29 Maret 2015



Hai guys, sudah lama rasanya tidak menyapa dan berbagi cerita di blog. Belakangan ini saya sedang menjalani Uji Kompetensi Dasar 1 yang tentu saja banyak ujian dan tugas-tugas yang menerkam dengan kejinya. Meski demikian, dengan gagahnya saya mampu menyelesaikan semuanya #berlagaksombong #padahalnilaipaspasan.

Skip paragraf diatas, kali ini saya ingin berbagi cerita khususnya pada pengalaman saya yang tak kunjung lupa. Jadi ceritanya di suatu pagi yang cerah saya bertemu dengan penulis ternama, Dee Lestari. Bukan hanya bertemu, saya pun mengikuti pelatihan menulis yang ia mentori. Bagaimana cerita selengkapnya? Yuk, simak ribuan kata dan jutaan rindu di bawah ini:

#jutaanrindu #iyajutaanrindu #ldr? #bodolah

Sembari menikmati senja dengan dentuman lagu-lagu Blake Shelton, saya kehabisan ide untuk melakukan sesuatu yang bermakna. Alhasil saya khusyuk scrolling timeline twitter. Ditengah ramainya lalu lalang tweet yang merajalela di jalanan twitter, langkah jari saya terhenti sejenak. Mata saya terpaku menatap sebuah pictweet dari akun Bentang Pustaka. Inilah yang saya lihat..


Tubuh seorang pria ditemukan terbujur kaku di atas kasur. Dengan mulut menganga, mata melotot nyaris lepas dan kulit mulai memucat menandakan pria tersebut tidak dalam keadaan baik-baik saja. Siapa dia? Itu saya!

Saat itu saya girang sekali, lebih girang dari tante girang yang kegirangan sekalipun. Mengetahui Dee Lestari bakal ‘dolan’ ke Solo tentu saja adrenalin saya meningkat tajam. Ini adalah sebuah kesempatan emas yang haram untuk dilewatkan. Fatwa ini membuat saya mencurahkan segala kemampuan untuk menang kompetisi agar bisa mengikuti kelas menulis yang dimentori penulis novel Supernova tersebut.

But, wait? Solo? Kontes menulis? Don’t make me laugh. Perpustakaan yang bagus saja kota ini tidak punya. Disitu kadang saya merasa sedih, pedih, perih, dan letih. Alhasil saya tidak jadi mencurahkan segala kemampuan dan beralih untuk memenangkan kontes dengan elegan dan tenang. Coba lihat review saya di sini --Review Gelombang Karya Dee Lestari -- biasa saja kan?

Setelah tahu info itu, saya merapikan rencana weekend di pertengahan Maret yang terlampau padat. Pokoknya, khusus hari minggu itu harus benar-benar selo!

Tulisan saya yang mereview novel Supernova: Gelombang pun meluncur dengan lancar di blog ini. Pun demikian dengan email yang saya kirim ke Bentang Pustaka. Jujur saja, karena review saya biasa-biasa saja (salah satu faktornya karena jumlah kata dibatasi sih) alhasil saya mengeluarkan kemampuan menghasut saya lewat email yang dikirimkan ke pihak Bentang selaku panitia. Karena nulis tertalu panjang di review-nya itu tidak boleh, ya saya nulis panjangnya di email mereka. Hahahaha.

Seusai mengirim email dan mendapat balasan dari Bentang jika email sudah diterima dengan sah, kini tinggal tawakal saja.

Entah mengapa menunggu hari pengumuman rasanya lama sekali. Seolah Tuhan scrolling harinya lebih pelan dari biasanya. Meski begitu, Tuhan tidak pernah salah scroll. Hari akan terus maju ke hari berikutnya, tidak akan berhenti bahkan kembali. Jika yang bisa saya lakukan adalah menunggu, maka saya akan menunggu. Entah mengapa paragraf ini saya tulis bergulir begitu saja tanpa sempat menarik napas. Mulai melantur jadinya. Back to topic!

Baiklah. Hari pengumuman tiba! Yeee... Dengan riang gembira saya langsung cek email, cek twitter dan cek website Bentang. Kalian tahu apa yang terjadi saudara-saudara? Tidak ada pengumuman! Tidak ada tanda-tanda ada acara Dee’s Coaching Clinic! Hari itu rasanya realitas dan ilusi tampak kabur.

