14 September 2018



Siapa sangka, mahasiswa buronan seperti saya justru bekerja di perkumpulan kajian media, Remotivi. Mungkin ada yang mengira kalau saya tidak menyelesaikan kuliah karena tidak mampu berkutat dengan teori, data, analisis, dan buku-buku tebal. Ada benarnya juga, dan sepertinya ini adalah ganjaran bagi saya. Kabur dari skripsi, malah masuk ke dalam Remotivi.

Awalnya, saya mencicipi profesi sebagai penulis naskah video di sana. Otomatis saya harus membuka kembali buku-buku ‘berat’, membaca banyak hal dari banyak platform untuk riset, hingga diskusi dari siang sampai malam. Kalau kamu pernah melihat video-video di channel Remotivi, pasti pahamlah kira-kira jerih payah yang diperlukan.

Tidak puas dengan hal itu, sepertinya Remotivi cukup bernafsu mengeksploitasi lelaki seperti saya ini. Karena pada bulan keempat sejak saya bergabung, mereka tega-teganya memberi tambahan pekerjaan, yaitu menjadi admin sosial media.

Loyalitas dan ikhlas membuat saya menyanggupi tawaran itu. Halah mbel. Hahaha.

Ya tentu saja karena penambahan gaji! Hari gini kok ngomongin loyalitas dan ikhlas, memangnya nyicil rumah bisa pakai senyum dan motivasi doang apa? Hehehe.

Singkat cerita, jadilah saya agen ganda di Remotivi, sebagai penulis naskah dan merangkap admin sosial media. Sekilas terlihat milenial sekali profesi itu. Sayangnya kenyataan tak semulus yang diharapkan.

Baru-baru ini laptop kesayangan mengalami penuaan dini. Pasalnya, si laptop susah sekali menyala. Ada masalah teknis yang tidak sepenuhnya saya pahami. Asumsi sementara, sih, masalahnya ada di kabel charger. Apalagi battery laptop memang sudah sepenuhnya mampus sejak lama.

Dengan kendala seperti itu tentu saja pekerjaan jadi keteteran. Baik menulis naskah, ngadmin, maupun nulis blog terpaksa saya rangkap semua pengerjaannya di handphone. Dan ternyata aktivitas yang padat di satu handphone bikin battery cepat habis dan sering hang. Kalau sudah begitu, sebaiknya beli laptop dulu atau gawai pintar dulu? Jawabnya: HANDPHONE!

Hehehe. Karena mulai terbiasa mengoprasikan gawai untuk berbagai keperluan, sepertinya beli handphone baru yang canggih adalah keputusan yang tepat untuk saat ini.

Mau Gadget Baru. iPhone X Aja Gimana, Ya?

Handphone canggih memang banyak jenisnya. Tapi kalau mau cari yang terbaik saya rasa produk iPhone adalah jawabannya. Dari dulu sudah ngidam iPhone, sih, namun tidak pernah kesampaian. Sebagai bibit unggul milenial ya kurang afdhol kalau iPhone belum memenuhi saku celana dan ruang-ruang malam yang sunyi.

Mengintip harga iPhone X memang bikin gemeteran. Tapi kalau lihat kemampuannya sih ya wajar-wajar saja kalau si gawai ini dibandrol dengan harga yang demikian renyahnya. Nah, karena kebutuhan digital saya yang begitu tinggi, besarnya RAM dan memori juga mesti mumpuni. iPhone X menyediakan RAM 3 GB dan memori internal 64 GB. Beda jauh dengan gawai saya sekarang. Hahahaha.

Buat pejuang eksistensi online, keperluan memfoto juga jadi pertimbangan penting saat membeli handphone baru. iPhone X berani memanjakan pengguna dengan resolusi kamera yang tinggi. Dan sebagai digital native yang sehari-harinya pasti menyelam di internet, daya tahan battery adalah sebuah kewajiban yang tidak bisa saya tawar lagi. Kapasitas tenaga iPhone X mencapai 2716 mAh dengan prediksi menyala hingga 21 jam! Bye bye powerbank!

Dengan spesifikasi yang seperti itu, siapa sih yang tidak berkeinginan untuk memiliki?

Tentu saja saya mau!

Belanja Online? Main Cantik Yuk Biar Hemat!

Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, saya yang merasa digital banget ini tentu saja membeli handphone di toko online. Di ekosistem olshop kita, ada banyak sekali toko yang menjual gadget canggih dan terbaru. Tapi tidak semua bisa kita eksekusi begitu saja karena biasanya tiba-tiba dompet merasa lelah begitu nominal barang yang mau dibeli ternyata mahal. Kalau sudah begini, ya solusinya cuma satu. Mesti bisa main cantik!

Tidak ribet kok menemukan barang yang diinginkan dengan harga terjangkau. Cukup menggunakan fasilitas yang disediakan iPrice, kita bisa memperoleh target barang dengan perbandingan harga yang mudah dilihat. Misalnya kalau mau cari harga iPhone X, kita bisa memantau berbagai penawaran harga dari masing-masing toko. Kalau mau kredit ya kita bisa langsung bandingkan berbagai macam aspek, seperti berapa uang mukanya, bunga, besaran kredit, dan lain sebagainya.

Bagaimana? Belanja secara online harus bisa main cantik biar budget minim tapi barang bisa dimiliki. Nah, ini juga yang akan saya praktekkan saat membeli iPhone X. Harapannya, sih, dengan fasilitas digital yang canggih, untaian pekerjaan jadi bisa teratasi dengan baik. Anti hang, anti low memory, dan anti powerbank. Mantap, kan?


Photo by Thiago Japyassu via pexels.com

27 Agustus 2018



Malam ini saya merasa begitu suntuk karena punya banyak kebutuhan berbelanja tapi bingung mana yang mesti didahulukan. Mau beli semua sekaligus tapi dana masih mepet banget. Pernah mengalami juga? Ah, daripada risau mending jalan-jalan saja. Siapa tahu bisa nemu pencerahan. Tapi mau jalan ke mana, ya?

Aha!

Paling seru sih jalan-jalan ke masa lalu saja. Beruntung banget punya mesin waktu di rumah. Jadi bisa langsung meluncur ke mana pun yang diinginkan. Asyik! Tak perlu berlama-lama lagi, saya lekas saja mengaktifkan mesin waktu saya dan melesat ke abad pertengahan di Eropa.

Source: idevie.com
Kaki saya melangkah menyusuri bangunan berbata yang kokoh di kanan dan kiri. Jalanan ramai sekali dengan orang-orang yang beraktivitas jual beli. Ya, saya tiba di pasar.

“Hey, cepat bayar utangmu!”

Saya kaget setengah mati dengan bentakan dari pria kekar di sebelah saya. Lekas saja saya langsung menyingkir darinya. Ya siapa sih yang mau kena gampar dari pria kekar abad pertengahan?

Setelah cukup jauh dari sosok bengis itu, saya mencari informasi perihal masalah apa yang terjadi di situ. Usut punya usut, pedagang tomat di pasar itu sudah 65 hari tidak membayar upeti kepada tuannya yang merupakan pemodal dari dagangannya itu. Ternyata, pada zaman itu peminjaman modal sedang marak terjadi. Orang-orang dari kalangan budak yang baru merdeka biasanya bingung mau hidup dengan cara apa. Akhirnya mereka berdagang. Lah modalnya dari mana? Dari para ‘tuan’ mereka meminjam modal yang dikenal dengan istilah sea loans.

Saya jadi tahu bahwa pada masa itu orang-orang mulai bisa punya barang dulu, bayar kemudian. Wah, cocok nih sama saya yang lagi banyak barang kebutuhan buat dibeli. Eh, tapi jadi penasaran nih sama awal mula sistem kredit itu kayak apa, ya?

Saya segera mencari tempat sepi untuk melompat lagi pakai mesin waktu. Syukurlah ada gang sempit yang sunyi. Dalam sekejab saya melesat ke Amerika pada tahun 1900-an. Saya tiba di depan supermarket yang di depannya ada SPBU. Krucuk, krucuk. Aduh perut saya lapar sekali. Coba jajan ke supermarket ah, siapa tahu ada diskonan.

Saya mengambil snack kering untuk mengganjal perut. Sewaktu saya membayar ke kasir, saya dimintai kartu member. Tentu saja saya tidak memilikinya. Lantas seorang pria paruh baya di belakang saya dengan dermawan menraktir saya dengan kartu member yang ia miliki.

