24 Agustus 2019

Galih dan Ratna: Membaca Ekspresi Kasih Sayang


Menonton film Indonesia dengan genre romance bukan merupakan kebiasaan saya selama ini. Dari sekian banyak judul film dengan genre ini, hanya segelintir judul yang sudah saya tonton. Salah satunya adalah film Galih dan Ratna yang tayang di bioskop pada 2018, namun baru saya tonton di Agustus 2019.

Mungkin ini akan jadi film romance pertama yang saya review (kalau nggak salah). Hehehe. Baiklah, mari kita coba melihat film ini dari berbagai hal. Setidaknya, dari hal-hal yang terpantul dari kacamata saya sebagai penonton awam. Btw, ini bakal spoiler.

Pertama, mengulang (remake) kisah cinta Galih dan Ratna di bangku SMA mungkin terdengan klise. Hal apa yang akan membuat sebuah film remake menjadi menarik? Mengubah setting waktu menjadi kekinian? Formula seperti itu mungkin justru terasa lebih klise lagi. Tapi, film Galih dan Ratna bagi saya telah memecahkan persoalan klise tersebut.

Menurut saya, setting kekinian yang diimbangi dengan sosok Galih yang retro membuat nuansa film ini tidak kehilangan kepuitisan masa-masa SMA di zaman dulu. Galih yang merupakan anak dari seorang penjual kaset, memiliki kecintaan luar biasa terhadap media analog pada musik. Hal ini membuatnya terlihat berbeda daripada anak-anak SMA pada umumnya, terutama di mata Ratna. Setidaknya bagi Ratna (murid pindahan dari Jakarta yang followers-nya 20K), menemukan sosok Galih di lingkungan sekolahnya yang baru itu terasa seperti menemukan oasis di tengah gurun yang tandus. Sejuk dan bikin antusias.

Kedua, memang eksekusi sinematografinya tidak terlalu muluk-muluk. Tapi, saya menyukai pemilihan angle, tone, dan tempo yang konsisten serta sesuai di setiap nuansa yang mau di bangun. Nuansa sedih, bahagia, dan bingung terkesan relateable dengan kehidupan saya sehari-hari. Namun di antara hal-hal yang saya sebutkan itu, tentu pemilihan musik adalah yang paling indah menurut saya.


Ketiga, mungkin ini yang ditunggu-tunggu. Kita mulai membicarakan soal cerita. Dari awal sampai akhir, cerita yang berusaha dipresentasikan menurut saya tidak ada masalah. Tapi justru itu masalahnya.

Yang ingin saya katakan adalah cerita dalam film Galih dan Ratna sangat aman. Sebagai sebuah tontonan tentu film ini enak dinikmati. Cara pengenalan tokohnya bagus, pemunculan masalahnya bagus, ritme emosinya bagus, bahkan beban cerita antara Galih dan Ratna pun juga bagus karena komposisi mereka sebagai dua karakter utama bisa dimunculkan dalam porsi yang adil.

Tapi, tidak ada kejutan apapun dalam keseluruhan cerita ini. Penulis sepertinya memang tidak merancang hidden sign yang akan dimunculkan di akhir cerita. Pernah nggak ketika kamu nonton film terus pas sampai detik-detik film hampir selesai kamu diperlihatkan sesuatu yang bikin kamu menggumam, “Oooh.. Jadi yang tadi tuh maksudnya ini.” Kesan semacam ini memberi dampak yang membekas bagi penonton, khususnya bagi saya. Kesan saya tentu bukan representasi dari semua penonton. Jika kamu tidak sependapat, bagikan komentarmu dalam kolom komen di bawah, dong. Alangkah menyenangkannya jika kamu mau berbagai pandangan kepada saya.

Ngomong-ngomong soal kesan, saya sangat suka dengan masalah yang muncul akibat mixtape yang lupa dikunci oleh Galih. Kadang kita terlalu bersemangat sampai-sampai membuat gugup diri kita sendiri saat memperjuangkan sesuatu demi seseorang. Saking gugupnya, beberapa hal yang sudah dilakukan bisa jadi berantakan. Jika saat-saat seperti itu terjadi, tubuh seolah ditimpa oleh bongkahan batu yang disebut “rasa bersalah”. Akibatnya, rasa percaya diri bisa menurun dan keraguan semakin meningkat.

Untunglah Ratna punya cara terbaik untuk mengubah keadaan yang membuatnya pilu itu. Saya pikir, tindakan Ratna terhadap masalah itu akan berdampak besar bagi Galih. Kepercayaan diri bisa tumbuh kembali dan keraguan bisa merunduk lagi. Meski rasa bersalah tidak akan hilang seketika, namun melihat Ratna yang masih mau membuka diri membuat Galih bersemangat untuk menebus kekeliruannya. Ratna di sini hebat, bisa bangkit setelah dijatuhkan Galih.

Selain itu, ada juga sisi cerita yang jadi favorit saya. Yaitu ketika Ratna membeli kaset-kaset Galih dalam jumlah yang banyak dan mengaku kalau ada orang lain yang memesan itu dari Jakarta. Melihat situasi Galih yang membutuhkan uang, Ratna mengambil inisiatif untuk membantunya meski harus berbohong. Wajar kah apa yang dilakukan Ratna? Dan wajarkah kalau Galih marah karenanya? Bagikan pendapatmu juga soal ini jika berkenan. Hahaha.

Kalau menurut saya, apa yang dilakukan Ratna dan bagaimana reaksi Galih itu relateable juga di kehidupan sehari-hari. Mungkin kita pernah berbohong untuk membantu orang yang kita sayangi. Tapi setelah tahu bahwa hal itu adalah kebohongan meski berniat baik, kita pun akan marah jika diperlakukan seperti itu, bukan?

