27 April 2018


Menonton film di bioskop saat ini memang masih menjadi kebutuhan tersier bagi masyarakat kita. Meski demikian, nyatanya bangku bioskop makin penuh dari tahun ke tahun. Entah ini karena masyarakat Indonesia mulai sejahtera, atau justru karena banyak yang butuh lari dari realitas.

Saya akui menonton di bioskop adalah cara terbaik untuk menikmati sajian film. Selain sebagai hiburan, film juga memberi dunia alternatif yang memengaruhi beberapa pandangan saya soal hidup. Oleh sebab itu jika sedang ada rezeki, saya menyempatkan diri untuk menonton film di bioskop. Sementara kalau lagi mlarat, ya saya nonton di Hooq atau memakai layanan underground yang you know what I mean.

Meski nonton film di bioskop adalah cara yang prestisius, tapi nyatanya adab menonton masih tidak diindahkan. Saya sering menemui orang-orang yang kelakuannya sangat mengganggu aktivitas menonton. Jangankan untuk memaklumi, memaafkan mereka pun saya tidak sudi.

Berikut ini saya rangkum 5 kebiasaan tak termaafkan saat nonton film di bioskop. Coba cek, kamu pernah mengalami atau pernah melakukannya.

1. Membawa Anak Kecil

Hanya sedikit film yang diperuntukkan bagi semua usia. Bahkan film-film superhero Marvel pun rata-rata dilabeli sebagai film 13 tahun ke atas. Tapi saya sering melihat ada orangtua yang sengaja membawa anaknya yang masih di bawah 13 tahun bahkan ada yang baru belajar jalan pun ikut nonton!

Sudah ada banyak informasi yang sliweran di timeline saya soal bahayanya membawa anak kecil buat nonton di bioskop. Baik dari kemampuan pendengaran yang bisa cidera sampai psikisnya yang bisa terganggu. Saya rasa sebelum membuat anak, pasutri masa kini perlu mempertimbangkan apakah masih ada gairah nonton di bioskop atau tidak.

Membawa anak kecil ke bioskop selain berbahaya bagi anak tersebut, ada juga hal negatif lain. Yaitu potensi mengganggu penonton lain. Anak kecil yang tidak paham adab menonton seringkali bicara dengan kencang di dalam ruangan teater. Lebih parah lagi kalau sampai menangis kejer atau mondar-mandir tak karuan.

Ingatlah jika menonton film bisa dilakukan di berbagai tempat. Tidak harus bioskop. Jika mau melibatkan anak sebaiknya ya jangan di bioskop. Karena bioskop ini hanya kebutuhan tersier yang kalaupun tidak melakukannya, keluarga kita juga tidak akan tercerai-berai seketika.


2. Berbicara

Baik ngobrol bersama teman atau ngomong sendiri merupakan hal yang mengganggu sekali. Jika memang ada yang perlu sekali dibicarakan dengan teman nonton sebaiknya gunakan cara berbisik dan dekatkan mulutmu ke telinga lawan bicaramu. Paling parah sih kalau ngobrol via telfon. Berisyik!

3. Menyalakan Gadget

Buka lagi tidak beradab, bahkan kebiasaan satu ini terlihat begitu norak. Kita tahu di dalam ruangan teater memang sengaja dibuat gelap. Satu handphone dengan brightness kecil pun akan terlihat dari belakang. Hal itu benar-benar mengganggu fokus nonton.

Padahal durasi film rata-rata 2 jam. Jika menang tidak sanggup off dari HP selama itu, ya sudah tidak usah nonton sejak awal. Jika memang ada hal yang mendesak, sebaiknya keluar ruangan dulu baru akses HP.

Intinya, jangan menyalakan handphone, tab, laptop, apalagi TV. Jangan!

4. Respon Lebay

Merespon apa yang ditayangkan itu memang wajar. Tapi jangan berlebihan juga. Sebab bisa mengganggu penonton lain.

Respon lebay itu bisa berupa nangis meraung-raung, jerit-jerit histeris, maupun ketawa berlebihan kayak ayam Pontianak. Ganggu!

5. Banyak Tingkah

Tidak hanya suara saja yang bisa menggangu. Tingkah laku pun juga bisa membuat penonton lain merasa tidak nyaman. Misal sering mondar-mandir, badan grusak-grusuk, sampai kaki yang menyentuh kursi depan. Satu sentuhan kecil saja akan terasa banget lho. Jadi usahakan menonton dengan tenang.

Mengapa sih menonton di bioskop nggak boleh ini itu?


Jika kamu pernah beranggapan, "Halah gitu doang kok ngerasa keganggu. Lebay amat sih", mungkin kamu perlu belajar lagi soal tenggang rasa.

Nonton di bioskop itu ada banyak orangnya. Bahkan orang-orang yang tidak kita kenali. Saya pernah nabung untuk nonton film yang sangat saya idamkan. Saya sengaja berhemat agar bisa nonton film itu di hari pertama penayangan. Tapi pas nonton saya merasa terganggu dengan tingkah laku penonton lain. Marah, kesal, hasrat ingin memukuli sudah bercampur aduk menjadi satu.

Lagipula, bukankah hukum keseimbangan alam itu ada? Barangsiapa menanam, ia menuai. Jika hari ini kita menggangu orang lain, di lain hari kita pasti diganggu juga entah oleh orang lain atau sesuatu yang lebih buruk.

Nah, itu dia 5 kebiasaan tak termaafkan saat nonton di bioskop. Sebenarnya masih ada banyak lagi yang mengganggu di bioskop seperti merokok, bercinta, malakin popcorn, goreng cireng, benerin rantai motor, banyak lah pokoknya. Kalau menurutmu apa lagi kebiasaan tak termaafkan selama nonton di bioskop?


Image Source: pexels.com

25 April 2018


Sebelum pindah ke Jakarta, saya terlebih dulu tinggal di Solo dalam waktu yang cukup lama. Saya menerima Solo sebagai kota kecil dengan suasana rindang yang setiap pagi dan sorenya selalu menyegarkan. Hal ini tidak lepas dari upaya pemerintah dan warga untuk mensenyawakan kota modern dan alam.

Suasana teduh sangat terasa jika saya menjelajahi kampung-kampung di Solo. Ada banyak hal-hal menarik yang bisa ditemukan di sana. Salah satunya adalah kegotongroyongan warga untuk merawat tanaman-tanaman sehingga area perkampungan tersebut terasa menyejukkan. Tidak hanya itu, saya juga suka dengan kampung-kampung yang secara aktif membangun Usaha Kecil Menengah (UKM). Seperti Kampung Laweyan dan Kauman dengan produksi batiknya, maupun desa Tawangsari dengan produksi tenun ikat yang mendunia.

Hal-hal seperti itulah yang kadang saya rindukan dari Kota Solo. Nuansa asri dan produktif seringkali menjadi pemacu semangat bagi saya. Entah mengapa, selepas mengunjungi tempat-tempat seperti itu, saya merasa begitu gembira.