Dengan cemas, saya merekonstruksi ingatan untuk memastikan jika acara Dee’s Coaching Clinic bukanlah gambaran di alam mimpi semata. Dokumen-dokumen dalam otak tergali hingga tiap detailnya mampu saya ingat kembali. Dengan mantap, saya mengimani jika acara itu benar-benar ada dalam dunia nyata. Mata saya terpejam, dagu mendongak keatas, lukisan senyum tercipta di bibir, dalam hati menggumam... “Kalah...”

Sepertinya pengumuman acara itu tidak dipublikasi besar-besaran di twitter atau di website. Rasanya seperti kontes balap liar profesional De Leon yang hanya bisa diikuti oleh orang-orang pilihan. Dan saya kalah? Di Solo? Mungkin ini yang dirasakan Spiderman saat tidak diajak gabung Avengers. Atau seperti Syaiful Jamil yang tidak diajak gabung One Direction.

Tapi ya sudahlah, hikmahnya lain kali jangan meremehkan lawan dan jangan suka belagu pas ngirim email pendaftaran ke panitia. Hari-hari berikutnya saya jalani kuliah dengan biasa. Hingga saya dan teman-teman alumni Osis SMA merencakan acara #CampOnTheBeach di hari Jumat-Sabtu, satu dan dua hari sebelum acara Dee’s Coaching Clinic diadakan.

Senin hingga rabu menjadi hari yang sangat sibuk bagi saya. Selain kuliah dan tugas-tugasnya, saya juga harus segera menyiapkan acara camping. Saat itu bayang-bayang Dee’s Coaching Clinic sudah benar-benar punah dalam benak saya. Kecewa, tentu saja!

Rabu malam, saya membuka laptop dengan rasa lunglai. Setelah beberapa hari belakangan itu cukup malas online (tentu saja karena saya kalah kontes), kini saya menyambung koneksi internet dan mulai berselancar di dunia penuh tipu daya itu.

Log in Twitter.

Cek mention.


Tubuh seorang pria ditemukan terbujur kaku di atas kasur. Dengan mulut menganga, mata melotot nyaris lepas dan kulit mulai memucat menandakan pria tersebut tidak dalam keadaan baik-baik saja. Siapa dia? Itu saya! #Dejavu

Ya begitulah.. Ternyata pengumumannya telat! Saya sangat gembira kala itu. Sayangnya rasa gembira itu berbuah cemas. Karena artinya saya bakal menjalani hari yang terlampau padat. Di mana jumat dan sabtu saya ada acara camping. Sempet tidur nyenyak? Mustahil. Sabtu malam paling baru sampai rumah dan minggu paginya musti sudah duduk anteng di kursi Sunan Hotel Solo. Belum lagi ada tugas kelompok yang belum dikerjain.

Mata saya terpejam, dagu mendongak keatas, lukisan senyum tercipta di bibir, dalam hati menggumam... “Jancik...”


Setelah pengumuman yang menurut saya terlalu mendadak itu, saya benar-benar merapikan rencana hingga tiap detailnya terjamah agar semua berjalan lancar. Yosh, saya siap untuk kesenangan ini.

Melompati hari jumat dan sabtu yang melelahkan, sampailah saya di hari minggu. Pukul 7 pagi saya sudah mandi lengkap dengan parfum dan pomade. Namun, keadaan berubah ketika ibu saya mengucapkan kata ini --> “Le, motore ngko jam 9 meh dinggo njagong lho”.

Jeggeerrr.. Saat itu saya mendadak panik. Sudah pukul tujuh lebih dan acara dimulai tidak sampai satu jam setelah itu. Mau tidak mau saya harus naik bus. Dengan sigap, buru-buru dan perut kosong saya meluncur ke halte Batik Solo Trans. Paling tidak, saya butuh sekitar setengah jam untuk sampai ke lokasi dengan menaiki bus. Untung saja jalannya tidak terhalang CFD.

