1 Maret 2019


Karena sebuah insiden yang terjadi di awal tahun 2019, saya harus segera membeli handphone (HP) baru untuk menggantikan yang lama. Sebenarnya, meski jika tidak terjadi insiden pun saya juga tetap akan membeli yang baru, sih. Soalnya HP lama saya sudah tidak menyenangkan lagi, terutama pada dua fitur yang saya idamkan, yaitu kebutuhan saya akan berfoto dan bermain games.

Jujur saya sebenarnya suka sekali memfoto. Bagi saya merangkum apa yang saya lihat dalam sebuah tangkapan gambar melalui kamera adalah keindahan yang tiada tara. Apalagi foto memang sarana paling tepat untuk merekam momentum. Tapi selama ini saya belum cukup pede untuk membagi foto-foto saya di media sosial. Sebab kualitas gambar yang saya tangkap begitu buram. Seringkali saya harus memakai bantuan aplikasi untuk mempercantik, ya minimal meningkatkan pencahayaan dan saturasi.

Tapi kan capek kalau harus ngedit mulu. Nah, saya berpikir bagaimana jika saya beli HP yang kameranya luar biasa jernih? Jadi saya kan tinggal jepret sudah bisa langsung update foto di medsos. Wah, pasti bakal produktif, nih!

Eh, tapi tunggu sebentar. Kan saya pengin punya smartphone yang canggih buat main game juga. Ada tidak ya yang memenuhi dua persayratan itu? Belakangan ini saya suka sekali main trading card game bernama Lightseeker. Saking sukanya saya memainkan ini, sekadar info saja, saya berada di ranking 23 se-Indonesia, lho. Hahaha. Congkak! Tapi kalau tidak rutin dimainkan bisa jadi ranking saya menurun. Sementara saya jadi jarang main karena HP saya lagi rewel! Menyebalkan!
Emosi yang meluap tersebut akhirnya luntur begitu saya ketika saya tahu Honor habis meluncurkan gawai terbarunya, yaitu Honor 10 Lite. Lho, kenapa kok saya bisa langsung tenang gara-gara si Honor ini?
Ya tentu saja karena dua fitur yang saya dambakan itu sudah dikuasai oleh Honor 10 Lite.


Jadi, Honor 10 Lite ini mempunya kamera dengan kualitas jempolan. Kamera utama saja resolusinya mencapai 13 megapiksel + 2 megapiksel. Bisa berfungsi dengan baik juga untuk keperluan fotografi malam dengan adanya AIS: AI Powered Image Stabilization. Nah, gilanya lagi, kamera depan yang dimiliki Honor 10 Lite ini mencapai 24 megapiksel! Kebutuhan akan kurangnya cahaya yang sesuai pun tak jadi soal, karena Honor 10 Lite punya fitur multiple lightning option seperti: Soft Lightning, Butterfly Lightning, Split Lightning, Classic Lightning, dan Stage Lightning. 

Kemampuan kamera yang seperti ini cocok sekali dengan saya yang memang suka berfoto ria. Bahkan dengan tambahan kamera depan yang mumpuni, saya bisa sembari foto selfie sesuka hati dengan lebih pede.

Sementara itu, jika kita bicarakan game, Honor 10 Lite ternyata juga mendukung permainan digital banget, lho. Soalnya, Honor 10 Lite ini dilengkali dengan sistem Turbo GPU 2.0 yang berfungsungsi untuk meningkatkan kemampuan pemrosesan grafik GPU ketika kita nge-game. Dijamin lebih enteng. Jadi kita tidak usah capek-capek ngeboost HP kita terus-menerus.

Main game itu pasti lama, kan? Saya bisa sejam lebih kalau main game. Apalagi saat lagi gabut. Tapi saya tidak cemas lagi, karena saya pada Honor 10 Lite tersebut memiliki baterai yang mencapai 3400 mAh sehingga waktu stand by bisa sampai 612 jam!

Ya, kalau saya sih menyambut hangat datangnya Honor 10 Lite ke Indonesia. Terutama karena harganya yang terjangkau. Kita bisa memiliki gawai super ini hanya dengan mahar 3.299.000 saja. Yasudah, lah, ya. Ngapain pilih-pilih yang lain lagi kalau sudah sebagus ini dan terjangkau pula.