Sementara itu, lima bulan saya tinggal di Jakarta suasananya berbeda. Kota besar ini benar-benar terlalu sibuk. Banyak energi saya yang hilang ketika menempuh perjalanan menerabas kemacetan. Udara yang saya hirup pun rasa-rasanya ampek (sesak) meski saya sedang berada di jalan raya yang mestinya ada banyak stok udara di situ.

Lalu orang-orang bekerja dan berkarya di dalam gedung-gedung tinggi. Itu pun terbungkus ruang kubikel yang sekelumit. Sebagai orang luar, saya tentu saja tidak bisa menyaksikan bagaimana produktivitas itu terjadi dan bagaimana karya itu tercipta. Saya tidak dapat mengintip dapur produksi yang menginspirasi. Pada akhirnya, saya adalah orang luar yang hanya bisa menjangkau ketiadaan. Halaaaah. Hahahaha.

Nah, kegelisahan saya itu ternyata tidak berlangsung lama. Beberapa saat lalu di pertengahan April 2018, saya dan kekasih mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Kampung Rawajati. Lho kenapa kok ke Rawajati? Jadi gini..

Kunjungan Adem ke KBA Rawajati


Siang itu, aspal Jakarta telah basah oleh hujan yang baru saja reda. Mengilatnya masih membekas di ingatan saya. Begitupun dengan kesejukan udara yang saya hirup ketika masuk ke Kampung Berseri Astra (KBA) Rawajati. Seketika itu saya merasa tidak lagi berada di Jakarta yang saya kenal. Panca indra saya mengenali suasana kampung itu layaknya perkampungan di tanah kelahiran saya.

Kampung Rawajati di segala penjuru dipenuhi oleh tumbuh-tumbuhan. Mulai dari pohon-pohon rimbun hingga tanaman kelor pun ada di sana. Saya, Tiwi, beserta rombongan lain lantas disambut dengan ramah oleh warga. Senyum mereka membuat atmosfer di Kampung Rawajati semakin adem.

Kami semua berkumpul di kantor RW untuk bercakap-cakap. Di situlah saya tahu kalau ternyata Kampung Rawajati memiliki peranan penting bagi lingkungan di Jakarta. Kampung Rawajati memiliki segudang prestasi lingkungan di berbagai tingkat, bahkan menjadi kampung terbaik di DKI Jakarta. Kok bisa gitu?

Jadi, warga Rawajati secara kompak menaruh kepedulian pada lingkungan. Kampung mereka terkenal akan daur ulang sampah, baik itu sampah organik maupun anorganik. Saya melihat bagaimana proses pembuatan kompos basah dan kering dari sampah-sampah di sana. Ternyata cara yang digunakan sangat sederhana. Hal ini yang kemudian bisa ditiru oleh kampung-kampung lain.

Sementara itu sampah-sampah plastik dan kertas juga tidak luput dari pengolahan kreatif mereka. Dengan terampil saya menyaksikan aneka produk dihasilkan dari barang-barang bekas itu. Seperti wadah tisu dari kertas koran hingga tikar dari bungkus kopi yang cantik sekali. Tata olah ini membuat saya takjub. Maka pantas saja jika kampung Rawajati menjadi rujukan yang tepat bagi kampung-kampung yang ingin maju.

Bank Sampah Sebagai Kunci Kepedulian Lingkungan



Saya kagum dengan kekompakan warga dalam melancarkan kegiatan olah sampah itu. Di sana ada yang namanya ‘bank sampah’. Jadi, bank sampah ini seperti layaknya kita menabung uang di bank tapi dalam wujud sampah. Di Rawajati, ada tempat khusus untuk menampung tabungan-tabungan sampah dari warga. Sampah yang ditabung itu sudah dalam keadaan terpisah antara sampah organik dan anorganik. Sehingga proses daur ulang sampah bisa lebih cepat nantinya.

Ketika saya jalan-jalan berkeliling di sana, saya bisa temukan banyak kantong sampah seperti tote bag dengan tulisan ‘bank sampah’ di permukaannya. Kantong-kantong sampah itu tersedia di rumah-rumah warga dan mushola setempat. Ajaib rasanya di perkampungan kok tidak menemukan tumpukan sampah di comberan. Kesadaran warga akan kebersihan inilah yang membuat saya gembira.

Siang yang tidak terik itu benar-benar membuat saya lupa kalau saya masih berada di Jakarta. Lha mau bagaimana lagi? Saya biasanya kepanasan sampai mau meleleh kalau sudah bergelut dengan jalanan Jakarta di siang hari. Hehehe. Bagi yang penasaran, cobalah sesekali mendatangi Kampung Berseri Astra Rawajati di Komplek Zeni AD, Kalibata. Kalau mungkin awkward tiba-tiba datang ke sana cuma mau merasakan sensasi kesegarannya, niatkan saja ke sana untuk membeli aneka jamu. Lho, jamu?

Maju Bersama UKM



Yup! Jadi, KBA Rawajati tidak hanya produktif pada daur ulang sampah saja. Tapi Usaha Kecil Menengah (UKM) pun juga maju di sana. Saat itu saya mengunjungi rumah produksi minuman tradisional, Setiya Bakti. Di situ ada jahe merah, temulawak, bir pletok, dan sebagainya. Minuman tradisional itu dikemas dalam bentuk serbuk halus yang dibungkus plastik kemudian dimasukkan ke dalam box. Setiap sachet-nya sudah memenuhi komposisi yang pas, sehingga kita tinggal menyeduhnya dengan air panas dalam secangkir gelas.

Waktu itu saya mencicipi jahe merahnya dan berhasil membuat saya nambah satu gelas lagi. Bahkan, saya dan Tiwi membawa pulang satu box jahe merah dan satu box temulawak yang masing-masingnya berisi sembilan sachet. Nah, kan bisa jadi alasan yang tepat untuk mengunjungi KBA Rawajati. Sudah bisa ngadem, bisa bawa pulang minuman tradisional asli Indonesia yang berkhasiat pula. Mantap!

Seperti yang diungkapkan Ibu Ninik sewaktu kami berbincang-bincang di kantor RW tadi, Kampung Rawajati ini sangat terbuka dengan kunjungan-kunjungan. Terbukti sudah ada banyak yang berkunjung ke sana. Sampai-sampai, BBC pun meliput kampung itu, lho. Ya. Tidak hanya orang Jakarta maupun luar Jakarta, bahkan luar negeri pun memperhatikan mereka. Tidak heran jika mereka dapat bekerja sama dengan Astra sebagai bagian dari Kampung Berseri Astra (KBA) pada 2015.

