaatkan crowdfunding untuk mendapatkan asupan dana. Tempat kerja saya menggunakan KitaBisa dan saat ini sedang proses untuk memanfaatkan pelayanan dari Doku.

Banyaknya produk fintech tidak lantas membuat saya pusing. Justru asyik karena ternyata beberapa hal menjadi lebih mudah dan cepat. Apalagi mereka pasti menawarkan berbagai diskon, promo, hingga hadiah-hadiah yang menarik. Saya mengajak kamu, kamu, dan kamu untuk ikut merayakan perkembangan financial technology ini bersama. Saya memang belum ahli, tapi sedikit demi sedkit semakin paham dan saya melihat ada hal yang bisa kita capai bersama jika perkembangan fintech ini juga disambut dengan baik oleh masyarakat.

Untuk memahami lebih jauh soal fintech, sih, saya sarankan untuk mengikuti pertemuan atau kelas khusus fintech. Seperti yang saya ikuti di Blogger X Fintech Day, misalnya. Tapi bisa juga dengan memanfaatkan media sosial misalnya dengan terlibat aktif dalam diskusi keuangan yang selalu menarik diatawarkan oleh Jaouska. Atau bisa juga belajar dengan sederhana melalui situs-situ keuangan seperti Finansialku.com dan masih banyak lagi caranya.



Nah, itu saja, sih, cerita singkat saya soal fintech dan hal-hal menarik di dalamnya. Saya telah menjadi bagian dari perkembangan dunia keuangan ini. Kamu?


Image source:
1. Photo by Rawpixel from Pexels.com
2. Photo by Rawpixel from Pexels.com

30 Oktober 2018


Hampir setahun aku berada di ibu kota. Masih betah.
Jakarta adalah kota multiverse, di mana kamu bisa bertemu banyak sekali orang-orang dari berbagai daerah yang mengadu nasib atau hanya sekadar iseng berwisata. Yup, tak hanya diserbu oleh para pejuang rupiah saja, kota Jakarta juga memiliki daya tarik tersendiri bagi para wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Meski di sini tidak ada candi yang megah atau air terjun yang menyegarkan, tapi ada banyak selebritas yang bisa kamu ajak foto-foto lucu, kok.
Nah, buat kamu yang hendak berlibur ke kota Jakarta, berikut ini ada beberapa  rekomendasi hotel di Jakarta murah yang paling nyaman, senyaman pelukannya :

1. POP! Hotel Kelapa Gading Jakarta

Pop! Hotel Kelapa Gading Jakarta
Hotel terbaik paling murah dan paling nyaman di Jakarta yang pertama, yaitu bernama POP! Hotel Kelapa Gading Jakarta. -Ingat lho, Kelapa Gading, bukan Kepala Daging.- Nah, hotel bernada ijo-ijo ini berada di Jl. Boulevard Kelapa Gading, Sentra Kelapa Gading, Blok M, Jakarta. Harga per malam di hotel ini sekitar Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu. Sepadan dengan fasilitasnya yang terdiri dari layanan concierge, layanan cuci pakaian, layanan antar jemput bandara, layanan dry cleaning, bar – lounge, kolam renang, Ac, wifi gratis, dan masih banyak lagi.

2. MaxOneHotels at Sabang

MaxOneHotels at Sabang, Jakarta Pusat
Selain POP! Hotel Kelapa Gading Jakarta, MaxOneHotels at Sabang juga merupakan salah satu hotel murah yang jangan sampai kamu lewatkan. Harga sewa per malam di hotel ini sekitar Rp 400 ribu hingga Rp 600 ribu. Hotel bernuansa Jakarte banget ini berada di Jl. Haji Agus Salim No. 24, Jakarta. Lokasinya strategis, nih. Saya biasa mampir mini market di sebelah hotel ini. Beli Granita.

