Pages

Garin dan Wregas, Ikon Inspiratif dalam Film Indonesia


Artikel ini bekerjasama dengan UKP-PIP

Garin Nugroho adalah sosok yang sangat menarik perhatian saya ketika membicarakan film Indonesia. Bagaimana tidak? Beliau merupakan sutradara yang nyaris setiap film buatannya mendapat penghormatan dalam ajang festival film Internasional, lho.

Sebut saja Cinta dalam Sepotong Roti (1990) yang memenangkan Festival Film Asia Pasifik untuk kategori sutradara pendatang baru. Atau Bulan Tertusuk Ilalang (1994) yang eksis di Perancis dan Jerman, Daun di Atas Bantal (1997) yang jadi unggulan di Tokyo, Puisi Tak Terkuburkan (1999) di Festival Film Internasional Loacarno, dan masih banyak lagi film-film keren yang pernah beliau bikin.

Saya sendiri merasa beruntung pernah bertemu beliau, berdiskusi, dan menyaksikan salah satu karya lawasnya yang berjudul Bulan Tertusuk Ilalang (1994). Film artistik yang pernah memenangkan ajang festival film di Perancis itu sebelumnya sudah pernah saya buat ulasannya di sini.

Bisa dibilang beliau adalah inspirasi bagi saya. Film buatannya benar-benar artistik dan menawan. Bikin gregetan. Seolah dopamin saya harus berteriak, “Aku juga harus bisa bikin kayak gitu!”

Belum juga selesai keriuhan alam batin saya yang begitu bersemangat mencatat jejak-jejak Garin, tiba-tiba saja lingkaran sosial saya di dunia maya membicarakan sosok pemuda yang berhasil membawa film Indonesia sebagai film pendek terbaik di Cannes, Perancis.

Raphael Wregas Bhanuteja atau yang biasa dipanggil Wregas telah mengharumkan nama bangsa melalui film pendeknya yang berjudul Prenjak (2016). Pria gondrong yang seumuran saya ini sebelumnya memang telah terlibat dalam berbagai film besar seperti Sokola Rimba (2013), Ada Apa dengan Cinta 2 (2016), dan Athirah (2016).

Jika ditelusuri benang merah antara kedua filmmaker berbakat di atas, ternyata Wregas merupakan terusan dari estafet bangku kesutradaraan yang diwariskan oleh Garin melalui Riri Reza, lho.

Jadi ceritanya, Mohammad Rivai Reza atau yang sering dipanggil Riri Reza itu muncul sebagai sutradara lewat LSM bernama SET yang didirikan oleh Garin pada tahun 1987. Setelahnya, Riri Reza memberi bangku astradara untuk Wregas yang masih berstatus magang pada film Sokola Rimba tahun 2013. Jadi intinya, kalau kamu mau jadi the next sutradara kondang, caper-caperlah yang rajin ke Wregas. Siapa tahu bisa diangkut jadi sutradara kondang juga. Hehehehe.

Wah, gimana ya kalau dua sutradara keren dari generasi berbeda ini bertemu? Pasti seru!

Untung punya untung, ternyata pada hari Senin tanggal 21 Agustus 2017 mereka berdua berkesempatan untuk terlibat dalam acara Festival Prestasi Indonesia yang bertema “Pancasila Sumber Inspirasi Maju” oleh UKP-PIP yang diselenggarakan di JCC Jakarta, lho. Dan jika mengintip dari rundown acara, mereka berdua bakal berdialog selama 45 menit mengenai “Kemanusiaan dan Keadilan dalam Film.”

Pembahasan soal film lewat kacamata Pancasila sudah barang tentu sangat menarik disimak. Apalagi tokoh yang dihadirkan adalah orang-orang yang tepat di bidangnya, ya, kan?

Duh, acara yang megusung “Pancasila Sumber Inspirasi Maju” ini memang kerennya kebangetan. Banyak orang-orang insipiratif dari berbagai latar belakang yang dilibatkan. Menurut laporan intelejen yang saya percaya, tercatat ada 72 orang yang diundang untuk mendapat penghormatan sebagai ikon inspiratif! Waw!

Ketujuhduapuluhdua inspirator ini secara garis besar terbagi dalam empat kategori, yaitu saintis dan inovator, olahraga, seni budaya, dan pegiat sosial. Mereka bakal menjalani rangkaian acara mulai dari tanggal 21 hingga 22 Agustus 2017 di Jakarta Convention Center, Jakarta.

