Pages

Requiem For a Dream: Depresi dalam Obsesi


Tulisan ini bisa dibilang review full spoiler dari film Requiem For a Dream. Requiem For a Dream adalah film psychedelic yang rilis tahun 2000 yang diperankan oleh Jared Letto (pemeran Joker dalam film Suicide Squad), informasi detail bisa lihat saja di IMDB (8,4/10). Film ini sangat sederhana, dengan cinematografi yang tidak membosankan bahkan benar-benar bisa mendramatisir cerita dan emosi yang ingin disampaikan. Selanjutnya mari kita bedah sedikit demi sedikit film ini, yuk simak!

Requiem dalam judul film ini adalah sebuah istilah yang merupakan doa (seringkali berupa musik) untuk orang mati dan diadakan dengan upacara di gereja. Secara sederhana, Requiem For a Dream adalah ‘doa orang mati untuk sebuah mimpi’. Judul yang sangat PAS dengan cerita yang disajikan dalam film.

Requiem for a Dream benar-benar film psychedelic sejati. Dalam kamus, psychedelic adalah ‘ketenangan jiwa yang terpengaruh rasa birahi dan seni cinta perasaan serupa itu akibat obat bius’. Film ini berkutat pada obat bius, seks, cinta, impian dan semua itu beradupadu menjadi satu dalam wadah yang bernama CANDU.

Dalam film ini terdapat empat tokoh penting (saya tuliskan secara ringkas per paragraf ya);

Harry Goldfarb (Jared Leto) adalah anak muda lulusan perguruan tinggi yang menjadi pengangguran (familiar? Hehe). Ia tinggal berdua saja bersama Ibunya di sebuah apartemen. Hingga kemudian ia pergi dari rumah demi mengejar passionnya sebagai kurir narkoba bersama pacar dan sahabatnya.

Sara Goldfarb (Ellen Burstyn) adalah ibunya Harry. Beliau ini sehari-hari kerjanya nonton TV khususnya acara variety show semacam Super Deal 2 milliar tapi gak pakai deal-dealan atau Super Family 100 tapi gak pakai survey dan jokes garing ala Eko Patrio.

Marion Silver (Jennifer Connelly) adalah kekasih Harry. Hidupnya ia habiskan untuk pacaran baik outdoor maupun indoor. Meski Marion dan Harry ini hidup di dunia hitam, tapi kisah cinta mereka ini bikin gemes-gemes manja.

Tyrone C. Love (Marlon Wayans) adalah sabahat Harry. Ia yang mengajak Harry terjun ke dunia hitam. Kos-kosannya sering ditempati Harry dan Marion, mereka kerap mengadakan pesta narkoba kecil-kecilan, sekecil rindumu padaku.

Televisi, Obsesi dan Eksistensi

Sara (Ibu Harry) awalnya seorang perempuan paruh baya yang sangat waras dan logis. Hingga kemudian tiba-tiba ia mendapat telfon yang menyatakan bahwa dirinya terpilih sebagai kontestan “Maylin and Block”, acara televisi favoritnya. Sejak saat itu ia selalu membayangkan dirinya berdiri di sebuah acara TV mengenakan gaun merah kesayangannya. Sayangnya, gaun cantik itu sudah tak muat ditubuhnya.

Sembari menunggu konfirmasi dari pihak TV, Sara menjalani program diet agar bisa tampil sempurna di layar kaca. Diet berjalan sangat sulit baginya, rasa lapar terus mengancam dari balik pintu kulkas. Disatu sisi ia ingin makan, disisi lain ia ingin terlihat cantik memakai gaun andalannya. Ambivalensi itu yang kemudian memunculkan benih-benih kegilaan dalam otaknya. (Saya sering terjebak situasi ini, pingin ini dan itu dalam waktu bersamaan padahal keduanya bertolakbelakang).

Diet tidak sukses, kini ia mencoba melakukan sedot lemak. Dokter yang menangani menyuruhnya meminum pil berwarna warni dengan ketentuan jam minum yang ketat sekali. Namun semua kembali menjadi kacau ketika obsesi cantik kembali datang. Sara yang tiap hari nonton acara Maylin and Block tapi tak kunjung dapat kepastian tampil, lambat laun ambisinya untuk tampil sempurna semakin menggerogoti nalar. Ia mengalami delusi parah, ketakutannya gagal diet menghantui setiap saat. Alhasil, tiap ia merasa cemas ia meminum obat yang diberikan si dokter tanpa aturan minum. Berawal dari dua butir sekaligus, tiga butir, empat dan seterusnya.

