Pages

KKN (Kisah Kasih Ndasmu)


STOP bergurau tentang KKN dengan memanjangkan singkatannya menjadi ‘Kisah Kasih Nyata’. Mengapa? Karena itu BASI. Bagaimana tidak basi, saya sudah dengar gurauan itu sejak Ibu saya masih setangguh Natasha Romanoff. Jadi jika di tahun 2016 ketiga kata itu masih kamu dengar, segeralah kamu daftarkan orang yang ngomong itu ke museum.

Sebagai seorang jomblo militan dan aktivis kesetaraan cinta, saya tidak bisa tinggal diam. Saya merasa getir dengan nasib para jomblo-jomblo militan yang tersebar di seluruh Indonesia, yang dengan adanya KKN ini membuat naluri buas mereka meronta-ronta. Naluri buas yang sudah mereka pendam sejak lama, jika terhambur keluar bisa mengancam kedamaian Dinasti Jomblo Nusantara. Untuk itulah saya harus membongkar semua kepentingan di balik program KKN melalui tulisan ini.

Program KKN adalah bentuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh mahasiswa dengan pendekatan lintas keilmuan dan sektoral pada waktu dan daerah tertentu(1). Kegiatan ini harus memadukan tri dharma perguruan (Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian) kepada masyarakat. Sejak tahun 1971 tidak pernah ada ceritanya program ini banting setir jadi ajang pengembangbiakan asmara. Jika dalam prakteknya banyak yang menjadikan KKN ini ajang pencarian jodoh, hambok wes meluo program Take Me Out Indosiar.

Saya masih ingat ketika saya mengikuti pembekalan KKN, ada pembicara yang berulangkali membuat gurauan tentang jodoh. Beliau bilang di lokasi KKN bisa terjadi cinlok. Baik itu sesama peserta KKN dalam satu kelompok, peserta KKN antar kelompok maupun peserta KKN dengan warga desa. Jika saat pembekalan saja materinya semengerikan ini, mentalitas jomblo yang lemah bisa terguncang habis-habisan. Saking terguncangnya, saya jadi kasihan kalau ia sudah membulatkan tekad untuk mendapat pacar saat KKN ternyata harus pulang dengan tangan hampa. Bayangkan, betapa depresinya mahasiswa itu.

Contoh di atas baru tahap pembekalan, di lokasi KKN situasinya lebih ngeri lagi. Dulu saya mendapat tempat menginap satu rumah untuk seluruh anggota tim, baik laki-laki maupun perempuan. Rumah itu hanya terdiri dari dua ruangan, ruang tidur perempuan dan ruang tamu. Sedangkan kamar mandi ada di luar rumah. Mau tidak mau kami saling tahu aktivitas antar anggota tim. Mau masak, mandi, nyuci, nyapu, ngepel, galer, pokoknya semua pasti tahu. Mau yang muka kelas L’oreal hingga kelas Biore kalau bangun tidur yang kita lihat ya muka-muka iler semua, kami tahu itu.

Dari kebiasaan bersama itu kita akan tahu karakter teman kita yang seasli-aslinya, tanpa pencitraan dan reka-reka. Kecuali kamu titisan Christian Grey, yang bisa pura-pura jadi makhluk sempurna. Dengan mengenal begitu dalam seseorang, tinggal nunggu waktu yang tepat saja untuk merasakan gejolak-gejolak baper. Di sinilah loyalitas para jomblo diuji, mau menuruti kebaperannya atau mau mempertahankan dinasti para jomblo.

Saat ini jomblo bukan lagi sebuah status kesendirian. Jomblo adalah sebuah pergerakan yang menentang kekuasaan orang-orang berasmara. Jomblo adalah simbol perlawanan terhadap intervensi kapitalisme cinta. Dalam hitungan kasar, para jomblo yang tergabung dalam pergerakan ini sudah mencapai 15JUTA jiwa. Kami masih sembunyi-sembunyi menyebarkan ajaran jombloisme, jika waktunya sudah tepat kami segera melancarkan revolusi.

Di kampus saya, UNS Solo mengalami reborn KKN pada angkatan 2011. Fakta ini menunjukan bagaimana perlawanan terhadap pergerakan jombloisme begitu menghawatirkan. Meningkatnya mahasiswa yang teridentifikasi sebagai jomblo meresahkan civitas akademika bahkan mengganggu jalannya perkuliahan. Bagaimana tidak menganggu, sepeda motor yang bisa dinaiki berdua dengan kekasih harus dikendarai sendiri-sendiri dan sudah pasti membludaklah area parkiran kampus. Gara-gara itulah mahasiswa tidak hanya kesulitan mencari dosen pembimbing tapi juga kesulitan mencari slot parkir yang kosong dan helm yang hilang.