Sembari mengungkapkan rasa terima kasih, saya menanyakan lebih lanjut soal kartu member yang dipakai itu tadi apa? Saya heran, sebab ketika kartu itu disodorkan, pria paruh baya itu tidak mengeluarkan uang sepeser pun untuk membayar.

Pria buncit itu menjelaskan banyak hal. Ternyata jika punya kartu member di supermarket itu, orang Amerika bisa memiliki sejumlah barang secara kredit. Waah, jadi ini ya asal muasal kartu kredit itu? Menarik. Tapi kapan ya bank mulai terlibat dalam sistem perkreditan ini? Oke, saatnya time travel lagi!

Setelah berpamitan dengan Pak Tua tadi, saya menyelinap di balik pohon yang cukup besar. Mesin waktu kembali aktif dan secepat kilat membawa saya ke tahun 1946. Saya yang awalnya bersembunyi di balik pohon, tiba-tiba duduk manis di sebuah ruangan yang megah. Tepat di depan saya ada seorang pria berambut klimis dengan kumis tipis yang melengkung simetris dengan senyum manis. Mata saya lantas membaca papan nama di atas meja yang rapi: John Biggins.

“Selamat datang di Flatbush National Ban of Brooklyn. Anda pasti mau menanyakan gagasan saya soal Charge It, bukan?”

Dengan plonga-plongo saya lekas saja menjawab, “Ya, apa itu Charge It?”

“Hehehe. Charge It adalah sebuah sistem yang dibuat untuk mempermudah nasabah kami dalam melakukan transaksi di berbagai toko yang juga merupakan nasabah dari bank kami. Saya yakin ide ini akan membawa banyak perubahan pada sistem transaksi dunia.”

Obrolan kami semakin akrab. Dari situ saya tahu kalau ternyata John Biggins ini adalah bankir yang menggagas sistem kredit. John lalu memperkirakan kalau pemerintah bakal campur tangan dengan sistem kredit ini. Benar saja, saya masih ingat di pelajaran IPS kalau tahun 1970-an pemerintahan Amerika menetapkan regulasi kebijakan penggunaan kartu kredit dan setelahnya terjadi ekspansi besar-besaran ke berbagai penjuru dunia.

Merasa informasi yang saya dapatkan sudah cukup, saya lekas menyudahi perjalanan waktu saya. Kepada John saya minta izin ke toilet. Tapi tentu saja, di balik pintu toilet saya mengaktifkan kembali mesin waktu untuk kembali ke tahun 2018. Jeng jeng. 

Harpitnas Tiba. Ayo Belanja di Akulaku!

Source: techgeek365.com
Setelah melihat bagaimana sistem kredit mulai masuk ke dalam budaya belanja manusia, lalu berkembang menjadi sistem yang lebih kuat, kini di tahun 2018 urusan perkreditan menjadi lebih efisien lagi. Bagaimana tidak? Berbekal smartphone dan koneksi internet saja kita bisa punya saldo kredit yang cukup untuk berbelanja banyak hal.

Teknologi digital memang mengubah cara orang berbelanja. Bahkan makin ke sini sudah semakin banyak pilihannya. Bikin bingung? Wajar saja. Namun, baru-baru ini jagad sosial media saya sedang asyik membicarakan sebuah wadah yang seru banget buat belanja. Wah, apa tuh?

Namanya Akulaku, di mana kita bisa berbelanja dengan mudah melalui smartphone dan tidak perlu khawatir kalau belum ada biaya yang cukup untuk membeli barang yang diinginkan. Lho kok bisa?

Di era yang serba cepat ini saya sering mengalami pengalaman buruk saat berbelanja online. Saya menyesal kalau sudah menandai barang yang mau dimiliki tapi belum mampu beli karena gaji belum turun dan akhirnya barang tersebut sudah dibeli orang lain. Nah, kalau pakai Akulaku, saya bisa beli dulu barangnya secara kredit tanpa kartu kredit!