Doakan gaji cepet turun ya, biar Honor 10 Lite juga lekas ditimang. Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa!


Image 1: Mukul Sharma via Androidupdated.com
Image 2: Hihonor.com

20 Februari 2019



Bagi kelas menengah seperti saya, menonton film di bioskop tidak bisa saya lakukan setiap hari. Jadi saya harus mereduksi film apa saja yang sekiranya seru untuk ditonton di layar lebar. Jawabnya adalah film yang diadaptasi dari komik. Mengapa?

Saya selalu suka genre science fiction dan fantasy. Saya menyukainya karena film-film semacam itu tidak tersentuh di dunia nyata saya. Jadi saya merasa begitu terhibur dengan hiperialitas yang ditawarkan. Meskipun fiksi dan fantasi, film tetaplah buah pikir dari otak manusia. Nah, imajinasi manusia itulah yang terasa sangat lezat bagi pikiran saya. Sehingga ketika nonton film dengan genre semacam ini, saya akan mengupayakan untuk menontonnya dengan fasilitas terbaik. Yaitu, nonton di bioskop.

Sebagai watching list di 2019, saya menuliskan lima film hasil adaptasi komik Marvel dan DC yang menarik untuk ditonton di bioskop.

Spiderman: Far From Home



Petualangan Peter Parker melawan kejahatan di masa pubernya tentu saja menarik untuk kita ikuti. Apalagi kali ini Spiderman akan berhadapan dengan Mysterio, salah satu anggota penjahat Sinister Six yang selama ini belum pernah muncul di film Spiderman versi manapun. Bicara soal karakter jahat dalam kehidupan Spiderman selalu menarik untuk saya kulik. Saya pernah menulis tentang beberapa villainyang muncul dalam film Spiderman: Homecoming meskipun hanya sebagai easter egg.

Lho, kan Peter Parker sudah menjadi debu? Nah, ingatkah kamu pada film Infinity War, Peter Parker muncul saat ia sedang berada di dalam bus bersama teman sekolahnya. Pada saat itu ia tengah pulang dari acara sekolah yang mana adalah latar kejadian pada Spiderman: Far From Home nantinya.  Film ini rilis 5 Juli 2019 di USA.

2.      Captain Marvel



Kemunculan Captain Marvel belum pernah saya dengar sebelum after credit scene di film Infinity War menunjukkan hal tersebut. Antusias? Tentu saja. Captain Marvel menjadi kunci penting untuk kelanjutan seisi alam semesta yang didebukan oleh Thanos. Melalui trailer yang telah rilis, kita juga akan diajak untuk melihat bagaimana Fury pertama kali terlibat dengan hal-hal super di muka bumi ini. Dan satu lagi, Captain Marvel adalah film superhero perempuan pertama yang mendapat jatah film solo di MCU. Film ini rilis 8 Maret 2019 di USA. Apakah kamu juga antusias menyambut film ini?

3.      Avengers: End Game



Bagaimana kelanjutan dari orang-orang yang didebukan oleh Thanos? Buat yang mengikuti petualangan Avengers melindungi dunia, pasti Avengers: End Game ini sudah jadi tontonan wajib tahun ini. Saya tidak mau menaruh ekspektasi bahwa endingnya bakal bahagia. Karena kalau dililihat ke belakang, beberapa film Avengers pasti menggugurkan salah satu karakter yang saya favoritkan, sebut saja Quicksilver dan Vision. Awas saja kalau Dr. Strange dimatiin juga. Film ini rilis 26 April 2019 di USA.

4.      Dark Phoenix



Geliat film X-Men tidak pernah terhenti meski sang juru kunci, Wolverine, sudah tutup usia di film Logan. Kali ini Jean Grey mendapat film solonya sebagai saingan dari film superhero perempuan, Captain Marvel, tahun ini. Seperti Captain Marvel, Jean juga memiliki kekuatan super yang begitu besar dan desktruktif. Meski masih dalam satu komik yang sama, Dark Phoenix sepertinya akan lebih suram dan galau daripada Captain Marvel. Mari kita buktikan pada 7 Juni 2019.