Alhasil, saya turun di Rumah Sakit Panti Waluyo dan harus jalan kaki beberapa meter untuk sampai ke tujuan. Jam digital menandakan waktu bergulir pukul 8:03. Kampret, ternyata lama juga busnya. Dalam sekejab dalam otak saya menawarkan dua pilihan :

1. Jalan santai tapi telat banget, atau

2. Lari tapi keringetan (yang bikin saya tidak tampak elegan lagi). Oke saya pilih pilihan ketiga, naik becak dan suruh abang-abang becaknya ngebut.

Sampai juga di Sunan Hotel. Abang becaknya saya bayar lima ribu perak. Tanpa pikir-pikir lagi kaki saya melesat menuju mas-mas satpam. Saya tanya lokasi ballroom 1, ia pun menunjukkan letaknya dengan praktis. Kaki saya melangkah mantap menuju dan memasuki ballroom 1.

But, wait...

Bola mata saya berkeliling melihat sekitar. Banyak orang-orang borjuis pakai jas necis. Ow faaaak! Ini kok malah acara seminar kesehatan?? Apa jangan-jangan MLM?? Setelah tahu jika saya salah tempat dengan lekas saya pergi menghampiri mbak-mbak resepsionis. Kali ini saya tanya Wiryowilldagdo Ballroom 1. Barulah ia memberi tahu jalan yang benar.

Anjir ternyata ballroom 1 tidak cuma 1!!

08.17. Saya berjalan dengan santai, elegan dan kharismatik. Padahal jantung udah deg-degan karena telat. Biasalah ya, saya ini sering ontime kalau ada undangan. Kecuali kalau memang sibuk banget sampai kocar-kacir ngatur jadwal. #soksokan

Sampai juga di lokasi eksekusi. Saya menandatangani daftar hadir sambil pura-pura senyum elegan untuk mbak-mbak panitia dari Bentang. Setelah itu tubuh saya segera memasuki ruangan. Olalaa.. Ternyata acara belum dimulai. Yasudahlah, paling tidak saya bisa rehat-rehat dulu sambil ngadem.

Di dalam ruangan itu ada teman saya dari komunitas Standup Comedy Solo. Saya agak keki karena sudah lama tidak nongol di komunitas. Tapi sudahlah, saya duduk disebelahnya. Kami berbincang seputar ‘piye kabare?’ hingga menggosipkan sepak terjang Dee Lestari dan karya-karyanya. Tak luput dari pengamatan saya, di depan juga ada peserta lain yang tengah seru membicarakan kreator Perahu Kertas itu. Bahkan seisi ruangan penuh dengan gema suara yang senada. Semua membicarakan Dee.

09.01. Acara resmi dibuka oleh MC. Dengan wajah riang dan penuh semangat MC itu memanggil nama Dee Lestari yang kemudian disambut oleh tepuk tangan meriah dari tangan para peserta. Semua kepala menoleh ke belakang sambil senyum-senyum bahagia.

Detik demi detik berlalu, tepuk tangan yang meriah itu perlahan meredam. Senyum bahagia berubah menjadi senyuman kaku yang aneh. Ya, ternyata MC-nya salah timing! Mbak Dee belum sampai di lokasi. Mungkin ia masih berjalan menyusuri tangga atau jangan-jangan dia salah masuk ke acara seminar kesehatan atau apalah itu.

Segera saja MC melepas kekakuan momen itu dengan sedikit basa basi yang dipaksakan. Untung saja dalam jangka waktu yang singkat mbak Dee sudah menunjukkan batang hidungnya. Yeeeeee.. Para peserta kembali bertepuk tangan. Dengan anggun Dee Lestari melangkah mantap memasuki ruangan dan melambaikan tangan menyapa kami dengan ramahnya.

Finally, acara dimulai!

Konsep acara Dee’s Coaching Clinic ini 100% merupakan tanya-jawab. Kami tidak diminta untuk menulis saat itu juga. Tapi kami diberi banyak waktu untuk mengajukan pertanyaan. Mbak Dee tidak menggunakan tampilan digital untuk presentasi. Ia memaksimalkan media flip chart dan membuat suasana ruangan seperti media belajar-mengajar klasik. Ia juga mengusulkan agar kelas dibuat lesehan saja, tapi hal itu tidak bisa direalisasikan karena ruangan sudah ditata sedemikian rupa oleh pihak hotel dengan konsep meja kursi.


