30 Agustus 2017


Saya sangat bersyukur tahun ini bisa mengintip lukisan-lukisan yang jadi koleksi Istana Kepresidenan. Kalau bukan karena pameran “Senandung Ibu Pertiwi” yang berlangsung selama bulan Agustus di Galeri Nasional, saya tidak yakin bisa mendapat kesempatan langka itu.

Memangnya apa istimewanya? Duh, coba simak baik-baik. Dikutip dari CNN Indonesia, Mike Susanto yang merupakan kurator dalam pameran itu pernah mengatakan kalau satu karya lukis yang ditandatangani oleh Ir. Soekarno minimal seharga lima milyar rupiah! Mantap ya, kan.

Dalam pameran Senandung Ibu Pertiwi ini kita akan disuguhan oleh empat sub-tema. Ada keragaman alam, kegiatan atau aktivitas sehari-hari, tradisi tari dan kebaya, dan terakhir adalah mitologi dan religi.

Sebagai pemuda canggung yang tumbuh dengan cerita-cerita mistis di Jawa Tengah, tentu tema yang menurut saya paling menarik adalah mitologi. Dan tanpa disangka sebelumnya, di salah satu sudut ruang terdalam pameran tersebut saya mendapati lukisan legendaris, Nyi Roro Kidul karya Basoeki Abdullah.

Beberapa tahun yang lalu ketika saya mulai menjejaki bagian hidup saya sebagai mahasiswa Seni Rupa dan Desain, buku pengantar kesenirupaan dan sejarah seni rupa Indonesia yang saya pelajari selalu saja membahas Basoeki Abdullah. Ya, Basoeki Abdullah everywhere.

  • Siapa sebenarnya Basoeki Abdullah?
Baiklah, saya berbagi sedikit yang saya tahu tentang Basoeki Abdullah, ya. Jadi, Basoeki Abdullah adalah maestro pelukis asal Solo yang pernah diangkat sebagai pelukis resmi di Istana Merdeka Jakarta. Beliau lahir tanggal 27 Januari 1915 dan meninggal pada 5 November 1993. Sementara saya lahir pada tanggal 25 Januari 1993, kadang saya merasa ada ikatan mistis dengan beliau.
  • Mengapa Basoeki Abdullah menjadi penting?
Tercatat dalam sejarah bahwa pada 6 September 1948, Basoeki Abdullah berhasil mengalahkan 87 pelukis Eropa dalam sayembara seni yang diadakan saat penobatan Ratu Yuliana di Amsterdam. Sejak saat itu namanya tak asing di dunia kesenirupaan. Karya-karya Basoeki Abdullah beberapa kali dipamerkan di berbagai belahan dunia seperti Thailand, Malaysia, Jepang, Belanda, Inggris, Portugal, dan lain-lain. 




4 Basoeki Abdullah yang Saya Temukan di Pameran Senandung Ibu Pertiwi

Dari 48 koleksi lukisan yang dipamerkan, setidaknya ada empat karya Basoeki Abdullah yang berhasil menghentak naluri estetika saya.

Pertama, Lukisan Pantai Flores (cat minyak pada kanvas, 120x185 cm, tahun 1942). Sejarah di balik lukisan ini cukup menarik, lho. Jadi, lukisan Pantai Flores ini pada awalnya merupakan karya Ir. Soekarno ketika menjalani hukuman pengasingan oleh pemerintah Hindia Belanda. Media yang digunakan Bung Karno saat itu adalah cat air di atas kertas. Lalu, Bung Karno meminta Basoeki Abdullah untuk menyalin lukisan tersebut di atas kanvas. Bisa dibilang ini adalah kolaborasi epic yang tentu saja melebihi kolaborasi G-Dragon dan T.O.P.

Kedua, Lukisan Gatotkaca dengan Anak-anak Arjuna, Pergiwa-Pergiwati (cat minyak pada kanvas, 255x170 cm, tahun 1955). Basoeki Abdullah memang dikenal sebagai pelukis yang lihai dalam menggambarkan perempuan cantik. Demikian pula di dalam lukisan ini bagaimana beliau dengan indahnya menampilkan sosok Gatotkaca yang muncul dari langit beserta dua wanita cantik yang merupakan anak Arjuna, yaitu Pergiwa dan Pergiwati.