5.      Hellboy



Pada 2004 dan 2008, Hellboy memang sudah muncul di layar lebar. Tapi Hellboy kali ini bukan merupakan kelanjutan dari versi sebelumnya. Hellboy juga jadi salah satu karakter favorit saya. Soalnya, kekuatan yang ia miliki berangkat dari gejala supernatural, bukan kecelakaan ilmiah seperti Hulk atau The Thing. Film ini rilis 12 April 2019 di USA.

Nah, beberapa film yang saya uraikan di atas apakah juga ingin kamu tonton? Saya sih sudah siap-siap untuk menontonnya di bioskop agar lebih terasa gelegarnya. Untung di Jakarta ada banyak pilihan bioskop, jadi bisa segera merapat ke bioskop begitu film rilis agar tidak terpapar spoiler dari netizen. Rencananya saya dan kekasih saya mau nonton Captain Marvel di Cinemaxx. Kebetulan ada lokasi yang dekat dengan rumah kami, lagipula tempatnya sangat nyaman. Eh, enaknya direview nggak nih kelima film di atas nantinya?

Header: Rawpixel via pexels.com
Poster: imdb.com

11 Februari 2019



Pada akhir tahun 2018, MIKTI (Indonesia Digital Creative Industry Community) bekerja sama dengan TeknoPreneur dan Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif) menyusun sebuah pemetaan dan database start up yang ada di Indonesia.

Hasil dari riset tersebut membuat saya kaget. Pasalnya, saya tak menyangka betul kalau start up yang sedang tumbuh di Indonesia sudah begitu banyak. Saya pun jadi paham mengapa saat ini pemerintah mendorong talenta kreatif untuk menembus pasar global dan menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan kekuatan industri digital yang besar. Bahkan sudah ada klaim yang disiapkan lho, yaitu Indonesia: The Digital Energy of Asia.

Data statistik perusahaan Startup di Indonesia oleh Indonesia Digital Creative Industry Society (MIKTI) tahun 2018 (Sumber: katadata.co.id)

Menurut data riset yang diterbitkan MIKTI, saat ini Indonesia memiliki 992 start up yang sedang berkembang. Dengan pengelompokan tiap domisili yang tidak merata seperti 522 start up di JABODETABEK, 113 start up di Jawa Timur, 115 start up di Sumatera, 54 di DI Yogyakarta, dan wilayah lainnya tidak lebih dari 50 start up yang berdiri.

Tak hanya itu, MIKTI juga menyusun pemetaan founder start up di seluruh Indonesia. Dari 992 start up, 69,20% adalah Generasi Y (mereka yang lahir pada tahun 1981-1994), 15,60% berasal dari Generasi X (1965-1980), dan 15,20% berasal dari Generasi Z (1995-2010). Pendidikan terakhir para founder ini paling banyak berasal dari tamatan S1 (67,94%). Kemudian disusul S2 (20,00%), SMA (7,94%), Diploma (3,82%), dan S3 (0,30%).

Melalui data-data tersebut, saya merasa pertumbuhan industri kreatif bisa semakin gencar lagi. Peningkatan jumlah start up akan terus terjadi setiap tahunnya, bahkan bisa jadi setiap bulannya. Tapi apakah sebagai individu kita siap menghadapi industri yang ketat seperti itu? Terutama bagi yang punya mimpi menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain, mendirikan start up memang bisa jadi salah satu cara. Namun itu bukan hal yang mudah. Apalagi di bangku sekolah dan kampus kita tidak mendapat persiapan yang matang untuk membangun usaha digital. Alhasil, belajar secara otodidak menjadi cara rimba untuk mewujudkan start up yang diidamkan.

Melihat kondisi tersebut, CIMB Niaga hadir mendukung mimpi anak muda Indonesia melalui Kejar Mimpi. Menurut saya gerakan sosial ini patut untuk kita beri dukungan di tengah pesatnya perkembangan inovasi start up. Kenapa? Mereka punya acara yang menurut saya menarik yaitu Leaders Camp. Acara ini memberikan pembekalan berupa soft skill potensi diri, pengetahuan dan pengalaman melalui seminar dan workshop demi mencetak talenta kreatif anak muda Indonesia.