Kampung Rawajati memang sudah mulai memberi perhatian lebih pada lingkungan, tepatnya sejak tahun 2001. Melihat potensi yang besar, Astra memberi sumbangsih pada pengembangan dan pendampingan program serta donasi. Memang benar jika potensi yang baik semestinya mendapat perhatian lebih agar semakin melejit. Bukankah kita sering mendengar atau malah mengalami bagaimana rasanya punya program bagus tapi terkendala dana dan tidak adanya pendampingan dari sang ahli? Tidak enak, tho? Nah, kepedulian Astra lewat program KBA itulah yang dalam hal ini menjadi salah satu solusi.

Mini tour yang saya lakukan pada hari itu memberi pelajaran yang berharga bagi saya. Salah satunya tumbuh keinginan untuk bertempat tinggal di perkampungan yang ekosistemnya sebagus Rawajati. Semoga KBA segera menjamur ke mana-mana. Biar pilihan tempat tinggal saya di masa depan kelak jadi banyak. Hahaha.

Nah, sudah segitu saja cerita yang bisa saya bagikan kali ini. Semoga ada kesempatan lagi untuk mengalami sesuatu yang tidak kalah serunya dari kunjungan ke KBA Rawajati ini. Terima kasih sudah menyimak. Cheers!

18 April 2018


Saya yakin, kita telah memahami bahwa olahraga adalah cikal bakal kesehatan bagi tubuh kita. Berbagai macam penyakit mulai dari penyakit berat seperti jantung, tekanan darah tinggi, stroke, diabetes, kolestrol, dan lain sebagainya dapat dicegah dengan meruntinkan kegiatan olahraga. Bahkan penyakit ringan seperti flu sekalipun juga mampu diantisipasi jika badan senantiasa dalam keadaan bugar lewat olahraga.

Eits, tapi jangan salah. Olahraga tidak hanya bermanfaat bagi badan saja, lho. Ada manfaat-manfaat lain yang bisa kita dapat dari berolahraga. Yaitu:

Mengontrol Mood

Olahraga dapat meningkatkan energy dan serotonin di dalam otak. Nah, serotonin itu sendiri merupakan hormon yang memiliki fungsi untuk mengontrol mood atau suasana hati. Dengan demikian, serotonin yang meningkat akan membuat emosi kita stabil. Hal ini tentu saja berguna bagi aktivitas kita sehari-hari terutama berkaitan dengan produktivitas kerja.

Meredakan Stres

Dewasa ini ada banyak cara untuk melawan stres. Namun, dari sekian banyak cara tersebut tak sedikit yang memiliki dampak negatif, seperti makan berlebihan, minum-minuman keras, dugem, atau bahkan shopping. Cara-cara tersebut memang bisa jadi pelarian dari stres. Tapi jika ada cara yang mampu memberi dampak lebih positif, ya kenapa tidak? Olahraga adalah cara yang tepat untuk meredakan stres karena bisa memberi efek relaksasi pada tubuh dan pikiran.

Membangun Relasi

Tidak hanya soal suasana hati dan pikiran, olahraga ternyata juga memberi dampak bagus pada jiwa sosial kita. Menjalani aktvitas olahraga bersama orang lain dapat mendekatkan hubungan personal dengan orang tersebut. Itulah kenapa di banyak ruang terbuka pada minggu pagi, sering kita menjumpai satu set keluarga yang berolahraga bersama. Hal ini memang diyakini mampu membangun hubungan keluarga yang lebih harmonis. Lebih dari itu, saat ini sudah banyak komunitas-komunitas olahraga, otomatis lingkaran pertemanan akan lebih luas, bukan?

Selama saya tinggal lima bulan ini di Jakarta, saya memang tidak rutin berolahraga. Namun, saya menemukan wahana yang asyik untuk berolahraga. Jadi, pada pertengahan Maret dan April tahun ini, saya bersama Tiwi rela bangun pagi lantas melesat hebat ke Ancol. Tujuan kami adalah sarana olahraga di Allianz Ecopark.


Allianz Ecopark pada mulanya merupakan lapangan golf, tapi baru-baru ini area tersebut dialihfungsikan sebagai taman olahraga yang begitu luas. Tidak hanya berguna untuk olahraga saja, sih. Ada juga wahana bermain dan belajar bagi anak yang tentu saja menyenangkan untuk berlibur bersama keluarga di sana.

Karena saya dan Tiwi belum punya anak, sudah tentu kami tidak mengeksplor lebih jauh perihal wahana-wahana tersebut. Kami berdua lebih tertarik dengan event yang saat ini sedang hot and hits. Apakah itu?

Allianz Sweat Challenge

Allianz Sweat Challenge adalah program olahraga yang diselenggarakan oleh Allianz Life Indonesia guna menumbuhkan kebiasaan gaya hidup sehat kepada masyarakat. Acara ini dilaksanakan berangkaian, mulai dari November 2017 hingga Desember 2018. Saya dan Tiwi awalnya mengikuti sesi Workshop Beginner Runner pada 10 Maret. Setelah itu ikut lagi pada 14 April dalam sesi ABC Drills. Kedua sesi tersebut dipandu oleh Opa Paulus yang merupakan atlet profesional.

Dalam salah satu kesempatan yang berbahagia, kami sedikit berbincang dengan Head of Market Management Allianz Life Indonesia, yaitu Karin Zulkanaen. Mbak Karin yang sedang rehat selepas berlari ke sana ke mari memaparkan program Allianz Sweat Challenge dengan penuh antusias. Ia menyebutkan jika sepanjang acara ini berlangsung, setidaknya telah tercatat ada 1.200 peserta yang telah mendaftar. Tingginya minat masyarakat akan kegiatan ini ternyata tercium ke berbagai wilayah di Indonesia, sehingga ada event serupa yang juga diselenggarakan ke beberapa kota.

Dari Mbak Karin itu pula saya mendapat informasi mengenai sesi BIG BANG by Allianz World Run yang konsepnya asyik sekali. Jadi, sesi ini akan dimulai pada 28 April 2018 dan berakhir pada akhir tahun. Tidak hanya lari, acara ini dikemas juga dalam bentuk charity. Cara kerjanya begini:

- Mulai tanggal 28 April 2018 kita bebas untuk berlari ke mana saja, kapan saja, dan di mana saja.

- Gunakan aplikasi endomondo untuk mencatat prestasi lari kita. Aplikasi ini secara otomatis bisa merekam seberapa jauh jarak yang kita tempuh.

- Semakin banyak kita berlari, semakin jauh total jarak yang kita tempuh, semakin banyak pula kita menyumbang untuk charity.

- Melalui aplikasi endomondo kita bisa melihat sejauh mana prestasi yang didaptkan oleh pelari-pelari lain. Anggap saja aplikasi ini sebagai sosmednya para runner, lah.

- Bagi yang memiliki prestasi dalam tantangan ini, akan mendapatkan kesempatan pergi ke Bali secara gratis (transportasi dan tempat tinggal), serta diikutsertakan dalam event bergengsi yaitu lari maraton.