Ketiga, Lukisan Djika Tuhan Murka (cat minyak pada kanvas, 200x300, tahun 1949-1950). Selain menggambar wanita cantik, ternyata Basoeki Abdullah juga hebat dalam mempresentasikan kengerian lewat lukisan Djika Tuhan Murka. Lukisan ini merupakan pemberian langsung Basoeki Abdullah kepada Bung Karno. Unik memang. Bung Karno yang dikenal menyukai wanita cantik, giliran dapat lukisan dari maestro yang biasa melukis wanita cantik, eh, malah dapatnya lukisan kengerian yang menyerupai imaji neraka. Kalau di tempat saya, apa yang dilakukan Basoeki Abdullah tersebut sering disebut dengan istilah mace (menggoda) terhadap Bung Karno.

Keempat, Lukisan Nyi Roro Kidul (cat minyak pada kanvas, 160x120 cm, tahun 1955). Lukisan ini adalah karya Basoeki Abdullah yang paling sering diperbincangkan. Konon, dalam proses kreatifnya, Basoeki Abdullah benar-benar bertemu dengan Nyi Roro Kidul atau yang dikenal secara nasional dengan nama Ratu Pantai Selatan.

Sayangnya, Basoeki Abdullah tidak bisa mengingat dengan jelas bagaimana wajah Nyi Roro Kidul saat itu. Lantas ia menggunakan model perempuan lain sebagai atribut untuk memvisualkan sosok Nyi Roro Kidul di dalam lukisannya. Anehnya, tiga model perempuan yang dipakai Basoeki Abdullah tersebut selalu jatuh sakit sampai ajalnya. Maka, Basoeki Abdullah mengganti metodenya. Beliau melukiskan wajah Nyi Roro Kidul selanjutnya dengan imajinasi saja.

Lukisan ini memang sering dianggap keramat dan diyakini kekuatan mistisnya. Beruntunglah kiranya saya bisa menyaksikan secara langsung karya legendaris ini. Meski saat menyaksikannya saya tidak merasakan apa-apa selain kekaguman pada goresan yang sangat indah. Mungkin aura spiritual saya kurang suci untuk menangkap frekuensi mistisnya lukisan tersebut. Atau mungkin karena saya sedang lapar saja.

Oiya, penasaran tidak berapa harga lukisan Nyi Rori Kidul tersebut? Usut punya usut, harga lukisan mistis itu setara dengan harga rumah Basoeki Abdullah yang sekarang sudah menjadi museum beserta seluruh isi di dalamnya. Gils!

Pameran Lukisan Koleksi Istana “Senandung Ibu Pertiwi” di Galeri Nasional, Jakarta, 2-30 Agustus 2017.

Bertandang ke pameran seni rupa adalah salah satu terapi visual yang sangat saya perlukan sebagai penikmat seni dan desain. Kalau istilahnya di bio Instagram gitu, sih, namanya Art and Design Enthusiasts atau Art and Design Addict. Muda-mudi kekinian musti meletakkan istilah-istilah itu di bio I
nstagramnya biar parameter kekerenan menanjak tinggi. Ya, setidaknya bagi akun jual followers.

Beruntung benar-benar beruntung saya bisa berkunjung ke Galeri Nasional. Maklum, Solo dan Jakarta bukan jarak yang cukup dekat untuk dimondar-mandirkan. Kalau bukan karena pameran Senandung Ibu Pertiwi dan kekasih yang bernama Pertiwi, saya mungkin hanya bisa menikmati karya-karya mahal itu melalui layar ponsel saja.

Terima kasih banyak untuk Pertiwi Yuliana yang bersedia menjadi guide selama saya menyaksikan pameran itu. Guide milenial yang lebih sering memfoto daripada menjelaskan karya-karya. Hahaha. Syukurlah punya kekasih yang tergolong dalam Art and Design Enthusiasts, sehingga dalam menikmati karya-karya seni tidak lagi dipendam sendiri. Tapi juga bisa didiskusikan bersama. Aysik!