Memang muncul ambivalensi di sini, yaitu kebohongan dan niat baik. Kita benci dibohongi. Tapi kita suka ketika seseorang berniat baik pada kita. Dualisme perasaan untuk meresponnya pun muncul. Apakah mau mengutuk kebohongan atau menyambut niat baik? Persoalan ini tidak bisa dipecahkan dengan menghitung peluang ala ilmu matematika. Kalau soal perasaan semacam ini, sikap dan cara berpikir individu yang bisa menjawabnya.

Kesimpulannya, film Galih dan Ratna adalah film yang nikmat ditonton. Di dalamnya, kita bisa memaknai kasih sayang lebih jauh lagi. Tidak hanya kasih sayang antara dua sejoli, namun juga antara anak dan orangtua. Tidak luput, mengekspresikan kasih sayang terhadap seseorang itu penting dan sebaiknya dilakukan dengan cara-cara yang baik. Tidak semua orang bisa menciptakan lagu untuk kekasihnya, tapi Galih bisa menyusun playlist untuk mengekspresikan perasaannya kepada Ratna dalam sebuah kaset jadul. Sederhana, romantis, dan bermakna. Disitulah kasih sayang itu bersemayam, bukan?



FILM GALIH DAN RATNA (2017)
Drama | Romance | 1 jam 52 menit | 9 Maret 2017
Sutradara: Lucky Kuswandi
Penulis Naskah: Fathan Todjon
Pemeran: Refal Hady, Sheryl Sheinafia, Marissa Anita


Copyright foto: IMDb - Galih dan Ratna

15 komentar:

  1. Pernah denger remakenya tapi baru ngeh ini film baru kemarinan. Kalau aku belum nonton dua2nya sih yang awal maupun versi iini, tapi kayanya seru kalau buat temen nonton santai

    BalasHapus
  2. Waduh, ini film remake udah lama banget, kok baru diulas Kak? Hehehe

    BalasHapus
  3. Terhipnotis aku baca review blognya kak Ilham.
    Kayanya ini jamanku banget yaa..yang duit pas-pasan. Kalau mau dengerin lagu itu, asa sayang beli kaset yang sealbum tapi lagu yang disukai hanya satu dua.

    Aku dulu masih ngalamin rekam lagu dan susun playlist, kak...dari radio.
    Tukeran sama orang yang disayang, awwuuu~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga pernah sih ngotak-ngatik kaset tape pada masanya. Tapi cuma dinikmati peribadi haha

      Hapus
  4. Soal berbohong dan niat baik, kadang namanya dibohongi sulit ditolelir sih. Tapi di case nya galih ratna, buat aku bisa dimaklumi, tapi mungkin disini masalahnya harga diri galih sbg cowok sih ya.
    Balik lagi ke pribadi masing2 sih.

    BalasHapus
  5. Jujur saja meskipun film lama aku belum nonton ini. Di youtube sudah ada kan film ini mas?

    BalasHapus
  6. Galih dan ratna sudah beberapa kali diangkat. Semuanya punya ciri khas karena pemainnya punya kemampuan akting yang berbeda. Tapi tetep saya suka Galih dan Ratna versi jadul. Entahlah
    ...kadang suka kan ngga perlu penjelasan me time รป go

    BalasHapus
  7. Wah aku malah baru tau film Galih dan Ratna yang edisi kekinian :D
    Hmmm soal kebohongan yaaaa, entah kenapa aku gak terlalu suka kebohongan putih yg alasannya demi pasangan gtu, mending katakan sejujurnya walau pahit kyk pare.

    BalasHapus
  8. Saya baru nonton film jadulnya,Kak. Filmnya bagus, suka sama pemainnya. Nah, yang remake ini belum pernah nonton sih. Makasih reviewnya,kak.hehehe

    BalasHapus
  9. Baru tau ada remake film Ratna dan Galih. Ini kisah romansa yang udah dikenal sejak lama ya... cukup langgeng juga.
    Kalau ngomong soal bohong demi pasangan, memang memunculkan dualisme perasaan sih, bingung juga. Tapi tetap aja, kejujuran yang utama

    BalasHapus
  10. Galih dan Ratna itu the legend banget ya dari jaman ibuku hahaha.baru tahu dibuat versi kekiniannya

    BalasHapus
  11. serius baru tahu kalau ada film ini di tahun 2017..
    padahal jamanku dulu ak masih smp atau sma udah ada film ini..

    BalasHapus
  12. Review filmnya oke nih.

    Awalnya aku sempat ikut casting film Galih & Ratna, terus gak lo2s kan. Pas filmnya tayang, aku jadi skeptis gitu buat nonton. Cuma lama-kelamaan aku tergoda buat nonton karena mendapat respon positif dari netizen. Akhirnya, jelang turun layar aku nonton deh film ini.

    Emang bener cerita cintanya itu diluar ekspetasi. Premise yang disampaikan menarik dan sampe ke penonton. Cuma ya gitu, ga ada kejutan atau sesuatu yang bisa spesial.

    Makanya, film Galih & Ratna masuk nominasi di beberapa festival film. Tapi, hanya menang beberapa aja gak gitu banyak.

    So far, hal yang bisa unggul dalam film ini yaitu original soundtrack dan akting Sheryl Shenafia ๐Ÿ˜Š

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ajegileee.. Pernah casting apa aja nih kalau leh taw? wkwkw

      Hapus
  13. Jadi bisa semua khalangan masyaraka tlho mbak.. Semot tamat k umbit sawit.

    BalasHapus