Sebelum masuk ke sesi pertanyaan, sang novelis itu meminta peserta untuk memperkenalkan diri satu persatu dan mengutarakan motivasi mengikuti acara ini. Suara demi suara keluar dari mulut yang berbeda. Kami memperkenalkan diri, ada yang mantap ada yang grogi. Karena sesi itulah saya tahu jika peserta dari kota Solo sangat sedikit. Ada yang datang dari Jogja, Magelang, Semarang hingga Bogor. Saya jadi minoritas di kota kelahiran sendiri.

Perih. Dulu pas Bernard Batubara datang ke Solo juga cenderung sepi. Kebanyakan yang hadir perempuan-perempuan yang membuat suasana MaG seperti pengajian jalin ukhuwah antar muslimah. Sepertinya orang-orang di kota ini cuma kenal satu penulis saja, tak lain dan tak bukan adalah Raditya Dika.

Oiya, sesi perkenalan tadi juga membuat saya merasa lebih minoritas lagi. Para peserta itu benar-benar fans beratnya Dee Lestari. Semuanya sangat mengelu-elukan penulis Filosofi Kopi itu. Tak jarang jika para peserta Dee’s Coaching Clinic datang dengan tujuan untuk bertemu, berfoto dan mendapat tandatangan dari sang idola. Sedangkan saya datang untuk mengetahui rahasia menulisnya. Saya datang bukan demi sesosok Dee Lestari. Saya datang demi mengetahui apa yang ia ketahui. Dan ingin menekuni apa yang ia tekuni. Kalaupun acara pelatihan menulis dimentori oleh Aditya Mulya, Winna Effendi bahkan John Green, saya juga akan datang dengan niatan untuk belajar. Kecuali kalau pelatihan menulisnya menghadirkan Raditya Dika, 101% saya tidak akan datang. Sebab acara tidak akan kondusif, sekali Radit bilang ‘cieee’ semua peserta sudah histeris.

Baiklah sesi perkenalan sudah lewat. Tanpa basa-basi MC membuka ruang bagi peserta untuk mengajukan pertanyaan. Maka muncullah beberapa penanya. Dengan cekatan mbak Dee menjawab pertanyaan itu, sangat lugas dan ringkas itulah yang saya sukai. Seusai dengan sesi pertama, acara dihentikan sejenak untuk coffee break.

((ngopi dulu...))

Selesai menghirup udara segar dan mendapati secangkir kopi lengkap dengan cemilannya, acara kembali dilanjutkan untuk sesi kedua. Dalam sesi ini hampir semua peserta mengajukan pertanyaan. Saya termasuk orang yang tidak bertanya. Why? Karena saya tahu pertanyaan saya bakal terjawab dengan sendirinya. Beberapa peserta menanyakan apa yang ingin saya tanyakan, ditambah mbak Dee suka ‘sisan’ menjelaskan apa yang menyinggung dalam topik pertanyaan tertentu, nah yang ia singgung itu adalah pertanyaanku. See.. Terjawab dengan sendirinya. Jadi saya tidak perlu mengeluarkan suara, semesta selalu mendukung pria elegan. #soksokan #belagu

Setelah acara tanya-jawab selesai bagi saya acara sudah selesai. Tapi bagi yang lain, acara baru saja dimulai. Sesi tandatangan dan berfoto ria adalah sesi yang paling mereka tunggu-tunggu. Dalam hitungan detik, antrian memanjang seketika.

Dulu ketika mas Bernard Batubara ke Solo mungkin saya satu-satunya peserta yang langsung pulang tanpa minta tandatangan dan foto bareng. Mengapa? Bagi saya foto bareng hanya akan membuat jarak semakin jauh. Saya ingin foto bareng sebagai sesama penulis, bukan sebagai idola dan penggemar.

Namun dalam acara Dee’s Coaching Clinic ini saya sebagai minoritas tidak ingin menambah persepsi keminoritasan saya. Saya tidak ingin terlihat aneh dan malas menjawab pertanyaan “kok koe ra melu foto?”. Alhasil, saya ikutan ngantri sambil bawa buku Gelombang. Eee ternyata peserta lain bawa semua bukunya! Sedangkan di dalam tas saya hanya berisi buku Gelombang dan laptop (karena saya pikir peserta bakal diminta untuk menulis). Sekali lagi, saya merasa lebih minoritas.