Bermalam-malam kegilaan menghantuinya dan horeee diet sukses! Kini Sara bisa memakai gaun kesayangannya. Yang jadi masalah berikutnya adalah tak ada konfirmasi dari pihak TV kapan Sara bakal tampil. Setiap hari ia menunggu, nonton TV, berhalusinasi, berfantasi, berekspektasi di dalam rumahnya sendiri karena Harry tidak pernah pulang ke rumah. Sara kesepian, ia ingin diperhatikan, disanjung, jadi pusat perhatian. Ia ingin tampil di TV, ditonton banyak orang. Tampil di TV sudah jadi tolok ukur kesuksesan baginya, tampil di TV adalah fantasinya akan surga.

Sara memakai gaunnya setiap hari. Karena tak sabar lagi, ia pergi mendatangi kantor TV yang letaknya jauh dari tempat tinggalnya. Ia berjalan kaki tanpa alas kaki. Ia tampil dipublik tanpa tatanan rambut yang jelas. Baginya yang terpenting adalah mengenakan gaun kesayangannya. Ia bicara dengan semua orang yang ditemuinya, mengatakan bahwa ia akan tampil di TV. Dan orang-orang sudah pasti melabelinya GILA.

Sampai di kantor TV Sara bahagia tak karuan. Ia terus bicara dengan semua orang bahwa namanya ‘Sara Goldfarb’ memenangkan pencarian kontestan acara Maylin and Block. Ia menanyakan berulangkali kapan tepatnya ia bakal tampil. Bahkan ia rela tidak akan menerima uang sepeserpun asalkan ia jadi nongol di TV. Orang-orang memandangnya penuh iba dan takut, bagaimana tidak, Sara sudah benar-benar terlihat seperti orang gila profesional. Kemudian petugas membawanya ke rumah sakit, ya Rumah Sakit Jiwa.

Ekstasi, Obsesi dan Prostitusi

Sementara itu, Harry Goldfarb yang meninggalkan rumah mulai menjalankan bisnis gelapnya. Bersama Tyrone dan Marion, bisnis mereka bisa dibilang sukses. Entah berapa lembaran dollar yang sudah mereka tabung, dan entah berapa malam yang mereka habiskan untuk teler, seolah dunia tak mengizinkan mereka gagal.

Namun semua tak bertahan lama, masalah bermunculan mulai dari gagal mendapat pasokan hingga terjebak dalam situasi baku tembak dan penahanan oleh pihak berwajib. Chaos! Itulah yang terjadi pada mereka. Macetnya pasokan narkoba membuat mereka lebih sering beradu mulut. Tak ada uang di musim dingin adalah mimpi buruk bagi mereka bertiga.

Karena saking kepepetnya, Harry meminta Marion untuk menghubungi pembimbing konselinya dan menjajakan layanan seks. Tidak ada pilihan lain, Marion harus melakukan. Ternyata uang hasil prostitusi itu tidak terlalu memberikan efek bagi mereka. Dalam sekejab uang itu langsung ludes secepat api yang menjadikannya abu.

Selanjutnya bermodal nekat, Harry dan Tyrone berencana mengejar pemasok narkoba entah berapa mil jauhnya. Sementara itu, Marion ditinggal sendiri yang sebelumnya cekcok dengan Harry yang berujung pada musibah baru. Marion yang sakau merengek-rengek ke Harry, karena Harry juga lagi ‘kosong’ akhirnya malam itu mereka bertengkar. Harry meninggalkan Marion dengan sebuah nomor.

Marion tak sanggup menahan dirinya, kegilaan mulai merasuki nalar. Ia menghubungi nomor yang diberikan Harry. Dan ternyata itu adalah nomor salah seorang konglomerat berkulit hitam yang suka sekali dengan wanita kulit putih dan pirang. Marion mendatangi bos genk itu di sebuah hotel mewah, tentu saja untuk menjajakan layanan seks.

Adegan seks tidak dipertontonkan, hanya secara simbolik film ini berhasil mendapatkan esensinya. Yaitu ketika si bos meminta Marion melakukan blowjob, dan tentu Marion tak punya kuasa untuk menolaknya. Dari sini saya melihat bagaimana scene ini sangat kuat menyimbolkan bagaimana kuasa orang kulit putih dibabat habis-habisan oleh orang kulit hitam. Jika kita mengingat sejarah bagaimana politik apertheid pada masa lalu, maka scene ini adalah oposisi biner dari peristiwa kelam itu. Seorang perempuan kulit putih ditanah Amerika, harus memuaskan hasrat seks orang kulit hitam dengan gaya bercinta yang sangat dibenci para perempuan (kepuasan sepihak). Benar-benar simbolisasi penakhlukan yang sempurna.