Awalnya, saya merasa pesimis mengingat saya bukanlah pelari yang andal. Namun Mbak Karin menegaskan jika tantangan ini berlaku untuk semua kalangan dan pemenangnya bisa siapa saja. Meski bakal banyak atlet lari yang mengikuti Big Bang “World Run” ini, namun pemenang akan ditentukan sesuai dengan kategori. Misal kategori pelari terjauh, pelari paling konsisten, pelari paling rutin, dan mungkin ada kategori pelari termuda paling aktif maupun lainnya.

Tidak ada salahnya kita bersama-sama memulai gaya hidup sehat lewat olahraga dengan memanfaatkan acara ini. Jika masih ingin mengetahui lebih banyak soal Big Bang “World Run” maupun keseluruhan agenda Allianze Sweat Challenge, kita bisa langsung pantai segala informasinya di sini: Informasi Lengkap Allianz Sweat Challenge. 

Jika ingin mencoba langsung bagaimana keseruan Allianz Sweat Challange langsung saja datang ke Allianz Ecopark Ancol di hari-hari yang sudah di tentukan. Pastikan datang pukul 7 pagi agar tidak ketinggalan acaranya dari awal. Oiya, saya merasa beruntung ketika kerongkongan dilanda haus, ternyata di sana telah disediakan teh botol Sosro tawar secara gratis. Seger rasanya.

Lebih dari itu, saya dan Tiwi juga mendapatkan minuman kopi berenergi bernama Ammo. Kopi botol ini lain daripada kopi botol yang telah ada sebelumnya karena kandungan kopinya paling dominan sehingga kopi ini rendah asam. Kopi Ammo ini dikenal dengan kekuatannya mengembalikan tenaga dan membuat mata segar kembali. Wow! Percayalah, kamu harus coba sensasinya!

Bagaimana? Tidak ada salahnya kan terlibat dalam Allianz Sweat Challenge ini? Meski acara ini diselenggarakan oleh perusahaan asuransi kesehatan, tapi kita tidak perlu waswas karena kita tidak akan diprospek atau apapun itu. Bahkan saya tidak melihat ada iklan atau promosi asuransi di sini. Kalau kata Mbak Karin, “Banyak jasa asuransi yang cuma hadir saat kita sedang sakit. Kami sih lebih memilih untuk mengupayakan bagaimana caranya agar kita jangan sampai sakit.”

Yuk, silakan coba saja mengikuti acara ini. Bisa sendirian, bersama teman, atau mengajak keluarga. Event ini tidak ada kuota-nya, kok. Semakin banyak yang terlibat justru makin seru nantinya. Nah, sudah saatnya kita berolahraga dengan menyenangkan.  See you on field!

12 April 2018


Pada 2 Oktober 2009 akhirnya batik diakui oleh UNESCO sebagai warisan dunia. Uniknya, kategori penghargaan itu bernama Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity atau sebut saja Representasi Budaya Nonbenda Warisan Manusia. Coba perhatikan, kita mengenal batik sebagai produk benda berupa kain, bukan? Tapi UNESCO malah mengkategorikannya sebagai nonbendawi. Kok bisa?

Usut punya usut, yang diakui UNESCO atas batik adalah budaya, tradisi, catatan sejarah, seni, bahkan nilai-nilai spritualnya. Pada zaman dulu, khususnya di tanah Jawa, batik selalu mengisi ruang-ruang kehidupan manusia. Bahkan ada yang menyatakan bahwa manusia lahir dengan batik, hidup dengan batik, dan mati dengan batik. Ya. Begitu lahir, sang bayi pasti digedong dengan batik. Lalu menjalani proses kehidupan dengan batik pula, seperti saat sepasaran, selapanan, ruwatan, khitanan, hajatan, dan seterusnya sampai manusia diantar ke tanah pekuburan pun dengan selembar kain batik.

Selain itu, proses pembatikannya juga memiliki makna, lho. Mulai dari nyanting (membuat rintang warna dengan lilin) sampai nglorod (melepas lilin di kain) merupakan simbol penyucian diri. Bahkan pada zaman Pakubuwono III, pembatikan dilakukan dengan melibatkan ritual puasa dan semedi (bertapa). Kain mori pun harus direndam 40 hari siang dan malam agar mendapatkan 'aura'.

Tidak hanya itu, setiap motif pada kain batik selalu memiliki fungsi dan arti. Bisa jadi sebuah cerita, petuah, simbol, dan doa. Sampai-sampai dosen saya dulu, Prof. Nanang Rizali, menyatakan bahwa bukan suatu kebetulan mengapa kata 'batik' jika dibaca secara terbalik akan menjadi 'kitab'. Yah, meski kita tahu bahwa batik berasal dari bahasa Jawa, mbat (melempar berkali-kali) dan tik (titik). Tapi ada pula yang menafsirkan batik sebagai akronim dari kata 'membuat titik'.

Telkom Craft Indonesia 2018

Nah, sekarang saya akan menceritakan pengalaman saya menemukan aneka batik di sebuah event keren di Jakarta.


Pada 22-25 Maret 2018 lalu, di Hall A & B Jakarta Convention Center tengah berlangsung acara pameran UKM lokal bernama Telkom Craft Indonesia 2018. Ajang ini merupakan kesempatan bagi UKM asli Indonesia di berbagai daerah untuk bertemu dan memamerkan produknya kepada masyarakat.

Telkom Craft Indonesia begitu penting mengingat pertumbuhan UKM di negeri ini kian berkembang, baik kuantitas maupun kualitas. Sehingga eksistensi mereka patut diberi ruang agar pertumbuhan itu terus berlanjut. Maka tepat saja kiranya ajang ini bertajuk 'Local Heroes to Global Champions'.

Perhelatan ini merupakan program Rumah Kreatif BUMN yang bekerja sama dengan Telkom dan BLANJA.COM. Peserta yang hadir di sana ada dari UKM binaan BUMN yang terdiri dari tiga kategori, yaitu fashion, craft, dan food. Sajian acara yang disuguhkan pun tak kalah menarik, ada talkshow, workshop, pertunjukan tari daerah, fashion show, dan dimeriahkan pula oleh beberapa penyanyi seperti Judika, Once, Via Vallen, dan Gigi Band.

Kala itu saya datang di hari sabtu (24 Maret) bersama dengan kekasih, Pertiwi Yuliana. Baru beberapa langkah memasuki area pameran, kami langsung disambut dengan kopi gratis di booth #WarnetZamanNow. Tentu kami tidak melewatkan secangkir kopi itu. Dari situ kemudian saya tahu kalau Telkom menyediakan program Wifi Smartbisnis yang bisa kita manfaatkan untuk membuka tongkrongan berfasilitas wifi berkecepatan tinggi hingga 100 mbps dengan biaya yang sangat terjangkau.