Jujur saja saya ketagihan dengan Galeri Nasional yang beralamat di Jalan Medan Merdeka Timur No. 14, Gambir, Jakarta Pusat itu. Selain pameran lukisan koleksi istana, kebetulan saja saat saya ke sana juga sedang diselenggarakan pameran fotografi. Sementara galeri seninya yang reguler buka setiap hari mulai dari pukul 9 pagi sampai pukul 4 sore. Di sana juga terdapat Cafe dan Art Shop buat kita yang mau nongkrong-nongkrong artsy dan belanja-belanja yang berseni.

Saya harap suatu saat bisa bertandang ke Galeri Nasional lagi. Semoga ada pameran yang tidak kalah menariknya dari Senandung Ibu Pertiwi. Teman-teman, yuk, ramaikan Galeri Nasional. Nikmati sajian karya-karya bernilai seni tinggi agar spiritualitas keartsyanmu melejit.



Kolase dokumentasi pribadi. Cieee...

21 Agustus 2017


Artikel ini bekerjasama dengan UKP-PIP

Garin Nugroho adalah sosok yang sangat menarik perhatian saya ketika membicarakan film Indonesia. Bagaimana tidak? Beliau merupakan sutradara yang nyaris setiap film buatannya mendapat penghormatan dalam ajang festival film Internasional, lho.

Sebut saja Cinta dalam Sepotong Roti (1990) yang memenangkan Festival Film Asia Pasifik untuk kategori sutradara pendatang baru. Atau Bulan Tertusuk Ilalang (1994) yang eksis di Perancis dan Jerman, Daun di Atas Bantal (1997) yang jadi unggulan di Tokyo, Puisi Tak Terkuburkan (1999) di Festival Film Internasional Loacarno, dan masih banyak lagi film-film keren yang pernah beliau bikin.

Saya sendiri merasa beruntung pernah bertemu beliau, berdiskusi, dan menyaksikan salah satu karya lawasnya yang berjudul Bulan Tertusuk Ilalang (1994). Film artistik yang pernah memenangkan ajang festival film di Perancis itu sebelumnya sudah pernah saya buat ulasannya di sini.

Bisa dibilang beliau adalah inspirasi bagi saya. Film buatannya benar-benar artistik dan menawan. Bikin gregetan. Seolah dopamin saya harus berteriak, “Aku juga harus bisa bikin kayak gitu!”

Belum juga selesai keriuhan alam batin saya yang begitu bersemangat mencatat jejak-jejak Garin, tiba-tiba saja lingkaran sosial saya di dunia maya membicarakan sosok pemuda yang berhasil membawa film Indonesia sebagai film pendek terbaik di Cannes, Perancis.

Raphael Wregas Bhanuteja atau yang biasa dipanggil Wregas telah mengharumkan nama bangsa melalui film pendeknya yang berjudul Prenjak (2016). Pria gondrong yang seumuran saya ini sebelumnya memang telah terlibat dalam berbagai film besar seperti Sokola Rimba (2013), Ada Apa dengan Cinta 2 (2016), dan Athirah (2016).

Jika ditelusuri benang merah antara kedua filmmaker berbakat di atas, ternyata Wregas merupakan terusan dari estafet bangku kesutradaraan yang diwariskan oleh Garin melalui Riri Reza, lho.

Jadi ceritanya, Mohammad Rivai Reza atau yang sering dipanggil Riri Reza itu muncul sebagai sutradara lewat LSM bernama SET yang didirikan oleh Garin pada tahun 1987. Setelahnya, Riri Reza memberi bangku astradara untuk Wregas yang masih berstatus magang pada film Sokola Rimba tahun 2013. Jadi intinya, kalau kamu mau jadi the next sutradara kondang, caper-caperlah yang rajin ke Wregas. Siapa tahu bisa diangkut jadi sutradara kondang juga. Hehehehe.