3. Favehotel Gatot Subroto

Favehotel Gatot Subroto, JakSel.
Hotel murah dan paling nyaman di Jakarta yang pertama hadir, yaitu Favehotel Gatot Subroto. Fasilitas yang tersedia di hotel ini berupa layanan concierge, layanan kamar, layanan antar jemput bandara, layanan dry cleaning, akses kursi roda, bar – lounge, restoran, sarapan, wifi gratis, parkir gratis, ruang pertemuan, pusat kebugaran, kolam renang, dan sebagainya. Biaya per malam di Favehotel Gatot Subroto sekitar Rp 500.000 saja. Hotel ungu-ungu anggur ini berada di Jl. Kartika Candra Kav. A9 Karet, Semanggi, Jakarta Selatan, Jakarta. So, apakah you-you mau ber-night di sini? Eh, maaf, ngomongin Jaksel, lidah jadi otomatis hyper-correct gitu.

Nah, sudah, ya. Itulah beberapa hotel termurah di kota Jakarta yang paling nyaman. Cocok juga buat kamu yang butuh tempat menginap di lokasi-lokasi strategis. Fasilitas optimal, harga minimal, dan dapat sendal. Bagaimana? Apakah kamu berminat untuk bermalam di salah satu hotel tersebut?



14 September 2018



Siapa sangka, mahasiswa buronan seperti saya justru bekerja di perkumpulan kajian media, Remotivi. Mungkin ada yang mengira kalau saya tidak menyelesaikan kuliah karena tidak mampu berkutat dengan teori, data, analisis, dan buku-buku tebal. Ada benarnya juga, dan sepertinya ini adalah ganjaran bagi saya. Kabur dari skripsi, malah masuk ke dalam Remotivi.

Awalnya, saya mencicipi profesi sebagai penulis naskah video di sana. Otomatis saya harus membuka kembali buku-buku ‘berat’, membaca banyak hal dari banyak platform untuk riset, hingga diskusi dari siang sampai malam. Kalau kamu pernah melihat video-video di channel Remotivi, pasti pahamlah kira-kira jerih payah yang diperlukan.

Tidak puas dengan hal itu, sepertinya Remotivi cukup bernafsu mengeksploitasi lelaki seperti saya ini. Karena pada bulan keempat sejak saya bergabung, mereka tega-teganya memberi tambahan pekerjaan, yaitu menjadi admin sosial media.

Loyalitas dan ikhlas membuat saya menyanggupi tawaran itu. Halah mbel. Hahaha.

Ya tentu saja karena penambahan gaji! Hari gini kok ngomongin loyalitas dan ikhlas, memangnya nyicil rumah bisa pakai senyum dan motivasi doang apa? Hehehe.

Singkat cerita, jadilah saya agen ganda di Remotivi, sebagai penulis naskah dan merangkap admin sosial media. Sekilas terlihat milenial sekali profesi itu. Sayangnya kenyataan tak semulus yang diharapkan.

Baru-baru ini laptop kesayangan mengalami penuaan dini. Pasalnya, si laptop susah sekali menyala. Ada masalah teknis yang tidak sepenuhnya saya pahami. Asumsi sementara, sih, masalahnya ada di kabel charger. Apalagi battery laptop memang sudah sepenuhnya mampus sejak lama.

Dengan kendala seperti itu tentu saja pekerjaan jadi keteteran. Baik menulis naskah, ngadmin, maupun nulis blog terpaksa saya rangkap semua pengerjaannya di handphone. Dan ternyata aktivitas yang padat di satu handphone bikin battery cepat habis dan sering hang. Kalau sudah begitu, sebaiknya beli laptop dulu atau gawai pintar dulu? Jawabnya: HANDPHONE!

Hehehe. Karena mulai terbiasa mengoprasikan gawai untuk berbagai keperluan, sepertinya beli handphone baru yang canggih adalah keputusan yang tepat untuk saat ini.

Mau Gadget Baru. iPhone X Aja Gimana, Ya?