Cara pakai Akulaku ini gampang banget. Tinggal download aplikasinya di Playstore untuk Android dan AppStore untuk iOS, lalu instal di gawai masing-masing. Setelah itu kita perlu isi data-data profil yang dibutuhkan. Buat bocoran, siapkan kartu identitas (KTP) karena nantinya KTP perlu difoto sebagai bukti kepemilikan. Setelah semua tahap selesai, kita bisa langsung mendapatkan loan kredit sebesar tiga juta rupiah! Wow! Kalau begini caranya, barang-barang kebutuhan bisa segera saya miliki. Ini nih serunya gaya belanja zaman now


Akulaku dibicarakan di ranah sosial media saya karena sebentar lagi kita bakal menyambut Harpitnas (Hari Pesta Kredit Nasional). Akulaku terlibat di dalamnya pada 20 Agustus-11 September nanti. Selama periode itu, kita akan disuguhi berbagai pilihan produk yang bisa diperoleh hanya dengan modal 1000 perak saja tiap harinya. Mantul! Mantap betul!

Selebihnya, mulai 20 Agustus 2018, Akulaku akan menjadi aplikasi virtual kredit pertama yang gagah berani memberi kompensasi jika pengajuan kredit limit kita ditolak. Karena ditolak itu sakit, perih, dan membekas, maka dengan pengertiannya kompensasi yang diberikan kepada kita adalah uang tunai senilai 888.000 rupiah! MEMANTUL JAUH! Memang mantap betul jadi fyuuh. Lega maksudnya.

Sudah tidak sabar lagi menunggu Harpitnas untuk memenuhi barang-barang yang saya butuhkan. Perjalanan panjang mengarungi waktu benar-benar berhasil memberi pencerahan bagi saya. Untung di kamar punya mesin waktu. Tinggal menyalakan perangkat komputer, lalu terhubung dengan internet, dan taraaa. Segudang informasi lintas ruang dan waktu bisa segera saya dapatkan.

Event Harpitnas tahun ini bakal dimeriahkan oleh banyak pihak. Namun saya sudah mantap memilih Akulaku. Kalau kamu?


Header shoot by @pertiwiyuliana

12 Juli 2018


Akhir pekan yang berseri di hari ke 7 pada bulan Juli 2018 terasa berbeda dari akhir pekan saya biasanya. Pasalnya, pada hari tersebut saya mendapat kesempatan untuk berkunjung ke markas MNC Vision yang berada di wilayah Kedoya, Jakarta Barat. Meski jarak dari kosan (Pulogadung, Jakarta Timur) ke Kedoya cukup jauh, namun saya berhasil menuntaskannya tanpa terlambat. Sudah pengalaman dengan jalan ke sana soalnya, karena dulu pernah 14 hari bolak-balik Pulogadung-Kedoya dengan gagahnya mengantar kekasih yang lagi magang. Weerr..

Mengapa ke MNC?

Ya mengapa tidak? MNC Vision bukan yang lain, dong.

Bagi saya, ini adalah pegalaman pertama main ke MNC. Dan sebagai pengalaman pertama, saya sangat mengingat bagaimana snack yang disuguhkan begitu lezat. Wkwkw. Ya mau bagaimana lagi, sebagai anak kos tentu saya harus merayakan setiap suap sarapan dong yang mana biasanya sarapan gorengan celup sambel doang. Nah, sebenarnya inilah alasan kok saya pilih tepat datang tepat waktu. Ya biar sempet sarapan sebelum acara mulai. Wkwkwk.
Baca Aja: Cerdasnya Manajemen Uang Ala Anak Kos
Usai menikmati coffee break, saya dan teman-teman bloger langsung diajak masuk ke ruangan yang sudah dipersiapkan untuk acara Blogger Gathering with MNC Vision itu. Suasana begitu akrab, seolah para bloger yang datang dan orang-orang MNC bersenyawa dalam satu spektrum. Apasih! Wkwkw. Sebenarnya kayak acara bloger pada umumnya,sih. Suasana pertemuan cukup hening di dunia nyata namun ramai di sosial media, apalagi di grup WA. Wooa.. Chaos. Wkwkw. True story banget nggak, sih?

No Phone, No Done.
Setelah ramah tamah dan sambutan demi sambutan, kami diajak untuk berkeliling dalam pusaran kantor MNC. Acara tur adalah salah satu yang paling saya tunggu, selain biar banyak tahu jeroannya MNC, saya juga bisa terbebas dari potensi membeku di ruang pertemuan yang dingin banget. Sebenarnya hampir semua ruangan hawanya dingin, sih. Ya mau bagaimana lagi, hawa dingin itu dimaksudkan untuk perangkat elektronik soalnya, bukan buat manusia. Lagipula manusia masih bisa kerokan kalau masuk angin gara-gara kedinginan. Lha kalau komputer?