Semangat jombloisme berbanding lurus dengan semangat titip absen. Ini sungguh meresahkan pihak kampus. Dengan kemandirian dan kebebasan absolut yang dimiliki oleh jomblo, membuat mereka leluasa bolos kelas dan kluyuran entah kemana. Maka dari itu pihak kampus terpaksa menggalakkan program-program makcoblang agar mereka ini punya pacar. Kehadiran pacar akan menunjang kerajinan dan sangat memotivasi mahasiswa untuk menyelesaikan studinya. Selain itu memberdayakan pacar juga jadi solusi yang tepat mengingat peran Pembimbing Akademik (PA) kurang efektif. Program pemberdayaan pacar ini adalah kartu AS yang dimiliki pihak kampus, selebihnya sering disebut sebagai external force program.

Jika melihat dampaknya, KKN sudah pasti agenda utama dari external force program. Tidak dapat disangkal lagi. Penganut jombloisme garis keras begitu ikut KKN langsung punya pacar. Saya pun semakin curiga kalau KKN diam-diam melakukan brain wash kepada kami para jomblo militan. Tapi bagaimana caranya? Kapan? Dan kenapa tidak berdampak pada saya? :O

Setelah saya diskusikan dengan teman-teman jomblo yang selamat dari kiamat sugro ini, usut punya usut kami menduga penyebabnya adalah saat tes kesehatan. Salah satu syarat mengikuti KKN adalah dengan menyertakan surat keterangan sehat. Untuk itu kampus memfasilitasi bagi calon peserta KKN agar bisa melakukan tes kesehatan secara gratis di klinik kampus. Pada waktu itu karena saya males antri dan pilih bayar dua puluh ribu, saya priksa ke PKU dekat rumah saya.

Benar saja. Selama KKN saya tidak merasakan benih-benih asmara. Bahkan barisan mamah muda di desa Tompegunung (Kab. Pati) pun tak mampu menggetarkan dopamin dan libido saya. Termasuk Mbak Rini yang konon kecantikannya melebihi Hathor, Aphrodite bahkan Freya. Kehadiran Mbak Rini sebagai penjual es batu dan pulsa di desa Tompegunung membuat saya semakin curiga kalau semua perihal KKN ini cuma ilusi semata. Dilogika saja, bagaimana mungkin titisan Dewi Freya yang pesonanya bikin Mbah Odin bertekuklutut bisa-bisanya ada di lokasi KKN saya. Satu-satunya penjelasan yang mungkin adalah mbak Rini ini agen yang dikirim pihak kampus sebagai bagian dari external force program.

Melihat realitas yang saya temukan di balik program KKN membuat saya depresi. Pergerakan para jomblo militan regional Solo mengalami kemerosotan yang begitu tajam. Batin saya sebagai jomblo garis keras tersayat-sayat melihat kawan-kawan saya mulai berpasang-pasangan :'( . Gagasan saya yang mengutip Pram tentang “jomblo sejak dalam pikiran” pun tertolak oleh mereka para mantan-mantan jomblo. Bahkan saya juga tak luput mengutip kata-kata sakti Bung Karno “beri aku sepuluh pemuda (tanpa pacar) maka akan kuguncang dunia”. Ternyata ungkapan itu sudah tak selevolusioner dulu.

Dengan berat hati saya mengakui jombloisme untuk zaman ini sudah gagal. Lemahnya mentalitas para jomblo dan kuatnya kapitalisme cinta memaksa saya mundur dari pergerakan ini. Hingga menunggu waktu yang tepat datang, saya akan bersiap dengan pergerakan berikutnya. Untuk saat ini saya ingin fokus skripsi dulu, pergerakan ini saya turunkan pada kalian wahai pemuda. Terserah dengan strategi kalian nantinya, saya akan menyaksikan bagaimana postjombloisme ini menjatuhkan kolonialisme cinta. Sukur-sukur jika kalian bisa memboikot KKN, minimal dimulai menyebarkan isu kemerdekaan melaui slogan “Kisah Kasih Ndasmu”.