Handphone canggih memang banyak jenisnya. Tapi kalau mau cari yang terbaik saya rasa produk iPhone adalah jawabannya. Dari dulu sudah ngidam iPhone, sih, namun tidak pernah kesampaian. Sebagai bibit unggul milenial ya kurang afdhol kalau iPhone belum memenuhi saku celana dan ruang-ruang malam yang sunyi.

Mengintip harga iPhone X memang bikin gemeteran. Tapi kalau lihat kemampuannya sih ya wajar-wajar saja kalau si gawai ini dibandrol dengan harga yang demikian renyahnya. Nah, karena kebutuhan digital saya yang begitu tinggi, besarnya RAM dan memori juga mesti mumpuni. iPhone X menyediakan RAM 3 GB dan memori internal 64 GB. Beda jauh dengan gawai saya sekarang. Hahahaha.

Buat pejuang eksistensi online, keperluan memfoto juga jadi pertimbangan penting saat membeli handphone baru. iPhone X berani memanjakan pengguna dengan resolusi kamera yang tinggi. Dan sebagai digital native yang sehari-harinya pasti menyelam di internet, daya tahan battery adalah sebuah kewajiban yang tidak bisa saya tawar lagi. Kapasitas tenaga iPhone X mencapai 2716 mAh dengan prediksi menyala hingga 21 jam! Bye bye powerbank!

Dengan spesifikasi yang seperti itu, siapa sih yang tidak berkeinginan untuk memiliki?

Tentu saja saya mau!

Belanja Online? Main Cantik Yuk Biar Hemat!

Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, saya yang merasa digital banget ini tentu saja membeli handphone di toko online. Di ekosistem olshop kita, ada banyak sekali toko yang menjual gadget canggih dan terbaru. Tapi tidak semua bisa kita eksekusi begitu saja karena biasanya tiba-tiba dompet merasa lelah begitu nominal barang yang mau dibeli ternyata mahal. Kalau sudah begini, ya solusinya cuma satu. Mesti bisa main cantik!

Tidak ribet kok menemukan barang yang diinginkan dengan harga terjangkau. Cukup menggunakan fasilitas yang disediakan iPrice, kita bisa memperoleh target barang dengan perbandingan harga yang mudah dilihat. Misalnya kalau mau cari harga iPhone X, kita bisa memantau berbagai penawaran harga dari masing-masing toko. Kalau mau kredit ya kita bisa langsung bandingkan berbagai macam aspek, seperti berapa uang mukanya, bunga, besaran kredit, dan lain sebagainya.

Bagaimana? Belanja secara online harus bisa main cantik biar budget minim tapi barang bisa dimiliki. Nah, ini juga yang akan saya praktekkan saat membeli iPhone X. Harapannya, sih, dengan fasilitas digital yang canggih, untaian pekerjaan jadi bisa teratasi dengan baik. Anti hang, anti low memory, dan anti powerbank. Mantap, kan?


Photo by Thiago Japyassu via pexels.com

27 Agustus 2018



Malam ini saya merasa begitu suntuk karena punya banyak kebutuhan berbelanja tapi bingung mana yang mesti didahulukan. Mau beli semua sekaligus tapi dana masih mepet banget. Pernah mengalami juga? Ah, daripada risau mending jalan-jalan saja. Siapa tahu bisa nemu pencerahan. Tapi mau jalan ke mana, ya?

Aha!

Paling seru sih jalan-jalan ke masa lalu saja. Beruntung banget punya mesin waktu di rumah. Jadi bisa langsung meluncur ke mana pun yang diinginkan. Asyik! Tak perlu berlama-lama lagi, saya lekas saja mengaktifkan mesin waktu saya dan melesat ke abad pertengahan di Eropa.

Source: idevie.com
Kaki saya melangkah menyusuri bangunan berbata yang kokoh di kanan dan kiri. Jalanan ramai sekali dengan orang-orang yang beraktivitas jual beli. Ya, saya tiba di pasar.

“Hey, cepat bayar utangmu!”