Meski dingin menjalar di seluruh penjuru ruang, tapi setidaknya dengan berjalan kaki saya bisa menangkal peluang masuk angin. Ruangan pertama yang saya kunjungi bernama WIC, kepanjangannya Waktu Indonesia Cimur. Bukan!! Maksud saya Work in Center. WIC terletak di lantai dasar dan menjadi garda depan yang siap melayani customer. Jujur saja saya suka dengan format kantor kecil ini. Selain nyaman dan (tentu saja) dingin, properti berupa poster film dan banner berwujud superhero Marvel memberi sentuhan artistik yang anak film banget. Pengen bawa satu kok malah digetok sama Thor. Ampoon..!
Aciatciatciaaat....
Setelah menjejali WIC, saya kemudian digiring ke perkebunan parabola. Di atas hamparan rumput hijau, berjejer antena-antena besar yang kalau dipakai buat masak nasi goreng bisa mengenyangkan seluruh warga RT02/RW06. Lewat pencerahan dari tour ini saya jadi tahu kalau frekuensi MNC Vision itu tahan cuaca buruk. Jadi kalau hujan badai menerjang, kanal-kanal yang ada di MNC Vision akan senantiasa terjaga. Mantap tidak, tuh?

Nah, di sini ada beberapa pos yang digunakan untuk memantau dan mengelola hilir mudiknya frekuensi penyiaran. Sayangnya area ini hanya boleh dimasuki oleh petugas saja. Jadi saya harus puas mondar-mandir di area perkebunan sembari mencari objek foto yang menarik, seperti ini:

Ini kertas press release digulung buat bikin efek teropong low budget. #TeknologiAnakKos
Usai menggembala antena parabola, saya melenggang masuk lagi ke dalam gedung MNC. Rombongan bloger diajak untuk mengenal dapur produksi, seperti Studio Mini yang dipakai untuk siaran berita maupun Grand Studio yang kapasitasnya lebih besar. Kami juga dituntun untuk melihat bagian customer service di mana pada akhir pekan ternyata masih aktif dan cukup ramai para pekerja melayani keluhan-keluhan dari pelanggan MNC Vision. Wah, kalau ada jaminan pelayanan penuh 24 jam begini, sih, hati jadi lebih tenang. Bisa konsultasi sewaktu-waktu dong, ya.

Tur singkat pun selesai, acara dilanjutkan dengan mencoba kedahsyatan Dolby Audio. Sudah tahu Dolby, kan? Pertemuanku dengan Dolby berawal dari kebiasaan nonton film di bioskop. Sebelum film diputar, biasanya muncul iklannya Dolby, tuh. Nah, kupikir ya Dolby itu cuma support untuk pemutaran film di bioskop saja. Ternyata bukan begitu.

Teknologi Dolby bisa kita nikmati di ruang keluarga juga. Ya tentu saja dengan membeli sound system yang compatible dengan fitur Dolby. Menariknya, Dolby sendiri sudah bisa kita rasakan di MNC Vision pada kanal HBO, FOX, dan RCTI sebagai stasiun televisi Indonesia pertama yang menggunakan Dolby. Nah, pada waktu itu saya merasakan betul bagaimana perbedaan suara biasa dengan Dolby. Apalagi saat dipertontonkan salah satu scene Mad Max Fury Road, gelegar suaranya benar-benar bikin puas.

Rasa ingin memiliki pun muncul seketika. Ya. Memiliki perangkat Dolby satu set lengkap! Wkwkw. Jadi pada waktu itu, ada beberapa speaker yang di letakkan di berbagai sudut, ternyata tiap bagiannya punya peran masing-masing. Ada yang suaranya ngebass banget, ada yang futuristik, ada yang lebih tajam, dan sebagainya. Hebatnya, semua peran itu ketika disatukan berhasil membuat kompleksitas suara yang sangat mengangumkan. Eh, tapi memang Dolby itu jago main peran kok. Adipati Dolby. Wkwkwkwk.