Ini dia kedai #WarnetZamanNow 

Setelah itu kami berkeliling ke setiap penjuru Hall A dan B untuk memburu hal-hal keren. Ada banyak produk lokal yang menarik perhatian saya. Salah satunya booth kuliner yang menyuguhkan makanan ringan berupa kripik kulit pisang. Wow! Ini pertama kalinya saya tahu jika kulit pisang bisa dimakan! Hahaha.

Selain itu, booth yang menyajikan batik sepertinya merupakan produk paling dominan di Telkom Craft Indonesia 2018 ini. Setahu saya ada 26 exhibitors yang membuka lapak batik. Ya wajar saja, batik memang citra fashion lokal kita yang begitu populer selain tenun. Melihat aneka ragam batik itu, bagi saya pribadi rasanya seperti melihat kembali peradaban manusia Jawa. Sebagai orang Solo yang menggeluti pendidikan tekstil, batik adalah produk budaya yang begitu mengagumkan di mata saya.

Meet the Founders

Talkshow yang berjalan dengan khidmat
Salah satu sesi acara yang tidak boleh dilewatkan adalah talkshow bersama para founder. Pada saat itu hadir Mas Yukka dari Bro.do dan Pak Mamo dari Salawase. Dilengkapi oleh Pak Aulia dari BLANJA.COM membuat bincang-bincang siang itu tak hanya inspiratif namun juga informatif.

Saya menangkap beberapa hal menarik, di antaranya ketika Pak Mamo menceritakan problematika produksinya. Salawase sendiri adalah brand lokal yang menjual aneka tas dengan bahan kulit yang diindahkan dengan sentuhan tekstil nusantara. Markas mereka berada di Solo, padahal target pasar mereka adalah kalangan menengah ke atas.

Saya rasa keputusan itu cukup berisiko mengingat kota Solo dikenal dengan 'apa-apa serba murah'. Hehehe. Sepengalaman saya 24 tahun tinggal di Solo membuat saya cukup pesimis terhadap keberlangsungan brand tersebut jika menetapkan target pasar yang memiliki jenjang perekonomian atas. Tapi ternyata masalah itu sudah teratasi. Pak Mamo berhasil memanfaatkan teknologi digital untuk melebarkan jangkauan pasarnya.

Selain itu, masalah lain yang dialami Pak Mamo juga pernah saya alami ketika masih duduk di bangku kuliah. Dulu saya kesulitan mencari material kulit di Solo untuk membuat tas. Lantas saya mendapat rekomendasi dari teman untuk mencari bahan kulit tersebut di Jogja. Syukurlah di Jogja ada pusat kerajinan kulit bahkan lengkap menyediakan penjahitnya. Pengalaman itu juga diakui oleh Pak Mamo sebagai solusi atas permasalahannya mencari material kulit dan tenaga jahit yang 'tidak ada' di Solo.

Hal menarik berikutnya datang dari brand sepatu ternama asal Bandung, Bro.do. Mas Yukka selaku founder Bro.do menceritakan sepak terjangnya merintis bisnis tersebut sejak kuliah. Hal yang saya kagumi dari Mak Yukka adalah kegigihan dan kecerdikannya membangun brand. Atas dedikasinya yang luar biasa itulah yang membuat produknya mendunia.

Lewat Mas Yukka tersebut, saya belajar juga bagaimana melayani konsumen setelah transaksi selesai. Ketika banyak toko online lain menerapkan sistem jual-putus, Mas Yukka justru berani ambil risiko untuk menerima kembali produk yang sudah diterima customer dan menggantinya dengan yang baru jika ukuran yang dipesan ternyata tidak cocok.

Pernah dengar kalimat, "Barang yang sudah dibeli tidak dapat ditukar", tidak? Nah, Mas Yukka berani melakukan sebaliknya. Dan ternyata cara pelayanan seperti itu membuat pelanggan percaya pada Bro.do dan berhasil mengikat pelanggan untuk terus bertransaksi sebab pelanggan merasa terlindungi oleh kepercayaan tersebut.

Saya merasa beruntung bisa hadir di ajang ini. Banyak inspirasi dan informasi yang saya dapat. Salah satunya seperti yang dikemukakan oleh Pak Aulia dari BLANJA.COM mengenai komitmen BLANJA.COM sebagai e-comerse yang menaungi UKM dan produk-produk lokal. Lewat fasilitas digital, UKM diharapkan mampu melebarkan sayap ke pasar global. Untunglah saat ini Rumah Kreatif BUMN juga turut terlibat dalam memajukan UKM, mulai dari pelatihan, fasilitas, bahkan modal.

Transaksi yang digunakan dalam Telkom Craft Indonesia 2018 ini bisa melalui aplikasi BLANJA.COM yang tentunya menguntungkan karena tersedia banyak diskon di sana. Nah, jadi tidak perlu khawatir. Meski event ini sudah selesai, namun kita masih bisa memborong produk-produk UKM lewat BLANJA.COM. Cobalah! Siapa tahu sedang ada penawaran menarik.

Batik Esti Collection Solo dan Serba-serbi Batik

Booth Batik Esti Collection Solo

Memang tak heran jika saya menemukan booth dari Solo yang menjual batik di Telkom Craft Indonesia 2018 . Meski awalnya saya kira bakal bertemu dengan Batik Danar Hadi maupun Batik Keris. Tapi setelah dipikir-pikir, dua perusahaan batik itu sudah cukup digdaya di pasar perbatikan. Sehingga ruang batik Solo diwakili oleh Batik Esti Collection.

Di booth ini, Ibu Esti lebih banyak menjual batik dalam bentuk kain panjang daripada baju. Mulai dari batik tulis hingga batik cap tersedia di sana. Sebagai UKM yang menaungi batik di Solo, lumrah jika koleksi yang ditawarkan cukup banyak. Bahkan motifnya pun sangat variatif. Layaknya batik asli Solo, warna yang melekat pada batik-batik koleksi Ibu Esti cenderung gelap dan kuat.

Batik Esti Collection menyediakan batik asli yang diproses dengan baik dan benar. Batik asli itu seperti apa, sih? Batik yang diproses menggunakan metode perintangan warna memakai lilin di atas kain itulah yang disebut dengan batik asli. Metode perintangan itu bisa melalui proses canting dan cap. Bahkan perintangan warna ini juga sudah bisa diproses dengan metode cetak saring (di masyarakat lebih dikenal dengan sebutan sablon).

Lho, bukannya memakai sablon itu justru menghasilkan batik imitasi?

Ya. Jika yang sablonnya berupa warna, maka bisa dipastikan produk batik yang dihasilkan itu abal-abal. Tapi yang saya maksud adalah menggunakan lilin sebagai bahan untuk disablon. Hal ini memungkinkan ketika ditemukannya material 'lilin dingin'. Selebihnya, proses pewarnaan batik tetap dilakukan layaknya batik tulis atau batik cap. Dulu, teknik ini sering saya pakai untuk mengejar deadline tugas kuliah ketika disuruh membuat batik. Sebab, meski pengerjaan jauh lebih cepat, hasil akhir produknya memiliki kualitas yang sama dengan batik tulis maupun batik cap.