Saya kaget setengah mati dengan bentakan dari pria kekar di sebelah saya. Lekas saja saya langsung menyingkir darinya. Ya siapa sih yang mau kena gampar dari pria kekar abad pertengahan?

Setelah cukup jauh dari sosok bengis itu, saya mencari informasi perihal masalah apa yang terjadi di situ. Usut punya usut, pedagang tomat di pasar itu sudah 65 hari tidak membayar upeti kepada tuannya yang merupakan pemodal dari dagangannya itu. Ternyata, pada zaman itu peminjaman modal sedang marak terjadi. Orang-orang dari kalangan budak yang baru merdeka biasanya bingung mau hidup dengan cara apa. Akhirnya mereka berdagang. Lah modalnya dari mana? Dari para ‘tuan’ mereka meminjam modal yang dikenal dengan istilah sea loans.

Saya jadi tahu bahwa pada masa itu orang-orang mulai bisa punya barang dulu, bayar kemudian. Wah, cocok nih sama saya yang lagi banyak barang kebutuhan buat dibeli. Eh, tapi jadi penasaran nih sama awal mula sistem kredit itu kayak apa, ya?

Saya segera mencari tempat sepi untuk melompat lagi pakai mesin waktu. Syukurlah ada gang sempit yang sunyi. Dalam sekejab saya melesat ke Amerika pada tahun 1900-an. Saya tiba di depan supermarket yang di depannya ada SPBU. Krucuk, krucuk. Aduh perut saya lapar sekali. Coba jajan ke supermarket ah, siapa tahu ada diskonan.

Saya mengambil snack kering untuk mengganjal perut. Sewaktu saya membayar ke kasir, saya dimintai kartu member. Tentu saja saya tidak memilikinya. Lantas seorang pria paruh baya di belakang saya dengan dermawan menraktir saya dengan kartu member yang ia miliki.

Sembari mengungkapkan rasa terima kasih, saya menanyakan lebih lanjut soal kartu member yang dipakai itu tadi apa? Saya heran, sebab ketika kartu itu disodorkan, pria paruh baya itu tidak mengeluarkan uang sepeser pun untuk membayar.

Pria buncit itu menjelaskan banyak hal. Ternyata jika punya kartu member di supermarket itu, orang Amerika bisa memiliki sejumlah barang secara kredit. Waah, jadi ini ya asal muasal kartu kredit itu? Menarik. Tapi kapan ya bank mulai terlibat dalam sistem perkreditan ini? Oke, saatnya time travel lagi!

Setelah berpamitan dengan Pak Tua tadi, saya menyelinap di balik pohon yang cukup besar. Mesin waktu kembali aktif dan secepat kilat membawa saya ke tahun 1946. Saya yang awalnya bersembunyi di balik pohon, tiba-tiba duduk manis di sebuah ruangan yang megah. Tepat di depan saya ada seorang pria berambut klimis dengan kumis tipis yang melengkung simetris dengan senyum manis. Mata saya lantas membaca papan nama di atas meja yang rapi: John Biggins.

“Selamat datang di Flatbush National Ban of Brooklyn. Anda pasti mau menanyakan gagasan saya soal Charge It, bukan?”

Dengan plonga-plongo saya lekas saja menjawab, “Ya, apa itu Charge It?”

“Hehehe. Charge It adalah sebuah sistem yang dibuat untuk mempermudah nasabah kami dalam melakukan transaksi di berbagai toko yang juga merupakan nasabah dari bank kami. Saya yakin ide ini akan membawa banyak perubahan pada sistem transaksi dunia.”

Obrolan kami semakin akrab. Dari situ saya tahu kalau ternyata John Biggins ini adalah bankir yang menggagas sistem kredit. John lalu memperkirakan kalau pemerintah bakal campur tangan dengan sistem kredit ini. Benar saja, saya masih ingat di pelajaran IPS kalau tahun 1970-an pemerintahan Amerika menetapkan regulasi kebijakan penggunaan kartu kredit dan setelahnya terjadi ekspansi besar-besaran ke berbagai penjuru dunia.