Sepuas dengan Dolby experience, acara selanjutnya diisi dengan workshop sound editing oleh Khikmawan Santosa atau yang lebih akrab disapa Mas Kiki. Karya Mas Kiki yang menurut saya paling kentara adalah saat dia mengolah sound effect di film Pengabdi Setan. Terbukti mulai dari lagu , suara lonceng, hingga gertakan jump scare terus menghantui saya selama seminggu sejak nonton film itu.
Baca Aja: Review Film Pengabdi Setan (2017)
Tak ada kata lain selain ‘puas’ yang bisa saya ucapkan untuk menggambarkan acara Blogger Gathering with MNC Vision waktu itu. Apalagi dapat cinderamata berupa earphone Black Phanter yang keren banget. Karena selain bisa buat dengerin suara elektronik, earphone ini juga bisa dililitin ke tangan jadi kayak gelangnya T’Challa. Ori pula. Gokil!

Suasana di mini studio
Segitu saja, sih, #CeritaDiMNCVision saya kali ini. Harapannya sih bisa segera berlangganan MNC Vision di rumah, lalu pasang satu set lengkap perangkat Dolby. Doakan, yaa. Disumbangin juga boleh. Wkwkwk. Terima kasih sudah baca sampai akhir. Cheers!

27 Juni 2018



Saya adalah orang yang merasa lebih nyaman berbelanja di supermarket karena sistem swalayan yang membuat saya bebas membanding-bandingkan satu produk dengan produk lain, dan bebas pula dalam mengambil keputusan saat membeli sesuatu. Harus saya akui, saya memang cenderung lama saat menentukan pilihan karena menimang banyak alasan untuk membeli atau tidak membeli. Singkatnya sih saya tidak mau rugi.

Kadang saya menemukan barang yang bagus dan bermanfaat bagi orang lain tapi ternyata tidak cocok bagi saya. Misalnya sabun mandi. Meski banyak yang bilang sabun mandi merk A itu bagus, namun ketika saya menggunakannya dengan ekspektasi tinggi, ternyata sabun mandi merk A itu justru membuat kulit saya lengket. Dalam kenyataan seperti itu tentu saja saya merasa sangat kecewa dan sebal.

Belajar dari situlah saya mulai membiasakan diri untuk menemukan sendiri apa yang cocok bagi saya. Karena setiap orang pasti punya selera yang berbeda-beda, bukan? Teman saya yang kerjaannya berurusan dengan dunia digital pun pada saat membeli tiket nonton lebih memilih antri di loket daripada beli secara online. Ya kalau saya sih lebih suka beli tiket nonton secara online, tidak perlu antri dan bisa langsung pilih kursi sendiri.

Banyak transaksi yang bisa saya lakukan secara online. Saya sangat menyukai hal itu karena kuasa penuh untuk memilih, membandingkan, melihat-lihat dulu, dan mengambil keputusan ada di tangan saya. Dengan cara seperti itu saya sering mendapatkan banyak hal yang cocok bagi saya.

Nah, sekarang bagaimana kalau saya mau cari asuransi yang cocok bagi saya? Apakah saya harus googling, membaca ratusan artikel, atau menanyakan itu ke banyak orang? Ribet! Apakah saya asal pilih satu saja yang paling populer? Ah, tidak ada jaminan kalau yang populer itu cocok juga bagi saya.

Jika kegundahan semacam itu juga melanda dirimu, sebaiknya ambil nafas panjang dan tenang dulu. Sebab kita punya ​ supermarket asuransi online yang menyediakan produk asuransi dari berbagai macam provider. Kita sudah tidak perlu capek-capek googling atau tanya ke orang-orang karena kita bisa mendapatkan banyak informasi asuransi dalam genggaman.



Futuready.com adalah supermarket asuransi online yang memiliki lisensi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Melalui situs maupun aplikasi, kita dapat mengakses Futuready untuk mencari,  membandingkan, dan membeli asuransi yang paling lengkap.

Coba saat ini kita butuh asuransi apa? Asuransi kesehatan, asuransi perjalanan, asuransi kecelakaan, atau asuransi mobil? Futuready memungkinkan kita untuk menemukan kebutuhan asuransi yang paling cocok secara personal. Sudah saatnya pihak asuransi yang benar-benar beradaptasi dengan kita, bukan sebaliknya.