Bagaimana sih cara membedakan batik asli dan batik imitasi?

Ada banyak cara, tapi bagi saya cara paling mudah adalah melalui proses identifikasi visual. Jika motif batik hanya terlihat jelas di satu sisi saja, maka batik tersebut merupakan batik imitasi. Sedangkan batik asli memiliki motif yang terlihat jelas di kedua sisinya.

Peristiwa ironis pernah terjadi ketika batik mulai berkembang secara global. Jadi saat batik Indonesia masih diproses menggunakan canting dan cap, di Belanda dan Swiss sudah membuatnya dengan teknik cetak atau sablon. Batik imitasi buatan Swiss memakai cat alizarin sintetis yang dicetak massal dan dijual bebas di Indonesia maupun di berbagai negara Afrika. Bahkan, mereka berani menggunakan nama Java Batik pada saat itu.

Bersyukur setelahnya Ir. Soekarno mengumpulkan para pengrajin batik hebat untuk membuat, mengembangkan, dan mematenkan Batik Nasional. Mereka yang diamanahi Bung Karno ini adalah KRT. Hardjonagoro, Iwan Tirta, dan Ibu Soed. Selain itu ada juga Asmoro Damais, Josephine Komara, Abdul Kadir Muhammad, dan keluarga Oei Soe Tjoen yang mewakili kalangan seniman, perancang, serta kolektor. Setelah melewati rentang yang cukup panjang, barulah pada tahun 2009 batik diakui secara resmi oleh dunia.

Membaca perjalanan batik memang sangat menyenangkan. Jadi jangan kira batik hanya sebatas produk kain semata. Lha wong UNESCO saja sudah mengakui kekayaan budaya batik lebih dari itu, lho.

Menghadiri Telkom Craft Indonesia 2018 terasa sangat menyenangkan bagi saya. Ada banyak hal yang lokal banget bisa diperoleh di sini. Sampai-sampai, sepulang dari ajang ini, saya tidak pernah berhenti memikirkan inovasi produk apa yang bisa saya buat.


Jika ada kesempatan untuk hadir kedua kalinya, saya pastikan bisa hadir kembali. Sudah gratis, banyak yang diperoleh pula. Sudah semacam surga dunia bagi para pecinta produk lokal, khususnya fashion, craft, dan food. Tema Local Heroes to Global Champions tahun ini saya harap bukan sekadar slogan. Tapi juga mampu menghantarkan eksistensi UKM kita ke pasar internasional.

Saya juga senang batik masih menjadi primadona di masyarakat kita. Setidaknya di mata dunia terlihat kompak, terlepas mengikuti sejarah dan serba-serbi batik itu sendiri atau tidak. Hehehe. Belajar batik itu seru, lho. Yuk, kita belajar bersama!

Terima kasih Rumah Kreatif BUMN, Telkom, dan BLANJA.COM yang telah menyelenggarakan acara keren seperti ini. Sampai jumpa lagi tahun depan. Sambil menunggu saat itu, belanja dulu ah di BLANJA.COM. Yuk!

9 April 2018


Kita mengenal tiga outwear yang paling populer di Indonesia. Ada jaket, sweater, dan hoodie. Tapi sebelumnya, sejarah outwear itu berawal sejak kapan, sih? Bagi yang penasaran, berikut saya ulas sejarah singkat outwear di dunia. Yuk, simak!
Konon, outwear dipercaya sudah digunakan oleh manusia sejak zaman Paleolitikum. Setelah manusia hanya mengenakan ‘pakaian dalam’ sebagai kebutuhan pokok, ternyata tubuh manusia perlu lebih terlindungi lagi mulai dari gigitan serangga hingga menangkal cuaca yang dingin. Hal ini yang kemudian menginspirasi manusia untuk memanfaatkan kulit dan bulu binatang sebagai outwear.
Baiklah, sekarang kita melewati beberapa abad setelah itu. Sejarah mencatat, para aristokrat pria dan wanita di abad 15 dan 16 menggunakan coat sebagai outwear. Fungsinya pun kemudian mulai banyak berubah.Outwear pada masa itu sudah dimaknai sebagai identitas kelas. Para bangsawan mengenakan outwear yang panjang dan halus. Para saudagar biasa mengenakan outwear yang lebih sederhana. Sementara rakyat jelata tidak mengenakan outwear.
Di sejumlah negara Eropa pada abad 18, outwear seringkali merujuk pada jenis pakaian yang mereka sebut sebagai cape, cloaks, maupun mantel. Jenis pakaian seperti itu hampir dipakai oleh seluruh masyarakat karena memang stoknya tidak selangka dulu. Meski demikian, perbedaan style outwear yang dikenakan tetap mencolok, antara kaum kelas atas dan kelas bawah. Pada masa-masa itu memang identitas kelas begitu kuat, dan fashion menjadi salah satu gerbang utama untuk membedakan kelas-kelas tersebut.
Penulis buku Fashion sebagai Komunikasi – Cara Mengkomunikasikan Identitas Sosial, Seksual, Kelas, dan Gender, Malcolm Barnard pernah mengatakan, “Pakaian sering digunakan untuk menunjukkan nilai sosial atau status, dan orang kerap membuat penilaian terhadap nilai sosial atau status orang lain berdasarkan apa yang dipakai orang itu.”
Masih dalam buku yang sama kita bisa menemukan istilah ‘penciptaan pameran pribadi’, yaitu pakaian ditafsirkan sebagai cara seseorang untuk menunjukkan ‘dirinya’ kepada publik. Atau kita juga mengenal istilah, “I speak thought my clothes” (aku bicara lewat pakaianku). Sederhananya, seseorang akan dianggap keren jika pakaian yang dikenakannya keren. Seseorang dianggap sangar jika mengenakan celana denim sobek-sobel misalnya. Atau seseorang dianggap pemalu jika mengenakan pakaian yang tertutup dan berbahan halus.
Nah, dalam berpakaian kan ada lapisan-lapisannya, tuh. Ada pakaian dalam, tengah, dan luar. Kita tidak mungkin mengkomunikasikan pakaian dalam sebagai ‘pameran pribadi’ tadi. Lapisan yang paling bisa dicitrakan ya tentu saja pakaian luar atau outwear. Dewasa ini kita mengenal beberapa outwear seperti yang juga sudah saya sebut di muka, ada jaket, sweater, dan hoodie.
Apa sih perbedaan jaket, sweater, dan hoodie? Berikut saya beri ulasan singkatnya.
Jaket adalah pakaian luar yang menutupi bagian badan hingga pinggang atau pinggul, dan kedua tangan. Di bagian depan biasanya terdapat kancing atau resleting yang bisa dibuka dan ditutup yang fungsinya untuk memudahkan pengguna saat memakai atau melepas jaket.
Yang kedua, sweater. Sweater pada dasarnya merupakan pakaian penghangat. Umumnya, outwear jenis ini berbahan rajut yang menutupi badan sampai lengan. Ada dua model yang populer dari sweater, yaitu kardigan dan pullover. Kardigan mempunyai kancing di bagian depan, sementara pullover tidak memilikinya.
Nah, outwear yang menurut saya paling keren adalah hoodie. Kata hoodie berasal dari bahasa Inggris, yaitu ‘hood’ yang memiliki arti berupa tudung (penutup kepala). Maka dari itu ciri khas hoodie adalah adanya tudung dibagian atas. Sementara bagian lainnya ada berbagai variasi. Ada hoodie yang memiliki kantong di sekitar perut, ada juga yang tidak. Ada hoodie yang menggunakan resleting, ada juga yang tidak. Kalau saya sih paling suka hoodie yang tidak beresleting dan memiliki kantong di wilayah perut.
Dari ulasan ini saya harap perbedaan antara jaket, sweater, dan hoodie sebagai outwear bisa diipahami dengan jelas. Meski demikian, tidak ada salahnya juga jika beberapa jenis outwear tersebut disebut agak berbeda. Misalkan yang familiar di masyarakat ada yang menyebut ‘jaket hoodie’, ‘sweater hoodie’, hingga ‘jaket oblong’ pun tak mengapa. Hal yang lumrah jika istilah resmi dan istilah pasar memiliki perbedaan.