Ternyata foto bareng ada hikmahnya. Pas saya upload di medsos, banyak juga yang ngiri. Namun, ada pula yang tanya “cewek itu siapa mas? Trus itu yang kamu pegang apa mas?”. Wadefaak! Ah pertanyaan tadi sedikit saya ubah, sebab sebenarnya yang tanya itu memanggil saya bukan ‘mas’ tapi ‘mz’.

Oke, cukup sampai sini saja ceritanya. Yang jelas hari itu saya bahagia. Jutaan keping inspirasi menghujam ke tubuh saya dengan deras. Saya sangat bersemangat untuk menulis. Lalu apakah setelah itu saya langsung menulis? Tidak saudara-saudara. Saya ujian dulu.. Hahahaha.

Terimakasih untuk teman-teman yang sudah bersedia membaca tulisan saya. Maaf jika ada yang tidak enak dibaca. Sampai jumpa dan semoga sehat selalu..

Fotoan dari kameranya Kobar

9 Maret 2015

Saya sering mendengar cerita dari teman (wanita) saya yang seringkali merasa gelisah dengan sikap kekasihnya yang secara spontan berubah-ubah tak menentu. Kadang hangat, kadang dingin. Kadang romantis, kadang cuek. Kadang humoris, kadang garing. Kadang ngasih surat cinta, kadang ngasih undangan nikah. #Eh

Hal-hal demikian membuat wanita bingung dan marah. Ia tidak tahu mengapa sikap kekasihnya berubah. Tentu saja yang tidak ia inginkan adalah segala kemungkinan terburuk dari hubungan mereka. Nah, berangkat dari hal itu saya mempelajari sebabmu sababnya dari seorang pakar asmara bernama John Gray, Ph. D dalam bukunya yang berjudul Men are from Mars, Women are from Venus.

PRIA ADALAH KARET GELANG 

Ambillah sebuah karet gelang. Tariklah salah satu sisinya sedang sisi yang lain tahanlah. Lepaskan sisi yang kamu tarik. Jebreeet! Begitulah seorang pria.

Dari praktik diatas, kita bisa memahami tiga pola sikap pria. Yang pertama adalah kecenderungan pria untuk menarik diri. Menarik diri bisa diartikan menghindar, menyendiri maupun dalam beberapa kasus mereka memilih untuk diam atau merenung. Hal ini alami dan wajar. Tidak hanya dalam hubungan  berasmara, pria juga menarik diri dari sahabat-sahabatnya, dari pekerjaannya, bahkan dari hobinya.

Setelah itu ia akan memasuki pola yang kedua, yaitu mengerut kembali. Sama seperti karet gelang bukan? Saat tarikannya mencapai titik maksimal, ia akan mengerut kembali ke bentuk semula. Sejauh-jauhnya pria menarik diri, ia akan kembali ke tempatnya.

Pola ketiga adalah laju dari kerutan karet gelang yang sangat cepat/kencang. Dalam kembalinya seorang pria dari penarikan dirinya, ia akan membawa perasaan gembira yang teramat luar biasa. Dalam hubungan asmara, katakanlah ia membawa rindu dan cinta pada kekasihnya yang berlipat ganda. Terlepas dari hal itu, yang harus dipahami seorang wanita adalah tidak merusak pola ini. Jika wanita mengacaukan pola ini, pria akan semakin jauh menarik diri. Kita tahu jika karet gelang yang terlampau jauh ditarik akan membuat karet itu putus.


MENGAPA PRIA MENARIK DIRI?

Bagi sebagian wanita, sikap penarikan diri pria ini adalah hal yang konyol. Berikut ini adalah alasan mengapa pria menarik diri:

1. Tugas Mulia Seorang Petualang
Konon, pada zaman dulu pria adalah para penjelajah dan wanita adalah pengurus keperluan rumah tangga. Seorang wanita tidak pernah merasa bosan di dalam rumah karena ia sering keasyikan mengurus bayi, menciptakan resep masak baru, atau sekedar bermain hit and run dengan kecoa. Sedangkan pria selalu asyik menemukan hal-hal baru di luar rumah, terutama petualangan. Dalam kepergian seorang pria tersebut, yang paling ia pikirkan adalah rumah. Karena dirumah itulah ia meninggalkan cinta dan membawa rindu.