Futuready sendiri menjadi broker asuransi online pertama yang memegang lisensi resmi dari OJK dengan nomor KEP-518/NB.1/2015 pada 18 Juni 2015. Futuready juga merupakan bagian dari AEGON, salah satu perusahaan asuransi terbaik di dunia yang berbasis di Den Haag.

​Perlu diingat, Futuready tidak membuat produk asuransi sendiri.​ Tapi menyediakan layanan informasi asuransi dari berbagai provider dengan ringkas, jujur, dan tidak memihak. Misalnya untuk asuransi perjalanan yang dijual di Futuready ada AXA, AXA Mandiri, Simas Net, Adira, Lippo. MNC, Tokio Marine, dan Malacca. Atau asuransi mobil seperti AXA, ACA, Simas Net, Adira, Avrist, dan Malacca.

Duh, kalau bicara soal asuransi mobil dari Futuready, saya jadi ingat iklannya yang kocak.

Pernah lihat tidak video iklan yang diperankan Cak Lontong? Coba deh lihat saja videonya di bawah ini.



Lihat video itu saya jadi mau segera pakai Futuready buat asuransi mobil. Tapi begitu selesai install, saya baru sadar kalau belum punya mobil. Lah! Hehehe. Setelah saya cari tahu lebih dalam, setidaknya ada tiga keuntungan membeli asuransi mobil secara online melalui Futuready.

1. Pilih Sendiri Perlindungan Sesuai Kebutuhan. Di sini kita bisa memilih sendiri perlindungan yang diinginkan mendapatkan harga terbaik sesuai kebutuhan. Misal kita cuma butuh perlindungan kecelakaan saja, otomatis premi menjadi lebih murah.

​ 2. Asuransi Mobil Tanpa ​Survey. Kapan lagi sistem penerbitan polis auto accept benar-benar tanpa survey, ya kan?

3. Polis Terbit ​Online. Penerbitan polis secara online, dikirim langsung ke surel kita jadi bisa diakses kapan dan di mana saja. Nah, jika mau punya polis dalam bentuk cetak, Futuready juga bisa mengirimkannya, kok.

Itu dia keunggulan yang bisa kita dapatkan jika ingin asuransi mobil​ melalui layanan Futuready.

Saya suka sekali dengan konsep supermarket asuransi ini. Seperti yang sudah disebutka di awal, sebagai orang yang butuh banyak pertimbangan, Futuready bisa menjadi cara saya menemukan jasa asuransi yang paling cocok. Apakah ini juga caramu?


Source header: Pexels

16 Juni 2018


Sebut saja saya adalah pemula dalam urusan merantau. Sebab waktu terlama untuk jauh dengan keluarga baru saya rasakan di usia ke-25 tahun ini. Sebelumnya, mulai dari lahir, sekolah, hingga kuliah saya jalani di tanah kelahiran, Kartasura. Bagi para perantau senior silakan membercandai saya dengan leluasa karena memang saya baru mengalami masa penjelajahan ini dari November 2017 hingga sekarang yang kira-kira sekitar tujuh bulan.

Pada momen ini juga untuk pertama kalinya saya melewati masa lebaran tidak bersama keluarga. Hari Raya Idulfitri 1439H yang jatuh bertepatan pada tanggal 15 Juni 2018 menjadi saksi betapa hati ini ternyata lunak, rapuh, dan rentan terhadap rindu. Akhirnya, komunikasi via telepon menjadi cara terbaik untuk melegakan kerinduan tersebut. Ah, bahkan pada masa sekarang tak hanya saling berkirim suara, bukan? Sebab ada teknologi video call yang bisa semakin mendekatkan jarak raga yang jauh.

Setelah sholat Ied di masjid dekat kos, saya hendak melakukan video call dengan ibu saya yang berada di Kartasura. Tak disangka, sudah tujuh bulan saya sama sekali tidak pernah melihatnya. Ibu saya memang pasif dengan sosial media. Teknologi paling canggih yang ia pakai pun adalah membuat status WhatsApp yang isinya kalimat puitis saja, tidak ada swafoto. Dan saya memang cukup kurang ajar dengan tidak melakukan panggilan video sebelum lebaran ini tiba.