Merasa informasi yang saya dapatkan sudah cukup, saya lekas menyudahi perjalanan waktu saya. Kepada John saya minta izin ke toilet. Tapi tentu saja, di balik pintu toilet saya mengaktifkan kembali mesin waktu untuk kembali ke tahun 2018. Jeng jeng. 

Harpitnas Tiba. Ayo Belanja di Akulaku!

Source: techgeek365.com
Setelah melihat bagaimana sistem kredit mulai masuk ke dalam budaya belanja manusia, lalu berkembang menjadi sistem yang lebih kuat, kini di tahun 2018 urusan perkreditan menjadi lebih efisien lagi. Bagaimana tidak? Berbekal smartphone dan koneksi internet saja kita bisa punya saldo kredit yang cukup untuk berbelanja banyak hal.

Teknologi digital memang mengubah cara orang berbelanja. Bahkan makin ke sini sudah semakin banyak pilihannya. Bikin bingung? Wajar saja. Namun, baru-baru ini jagad sosial media saya sedang asyik membicarakan sebuah wadah yang seru banget buat belanja. Wah, apa tuh?

Namanya Akulaku, di mana kita bisa berbelanja dengan mudah melalui smartphone dan tidak perlu khawatir kalau belum ada biaya yang cukup untuk membeli barang yang diinginkan. Lho kok bisa?

Di era yang serba cepat ini saya sering mengalami pengalaman buruk saat berbelanja online. Saya menyesal kalau sudah menandai barang yang mau dimiliki tapi belum mampu beli karena gaji belum turun dan akhirnya barang tersebut sudah dibeli orang lain. Nah, kalau pakai Akulaku, saya bisa beli dulu barangnya secara kredit tanpa kartu kredit!

Cara pakai Akulaku ini gampang banget. Tinggal download aplikasinya di Playstore untuk Android dan AppStore untuk iOS, lalu instal di gawai masing-masing. Setelah itu kita perlu isi data-data profil yang dibutuhkan. Buat bocoran, siapkan kartu identitas (KTP) karena nantinya KTP perlu difoto sebagai bukti kepemilikan. Setelah semua tahap selesai, kita bisa langsung mendapatkan loan kredit sebesar tiga juta rupiah! Wow! Kalau begini caranya, barang-barang kebutuhan bisa segera saya miliki. Ini nih serunya gaya belanja zaman now


Akulaku dibicarakan di ranah sosial media saya karena sebentar lagi kita bakal menyambut Harpitnas (Hari Pesta Kredit Nasional). Akulaku terlibat di dalamnya pada 20 Agustus-11 September nanti. Selama periode itu, kita akan disuguhi berbagai pilihan produk yang bisa diperoleh hanya dengan modal 1000 perak saja tiap harinya. Mantul! Mantap betul!

Selebihnya, mulai 20 Agustus 2018, Akulaku akan menjadi aplikasi virtual kredit pertama yang gagah berani memberi kompensasi jika pengajuan kredit limit kita ditolak. Karena ditolak itu sakit, perih, dan membekas, maka dengan pengertiannya kompensasi yang diberikan kepada kita adalah uang tunai senilai 888.000 rupiah! MEMANTUL JAUH! Memang mantap betul jadi fyuuh. Lega maksudnya.

Sudah tidak sabar lagi menunggu Harpitnas untuk memenuhi barang-barang yang saya butuhkan. Perjalanan panjang mengarungi waktu benar-benar berhasil memberi pencerahan bagi saya. Untung di kamar punya mesin waktu. Tinggal menyalakan perangkat komputer, lalu terhubung dengan internet, dan taraaa. Segudang informasi lintas ruang dan waktu bisa segera saya dapatkan.

Event Harpitnas tahun ini bakal dimeriahkan oleh banyak pihak. Namun saya sudah mantap memilih Akulaku. Kalau kamu?