Sharing session Leonika Sari, pendiri Reblood, di Kejar Mimpi Leaders Camp Surabaya
(Photo Credit: Kejar Mimpi dan CIMB Niaga)
Terlihat sekali Leaders Camp mengangkat topik bermanfaat seputar inovasi teknologi, sosial dan entrepreneurship yang menginspirasi anak muda untuk mandiri dan siap memajukan Indonesia. Pembicaranya pun tidak main-main, ada Leonika Sari founder start up Reblood, Hans Saleh dari Garena Indonesia, Hasbi Asyadiq Founder & CEO of Assemblr dan masih banyak lagi para inovator muda Indonesia.

Leaders Camp juga telah diselenggarakan di kota-kota lain seperti Medan, Surabaya, dan Bandung. Tapi itu sudah berlalu pada tahun 2018. Infonya di 2019 akan terselenggara lebih banyak Leaders Camp di berbagai kota. Menurut saya Leaders Camp menjadi ajang penting bagi mereka yang ingin mengembangkan diri dan meraih apa yang dicita-citakan terutama para calon inovator start up. Karena kegiatan ini memberi sarana yang tepat bagi mereka yang tengah bimbang dengan apa yang sedang diusahakan dalam meraih mimpinya. Karena di sana ada banyak insight yang bisa diperoleh dari para ahli.

Talkshow #KejarMimpi Leaders Camp Bandung (Photo Credit: Kejar Mimpi dan CIMB Niaga)
Dengan mengikuti Leaders Camp, dorongan untuk mewujudkan mimpi akan semakin kuat karena beberapa faktor seperti pembekalan yang tepat, pola menuju perwujudan mimpi yang sudah ditunjukkan, serta meluasnya referensi dan jaringan akan sangat berguna bagi individu-individu yang mau berkembang.

Kamu bisa cek jadwal roadshow Kejar Mimpi Leaders Camp di 2019 dengan follow Instagram Kejar Mimpi di instagram.com/kejarmimpi.id atau ke website #KejarMimpi. Wajib banget untuk ikutan kegiatan ini dan jadi paham bagaimana bisa berkembang di era industri digital ini.

Saya sangat bersemangat dengan laju industri digital di Indonesia yang semakin maju. Bagi saya ini adalah momentum yang tepat untuk terlibat lebih jauh dalam industri ini. Bukan semata ikut-ikutan, tapi perkembangan yang positif semacam ini bukankah memang mesti kita dukung? Saya tertarik untuk mendukungnya dari dalam, untuk menjadi bagian yang memberi manfaat pada sektor tertentu.

Kalau kamu?


Sumber data: linkr.id/MIKTImappingStartup2018
Header source: Pixabay via Pexels.com

10 Februari 2019



Memulai membuka usaha bisa dari mana saja dan kapan saja. Ketika teknologi digital menjadi hal yang mudah dijangkau, siapapun bisa memulai bisnisnya. Tapi tidak semua bisa mengembangkannya!

Saya punya sedikit -beneran sedikit- pengalaman soal berbisnis. Dulu, saya pernah mencoba membangun platform soal perbukuan, namanya Majibooks. Majibooks itu semacam blog yang khusus membahas soal dunia perbukuan sekaligus membuka toko buku online. Unit usaha ini saya dirikan bersama kekasih saya (Tiwi) dan dibantu satu sahabat saya (Dani). Kami sudah bikin blog, membeli domain, dan menjalin kerja sama dengan supplier buku. Sayangnya, Majibooks mangkrak karena saya kurang mampu mengorganisir keperluan bisnis.

Selain itu saya juga sempat membuka usaha kecil-kecilan di Instagram, yaitu jasa desain CV. Usaha tersebut memang gampang dimulai, tapi ternyata sukar mempertahankannya. Saya hanya punya satu klien hingga akhirnya usaha ini saya tutup karena tiga hal. Pertama, saya merasa kemampuan desain saya tak semahir penawar jasa desain CV yang lain. Kedua, kompetisi pasar terlalu ketat, di mana tarif jasa yang saya pasang lebih mahal dari pesaing. Ketiga, saya tidak giat.

Dua pengalaman tersebut memang masih jauh dari memuaskan. Tapi apakah saya menyerah? Tidak!