Sayangnya, niatan untuk bertatap muka itu harus kandas. Sebab ibu saya mengklaim bahwa kuota internetnya tidak akan cukup untuk melakukan video call. Pada momen itu saya tahu betul kalau ibu saya pasti juga sedang repot menerima tamu di rumah. Lagipula ibu saya tidak tahu cara beli pulsa secara online. Konter handphone langganan ibu pun sudah pasti libur.

Satu-satunya yang menganggur pada saat itu ya tentu saja adalah saya sendiri. Sebagai anak yang mencoba untuk berbakti dan berbudi pekerti luhur, saya dengan senang hati membelikan pulsa untuk ibu saya. Lagipula saya punya saldo TCASH yang bisa dipakai untuk mengisikan pulsa ke pengguna lain. Jadi dermawan #pakeTCASH ternyata mudah!

Beruntung saya mengikuti akun sosial media TCASH, jadi informasi seputar promo maupun cara pakai TCASH bisa saya dapatkan dengan mudah. Nah, pada saat itu saya tahu kalau TCASH sedang ada program berbagi THR. Karena faktor kebutuhan dan kepraktisannya, tentu saya memilih menggunakan TCASH. Lagipula jika saya berpartisipasi dalam program ini, ada kesempatan bagi saya untuk memenangkan undian berhadiah berupa 1 buah MacBook Pro atau 4 buah iPhone X. Mantul! Mantap betul!

Momen lebaran menjadi menyenangkan ketika komunikasi jarak jauh berhasil saya lakukan. Pada kesempatan untuk berkomunikasi itu, ibu banyak sekali memberi petuah. Mulai soal ibadah, pekerjaan, hingga pribadi yang harus terus belajar agar saya #JadiBaik kedepannya.

Suara ibu terdengar agak parau saat itu. Meski ia mencoba untuk tertawa, bercanda, dan tampil ceria, tapi aku kenal betul bagaimana suara parau ibu sebenarnya adalah suara yang getir oleh rindu. Dan aku paham bagaimana ia mencoba untuk tidak menumpahkan tangis di depan anaknya. Karena ia yakin kalau sebuah perasaan bisa menular. Dan saat itu, ibu sedang menulari saya dengan sebuah perasaan tegar.

Ramadhan tahun ini mungkin jadi bulan yang lebih haru dari sebelumnya. Tidak ada makan bersama, tidak ada senda gurau, bahkan tidak ada lagi cerita-cerita khas ibu yang sebenarnya sudah diulang-ulang puluhan kali. Ramadhan tahun ini mengajarkan pada saya agar senantiasa #JadiBaik di Bulan Baik. Dan pada momentum lebaran, saya jadi menyadari jika rindu adalah pendekatan terbaik untuk meminta maaf dan memaafkan.

Pakai TCASH bikin happy!

Melalui cerita yang saya tuliskan ini, saya jadi ingin berbagi dengan pembaca yang menggunakan operator Telkomsel untuk memanfaatkan TCASH karena bisa mempermudah berbagai keperluan. Kita bisa beli pulsa, belanja online, membayar token listrik, maupun bayar Merchant TCASH yang banyak diskonnya. Saya sendiri sudah mengalami dan sangat girang karena sering mendapat bonus saldo yang bisa dipakai untuk memberi suntikan nafas ke kuota internet saya.

Fitur TCASH yang paling saya suka yaitu fitur kirim uang. Jadi jika kita tidak memiliki rekening bank, kita bisa menggunakan TCASH untuk mengirim uang. Caranya pun sangat mudah. Cukup dengan buka aplikasi TCASH, lalu pilih menu Kirim Uang. Setelah itu kita bisa memilih tujuan transfer, bisa nomor HP (TCASH) atau rekening bank. Berikutnya tinggal memasukan nomor HP atau nomor rekening dan jumlah saldo yang mau dikirimkan. Nah, langkah terakhirnya cukup memasukkan PIN dan saldo sudah langsung terkirim.

Berkat TCASH, momen lebaran saya di perantauan tidak terasa masygul dan senyap. Siapa sangka kalau TCASH bisa menyelamatkan saya dari komunikasi tatap muka yang hampir batal. Semoga tulisan curhat ini selain jadi pengingat bagi diri sendiri kalau saya pernah berada di titik ini, juga jadi manfaat bagi pembaca. Terima kasih telah menyimak blog pribadi saya. Semoga betah, ya. Sampai jumpa!


Header Source: pexels.com

Follow Us @soratemplates