Header shoot by @pertiwiyuliana

12 Juli 2018


Akhir pekan yang berseri di hari ke 7 pada bulan Juli 2018 terasa berbeda dari akhir pekan saya biasanya. Pasalnya, pada hari tersebut saya mendapat kesempatan untuk berkunjung ke markas MNC Vision yang berada di wilayah Kedoya, Jakarta Barat. Meski jarak dari kosan (Pulogadung, Jakarta Timur) ke Kedoya cukup jauh, namun saya berhasil menuntaskannya tanpa terlambat. Sudah pengalaman dengan jalan ke sana soalnya, karena dulu pernah 14 hari bolak-balik Pulogadung-Kedoya dengan gagahnya mengantar kekasih yang lagi magang. Weerr..

Mengapa ke MNC?

Ya mengapa tidak? MNC Vision bukan yang lain, dong.

Bagi saya, ini adalah pegalaman pertama main ke MNC. Dan sebagai pengalaman pertama, saya sangat mengingat bagaimana snack yang disuguhkan begitu lezat. Wkwkw. Ya mau bagaimana lagi, sebagai anak kos tentu saya harus merayakan setiap suap sarapan dong yang mana biasanya sarapan gorengan celup sambel doang. Nah, sebenarnya inilah alasan kok saya pilih tepat datang tepat waktu. Ya biar sempet sarapan sebelum acara mulai. Wkwkwk.
Baca Aja: Cerdasnya Manajemen Uang Ala Anak Kos
Usai menikmati coffee break, saya dan teman-teman bloger langsung diajak masuk ke ruangan yang sudah dipersiapkan untuk acara Blogger Gathering with MNC Vision itu. Suasana begitu akrab, seolah para bloger yang datang dan orang-orang MNC bersenyawa dalam satu spektrum. Apasih! Wkwkw. Sebenarnya kayak acara bloger pada umumnya,sih. Suasana pertemuan cukup hening di dunia nyata namun ramai di sosial media, apalagi di grup WA. Wooa.. Chaos. Wkwkw. True story banget nggak, sih?

No Phone, No Done.
Setelah ramah tamah dan sambutan demi sambutan, kami diajak untuk berkeliling dalam pusaran kantor MNC. Acara tur adalah salah satu yang paling saya tunggu, selain biar banyak tahu jeroannya MNC, saya juga bisa terbebas dari potensi membeku di ruang pertemuan yang dingin banget. Sebenarnya hampir semua ruangan hawanya dingin, sih. Ya mau bagaimana lagi, hawa dingin itu dimaksudkan untuk perangkat elektronik soalnya, bukan buat manusia. Lagipula manusia masih bisa kerokan kalau masuk angin gara-gara kedinginan. Lha kalau komputer?

Meski dingin menjalar di seluruh penjuru ruang, tapi setidaknya dengan berjalan kaki saya bisa menangkal peluang masuk angin. Ruangan pertama yang saya kunjungi bernama WIC, kepanjangannya Waktu Indonesia Cimur. Bukan!! Maksud saya Work in Center. WIC terletak di lantai dasar dan menjadi garda depan yang siap melayani customer. Jujur saja saya suka dengan format kantor kecil ini. Selain nyaman dan (tentu saja) dingin, properti berupa poster film dan banner berwujud superhero Marvel memberi sentuhan artistik yang anak film banget. Pengen bawa satu kok malah digetok sama Thor. Ampoon..!
Aciatciatciaaat....
Setelah menjejali WIC, saya kemudian digiring ke perkebunan parabola. Di atas hamparan rumput hijau, berjejer antena-antena besar yang kalau dipakai buat masak nasi goreng bisa mengenyangkan seluruh warga RT02/RW06. Lewat pencerahan dari tour ini saya jadi tahu kalau frekuensi MNC Vision itu tahan cuaca buruk. Jadi kalau hujan badai menerjang, kanal-kanal yang ada di MNC Vision akan senantiasa terjaga. Mantap tidak, tuh?