Apakah acara ini juga akan dihadiri oleh menteri?

Walah. Gak tanggung-tanggung, bro. Hla wong presiden Jokowi saja hadir, kok. Selain membuka acara Festival Prestasi Indonesia: “Pancasila Sumber Inspirasi Maju”, Bapak Jokowi juga akan mengunjungi anjungan dan menyaksikan langsung bagaimana potensi putra-putri negeri ini berkarya, lho. Mantap apa tidak acaranya UKP-PIP, tuh?

UKP-PIP emang apaan?

Itu, lho, singkatan dari Unit Kerja Presiden – Pembinaan Ideologi Pancasila. Masa gitu saja tidak tahu? Wong saya saja baru tahu. Huh! Dasar.

Meski acara itu tampak awesome bingit, namun tetap saja ada yang kurang. Kurang apa? Ya tentu saja kurang mengundang saya. Lho, lha iya, tho. Saya ini kurang inspiratif dan pancasilais apa lagi?

Untuk membuka tutup botol Vit 600 mili saja saya pasti menyebut nama Tuhan Yang Maha Esa. Belum lagi saat saya mencintai seseorang dengan rasa kemanusiaan yang adil dan beradab. Eh, jangan lupa juga dengan kebiasaan saya memberi hak jalan bagi pengendara motor yang buru-buru sebagai perwujudan sikap persatuan Indonesia. Menjaga kerukunan, tuh.

Duh, kok jadi congkak begini, sih. Padahal saya aslinya baik hati, tidak sombong, gemar menabung, dan bijaksana dalam permusyawaratan perwakilan, lho. Hadeeh. Tapi jika memang hal-hal itu tidak bisa bikin lolos kualifikasi sebagai sosok inspiratif nan pancasilais ya saya bisa apa. Toh pada akhirnya saya tetap harus melengkapi diri saya dengan berkumpul bersama orang-orang saleh dalam ikatan sosial yang adil bagi seluruh rakyat Indonesia, kan?


Source @terapiotak

Intinya, apapun yang kita jalani dalam kegiatan sehari-hari, #PancasilaInspirasiMaju itu tetap harus senantiasa kita jaga. Baik dalam pikiran maupun perbuatan masing-masing individu demi tercapainya kerukunan bersama. Namanya juga dasar negara. Salah satu cita-cita pentingnya sudah pasti adalah kerukunan antar sesama. Nah, kalau ideologi yang membuat kerukunan tecerai-berai itu namanya sudah bukan dasar negara lagi. Tapi dasar ndeso!

Header source: tabloidkabarfilm.com

Ilham Bachtiar

Blogger kalang kabut yang doyan menulis tentang film. Meski tutur lisannya kurang terjaga, tapi orangnya total berkharisma. Terima usikan di ilhambachtiar25@gmail.com

5 komentar:

  1. Semua ikonnya beneran mencerminkan keberagaman indonesia dan tentu menjunjung jiwa Pancasilais. keren banget ini 72 orang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah kerenan kita sih sebenarnya, mas.

      Hapus
  2. Kamulah coba pepet Wregas. Gondrong bersatu tak bisa dikalahkan! Wkwkwk.

    Biar bisa nyusul idola-idola. Tahun depan kamu jadi salah satu ikon prestasi. Wetsaaaahhh! Ngeri!

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin!!!
      Aku doain Ilham akan berada di jajaran ikon prestasi, pemuda PancasilaInspirasi Maju. Kan Ilham baik hati, tidak sombong, gemar menabung, selalu bermusyawarah, dan tak lupa berdoa. Ilham sudah mengamalkan Pancasila dalam dirinya.

      Hapus
    2. Gondrong bersatu ini maksudnya saling pintal antar rambut apa gimana? Wkwkw Aminn.. Aminn. Meski ngeri juga sih hahaha.

      Mbak Dian kenceng amt ngamininnya, nih. Sarapan batu battery ABC kali ya. Hahaha, Makasih, Mbak.

      Hapus

Berkomentarlah sejujur-jujurnya. Sebab menjadi diri sendiri tanpa rasa sungkan adalah sebaik-baik sandiwara.