Belakangan ini jaket hoodie marak juga digunakan oleh wanita. Uniknya, ternyata perpaduan antara hijab dan hoodie bisa menghasilkan kombinasi yang bagus. Jika kamu adalah pembaca yang mengaku wanita tapi belum pernah mengenakan jaket hoodie sebagai pilihan untuk berbusana, cobalah sesekali untuk mengeksplorasi diri dengan memakainya.
Saya rasa berbagai kepribadian pengguna, mulai dari yang introvert hingga ekstrovert sekalipun, jaket hoodie tetap bisa merepresentasikan karakter-karakter tersebut. Apalagi dewasa ini sudah terdapat banyak variasi hoodie yang bisa dipilih dan dipadupadankan dengan busana lain sehingga bisa menghasilkan penampilan yang apik.
Selain nikmat secara estetika visual, jaket hoodie juga memberi kenyamanan bagi tubuh pengguna karena bahannya yang kebanyakan lembut dan hangat. Ukuran jaket hoodie pun mayoritas longgar atau klombor. Sehingga tak jarang, jaket hoodie juga dikenakan seseorang saat olah raga, khususnya jogging. Ukuran yang longgar memudahkan pengguna untuk bergerak dan tidak mengalami sesak pada dada.
Jadi tidak perlu ragu lagi untuk mengenakan jaket hoodie sebagai pilihan berpakaianmu hari ini. Yuk, kita ngehoodie!

Image Source: pexels.com

7 April 2018


Dulu semasa SMP dan SMA, saya punya teman bernama Heri. Ia adalah siswa yang sehari-hari kenyang menelan ledekan-ledekan dari teman-teman sekolahnya. Heri sebetulnya siswa yang pintar, terutama untuk pelajaran kimia. Saya yang pernah satu kelas dengannya, sering mengintip pekerjaannya yang terpercaya itu.

Heri diledek tidak jauh dari penampilan fisiknya. Walau ia kurus dan dandanannya sangat rapi. Tapi orang-orang justru terfokus pada giginya yang besar dan tidak rapi. Awalnya, saya terlibat juga dalam merundung Heri. Baru menginjak kelas 2 SMA saya merasa lebih kasihan kepadanya karena perundungan terhadapnya semakin parah saja.

Salah satu hal yang saya cemaskan dari Heri adalah melewatkan masa remaja tanpa kisah asmara yang membara. Dan benar saja, sampai lulus SMA, Heri tidak terlihat memiliki hubungan asmara dengan siapapun. Bahkan sama sekali tidak ada tanda-tanda ke arah itu. Wong Heri itu kalau ngobrol sama perempuan, malamnya langsung kerokan gitu.

Maka dari itu saya penasaran, apakah Heri pernah menginginkan hubungan asmara? Alih-alih berasmara, bagaimana perasaannya melalui masa remaja dengan perundungan yang tak kenal kendor itu?

Di lingkaran sosial ini, Heri berperan sebagai liyan (the Other). Liyan adalah sebutan bagi perseorangan maupun kelompok yang secara terkonstruksi berbeda dari yang lain dan ia/mereka dalam masa pencarian eksistensi (pengakuan atas keberadaan). Sederhananya, liyan ini merupakan orang yang dipandang sebelah mata.

Seperti Simone de Beauvoir yang menyatakan bahwa kaum perempuan adalah liyan karena keberadaannya selalu menjadi objek laki-laki. Sigmund Freud pun punya pendapat jika anak perempuan adalah liyan. Sampai-sampai muncul istilah 'penis envy' dalam psikoseksual Freud yang oleh Jacques Lacan dimaknai sebagai hasrat ingin mengetahui seperti apa rasanya berada dalam suatu kelompok yang lain.

Heri mungkin ingin sekali-kali menjadi siswa populer yang keren dan digandrungi banyak perempuan. Ia juga mungkin saja ingin bisa nongkrong dengan teman-teman yang tidak mengejeknya sedikitpun. Atau bahkan, ia sesekali juga ingin berada di posisi sebagai seorang perundung yang membuat lelucon atas kekurangan orang lain.

Tapi urusan hati siapa yang tahu?

Apa yang dialami Heri dan apa yang saya banyak pertanyakan di atas ternyata terjawab dalam sebuah novel teenlit karya Mega Shofani. Novel bernuansa pink ini berjudul Kilovegram. Sinopsis versi sayanya begini:

Aruna adalah siswa baru di SMA Angkasa yang sering dirundung perihal bentuk tubuhnya yang besar. Walau begitu, ia mempunyai sahabat setia sejak kecil bernama Raka.

Raka terkenal dengan ketampanan dan kesupelan yang membuat Diana (anak pejabat yang merasa dirinya cantik) dimabuk asmara. Oleh sebab Aruna dan Raka terlihat sangat akrab, Diana yang merasa cemburu terus-terusan merundung Aruna, terutama soal ukuran tubuh.

Awalnya, Aruna merasa gembira lantaran Nada, saudarinya dari Tasikmalaya, pindah ke rumah Aruna dan bakal sekolah di tempat yang sama. Sayangnya, sejak kemunculan Nada, hubungan Aruna dan Raka menjadi renggang.

Nada merupakan perempuan pintar, ramah, sopan, berbakat di seni, berparas cantik, dan langsing. Hanya satu yang Aruna inginkan dari Nada, yaitu kembalinya perhatian Raka. Jadi mulai sekarang Aruna diet!