Source pict: digitalcommonwealth.org

Ilham Bachtiar

Blogger kalang kabut yang doyan menulis tentang film. Meski tutur lisannya kurang terjaga, tapi orangnya total berkharisma. Terima usikan di ilhambachtiar25@gmail.com

21 komentar:

  1. Paraah aku ngakak bacanya mas. Tapi setuju banget sama moment KKN yg sering disalahartikan "Kisah Kasih Nyata" yg malah berujung baper, tapi pasca itu paling ya bubar. Kalau menurutku, sebenernya KKN malah nggak menampakkan sifat asli seseorang karena mau nggak mau mereka harus survive menjalani kerasnya KKN, jadi bisa aja yang aslinya cuek jadi tiba-tiba grapyak sama warga lokal, biar bisa bertahan hidup dan tidak dikucilkan. Hahaha.
    Jadi kalau mau cari jodoh ya malah setelah KKN, bisa membandingkan, mana yg asli dan enggak. Wkwkwk *iki mah opo

    BalasHapus
    Balasan
    1. menurutku malah justru di luar KKN itu yang seringkali kita bukan jadi diri kita sendiri. kalau di KKN karena ketemunya sama orang-orang baru kenal ya jadi gak ada pekewuh kalau mau jadi diri sendiri seutuhnya. Hehehehe..

      Hapus
  2. wew... enet anak UNS? :v
    Sebagai angkatan pertama KKN UNS aku yo didoktrin koyo iku.. :v
    KKN nang endi Bro?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dolanmu rodok kurang adoh Mas Wisnu, nek ora kenal karo Den Baguse Ilham. Mungkin sesekali kopi darat mampu menjadi solusi dan memberikan asa untukmu mencicipi aroma khas seorang aktivis jomblo.

      Dan pertanyaan kedua, "KKN neng endi bro?". Waiki sing marai aku sedikit bingung heran tur deg-degan. Mungkin Mas Wisnu bisa sedikit mimik kopi dengan toping bon cabe biar bener-bener melek.

      Hapus
    2. Hahahaha..
      Kui aku KKN Pati bro.

      Santai rif santai. Aku ki sopo lho. Kok seolah-olah tenar ngono. Hahaha

      Hapus
  3. Hahaha...
    Di mana-mana kalau pembekalan selalu di doktrin soal 'jodoh'. Ternyata di kampusmu juga. Diiih... kayak yang 'jomblo' itu kaum yang harus diberantas.
    Satu lagi kalau di tempatku pasti dikatakan bahwa "sekretaris dan ketua pasti nantinya cinlok karena sering ketemu & ke mana2 bareng apalagi yang sering bertengkar.
    Dan aku sebagai sekretaris mati2an tidak mau cinlok.
    *Nah lho...

    Tapi setuju, KKN itu memperlihatkan aslinya kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hanciee.. Kamu warbiyasa bisa teguh pendirian gitu. Hahahaha

      Hapus
  4. Sebagai generasi yang tumbuh tanpa merasakan KKN, aku cuma bisa berdoa dan berharap sambil was-was, semoga pacarku engga kecantol baper sama siapapun~
    sekian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. lalu akhirnya bagaimana?aman kan?

      Hapus
  5. kok suka ya sama tulisan ini. hahahaha. lucuuuuuuuu! XD

    BalasHapus
  6. aku pas kuliah ga ada program KKN sih --" jadi g tau itu kkn kek mana
    kuliah aja dulu ..jomblo aja dulu..nikah nanti ajaaaa :))).

    BalasHapus
  7. Eh, dulu aku termasuk orang yg merasakan asmara di KKN lho. Walaupun cuma sebatas selingkuhan sih, gyahahaha. :D

    BalasHapus
  8. Anjir, ngakak banget. Parah! Mendobrak libido dan dopamin. Astagaaaa. Cukup sudah wk. Capek ketawa.

    Tapi di KKN emang rawan cinlok, Kak. Tapi kalo magang di kantor ketemunya Bapak-bapak botak udah punya istri, masa mau cinlok pfft.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah ya gak papa. Sikat apa bos sikaaaaattt!!!!

      Hapus
  9. Teknis sekali bahasanya ini. Sudah cocok untuk jadi judul skripsi. Tinggal ditambah jurnal yang mendukung plus literatur yang bisa memperkuat bahan penelitian anda.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wadefak..! Kayaknya gaya nulis kayak gini yang bikin gak lulus lulus rad

      Hapus
  10. Teknis sekali bahasanya ini. Sudah cocok untuk jadi judul skripsi. Tinggal ditambah jurnal yang mendukung plus literatur yang bisa memperkuat bahan penelitian anda.

    BalasHapus
  11. Lol kisah kasih nyata dari hongkong, kisah kasihnya paling berjalan selama KKN doang, habis itu lepas 😀

    BalasHapus

Berkomentarlah sejujur-jujurnya. Sebab menjadi diri sendiri tanpa rasa sungkan adalah sebaik-baik sandiwara.