Membuka Usaha Berbasis Digital itu Mudah. Menumbuhkannya Susah.

Saya dan kekasih saya kembali berdiskusi untuk membangun usaha yang lebih serius. Sebenarnya kami punya ide usaha yang berbeda, tapi dalam pengelolaan tetap akan saling bantu untuk merealisasikan impian kami masing-masing. Saya berpikir untuk membuat sebuah platform yang bisa mempertemukan antara kreator, talent, kru, dan sponsor. Sebagai gambaran, dewasa ini ada banyak sekali platform yang mempertemukan antara klien dan freelancer seperti sribulancer, fastwork, dan lain-lain. Nah, saya ingin mengadopsi bentuk tersebut ke dalam sebuah platform kolaboratif untuk membuat konten kreatif.

Misal kamu ingin membuat video klip. Karena faktor pergaulan dan jaringan yang terbatas, kamu jadi kesulitan mencari talent dan kru. Nah, platform yang saya maksud akan mewadahi hal tersebut. Di situ kamu tinggal tawarkan proyek kreatif apa yang sedang kamu kerjakan dan butuh talent serta kru dengan spesifikasi seperti apa. Malahan kamu juga bisa dapat sponsor buat karya kreatif kamu. Seru, kan?
Selama ada koneksi internet dan aplikasi yang terpasang, membuka usaha sudah bukan sesuatu yang rumit. Jika dulu untuk buka usaha perlu sewa toko, sekarang siapa saja bisa buka toko online tanpa ribet bahkan gratis. Tapi tantangannya sebenarnya bukan di situ. Semakin mudah membuka usaha, semakin banyak pula pesaingnya. Semakin menunda untuk memulai, semakin tergusurlah kesempatannya. Itulah yang saya rasakan dari secuil pengalaman di atas. Tentang bagaimana mental menunda-nunda dan ketidaktekunan membuat bisnis yang saya mulai langsung gulung tikar.

Tentu saja saya tak ingin jatuh di lubang yang sama berkali-kali. Pada bisnis di tahun 2019 yang ingin saya bangun kali ini, saya harus membekali diri dengan mental yang kuat, pengetahuan soal teknis yang luas, dan berjejaring dengan banyak pihak.

Bagi saya, “mentalitas” adalah salah satu faktor yang teramat penting untuk menumbuhkan bisnis yang sedang kita jalani. Mau secepat apapun internet kamu, kalau mental berbisnisnya lamban ya hasilnya bisa seperti saya, sudah bangkrut sejak dalam pikiran. Selain itu membuka usaha yang minim modal bisa membuat kita terlena karena seolah tidak ada beban rugi yang akan kita tanggung. Mental seperti itu yang akan membunuh usaha kita perlahan.

Lantas bagaimana sebaiknya kita mengatasi hal tersebut?

Kalau menurut saya, memiliki rekan kerja yang setia adalah kunci yang paling penting. Ketika kita stuck, bosan, apalagi malas, rekan kerja akan membantu kita untuk kembali ke dalam track. Ibarat kisah fiktif populer dari Inggris, apalah arti Sherlock Holmes tanpa John Watson. Ea.

Tapi, perlu ditegaskan juga bahwa pada akhirnya inisiatorlah yang memegang peranan penting untuk memutuskan apakah bisnis mau dikembangkan, dibiarkan, atau malah dibubarkan. Oleh karena itu, seorang founder semestinya rajin belajar dan berjejaring agar mampu menghadapi masalah-masalah yang timbul nantinya. Jangan sampai kita tidak menuai apa-apa dari bisnis yang kita mulai.

Header: Pexels.com

11 Januari 2019



Belakangan ini lagi bersemangat mempelajari literasi keuangan, khususnya fintech. Fintech merupakan akronim dari "financial" dan "technology" yang berarti kebutuhan keuangan yang berorientasi pada teknologi.

Perkembangan fintech di Indoensia terbilang berkembang dengan pesat. Saya merasakan sendiri gilatnya di berbagai lini dapat saya rasakan secara langsung. Baiklah, sebut saja dengan pembayaran yang menjadikan semangat "cashless" sebagai handalan. Dulu, kalau bertransaksi secara offline, saya hanya diberi pilihan pembayaran, antara cash atau gesek kartu. Sekarang saya hanya perlu membawa handphone. Proses pembayaran bisa dikerjakan dengan scan code atau tap pin saja. Simpel dan canggih, bukan?