Nah, di sini ada beberapa pos yang digunakan untuk memantau dan mengelola hilir mudiknya frekuensi penyiaran. Sayangnya area ini hanya boleh dimasuki oleh petugas saja. Jadi saya harus puas mondar-mandir di area perkebunan sembari mencari objek foto yang menarik, seperti ini:

Ini kertas press release digulung buat bikin efek teropong low budget. #TeknologiAnakKos
Usai menggembala antena parabola, saya melenggang masuk lagi ke dalam gedung MNC. Rombongan bloger diajak untuk mengenal dapur produksi, seperti Studio Mini yang dipakai untuk siaran berita maupun Grand Studio yang kapasitasnya lebih besar. Kami juga dituntun untuk melihat bagian customer service di mana pada akhir pekan ternyata masih aktif dan cukup ramai para pekerja melayani keluhan-keluhan dari pelanggan MNC Vision. Wah, kalau ada jaminan pelayanan penuh 24 jam begini, sih, hati jadi lebih tenang. Bisa konsultasi sewaktu-waktu dong, ya.

Tur singkat pun selesai, acara dilanjutkan dengan mencoba kedahsyatan Dolby Audio. Sudah tahu Dolby, kan? Pertemuanku dengan Dolby berawal dari kebiasaan nonton film di bioskop. Sebelum film diputar, biasanya muncul iklannya Dolby, tuh. Nah, kupikir ya Dolby itu cuma support untuk pemutaran film di bioskop saja. Ternyata bukan begitu.

Teknologi Dolby bisa kita nikmati di ruang keluarga juga. Ya tentu saja dengan membeli sound system yang compatible dengan fitur Dolby. Menariknya, Dolby sendiri sudah bisa kita rasakan di MNC Vision pada kanal HBO, FOX, dan RCTI sebagai stasiun televisi Indonesia pertama yang menggunakan Dolby. Nah, pada waktu itu saya merasakan betul bagaimana perbedaan suara biasa dengan Dolby. Apalagi saat dipertontonkan salah satu scene Mad Max Fury Road, gelegar suaranya benar-benar bikin puas.

Rasa ingin memiliki pun muncul seketika. Ya. Memiliki perangkat Dolby satu set lengkap! Wkwkw. Jadi pada waktu itu, ada beberapa speaker yang di letakkan di berbagai sudut, ternyata tiap bagiannya punya peran masing-masing. Ada yang suaranya ngebass banget, ada yang futuristik, ada yang lebih tajam, dan sebagainya. Hebatnya, semua peran itu ketika disatukan berhasil membuat kompleksitas suara yang sangat mengangumkan. Eh, tapi memang Dolby itu jago main peran kok. Adipati Dolby. Wkwkwkwk.

Sepuas dengan Dolby experience, acara selanjutnya diisi dengan workshop sound editing oleh Khikmawan Santosa atau yang lebih akrab disapa Mas Kiki. Karya Mas Kiki yang menurut saya paling kentara adalah saat dia mengolah sound effect di film Pengabdi Setan. Terbukti mulai dari lagu , suara lonceng, hingga gertakan jump scare terus menghantui saya selama seminggu sejak nonton film itu.
Baca Aja: Review Film Pengabdi Setan (2017)
Tak ada kata lain selain ‘puas’ yang bisa saya ucapkan untuk menggambarkan acara Blogger Gathering with MNC Vision waktu itu. Apalagi dapat cinderamata berupa earphone Black Phanter yang keren banget. Karena selain bisa buat dengerin suara elektronik, earphone ini juga bisa dililitin ke tangan jadi kayak gelangnya T’Challa. Ori pula. Gokil!

Suasana di mini studio
Segitu saja, sih, #CeritaDiMNCVision saya kali ini. Harapannya sih bisa segera berlangganan MNC Vision di rumah, lalu pasang satu set lengkap perangkat Dolby. Doakan, yaa. Disumbangin juga boleh. Wkwkwk. Terima kasih sudah baca sampai akhir. Cheers!

Follow Us @soratemplates