Artwork by Mega Shofani

Body Shaming

Isu ini menjadi dominan di cerita Kilovegram selain lika-liku cintanya. Aruna yang terus diejek soal ukuran tubuh berhasil dibangun dengan baik oleh Mbak Mega Shofani. Mulai dari ejekan dengan nada bercanda seperti Raka atau memang ejekan yang sengaja dilontarkan untuk menjatuhkan mental Aruna seperti yang Diana lakukan.

Walau begitu, ada karakter-karakter yang tidak mengatakan hal-hal keji itu pada Aruna. Ada Nada dan Ibunya Aruna yang senantiasa memberi dukungan bagaimanapun bentuk Aruna. Hal ini yang bagi saya cukup seimbang. Bahkan saya tidak yakin teman saya, Heri, seberuntung Aruna itu.

Dalam mengatasi body shaming tersebut, Aruna digambarkan sebagai sosok yang kuat dan berani melawan. Bahkan saat diejek kakak kelas sekalipun, Aruna mampu membalasnya. Sementara teman saya, Heri, hanya terdiam lesu dalam pelukan malaikat.

Barangkali Mbak Mega ingin menyampaikan kepada para liyan di dunia nyata agar berani melawan, minimal tidak berkecil hati. Dalam kisah ini, ketegaran Aruna menghadapi perundungan tidak membosankan. Seperti keterlibatannya mengikuti ajang fashion show sebagai model untuk membuktikan kalau dia tak bisa dipandang sebelah mata lagi.

Apa yang dialami oleh Aruna barangkali merupakan pengalaman empiris Mbak Mega. Kami dulu bersekolah di tempat yang sama, saya kelas satu sementara Mbak Mega kelas tiga. Meski waktu itu belum kenal, tapi saya tahu Mbak Mega dikaruniai tubuh yang besar. Maklum, tahu orangnya tapi tidak tahu namanya. Untung ada Facebook.

Oh.. Raka. Oh.. Baka.
Karakter bernama Raka dalam kisah ini merupakan karakter yang paling kurang matang menurut saya. Sosoknya sebagai kakak kelas terlihat sangat tipis mengingat karakter lain yang jadi juniornya justru berpikir dan bersikap lebih dewasa. Memang sih laki-laki remaja di SMA saya dulu banyak yang kekanak-kanakan, termasuk saya. Tapi kekanakannya Raka terlalu kontras jika dibandingkan dengan popularitasnya yang menawan itu.

Kalau biasanya kita mengenal sebutan Drama Queen yang notabene adalah perempuan (tidak bermaksud seksis, tapi yang dimaksud queen itu memang perempuan, kan?). Di Kilovegram, justru Raka lah yang menjadi orang yang doyan ngedrama. Karakternya yang menyebalkan itu bikin saya kurang menerima keputusan Aruna yang mencintainya. 

Saya malah merasa Aruna lebih cocok berhubungan dengan Valen (kakak Diana). Sebab, Valen memiliki latar belakang yang lebih rapuh dari Raka. Kerapuhan itu bisa membaur dengan kerapuhan Aruna sehingga jika bersama, mereka bisa jadi pasangan yang saling menguatkan.

Artwork by Mega Shofani 

Keputusan Fatal

Selain karakter Raka yang kurang matang, salah satu yang menurut saya disayangkan adalah keputusan Mbak Mega untuk menggunakan lokasi di Jakarta.

Saya memang baru beberapa bulan di Jakarta. Jika mau membandingkan Jakarta dan Solo, ternyata ada banyak perbedaan yang saya temukan. Bahkan, dari hal sederhana seperti di Solo ada makanan namanya arem-arem. Sementara di Jakarta, setidaknya di wilayah saya tinggal, menyebutnya lontong isi. Meski wujudnya sama, tapi istilah yang digunakan berlainan. Maka ketika Raka mengejek Runa dengan sebutan arem-arem, bagi saya diksi itu terasa kurang pas.

Kurang jelinya Mbak Mega menangkap perbedaan itu yang beberapa kali membuat saya meragukan lokasi cerita yang berlatar di Jakarta. Seperti merokok di kantin. Di sekolah saya dulu memang merokok di kantin menjadi sesuatu yang mungkin terjadi. Tapi menurut pengakuan Tiwi yang merasakan bersekolah di Jakarta, merokok di kantin menjadi sesuatu yang muskil.

Sebetulnya masih ada beberapa poin yang kurang tepat sebagaimana contoh-contoh di atas. Tapi secara keseluruhan, Kilovegram tetap bisa dinikmati sampai selesai. Keputusan yang fatal tadi bukan membuat kita untuk tidak membaca atau membumi hanguskan buku Kilovegram. Jelas tidak. Koreksi yang saya sebutkan merupakan pengharapan saya agar Mbak Mega senantiasa membuat cerita-cerita yang lebih nikmat di kemudian hari.

Bukankah sefatal-fatalnya keputusan penulis adalah keputusan memboikot Gramedia tapi bukunya tetap di jual penuh di sana? Eh, itu siapa, ya? Wahaha.

Ringan Tapi Tidak Ringkih

Sebagai teenlit, Kilovegram tentu saja merupakan bacaan yang ringan bagi kawula muda. Meski kurang jelas cerita ini berlatar tahun berapa (ada sedikit kerancuan yang membuat saya kebingungan menaksir realitas masanya), tapi jika disajikan kepada remaja saat ini saya rasa masih cocok-cocok saja.

Saya suka dengan isu body shaming yang diangkat. Sudah males rasanya sama tokoh utama yang hampir sempurna, kehadiran Aruna dalam kisah ini memberi sudut pandang yang menarik. Pada akhirnya, rasa penasaran saya terhadap Heri seperti yang sudah saya sebut di awal, lumayan terjawab melalui karakter Aruna.

Menghadirkan liyan sebagai pusat cerita adalah hal menarik untuk diikuti. Setiap keputusan yang Aruna ambil, mulai dari urusan diet hingga asmara, menjadi momen sakral yang dinanti. Kilovegram membuka mata kita terhadap liyan yang semestinya kita rangkul, bukan malah dirundung.

Orang-orang yang barangkali merasa dirinya unggul, ubermensch, melihat liyan sebagai suatu kecacatan sosial. Kehadirannya dipinggirkan, dinomorduakan, bahkan tanpa rasa bersalah memperlakukan liyan dengan tidak wajar. Lewat kisah Aruna inilah kita menyadari bahwa Hitler dan Rahwana senantiasa tinggal di hati kita, kadang keluar dari mulut dengan perkataan yang keji. Hingga membuat hati seseorang terluka, bahkan hancur lebur.

Aruna adalah apa yang disebut Nietzsche sebagai amor fati ego fatum: "cinta terhadap takdir, karena aku adalah takdir." Aruna telah berdamai dengan keadaannya. Lambat laun, keadaan berdamai juga kepada Aruna.


Akhir kata, bacalah.

Follow Us @soratemplates