Jika ujung-ujungnya pulang juga, kenapa pria harus pergi? Tanyalah Napoleon Bonaparte, mbak! Wanita memiliki cara alami dalam hal mencintai dengan prinsip selalu bersama. Sedangkan pria akan kehilangan gairah cintanya jika terlalu sering bersama. Komunikasikan dengan baik perbedaan kalian, jangan memaksakan perbedaan menjadi sama.


2. Bertapa
Pria memiliki sifat alami untuk keluar dari kerumunan lalu menyendiri. Hal ini sudah terjadi dalam ribuan tahun silam. Saat seorang pria memiliki banyak masalah, ia akan pergi dari kampungnya. Ia akan mengembara, menelusuri hutan lalu memasuki gua. Di dalam gua ia akan bertapa. Beberapa hari setelah itu ia kembali ke kampungnya. Wajahnya yang dulu murung berubah menjadi berseri-seri dan percaya diri.
Di era sekarang hal itu juga masih diterapkan oleh pria. Saat ia suntuk dengan sekitarnya, ia akan mencari tempat untuk menyendiri dan berpikir. Bisa jadi ia ke bioskop, perpustakaan atau sekedar naik kereta bolak-balik Solo-Surabaya hanya demi melamun sendiri di sepanjang jalan. Saya pernah menulisnya di: Melepas Penat dan Menjomblo di Surabaya


3. Pria Adalah Agen Rahasia

Dalam menyelesaikan masalah, pria memiliki cara yang berbeda dengan wanita. Wanita seringkali menceritakan masalahnya (curhat). Sedangkan pria akan menyimpan masalahnya sendiri. Semakin banyak yang pria pikirkan, ia akan semakin diam. Bukan karena pria tidak mempercayai wanita, hanya saja ia adalah agen rahasia. Ia ingin menceritakan semuanya, namun sifal alami pria menolak hal itu.


Wanita Seringkali Salah Mengartikan
Bagi seorang wanita yang tidak menyadari sifat alami pria tersebut akan memberi dampak buruk dalam hubungan mereka. Hal ini terjadi jika wanita salah mengartikan aksi menarik diri seorang pria. Wanita memiliki sifat alami yang sangat berbahaya, yaitu “prasangka”.

Prasangka adalah pola berpikir yang cenderung mengedepankan ego dalam menyimpulkan suatu kejadian tanpa fakta. Menyikapi perilaku pria yang menarik diri, wanita akan menyimpulkan semena-mena dengan menganggap bahwa pria sedang marah padanya, bosan padanya atau bahkan sedang selingkuh.

Prasangka tersebut membuat para wanita menjadi panik. Kepanikan ini akan menimbulkan sebuah reaksi tak wajar. Biasanya wanita akan mulai mengintrogasi, selalu curiga dan banyak mengatur atau membatasi. Hal-hal itu adalah gejala posesif kronis. Selain itu, adapula reaksi seperti marah dan depresi. Wanita marah karena merasa prianya tidak seperti yang dulu. Tidak lagi romantis dan humoris. Kadang juga ada yang kelewat depresi dengan menganggap dirinya tidak dicintai lagi.


Apa yang terjadi jika tidak saling memahami?

Nah, sekarang kita sudah tahu jika pria secara otomatis akan menarik diri dari situasi yang menjenuhkan. Kita juga tahu jika wanita secara otomatis akan memasuki ‘prasangka zone’. Kedua hal itu jika bertemu akan muncul kekacauan. Sebelum kekacauan itu terjadi, berikut ini adalah analisa saya jika kedua belah pihak tidak saling memahami sifat alami satu sama lain.

1. Perang Dingin
 

Jika hal ini terjadi, saya sarankan kedua belah pihak segera memakai baju. Dingin soalnya. Hehehe

Perang dingin artinya sepasang kekasih ini memilih untuk tidak saling bercakap-cakap sama sekali. Lebih parahnya, mereka mulai #nomention di twitter. Tentu saja isinya sindiran-sindiran negatif. Jika sudah begini, hubungan mereka akan susah dipersatukan. Satu-satunya cara untuk merdeka dari perang ini adalah menghangatkan suasana dengan bercakap-cakap di dunia nyata. Mulailah dengan private dinner, bawalah kado, lemparkan senyum, mintalah maaf jika perlu. Sudah begitu, jangan lupa saat pulang dari pertemuan tersebut, kirimlah pesan singkat yang manis.