Wah, gimana ya kalau dua sutradara keren dari generasi berbeda ini bertemu? Pasti seru!

Untung punya untung, ternyata pada hari Senin tanggal 21 Agustus 2017 mereka berdua berkesempatan untuk terlibat dalam acara Festival Prestasi Indonesia yang bertema “Pancasila Sumber Inspirasi Maju” oleh UKP-PIP yang diselenggarakan di JCC Jakarta, lho. Dan jika mengintip dari rundown acara, mereka berdua bakal berdialog selama 45 menit mengenai “Kemanusiaan dan Keadilan dalam Film.”

Pembahasan soal film lewat kacamata Pancasila sudah barang tentu sangat menarik disimak. Apalagi tokoh yang dihadirkan adalah orang-orang yang tepat di bidangnya, ya, kan?

Duh, acara yang megusung “Pancasila Sumber Inspirasi Maju” ini memang kerennya kebangetan. Banyak orang-orang insipiratif dari berbagai latar belakang yang dilibatkan. Menurut laporan intelejen yang saya percaya, tercatat ada 72 orang yang diundang untuk mendapat penghormatan sebagai ikon inspiratif! Waw!

Ketujuhduapuluhdua inspirator ini secara garis besar terbagi dalam empat kategori, yaitu saintis dan inovator, olahraga, seni budaya, dan pegiat sosial. Mereka bakal menjalani rangkaian acara mulai dari tanggal 21 hingga 22 Agustus 2017 di Jakarta Convention Center, Jakarta.

Apakah acara ini juga akan dihadiri oleh menteri?

Walah. Gak tanggung-tanggung, bro. Hla wong presiden Jokowi saja hadir, kok. Selain membuka acara Festival Prestasi Indonesia: “Pancasila Sumber Inspirasi Maju”, Bapak Jokowi juga akan mengunjungi anjungan dan menyaksikan langsung bagaimana potensi putra-putri negeri ini berkarya, lho. Mantap apa tidak acaranya UKP-PIP, tuh?

UKP-PIP emang apaan?

Itu, lho, singkatan dari Unit Kerja Presiden – Pembinaan Ideologi Pancasila. Masa gitu saja tidak tahu? Wong saya saja baru tahu. Huh! Dasar.

Meski acara itu tampak awesome bingit, namun tetap saja ada yang kurang. Kurang apa? Ya tentu saja kurang mengundang saya. Lho, lha iya, tho. Saya ini kurang inspiratif dan pancasilais apa lagi?

Untuk membuka tutup botol Vit 600 mili saja saya pasti menyebut nama Tuhan Yang Maha Esa. Belum lagi saat saya mencintai seseorang dengan rasa kemanusiaan yang adil dan beradab. Eh, jangan lupa juga dengan kebiasaan saya memberi hak jalan bagi pengendara motor yang buru-buru sebagai perwujudan sikap persatuan Indonesia. Menjaga kerukunan, tuh.

Duh, kok jadi congkak begini, sih. Padahal saya aslinya baik hati, tidak sombong, gemar menabung, dan bijaksana dalam permusyawaratan perwakilan, lho. Hadeeh. Tapi jika memang hal-hal itu tidak bisa bikin lolos kualifikasi sebagai sosok inspiratif nan pancasilais ya saya bisa apa. Toh pada akhirnya saya tetap harus melengkapi diri saya dengan berkumpul bersama orang-orang saleh dalam ikatan sosial yang adil bagi seluruh rakyat Indonesia, kan?


Source @terapiotak

Intinya, apapun yang kita jalani dalam kegiatan sehari-hari, #PancasilaInspirasiMaju itu tetap harus senantiasa kita jaga. Baik dalam pikiran maupun perbuatan masing-masing individu demi tercapainya kerukunan bersama. Namanya juga dasar negara. Salah satu cita-cita pentingnya sudah pasti adalah kerukunan antar sesama. Nah, kalau ideologi yang membuat kerukunan tecerai-berai itu namanya sudah bukan dasar negara lagi. Tapi dasar ndeso!

Header source: tabloidkabarfilm.com