Dan ternyata pengetahuan saya soal fintech masih begitu sempit. Di balik yang saya ketahui, ada banyak startup yang mengembangkan aneka jenis fintech. Jenis-jenis apa saja, tuh? Ada jenis pembayaran, peminjaman, perencanaan keuangan, investasi ritel, pembiayaan, dan riset keuangan. Hal-hal ini saya ketahui saat punya kesempatan untuk hadir di cara Blogger X Fintech Day beberapa hari lalu.

Dalam acara tersebut, hadir beberapa pengembang fintech di Indonesia, seperti KreditCepat, Cashwagon, Aktivaku, Taralite, Uangme, Pinduit, dan Danain. Hampir semuanya memiliki sesi untuk presentasi. Tapi bukan hanya presentasi jualan, mereka lebih banyak menyebarkan literasi keuangan digital yang begitu banyak memberi pemahaman baru pada saya.

Di era sekarang, fintech menjadi kebutuhan yang menurut saya penting. Meski bukan sebagai satu-satunya cara untuk mengelola keuangan, fintech terbukti memberi banyak kemudahan. Apalagi ketika situasi yang terjadi begitu besar merayakan teknologi keuangan ini. Beradaptasi menjadi satu hal yang saya rasa harus segera dilakukan agar tidak disebut ketinggalan zaman.

Selama satu tahun di Jakarta, saya mulai mencoba beberapa produk fintech. Pertama produk pembayaran. Saya mulai terbiasa membeli tiket nonton, makan, bahkan belanja beberapa barang menggunakan aplikasi yang terpasang di gawai. Saat makan di KFC hingga beli tiket nonton di CGV maupun XXI misalnya, saya cenderung memanfaatkan Tcash atau Dana. Begitupun saat order makanan atau jasa transportasi, saya menggunakan Gopay dari aplikasi Gojek.Saat belanja online, beli pulsa, hingga jajan Dum-dum pun saya menggunakan OVO.

Selain sebagai alat pembayaran, saya juga mencoba teknologi ini dalam hal mencari dana pinjaman. Saya pernah memanfaatkan Akulaku dan Kredivo. Selain cari pinjaman saya juga terlibat dalam pemberi pinjaman atau investasi, di bidang ini saya memakai KoinWorks. Sementara itu di kantor saya cukup akrab memanfaatkan crowdfunding untuk mendapatkan asupan dana. Tempat kerja saya menggunakan KitaBisa dan saat ini sedang proses untuk memanfaatkan pelayanan dari Doku.

Banyaknya produk fintech tidak lantas membuat saya pusing. Justru asyik karena ternyata beberapa hal menjadi lebih mudah dan cepat. Apalagi mereka pasti menawarkan berbagai diskon, promo, hingga hadiah-hadiah yang menarik. Saya mengajak kamu, kamu, dan kamu untuk ikut merayakan perkembangan financial technology ini bersama. Saya memang belum ahli, tapi sedikit demi sedkit semakin paham dan saya melihat ada hal yang bisa kita capai bersama jika perkembangan fintech ini juga disambut dengan baik oleh masyarakat.

Untuk memahami lebih jauh soal fintech, sih, saya sarankan untuk mengikuti pertemuan atau kelas khusus fintech. Seperti yang saya ikuti di Blogger X Fintech Day, misalnya. Tapi bisa juga dengan memanfaatkan media sosial misalnya dengan terlibat aktif dalam diskusi keuangan yang selalu menarik diatawarkan oleh Jaouska. Atau bisa juga belajar dengan sederhana melalui situs-situ keuangan seperti Finansialku.com dan masih banyak lagi caranya.



Nah, itu saja, sih, cerita singkat saya soal fintech dan hal-hal menarik di dalamnya. Saya telah menjadi bagian dari perkembangan dunia keuangan ini. Kamu?


Image source:
1. Photo by Rawpixel from Pexels.com
2. Photo by Rawpixel from Pexels.com

Follow Us @soratemplates