2. Big Battle

Big Battle terjadi jika kedua belah pihak sudah mulai marah-marah, saling membentak dan sumpah serapah. Biasanya hal ini terjadi untuk mereka sepasang kekasih yang sudah berumah tangga. Mereka memiliki lokasi pertempuran yang saat mendukung, tentu saja rumah mereka sendiri. Jujur saja, saya tidak terpikirkan bagaimana mendamaikan situasi seperti ini.

Pertengkaran ini tidak bisa didamaikan oleh salah satu pihak saja. Kedua belah pihak harus benar-benar sadar akan kesalahan masing-masing dan memaafkan kesalahan kekasihnya. Dalam hal ini biasanya perlu pihak ketiga yang sangat netral.

Biasanya sih pria cenderung kalah. Sebab wanita akan curhat dengan teman-temannya. Dan teman-temannya akan ‘ngomporin’. Lebih parahnya lagi, teman-teman curhat ini akan jadi rempong memporakporandakan rumah tangga temannya sendiri. Bisa dibayangkan, jika para wanita ini semuanya memasuki ‘prasangka zone’, alangkah mengerikannya mereka. Sedangkan pria akan menyimpan masalahnya sendiri, ia tidak memiliki koloni untuk bertarung. Oiya, perlu diingat jika pertengkaran sepasang kekasih ini terjadi hanya karena salah komunikasi. Soalnya kalau memang si pria menarik diri karena selingkuh ya tips-tips diatas tidak ada gunanya.

3. Putus

Jika kedua belah pihak tidak menemukan jalur perdamaian hal ini pasti terjadi. Pria putus karena ia punya masalah lain yang harus ia selesaikan dan tentu saja ia ingin bebas. Wanita putus karena ingin segera mendapat kebahagiaan lain dan tentu saja karena disarankan teman-temannya juga.
Jika Pria Menarik Diri, Ini Yang Harus Dilakukan Wanita

1. Memberi Pria Ruang dan Waktu
Redam semua prasangka, berilah kekasihmu ruang dan waktu. Saya sarankan jangan lebih dari 40 hari dan jangan kurang dari 10 hari. Jika kamu membiarkan kekasihmu merasakan sendiri lebih dari 40 hari, maka ‘sendiri’ akan menjadi habitatnya. Ia akan terbiasa sendiri dan lupa untuk merindukanmu. Jika kurang dari sepuluh hari kamu sudah mengajaknya kencan atau sekedar dinner, ia masih akan merasa terganggu. Jika dirasa waktunya sudah tepat, ajaklah ia bicara, tidak perlu gengsi. Ingat, karet gelang.

2. Mengejar Cita-Cita
Tak usah pusing menebak apa yang dipikirkan kekasihmu. Jika ia menarik diri artinya kamu memiliki ruang lebih untuk melakukan apa yang kamu inginkan. Kejarlah cita-citamu yang tertunda. Akan menjadi menyenangkan saat kalian nanti bertemu dengan membawa bekal berupa cerita-cerita seru yang kalian lakukan masing-masing. Saat awal-awal menjalin hubungan kalian begitu penuh canda tawa karena cerita-cerita seru yang satu sama lain tidak saling tahu. Seiring berjalannya waktu, bahan obrolan kalian mulai habis karena kalian kemana-mana selalu bersama. Maka berpetualanglah. Kejar cita-citamu lalu ceritakan pengalamanmu padanya.

3. Jalin Komunikasi Dengan Wajar
Jika kalian terhalang jarak, kirimlah pesan-pesan singkat yang tidak terlalu memberatkannya. Jangan menanyakan aktivitasnya! Ucapkanlah doa, ucapan selamat atau kata-kata penyemangat yang manis (tapi jangan terlalu sering, 2 hari sekali misalnya). Dia bisa saja tidak membalas pesanmu. Bukan karena membencimu. Bisa saja karena tidak punya pulsa, tidak ada sinyal atau terlampau sibuk.