Setelah pekerjaan tunggal Marion selesai, ia mendapat undangan istimewa dari si bos. Sebuah pesta ‘sex show’ dengan melibatkan banyak konglomerat, banyak PSK dan tentu saja banyak uang. Karena Harry tak kunjung datang juga, Marion memutuskan untuk memenuhi undangan itu. Ia dipaksa melakukan hal yang sangat menjijikan dan menyakitkan dihadapan para pria berdasi. Hingga semua selesai, ia terkulai lemas di sofa dan tersenyum bahagia menatap bergepok-gepok uang yang ia miliki.

Jauh dari situ Harry dan Tyrone tak luput dari celaka. Dalam perjalanan, tangan Harry menunjukan ketakwajaran. Tangannya membusuk karena terlalu banyak menyuntikan narkoba. Mereka berdua memutuskan untuk ke rumah sakit. Sungguh sial, dokter yang tau benar kenapa tangan Harry membusuk langsung memanggil polisi. Tanpa pengobatan, Harry digiring ke penjara rehabilitasi bersama Tyrone. Kebusukan ditangan Harry terus melebar, tak ada pilihan lain, tangannya harus diamputasi. Di sinilah Harry dan Tyrone berpisah.

Harry terbaring dikamar operasi tanpa lengan. Tyrone terbaring di penjara rehabilitasi yang sangat kejam. Sara terbaring di rumah sakit jiwa dengan tangan dan kaki terikat. Dan Marion terbaring di sofa tanpa masa depan. Terbaringnya semua tokoh dalam cerita ini sungguh menyimbolkan ketakberdayaan manusia atas candunya masing-masing.

Sekarang coba kita lihat dalam diri kita masing-masing apakah kita memiliki candu? Semisal candu untuk selalu ngecek notification di semua akun media sosial atau candu chatting yang membuat kita malas beranjak dari kasur. Ingatlah wahai manusia-manusia mager, bantal dan guling jadi saksi bisu ketakberdayaanmu itu, juga saksi bisu keluh kesahmu dan saksi bisu iler-ilermu. Hahahahaha. #ngomongindirisendiri

Jadi intinya obsesi kalau kebablasan bisa ngeri jadinya. Apalagi kalau sudah terperangkap dalam lingakaran setan bernama ‘candu’. Hati-hati ya wahai manusia antroposentris. Candu membunuhmu. Kecuali canduku padamu #telekmas. Hahaha, terimaksih sudah baca tulisan panjang ini dan sampai jumpa di tulisan berikutnya. 


Source: deviantart.net/

Ilham Bachtiar

Blogger kalang kabut yang doyan menulis tentang film. Meski tutur lisannya kurang terjaga, tapi orangnya total berkharisma. Terima usikan di ilhambachtiar25@gmail.com

2 komentar:

  1. Suka banget sama film ini. Film yang menurutku bisa meninggalkan kesan depresif bagi para penontonnya. Aku paling suka sama Sara Goldfarb. Dan suka juga sama Harry. Jared Leto. Ganteng banget ya dia waktu masih muda. Huehehehe.

    Kalau aku memandang film ini dengan kesotoyanku, film ini isinya tentang kesepian. Keempat tokoh utama itu punya "kesepian"nya masing-masing. Dan punya kalau bisa dibilang pelampiasan dari kesepiannya itu. Pelarian. Maka timbulah obsesi dan candu berlebihan. Sebagai orang yang ngerasa kesepian, aku ngerasa relate dan ngerasa bersyukur kalau nonton film ini. Karena kesepianku nggak ada apa-apanya dibanding mereka. Huehehe. Btw. Review yang keren, Mas! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, Marion manis juga cha, sayang nasibnya pahit.
      Lho kamu kesepian? Buru cari pendampung gih.. :D Setuju film ini bener-bener bikin yang nonton depresi sendiri. Makasih ya udah mampir...

      Hapus

Berkomentarlah sejujur-jujurnya. Sebab menjadi diri sendiri tanpa rasa sungkan adalah sebaik-baik sandiwara.