Jika setiap hari kalian bertemu karena mungkin satu kantor, perlu pendekatan lain. Senyumlah saat bertemu, sapalah duluan, bersikaplah yang wajar. Jangan mengusiknya saat bekerja atau melamun. Yang paling penting adalah jangan menebak apa yang dia inginkan! Tawarkan bantuan sesekali tapi jangan terlalu sering. Jika pria tidak ingin dibantu berarti ia memang tidak ingin dibantu. Jika pria mengatakan ‘tidak’ berarti memang tidak. Jika pria bilang ‘tidak usah’ atau ‘tidak apa-apa’ berarti memang tidak usah dan tidak apa-apa. Dalam fase menarik diri, pria tidak suka memberi kode. Mereka akan terus terang.


Jika Pria Menarik Diri, Ini Yang Harus Dilakukan Pria Itu Sendiri
 
1. Pesan Tanpa Suara

Dalam fase menarik diri, kamu memang tidak ingin bicara apapun, saya pun mengalaminya. Saya pun tahu jika kamu malas sekali menjelaskan apa yang kamu pikirkan. Tapi kekasihmu bukanlah dukun atau mutant yang bisa membaca pikiranmu. Jika kamu tidak mau menyampaikan apa yang kamu pikirkan, kamu bisa menyampaikan apa yang kamu rasakan. Tidak harus dengan bicara face to face. Buatlah sebuah tulisan atau gambar yang mengilustrasikan perasaanmu. Meskipun diselembar kertas lusuh, kekasihmu akan tetap menghargainya. Jika kamu kesulitan dengan dua hal ini, belilah sebuah kado manis, kirimkan padanya, tambahkan kata-kata “aku tidak apa-apa” / “jangan cemas” / “beri aku sedikit waktu” / “aku akan kembali” / “aku rindu, tapi nanti saja ya ketemunya, aku sedang sibuk banget” ya gitu-gitu deh.

Jika kamu sering bertemu dengannya di kantor. Belajarlah membuat origami lucu, berikan padanya sesekali, wanita suka hal-hal manis yang dilakukan pria secara spontan. Atau buatkan dia kopi favorit, letakkan dimejanya, coret-coretlah mugnya dengan spidol seperti icon smile atau kata sederhana yang manis. Hal-hal itu tidak membutuhkan banyak waktu, sehingga aktivitasmu tidak terganggu. (Tergantunh kekasihmu juga sih, kadang ada yang gak suka basa-basi hahaha, semangat bro)

2. Segera Selesaikan Masalahmu

Jika kamu menarik diri karena banyak masalah atau besarnya tanggung jawab yang kamu pegang, segera selesaikan!


3. Jangan Khilaf
Jangan coba-coba untuk main belakang dengan wanita lain. Kamu bisa saja terpikat oleh wanita lain dalam petualanganmu menyendiri. Kamu bisa saja bertemu dengan wanita unik yang bisa mengisi rongga-rongga kesedihanmu. Mungkin kamu berpikir jika ia bisa membahagiakanmu, tapi pria yang mencintai wanita lain di belakang wanita yang pernah ia cintai tidak akan bisa membahagiakan siapapun.

Ya, kamu hanya akan membuatnya kecewa suatu saat nanti. Jika kamu mencintai wanita baru itu, segera menjauh sebelum ia mencintaimu. Kamu bisa bahagia bersamanya karena ia memberi seluruh hatinya, sedangkan kamu tak akan bisa membahagiakannya karena kamu memberinya sisa hati yang separuhnya sudah untuk wanita lain.
Nah, sudah ya. Itu tadi ulasan saya yang diilhami dari bukunya John Gray. Oiya, barangkali jika ada yang ingin tanya-tanya seputar hubungan asmara bisa komentar dibawah ya. Kalau permasalahannya menarik, nanti saya ulas dengan pendekatan teorinya John Gray dalam sebuah postingan tersendiri. Jika permasalahannya simple nanti segera saya jawab di kolom komentar.
Terimakasih ya sudah berkunjung dan membaca. Maaf jika ada yang tersinggung. Sampai jumpa, semoga sehat selaluu.... :D

Follow Us @soratemplates